Arti Sebuah Pengakuan – Part 2

Title          : Arti Sebuah Pengakuan Part 2

Author        : Natali Tamashii

Length        : Series

Main Casts    : Kim Eun Ri (OC)

Lee Jinki

Choi Minho

Support Casts : Han Rae Na (OC)

Kim Kibum a.k.a Key

Kim Hye Kyo (OC)

Kim Jonghyun

Lee Taemin

Genre          : Angst

Friendship

Rate           : Teen

Summary      :

Jika hal itu menyiksamu, perlahan lepaskanlah –Lee Jinki-

Disclamer     : This story is mine.The plot and the cast are mine.Don’t plagiat this story.

A/N : also published at :

  • esemaniafanfiction.wordpress.com
  • natalitamashii.wordpress.com
  • shiningstory.wordpress.com

Annyeong….ini dia part 2nya. Mian jika kurang memuaskan.

Happy reading ^_^

Arti Sebuah Pengakuan new

^^^

Tok…tok…tok…

Rae Na yang tengah asyik menonton televisi harus terganggu dengan suara ketokan pintu. Dengan enggan Rae Na pun menghampiri pintu untuk membukanya.

“Key?” Alis Rae Na bertautan melihat Key berdiri di depannya.

Tanpa babibu Key langsung masuk dan duduk di depan televisi. Setelah menutup pintu, Rae Na menyusul Key, duduk di sampingnya.

“Tumben rumahmu sepi?”tanya Key asyik memakan kue yang ada di meja depannya.

“Key…Key…Sudah berapa lama kau menjadi sahabatku eum?”

Rae Na yang mendengar pertanyaan Key hanya tertawa tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi di depannya.

“Ah, sedang ke rumah halmeoni ?”

Rae Na hanya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, kenapa malam-malam kamu kemari?”tanya Rae Na yang heran dengan kedatangan Key yang bisa dibilang langka karena ia datang sendiri tanpa Eun Ri.

Key yang asyik memakan kue tiba-tiba meletakkan kuenya di meja dan menghadap Rae Na yang mau tak mau membuat yeoja itu mengalihkan pandangan dari televisi ke Key. Ia paham jika Key hendak membicarakan hal yang serius.

“Kamu ingat bukan kejadian saat kita menanyai Eun Ri beberapa hari setelah ia sembuh bukan?”

Rae Na hanya mengangguk.

~~~

Flashback on…

Rae Na dan Key tengah berada di kamar Eun Ri. Kebetulan mereka sepulang sekolah pergi ke rumah Eun Ri. Rae Na dan Key berpandangan sesaat. Eun Ri telah duduk di depan mereka karena kata Key ada hal yang ingin ditanyakan padanya.

“Eun Ri, sewaktu kamu pergi ke taman tempo hari, kamu ada acara apa?”tanya Key  to the point.

Seketika tubuh Eun Ri menegang mendengar pertanyaan dari Key, namun dengan cepat ia dapat menguasai dirinya kembali.

“Mengapa kamu berkata seolah aku ada acara di taman Key?”tanyanya setelah berhasil menguasai dirinya.

“Karena tak biasanya kamu memakai gaun ke taman Eun Ri. Kamu akan memakai gaun jika ada acara yang benar-benar kamu anggap penting.”Kini Rae Na yang buka suara.

“Mungkin itu hanya anggapan kamu Rae Na. Kebetulan hari itu aku hanya ingin mengenakan gaun. Apa itu tidak boleh?”

“Lantas mengapa saat itu kamu tiba-tiba memelukku?”Kini Key yang angkat bicara.

“Memang tidak boleh aku memeluk sahabatku sendiri? Sudahlah. Lebih baik sekarang kita makan. Aku yakin pasti Hye Kyo sudah menyiapkan makan siang untuk kita.”

Eun Ri lalu menarik Key dan Rae Na untuk turun ke bawah.

Flashback off…

~~~

“Kamu merasa tidak jika alasan yang diberikan Eun Ri aneh?”

“Aneh?”

“Ya. Aku merasa ada hal yang ia sembunyikan dari kita.”

“Sudahlah Key. Ada beberapa hal yang mungkin tidak ingin diceritakan Eun Ri pada kita, walaupun kita adalah sahabatnya. Setidaknya berilah dia privasi sedikit. Kamu juga pasti mempunyai rahasia yang tidak dapat kamu ceritakan pada kami bukan? Tidak semua hal yang kita alami kita ceritakan pada orang lain, sedekat apapun orang itu dengan kita.”

Key hanya mengangguk membenarkan perkataan Rae Na. Ia kembali menyantap kue yang tergeletak di meja sedangkan Rae Na kembali menonton acara televisi kesukaannya.

“Sudah sana pulang,”ujar Rae Na beberapa menit setelahnya.

“Sebentar, aku lapar.”

Key beranjak menuju dapur.

Ish,”cibir Rae Na.

Terdengar bunyi berisik dari arah dapur. Rae Na yang mendengarnya cuek, ia kembali memakan kue yang tadi sempat tak diacuhkannya.

“Key, jangan lupa bereskan kembali peralatannya. Aku tak mau dapurku kotor.”

“Iya bawel.”

Tak lama Key datang membawa dua piring nasi goreng. Satu piring ia serahkan pada Rae Na. Tak heran jika Key tanpa ragu masuk ke rumah Rae Na. Ia sering memasak makanan untuk Rae Na atau dirinya sendiri. Orang tua Rae Na pun tak melarang karena mereka telah kenal baik dengan Key.

***

“Haish, dasar dongsaeng menyebalkan. Seenaknya saja memakai mobilku tanpa izin,” gerutu Jinki sepanjang perjalanan pulang.

Ketika tengah menggerutu, tiba-tiba retina matanya menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya tengah berkelahi dengan preman beberapa ratus meter di depannya. Tanpa babibu Jinki langsung mendekatinya dan menolongnya.

Bugh…

Bugh…

Dua pukulan mendarat mulus di wajah preman berbadan besar hingga membuatnya terjatuh.

“Jinki-ssi ?”

Sebuah suara lembut yeoja menginterupsinya ketika hendak kembali menghajar preman tadi.

“Awas.”

Bugh…

Dengan sigap Jinki menumbangkan preman bertato yang hendak menyerang yeoja tersebut.         

“Lain kali jika tengah berkelahi perhatikan lawanmu Eun Ri-ssi.”

Jinki segera menempelkan punggungnya pada punggung Eun Ri.

“Bagaimana kamu bisa berada di sini?”lanjutnya.

“Nanti akan kujelaskan setelah menghabisi mereka,” ujar Eun Ri sambil menghajar preman berbadan jangkung.

Mereka pun bekerja sama menghajar preman-preman tersebut hingga tumbang satu per satu. Setelah yakin preman-preman itu benar-benar pingsan, Jinki segera mengambil tasnya dan Eun Ri lalu menjauh dari tempat itu bersama Eun Ri.

Gamsahamnida,”ujar Eun Ri terengah setelah menjauh dari tempat tadi.

Ne. Bagaimana bisa kamu dikeroyok preman-preman tadi?”tanya Jinki to the point.

Bukannya menjawab pertanyaannya, Eun Ri justru pergi meninggalkan Jinki.

“Hei! Setidaknya jawab dulu pertanyaanku!” teriak Jinki ketika Eun Ri menjauh.

Namun Eun Ri tak menggubris Jinki, ia terus saja melangkah. Jinki pun duduk di bangku terdekat untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Ia memegangi sudut bibirnya yang robek karena sempat terkena pukulan preman.

“Jangan disentuh,” ujar Eun Ri yang tiba-tiba telah berdiri di hadapan Jinki dengan membawa alcohol, kapas dan obat merah.

Ternyata Eun Ri pergi ke supermarket terdekat untuk membelinya. Eun Ri pun berjongkok di depan Jinki dan mulai membersihkan lukanya. Dengan hati-hati Eun Ri mengobati luka Jinki.

“Selesai,” ujarnya senang.

Ia pun duduk di samping Jinki.

“Sekarang jelaskan padaku.”

Eun Ri menoleh ke kanan. Ia menghembuskan napasnya sesaat sebelum menjawab pertanyaan Jinki.

“Ketika pulang sekolah, tiba-tiba mereka menghadangku. Mereka meminta uang padaku.”

“Lantas mengapa tak kau berikan?”

Eun Ri menghembuskan napasnya jengah sebelum menjawab pertanyaan Jinki.

“Aku bukan orang bodoh Jinki-ssi . Bukan tidak mungkin setelah mereka mendapatkan uang itu, mereka tidak mengizinkanku pergi. ”

Jinki mengangguk membenarkan ucapan Eun Ri.

“Aku tak menyangka ternyata kau pandai berkelahi,”ujar Jinki kagum setelahnya.

“Yah, untuk ‘ukuran yeoja’ cukup lumayan bukan?”katanya menekankan frasa ‘ukuran yeoja’.

“Aku juga tak menyangka jika president of students pandai berkelahi,”lanjutnya kagum.

Jinki memegang tengkuknya kikuk. Ia merasa bersalah dengan ucapannya tempo hari. Eun Ri berdiri lalu merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Jinki yang melihatnya ikut berdiri.

“Ingin pulang?”

Eun Ri hanya mengangguk.

“Mari kuantar pulang.”

Eun Ri mengerutkan keningnya. Ia melihat Jinki berjalan mendahuluinya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Ia pun menggendikkan bahu lalu menyusul Jinki.

Gamsahamnida Jinki-ssi,” ujarnya membungkukkan badan ketika sampai di depan rumah.

Ne. Kalau begitu aku pulang dulu. Annyeong.”

Setelah berpamitan, Jinki pun pergi. Eun Ri pun segera masuk rumah setelah punggung Jinki menghilang dari jarak pandangannya.

***

Eun Ri tengah berkeliling taman sambil menikmati udara segar dan menenangkan pikiran. Namun sepertinya ia salah tempat. Ia lupa jika hari ini adalah hari Minggu sehingga otomatis taman ramai dengan muda-mudi yang tengah memadu kasih. Di setiap sudut ada saja pasangan yang tengah bermesraan. Langkahnya terhenti ketika retina matanya menangkap seorang namja yang tengah berlutut di hadapan seorang yeoja sambil menyodorkan sebuket bunga mawar merah. Sepertinya sang namja tengah menyatakan cintanya. Dengan rona merah di kedua pipinya, sang yeoja itu pun menerima buket tersebut. Refleks sang namja memeluk  yeojachingu-nya. Terlihat kebahagiaan di wajah sepasang kekasih baru tersebut.

~~~

Flashback on…

            Seorang yeoja tengah berada di taman kota, duduk di rumput sembari membaca novel yang cukup tebal.  Ketika tengah asyik membaca, tiba-tiba ada seorang namja berlutut di depannya dengan membawa bunga Lily di tangan kanannya dan coklat dalam tempat berbentuk hati di tangan kirinya.

            “Eun Ri, mungkin aku bukanlah namja yang romantis. Aku sebenarnya telah jatuh cinta padamu sejak kita pertama masuk. Mungkin ini terlalu cepat, namun inilah kenyataannya. Aku bingung bagaimana cara menembakmu, maka jika kamu  juga mencintaiku tolong ambil coklat ini. Namun jika kamu tak mencintaiku, tolong ambil bunga Lily ini,”ujarnya penuh harap.

            Eun Ri mendekap mulutnya dengan punggung tangannya. Terlukis dengan jelas keterkejutan di wajahnya. Bagaimana tidak, namja yang tengah berlutut di hadapannya adalah salah satu namja popular di sekolahnya. Ia pun menghembuskan napas perlahan. Setelah cukup tenang, perlahan ia pun mengulurkan tangannya untuk menentukan pilihannya. Dengan sigap ia mengambil bunga Lily lalu menghirup aromanya. Namja itu menundukkan kepalanya. Dengan perlahan ia berdiri dengan wajah kusut. Belum sempat ia melangkahkan kakinya, seseorang memegang pergelangan tangannya hingga membuatnya menoleh.

            “Bisakah kau berikan coklat itu padaku?” ujar Eun Ri sambil tersenyum.

           Namja itu mengerutkan keningnya. Eun Ri mengambilnya lalu mulai membuka bungkusnya dan memakannya.

            “Inilah jawabanku.”

            Senyum mulai terukir di wajah namja tersebut kala mengerti maksud Eun Ri. Tanpa babibu, namja tersebut memeluk Eun Ri.

            “ Saranghae,”bisiknya  tepat di telinga Eun Ri.

            “ Nado saranghae, Oppa.

            Perlahan namja itu mendekatkan wajahnya pada Eun Ri hingga ia dapat merasakan hembusan napas namjachingu-nya kini di wajahnya. Semakin dekat dan semakin dekat hingga kedua bibir itu menempel. Hanya menempel tanpa ada pergerakan.

Flashback off…

~~~

Eun Ri tersenyum miris melihat adegan manis tersebut. Ia seperti melihat refleksi dirinya dan namjachingu-nya tiga tahun lalu pada diri pasangan kekasih itu. Tanpa sadar sebutir kristal bening meluncur melewati lekuk wajahnya.

“Hai Eun Ri-ya.”

Sebuah suara yang dikenalnya sebulan belakangan menginterupsi indera pendengarannya. Dengan buru-buru ia menghapus jejak air mata yang sempat menghiasi wajahnya lalu berbalik dengan senyum yang kini menghiasi bibirnya.

“Jinki-ya ? Mengapa kau bisa di sini?”

“Hanya meikmati udara segar. Kamu?”

“Sama.”

Mereka pun berjalan beriringan. Keheningan melingkupi keduanya. Tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga suara Jinki memecah keheningan.

“Kamu tidak ada acara ‘kan hari ini?”

Eun Ri menggeleng.

Great! ”serunya senang.

Senyum mengembang di wajah tampannya. Eun Ri  mengerutkan keningnya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi dari taman. Eun Ri yang bingung hanya mengikuti langkah Jinki yang memegang tangannya. Mereka berhenti di area parkir.

“Masuk,”ucap Jinki membukakan pintu mobilnya.

“Kau mau membawaku ke mana Jinki?”

“Masuklah dan kau akan tahu,”katanya tersenyum.

“Tenanglah, aku tak akan berbuat macam-macam padamu,”tambahnya ketika melihat keraguan di wajah Eun Ri karena yeoja itu tak segera masuk.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Eun Ri masuk. Jinki segera berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi. Ia pun menyalakan mobil dan tancap gas meninggalkan taman.

Setelah insiden perkelahian itu, Jinki dan Eun Ri akrab. Terkadang sepulang sekolah Eun Ri menemani Jinki di ruangannya, menunggu Jinki menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai Jinki akan mengantar Eun Ri pulang setelah sebelumnya mereka makan di café langganan mereka yang tak jauh dari sekolah.

***

“Bagaimana? Asyik bukan?”tanya Jinki pada Eun Ri yang tengah melahap es krim.

Sekarang mereka tengah beristirahat di salah satu kedai es krim setelah lelah mencoba berbagai permainan yang ada di taman bermain. Ya, ternyata Jinki membawa Eun Ri ke sebuah taman bermain yang sukses membuat yeoja itu menyungging senyumnya.

“Eum,”dengungnya sambil mengangguk.

“Jinki, gomawo,”lanjutnya tulus.

Telah membuatku tersenyum walau masih ada sedikit rasa sakit di hatiku,’lanjutnya dalam hati.

Jinki hanya mengangguk. Ia memandang Eun Ri yang tengah asyik menyendokkan es krim ke mulutnya. Seulas senyum terpatri di wajahnya. Ia pun kembali memakan es krimnya ketika Eun Ri menatapnya.

“Setelah ini kau ingin langsung pulang atau masih ingin bermain?”tanya Jinki setelah mereka sibuk dengan es krimnya masing-masing sehingga keheningan melanda keduanya.

Eun Ri meletakkan jari telunjuknya di dagu seolah sedang berpikir.

“Aku ingin naik bianglala dan melihat pemandangan malam hari dari bianglala tersebut. Boleh ‘kan?”tanyanya ragu.

Jinki hanya mengangguk. Eun Ri melonjak senang lalu segera menarik lengan Jinki menuju bianglala. Tak memerlukan waktu lama untuk mereka mengantri. Mereka segera duduk di dalam bianglala. Eun Ri terlihat takjub dengan pemandangan malam yang tersuguh di depan matanya. Jinki hanya terkekeh melihat wajah Eun Ri yang seperti anak kecil. Eun Ri langsung menatap tajam Jinki hingga membuat namja itu berhenti terkekeh.

“Apa ada yang lucu?”tanyanya ketus.

Anni, apakah ini pertama kalinya kau naik bianglala?”

Eun Ri menggeleng.

“Tidak. Namun ini pertama kalinya bagiku melihat pemandangan seindah ini,”ujarnya melihat ke bawah di mana terdapat cahaya lampu yang terlihat begitu kecil dari atas.

Jinki pun ikut memandang ke bawah. Memang benar apa yang dikatakan Eun Ri, pemandangannya sangat indah.

“Eun Ri.”

“Eun Ri-ya,”ulangnya karena tak mendapat balasan dari Eun Ri.

Ketika ia berbalik, ternyata Eun Ri telah terlelap. Terlihat jelas kelelahan mendominasi wajah cantiknya. Setelah bianglala berhenti, dengan perlahan Jinki menggendongnya ala bridal style menuju mobilnya. Ia meletakkan Eun Ri hati-hati di jok penumpang, tak lupa ia memasangkan seat belt padanya.

***

Tok…to…tok…

Hye Kyo dengan sebal berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.

“Ya-“

Belum sempat Hye Kyo memaki orang yang mengetuk pintu berkali-kali, matanya terbelalak.

“Astaga! Oennie? Apa yang terjadi padanya? Dan siapa kamu?”tanyanya bertubi-tubi ketika mendapati Eun Ri tak sadarkan diri di gendongan seorang namja.

“Ia tak apa-apa, hanya kelelahan. Tadi kami pergi ke taman bermain. Aku Jinki. Bisa tolong tunjukkan kamarnya?”

Hye Kyo mengangguk. Ia segera menuju kamar Eun Ri dan Jinki mengikutinya. Setelah tiba di kamar, dengan perlahan Jinki membaringkan Eun Ri dan menyelimutinya sebatas dada. Sedangkan Hye Kyo keluar untuk meletakkan flat shoes Eun Ri di rak sepatu yang berada di lantai bawah. Jinki memandang Eun Ri yang tengah terlelap. Tiba-tiba yeoja itu menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Peluh mulai membanjiri wajahnya, keningnya pun berkerut. Sebulir cairan bening lolos dari kelopak matanya yang terpejam. Dengan perlahan Jinki meletakkan jari telunjuknya di kening Eun Ri dan menekan kerutan tersebut hati-hati, takut jika Eun Ri terbangun hingga kerutannya perlahan menghilang. Ia juga menghapus air mata yang sempat hadir di wajah Eun Ri dengan ibu jarinya.

“Jika hal itu menyiksamu, perlahan lepaskanlah,”ujarnya lirih hampir seperti bisikan sebelum menutup pintu.

Terlihat Hye Kyo tengah menaiki tangga. Jinki tersenyum padanya, yeoja itu pun membalas senyumannya.

“Hari sudah malam, kalau begitu aku pulang dulu…”ujarnya tertahan, seperti ingin mengetahui nama yeoja di hadapannya.

“Hye Kyo. Kim Hye Kyo imnida,” ujarnya memperkenalkan diri seakan tahu maksud Jinki.

“Ah ya Hye Kyo-ya.”

Ne Oppa. Gamsahamnida telah mengantar Eun Ri Oennie pulang,”ucapnya membungkukkan badan.

Cheonma. Annyeong,” ujarnya mengacak lembut rambut Hye Kyo.

Ne. Annyeong Oppa.”

***

Seorang namja tengah terbaring di ranjangnya sambil menimang-nimang sebuah kotak berpita biru di tangannya. Sudah seminggu kotak itu ada padanya, namun hingga saat ini ia belum berani membukanya.

“Sampai kapan kau mau menimang-nimang kotak itu Minho-ya ?”

Sebuah suara menginterupsi pendengarannya. Ia pun menolehkan kepalanya ke pintu. Terlihat seorang namja tengah menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu.

“Aish. Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk Hyung ?”

“Bukan salahku jika masuk tanpa mengetuk pintu. Pintunya saja tak tertutup,”ujarnya santai.

Namja yang dipanggil Minho itu hanya mendengus sebal. Ia kembali menimang-nimang kotak tersebut.

Hyung apa sebaiknya aku membuka ini?”tanyanya setelah terdiam beberapa saat.

Sebuah bantal melayang dan mendarat mulus di kepala Minho.

Baka. Itu yang aku katakan tadi Minho,”dengusnya kesal.

“Ya tapi tak perlu melempariku dengan bantal Hyung,”ujarnya sambil memegangi kepalanya.

Namja yang bersandar di pintu tadi segera mendaratkan tulang duduknya di atas ranjang di samping Minho. Ia sangat penasaran dengan isi dari kotak tersebut. Sudah seminggu ia membujuk Minho untuk  membuka kotak tersebut, namun namja tersebut enggan. Akhirnya sekarang ia dapat melihat isi di dalam kotak tersebut karena Minho berniat membukanya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati Minho mulai membukanya.

“Cepatlah Minho,”ujarnya tak sabar.

“Diamlah Hyung. Aku tak ingin merusaknya. Dia sudah susah-susah menghiasnya dan aku membukanya penuh napsu? Tak akan Jjong Hyung.”

Jonghyun mendengus sebal melihat tingkah sepupunya ini. Jika tidak mengingat kebaikan orang tua Minho yang telah mengizinkannya tinggal di sini dengan alasan untuk menemani Minho, ia akan mencekik Minho sekarang juga. Setelah beberapa saat akhirnya kotak tersebut terbuka. Jonghyun mencondongkan tubuhnya ke arah Minho untuk melihat isi kotak yang membuatnya penasaran seminggu belakangan. Ternyata isinya handuk kecil berwarna abu-abu yang dilipat sedemikian rupa hingga muat di dalam kotak berukuran sekitar sepuluh kali sepuluh sentimeter. Di salah satu sisinya terdapat jahitan tangan yang merangkai sebuah frasa ‘Choi Minho’ dengan sangat rapi. Senyum mengembang di kedua sudut bibir Minho. Jonghyun yang akhirnya mengetahui isinya segera keluar dari kamar Minho, membiarkan sepupunya berpuas ria dengan hadiah dari yeojachingu-nya.

***

Last, jangan lupa comments

Friendly,

Natali Tamashii

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

Advertisements

19 thoughts on “Arti Sebuah Pengakuan – Part 2”

  1. hai.hai-hai….
    *sambil dada-dada miss word*
    redar baru telah muncul……
    Salam kenal ya thor…

    wah……
    sudah ada hawa-hawa persaingan…..
    penasaran level 3 nih…..
    next part nya jgn lama-lama ya….

    1. hai hai juga
      *dada-dada sambil gandeng minho
      *plakkk
      mungkin miss world kali ya
      wuih maybe
      wah kayak game aja deh pake level-levelan
      *plakkk
      okeh
      gomawo udah comment

  2. tuh kan bener si ganteng emang minho 😆 gak mungkin ada si ganteng lainnya kecuali minho 😆
    btw, ada beberapa poin yang bikin aku bingung di sini:
    – kenapa eunri bisa berantem sama preman?
    – kenapa juga eunri harus ngambil bunga lily duluan, baru abis itu minta coklatnya.. ini beneran–maaf–ide pasaran sebenernya.. soalnya banyak banget kan tuh, baik dikehidupan nyata maupun dalam ff, seolah mau nolak, padahal mau nerima.. sejenis kayak ngasih jawaban “enggak bisa…” trus cowoknya udah sedih, baru dilanjutin “aku enggak bisa nolak kamu” -_- klo aku sih disuguhin adegan beginian, brasa labil banget itu orang -_-
    – kenapa eunri malah tidur padahal dia kan yang mau naik bianglala.. jujur klo aku ada di posisi dia, ketika nikmatin pemandangan indah yang memang aku sukai, gak mungkin lah tiba2 tidur.. kecuali jinki ngajak ngedate ke tempat yang ngebosenin, mungkin bisa jadi ketiduran..
    yah, intinya sih, aku berasa masih ada scene yang sedikit memaksa.. atau mungkin bisa lebih dijelasin lagi supaya jadi lebih masuk akal dan gak asal terjadi.. hayo semangat bikin ff-nya! keep writing! 😉

    1. iya deh eon iya minho emang keren bin ganteng dah 🙂
      hmmm aku jelasin ya eon:
      # kan eun ri-nya dihadang preman yg mau malak dia tapi dia gak mau ngasih uangnya jadilah berantem gitu
      setelah selesai ngobatin jinki kan si eun ri ngejelasin
      mungkin penjelasannya kurang detail kali ya?
      #yah jujur aja aku itu bukan orang yang romantis jadi gak bisa bikin adegan romantis dan terkesan maksa mian
      setelah aku baca ulang ternyata aku lupa nyelipin alasan eun ri ngambil bunga duluan daripada coklat
      so aku jelasin di sini aja karena gak mungkin aku rombak ff yang di sini
      jadi si eun ri itu sangat suka bunga lily makanya dia ngambil bunganya duluan 🙂
      #sebelum diajak jinki ke taman kan dia flashback adegan pas ditembak minho nah secara emosional tuh dia pasti sedih dan sebelum naik bianglala mereka udah naik berbagai permainan jadi eun ri capek makanya dia tertidur
      aku sengaja gak ngasih penjelasan karena sepengetahuan aku itu gak perlu dijelasin
      yah semacam tersirat gitu eon 🙂
      ya mungkin emang aku bikin scenenya maksa ya? karena aku tuh kebiasaan kalo bikin satu scene pasti ntar jadi panjang bahkan pernah sampe dua lembar karena keasyikan bikin narasi jadi aku takut kalo bikin scene panjang-panjang
      okeh eonnie
      gomawo udah mau koreksi ff aku ini
      sangat membantu loh eonnie
      aku juga mau minta maaf kalo ff aku banyak adegan gajenya
      *bow

  3. Diantara si ganteng Minho dan Presiden siswa yang berkharisma…?
    aku pilih yang pakek kaca mata, deh….

    Kenapa udah satu minggu lewat Minho belum nemuin Eun Ri..??
    Dia gk tau kalo eun ri lg galau?
    kalo mrk emg udah janjian di taman, trus gk ketemu krn Minhonya telat,
    mestinya dia segera nyusul dan nemuin eun ri untuk mnt maaf…
    bkn cm sekedar kirim bunga dgn tulisan “mianhe…’
    apaan tu? ni, dia, cm senyum2 gaje liat kado dr eun ri…?
    what de maksud itu???

    Tp pngen tau kelanjutannya…
    apa maunya… tuh, minho “ngelantarin” eun ri gitu?

    Si kacamata, kapan, ni, bakal beraksi…?
    selalu deh, lambat panas, kayak mesin diesel….
    Tp itu yg buat aku suka…. heheheeee…..

    #ditimpuk kulit pisang ma author….

    Part 3 buruan, ya…

    1. hmmmm untuk semua pertanyaan kamu bakalan terjawab di next part ya
      duh kayak si kacamata detective aja deh
      okeh
      gomawo udah mampir + comment

  4. hwaaaa…!!! ga rela.. part yg ini kcpetan eon.. Q bru dpet feel nya Eh tba” bersambung..

    Kyaaa!!! Thor- aku pnsaraaann!!! next nya cpeet # mksa!

  5. “Yeojachingunya“??
    Berarti minho n eun ri masih pacaran ϑό°°◦☀ทќ
    Ŧǻρί Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ pisah?
    Apa mereka marahan?
    Ŧǻρί ªkŮ lebih suka sama jinki
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ maklum mvp
    Lgsg next ja Ɣää thorr

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s