2NE — SCENE 4: Path

2NE — SCENE 4: Path

Written by Zikey

2NE-10

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Guest Star:

– C.A.P a.k.a Bang Min Soo (Teen Top)

– Kim Sung Kyu (Infinite)

– Kim Donghyun (Boyfriend)

– Jung Jinyoung (B1A4)

Supporting Cast:

–          Pak Kwak

–          Lee Jinki a.k.a Onew

–          Goo Jae Woo

Genre: Angst, Mystry, Family, Life, Friendship

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: General

Note: Jujur yah, aku gak tahu part yang ini sebenernya gimana..rasanya kok hambar banget. Ceritanya juga gak jelas =,= yaa.. endure aja deh yaa.. next will be better. Hehehe~

I don’t care about rules, what anyone says,
or whoever blocks me
Even if I collapse or shed tears,
I’ve only got one path

[Bang Sung Joong – Jaywalking]

Café Haneul, Dangju

Young on Top…” gumam Sung Kyu sekali lagi. Masih tidak ada bayangan yang melintas di otak mereka, bahkan otak Yujin semakin kosong.

Ya, Yujin… kesehatanmu bisa terganggu kalau minum ini terus!” Joong Ki merebut cangkir vanilla latte keduanya.

Oppa, ini sumber inspirasiku.Atau oppa mau aku cari inspirasi dengan merokok?” Joong Ki mendesah dan mengembalikan cangkir tersebut pada Yujin.

Young on Top, tidak selalu berarti kesuksesan dari seorang anak muda kan? Intinya, tidak selalu tentang tokoh muda yang berhasil?” Yujin mulai menerka.

“Bisa juga diartikan sebagai masa jaya anak muda.” Sambung Donghyun.

“Kalau yang kita garis bawahi kata young, berarti anak muda.Kita bisa membuat film tentang anak muda. Tapi kalau yang digaris bawahi kata young dan top, maka film kita harus mengenai kehebatan anak muda.” Kali ini gantian Jinyoung yang menganalisis, kemudian kelimanya memandang Joong Ki yang tengah menatap lurus pada kertas hasil TM.

“Ketika kata Young on Top muncul, kebanyakan orang akan membayangkan kisah pembuat website facebook atau semacamnya. Atau orang-orang yang sukses menjadi jutawan dalam umur muda. Jika ingin berfikir lain, perjuangan sekumpulan anak SMA dalam menempuh atau mensukseskan sesuatu juga bisa kita anggap Young on Top. Contohnya, SMA ini bukan SMA ternama, orang-orang mencemooh para murid, anak-anak berandalan yang hanya bisa menyulitkan orang tua. Tapi sebenarnya anak-anak ini menjadi buruk karena dipandang buruk, maka mereka mutuskan untuk membuat gebrakan. Bersama-sama, mengangkat nama sekolah. Contoh yang seperti itu, juga bisa dibilang Young on Top. Tergantung seseorang mau memandang Young on Top dari sisi mana.”Akhirnya, analisis cerdas dari Song Joong Ki keluar.

“Ingin ambil resiko, atau cari aman?” Joong Ki langsung melirik Yujin, curiga. “Aku serius. Mau yang menantang dan beresiko, atau yang biasa saja tapi aman?” tantang Yujin sekali lagi, dan Joong Ki yakin, kini sebuah ide luar biasa berbahaya tersangkut diotak Yujin. Keempatnya saling melirik, bingung harus menjawab apa.

“Karena kami orang baru dibidang ini… emm… mari kita ambil yang menantang dan beresiko.” Kata Sung Kyu sok bijak.

ANDWAE!” Donghyun dan Jinyoung serempak perotes.

“Eh, Kim Sung Kyu! Dimana-mana, kalau masih pendatang baru itu mencobanya yang mudah dulu!” timpal Jinyoung tidak terima.

“Salah!” kata Sung Kyu dan Yujin bersamaan, kemudian menepukkan telapak tangan kiri mereka sebagai perayaan.

“Dimana-mana, orang baru itu harus mendapat yang susah.Supaya belajar lebih banyak, dan jadinya tidak berleha-leha dengan yang mudah.Berjuang dulu baru santai,” Sambung Joong Ki. “Tapi kan ini kasusnya beda!” tiba-tiba Joong Ki sendiri yang melawan argumennya.

“Apanya yang beda?”

Donghyun berdecak kesal. “Kita ini akan mengikuti kompetisi, dan kita bergabung dengan seorang senior yang artinya kita akan merepotkan si ahli, Sung Kyu-ya! Kalau kita nekat, takutnya itu hanya akan memakan waktu juga tenaga. Mengerti tidak sih?”

Yujin tersenyum. “Bagaimana kalau aku tidak merasa dibebani? Anggap saja aku juga pendatang baru, dan kita hanya sebuah kru kecil yang bermodalkan nekat mengikuti ajang film besar. Apa pilihan kalian?”

Keempatnya saling melirik, mencari jawaban secara hati-hati, memilih mana yang lebih baik.Atau setidaknya… mana yang lebih sanggup untuk dijalani.“Baik, selagi mencari jawaban aku ke toilet dulu.”

Mendengar penjelasan hasil analisis si cerdas Joong Ki tadi, Yujin langsung mendapatkan ide untuk mengangkat kisah Yoon Ai. Untung-untung jika di sekolah Yoon Ai akan ada proyek besar, maka proyek itulah yang akan jadi bahan utama dengan beberapa kisah tambahan yang pasti terjadi selama proses perealisasian proyek tersbeut.

“Ai?” sapa Yujin langsung begitu Yoon Ai menjawab panggilan.

“O, eonni, wae?” Yujin menarik nafas, berdoa dalam hati agar rencananya berhasil.

“Sekolahmu, apa ada kelas sinematografi?”

“Ada, lumayan berkembang. Ada apa?”

“Dalam waktu dekat ini, sekolahmu sedang ada proyek acara?”

“Proyek? Ada… organisasi kesiswaan sepakat untuk membuat acara Art Exhibition yang melibatkan tiga angkatan dan berpartisipasi bersama klub atau ekskul masing-masing. Ada apa sih?”

“Menurutmu… apa sekolahmu akan menerima tawaran untuk menjadi bahan film?” Yoon Ai berdecak, bingung.

“Ada apa sih sebenarnya?”

“Aku dan kruku berencana menggunakan sekolahmu sebagai pusat bahan film kami, dengan perjalanan acara Art Exhibition itu sebagai jalan ceritanya.”

“Oh? Benarkah? Woaa… asik!”

“Besok kita bertemu untuk membicarakan ini ya?”

Call!” Yujin menatap dirinya melalui cermin, tulang pipinya sudah menonjol tinggi tapi kemudian wajahnya cemberut.

Ia masih kehilangan kontak dengan Jonghyun, semenjak hari itu, rasanya sulit sekali bertatap muka dengan lelaki yang satu itu. Sebenarnya kecewa juga ketika tahu Jung Hyeon yang hadir di technical meeting, bukan Jonghyun. Ia tahu Jonghyun tidak kekanakan seperti dirinya, yang akan menggunakan alasan sibuk untuk menghindari lawan. Kadang ia jadi berharap bisa bersikap seperti Jonghyun, ketika salah akan dengan sekuat tenaga memohon maaf. Dirinya? Ia selalu memiliki ruang kecil yang terus berteriak bahwa ia tidak salah, membuatnya tidak mau mengalah.

“Yujin! Kenapa lama sekali ke toiletnya? Kami keburu berubah pikiran!” sembur Joong Ki begitu yang ditunggu menunjukkan batang hidungnya.

“Hehehe..maaf, jadi?”

“Menantang dan beresiko.”Jawab keempatnya mantap, membuat senyum Yujin bertengger di bibirnya dengan lebar.

“Kita akan meliput acara Art Exhibition di salah satu SMA seni Anyang.” Keempat laki-laki dihadapannya reflek mendelik.

“Sudah ditentukan?” tanya Jinyoung takjub.

“Sudah, hanya tinggal mengurus perizinan dan membuat script.” Jawab Yujin yakin.

“Apanya yang menantang dan beresiko? Hanya meliput acarakan? Sepertinya biasa saja,” Sung Kyu menghakimi.

Yujin menggeleng, “Membuat dokumenter bersama anak-anak SMA tidak pernah semudah yang kalian bayangkan, apalagi ini SMA Anyang, ditambah nasib film kita yang masih berbayang. Mendapat izin dari sekolah mungkin mudah, tapi dengan murid-muridnya… aku bisa menebak berapa lama kalian bisa bertahan.”

“Bekerjasama dengan anak-anak SMA ya…” Sung Kyu bergumam sambil tercengir, membuat Donghyun gemas memukul kepalanya.

“Jangan berpikiran macam-macam deh, sudah tua tidak tahu malu!” omel Donghyun.

“Pasti akan sangat membanggakan bekerja denganmu.”

“Tidak juga, ini kan kita baru akan mulai. Belum tentu aku benar-benar membanggakan. Kita akan membutuhkan minimal 10 kru lagi, jadi selama proses perizinan, aku harap kalian bisa mendapatkan kru lebih banyak lagi. Untuk bagian property, camera person, perizinan, dan semacamnya. Oh ya, pekan ini ada acara Pekan Donor Darah, penutupannya sabtu depan. Datang ya,”

“Siap bos!” seru mereka, kompak.

Gedung 2NE, Chungmuro, Jung-gu

Yujin membasuh tangannya sekali lagi, menarik nafas. “Tenang Yujin, hanya donor darah. Rasanya seperti digigit semut saja, hanya donor darah.” Berulang kali Yujin mengulang kalimat yang sama untuk menenangkan diri meskipun sangat tidak berhasil.

“JONGHYUN!” jerit Yujin senang ketika melihat Jonghyun keluar dari toilet laki-laki, bersamaan dengannya yang keluar dari toilet perempuan.

“Astaga… Yah! Chae Yoo Jin, aku… a-ack-aish! Lepas!” secara paksa Jonghyun melepaskan lingkaran lengan Yujin di lehernya.

“Maaf… aku terlalu senang, hehehe.”

“Sudah sana keluar, donor darahnya sudah dimulai. Pastikan tadi pagi sudah sarapan.” Kata Jonghyun ketus.

“Ya, Kim Jonghyun… masih marah padaku?” Yujin memelas.

“Tentu saja… tidak! Memangnya hidupku hanya duduk dan memikirkan kesalahan orang lain? Sudah sana.” Meskipun masih ketus tapi Yujin senang, setidaknya Jonghyun tidak marah padanya.

Hari ini acara donor darah besar digelar untuk yang kedua kalinya, di tahun ini. Acara ini telah menetap dalam agenda 2NE sejak pertama berdiri, berawal dari anggota 2NE saja, kemudian dibuka untuk umum, mengundang beberapa artis, hingga kini mendapatkan banyak sponsor dan membuka registerasi untuk siapapun yang memenuhi syarat pendonoran darah.

Mestinya ini kedua kalinya bagi Yujin mendonorkan darah, namun waktu itu ia sedang berhalangan sehingga dilarang untuk mendonorkan darah. Seluruh staff turut senang karena kali ini darah Yujin sedang bersih, sehingga ia bisa berpartisipasi dalam acara ini. Acara digelar tepat di halaman belakang gedung 2NE, dengan tiga buah tenda besar dan beberapa mobil dari pihak palang merah dengan segala peralatannya.

Meskipun Yujin telah menjabat sebagai sutradara, melihat banyak sekali artis yang datang dan mengantri membuatnya jadi merasa seperti menonton press conference! Yujin sedang terkagum-kagum dalam hati ketika seseorang menepuk pundaknya keras.

Oppa!” pekik Yujin kesal, membuat Joong Ki justru tertawa.

“Semua orang sibuk mengantri, apa yang kamu lakukan di sini? Mengagumi para artis yang datang?” tebak Joong Ki tepat.“Dasar kampungan,” ledeknya kemudian melesat kabur bahkan sebelum Yujin sempat mengangkat tangannya, hendak memukul Joong Ki.

Karena terlalu banyak wartawan dan penggemar yang datang, ketika Yujin akhirnya melihat Min Soo bersama Teen Top, mereka hanya bisa saling berpandangan kemudian tersenyum satu sama lain. Di saat bersamaan, berharap tidak ada yang ambil pusing ketika melihat sneaker kembar Yujin dan Min Soo yang digunakan saat ini. Setelah saling menyapa dengan cara yang demikian, Yujin kembali berkeliling hingga Hyeo So menangkapnya.

Ya! Ayo cepat masuk ke tenda, sebentar lagi giliranmu.” Yujin mendelik kaget, kapan Hyeo So ada di belakangnya?

“Apa? Aku sudah!”

Hyeo So memicingkan matanya. “Jangan sampai aku memanggil Key dan Ai untuk menyeretmu ke dalam, cepat jalan!”

“Ai, kemari?” Hyeo So mengangguk.

“Tentu saja ia kemari, semua bintang yang pernah bekerja sama dengan 2NE diundang. Sudah, ayo cepat!” dan berkat Hyeo So… untuk pertama kalinya, dalam sejarah hidupnya, Yujin membagi darahnya.

“Aaaaaa, sakitsakitsakit, Kim Kibum, sakit! YA!”

Key tertawa keras, pukulan Yujin bahkan sampai tidak terasa. “Masa segitu saja sakit? Dasar lemah!” sekali lagi, dengan jahil Key memukul bekas suntikan Yujin yang langsung mendapat delikan mata dari Hyeo So.

“Nakal, nanti giliran kamu yang dijahilin, marah. Ngambek,” omel Hyeo So, membuat Key mengangkat tangan. Menyerah. Yujin rasanya ingin menangis, malu sekaligus kesal. Untuk pertama kalinya, ia memperlihatkan sisi lemahnya. Menjerit tidak karuan hanya karena takut dengan jarum suntik.

“Eh, Itu Jonghyun sajangnim.” Key menunjuk Jonghyun yang sedang berjalan menuju tenda makanan, Yujin langsung berdiri.

“Tunggu di sini sebentar, aku mau menghampirinya.”

Jonghyun menarik nafas dalam, ia lupa pagi ini belum makan. Dan lebih sial lagi, ia baru ingat setelah darahnya diambil. Jonghyun mengerjap bingung ketika tiba-tiba melihat kunang-kunang, kepalanya tidak pusing sama sekali, kenapa matanya jadi begini? Ia segera mencari tiang untuk berpegangan. Namun, belum sempat tangan itu meraih tiang, tubuh Jonghyun ambruk tanpa aba-aba.

Sajangnim!”/ “Jonghyun!”

Apartement Jonghyun, Jung-gu

Yujin menghela nafas, masalah apa yang bisa membuat Jonghyun tumbang begini? Tiga minggu berturut-turut kerja tanpa kenal waktu, makan juga hanya satu kali sehari kalau ingat, tidur hanya beberapa jam dan kembali kerja lagi. Bagaimana tidak pingsan coba? Ditambah, sudah tahu mau donor darah malah tidak sarapan. Harusnya kondisi seperti ini bisa terdeteksi, kenapa petugas tidak melarang Jonghyun? Yujin menginjak pedal gas lebih keras, ia ingin mengembalikan kunci apartement Jonghyun dan meninggalkan makanan.

“Jonghyun maaf ya, aku sembarangan masuk. Aku hanya ingin mengembalikan kunci dan memasak untukmu kok.” Yujin setengah berbisik, sambil menempelkan kunci apartement Jonghyun yang ia pungut disekitar tenda kesehatan, kemudian merasa curiga dengan kesenyapan apartement Jonghyun. Sepatu Jonghyun ada, mobilnya juga, tapi tidak ada suara sedikit pun. Yujin terpancing untuk memeriksa ruangan-ruangan yang bisa terbuka, hingga menemukan Jonghyun tergeletak di lantai kamar mandi dengan wajah pucat pasi.

Ya, Kim Jonghyun! Bangun… astaga, Jonghyuna!” berkali-kali Yujin mengguncangkan tubuh Jonghyun tidak akan berguna. “Tuhan… beri aku kekuatan.” Yujin menarik nafas dalam-dalam, berniat menggendong Jonghyun di punggungnya… ya… setidaknya… menyeret di punggung.

Susah payah, Yujin membawa Jonghyun di atas punggungnya, meletakan Jonghyun dengan kasar di atas kasur. Tenaganya terserap setengah! Nafasnya masih tidak teratur, tapi Yujin tetap memperbaiki posisi tidur Jonghyun, menyelimutinya kemudian memeriksa keadaannya.

“Demam… eemm… obat apa ya?” Yujin bergumam sambil memeriksa kotak obat yang menggantung di kamar mandi.

“Agassi—“

“Aaa kkamjjak-i-ya!” Yujin mengelus dadanya, jantungnya benar-benar melompat bersamaan dengan kakinya.“Bagaimana anda bisa di sini, Pak Kwak?” tanyanya disela nafas tak beraturan.

“Oh, saya? Saya… mengikuti anda,” jawab Pak Kwak datar.

“Maksudku, bagaimana anda bisa masuk?”

Pak Kwak langsung menggaruk kepalanya.“Soal itu… saya…, tidak usah dibahas. Apa anda butuh sesuatu?”

Yujin menjentikan jari. “Aku butuh obat-obatan, dan beberapa bahan makanan. Jonghyun demam, butuh sesuatu yang menyegarkan dan memberi banyak tenaga.” Pak Kwak segera mengangguk dan bergegas pergi ke klinik.

Kadang Yujin berfikir, anak buah ayahnya bukan sekedar penjaga atau pegawai biasa. Mereka punya keahlian yang dimiliki oleh anak buah mafia atau kelompok-kelompok penjahat, seperti ahli membaca kode, menyabotase data melalui computer, dan memecahkan masalah layaknya detektif ahli. Apa iya ayahnya mampu membayar untuk tenaga-tenaga hebat seperti itu? Selama ini ia menjalani hidup biasa saja, tidak seperti konglomerat hebat yang bisa membeli helikopter.

Tidak ingin ambil pusing, Yujin bergegas mengambil baskom dan mengisinya dengan air dingin untuk mengompres kening Jonghyun. Beberapa kali matanya masih menangkap figura-figura Jonghyun dengan kekasihnya.

“Yuna…” suara serak dan paraunya membuat Yujin tidak bisa mendengar jelas siapa yang ia panggil. “Mianhae…” bisiknya lagi lebih jelas, membuat Yujin berkaca-kaca. “Yuna… aku,” kenapa bayang-bayang gadis itu harus masuk disaat seperti ini? Mestinya Jonghyun memanggil ibunya, bukan Yuna. Tidak, mestinya Jonghyun tidak memikirkan apa-apa saat ini, ia hanya perlu istirahat tanpa beban.

“Sakit…”

“Sakit? Bagian mana yang sakit?” Yujin mempertajam telinganya.

“Aku sakit… Yuna….” Yujin menghela nafas, gerah.

“Kim Jonghyun, untuk apa terus menerus memanggilnya? Bukannya aku tidak suka atau aku cemburu, tapi aku tidak senang melihat kamu menyedihkan seperti ini. Haduh, benar-benar deh…” Yujin baru akan beranjak untuk memasak ketika ia melihat sebuah tanda di kalender.

“Aaahh… sebentar lagi ulang tahun, Yuna.” Gumamnya, mengerti kenapa keadaan Jonghyun jadi seperti ini. Kuduknya tiba-tiba berdiri ketika merasa hembusan angin yang berbeda, dinginnya menusuk tengkuk Yujin. Matanya menyelidik setiap jendela, semuanya tertutup. Ia menggedikan bahu sebeleum bergegas ke dapur untuk memasak bubur.

Jantung Yujin terpacu lebih cepat ketika tiba-tiba buku yang diletakkan di atas meja dengan posisi horizontal jatuh ke lantai, meskipun Yujin tidak mudah takut, namun ia tidak bisa menghindari atmosfer aneh di sekitarnya. Kalau dipikir-pikir lagi, bagaimana caranya sebuah buku yang posisinya tiduran di tengah meja bundar bisa jatuh ke lantai tanpa ada yang menyentuh?

Tidak ingin merasa terganggu, Yujin kembali fokus kepada masakannya, memotong daun seledri dengan hati-hati. Dan sekali lagi, rasa was-was mengikatnya. Ketika matanya mendapati bayangan benda yang bergerak sendirinya. Hanya 1cm jauh pergerakannya, namun Yujin yakin betul gelasnya benar-benar bergeser.

*TING TONG*

“Astaga!” pekik Yujin kaget, kakinya langsung melemas, suara bel barusan benar-benar membuatnya terkejut.

“Hah, Pak Kwak! Benar-benar mengejutkanku saja dari tadi,” sembur Yujin kesal begitu membuka pintu, kemudian berjalan lebih dulu menuju dapur.

“Maafkan saya Agassi, saya tidak bermaksud. Ini saya sudah membeli obat-obatan paling manjur, lalu juga beberapa bahan makanan.” Yujin langsung memeriksa isi belanjaan Pak Kwak.

“Baik, akan aku masak semua.”

Pak Kwak langsung mendelik. “Untuk apa? Saya pikir untuk orang yang sedang sakit, bubur juga sudah cukup, Agassi.”

Yujin mendesis. “Pak Kwak, anda tidak ingat bagaimana kalian dulu memenuhi meja makanku dengan menu-menu makanan menyehatkan itu? Kalau bukan karena aku harus sembuh cepat, makanan itu pasti aku buang semua. Nah, karena itu aku mau membuatkan Jonghyun makanan yang banyak supaya cepat sembuh. Pokoknya aku mau besok ia sudah sehat lagi.”

“Tidak akan bisa secepat itu Agassi, Jonghyun-ssi pasti mual dan tidak nafsu makan.”

“Harus dipaksa, besok ia harus sembuh! Sebentar lagi kekasihnya ulang tahun, ia harus sehat, harus!” Kata Yujin merasa tidak enak, ia sangat mengerti keadaan Jonghyun. Pak Kwak mengangguk yakin, ia akan membantu Yujin.

“Omong-omong, memangnya anda bisa masak apa saja Agassi?” tanya Pak Kwak sambil mencuci sayuran.

“Aku? Bubur… hanya, bubur. Hehehe…” bahu Pak Kwak merosot, sudah menduga nona mudanya akan bilang begitu.

Krispy Kreme Doughnuts, Sinchon-dong

“Permisi… apa anda, Onew-ssi?” Onew menurunkan korannya, melalui lensa kacamatanya, ia menangkap sosok wanita berbalut kemeja biru awan tembus pandang dan celana panjang putih.

“Chae Yoo Jin-ssi?” Onew balik bertanya kemudian mengerutkan alis saat melihat seorang laki-laki berbaju formal berdiri di serong kiri wanita ini. Yujin mengangguk, kemudian meminta laki-laki itu untuk membiarkan ia bicara serius dengan Onew.

“Senang bertemu anda, saya Onew teman Jonghyun.” Onew tersenyum sambil bersalaman dengan Yujin. “Silahkan duduk.”

“Terima kasih,” Yujin melirik pada artikel yang tadi dibaca Onew. “Aku pikir jaksa lebih senang baca artikel mengenai politik, perkembangan ekonomi, dan semacamnya,” ujar Yujin bercanda, jaksa di hadapannya ini membaca tabloid infotaiment.

“Beberapa tahun ini, mulai banyak jaksa gaul,” Keduanya terkekeh, “Kami dituntut untuk menguasai segala hal dan bidang. Jadi… emm, saya sudah banyak mendengar cerita mengenai kasusmu. Tapi saya perlu mendengar lebih jelas dari orang yang mengalami, jadi, bisa mulai bercerita?”

“Mmm… baiklah, aku harus mulai dari mana ya… sebentar… oh, orang tuaku kecelakaan pada tahun 1999, sekitar bulan Maret. Tidak lama, aku diasuh oleh keluarga Chae. Kata teman-temanku, mulai tahun 2003 sampai aku kecelakaan, tingkahku aneh, katanya sih lebih misterius. Aku kecelakaan tahun 2004 sekitar umur 14, ingatanku berhenti di tahun 2002. Waktu itu, setelah kecelakaan aku kan harus ujian, jadi karena dipaksa menerima informasi dan mengingat, aku sempat kena depresi. Akhirnya aku dibawa ke LA, katanya supaya aku tidak dulu mengingat-ngingat masa lalu.”

“Ada yang janggal? Maksud saya, seperti hal yang tidak biasa jadi biasa atau apa?”

“Ada, aku kena panic disorder. Seingatku, aku tidak pernah takut dengan ambulan apalagi rumah yang kebakaran atau bekas terbakar. Setelah kecelakaan itu, aku jadi panik setiap dengar sirine ambulans atau melihat rumah hangus terbakar. Tidak ada yang tahu bagaimana aku mengalami kecelakan, tidak ada saksi, yang pasti aku terhantam mobil.”

Onew bergumam sebentar, berusaha memutuskan mau ambil langkah apa. “Menurutku, pasti lebih baik kalau kita mulai penyelidikannya dari kasusmu. Seperti, bagaimana panic disorder-nya bisa datang, sumber utamanya apa. Lalu, kebiasaanmu dulu, atau… ya kurang lebih seperti itu.”

“Oh tunggu… dari semua itu… aku selalu merasa, keluargaku berlebihan. Mereka bahkan tidak mengizinkanku masuk ke kamarku sendiri. Setiap main ke Korea, aku biasanya tidur di hanok atau kamar kakakku.”

Onew tersenyum, “Kita harus bisa menerobos ke kamarmu.”

­–

SETBOX STUDIO, Naegok-ri

Sebuah veloster biru keluaran Hyundai berhenti di depan studio besar yang dipenuhi mobil produksi 2NE, truk makanan, mobil perlengkapan dan segalanya. Joong Ki membuka pintu mobilnya dengan ponsel yang terapit di antara pundak kiri dan telinga kirinya, seorang petugas cepat-cepat mengambil alih mobil Joong Ki.

“Di Naegok-ri, bukan kontrak, sekedar freelance.” Joong Ki menjelaskan pada lawan bicaranya sambil memasukkan kunci ke tas kemudian meraih ponselnya dan menggenggamnya secara normal. “Niat awalnya aku jadikan batu loncatan, tapi kalau peluangnya lebih besar aku gunakan ini saja.” Joong Ki kembali mengapit ponselnya di antara pundak dan telinganya, tangan kirinya merogoh ke dalam tas.

“Belakangan ini kelasku penuh, beberapa tugas hampir sampai deadline, jadi aku tidak bisa ke Suwon sementara waktu. Menurut rencana juga aku akan mulai sibuk mondar-mandir ke kampus kemudian ke Anyang.” Joong Ki memberikan sebuah kartu kepada salah satu petugas kemudian memberi isyarat untuk menunjukkan di mana ia harus menemui pemilik kartu nama itu, sambil mendengarkan lawan bicaranya mengatakan sesuatu.

“Proyek untuk festival, aku bukannya sudah bilang? Tapi aku tetap tidak mau menggunakannya sebagai perantara. Flat ku kosong, lokasinya dekat SBS, nanti aku kabari lagi tentang pendekatannya. …. Iya, sekedar bertanya aku masih mau. Oh, nanti aku hubungi lagi, eh, jangan coba-coba meretas lokasiku!” Joong Ki segera memutus sambungan.

“Permisi, waktu itu saya pernah diberi kartu nama oleh Goo Jae Woo-ssi. Saya di minta datang hari ini, katanya di sini sedang ada syuting untuk iklan?”

“Maaf, nama anda?”

“Joong Ki, Song Joong Ki.”

“Mohon tunggu sebentar,” Joong Ki mengangguk kemudian mencari tempat untuk duduk.

“Joong Ki-ssi,” Joong Ki menoleh. “Saya Jae Woo,” Joong Ki cepat-cepat berdiri kemudian menyambut tangan Jae Woo. “Maaf membuat anda datang jauh-jauh kemari,”

“Tidak apa-apa, kebetulan saya sedang tidak ada kelas hari ini.” Dusta Joong Ki, sementara di ponselnya daftar tugas dan catatan tidak berhenti masuk.

“Syukurlah, kalau saya boleh tahu, anda kuliah di mana?” tanya Jae Woo sambil menuntun Joong Ki menuju ruangannya.

“Chung-Ang, kalau boleh tahu, tujuan memanggil saya itu?”

“Oh iya, saya hampir lupa menjelaskan. Hari ini saya akan syuting untuk iklan layanan masyarakat, walaupun biasanya menggunakan idol-idol, stasiun TV ini minta agar saya menggunakan orang biasa.”

“Aaahh, iklan layanan masyarakat, mengenai?”

“Pengaruh gaya hidup anak muda dengan masa depan mereka.” Joong Ki mengerutkan alis.

“Bukannya lebih baik kalau menggunakan pelajar SMA atau yaaa anak-anak kuliah semester awal? Masalahnya saya sudah bukan remaja, jadi takutnya tidak pantas memerankan iklan ini.” Jae Woo mengerutkan alis, penasaran kenapa anak muda di hadapannya ini merasa tidak muda.

“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, saya bukan mahasiswa untuk bachelor degree, tapi master degree. Saya kuliah di Chung-Ang mengambil program pascasarjana, dan saya berumur 25 tahun.” Joong Ki tersenym canggung.

“Oh… ya? 25 tahun? Kita seumuran?” Joong Ki mengangkat alis. “Ya ampun, saya benar-benar tertipu, hahahaha, saya pikir umur anda masih berkisar 18 – 22. Iklan ini bisa berhasil jika anda yang memerankan, saya yakin.” Jae Woo menepuk-nepuk lengan Joong Ki tidak percaya. Keduanya seumuran, tapi tidak akan ada orang yang bisa menyangka mereka berada di tahun yang sama.

“Ayo masuk, biar saya tunjukkan system-nya,” Joong Ki mengikutinya, baru beberapa langkah keduanya berhenti. “Sajangnim,” Joong Ki mendongak ketika mendengar Jae Woo menyapa direkturnya.

“Oh? Anda… Joong Ki kan?” Joong Ki mendelik, sesempit ini kah dunia? Jiyong, laki-laki yang ia bantu bersama Yujin untuk diterima kembali oleh Yoo Bi, mengenal Kim Jonghyun? Joong Ki tersenyum, sambil membatin.

Sungguh kebetulan yang menyenangkan, ini kenapa aku mencintai tuhanku.

Apartement Jonghyun, Jung-gu

“Silahkan masuk, aku akan menyiapkan minum dulu.” Jonghyun mempersilahkan Jiyong masuk, kemudian berjalan menuju dapur.

“Tinggal sendirian di apartemen sebesar ini pasti sepi,” ujar Jiyong mengerti, dirinya juga sama. Namun Jiyong sengaja membeli apartemen besar, ia berharap Yoo Bi dan anaknya akan tinggal bersamanya, dan syukurlan akan segera menjadi nyata.

“Kurang lebih, makanya aku malas pulang. Tidak ada hiburan selain TV dan komputer, kalau tidak ada kerjaan aku hanya bisa menghabiskan waktu di studio.” Jonghyun membuka salah satu lemari, untuk mengambil gelas, sementara Jiyong kembali berjalan mengitari apartemen Jonghyun.

“Ini kekasihmu? Cantik, kalian serasi.” Pujinya tulus, membuat Jonghyun meneguk ludah perih. “Ia sering kemari?”

“Dulu iya,” jawab Jonghyun serak.

“Kalian sudah putus atau…?”

“Meninggal beberapa tahun lalu.”

“Maaf, maaf… aku pikir—“

“Tidak apa-apa, hyeongnim kan tidak tahu keadaannya, lagipula sudah berlalu lama, aku sudah biasa.” Jonghyun menuangkan air panas yang baru ia masak.

“Kalau boleh tahu ceritanya… aku, mau—“

“Iya aku mengerti, akan aku ceritakan.” Jonghyun mengambil gula. “Namanya Yuna, ia suka musik, seorang penari dan pemusik. Kemana-mana selalu mendengarkan lagu, selalu menari kecil setiap ada kesempatan. Waktu itu akan ada lomba tari antar kampus, ia jadi lebih sering pulang malam karena latihan. Tapi waktu itu ia pulang siang sementara aku tidak bisa menjemput, jadi aku terpaksa membiarkannya naik bus. Menurut saksi waktu itu, Yuna baru turun dari bus, hendak menyeberang. Dari arah kanan tiba-tiba sebuah mobil menghantamnya keras, ia terpental sekitar 2 m, begitu juga barang-barangnya, kecuali ipod yang ia jepit di jaketnya. Hanya bertahan satu minggu setelah sadar, kakinya lumpuh, kondisinya juga tidak stabil. Kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir tepat di hari perlombaan.”

“Aku turut menyesal,

“Santai saja, ceritanya sudah lama, sudah bukan jamannya menangis begitu ada yang membuatku ingat dengannya.”

“Biar aku tebak, pastinya ada inspirasi­—­“

“Iya iya, aku tahu, dan tebakanmu benar.” Jonghyun terkekeh, kemudian matanya menangkap beberapa tempat makan yang ditumpuk rapi di atas meja lalu tersenyum. “Ayo, aku tunjukan padamu lagunya.”

Rumah Yujin, Buam-dong

“Aku yang masak, jelas lah! Pokoknya makan, aku susah payah bangun pagi masak itu buat kamu. …. Ya udah, kapan pun juga gak apa-apa tahu! … iya, hem, bye.” Yujin memasukan ponselnya ke saku celana, kemudian lanjut berjalan menuju gang perumahannya. Seperti biasa, suasananya sunyi dan menenangkan, membuat Yujin selalu merasa tenang berjalan di sekitar rumahnya.

“Oh? Oppa sudah sampai… mana mobilnya?” Yujin yakin betul ia menggembok pagar rumahnya, kalau sudah terbuka artinya Joong Ki sudah sampai di rumah lebih dulu darinya. Yujin berjalan tanpa rasa curiga, namun semakin dekat ia dengan pintu rumahnya, semakin kuat rasa penasarannya dan ia mulai curiga.

Dengan hati-hati Yujin mengambil tongkat yang ia simpan di balik deretan pot bunga, berusaha menstabilkan adrenalinnya. Seolah masuk ke dalam rumah orang lain, Yujin menjaga langkahnya dan terus jalan mengendap-endap hingga firasatnya terbukti benar. Ia memang bukan manusia super yang bisa mengingat segalanya dengan baik, tapi untuk yang satu ini Yujin amat yakin, jaket yang ia temukan tergeletak di atas sofa bukan miliknya apalagi Joong Ki. Dalam hati Yujin bergumam, pencuri tidak profesional, masa meninggalkan jejak secara terang-terangan?

Yujin baru akan menoleh begitu bulu kuduknya meremang, namun seseorang sudah lebih dulu membekapnya. Tidak kalah sigap, Yujin menggerakkan sikunya, menyiku tubuh bagian depan seseorang yang membekapnya. Beberapa kali siku Yujin mencoba menghantam tulang-tulang rusuknya, dan bekapannya melonggar ketika siku Yujin berhasil menghantam tulang rusuk kirinya. Tanpa lengah sedikitpun, seseorang yang Yujin yakin laki-laki ini langsung menahan tongkat yang akan ia pukulkan di pundaknya. Yujin menunduk, menghindari tangan lelaki yang siap mencengkram lehernya kuat-kuat itu, kemudian mengambil kesempatan untuk memukul betis lelaki ini, membuatnya agak melemah.

Dengan dasar bela diri yang ia pelajari melalui film, Yujin kembali menyerang, meski lelaki ini selalu berhasil mengelak. Yujin berusaha memukulnya sekali lagi, namun justru membuka kesempatan untuk lelaki ini melempar tongkatnya jauh-jauh, mendorong Yujin pada situasi pertahanan yang kurang aman. Gerakan tangannya tidak kalah lincah, Yujin yakin yang ia hadapi seorang ahli bela diri, namun konsenterasinya ketika menyaksikan film aksi membuatnya mampu mengejar kekurangan. Yujin meraih pulpen, namun langkahnya dimatikan, ia  terlentang dan hanya memiliki kakinya untuk bertahan. Yujin ingat salah satu kunci melemahkan lawan, sekuat tenaga Yujin menendang tulang selangkangan lelaki yang baru akan kembali menyerangnya.

Lelaki itu merintih kemudian terjatuh, salah satu kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakan, membuka peluang bagi Yujin untuk balik menyerang. Yujin mengunci lengan lelaki ini, kemudian menindihhnya di lantai. “Siapa kamu?” ia tidak menjawab, dengan salah satu kakinya yang masih bisa bergerak, ia membuat Yujin terjerembab jauh.

Yujin bangkit untuk melayangkan tinjunya, namun lelaki ini menangkap pergelangan tangan Yujin, menguncinya, menarik tubuh mereka rapat dengan tangan kanannya yang siap mencekik leher Yujin.

“YOON-YANG!”

—PATH, END—

Spoiler:

 “Yujin, turunin ah tongkatnya, ini temanku.”

“Salam kenal, maaf ya yang tadi, aku pikir kamu penyusup di rumah Joong Ki. Dilihat dari dekat begini, lumayan juga. Mulai hari ini, aku akan tinggal bersama kalian, sekaligus menjadi pengawas kalian supaya tidak macam-macam. Tidak keberatan kan? Kamarku di situ.”

Tiba-tiba Jonghyun menahan nafasnya, alisnya mengerut, seseorang mengintainya dari jauh. Ia tak ingin membuat gerakan tiba-tiba, ia hanya berusaha keras untuk merasakan dari arah mana yang lebih kuat. Di tengah hembusan angin dan suara gesekan dedaunan,  Jonghyun menangkap suara janggal. Ketika ia akhirnya menoleh dengan gerakan cepat ke arah kanan, sesuatu yang tajam menggores pundak kirinya.

Tenggorokkannya seperti dicekik, susah payah ia menelan ludahnya usai membaca sebuah kalimat dalam surat tersebut. Kembali? Ia telah kembali, orang itu benar-benar kembali, Jonghyun yakin hidupnya akan segera terancam. Pada siapa ia bisa berlindung? Apakah ia harus melapor?

Yujin berjalan membuka pintu, dan di pekarangannya. Gadis itu masih ada di sana, yang tadi ia lihat melalui jendela. Tapi siapa, dia?

“Maaf, apa anda mencari seseorang?” tanya Yujin sedikit ragu. Kepalanya penuh tanda tanya, apa yang diinginkan perempuan ini? Perempuan di depannya menangis? Apa ia korban Joong Ki lagi? Yujin baru akan menyentuh pundaknya, ketika dengan perlahan kepalanya menoleh.

Yujin menjerit, kedua kakinya tersandung hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke belakang. Matanya mendelik kaget dan ngeri, bulu kuduknya meremang setinggi-tingginya, ketika pada wajah suram penuh darah itu mata Yujin memandang. Ingin dirinya memejamkan mata, namun tak akan ada beda. Ketika matanya tertutup ia tidak akan tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun jika matanya tetap terbuka ia tidak kuat memandang wajah rusak berlumur darah itu. Tubuhnya seperti membeku, ia tak bisa bergerak sama sekali, ia ingin menjauh, namun semakin sosok itu mendekat padanya, tubuhnya semakin tak dapat bergerak.

Note:

Udah mulai, akhirnya aku gerak buat membangun konfliknya hahaha. Setelah sekian lama pusing gimana membuka cerita, mulai dari sini, secara pelaaaann banget. Aku mulai bahas konflik utama. Ada perkembangan kan?😀

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

28 thoughts on “2NE — SCENE 4: Path

  1. Itu yg bener si yuna ke pental 2 kilometer?ga 2 meter aja?hehe

    Aduh jd curiga jangan2 itu yg nabrak yuna mobilnya yoojin lg,,,#sotoylahya

  2. Hah? udah scene 4? ._.a

    Itu yang Jonghyun pingsan! Kayak papaku gitu hahaha
    donor darah tapi lupa sarapan.
    Tapi ya, kok bisa gak kedeteksi waktu diperiksa ya? Biasanya kan kalau kurang minum atau makan, atau lagi capek. Pas lagi di tes apanyaa gitu rendah, terus gak boleh donor.
    Kalau dalam kasus papaku, berhubung udah biasa donor dan setiap hari makan cuma lupa sarapan jadi gak terdeteksi gitu.

    buat kasusnya Yuna, i still have no idea soal pelaku tabrak larinya. Ppfftt~
    last scene nya Yujin itu, ya ampun! aku baru belajar teknik-teknik taekwondo gitu sama temenku kemarin kkkk~ terus geregetan jadinya. pas berantem gitu aku ngebayangin Kim Nana nya City Hunter xD
    hahaha

    1. Tumben Lan, mau baca FF kkk~

      Nah iya, aku juga masih bertanya-tanya soal itu. Temenku pernah soalnya
      kata petugasnya boleh donor, begitu selesai, baru mau ambil makanan eh pingsan:/

      Kaleeemm~ nanti juga kebaca pelan-pelan
      Hahhahah aku juga ngebayangin itu Lan. Aku mana ada gambaran soal taekon xD
      thanks ya mau mampir, tumben banget ini hahhaa~

  3. Keren… Membayangin adegan terakhir saat yujin bertarung dengan seseorng yg tdk diknl.

    Aku gag ngikutin scenn pertama dan kedua. Tapi lumayan ngertilah…

    Biar afdol, aku terbang ke sceen yang kelewat ah. In conclution, this sceen is DAEBAKKK

    1. Yeaaayy~
      aku kira bakalan susah di bayangin
      sebenernya gak diikutin gak apa-apa, gak terlalu ngaruh ^^
      Yaaayy!! Makasiiihh ^O^
      baca terus yaaa~

  4. baca langsung empat. satu sampe tiganya nggak, tapi lumayan ngerti. lanjut. suka horror, apalagi mistery. semoga aja part selanjutnya nggak lama biar nggak lama juga penasarannya#amien

  5. spoiler nya horor gimana gitu ya.. hehe
    dan cewek yg di lihat Yujin sampe kaget2 gt kok aku bayangin itu Yuna yaa haha
    dan penasaran sana siapa sih yg telah kembali katanya Jonghyun.

    part selanjutnya ditunggu kak ^^

    1. Sebenernya spoilernya gak banget gitu xD hahhaa
      iyaaaa~ bener ternyata hahah
      makanya, baca terus yaaaa
      makasih udah komen saaayy *smooch*

  6. Sudah lama ngga main ke sini dan ketika ke sini… 2Ne update! hoho~ penyegaran di tengah ujian nih X)

    Eum, kak, mau koreksi sedikit.
    “Jika ingin berfikir lain, perjuangan sekumpulan anak SMA dalam menempuh atau mensukseskan sesuatu juga bisa kita anggap Young on Top. ”
    kata mensukseskan–>menyukseskan. Betul tidak? hehe

    Dan aaak makin seru! Aku jadi banyak menebak dan sok tahu akakak. Spoilernya menggoda sekali~ Dan baca tentang joongki aku jadi berpikir ‘kenapa yang dapat karakter gay itu kebanyakan laki-laki yang good-looking’. wkwkwk /plak

    Aku tunggu kak next scenenya! ;D

    1. Yeaaayy~
      gimana ujiannya? Bagus?

      Oh iya… salah aku ya, kekeke. Makasih koreksinya ^O^
      Hahahha kan jaman sekarang ada kalimat “Cowok ganteng dan keren sekarang punya cowok, bukan punya cewek” kkkk~
      Sudah keluar next sceen nyaa ^O^
      makasih udah komen saaayyy *smooch*

  7. hello author nim….
    meski mbangun konfliknya pelan tapi pasti tapi seru dan tegang.
    terus kok kayaknya ada hubungannya antara yuna sama yujin ya.
    tapi yuna kan udah ninggal.
    ditunggu updatenya, ngmeneg-ngemeng spoilernya semacam yaa….
    kekeke~~~

    1. Hello jugaaa😀
      Oh yaa?? *girang*
      Sebenernya aku bingung, Yuna sama Yujin ada hubungannya apa enggak ._. /plak
      kekekeke~
      btw, next scene udah keluar ^O^
      makasih udah komen ya saaayy

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s