Love Means Never Say Sorry – Part 2

Main Cast :
Kim Jonghyun
Lee Jinki
Han Hyejin (OC)

Support Cast :
Jang Yoomi (OC)
Lee Taemin
Key
Choi Minho

Length : Sequel

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG

Summary : “Aku jatuh cinta. Aku merasakannya, bahwa dalam hitungan detik aku mencintainya, aku mengaguminya dan aku ingin memilikinya. Bahkan sekarang aku merasa bahwa takdirku dilahirkan ke dunia ini adalah untuk mencintainya”

Love Means Never Say Sorry [2]

Tidak semua hal dalam hidup akan berjalan sesuai dengan keinginan, sama halnya dengan rasa suka. Perasaan suka yang timbul di hati seseorang tidak dapat ditentukan, kapan dan bagaimana semuanya terjadi, perasaan itu hanya akan timbul jika seseorang menemukan orang yang tepat dan rasa itu dirasakan berkali-kali lipat lebih kuat dari apa yang biasa dirasakannya. Tidak akan pernah tahu, kemana mata hati melangkah an berpijak yang jelas saat menemukannya seseorang itu mengatakannya dengan kata bermakna sejuta kalimat. Cinta.

Banyak sekali definisi tentang cinta yang tercipta di dunia. Namun ada yang bilang bawa cinta sendiri adalah misteri yang sulit dimengerti. Cinta merupakan anugerah bagi insan manusia. Cinta adalah kebahagiaan yang terpancar dalam diri seseorang, meski terkadang cinta juga meninggalkan rasa sakit, tapi yang pasti cinta bagi seorang gadis–yang menyanggah dagunya di salah satu meja perpustakaan–adalah setiap hitungan detik perasaan yang kini muncul di dalam benaknya dan juga cinta adalah alasanya untuk hidup di dunia.

Begitu agungkah kata itu sampai seorang gadis berambut panjang bernama…

“Hyejin-ah!”

…begitu besar memaknainya.

Entah sudah berapa kali nama itu digaungkan oleh sosok mungil Yoomi agar bisa menyadarkan lamunan sahabatnya itu. Dan teriakan di telinga sahabatnya itulah yang menjadi percobaan terakhir untuk menyadarkan Hyejin. Yoomi mendudukkan dirinya di kursi tepat di sebelah Hyejin, “apa yang terjadi?” serbu Yoomi tanpa berniat basa-basi.
Tanpa diduganya Hyejin malah terlihat salah tingkah dan merapihkan buku yang ada di mejanya dan menghindari mata Yoomi yang terus mengintimidasi.

“Aishh! Jeongmal… Kau tidak mau bercerita padaku?” tanya Yoomi dengan nada sarkatis, gadis itu memberengutkan bibirnya dan menatap kesal Hyejin.

Tindakan Yoomi mungkin sebagai ungkapan kesal dikarenakan perubahan Hyejin yang cukup drastis dalam beberapa hari terakhir ini tidak diketahuinya. Namun Hyejin tidak peduli, gadis itu memang berubah mengenai banyak hal, namun tentang membuka mulutnya untuk sekedar bercerita sepertinya akan sulit, kecuali dia dalam keadaan mendesak saat dunia akan hancur. Mungkin.

Dan…sepertinya memang benar. Hyejin akan membuka mulut jika dunia akan benar-benar hancur, karena dengan gerakan cepat gadis itu bangkit dari duduknya dan mengabaikan Yoomi yang sudah membelakan diri untuk menunggu.

“Yak! Hyejin-ah” seru Yoomi kesal. Dan dia akhirnya menyerah untuk tidak ingin tahu tentang perubahan sahabatnya itu.

*****
Jinki kembali menghela napasnya dengan gusar, matanya beralih menatap laporan tugas yang berserakan di meja belajarnya. Pikirannya kembali melayang entah kemana. Kepalanya dengan putus asa dia tenggelamkan ke dalam kedua lengannya. Lelah. Mungkin itu yang dirasakannya saat ini.

Jinki menatap lantai yang kini berhadapan langsung dengan wajahnya, pria itu kembali teringat kejadian yang dialaminya beberapa hari lalu, saat orang yang selama ini menggetarkan hatinya, orang yang selama ini menjadi alasannya untuk duduk di bangku taman–hanya sekedar melihat sosoknya dari jarak dekat–tiba-tiba saja diketahuinya adalah orang yang sama dengan yeoja yang dibicarakan sahabatnya–Jonghyun–tempo hari.

Tentang cinta pada pandangan pertama.

Tentang cinta yang tidak pernah mengenal kata maaf.

Lagi-lagi Jinki menghela napasnya dengan kasar saat mengangkat wajahnya untuk melihat cangkir berwarna coklat tua yang berisikan cairan berwarna hitam pekat, dan mendingin. Seperti hatinya sekarang. Hitam dan mendingin, benar-benar tanpa jiwa.

Beginikah rasanya orang patah hati?

“Hyung!”

Jinki tersadar dari lamunannya saat suara adiknya–Lee Taemin tertangkap oleh panca inderanya, kepala namja itu digerakkan ke arah pintu untuk sekedar melihat keberadaan adik kandungnya.

“Tidak bergabung dengan yang lain? Jonghyun Hyung mencarimu,” kata Taemin dengan kepala yang menyembul masuk dan memperlihatkan rambut jamurnya yang cukup menganggu mata Jinki.

Jonghyun, nama itu seakan membuat rasa bersalah dan kesal bercampur dibenak Jinki. Berbagai asa berkecamuk di dalam benaknya sampai-sampai namja itu tidak sadar adiknya sudah menyerukan namanya berkali-kali dan sudah berdiri tepat di sampingnya.
Setelah berkali-kali mencoba menyadarkan Jinki akan keberadaannya, Taemin pun menyerah, dia memang sudah menyadari keanehan kakaknya itu sejak beberapa hari yang lalu, tetapi sampai sekarang dirinya tidak berani untuk bertanya karena bagaimanapun kakaknya punya privasi yang mungkin belum bisa dibagi dengannya. Taemin memutuskan keluar dari kamar itu dan kembali berkumpul dengan hyungnya yang lain.

*****

“Kemana dia?” tanya Jonghyun saat mendapati Taemin tidak datang bersama kakaknya. Bahu Taemin terangkat kecil menjawab pertanyaan Jonghyun dan segera mengambil posisinya duduk di samping Minho yang sedang bermain game.

“Kau main apa, Hyung?” tanya Taemin yang kini sedang berebut game dengan Minho seperti biasanya.

“Kenapa dia?” gumam Jonghyun yang bertanya pada dirinya sendiri, tidak biasanya dia melihat Jinki seperti ini, terlebih lagi sejak beberapa hari lalu sahabatnya itu seperti menghindar. Atau itu hanya perasaannya saja.

Namun hal ini tidak biasanya dilakukan Jinki, namja itu selalu saja berusaha untuk ikut berkumpul dengan mereka dan tidak akan beranjak dari tempat jika makanan di antara mereka belum habis, tapi sekarang. Jonghyun merasakan benar-benar ada yang berbeda dalam sahabatnya itu.

“Key, kurasa ad–”

“Bagaimana tentang yeoja yang kau sukai itu, Jjong?” tanya Key memotong perkataan Jonghyun saat namja itu membawa sekotak makanan dan duduk di sampingnya. Air muka Jonghyun yang sempat tidak enak berubah cerah saat pertanyaan itu meluncur dari bibir Key, bahkan sepertinya pria itu melupakan tentang Jinki yang tidak bergabung hari ini.

“Yeoja itu, semakin hari semakin cantik” ujar Jonghyun dengan wajahnya yang berbinar, “jantungku berdebar bahagia setiap dia berjarak 100 meter dariku” tambah Jonghyun membuat Key menyesal bertanya tentang yeoja yang memikat hati sahabatnya itu.

“Aku menyesal” decak Key sambil meminum air yang ada di depannya.

Jonghyun menampilkan sederet giginya dan menyikut lengan Key, “kau belum merasakan jatuh cinta saja, kalau sudah kau pasti akan sepertiku juga, Kunci” cibir Jonghyun tidak mau merasa terlalu berlebihan atas cinta.

Berlebihan. Sepertinya memang tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut cinta. Cinta memang sudah layaknya berlebih, dikarenakan perasaan yang timbul akibat cinta adalah perasaan yang tidak semua orang miliki, jadi jangan salahkan orang yang sedang jatuh cinta jika mereka bertindak atau berkata berlebihan.

“Omong-omong siapa namanya, Jjong?” tanya Key akhirnya, dia cukup penasaran dengan wanita yang menjadi topik pembicaraan mereka akhir-akhir ini. Dan sepertinya bukan hanya Key saja yang penasaran karena detik selanjutnya Minho dan Taemin sudah berada dihadapan mereka, ingin mencuri dengar jawaban dari si pujangga cinta itu.

“Namanya?” tanya Jonghyun ulang dengan senyum yang tidak juga berhenti menghiasi wajahnya, sedangkan wajah ketiga orang di hadapannya sudah begitu penasaran dengan jawaban namja itu.

“Jong….”

Jonghyun sengaja membuat kalimatnya menggantung dan menyebutkan nama yang salah, dia ingin melihat reaksi ketiga orang itu sambil menahan tawa.

“Jjong?”

Tawa Jonghyun berderai ketika dengan polosnya Taemin berkomentar, setelah satu tarikan napas akhirnya pria itu kembali duduk tegak dan siap berbagi rasa bahagianya kepada para sahabatnya itu. Dan mulutnyapun terbuka…

“Ani…Jang….”

“Hmm?”

“Jang Yoomi”

*****
“Iya, sekarang aku sedang di jalan…Hmmm…aku sudah bilang ada di rumah Hyejin…Ya, Eomma aku tahu”

Yoomi menggerakkan perlahan kakinya menuju halte, sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan di telinga, dan tangannya yang lain memainkan tali tas yang dikenakannya. Ia menghembuskan napas berkali-kali dengan berlebih saat sambungan telpon dia dan Eommanya belum juga berakhir. Ia tahu betul Eomma termasuk orang yang protektif dalam hal ini, tapi dia sudah dewasa, harusnya sudah bisa dilepas sendiri, bukan?

“Eomma, sudah ya..aku pulang sekarang, aku sudah di halte,” Yoomi menyela ucapan Eomma dan segera mematikan sambungan telponya, sekali lagi yeoja itu menghembuskan napas panjang sambil memasukkan ponselnya dengan kesal.

Hari ini suasana hati Yoomi memang sedang tidak bagus. Selain ia tidak mendapatkan asupan energinya seharian ini di kampus, dia juga mendapatkan perlakuan cuek dari sahabatnya. Ia bahkan lelah mengoceh guna membujuk Hyejin buka mulut dengan perubahannya beberapa hari ini.

Lelah. Mungkin itu yang dirasakannya sekarang, meski ingin rasanya memaki orang-orang di sekelilingnya namun yeoja itu benar-benar tidak bisa. Bawaan diri yang memang tidak bisa diubah. Ya, setidaknya dia tidak pernah bisa benar-benar marah pada siapapun juga.

Sesampainya di halte, Yoomi melihat kursi panjang yang biasanya ditempati oleh para penunggu bus sepi dan kosong, seperti mencerminkan hatinya sekarang mungkin. Terlebih lagi bus yang ditunggunya belum berniat untuk berhenti di depannya.

Yoomi mengambil duduk di kursi panjang tersebut, kakinya diayunkan sambil memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terpejam. Bangunan di sepanjang jalan seakan berlomba menerangi seluruh kota. Meskipun bukan pertama kalinya Yoomi memperhatikan indahnya Seoul di saat malam yeoja itu tidak henti-hentinya kagum pada suasana kota ini, seluruh penerangan yang membuat gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya terlihat inidah dan mobil serta pejalan kaki yang lewat membuatnya tidak pernah merasa sendiri, meski hatinya sekarang terasa ada yang hilang.

Hilang. Mungkin benar, kata itu yang menggambarkan kondisinya sekarang, bisa dibilang dirinya merasa terkena candu. Candu akan melihat senyum yang biasa dilihatnya di kampus.

Lee Jinki.

Nama itu akhir-akhir ini memang sedang berdegung di telinga dan bergetar di hatinya, rasa yang selalu ditunjukkanya pada setiap orang yang mengenalnya, rasa yang memang selalu ingin dia teriakkan saat melihat namja itu langsung.

Cinta pada pandangan pertama.

Kalimat itu memang sudah terdengar basi bukan saat kau mendengar atau membacanya, namun sungguh yeoja itu berani berteriak kencang bahwa dia merasakan hal itu pada pria bernama Jinki tersebut.

“Chogiyo?” sapa sebuah suara yang tanpa sengaja membuyarkan lamunan Yoomi.

Yoomi menoleh ke suara dengan nada rendah itu, dagunya sedikit terangkat naik untuk sekedar melihat wajah dari pemilik suara tersebut.

“Jjong?” panggil Yoomi dengan nada suara yang terdengar ragu dan tanpa menghitung mundur dia langsung berdiri tegak dan membungkuk sopan ke arah pria yang kini sudah berdiri di sampingnya.

Sebuah senyuman bermain di wajah Jonghyun saat nama itu terucap dari bibir Yoomi. Senyuman itu memang tidak pernah hilang sejak ia melangkahkan kakinya ke halte dan melihat sosok yang sangat dikenalnya, sosok orang yang memang mengisi pikirannya, sosok orang yang baru saja diceritakan kepada sahabat-sahabatnya di Apartement Jinki tadi. Dan seseorang itu ada di hadapannya.

Bukankah itu anugrah? Atau mungkin ia bisa menyebutnya dengan hal lain? Yang jelas ia bahagia. Ah, sepertinya itu terlalu sederhana. Ia sangat…sangat…sangat bahagia.

“Baru pulang?” tanya Jonghyun mengawali pembicaraan mereka.

Dan malam itu benar-benar menjadi salah satu hal terindah yang dialami oleh pujangga cinta itu. Malam yang begitu menyenangkan karena bisa berjalan beriringan bersama orang yang kau sukai dan juga malam yang menjadi awalnya untuk selangkah lebih maju. Malam yang tidak bisa dilupakannya.

—TBC—

Note:
“Hueeeeeeeeeeeee… Back dengan lanjutan LMNSS… Bagaimana? Bagaimana? Ada yang ngerasa ganjil dengan penulisannya? Aku sih ngerasa banget ada yang beda dari tulisanku yang ini. Aku susah dapetin feel nulis ini… Hueeeeeeeeeee… Tapi yasudahlah, ini aku ketik di hp sambil nunggu masuk lab dan tanpa kuedit karena males baca ulang -_- #plaaak. Silakan yang mau memberi kritik dan saran, semuanya aku terima dengan baik dan tulisan selanjutnya aku berusaha perbaiki *gitu aja terus fi* hehe. Oya ini aku gak jadi tambahin 2 atau 3 scene lagi, males deh bener *ditabok*. Sebelumnya terima kasih buat yang sudah mau membaca ^^ See you soon…..:*”

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Love Means Never Say Sorry – Part 2

  1. cewe yang disukain jjong bukannya hyejin yah?
    kok dipart ini yoomi sih?
    jadi agak bingung, tapi ceritanya bagus kok
    cuma agak bingung aja

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s