Who I Am? I Am an Eve – SPY 10

Who I am? I am an Eve

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

Backsound : BIG BANG – Monster, B.E.G – Cleansing Cream, Infinite – 60 Seconds, Seo In Guk – With Laughter or With Tears, OST. Nice Guy – Change

Summary : Key tahu kalau mangsanya, Baek Chan Gi adalah calon tunangan Yoogeun. Sementara Madeleine menyadari ada yang tidak beres dengan Ariana, dan karena ia tidak ingin menumpahkan darah dengan tangannya akhirnya ia memutuskan hubungan dengan Ariana. Penyihir setengah veela itu akan mencari bantuan lain. Nun jauh di Prancis, Chase mendengar bahwa Jessica berada dalam bahaya (dalam penglihatan seseorang ia mendengar percakapan rencana untuk mencelakakan Jessica—namun tak disebut dalam cerita ._.v) karena itu Chase melakukan imigrasi seorang diri—meski ditentang dan akhirnya…

SPY 10

Jung Company Building,Seoul

Jessica meletakkan tasnya di atas kursi dan mengecek meja kerjanya pagi itu. Tiba-tiba mata jelinya menangkap sebuah surat yang terselip diantara map-map file yang tersusun rapi di mejanya. Dengan ragu ia mengambil kertas pendek yang membuat perbedaan di antara kertas lainnya, dan membuka isinya.

“Mereka jadi bertunangan? Wah, wah, wah, ternyata seorang Jung Yoogeun masih berpikir untuk mengundangku. Padahal dia tahu mungkin aku bisa memangsanya sewaktu-waktu. Bagaimanapun, statusnya masih mangsaku,” gumam Jessica sangat pelan.

“Jessica-ssi,” seseorang menyapa dan Jessica langsung membalikkan tubuhnya menatap orang itu. Seorang wanita berparas cantik. Namanya Seo Joohyun.

Ne?”

“Kemarin… kau pulang dengan siapa?” tanya gadis itu. Jessica tercenung.

“Laki-laki nyentrik itu?” jawabnya asal. Joohyun mengangguk sekenanya. “Oh.. itu…” Jessica masih memutar otaknya memikirkan alasan apa yang akan dia berikan. Kalau keponakan, apa manusia bisa percaya? “Sepupu jauhku. Wae?”

Joohyun menyondongkan tubuhnya mendekat ke arah Jessica dan berbisik. “Eonni-ku naksir dia. Namanya Key, kan?”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Jessica datar. Johyun nyengir.

Eonni-ku seorang model di perusahaan tempat sepupumu bekerja. Dan, setiap malam ia bercerita tentang Key, Key, dan Key. Setelah melihatmu kemarin, aku jadi berpikir. Apa  kau mau membagi nomornya?”

Mulut Jessica ternganga. “Eonni-mu suka dengan pria setengah banci sepertinya?”Lagi Jessica menatap mata Joohyun. “Ia baru mengganti gaya rambut kemarin. Poninya dicat pink!”

“Yah, yang suka eonni-ku bukan aku,” balas Joohyun aneh. Jessica menatap Joohyun lagi, lalu berpaling dan mengeluarkan beberapa dokumen dari lacinya.

“Baiklah, tapi tidak sekarang. Aku akan mengirim pesan padamu, eotte?”

“Baiklah. Gomawo, Jessica-ssi,” Joohyun tersenyum lalu membungkuk dan meninggalkan Jessica. Jessica memiringkan kepalanya.

“Key, apa kau terlalu memesona?” gumam Jessica bingung.

__

Konkuk University, Seoul

Chan Gi melenggangkan langkahnya di sepanjang koridor universitas itu sambil bersiul pelan. Di tangannya ada setumpuk buku kuliah—yang ia pinjam dari teman maupun yang ia beli sendiri, tapi wajahnya nampak senang sekali hari itu. Seakan tiada hal yang dapat merusak keceriaannya di siang terik kala itu.

“Hey, kau tahu dimana anak yang bernama Baek Chan Gi?” sebuah suara pria mengusiknya. Ia memelankan langkahnya meski tak menghentikannya, lalu menolehkan kepalanya ke samping kirinya. Sebelah alisnya terangkat mengetahui seorang yang menyebut namanya itu. Dengan percaya diri tingkat dewa, ia mengarahkan langkahnya menuju mahasiswa itu dan menjawil pundaknya.

“Yang kau maksud aku?”

“Eh, aku tak tahu kau di sini. Mana Hwaeji? Biasanya kalian berdua menempel bagai di-aibon,” balas mahasiswa yang ditanyai tadi. “Nih, orangnya tak perlu di panggil,” lanjut anak itu pada temannya yang bertanya.

“Ah, anak ini. Ada yang mencarimu,”

“Siapa? Seseorang bermarga Jung?” sahut Chan Gi heran. Tumben Yoo Geun mau menemuinya siang bolong begini. Tapi sayangnya anak itu menggeleng.

“Bukan Jung, tapi Kim. Tapi kau harus hati-hati padanya, kelihatannya dia sangar sih. Tapi anehnya orang itu mengecat poninya dengan warna pink. Dari tadi dia dijuluki manusia planet oleh anak-anak satu kampus,” hidung Chan Gi kembang-kempis mendengar penjelasan mahasiswa yang tak ia kenal itu. Apakah dia harus percaya? Jujur saja, berbicara dengan orang asing itu meragukan kebenarannya.

“Benarkah? Dimana manusia planet itu? Karena aku pikir dia salah cari orang,”

“Di lantai paling bawah fakultas ini. Dia sedang bersandar di tangga,” dengan gumaman sederet kata terimakasih, Chan Gi membungkuk dan membalikkan langkahnya ke tangga turun. Well, manusia planet mau menghadapnya, bukankah berarti ia sendiri seperti manusia planet? Sebaiknya ia buru-buru membersihkan namanya sebelum ada gosip macam-macam.

Dan benar saja, di tangga paling bawah, seorang lelaki nyentrik berkupluk sedang mengulum lolipop dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tidak sangar-sangar amat kok, ia terlihat keren meski agak nyeleneh, astaga, apa yang barusan kupikirkan? Rutuk Chan Gi dalam hati. Belum sempat ia menepuk pundak lelaki itu, dia sudah membalikkan tubuh dan menatap Chan Gi dengan pandangan kaget.

“Waw, cepat juga kau ternyata,”

“Siapa ya? Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?” tanya Chan Gi bingung sekaligus curiga. Bisa saja lelaki di hadapannya ini seorang penculik, perampok, pemerkosa, who knows?

“Ah ya, namaku Key,”

“Kunci?” jawab Chan Gi tolol. Key nyengir menyebalkan, menahan diri agar tidak menoyor kepala manusia ini.

“Aku Key, bukan kunci,”

“Baiklah, tapi siapa kau?”

“Aku Key,”

“Aku tidak menanyakan namamu, tuan muda,” suara Chan Gi mulai menggeram, membuat beberapa pasang mata menoleh dan memperhatikan gerak-gerik mereka. “Aku tanya siapa dirimu?”

“Aku? Fotografer. Yang akan bertugas memotretmu dan pasanganmu hingga wedding day,” jawab Key santai. “Aku harus menyeretmu ke suatu tempat masalahnya, Nona Baek Chan Gi,”

Dan mata Chan Gi sudah hampir keluar dari lubang matanya. “Bukankah lebih formal jika kita bertemu di kantor saja?”

Tapi Key menjawabnya dengan senyuman. “Tapi masalahnya aku dititahkan untuk menyeretmu ke suatu tempat, jadi maaf sekali Nona, kita tidak bisa berkenalan secara layak,” mendengarnya, Chan Gi mendengus.

Memang ada fotografer yang pekerjaannya aneh begini? Kenapa orang ini aneh sekali sih? Apa dia punya maksud tertentu? Batin Chan Gi kalut. “Sekarang juga?”

“Ya, sekarang juga,” sahut Key lalu mencengkeram pergelangan tangan Chan Gi. “Ikut aku,”

Dengan helaan napas pasrah, Chan Gi terpaksa mengikuti pria tak dikenal itu. Atau yang ia rasa belum ia kenal. Pikirannya sudah melayang entah kemana ketika salah seorang temannya berseru dari lantai dua,

“Ya! Baek Chan Gi dosen sudah masuk!”

Tapi sama sekali tak diindahkan Chan Gi.

__

Pre-engangement?” suara Chan Gi melengking bersamaan dengan kedua alisnya yang naik tinggi-tinggi, membuat beberapa pengunjung toko gaun itu menoleh ke arahnya.

“Nona Baek, tak usah lebay seperti itu kenapa,” sahut Yoogeun malas ketika pasang-pasang mata itu kembali ke posisinya semula. “Cepat pilih salah satu gaun,”

“Masalahnya, Tuan Jung Yoogeun, sejak kapan ada pre-engagement? Yang ada itu pre-wedding!”

“Kita mencoba suasana baru,” sahut Yoogeun cepat. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Chan Gi dan berbisik. “Sekalian memperpanjang waktu pertunangan kita,”

Chan Gi tertegun mendengarnya. “Kau masih tidak terima dengan peristiwa ini?” Yoogeun terdiam. “Kau masih tidak ingin menerimaku?”

“Ada apa denganmu?” tanya Yoogeun bingung.

“Ya-yah, kurasa.. aku nyaman denganmu. Aku hanya berharap pertunangan kita dipercepat, sebenarnya, tapi, itu terserah padamu,” ungkap Chan Gi, entah kenapa kalimat itu mengalir begitu saja dari bibirnya. Ia tersenyum, lalu mengalihkan pandangan. “Memang kapan pre-engagement nya akan dilaksanakan?”

Yoogeun terpaku menatap senyum Chan Gi. Jujur, ia merasa agak bersalah juga. Chan Gi gadis yang baik, ia akui, ia merasa nyaman di dekat gadis itu juga ia akui. Tapi rasa ingin memilikinya belum tumbuh begitu kuat. Ia hanya bisa tersenyum kecil, membiarkan rasa senang menjalari hatinya ketika mencerna kalau Chan Gi mulai menyukainya.

“Lusa,” jawabny enteng. Tapi membawa efek yang tak diharapkan dari Chan Gi.

“Lusa? Kenapa aku baru tahu sekarang?” protes gadis itu. Yoogeun terkekeh lagi.

“Karena pertunangan dan pernikahan kita akan dilangsungkan dalam kurun waktu seminggu ini. Perubahan rencana,ya,” jawabnya lagi. Chan Gi mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu mengangguk kalem.

“Aku tak punya hak untuk berkomentar, sepertinya,”

“Tentu saja, kau punya. Bagaimana pendapatmu?”

“Pernikahan ini aneh. Sungguh. Aneh sekali,” gumam Chan Gi sambil menggeleng kecil. Tangannya menyambar sebuah gaun lalu menyerahkannya pada Yoogeun. “Aku pilih yang ini. Ukuranku M,”

Senja menjelang, kedua sejoli itu memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sekaligus kencan. Mencoba menumbuhkan rasa, tujuannya. Keduanya berjalan beriringan di taman Namsan,  dengan Chan Gi yang sedang menggenggam sepotong ubi kukus yang masih mengepul. Dua mingu lagi, berarti akan memasuki musim gugur.

Yoo Geun sesekali melirik gadis yang sedang berjalan di sampingnya. “Kau suka makan itu?” tanyanya datar. Chan Gi hanya mengangguk.

“Ini mengingatkanku pada musim gugur bersama nenekku. Ia membuatkanku ubi seperti ini sangat banyak,” mengenang neneknya yang sudah tiada, membuat sebutir air mata menggenang di sudut matanya.

“Hei, bagaimana kalau kita duduk di sana? Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu,” ujar Yoo Geun, mengubah nada dalam suaranya. Chan Gi menatapnya sejenak, lalu membiarkan tangannya digandeng Yoo Geun untuk duduk di kursi itu. Mereka akhirnya duduk di sebuah kursi taman panjang yang penuh dengan daun kering. Yoo Geun membersihkannya dahulu sebelum mempersilahkan Chan Gi duduk.

Hening selama beberapa saat.

“Sepertinya kau ingin bercerita tentang seorang perempuan,” gumam Chan Gi, namun masih dapat didengar Yoo Geun.

“Ya?”

“Sejak pertama bertemu, lalu berhubungan, aku selalu kerasa bahwa… kau tahu seorang yang lain,” gumam Chan Gi enteng. Yoo Geun mendesah, lalu mengangguk.

“Ya, kau benar. Aku akan menceritakan orang itu. Karena tak ada yang perlu kusembunyikan darimu,” ujarnya mantap. Chan Gi mengangkat alisnya merasakan perubahan dalam diri Yoo Geun. “Aku mencintai seorang perempuan, dia… empat tahun di atasku. Namanya Jung Jessica. Waktu aku seorang siswa SMA, dia sudah kuliah. Kami bertemu tak sengaja, namun lama-kelamaan aku tahu siapa dia. Aku baru mengetahui siapa dia sebenarnya setelah menanam rasa padanya,”

“Tahu siapa dia? Memangnya dia istri orang?” gurau Chan Gi, walaupun ia sedang merasakan sesak dalam dadanya. Yoo geun terkekeh pelan lalu menjatuhkan pandangannya ke atas tanah, nampak murung.

“Aku ragu kalau ku ceritakan apa kau akan percaya, tapi kuharap kau benar-benar percaya dengan apa yang kukatakan,” ujar Yoo geun pelan, sementara Chan Gi mengangkat kedua alisnya. “Jessica bukan manusia. Dia muncul dalam mimpi burukku sebagai sosok yang lain. Dan mimpi itu menandakan bahwa aku harus mati,” putus Yoo Geun lalu menatap Chan Gi yang membeku. “Dia mahkluk yang disebut Eve. Malaikat penjemput kematian. Setiap orang yang akan di jemput oleh Eve ke alam baka, akan bermimpi bertemu dengan mereka yang berlumuran darah,”

Deg…

“Lelucon apa yang sedang kau ceritakan?” tanya Chan Gi dengan suara tercekat. Yoo geun hanya menatap Chan Gi lamat-lamat tanpa bersuara, menandakan bahwa pria itu serius.

“Aku sudah berkata, percaya padaku. Aku mendapat informasi tentang mahkluk itu dari salah satu situs di internet,”

Dan mulut Chan Gi sudah menganga dengan lebarnya.

“Namanya Jung Jessica. Dan sialnya, sampai sekarang dia masih berkeliaran. Aku tidak bisa melupakan sosoknya. Mianhae, Chan Gi-ya,”

Geundae, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Chan Gi yang sudah cukup sesak dan kaget.

Geuraesse(Entahlah). Aku ingin kita jalani saja,” Yoogeun nampak berpikir sejenak, lalu mendongak menatap Chan Gi. “Atau, kita langsung bertunangan saja. Tetapi bukan lusa, tapi tiga hari lagi,”

Chan Gi melongo. “Hei, kau enak sekali mengubah rencana seperti itu,”

Yoogeun nampak mengangkat kedua bahunya, “Kau nampak tidak senang, jadi kuubah saja. Lagi pula yang mengurus bukan orangtua kita, tetapi aku,”

__

“Jadi, Hero, apakah harus malam ini aku beraksi?” tanya Key datar. Hero yang sedang mengelus dagunya hanya mengangguk singkat.

“Batas waktunya sampai hari ini,” ungkapnya tenang dan pelan, membuat Key mendesah kecewa.

“Ck, padahal aku belum sempat menakut-nakutinya sampai puas 3 hari ini,”

“Lalu kau selama ini ngapain saja? Dia itu gadis yang lugu dan polos, harusnya makin hari kau makin membuatnya takut,” cerca Hero, tetap dalam keadaan yang tenang. Key hanya berdecak.

“Kalau aku buru-buru datang ke rumahnya, aku akan menakutinya dahulu baru membunuhnya.  Bagaimana?”

“Boleh lah, paling lambat tengah malam ini, ingat, aku tak ingin mendapat peringatan lagi. Jessica sudah cukup membuatku kerepotan,”

Key menyeringai, lalu memberikan lima jarinya di pelipis lalu menggerakkannya sedikit tapi tegas ke arah depan. “Roger,”

__

Chan Gi meniti tangga dengan cepat dan lincah, ia menghiraukan kata-kata pelayan rumahnya yang sedari tadi menawari mandi air panas dengan aroma terapi atau makan malam ala Italia hasil eksperimen kepala koki di rumah itu. Wajahnya sedikit kusut, karena selebihnya ia nampak bingung. Sepanjang hari orang-orang tiada henti membicarakan mahkluk aneh yang membuatnya sedikit kehilangan akal. Eve. Apa sih itu?

“Ck, nan micheosso,” gumamnya frustasi sambil membuka pintu kamarnya dan melepasboot semata kaki-nya.

Bruagh

Ia melempar tas kuliah dan tubuhnya sendiri ke atas ranjangnya, menghela napas sebentar lalu melepas ikat rambutnya dan membiarkan bekas ikatan yang agak basah tergerai.

Srrrrr

Chan Gi menghentikan aktivitas tangannya yang kini mulai melepas jaketnya ketika mendengar suara seperti gorden kamarnya terbuka. Ia menoleh, tapi gorden kamarnya masih tertutup rapi. Sebelah alisnya naik sedikit, tapi ia memilih untuk menghiraukan itu.

Srrrr….

Kini tangannya berhenti lagi. Dengan kesal ia memutar kepala lagi, tapi tidak ada siapa-siapa.

“Hai, Baek Chan Gi,” gumam sebuah suara, tepat di telinga kirinya. Terkejut, ia melonjak dan melempar tubuhnya ke sebelah kanan. Tak ada siapa-siapa.

Suaranya, entah kenapa tidak bisa keluar dari tenggorokannya. Tapi nafasnya mulai memburu. Antara kaget, cemas, dan takut yang mulai menggerayanginya. Keningnya berkerut ketika ia mulai mencoba menajamkan pendengarannya.

“Kau cukup berani. Gadis yang pasti Jung Yoogeun butuhkan,” gumam suara itu lagi, kini di telinga kanannya. Chan Gi benar-benar terlonjak.

“Ya, siapa itu? Apa maumu?” tanya Chan Gi dengan suara lemah. Tapi tidak ada siapa-siapa. “Tolong jangan ganggu aku,” dalam hati Chan Gi, ia tak peduli kalau itu hantu atau apapun sejenisnya. Ia akan berusaha meminta baik-baik karena otaknya tak bisa diajak bekerja sama sekarang.

“Kau tahu aku? Kita baru bertemu tadi,” gumam suara itu lagi. Kini Chan Gi sudah cukup bingung dan stress menghadapinya, jadi dia memilih untuk mematung meski keterkejutannya terpancar jelas dari matanya.

Jincha? Siapa kau memangnya?”

“Kau tahu Eve?” tanya suara itu lagi. Chan Gi terdiam. Eve…

“Nah, Eve itu makan jantung manusia. Biasanya mereka sudah menargetkan seseorang yang memang sudah ‘waktu’nya mati. Mahkluk ini bisa hidup selama ratusan tahun, dan dapat mempertahankan wujudnya yang seperti manusia umur 20-an. Kalau bulan purnama, sayap mereka akan selalu keluar,”

“Dia mahkluk yang disebut Eve. Malaikat penjemput kematian. Setiap orang yang akan di jemput oleh Eve ke alam baka, akan bermimpi bertemu dengan mereka yang berlumuran darah,”

“Jung Jessica… kau tahu dia?” akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Chan Gi.

“Kau ini bicara apa?”

“Kau membuatku berpikir kalau kau mahkluk yang namanya Eve,” Chan Gi mulai merasa was-was. Harusnya ia tidak keceplosan tadi! Haish, membahas mahkluk fiksi yang nampaknya sangat kejam dan gila itu membuatnya terintimidasi.

“Kau tahu, gadis muda, waktumu tidak banyak lagi di sini,” gumam suara itu, masih dengan suara tenang dan horornya, kalau bisa dibilang begitu.

Kedua mata Chan Gi melebar. “Apa maksudmu?”

Set

Chan Gi berjengit ketika sosok itu muncul dengan tiba-tiba di hadapannya. “Key,”

“Mengenaliku, eh,” Key tersenyum miring, entah nampak menakutkan atau malah justru menggoda gadis itu. Nafas Chan Gi tercekat.

“Aku tidak mudah melupakan wajah orang, kalau kau mau tahu,” ujarnya tanpa ia pikir. Key menyeringai lagi, kini wajahnya mendekati wajah Chan Gi. “Kau fotografer,”

“Tadi kau menebakku apa? Eve? Wah, ternyata kau terbekali dengan banyak pengetahuan, ya. Dan, kau juga benar, aku fotografer. Tepatnya sih, Eve yang menyamar sebagai fotografer,” gumam Key lagi. Kedua mata Chan Gi terbelalak. “Kau tidak percaya? Lalu apa arti mimpi-mimpi yang sering kudatangkan untukmu? Waktu mu sudah habis, nona muda,”

Baru saja taring Key hendak menancap di lehernya, Chan Gi membekap mulut Key dengan tangannya. “Waktuku untuk mati?”

Key melepaskan tangan Chan Gi dengan mudahnya. “Namamu sudah tercatat, Nona. Sekarang cepat kita selesaikan ini,”

“TUNGGU!” pekik Chan Gi ketika tangan Key mengeras mencengkeram tubuhnya.

Srakkkk

Kedua mata Chan Gi terbelalak melihat sepasang sayap hitam keluar drai punggung Key. “Ku mohon, jangan lakukan itu,”

“Eve tidak mempunyai rasa belas kasih, Nona,” ujar Key dingin ketika cakarnya mulai memanjang. Chan Gi hanya memandang ngeri tentang mahkluk di depannya.

“TIDAK, TOLONG, JANGAN!” pekik Chan Gi lagi, dan kini ia berusaha memberontak dalam pelukan Key. Key menyeringai.

“Kau berteriak agar penghuni rumah kemari, ya? Sayangnya, mereka tidak bisa mendengarmu,” ungkap Key kejam. Air mata mulai membasahi pipi Chan Gi. “Bersyukurlah aku memperlakukanmu dengan lembut seperti ini, tidak menyerangmu dengan tiba-tiba,” Kedua mata gadis itu terpejam, dan segera kemudian taring Key kembali akan menancap di pangkal lehernya.

Sial, bahkan saat ia menghadapi kematian, wajah Yoogeun muncul dalam ingatannya.

“Beri aku waktu,” ungkap Chan Gi. Tangannya gemetar, berada di pelukan mahkluk ini seperti masuk ke sebuah Iglo dimana ia hanya memakai kaus tipis dari katun. Napas Key yang bagai hembusan kecil badai es menerjang pipinya.

“Apa maksudmu?”

“Beri aku waktu. Aku ingin bertunangan dengan pria yang kucintai. Biarkan aku bertunangan dahulu, setelah itu aku pasrah padamu,” ungkap Chan Gi dengan bibir bergetar pula. Ia menatap wajah Key  lekat-lekat, berusaha menghentikan air mata yang mengalir di wajahnya.

“Tak ada hal seperti itu di kamus kami, Nona,” ungkap Key datar. “Atau kau mau aku mematikanmu dengan cara yang kejam?”

“Pertunangan itu dipercepat, tiga hari lagi. Tolong, tiga hari, hanya tiga hari setelah itu kau bisa memangsaku,”

Key mendesah keras. “Baiklah. Aku benci mengatakan ini, tapi kau akan kubebaskan selama 3 hari. Ingat, hanya segitu. Setelah kau resmi bertunangan, kau harus mati,” ia melepaskan tubuh gadis itu, lalu melipat sayapnya lagi. “Sial, aku mulai kelaparan,”

“Terimakasih,”

__

“Kau bodoh, Nak,” seseorang menyerca Key sepersekian detik setelah mahkluk itu keluar dari kamar Chan Gi.

“Ck, aku juga tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, Taylor,”

“Kau saja yang terlalu lemah. Heuu… kau mirip sekali dengan Jessica. Sayangnya anak itu tidak mau memangsa mangsanya. Tiga hari, eh? Awas kalau kau tidak memangsanya dalam tiga hari,” pria itu berkata dengan desisan sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh Key.

“Aku juga tidak sabar. Aku juga kelaparan,” balas Key datar. “Tumben kau jam segini sudah pulang. Tidak berkumpul dengan manusia, eoh?”

“Ck, aku harus mengawasimu, Hero tak mungkin membiarkanmu sendirian, apalagi mangsamu itu sedikit rawan. Bah, dan inilah yang terjadi,”

“Sudah deh. Ini kan urusanku. Lagipula, aku juga akan mendapatkannya tiga hari lagi. Sekali-sekali bertindak dengan hati oke juga,” gumam Key dan mulai mengangkasa. Taylor mengikutinya.

“Ya, kau jadi sangat manusiawi sekali. Eih, lihatlah wajah itu. Tersenyum simpul? Bah,”

“Sudah kubilang, Taylor. Diamlah. Apa kau sudah mendapat buruan juga? Atau mau ikut aku berburu hewan?” tawar Key tanpa menoleh. Taylor mengangkat bahunya.

“Belum, sih. Oke deh, aku akan ikut kau. Tapi, ngomong-ngomong Eve muda, aku ini ayahmu, kan, kenapa jadi kau yang memimpinku?”

Key tertawa pelan lalu melipat sayapnya sehingga ia bisa mendarat di permukaan tanah kosong. “Mungkin karena jiwa leadership-mu tidak berkembang dengan baik, Ayahanda. Oh, tidak, tidak. Apa mungkin aku memanggilmu dengan Kim appa saja?”

“Hentikan itu, nak. Menjijikkan,” Taylor mengerutkan keningnya. “Kurasa ada beberapa beruang di sekitar sini. Targetmu berapa? Jangan sampai brutal dan menghabiskan semuanya anak muda. Mereka dilindungi manusia,”

“Dua ekor. Tidak kurang dan lebih,”

“Dua ekor untuk kita berdua,” timpal Taylor yang membuat Key menoleh menatapnya kesal. “Kalau masih lapar, cari saja jenis yang lain. Singa atau hyena, mereka cukup oke, kan?”

“Baiklah, baiklah. Ck, berarti kita harus bekerja dua kali. Ck, dasar merepotkan,”

“Tidak ada yang instan, anak muda,” desis Taylor, membuat Key hanya memutar bola matanya.

__

“Cih, anak itu main-main dengan toleransi,” Hero bergumam dan menatap pintu kastil tajam. Jessica mengangkat alisnya.

“Mungkin dia mau memberi dispensasi. Mangsanya kan punya pasangan sehidup semati,”

“Itu bukan alasan, Jess,” Hero menyahut datar. Jessica mengangkat bahunya menyerah.

“Kalau begitu, kau saja yang menanganinya. Kau kan tidak pernah mengambil ampun,” Jessica bergidik sendiri ketika ia mengingat masa-masanya dengan Kibum. Oh, bukan. Masa-masa terakhirnya dengan pria itu. Dan itu terjadi sekitar… sepuluh tahun lalu?

“Kau memikirkan bocah tak tahu diri itu lagi?” tanya Hero tajam. Jessica mengangkat alisnya dan melirik Hero.

“Hanya teringat saja,”

“Tentu saja. Sosok anak itu kan ada di sini. Kau terus-menerus teringat olehnya tidak masalah sih, eh, tapi… Hei, itu mereka pulang,” Hero menoleh lagi menatap pintu kastil, tepat ketika pintu itu terbuka. Kening Jessica merenyit.

“Key, kau masih belum terlalu mahir membersihkan diri. Baumu masih anyir,” ungkap Jessica. Taylor hanya tertawa sumbang lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang digunakan untuk berkumpul itu.

Well, kemana Elias?” tanya Key. Taylor merenyit heran, lalu duduk di samping Hero.

“Kenapa kau tiba-tiba mencari anak itu?”

“Kau ingat tempat tadi kita berburu? Aku mencium bau Elias di situ. Kupikir ia melakukan sesuatu di sana beberapa waktu lalu, kau tahu rasa penasaranku sangat mudah tumbuh,”

“Mungkin dia sedang jalan-jalan. Kau tidak tahu kebiasaannya sesudah pulang kerja? Tadi dia membawa pulang seekor elang yang terluka karena tertusuk ranting saat terbang rendah,”

Tetapi, tepat di balik tembok itu, Madeleine berbaring di ruangannya sembari berpikir keras. Harinya siang tadi serasa semacam palu. Benaknya masih bingung harus melakukan apa, karena ia sangat sulit menerima kenyataan yang baru saja terbongkar di depan matanya. Ariana memintanya menyakiti kerabat dekat target penyihir itu, dan setelah Elf itu selidiki, yang harus ia lukai adalah Jessica! Apakah ia masih mendapat maaf kalau ia masih membantu Ariana?

Dan meskipun ia bisa dengan mudah memutuskan ikatan kerja sama itu, ia ragu apakah Ariana semakin lemah. Penyihir itu tumbuh dengan baik. Ia pasti bisa memilah mana yang mampu dan mana yang tidak mampu. Membangun kroni baru bukan hal yang sulit, ditambah Korea Selatan tidak mencakup wilayah yang sangat luas seperti Rusia, ia pasti dengan mudah mencari mahkluk-mahkluk berpotensial untuk bergabung dengannya.

Flashback

“Tidak usah banyak tanya deh, aku hanya ingin kau diam-diam merusak gadis itu. Dia hanya Eve, kan? Jadi itu merupakan hal yang sangat mudah,” Ariana menyeringai puas ketika Madeleine menatapnya tanpa berkedip.

“Gadis bernama Jessica ini? Kau harusnya tahu, penyihir muda, Eve juga memiliki kekuatan. Mereka bisa dibandingkan dengan bangsa mereka yang lain, tapi tidak kalau dengan Elf. Kami kerabat jauh,”

“Apa sebegitu beratnya, sih?” Ariana berdecak. “Kau kan bisa menggoroknya saat ia terrtidur,”

“Bukan berat, tapi aku mengenal Jessica. Dan nona muda, mungkin sampa di sini aku dapat membantumu. Kau sudah mendapat beberapa informasi, kan? Jadi lanjutkanlah dengan usahamu sendiri. Lagipula, apa kau tidak tahu? Elf tidak akan menggunakan cara kotor sampai menodai tangan dengan darah seperti itu,” Madeleine hendak saja berbalik meninggalkan Ariana, tapi gadis itu berteriak.

“Hei, kau tidak bisa setengah jalan seperti ini!” aura di sekitar Ariana mulai berubah, bagaimanapun juga ia masih keturunan setengah Veela. Amarah seorang Veela bisa mematikan, kan?

Madeleine menoleh, “Bersyukurlah aku tidak membocorkan identitasmu yang sebenarnya ke masyarakat. Dan juga awalnya kan kau yang meminta bantuanku, kan? Kalau aku sudah tak mau membantumu lagi?” Madeleine mengangkat alisnya sambil menyeringai, dan berbalik benar-benar meninggalkan Ariana.

Flashback end

“Jadi, kurasa selama ini kau menyembunyikan sesuatu, Lee Son Hee,” suara Elias yang datar dan rendah itu mengejutkan Elf yang sedang dirundung gelisah itu. Madeleeine baru sadar kalau Elias masuk ke ruangannya diam-diam.

“Ah,”

“Aku yang menyadarkanmu, nona, jadi aku tahu apa yang terjadi padamu,”

“Kalaupun aku bercerita padamu, akankah kau percaya?” tanya Madeleine ragu. Elias hanya mengangkat kedua bahunya.

“Kau akan memiliki ciri-ciri kalau berbohong atau tidak,” jawab Elias enteng. “Memang, selama ini aku hanya membiarkanmu. Tapi sekarang aku tak tahan, apalagi rahasia yang kau sembunyikan itu merubah rutinitasmu,” sembur Elias yang seperti menohok Madeleine.

“Kau tahu, kan? Kalau Key pernah bercerita, ada penyihir setengah Veela yang mengejarnya?” Madeleine merubah posisinyaa hingga duduk bersandar di kepala ranjang sambil melipat kedua tangannya.

“Ya. Apa gadis itu mencari Key sampai ke sini?”

“Tentu saja. Dan aku sempat membantunya,” Madeleine menekankan setiap kata, merasa kesal dengan dirinya sendiri.  “Tapi anak itu bukan manusia. Setidaknya, setengah manusia. Karena auranya berbeda. Manusia nampak sombong, kalau anak ini sangat sombong dan percaya diri. Kecantikannya juga memukau banyak orang. Sayangnya aku tidak tahu dia setengah mahkluk apa,”

“Kenapa tidak tanya dengan Key saja?”

“Yak, kau kenapa berubah jadi dungu seperti ini, sih? Kalau aku bertanya soal siapa yang mengejar-ngejarnya, anak Eve cerewet itu pasti menyadari adanya hubunganku dengan Ariana. Aku tidak mau itu terjadi,”

“Nama penyihir itu Ariana?”

“Yap.”

“Lalu, kenapa kau memutuskan hubunganmu dengannya?” tanya Elias bingung. “Well, membantu penyihir memang tidak lazim, sih, tapi untuk mempertemukan Key dengan Ariana juga oke, kan? Mereka bisa menyelesaikan masalah antara mereka bedua. Key menyatakan siapa dirinya, dan Ariana akan mundur dengan sendirinya,”

“Kalau saja segampang itu pikirannya, aku juga akan membantunya, bahkan membuka rahasia ini pada Key. Tapi, Ariana ke sini bukan untuk mendapatkan Key dengan cara romantis atau semacamnya,” Madeleine merasa suaranya sudah mulai meninggi lalu tersadar dan menurunkannya lagi, “Penyihir itu kesini, untuk mendapatkan Key. Men-da-pat-kan secara paksa. Dia akan menyingkirkan segala yang menghalanginya. Sekarang, dia menyusun rencana untuk menghancurkan Jessica,”

Kedua mata Elias yang sudah besar itu membulat, membuat kedua matanya nampak hendak keluar dari rangkanya. “Ariana tahu Jessica?”

“Dia tahu! Bahkan, dia mulai menyadari kalau Key itu dekat dengan Jessica. Aku khawatir kalau sampai Ariana tahu semua yang tinggal dengan Key, dan menyadari kalau aku juga tinggal dengan anak Eve itu. Bisa-bisa aku diterornya sampai mati,”

“Kalau begitu, Ariana harusnya tahu Key mahkluk macam apa,” Elias bergumam. “Dan, harusnya penyihir itu mundur, karena mendapatkan Key berarti mendapatkan seonggok daging tanpa nyawa, kan?”

“Itu dia. Bodohnya si penyihir itu, dia tahunya Jessica itu Eve, dan Key pacaran dengan Jessica. Dia tahunya Key itu manusia biasa berdarah campuran penyihir,” Madeleine memutar kedua bola matanya. “Karena itu aku mau lepas tangan darinya. Dia bahkan mencari siapa yang memiliki hubungan batin yang kuat dengan Jessica. Bisa-bisa dia mendekati mantan mangsa Jessica, Yoogeun,”

“Bagaimana kalau kita habisi Ariana?” simpul Elias. “Dengan begitu semuanya aman, kan?”

“Elias, kau lupa? Apa kita boleh membunuh manusia? Apalagi kalau tidak berhubungan kuat dengan kita. Lalu, kita akan membunuhnya dengan apa? Pedang dan panah? Ariana penyihir, dia menggunakan sihir untuk melindungi dirinya sendiri. Sihir kita tak berfungsi untuknya, sihir mereka pun tak berfungsi untuk kita,” Madeleine berkata dengan suara lelah. Elias menghela napas panjang.

“Aku rasa Hero menyadari ketiadaan kita. Kita keluar saja,” Elias tersenyum singkat lalu melangkah keluar ruangan. Madeleine menoleh sebentar keluar jendela, lalu mengikuti Elf pria itu keluar dan menutup pintu kamarnya.

“Hey, bisakah membuat dua mahkluk itu terpisah sebentar saja? Aku risih melihat mereka berdua bagai kertas diaibon,” Taylor melirik Key dan Jessica yang sedang saling sandar-sandaran bahu di sofa.

“Bilang saja kau ingin begitu dengan Gyuri, kau berpikir ‘hah, andai saja Gyuri-ku sudah pulang—“ celoteh Key yang dihentikan dengan tatapan tajam dari Taylor. Madeleine terkikik mengekori Elias.

“Kalian berdua darimana?” tanya Taylor tiba-tiba. Madeleine tidak menjawab.

“Mendiskusikan sesuatu,” balas Elias tidak mencoba memancing perhatian.

“Oh, maaf kalau pikiranmu tentangku membuatmu begini. Aku tidak bermaksud mengganggu oke, harusnya kau acuhkan saja perkiraanmu tentangku,” ujar Hero polos, ditujukan pada Elias.

Noona~ kalau begini terus aku bisa tertidur sangking nyamannya,” gumam Key manja dengan posisi menyandarkan kepalanya dibahu Jessica yang melirik aneh ke arahnya.

“Eve tidak bisa tidur Key bodoh, dan hentikan panggilan ‘Noona’ itu, menggelikan,”

“Aku memanggilmu begitu saat kecil!”

“Tapi waktu itu kau masih imut, sekarang…”

“Bisa berhenti pacarannya?” lagi-lagi Taylor mengganggu mereka dengan tatapan interupsi dan tangan yang saling disilangkan di depan dada.

__

In the frontier of South Korea and North Korea

Midnight

Langit gelap, bulan sabit berselimut awan tipis nampak di angkasa. Ariana—penyihir setengah Veela dengan rambut pirang bergelombang dan wajah rupawan—melangkah hati-hati keluar dari moteltempatnya menginap. Dengan mantera Imperius ia membuat pemilik motel memperbolehkannya menginap selama apapun ia di sini. Penyihir itu melangkah tanpa suara ketukan sepatu, masuk menuju perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara, tanpa diketahui pasukan militer dan tentara yang menjaga ketat tempat itu.

Matanya menangkap sesosok serigala yang menatapnya intens dibalik pepohonan. Matanya ikut balas menatap mata serigala itu, sebelum serigala itu membalikkan tubuhnya yang ramping dan kokoh kembali masuk ke dalam hutan.

To Be Continued…

A/N : Giyahahahahaha~~ Maaf banget lama keluarnya huahaaaa T^T Yaaah maklumin aja yah, nah, sekarang diriku lagi liburan jadi kalo protes boleh deh (??) Next diusahakan cepet yaaa… (soalnya butuh semedi lagi, makin lama makin sulit bikin konfliknya)

Summary-nya plis dibaca, soalnya ada hal penting yang harus diketahui tapi gak diceritakan di cerita (kok gitu?) Soalnya, misteri tetap lah misteri *gaya cool* #ditampol Oh ya, kemaren ada yang nanya kenapa Key gak manggil Taylor dengan sebutan ‘appa’ atau ‘aboeji’, itu karena dalam konsep mahkluk mistis di sini aku pake budaya Eropa freak (??) jadi it’s okay jika manggil orang tua dengan namanya doang, toh di SPY ini juga udah kucantumin kan kenapa Taylor ga mau dipanggil father atau appa atau bapak (??) (Dia juga geli soalnya) wakakaka #ditendang

Kasih clue yaaaa biar puas lagi (??). SPY depan akan terjadi sesuatu dengan Chan Gi dan Ariana, yang akan membuat Chan Gi tidak akan lagi nongol di SPY 12. HAHAHAHAHAHAHAHAHA #diinjek. Terimakasih sangaaat buat yang bersedia membaca, komen, dan beberi like hehe. Jika nanti sebelum cerita ini tamat udah kehilangan pembaca, cerita ini tetap akan kulanjutkan sampai tamat hahahaha! *kok pesimis gitu sih Ren* #ditabok

Yaaaah pokoknya jongmal jongmal tengkiuh dah,😄 See you next chapter!😄

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 10

      1. Thor,mau tanya’-‘)b *duh,kenapa pakek nanya*

        Thor, aku udah baca nih ff dri spy1 sampe spy10. dan jujur ya thor,baru sekarang aku baca ff yng genrenya fantasy yng seru total kek gini >,//< Ohh, i'm so curious yeahh!! ohh, i'm curious yeah!! *nyanyi bareng key*

        thor,kok aku ngerasa semakin author nge post next chapter dari ff ini,semakin dikit juga KeySica mommentnya ?😦 ditambah,si key jadi kek cuek bget sama sica .padahal aku berharap lebih thor *hidup KeySica Shipper!!^^~*

        aku jadi takutnya sih key malah jadi ga suka lagi sama jessica :""""( hikss.. tlong byakin lagi KeySica mommentnya oke thor?😉

        terus,1 lagi *duh,kebanyakan nanya nih* apa hubungan si hero sama jessica ('-')?

        udah thor,itu aja.. *itu sih kebanyakan-_-)/*
        mian ya thor,kalo aku kebanyakan nanyanya.

        oh,yaudah semoga auhor bisa cepet ngeshare spy11 sampe seterusnya ya thor😉 jgan lama2 loh.. bisa kangen sama nih ff sama authornya hikseuu :""(

        okeee,keep writing thorr!! \(^O^)/

        1. Sok aja atuh tanya, saia jawab sampe tuntas😄
          Sebenernya, aku rada kesulitan bikin KeySica moment disini *ehem* karena… yaaaa… mereka sama-sama mahkluk si-_- Coba aja liat Gyuri sama Taylor sering mesraan kaga kan udah punya anak satu#diinjek Aku juga geregetan heeeeemmmm ini KeySica momentnya dimanaaaa T^T*pssst, mudah-mudahan aku bisa post 1 spy full KeSica moment yaaak wkwk*
          Hero sama Jessica? Hero itu gebetan aku Jessica itu unni aku #JDER wakakaka Hero sama Jessica itu kayak semacam hubungan guru sama murid, wali sama anak(bukan ortu loh ya) soalnya disini tanggung jawab Hero semua, jadi sebenernya tugas Hero itu berat(ngawasin Eve sedeng macam Key dkk) nyehehehe #ditabok
          Whuaaaaaaa makasih udah bilang ini seru m(_ _)m seneng deh ada yang suka sama cerita bobrok kayak gini muahahahahahah! #ditendang
          Iyeeeeee diriku juga pengen ini cerita cepet selese hiks T^T Masa dari taun kemaren bung #ditendang
          Terima kasih yaaaa ^O^

  1. wah Ren, makin bagus aja nih critanya
    srigala itu Chase kan? jangan bilang kalo Ariana kerjasama sama Chase? SPY selanjutnya gak lama kan? *banyak tanya banget nih reader* (*¯︶¯*)

  2. akhirnya setelah penantian bertahun2 nih ff keluar juga~~~

    hooh… si Chase pengen dapet Sica n Ariana pengen dpt Key, bisalah itu…
    heran d knp Ariana g tau kl Key jg Eve, pdhl dia tau Sica itu Eve. bukannya biasanya sih cari tau ttg yg disuka dulu br cari tau ttg rival?
    hmmm… brrt Chan gi bakal mati d next chappie, y? oke, d. ditunggu lanjutannya. jangan lama2, Ren. karatan nih nunggunya…

    keep writing~~

    1. Yaaaaah penantian bertahun-tahun aku jadi merasa bersalah kaaaan TT^TT
      Hm… itu point pertama. Kalo soal Ariana itu, soalnya Key sendiri yang bilang pas di Hogwarts kalo dia darah campuran (seingetku udah ada di spy aal-awal Key masuk hogwarts ya, tapi mungkin juga belum aku tulis. Kalo belum aku bikin flashback aja yaa)😄
      Hm… iya. Nyehehehehe. Iyaaaaa hiks. Ini kan kelamaan nunggu selese ujian wahahahahah😄
      Thankseu yaaaa *big hug* #poppo😄

  3. wahhh nongol juga akhirnya… hahaha key ganti gaya ramhut ya?? pdhl kataku dia cocok kl model rdd. hitam pekat dengan poni miring, keceeee

    aku kangen si serigala!!! aq lupa namanya tp aq msh ingat itu onew. wahh kl chan gi mati dibunuh ariana, key gk punya mkanan dong. tp kenapa yg dibunuh itu chan gi? emng ada hubungannya ya?

    1. Iya, kan jamannya udah beda. Ntar dia ganti lagi gaya rambutnya, biasa si fashionista ^o^
      Yahh pokoknya itu si Onew dah. Enggak kok, Chan Gi gak dibunuh Ariana. Hubungannya? ga ada. Karena gak ada itulah si Chan Gi ketiban sial jadi mangsanya si Key hueheheh. Kan milih mangsanya random, kk~
      makasih yaa udah komen~!

  4. keysica kurang banyak nichh *koalaysich *okesipalaylagi._.keysica jsyyy^^ harusnya ariana ariana itu mati aja di makan sama key muihihihi^^ ohiyaa aku mau nanya jessica suka sama key atau yoogeun ? mereka memperebutkan sica yeyy hahaha^ udahlah sica sama key nikah aja(?) *loh dan ariana mati YEEYYYYYYYYYYY DAN AKHIRNYA MENJADI HAPPY ENDINGG YEYYYYYYYYYYYYY *CAPSLOCKJEBOLMAAP._.* MAKASIHHHH^^

    1. Neext~ KeySicca-nya mulai banyak. Okeh?😄 Duh, gabisa. Ariana bukan manusia seutuhnya, takdirnya bukan di tangan Eve T^T
      Yeah, itulah tujuan awalku. Yoogeun sama appanya (read : Key) rebutan cewek. Tapi kayaknya gagal total ya? huwehehehe
      Mereka gabisa nikah secepat itu~ Tapi liat ajalah nanti yaaa~~~
      Pasti happy ending. okeh? Serahkan plotnya ke author #diinjek terimakasih sudha komeen~

  5. Akhirnya setelah ditunggu dengan lamanya chap 10nya keluar juga thor! Makin seru aja! Ditunggu next chapnya thor update soon yah… Fighting!!

  6. Konpliknya tambah banyak #konflik

    Akhirnyaaa, jjongie dpt banyak scene kali ini, ㅋㅋㅋㅋ #ditampol

    Demen dah ma adegan ehem2nya Key-Jessica di akhir part, Chase gmn ya? Pasangin ma eyke aja ren,
    Lagian bebeb Tae udah elu matiin di sini #ditampollagi

    Part depan Chan Gi mati ya?
    Trs Ariana?
    Ariana emangnya gabisa tau gitu dr auranya Key, klo dia tuh Eve?

    1. Oh iya ya, kesian atuh ternyata si dino jadi kameo huahah #diinjek kasih tepok tangan deh yaaa *plokplokplok* #ditendang
      Eung… Eve tak punya aura seingetku (eh?) Jadi Ariana percaya aja sama karangan Key yg bilang kalo dia itu darah penyihir campuran. Fisik mereka yg terlalu cantik/ganteng wkwkwk #diinjek trims yaaah udah komen😄 *hug*

  7. Duh rindu ma keysica moment ya pgin liat key cemburu gitu gimana reaksinya y
    Lanjutin terus storynya
    Fighting😄

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s