The Destiny – Part 2

 The Destiny [Part 2]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : Untuk kedua kalinya takdir seakan menuntun dan mempertemukannya dengan namja yang biasa ia lihat dari balik layar laptopnya, setelah mendengar berita bahwa keluarganya akan pindah ke negara ini. Ya, Rika tahu cepat atau lambat ia akan bertemu dengan namja ini. Namja yang begitu ia sukai secara diam-diam. Tapi, dengan cara seperti ini …, apa ini benar-benar takdir? Apa ini memang jodoh? Kedua pertanyaan itu selalu mengusiknya dan membuat gemuruh itu datang lagi di dadanya.

Note                 : Tulisan bahasa indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

-Flashback-

 

Sebuah langkah dimulai dan diikuti langkah-langkah selanjutnya. Langkah yang berasal dari pemilik sepatu sport putih dari gadis yang baru memasuki kelas barunya. Kehidupan sekolah yang baru. Langkah yang terhenti di depan kelas, tepat di samping seorang wanita muda yang memakai kacamata. Yang ia yakini adalah guru barunya.

Kali ini matanya mulai bekerja menggantikan kaki yang sudah menetap. Melihat satu-satu calon kawannya itu, meskipun ia tak bisa mengingat semua dalam sekali waktu. Sedangkan telinganya menangkap pidato pendek dari sang guru. Hal yang sama terjadi pada orang-orang yang tengah duduk tenang di kursi masing-masing—memperhatikannya dan mendengarkan sang guru dalam waktu bersamaan.

“Anyeonghaseyo yarobun! Naneun Rika Wibowo imnida. Saya pindahan dari Indonesia. Salam kenal!” ujarnya semangat ketika orang di sampingnya memintanya untuk memperkenalkan diri.

Semua menjawab salam serentak. Setelahnya gadis itu dipersilakan duduk pada sebuah meja–yang di tempati seorang gadis pada baris ketiga—tepat di samping tembok kelas yang menjadi penyeka antara kelas mereka dan koridor. Dan kursi kosong di sebelahnya adalah tempatnya menetap.

Rika meletakkan tasnya di atas meja.

“Hai! Aku Shim Jungeun.”

Rika terperangah. “Kau bisa Bahasa Indonesia? Hai.”

“Tentu saja. Ibuku orang Indonesia.”

 

“Senang sekali bisa berbicara Bahasa Indonesia denganmu. Aku kira selama aku tinggal di sini aku hanya akan bicara Bahasa Indonesia dengan keluargaku saja.”

Kepala Jungen sedikit bergerak ke samping setelah menatap Rika beberapa lama. Matanya menangkap sesuatu. Seorang Kibum yang tengah memperhatikan Rika. Dan Rika segera mengalihkan pandangannya ke arah tatapan Jungeun—untuk tempo dua sekon gadis itu tak berbicara lagi.

Rambut cokelat berponi. Telinga bertindik. Kulit yang begitu putih. Sosok itulah yang dituju arah bola mata Jungeun. Seseorang yang duduk tepat di meja sebelah mereka. Duduk bersama siswa tinggi di sampingnya yang menjadi penyeka antara Rika dan namja itu.

Kibum terkesiap dan segera melepas pandangan ketika aksi kecilnya ketahuan. Buru-buru menatap depan kelas dengan gurat merah di pipinya.

“Kibum tadi memandangimu, Rika,” ujar Jungeun masih belum melepas pandangannya dari Kibum yang terlihat kikuk di tempatnya.

“Kibum? Anak yang super putih itu?”

Jungeun mengangguk kemudian memperbaiki posisi duduknya.

______

Cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis tipis.

 

Kau. Bisakah kau membedakannya?

 

Cinta dan benci tak pernah mengenal jarak dan waktu.

 

Dua perasaan yang mengajarkanmu cara menangis dan tertawa. Sedih dan bahagia. Keduanya bisa membuatmu seakan gila. Mengurungmu dalam kebingungan, atau bayang-bayang.

Manis. Itu adalah pikiran yang pertama kali muncul ketika kedua bola matanya menangkap seluet sosok berambut panjang di hadapannya. Kulit yang sedikit kecoklatan. Mata yang hitam berkilau bagai black pearl. Serta tubuh yang tak terlalu tinggi namun proporsional.

Bahkan ketika langkah kakinya memasuki dalam kelas, Kibum tak bisa mengalihkan perhatiannya meski hanya untuk sepersekian detik saja. Itu terdengar mendramatisir, tapi itulah yang dilakukannya.

Matanya terus bergerak mengikuti pergerakan sang gadis, hingga gadis itu duduk dan bercengkerama dengan teman sebangkunya, dan tak lama kemudian menoleh ke arahnya. Bahkan tak sampai satu detik saling bertemu tatap, itu sangat cukup membuat jantungnya berdentum-dentum dan merasakan sengatan listrik yang begitu cepat menjalari otot tubuhnya. Listrik yang entah datang dari mana.

______

Deringan bel istirahat makan siang akhirnya berbunyi. Seluruh kelas dikosongkan dan para siswa pergi menuju kantin. Tentu saja termasuk Jungeun dan Rika. Kebetulan Jungeun tidak membawa bekal dan membeli sandwich, sedangkan Rika membawa bekal yang dibuat oleh mamanya.

“Rika, apa itu salad?” tanya Jungeun ketika melihat aneka sayuran rebus bercampur menjadi satu dalam satu wadah.

Rika tersenyum kemudian menuangkan sambal kacang di atas sayuran yang sebelumnya ia simpan di plastik. “Iya.”

“Lalu, yang kamu taruh itu apa?” Rasa penasaran gadis itu belum hilang.

“Saus kacang. Makanan ini namanya gado-gado. Salad dari betawi, Indonesia. Kamu tidak tahu?”

 

“Tidak. Mana tahu aku makanan Indonesia. Amma hanya menceritakan saja, tidak pernah benar-benar membuat. Ia tidak bisa masak.”

 

“Mau coba?” Rika menyodorkan kotak bekalnya ke arah Jungeun.

Jungeun sesaat diam memperhatikan sebelum mencobanya. Dia mengunyahnya perlahan kemudian matanya membulat. “Ini enak. Hanya agak pedas.”

“Mamaku itu jago memasak, dan keluarga kami sangat suka makanan pedas.”

Jungeun menyendok sekali lagi. Ia terlihat ketagihan.

“Ayo kita makan berdua! Mama membuat porsi yang lebih besar agar bisa kubagi bersama teman baruku. Ini lihat! Aku bawa sendok dua,” ajak Rika seraya menunjukkan satu sendok lagi dari sakunya.

“Di sini kan tidak ada nasi. Kenapa pakai sendok?”

“Di Indonesia orang-orang makan pakai sendok dan garpu. Tidak memakai sumpit. Lagi pula aku tidak bisa pakai sumpit.”

 “Anyeong!” sapa seseorang yang muncul tiba-tiba, sedangkan sahabat jangkungnya hanya berdiri di sampingnya sambil melihat makanan di meja mereka.

“Anyeong!” balas keduanya.

“Naneun Kim Kibum imnida dan ini Choi Minho. Salam kenal!” ujar Kibum bersemangat.

Kibum melihat ke arah makanan Rika seperti halnya Minho yang masih menatap dengan penasaran. “Kalian makan apa?”

“O, ini gado-gado. Makanan dari negaraku.”

“Itu yang berwarna cokelat apa? Apa itu saus?” tanya Minho seraya menunjuk si saus kacang.

“Ne. Itu saus kacang.”

“Mau coba? Enak, loh.” Tiba-tiba Jungeun menyodorkan gado-gado itu kepada keduanya tanpa seizin Rika. Rika sendiri tidak keberatan.

Jungeun melakukan ini untuk menarik simpati Minho. Yeoja yang sudah menjadi teman dekat Rika itu memang sudah menyukai Minho sejak masuk sekolah, sedangkan Minho sendiri adalah namja super cuek. Bahkan karena terlalu cueknya ia tidak sadar bahwa banyak yeoja yang menyukainya dan  ia populer. Dia merasa biasa-biasa saja.

Kibum dan Minho menyendok satu suapan ke mulut masing-masing. “Enak,” jawab mereka kompak dan saling bertukar pandangan, kemudian memandang ke arah Rika bersamaan.

“Aku minta resepnya, ya? Sekalian nomor ponselmu. Nanti biar kamu bisa mengirimiku lewat SMS.” Kibum bersiap dengan ponsel di tangannya.

Alis Rika bertaut memandang Kibum dan bangkit ketika ia menyadari sesuatu. “Aku mau ke kamar mandi. Kalian habiskan saja gado-gadonya. Kalau mau minta nomorku sama Jungeun saja,” ujar Rika kemudian berlalu dengan kesal.

Rika berjalan sambil bergerutu sendirian, “Apa-apaan sih dia? Baru kenal sudah berani minta nomer HP. Pake alesan gado-gado segala lagi.”

Kibum menatap Jungeun untuk menagih kata-kata Rika.

“Hah? Aku tidak punya.” Jungeun berubah gugup dan buru-buru pergi mengejar Rika. Berlari kecil. Ia bahkan lupa pada kotak bekal Rika yang ia tinggalkan.

“Apa aku menyinggung Rika?” tanya Kibum yang melihat Jungeun tengah pergi menuju kelas.

Minho tidak menjawab.

Kibum menoleh ke arah Minho.  “Omo. Kamu malah makan,” protes Kibum yang melihat Minho tengah duduk rapi dan menyantap gado-gado itu dengan sangat lahap.

Kibum cukup terkejut melihat kelakuan Minho. Namja itu terlihat seperti berhari-hari tidak makan. Tapi, Kibum tahu betul kebiasaan minho yang satu ini. Karena itu Kibum duduk di sebelahnya—menatap dengan tampang pasrah.

“Kamu seperti dari kemarin tidak makan saja,” olok Kibum, tetapi Minho malah mengangguk masih dengan mulut penuh makanan. Sepertinya ia benar-benar lapar.

______

Rika duduk di kelas. Di kedua telinganya ia sumpal headphone. Ini adalah kebiasaanya jika sedang kesal. Diam dan mendengarkan musik di tempat sepi. Kelas memang tengah kosong dan hanya ada dirinya di sana. Dan lenggang beberapa menit seseorang masuk menghampirinya. Rika memperhatikan kedua tangan gadis itu. Kosong.

“Jungeun, mana kotak bekalku? Kamu tinggalkan di sana, ya?”

“Ah? Aku lupa!” Jungeun menepuk dahinya. “Maaf.”

Rika menatap kesal Jungeun yang terlihat menyesal. Sesudahnya ia menghela napas panjang. “Ya sudah, tidak apa-apa. Biar aku saja sendiri yang ambil.”

Rika melepaskan headphone-nya dan menaruhnya kembali ke dalam tas beserta MP3-nya. Setelahnya ia pergi menuju kantin. Berjalan melewati arus dari segerombolan panjang siswa dan siswi yang tengah melangkah dalam perjalanan menuju kelas mereka.

“Di mana?” tanyanya bingung ketika melihat meja yang tadi ia singgahi sama kosongnya dengan tempat yang kini ia datangi.

Rika membalikkan tubuhnya dan tersentak ketika sebuah tubuh berdiri tepat di hadapannya. Membuatnya hampir terjungkal ke belakang jika orang itu tidak segera menarik pinggang Rika dan menahannya dengan satu tangan. Mereka bertatap dan terdiam untuk beberapa waktu.

“Ma-maaf!” Rika tergugup dan segera menjauh dari pria tinggi di hadapannya.

“Maaf?” tanya Minho tidak mengerti.

“Mianhaeyo,” ulang Rika.

“Aniyo. Aku yang harusnya minta maaf. Aku hampir membuatmu jatuh,” balas Minho dengan sedikit senyum.

Rika melihat kotak bekalnya di tangan Minho. “Kotak bekalku!”

Minho menyodorkan benda kotak itu dan Rika mengambilnya. “Kau mencarinya, ya? Itu sudah aku cuci. Makanannya sudah aku habiskan. Apa namanya? Ga …, ga ….”

“Gado-gado.”

Ne, gado-gado. Itu enak.”

Rika tertegun dengan perlakuan Minho. Namja ini sangat sopan dan baik hati, berbeda dengan sekali perilaku Kim Kibum yang begitu tidak ia sukai.

Bel berbunyi. Seluruh anak memasuki kelas mereka dan mereka juga harus melakukan hal yang sama. Mereka berlari menyusuri sebuah koridor—Rika berpapasan dengan seseorang. Gadis itu tiba-tiba berhenti melihat ke belakangnya. Memperhatikan namja yang tengah berjalan membelakanginya itu.

Sepertinya aku pernah lihat dia.

“Rika! Kenapa berhenti?! Kita sudah terlambat! Kaja!” Minho sedikit berteriak dari tempatnya berdiri. Cukup jauh dari tempat Rika terdiam sekarang.

“Ne.” Rika menyusul Minho dan berlari bersamanya.

Namja tadi berhenti berjalan. Ia melihat ke belakangnya. Melihat dua orang itu tengah berlari. Seketika raut wajahnya dipenuhi kerinduan dan termenung sebentar, kemudian kembali berjalan menuju kelasnya.

 

______

Matahari meluncur turun. Cahaya dan panasnya pun kini tidak menyilaukan dan sepanas ketika—bintang paling dekat dengan bumi itu—berada tepat di atas ubun-ubun. Jauh dari arah timur langit sore yang gelap mulai tampak. Menunjukkan tidak sampai dua jam lagi kegelapan akan memenuhi langit sepenuhnya. Rika menutup pintu kelasnya setelah membuat beberapa catatan. Karena dia adalah anak baru, ia sadar harus belajar lebih keras.

Berjalan melawati lorong sepi dan membuat gema dari sepatunya. Gema itu tertelan deringan telepon genggam yang tiba-tiba muncul. Suara di seberang sana kini menjadi teman seperjalanannya.

“Yeoboseyeo.”

“Yeoboseyo. Apa kabar, Rika?”

“Baik, Oppa. Keadaan Oppa sendiri?”

“Baik.”

“Ada apa, Oppa? Kenapa tiba-tiba menelepon?”

“Tadi aku melihat ada orang mirip denganmu, karena itu aku jadi ingat padamu. Ngomong-ngomong kita memang sudah lama kan tidak saling kontak?”

“Nde. Oppa kan tahu belakangan ini aku sibuk. Oh, ya, Oppa. Aku punya kejutan loh untuk Oppa.”

“Jeongmal?”

 

“Nde. Tebak sekarang aku di mana?”

“Di mana? Di rumah?”

“Salah. Aku sekarang di Korea.”

“Jincha?!” pekik namja di balik telepon membuat Rika cekikikan. “Aigooo. Sejak kapan? Aku benar-benar ingin melihat Rika yang sesungguhnya. Bukan hanya gambar dari balik layar komputer saja.”

“Aku di sini sudah tiga hari. Belakangan ini keluarga kami sibuk karena mengurusi kepindahan kami ke sini. Makanya, aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar chatting dengan Oppa. Kalau masalah bertemu, aku juga mau. Aku benar-benar penasaran dengan Oppa. Oh, ya, Oppa, sekarang aku sudah sekolah loh, dan sekarang aku ingin pulang.”

“Jincha?! Sekolah di mana?”

“Sekolah di ….”

Rika berhenti bicara serentak dengan tubuhnya yang tidak bergerak. Gadis itu menatap satu titik dengan tatapan tidak percaya. Menatap jeli seorang namja yang juga tengah menempelkan telepon genggam pada daun telinganya. Kini mereka hanya berjarak kurang lebih lima meter dari tempat masing-masing. Sama-sama terdiam dan saling memandang untuk beberapa saat. Mereka bersamaan menurunkan tangan mereka yang tengah meggenggam ponsel.

Untuk kedua kalinya takdir seakan menuntun dan mempertemukannya—dengan namja yang biasa ia lihat dari balik layar laptopnya—setelah mendengar berita bahwa keluarganya akan pindah ke negara ini. Ya, Rika tahu cepat atau lambat ia akan bertemu dengan namja ini. Namja yang begitu ia sukai secara diam-diam. Tapi, dengan cara seperti ini …, apa ini benar-benar takdir? Apa ini memang jodoh? Kedua pertanyaan itu selalu mengusiknya dan membuat gemuruh itu datang lagi di dadanya.

“Rika?”

“Jinki Oppa?”

Gumam mereka bersamaan, masih dengan pandangan tidak percaya dan tersadar. Mereka saling mendekat dengan langkah perlahan. Sama-sama terlihat takjub kepada orang di hadapan masing-masing. Menatap wajah masing-masing.

Rika terdiam di tempatnya. Ia terlalu gugup dan belum siap meski pada kenyataannya ia sering membayangkannya, bahkan memikirkan apa yang harus ia ucapkan ketika mereka bertemu. Tapi, sekarang …, entah. Semua itu hilang dalam sekejap.

Jinki tertawa kecil dan menggaruk-garuk kepalanya. “Lucu, ya? Seperti takdir saja. Ternyata dunia itu benar-benar sempit.”

Rika tersenyum senang mendengar perkataan Jinki. Sama seperti yang ada di kepalanya, ‘takdir’.

“Jadi, sudah berapa lama sekolah di sini?”

“Ne. Ini hari pertamaku.”

“Kalau begitu aku ucapkan selamat datang.” Jinki mengulurkan tangannya dengan senyuman tipis.

Rika menyambutnya. “Gomaweo.”

 

“Kau sadar tidak tadi kita berpapasan di koridor? Saat itu aku hanya berpikir gadis itu mirip Rika, tetapi ternyata itu memang benar-benar kamu.”

“Ya, aku tahu. Saat itu aku berpikir seperti pernah melihatmu.”

“Sekarang aku sudah bisa bertemu denganmu, bahkan bersekolah di tempat yang sama. Jadi, kita bisa sering bertemu. Aku benar-benar senang. Tapi, tidak apa-apa, kan? Apa kamu kecewa melihat aku yang seperti ini?”

“Tidak sama sekali.”

“O, ya, mau pulang, kan? Mau aku antar? Aku bawa motor. Kebetulan sekali adikku sedang ada latihan tari, jadi aku pulang sendirian.”

“Tidak, terima kasih. Appa akan menjemputku sebentar lagi,” tolak Rika halus.

“O, begitu.”

Deringan telepon genggam Rika berbunyi lagi.

“Dari Appa.” Rika menjawab sambungan.

Jinki hanya diam di tempat dan mendengarkan. Mendengar rengekan serta wajah yang berubah kesal bercamput kecewa. Rika merengut setelah memutus sambungan.

“Waeyo?”

Appa tidak bisa menjemputku. Katanya ada rapat mendadak. Aku disuruh naik taksi saja. Appa selalu seperti itu, lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarga,” ungkap Rika kemudian berdecak kesal.

“Tenanglah! Tawaranku masih berlaku, kok.”

“Mwo?”

“Aku akan mengantarmu pulang. Kamu tahu kan alamat rumahmu?”

Rika tersenyum dan mengangguk semangat.

“Ayo, kita ke parkiran!” ajak Jinki kemudian mulai berjalan.

Tak lama langkah mereka terhenti lagi. Wajah keduanya terlihat terkejut melihat sesosok namja tengah berdiri tidak jauh dari mereka.

“Kibum?” gumam Jinki.

______

Kim Kibum kini sedang berdiri—bersandar pada gerbang sekolah. Rupanya ia sedang menunggu seseorang. Seorang gadis yang telah mengambil perhatiannya sejak pertama kali melihatnya. Gadis yang tidak lain adalah Rika.

Sejujurnya ia menunggu untuk meminta maaf pada Rika. Ia merasa sedikit merasa bersalah membuat Rika kesal. Selain itu, apa yang ia lakukan juga termasuk bagian dari rencana pendekatannya. Saat ini ia ingin mengajak Rika pulang bersama. Sekadar berjalan dan mengobrol bersama hingga halte bus.

Kibum melihat ke arah jam tangannya. “Ke mana dia? Kenapa belum muncul?” Kibum sudah tidak sabar, karena itu ia segera berjalan menuju kelas. Berjalan hingga langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pemandangan yang membuatnya cemburu. Ia melihat Jinki dan Rika tengah mengobrol dengan asyiknya. Mereka terlihat begitu dekat.

“Kibum,” ujar Jinki setelah memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Ia melihat Kibum tengah berdiri di sana. “Sedang apa?”

“Aku …, aku sedang menunggu seseorang, Hyung,” jawab Kibum dengan raut wajah kecewa.

“O, siapa? Apa gadis yang kamu sukai?” terka Jinki.

Kibum mengangguk lemas sambil menatap Rika.

“O, ya, kenalkan, ini Rika. Dia ….”

“Dia temanku, Hyung. Dia murid baru di kelasku,” potong Kibum membuat Jinki mengangguk. Sedangkan Rika tidak berkomentar apa-apa. Diam dengan tenang di tempatnya.

Oppa, bisakah kita pulang sekarang? Eomma pasti akan khawatir jika aku pulang terlambat.” Gadis itu dengan akrabnya menarik-narik lengan Jinki, membuat Kibum terkejut.

“Nde. Aku pergi dulu, ya,” pamit Jinki kemudian berjalan berdampingan dengan Rika, meninggalkan Kibum yang shock.

Rika menolah ke belakang sesekali, melihat Kibum yang masih berdiri kaku sendirian, yang menurutnya terlihat tidak begitu baik. Berlalu dan menghilang bersama Jinki. Kini Kibum benar-benar sendirian.

“Oppa?” gumam Kibum seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Membuat hatinya serasa diremas. Sakit.

“Apa mereka pacaran? Harusnya aku tidak memotong kata-kata Jinki Hyung tadi,” gumam Kibum dalam sesal.

Kau tak bisa melihat masa depan. Karena kau hanya bisa melihat masa yang telah kau lalui.

 

Terkadang jalan yang lurus pada akhirnya menikuk.

 

Dan takdir terkadang tak sejalan dengan bayang-bayang.

Kehidupan bisa saja berubah sewaktu-waktu

______

“Sudah siap?” tanya Jinki ketika keduanya telah duduk rapi di atas motor hitam besar milik Jinki. Telah memakai jaket dan helm.

“Ne.”

Jinki tidak segera memutar gagang motornya agar segera melaju. Ia terdiam seraya melihat ke arah perutnya.

“Wae, Oppa?”

“Kau harus melingkarkan tanganmu di pinggangku! Nanti kamu jatuh.”

“Aniyo, Oppa. Aku sudah biasa boncengan begini,” tolak Rika seraya memegang jaket Jinki tepat di pinggangnya. Ia bahkan duduk dengan memberi sedikit ruang di antara mereka. Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan menjaga jarak. Ia terlalu malu melakukannya. Suka bukan berarti dia akan melakukan apa saja. Ia tidak biasa dengan hal seperti ini, kecuali dengan kakak sepupunya.

“Merapatlah padaku!” perintah Jinki lagi.

Kali ini Rika sedikit memajukan tubuhnya, membuat Jinki menghela napas. Jinki tahu ia tidak bisa memaksa gadis itu.

Motor mulai melaju dan sebuah ‘lampu’ muncul di atas kepala Jinki. Ketika mereka melewati gerbang sekolah dengan sengaja Jinki menaikkan kecepatan motornya drastis. Sontak membuat Rika  melingkarkan tangannya di pinggang Jinki dengan kuat. Memeluknya sangat erat dengan mata terpejam karena ketakutan.

“Oppa, jangan mengebut!! Aku takut!!” teriak Rika.

Gwenchanayo! Bukankah kamu tidak boleh pulang terlambat?! Aku berusaha mengantarmu sampai dengan cepat!” Ia tersenyum nakal.

Motor Jinki terus melaju hingga melewati Kibum yang tengah berjalan sendirian tanpa mereka sadari. Kibum tahu bahwa dua orang yang baru saja ia lihat adalah Rika dan Jinki. Melihat mereka berpelukkan seperti itu membuat Kibum semakin terpuruk.

______

Di sekolah itu memiliki dua buah gedung terpisah. Sebuah gedung dikhususkan untuk kegiatan belajar mengajar dan sebuah gedung lagi dikhususkan untuk kegiatan olahraga indoor, ekstrakulikuler, serta kegiatan lain di luar kegiatan belajar mengajar.

Saat ini Rika tengah sendirian menjelejahinya. Gedung yang cukup sepi dan sunyi membuat Rika semakin menyukainya. Berjalan ditemani derap langkahnya sendiri. Menggema pelan. Sedangkan matanya terus saja sibuk mengawasi tempat-tempat di sekitar lorong. Benar-benar menyenangkan. Bagai berpetualang di tempat antah berantah.

Terdengar alunan musik. Nada dan lirik yang menyatu mengalun menjadi sebuah irama beritme cepat. Menelan kesunyian yang Rika rasakan ketika memasuki tempat ini. Ia pertajam pendengarannya dan berjalan perlahan mencari arah sumber suara. Penasaran mulai menariknya.

Melangkah hingga beberapa meter. Ia menemukan sebuah pintu terbuka. Pintu ruang latihan tari. Rika melihat ke dalam, terdapat seseorang yang tengah menari dengan indahnya. Seseorang yang membuatnya terkesiap dan terkagum-kagum. Gerakannya sangat lincah.

Rika terdiam dan benar-benar terpukau. Semua yang ia lihat seperti membawanya ke dalam dunia yang berbeda. Ia benar-benar terpesona. “Hebat sekali,” gumamnya pelan.

Namja itu berhenti menari dan melihat ke arahnya. Rika tersentak. Sepertinya ia telah mengganggu orang ini.

Rika membungkuk. “Mianhaeyo. Aku tidak bermaksud mengganggu.”

Namja tadi mematikan lagu yang berputar dari Mp3-nya lalu menatap Rika kembali. “Tadi kamu bilang apa?”

“Mianhaeyo,” jawabnya ragu.

“Aniyo. Sebelumnya.”

“Hebat sekali?”

“Ne, itu. Kamu bicara apa?”

“Oh, itu artinya hebat sekali. Itu bahasa Indonesia.”

“Aa.”

“Tapi, aku benar-benar minta maaf karena mengganggu latihanmu.”

“Gwenchanayo. Aku memang sudah selesai.”

“Begitu, ya?”

Dreeeet! Dreeeet!

Ponsel Rika kembali bergetar. Ia mengambil ponsel yang ada di sakunya. “Oppa,” gumamnya dengan senyum merekah.

“Anyeong,” pamit Rika kemudian pergi. Memulai pembicaraannya di telepon. Meninggalkan namja tadi sendirian kembali.

Rika terus berjalan. Kini ia berada tepat di tepi lapangan basket indoor. Di sana ternyata cukup ramai karena berada di lantai satu. Rika terlalu sibuk menelepon hingga tidak sadar sesuatu datang ke arahnya.

“AWAAAAAAS!” teriak seseorang padanya.

Buk! Bruk!

______

“… tuuuut tuuuut tuuuut.”

“Yeoboseyo! Rika, yeoboseyo!” panggil Jinki mulai panik karena tiba-tiba sambungannya terputus.

Jinki segera berlari menuju lantai dua—tempat kelas Rika berada—dengan tergesa-gesa. Di sana ia menemukan Kibum bersama Minho yang baru saja keluar dari kelas mereka. Jinki menghampiri mereka.

“Yaah, Rika di mana? Apa dia di kelas?” tanyanya bercampur dengan tarikan napas yang berat. Jinki terengah-engah setelah berlari.

“Ani. Dia pergi dari tadi. Ada apa, Hyung?”tanya Kibum.

Jinki tidak menjawab dan kembali berusaha menghubungi ponsel Rika. Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang laki-laki menjawabnya.

“Ini siapa?” tanya Jinki semakin panik.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “The Destiny – Part 2”

  1. ceritanya kembali kemasa lalu ya?
    agak bingung awalnya, karena seinget saya part sebelumnya dibagian akhir, cincin nikahnya si Jinki jatuh..

    udah diceritain belum ya, gmna Jinki-Rika bisa kenal, sampe akhirnya jadi sering video call-an..

    Ok Hana , ditunggu part selanjutnya ya.. 🙂

    1. iya. kan kenalannya di dunia maya, eon. mau disengaja ataupun nggak. itu kan lumrah #menurutku loh. ya jadi nggak aku ceritain deh.

    1. dari dunia maya. rika kepengen punya temen orang korsel. ya, gtu. nggak sengaja. jadi nggak perlu cerita panjang-panjang.

  2. Key oppa cemburu?
    Bareng aku saja deh…

    Aku masih lucu ngebayangin Key dan Minho nyebut ‘gado-gado’

    flashback? Hemmm…
    Apkh flashback ini inti ceritanya? Hahah
    auk ah. Lupakan!
    Next part yoh?

  3. woah~ jadi ini cerita flashback ke masa skolah mrk ya? oh oke ngerti ngerti._._.
    heheh gado-gado? penasaran sm cara minkey nyebut ‘gado-gado’… mmm baiklah jd yg bisa ditangkap disini itu kesan awal rika sm key ga bgtu baik ya, soalnya dia lgsg nyosor kkk~ :mrgreen:
    cowok yg nari itu mesti taemin! trus yg tereak awas itu jjong? am i rite?
    komennya segini aja hana-ssi, next part juseyooo~ ^^

  4. oh jadi ini flashback toh.
    awalnya ga ngerti, tapi sekarang ngerti *ngangguk2
    keren juga ketemuan di dunia maya, ketemu juga di dunia nyata.
    aku ngebayangin dibonceng sama Jinki oppa kyaaa… bikin melting >.<

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s