Namja – Part 11

Title: Namja

Author: Bibib Dubu

Beta-reader: Kim Nara

Main Cast: Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Length: Sequel

Genre: Friendship, Romance

Rating: PG-15

Namja – Part 11: Shadow

 

Ternyata, Kim Jonghyun tak sejeli yang diprediksinya, namja itu sangat mudah diuntit. Entah rasa penasaran macam apa yang merasuki, ia mendadak ingin tahu dunia yang selama ini hanya bisa ia hakimi. Barangkali, ia terlalu menutup mata hingga tak bisa mengerti sudut pandang orang lain.

Pria itu sudah menunggu sejak jam 9 tadi, tentu ia tak bodoh—sebelumnya ia sempat mencari tahu Jonghyun ada kelas jam berapa. Begitu berhasil mendapati motor Jonghyun memasuki area parkir, pria itu segera memasang masker hijau yang dikenakannya, berlagak seperti manusia terjangkit flu.

Kim Jonghyun bahkan tak senakal yang dikira, ia tidak tersenyum maupun melambai genit pada setiap yeoja yang menyapanya, ia hanya tersenyum standar dalam rangka membalas keramahan orang-orang sekitar.

Langkah Jonghyun berhenti di depan sebuah kelas besar, semacam ruang perkuliahan untuk kelas gabungan. Bangkunya tersusun berundak seperti bioskop, hanya saja tanpa pencahayaan yang temaram. Ia tidak lantas masuk, kepalanya berputar arah, sedikit berjinjit demi melampaui kepala-kepala mahasiswa lain yang berjalan di sekitarnya. Seperti mencari, namun tak berhasil mendapatkan yang diinginkan. Sementara Si penguntit, ia belum berani memperpendek jarak, karena sekali saja Jonghyun melirik ke arahnya, jaminan ampuh tertangkap basah.

“Jonghyun-ah!” Beberapa orang anak merangkul, ber-high five ria lantas saling meninju lengan dengan pelan. Kim Jonghyun tampak bergairah, sorot lesunya menguap seketika karena kehadiran tiga orang rekannya tadi.

“Lusa malam jadi tampil, ‘kan? Ckck, aku sudah sangat rindu, entah sudah berapa lama kawanku yang satu ini pensiun jadi vokalis. Kau bukan takut pada Yonghwa, ‘kan?” Pria berambut gondrong terikat memperjelas alasan kebahagiaan Jonghyun siang ini. Sang penguntit mengangguk paham.

“Ohoho, tentu bukan. Hanya memang, suara Yonghwa lebih cocok untuk format band. Lagipula, jadi vokalis banyak pantangannya untuk menjaga kualitas suara. Aku termasuk yang malas menjalani berbagai macam pantangan,” tawa melesat dari mulut Jonghyun. Pria itu melipat lengan kemejanya hingga menyentuh siku. “Yah, event itu adalah kesempatanku untuk tampil solo. Aku akan menampilkan yang terbaik!” Lantas kedua telapaknya saling menggosok.

Ne, aku percaya dengan kualitasmu. Dijamin semua juri akan terpesona dengan suaramu, kau akan jadi penyanyi hebat, Kawan!” Temannya yang lain menimpali.

“Oh, ani, ani. Aku memang suka dengan musik, tapi tidak untuk menjadi pemusik profesional. Yeah, aku hanya ikut kompetisi demi hadiah uang. Passion utamaku tetap seni rupa,” sambar Jonghyun tegas.

“Baiklah kawan, realistis memang. Tak ada manusia yang tidak butuh uang, sekalipun tidak semua hal di dunia ini dapat diraih dengan uang. Sukses ya!” Si rambut gondrong menyudahi pembicaraan. Mereka lantas berpisah, tersisa Jonghyun yang tampak seperti mencari seseorang.

Dan mata Jonghyun langsung membulat girang begitu sesosok yeoja tampak di ujung lorong, Park Hana yang sedang berjalan sembari membenahi letak batang lolipopnya. Begitu Hana mendekat, ia gatal meledek, “Yeoja jelek, ckck, kau seperti anak taman kanak-kanak saja kalau mengemut lolipop seperti itu. Untung tanganmu yang satu tidak memegang balon.”

Hana hanya mencibir geli, rupanya sang musuh abadi sudah melancarkan gencatan senjata lebih dini. Dikeluarkannya sejenak lolipop tersebut, “Oh, tuan rumah yang tidak sopan, kau tidak tahu ya, sekarang lolipop dan balon tak hanya menjadi monopoli anak kecil. Aigoo, itu hanya caramu mencari topik pembicaraan saja. Mengakulah kalau rindu padaku, huh?” pancing Hana asal, bicara dengan Jonghyun terkadang tidak terlalu butuh otak, hanya perlu ketangkasan untuk menanggapi dengan cepat.

“A-ani. Lagipula kau, apa hakmu menganggapku sebagai tuan rumah yang tidak sopan? Sudah untung aku bersedia membuatkan lukisan gratis, simpanlah baik-baik sebelum aku menjadi terkenal.” Jonghyun gelagapan, arah wajahnya terus berkelana demi menutupi hati yang gugup. “Ah, baiklah, tidak bisa mengelak, aku memang berhutang jasa karena lukisan itu. Kalau aku sedang punya uang banyak, aku akan bayar. Terima kasih, ne?Mood Hana sedang tidak bagus, ia tidak terlalu tertarik menanggapi celotehan Jonghyun lebih lanjut, ingin segera disudahinya.

Aigoo, aku tidak bermaksud meminta bayaran, kau sungguh menghinaku. Dengar, aku benci seseorang menyalahpahami maksud baikku.” Wajah Jonghyun perlahan memerah, sorot matanya berubah menjadi serius, ia meraih tangan Hana dan mengepalnya keras tanpa peduli berimbas sakit atau tidak pada gadis itu.

Cih, terlalu banyak yang kau benci, salah kata sedikit—tersulut. Kasihan sekali hidupmu karena membenci banyak hal. Kau tahu, kau seperti yeoja, Key lebih layak disebut namja.” Hana membuang sisa ekspirasi dengan durasi panjang. Tak disangka celetukannya berimbas fatal. Ah, ia lupa sedang berbicara dengan siapa kini. Ya, semalam dirinya sendiri yang mengatakan bahwa seorang Kim Jonghyun masih labil dalam urusan emosi. O ow, barusan mulutnya berucap apa? Astaga, Park Hana, kau bodoh! Lihat saja sebentar lagi Kim Jonghyun akan marah besar.

“Ya! Kurang ajar sekali kau! Lain kali kita tidak usah bicara saja!” Jonghyun semakin kesal, harga dirinya tercabik. Sungguh, maksud baiknya seakan tak ditangkap oleh Hana, dan yeoja itu justru menyetarakan semua itu dengan uang—yang bahkan, belum dibayarkan. Cih, lucu! Jonghyun menjadi uring-uringan. Ia segera memasuki kelas, bermaksud mengambil bangku teratas.

Kim Jonghyun menyesal telah membuka perbincangan tadi, berujung pada rasa sakit hati dan hasrat untuk mencakar-cakar wajah Hana. Semua kejadian tadi sangat menyimpang dari maksud awalnya yang hanya ingin menyiarkan kabar yang tak sempat terucap: lusa malam aku ikut kompetisi menyanyi, datanglah kalau sempat.

“Hei, Kim Jonghyun pabo. Untuk apa? Kau berharap dukungan Hana? Menyoraki, lalu berlinang air mata terharu setelah kau usai menyanyikan lagu melankolis nanti? Hueks!” Ia mengejek dirinya sendiri, lalu meletakkan tas seperti separuh membanting. Tatapannya masih tak terlepas dari pintu, menyoroti Park Hana yang sama sekali tak menampakkan wajah bersalah. “Cih!”

Sementara Hana, masih mematung jengah, memainkan letak lolipop dengan lidah. Tidak akan ada habisnya bersitegang dengan pria seperti Kim Jonghyun, yang sarat dengan buruknya perlakuan keluarga, berimbas pada tingginya tingkat kesensitifan perasaan. “Ish, kau menambah buruk mood-ku hari ini. Maaf, aku sedang tidak bijak, tidak bisa memahami orang sepertimu. Sebagai gantinya, kuhadiahkan pembalut untukmu, seperti yeoja sedang PMS saja kau!” hardiknya kesal.

***

Key mengucek matanya begitu ia berhasil melihat seberkas sinar dari ventilasi jendela. Kepalanya berdenyut berkali-kali, pandangannya masih belum sempurna normal. Sudah jam berapa ini? Key melirik kiri-kanan dinding ruangan itu, tapi lagi-lagi, tidak ada fasilitas penunjuk waktu di dalam ruangan pengap itu.

Hidungnya mengendus beberapa kali, membaui aroma yang mendominasi di sekitarnya. Bau alkohol. Mengapa baru detik ini ia merasa ingin muntah karena aroma itu? Semalam rasanya ia tidak mempermasalahkan hal itu.

Ah, sudahlah. Key tidak mau ambil pusing. Ia segera beranjak keluar, ingin menghirup udara segar. Alangkah terperanjatnya ia saat melihat jarum jam sudah bertengger di angka sebelas. Ia tertidur nyaris setengah hari? Sungguh pemborosan waktu. Pria itu jelas ingat betul prinsipnya selama ini: bangun pagi akan membuat tubuh sehat. Ia lantas tersenyum miris tatkala mengingat momen senam bersama yang rutin dilakukannya. Tidak ada lagi, Key. Jangan terjebak pada masa lalu. Batinnya berusaha meneguhkan.

“Halo, selamat malam, Key. Kenapa kau terbangun kalau masih merasa pusing?” Ken menyambutnya di ruang tengah, pria itu tengah mencoret-coret sebuah buku catatan yang tidak Key ketahui apa isinya. Key tidak menjawab pertanyaan itu karena dirasanya memang tidak perlu dijawab. Key tahu bahwa Ken bukan bermaksud menanyakan kabar, melainkan menyindir. Key yakin wajah kusutnya telah bercerita secara otomatis tanpa harus ia jelaskan apa yang dirasakannya.

“Kusangka orang seperti kalian sudah tidak lagi mengenal buku, Ken?” Key terkekeh, duduk mengambil posisi di sebelah Ken.

“Ahaha, tidak juga. Sesekali aku masih membaca, tentu bacaanku lebih sering berkisar pada otomotif. Lagipula, yang kupegang ini buku tulis, Key. Jangan bilang buku tulis hanya kepunyaan anak sekolah!”

Key hanya membalas dengan sunggingan senyum tipis. “Ani, anak kuliah juga masih ada yang pakai.” Ia tertawa, candaan yang mengandung sindiran sebenarnya. “Eummm, Ken, semalam aku dan Nara…”

“Aku sudah tahu, Nara bercerita padaku tadi pagi. Key, kau tidak lantas menyerah karena semalam, ‘kan? Tidak ada bayi yang langsung bisa jalan, Key. Mereka butuh waktu hingga tulang dan syarafnya menguat, sembari dilatih oleh ibunya. Dan kau, adalah bayi yang baru bisa membuka mata.” Ken memotong cepat, menaruh pulpen yang sedang dipegangnya segera. Pria itu memfokuskan perhatiannya pada Key.

“Bagaimana jika aku adalah bayi yang tak pernah bisa berjalan?” Key menanggapi segera, dibalas dengan cibiran dari Ken. “Aaah, kau pasti menyebutku penakut, pesimistis. Baiklah, Ken. Aku akan mencoba lagi, tetapi tidak bersama Nara. Yeoja itu gila, dia membuatku nyaris mati. Nara justru mempercepat laju di saat mendekati tikungan,” dumal Key separuh marah pada Nara. Menurutnya Nara sengaja mempermainkannya.

“Hmmm, kalau begitu jam 10 malam nanti, bersamaku. Kuakui yang dilakukan Nara memang salah. Tapi, pada dasarnya tidak mungkin melaju kencang di tikungan, yang terjadi—motor tidak akan bisa berbelok, tetap lurus. Sebenarnya, Nara pasti menurunkan kecepatannya, hanya saja kau tidak merasakan itu karena termakan oleh rasa takutmu, ditambah lagi dengan Nara yang semakin meningkatkan kecepatan setelah lewat dari tikungan. Intinya, kau terlalu dikuasai rasa takut.” Ken mengelus-elus dagunya, mengintimidasi Key dengan tatapan tajam membunuh.

Key tidak berani membantah, memang nyatanya rasa takut itu ada. Tapi yang sebenarnya yang ingin ia katakan adalah, ‘Aku benci dipermainkan Nara. Aku ini namja. Sebagai sesama pria kau harusnya tahu bahwa pria tak suka direndahkan dan dianggap lemah oleh yeoja, Ken’. Sayangnya, Ken justru terkesan mendukung Nara.

“Nanti malam? Tidak, jangan nanti malam!” Key memekik ketika teringat sesuatu, permintaan tersirat Ha In untuk datang ke sungai Han.

“Hei, hei. Kau tidak ingat, berapa hari yang tersisa menuju pertandinganmu dengan Kira? Salahmu sendiri berani berjanji. Pria harus mempertanggungjawabkan janji, Key!” Ken setengah menyerang. Sebagai seorang leader, ia tidak ingin anak buahnya bertingkah memalukan dengan menjadikan lawannya menang sebelum bertanding.

“Ken, harus nanti malam? Baiklah, huft… memang tak ada waktu lagi. Tapi Ken, aku punya dua permintaan padamu. Pertama, aku juga ingin seperti kalian—punya nama samaran. Meskipun Key bukan nama asliku, tetapi orang-orang mengenalku sebagai Key.”

Ken terkekeh, pria itu merangkul bahu Key dan menepuknya pelan. “Tentu. Lalu apa permintaan keduamu?”

Key tertunduk sejenak, khawatir keputusannya ini salah dan menambah runyam konflik batinnya. Tapi, ia memang ingin. “Ken, kadang aku menyesal karena diriku ini mirip bayangan. Takluk oleh pemilik tubuh, mengukutinya terus. Aku tidak bisa menjadi makhluk independen. Di saat yang lain, arahku ditentukan oleh cahaya matahari. Tapi, ternyata ada momen ketika menjadi bayangan saja lebih baik. Karena ia gelap, tidak terlihat. Selama sosok asli si pemilik tubuh tidak terkuak, orang tidak akan tahu siapa gerangan sang bayangan itu, ‘kan?”

Yes, kau benar. Lalu apa hubungan permintaanmu dengan penjelasan mengenai bayangan? Kau ingin menjadi bayangan, huh?”

Key membalas cepat, “Dalam gelap, bayangan seseorang bisa menjadi tidak jelas lagi. Dan untuk kali ini saja, aku ingin muncul dengan dibalut kegelapan. Agar seperti bayangan.”

Sontak Ken tergelak, permintaan Key itu sangatlah lucu, menyimbolkan bentuk ketidakpercayaan Key terhadap dirinya sendiri. Dan tawa Ken baru berhenti ketika Key menyentaknya, “Jangan tertawa, aku sedang serius!”

“Ah ya, ya. Baiklah. Lalu kenapa kau harus meminta padaku? Apa yang bisa kuperbuat memangnya?”

“Satu saja. Jangan memanggilku ‘Key’ lagi setelah ini. Nama itu membuatku gagal menjadi bayangan.”

***

Hana keluar dari kelasnya, masih dengan awan mendung di wajahnya. Gadis itu mulai merasa bahwa tas ranselnya berat. Tidak aneh, ia membawa laptop, tripod, dan kamera. Perkuliahannya sampai sore, ada baiknya ia langsung ke tempat tujuan. Lukisan karya Jonghyun kemarin sudah dititipkan pada Ha In, sahabatnya itu berencana berangkat dari rumah.

Tanpa memedulikan teman-temanya yang masih heboh membicarakan rencana trip ke pulau Nami, Hana kabur diam-diam. Ooo, tentu ada yang menyadari kepergiannya itu, siapa lagi kalau bukan Kim Jonghyun. Sejak tadi namja itu terus memperhatikannya dengan tatapan muak.

Tanpa disadari, gadis itu juga bernasib sama dengan Kim Jonghyun—dibuntuti. Menjelang langkahnya yang hampir mendekati gerbang universitas, seseorang menarik lengannya, membuat gadis itu hampir menyemburkan amarah. SIAPA YANG SEMBARANGAN MAIN TARIK? TIDAK TAHU AKU SEDANG BURU-BURU, HUH?

“Hana-ssi, ah, mian membuatmu kaget. Kau sedang terburu-buru?” Orang itu bertanya sopan, alih-alih lari dari rasa gugup karena Hana memelototinya.

“Kalau ya, kenapa?” Hana menyilangkan tangannya di dada, kepalanya sedikit dimiringkan. Ia sangat kesal. Ah, sebenarnya itu hanyalah bentuk pelampiasan rasa malu karena kejadian di mobil kala itu. Ya, si penguntit adalah Kim Jongmin. Dan Hana memilih bersikap dingin sebelum Jongmin mengungkit percakapan konyol mereka sebelumnya. Menyerang lebih baik daripada menahan serangan, bukan?

“Hmm, aku bawa mobil. Aku tidak keberatan mengantarmu. Sepertinya sedang ada sesuatu yang penting.” Jongmin berusaha berbaik hati menawarkan.

Hana mengusap wajahnya, ia berpikir beberapa detik hingga akhirnya menjawab, “Baiklah. Tapi jangan minta traktiran setelah tumpangan gratismu ini, ya?” Ia terkekeh karena ucapannya sendiri.

“Tidak, tentu saja.”

Beberapa menit saja, keduanya berada dalam mobil. Kim Jongmin sepertinya tipikal pria yang apik. Di mobilnya sama sekali tak ada sampah satu pun, juga tidak ada buku ataupun baju bertebaran di jok belakang. Aroma teh hijau tercium oleh hidung Hana, dari parfum mobil sepertinya.

“Kemana tujuanmu, Hana-ssi?”

“Aku ingin ke Banpo Bridge. Jadi aku butuh ke terminal express bus. Emm, sebentar. Kenapa kau baik sekali mau mengantarku? Kita bahkan bukan teman.” Hana melemparkan tatapan menyelidik.

“Kalau begitu, bertemanlah,” jawab Jongmin tak acuh. Ia segera menyalakan mesin mobil.

“Ooo, baiklah. Mulai sekarang kita adalah teman. Hmm, tapi aku heran, kenapa kau tertarik berteman denganku? Apa tujuanmu?” Hana semakin curiga dengan Jongmin. Bahkan sejak awal ia heran mengapa Jongmin berada di kampusnya.

Nona, kau terlalu sering menaruh curiga. Alasanku sederhana, hanya ingin berteman. Memangnya ada yang salah? Tadi kudengar kau juga sempat beradu mulut dengan Jonghyun karena kau men-judge saudaraku semaumu,” tuduh Jongmin.

Aigoo, kau membuntuti Jonghyun? See, siapa yang sebenarnya hobi curiga? Membuntuti karena ada sesuatu yang ingin kau ketahui, bukan? Kau sedang menaruh curiga pada Jonghyun? Oh, aku lupa. Bukannya kau juga sering menilai Jonghyun semaumu?”

“Ya, aku memang salah. Setidaknya aku mengakui. Tidak seperti kau, Nona.”

Skakmat. Hana tertohok. Kim Jongmin menyebalkan!!

***

Kedua yeoja itu tak merasa lelah meski sudah berjalan menempuh jarak nyaris 400 meter dengan membawa ransel.  Lepas dari line 8-1 tempat mereka turun setelah menumpang express bus, keduanya memutuskan untuk melewati senja dengan berjalan kaki.

“Hana-ya, kau benar, lebih nikmat berjalan kaki ketimbang naik bus 405 atau 8340 dan langsung turun di Hangang Park, angin seperti ini sangat sejuk. Yah… walaupun ranselku ini terasa berat,” Ha In merekahkan senyumnya. Sekalipun hatinya masih merasakan kegamangan, ia mencoba untuk menikmati momen yang ada.

Hana masih belum merespon spontan. Ia hanya mengangguk pendek untuk menanggapi Ha In. Sejujurnya, ia belum merasakan kenikmatan yang diperoleh Ha In. Masih belum, karena duo yang lain tak bergabung.

Ha In mengamati mimik wajah Hana, temannya itu sama sekali tak menampakkan keceriaan. Suasana mendadak terasa canggung. Ha In tak melanjutkan celotehannya, ia memutuskan untuk mengamati lampu-lampu yang mulai menyala di berbagai pilar jembatan. Pesona yang tak main-main, pemerintah Korea tahu betul cara mengemas suasana menjadi daya tarik pariwisata. Terowongan tempat mereka berjalan tak hanya dihuni dua atau tiga kepala, ada banyak orang yang ingin menikmati sungai Han dan atraksi air mancur di Banpo Bridge, jembatan yang dibangun di atas jembatan lainnya. Beberapa orang terlihat sibuk mengabadikan momen dengan perangkat digitalnya, wajah-wajah mereka tak lagi disarati nuansa Korea, jelas bisa disimpulkan bahwa mereka bernaung di benua Eropa. Tidak heran, Banpo Bridge memang terkenal sampai pernah masuk buku rekor dunia.

Langit menjadi jingga pekat, semakin lama semakin menampakkan gelapnya. Hana mulai bosan dengan keheningan yang mungkin diciptakannya sendiri. Ia melirik pada Ha In yang tampak menggerak-gerakkan bibirya—menyenandungkan lagu tanpa bersuara. Rasa bersalah hinggap, tak seharusnya ia mengabaikan Ha In. “Ah, mian, otakku sedang memikirkan sesuatu,” ujar Hana pada akhirnya. Ia meraih ransel yang bertengger di pundak Ha In. “Biar aku yang bawa, ini pasti lebih berat daripada lukisan dan tas laptopku.”

Ha In segera mencegah Hana mengambil ranselnya. “Tidak masalah, aku senang melakukannya. Toh, ini adalah santapan untuk sahabat-sahabatku.” Gadis itu tersenyum ceria. “Hana-ya, kau sedang memikirkan Heera dan Key? Kalau aku, kurasa Jinki Oppa bisa dipercaya, ia pasti berhasil membawa Heera kemari. Toh, kalaupun mereka tak muncul, yang terpenting kita berdua bukanlah pengkhianat janji, ‘kan?”

“Hmm, tapi tetap saja, tak lengkap maka tak sempurna. Ah, tapi seharusnya aku bersyukur saja, tak ada gunanya memasang tampang cemberut di hari yang harusnya bahagia ini, bukan?” Tetap, seorang Park Hana berpikir lebih kompleks daripada Ha In.

***

Seharusnya, 34 menit lagi atraksi dimulai. Harusnya 190 ton air akan berpadu dengan kecanggihan teknologi LED sesaat lagi, berhamburan dari 9.380 lubang yang terdapat di kedua sisi Banpo Bridge. Tapi keduanya justru terjebak dalam gamang. Haruskah malam ini hanya dilalui berdua? Bertemankan kamera yang bertengger di leher Ha In dan manusia-manusia lain yang bertebaran di sekitar. Padahal, mereka sudah bersusah payah datang lebih dini, berusaha menguasai titik tepat untuk menyaksikan pesona sungai Han.

Kriuk, kriuk.

Bunyi patahan snack kentang yang dikunyah Ha In bahkan terdengar cukup miris di telinga Hana, padahal itu adalah camilan yang disukai olehnya—juga oleh ketiga sahabatnya. Mendadak ia menyesal tak mencari pinjaman gitar, sehingga tak ada melodi yang bisa mengisi kekosongan.

Puluhan orang sudah lewat di hadapannya, tapi Ha In masih tak mendapati sosok pria yang diharapkannya, tak ada pria berpenampilan gothic yang melintas, juga tak ada Kim Heera yang menampakkan diri. Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan raut wajahnya, berusaha menahan semua kecewa yang berkelebat dengan menghabiskan satu bungkus snack yang dibawanya. Diliriknya Hana, ternyata sahabatnya itu sedang memperhatikannya, ia menjadi tersipu malu. “Hana-ya, jangan pandangi aku, nanti jatuh hati. Hubungan kita hanya sampai sabahat ya, tidak ada istilah cinta sesama jenis!” Ha In mencoba merangkai canda demi membangun suasana, Hana tidak tertawa. Ia memang tahu, dirinya bukan Key sang penghidup suasana.

“Ah, aku hanya… emm, berbagilah snack denganku! Aku juga bosan menunggu.” Tangan Hana menyambar sebuah bungkusan yang bertengger apik di antara kelima jari Ha In.

“Ya ampun, aku lupa menawarkan. Kukira dalam situasi seperti ini kau tidak berpikir makan.” Ha In tertawa. Sebisa mungkin ia menerapkan prinsip ‘tertawalah, maka dunia akan mengikutimu dengan kebahagiaannya’.

“Ckck, setidaknya ini lebih baik daripada mulutku pahit karena terlalu lama bungkam.” Hana mengunyah dengan santai, menyesal sejak tadi hanya berdiam diri dengan berulang kali mengecek ponsel—siapa tahu ada pesan masuk dari Lee Jinki. “Omong-omong, kau sudah sempat melihat lukisannya? Maaf merepotkanmu, aku takut lukisannya rusak kalau kubawa-bawa ke kampus, jadi kutitipkan padamu.”

“Tidak masalah, demi momen ini,” balas Ha In. Sesaat kemudian ia baru menjawab pertanyaan Hana, “aku sengaja tidak melihatnya. Bersama yang lain saja nanti.”

Hana mengangguk, sekali lagi mengalihkan matanya pada layar ponsel. Dan kali ini keberuntungan menghampirinya, lampu ponselnya menyala dengan diiringi getaran. Jinki Oppa memanggil. Ia buru-buru menekan tombol hijau.

“Hana-ya, menengoklah ke arah kirimu, lihat siapa yang datang.”

Hana mengikuti perintah si penelepon. Dan benar, Kim Heera sedang terunduk malu-malu di balik punggung Jinki. Hana tersenyum dan menarik tangan Ha In yang belum menyadari situasi. “Ha In-ah, satu telah muncul. Jinki Oppa menepati janjinya,” ucapnya seraya menghampiri dua manusia yang baru datang, berjarak sekitar delapan langkah darinya.

“Heera-ya!” Ha In memekik girang, ia bahkan berlari mendahului Hana. Lantas tanpa ragu dipeluknya Heera, rasa rindunya tak terbendung.

Heera tak membalas pelukan Ha In, getaran kepalan tangannya semakin menguat. Tangisnya yang sempat pecah di mobil Jinki, kembali terulang dengan berurainya air mata—membasahi jaket yang dikenakan Ha In.

“Heera-ya, aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja. Tapi, setelah malam ini, kuharap kau akan menjadi kau yang biasanya lagi. Kim Heera, meskipun aku tak suka caramu, tapi tetap kuakui, kau, aku, dan Ha In pada dasarnya peduli pada Key.” Hana bergabung dalam pelukan, tak peduli meski tangan Heera masih terkunci di sisi tubuh. “Jadi, mari kita saling memaafkan, ne?” Tangis Hana pecah. Satu tangannya mengelus pelan rambut Heera yang mengering tak terawat, tak seperti biasanya.

Heera, gadis itu masih tak berkata-kata, isak tangis menandakan jawabannya. Tak sejernih bulir air yang menyusun setiap jengkal sungai Han, matanya justru buram terhalang tetesan yang tak kunjung henti.

“Ah, baiklah, jangan menangis lagi. Jangan rusak momen indah seperti ini, Ladies!” Suara Jinki memecah haru, menyadarkan Ha In dan Hana yang sudah menyepakati aturan tersebut sebelumnya.

Ketiganya saling melepaskan pelukan, melangkah kembali ke tepian, merapat ke pagar pembatas yang memisahkan area bawah jembatan dengan zona perairan. Lee Jinki pamit undur diri, menjanjikan posisi sebagai supir saat ketiganya butuh tumpangan pulang nanti. Katanya, ia tak ingin merusak momen yang hanya boleh dimiliki oleh empat orang itu saja.

Oppa!” Hana memanggil Jinki kembali sebelum namja itu melangkah terlalu jauh, ia mengambil kamera dengan tanggap dari leher Ha In. “Ambil foto kami bertiga sebelum Oppa pergi, ya? Ah, setidaknya tunggu sampai air mancurnya keluar,  akan sangat indah jika dilihat”

Ani, ani. Aku lihat lain kali saja, hanya berdua dengan Heera. Lagipula, jangan mengambil foto tanpa komponen keempat, ne?” Jinki mengerling, melangkah santai ke arah parkiran.

Tak ada yang berani menimpali, karena yang dikatakan Jinki ada benarnya. Ha In hanya melambai melepas kepergian Jinki, tersenyum lebih cerah dibandingkan sebelumnya. Dan lengkung bibirnya tertahan saat ia menangkap satu sosok yang berdiri tak jauh dari koordinatnya.

Lihat, malam adalah penyampai pesan yang murah hati. Hanya perlu barsabar menanti. Key tengah berdiri menghadap gelapnya permukaan air sungai. Ia tertunduk, poninya yang mulai memanjang dibiarkan terurai di sekitar dahi, mengaburkan lekuk wajah aslinya. Tubuhnya seolah menantang angin, tak terbalut pakaian tebal apalagi jaket. Pria itu hanya menggunakan kaos tanpa lengan, dingin langsung menghujam lengannya. Dan, apa itu? Samar-samar Ha In menangkap motif tribal style berwarna hitam di lengan Key.

“Jinki Oppa!” Kali ini Ha In yang berteriak. Jinki menghentikan langkahnya dan berbalik. “Oppa, tidak apa-apa, ambil foto kami sekarang saja! Tepat ketika air mancurnya mulai, pasti indah.” Ha In berlari mendekati Jinki, menyodorkan sebuah kamera dan kemudian memberi isyarat pada Hana dan Heera untuk bergabung. Jelas bertujuan, Key hanya berjarak tiga langkah dari posisi Jinki.

Dua temannya yang lain saling pandang, lantas mengangguk berbarengan, mereka mendekati Ha In dan Jinki. “Oppa, tidak apa-apa. Kalaupun Key tidak datang, foto ini bisa menjadi bukti bahwa kami bertiga hadir malam ini, menunggunya meski tak berbalas.” Hana mewakili Heera berbicara.

Jinki takluk, ia tak banyak protes ketika Ha In—plus Hana—memintanya memotret dari sudut yang disebutkan gadis itu. Akhirnya, satu lembaran kisah terekam. Berlatarbelakangkan semburat  air mancur pelangi, sungai Han yang membentang megah sepanjang 514 kilometer, dan… apa itu? Seorang pria?

Lee Jinki mengernyit, tampak belakang pria itu tak asing baginya. Key, ya, menyerupai Key. Hanya saja Jinki tak yakin, itu bukan gaya berdiri seorang Key, apalagi gaya fashion Key. Sama sekali bukan.

Oppa, coba kulihat hasilnya!” pinta Ha In, tanpa izin ia merebut kameranya.

Tak ada yang lebih indah dari ini bagi Ha In. Ah, meski masih ada sebenarnya, senyum seorang Park Yoochun. Gadis itu tersenyum tanpa surut, matanya berkedip beberapa kali menahan air mata. Background foto yang indah. Terima kasih malam, punggung Key cukup untuk menjadi pengisi lembaran ini. Meski hanya seperti bayangan samar, tapi bayangan tetaplah bagian dari kesatuan alam.

“Mungkin detik ini Key tak berada di tengah-tengah kita. Tapi aku yakin, di sudut Bumi yang lain sebenarnya ia hadir untuk kita, merindukan kita, dan ia selamanya menjadi bagian dari kita. Kalian tentu tahu, ‘kan? Sungai Han merupakan buah dari pertemuan sungai Namhan dan Bukham. Ibaratnya, ini adalah titik pertemuan kita dan Key. Dan jembatan Banpo, merupakan penghubung kabupaten Seocho dan Yongsan, semoga ini pula yang menyatukan kembali hati kita berempat. Yeay!” Ha In setengah bersorak, ia menggenggam tangan Hana yang berdiri di sebelahnya. Matanya berkedip memberi kode agar Hana melakukan hal serupa pada Heera.

Tiga terhubung, hanya satu yang masih berdiri terpisah. Pria itu masih berdiam diri dengan tatapan kosongnya, lunglai lutut tak dipedulikannya, ia berusaha berdiri santai selayaknya pengunjung yang ingin datang untuk tujuan pariwisata.  Ia tak sadar bahwa Ha In sempat memperhatikannya beberapa saat lalu. Dan gendang telinganya menangkap bunyi pelan yang menggetarkan dada, yang merobohkan tulang kakinya hingga ia terduduk dengan lutut tertekuk. “Kami adalah empat manusia beruntung. Kami berjanji di tempat ini bahwa selamanya kami adalah sahabat. Kami bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dan menyatukan kami. Tak peduli apapun yang menghadang, kami akan selalu melindungi, tak akan saling menikam, tak akan saling mengkhianati. Tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya selama napas masih menyertai kami, tempat ini akan kembali kami pijak.”

Ha In melirik pada Key, rahang namja itu tak bergerak, ia belum bergabung dalam pelafalan janji. “Kawan, bagaimana kalau kita ulangi sekali lagi? Siapa tahu Key mendengarnya,” mohon Ha In sembari berlinang air mata. Berharap matanya berhasil mendapati Key yang turut mengeja kata demi kata yang sama.

Dan sumpah setia kembali dilesatkan meski dalam nada pilu, menembus langit malam dan lapisan terluar atmosfer, bisa jadi makhluk di Mars sana mendengar. “Kami adalah empat manusia beruntung. Kami berjanji di tempat ini bahwa selamanya kami adalah sahabat. Kami bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dan menyatukan kami. Tak peduli apapun yang menghadang, kami akan selalu melindungi, tak akan saling menikam, tak akan saling mengkhianati. Tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya selama napas masih menyertai kami, tempat ini akan kembali kami pijak.”

Masih belum. Key, kenapa kau keras kepala sekali? Ha In semakin geram sekaligus kecewa. Ia masih tak menyerah meski sebenarnya ia ingin sekali membongkar jati diri pria gothic itu secara terang-terangan di hadapan Hana dan Heera. Muncul hasrat pula untuk menyeret pria itu mendekat, agar tiga hati yang kehilangan bisa kembali mendekap tubuh hangat yang sarat dengan ketulusan itu. Tapi Ha In mengurungkan niatnya, biarlah Key datang dengan sendirinya.

“Hana-ya, Heera-ya, sekali lagi ya? Tiga kali, mungkin baru pas,” pinta Ha In lagi. Ia bermaksud mendesak Key secara halus.

“Kami adalah empat manusia beruntung. Kami berjanji di tempat ini bahwa selamanya kami adalah sahabat. Kami bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dan menyatukan kami. Tak peduli apapun yang menghadang, kami akan selalu melindungi, tak akan saling menikam, tak akan saling mengkhianati. Tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya selama napas masih menyertai kami, tempat ini akan kembali kami pijak.” Di akhir kalimat, ketiganya saling mengeratkan genggaman masing-masing.

Key menenggelamkan kepalanya di antara dua lutut, di titik itulah ia menangis dalam bisu, mulutnya bergerak menyampaikan pilu. Kali ini, ia tumbang, terlarut dalam jalinan janji ketiga sahabatnya. Tiga kali diucapkan, namun Key masih tak mengucap sepatah kata pun sesuai harapan Ha In. Namja itu tak kuasa berjanji, ada bayaran mahal yang harus dilaluinya jika ia bersumpah. Key tak yakin ia akan kembali, tak yakin tidak akan berkhianat, juga tak yakin masih punya celah untuk melindungi tiga bidadari yang berdiri berdampingan tak jauh darinya itu. Tidak yakin sama sekali.

“Sekali lagi!” Jinki turut terbakar emosi. Diam-diam ia memperhatikan gelagat Ha In. Senyum Ha In sangatlah penuh makna ketika melihat foto hasil jepretannya, juga gerak-gerik gelisah Ha In yang sesekali menengok pada pria yang sempat dicurigainya sebagai Key. Dan Jinki tahu, Ha In pasti lebih bisa mengenali Key dibanding dirinya.

“Sekali lagi, aku terharu mendengar sumpah kalian. Sekali lagi ya? Akan kurekam bunyinya dengan ponselku.” Jinki beralasan. Jelas ia tak tertarik menyimpan bunyi audio-nya, ia hanya ingin tahu, sejauh mana pria mencurigakan itu akan bertahan pada kekerasan hatinya.

Tiga yeoja tadi tak berkutik, mereka tak sanggup lagi mengulang, rasanya terlalu memilukan. Terutama Ha In, yeoja itu semakin berang, kecewa saja tak cukup untuk menyatakan perasaan yang bergejolak di dasar hatinya. Ia terduduk, mengikuti jejak Key. Ia menangis sejadi-jadinya, dua yang lain memeluk, bukan untuk meredakan—melainkan jatuh bersama ke dalam pusara air mata.

Sekaan mendapat seribu tamparan, terasa begitu pedih, Key tak kuasa lagi mendengar tiga suara yang berbeda sedang melontarkan duka yang serupa. Jiwanya terguncang habis, ia bahkan tak tahu lagi cara untuk berdiri. ‘Ken, ternyata keputusanku malam ini salah besar,’ batinnya.

Jinki membalikkan badannya, tak ingin tertangkap sedang berlakon cengeng. Ia mungkin tak bisa merasakan hal yang sama dengan ketiga gadis itu, tapi ia tahu apa yang dirasakan Ha In. Yeoja itu tahu faktanya, bahwa Key hadir di tempat yang sama—meski dalam wujud yang berbeda. Dan yeoja itu juga tahu bahwa Key tak bersedia mengucapkan janji. Jinki tahu hal seperti itu sangatlah menusuk nurani dan menyeret Ha In pada segudang luka. Ia tak sanggup melihat pemandangan ini, lebih baik memilih pergi sebelum kepalan tangannya tumpah ruah menghujani pipi Key yang hatinya sekeras batu itu.

Namun, tanpa disadari dan tanpa didengar siapapun, perlahan mulut Key bergerak. Ia berbisik parau, “Kami adalah empat manusia beruntung. Kami berjanji di tempat ini bahwa selamanya kami adalah sahabat. Kami bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dan menyatukan kami.”

Berhenti, paragraf yang tak rampung. Hanya sampai di situ, Key tak berani melanjutkan. Baginya, janji adalah hutang paling mematikan. ‘Selamat malam semuanya, aku datang, wahai Sahabatku. Aku hadir, hanya tak berani bersatu dengan kalian.’

 

To Be Continued

Mempet setengah mati bikin part ini, sungguh. Scene yang terakhir itu bikin aku kesel sendiri karena ga bisa nulisnya. Ah yasudahlah, emang ga jago bikin yang mellow.

Thanks ya buat semuanyaaa… buat yang komen atau silent reader. Semoga ga berhenti ngikutin kisah ini. Thanks juga buat beta reader-nya, dan 2 situs yang memberikan aku informasi tentang Banpo Bridge: satu dan dua

Sampai jumpa pada part berikutnya, dadah semua ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Namja – Part 11

  1. DA to the E to the BAK
    DAEBAK,
    mian cuma coment d part ini, part” yg dulu gak tahu komennya brhasil gak tahu engga
    #read via handphone

  2. akhirnya muncul juga part galaunya… dari kemaren juga dah galau sih, hehe…. ni key kok keras kepala banget ya? aduh, napa g balik aja sih? emang keputusan apa yg kamu ambil key? jadi bayangan?
    tambah penasaran tentang bagian endingnya nih.. kayaknya masih lama ya??
    ku tunggu part selanjutnya ya thor…
    keep writing..!!!🙂

  3. Scene mereka mngucapkan janji itu bikin terharu…apalagi saat ha in akhirnya nangis n terduduk sm spt key…
    *Mataku berkacakaca

    Dan cuma jinki yg seperti nya mengerti tangisan ha in… *nangis
    #always jinki is the best…hehehe»»ditimpuk jonkeytwomin #ehhh

    Bib, kpn key kembali ke mereka b3..tserah deh wujudnya ky apa…mo spt ini or ky dulu…kangen mereka b4…jgn kelamaan atuh…hehehe

    Yg nguntit jonghyun itu jong min kan? mksudnya apa coba nguntit jjong?

    Yeay..ada moment jonghana wlo pun berantem *jogetjoget

    Hwaiting bib^^

  4. bacanya sih udh dr kemarin, tp baru skrng komennya hehehe #watados
    waktu baca pas awal2 aq sempet bingung loh, kok gaya penulisannya kyk bkn bibib eon? serius, awal2 ngerasa aneh tp pas mau akhir baru gaya bibib eonnya keluar…

    asik asik key mulai goyah, persahabatan mereka erat bgt ya? jd ngiri nih.. btw kok In young gk keluar2? In young tuh bkn geng mereka ya? tunggu, kembali amnesia nih, in young itu kekasih jjong ya? atau cwek yg key taksirr? rada lupa…

    trus sampai kesini entah kenapa aq jd ngedukung ha in ama key loh.. masa dia hrs dpt bapak2? wkwkw #plak
    trus hana wajib ama jjong! (hana mana nih?) #plak

    waduh komennya udh bnyk nih, terakhir deh aq mau nanya. emng kl kata yeoja ama namja itu hrs italic ya? tp waktu kata independent kok enggak?

    ok lanjutlan eon!

  5. daebak huks jd ikutan nyesek ㅠ.ㅠ
    aku gemes sama key..keras kepala bgt sihhh..
    Tp klo g gt crita g bkln seru kn yaaa..klo key lgsung gabung dg 3 shabatnya..crta nya bkln lain lg bisa2 key g bkln ikut blapan..padahal aku pnasaran bgt dg yg it..terutama dg si penantang nya it, kira..
    It Jongmin ngapain ngebuntutin Jonghyun. Trus ngedeketin Hana pula..maksdnya apa coba?

    Kyaknya ff ini msh jauh dr kata end yaa? fighting bibib-ssi p(^0^)q

  6. Halo,

    Apakah Anda membutuhkan bantuan keuangan? atau apakah Anda membutuhkan pinjaman apapun? jika ya, di sini datang help. livingstoneloans@outlook.com kita diberikan pada pinjaman kepada individu dan perusahaan pada tingkat 3% yang menarik pemohon pinjaman bunga yang terjangkau yang menyarankan untuk mengisi formulir permohonan pinjaman di bawah ini.

    Formulir Aplikasi Kredit

    Nama:
    Umur:
    negara:
    seks:
    Nomor telepon:
    Dapatkah Anda berbicara bahasa Inggris?:
    Jumlah yang dibutuhkan sebagai pinjaman:
    Pinjaman durasi:
    Status pernikahan:
    Negara:
    alamat:
    Kode pos:
    Tujuan Pinjaman:
    Pendapatan Bulanan:

    ==========================================
    Salam,
    MR Harry Morgan.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s