Artificial Intelligence [1.2]

artificial-intelligence

Author : vanflaminkey91 (@412heavenangel_)

Main cast : Kim Jonghyun, Lee Taemin

Support cast : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho

Length : two-shot

Genre : AU, friendship, angst, sad

Rating : G

A. N : Ini kali pertama aku mengirimkan FF di sini. Kalau boleh jujur, FF ini sebenarnya one-shot, cuma karena syarat pengiriman ke SF3SI adalah max 10 halaman untuk one-shot, jadi aku pecah dua bagian. Ceritanya agak-agak absurd dan fyi, bahasa asing di FF ini sama sekali tidak aku cetak miring, kebiasaanku selama nulis FF memang begitu hehe. Jadi, maafkanlah hal yang satu itu .___.v thank you ^^

Dipublish juga di blog pribadi : http://aquaticshineeworld.wordpress.com

For celebrating Kim Jonghyun’s birthday,
I made this simple story.
Hope you like it and happy birthday for uri Jonghyun (April 8th)

.

.

 

Artificial Intelligence (Part 1)
©vanflaminkey91_silentguardian_2013

Jonghyun keluar dari dapurnya, membawa secangkir teh hangat yang masih mengepulkan sedikit asap dengan hati-hati. Matanya tak lepas dari sosok asing yang baru dikenalnya setengah jam lalu, tengah duduk di sofa apartemennya yang kecil. Ekspresinya polos dan tatapannya tidak terbaca.

“Ini,” ucap Jonghyun nyaris seperti bisikan. Masih meneliti sosok di depannya dengan pandangan tidak percaya. “Kau… bisa minum ini kan?”

Sosok itu mendongak, lalu memamerkan senyumnya. Hampir-hampir tidak percaya, tapi Jonghyun menyadari betul senyum itu terasa sangat tulus dan mirip senyuman anak kecil.

“Tentu. Aku diprogram juga untuk bisa menikmati makanan dan minuman kalian,” balasnya agak ambigu. Mengambil teh dari tangan Jonghyun dan meneguknya agak cepat. “Terimakasih. Aku tak tahu bagaimana nasibku kalau tidak bertemu kau.”

Senyum kecil terpatri di bibir Jonghyun yang sudah memposisikan dirinya senyaman mungkin di samping sosok asing yang ditemukannya nyaris mati sekitar 30 menit yang lalu.

“Kau benar-benar robot?” Meskipun ia bertanya, tetapi sosok itu mendengarnya seperti sebuah statement. Tidak tersinggung, sosok itu tersenyum sembari mengangguk kecil. Kembali meresapi kenikmatan mint tea yang disuguhkan tuan rumah. “Aku tak mengerti kenapa ada robot yang benar-benar seperti manusia, aku masih bingung.”

Sosok itu tidak merespon, sehingga Jonghyun berusaha mengganti topik untuk menghilangkan kesan kaku di antara mereka.

“Kau… punya nama? Mungkin semacam nama program?”

‘Robot’ itu terbahak sebentar, lalu menoleh, matanya berkilatan nakal. “Tidak. Itu, ah, Anda kuno sekali.” Jonghyun menaikkan sebelah alisnya saat dikatai kuno. “Mereka memberikanku nama manusia. Aku Lee Taemin.”

Jonghyun membulatkan bibirnya.

“Kau tinggal di mana?”

“Aku tinggal di masa depan.”

Kerut muncul di dahi Jonghyun yang agak lebar.

“M-masa depan?”

“Ya.”

“Jadi itu artinya kau tidak punya tempat tinggal di sini? Bagaimana kau bisa datang ke masaku jika kau benar-benar dari masa depan?!” Suara Jonghyun agak meninggi, merasa dikerjai dan merasa bingung juga. Melihat ekspresi Taemin yang langsung pias dan sedih, Jonghyun agak terkejut lalu segera menundukkan kepalanya sekali, “Maaf. Aku hanya, hanya… bingung.”

Senyum terbit lagi di wajah si robot tampan itu.

“Ya, aku tidak punya tempat tinggal dan aku tak bisa cerita kenapa aku bisa datang kemari. Aku tidak tahu bagaimana cara kembali ke masa depan dan—“

“Baiklah.” Jonghyun memotong ucapan Taemin, memasukkan kedua telapak kakinya ke dalam sandal. “Kau boleh tinggal di sini, tapi—“ Jonghyun terdiam sejenak.

“Oh, tentu saja! Terimakasih banyak! Aku tidak akan membuat biaya hidupmu bertambah atau menyusahkanmu! Aku bisa makan sedikit sekali bahkan tidak. Selama kau punya listrik, aku bisa hidup.” Taemin segera menghentikan pikiran Jonghyun. Robot itu berdiri.

Jonghyun memperhatikan caranya berdiri dan baru mempercayai kalau dia memang robot. Caranya berdiri benar-benar kaku. Kedua bahunya bahkan tidak naik turun bernapas. Ya, dia tidak bernapas.

“Baguslah kalau begitu. Kau boleh menempati kamar tamu. Bagaimana dengan baju dan keperluanmu?”

Taemin menunjukkan ransel di punggungnya, lalu menepuk benda itu dengan gerakan yang lumayan kaku namun cukup halus untuk ukuran sebuah robot seperti dirinya.

Mau tidak mau Jonghyun menyimpan curiga.

Apa anak robot itu sengaja datang ke masa lalu? Dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik.

Terlalu baik.

***

Sore itu, tidak seperti biasanya.

Ketika Jonghyun menekan password apartemennya, pintu membuka dengan suasana lain. Aroma waffle coklat menyapa hidungnya ramah sehingga dia bergegas menyimpan sepatu di tempatnya dan menutup pintu.

Ia berlari menuju dapur, mendapati sesosok pria dalam balutan kaus oblong putih sedang berdiri membelakanginya. Tangannya bergerak-gerak di balik tubuhnya.

Jonghyun menghela napas lega. Ia sempat berpikir bahwa apartemennya kemasukan orang asing yang bermaksud jahat, namun singgah ke dapurnya dulu untuk makan. Nyaris saja ia memukul kepalanya sendiri karena pikiran konyol itu. Baru saja memorinya mengingatkan, sudah seminggu ia tidak tinggal sendirian. Anak robot itu sudah menemaninya.

“Kau juga bisa masak?”

“Oh, kau sudah pulang… hyung?” Tanpa menoleh, Taemin balik bertanya. Sebutan yang digunakannya membuat hati Jonghyun mendadak ketir. Sudah sering ia dipanggil ‘hyung’ oleh orang yang lebih muda darinya, tetapi saat Taemin yang mengucapkannya, itu semua terasa berbeda. Seperti Taemin adalah adiknya. Adiknya…

“Hyung?” Taemin menoleh sekilas saat Jonghyun tidak juga menjawab.

“Ah, ya, maaf. Aku sudah pulang dan, hmm, akan bergegas dulu.” Gelagapan, Jonghyun segera lari terbirit ke kamarnya. Menutup pintu di belakangnya setengah dibanting, lalu bersandar di sana. Ia tersenyum pahit. Adik? Benarkah ia masih ingat rasanya menjadi seorang kakak?

Setidaknya kegelisahan itu hilang saat lidahnya dimanjakan rasa waffle manis yang menggugah seleranya. Dengan mudah ia melupakan masa lalunya hanya karena sepiring waffle.

“Kau tidak makan?” Jonghyun baru menyadari Taemin asyik mengutak-atik iPad-nya. Menarik-narik layar benda itu dengan jarinya ke udara, dengan ekspresi kesal.

“Ne?” Taemin mendongak, lalu tersenyum. “Tidak usah. Kau saja.” Ia ‘menarik’ lagi layarnya, namun hanya bisa melepas helaan napas kesal. Jonghyun jadi penasaran.

“Kenapa kau memainkan iPad seperti itu?”

“Oh, ini iPad di masa depan. Layarnya bisa kau lihat di udara. Seperti yang ada di film-film, kau tahu, kan?” Taemin menaruh iPad-nya di atas meja, lalu menopang wajahnya dengan tangan kiri. “Tapi, benda ini tidak bisa berfungsi di masa lalu. Menyebalkan.”

“Kau bisa memakai iPad-ku.”

“Tidak. Tidak akan ada gunanya. Aku tak terbiasa.”

Jonghyun diam, menikmati lagi wafflenya.

“Aku merindukan penciptaku,” ujar Taemin tiba-tiba. Wajahnya tersaput mendung ketika Jonghyun sudah menatapnya. Ini yang membuat pria itu makin heran. Kenapa sesosok robot bisa merasakan rindu?

“Siapa penciptamu?”

“Kim Kibum.”

PRANG.

Garpu di tangan Jonghyun mendadak terjatuh. Taemin menatapnya agak kaget, matanya sedikit membulat dan saat itu juga Jonghyun melihat kilatan cahaya biru sekilas di sana.

“Ada apa?”

“Tidak, hanya tidak sengaja. Maaf.” Jonghyun tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. “Lalu, kenapa kau datang ke masa lalu?”

Taemin menatapnya sendu, “Kau akan tahu jika saatnya tepat, Hyung. Ayo, makan lagi. Aku mau beres-beres dulu.” Tanpa menunggu jawaban, Taemin menggeser sedikit kursi yang didudukinya, lalu berdiri kaku. Ekspresinya tampak netral saat itu. Jonghyun memperhatikan posturnya hingga sosok itu menghilang di balik pintu kamarnya.

***

Pekerjaan Jonghyun tidak istimewa, setidaknya itu adalah pendapat pribadinya sendiri.

Ia hanya seorang guru honorer yang mengajar di bidang tarik suara. Gajinya tidak seberapa, tapi ia bahagia dengan hidupnya.

“Kau tampak lelah, Jong. Ada apa?”

Jonghyun yang sedang menelungkupkan kepala di atas meja kerjanya saat sendirian itu segera mendongak, “Oh, Minho. Aku hanya kurang tidur.” Pria itu kembali menelungkupkan wajahnya.

“Aku juga, Jong. Disibukkan oleh soal-soal matematika yang harus selesai hari ini, aku hanya tidur tiga jam. Mengetik soal, print, dan merapikannya …”

Jonghyun mendengarkan keluhan rekan kerjanya tanpa berniat untuk mengangkat kepalanya sekedar menatap Minho. Ia ingin tidur. Waktunya semalam dihabiskan dengan memikirkan siapa orang jenius yang berhasil membuat robot berperasaan peka seperti Taemin?  Ia tak tertarik dunia robotik, tapi teknologi jaman Taemin benar-benar membuatnya penasaran.

Di mana di dunia ini pada jamannya akan ditemukan robot yang bisa menyanyikan lagu untuknya saat insomnia semalam? Mengerti perasaannya seperti itu?

“Jong?” Jonghyun merasakan dunianya diguncang saat tangan kokoh itu menyenggol bahunya. Ia mengerang pelan dan mengangkat kepalanya berat. Melirik Minho agak kesal. “Kau tak apa?”

“Sangat,” balasnya sarkastik.

Minho memutar bola matanya, “Kau tidak dalam mood yang baik rupanya. Baiklah, aku akan kembali mengajar.” Jonghyun merasakan bahunya ditepuk sekali.

Tetapi, Minho yang baru akan beranjak membatalkan niatnya saat Jonghyun menahannya.

“Apa Jinki sudah kembali dari Osaka?”

Minho berpikir sejenak, “Hmm, sudah. Kenapa?”

“Bisakah kau katakan bahwa aku ingin menemuinya sore ini? Kau sepupunya, kan? Aku kehilangan nomor teleponnya.”

Bukannya mengiyakan, Minho malah bertanya, “Jinki ahli robotik dan tidak biasanya kau meminta pertemuan ekslusif dengan old man itu.” Ia terkekeh kecil. “Baiklah karena masalahmu sepertinya serius. Aku mengajar dulu, ne?”

Jonghyun hanya bisa mengangguk dan kembali menelungkupkan wajahnya.

“Jonghyun! Gantikan Miss Hyorin mengajar! Dia tidak masuk hari ini!”  Suara kepala sekolah di ambang pintu ruangannya berhasil membuat Jonghyun mengangkat bokongnya dari kursi yang panas didudukinya cukup lama.

***

Taemin berjinjit, mengulurkan kemoceng ke atas lemari di kamar Jonghyun, lalu menyapu-nyapukannya. Setelah itu ia kembali merendahkan kaki, sehingga terdengar bunyi derak engsel lututnya sedikit. Ia menggerutu pelan, merutuki betapa tuanya besi yang menyusun tubuhnya.

Well, ia robot tercanggih abad ini. Sayangnya, sang penciptanya mungkin lupa menyempurnakan bagian-bagian penting seperti ‘sendi’ pada lutut kakinya yang sering berbunyi tidak jelas ketika ditekuk.

Ketika sedang membereskan buku-buku di atas meja Jonghyun, sesuatu mendadak jatuh dari sana.

Ia menoleh, berjongkok pelan ditemani suara rapuh engselnya lagi. Sebuah benda yang terbuat dari kulit asli berwarna coklat tergeletak dengan posisi membuka.

“Dompet Jjongie hyung?” gumamnya. “Ah, dia kan selalu jalan kaki ke tempat kerja jadi sepertinya tidak menyadari dompetnya tertinggal.” Ia memungutnya, memperhatikan sekilas foto yang terpajang di sana.

Baru saja tangannya hendak menutup dompet itu, ia segera membukanya lebih lebar.

Foto itu seperti foto lama, di mana seorang anak kecil sedang memeluk bayi yang mungkin adiknya. Taemin terdiam menatap sang bayi di foto itu, lalu menghela napas. Diliriknya jam kecil di atas meja.

“Hyung belum pulang juga? Tumben sekali.”

***

Kedua espresso panas itu mengepulkan asapnya ke tengah-tengah mereka. Aromanya menggelitik hidung, meminta untuk diminum sesegera mungkin. Jonghyun duduk di sisi jendela, bersandar pada sandaran kursi sementara matanya menatap kendaraan maupun orang yang berlalu lalang di baliknya, menyusuri jalanan Seoul yang basah bermandikan cahaya lampu pertokoan.

Di hadapannya, Jinki tengah meniupkan udara di atas permukaan espressonya sebelum meneguk sedikit isinya. Mata sipit pria itu memusatkan perhatian pada Jonghyun.

“Apa yang mau kau bicarakan, Jjong? Sepertinya penting sekali.”

“Apa kau pernah mendengar robot yang diciptakan seperti manusia? Punya kecerdasan serupa, dan emosi yang juga sama?” Jonghyun berbicara, menolak membalas tatapan Jinki.

Jinki mengerutkan kening, “Wow. Itu canggih sekali. Aku sudah mendengar ada robot yang bisa bertingkah seperti manusia di Jepang saat seminar kemarin, tapi yang seperti katamu, punya emosi serupa… belum. Benar-benar canggih. Kenapa?”

“Apa yang membuat robot bisa berpikir, memiliki kecerdasan seperti manusia?” Jonghyun tidak menjawab kebingungan Jinki.

“Well…” Jinki menjauhkan diri dari meja, lalu ikut bersandar pada kursi. Melihat Jonghyun kini telah menatapnya. “…itu dinamakan kecerdasan buatan, Jonghyun. Kami menyebutnya ‘artificial intelligence’. Dasar pembuatan banyak program canggih. Salah satu bukti keajaiban ilmu pengetahuan dan teknologi. Merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi berkaitan dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu yang menurut manusia adalah cerdas dan luar biasa. Memproses program untuk bekerja seperti pikiran manusia. Identik dengan robot-robot yang bisa berperilaku seperti manusia.” Jinki diam sejenak, mengisi paru-parunya dengan oksigen. “Pernah nonton The Transformer, kan? Robot-robot di sana salah satu contoh AI.”

Jonghyun termenung.

“Lalu, bisa kau jelaskan mengenai perasaan seperti manusia?”

“Well, itu salah satu kekuatan AI juga. Tapi, biasanya tidak akan sepeka manusia.”

Jonghyun mengangguk, berusaha mencocokkan informasi yang dia dapatkan dengan pribadi robot cerdas di rumahnya, yang serasa bukan  robot.

“Kenapa tiba-tiba kau tertarik dengan hal ini, Jong?”

“Tidak. Hanya karena suatu alasan. Well, ayo kita ke apartemenku. Aku akan menunjukkanmu sesuatu dan mungkin akan menghapus rasa penasaranmu.” Jonghyun merogoh sakunya, hendak membayar. Jinki melihat perubahan wajah Jonghyun beberapa detik sesudahnya.

“Kenapa?”

“Dompetku ketinggalan di…”

“Aish. Sudahlah, aku akan traktir. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dulu hingga larut, baru ke rumahmu? Sudah lama tidak berbincang dengan kau, Kawan.” Tanpa berpikir, Jonghyun menyetujuinya.

***

Apartemen Jonghyun terasa sepi ketika pemiliknya memasuki ruangan. Jam 10 malam dan tidak ada tanda-tanda Taemin sedang melakukan aktivitas. Jinki mengekor di belakang Jonghyun, membiarkan matanya menyapu sekitar ruangan.

“Rapi sekali, Jong. Tidak biasanya—“

“Itu karena aku tidak tinggal sendiri lagi. Sesibuk apapun, ada yang membantuku membereskan rumah.” Jonghyun tetap berjalan ke dalam diikuti Jinki.

“Wah, kau punya pasangan sekarang?”

Jonghyun menoleh dan menggeleng, “Bukan. ‘Adik’ lebih tepat.”

“Oh, dia kembali?!” seru Jinki dengan senyum lebar, hingga kedua matanya seolah hilang. Senyumnya lenyap saat Jonghyun menggeleng. Bingung merangkak di wajahnya, “Jadi?”

“Aigo, Taemin-ah!” Jonghyun memekik kaget mendapati Taemin duduk di lantai kamarnya dengan mata terpejam. Menyandar di kaki mejanya. Tangan memegang dompet yang masih terbuka. Jonghyun memburu pria besi itu, berjongkok di sampingnya. “Taemin, bangun,” bisik Jonghyun mengguncang pelan lengan keras nan dingin yang bersentuhan dengan kulitnya.

“Dia siapa?”

“Kenalkan, Lee Taemin.” Jonghyun mengambil dompetnya dari tangan Taemin, menatap sebentar foto yang dipasangnya, lalu menutupnya kembali. Sembari menyelipkannya di kantung celananya, Jonghyun memanggil nama Taemin sekali lagi. “Taemin-ah?”

Bunyi besi di engsel lutut Taemin kembali terdengar saat kedua kaki robot tersebut menekuk, kelopak matanya langsung membuka, memperlihatkan mata bercahaya biru terang yang segera berubah menjadi hitam lagi.

Taemin tersenyum kepada Jonghyun, “Ah, aku ketiduran.”

Jonghyun melirik Jinki yang mematung.

“Jinki, ini Lee Taemin. Taemin, ini Lee Jinki.”

“Senang kenalan denganmu,” kata Taemin mengulurkan tangan yang disambut Jinki agak lamban.

Jinki sedikit tersentak merasakan dingin besi itu menyentuh kulitnya. Ia segera berpaling menatap Jonghyun, mendesaknya untuk menjelaskan dari perkataan matanya.

Jonghyun menghela napas sedikit, “Jinki, kau telah bertemu dengan salah satu produk keajaiban artificial intelligence tercanggih di masa depan.”

***

Penghujung musim semi, cuaca basah.

Hari itu, Jonghyun sedang melatih murid-muridnya bagaimana cara mengarransemen sebuah lagu. Sudah sejak lima belas menit yang lalu, tangannya menulis-nulis di whiteboard sembari sesekali menghadap muridnya yang tampak serius mendengarkan, menaruh fokus padanya. Entah fokus pada penjelasan atau wajah tampannya.

“Jadi, dalam arransemen, kalian juga harus menggunakan perasaan. Musik bukan matematika. Musik adalah bebas, kebebasan. Perasaan juga harus ikut bermain,” ucap Jonghyun sembari mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kelas hingga ambang pintu yang sengaja dibukanya untuk sirkulasi udara.

Tanpa sengaja matanya bertubrukan dengan sepasang mata yang sudah dilihatnya sebulan ini.

Keterpakuannya membuat para muridnya ikut menoleh. Beberapa siswi menjerit tertahan melihat ‘pemandangan indah’ di ambang pintu kelas, di tengah pelajaran musik.

“Uh, oh,” gumam Jonghyun menutup spidol dengan tutupnya, meletakkan benda itu di meja, kemudian menarik perhatian kelas sehingga kembali tertuju padanya. “Kalian kerjakan dulu halaman 15, jawab teorinya. Saya akan kembali dalam 5 menit.”

Suara kertas yang dibolak-balikkan memenuhi ruangan itu, meski beberapa siswi masih mencuri pandang pada tamu gurunya.

“Taemin,” bisik Jonghyun tidak percaya kepada pria yang berdiri dengan senyum cerah di depannya. “Kenapa ke sini? Siapa yang mengantarmu?”

“Jinki hyung mengantarku, lalu kembali ke tempatnya bekerja. Terus, Minho hyung mengantarku ke depan kelas ini.”

Jonghyun segera mengedarkan pandangannya mencari orang bernama Jinki dan Minho, namun tidak berhasil menemukannya. Ia menarik Taemin agak menjauh dari kelas.

“Aku sedang bekerja. Ada apa, Taemin?”

“Ya, aku tahu. Aku hanya mau minta kau menemaniku ke taman kota, Hyung. Aku sangat asing di sini. Maaf bila aku menganggumu.” Taemin sedikit membungkuk, membuat Jonghyun menarik napasnya lelah.

“Baiklah. Kau tunggu saja di ruanganku. Tanya saja pada Minho soal arahnya. Aku akan selesai mengajar dalam 15 menit dan setelah itu tidak ada jadwal lagi. Oke?”

Taemin mengangguk, lalu menatap punggung lebar ‘kakak’-nya yang sudah meninggalkan ia kembali ke dalam kelas. Mendadak mendung dan sedih menggelayuti wajahnya.

***

Taemin duduk memangku sebuah buku bersampul kulit hitam. Matanya mengamati pergerakan jemari Jonghyun yang bermain lincah dengan kamera SLR yang selalu dibawa pria itu ke manapun, termasuk tempat kerja.

Sore itu, mereka menghabiskan waktu di taman kota yang cukup ramai oleh orang-orang yang sekedar mengistirahatkan otak mereka setelah seharian rutinitas. Beberapa anak kecil berlarian sejauh mata memandang. Tukang balon dan tukang gulali menjadi sasaran ‘fans’ mereka di jalan setapak.

“Kau suka sekali memotret, ya, Hyung? Kenapa tidak jadi fotografer?” celetuk Taemin ketika Jonghyun sedang mengecek hasil gambar yang baru diambilnya. Jonghyun menampakkan senyum cerah kepadanya lalu menatap lurus ke depan, kembali membidik objek yang menurutnya menarik dengan sinar jingga surya di atas taman.

“Aku lebih mencintai musik dan pekerjaanku sebagai guru, Lee Taemin.” Jonghyun menurunkan SLR-nya, mengecek lagi.

“Kenapa?”

Tangan Jonghyun langsung berhenti mengotak-atik kameranya. Perlahan, ia menurunkan SLR itu ke pangkuan, menoleh kepada Taemin dengan sendu. Tidak pernah ada yang tanya ‘kenapa’ soal jawabannya yang satu itu.

“Hanya… aku sangat menyukai mengajar,” balasnya singkat. Jonghyun lalu melirik buku di pangkuan Taemin, “Dan apa itu?”

Taemin mengikuti pandangan Jonghyun dan segera menyingkirkan buku itu ke sisi yang jauh dari Jonghyun. Wajahnya tampak protektif sekarang.

“Maaf, Hyung. Pribadi.”

Jonghyun mengangguk mengerti. Disandarkannya punggung lebar miliknya ke batang pohon besar di belakang kursi mereka. Tiba-tiba saja ia bergerak memeluk Taemin di sampingnya.

Taemin tidak bergeming. Dia hanya diam di posisinya, sama sekali tidak memberi respon kecuali perubahan wajahnya yang sedih.

“Aku membutuhkan sandaran, Taemin. Maaf,” ucap Jonghyun sembari tetap memeluk tubuh keras yang tidak memiliki aliran darah itu. “Aku hanya merindukan kehidupanku yang lama…”

Taemin tidak menjawab, ia hanya mengangkat sebelah tangannya dan menepuk-nepuk tangan Jonghyun yang menggantung di sekitar lehernya.

Suara burung-burung yang bernyanyian di sekitar mereka, cahaya matahari yang semakin oranye, dan bayangan orang-orang yang sedang berjalan tidak mampu mengusir perasaan Jonghyun yang sedih tiba-tiba.

Hanya saja saat itu juga Jonghyun menyadari sesuatu.

Taemin hanya robot.

Meski memiliki kecerdasan dan perasaan manusia, ia tetap robot.

Ia tak merespon pelukannya dengan baik.

Ia tetap kaku.

Karena ia robot, bukan manusia.

***

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

39 thoughts on “Artificial Intelligence [1.2]”

  1. Keren! Aku suka, narasinya nggak gitu panjang tapi masih tetep jelas dan rapih. Salah satu fic yang aku suka, nggak pake narasi panjang-panjang.

    Ah~ Kibum pasti adiknya Jjong, ya ‘kan Author-ssi? *smirk* #plak. Ditunggu lanjutannya~

  2. annyeong Van, saya panggil gitu aja ya… 🙂

    waaah Robotic Taemin…. apa ekspresi kakunya Taemin seperti ekspresi yang sering dia tunjukkan sekarang2 ini..

    Sepertinya saya pernah mampir di wp kamu deh, minta ijin buat ngubek2 , tp kyknya belum kesempetan mampir lagi…

    mungkin klo part duanya disini lama publishnya saya baca di wp kamu aja ya… minta ijin lagi.. 😉
    gumawo..

  3. huwaa..akhirnya ada ff bergenre ini juga :”)
    baguus bahasanya Eonn, mudah dimengerti, apik, okelah.. 😉
    narasinya simpel, tapi ngena. salah satu fav aku juga nih kyknya 😀

    jdi adiknya jjong itu…kibum? ato Taemin? *?*
    link antar mereka belima gak maksa. mantap lah 😀
    ditunggu part 2 nya.. 😀

  4. aih.. Nyesek.. Ntah kenapa masa lalu jjong kayaknya ga enak bgt..
    Vania.. Ultah jjong tahun lalu dah dapet ff yg sukses bikin aku nangis2 gaje.. Yg sekarang nyesek2 begini.. Huft..
    Keep writing!!

  5. Uoh kasihan, seperti saudara hanya saja TaeMin bukan makhluk yang hidup
    Masih banyak rahasianya
    Baca sampai selesai (งˆ▽ˆ)ง

  6. Aaaakkk,
    jinjjayo ini pertama kali km ngirim ke sini?
    Soalny aku ngerasa pernah baca FF karya vanflaminkey, tp lupa bc di mana.
    Heheh

    sumpah, sejak bbrp hr yg lalu Risma publish FF Verification, aku lgsg tertarik sm Judul AI ini.

    Waaa, gak lama lgsg dipublish.

    Sumpah ini mendetail bgt. Keren gilak.

    Aku ngebayangin kakek Kim Kibum dg rambut keperakan setengah botak, pake kacamata super tebel trs pake jas lab putih.
    #ditaboklockets

    Xixix
    imajinasiku liar…

    Ditunggu part 2nya neeee

    1. iya dulu pernah sih sekali, tapi gak dilanjutin jadi gak dipublish .___. maka ini yg pertama ~ ^^
      aku juga sangat ingat pernah melihat username-mu di ffku tp aku juga lupa liat di mana #dor

      wakakakaka xD aku juga kebayang itu kibum kayak gimana lmao.
      iya makasih 🙂

  7. Seru bacanya 😀 daebak author!~Aq bayangin.a si taemin sosok remaja imut2 kyk jaman replay XD ngepas gak tuh? Kekee ..lanjutanyaa jgn lama2 ya 😀

  8. Kok aku punya firasat kalo pencipta taemin itu adeknya Jong ya.. Hehe. *cuma firasat aja sih.
    Lanjut thor. Keren. ^^
    Aku suka ff ini.

  9. jàdi sebenarnya kibum dimna?? kenapa bisa pisah ma jjong¿?? kenapa taemin slalu sedih lo deket jjong?
    sebenarnya apa isi buku hitam punya taemn???
    bener2 bikin penasarN ,..
    lanjut y thor!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s