The Destiny – Part 3

The Destiny [Part 3]

Tittle                : The Destiny

Author             : Lee Hana

Main cast         : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length             : Sequel

Rating              : T

Summary         : “Karena entah kenapa aku tak bisa untuk tidak memikirkannya. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu tak menyukaiku. kamu selalu membuatku berpikir tentang dirimu… Aku menyukaimu.”

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Jonghyun tengah men-drible bola melewati beberapa pemain di depanya, lalu berniat melemparkan bola kepada teman satu regunya. Sayang sekali, lemparanya meleset dan terlempar terlalu tinggi. Mata Jonghyun dengan jeli melihat ke tempat bola itu mengarah. Ia menemukan seorang gadis tengah sibuk menelepon.

“AWAAAAS!!” Jonghyun berteriak dengan tangan bergerak ke depan. Bergerak seakan ingin meraih sang bola yang terlalu jauh untuknya. Tetapi ….

BUK! BRUK!

Bola jatuh tepat di kepala gadis itu. Oleng beberapa saat kemudian terjatuh di tepi lapangan dengan keadaan sudah kehilangan kesadaran. Ia pingsan seketika, sedangkan sang ponsel telah terlepas dari tangannya.

Jonghyun segera berlari ke arah gadis itu—sama dengan beberapa orang yang melihat kejadian itu—mengerubunginya dan membuat kegaduhan. Dengan sigap si ketua klub basket itu mengangkat tubuh Rika ke ruang kesehatan. Ia terlihat cukup panik.

“Jong Hyung!” Seorang namja memanggilnya—berlari menghampirinya. Membuat Jonghyun harus menghentikan langkahnya untuk beberapa waktu.

Taemin melihat wajah Rika ketika telah berada di dekat Jonghyun. “Dia, kan ….”

“Kau kenal, Taemin?”

“Aniyo, Hyung. Aku hanya mau mengembalikan gelangnya. Kenapa dia bisa begini?”

“Kepalanya terbentur bolaku.”

______

“Ini siapa?” tanya Jinki semakin panik.

“Ini Kim Jonghyun.”

“Jonghyun? Kenapa ponsel Rika ada padamu?”

 “Mianhaeyo, tadi aku tidak sengaja membuat gadis ini pingsan terkena bolaku.”

“Mwo?! Sekarang kalian di mana?” Jinki semakin khawatir.

“Di ruang kesehatan.”

“Baik. Kamu jaga dia! Sebentar lagi aku akan ke sana.”

Jinki memutus sambungannya dan mulai melangkahkan kakinya lagi.

“Apa yang terjadi dengan Rika?” tanya Ki Bum ikut khawatir. Ia memegang lengan Jinki sebelum dia berlari lagi.

“Dia pingsan terkena lemparan bola Jonghyun.”

______

Rika membuka matanya perlahan. Menatap atap putih yang tidak ia kenal. Terdengar suara-suara memanggilnya dengan nada panik.

“Rika, kamu tidak apa-apa?” Jinki berdiri di sebelah ranjang putih yang Rika tempati.

Penglihatan Rika masih belum terlalu jelas sehingga ia harus beberapa kali mengerjap. Ia bangun dari posisinya dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Oppa? Ah, sakit.”

“Sakit? Di mana?” Jinki mulai panik lagi.

Semua yang berada di sana tak percaya melihat tingkah Jinki yang dapat dikatakan berlebihan. Ini baru pertama kalinya mereka melihat Jinki yang seperti ini selain pada Taemin. Membuat mereka heran, sekaligus yakin bahwa Jinki menyukainya.

Rika menyadari sesuatu ketika penglihatan sudah membaik. Ada lima namja tengah berdiri mengitari ranjangnya. Terlihat dua orang yang tidak ia kenal serta dua namja teman sekelasnya.

“Kenapa di sini banyak sekali orang? Dan aku …, iya, kepalaku terkena lemparan bola, kemudian …, tidak ingat lagi. Lalu, bagaimana ceritanya aku bisa sampai ke sini?”

“Ne. Aku yang melempar bola itu. Jonghyun imnida. Mianhae, aku tak sengaja. Aku yang membawamu kemari.” Jonghyun membungkuk dalam.

Rika masih memegang kepalanya dan meringis sesekali. “Gwenchanayo.”

Jonghyun kembali membungkuk dan meminta maaf. Benar-benar merasa bersalah.

“Dan kamu yang menari itu, kan? Kenapa kamu bisa di sini juga?” Tangannya menunjuk ke arah Taemin.

Taemin membungkuk sedikit dan memperkenalkan diri, “Ne. Naneun Lee Taemin imnida. Aku dongsaeng-nya Jinki Hyung. Tadi aku melihatmu diangkat Jong Hyung, jadi aku ikut saja.”

“A, ne. Naneun Rika Wibowo imnida. Kalian berdua boleh panggil aku Rika. Lalu, Oppa, Kibum dan Minho?”

“Kebetulan kami bertiga sedang bersama-sama. Ketika kami mendengar kamu di ruang kesehatan kami segera ke sini,” ungkap Jinki.

“Lalu?”

Tiba-tiba semuanya terdiam, mereka tak mengerti apa yang dimaksud Rika.

“Rika!” Jungeun tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kecil itu dengan panik.

“Eh?” Jungeun menjadi pusat perhatian karena suaran yang ia keluarkan cukup nyaring. Ia menjadi kikuk seketika di tempat.

“Jungeun. kamu datang,” ujar Rika senang.

Jungeun menghampiri Rika dan berdiri di sebelah kanan ranjang yang berisikan Kibum dan Minho. Sedangkan di sebelah kiri ada Jinki yang paling dekat dengan kepala Rika, di susul oleh Taemin dan Jonghyun.

“Maaf, aku baru tahu barusan kalau kamu pingsan. Untunglah sudah sadar. Aku benar-benar panik tadi.”

 

“Tak apa-apa. Aku baik-baik saja, kok.”

“Tapi kenapa mereka semua bisa berada di sini?” Jungeun heran seraya menatapi mereka satu persatu. Dan lebih mengherankannya lagi mereka semua tampan dan populer.

Jonghyun dan Taemin terlihat kebingungan dengan bahasa yang mereka gunakan. Sedangkan yang lainnya sudah terbiasa mendengarnya. “Kalian bicara apa, sih?” tanya Taemin penasaran.

“Bahasa Indonesia. Tapi, ngomong-ngomong apa pelajaran belum mulai jam segini?” tanya Rika seraya melihat jam yang terpajang di tembok putih ruangan itu.

Semua tersentak serentak. Mereka baru sadar dan segera pamit untuk kembali ke kelas masing-masing. Sayangnya masih ada seseorang yang enggan melangkahkan kakinya keluar. Itu adalah Kibum. Seseorang yang sejak tadi bergeming di tempatnya.

“Ada apa?” Rika bertanya.

Kibum terlihat gugup. “Mianhaeyo.”

“Mian? Untuk apa?”

“Kemarin sepertinya aku menyinggungmu di kantin.”

“Tidak. Aku hanya kesal dengan sikapmu.” Gadis ini berusaha jujur.

“Sikapku? Apa yang salah?”

“Kamu minta maaf, tapi kamu tak tahu kesalahanmu?! Kalau begitu kenapa kamu minta maaf?”

“Ya karena aku pikir aku menyinggungmu.”

“Sebaiknya kamu kembali ke kelas sana!” Rika mulai kesal.

“Ta-tapi, aku….”

“Sudahlah! Aku kesal padamu,” ungkap Rika terang-terangan.

Arasseo. Aku pergi. Anyeong.” Kibum melangkah pergi dengan raut muram.

Namja itu terlihat sedih sekali. Melangkah lemas menuju pintu ruang kesehatan dan menghilang di baliknya.

“Rika, kamu tak seharusnya bersikap sekasar itu pada Kibum. Aku kasihan melihatnya. Dia kan baik padamu.”

“Entah kenapa setiap aku melihatnya aku selalu merasa kesal. Aku hanya tidak suka padanya.”

“Tapi, sepertinya ia sedih setelah kamu mengatakan hal itu padanya. Mungkin dia menyukaimu.”

 

“Jangan bercanda, Jungeun.”

 

Cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis tipis.

 

Kau. Bisakah kau membedakannya?

 

Cinta dan benci tak pernah mengenal jarak dan waktu.

 

Dua perasaan yang mengajarkanmu cara menangis dan tertawa. Sedih dan bahagia. Keduanya bisa membuatmu seakan gila. Mengurungmu dalam kebingungan, atau bayang-bayang.

______

Kibum memasuki kelasnya dengan langkah gontai. Pelajaran sudah dimulai sekitar lima belas menit yang lalu, tetapi Cheon Seongsaengnim dengan baik hatinya membiarkan Kibum duduk setelah Kibum meminta maaf kepadanya.

Kibum memanglah anak emas bagi Cheon Seongsaengnim karena kemampuan Kibum dalam berbahasa, khususnya pelajaran bahasa Inggris yang menjadi mata pelajarannya. Sejak Kibum menginjakkan kakinya di sekolah ini, belum ada satu pun siswa yang bisa mengalahkannya dalam mata pelajaran ini.

Kibum duduk dengan lemas dan mengikuti pelajaran kembali. Ia terlihat muram.

“Kamu kenapa?”

“Ani. Menurutmu Rika itu bagaimana?”

“Dia baik.”

“Begitukah? Entah kenapa aku merasa dia tidak menyukaiku Minho. Menurutmu apa yang salah denganku?” tanya Kibum bingung tetapi Minho hanya menjawabnya dengan gelengan.

Kembali pintu terbuka, kali ini Rika dan Jungeunlah yang masuk.

Kibum kembali memandangi Rika. Ia mendesah.

Semua murid mengerjakan soal yang diberikan Cheon Seongsaengnim. Tetapi seperti biasanya, Rika tidak butuh waktu lama mengerjakannya. Ia adalah siswa yang paling pertama menyelesaikan soal-soal tersebut, setelahnya baru Kibum.

Ini adalah kejadian langka. Biasanya Kibumlah yang menyelesaikannya pertama kali. Selalu begitu sejak dulu. Dan ini membuat seisi  kelas terkejut dan kagum pada Rika, termasuk Cheon Seongsaeng dan Minho. Meskipun pada akhirnya Kibumlah yang mendapatkan nilai paling tinggi—

nilai sempurna—dan Rika berada di urutan kedua.

“Wah, ini nilai yang sangat baik,” puji Jungeun kagum.

“Aku kurang teliti,” ujar Rika dalam sesal kemudian melihat ke arah Kibum. Kibum membalas tatapan Rika, tetapi Rika malah membuang muka.

“Apa aku membuatnya kesal lagi?” tanya Kibum pada Minho yang sibuk melihat nilainya.

Minho melihat ke arah Kibum, kemudian mengalihkan pandangannya pada Rika. Memperhatikannya beberapa saat dan kembali melihat Kibum. “Sepertinya iya. Dia terlihat kesal. Tapi, kenapa kamu menanyakan hal itu? Sepertinya kamu begitu peduli padanya. Apa kamu menyukainya?”

“Ne. Tapi sepertinya dia benar-benar membenciku. Dia sangat ketus padaku. Apa karena aku yang terlalu pintar? Terlalu tampan? Terlalu keren? Terlalu populer?”

Minho menyipitkan matanya kemudian mendengus. “Kamu mau bertanya atau memuji diri sendiri?”

“Bertanya,” jawab Kibum santai.

______

Waktu terus saja berjalan. Dan petang pun datang lagi di setiap harinya. Begitu juga hari ini. Petang yang tak jauh berbeda dari petang-petang sebelumnya. Kedaan langit dan cuaca, semua masih sama seperti kemarin, cerah.

Sama pula seperti kemarin. Gadis ini pulang terakhir. Rasanya ini akan jadi kebiasaan. Meskipun tempat ini sepi, itu tak membuatnya takut, karena cahaya matahari masih begitu siap menyinari seluruh isi kelas, meskipun sudah sedikit meredup.

Rika memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan menyadarinya sesuatu telah hilang. Ia terlihat panik dan segera kembali mengobrak-abrik isi tasnya yang sudah tertata rapi. Mengelilingi seluruh isi kelas seraya menajamkan penglihatannya pada lantai putih itu. Mencari benda kecil berkilau yang telah lepas tanpa sepengetahuannya.

Rika teringat sesuatu. “Mungkinkah di ruang kesehatan?”

Tanpa banyak bicara gadis itu segera memasukkan isi tasnya kembali dengan asal dan segera berlari keluar kelas. Tapi, tiba-tiba ….

Bruk!

Rika jatuh untuk kedua kalinya di hari ini. Kali ini bokongnyalah yang menjadi tumbal. Sedangkan orang di hadapannya juga jatuh bersamanya.

“Taemin?”

 Namja itu berdiri dan mengulurkan tangannya. Rika berdiri bersamaan sambutan tangan Taemin. “Gomaweo.”

Noona, ini milikmu, kan?” Taemin menyodorkan gelang yang sejak tadi ia simpan di sakunya.

Aigoo. Aku mencarinya ke mana-mana. Kamu temukan di mana?” Rika mengambil dan memeriksa keadaan gelang itu dengan senyum cerah.

“Di depan pintu kelas latihan tari.”

“Gomaweo jeongmal. Aku benar-benar takut ini akan hilang.” Rika tersenyum kemudian menyimpan gelangnya di dalam tasnya.

“Tidak dipakai?”

Ani. Nanti jatuh lagi. Itu benda berharga pemberian dari sahabatku.”

“Aa.”

Rika melihat tas punggung Taemin. “Mau pulang bersama Jinki Oppa?”

“Ne.”

“Kalau begitu ayo kita keluar bersama saja.”

Mereka berdua berjalan beriringan sambil mengobrol.

______

Sebuah bus kembali melaju setelah berhenti beberapa saat—menunggu seseorang yang belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Itu adalah bus yang biasa mengantarkan Kibum pulang. Tapi kali ini ia melewatkannya begitu saja. Kibum terlihat seperti menunggu seseorang tetapi ia tidak menunggu, hanya berdiri dengan bingung. Ia menghentak-hentakkan salah satu ujung sepatunya pada lantai halte. Menunduk lesu.

Seseorang datang lalu menghampiri kertas yang terpajang di halte itu. Membacanya dengan teliti kemudian ia berdiri di samping Kibum dengan jarak sekitar satu meter. Gadis itu diam menunggu busnya datang.

Untuk kali ini Kibum mengalihkan pandangannya menuju seseorang yang tengah berdiri di sebelahnya dengan diam. Ia terlihat sibuk menatap kendaraan yang berlalu lalang. Kibum sedikit terkejut. Lalu ekspresi apa yang harus ia tunjukkan? Ia tidak tahu.

Beberapa menit berlalu. Sesekali Kibum mencuri pandang. Terkadang yeoja itu sadar ketika Kibum tengah melihatnya, tetapi ketika mata mereka saling bertemu yeoja itu kembali mengalihkan perhatiannya pada laju mobil di depannya.

Kibum terlihat enggan meskipun ingin sekali mengobrol. Yeoja itu bahkan tak membiarkannya menyapa, bahkan tersenyum kepadanya sekali pun.

Melangkah mendekati yeoja yang berdiri di sebelahnya. Kakinya bergerak pelan ke samping meski matanya berpura-pura untuk tak acuh. Berjalan layaknya seekor kepiting. Ketika mereka telah benar-benar dekat—tepatnya tubuh mereka hanya berjarak kurang dari setengah meter—Rika menghujamkan pandangan tak sukanya.

“Kamu marah padaku, ya?” Kibum membuka pembicaraan.

“Ani,” jawabnya pendek.

“Masih marah karena masalah di kantin atau …, karena nilaiku?”

Rika menatap Kibum sinis. “Itu salah satunya.”

“Lalu apa lagi?”

“Kenapa kamu selalu bertanya masalah yang sama? Kenapa begitu peduli?”

“Itu karena….” Kibum dengan ragu-ragu menjawab, sedang Rika terlihat tak tertarik mendengar jawaban Kibum.

“Karena entah kenapa aku tak bisa untuk tidak memikirkannya. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu tak menyukaiku. Kamu selalu membuatku berpikir tentang dirimu.”

“Hah?! Kamu …, jangan bilang kamu….” Wajah Rika terlihat terkejut, juga berpikir keras.

“Aku menyukaimu,” ungkap Kibum malu. Terlihat segurat merah merona di pipinya yang putih.

Rika terlihat sedikit berpikir. Namun sesaat kemudian ekspresinya berubah lagi menjadi pasrah. Ia menghela berat.

Ternyata dugaan Jungeun benar seratus persen. “Jadi, ini pengakuan cinta?”

Kibum mengangguk malu.

“Sebenarnya aku tak suka mengatakan ini, tapi aku sama sekali tak menyukai namja sepertimu. Bukankah harusnya kamu sudah mengetahuinya?”

“Sepertiku? Kenapa denganku?”

“Kau seperti …, ‘banci’.”

 

Bus datang dan berhenti tepat di hadapan mereka. Rika segera naik, Kibum pun mengikutinya. Sebenarnya arah rumah mereka sama makanya mereka satu bus. Jadi, kibum tak benar-benar mengikuti gadis ini. Kibum senang bisa satu bus dengan yeoja ini. Jadi, setidaknya ketika pulang mereka bisa bersama setiap hari. Sedangkan keduanya sama-sama diantar ke sekolah ketika pagi hari.

Bus sudah cukup penuh meski tak terlalu sesak. Masih ada cukup ruang untuk mereka bergantung dan bergerak. Kebetulan mereka berdua berdiri bersebelahan dan itu memudahkan Kibum menatap gadis di sampingnya itu, sekalipun gadis itu tak memandangnya sama sekali.

“Rika, artinya banci apa?” tanya Kibum ketika bus mulai berjalan lagi.

“Bisakah kamu diam?!” bentak Rika kesal karena Kibum selalu bertanya padanya.

Kibum memang tak mengerti apa artinya. Gadis itu mengatakannya agar tak membiarkan Kibum tahu apa yang ia katakan padanya. Ia tak mau melukai Kibum. Ia hanya ingin berusaha jujur ketika menjawab pertanyaan yang Kibum lontarkan. Saat mengatakannya ia pun sedikit memiliki keraguan.

Sekitar setengah jam berlalu. Sekarang Rika hampir mencapai rumahnya. Sayang ada sedikit hambatan ketika sebuah motor berhenti mendadak di depan bus. Tentu saja sang supir segera menginjak pedal rem—membuat para penumpang mereka sontak tertarik ke depan. Begitu juga Rika. Karena terlalu mendadak dan keras—tangannya terlepas pada pegangan dan terjatuh pada pelukan Kibum yang kebetulan berada tepat di depannya. Ah, dia tak benar-benar di depan. Ia memang sengaja menahan tubuh Rika agar tak terjatuh.

Keduanya bertatap. Sedangkan wajah Kibum terlihat gugup. Ia tak bergerak dan tak segera melepaskan pelukannya. Ia lupa akan hal itu dan bahkan cara menarik napas untuk sesaat. Orang-orang yang memperhatikan mereka pun tak ia sadari. Perhatiannya hanya satu, Rika yang kini dipelukannya. Jantungnya rasanya mau runtuh saat ini juga.

“Lepas!” desis Rika dengan wajah merah dan kembali pada tempatnya ketika Kibum sudah tersadar dan melepas pelukannya. Ia benar-benar malu.

Tak lama kemudian gadis itu turun dari bus. Kibum terlihat berpikir keras untuk beberapa detik dan pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penguntit. Ia turun dari bus dan mengikuti Rika ke rumahnya. Ia melihat Rika memasuki sebuah rumah di pinggiran jalan. Rumah berlantai dua yang sederhana dengan halaman kecil di depannya. Kibum tersenyum kemudian pergi meninggalkan tempatnya—tepat di seberang jalan rumah Rika.

______

“Jungeun!” Kibum berlari kecil menghampiri gadis itu.

Jungeun berhenti melangkah dan memutar tubuhnya—mengahadap Kibum yang ada di belakangnya. “O, Kibum, ada apa?”

“Aku ingin bertanya. Apa kamu tahu apa artinya banci?”

Mwo?! Banci?” pekik Jungeun dengan wajah heran.

Ne.

“Itu sebutan bagi pria yang perpenampilan seperti wanita di Indonesia.”

“Apa maksudmu semacam flower boy?”

Jungeun menggeleng. “Bukan. Flower boy berarti laki-laki yang memiliki wajah cantik. Memang kenapa? Apa Rika menyebutmu begitu?”

Kibum mengangguk.

“Tega sekali dia,” gumam Jungeun dengan wajah kesal.

“Memang kenapa?” Kibum penasaran melihat wajah Jungeun yang tiba-tiba masam.

“Sebaiknya kamu tidak tahu.”

“Katakan! Itu sungguh membuatku penasaran. Aku tidak mau salah paham hanya karena kata-kata itu,” paksa Kibum.

“Dia mengolokmu Kibum. Itu sebuah olokkan. Sebaiknya kamu jauhi Rika. Sepertinya dia benar-benar tidak menyukaimu.” Jungeun menasihati kemudian pergi meninggalkan Kibum yang terlihat terkejut.

Kibum terdiam di tempatnya. Dadanya rasanya sakit. Merunduk diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia mengepalkan tangannya kuat.

Jungeun berjalan terus menuju kelas sambil bersungut-sungut atas kelakukan sahabatnya. Ia sangat kesal. Bukan karena ia tidak rela Kibum diperlakukan seperti itu, tetapi baginya itu keterlaluan. Lagi pula, Kibum anak yang baik. Ia disukai semua orang. Kenapa Rika tak menyukainya?

“Rika!” panggil Jungeun ketika ia melihat Rika tengah berjalan menuju kelas. Gadis yang ekspresinya masih terlihat kesal itu berlari menghampiri Rika.

“Jungeun? Ada apa?”

“Kenapa kamu mengatakan hal sekasar itu pada Kibum?”

 

Rika tampak tak mengerti. “Hal kasar?”

“Banci.”

 

“Dia mengadu padamu?” Rika mulai kesal karena tahu pasti ini pembicaraan seputar kata ‘banci’ yang ia sebutkan kemarin.

“Dia tidak mengadu, dia bertanya.”

Rika hanya diam dan berusaha untuk berpura-pura acuh.

“Kenapa kamu mengatakannya?” tanya Jungeun lagi.

“Kenapa kamu peduli?! Kamu menyukainya?!”

 

“Apa?! Bukankah kamu tahu aku menyukai Minho? Kenapa kamu bertanya begitu?” Jungeun semakin tersulut emosinya.

“Karena kamu membelanya terus. Dia terus saja bertanya padaku kenapa aku tak menyukainya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya berusaha jujur padanya.”

“Aku tak menyangka, kamu ternyata jahat. Tidak punya hati!” rutuk Jungeun kemudian berlalu.

“Ja …, jahat? Tidak punya hati?” gumam Rika sedih seraya melihat Jungeun masuk ke dalam kelas.

Rika berjalan menjauh dari kelas dengan langkah cepat. Berjalan dengan mata berkaca-kaca. Merunduk sedih dan menyesal. Dalam langkahnya ia berusaha sekuat mungkin agar air matanya tak jatuh. Berjalan keluar gedung dan memasuki gedung yang lain. Sebuah gedung yang ia pikir cukup sepi untuk menjadi tempat menangis. Ia harap tak akan ada yang mendengarnya. Sekalipun ada ia harap orang itu akan menganggap tangisannya adalah tangisan hantu dan pergi menjauhinya.

Rika memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu memiliki banyak kursi. Tetapi penempatannya berbeda dengan kelas. Meja-meja disusun begitu rupa hingga berbentuk kotak lalu diselimuti taplak yang panjang. Sedangkan di depan ruangan terdapat sebuah white board yang digunakan untuk presentasi.

Rika masuk dan menutup pintu ruang rapat itu. Ia menangis sesegukan sambil menenggelamkan kepala pada tangan yang terlipat di atas meja. Air matanya terus keluar tanpa henti. Tanpa ia sadari ia telah mengganggu seseorang. Tepatnya waktu istirahat seseorang.

“Ada apa, sih?” gumam seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik meja. Ia menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan Rika menghentikan tangisannya—mengangkat kepala ketika mendengar suara seorang namja di ruangan itu juga.

Tepat di seberang tempatnya duduk, terlihat seseorang tengah duduk dengan kaki yang ia letakkan pada jejeran kursi. Terlihat sekali dia baru saja bangun dari tidur. Namja itu menguap kembali. Sedangkan Rika membatu di tempatnya.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “The Destiny – Part 3”

  1. astaga.. si Kibum narsis bgt, muji diri sendiri.. 😛
    si Rika tega juga ya ngatain Kibum banci, poor Kibum.. -_-

    Minho-kah yang baru bangun tidur itu?

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya ya… 🙂

  2. Jinki? Ato minho? Ato sosok baru???
    Hubungan Rika-Jinki belom jelas…
    Ocey, ditunggu next part 

    1. ini kan beda. tapi justru bikin kesan yang beda juga.
      tapi saya bingung kenapa lucu.
      tunggu, ya!

  3. ah setuju sama jungeun! ini rika kelewat kasar deh, ga suka sih oke, tapi ga usah sampe ngatain banci juga kali… sempet bingung jg awalnya, ini key kok anteng aja dibilang ‘banci’, ehhh baru ngeh pas dibawah kalo rika ngomongnya pake bhs indo._._. ckck poor kibuuum 😦
    woah itu yg baru bangun siapa? si mino sang raja bantal kah? #jederrr
    nice hana-ssi, next part juseyooo 😉

    1. ya, emang kasar. rika notabenenya rada sombong and percaya diri. jadi begitulah.
      aduh, minho bener2 tenar dengan sebutan seperti itukah?
      ok, ths ya mahda.

  4. Teganya mengatakan KiBum seperti banci

    Siapa yang ada dalam kelas itu, JinKikah, MinHo, JongHyun atau Taem

    Ditunggu kelanjutannya author

    1. hayo, hayo tebak! #apa sih.
      nggak usah kesel, kesel. sebenernya juga saya rasa gimana gitu, kasihan sama key, tapi ini demi cerita. jadi sabar, ya sampai akhir!
      thx!!

  5. aigoo.. miris banget jadi Kibum.
    Rika tega banget sih, frontal banget ngomongnya.
    emang sih risih kalau ada yg suka, keliatan banget sukanya.
    tapi ga sekasar itu juga. kan kasian kibum
    kibum juga sih bikin kesan pertama ke rika nya kaya cowok modus.
    baru kenal udah minta no hp. haha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s