The Last Journey

 The Last Journey

Author : Ekikumo

Main Cast : Lee Jinki (Onew SHINee), Han Soo Hyun (OC)

Other Cast : Find yourself

Length : Oneshot

Genre : Romance, Sad, Angst, Friendship

Rating : PG-15

Disclaimer : Semua ide cerita hasil buah karya imajinasiku dan cover-nya *maaf banget abal covernya* buatan aku via photoshop. Kalo cast-nya sih kalian ambil gak apa-apa *lempar Onew* *eh*

A/N : Ini FF aku kesekian di page ini. Semoga yang ini lebih baik. Tolong kasih review kalian untuk FF ini di kolom komentar ya, readers ^^

 TLJ

***

-ooOoo-

Kau akan datang jika aku menunggu

Tapi, semakin aku menunggu, kau semakin menjauh dariku

-ooOoo-

Aku menatap langit mendung yang kini memayungiku di malam sendu ibu kota Korea Selatan ini. Kemudian pandanganku beralih pada jam digital hijau yang melilit di pergelangan tanganku saat ini. Pukul 21.00 KST.

Tanpa aku sadari diriku menghela nafas dengan sendirinya. Sudah lebih dari dua jam aku berdiri mematung di tempat yang sama—di bawah pohon rindang di salah satu sisi NamsanTower. Waktu yang cukup lama dan melelahkan, bukan? Tapi, entah mengapa aku memilih untuk tetap bertahan di titik ini, dimana terbentang pemandangan orang-orang yang berlalu lalang untuk segera pergi meninggalkan tempat indah ini karena memang waktu juga semakin larut dan aku rasa dalam beberapa menit akan segera turun hujan.

Jantungku mulai berdegup tidak karuan. Antara perasaan kesal dan sedih kembali membuat perdebatan kecil di lubuk hatiku. Otakku sudah memerintahkanku untuk pulang dan kembali ke rumah, namun seperti ada magnet yang menahanku untuk tetap menunggu—menunggu seorang namja yang tadinya berjanji akan bertemu denganku dua jam yang lalu di tempat ini, tepat dimana aku berdiri. Kucoba merogoh benda berbentuk persegi panjang di dalam saku jaketku. Sudah kesekian kali aku membuka flip ponselku, namun tidak ada satu pesan masuk  pun dari namja itu—Lee Jinki. Hanya ada sebuah pesan yang sebenarnya tidak kuharapkan . Siapa lagi kalau bukan dari oppa-ku, Han Soo Min, manusia paling ingin tahu tentang semua urusanku.

Aku kembali menghela nafas kecewa. Entah seperti apa bentuk wajahku saat ini, yang jelas jauh lebih buruk dari awal aku datang kesini. Ya, karena namja bodoh bernama Lee Jinki. Bagaimana tidak bodoh, siapa yang membiarkan yeoja-nya sendiri menunggu pada malam hari seperti ini? Terlebih yang bersankutan sendiri tidak memberi kabar sedikit pun. Babo! Umpatku dalam hati.

Masalahnya, hal seperti ini tidak terjadi satu atau dua kali, ini sudah berkali-kali. Dan aku harus terus dan terus bersabar. Aku benar-benar bosan. Merasa sangat bodoh sudah melakukan hal ini. Bukankah wanita tidak suka menunggu? Sepertinya dengan terpaksa aku harus menyukainya bahkan melakukannya—seperti saat ini.

“Han Soo Hyun!”

Kuputar tubuhku untuk mencari sumber suara tersebut. Jalanan sudah mulai gelap namun, aku masih bisa menebak bayangan manusia yang mulai mendekatiku dengan sebuah payung merah di tangannya.

“Han Soo Hyun,” panggil suara itu lagi.

“Kenapa kau kemari?” tanyaku dengan nada kesal kepada namja berjaket tebal itu.

“Ya ya ya! Oppa macam apa aku yang membiarkan adiknya keluar malam sendirian?”

Seketika aku tersenyum miris. Andai saja kalimat itu yang keluar dari mulut Jinki. Andai saja.

“Jibbe kajja!”

Oppa-ku, Soo Min, menarik lenganku dengan lembut. Aku segera melepaskan genggamannya sebelum tangannya melingkar di lenganku. Bukannya aku tidak mau pulang, tapi…

“Wae? Kau menunggu siapa?” tanyanya dengan wajah bingung.

Ya, aku bisa merasakan kekhawatiran dari sorot wajahnya, sangat aku rasakan hingga menembus hatiku.

“Kau menunggu—Jinki?” tanyanya hati-hati.

Hatiku seakan mencelos mendengar nama yang keluar di akhir pertanyaannya. Memang benar nama itu. Nama itu yang membuat aku berada disini—menunggu kehadirannya.

“Han Soo Hyun!” panggilnya lebih keras, membuatku tersadar dari pikiranku sendiri.

“A-Anni, ak-aku hanya mencari udara. Hanya bosan di rumah,” jawabku yang pasti berbohong. Oppa pasti tidak langsung percaya kepadaku mendengar aku terbata dan itu sangat kentara.

“Begitu?” katanya meyakinkan, “Mau sampai kapan kau menunggu, huh?”

“Sampai… sampai—“

Ponsel yang ku simpan di dalam saku jaket bergetar. Baguslah, setidaknya ponsel ini sudah menyelamatkanku dari pertanyaan Soo Min oppa yang sulit melebihi soal matematika itu. Ku buka flip ponsel itu. Spontan aku melihat nama pengirim pesan tersebut yang tertera di pojok kanan atas—Lee Jinki. Mengeja nama sederhana itu saja sudah membuatku tersenyum, apalagi kalau menatap wajahnya di depanku. Mungkin aku sudah dilarikan ke unit gawat darurat. Ash… Lupakan!

Dari: Lee Jinki ❤

Mianhaeyo, Soo Hyun-ssi. Tiba-tiba manager hyung mengadakan rapat mendadak dengan para anggota SHINee lainnya tentang jadwal besok dan beberapa hari kedepan. Jadi, aku tidak bisa datang. Aku sangat berharap pengertianmu.

Dari satu-satunya namja yang Soo Hyun cintai di dunia, Lee Jinki.

Aku mendengus kesal—lagi. Otakku tidak dapat berpikir panjang lagi. Pertanyaan yang muncul di otakku pertama kali, kenapa ia tidak memberi tahu dari awal? Setidaknya aku tidak harus membuang waktu dengan menunggunya di tempat membosankan ini. Aku bisa pulang ke rumah lebih awal dan melakukan hal yang lebih bermanfaat ketimbang menunggunya dan berakhir dengan pernyataan bahwa ia tidak bisa datang.

Apa dia sudah lupa dengan peraturan nomor 2 dalam hubungan ini? Tidak membuat Soo Hyun menunggu. Lalu nomor 3, Tidak membuat Soo Hyun marah. Dan yang paling penting adalah nomor 1, tidak membuat Soo Hyun kecewa. Ya, Jinki memang sudah melanggar beberapa pasal dalam peraturan yang ia buat sendiri. Mungkin sesaat lagi dia akan melanggar peraturan nomor 6, tidak membuat Soo Hyun menangis. Hah, lengkap sudah hukumanmu Lee Jinki! Kau akan menerima hukuman ratusan jitakan dari tangan yeoja-mu ini!

“Soo Hyun? Dari siapa?”

Mungkin Soo Min sudah menyadari raut wajahku yang tiba-tiba saja berubah, dan aku yakin di otaknya sudah ada nama Lee Jinki dan mengira dialah tersangka atas perubahan mood-ku yang tadi buruk menjadi lebih buruk.

“Bukan. Dari temanku. Dia tidak jadi datang,” jawabku berbohong lagi.

Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini kepada Soo Min oppa yang selalu terbuka kepadaku dan aku sendiri malah melakukan hal yang kontras dengan apa yang ia lakukan kepadaku. Aku hanya takut, jika aku mengatakan hal yang sebenarnya, ia pasti tidak akan memaafkan Jinki. Sudah bersyukur aku di perbolehkan menjalin hubungan dengan seorang artis karena sebelumnya Soo Min adalah orang pertama yang menentang hubungan ini. Ia sama sekali tidak senang jika adiknya yang yeppo ini menjalin hubungan dengan artis yang mulai naik daun seperti Jinki atau lebih kita kenal dengan panggilan Onew—sang leader SHINee.

“Geurae, mari kita pulang.”

***

Aku membuka mataku yang sebenarnya enggan untuk kubuka. Tubuhku juga tidak ingin melakukan perintah otakku untuk beranjak dari singgahsanaku. Rasa pegal semalam belum juga hilang meskipun tubuhku sudah beristirahat kurang lebih 7 jam.  Sejujurnya semalam aku tidak langsung tidur. Mana mungkin bisa aku langsung terlelap kealam mimpi sedangkan nama namja bodoh itu masih bersarang di otakku.

Aku sibuk merenungkan beberapa hal yang belakangan ini menyusup di antara pikiran. Sebelumnya tidak ada pikiran untuk melakukan hal itu tapi, apakah yang aku pikirkan semalam adalah jalan keluar? Atau hanya kamuflase dari rasa egoisku? Aku pikir tidak begitu.

Aku segera beranjak dari ranjang sebelum pikiranku bertambah liar dan berakhir dengan keterlambatanku di kampus nanti, tidak akan terjadi—tidak untuk yang kedua kali.

Ponselku tiba-tiba saja berdiring melantunkan potongan nada dari lagu favoritku, SHINee – Dream Girl. Tentu saja aku sengaja memotong lagu itu tepat pada bagian vokal Jinki. Aku melirik sekilas ponsel yang terletak di nakas sebelah ranjangku. Hanya nama Jinki yang pertama muncul saat ponsel itu terus berdering dan pada kenyataannya kurasa itu tidak mungkin mengingat jadwal Jinki yang semakin padat minggu-minggu ini sehingga mengucapkan selamat pagi saja rasanya tidak mungkin. Lalu siapa gerangan yang membuat panggilan pagi-pagi seperti ini?

Kuputuskan untuk menghampiri ponsel itu, namun beberapa detik setelah aku tepat berada di di depan nakas dan hampir meraih ponsel warna biru muda yang tergeletak itu, ponsel tersebut malah mati. Tidak terdengar lagi suara Jinki yang melantun dari ponsel ini. Aku mulai penasaran. Sebelum rasa penasaranku ini menjadi tak terkendali, alhasil kuambil ponsel tersebut dan melihat nama sang penelpon. Park Yui?

Kenapa gadis itu membuat panggilan sepagi ini. Tidak biasanya. Aku hanya mengerdikkan bahu, masa bodoh. Mungkin Yui hanya akan menanyakan buku tugas yang aku pinjam. Mungkin.

***

Gadis berbadan mungil itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang ujian yang dua jam lalu membelenggunya hingga ia sulit bernafas. Disinilah Soo Hyun berada, di Seoul University. Yeoja yang mengambil jurusan dibidang seni tersebut melenggang keluar ruangan untuk kembali menghirup udara bebas. Lega rasanya, skripsi yang tinggal beberapa persen lagi pengerjaannya akan segera rampung sehingga ia bisa berleha-leha sedikit dalam satu minggu ini.

Soo Hyun menatap hamparan rumput yang menari tertiup angin di taman belakang kampusnya itu. Sangat indah, gumamnya. Begitu setianya angin yang selalu menemani rerumputan itu dan membuatnya menari bahagia seperti saat ini. Di detik kemudian ia tersenyum, senyum yang sekilas bila dilihat memang terkesan dipaksakan. Entah hatinya sedang mengarah kemana sekarang. Yang jelas ia sangat bingung dan… putus asa?

“Soo Hyun-ah!”

Tidak seperti biasanya, Soo Hyun sama sekali tidak menggubris panggilan dari suara cempreng tersebut. Ia masih memusatkan perhatiannya pada pemandangan di depannya.

“Han Soo Hyun!”

Soo Hyun dapat mendengar langkah kaki dari pemilik suara yang memanggilnya tadi kian mendekat. Dan saat ini tangan putih orang itu menepuk pundak Soo Hyun hingga gadis itu sedikit terlonjak.

“Kenapa kau tidak mengangkat telponku tadi pagi?” cerocos gadis itu langsung pada inti pembicaraan.

“Maaf, aku tidak dengar,” jawab Soo Hyun.

“Kau juga tidak mendengar berita infortaiment tadi pagi?”

Well, sebut saja namanya Park Yui. Gadis keturunan Jepang-Korea berponi rata ini memang maniak gosip. Tanpa melihat acara infortaiment, cukup mendengar gadis ini berbicara A sampai Z, kau langsung jadi ratu gosip—seperti dia saat ini.

Soo Hyun hanya menggeleng lemah, masih menatap lurus ke depan.

“Lalu Onew—eh—maksudku Jinki? Sudah mengabarimu belum? Atau menjelaskannya? Bagaimana?” tanyanya beruntun.

Mendengar nama Jinki, spontan Soo Hyun menoleh cepat, “Memangnya ada apa?”

Yui mendesah sebelum ia melanjutkan perkataannya, “Jadi kau belum tahu?”

Masih dengan tampang polos, Soo Hyun menatap Yui—masih ingin mendengar kelanjutan dari ceritanya.

“Pria itu—“

Yui membuang muka dengan sengaja agar mata mereka tidak bertemu. Tenggorokannya serasa tercekat. Ia menggantungkan kalimatnya, memberi otaknya sedikit waktu untuk menimbang-nimbang apakah ia akan memberi tahu sahabatnya ini atau tidak tentang berita yang tadi pagi dilihatnya di televisi, siapa lagi kalau bukan tentang leader SHINee bermata sipit—Lee Jinki aka Onew.

 “Apa? Kenapa Jinki?” Tanya Soo Hyun tidak sabar.

Sepertinya Yui harus cepat-cepat memeberi tahu sebelum gadis di depannya mati penasaran. Ya, memang harus.

“J-Jinki berkencan dengan seorang—gadis,” kata Yui pelan. Ia pun berharap Soo Hyun tidak benar-benar mendengarnya. Namun, perkiraannya salah. Soo Hyun sudah terlebih dulu menajamkan indera pendengarannya dan mendengar dengan hati-hati.

Gadis berambut panjang bergelombang itu justru menautkan alisnya hingga tampak segaris.

“Kau pikir aku ini apa? Pria jadi-jadian?” sahutnya.

“Bukan—maksudku—dia tertangkap kamera paparazzi sedang berkencan dengan seorang gadis dan itu—bukan dirimu!”

DEG

Apa Soo Hyun bermimpi? Apa telinganya tidak salah dengar? Apa berita itu—benar? Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Ia juga bisa merasakan pening di kepalanya yang semakin berdenyut tidak karuan. Ia masih…. Tidak percaya.

“Mwo?”

“Soo Hyun, jangan berpura-pura tidak mendengar. Aku bahkan tidak mau membahas hal itu. Tapi kau ngotot minta diberitahu,” tutur Yui dengan ekspresi memelas.

“Lagi pula, akan lebih baik jika kau mendengar dari mulutku daripada kau mendengar dari mulut pembawa acara infortaiment yang suka melebih-lebihkan fakta. Dan aku…. Bersedia meminjamkan pundakku untukmu.”

Seketika Soo Hyun jatuh di pelukan Yui. Benar, kakinya saja sudah tidak mampu menopang berat badannya yang normal. Bagaimana bisa hatinya menopang beratnya tekanan batin yang ia rasakan selama ini, bahkan hari ini menjadi puncaknya. Sekuat tenaga Soo Hyun menahan isakannya, namun apadaya isakannya justru bertambah semakin keras hingga mencuri perhatian beberapa orang yang sedari tadi berlalu lalang .

“Uljimayo. Gwaenchana, Soo Hyun-ah. Kau bisa membicarakan ini baik-baik dengan Jinki. Kau tahu sendiri, kan? Berita di televise tidak sepenuhnya benar.”

Yui mencoba menghibur Soo Hyun yang menangis di pelukannya, setidaknya hanya itu yang mampu ia lakukan untuk sahabatnya.

***

Soo Hyun memang sudah tidak bisa menahan sesak di dadanya. Apakah berita itu benar adanya? Pertanyaan yang sudah beribu kali muncul di otaknya namun tak kunjung ia temukan jawabannya. Sang narasumber sendiri belum memberi penjelasan.

Gadis itu, Soo Hyun, kini terduduk di kursi teras rumahnya. Tangannya masih setia menggenggam ponsel, berharap namja bermata sipit itu mengabarinya. Ia sudah jenuh berada di dalam rumah. Setelah menerima ceramah dari oppa-nya yang ternyata sudah tahu tentang gosip ini beberapa menit yang lalu, Soo Hyun tidak kunjung masuk ke dalam rumahnya.

Ia memilih untuk tetap berada di depan teras rumah sembari menyegarkan pikirannya sendiri. Matanya sudah membengkang dan merah bagaikan monster yang akan melahap mangsanya, namun tidak begitu dengan Soo Hyun. Sedari tadi sejak ia pulang dari kampusnya ia terus menangis. Ia bahkan tidak peduli setiap ia menyusuri jalanan, beberapa pasang mata tengah menatapnya heran. Mungkin mereka berpikir Soo Hyun gadis gila.

Kesabarannya serasa sudah cukup, cukup sampai disini. Ia memang sudah tidak mampu untuk bertahan lagi di sisi Jinki. Ya, pria yang lebih dikenal dengan panggilan Onew itu memang berbeda—jauh berbeda dengannya. Onew, seseorang yang berkilau di atas panggung bagaikan bintang di atas langit yang kian menjauh dari pandangan Soo Hyun. Toh, banyak orang yang ia pikir lebih memiliki cinta lebih besar untuk Jinki daripada dirinya.

Soo Hyun pun juga sadar, ia bukanlah seorang artis seperti Onew. Ia hanyalah seseorang yang seakan bersembunyi di belakang Onew—hanya itu. Kini mungkin saatnya ia harus keluar dari lingkaran yang terus membelenggunya—lingkaran dimana sebuah hubungan yang terjalin antara ia dan Onew.

Soo Hyun terus memutar otaknya, mencoba mencari alasan logis yang mendasari keharusan ia berpisah dengan seorang Lee Jinki. Dari mulai—ya, seperti Soo Hyun mungkin akan menjadi beban pria itu, Soo Hyun akan terus merepotkan Onew, Soo Hyun…. Hal buruk yang akan membuat karir Onew menjadi buruk.

Ia rasa semua ini harus diakhiri. Semua masalah harus berakhir, begitu juga dengan—hubungannya.

Soo Hyun memberanikan diri untuk menekan tombol nomor 1 di layar ponselnya—yang akan otomatis langsung terhubung pada ponsel Jinki. Ia meletakkan ponsel itu di samping telinganya. Masih terdengar nada sambung sejak beberapa detik yang lalu ia menekan tombol itu.

“Yeoboseyo?”

“Ya, Soo Hyun imnida.”

“Tidak perlu mengenalkan diri, aku sudah tahu pemilik suara merdu itu pasti Soo Hyun-ku.”

Benar saja, mendengar suara itu sudah membuat hati Soo Hyun seketika luluh. Entah dimana rasa amarah yang tadi menggebu-gebu mendadak hilang karena suara renyah Jinki di seberang sana.

“Soo Hyun, gwaenchana?”

“Ah, nde.”

“Saranghae.”

Apa ia tidak salah dengar? Kalimat sederhana yang hampir dua minggu tidak ia dengar tiba-tiba saja harus keluar dari mulut Jinki saat itu juga. Bagaimana bisa Soo Hyun menyampaikan maksudnya menelepon Jinki sedangkan Jinki perlahan merobohkan dinding pertahanannya. Sungguh, matanya perih. Tidak ada air mata tersisa untuk ditumpahkan saat itu juga.

Soo Hyun mencoba membungkam mulutnya sendiri, takut jika Jinki tau tentang hal yang ia lakukan saat ini—menangis.

“Soo Hyun? Kau menangis?”

“Jinki-ah..”

Soo Hyun memang tidak mampu menahan suara paraunya. Ia tidak peduli apakah Jinki menyadarinya atau tidak yang jelas ia harus menyampaikannya sekarang sebelum pikirannya berubah.

“Mari kita akhiri.”

“Maksudmu?”

“Mari kita akhiri hubungan ini. Semuanya, semua tentang kita, mari kita akhiri, cukup sampai disini.”

“….”

“Aku harap itu jawaban iya!”

Soo Hyun bergegas menutup teleponnya dan menumpahkan seluruh tangisnya. Ia yakin ini memang cara yang seharusnya ia ambil sedari dulu, walaupun sudah agak terlambat. Pipinya yang sudah kering saat itu juga basah dengan air mata yang lebih banyak. Ia tidak lagi harus memperdulikan seseorang yang sepertinya sudah tidak memperdulikannya. Ia tidak lagi harus menunggu seseorang yang tidak akan menemuinya. Dan ia tidak lagi harus mencintai seseorang yang tidak benar-benar mencintainya.

Ya, rasa lelahnya terbayar sudah. Paling tidak hari ini dan hari-hari selanjutnya bebannya akan berkurang. Meskipun butuh waktu untuk melupakan seorang Jinki yang hampir setiap hari menguasai otaknya, ia yakin ia pasti bisa melupakannya. Pasti.

***

Cahaya matahari yang kian benderang menerangi kotaSeoul siang itu. Awal musim semi yang indah untuk mengawali hari. Bunga-bunga yang tampak bermekaran berlomba-lomba menarik perhatian para pengunjung taman yang sedang asyik bersenda gurau. Tidak sedikit juga yang hanya sekedar me-relax-kan tubuh dan mencium aroma musim semi yang begitu khas.

Seperti yang dilakukan Soo Hyun saat ini. Gadis dengan rambut hitam kecoklatan itu tengah terduduk di salah satu bangku yang tersedia di taman itu. Rambutnya yang terselip di belakang daun telinganya saat itu juga ikut berayun tertiup angin musim semi yang hangat.

Matanya terfokus pada sebuah buku novel sekitar 200 halaman yang sekarang ia genggam dengan salah satu tangannya, sedangkan tangan sebelahnya asyik memainkan jemarinya dengan lincah membolak-balik halaman novel.

Sesekali senyum tipis terukir di wajahnya tatkala beberapa kalimat menarik dan menghibur yang disajikan di novel tersebut. Namun, tak jarang pula raut wajah kecewa terpancar dari wajah cantiknya, mengetahui beberapa adegan sedih dari novel karya salah satu penulis terkenal di Korea Selatan yang baru ia beli kemarin sore di toko buku yang tak jauh dari rumahnya.

Dilipatnya bagian ujung kertas halaman terakhir yang ia baca. Masih tersisa beberapa halaman di belakang bagian kertas yang ia lipat tadi. Ia memang sengaja tidak langsung merampungkan novel itu—membiarkan rasa penasarannya akan akhir cerita novel itu terus bersarang di otaknya. Ditutupnya novel itu hingga menimbulkan efek suara debaman yang tidak begitu keras.

Soo Hyun menatapa ujung sepatu kets-nya, tidak melihat seutuhnya karena di detik kemudian pandangannya beralih pada pemilik sepasang sepatu boots di depannya. Kaki jenjang dengan sepatu boots yang tampaknya terbuat dari kulit bintang asli itu berdiri kurang lebih satu meter dari tempatnya duduk saat ini. Cukup dekat. Kaki itu kian mendekat hingga akhirnya menyisakan beberapa centimeter jarak antara kaki Soo dan kaki bersepatu boots itu.

Dengan hati-hati Soo Hyun berusaha mendongakkan kepalanya untuk melihat siapakah pemilik kaki itu. Sinar matahari yang tepat berada di belakang orang itu membuat sebuah siluet bayangan dari seseorang yang tampaknya adalah seorang pria itu, membuat Soo Hyun memicingkan matanya menghindari sinar matahari yang begitu terik. Tanpa sadar tangannya ikut terangkat ke atas hingga menutupi sebagian matanya namun ia tetap berusaha melihat pria yang sedari tadi diam terpaku tanpa sepatah kalimat pun—membuat Soo Hyun semakin penasaran.

“Annyeong, Han Soo Hyun,” sapa pria itu. Suara itu begitu khas sehingga membuat Soo Hyun otomatis mengingat nama pria berambut pirang yang berdiri di depannya dan kemudian sedikit bergeser ke kiri sehingga Soo Hyun dapat melihatnya dengan jelas.

“Oh, ternyata kau, Kibum.”

Soo Hyun meletakkan novel yang tadi ia genggam dan menepuk-nepuk bagian kosong dari bangku yang ia duduki saat ini—memebri isyarat pada pria bernama Kibum untuk duduk di sampingnya.

Pria bermata kucing itu hanya menurut. Sesaat kemudian ia memejamkan matanya. Di hirupnya udara yang berada di sekitarnya, bahunya ikut naik saat ia mulai menghirup dan turun seketika saat udara tadi keluar dari lubang hidungnya.

“Hari yang indah, bukan?”

Kibum mulai membuka topinya namun, masih ada kacamata yang melekat di matanya. Ya, dia adalah member SHINee yang lebih dikenal dengan panggilan Key sekaligus sahabat Soo Hyun. Seorang artis yang sangat bawel yang pernah dikenal Soo Hyun.

Soo Hyun hanya bergumam menjawab pertanyaan Kibum tadi. Ia pikir pria itu pasti sedang berbasa-basi. Pasti ada topik pembicaraan yang lebih penting yang akan ia bicarakan mengingat banyak panggilan terlewatkan dari Kibum beberapa hari ini di ponsel Soo Hyun.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Kibum yang kini benar-benar menatap Soo Hyun.

“Baik. Kau?”

“Kau bisa lihat? Aku sedang menikmati hari-hari di musim semi pertama di Seoul. Aku sudah bosan memakai jaket ini.”

Sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang ingin Soo Hyun sampaikan pada Kibum. Mengenai… keadaan Onew? Hey, bolehkan jika hanya menanyakan keadaan? Toh, sudah 2 minggu sejak perbincangannya di telepon dengan pria itu, ia tak pernah mendapat kabar lagi dari Jinki. Ia mulai belajar menjauhkan segala hal yang berkaitan dengan Jinki. Melihat sikap Jinki yang tidak menghubunginya lagi sejak kata putus diantara mereka, Soo Hyun yakin Jinki pasti sudah melupakannya, melupakan Soo Hyun. Dan mungkin saja pria itu sudah memiliki penggantinya.

“Kau tidak bertanya keadaan Onew?” Tanya Kibum yang berhasil memecahkan lamunan singkat Soo Hyun.

“Siapa Onew. Artis itu ya?” Tanya Soo Hyun dengan tampang polos.

Kibum buru-buru menutup mulutnya, cepat-cepat ia meralat perkataannya tadi.

“Jinki. Lee Jinki,” jawabnya kemudian.

“Oh, Bagaimana keadaannya? Aku yakin pria itu makan ayam dengan banyak, iya ‘kan?” tebak Soo Hyun asal.

Kibum tersenyum pahit lalu menatap lurus pemandangan di depannya dengan kosong.

“Buruk. Amat sangat buruk.”

Alis gadis itu seketika terangkat. Tidak paham.

“Apa kau tidak melihat penampilan kita belakangan ini? Kita sering tampil tanpa Jinki hyung. Pria itu… bodoh!” lanjut Kibum dan berakhir dengan tawa hambarnya.

“Ada masalah?”

“Pastinya,” jawab Kibum mantap, “Pria itu… sering mengurung diri di dorm. Ah, aku bahkan merasa ragu jika menyebutnya ‘pria’ karena ulah kekanak-kanakannya itu.”

Miris memang mendengar pernyataan dari Kibum mengenai keadaan Jinki saat ini. Tapi, Soo Hyun bisa apa? Ia bukan siapa-siapa lagi di hati Jinki.

“Apa kau tidak ingin kembali kepadanya?”

Tubuh Soo Hyun seketika menegang mendengar pertanyaan Kibum. Kembali? Kembali pada… Jinki?

“Kibum-ah, semua ini sudah berakhir. Semua yang sudah berakhir tidak mungkin diulang kembali. Lagipula akan lebih baik jika kita menjalani hidup masing-masing.”

Pria yang seumuran dengannya itu kemudian berdecak.

“Tidak begitu dengan Onew—maksudku—Jinki, ia tidak bisa hidup sendiri. Ia hanya mampu hidup berdampingan denganmu. Hanya itu,” tutur Kibum.

“Kau mulai bercanda—“

“Aku tidak bercanda!” sergah Kibum cepat.

Soo Hyun sedikit tersentak dengan intonasi Kibum yang semakin meninggi. Ia berusaha memalingkan wajahnya hingga ia hanya mampu melihat Kibum lewat ekor matanya.

“Ya, Han Soo Hyun, tatap aku!” Kibum meletakkan kedua tangannya di atas bahu Soo Hyun, berusaha mengubah arah pandang gadis itu hingga memandang ke arahnya.

“Kau masih mencintai Jinki, kan?”

Jujur, Soo Hyun ingin sekali menjawab pertanyaan  Kibum tadi dengan jawaban ‘tidak’ secara langsung. Tapi, entah mengapa serasa ada sebuah batu yang menjanggal tenggorokannya. Satu kata itu sangat sulit ia keluarkan karena itu adalah sebuah kebohongan. Kebohongan belaka. Bibirnya mulai bergetar mencoba mengeja kata demi kata yang akan keluar dari mulutnya, sedangkan otaknya mencoba berpikir jernih.

“Aku bisa menebaknya,” kata Kibum setelah Soo Hyun terdiam cukup lama—tidak memberi jawaban.

Pria itu kemudian mengendurkan genggaman tangannya di bahu Soo Hyun, lalu melepasnya begitu saja setelah berhasil menangkap maksud Soo Hyun yang sedari tadi terdiam.

“Ayolah, Soo Hyun. Apa susahnya kembali bersama Jinki? Kau masih mencintainya begitu pun juga dengan Jinki. Kalian ini sangat cocok.”

“Tidak. Kita sama sekali tidak cocok. Banyak perbedaan diantara kami termasuk status sosial kami. Jinki adalah seorang bintang. Seorang bintang yang harus selalu bersinar. Dan aku hanya akan meredupkan sinarnya.”

Kibum lagi-lagi mendesah. Bingung akan jalan pikiran sahabatnya itu.

“Dan juga… Seorang Onew pasti sangat mudah menemukan wanita yang lebih baik daripada aku. Dia masih muda, tampan, seorang artis pula. Siapa yang tidak mau menjadi kekasihnya?”

“Yang aku inginkan hanyalah melepasnya. Well, aku juga bisa sebagai beban untuknya. Aku… bukanlah orang yang tepat untuk berada di sisi Onew—sang idola.”

“Hentikan omong kosongmu, Soo Hyun. Yang harus kau lakukan adalah ikut denganku! Akan kutunjukkan seberapa benarkah pemikiranmu tentang ‘bintang yang bersinar’ itu!”

***

Soo Hyun menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya. Bangunan itu bukanlah hal asing baginya karena dulu beberapa kali ia kerap mengunjungi tempat itu. Ya, disinilah dia berada. Tempat dimana member SHINee kerap berkumpul. Bukan sebuah dorm, hanya tempat untuk istirahat karena gedung yang disebut apartement itu terletak di pusat kota, sehingga cukup menjangkau jika beberapa acara musik dari stasiun TV mengundang mereka.

Gedung itu tidak banyak berubah sejak Soo Hyun terakhir kali kesana. Etalase kaca yang terbuat dari kaca berwarna gelap sehingga dapat memantulkan bayangan dari luar sana. Soo Hyun kembali menatap gedung tersebut setelah ia menunduk beberapa saat—mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan adalah hal yang benar.

“Hey, mau sampai kapan berdiri disitu? Ayo masuk!” ajak Key lalu berjalan lebih dulu, sementara Soo Hyun mengekor di belakangnya.

Pintu lift kemudian terbuka. Soo Hyun masih tidak yakin ingin melanjutkan langkahnya. Benar, di depannya sudah terpampang pintu apartement bertuliskan 3 digit angka yang sangat ia hafal betul. Tidak hanya itu, desain interior ruangan tersebut yang memang berbeda dari ruangan yang lain juga masih melekat di otak gadis yang menginjak usia 21 tahun tersebut.

Soo Hyun menghela nafas, membuang rasa ragunya jauh-jauh dan membulatkan tekadnya untuk melanjutnya langkahnya masuk ke ruangan itu hingga ia bertemu Jinki, hanya bertemu, ‘kan? Setidaknya rasa rindunya bisa sedikit terkikis setelah melihat wajah pria pemilik mata sipit itu. Tunggu… rindu? Bahkan, sepertinya tidak pantas rasanya Soo Hyun memiliki  dan merasakan hal tersebut.

Key menarikan jarinya lincah di atas tombol-tombol pembuka kunci pintu itu hingga terbentuk sebuah kode—Soo Hyun hafal betul kode itu. Perlahan tapi pasti, kedua orang yang sebelumnya berada di luar pintu mulai merangkap masuk ke ruang pertama—ruang tamu. Deritan pintu terdengar keras sehingga membuat 2 penghuni ruang itu ikut mengarahkan pandangan mereka menuju pintu yang baru saja terbuka.

Dua pria itu menatap sang tamu dengan pandangan penuh tanya. Salah satu pria dengan matanya yang besar ikut berdiri—tanpa melepaskan pandangannya. Sementara pria yang lebih pendek di sampingnya masih tetap duduk.

“Hello!” sapa Key dengan logat bahasa inggrisnya—mencoba mencairkan suasana yang tadinya begitu hening.

“Oh, kau, Soo Hyun. Silahkan masuk,” tawar Minho—pria bermata belok.

  Soo Hyun hanya bergeming kemudian melanjutkan derap kakinya dan duduk di sofa di depan Minho.

“Pasti ingin bertemu Jinki?” tebak Jonghyun diiringi dengan kerlingannya.

Minho cepat-cepat menyenggol perut pria yang lebih pendek darinya itu. Membuat Jonghyun meringis menahan sakit. Seakan mewakili perkataan Minho, “Hey, ini bukan keadaan dimana Soo Hyun masih bersama Jinki. Tidak seharusnya kau melakukan dan menanyakan hal tersebut,” ya, kurang lebih begitu.

“Dimana Taemin?” tanya Key kembali dengan aksen keibuannya.

“Dia sedang ke supermarket,” jawab Jonghyun.

“Sudah siap?” pandangan Key beralih pada Soo Hyun.

Kedua pria di depannya ikut menatap Key dan Soo Hyun bergantian. Sedetik kemudian mereka mulai paham maksud pembicaraan ini, siapa lagi kalau bukan tentang hyung mereka?

Soo Hyun bergegas bediri dari tempat duduknya. Mengikuti Key dari belakang menuju kamar Jinki.

“Ini dia. Kau bisa lihat,” seru Key.

Soo Hyun masih menatap bingung ke arah Key kerena kata-kata yang dikeluarkan pria tersebut, sedangkan Key perlahan membuka kenop pintu di depannya—pintu kamar Jinki. Key menjulurkan kepalanya masuk tanpa disusul badannya.

“Ya! Onew hyung, ayo kita makan! Aku membawakan makanan kesukaanmu!” seru Key dengan nada riang yang dibuat-buat.

“Aku bilang jangan masuk!” bentak Onew dari dalam.

Key hanya bergidik ngeri dan kembali menutup pintu itu. Soo Hyun ikut tersentak meskipun seruan tadi bukan ditujukan untuknya. Tidak menyangka, pria yang selalu tampak lembut penuh senyum dan berperilaku manis di depannya bisa mengeluarkan suara dengan intonasi setinggi itu. Bahkan, mungkin saja bisa terdengar sampai ke luar.

Minho dan Jonghyun yang mengintip dari ruang tamu ikut bergidik—hampir bersamaan dengan Key.

“Dia seperti orang gila. Apalagi setelah manager hyung menegurnya beberapa hari kemarin,” ujar Key. Tampak kegusaran di wajah Key. Mimik itu tidak dibuat-buat, entah dia sedang mendalami perannya atau memang ia sedang gusar, pikir Soo Hyun.

Soo Hyun memberanikan diri membuka pintu itu. Walaupun awalnya ia sedikit grogi, toh itu yang harus ia hadapi. Mengetahui kondisi mantan kekasihnya itu dan membuktikan perkataan Key yang terdengar berlebihan tentang Jinki.

CEKREK

Soo Hyun tidak berani masuk, ia hanya mengintip dari celah pintu, namun masih bisa menandakan orang di dalam bisa melihatnya. Oh, Soo Hyun terperanjat. Ruangan yang dulu kerap ia masuk ke dalamnya berubah 180 derajat. Dulu, ruangan itu tampak rapi dan bersih karena sang pemilik selalu merawatnya dengan baik. Tapi, saat ini juga, Soo Hyun masih tidak percaya. Tidak ada satupun benda yang terletak pada tempat seharusnya.

Beberapa kaset yang tergeletak di lantai dan ada sebagian yang sudah pecah. Meja, kursi, serta hiasan-hiasan dinding hanya seperti perusak pemandangan—tidak pada tempatnya dan tergeletak sembarangan. Sungguh, baru pertama kali ini Soo Hyun melihat kamar Jinki tak beraturan.

Hanya Jinki yang masih setia pada tempatnya. Duduk dan bersandar pada kepala ranjang serta menggantungkan headset di telinganya sembari memejamkan mata. Kakinya yang putih tanpa di balut apa-apa dibiarkan sedikit menggantung di tepi ranjang. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Baju yang ia kenakan pun sepertinya belum diganti karena ia masih memakai jas dan celana pendek selutut—khas dengan konsep Dream Girl mereka.

“Aku bilang jangan masuk ke kamarku kecuali Soo Hyun!!” pekik Jinki sedikit lebih keras dari sebelumnya—menyadari seseorang tengah berdiri di ambang pintu tanpa tahu siapa orang itu.

Soo Hyun memberanikan diri untuk masuk dan berkata, “Aku Soo Hyun.”

Perlahan, Jinki membuka matanya. Pandangannya tak lain dan tak bukan terarah pada suara dari ambang pintu kamarnya. Matanya kian membesar menyadari siapa seseorang yang sedang berdiri di depannya. Jinki bangkit dari ranjangnya, menapakkan kakinya ke lantai, dan mulai berjalan gontai menuju Soo Hyun berada. Headset-nya di lepas dan diletakkan di atas kasur sembarangan. Yang ada di otaknya hanyalah Soo Hyun dan Soo Hyun.

Tubuh gadis itu sedikit bergetar. Bahkan, ia bisa menumpahkan air matanya saat itu juga dengan melihat wajah Jinki. Hanya saja ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria itu, pria yang sedang berjalan ke arahnya dengan sebuah senyum. Oh, Senyum itu sangat ia rindukan. Baiklah, mungkin sekarang Soo Hyun sudah mulai merindukan semua hal tentang Jinki. Senyum yang tak bosan menampilkan deretan giginya yang rapi, mata yang tampak segaris saat ia tersenyum, membelai rambutnya yang dicat kecokelatan, memeluk tubuhnya—semua sangat ingin ia lakukan.

Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin ia lakukan saat ini. Ia tidak lagi memiliki hak untuk melakukan hal-hal tersebut. Pria itu bukan miliknya lagi. Ia tidak bisa semena-mena melakukan semua itu meskipun sangat ingin ia lakukan.

“Soo Hyun,” bisik Jinki dalam tangis dan senyumnya.

Soo Hyun menggigit bibir bawahnya semakin kuat saat Jinki mulai berjalan lebih dekat. Entah rasa bahagia atau sedih yang seharusnya mewakili perasaannya. Entah mengapa bibirnya sama sekali tidak terasa sakit. Justru dadanya yang semakin sakit dan sulit bernafas.

“Soo Hyun-ah, mianhae.”

Ya, Soo Hyun sukses jatuh di pelukan Jinki. Pria itu merengkuh tubuh gadis mungil itu dengan sekuat tenaga. Berusaha agar gadis itu tidak akan lepas lagi darinya. Meletakkan dagunya di ujung kepala Soo Hyun dan menumpahkan semua tangisnya.

Begitu pula dengan Soo Hyun. Tangisnya pecah seketika. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jinki dan terus menangis. Bukan isakan lagi yang keluar dari bibirnya—teriakan. Teriakan dari hatinya yang selama ini selalu ia pendam. Semua rasa bencinya dengan Jinki yang tak pernah tersampaikan.

Perlahan Soo Hyun mengendurkan pelukannya, berusaha lepas dari dekapan Jinki, namun pria itu masih ingin terus bertahan dengan posisi tersebut. Membuat Soo Hyun harus sedikit memaksa sampai ia benar-benar lepas dari pelukan Jinki.

“Jinki-ah..”

“Soo Hyun, kau kemari karena kau menyesal, ‘kan, sudah melepasku? Kau ingin kembali bersamaku, ‘kan? Kembalilah denganku, Soo Hyun,” seru Jinki dalam isakannya.

Soo Hyun diam sejenak. Ia harus menjawab apa? Toh yang ia katakana nanti pasti berbanding terbalik dari kenyataannya.

“Maaf, Jinki. Aku tidak bisa.”

“Wae?”

“Aku sudah sering mengatakannya padamu. Jadi tidak perlu kau tanyakan lagi.”

“Tapi, aku bisa merubah sikapku. Aku bisa melakukan segalanya untukmu, Soo Hyun!”

Jinki mendekat pada Soo Hyun. Menatap gadis itu tajam, seakan meyakinkan perkataannya adalah benar.

“Mungkin sekarang akan berat. Tapi, besok, lusa, seminggu kemudian, sebulan, dan seterusnya…. Aku yakin kau bisa melupakannya.”

“Mottae!!”

“Jinki-ssi, kehilangan seseorang yang mencintaimu itu tidak berpengaruh besar. Kau masih memiliki keluarga, teman, serta ribuan fansmu yang selalu setia mencintaimu.”

“Tapi, kehilangan satu-satunya orang yang aku cintai itu sangat fatal bagi kehidupanku, Soo Hyun. Kau tidak tahu, ‘kan? Aku terus memikirkanmu, sepanjang jalan, sepanjang malamku, sepanjang hari-hariku, kau selalu di otakku. Aku mohon maafkan aku, Soo Hyun.”

“Kau hanya belum bisa melupakanku. Setelah kau menemukan gadis yang lebih cantik dariku, kau pasti bisa.”

“Aku bilang tidak bisa! Kau tidak dengar, Soo Hyun? Aku tidak bisa!”

Rasa sesak di dadanya semakin terasa. Melihat pria di depannya mengatakan sulit untuk melupakannya—membuat ia semakin sulit untuk melepasnya. Tidak bisakah Jinki membiarkan kehendaknya? Tidak bisakah Jinki mengatakan “Baik. Aku akan melupakanmu”? Kenapa Jinki harus mempersulit keadaan seperti ini?

Soo Hyun berusaha menelan cairan di mulutnya dengan susah payah. Agar pria itu mampu mendengar perkataannya dengan jelas tanpa perlu minta diulang.

“Lee Jinki, aku juga tidak mengerti. Selama ini mungkin aku sudah jatuh ke dalam karismamu yang selalu bersinar, sehingga aku buta akan segalanya karena sinarmu dan aku pun tidak menyadari perbedaan kita.”

“Dulu saat aku menerima cintamu. Aku merasa senang sekaligus merasa bodoh. Aku ragu, entah hubungan ini akan bisa bertahan seperti sepasang kekasih normal lainnya. Namun, setelah beberapa waktu aku menyadari satu hal bahwa kau dan aku memang berbeda. Saat perlahan kau semakin jauh dan semakin sulit untuk kugapai, aku semakin menyadari itu. Dan aku berterimakasih padamu karena mampu menyadarkanku lewat keberadaanmu yang semakin menghilang dari sisiku.”

“Aku mencintaimu, bahkan sampai saat ini. Aku masih tidak bisa melupakanmu. Entah mantra apa yang kau ucapkan saat aku berada disisimu. Aku juga sama tersiksa untuk perpisahan ini. Namun, jika ini memang jalan keluar satu-satunya agar aku masih bisa bertahan hidup walaupun tak disisimu lagi. Bukannya aku egois karena mengambil keputusan sepihak tapi, aku sangat berharap pengertianmu, Jinki. Aku mohon…”

“Soal skandal itu… Aku sama sekali tidak percaya. Benar atau tidak kau memiliki hubungan dengan Jung Ah eonni aku tidak peduli. Mungkin kau pikir aku egois tapi, memutuskan hal tersebut dengan pikiranmu. Bukan—bukan aku yang egois. Tapi perasaan ini… perasaanku padamu. Merasa memilikimu seutuhnya padahal tidak. Maafkan keegoisanku selama ini.”

Soo Hyun melepaskan genggaman Jinki yang rasanya semakin mengendur. Mungkin karena pria itu terlalu fokus dengan perkataan Soo Hyun sehingga ia tidak menyadari tangan gadis itu sudah berada di depan wajahnya dan mengusap sisa-sisa air mata yang tadinya menetes dan mulai mengering. Ia berusaha mengembangkan senyumnya, meskipun itu terlihat pahit ia tetap tidak peduli. Ia hanya ingin meyakinkan Jinki bahwa ia memang baik-baik saja—padahal tidak.

“Aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan menyudut di kamar sendirian seperti tadi. Tersenyumlah dan hadapi hari barumu. Tersenyumlah seperti saat kau memamerkan senyummu untukku. Hiburlah fans-fans mu dengan suaramu seperti saat kau menghiburku. Oh, ya—”

“Soo Hyun-ah…”

“Aku akan tetap menjadi fansmu. Selalu mengoleksi postermu, melihatmu di televisi, memandangi wajahmu sebelum aku tidur. Dan sepertinya aku akan banyak mengedit fotoku dengan fotomu dengan photoshot. Mungkin kau pikir aku sudah gila ya? Tapi—”

Jinki menarik tubuh Soo Hyun agar mendekat ke arahnya. Semakin dekat hingga menghapus jarak diantara mereka. Hingga akhirnya Jinki mengecup bibir Soo Hyun. Hanya kecupan ringan namun, dapat diharapkan mampu mengubah pikiran Soo Hyun saat itu juga. Tapi, sepertinya sulit karena Soo Hyun benar-benar sudah membulatkan tekadnya.

Perlahan, Jinki melepas tubuh Soo Hyun. Membiarkan gadis itu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah sempat sesak nafas karena perlakuan Jinki.

“Selamat tinggal, Lee Jinki. Sekarang kau bisa benar-benar menjadi Onew. Fighting!”

“Aku akan menyusulmu suatu hari nanti,” kata Jinki masih di tempatnya. Sedangkan Soo Hyun sudah tidak berada di tempatnya, fasadnya perlahan menjauh dari pandangannya. Soo Hyun berbalik, menatap mata Jinki yang masih terus mengawasinya hingga menghilang dari pandangannya. Ia kembali berjalan sampai ia keluar dari kamar Jinki. Ia takut jika ia masih di tempat itu ia akan berubah pikiran.

Tak selamanya perpisahan itu buruk. Jika kau mampu memahami makna di balik perpisahan itu sendiri, kau pasti setuju denganku, ‘kan? Ya, terkadang kita harus berani mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat dan akhirnya menyesal. Termasuk perpisahan ini. Ini adalah keputusanku. Bisikan dari tuhan—Han Soo Hyun.

END

Meskipun semua ini menyakitkan, aku tidak peduli, aku baik-baik saja

Karena aku akan bertemu denganmu saat ini juga

Aku sungguh sangat merindukanmu setelah sekian lama kau pergi dariku

Hari dimana hatiku begitu berdebar, untuk bertemu denganmu meski hanya sementara

Hari dimana bibirku terukir senyum, meski hatiku terluka

Hari dimana aku tidak berhak lagi mengucapkan ‘aku mencintaimu’

Hari dimana kita berpisah dan membuat hatiku berdebar seperti ini

Tapi aku bahagia bisa melihatmu lagi

Aku mencintamu… Aku mencintaimu…

Kata yang terus kuucap di setiap langkahku

Aku tidak merasa tersakiti karena aku mencintaimu

Super Junior – A Goobye

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “The Last Journey”

  1. Mmmmmm… bingung mo komen apa..
    ceritanya bagus, sedih juga siy Soo Hyun pisah ma Jinki.. -_-
    Kisah ceritanya nyambung juga kasus Jinki kemaren..

    Hatinya si Soo Hyun kuat juga ya, siap buat ngelepas Jinki. Klo saya yang jadi Soo Hyun mungkin gak mau ngelepas si Jinki, walaupun sakit hati.. 😛

    Ok Eki, ditunggu karya lainnya ya.. 🙂

  2. soo hyun kuat bangeeet, sama kaya para MVP’s waktu issue nya onew sama jungah :”””
    kasian soo hyun, daebaak ff nyaa

  3. “Aku akan tetap jadi fansmu,mengoleksi postermu.melihatmu di televisi dan memandangi wajahmu sebelum aku tidur”

    gatau kenapa,itu kalimat kok dalem 😦

  4. Ehmmm…. gimana ya… bingung mo koment apa…. luar biasa dalem sedihnyaaaa…. huwaahhh… #lebay.com

    intinyaaaa… aku suka lagunya di ending…. hehehe

    keep writing ya!!

  5. Author aku nangis bacanya T_T,,

    “Aku tidak merasa tersakiti karena
    aku mencintaimu”

    Kata” nya mengingatkan ku akan kisahku saat ini,,

    Mencintai tapi tak harus memiliki

  6. Soo Hyun kerreeennnnn….!!!!
    Butuh hati yang besar untuk membuat keputusan spt itu…
    Daebakkk!!!!

    Hahhaahhaaaa…. Pasti buat ni FF terinspirasi
    dr foto Onew-Jungah yg sempet bikin geger
    Aku aja sampe syok, n sempet gak konsen dgn trening kerjaku…
    Tapi, syukur buru2 nyadar, emang aku siapa??
    cuma fans. Seorang idola punya kehidupan sendiri
    Punya hak untuk melakukan apapun yg buat mereka bahagia.
    aku sudah seharusnya mendukung apapun pilihan sang idola
    selama itu mmbahagiakannya
    Seperti halnya karya dan penampilan mereka telah menghibur
    bnyak orang termasuk aku
    maka giliran aku ikut bahagia dgn kebahagiaan mereka…

    sekali lg ni FF melalui karakter Soo Hyun buat aku sadar….
    betapa lebaynya aku nanggepin foto itu tempo hari….
    kekekekeee… jd malu sendiri

    Tapi, tetep komen2ku di FF bakal terus mengikutsertakan Jinki..
    heheheee…. emang dasar udah tebel ni muka…
    #dijambak MVP

  7. hweeeeeeee
    pas bagian gosip2 itu udah nebak pasti ini scandal sma ahjuma, eh ternyata bener T.T
    nice ff thor c:

  8. kuereeeen :'<
    feelnya kerasa banget eon, aku seneng banget dapet ff yang sedih dan cara authoe ngedreskipsiin nya aku suka bangeet 0-0b
    keep writing!!!

  9. keren thor!!!
    salut banget sama Soo Hyun yang nunggu Jinki & mutusin hubungan demi kebaikan masing-masing
    tapi kasian juga sama Jinki
    mudah-mudahan dia bisa move-on ke ayamnya(?)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s