The Misconceptions of You [2.2]

cover ff The Misconceptions of You

Title : The Misconceptions of You (2.2)

Author : yongie_jjong

Main Cast : Lee Jinki (Onew), Kim Jonghyun

Support Cast : Jang seonsaengnim (‘killer math teacher’), Lee seonsaengnim (Guru BK), Jung Yonghwa (CNBLUE), Choi Sooyoung (SNSD)

Length : Twoshot

Genre : Friendship, Angst, a little comedy, School-life

Rating : Teen

Summary : Jinki dan Jonghyun adalah sahabat. Tetapi suatu hari mereka harus berselisih hanya karena kesalahpahaman.

Hai semua~~ Aku bawa OnJong!!!! Couple yang langka ini #eh *dilempar batu bata*
Kali ini aku buat judulnya terinspirasi sama album baru mereka : Dream Girl – The Misconceptions of You. Jadilah ff ga jelas ini -_____-

Ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata author sendiri, tapi udah diubah-ubah ya! juga waktu ultahnya OnHo di SWC 2 Singapura, hehe. Ya udah, Enjoy!

Disclaimer : All the storyline made by yongie_jjong!

Sebuah masalah sepele yang membuat hubunganmu dan sahabatmu merenggang.Hanya karena nilai ulangan… dan kesalahpahaman, mungkin?

Mungkin ia tidak mau tahu lagi bagaimana kabarmu dan siapa kau. Tapi mungkin saja ia ingin berbaikan denganmu dan kembali jadi sahabatmu…

Ayolah, mencari sahabat itu susah. Apalagi yang bisa mengerti dirimu dengan baik. Dan kuharap hubungan kalian membaik suatu saat nanti.

The Misconceptions of You (2.2)

 

Bagus. Jonghyun sudah kehilangan kepercayaan dari semua orang.

Jonghyun menundukkan kepalanya. Apa yang telah ia lakukan? Sekarang ia telah kehilangan teman-teman sekelasnya, juga… Jinki, sahabatnya. Ia benar-benar tertekan. Ia merasa tidak hanya bodoh di bidang akademik, tapi ia memang benar-benar sangat bodoh. Ia telah mengecewakan semua orang.

Ini menyebalkan sekali. Tindakannya memang bodoh. Sebodoh otaknya.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

Jinki tidak habis pikir. Anak itu benar-benar…

“Sial!” sahutnya keras sambil menendang tong sampah yang ada di depannya, hingga isinya berhamburan di halaman. Ia segera berlari menjauhi halaman sekolah, takut ketahuan ia yang menendang tong sampah itu. Hukuman hanya akan membuat emosinya bertambah.

Jinki mengurung dirinya di sebuah ruangan tidak terpakai di bawah tangga.Ia melampiaskan kekesalannya sambil memukulkan tangannya ke arah sebuah jendela.

“Dasar anak nakal tidak tahu diri!”

PRAANGG!!

Hantaman Jinki berhasil membuat kaca jendela tersebut pecah dan belingnya berserakan di lantai. Ia menatap kaca jendela yang pecah itu dengan emosi sambil mengepalkan tangannya yang berlumuran darah.Tak lama tatapannya berubah kosong, lalu ia terduduk dan menangis sejadi-jadinya.

“Babo…”Jinki kembali memukul lantai ruangan tersebut, tangannya semakin parah-sekarang darahnya berhamburan di lantai. Seumur hidupnya, tidak pernah ia sekecewa ini, kalau bukan karena sahabatnya yang telah memanfaatkannya itu. Apa karena sangtaenya yang terlalu parah, sehingga ia tidak mengerti bahwa Jonghyun hanya memanfaatkannya? Ataukah anak berandalan itu yang terlalu pintar -mungkin lebih pintar darinya-? Atau sebenarnya ia yang terlalu bodoh?

Penyesalan selalu datang terambat. Bahkan sekarang ia sangat menyesal karena tidak berhati-hati dalam memilih teman. Tidak, mungkin ia menyalahkan otaknya yang pintar, yang menjadi sasaran empuk teman-temannya.Haruskah ia bersikap dingin pada semua orang agar kejadian ini tidak terulang lagi untuk kedua kalinya? Tidak. Itu hal yang sangat bodoh. Tangisannya semakin keras, menggambarkan kekecewaannya dan kemarahannya…

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

“Hei, Jonghyun-ah? Kau tidak mengejar Jinki?” tanya Sooyoung pelan. Kelas 3-2 hening sesaat karena ketegangan yang terjadi beberapa waktu lalu. Sekarang Sooyoung yang memberanikan diri untuk berbicara dengan Jonghyun.

“Huh, bukan urusanmu,” jawab Jonghyun ketus. “Kau saingannya, kan? Untuk apa kau menanyakannya dan peduli padanya? Cih,” lanjutnya sambil tersenyum licik dan mengalihkan pandangannya dari Sooyoung.“Dia sudah memukul dan memarahiku seperti itu, tidak mungkin aku mengejarnya,” jelasnya. “Lagipula aku hanya ingin otaknya.”

“Eh?” Sooyoung terbelalak kaget mendengar penjelasan Jonghyun. “Bukannya ia sahabatmu?” tanya Sooyoung sambil mengambil kembali daftar nilai kopian yang ada di meja Jonghyun.

“Sekarang bukan lagi,” jawabnya sambil tertawa garing. “Biarkan saja. Toh aku sudah lolos dari 100 soal itu,” jawabnya enteng.

Sooyoung semakin kaget. Jadi selama ini Jonghyun hanya memanfaatkan Jinki? Lalu apa Jinki tidak sadar akan hal itu? Apa karena virus sangtaenya yang sudah dikenal banyak orang itu?‘Ck, anak ini benar-benar jahat,’ pikirnya.

“Baiklah, kalau itu maumu. Terserah kau… Pencontek.”

Sooyoung bangkit dari bangku sebelah Jonghyun, meninggalkan Jonghyun sendirian.

Jonghyun kembali menunduk.Kali ini ia benar-benar menyesal.Ia terlihat tertekan, ia mengacak rambutnya dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.

Ia semakin tertekan saat ia teringat hari-harinya bersama Jinki. Ketika ia sedih seperti ini Jinki selalu menenangkannya, menghibur Jonghyun dengan sangtaenya itu. Jinki yang selalu membantunya di saat ia kesusahan. Jinki yang ikut merasakan kebahagiaannya ketika ia senang. Jinki yang selalu mengerti dirinya, selalu menemani hari-harinya. Sahabat terbaiknya.

Tapi semuanya sudah sirna. Tidak ada lagi Jinki yang selalu bersamanya. Semua itu hilang hanya karena nilai ulangan harian yang tidak berarti apapun dibandingkan persahabatan mereka. Meminta maaf pada Jinki? Ah, dia belum siap untuk dimarahi dan disakiti lagi.

Akhirnya Jonghyun memutuskan untuk keluar dari kelas dan pergi ke suatu tempat. Entah ke mana, yang penting ia bisa menenangkan dirinya di sana dan melepaskan semua tekanan batinnya.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

“Kau dengar berita itu, Jang seonsaengnim?” Lee seonsaengnimbertanya serius pada Jang seonsaengnim sambil merapikan berkas-berkas di atas meja. “Haksaeng didikanmu itu, Lee Jinki. Ia membuat ulah di kelas.”

Jang seonsaengnimmelonjak kaget, kemudian tersedak. Kopi yang diminumnya nyaris tumpah membasahi bajunya. Ia langsung menoleh ke arah Lee seonsaengnim sambil menaruh kopinya, matanya membesar -ekspresi wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.

“Jeongmal?” tanyanya dengan ekspresi anehnya itu. Lee seonsaengnim hanya mendesah, lalu kembali fokus pada berkas-berkasnya sambil menjawab pertanyaan Jang seonsaengnim.

“Ne,” sahut Lee seonsaengnim singkat sambil menaruh berkas-berkas di lemari. “Ia memukul Kim Jonghyun hanya karena masalah sepele, dengar-dengar karena Jonghyun ketahuan menyontek Jinki di saat ulangan matematika yang mereka ikuti beberapa hari lalu. Cukup banyak yang melihat kejadian itu,” jelasnya dengan ekspresi serius. “Guru matematika kelas 3-2 Jang seonsaengnim sendiri, kan?”

“Ck, anak itu…” Jang seonsaengnimmenengadahkan kepalanya, kemudian menghela nafasnya. “Jonghyun memang sering membuat ulah, tapi baru kali ini aku mendengarnya menyontek pekerjaan teman dekatnya sendiri,” jelasnya sambil mengambil kembali cangkir kopinya. “Baiklah, aku akan mengecek pekerjaannya sekali lagi. Tumben, anak itu tidak pernah menyontek meskipun ia tidak bisa mengerjakannya sama sekali,”Jang seonsaengnim langsung menghabiskan kopinya dan menaruh kembali cangkirnya di atas meja.

Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari pintu ruang guru.

“Masuklah,” jawab Lee seonsaengnim lembut.

Perlahan seseorang membuka pintu ruang guru, kemudian ia mendatangi Lee seonsaengnim dengan ekspresinya yang benar-benar kacau. Tangan kanannya berlumuran darah, terlihat jelas belum diobati sama sekali. Matanya yang basah dan wajahnya yang merah karena terlalu banyak menangis membuatnya semakin kacau.

“J-jinki-ssi?” Lee seonsaengnim melonjak kaget. “Kenapa tangan kananmu?”

Jinki terdiam. Ia hanya menatap Lee seonsaengnim dengan mata sembabnya yang kembali basah, kemudian ia membuang mukanya ke samping –takut dilihat Lee seonsaengnim.

“Lee seonsaengnim, bisakah kita bicara sebentar?”

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

Baboya. Kenapa tidak segera diobati? Tanganmu bisa terkena infeksi kalau begini!” ujar Lee seonsaengnim kesal sambil membalut tangan kanan Jinki di ruang UKS. Ia sendiri berpikir, Jinki anak pintar, tapi ia malah membiarkan tangannya nyaris terkena infeksi seolah-olah tidak mengerti tangannya bisa infeksi jika dibiarkan seperti itu. Ia menatap Jinki kecewa sambil mengikat perban pada tangan Jinki.

“Ini, sudah selesai.”

Jinki hanya diam, menatap nanar tangan kanannya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Lee seonsaengnim. Sedangkan Lee seonsaengnim hanya membalas tatapan Jinki, memperlihatkan kekecewaannya pada Jinki. Kemudian ia mendesah, lalu mulai berbicara pada anak itu.

“Apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Lee seonsaengnim pada Jinki. “Kau menghancurkan reputasimu di sekolah ini.”

Jinki tidak menjawab apapun. Ia hanya menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Ck, jangan dikepalkan!” Lee seonsaengnim menarik tangan kanan Jinki yang terluka. “Lukanya parah, kau tahu?” Ia kembali mendesah melihat anak didiknya yang satu ini. Jinki memang keras kepala. Apalagi jika sedang marah seperti ini.

“Katakan saja. Jangan gengsi untuk bercerita dan menangis di hadapanku. Semua orang bisa saja menangis, bahkan namja sekalipun. Tidak ada siapapun di sini selain kita berdua.” Lee seonsaengnim menatap Jinki lembut, senyum tulus terukir di wajah cantiknya. “Ayolah, guru adalah orang tua keduamu…”

Jinki mematung. Matanya mulai memanas dan berair. Bahunya bergetar, terdengar isakan kecil dari bibirnya, yang tak lama berubah menjadi sebuah tangisan.

“Aku sangat kecewa, seonsaengnim…” ujarnya sambil terisak. “Aku tidak pernah mengira bahwa sahabatku sendiri akan berbuat seperti itu! Aku merasa dimanfaatkan olehnya! Aku benci ini! Aku tidak ingin jadi pintar lagi! Aku… Aku merasa sangat bodoh saat ini!”

BUK!

Kalau tadi tangan kanan Jinki yang memukul kaca jendela, sekarang tangan kiri Jinki memukul kasur ruang UKS yang sedang didudukinya, kembali melampiaskan kekesalannya.

“Ya, Lee Jinki!” Lee seonsaengnim menarik tangan kiri Jinki yang dipukulkan ke arah kasur UKS. “Untungnya yang kau pukul itu kasur! Kalau kedua tanganmu terluka, apa yang terjadi?”

Tangisan Jinki menjadi-jadi. Lee seonsaengnim kembali menghela nafasnya. Memang ia butuh kesabaran untuk menghadapi Lee Jinki yang sedang marah besar.

“Jinki-ssi…” Lee seonsaengnim memegang kedua tangan Jinki. “Tahan emosimu. Kau boleh marah pada Jonghyun, tapi cobalah untuk meredam emosimu itu atau kau akan bertambah parah. Itu hanya akan merugikan dirimu sendiri…”

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

“Kau sudah merasa baikan, Jinki-ssi?” tanya Lee seonsaengnimsambil menatap Jinki lembut. Jinki menoleh ke arah Lee seonsaengnim, kemudian ia mengangguk pelan dengan senyum getir di wajahnya.

“Sekarang, kembalilah ke kelas. Cobalah untuk memaafkan orang lain! Jika ia tidak mau minta maaf, ya sudah. Biarkan saja. Fighting!” Lee seonsaengnim memberi semangat pada Jinki. Jinki tersenyum lebar, meskipun ia terlihat aneh dengan wajahnya yang masih sedikit berantakan itu. Lalu ia mengambil langkah pertama menjauhi ruang UKS.

Gamsahamnida, seonsaengnim! Aku merasa jauh lebih baik,” ujarnya. “Aku permisi dulu,” lanjut Jinki sebelum ia menghilang dari pandangan Lee seonsaengnim yang membalasnya dengan senyuman.

Jinki menyusuri koridor sekolah sambil menunduk menutupi mata sembabnya. Ketika ia melintas, beberapa haksaeng langsung membicarakannya. Betul kata Lee seonsaengnim, reputasinya memburuk. Sepertinya ia akan menjadi trending topic di sekolah ini tidak lama lagi. Di majalah dinding sekolah akan terpampang, ‘Juara olimpiade matematika membuat onar di sekolah’.

Ia mendesah pelan, kemudian kembali menunduk, bahkan tidak memperhatikan jalan sama sekali. Sudah berapa orang yang ia tabrak, bahkan beberapa haksaeng langsung memakinya dengan kata-kata kasar di depan umum.

Jinki kembali mendesah. Baru sekali ini ia berjalan sendiri di koridor sekolah. Biasanya ia selalu ditemani… Ah, lupakan. Jinki tidak ingin mengingat orang itu lagi. Orang yang telah mengecewakannya tadi.

Jinki ingin pulang saja hari ini. Ia tidak ingin belajar –bahkan matematika sekalipun- dan tidak ingin berbicara dengan siapapun sekarang.Ia tidak ingin kembali ke kelas. Ia hanya ingin menenangkan dirinya hari ini.

Tidak. Jinki harus yakin. Ia harus mencoba untuk kembali ke kelas. Ia pun melangkah ke kelasnya secepat mungkin.

Seseorang membuat langkahnya terhenti di koridor, yang ternyata baru saja mengkhianatinya. Yang telah membuatnya kecewa. Yang telah membuatnya seperti orang bodoh. Yang telah memanfaatkan dan membuangnya jauh-jauh.

Mereka saling menatap tajam satu sama lain, sebelum diakhiri dengan Jinki yang berlalu sambil menabrak bahu namja itu.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

Jonghyun merasa menjadi orang yang sangat kejam. Ia bisa melihat mata sembab Jinki dan tangan kanannya yang diperban. Wajahnya merah dan ekspresinya acak-acakan.Tatapan tajam Jinki sangat menusuk hatinya, seakan-akan ia bisa melihat kekecewaan dan kebencian yang terpancar dari matanya.

Jonghyun berbalik, kemudian menatap Jinki yang berjalan menjauh darinya. Ia mendesah, kemudian memalingkan kepalanya dan berjalan lagi. Tapi, kemudian ia berhenti dan kembali menatap ke belakang. Jinki terlihat semakin menjauh.

“J-jin… Ck,” Jonghyun menghentakkan kakinya, kesal. Ia baru saja ingin memanggil Jinki, tapi suaranya tercekat. Ia belum berani memanggil ‘sahabat’nya itu. Ia terus menatap Jinki yang tak lama menghilang dari kedua matanya.

“Jinki-ya…” panggilnya lirih. Matanya memanas, kemudian ia mendesah dan kembali berjalan menyusuri koridor sekolah, tidak mempedulikan ocehan-ocehan jelek beberapahaksaeng di sekitarnya.

Ah, ia merasa sangat bodoh hari ini.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Jinki sedang merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian ia menggendong tasnya dan berjalan keluar kelas.

“Hei, Jinki.” Yonghwa menepuk pundak Jinki, membuat Jinki terkejut sampai hampir terjatuh. “Ck, sangtaemu itu kumat lagi,” ujar Yonghwa sambil terkekeh. Jinki hanya membalasnya dengan tawa kecil.

“Mau kemana kau? Sini, biar aku yang menemanimu,” Yonghwa langsung merangkul Jinki. Jinki tidak menjawab pertanyaan Yonghwa, karena sebenarnya ia ingin mengganti perbannya di UKS.Ia hanya tersenyum kecil, lalu melangkah menuju UKS disusul oleh Yonghwa.

“Hei, Jinki.” Yonghwa menepuk bahu temannya itu. “Aku merasa janggal melihatmu sendirian, biasanya berdua dengan seseorang. Jadi selama dia tidak mau tahu denganmu, biar aku yang menemanimu ya!”Yonghwa tersenyum lebar sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya. Sedangkan Jinki- ia mendecak kesal, kemudian menatap tajam Yonghwa yang sedang berjalan di sebelahnya. Kekesalan namja itu kembali memuncak setelah mendengar perkataan Yonghwa.

“Bisakah kau diam?” Jinki berbalik dan menatap Yonghwa tajam.“Kalau kau seperti itu, kau akan kutinggalkan di sini,” ujarnya ketus, kemudian ia kembali berjalan –sambil mempercepat langkahnya-meninggalkan Yonghwa.

“Hei! Tunggu dulu! Ugh…” Yonghwa berlari mengejar Jinki. “Tadi kau baik padaku. Sekarang ketus seperti itu, dasarsangtae.”Jinki tidak menggubris namja itu. Mereka memang lumayan dekat, tapi ia tidak suka ketika seseorang mengembalikan emosinya ketika ia kesal. Siapapun, termasuk… Ah, lupakan orang itu.

Ia hanya terus berjalan ke ruang UKS.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

“Sudah selesai?”

Jinki keluar dari ruang UKS, kemudian menghampiri Yonghwa yang ada di depan pintu dan berjalan bersama-sama meninggalkan UKS.

“Kau masih kesal?” tanya Yonghwa, sambil menatap Jinki dengan raut wajah yang tidak biasa. “Kau tidak pergi ke ruang BK agar Lee seonsaengnim bisa membantumu?”

Jinki hanya menggeleng dan menunjukkan wajah sangtaenya ke hadapan Yonghwa.

“Ck, ayolah. Kebetulan kita di depan ruang BK sekarang…” Yonghwa langsung lemas melihat wajah sangtae Jinki. Ia langsung mengambil tempat di depan ruang BK. “Kutunggu di sini. Aku tidak mau melihat berita seorang anak pintar membuat ulah di majalah dinding besok. Apalagi juara olimpiade.”

Jinki berpikir keras. Ia sudah meminta nasihat pada Lee seonsaengnimsaat waktu istirahat tadi. Tidak mungkin ia meninggalkan Yonghwa diam-diam di sini, meskipun ide itu terlintas di otaknya setelah Yonghwa mengatakan ia akan pergi sebentar ke kamar kecil. Apa boleh buat, ia harus menemui Lee seonsaengnim di sini. Untungnya ruangan BK masih dipakai.

Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan yang sangat familiar di telinganya dari dalam ruang BK. Jinki terbelalak,ia pun menempelkan telinganya di jendela ruang BK-bermaksud menguping. Ia semakin terkejut setelah mendengar pembicaraan orang itu dengan Lee seonsaengnim

“A-aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang, seonsaengnim,” seorang namja terdengar menangis sesenggukan. “Aku tidak tahu… Seisi kelas tidak akan mempercayaiku lagi…”

Jinki tertunduk sedih. Dugaannya benar, pantas saja ia seperti mengenal suara tangisan itu. Itu adalah ‘sahabat’nya, Jonghyun. Lantas mengapa Jonghyun berada di ruang BK? Jinki mengira ia sudah pulang. Dan pastinya, anak itu tertekan.

Seonsaengnim, a-aku… Aku terpaksa berbohong saat itu… Aku dikenal bodoh di kelas. Aku tidak ingin dikatai pembohong dan Jinki mendapatkan akibatnya, Jinki akan dituduh memberikan jawaban itu padaku… Aku sendiri juga kaget mengapa aku mendapat nilai 95 untuk matematika kemarin, sungguh, aku tidak melakukan apapun… Aku, aku… Hiks, aku melakukan ini untuk melindungi Jinki! Aku tidak ingin ia terluka karena dituduh bersekongkol untuk memberi jawaban padaku…Tapi, yang terjadi… Jinki salah paham dan aku- aku tidak punya siapapun! Aku benar-benar bodoh melakukan ini…”

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

Jonghyun larut dalam tangisannya. Ia tidak tahan lagi. Ia harus menceritakan semua ini pada Lee seonsaengnim, tidak mungkin ia bercerita langsung pada Jinki. Ia sudah terlalu tertekan untuk menahan ini semua.

“Kurasa- aku tidak hanya bodoh dalam bidang akademik, tapi- aku bodoh dalam segala hal!”

Lee seonsaengnim hanya menepuk pundak Jonghyun dengan lembut. Ia tersenyum, kemudian ia menatap mata Jonghyun dan mulai berbicara padanya.

“Terbukalah,” jawabnya singkat. “Saya yakin Jinki akan memaafkanmu. Dia bukanlah tipe orang yang bisa membenci orang lain dengan mudah,”kata Lee seonsaengnim dengan tatapan lembutnya. “Jelaskan semuanya pada Jinki. Saya yakin Jinki akan mengerti…”

Tangisan Jonghyun berhenti. Ia menatap Lee seonsaengnim dengan mata sembabnya.

“Pulanglah, ini sudah sore. Kau tidak ingin orang tuamu memarahimu nanti karena pulang terlambat, kan?” Lee seonsaengnim bangkit dari kursinya. “Kau harus menjelaskan itu semua pada Jinki. Jangan takut, yang penting kau sudah berkata jujur.”

Jonghyun mengangguk, kemudian tersenyum pada Lee seonsaengnim. Ia berdiri, kemudian membungkuk sembilan puluh derajat pada Lee seonsaengnim.

Gamsahamnida, seonsaengnim, aku merasa lebih baik sekarang. Sekarang aku pulang dulu.”

Lee seonsaengnim tersenyum sambil menatap Jonghyun yang melangkah keluar dari ruang BK. Setidaknya Jonghyun merasa lebih baik. Ia tidak terlalu tertekan lagi sekarang.

Dan seseorang menghampiri Jonghyun dengan wajah kecewa di depan pintu ruangan.

-The Misconceptions Of You- yongie_jjong –

“Baboya…”

Jonghyun mematung. Orang itu –Jinki- terlihat sangat marah padanya. Ia belum siap menjelaskan semuanya. Ia takut ‘sahabat’nya itu akan menganggapnya pembohong -atau yang lain. Kejadian tadi siang membuatnya ketakutan.Bahkan kata ‘baboya’ yang baru saja ditujukan padanya itu pun terdengar sangat mengerikan di telinganya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mulai menjelaskan semuanya.

“J-jinki-ya… Aku akan menjelaskan semu-“

“Tidak perlu!”

Belum selesai Jonghyun bicara, pembicaraannya sudah dipotong oleh gertakan Jinki. Ia berbalik dan menunduk, menyesali kebodohannya. Kalau saja ia tidak berbohong di kelas tadi, pasti semua ini tidak akan terjadi. Perselisihannya dengan seisi kelas juga Jinki. Jinki pasti sangat marah padanya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengungkap semuanya.

Jinki menatap Jonghyun dengan kecewa. Mengapa sahabatnya ini rela berbohong bahkan kehilangan kepercayaan dari sahabatnya sendiri hanya untuk melindunginya? Apa karena otaknya yang terlanjur bodoh?

“Kau tidak perlu menjelaskannya,” ucap Jinki. “Aku sudah mendengar semuanya!”

Jonghyun terbelalak. Ternyata Jinki sudah berada di sekitar sini dari tadi dan menguping pembicaraannya dengan Lee seonsaengnim. Setidaknya ia sedikit lega karena ia tidak perlu menjelaskan semuanya. Tapi ia ragu Jinki akan memaafkannya…

“Bodoh… Jonghyun-ah, kenapa kau lakukan itu?” tanya Jinki dengan emosinya yang meluap. “Kau tega berbohong dan membuatku salah paham seperti ini? Sebagai sahabatmu, aku tidak pernah berbohong padamu, tapi- kau… Aku hampir membencimu!”

Mata Jinki memanas dan mulai basah.Tangisannya pecah saat itu juga, tapi ia berusaha menahannya meskipun akhirnya air mata Jinki tidak dapat dibendung.

“Janganlah berpura-pura kuat, Jinki-ya… Aku tahu kau menangis.” Jonghyun berbalik, lalu menatap Jinki yang tertunduk. “Aku memang bodoh, mianhae… Aku tidak ingin kau dibully seisi kelas lagi karena aku, makanya…”Jonghyun mengangkat kepalanya, menahan air matanya yang jatuh. “Daripada nama baikmu-hilang… Lebih baik… Aku yang…”

“Ck, jangan sembunyikan tangisanmu!” bentak Jinki dengan suara seraknya. “Kau pikir, sejak lama aku jadi sahabatmu aku tidak tahu jika kau sedang bersedih?”

Tangisan mereka berdua semakin parah.

“Harusnya aku yang meminta maaf padamu, babo… Aku sudah membuatmu babak belur seperti itu, bahkan membencimu hanya karena ini- aku…Mianhae, Jjong-ah…”

Jonghyun menarik Jinki ke dalam pelukannya. Ia kembali menangis di pundak Jinki… sahabatnya itu. Setidaknya ia sangat bahagia Jinki memaafkannya. Malah Jinki yang meminta maaf padanya.

Dan tentu saja ia memaafkan Jinki.

Jonghyun melepas pelukannya, kemudian mengusap air matanya. Ia menatap Jinki, lalu tersenyum. Tentu saja Jinki membalas senyuman itu dengan…Sangtaenya. Jonghyun hanya memasang wajah kesalnya, kemudian ia menyikut lengan Jinki.

“Dasar. Jinki sangtae. Sampai kapanpun, virus sangtae itu mungkin tidak akan hilang! Atau mungkin akan menular padaku!” Jonghyun memajukan bibirnya, tapi tak lama kemudian ia tertawa sangat keras, diikuti Jinki yang ikut tertawa bersamanya.

“Baiklah, kalau kau ingin sangtaeku menular, hahaha…” jawab Jinki asal. “Besok siap-siap cari obat penyembuh virus sangtae!”Tawa mereka berdua meledak, mungkin terdengar oleh seisi sekolah.

“Oh, iya. Jonghyun-ahChukahae. Kau maju pesat! Besok aku yang akan memintamu mengajariku, hahaha,” ucap Jinki sambil menyalami kedua tangan Jonghyun, tidak lupa senyum sangtaenya. Virus sangtae yang selalu bersama Jinki kapan saja.

Gomawoyo, Jinki-ya…” jawab Jonghyun sambil tersenyum. “Tapi aku tidak akan mengajarimu!”

Mwo?” Jinki terbelalak kaget mendengar Jonghyun. Mengapa tega sekali sahabatnya yang satu ini? Padahal setiap Jonghyun tidak mengerti di saat pelajaran, Jinki pasti mengajarkannya pada anak ini…

“Kau sudah pintar, Jinki-ya…” jawab Jonghyun singkat. “Aku belajar darimu. Harusnya aku berterima kasih padamu karena kau yang membuat nilai matematikaku seperti itu. Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku bisa dapat 95, haha,” Jonghyun tertawa kecil sambil menepuk pundak Jinki. Ia sendiri mengerti, tidak mungkin Jinki hanya mendapat nilai delapan puluh lima kalau sangtaenya tidak kumat lagi. Mungkin ia terlalu serius mengerjakan soal-soal kemarin, jadi ia tidak bisa mengamati sahabatnya itu.

“Huh, Jinki-ya… Harusnya kau bisa dapat nilai 100! Sangtaemu pasti kumat lagi,” ujar Jonghyun sambil menyikut lengan Jinki. Jinki hanya tertawa, dengan ekspresi… sangtaenya.

“Sudahlah, Jinki-ya! Hentikan sangtaemu itu!!!”

Mereka melangkah bersama-sama meninggalkan ruang BK. Jinki sendiri berpikir, untung Yonghwa tidak kembali. Kalau tidak, ia dan Jonghyun bisa diejek karena meminta maaf sampai menangis seperti itu. Istilah lainnya, berlebihan –apalagi untuk namja seperti mereka. Tapi air mata mereka yang jatuh saat meminta maaf menandakan bahwa persahabatan mereka memang sangat dekat, seperti seorang hyung dan dongsaeng.

-The Misconceptions Of You- Epilogue-

“Jinki-ya… Aku belum siap.”

Jonghyun menggenggam tali tasnya dengan erat sambil menatap Jinki yang memberinya semangat. Jinki tersenyum, lalu mendorongnya ke depan pintu kelas. Di depan pintu kelas ia sudah disambut oleh Yonghwa, Sooyoung, juga teman-temannya yang lain.

“Sudah, cepat!” kata Jinki sambil mendorong Jonghyun ke dalam kelas, lalu ia sendiri menyusul. Tatapan tajam seisi kelas tertuju pada Jonghyun, apalagi Yonghwa yang kemarin hampir memukulnya.

Annyeong,” sapa Yonghwa singkat, lalu tersenyum pada Jonghyun. Ia menghampiri Jonghyun juga Jinki yang berada di belakang Jonghyun, lalu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

Mianhae,” ujarnya. “Kami semua meminta maaf. Kami pikir kau memang menyontek… tapi ternyata tidak. Oh, iya. Chukahamnida! Nilaimu itu keren sekali.”

Seisi kelas bersorak, termasuk Jinki. Jonghyun hanya menatap seisi kelas bingung, bagaimana bisa seisi kelas bisa tahu soal ini. Tapi kemudian ia tersenyum dan memasuki kelasnya dengan tenang.

Gamsahamida, yeoreobun!” Ia berterima kasih dengan keras, membungkuk dan tersenyum. Lalu ia menatap Jinki, seakan-akan mengucapkan terima kasih yang sangat besar pada sahabatnya itu.

“Jangan menyelamatiku. Berikan selamat pada Jinki yang sudah mengajariku!” Jonghyun menarik Jinki ke depan kelas, lalu memeluknya. Seisi kelas masih bersorak heboh menirukan Jonghyun, mengingat Jonghyun adalah raja heboh di kelas 3-2.Jinki hanya membuka mulutnya –kebingungan, tapi kemudian ia tersenyum, mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya dan tersenyum… sangtae. Seketika kelas menjadi sangat hening, bahkan suara angin yang berhembus dari sela-sela jendela pun terdengar.

Mwohaeldo Jinki sangtae…”

Perkataan itu disambut dengan tawa seisi kelas 3-2 dan Jinki yang memajukan bibirnya kesal. Jonghyun hanya memandang sahabatnya itu, masih tertawa lalu menepuk pundak Jinki.

Tapi masih ada satu pertanyaan di kepala Jonghyun dan Jinki. Bagaimana seisi kelas bisa tahu semua ini? Jinki berpikir, tidak mungkin Yonghwa. Ia tidak mengetahui jika Jonghyun yang berada di ruang BK kemarin. Sedangkan seisi kelas berhenti tertawa karena melihat wajah mereka berdua yang terlihat kebingungan.

“Jangan bingung begitu,” ujar Yonghwa. “Aku diberi tahu Jang seonsaengnim tadi. Mungkin keributan kemarin sampai terdengar di telinga para guru. Aku bisa melihat beberapa haksaeng yang menatap Jinki seperti… hiyy~” Yonghwa bergidik ngeri. “Lalu Jang seonsaengnim mengecek pekerjaan Jonghyun. Caranya benar-benar berbeda dari punya Jinki dan… Kurasa ia memang menghafalkan caranya. Tapi gaya perhitungannya, punya Jonghyun memang lebih panjang. Ck, calon anak pintar baru, nih!”

Jonghyun hanya menunjukkan sederet gigi putihnya, lalu menatap Jinki dengan gembira. “Jinki-ya, matematika ternyata tidak sesulit yang kukira, ya,” ujarnya. Jinki tersenyum, lalu menepuk pundak anak itu. Ia bahagia, setidaknya Jonghyun tidak bermasalah lagi dalam pelajaran itu. Kemarin ia memang mengajarkan cara yang paling mudah meskipun sedikit panjang, karena ia juga harus mengajarkan teknik hitungan dasar yang kemarin belum dikuasai sama sekali oleh Jonghyun.

Tapi…

“Oh, iya. Kalian berdua cengeng juga, ya,” Yonghwa terkekeh, lalu menatap Jinki dan Jonghyun geli. “Meminta maaf sampai banjir air mata sepeti itu! Aku melihat kalian tengah berpelukan sambil menangis setelah aku keluar dari toilet! Tapi aku tidak mau merusak suasana, jadi aku bersembunyi…”

Ck! Jinki menepuk dahinya, disusul Jonghyun yang memajukan bibirnya, lalu menatap Jinki dan Yonghwa kesal. Tapi kemudian ia tertawa keras, disusul oleh tawa seisi kelas dan…

“Yah! Apa yang kalian lakukan? Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!” komando Jang seonsaengnim dari pintu kelas.

-The Misconceptions Of You- END –

Sahabat sejati adalah ia yang rela berkorban untukmu, meski harus kehilangan kepercayaanmu. Ia yang ingin mengakui kesalahannya dan berani jujur padamu. Memang ia terkadang berbohong padamu, tapi ia melakukan itu karena tidak ingin kau terluka. Ia rela berlaku bodoh hanya untuk kebaikanmu.Dan ia adalah orang yang selalu berada di sampingmu. Oh, tentu hanya sebagai sahabat. Ia masih normal. 😛–yongie_jjong-

Oh, iya. Ada beberapa rahasia yang harus dikuak setajam silet *eh*

~ Aku ada nulis “mwohaeldo Jinki sangtae” kan?Di sini ga ada panggilan Onew, hehe. Jadi kuganti Jinki meski agak aneh sih, wkwkw.

~Ini ga terlalu penting sih.Mengapa Lee seonsaengnim…“…senyum tulus terukir di wajah cantiknya…”Nah, yang bingung, Lee seonsaengnim itu YEOJA. Mesti kasih nama lengkapnya? Lee Jiyoung. Keke. Makasih ya udah baca ^^ *BOW bareng OnJong*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

43 thoughts on “The Misconceptions of You [2.2]”

  1. ah, pengen punya sahabat kayak jinki dan jonghyun. iri sama persahabatan mereka berdua. ceritanya bagus, aku suka. daebak! ^^

  2. Eonni, aku berasa ngaca sendiri baca FF eonni ._. Aku pernah lho kejadian seperti ini, tapi aku bukan juara kelas maupun olimpiade._.

    Aa… Pokoknya keren, Terusin nulis eon ^^ kayaknya eon masuk deh daftar Author kesayangan aku ^^

    Keep Writing eon ^^

  3. wahahaha..
    Setelah menyayat2 di awal ujungnya…sangtae.. Hah.. Lega mereka baikan lg meski rada2 lebay.. Haha

  4. jadi keingetan satu kejadian gegara salah paham. Salah paham yg sepele tapi dampaknya sangat fatal, ceritanya ngena ._.

  5. At the end… Sangtae
    Geli sendiri bayangin Sangtaenya Onew >w<
    tapi, terharu deh :") jadi pingin punya temen *atau Suami(?)* kayak Jonghyun .____.

  6. Baca ff ending …

    Asli Terharu min …

    Aku punya sahabat, tapi gag pernah kelai atau berantem jadi gag pernah merasakan ginian …

  7. Daebak !!!
    Friendship yang mengharukan :’)
    Jjong tetep aja cengeng -__-
    Semoga sahabatku jg bs melakukan seperti apa yang jjong lakukan pada jinki 🙂

    Author FIGHTING terus yaaa buat ff begini 😀

  8. Aku juga pernah ngerasain hal kaya gitu sama sahabatku wkwkw. Memang begitulah persahabatan.
    Keep writing ne ^^

  9. “tangannya semakin parah-sekarang darahnya berhamburan di lantai.” aku agak rancu sama kalimat ini. enaknya klo diganti darahnya menggenang atau darahnya berceceran.hehe. so’alnya klo berhamburan itu lebih ke benda padat, klo darah itu benda cair.

    “Kau pikir, sejak lama aku jadi sahabatmu aku tidak tahu jika kau sedang bersedih?”
    kalimat itu tak ulang-ulang tapi aku gak paham maksudnya…hehehe

    walaupun aku belum baca part 1-nya. tapi aku udah paham ceritanya.. intinya mengena kok… Jonghyun luar biasa…. sosok sahabat yang udah jrang ditemui saat ini….

    aku jadi kangen sahabat-sahabatku….. ^-^

    Kerennn!!!! Keep Writing ya!!!!

    1. Hehe, yng itu jg aku bingung mau kasih kata apa, jadinya ya udh berhamburan aja *lemotmodeon* wkwk

      maksudnya kalimat itu dia ngerti gimana kalau dia lagi sedih atau nangis, yah aku emg lemah klo udh segi bahasa 😀

      Yah secara aku lihat ff ini maih byk kurangnya hehe… Masih banyak typo, mian kalau gitu ^^

      hoho aku jg pngen punya sahabat kayak gitu (?) #eh .___.v

      makasih ya eon udh baca n comment 🙂

  10. Lega, pertengkaran Jinki dan Jonghyun nggak berlangsung berlarut-larut. Nyatanya memang Jonghyun mendapatkan nilai 95 itu karena usahanya sendiri. Emang deh, sepasang sahabat yang udah deket banget kalau baikan itu bisa sampai nangis-nangis.

    Keren. Fanfic ini pantes didedikasikan buat mereka yang menyanyangi sahabatnya.

    Nice story.

  11. aigoo.. aku mau banget persahabatan kaya gini..
    aku sampe nitikin air mata T.T
    pesan moral dari cerita author dapet banget..
    sebagai pelajar *ceileh* aku jadi termotivasi.
    sayangnya aku ga punya sahabat #curcol
    nice story :’)

  12. mian cuma komen yg part2 nya , biar sekalian. hehe.
    aduh persahabatannya sweet bgt sih. sumpah envy :”) cuma karena nilai ulangan harian padahal. ceritanyaaa bagus bgt ! 🙂

  13. Huaaaah….terharu…ceritanya hampir mirip dengan kisah nyata ku…tapi…setidaknya jjong lebih…bukan…sangat beruntung *curcol* hahaa
    Daebak author:)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s