2NE — SCENE 5: Apakah Kembali?

2NE — SCENE 5: Apakah Kembali?

Written by Zikey

2NE-10

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Supporting Cast:

–          CAP as Bang Min Soo (Teen Top)

–          Jina

–          T.O.P (Big Bang)

Genre: Angst, Mystery, Family, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: General

I can’t look, I’m so blind
I lost my heart, I lost my mind
Without you, without you

[David Guetta ft. Usher – Without You]

Rumah Yujin, Buam-dong

“Kamu sakit jiwa atau apa?”

“Aku mana tahu kalau kamu tinggal sama perempuan, kamu juga tidak pernah cerita soal itu, jadi bukan salahku dong.”

Joong Ki berdecak kesal, “Aku kan sudah bilang jangan retas lokasiku, ngeyel banget sih? Untung Yujin baik-baik aja, kalau sampai lecet bisa habis aku dihajar sama papanya.”

“Siapa suruh tinggal sama anak manja,”

“Yujinnya sih tidak manja, papanya aja yang hiperbola banget. Sudah sana, kamu pulang saja, sebelum terlalu malam.”

“Siapa bilang aku mau pulang?” Joong Ki makin geram. “Jadi, perempuan yang tadi berantem sama aku tuh namanya Yu In ya? Dia yang kerja di 2NE? Jago juga bela dirinya, dia pernah latihan?”

“Namanya Yujin. Tidak pernah, tapi memang pada dasarnya dia jago berkelahi makanya jangan macam-macam, jadi lebih baik pulang sekarang!”

“Kok kamu negative thinking gitu sih sama sahabat sendiri? Aku juga tidak minat sama si Yu Lin—“

“Yujin,” Joong Ki menyelak.

“Itu kok, tenang saja. Dan berhubung kamu tinggal satu atap sama Yu Sin, aku memutuskan untuk tinggal di sini sama kalian.” Joong Ki cepat-cepat menahan temannya yang berencana membawa tas jinjingnya ke kamar kosong yang tersisa.

“Memangnya aku bilang iya?”

“Memangnya aku peduli? Minggir ah sana, mau aku hajar?” kedua laki-laki ini saling menatap kesal, saling mempertahankan argumen sebelum memutuskan untuk berkelahi.

Oppa,” ternyata Yujin yang tadi sempat pingsan karena teman Joong Ki terlanjur memukul titik kesadarannya, sudah bangun. Masih terbawa perasaan tadi, Yujin keluar kamar dengan menggenggam tongkat bisbol milik Joong Ki.

“Yujin, turunin ah tongkatnya, ini temanku.” Walaupun curiga, Yujin tetap menurut. “Namanya T.O.P,”

“Top?”

“Iya, Top, ini Yujin.” Yujin mengintimidasi Top dengan menatap lelaki ini dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian bergerak mundur sedikit ketika Top berjalan mendekat.

“Salam kenal, maaf ya yang tadi, aku pikir kamu penyusup di rumah Joong Ki.” Suara beratnya seperti menghipnotis Yujin. “Dilihat dari dekat begini, lumayan juga. Mulai hari ini, aku akan tinggal bersama kalian, sekaligus menjadi pengawas kalian supaya tidak macam-macam. Tidak keberatan kan? Kamarku di situ.” Top menunjuk kamar kosong yang dikhususkan untuk tamu.

“Sering-sering main ke kamarku ya, Yurin.”

“Yujin,” Yujin mengoreksi namanya, tapi Top kelihatan cuek dan malah berjalan bagaikan raja menuju kamar tamu milik Yujin dan Joong Ki.

Ya ampun, si oppa ini bisa-bisanya dapat sahabat yang seperti itu.

Taman Makam Sysoon,Supyo-dong

“Kemari lagi nak Jonghyun?”

Jonghyun tersenyum, “Hari ini Yuna ulang tahun, aku mau memberikan kado untuknya.” Ia mengangkat dua tangkai bunga tulip kuning, dan sebuah kotak berwarna merah hati.

“Sampaikan salamku untuknya ya!” ia petugas yang menjaga bukit-bukit pemakaman di tempat ini, tentu saja mengenal Jonghyun yang sangat rutin mengunjungi bukit kuburan Yuna.

“Pagi Yuna-ya! Ini, aku bawakan bunga kesukaanmu, selamat ulang tahun ya. Gadisku sudah semakin tua sekarang, betapa membanggakannya kalau aku bisa melihatmu memamerkan prestasi-prestasimu. Walaupun menyebalkan, membuatku iri apalagi bosan, tapi ternyata itu hiburan alam darimu untukku. Aku jadi ingat, dengan kekanakannya aku selalu marah setiap kamu pamer prestasi. Menyebalkan sekali, waktu itu aku benar-benar iri, kenapa Yuna ini bisa menjadi sangat membanggakan untuk orang-orang. Dasar naif, aku jadi kelihatan seperti laki-laki dungu yang berpacaran dengan wanita emas, tahu! Pamer hari ini dapat nilai A, kemarin dipuji dosen, besok diajak makan bersama atasanmu, minggu ini kamu diundang rapat besar, bulan ini kamu mendapat reward, dasar menyebalkan, aku bahkan masih kesal setiap mengingat wajah riangmu itu.” Jonghyun mendengus geli dan kesal, kemudian air mukanya berubah lagi.

“Ya, Han Yuna! Aku merindukanmu, tahu? Aku rindu suaramu, aku rindu leluconmu, aku rindu tertawamu, aku rindu senyummu, aku rindu wajah riangmu itu, aku juga merindukan tanganmu yang selalu meremas pundakku saat aku kacau, dan yang paling menyebalkan… aku merindukan bagaimana kamu membuatku kesal karena tidak berhenti bercerita soal kejadian paling beruntung yang seolah tidak berhenti terjadi padamu.” Jonghyun meneguk ludahnya, menatap ke langit. “Sialan, aku benar-benar merindukanmu.”

“Tidak bisakah menemuiku sekali saja? Datang ke mimpiku, apa benar-benar tidak bisa? Menyebalkan sekali, aku hanya bisa memandangi fotomu saat merindukanmu.” Tiba-tiba Jonghyun menahan nafasnya, alisnya mengerut, seseorang mengintainya dari jauh. Ia tak ingin membuat gerakan tiba-tiba, ia hanya berusaha keras untuk merasakan dari arah mana yang lebih kuat. Di tengah hembusan angin dan suara gesekan dedaunan, Jonghyun menangkap suara janggal. Ketika ia akhirnya menoleh dengan gerakan cepat ke arah kanan, sesuatu yang tajam menggores pundak kirinya.

“Agh!” serunya spontan memegangi pundak kirinya, lukanya tidak besar, hanya seperti tersayat, namun cukup untuk meneteskan darah. Jonghyun mengedarkan pandangannya, sebuah panah yang menancap di salah satu gundukan makam tak jauh darinya, memasuki pandangan. Ia segera berdiri untuk menarik panah tersebut, dan membaca secarik kertas yang diikatkan di ujungnya. Sungguh gaya lama, namun ini jauh lebih mengancam.

Tenggorokkannya seperti dicekik, susah payah ia menelan ludahnya usai membaca sebuah kalimat dalam surat tersebut. Kembali? Ia telah kembali, orang itu benar-benar kembali, Jonghyun yakin hidupnya akan segera terancam. Pada siapa ia bisa berlindung? Apakah ia harus melapor?

“Nak—“ Jonghyun menoleh terkejut, membuat penjaga makam sempat menahan kalimatnya. “Lengamu terluka,” tegurnya khawatir, mengingatkan Jonghyun kembali pada goresan di lengannya. Aliran-aliran darah sudah membuat jalurnya masing-masing di lengan Jonghyun, ia menyesal meninggalkan jasnya di mobil.

“Hanya tergores, aku pergi dulu ya.”

“Pagi ini cepat sekali?”

“Iya, sebentar lagi ada rapat di kantor, aku juga harus hadir workshop. Sampai bertemu lagi!” kemudian Jonghyun berlalu sambil melambai, ia menyeka darah yang mengalir di lengannya dengan sapu tangan kemudian menutup lukanya. Dirinya terlalu sibuk mengurus lukanya sambil berjalan, dan tidak memperhatikan jalanan.

“Maaf!” seru Jonghyun reflek, walaupun ia sendiri hampir terjengkang, tapi ia sadar dirinya yang salah. Sosok itu seakan Jonghyun tak asing lagi, tubuh tingginya yang berisi, juga lekukan bibir tipis itu, Jonghyun tahu ia mengenalnya. Tapi siapa?

“Jonghyun!” dirinya tersentak, berhenti juga melamun. Wajah riang seorang gadis memasuki pandangannya, ia terpekur sesaat sebelum mengerutkan keningnya.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Bukan, bukan… kenapa kamu bisa di sini? Bukan! Dari mana kamu tahu aku di sini?”Jonghyun terlalu percaya diri karena berasumsi Yujin datang untuknya.

“Aku bertanya pada petugas keamanan di apartemenmu, pagi sekali kamu berangkat, aku jadi tertinggal. Aku bawa bunga, ayo kita mengunjungi kekasihmu!” katanya antusias.

“Aku sudah,”

“Kalau begitu tunggu, aku mau berdoa untuk Yuna sebentar.” Jonghyun segera menangkap lengan Yujin, tak sengaja mencengkram lengannya terlalu kuat.

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Jangan… hanya… jangan sekarang. Kamu, ck! Temani aku saja, oke? Dan jangan banyak bicara.” Yujin hanya mengangguk, walaupun tidak mengerti Jonghyun kenapa, namun ia berasumsi Jonghyun pasti teringat kekasihnya lagi.

“Jonghyun! Lenganmu—“

“Yujin! Aku bilang diam saja, oke? Aku tahu lenganku kenapa, jadi diam saja dan perhatikan. Jangan menambah masalah.”

“Tapi lengannya—“

“Aku tahu Yujin!” sejurus kemudian Jonghyun merasa bersalah membentak Yujin. “Maafkan aku, oke? Temani aku saja dan jangan bicara sebelum aku mengizinkan.” Kemudian Jonghyun menggandeng Yujin yang sudah mulai merenggut.

“Terima kasih sudah merawatku waktu itu, terima kasih juga untuk bekalnya. Temanku bilang masakanmu enak, tapi sampai sekarang aku tidak percaya itu masakanmu.” Yujin langsung memukul lengan Jonghyun keras-keras, membuatnya tertawa.

“Iya iya aku percaya, kapan-kapan buatkan aku kue beras.” Jonghyun menepuk pelan kepala Yujin lalu menyampirkan lengannya, melingkar di bahu Yujin.

“Eh, ya ampun! Jonghyun! Aku kan sudah punya pacar,” serunya panik reflek mendorong Jonghyun jauh-jauh darinya.

“Hah? Pacar apa? Mainan?”

“Aku serius! Duh,”

“Kok kamu tidak cerita sih? Aku mana tahu kamu udah punya pacar. Pokoknya kalau pacar kamu marah bukan salahku loh, siapa suruh kamu diam saja aku gandeng.”

“Aku kan lupa,”

“Dasar aneh, masa lupa dengan kekasih sendiri. Konyol,”

Sungai Han, Seoul.

“Ada apa sih?” Min Soo mengikuti arah pandang Yujin, namun ia tidak menemukan apa-apa selain tong sampah.

“Kamu tidak lihat apa-apa di sana? Aku seperti melihat orang, tapi hilang timbul, seperti itu terus.” Yujin tidak bermaksud menakut-nakuti Min Soo, hanya ia benar-benar melihat sosok seseorang di sana yang tiba-tiba hilang dan muncul lagi. Yujin tidak mengerti ada apa dengan matanya, dan belakangan ini ia mengalami mimpi aneh.

“Mungkin makhluk halus, kamu bisa melihat mereka?” Min Soo masih berusaha melihat, namun ia tetap tidak menemukan apa-apa.

“Entahlah, aku tidak pernah melihat mereka, sekedar merasakan juga tidak.Tapi semenjak ke rumah Jonghyun waktu itu, aku mulai begini.”

“Barangkali ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpamu waktu itu, ingatkan? Aku pernah baca buku, mata batin seseorang bisa tertutup atau terbuka karena sebuah kejadian tertentu.”

“Mungkin juga…”

“Kamu sudah konsultasi lagi?” Min Soo tiba-tiba teringat, Yujin harus cepat-cepat melakukan terapi untuk memulihkan ingatannya demi mencari tahu kasus yang dulu membuatnya seperti ini. Tentu, Min Soo harus bisa menemani Yujin… karena tanpanya, Yujin akan terus dikawal oleh Paman Kwak.

“Kemarin sudah, dengan Jonghyun. Dokterku bilang, waktu itu aku kecelakaan tidak jauh dari rumah. Bersamaan dengan kasus kecelakaan itu ada kasus kebakaran dan hanya satu kasus, ingatkan waktu aku bilang aku terkena serangan panik setiap melihat rumah bekas terbakar atau melihat kebakaran? Nah, dokter bilang aku harus segera mencari lokasi kebakarannya, barangkali ada tanda di sana.”

“Sepertinya aku bisa minta bantuan temanku, ada yang janggal pada cerita doktermu?”

“Ada, dokterku bilang, di berita, kebakaran itu tidak memakan korban, tetapi ia melihat ada ambulans di sana. Aneh kan? Yang lebih aneh lagi, rumah yang terbakar itu sudah lama tidak berpenghuni. Secara otomatis, tidak ada listrik yang tersambung ataupun kompor yang menyala. Semakin aneh kan?”

“Tentu, kalau prediksiku benar… kebakaran itu memang tidak memakan korban, kamu adalah korban kecelakaan yang lain. Kita ambil perumpamaan, lokasi kebakaran sama dengan lokasi kecelakaanmu. Artinya, ketika kebakaran terjadi, kemungkinan besar kamu berada di lokasi kebakaran, dan saat itu kamu bukan menjadi korban kebakaran tetapi korban tabrak lari. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa terjadi kebakaran tanpa ada yang menyulut api. Benarkan?” Min Soo berspekulasi.

“Minggu ini aku akan ke rumah orangtuaku, aku berharap bisa sekedar melihat-lihat lingkungan sekitar.” Min Soo baru akan menjawab ketika keduanya mendengar kaca mobil Min Soo seperti dilempari batu. “Kamu dengar?” Min Soo mengangguk.

“Apa ada sesuatu di sekitar kita?”

Yujin segera mengedarkan pandangan, namun tidak ada apa-apa. “Kita pergi saja, hawanya tidak enak.” Yujin sadar, salah satu makhluk itu memperhatikannya penuh amarah, seolah mereka berdua tak boleh berada di tempat ini lebih lama. Sebenarnya mereka berdua berharap dapat menyaksikan langit sore yang indah dari tempat ini, meski hanya bisa duduk bersembunyi di dalam mobil.

Rumah Yujin, Buam-dong.

Yujin berjalan membuka pintu, dan di pekarangannya. Gadis itu masih ada di sana, yang tadi ia lihat melalui jendela. Tapi siapa, dia?

“Maaf, apa anda mencari seseorang?” tanya Yujin sedikit ragu. Kepalanya penuh tanda tanya, apa yang diinginkan perempuan ini? Perempuan di depannya menangis? Apa ia korban Joong Ki lagi? Yujin baru akan menyentuh pundaknya, ketika dengan perlahan kepalanya menoleh.

Yujin menjerit, kedua kakinya tersandung hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke belakang. Matanya mendelik kaget dan ngeri, bulu kuduknya meremang setinggi-tingginya, ketika pada wajah suram penuh darah itu mata Yujin memandang. Ingin dirinya memejamkan mata, namun tak akan ada beda. Ketika matanya tertutup ia tidak akan tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun jika matanya tetap terbuka ia tidak kuat memandang wajah rusak berlumur darah itu. Tubuhnya seperti membeku, ia tak bisa bergerak sama sekali, ia ingin menjauh, namun semakin sosok itu mendekat padanya, tubuhnya semakin tak dapat bergerak.

Mata Yujin langsung membelalak terbuka, rasa kantuknya sirna seketika. Dengan cepat Yujin bangkit, memastikan ia aman dari gadis menyeramkan itu. Lehernya sampai sakit karena ia merinding tidak karuan. Matanya mengedar, masih belum merasa aman, sehingga memberanikan diri berjalan menuju jendela.

Sudah jam tiga pagi, sama persis seperti yang terjadi dalam mimpinya. Dan ketika dengan perlahan Yujin membuka tirai kamarnya, sosok itu benar-benar berdiri di pekarangan rumahnya. Tatapan tajamnya seolah sampai menusuk Yujin, membuatnya semakin merinding.

“AAAAAAAAA,” Yujin menjerit keras, terkejut, sosok itu tiba-tiba muncul ketika ia berbalik. Yujin meringkuk ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdegub tidak karuan.

“Hey, kamu bisa melihatku? Serius? Halloooo~,” Yujin menajamkan pendengarannya. Siapa yang berbicara padanya? Diam-diam Yujin mengintip dari sela jemarinya. Tapi kemudian pintu kamarnya terbuka, seorang laki-laki dengan alis berkerut mencari sosok Yujin.

“Ada apa sih?” Yujin tidak mampu menjawab, ia hanya berharap yang datang bukan Top tetapi Joong Ki, agar ia bisa segera berhambur ke pelukannya. “Hey, jangan ganggu dia! Pergi sana! Atau mau aku hajar? Cepat sana!” Yujin jadi semakin bingung, apa Top bisa melihat makhluk yang tadi ia lihat?

“Sudah sana tidur, masih jam tiga pagi. Lain kali, sebelum menjerit, lihat jam dulu. Kalau masih jam tidur, menjeritnya ditunda saja.” Tau-tau rasa takut Yujin sirna, ia jadi jengkel, ingin sekali melempar teman Joong Ki itu dengan sepatu. “Cepat tidur! Aku akan tetap berdiri di sini sampai kamu tidur.”

“Aku tidak apa-apa, lebih baik kamu saja yang kembali tidur.”

“Jangan banyak bicara, karena Joong Ki menitipkanmu padaku hingga ia pulang, jadi aku akan bertanggung jawab.” Sebenarnya Yujin benar-benar tidak mengantuk lagi dan ia tidak akan bisa kembali tidur, namun ia tidak enak pada Top. Sekitar 15 menit Yujin berbaring dengan mata terpejam, berharap Top segera pergi. Namun sosok itu malah berjalan mendekat, oh tentu, seorang sutradara juga harus bisa berakting kan?

Yujin berusaha tenang dan pura-pura tidur dengan sangat lelap, ia tidak ingin berfikir Top akan melakukan hal yang tidak-tidak. Benar pikirannya, lelaki itu hanya berjongkok di hadapannya untuk memastikan apakah Yujin telah tertidur. Dalam pejaman matanya, pikiran Yujin tahu-tahu menerawang ketika Top menarik selimutnya—merapatkan hingga pundak.

“Hhh.. sial!” Yujin mendengar geramannya meski pelan, disusul suara pintu yang tertutup. Yujin berpikir dalam hati, ternyata Top masih punya hati.

“Hei!” Yujin kembali memejamkan mata rapat-rapat, kenapa makhluk itu belum pergi juga?!

“Bukannya Top sudah mengusirmu?” tanya Yujin takut-takut namun berusaha menyamarkan getaran dalam nada bicaranya.

“Wah! Kita bisa berkomunikasi juga? Asik! Siapa Top? Lelaki yang barusan marah-marah itu? Melihatku saja tidak bisa, mananya yang mengusir? Dia hanya berspekulasi.” Ah sungguh, kenapa ada hantu yang seperti ini sih? Cerewet!

“Ternyata usaha kerasku membuahkan hasil juga, kamu harus tahu betapa keras aku berusaha agar kamu bisa melihatku. Cepat buka matamu, aku tidak seram kok. Tadi itu aku hanya berusaha menakut-nakutimu, biasanya gagal. Sulit sekali untuk bisa masuk ke mimpimu, dan menggerakkan benda agar kamu bisa lihat.”

“Kamu ini hantu atau apa sih? Kenapa cerewet?” Oh, Yujin jadi terkejut sendiri dengan ucapannya. Dari mana rasa berani ini muncul? Seolah dirinya sudah biasa berhadapan dengan makhluk ini, Yujin menatapnya seperti menatap seorang manusia hologram.

“Aku roh, hantu itu hanya jelmaan. Aku sudah ditakdirkan untuk bersamamu, oh salah, kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi penyelamatku.”

“Aku tidak ingin berhubungan denganmu, cari bantuan dengan para cenayang saja sana!”

“Kamu cenayang, Yujin. Kamu tidak tahu? Lupa atau tidak sadar? Aku saja tahu.”

“Kamu pasti bercanda,”

“Aku serius.”

Perjalanan Menuju Hanok, Ingye-dong, Suwon-si.

“Ternyata aku memang bisa melihat makhluk-makhluk halus,”

“Oh ya?” Min Soo menanggapi sambil memutar kemudi. “Bisa berkomukasi juga?”

“Iya, tapi ini aneh. Waktu itu salah satu dari mereka datang padaku, cerewet sekali! Dia bilang aku memang cenayang yang bisa berkomunikasi dengan arwah. Aku dilahirkan dengan bakat itu, tapi karena kecelakaan aku sempat kehilangan bakatnya. Tidak tahu deh kenapa bisa seperti itu, agak tidak masuk akal sebenarnya. Tetapi semuanya mungkin saja kan?”

“Iya sih, jadi… si hantu itu mau apa? Eh, kita lewat sini kan?”

“Iya, di depan sana belok ke kiri, ikuti bloknya. Jadi, si hantu ini mau minta bantuan… ia gentayangan tanpa alasan. Jadi aku diminta untuk mencari tahu bagaimana ia meninggal, pelakunya, dan segala macam.”

“Tapi yang jadi masalah sekarang, bagaimana kamu bisa mencari tahu kalau ia sendiri lupa segalanya. Kalian berdua satu kasus, aku pikir itu alasan Tuhan menyatukan kalian.” Kemudian Min Soo tertawa, membuat Yujin mencubit lengannya gemas. “Aduh, sakit. Tapi aku benar kan?”

“Iya, itu yang jadi pikiranku sejak kemarin. Tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah si hantu ini ya, andaikan wajahnya tidak sepucat itu pasti ia mirip seseorang. Tapi siapa?” kemudian keduanya saling diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing sambil menikmati perjalanan. Hari ini Yujin akan ke rumah orang tuanya, ia bersikeras ingin membuat sang ayah bertemu kakaknya dan memaafkannya. Jika Min Soo tidak bisa mengantarnya, kemungkinan untuk berkeliling di sekitar rumah hanya 20%. Mengingat seberapa ketat Pak Kwak menjaganya.

“Semenjak terakhir kamu main ke rumah orangtuamu, tidak pernah lewat daerah sini?” semestinya mereka sudah bisa tiba sejak satu jam yang lalu, namun mereka sengaja mencari jalan lain. Beberapa gang terlihat ramai oleh keluarga yang sedang menikmati indahnya pagi, namun beberapa gang yang lain terlihat sepi, terutama gang dengan rumah-rumah bergaya modern dengan luas tanah yang sulit dikira-kira.

“Tidak, aku selalu lewat jalan depan, melalui jalur yang sama. Masuk, lurus, belok kanan, lurus, belok kiri, lurus, rumah paling ujung. Aku hampir tidak bisa beradaptasi dengan tetangga lain, terakhir bertemu mereka saat baru keluar dari rumah sakit dan hendak pindah ke L.A. Selebihnya hanya menghabiskan waktu di mobil dan di dalam hanok.”

Sebuah perasaan aneh tiba-tiba menyergap Yujin seketika, tatkala Min Soo memutar kemudi untuk membuat mobilnya berbelok ke arah kiri. Memasuki sebuah gang yang agak sepi, meski masih ada beberapa orang yang berlalu lalang atau yang berkebun.

Matanya mulai bergerak awas, tidak berhenti kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencari dari mana sumber perasaan aneh itu. Bukan, ini bukan sebuah perasaan takut akan hal mistis, ini hampir seperti ketika serangan panik akan datang. Tahu-tahu Yujin tak bisa menghirup udara, susah payah ia berusaha mengendalikan diri, ia tidak ingin berkelakuan aneh di hadapan Min Soo. Namun ketika mobil mereka melewati sebuah rumah tua yang terjogrok menunggu waktu yang akan segera meruntuhkan tembok demi tembok yang setengah hangus itu, paru-paru Yujin tidak lagi bisa menahan rasa sakitnya.

Serangan panik ini menyiksanya, tidak ada obat selain dirinya sendiri, namun ia sendiri belum bisa melawannya. Meski dirinya sadar rasa ini hanya sebuah sugesti, namun ia sendiri tidak bisa meyakinkan tubuhnya bahwa ia tidak akan mati sekarang. Min Soo reflek menghentikan laju mobilnya ketika melihat Yujin yang meringkuk di kursinya, memukul-mukul dadanya dan berusaha mengatur nafas. Tidak, Min Soo tidak boleh berhenti! Jika masih berada di sini Yujin tidak yakin apa ia bisa tenang, rasa takutnya terus menekan hingga ia tidak mampu mengelak bahwa ia bisa mati saat ini juga.

“Yujin, tenang, kita baik-baik saja. Lihat, lihat aku! Atur nafasmu!” Min Soo buru-buru meraih tangan Yujin, membiarkan jemari-jemari lentik itu meremas tangannya. Waktu itu, ketika mereka masih dalam zona pertemanan, Yujin pernah mengalami serangan panik ketika mendengar suara sirine. Saat itu, Min Soo baru mengerti dan belajar bagaimana menghadapi Yujin, dan bagaimana untuk membuatnya tenang.

“Pergi!” Yujin menangis, bukan, ia bukannya kesakitan atau sedih, air matanya hanya terus mengalir tanpa bisa ia kendalikan.

“Tidak, kita tetap di sini! Semuanya baik-baik saja, Yoon-yang. Aku bilang atur nafasmu!” tangannya yang lain meraih dashboard, mencari botol minum cadangannya. “Minum, tenangkan dirimu. Tidak ada yang salah di sini, jangan takut.” Jelas, dengan jelas Min Soo melihat tangan Yujin bergetar ketika meraih botol minum darinya. Ia hampir tidak bisa meremas botol itu, tangannya mulai berhenti gemetar. Ia mulai stabil.

Gadis itu bersandar lemas di jok mobil Min Soo, nafasnya berat-berat, air matanya mengering, keningnya agak basah oleh keringat, ia memejamkan mata bersyukur karena bisa kembali tenang meski jantungnya masih berdetak dalam tempo cepat. “Sudah tenang?” Tanya Min Soo membuat Yujin tersenyum malu.

“Aaaa malu.” Yujin menutupi wajahnya dengan tangan.

“Ini bukan pertama kali kan? Ayo kita keluar, kita cari tahu sebabnya.”

“Ah tidak! Kapan-kapan saja, aku takut.”

Min Soo mengerutkan alis, “Kapan masalahnya selesai kalau ditunda-tunda? Ayo cepat, kita harus segera tahu.”

“Aku tidak mau! Kamu kan tidak pernah kena serangan panik, jadi tidak tahu seberapa sakitnya. Aku tidak mau.”

“Yujin!” keduanya saling mendelik, tidak mau mengalah. Ah, tapi kemudian Min Soo menghela nafas. “Terserah,” katanya mengalah, ia kembali memasang sabuk pengaman.

“Aku punya firasat rumah itu memang berhubungan denganmu,” Yujin nyaris menjerit kaget ketika hantu gadis itu muncul di jok belakang, oh ya, Yujin memberinya nama Jina.

“Kalau mau muncul itu bilang-bilang!” sembur Yujin kesal.

“Apa? Aku kan dari tadi di sini.” Min Soo menyahut tidak mengerti, Yujin menepuk kening. “Oh, kamu berbicara dengan makhluk halus, kan?” sangat ajaib sebenarnya bagi Min Soo sendiri, ia tidak mengerti bagaimana ia bisa sangat tenang dan menerima fakta gadisnya bisa berkomunikasi dengan hantu.

“Aku menyarankan agar kalian masuk ke rumah itu sekarang, kapan lagi?”

“Aku tidak peduli, mau itu ada hubungannya atau tidak aku tetap tidak mau ke sana hari ini!”

“Duh, bisa tidak sih kamu berpikir lebih rasional? Aku yang hantu saja cerdas! Kalau aku jadi kamu, sesakit apapun, asalkan bisa cepat selesai akan aku jalani. Dari pada berlarut-larut dan rasa sakitnya lebih lama?”

“Sudahlah. Biarkan aku yang putuskan!”

“Tidak akan, selama itu akan membuatmu menyesal, aku tidak akan membiarkanmu.” Tiba-tiba Min Soo menyahut, Ia menatap Yujin lekat-lekat. Baik Min Soo maupun Jina, keduanya menatap Yujin memaksa.

“Ah baiklah, ayo keluar!” seru Yujin akhirnya usai berdecak kesal berkali-kali. Mereka segera keluar dari mobil, dalam hati Yujin berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak kembali terkena serangan panik yang konyol itu. Min Soo menggandeng tangan Yujin erat, memastikan gadisnya tidak tertinggal sendiri.

Semakin dekat jaraknya, semakin berat beban yang seolah menindih dada Yujin. Ia semakin sulit bernafas, tapi ia tetap bertahan, tetap berdiri di atas kakinya dan melangkah tanpa ragu. Jika memang bisa cepat menyelesaikan masalahnya, ia akan berusaha menghadapinya.

Ilalang tinggi yang seolah tak ingin siapapun menyentuh bangunan tua itu, pohon-pohon rimbun yang tumbuh tak beraturan, noda-noda hitam bekas terbakar, dan retakan-retakan pada dinding itu, semakin Yujin pandang semakin sakit. Dada dan kepalanya, memberontak, tidak ingin menyaksikan bangunan tua yang seolah tak lagi kuat berdiri namun belum juga dijemput kehancuran. Sekelebat bayangan mulai muncul di kepala Yujin, membuatnya perlahan kehilangan fokus. Setiap kelebat bayangan yang muncul seperti potongan klise negatif, seolah memukul-mukul kepalanya. Apa ia akan segera menemukan ingatannya kembali? Ataukah ia terlalu banyak terlibat pembuatan film yang berhubungan dengan amnesia?

Ini serang panik, atau serangan kenangan? Tak mampu ia membayangkan. Tangannya mencengkram lengan Min Soo kuat-kuat, lelaki itu sadar ada yang salah dengan kekasihnya tapi ia tak bicara. Ia tak ingin memejamkan mata, namun rasa sakit di kepala dan dadanya memaksa. Perlahan suara api memasuki telinganya, seolah ia berada di tengah kobaran api. Apakah ia sedang berhalusinasi? Mungkin dirinya terlalu takut dengan kobaran api.

Namun, suara sirine ambulans ikut masuk ke telinganya, penging, pening kepalanya mendengar suara sirine itu. Dirinya memang tidak suka mendengar suara sirine itu, mengingat bagaimana dulu orangtuanya yang diangkut dalam mobil menyeramkan itu. Semakin keras suaranya, Yujin benar-benar tidak mampu menahan lagi. Semakin ia ingin membuka kedua matanya, semakin kuat matanya terpejam, semakin keras pula suara sirine, oh kini ditambah suara semburan air.

“Hentikan!”

“Apa?”

“Suaranya… berisik! Berhenti! Berisik!”

“Yujin! Yujin… tidak ada apa-apa. Tenanglah, kumpulkan kesadarnmu!”

“Berisik!”

“Yujin, apa kamu mendengarku? Suaraku? Dengarkan suaraku saja, jangan dengarkan suara yang lain. Yujin, buka matamu!”

“Sakiiittt!”

“Yujin!”

—Apakah Kembali, END—

Spoiler:

“Aku tidak tahu harus memberitahu ini atau tidak, tapi… demi keselamatanmu… aduh, beberapa hari yang lalu aku melihat sosok yang mirip seperti dirinya. Banyak, aku tahu banyak manusia yang hampir serupa, tapi yang satu ini entah kenapa aku yakin.”

“Aku tahu,”

“Apa rencanamu?”

“Entahlah, aku hanya perlu berlindung saat ini.”

“Kenapa sih? Seperti baru pertama melihat saja. Bukannya di rumahku banyak foto dia, ya?”

“Ini…”

“Yuna. Kenapa sih?”

“Jadi namanya Yuna… ia adalah Yuna.”

“Eh Yujin, aku penasaran, serangan panik itu rasanya seperti apa?”

“Kata temanku, seperti hampir mati.”

“Kurang lebih, setiap orang berbeda-beda, tergantung kasus mereka.”

“Kamu sendiri?”

“Aku? Ingin lari tapi gelap, ingin menjerit tapi bisu, ingin bernafas banyak-banyak tapi sesak. Kurang lebih seperti itu rasanya.”

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know

16 thoughts on “2NE — SCENE 5: Apakah Kembali?

  1. zika… aku kok agak ga ngerti ya baca ini? ”- -a
    aku ga ngerti bakal ke arah mana ceritanya, eh, tp kalo ketebak jd ga seru dong ya

    next part semoga bikin aku ngerti😀

    1. Iya…emang ._.v
      aku bikin part ini ngambang banget, beneran
      maksa hehe
      Semoga sih jadi seru beneran *pesimis*

      Makasih banyak kak habibah udah komen ^O^

  2. Sama kayak bibib eon. Aku kurang ngerti .-.

    Tapi pasti diungkap di part selanjutnya, yah jadi… #plak
    Bikin penasaran, yujin kenapa, jjong dipanah ama siapa…

    Makin seru eon! Aku suka! Ditunggu next part…😉

    1. Iya, jawabanku juga sama
      hehehe.. ampun yaa~

      Seriusan suka? yakin? ini FF aneh banget
      however, baca terus yaaa~ huhuhu
      makasih komennya beebb~

  3. yuhui,… reader baru nih,… maafnih nyampah,..
    hahaha,… ngga sengaja buka-buka blog nemu FF se-kerend ini, jadi pengin baca dari Awal dech! kayanya seru tuh,.. kekekee,…
    salam kenal,.. Cblink imnida,… ^^
    buat authornya daebak deh,..

    1. Halooo ^O^
      duh, nyampah apanya? Semakin baru aku semakin sayang. hahahah~
      Apa? keren? Aaahh salah nih kamu, ini ff gak ada keren-kerennya sama sekali
      salam kenal juga cblink ^^
      makasih banyaakk~ buat pujiannya kekeke, makasih juga udah kasih oxygen~

  4. jadi Jina ini Yuna yang kembali? Terus yang bisa liat si Jonghyun sama Yujin? Apa maksudnya Jonghyun harus berlindung? Masih belum ngerti:/
    ditunggu kelanjutannya ya author!

    1. Yes!
      Jonghyunnya sih gak bisa liat ._.
      nah… jawabannya akan ada di sceen selanjutnya ^O^
      baca terus yaaaww
      makasih udah komeenn *smooch*

  5. aku dah tebak itu yuna. banyak misterinya. tapi geregetnya kurang, tapi malah lucu banget di bagian pertama. sumpah aku nyampe ketawa pas ketemu sama top itu. semoga pas lanjutan lebih seru.

    1. Ouwwyess… iya emang ._. au kurang bakat nih bikin misteri gini huhuhu~
      Oh ya? lucu? aku kira itu krik kekeke~
      amiinn
      baca terus yaaa~
      makasih loh udah mau komen ^O^

  6. hantunya lucu jg, awalnya aku takut, tp jd ngakak sendiri.. xixixi..
    Kalo menurutku si hantu itu pacarnya Jjong yg udh meninggal#sotoi
    lanjut dah

    1. kkkk, berhubung aku gak bakat bikin horor jadi aku bikin nyeleneh aja ._.
      yeeess, tepat tepat~
      baca terus yaa ^O^
      makasih udah komennnn~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s