Artificial Intelligence [2.2]

artificial-intelligence

Author : vanflaminkey91 (@412heavenangel_)

Main cast : Kim Jonghyun, Lee Taemin

Support cast : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho

Length : two-shot

Genre : AU, friendship, angst, sad

Rating : G

A. N : Ini kali pertama aku mengirimkan FF di sini. Kalau boleh jujur, FF ini sebenarnya one-shot, cuma karena syarat pengiriman ke SF3SI adalah max 10 halaman untuk one-shot, jadi aku pecah dua bagian. Ceritanya agak-agak absurd dan fyi, bahasa asing di FF ini sama sekali tidak aku cetak miring, kebiasaanku selama nulis FF memang begitu hehe. Jadi, maafkanlah hal yang satu itu .___.v thank you ^^

Dipublish juga di blog pribadi : http://aquaticshineeworld.wordpress.com

Artificial Intelligence (Part 2)
©vanflaminkey91_silentguardian_2013

Jonghyun dan Taemin berjalan pulang menyusuri jalanan sendu ibu kota Korea Selatan itu ketika matahari sudah bertandang ke bagian lain bumi dan bulan telah siap menjaga mereka semalaman.

Ramainya pertokoan tidak mampu memecah kesunyian di antara mereka.

Kerinduan Jonghyun akan seorang adik yang tadinya mulai terobati kini kembali menganga. Statementnya tadi sore mengenai Taemin adalah robot otomatis disesalinya. Statement itu merusak perasaan hangatnya sebagai ‘kakak’ yang sudah terjalin pada Taemin sebulan ini.

Taemin sendiri tidak berani mengusik Jonghyun, seakan memahaminya.

“Ayo, Taemin! Kita harus menyeberang sebelum lampunya hijau kembali!” tunjuk Jonghyun pada zebra cross beberapa meter di depan mereka. Tanpa menunggu balasan, Jonghyun berlarian ke sana sementara Taemin memaksa kakinya berlari susah payah.

Ini kekurangannya.

Engsel lutut kakinya tidak sempurna, ia susah berlari meskipun otak komputernya canggih. Tapi, melihat Jonghyun sudah sampai di tepi zebra cross membuatnya agak sedih. Pria itu mendadak acuh padanya.

Tertatih dan lamban, Taemin sampai juga di samping Jonghyun. Dengan cara yang sangat tidak mulus.

Kakinya tersandung sesuatu, membuatnya mendorong Jonghyun tanpa sengaja. Kamera di genggaman pria itu jatuh terguling ke tengah jalan. Pecah berantakan menjadi beberapa bagian. Beberapa manik mata orang-orang yang lalu-lalang segera menghujani.

Belum sempat Jonghyun mencerna apa yang terjadi, Taemin sudah memaksakan diri mengambil benda itu.

Bunyi engsel kakinya terdengar memenuhi telinganya sendiri, membuat Taemin merasa jengkel. Tepat saat tangannya meraih bangkai SLR Jonghyun, lampu lalu-lintas sudah hijau. Jonghyun agak terkejut, lalu segera menarik Taemin dari sana.

Ia mampu mendorong Taemin ke trotoar.

Malang, sebuah sedan menghantamnya.

***

“Pita suara Mr. Kim rusak. Beberapa syarafnya lumpuh sehingga ia tidak bisa berjalan. Kami butuh persetujuan keluarganya untuk melakukan operasi, menutup luka-lukanya yang dalam.”

Taemin duduk bersandar pada tembok putih rumah sakit yang dingin. Matanya menatap kosong tepat ke pintu yang tertutup di hadapannya. Orang-orang berpakaian putih ditutup dengan kostum hijau itu masih memulihkan luka-lukanya di dalam ruang bedah.

“Suaranya tidak akan hilang. Pita suaranya bisa pulih dalam waktu yang lama, tapi suaranya tidak akan kembali sesempurna dulu. Ia tidak bisa berteriak atau bernyanyi kalau dia adalah penyanyi.”

Suara langkah kaki yang tergesa menghantam gendang telinga Taemin, membuatnya menoleh. Didapatinya Jinki sudah berdiri di sampingnya. Kini ikut duduk bersama, merangkul bahu robot itu.

“Dia tidak bisa bernyanyi…”

“Jonghyun hyung tidak bisa bernyanyi lagi. Padahal itu hobinya. Dia sering bernyanyi di waktu senggang, menciptakan lagu, dan bagaimana dengan tim paduan suaranya di sekolah?” Taemin tiba-tiba berbicara, tanpa diminta Jinki. Ekspresi kaget mewarnai wajah Jinki. “Ini salahku, Hyung.” Jinki melirik Taemin dan tertegun. Taemin tampak menangis, walau tak ada air mata yang mengalir dari matanya.

“Sekarang bagaimana aku mengatakannya pada dia? Bahkan untuk menatapnya saja aku tak berani,” keluh Taemin sedih. Jinki menepuknya pelan.

“Sudahlah, aku akan membantumu. Dia tidak akan marah apalagi membencimu, Taemin-ah. Dia berpikiran panjang.”

Penghiburan itu tidak berguna pada akhirnya.

Jonghyun begitu histeris setelah Jinki dan Taemin memberitahunya ketika ia sudah sadar esok harinya. Ia bahkan menolak untuk mendengar suara Taemin atau sekedar melihat wajahnya.

“Hyung, aku minta maaf!” seru Taemin putus asa. Ia punya perasaan, ia menyesal karena ia tahu betapa cintanya Jonghyun pada ‘menyanyi’ dan dunia fotografi. Sekarang apa yang bisa dilakukan Jonghyun tanpa kameranya? Tanpa kaki yang sehat? Ia terancam di PHK oleh sekolah tempatnya bekerja. Ia akan bekerja sebagai apa?

Dan hari itu, hari ketujuh, Jonghyun benar-benar mengusirnya.

“Hyung, ini aku bawakan waffle coklat kesukaanmu.” Taemin memperlihatkan kotak bekal yang disiapkannya dari apartemen. Jonghyun memalingkan wajah ke tembok, sama sekali menolak untuk menatap Taemin. “Hyung…”

Ketika didengarnya langkah Taemin yang mendekat, Jonghyun segera menatapnya. Kedua mata itu dipenuhi kecewa dan sedih.

“Pergi.” Suaranya yang masih serak terdengar bagaikan suara hantaman dua benda aluminium yang digesekkan. Ngilu merembet di perasaan robot itu. “Pergi dan jangan lagi menghampiriku. Pergi dari apartemenku. Dari kehidupanku.” Pria itu batuk-batuk beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya lagi.

“Hyung—“

“Pergi! Dan aku bukan hyungmu!”

Setidaknya tiga kata terakhir itu berhasil mengusir Taemin dari rumah sakit.

Pria robot itu masuk ke dalam apartemen yang ditinggalinya selama kurang lebih dua bulan terakhir. Ia meletakkan kotak bekal yang dibawanya kembali di atas meja tengah, kemudian berjalan pelan menuju kamarnya.

Begitu masuk ke dalam ruangannya yang rapi, matanya langsung tertumbuk pada kalender yang menempel di dinding. Ia tertegun.

Didekatinya benda itu, matanya fokus menatap tanggal yang dilingkari spidol merah yang sangat jelas terlihat dari jauh. Jemarinya menggapai tanggal itu, menyentuhnya pelan.

8 April. Tiga hari lagi, saat Jonghyun sudah diperbolehkan pulang.

Taemin menghitung sesuatu, kemudian menjentikkan jarinya.

Dan ia menghabiskan hari itu untuk merencanakan sesuatu dan dua hari berikutnya untuk melaksanakan rencananya. Bakti terakhirnya kepada orang yang begitu baik mau memberinya tumpangan tempat tinggal.

Dan mau menjadi hyungnya walau ia hanya robot.

***

Jinki membungkuk sopan pada administrasi, kemudian menghampiri Jonghyun yang sedang menatap kosong ke lantai porselen yang tampak mengkilat. Baru melirik Jinki saat merasakan kursi rodanya bergerak.

Jinki membawanya hati-hati menuju ke parkiran rumah sakit tanpa bicara apapun.

“Apa kau tidak keterlaluan pada Taemin, Jjong?”

Mendengar nama itu, timbul segurat sesal dan sedih di hatinya, namun Jonghyun tidak menjawab. Teringat akan kondisi pita suara dan kakinya, ia hanya ingin menangis sekarang.

Jinki menghela napas tak memaksa sahabatnya bicara lagi. Ia mengerti, Jonghyun adalah salah satu dari sekian orang beruntung yang memiliki suara emas. Keadaan ini pasti membuatnya terpukul. Apalagi sekolah tempatnya bekerja memecatnya melalui surat. Mereka bilang mereka sudah dapat guru baru. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jam pelajaran musik terus menerus kosong.

Jonghyun resmi kehilangan segalanya. Pekerjaan, hobi, kehidupan..

Sepanjang perjalanan menggunakan mobil Jinki, Jonghyun sama sekali tak bicara. Membiarkan suara penyiar perempuan di radio yang dinyalakan Jinki memecah sepi.

Ketika mobil itu memasuki pelataran parkir apartemen, mendadak jantung pria itu berdebar.

Apakah Taemin masih ada?

Apakah Taemin sudah pergi?

Jika iya, ke mana?

Oh, sungguh ia menyesal sudah mengusir Lee Taemin yang sudah mengisi harinya sebagai seorang adik dua bulan terakhir ini. Bagaimanapun Taemin adalah sosok adik yang menyenangkan. Kecelakaan ini terjadi bukan karena kehendak Taemin.

Oh, tidak. Apa yang sudah dilakukannya tempo hari membuat sesal semakin membuncah di dadanya.

Debaran jantung itu semakin menggila saat Jinki mendorong kursi rodanya keluar dari lift, menyusuri lorong lantai tempat apartemennya berada. Diperhatikannya Jinki menekan password, dan pintu pun terbuka.

Harapan Jonghyun untuk disambut senyum cerah Taemin harus dikuburnya jauh-jauh di dalam hati. Begitu pintu membuka, apartemennya begitu sepi. Tak ada harum waffle coklat atau teh yang baru matang di sana.

Anehnya, lampu apartemen masih menyala.

Apa Taemin lupa mematikannya saat ia pergi?

Jonghyun mengedarkan pandangan saat Jinki berbalik untuk menutup pintu. Apartemennya yang rapi mulai agak berdebu karena tak ada yang membersihkan. Matanya mendadak memproyeksikan Taemin yang sedang beres-beres di hadapannya, lalu tersenyum ramah.

“Astaga, apa itu?” seru Jinki membuyarkan lamunan Jonghyun. Jonghyun menoleh ke arah yang ditunjuk Jinki.

Ia terkejut.

Di atas meja kaca di ruang tengah, ia mendapati sebuah bungkusan berwarna putih dililit pita merah berdiri tegak di samping sebuah waffle coklat bertancapkan lilin angka 24 yang tidak dinyalakan. Semua itu lengkap dengan buku bersampul hitam yang seingat Jonghyun adalah milik Taemin, juga selembar kertas note.

Jinki mendorong kursi Jonghyun mendekati itu semua.

Bergetar, Jonghyun meraih notenya terlebih dahulu.

Jonghyun hyung! Happy birthday~! Sedih, aku tak bisa merayakan ultahmu ini bersama. Padahal ini tahun pertama aku hadir di hidupmu, kan, Hyung? 😀

Maaf soal insiden itu, aku tidak bermaksud  apa-apa 😦

Sebagai hadiah, aku menjual bateraiku untuk membelikanmu hadiah. Baterai ini mahal sekali, jadi aku bisa membeli hadiah untukmu tanpa menggunakan sepeserpun uangmu.

Tapi, resikonya aku hanya bisa bertahan 6 jam saja setelah baterai itu dicabut. Aku bisa dihidupkan lagi oleh penciptaku di masa depan.

Hyung, terimakasih sudah menjadi hyungku di jaman ini. Bukalah buku jurnal pribadiku dan kau akan menemukan alasan kenapa aku bisa sampai di jaman ini.

Omong-omong, itu waffle untukmu. Lilinnya nyalakan sendiri, ya 🙂

Tenang, aku membuatnya kemarin sekali. Sepulang membeli hadiah. Jadi pasti masih enak.

Saranghae, kakakku!

Taemin.

Jonghyun langsung meraih bungkusan putih berpita manis itu, menyobeknya dengan tidak sabar. Matanya sudah kabur oleh air mata, sementara Jinki hanya berdiri di belakangnya dalam bisu.

KLEK.

Bungkusan yang telah terkoyak itu jatuh ke lantai, menyisakan benda yang telah terbungkus tadi di atas pangkuannya.

Jinki membulatkan mata melihat sebuah kamera SLR terbaru yang sangat diinginkan Jonghyun sejak lama kini telah ada di pangkuan sahabatnya itu.

Jonghyun benar-benar lemas, seakan tubuhnya telah kehilangan tulang-tulangnya. Ia melirik jurnal milik Taemin. Setetes air mata yang menggantung jatuh menuruni pipi, menuju ke rahangnya.

Ditaruhnya kamera itu di atas meja, dan diraihnya jurnal Taemin. Memeluknya erat.

“Jinki, bisakah kau dorong aku ke kamar Taemin?”

Jonghyun memeluk jurnal itu sembari memperhatikan Jinki membuka pintu kamar Taemin. Dengan tidak sabar, Jonghyun melongok ke dalam. Kamarnya hanya diterangi cahaya yang masuk dari jendela. Sepi sekali, tidak ada sambut ceria Lee Taemin. Tak ada senyum hangat lagi.

Jonghyun menatap kosong pada sosok yang duduk menghadap jendela, tidak merubah posisinya meskipun Jonghyun menyentuh bahunya. Robot cerdas, salah satu produk dari keajaiban artificial intelligence itu; yang dulu selalu tersenyum padanya—kini hanyalah seonggok besi berbentuk manusia yang tak lebih dari sekedar robot mati.

Wajahnya disirami hangatnya surya, tapi ekspresinya tetap tidak berubah.

Jonghyun menguatkan dirinya.

Dan ia mulai membuka jurnal dalam pelukannya, ditemani rangkulan Jinki.

Apa yang membuat air terjun di pipinya semakin deras adalah tulisan di lembar paling pertama jurnal tersebut.

Kim Kibum’s for Lee Taemin.

Made by love, by wonderful miracle.

***

“Apa isi jurnal itu, Hyung?”

Pria itu tersenyum, membuat kedua lesung pipitnya terlihat menonjol manis di sana. Tangannya membenarkan kerah kemeja robot ciptaannya sendiri, kemudian menatap lurus-lurus ke dalam matanya.

“Jurnal itu,” ucapnya sembari menunjuk buku bersampul hitam di dalam pelukan robotnya. “Berisi foto-foto lamaku dan kakak kandungku. Aku mau kau menyerahkannya kepada dia di saat yang tepat.”

“Kenapa tidak kau berikan langsung? Ke mana dia?”

Pria berlesung pipit itu tersenyum lagi, “Aku dan kakakku bermusuhan bertahun-tahun lamanya karena sesuatu hal. Kudengar dia sudah meninggal tahun lalu dan aku benar-benar merindukannya. Merindukan keluarga kami sebelum terpecah, jadi…” Ia menatap robotnya sembari tersenyum. “Antarkan jurnal ini kepadanya. Aku akan mengirimmu ke masa lalu.”

“Bagaimana caraku kembali?”

“Tidak ada.”

Robot itu terdiam, menatap jurnal dalam genggamannya. “Apa ini semacam usaha pengusiranku?”

Pria berlesung pipit itu tertawa, meraih puncak kepala robotnya, “Aigoooo~ buat apa aku susah-susah menciptakanmu kalau akhirnya aku membuangmu? Tidak, Lee Taemin. Aku menyayangimu. Kau sudah seperti adikku sendiri. Tapi, aku tak ada pilihan lain. Jika aku mengembalikanmu ke sini, kau akan kehilangan seluruh memorimu tentangku dan keluarga.”

Robot itu—Taemin—menunduk sedih.

“Tidak apa. Kakakku baik. Kau akan menemukan diriku di dalamnya. Well, walau agak menyebalkan, sih. Aku tak mungkin pergi, aku punya anak dan istri di sini, Taemin.” Ia menyodorkan sebuah ransel. “Ini ranselmu. Aku sudah menyelipkan alamat apartemennya di dalam jurnal.”

Taemin tidak menjawab lagi, melainkan memeluk tubuh penciptanya dengan kaku.

“Aku akan merindukanmu, hyung.”

“Naddo.” Pria berwajah manis itu menyeka air mata di sudut matanya sendiri. “Maafkan aku, aku tak ada pilihan lain.”

“Tak apa hyung.” Taemin tersenyum. “Kalau boleh tahu, siapa namanya?”

“Namanya Kim Jonghyun.”

Taemin tersenyum lagi, tangannya memegang tangan penciptanya erat, “Percayakan padaku, Kibum hyung. Aku akan melakukannya dengan baik.”

“Oh, dan sampaikan selamat ulang tahun tanggal 8 April.”

Taemin memberikannya senyum terakhir.

Dan ketika mesin besar itu menjerit memecah keheningan malam, mengeluarkan cahaya besar yang memenuhi ruangan hingga akhirnya redup kembali, sosok Lee Taemin menghilang ke dalamnya. Meninggalkan Kim Kibum berlutut sendirian di depan mesin waktu ciptaannya.

The end.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

I dont need a man

30 thoughts on “Artificial Intelligence [2.2]”

  1. waa!! nyesek! taemin mati ya? padahal…. (?)
    keren banget uaaa!!! tambah satu atau dua sequel lagi donk! belum puas u.u
    ya?ya? tambah sequelnya T.T sumpah in bagus banget!
    btw! great ff chingu! terus buat ff lagi ya~ :*
    fighting! ^o^

  2. huwaaah…huwaah..
    efek baca sambil denger lagu Don’t Cry jadi…eyuuuh :”)
    aku nyesek banget pas bagian judul halaman itu, dan makin nyesek pas bagian kata2 terakhir Kibum buat Taemin. Jadi Kibum n Jjong itu bermusuhan..aigooo :”)
    aduuh, nyeseek… intinya akurlah dengar sodara kandungmu sendiri. Itu…
    paling nungseb pas ngebayangin cahaya berpendar dari mesin waktu itu…aduuuh…
    #usapairmata
    aduuh, hurt comfort enyuuuh..aduuh… banyak2 bikin genre ini ya kak yaa…suka pake banget!!!!

  3. Malang sekali TaeMin
    Kembali beberapa saat dan akhirnya baterainya dia jual dan berakhir pada Taem redup
    Jong artinya nantinya meninggal

  4. Mmmmmm aku tau bagaimanapun taemin gag akan bisa mati.

    Akan ada ahli robot yang siap memperbaruinya. ╋╋ム┣┫ム╋╋ム ╋╋ム┣┫ム╋╋ム

    Aku harap eonnie bisa lanjutin ff yang ini karna idenya udah keren.

    God job thor

  5. Good Job thor ^^)b
    saya sampai menangis gak keruan TwT
    sequel dong~ saya masih penasaran sama kelanjutannya, hehe

  6. 😥 aaaaaaaa sedih yah~so sweet~entahlah biarpun Taemin robot tp bisa tulus ke Jjong dn kibum itu bkin nysess(?),dan Kim brother jg sayang ana tetem kyk dongsaeng.a sendiri! Dan bayangin si robot itu jual batrenya-mati-gak bisa balik kmasa depan-itu bner2 bkin sedih :” ,Daebak author~uwaaaaa keep writing ya 🙂

  7. Hah? Udah nih? Bubar?

    Jd readers diminta nebak ya apa yg terjadi ma The Kim Brothers.

    Wkwkwkwwk,
    Sequel Van, sequellllll
    #readermaruk

    1. wah syukurlah kalo nangis (?) tandanya aku berhasil~ muahahaha, thanks 😀

  8. Terharu banget bacanya :” jadi bayangin kalo adekku ngelakuin hal kaya gitu.
    Ceritanya menyentuh bgt thor! Bagus hehe

    1. wah~ jangan deh mending, nanti kalian harus lewat pertengkaran dulu kan ga enak :’)
      thanks 😀

  9. Ceritanya sukses bikin aliran sungai han di pipiku 😥 #apadeh lebay banget 😀

    Daebak thor ceritanya, LIKE IT !

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s