Beautiful Stranger [Chapter Eight]

Beautiful Stranger

KAKI melangkah jauh meninggalkan gedung SM ketika jam makan siang tiba. Aku memutuskan untuk mencari tempat makan yang jauh dari jangkauan orang-orang di perusahaan. Aku tidak bisa bertemu Jinki. Entah kenapa lidahku kelu meski melihatnya dalam berjarak seratus meter. Tindakannya di ballroom hotel minggu lalu di Jeju membuatku menghindar darinya akhir-akhir ini. Beruntungnya, jadwal SHINee terlalu padat baginya untuk menghubungiku via telepon. Dan sekedar informasi, pasca dikembalikannya ponselku, panggilan cepat nomor satu adalah miliknya. Heol!

      Bukan hanya itu, dia juga mengganti seluruh ‘dalaman’ ponselku dengan gambar SHINee, bukan lagi EXO. Dia bahkan melakukan banyak selca. Menyebalkan! Tapi meskipun begitu, aku masih belum berniat menghapusnya. Mungkin suatu hari akan bermanfaat untuk mengusir tikus.

      Aku tidak tahu sudah berjalan berapa lama, kakiku sudah mulai pegal menjajaki trotoar mengenakan high heels. Hari ini anak-anak sedang melakukan pemotretan dengan sebuah majalah, Juyoung mengharuskanku mengenakan sepatu neraka ini untuk menciptakan citra yang baik sebagai stylist dari Paris di hadapan mitra kerja lainnya. Meskipun itu memang sangat bermanfaat karena beberapa dari mereka tertarik dengan desain pakaian yang kubuat, tapi tetap saja… yang mereka lihat adalah karyaku, bukan sepatu yang kupakai!

      “Sena-eonni!”

      Aku menghentikan langkah dan menoleh. “Kim Jira?”

      Dia tersenyum cantik sekali. Rambut panjangnya yang berwarna merah berkibar ditiup angin. Lagi-lagi ia mengenakan dress. Kali ini dress manis berwarna merah, menimbulkan efek merona di kedua pipinya. Ia masik menggelantung memeluk pintu ketika aku datang menghampirinya.

      “Makan siang ‘kan? Di sini saja! Aku yang traktir,” ajaknya sambil menggamit tanganku.

      Aku benar-benar tidak sadar sudah berjalan sejauh ini. Letak café Jira sekitar satu kilometer dari perusahaan. Sebenarnya tidak masalah, ini masih dekat, tapi dengan high heels

Beberapa piring dipenuhi makanan terhidang di atas meja setelah hampir lima menit aku menunggu. Jira tidak di sini, dia tengah sibuk mengurusi beberapa hal di kantornya bersama manajer café. Tangan mulai mencomoti makanan yang ada di depan mata. Rasa lapar luar biasa karena efek letih berjalan jauh mengalahkan gengsiku yang anti-makan-seperti-terlihat-kelaparan. Aku makan terburu-buru, mengunyah tidak sampai lima kali langsung telan, tidak sabar memasukkan makanan enak lainnya ke dalam mulut. Hal ini berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit hingga semuanya ludes kulahap. Aku benar-benar kerasukan!

      Jira mendatangi mejaku mengantarkan es krim sebagai dessert.

      “Aku senang melihat perempuan yang makan dengan baik,” ujarnya dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. Entah itu pujian atau mengolokku yang makan seperti babi. Tidak heran Jinki memanggilku seperti itu.

      “Aku merasa seperti monster. Ini porsi untuk dua orang.”

      “Beautiful monster then,” katanya sambil terkekeh manis. “Kudengar kau dan Jinki-oppa menjalin hubungan.”

      Aku tersedak saat menyendok satu suap penuh es krim. “Apa?!”

      “Jadi itu benar?”

      “Tidak! Tentu saja tidak!”

      Lagi-lagi Jira tersenyum, kali ini menggoda. “Ayolah, Eonni, Jinki-oppa yang mengatakannya pada kami―”

      “Kami?!” selaku.

      Ia mengangguk. “Kami. Aku dan SHINee. Tidak termasuk manajer karena demi Tuhan, sampai saat ini pun aku dan Minho masih sering sembunyi-sembunyi untuk bertemu. Kyungshik-oppa bukan masalah, tapi…”

      “Choi Jin…,” aku menyela lagi, “…aku benci manajer busuk itu.”

      “Manajer apa?” Jira tertawa keras, aku yakin seratus persen dia setuju denganku.

      “But seriously, apa saja yang Jinki katakan pada kalian?”

      Jira menyesap hot milk-nya. “Hanya itu. Ia bilang kalau kalian resmi menjalin hubungan. Awalnya aku tidak percaya tapi setelah melihat selca kalian…”

      “SELCA?!

      Sepertinya Jira sudah agak jengkel karena lagi-lagi kalimatnya kusela. “Ya, selca kalian di pesawat. Kau mengenakan bantal leher milik Oppa ‘kan? Ia tidak sembarangan meminjamkan bantal itu pada orang lain sekalipun itu aku. But yeah, you got it.”

      Kepalaku seperti terbelah dua dan rasanya ada kapak besar yang sedang mencabik-cabik harga diriku saat ini. Bantal leher itu milik Jinki dan dia mencuri selca ketika aku sedang tidur. Damn you, Lee Jinki!!!

      “Kami tidak memiliki hubungan seperti yang dia katakan pada kalian. Ini lebih rumit, aku tidak tahu harus mengatakannya dari mana.” Aku tidak terbiasa menceritakan masalah pribadiku pada orang lain, tapi entah kenapa kali ini beda. Aku seperti sudah mengenal Jira sejak lama. “He force me to be his slave!”

      Terdapat sedikit jeda. Jira mengerutkan dahinya.

      “Budak? A-aku tak mengerti.”

      “Itulah mengapa kubilang sulit mengatakannya harus bagaimana. Jinki menyita ponselku dan entah apa alasannya tiba-tiba saja ia menjadikanku budaknya. Itu harga yang harus kubayar agar ponselku kembali.”

      Jira memasang ekspresi konyol, seperti mengatakan: Demi ponsel kau rela menjadi budak?

      “Aku terpaksa,” tambahku. “Ponselku berisikan nomor-nomor penting relasi. Aku tak punya salinannya dan Jinki mengancam akan menjatuhkan ponselku dari atas gedung. Aku tak punya pilihan. Dia gila! Aku lebih gila!”

      Aku menggaruk kepala frustrasi.

      “Sepertinya Jinki-oppa menyukaimu.”

      “Haha, lebih baik aku meluncur ke neraka daripada harus bersamanya!” Aku mulai bicara tanpa kendali, aku tahu itu, membicarakan pria itu memang selalu membuatku seperti ini.

      Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk.

From: Jinki

Di mana? Seharusnya kau ada di hadapan mataku ketika aku sedang mencarimu!

      Heol. Panjang umur sekali dia.

      Aku memundurkan kursi dan berdiri seraya menyambar tas juga blazer dari atas meja. “Jira, aku harus pergi.”

      “Kenapa buru-buru?”

      “Seseorang mencariku…,” aku menyalami Jira dan buru-buru berbalik namun hidungku menabrak sesuatu. “AH!”

      “Gunakan mata ketika jalan bukan hanya kaki atau tubuhmu yang kaku!” Suara dingin itu kembali muncul. Jinki berdiri tepat di hadapanku, membuatku terkejut dan spontan mundur hingga meja terdorong menimbulkan derit yang kurang mengenakkan di telinga. Dia memutar bola matanya dan menarik tanganku kasar. “Bodoh.”

      Aku menatapnya tak percaya. Dia bilang begitu di depan Kim Jira, membuatku sangat marah.

      “Aku pergi.”

      “Tunggu!” cegah Jinki membuat langkahku spontan terhenti. “Kau akan pergi bersama dengan Tuanmu, jangan terburu-buru.”

      Rahangku mengeras, masih belum berbalik menghadapnya, aku meluncurkan sumpah serapah tanpa suara.

      “Oppa, mau kubuatkan minuman?” tanya Jira.

      “Tidak usah, aku harus kembali ke perusahaan. Bagaimana perkembangan café akhir-akhir ini?”

      “Sangat baik, perkembangannya pesat dalam dua tahun ini. Selain itu Kibum menghadiahiku banyak sketsa gambar untuk mendekorasi ulang dinding. Aku senang dia masih peduli.”

      Jira tertawa renyah.

      “Aku ikut senang kalau semuanya baik-baik saja.” Kudengar Jinki tertawa, nada bicaranya juga terasa ringan dan ceria, tidak seperti saat bersamaku. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa,” pamitnya.

      Jinki mencengkeram lenganku dan membawaku keluar dari café untuk menaiki mobilnya. Entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya diam tidak protes ketika cengkeramannya terlalu kuat membuat tanganku memerah.

      Rasanya terlalu menyakitkan mengetahui kenyataan bahwa Jinki hanya berlaku dingin kepadaku. Terlepas dari akting atau bukan ia bersikap manis, aku tetap tidak terima menjadi satu-satunya yang menerima perlakuan buruk darinya.

      “Oppa~”

      Refleks aku membeku di tempat. Itu suara Jiyul. Kami sudah sampai di perusahaan dan aku benar-benar tidak ingin keluar dari mobil.

      “Bolos latihan lagi?” tanya Jinki.

      Jiyul mengangguk sok manis membuatku mual. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat tanduk panjangnya di kedua kepala. Benar-benar perempuan terkutuk!

      “Aku dengar suara mobilmu, jadi aku langsung lari kemari,” ujarnya masih dengan napas tersengal-sengal dan keringat bercucuran, sepertinya dia kabur di tengah latihan menari di ruangan basement. Jiyul melihat ke arahku. “Kenapa dia bisa duduk di dalam?!”

      Jinki menoleh untuk melihatku. “Kami makan siang bersama, kenapa? Dia Kakakmu ‘kan?”

      “Bukan,” sahutku buru-buru. Sudah kubilang aku tak sudi menjadi saudaranya sekalipun tak ada hubungan darah.

      Jiyul melipat kedua tangannya dan menatapku menantang dari jendela mobil samping Jinki.

      “Memang bukan. Dia hanya anak buangan yang mengemis kasih sayang ke tetangga sebelah rumah. Umur tujuh belas tahun kabur dari rumah tentunya sudah sangat jelas kalau dia bukan perempuan baik-baik kan, Oppa?”

      Jinki hanya menatap lurus ke depan, tidak menjawab.

      Agar tidak lebih lama lagi terjebak dalam situasi menyebalkan ini, aku keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk yang menghubungkan tempat penyimpanan mobil dengan gedung. Namun, seperti orang bodoh, aku berdiri kaku di depan pintu karena tidak tahu kata kunci pengamannya. Sepertinya Jinki melihatku karena ia langsung keluar dari mobil dan menghampiriku. Ia memasukkan kata kuncinya dan sedetik kemudian pintu menggeser terbuka.

      “Kau masuk lebih dulu. Aku harus menyelesaikan anak itu dulu. Demi Tuhan kepalaku sakit tiap kali dia muncul dan tak berhenti memintaku jadi pacarnya.”

      Mataku terbelalak. Jadi Jiyul menyukai Jinki?! Lalu bagaimana dengan Kris? Bukankah dia menghancurkan hubunganku dengan Kris demi mendapatkannya? Aku sama sekali tidak mengerti apa rencana anak busuk itu. Satu rahasia saja yang kuketahui mengenai dirimu, aku bersumpah akan menghancurkanmu.

Semakin jauh melangkah, semakin cepat kakiku berjalan. Entah kenapa ruang latihan terasa begitu jauh saat ini. Saat melewati sebuah ruangan yang diperuntukkan bagi para manajer, langkahku terhenti ketika suara Hyunkyun terdengar jelas menelusup melalui pintu yang sedikit terbuka. Dia menyebut namaku dan Kris, itulah mengapa aku berhenti.

      “Hingga saat ini tidak pernah ada kata putus terlontar dari mulut keduanya. Sena memang pergi ke Paris tanpa alasan yang jelas saat itu. Kris tidak pernah menganggap hubungan mereka selesai. Ia berpikir itu akan terus berlanjut meski tidak bertatap muka ataupun mendengar suara satu sama lain, meski tanpa komunikasi sedikitpun. Lima tahun menanti gadis yang dicintainya, kurasa kau tahu bagaimana perasaannya saat melihat Sena pertama kali di ruang latihan tempo hari.”

      Suara lain berdeham. Aku mengenal suara itu. Dia Luhan.

      “Apa Kris tahu penyebab Sena pergi ke Paris?”

      Aku menelan ludah, melirik kanan dan kiri mengawasi sekitar waspada jika ada seseorang mendekat. Hyunkyun si manajer EXO-M kembali bersuara, “Tentu saja. Adik tiri Sena, Park Jiyul, mengancam akan menganiaya Sena seperti yang pernah dilakukan sebelumnya…”

      “Apa yang pernah dia lakukan?”

      Hyunkyun menghela napas. “Anak itu menyiram bahu kanan Sena dengan air raksa. Tidak banyak, namun Kris bilang cukup sadis meninggalkan bekas luka.”

      “Park Jiyul… aku seperti familiar…”

      “Dia trainee kebanggaan Lee Sooman. Gadis cantik yang sangat berbakat.”

      “Ah, anak itu. Tidak lagi setelah mengetahui semua ini. Kecantikannya luruh di mataku.”

      “Nah, Luhan…,” terdengar suara langkah sepatu dan suara gesekan kaleng minuman dengan meja, “…anak berwajah polos itu meminta Kris menciumnya di bawah pohon natal raksasa. Perhitungannya tepat karena saat itu Sena datang dan melihat mereka. Kris melakukannya terpaksa demi melindungi Sena.”

      Tulang-tulangku seperti terlepas dari persendian. Jantung rasanya sudah mulai terbakar. Bahuku naik-turun saking sulitnya menahan amarah. Mataku menatap kosong lurus ke depan.

      “Tapi kulihat anak itu mengejar Onew-hyung­.”

      “Jinki adalah pria yang benar-benar serius dia kejar. Kris hanya boneka perantara baginya untuk menyakiti Sena. Kau selalu bertanya mengapa leadermu dibolehkan memiliki tato kan? Itu karena kami berusaha menutup bekas luka di balik ukiran gambar tatonya.”

      “Bekas luka?”

      “Ya. Jiyul sempat menusuk lengan kirinya menggunakan pisau ketika mengetahui Kris lolos Global Audition. Dia tahu tujuan Kris adalah untuk mencari Sena. Dia tidak suka Sena mendapat perhatian lebih dari siapapun.”

      “Sinting!” umpat Luhan.

      Aku berbalik dan berjalan lebih cepat untuk kembali ke basement. Napasku begitu berat dengan segala bentuk amarah yang terbendung di dada. Berbagai kalimat umpatan muncul di kepala. Sial! Sial! Sial kau Jiyul makhluk terkutuk!

      Beruntungnya aku memiliki kemampuan photography memory yang baik sehingga jari-jari Jinki yang meluncur mulus di atas nomor-nomor pengaman interkom masih kuingat jelas. Aku menekan beberapa nomor dan terbukalah pintu.

      Jinki dan Jiyul masih di sana. Mereka terdengar sedang mendebatkan sesuatu. Langkahku semakin cepat. Amarah yang bergejolak di dada sudah sulit untuk dibendung. Aku setengah berlari menghampiri mereka dan melayangkan tamparan terkeras yang pernah kulakukan sepanjang hidupku di wajah seseorang. Jiyul tersungkur, punggungnya membentur bemper mobil mewah di belakangnya, mengakibatkan alarm mobil berbunyi memekakkan telinga.

      Kudengar derap langkah kaki berdatangan. Salah satu koreografer berjalan mendekat, membantu Jiyul untuk bangun.

     “Apa yang terjadi? Kenapa kau menyakiti anak didikku? Kalau punggungnya sampai cedera, bagaimana kau bisa bertanggung jawab?!” bentaknya.

      Jinki menghampiri pria itu. “Hyung, jangan salah paham. Ini murni kecelakaan. Aku saksi di sini. Dia―”

      “Akan kubalas…,” selaku dingin. Jiyul menatapku dengan akting ringkihnya, “Akan kubalas semuanya. Aku bersumpah akan membalasmu, Park Jiyul!!!”

      Jinki mendekapku dan berusaha keras menyeretku ke pintu masuk gedung. Aku masih teriak hilang kendali, membuatnya semakin erat mendekap tubuhku. Berkali-kali minta dilepaskan pun ia tidak melepasku. Dagunya menempel di atas kepalaku, kedua tangannya membungkus tubuhku.

      “Aku tidak akan melepasmu sebelum kau tenang,” ujarnya tegas tapi terselip nada lembut di dalamnya.

      Sekuat tenaga aku menahan air mata yang akan segera meluncur. Aku tidak ingin menangis saat ini, terlebih di depannya.

      “Lepaskan, aku mau pulang!” pintaku dingin.

      Jinki akhirnya melepaskan dekapannya. Aku berjalan cepat menuju ruangan coordi untuk mengambil tas. Setelah itu bergegas turun dan keluar melalui pintu belakang. Udara segar yang menerpa wajah terasa sangat baik dan membantu memudarkan kotoran yang menumpuk di hati.

      Aku, Kim Sena, akan membalas perbuatanmu di masa lalu. Kenapa kau tidak siap-siap dari sekarang, Park Jiyul?

***

Aku berdiri di depan asrama EXO-M, bersandar pada dinding dengan kepala menunduk. Hoodie yang menutupi wajah membuatku sangat nyaman menunggu di bawah temaram satu-satunya penerangan di malam ini. Hampir tiga jam menunggu, akhirnya mereka datang.

      Suara-suara letih terdengar ketika mobil yang terparkir tak jauh dariku membukakan pintu. Aku bisa melihat Lay dan Luhan keluar lebih dulu, diikuti beberapa anggota lainnya, hingga akhirnya aku melihat Kris. Ia terlihat sangat letih, namun membulatkan matanya dan tersenyum hangat ketika melihatku.

      “Sena? Sedang apa kau di―”

      Aku memeluknya. Erat. Sangat erat. Seluruh perasaan bersalahku kutumpahkan saat itu juga. Aku sangat bersalah tidak mendengar penjelasannya saat itu. Kalau saja aku memberikannya kesempatan untuk menjelaskan, semuanya tidak akan begini. Mungkin saat ini kami sedang berjalan berdampingan di sudut kota Vancouver menikmati indahnya masa-masa menjadi mahasiswa dan tak berhenti memupuk mimpi bersama. Namun, inilah yang dinamakan takdir. Kini kami berdiri berhadapan seperti orang asing dengan dua profesi dan mimpi yang tak lagi sejalan. Namanya pun tidak lagi Kevin melainkan Kris. Aku merasa seperti bertemu orang baru.

      Kris menuntun tanganku berjalan ke belakang gedung apartemen. Kami duduk di sebuah bangku panjang, masih dengan penerangan yang buruk. Tapi bagiku ini sangat menguntungkan. Tidak akan ada yang mengenali Kris.

      “Aku sudah tahu semuanya. Aku minta maaf tidak memberikan kesempatan untukmu bicara.”

      Kris diam sejenak. “Aku sangat kecewa. Kau pergi tanpa mengucapkan perpisahan.”

      “Aku tahu, aku minta maaf.”

      “Sudahlah…,” ia mengaitkan rambutku ke belakang telinga sambil menatapku lembut. “Tadi aku mendengar keributan. Kau berbuat ulah apa?”

      “Aku memukul Park Jiyul.”

      Kris tertawa renyah. “Kau tahu, sulit sekali menahan diri untuk tidak membunuh Park Jiyul selama ini. Dalam lima tahun terakhir aku ingin sekali mati daripada harus diikutinya terus. Tapi kurasa aku bisa bernapas lega sekarang. Fokusnya teralihkan pada Onew-hyung­.”

      “Dia menyukai Jinki?”

      “Sangat.”

      Seringai kecil muncul di sudut bibir, aku mengangguk mengerti. “Aku pulang.”

      “Tunggu,” ia menarik tanganku. “Apa kita masih bisa ketemu?”

      Aku menyampirkan tas ke bahu, melepaskan genggamannya dan berjalan ke trotoar. Dengan setia Kris mengikutiku di belakang. “Kita satu perusahaan, kesempatan bertemu sangat besar ‘kan?”

      “Aku ingin kita―”

      “―jadi teman baik lagi,” selaku seraya tersenyum riang padanya.

      Kris diam sejenak, kemudian ia kembali tersenyum. “Biar kuantar.”

      Aku buru-buru berlari ke seberang jalan dan setengah teriak, “Tidak usah. Aku pulang sendiri. Sampai jumpa.” Kris dengan tubuh jangkungnya masih berdiri di sana, bahkan sampai aku berjalan sangat jauh, ia masih setia memperhatikan punggungku.

      Bukannya aku tidak tahu apa yang akan kau katakan barusan, Kris, tapi saat ini ada hal yang harus kulakukan. Dia harus membayar semuanya.

***

Sabtu pagi yang menjengkelkan. Harusnya hari ini kupakai dengan tidur, spa, membuat desain, atau belajar memasak. Ngomong-ngomong mengenai ‘belajar memasak’, tak tahu kenapa aku merasa harus bisa memasak pasca kunjungan mendadak ke rumah Jinki tempo hari. Karisma ibunya sangat kuat, aku merasa terintimidasi oleh tatapannya karena bodoh memasak. Jadi, dalam beberapa minggu ini yang kulakukan adalah merusak peralatan dapur Appa. Kalau tidak pecah, ya gosong terbakar.

      Di sinilah aku berdiri, di sudut ruang latihan menonton anak-anak melakukan wawancara dengan salah satu stasiun tv nasional Taiwan. Noh Yongmin, manajer EXO-K, sudah membatalkan kontrak wawancara ini karena jadwal anak-anak yang sangat ketat. Seharusnya hari ini adalah hari libur kami. Satu hari libur dalam beberapa bulan terakhir bekerja rodi. Namun, perusahaan yang haus akan kesempatan peningkatan popularitas anak debutan mereka, memaksa Yongmin untuk kembali memperbaharui kontrak dan menyetujuinya.

     Maka beginilah kami… datang dengan rata-rata wajah ditekuk. Manusia mana yang rela waktu berharga bermalas-malasannya direbut. Kami (para kru), juga anak-anak, sama-sama jengkel. Terutama Kim Jongin atau Kai yang sempat mengamuk di atas kasurnya saat dibangunkan.

      “Tahu begini aku tidak akan bermain playstation hingga subuh!” dumalnya. Dia anak yang imut, kadang lebih kekanakkan dari Sehun dalam waktu tertentu.

      “Cut!” teriak salah seorang kru.

      Kami bernapas lega, bersyukur pengambilan gambar dilakukan tepat waktu, bahkan lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku berjalan mendekati Kai dengan wajah ngantuknya.

      “Minum,” tawarku dan ia mengambilnya.

      “Aku bahkan tidak mengerti sama sekali yang MC itu katakan. Tidak satu kata pun!” keluhnya.

      Suho yang berdiri di sampingnya menepuk lengannya, “Jangan begitu. Siapa tahu di antara mereka ada yang mengerti bahasa Korea. Jaga perkataanmu, Jongin-ah!”

      Kai mengangguk menjauhi leadernya dan berbisik padaku. “Cerewet sekali dia!”

      “Hei!” aku menepuk dadanya. “Aku akan jauh lebih keras darinya kalau kau mau. Hargai pemimpin grupmu!”

      Dia menatapku tak percaya. “Jangan bilang noona membela Suho-hyung karena dia leader, posisi yang sama dengan Kris-hyung.”

      “Kenapa membahas Kris?” Aku melepaskan diri dari pelukannya. Kai hanya tersenyum menyebalkan dengan ekspresi sok tahu. Tanganku sudah melayang ingin memukul kepalanya, tapi ia diselamatkan oleh suara perempuan di luar ruangan.

      “Oppa~!”

      Itu Park Jiyul. Dia sedang berlari menaiki tangga mengikuti Jinki. Aku buru-buru keluar ruangan tidak memedulikan Kai yang memanggilku berulang kali.

      Ketika sampai di tangga terakhir, aku tidak langsung masuk ke dalam, melainkan mendengar percakapan mereka dari sini. Jiyul sedang berusaha merayu Jinki atau lebih tepatnya merengek minta dijadikan pacar. Bodoh benar dia. Jinki bukan tipe pria yang mudah jatuh hati, aku yakin hingga saat ini pun ia masih menaruh hati pada Kim Jira.

      “Lepaskan, Park Jiyul, sudah berapa kali kubilang, aku tidak bisa!”

      HEOL! Kenapa lembut sekali bicara pada wanita setingkat iblis itu, tidak seperti padaku yang berbicara kasar seperti pada binatang.

      Tanpa mengulur banyak waktu, aku melangkah keluar, menembus cahaya matahari yang merambat lurus ke atap gedung ini.

      “Jinki!” Aku memanggilnya dengan nada riang meski tidak ada senyum di wajahku. Mengesampingkan harga diriku, aku berdiri di sampingnya menghadap Jiyul. “Sedang apa di sini?”

      “Kau yang sedang apa?” Jinki balik bertanya dengan nada dingin seperti biasa.

      Aku mengalungkan kedua lenganku ke lengannya dan bergelayut manja. “Akhir-akhir ini aku belajar masak. Bagaimana kalau hari ini ke rumahmu? Ada yang ingin kupamerkan pada Eomonim.”

      CRAAAP!!! Aku tidak terlahir untuk ini. Kejadian saat ini di luar skenario hidupku. Aku mual sendiri dengan apa yang kulakukan pada lengan Jinki sekarang ini.

      “Oke. Kebetulan aku ada jadwal nanti sore.”

      Aku menarik napas lega mendengar tanggapan darinya. Kupikir dia akan menepis gelayutanku dan memakiku habis-habisan. Okay, Jinki, you are the hero… just for now.

      “Let’s go!” susah payah aku menaikkan nada suara supaya terdengar girang. Aku dan Jinki berjalan melewati Jiyul dan menuruni tangga.

      Perempuan itu masih di sana. Diam. Tubuhnya bergetar hebat menahan marah atau mungkin saja sedang menangis tersedu-sedu melihat pangerannya kuambil.

      Sekarang kau tahu bagaimana perasaanku dulu kan, Park Jiyul?

..to be continued..

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

93 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Eight]

  1. Jiyul licik sekali-_- dibanggain apanya sama Sooman wth dah wkwkwkw.
    Itu pas Sena makan siang sama Jira kok Jinki bisa tau dia makan direstoran apa padahal kan ama Sena ga dikasih tau😐
    Sena balas dendam gogogo lol. Next chapter jangan lama-lama author-nim kkk~ Fighting!!

  2. good job Sena, tapi aku ga suka sifat sena yg terakhir itu, kayak manfaati jinki banget (?) #emangkalee aku pengennya sena sm jinki aja ga usah sm kris, #maksa jatuh cinta nih sama nih ff (?) kekekkeek next part jgn lama2 ya thor,😀

  3. Great!!!! Hebat Sena!!! Saatnya balas dendam….. Sena-Jinki saling memanfaatkan…. luar biasa!!!

    Tapi, untuk alasan tertentu aku jadi kasihan sama Kris….

    Eonni…. Semanagta!! Readermu mendukung!!!!!

  4. Ocey, perang antara Sena-Jiyul mulai memanas. Sena-yah, FIGHTING…
    author juga, FIGHTING!!!!
    makin cinta sama nih FF. Buruan next part…

  5. akhirnya keluar juga part 8. HAH JIYUUUL! Jadi ikit sebal. -__- seperti biasa aku sukkaaaaa cara nulisnya. sampai gak kerasa tiba2 uda tbc. T.T penasaran sama lanjutannya. Fighting!!!!

  6. WOW 57 KOMENTAR!!!

    Terima kasiiiiiiih banyak buat readers yang selalu setia membaca dan memberikan komentar.
    Semuanya saya baca satu per satu. Rata-rata bikin ketawa. Lucu sama komentar kesel kalian kalau udah ngomongin Park Jiyul. Haha.
    Sinetron banget nggak sih karakter Jiyul di sini? Jahat berlebih macam aktris antagonis kawakan Leily Sagita. Hihi. Sudahlah… karena seperti yang aku bilang dari awal, ini bakalan jadi fanfic sinetron. Berlebayan semuanya. ^^v

    Semakin banyak yang ngasih dukungan, semakin semangat pula menulis.
    Terima kasih ya kalian semua readers yang selalu kucinta #EA
    DEMI LU……..HAAAAAAN!!! I LOVE YOU~~~😄

  7. Mwoya??
    Jinki ngmg ke jira n shinee kalo dia udh pcran ma sena??
    Dan sekedar informasi,pasca dikembalikannya ponselku, panggilan cepat nomor satu adalah miliknya.Heol!
    Bukan hanya itu, dia juga mengganti seluruh ‘dalaman’ ponselku dengan gambar SHINee, bukan lagi EXO. Dia bahkan melakukan banyak selca.”
    What’s going on with u, jinki??
    Apa ini krna omongan kris di prev part?
    Tapi kykna yg lebih tepat bukan pacar deh*diralat*, babu baru bener -.-“.
    Bneran g suka eon, jinki ngmg gtu ma anak2.
    Tkutnya sena cuma dimainin aja, dijadiin kambing hitam.
    Kasihan sena kalo jd keGRan, eh terakhirny mlah dipermalukan*msh sensi m jinki*.
    Baru diomongin udah terjadi, tuan Museun.
    Ya ampun eonni eonni eonniiiiii, itu yg ngegosip nyantai banget banget.
    G nyadar ada yg nguping.
    Terbongkar deh semua, ternyata itu kejadian yg sbnernya.
    Kris nyeritain semuany ke managernya? Wow daebakk.
    Bahkan kris nganggap dia m sena g pernah putus?? Long distance yg sma skali g pernh sling menghubungi.
    Kalo ada org yg kyak begini, wanjeon daebakk.
    Wah jiyul bener2 gadis berwajah polos berhati raja iblis.
    Ngerebut ibu sena, ngerusak hbungan sena ma kris, nyiram sena pake air raksa, n nusuk lengan kris.
    G bisa berkata2 lagi ngeliat jiyul ini eon.
    Memang sangat susah menahan untuk tidak membunuh jiyul kris, readers jga pda pengen bunuh jiyul hahaha
    sepertiny perkiraanku salah.
    Kelihatanny jinki n sena sling memanfaatkan nih.
    Sabar ya kris, jdi tmen baik dulu aja. Soalnya sena lg ada misi.
    Tp jgan terlalu berharap jga deh, keseringan m jinki ntar sena juga bakalan ada getar2 cinta ke jinki.
    N tepat pda saat itu, nareul dagawa wkwkwk

  8. aigooo~ aku telat aku telat aku telat-_-
    critanya makin seru aja… jiyul ‘sang wanita brutal’ jd kbanggaan sooman? heol!
    serunya ff ini pemeran utamanya ga berhati malaikat. *eh?.__. maksudnya si sena itu sifatnya manusia banget, dia kadang2 bisa jadi brutal juga, waktu sena nabok jiyul itu adegan terpaporit, recommended lah (҂`☐´)︻╦̵̵̿╤──
    trus jinki juga t.o.p b.g.t lah di part ini. yah meskipun msh rada nyebelin sih.
    apalagi ya? oh trus kris juga! eiy… jadi itu alasan kris nyium jiyul? kris baik cekaleeeh (•̯͡.•̯͡)
    next part juseyoooo~

  9. eonniiiiiiiii, aaaaaa, pingin nelen tuh Jiyul!

    Woh woh, bahaya sih Sena deketin Jinki cm gegara mau bls dendam. Kalo Jinki tau, ntar dia sakit ati lagi. Jinki kan sebelumnya pernah sakit krn cinta, jgn sampe terulang lg, krn dendam pula😦

  10. What? Jinki sdh bilang ke member SHINee kalau mrk pacaran? Mksudnya krn mmg suka Sena atau nutupin perasaannya ke Jira?
    Great!!! Waktunya bls dendam. Tp kasian si Kris yaaa. Sena mmg di takdirkan buat Jinki.
    Itu si jiyul apa kelebihannya smpe bisa disukai sooman? Bisa buat Jiyul menderita kn onn? Fighting for next chapter

  11. annyeong ^^ aku baru bisa ngomen skrg -__- sibukkk *bah
    ff ini salah satu ff terbaik menurut ku *prokprok . jalan cerita nya yg menurut gue masuk akal, gak berbelit-belit tapi bikin ngegemesin, karakter kuat pemain nya bikin ni ff buat gue meleleh *lebayy
    lanjut chapter sembilan chingu!! ^^ di wait yahh

  12. assalamualaikum
    astagaaa, udah lama banget ga main kesini, salahkan bulan terakhir praktek ngajar beserta laporannya yang terkutuk itu /eh/
    mian ya unnie, aku komennya di jamak disini aja gapapa kan hehe
    huwoooww masih ga ngerti kenapa jinki tetep dingin, disatu sisi dia dengan bangga mamerin ke orang2 kalo dia pacaran sm sena. maaasssss are you okay? mas jinki punya berapa kepribadian sih?
    haha iya bener jiyul kaya artis disinetron yg minta di ulek banget, emasa ngebayangin krystal yg jd jiyul, muka angkuh nan manjanya dapet banget nih /bukan ngebashing loh ini/ ^^v
    wohooooo my kris forever hero deh, muka iblis hati malaikat, kasihan atulah dia disini perfect amat tapi nasibnya sungguh malang /elap ingus/
    unnie, banyakin shinee nya dong /plaakk/ /abaikan unn/ /lagi ngelantur/
    as usuak, next chapt ditunggu ya unn, mau abis lebaran dipublish juga tetep deh ditungguin hehe😀 unnie jjang

  13. Wuuuuah…..ceritanya super duper kereeeeen nih. Sumpah berasa pengen jambak2 si jiyul. Kris yang sabar yaa,klo emg jodoh kagak kemana2 deh. Tp Sena sm onew aja deh,biar saling melengkapi gitu. Semoga gk lama lagi next chapter di publish. Jgn bikin readers penasaran kelamaan ya eon😀

  14. Aigooo gue gregetan banget sama Jiyul, pengen bunuh juga rasanya. Bisa-bisanya ada yeoja macam gitu.
    Ayo Sena lanjutkan balas dendam mu

  15. Jiyul emang laknat. LAKNAT SELAKNAT-LAKNATNYA *aduh maap*
    Dan anak laknat itu kebanggaan? Cih, udah pengen digiling pake cucian pabrik tapioka yang buat ngupas kulit singkong!!!

    Dan aku lupa bilang. Kai kayak Taemin-nya SHINee. AAARRGHHHH KAI-AHHHH KENAPA IMAGEMU BERBEDA SEKALIIIHH HUEEEEEEE T^T jadi makin ngefans *apaan coba, ngefans gara2 ff* -_-” #CTAK
    lanjutt lanjutt nyehehe xD

  16. Omo!! Sepertiny dugaan ku benar.. Sena mau ngebalas jiyul pke onew dehh… Ckckck itu salaahh sena!! Kayak nya pert selanjutnya aku tau apa konfliknya *reader sok tau

  17. Jiyul psyco!
    Sena, akhirnya lu ngambil tindakan yang tepat. balesin dendam, eh. lebih tepatnya ngasih pelajaran buat si Jiyul.
    etapi kesian juga si onew mulai dimanfaatin. hahah ih makin seru! xD

  18. Puas bnget rasanya sena dpt bls dndam biar cm seupil gtu
    Oya thor kog di chapter ini gk ada pnjelsn tmbhannya,mian thor trllu bnyak nuntut 😂😂😂
    V slain itu chapter ini memuaskan yey 👏👏

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s