Namja – Part 12

Title: Namja

Author: Bibib

Main Cast: Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Length: Sequel

Genre: Friendship, Romance

Rating: PG-15

namja2

 

Namja – Part 12: Zero Means Coward

Detik ini Key merasa bintang meledeknya, ia bersinar terang di atas sana, memancarkan cahaya yang terbentuk dari reaksi fusi nuklir. Sementara Key? Dua reaksi inti atom yang bersatu, justru membuat sinarnya sama sekali lenyap. Inti atom pertama, barhasil menekuk lutut Key di jembatan Banpo tadi, ditambah lagi oleh adanya inti kedua, blaaam! Membuat jantungnya melemah bagaikan habis dikebiri. Ia begitu iri, benar-benar ingin menggantikan posisi bintang saja, berada di atas dan bisa mengamati manusia-manusia dari ketinggian.

Belum pulih rasa tertekannya selepas dari sungai Han, ia harus memenuhi janjinya untuk menemui Ken. Ken adalah atom kedua, yang entah kapan bisa bersatu dengan inti dalam diri seorang Key. Entahlah, Key sedang berpikir—mungkin energi yang dimilikinya bahkan belum cukup untuk bergerak mendekat. Key tak ingat pasti seperti apa teori atom dan segala dedengkotnya. Tapi Key tahu, bahwa saat ini ia hanyalah seonggok neutron yang tak bermuatan. Kepalanya terasa tak berpenghuni—atau justru karena terlalu padat isi makanya jadi pengang?

Andai sang neutron punya nyali untuk keluar dari inti yang selama ini menjadi zona amannya, barangkali kini ia telah meluluh dengan memancarkan elektron dan antineutrino—bermetamorfosis menjadi proton yang mampu memancarkan sisi positifnya. Arrrrgh, lagi-lagi hanya andai.

Motor Ken melaju membelah kota yang sudah sepi, tetapi Key hanya pasrah terkunci di jok belakangnya. Mulai menyelip sebuah tanya dalam benak Key, jangan-jangan si ‘andai’ inilah yang selalu membelenggunya. Dulu, ia berpikir, ‘andai aku keluar dari zona amanku—rumah—mungkin aku akan tahu siapa diriku’. Kini, setelah berada di alam lepas, si andai ini kembali menghipnotis, mengimingi Key dengan bayang-bayang kemudahan yang bisa didapatnya jika ia pulang. Dan si andai ini pula yang membisikkan sejuta takut dan bimbang, imbasnya satu: Key tetaplah bagian yang tak berpendirian, layaknya neutron yang tak bermuatan.

“Wuhuuuu.” Motor Ken baru saja menyalip sebuah truk kontainer. Sang leader itu berseru girang, karena tak jauh di depan truk itu masih ada sebuah mobil bak—ia bisa melewatinya dengan mulus. “Key, di saat kau harus berkelit melewati kendaraan di jalanan, cara termudahnya dengan membayangkan bahwa kau sedang bermain game. Ini akan menjadi hal menyenangkan dan sama sekali tak menakutkan, percaya padaku!”

Key sama sekali tak menggubris. Masa bodoh dengan trik, saat ini Key hanya ingin dirinya ikut lepas melesat.

Srakkkkkkkk

Ken sengaja mengerem motornya, sepatunya menggesek jalanan, lantas ia sedikit memutar arah setirnya. Key masih tak bereaksi, tidak ada amarah ataupun keluhan seperti yang sebelumnya ia tumpahkan pada Nara.

“Turun!” komando Ken. Key lagi-lagi hanya mengikuti.

Ken turun dari motornya begitu Key enyah dari jok motornya, ia segera menyembur Key karena tidak tahan melihat temannya yang satu ini, “Ya! Key! Kau sungguh menyebalkan! Siapa yang sebenarnya butuh? Key, fokus. Kalau keadaanmu seperti ini, bagaimana bisa kau membawa motor sendiri!”

“Diam kau!” Key meneriaki balik, ia merasa dihimpit oleh dua tembok kokoh yang bergerak untuk saling mempersempit jarak di antara keduanya. Key terdesak dalam kesendirian, ia tak berani mendobrak salah satunya. Ia begitu merasa kesal dengan pilihannya, juga sedikit tak simpati dengan sikap Ken. “Huh, katanya teman? Tapi kau sama sekali tak bisa memahami perasaanku!”

“Hei, hei. Kau sendiri yang berjanji tidak akan terguncang setelah menemui kawan lamamu. Pria harus setia pada janjinya, Key! Jangan seperti yeoja, cengeng! Key, pria itu harus siap, mesti jauh lebih kuat daripada yeoja ketika ia mendapati situasi yang tidak mengenakkan. Kalau kau hanya ingin dipahami, dimaklumi, terserah kau saja! Aku tidak peduli jika nantinya kau menjadi bahan makian Kira dan kawanannya! Kau tanggung sendiri, aku tidak akan melindungimu.”

Haaaarrrrrshhh. Kenapa kau menyebalkan sekali, Ken! Baik, baik. Sekarang juga aku akan bawa motornya. Kita tanding!”

“Key! Kau sinting? Berani menantangku? Oke, tapi jangan salahkan aku kalau kau kecelakaan! Pikiranmu terlalu dangkal, Key!”

“Aku bisa, aku tidak takut! Dan Ken, sudah kubilang, jangan panggil aku Key!” Key memberengut kesal, ditendangnya lutut Ken hingga pria itu mengerang. Air matanya tumpah bersama ledakan amarahnya.

Key menghentakkan kakinya beberapa kali ke Bumi, lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri, mencakar lengannya yang terasa janggal setelah dipasangi tato mainan, yeah, kali ini dengan menggunakan tinta tato semipermanen sungguhan..

“Haisssh, berani sekali kau! Kalau kau bukan kawanku, sudah kuhajar kau sampai mati! Urusan nama, salahmu sendiri tidak memberitahuku ingin dipanggil apa.” Meski masih menggerutu, Ken mulai menurunkan nada bicaranya, ia teringat posisinya sebagai leader.

“Mulai sekarang, panggil aku Zero!” tukas Key asal, ia berjalan mendekati trotoar dan duduk di atasnya.

Tetes air mata membasahi aspal jalanan, meresap ke dalam porinya seiring dengan rasa terpuruk yang kian menelusup ke dasar jiwa Key. Namja itu tersedu-sedan. Ada bimbang yang sama sekali tak pernah bisa lenyap sejak ia memutuskan kabur dari rumah, yang justru semakin menggunung dan bertransformasi menjadi pisau yang diam-diam menyayat. Kenapa labirin berpikirnya begitu culun? Takluk begitu saja dipermainkan oleh hati.

‘Ah, ah, tidak bisa, aku harus mendorong salah satunya kalau tidak ingin mati terdesak!’ Key bangkit dan menghampiri Ken yang berdiri di samping motornya. Ia berdiri berhadapan dengan Ken, meski ia takut setengah mati, tetap ditatapnya Ken seraya berseru mantap, “Ken. Ayo kita tanding! Sekarang juga!”

“Cih, dasar bodoh. Tidak bisa sekarang juga,” Ken justru tergelak, ia kembali naik ke motornya. “Kau lupa, kita hanya bawa satu motor. Bagaimana kita bisa bertanding? Tapi, baiklah kalau maumu begitu. Kita ke markas dulu, pinjam satu motor lagi. Sekarang, naiklah dulu!”

***

Dua di atas satu motor, senyum memulas bibir, indahnya malam ini sungguh elok. In Young mendekap erat pinggang Jonghyun. Rupanya, ia baru menyadari bahwa dirinya sudah lama tak bersua dengan pria ini.

Jonghyun melajukan motornya ke arah sebuah restoran cepat saji yang menawarkan diskon khusus untuk couple dinner. In Young hanya terkikik kecil, gadis itu sudah hafal betul gelagat Jonghyun. Kalau tidak mencari penjaja makanan kaki lima, ya akan banting setir ke arah restoran yang mengimingi potongan harga. Yah, In Young bisa mengerti. Aliran dana dari orang tua Jonghyun tidak sebanyak yang mereka berikan untuk Jongmin. Mungkin dalam benak orang tua kekasihnya itu terdapat semacam aturan abstrak yang berbunyi: pembangkang jangan berharap mendapatkan banyak.

Motor berhenti dan Jonghyun memberi kode pada In Young untuk turun. Tapi gadis itu enggan, ia justru mempererat dekapannya, menumpukan kepalanya di bahu Jonghyun. “Jjong, akhir-akhir ini kita jarang bertemu, ya? Kenapa kau tidak sengaja mencariku?” tanya In Young pelan.

“Nah, aku juga merasa demikian. Makanya sore tadi aku mengirimu pesan untuk mengajak dinner. Oh ya, sebenarnya…In Young-ah, ada beberapa hal yang terjadi selama ini, dan aku tidak ingin menyembunyikannya darimu.”

“Hmmm, begitukah? Tentang apa? Ah, kita masuk saja dulu,” tanggap In Young.

“Yah, seputar hidupku, saudaraku, dan Hana,” Jonghyun menjawab seraya merangkul bahu kekasihnya.

Dua orang itu melangkah masuk ke dalam restoran. Suasananya tak terlalu eksklusif, tapi paling tidak pemiliknya ini masih paham tentang tata cara mengatur interior dan sistem pencahayaan agar pengunjungnya merasa nyaman.

Buku menu disodorkan oleh seorang pelayan. Mata In Young bergerak mencari hidangan yang harganya paling rasional. Hanya ayam lada hitam yang dipesan, potongan harga 30 % jelas menjadi pemicunya. In Young tahu kondisi, ia mencari yang terhemat. Meski sesungguhnya ia ingin sekali memesan hidangan sampingan yang disediakan restoran itu, ia tak tega. Ia memang bisa saja membayar pesanannya sendiri, tapi jelas Jonghyun akan tersinggung.

“Aku juga sama, ayam lada hitam. Oh ya, tambah dua teh hijau dan puding karamel kopi.” Jonghyun menangkap gelagat In Young yang berkali-kali memalingkan wajahnya dari list menu yang terpampang di halaman paling belakang dari buku menu. Jonghyun tahu In Young sangat menggandrungi kudapan yang satu itu, di mana pun mereka makan, In Young selalu suka hidangan sejenis itu.

Yeah, thank you, My Boy.” In Young tersenyum. Ia tak berniat menampik. Dalam persepsinya, jika Jonghyun memesan lebih, berarti pria itu sedang punya uang. In Young tahu betul, namja-nya itu tak gemar berbasa-basi.

Keduanya duduk dengan saling melempar senyum, seolah berbicara lewat isyarat mata. Senyum Jonghyun terus melebar seiring dengan sorot mata In Young yang kian memancarkan rasa bahagia.

Gadis itu menumpukan dagu di atas telapak tangan, memandangi Jonghyun yang wajahnya kian memerah malu. “Jjong, kalau dipikir, hubungan kita ini lucu ya. Jarang bertemu, tapi harmonis. Tak mesra tapi bahagia. Ah, kau sih, tak jago beromantis ria.” In Young memulai konversasi, memicu tawa Jonghyun yang begitu renyah didengar.

“Hei, jangan salahkan aku. Kau juga, mengakulah, sebenarnya kau tidak suka yang terlalu manis, ‘kan?” Jonghyun mengelak.

In Young mengedipkan kedua matanya sekali, “Yes, Sir. Darimana kau tahu?”

“Wohoho… sederhana saja. Aku bisa tahu itu dari jenis kudapan favoritmu. Puding Karamel kopi. Semua orang tahu bahwa caramel itu manis, tapi kau seolah ingin menutupi manisnya itu dengan pahit, sehingga jatuhnya jadi netral. Begitu pula dengan teh hijau. Mayoritas orang lebih suka teh manis, dan minuman itu memang identik dengan manisnya. Tapi kau memilih yang tak manis. Teh hijau akan tetap hambar meski kau menumpahkan gula ke dalamnya. Kurasa, bagi orang sepertimu, pahit itu selalu mengiringi sesuatu yang manis. Ujungnya ya netral. Kau tidak suka yang berlebihan. Aku salah tebak tidak?”

Yeah, tepat. Jjong, kau adalah manusia paling pandai menebak karakter,” puji In Young.

“Tidak juga, aku hanya memahami karakter satu orang, yaitu kau. Aku tergolong tidak peka. Contohnya, aku selalu gagal memahami karakter Park Hana. Euh, itu…” Jonghyun menggaruk kepalanya karena sadar telah salah memilih momentum untuk bercerita, “ah, ya, inilah yang ingin kuceritakan.”

“Hana? Sahabat Key itu? Hana yang pernah suka padamu itu, ‘kan?”

“Ya, Hana yang itu. Sampai sekarang aku tidak bisa menebak apakah gadis itu masih suka padaku. Kami selalu saling ejek, saling melontarkan teriakan, dan seperti saling membenci. Namun terkadang aku merasa ia sebenarnya peduli padaku. Apa mungkin dia masih menaruh rasa untukku? Ah, sungguh, aku tak paham dengan arti sikap kasarnya itu.” Pandangan Jonghyun mengawang, seolah atap di atas sana tak ada, digantikan dengan hamparan gugus bintang yang konon bisa memberi petunjuk pada musafir. Barangkali, bintang sudi membisikkan clue pada Jonghyun—sang pengembara cinta yang tak sadar bahwa dirinya sedang disesatkan oleh cinta.

In Young tersenyum pahit lebih dulu sebelum menanggapi. Ia tak ingin membalas kejujuran Jonghyun dengan sebuah kebohongan, ia harus mengutarakan apa yang dipikirnya, “Sebenarnya, kau bukan tak bisa memahami Hana. Kau hanya gagal memahami dirimu sendiri. Jjong… kalau nanti sudah paham, kau boleh memutuskan sendiri. Yang jelas, betina manapun sebenarnya benci cintanya dimadu.”

“Maksudmu? Omo, In Young-ah… jangan katakan bahwa kau sedang mengira diriku mulai jatuh hati pada Hana?”

“Entahlah, ini kan hanya dugaan. Takdir dan jodoh siapa yang tahu, Jjong.”

Aigoo, kau membuatku takut, Honey. Tahukah kau? Setelah menjadi pelukis, urutan cita-citaku berikutnya adalah mempersuntingmu. Jangan membuat prediksi menyeramkan, aku tak sanggup membayangkannya.” Jonghyun menjadi panik sendiri. Ditariknya kedua telapak tangan In Young dan kemudian ia menciumnya kuat.

“Sudahlah… aku jadi merusak momen bahagia ini. Lupakan, Jjong. Sejauh ini aku masih percaya pada cintamu…,” In Young tersenyum keibuan. Di matanya, Jonghyun seperti anak yang tak siap kehilangan induk.

“In Young-ah… tunggulah aku lulus, kita akan menikah segera. Pasti!” Jonghyun berapi-api, kilatan matanya ditujukan untuk  gadis cantik nan cerdas di hadapannya ini seorang.

“Hmm, kutunggu janjimu, Tampan. Oh ya, Jjong. Kudengar kau akan ikut kontes menyanyi. Nah, soal ini aku ingin minta maaf di awal. Malam itu aku harus menghadiri acara penting.”

“Hmmm, tidak apa-apa… bukan kontes menyanyi yang krusial juga. Tapi, awas kalau suatu saat nanti kau tidak bisa hadir dalam pembukaan pameran tunggal lukisanku, aku akan menciummu untuk yang pertama kalinya!”

In Young terpingkal-pingkal karenanya, telapak tangannya segera dikibaskan di depan wajah Jonghyun. “Hei, hei, itu masih sangat lama. Prosesmu untuk jadi pelukis hebat masih sangat panjang, Jjong. Hmmm, sebenarnya, kalau kau ingin menciumku, aku tidak keberatan kau melakukannya detik ini, di sini. Kau tak perlu menunggu sampai pameran itu tiba.”

Omo.” Jonghyun nyaris terbatuk mendengarnya.  “In Young-ah, jangan membuatku tergoda, hmmm? Pria bisa menjadi ganas ketika ada peluang.” Pria itu melepaskan tangan In Young dengan gugup. Ia pun nyaris menjatuhkan pot bunga artifisial yang ada di atas meja.

Bulan setegah tubuh di langit sana pun terkikik geli. Arogan namun lugu bukan main, itulah kesan mengenai Kim Jonghyun yang malam ini berhasil dirangkumnya.

***

Puncak ketidakrasionalan seringkali indentik dengan tindakan nekat berlebih, dan Key rela jika dirinya dicap sebagai makhluk paling tidak rasional di muka Bumi. Terkadang, irasional itu diperlukan untuk mengusir paksa kungkungan yang memenjarakan diri. Key–ah lupa, dia tak ingin lagi dipanggil Key— menutup kaca helmnya, mengenyahkan takut yang terus menusuk ulu hati. Dadanya berdegup super tak beraturan, sesekali meletup dengan kecenderungan ke depan—alias mendorongnya untuk terus maju, tetapi pada detik lainnya justru membayanginya dengan kata ‘pecundang’, dan lantas mendorongnya keras ke belakang.

Gugup itu mutlak bersemayam dalam diri seorang Key. Meski ini hanyalah awal, terbilang kompetesi main-main. Namun lihatlah, ada enam atau tujuh kepala yang ingin menonton, penasaran akan pemain baru—yang bahkan tak pernah bertanding sebelumnya—mendadak menantang Ken sang Raja Jalanan. Kalau tak ingat Key adalah kawan baru mereka, detik ini mereka sudah terbahak habis mencibir dan merangkai lelucon sarkatis: Zero, ya sesuai namamu. Kosong. Kau ini tak punya talenta, hanya besar di kata-kata. Cih, itukah alasanmu memilih nama itu, huh?

Ujungnya, mereka memilih bungkam, hanya tertawa kecil memberi Key semangat dengan beberapa tepukan pelan di bahu pria itu. Terpaksa pula sebenarnya mereka menelan mentah-mentah pernyataan Ken—yang atas inisiatifnya sendiri menjelaskan makna di balik kata Zero. Sang Pemimpinnya tadi sempat memaparkan: Zero itu artinya nol. Bisa diumpamakan sebagai titik balik, kosong dan siap diisi dengan sesuatu yang benar-benar baru. Key telah menjadi manusia super baru. Anggaplah Key yang lama telah tenggelam di sungai Han.

“Wuhuuuuu, kawan, mari kita saksikan pertandingan yang membuat penasaran siang dan malam ini! Mari kita lihat bersama. Apakah Key, eh, Zero, sanggup mengalahkan Ken? Hmmm, aku sangsi sebenarnya. Tapi, bukankah miracle itu selalu berkeliaran di dalam alam semesta?” Nara memberikan salam pembuka ala kadarnya, yang disahuti oleh sorak riuh kawannya yang lain.

“Tunggu, Nara-ya, jangan dulu kau teriakkan komando mulai. Hmmm, kurasa ada yang masih kurang. Ah, iya, taruhan. Kurang seru jika yang satu itu terlewat.” Max berseloroh ringan menghampiri Nara.

Joon rupanya sepaham dengan Max, “Setuju. Yang kalah harus dance Girls Generation di tengah pelataran SNU.”

“Tidak, tidak. Dengan penampilan seram seperti itu, mereka sudah akan tertahan oleh satpam penjaga gerbang. Bagaimana kalau menari di dekat lampu merah dengan menggunakan boxer saja?” Thunder mengusulkan.

“Hei, polisi akan menciduknya karena dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas. Kau ingin rekan sendiri masuk penjara, huh? Nara memukul kepala Thunder dari depan.

Aigoo, hentikan. Ini Cuma pertandingan kecil sesama rekan, bukan dengan lawan. Lagipula, ini pertama kalinya Key mencoba, anggaplah ini sebagai latihan sebelum menghadapi Kira. Kalian jangan membebani kawan sendiri.” Ken menengahi keributan yang menurutnya agak bodoh itu.

Sungguh besar kharisma Ken sebagai pemimpin, semua yang tadinya berceloteh itu seketika bungkam dan mengangguk-angguk bagaikan patung kucing selamat datang. Perintah Ken adalah sebuah keabsolutan bagi mereka.

“Baiklah, kalau begitu kita mulai saja. Key, Ken, bersiap-” Nara angkat bicara.

“Zero!” sela Key kesal.

“Ckck, oke, Zero.” Nara menanggapi malas. Ia segera menggiring teman-temannya ke tepi dan membiarkan hanya Key dan Ken yang siaga dengan motornya masing-masing.

Aba-aba mulai pun memumbung tinggi ke udara malam, suara bass Nara sungguh tak bisa disepelekan. Key sedikit terjengkang kaget begitu ia menstarter motornya, tubuhnya seperti terdorong ke belakang. Untunglah ia segera sadar bahwa dirinya tengah menjadi navigator bagi sang motor, errr, motor pinjaman.

Key mencoba menambah kecepatannya setelah di awal hanya berani bermain pada batasan yang relatif aman. Kata ‘menang’ masih mungkin diraihnya. Setidaknya ini masih belum terlambat, meski jauh, motor Ken masih tampak di dalam jarak pandangnya.

Key terus bermain dengan kecepatan. Wusssssh, kencang bukan main. Key  sampai merasa pantatnya sudah tak beralaskan lagi. Ia seperti berada di dalam roket yang membawanya ke ruang angkasa tanpa gravitasi. Mengambang diseret-seret angin.

Ada dorongan kuat yang terus menekannya untuk melaju. Makin lama ia semakin kelabakan mengendalikan gerak motornya, terlebih di depan sana ia bisa melihat beberapa kendaraan tengah berselancar damai. Mungkin di dalam mobil yang ada di depan itu, sepasang suami-istri yang tengah menikmati waktu bersama sembari mendengarkan alunan Jazz dari sistem audio mobil. Bisa jadi pula ada bos-bos yang sedang kelelahan bersandar pada jok mobil sementara sang supirnya berkutat dengan jalanan. Sungguh, Key tak tahu apa jadinya mereka dan juga dirinya jika ia sedikit saja lengah, beberapa derajat saja ia keliru membelokkan setirnya, kutukan jalanan yang Nara katakan akan terjadi: Tubuhnya yang remuk redam, kemudian terkenal dadakan karena masuk televisi dan surat kabar, plus Nyonya Kim—ibunya—menangis tersedu-sedan mengais tanah peristirahatan terakhir anaknya.

Tidak, tidak. Key tak ingin hal itu terjadi. Ia masih mencintai hidupnya, paling tidak ia enggan meninggalkan dunia sebelum berhasil mendapatkan pengakuan dari orang-orang, termasuk dari Kim In Young. Ia ingin meninggal dengan martabat tinggi: Key Sang Pria Tulen, tidak lagi jago masak dan bukan lagi penggila pink.

 

Wusssssh, srttttttttt.

Satu mobil terlewati. Key mendesah lega. Namun yang terjadi setelah itu membuatnya merinding bukan main. Rintangan menggentarkan terbentang. Ada dua truk, satu motor pengantar fast food, dan enam mobil pribadi. Tulang-tulang Key seperti tak lagi berkordinasi dengan syaraf, bermusuhan telak bak anak kecil bau kencur yang saling mengumpat hanya karena rebutan mainan robot-robotan teranyar.

Key tak tahu lagi bagaimana cara mengatur raganya setelah mentalnya terjatuh sekarat. Ah, ya, rem perlahan, turunkan kecepatannya. Hanya itu pilihan yang paling rasional. Key tak peduli lagi dengan Ken yang sudah unggul jauh. Ia tak sanggup lagi mengutamakan egonya yang sangat angkuh sok jago itu. Ia tak ingin merenggut nyawa orang maupun mengusir nyawanya sendiri dari tubuh.

Motornya masih juga belum berhenti sempurna, padahal jaraknya dengan kendaraan lain semakin tipis. Napasnya semakin sesak meski ia sudah mencoba berteriak sekencang mungkin, Key mengerahkan kakinya untuk ikut mempercepat proses penghentian.

Ckitttttttttttttttttttt.

Tubuh Key terdorong ke depan mengikuti hukum kelembaman. Nyaris saja Key menabrak bagian belakang mobil truk, untunglah masih selamat, motor terhenti beberapa detik sebelum moncongnya bersinggungan dengan kendaraan jumbo di depan itu.

Keringat dingin mengucur pelan dari balik helm, menyalurkan rasa gemetar yang benar-benar tak bisa diungkapkan lagi. Jantungnya sudah meronta dan mendesah ringkih. Jemarinya sempat tak bisa melingkar ajeg di atas setir. Mereka seakan menegang dan tulang falanges-nya sungguh tak sudi ditekuk. Tulang pergelangan kakinya pun lelah bukan main setelah tadi dipaksa untuk membantu meredam gerak roda. Mereka tak lagi patuh pada kendali otak. Namun Key berusaha untuk kuat. Ia buru-buru mengusai dirinya sendiri, paling tidak, sampai ia punya kesempatan untuk menepi.

Begitu kendaraan di depannya bergerak, Key segera membelokkan stirnya menuju tempat yang aman,   mengasingkan diri dari segala kerunyaman jalanan. Mata Key mencari-cari kilat tempat terbaik. Sayangnya, tak ada tempat lain kecuali pelataran toko-toko yang berjejer di sepanjang tepi. Motornya berhenti dan kemudian diparkir asal, tanpa dikunci secuilpun. Key masuk ke salah satu bangunan tanpa pikir panjang.

Krieeeetttt

Pintu kaca berat itu terbuka setelah Key sedikit mengerahkan tenaganya yang kian susut.  Pria itu terseok lunglai, dibukanya asal helm yang masih menutupi kepala, ia butuh oksigen ekstra banyak dan ekstra kilat. Pria itu berjalan tanpa menegakkan badannya sedikitpun, nyaris mendekati gambaran manusia purba versi buku sejarah.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!” Jeritan panjang membahana. Rupanya, Key menjejakkan kakinya pada butik yang kerap kali menawarkan midnight sale. Jelas saja para gadis di dalam sana menjerit panjang, kencang dan saling bersahutan. Melihat pria nyentrik beraura hitam, wajah dihiasi beberapa tindikan dan dipenuhi peluh lengket, plus hitaman bola mata yang sudah seperti orang setengah teler. Siapa yang tak takut.

“Kyaaaa! Banci! Beraninya main di tempat yang hanya berisikan wanita!” Satu wanita yang baru turun dari lantai atas pun melengkapi keriuhan malam itu.

Water, please…,” desis Key lemah.

Tak ada yang bereaksi, semuanya membeku di tempatnya masing-masing. Ada yang menyembunyikan tas dan benda berharga di balik punggung, mengira Key adalah penyamun cerdik yang menyatroni toko tak berpenghuni pria. Ada pula yang mendekap erat tubuhnya masing-masing, khawatir jika Key adalah preman yang punya hobi menelanjangi wanita. Ada yang hanya memasrahkan mulutnya terbuka lebar, dan sisanya yang hanya mampu menggerakkan bola matanya ke atas-bawah demi menelisik pria asing yang datang tanpa diundang ini.

Water, please…,” ulang Key, semakin samar-samar.

Waktu berjalan namun semua orang mati kutu pada posisinya masing-masing, mereka seperti lupa bagaimana caranya menggerakkan anggota tubuh. Otak mereka masih mencerna, siapa gerangan pria aneh ini? Orang jahatkah? Atau sungguhan manusia yang layak diberi pertolongan?

Brukkkkkk.

Terlambat, Key terlanjur tak sadarkan diri di lantai.

“Kyaaaaaaaaa!”

Kepanikan terjadi, orang-orang berlalu-lalang mencari solusi. Siapa punya air? Siapa punya minyak angin? Hei, siapa yang punya nyali untuk membuka pakaian pria ini? Orang pingsan harus dilancarkan jalan napasnya. Untunglah tak ada yang bertanya siapa yang bersedia membangunkan pangeran tidur lewat ciuman pertolongan pertama.

Key membeku dengan wajah pucatnya. Aura hitam pun lenyap seketika dari diri Key, yang tampak hanyalah ia yang rapuh, dengan rambut agak gondrong yang tersibak. Key tak menyahut meski beberapa wanita berulang kali menepuk pipinya. Ia benar-benar kalah telak dari Ken, juga terpaksa menendang egonya. Pria itu ternyata masih Key, yang punya hati dan segenap rasa takut yang cukup manusiawi. Aih, andai mereka—sekumpulan kawan barunya itu tahu—mereka akan menarik kesimpulan terabsah tanpa perlu uji statistik aneka rupa: Zero means coward. Titik.

***

Matahari pagi telah terbit sejak tadi. Namun gadis itu masih tak beranjak dari sofanya. Bosan mengeluh seorang diri membutnya melempar remote dengan asal. Tak satu pun acara televisi berhasil mengalihkan pikirannya. Gadis itu terbaring lemas ditemani kicauan televisi.

Rencana bolos hari ini rupanya didukung penuh oleh kondisi badannya yang tak jelas rasa. Mengambang, tak jelas apa yang menjadi sebab gundah-gulananya. Kalau mau diukur, kisah semalam tak bisa dikategorikan sebagai mimpi buruk, setidaknya Key bukan pengingkar janji—pria itu tetap datang. Tapi, entahlah, mungkin Ha In benci pada kenyataan bahwa Key sama sekali tak tergerak hatinya untuk mengucapkan janji. Pria itu, apakah ia sudah tak ingat sahabat-sahabatnya? Key benar-benar menjadi manusia mengerikan—tak hanya secara fisik.

Pria itu telah berubah seratus delapan puluh derajat, dari Key yang polos apa adanya, menjadi Key yang liarnya sungguh tak terprediksi. Ha In pun tak mengerti bagaimana Key bisa berubah seperti itu. Tindikan, okelah, para artis K-pop pun mengenakannya, jadi itu bukan lagi hal tabu. Tapi, tetap menyakitkan jika dirinya harus melihat itu di tubuh Key. Tato? Ini yang membuat Ha In yakin bahwa Key telah kehilangan akal sehatnya. Key, si pria yang begitu mendewakan kebersihan dan kesehatan, bagaimana bisa? Oh, ada yang lebih horror daripada tidur semalaman di atas kuburan, Ha In tidak yakin jika pria berpenampilan seperti itu tidak akan merokok, bebas alkohol, dan… yang paling membuat Ha In resah adalah: narkotika, seks, perkelahian antar gerombol.

“Ya! Kim Kibum, kau sinting! Kau menjijikkan! Aku tak mau mengenal orang seperti kau lagi! Aku mau Key si banci penyuka pink, hobi memasak, dan cinta pada ibunya. Aku lebih suka kau yang seperti itu…”

“Key! Kau sialan! Kau konyol, Kekanakan! Aku yakin bahwa otakmu telah dicuci oleh sekelompok orang yang ingin menciptakan dunia baru berisikan preman kolong jembatan.”

“Menjijikkan, tak punya hati. Apa kau sama sekali tidak ingat ibumu? Cih, durhaka. Lain kali aku akan menyeretmu menghadap Nyonya Kim, supaya kau lihat sendiri tubuhnya yang kian mengering.”

“Kim Kibum, mati saja kau daripada hidup dalam ketidakhidupan seperti itu! Kau kira dirimu keren dengan penampilan seperti itu? Kau merasa telah menjadi pria hanya dengan mengubah wajah cantikmu itu menjadi garang, huh? Kau bodoh, kau sama sekali tak mengerti apa itu namja.”

Gadis itu menjadi uring-uringan, letupan makiannya hanya bisa ditangkap oleh udara kosong. Grafik kekesalannya semakin meningkat tak karuan. Segala jenis cacian telah ia tumpahkan hingga kemudian yeoja itu merasa lelah berteriak. Tenggorokannya menyusul sang air mata, mengering.

Park Ha In berhenti merutuk, ia hanya terlentang memandangi atap ruangan. Pikirannya sengaja dikosongkan, untuk beberapa waktu saja ia ingin benar-benar menjadi petapa dalam imajinasinya. Diam dalam ruang pikiran yang tak bersuara, tak ada tangisan, tak ada luka, tak ada kesal, tak ada Heera, tak ada Hana, juga tak ada Key. Ooh, duhai nikmatnya. Gadis itu berharap ia akan terus berada dalam situasi seperti ini untuk beberapa jam ke depan. Ia tak ingin berpikir.

Tiinnnn, tinnnn

‘Sial, suara klakson. Siapa yang mengusik ketenanganku, huh?’

Dengan malas gadis itu bangkit untuk membukakan pintu. Langkahnya yang terasa limbung pun dipaksanya untuk sampai di ambang pintu. Ha In merapikan rambut kusutnya dengan jari terlebih dahulu sebelum membukakan pintu. Setidaknya tamu harus sedikit disambut.

“Ooo… annyeong.” Ha In menyapa kikuk tamu yang tidak dikenalnya itu. Wanita itu tersenyum sangat hangat, seolah telah mengenal Ha In sebelumnya dan yakin bahwa dirinya tidak salah alamat.

Annyeong haseyo. Aku kemari ingin bertemu dengan Park Yoochun, pria yang mengontrak kamar di rumahmu. Hari ini dia tidak berangkat kerja, katanya semalam demam dan sampai sekarang masih belum reda.” Wanita itu membalas ramah, menyisakan Ha In yang bertambah bengong

“Eh? Yoochun Oppa demam? Mengapa aku tidak tahu? Hais, harusnya dia bilang padaku. Maaf jadi merepotkan Anda untuk datang kemari. Kalau saja Oppa bilang, dia bisa miinta tolong apapun padaku.”

“Oh, dia memang tidak memintaku datang. Dia hanya minta izin tidak masuk kerja padaku dan sedikit bercerita tentang demamnya. Aku kemari atas inisiatifku sendiri saja. Oh ya perkenalkan, aku Song Haneul. Eummm, aku…. atasan Yoochun.” Wanita itu menjulurkan tangannya, mengajak Ha In berjabat.

Ha In membalas ulurannya meski ia tak yakin wanita ini jujur. Coba ditelaah, wanita ini mengaku sebagai atasan Yoochun? Ha In memiringkan kepalanya. Seumur hidup ia baru mendengar bahwa seorang atasan akan langsung menjenguk karyawannya yang hanya terserang demam, dan ini baru hari pertama Yoochun sakit. Wow, baik sekali wanita ini?

Ha In menelusuri penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga kaki. Hmm, memang seperti nyonya besar, wanita ini tidak berbohong. Mungkin usianya baru kepala lima puluh, cantik, rambut hitam legam seolah tak beruban, kulit mulus entah dirawat dengan produk kecantikan merek mahal yang mana, tubuh berbalut blazer ungu—kemeja putih—celana putih, aksesorisnya silver elegan, dan satu tangan wanita itu menjinjing paper bag dari brand ternama, sementara tangan yang lain membawa sebuah plastik belanjaan—kelihatannya seperti kotak kardus makanan.

“Eummm, Nyonya… silakan duduk dulu. Saya panggilkan Yoochun Oppa dulu, ya?” sambut Ha In setelah beberapa detik mengamati.

Eits, wanita tadi menyanggah dengan menarik lengan Ha In. Ada sedikit kesan terburu-buru dalam ekspresi wajahnya, alisnya yang tertata dengan baik mulai berkerut-kerut dan tertaut. “Maaf, Nona… bolehkah saya saja yang langsung menemui Yoochun?” Wanita itu bertanya tanpa ragu. Ia segera bisa menangkap raut tak suka dari wajah gadis muda yang berdiri di hadapannya ini. Ah, ya. Jelas dirinya baru saja memancing rasa curiga gadis itu. “Ehm, kupikir kasihan sekali kalau orang sedang sakit harus berjalan kemari, lebih baik aku yang sehat inilah yang menghampiri. Bukan begitu, Nona Cantik?”

“Ahh… baiklah, mari kuantar ke kamar Oppa,” Ha In setuju. Masuk akal memang, orang sakit dilarang beranjak dari ranjangnya. Ia pun menggiring wanita itu menuju kamar Yoochun.

Pintunya terkunci. Ha In baru saja akan mengetuknya, tetapi gerak tangannya tertahan ketika tamunya tadi memanggil Yoochun, “Chunnie, aku datang.”

Curiga tak terelakkan. Chunnie? Aku datang? Kenapa wanita ini terkesan sangat akrab dengan seorang Park Yoochun? Kakak sekaligus atasannya kah? Atau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Yoochun? Kenapa wanita ini begitu peduli pada Yoochun?

Nuna? Apa itu kau? Ah sebentar, aku agak pusing bangun.” Terdengar suara sahutan dari dalam, dan ini jelas membuat ekspresi wajah Ha In makin dipenuhi raut curiga.

Nuna? Jadi wanita ini adalah kakaknya Yoochun? Tidak mungkin, marga mereka beda. Ah, mungkin masih saudaranya.

Yoochun membukakan pintunya, ia memasang senyum hangatnya meski wajah pucat pasinya dibanjiri peluh, “Nuna, kenapa kau kemari? Kau tidak jadi pergi ke Incheon?” Pria itu menyapa wanita tadi. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Ha In yang ada di sebelah kanan belakang Nyonya Haneul.

“Jadi, tapi kusempatkan dulu kemari. Ini, kubawakan kau makanan dan obat. Kau pasti belum makan sejak kemarin sore.” Nyonya Haneul menyerahkan bungkusan yang dibawanya sambil meraba kening Yoochun. “Kau masih panas, mau kuantar ke dokter tidak?”

Yoochun meraih tangan wanita itu, menahannya di antara apitan kedua telapak tangannya sendiri. “Tidak perlu, istirahat saja sudah cukup. Nuna, omong-omong, bagaimana kau bisa masuk? Siapa yang membukakan pintu?”

“Aku, Oppa.” Ha In menampakkan diri, memasang senyum tolol yang jelas direka.

Bibir Yoochun mengatup, pria itu segera menganalisis keadaan. Park Ha In ada di sini sejak tadi? Oh Tuhan,  sudah pasti Ha In mendengar semua percakapan tadi. Lalu apa yang sebaiknya kuperbuat?

“Ah, tidak sopan jika aku menguping pembicaraan kau dengan tamumu. Aku pamit saja, emmmm, lain kali mungkin kita memang perlu berbincang lagi mengenai teori… misalnya… ah ya, mungkin besok-besok topik tentang perbedaan cara berpikir male brain dan female brain akan menarik.” Ha In mencoba menguasai dirinya, belum tentu apa yang dipikirkannya itu benar. Ia tidak ingin gegabah menarik konklusi, apalagi judgement. Mungkin, ia hanya butuh waktu untuk berbincang di teras sambil minum kopi pagi bersama Yoochun.

Yoochun hanya tersenyum dan lantas beranjak mendekati Ha In, sekadar memastikan dan… entah, saat ini ia memang benar-benar sedang tidak peka untuk membaca raut wajah Ha In, atau memang gadis itu yang sengaja memasang tampang datar? Benaknya mempertanyakan maksud pernyataan Ha In.

Ah, rupanya gadis itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu, kini Yoochun mengerti itu. Hanya saja, Yoochun tidak tahu setinggi apa tingkat kepandaian Ha In dalam mengamati dan menyelidiki. Semoga saja, gadis itu sepolos yang biasanya—tidak berpikir macam-macam.

Apa mungkin Ha In sebodoh itu? Ah, bukankah tadi Nyonya Haneul hanya meraba kening? Harusnya tidak ada yang patut dicurigai. Dan kalaupun gadis itu tahu, apa masalahnya? Yoochun tak mengerti kenapa dirinya mendadak merasa sedikit resah. Pria itu kemudian memutuskan untuk membalas, “Boleh juga. Pada dasarnya otak pria itu simple. Kau sebagai perempuan, jangan terlalu banyak berpikir ya?”

Ha In terkekeh kecil, “Oppa, kau sungguhan elektron yang gemar mengelilingi orbit dan pindah lintasan, ya? Eh, aku salah bicara, ‘kan? Ah ya, kita bahas ini lain waktu. Selamat bercengkrama, kalau kau butuh pertolonganku, aku ada di rumah seharian ini.” Gadis itu membalikkan badan, berusaha sekuat tenaga menepis prasangka di otaknya. Ia tidak ingin hal ini sesuai dengan dugaannya. Ha In berharap, Yoochun bukanlah James Bond versi Korea—pria jenius dengan segudang wanita. Memang benar, kalau diingat-ingat, bukankah namja itu sendiri yang sering menyiratkan bahwa dirinya bukanlah angsa yang bisa setia seumur hidup pada belahan jiwanya?

Hei, tiba-tiba Ha In berpikiran, apa mungkin Park Yoochun itu mirip serigala? Hewan yang sedikit licik padahal ia memiliki sisi mulia tak terkira berupa keterikatan yang kuat dengan keluarga. Ah, sudah. Ha In tak berani lagi menelorkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Otak manusia itu infinite, Ha In tak ingin gegabah menghakimi Yoochun.

“Hei, Ha In-ah, memangnya kau tidak kuliah hari ini?” tanya Yoochun begitu Ha In sudah nyaris menghilang di balik tembok.

“Sepertinya aku tertular demammu, Oppa!” teriak Ha In asal. Ia sedang tidak ingin bercerita detail mengenai asal-usul absennya ia dari kampus. Ha In tak peduli Yoochun peka tidak bahwa dirinya juga sedang diserang demam, pun masih tidak ingin membahas tentang pukulan mental akibat kejadian di sungai Han semalam.

“Ya! Park Ha In, kau sakit?” Suara Yoochun terdengar lagi, namun Ha In menganggapnya sebagai angina lalu. Baru pertama kalinya gadis itu membalas demikian, ia sedang enggan.

To Be Continued

Maaf kalo kerasa butut. Lama engga nulis ff ini, jadi bingung mulai laginya gimana .__.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “Namja – Part 12

  1. udh baca part ini d wp nya bibib hehe…
    Makin seruuu!! suka scene nya jjong-in young romantiss..tp msh brhrp jjong nya ama hana, in young ama key😀

    Next part nya dtunggu bib ^^

    1. Duh duh eonni… udah mikirin pairing aja. Aku juga blom mikir ke arah siapa jadian ama siapa sih, bukan itu ending tujuannya, hehe

      makasih loh ya eon mampir 2 kali gini😀

  2. kenapa aq gk bisa jd yg pertama komen ya? aigoo…

    nah, tuh baru in young nongol. ciee asyik ya kencan ama jjong. ohh… jjong tuh dah tau kl hana suka ama dia?
    eon, kau mmng hebat bikin ff. lg seru2nya baca waktu key lg kebut2an hrs ngakak waktu dia diblng banci ama emak2! wkwkwk gk bisa bayangin deh…

    dr awal sebenarnya aq msh krng ngerti, kenapa sih key hrs jd preman? nah skrng aq udh tau. key cuma mau dpt pengakuan kl diriny namja dr temen2nya dan spesialnya si in young doang? pdhl in youngnya udh tau blm sih kl key kabur? atau in youngnya udh tau blm kl key suka ama dia?blm kan ya?

    moga aja endingnya key ngerti kl orng diblng namja itu bkn jd preman liar. cepet lanjut ya eon!

    1. ya ga mesti pertama han🙂
      Jjong tau kok, kan di part awal2 sering disinggung han.
      HUahaha, bukan emak2 juga sih han. Tadinya aku mau bikin yg lebih konyol drpd pingsan di butik, tp ga jadi.

      in young juga tau kok han klo Key suka ama dia, eh, bentar, yg ini aku lupa

      ga janji cepet han, fokusku lg k skripsi abisnya
      makasih ya han udah mampir😀

  3. kereeen…
    In Young muncul lagi. lucu jg karakter Jjong dsni. tampang bad boy gitu trnyata polos. hehehe…
    dari awal Kira muncul secara misterius, aku kok menduga dia itu In Young yah? bener gag sich? tp kl misal iya, harusnya Key juga udah bisa ngenalin dia donk? secara, slh satu faktor Key berubah jg karena dia…
    jd penasaran. tp ya udah lah. makin penasaran makin seru….
    selalu ditunggu part selanjutnya🙂

    1. Kira? Eum, kok pada mau tau ya siapa Kira. Wah, siapa ya, ntar deh ya😀
      Urusan ngenalin, kan Kira adanya pas ajang balapan aja, dan aku selalu bilang dia pake helm ato penutup wajah, perasaan sih gitu
      makasih untuk kunjungannya yaaa😀

  4. Aahh akhirnya….namja part 12.
    Tapi….waktu lagi seru-serunya baca, malah habis TT
    Nggak ada JjongNa moment-nya ya thor? Hahaha #plaakk
    DAEBAK lah pokoknya thor, saya suka banget sama cerita Namja ini hohoho ^^
    Ditunggu next chap nyaaa…….

  5. ohya thor..saya mencurigai sesuatu disini malam dimana Jjong tampil sama kayak malam Key sama Kira tanding bukan?? kalau iya, itu…brarti..yah itu berarti😄 hohoho penasaran….lanjut deh thor hehehe

    1. Iya nih, Jjong-Hana nya ntar dulu, aku ngejer cerita dulu soalna

      nah nah, ini juga ya penasaran siapa Kira, pdhl aku ga maksud menjadikan dia sbg misteri2 yg gimana gitu. Ehm, ya ya selamat penasaran

      makasih ya say udah mampir😀

  6. aduh… key kok kayak labil gitu ya? bener juga dia mau dipanggil pake nama zero..!!! bagus banget namanya, hahaha…
    ni tumben ada kocaknya, pas key pingsan ditoko pa butik ya? lupa, kekeke…
    jadi penasaran gimana lanjutannya…
    lanjut ya thor..
    keep writing!!! 🙂

    1. Zero means coward, hahaha… sebenernya waktu di part 11 aku ngasal aja loh pasang tuh nama. Baru di part 12 muter otak apa artinya, haha
      Authornya lagi sinting, makanya kepikiran yg agak kocakan dikit buat jadi ketawaan pas nulis, hihi

      makasih yaaaa udah mau baca ff ini😀

  7. Ya Tuhan, tiap baca ff bibib sering bingung ini fanfiction ato berasa baca novel gitu ya, abis bahasany POLL dah hehe
    bayangin cowo bertato tiba” masuk toko emang serem ih, tp entah mengapa, sampe sekarang maish belum bsa membayangkan Kibum jd preman haha

    dan hamina, it bang yoochun, ngenes bgt kerjany, kaya gak ada kerjaan lain ap, mana istri sama anak”, mana dyny suka Ha In lagi *eh ini dugaan aja kali ya

    saya anti Hana-Jjong dah, mending sm In Young. Kesanny love hate it ya, ekhem, pokokny jjong sm in young aj deh titik!
    eits, kebanyakan bacot ya syany. okelah, next part dah ditungguin hohoohho
    oh ya, wisudany semoga lancar ya Bib biar semua sequel cepat jd jg🙂

    1. eeee, masih jauh dr novel mah, aku blom bisa yg gituan

      ckck, aku jg susah setengah mati bayangin kibum yg macem itu, secara imaga key di otakku udh terlanjur ‘genit’, heheheh… makanya tiap mau tidur beneran kubayangin dulu Key wujud preman, biar ga lupa.

      Yoochun, ah, banyak bapak2 macem dia mah, aku udah liat satu di kehidupan nyata. Yah, karakternya ga pure jahat, ga pure baik

      Jjong, errr, sejujurnya aku beneran ga mikirin couple2nya di akhir bakal gimana, gimana nanti aja dah yg gituan mah.

      Skripsi ya, hueeeeee, terancam bgd skripsiku, udah gagal sekali, musti banting setir k metode laen, jd masih panjang jalannya. Tp aku tetep nulis sebenernya, kmaren2 udh sempet 8 lembar tp krn butut aku ulang lg dr awal. Mian ya lama banget😦

      Makasih ya Boram udah rajin ngikutin ff ini😀

  8. Huuaaa. . .pnasaran ama lanjtnya,
    Ya Allah tunjukanlah key ke jln yg bnar
    DAEBAK!!!,thor, kau mnjd slh satu author favoritku,keep writing thor,ku tunggu part slnjtnya. . .

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s