Foolishness and Confession

Foolishness and Confession

Author: Ms. Carennina Lee

Main Cast: Lee Jinki (Onew-Shinee), Carennina Lee.

Support Cast: Key (Kim Kibum-Shinee)

Length: Oneshoot

Genre: Sad, Tragedy, Love

Rating: General

Summary : “Aku menyukaimu.” ucapku singkat dengan yakin dan mantap. Namun dengan hebatnya kau langsung membuat hatiku mencelos. Aku dapat mendengarmu menghela nafas walaupun kau melakukaknnya dengan sangat pelan.

A.N: My first ff, based on my mind and don’t be silent reader J Please enjoy J

12 Juni 1989

“Jinki Sunbae..” panggilku. Kau menoleh dan menatapku sedikit heran. “ya? Oh, kau juniorku di ekskul musik, bukan?” aku mengangguk pelan. Aku tau, kau hanya mencoba ramah padaku. Aku sudah cukup mengenalmu, kau tak pernah beramah-tamah padaku. Begitu pula sebaliknya.
“Sunbae, aku ingin mengatakan sesuatu. Apa kau ada waktu?” bola matamu bergerak dengan perlahan ke arah lain sebelum kembali mengarah padaku. “tentu. Duduklah.” aku sempat menahan nafas saat mendudukkan tubuhku di sampingmu. Ini, salah satu hal yang begitu aku impikan selama ini.
“Sunbae, aku tau bahwa ini tak seharusnya ku katakan. Hanya saja, aku tak ingin kehilangan kesempatan.” ucapku bertele-tele. “Apa yang ingin kau katakan?” sepertinya kau tak lagi mencoba ramah padaku. Kau menjadi cuek hanya dalam hitungan detik.
“Aku menyukaimu.” ucapku singkat dengan yakin dan mantap. Namun dengan hebatnya kau langsung membuat hatiku mencelos. Aku dapat mendengarmu menghela nafas walaupun kau melakukaknnya dengan sangat pelan.
Aku memalingkan wajahku ke arahmu, ingin melihat reaksimu. “Mungkin kau berpikir bahwa aku adalah perempuan yang urat malunya sudah terputus, karena dengan begitu percaya diri mengatakan ‘suka’ padamu, begitu?” kau sontak menatapku. Matamu sedikit melebar setelah mendengar ucapanku. Apa yang ku katakan benar adanya, kan?
“Sebenarnya aku ingin secara gambalang bertanya; ‘maukah kau menjadi kekasihku?’ padamu.” matamu masih menatapku dengan tatapan cukup tajam. “Tapi matamu tak mengijinkannya. Mungkin mereka tau bahwa jika aku mengatakannya, hatiku akan patah.” aku dapat mendengar kau menarik nafas cepat saat aku mengatakannya. Haha.. Semuanya terlihat jelas di matamu, Sunbae; kau tak menginginkanku.
“Perlu kau tau, kau laki-laki pertama yang membuatku merasakan degupan aneh dalam dadaku, yang membuat pikiranku dipenuhi dengan imajinasi gila tentang ‘aku dan dirimu’, yang membuatku memalingkan wajahku dengan sangat tajam hanya demi memandangmuㅡmencuri pandang padamu, kau juga laki-laki pertama yang membuatku menangis dan sesak nafas ketika kau mengabaikanku, sedangkan aku tau temanku bahkan bisa dengan akrab mengobrol denganmu. Sebenarnya apa yang membuatku berbeda dengan yang lain?” titahku panjang lebar tanpa menatapmu. Sibuk meneruki ujung sepatu kets unguku.
Kau masih diam seribu bahasa. Apa kau kehilangan seluruh kosa katamu setelah mendengarku? Ah, maaf. Aku terlalu berlebihan dalam mengimajinasikan ‘aku dan dirimu’. Apa yang ku katakan bukanlah hal yang ‘wow’ hingga bisa membuatmu kehilangan seluruh kosa katamu.
“Jangan merasa bersalah jika kau merasa bersalah, karena kau sama sekali tidak salahㅡwalau hatiku selalu berteriak kaulah yang salah. Sejak awal aku tau ini akan menjadi perasaan sepihak. Di mana hanya aku dan hatiku yang tau, aku dan hatiku yang merasakannya. Tapi dengan beraniㅡdan bodohnya aku mempertahankannya. Menanamnya, memupuknya, dan merawatnya dengan sabar. Hingga kini perasaan ini sudah mengakar kuat dan dalam sampai ke dasar hatiku. Tapi ku mohon, jawablah pertanyaan yang secara tersirat sudah aku lontarkan padamu, Sunbae. Aku ingun mendengarnya langsung darimu. Bukan hanya lewat tatapanmu.” Bodoh! Sempat-sempatnya mataku berkaca-kaca begini.
“Akuㅡaku.. Aku tidak bisa.” ucapmu pelan. Kedua mataku seketika menutup rapat. Rahangku mengeras. Gigiku gemeretak pelan dan kedua tanganku meremas ujung blouse ku yang cukup panjang dan berada di samping tubuhku. Ini sudah kau prediksi, Carent. Kau sudah mempersiapkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi, bukan?, batinku mencoba men-sugesti jiwa dan pikiranku.
“Boleh aku tau mengapa? Mengapa kau tak bisa? Apa yang membuatku berbeda dengan yang lain?” tanyaku dengan suara yang susah payah ku coba keluarkan demi menanggapimu. Lagi-lagi kau terdiam. Ku mohon jangan diam, Sunbae.
“Kau berbeda, ya, kau berbeda. Semua orang berbeda. Dan kau.. Kau terlalu tertutup, kau terkadang kasar dan cuek. Dan akuㅡ”
“Sudah memiliki nya? Aku juga seharusnya tau diri; aku tidak cantik dan menarik seperi nya.” sela ku dan membuatmu menghela nafas. “Maafkan aku, Sunbae. Tapi tak bisakah aku menjadi temanmu? Sahabatmu? Mungkin kita bisa..”
“Bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu. Dan untuk itu, kita bisa menjadi teman.” ujarmu tenang. Lagi, kita lagi-lagi terdiam. Apa kau merasa canggung? Apa kau menyesal? Apa aku terlalu berlebihan? Apa aku terlalu menuntut? Akupun sekarang kehilangan segala kosa kataku. Namun, reinkarnasi?
“Sunbae, apa kau percaya reinkarnasi?” tanganku yang semula berpangku di atas pahaku kini naik dan mengusap lenganku. Udara semakin dingin. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Kau menoleh dan menatapku. “Ya, aku percaya. Kenapa?”
“Jika Tuhan mengijinkan aku untuk memilih, apa kau tau aku akan memilih apa setelah reinkarnasi nanti?” dahimu berkerut samar. Kepalamu menggeleng, “Apa?” lalu kau kembali memandang lurus ke depan.
Ku hela nafas dengan berat sebebelum menjawabmu. “Aku akan memilih untuk menjadi orang yang jauh dari mu, orang yang lebih baik dan orang yang dengan mudah dicintai.”. Selama beberapa saat tak ada tanggapan yang kau lontarkan untukku. Hah.. Aku lelah menunggumu. Sebaiknya segera aku menghakhiri semua.
Aku bangkit dari kursi panjang itu dan menghadapkan tubuhku ke arahmu. “Mau kemana?” matamu bergerak cepat dan berhenti saat bertemu tatap denganku. Sunbae, tak taukah dirimu. Dengan pertanyaan singkatmu itu, kau membuatku menggantung harapan kecil tentang ‘kita’ lagi. Cukup, Sunbae.
“Memulai proses reinkarnasi.” titahku tertahan. Aku menggigit bibir bawahku dengan khawatir dan menggeleng pelan saat kau ikut bangkit. “Apa yang kau bicarakan?! Jangan bertindak bodoh!” hardikmu tajam. Lagi, kau membuatku tanpa sadar menggantung sebuah harapan kecil tentang ‘kita’.
“Sudah terlanjur! Aku sudahㅡdan terus menerusㅡ bertindak bodoh sejak melihatmu dengan kaca mata berbeda! Aku bodoh. Aku tau, Sunbae!” balasku dengan seruan walau suaraku kini mulai serak karena menahan tangis. “Aku sudah memulainya dengan bodoh. Maka biarkan aku mengakhirinya dengan bodoh.”
“Sudah ku bilangㅡ”
“Aku menyukaimu! Aku menyayangimu! Sangat!” lagi-lagi aku menyela ucapanmu. Dan aku menggantungkan sebuah harapan kecil tentang ‘kita’ lagi dengan memelukmu seperti ini. Lapisan bening yang sempat membuat pengelihatanku rabun kini sirna dan membuat bekas kecil di kausmu. Maafkan aku, Sunbae. “Maafkan aku, Sunbae. Tapi tolong, biarkan seperti ini sebentar saja..” beberapa kali mataku mengedip dan di saat bersamaan meluncur bulir-bulir air mataku. Aku tak menyangka, tubuhmu hangat. Sama hangatnya dengan yang kurasakan saat memeluk orang tuaku. Dan ini juga salah satu hal yang paling aku inginkan.
“Aku harus pergi, sekarang.” ucapku setelah puas memelukmu dan menumpahkan segalanya di dadamu. Ku tatap dirimu dari atas hingga ke bawah. Kausmu sedikit lecek dan agak basah karena pelukan dan air mataku. Wajahmu juga terlihat sayu. Ada apa?
“Maafkan aku, karena sudah membuatmu merasa terbebani dan kausmu menjadi basah begitu.” kataku sembari mengusap pipi dan mataku. “Aku baik-baik saja.” jawabmu datar. Wajahmu sama sekali tak menunjukkan ekspresi berarti selain kedataran.
“Hmm.. Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan memulai proses reinkarnasiku. Kau, tenanglah.. Tak akan ada beban lagi untukmu karenaku, hidupmu pun akan lebih tenang dan bahagia setelah aku pergi. Tak perlu mengingatku. Semua yang aku katakan dan aku lakukan padamu hari ini, lupakan saja. Anggap saja sebagai sebuah mimpi buruk yang tak berarti apa-apa. Jadi, kau pun tak perlu merasa bersalah.” dengan lancar kata-kata itu meluncur dari sela kedua bibirku. Dengan agak susah ku lengkungkan bibirku, menarik kedua ujungnya ke atas sehingga membuat sebuah senyuman paling manis untukmu.
“Terima kasih, Sunbae. Aku tak berharap kita dipertemukan kembali. Aku pergi..” setelah membungkukkan tubuhku pada mu aku berbalik dan berjalan menjauh. Menembus hujan dan udara musim gugur yang begitu menusuk tulang.
Hatiku sakit. Sebuah luka menganga segar dan lebar di permukaannya. Kemudian dicelup dalam alkohol dengan konsentrasi tinggi. Lalu dibaluri garam dan diremas. Kau bahkan tak memanggilku. Membiarkanku menerjang hujan hari ini sendirian tanpa perlindungan apapun.
“Tunggu!” aku terhenyak. Seketika langkahku terhenti dan kakiku bergetar. Sungguhkah itu? Apa telingaku tak salah dengar? Kau mencegahku?
“Kau, namamu siapa?” tanyamu begitu sampai di hadapanku. Tanganmu menggantung lebar dengan jaket biru yang merentang di sana, memayungi tubuhmu. Kau mengambil satu langkah maju sehingga jaketmu ikut menutupi sebagian tubuhku. “Carent. Carennina Lee.” kau mengangguk dan tersenyum. Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Aku tak pernah melihat kau tersenyun ramah dalam jarak sedekat ini. Tuhan.. Kenapa begini lagi? Luka dalam hatiku secara perlahan sembuh hanya dengan melihat senyummu. Beberapa harapan pun telah menggantung riang di benakku. Apa artinya semua ini?
“Jinki Oppa..” panggil sebuah suara lembut di belakangku. Ya Tuhan.. Tak bisakah Kau membiarkan aku merasa bahagia lebih lama lagi? Tak sampai satu menit padahal, tapi hatiku kembali patah. Aku mengenal suara lembut itu. Aku mengenal pemiliknya. Aku tau siapa dia bagi orang yang tengah berdiri dihadapanku dengan mata terarah pada objek dibelakangku kini. Dan hanya dengan mengingatnya air mataku kembali jatuh.
“Sunbae, aku harus melanjutkan prosesku. Selamat tinggal.” ucapku hampir berbisik padamu. Kau tak lagi mencegahku. Hanya menatapku sebentar, lalu menggeser tubuhmu demi memberiku jalan untuk lewat.
Satu langkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Empat langkah.. Lima langkah.. Baiklah, ini sudah berakhir. Selamat tinggal masa lalu..

12 Juni 2089
“Peserta berikutnya!” sebuah map ungu muda diletakkan dihadapannya. Ia mendongak dan menemukan seorang gadis yang tersenyum manis dengan blouse soft purple dan celana denim berwarna hitam. Rambutnya lurus sepundak dengan poni kanan. “Siapa namamu?” ucapnya sambil tersenyum ramah sebelum membuka map ungu yang tadi diserahkan gadis itu.
“Carent. Carennina Lee.” ucap gadis itu membuatnya kembali mendongak. Seperti Dé Javu ia seakan merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan sebelumnya. Tiba-tiba sebuah kilasan yang entah datan dari mana muncul samar dalam benaknya. Sebuah punggung yang menyiratkan kekecewaan serta kesedihan mendalam berjalan menjauh di tengah hujan yang sangat deras. Mata Jinki masih tertuju pada foto seorang gadis dalam map itu.
“Nama Sunbae? Boleh aku tau nama Sunbae?”, ia tersadar dan mendongak. “Oh? Ah, aku Lee Jinki.” mata gadis tadi membulat. “Lee Jinki?” lidahnya tiba-tiba kelu.

“Ne, waeyo?”. “Sunbae, apa aku mengenalmu?” Jinki mengernyit. Ya, apa mereka saling mengenal?

”Apa kau Carent, yeojachingu Key?”. Lidah Jinki kelu dan hatinya terasa perih kala Carent menganggukkan kepalanya. Ada apa?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

38 thoughts on “Foolishness and Confession”

    1. iya, itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :)) thanks ya :))

    1. mianhae ya, the first time sih 😀 itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :)) thanks ya :))

  1. Ahhh ceritanya bagus :’) mengharukan…

    Maaih ada kesalahan penulisan dikit ama nemu dikit typo. Tapi peduli amat ah ceritanya keren

    aku kurang ngerti ama endingnya sih. Tapi itu reinkarnasinya pasti. Habis itu Caren ama Key n betul2 nemuin cinta yg baru. Tapi Jinki sakit hati entah kenapa.

    Waa aku suka!! Keep writing yaa~~ 🙂

    1. hohoho mian yaah 😀
      itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :)) jadi si jinki merasa bersalah, kehilangan sama nyeselnya setelah mereka bereinkarnasi 😀 thanks ya :))

  2. Agak gak paham ama endingnya sih thor ,itu yg reinkarnasi carent doank apa jinki jg?? Ah tp dari segi bahasa n critanya aq suka 😀 nice FF

    1. iya, itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :)) thanks ya :))

  3. aaaa… kata-katanya nyesss.. banget ke hati..
    sayang endingnya kurang jelas..
    tapi tetep bagus kok, kerasa feelnya 🙂

    1. iya jadi itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :)) thanks ya :))

  4. Endingnya itu reinkarnasinya berhasil ya thor? Agak bingung, hehe

    Untuk FF pertama udah keren ini, cuma ada sedikit typo tapi kalau dari penggunaan bahasa ini udah keren, tinggal di kembangin sedikit aja, udah deh, cakep!

    Nice FF, keep writing, ne?

    1. iya, itu kan ada tahunnya.. jadi 100 tahun setelah kejadian itu mereka diketemuin lagi. dan itu setelah keduanya sama sama sudah bereinkarnasi :))
      thanks ya :))

  5. kerrreeeen….
    apakah maksud Carent “proses reinkarnasi” itu dia bunuh diri setelah ditolak Jinki??? wooaaah, obsesi banget yah, Carent sama Jinki…
    bahasa n narasinya keren, meski awalnya agak bingung soalnya pake’ kata ganti kamu, bukan dia buat Jinki…

    1. bukan sih, hehe dia cuma pergi 😀 ._.v
      iya soalnya ini pake sudut pandang org pertama pemeran utama 😀 thanks yaa :))

  6. feel nya dapet banget, ikut2an nyesek juga nih (?) pas bagiannya reinkarnasi nya itu, ada apa dengan jinki (?) pengen sequelnyaaa dunkk thor 😀

  7. oo…kayy.. daebakkkkk… keren keren.. pertamanya biasa, tapi di bagian bagian akhir itu rasanya dalemm.. good hob authornimmmm

  8. Carennnnnnnnnnn…ff pertama ya ini? 😀 bwakakak! bagus bagus..suka sama tata bahasnya.. ^^
    tapi entu si carent maksudnya gmn ya?? masih gak dong hehehehe..
    suka bgt sm karakternya onew disini 😀
    sequel..
    sequel…!!
    Fighting !! Keep writing!

    1. Ya setelah itu mereka pisah, dan ketemu sebagai hasil reinkarnasi dari masing2 individu di 100 taun kmudian. Disitulah mereka ketemu dan Jinki baru ngerasa menyesal udah nolak si carent di 100 taun yg lalu. =)
      Kalo buat sequel entar malah nggak keruan, lagian jg belum sanggup ini =D thanks a lot =))

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s