The Destiny – Part 5

                   The Destiny [Part 5]

Tittle                : The Destiny

Author             : Lee Hana

Main cast         : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length             : Sequel

Rating              : T

Summary         : Kibum berjalan lebih cepat dan menahan langkah Rika. Mencengkeram lengan kanan Rika dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang leher bagian belakangnya. Rika tersentak dengan tubuh semakin menegang. Kibum memberikan tatapan menusuknya kembali. Saling berpandang dalam sepuluh senti saja. Sedangkan Rika hanya bisa diam dengan napas tertahan. Menatap Kibum dengan mata terbelalak. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya Kibum akan lakukan.

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

“Aku cinta kamu,” ulang Jinki lagi.

Rika tersenyum bingung dalam diam beberapa saat, kemudian melepaskan diri dari pelukan Jinki. Mundur dua langkah. “Oppa, kamu mengatakan saranghaeyo dengan bahasa Indonesia?” Tatapan Rika mengatakan bahwa ia takjub.

 

“Aku sudah menyukaimu selama dua tahun. Kamu percaya itu?”

“Du-dua ….”

“Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya. Tapi sejak melihatmu tersenyum, membicarakan banyak hal, kita tertawa bersama. Semuanya terasa sangat menyenangkan, meski hanya lewat sebuah layar monitor. Aku bahkan sempat berpikir untuk menemuimu di Indonesia,” ujar Jinki yang diselingi senyum cerah.

Rika diam dan mendengarkan.

“Kau ingat saat aku mengatakan saranghaeyo? Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Tapi pada akhirnya aku melanjutkan kata-kataku lagi dengan ‘jadi, apa bahasa Indonesia-nya?’. Aku masih takut saat itu, tapi setelahnya aku memutuskan untuk mengatakannya dengan kata ‘aku cinta kamu’. Dan aku sudah mengatakannya sekarang.”

Oppa, saat kamu melanjutkan kata-katamu dengan ‘jadi, apa bahasa Indonesia-nya?’ aku menertawai diriku sendiri karena merasa kamu juga mencintaiku. Aku pikir aku adalah orang yang terlalu percaya diri. Aku pikir tidak mungkin kamu jatuh cinta padaku, sedangkan kamu tidak pernah mengenalku secara nyata.”

Jinki menatap Rika yang tersenyum kecil kepadanya. Senyuman penuh cinta.

“Maukah kamu menjadi yeojacingu-ku?” Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Jinki. Perlu keberanian yang lebih besar ketika mengatakannya. Debaran keras menghantam jantungnya. Meski ia tahu Rika juga mencintainya, tapi tetap saja ….

Senyum kecil Rika perlahan luntur. Kepala tertunduk sedih, padahal hari ini adalah hari bahagia yang telah lama ia tunggu-tunggu. Tetapi ketika hari ini datang ia malah bimbang. Ia teringat akan pesan ayahnya. Sebuah larangan yang tidak boleh ia lakukan, tetapi bagaimana bisa ia tetap menjaganya dan membohongi perasaannya. Ia menyukai Jinki, dan ia yakin dengan hal itu. Ia tidak yakin ada kesempatan seperti ini dua kali.

“Rika, kamu tidak mau?” Kekecewaan terlihat jelas pada garis wajah Jinki. Ekspresi yang muncul ketika melihat gadis itu termenung dengan raut sedihnya.

“Ani, Oppa. Aku hanya …, perlu sedikit berpikir,” ujar Rika lemas.

“Tak perlu memaksakan dirimu. Aku mengerti. Aku tidak apa-apa.” Jinki pun tidak kalah lemas dan sedih. Ia mulai merunduk dalam.

Rika menatap dalam namja di hadapannya. Ia tahu saat inilah waktunya ia memilih jalannya sendiri, meski harus menerima semua konsekuensi atas tindakan pemberontakannya. “Oppa, aku mau. Aku mau jadi yeojacingu-mu.”

Jinki sontak mendongak. Ia menatap Rika penuh senyuman untuk beberapa waktu, kemudian mememeluknya untuk kedua kali dengan ekspresi lega. Kali ini wajahnya terlihat sangat bahagia. Ia tidak bisa menutupi senyum lebar yang telah terhias. Rasanya ia akan melayang sekarang. “Terima kasih.”

Jinki melepas pelukannya dan menatap Rika bahagia. Ia menunjukkan senyum puasnya sekali lagi.

“Tapi, Oppa, siapa yang Oppa maksud dengan ‘kami’? Siapa saja yang mencariku?”

“Aku, Jonghyun, Taemin, Minho dan tentu keluargamu juga.”

“Kibum?”

“Dia tidak bisa dihubungi jadi tidak datang.”

“O.”

Kata pendek itu terlontar dari bibir Rika. Terdengar seperti tidak berarti, tetapi gadis itu terlihat kecewa. Ia bahkan tidak benar-benar mengerti bagaimana perasaannya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku mau pulang, Oppa.”

 

“Tentu, sekarang sudah malam.”

______

Seorang namja tengah berdiri sambil bersandar pada tepian tiang gerbang. Ia melihat jam tangan hitamnya untuk kesekian kalinya. Cukup terlihat bosan.

Deru mobil terdengar dari tempatnya berdiri. Mobil sedan berwarna hitam berhenti di hadapannya. Terlihat seseorang keluar dari mobil tersebut. Jinki melambaikan tangan padanya penuh senyum dan gadis itu menghampirinya.

Kaca mobil terbuka dan tampak seorang laki-laki paruh baya berjas hitam. Jinki membungkuk dan memberi salam dengan sopan, “Anyeonghaseyo, Ajussi.”

“Anyeonghaseyo. Terima kasih tadi malam telah mengantar Rika, Jinki.”

“Cheonmaneyo.”

 

“Baiklah. Papa pergi dulu, ya? Belajar yang baik.”

 

“Iya, Pa. Hati-hati di jalan.”

 

Kaca tertutup kembali dan mobil melaju. Mereka yang ditinggalkan mulai melangkah menuju kelas. Dalam perjalanan mereka keduanya terlihat cukup canggung satu sama lain. Rika sebenarnya adalah gadis yang cukup pemalu. Ini adalah kali pertama ia memiliki kekasih. Mereka bingung untuk mengatakan apa. Yang keluar dari mulut mereka hanya kata-kata pendek yang berakhir cepat.

Tak sampai sepuluh menit mereka telah sampai di depan pintu kelas Rika.

“Nanti kita makan siang bersama, ya? Aku akan menjemputmu di kelas.”

“Ne.” Rika menunduk.

 

“Aku pergi dulu, Cha-giya?” pamit Jinki sedikit canggung dengan sebutan yang baru saja ia berikan.

“Nde, Oppa.” Wajah Rika merah. Entah kenapa kata ‘chagiya’ bisa membuatnya ingin berjingkrak-jingkrak.

 

______

Kibum melangkahkan kakinya penuh semangat. Semangat yang baru, sama seperti penampilannya. Bagi Kibum ini adalah hari baru. Hari untuk memulai kebahagiaannya yang baru juga. Ia harap sekarang Rika bisa menyukainya. Harapan yang agak berlebihan, tetapi baginya itu adalah kepastian.

Rambut yang ia cat cokelat dan menutupi leher, anting-anting, poninya, dan barang-barang dengan warna kesukaannya ‘pink’, semua itu telah ia buang karena yang ia tahu itulah alasan Rika tidak menyukainya. Jika Rika bisa menyukainya bukankah itu kebahagiaan yang sebanding? Menggantinya dengan style yang lebih manly.

Ia tampak tidak peduli. Ia hanya tersenyum ke depan. Tersenyum bukan untuk siapa-siapa, hanya mengekspresikan kebahagiaannya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya. Yang memandangnya penuh kekaguman. Ya, dengan penampilan ini Kibum terlihat seratus enam puluh derajat  berbeda. Dan ada beberapa yang bahkan tidak mengenalinya. Sekali lagi, ia tidak peduli.

______

“Anyeong.” Kibum berdiri tepat di samping tempat duduk Rika. Gadis yang tengah membaca buku itu segera menengok mendengar suara yang menyapanya.

Rika terbelalak. Apa yang harus ia katakan? Perubahan Kibum. Penampilan Kibum. Hanya diam tidak mengucap satu patah kata pun. Menatap Kibum dengan tatapan tidak percaya.

Ia benar-benar melakukannya? Apa yang sudah aku lakukan?

Bel pertama berbunyi membuyarkan lamunan Rika juga perhatian Kibum pada Rika. Namja itu hanya tersenyum manis dan kembali ke tempat duduk. Sedangkan Rika, ia mulai frustasi. Ia mulai bingung. Ia mulai merasakan rasa bersalah yang jauh lebih besar. Teringat pada kata-kata Kibum terakhir kali, dadanya terasa sakit. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Kibum bahwa ia tidak mungkin menyukainya. Ia sudah memiliki Jinki.

______

Rika melangkah dari mejanya setelah merapikan buku-bukunya. Di sana hanya ada beberapa siswa yang masih dapat dihitung dengan jari-jari salah satu tangannya. Dan kini bahkan mulai melangkah pergi. Sebagian besar telah pergi—meninggalkan kelas beberapa detik setelah panggilan dering nyaring bel, termasuk Jungeun yang masih bermusuhan dengan Rika, serta Minho yang sengaja pergi terlebih dahulu seperti perintah Kibum.

“Rika.” Seseorang di belakangnya mengaitkan tangannya secara mendadak pada tangan Rika. Menghentikan langkah Rika sesaat sebelum melewati pintu.

Gadis itu menatap si namja yang tersenyum manis padanya. “Kita ke kantin bersama, ya?”

Sekitar beberapa sekon gadis itu terdiam. Ia bahkan masih membiarkan Kibum memegang tangannya. Ia tidak mau menolak, tapi ….

“Oppa,” seru Rika terkejut seraya menarik tangannya cepat ketika seseorang muncul dari balik pintu yang masih terbuka lebar.

Jinki melangkah dan berdiri di dekat keduanya. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Jinki tanpa mempermasalahkan sesuatu yang sempat tertangkap oleh matanya.

“Aku …, aku ingin mengajak Rika makan bersama,” ungkap Kibum sedikit canggung.

Jinki tersenyum kemudian menggandeng tangan Rika. “Aku sudah membuat janji lebih dahulu dengannya. Maaf, tapi kamu tidak bisa ikut. Karena kami sedang ingin berduaan. Iya kan, Chagiya?”

 

“N-ne, Oppa.” Rika tidak berani mengangkat kepalanya. Ia tidak berani melihat ekpresi Kibum ketika mendengar kalimat itu.

Kibum terkejut. “Ka-kalian ….”

“Ne, Kibum. Kami pacaran,” potong Jinki yang yakin pada kelanjutan pertanyaan Kibum.

Kibum diam seraya menatap wajah Rika yang berada di dalam tundukkannya. Hatinya sudah tersulut api yang akan terus membesar dan memanggang hatinya habis. Ia benar-benar marah.

Bagaimana bisa ia melakukannya …, lagi?

“Oppa, ayo kita pergi! Aku lapar.” Rika berusaha menjauhkan Jinki dari Kibum. Ia tidak mau mendengar namjacingu-nya terlalu banyak bicara masalah hubungan mereka. Ia tahu hal itu dapat menyakiti Kibum.

“Ah, ne. Mianhaeyo. Kibum, kami duluan, ya?” pamit Jinki kemudian menuntun Rika dalam tautan tangan mereka.

Kibum terkekeh geli. Ia menatap mereka dengan tatapan sinis. Dan sekarang ia benar-benar kehilangan selera makan. Perutnya serasa mual dan lebih memilih kembali duduk di kursinya. Sedangkan kejadian barusan menjadi bayangan yang menemaninya dalam kemarahannya sekarang.

Kibum mengambil ponsel di sakunya. Sesosok gadis terlihat di layarnya. Foto Rika yang ia ambil diam-diam. Untuk kali ini matanya serasa panas. “Aku dipermainkan lagi,” gumamnya marah terhadap dirinya sendiri.

Kenapa aku begitu bodoh?

“Kibum.” Seseorang yang barus saja membuyarkan pikirannya dan duduk di sampingnya.

“Kenapa tidak ke kantin? Aku malah lihat Rika sedang makan dengan Jinki Hyung. Mereka terlihat mesra. Tadi mereka ….”

“Diamlah, Minho! Aku tidak mau mendengarnya.” Kibum terlihat semakin kesal.

“Jangan-jangan mereka pacaran! Bukankah tadi malam mereka hanya berdua? Lagi pula, tadi pagi aku lihat Jinki Hyung mengantar Rika ke kelas dan mereka bergandengan tangan.” Minho baru saja menyadari sesuatu.

“Tadi malam?”

“O, ya, aku lupa cerita padamu.”

______

Cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis tipis.

 

Kau. Bisakah kau membedakannya?

 

Cinta dan benci tak pernah mengenal jarak dan waktu.

 

Dua perasaan yang mengajarkanmu cara menangis dan tertawa. Sedih dan bahagia. Keduanya bisa membuatmu seakan gila. Mengurungmu dalam kebingungan, atau bayang-bayang.

Rika buru-buru memasukkan barang-barangnya ketika bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Ia tidak mau. Ia tidak mau untuk kedua kalinya terperangkap di kelas ini bersama Kibum. Kibum itu menakutkan ketika marah. Itu yang Rika tahu. Dan ia tidak mau terlibat masalah lagi dengannya. Perasaannya sudah tidak baik ketika melihat Kibum merubah penampilannya. Belum lagi langit yang terlihat tak bersahabat dan memaksanya kembali ke rumah.

Setelah semuanya siap ia segera berjalan keluar kelas. Mungkin untuk beberapa waktu ia bisa menjauhi Kibum, tapi pada akhirnya mereka akan berada dalam satu halte atau satu bus, bahkan besok akan bertemu lagi di kelas yang sama. Tapi ia berpikir setidaknya Kibum takkan berani melakukan hal buruk padanya ketika ada orang lain melihatnya.

Hampir sampai pada pintu keluar tiba-tiba seseorang datang dengan cepat dari arah berlawanan seperti bayangan. Meraih tangan Rika dan menyeretnya kembali melewati lorong-lorong yang sudah hampir kosong. Jalur yang sama menuju kelasnya.

Blam! Pintu kelas Kibum banting hingga tertutup rapat tanpa perlu mendorongnya. Ia telah berhasil membuat Rika memasuki kelas mereka kembali. Kibum melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan Rika. Genggaman tangan yang cukup kuat yang membuat Rika memegangi pergelangan tangannya sekarang yang sakit.

Kibum memandang Rika dengan tatapan menusuk. Deru napasnya tidak teratur. Rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal kuat. Ekspresinya seperti siap membunuh. Bagaimana? Bagaimana bisa Rika tidak merasa ketakutan? Ia mulai gemetaran melihat Kibum yang sudah begitu berbeda. Kibum yang dipenuhi kemarahan. Dan langit pun seakan marah padanya juga. Mendung dan berawan hitam. Tak secerah biasanya dengan rintikan hujan. Ia menyesal. Ia sangat menyesal, dan takut.

“Jadi, ini adalah permainan? Kamu mau mempermainkan aku? Tidak. Itu salah besar. Kamu sudah mempermainkan perasaanku.”

“A-aku …, aku ….” Rika bahkan tidak bisa berbicara dengan benar. Lidahnya tiba-tiba kelu.

“Bukankah aku sudah katakan untuk menungguku? Kenapa kamu tidak mau menungguku sebentar saja?!” teriaknya bersamaan dengan petir yang menggema dan membuatnya tersentak keras dan semakin ketakutan.

Kibum benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Amarahnya sudah berada di puncaknya. Ia mulai melangkah ke depan. Mencoba mendekati Rika, tetapi Rika menjauh dengan pandangan takut ke arah Kibum. Langit pun mengikuti alur suasana hati Kibum, air-air itu berjatuahn semakin banyak dan deras. Membuat kelas terlihat cukup gelap tanpa adanya cahaya tamaram dari matahari sore yang biasa menemaninya.

“Mi-Mianhaeyo,” lirih Rika. Ia mulai menjatuhkan sesetetes air matanya yang sejak tadi menggenang.

Kibum berjalan lebih cepat dan menahan langkah Rika. Mencengkeram lengan kanan Rika dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang leher bagian belakangnya. Rika tersentak dengan tubuh semakin menegang. Kibum memberikan tatapan menusuknya kembali. Saling berpandang dalam jarak sepuluh senti saja. Sedangkan Rika hanya bisa diam dengan napas tertahan. Menatap Kibum dengan mata terbelalak. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya Kibum akan lakukan.

“Kau milikku, Rika.”

Kibum mendaratkan bibir lembabnya pada bibir Rika yang bungkam. Menciumnya dengan cepat. Tidak membiarkan gadis itu menolak atau pun menghindarinya.

Rika semakin terbelalak. Ia tidak bisa bergerak. Ototnya terasa kaku dan menegang. tidak bisa  bergeser satu inci pun. Ia sesak dengan debaran jantung yan tidak normal. Ia hanya menangis dalam diamnya dan membiarkan Kibum terus menjajah bibirnya sesuka hati tanpa perlawanan seperti halnya sebuah boneka. Ia benar-benar ingin mendorong Kibum dan berlari menjauh.

Tak cukup dalam tempo satu, dua atau tiga detik. Bahkan tidak cukup pula dengan persatuan dua bibir, Kibum menyusup lebih dalam. tidak sadar  ia telah menjadikan gadis yang ia cintai sebagai tempat memuaskan nafsu birahi serta amarahnya tanpa ia sadari.

Tiba-tiba seseorang menarik Kibum.

Buk! Seseorang meninjunya hingga Kibum harus tersungkur di atas lantai kelas yang dingin. Di sudut bibirnya meluncur cairan merah segar.

“Apa yang kamu lakukan, Brengsek!” teriak Jinki berang.

“Akh!” Kibum mengusap darahnya dengan punggung tangan. Mata tajamnya menatap Jinki dengan pandangan permusuhan.

Jinki segera menghampiri Kibum dan menarik kerahnya kuat hingga Kibum harus berdiri. Menatapnya dengan tatapan tajam dan siap membunuh. Terlalu banyak amarah yang menyelemuti keduanya hingga mereka melupakan seseorang yang masih membatu di tempatnya. Gadis itu masih menegang dan kaku. Matanya masih terbuka lebar dengan keadaan bibir yang masih sedikit terbuka.

Bruk!

Keduanya menoleh ke arah suara. “Rika!” pekik Jinki dan Kibum serempak. Keduanya sama-sama terlihat terkejut melihat gadis itu telah tergeletak di atas lantai.

Mereka berdua berlari menghampiri Rika secara bersamaan.

“Menjauh darinya!” bentak Jinki setelah merengkuh tubuh Rika yang terasa dingin pada permukaan kulitnya. Wajah Rika terlihat sangat pucat dengan mata mengatup rapat. Petir kembali menggema. Kali ini terdengar lebih keras. Untuk ini petir rasanya berubah haluan mendukung Jinki yang hatinya sudah terbakar dan Kibum sudah tak bisa berbuat apa-apa.

“Bangun, Chagiya!” Jinki panik dan menepuk-nepuk pelan pipi kiri Rika—tidak ada respon kecuali gelengan kepala yang terjadi akibat guncangan tangan kanan Jinki yang merengkuhnya.

“Ri-Rika,” gumam Kibum lirih. Berusaha mendekati gadis itu.

“Menjauh darinya, Berengsek!” maki Jinki seraya mendorong Kibum yang baru saja berjongkok menghampirinya. Membuat Kibum kembali tersungkur untuk kedua kalinya.

Mata Kibum tidak lepas gadis yang tengah pingsan itu. Melihat tubuh kecil gadis itu diangkat oleh namja lain dan dibawa pergi, sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kibum memegang kepalanya yang mulai terasa sakit dan baru saja menyadari kesalahannya. Ia menangis di tempat. Merasa begitu menyesal.

Pabo cheorom! Napeun namja!

______

“Ma, Kakak kenapa? Apa Kakak akan baik-baik saja?” tanya Risa yang melihat kakaknya tergeletak pada sebuah ranjang putih yang di kelilingi tirai berwarna biru kehijauan. Ia memegangi tangan kakaknya dengan tatapan sedih.

“Iya, Sayang. Kakakmu hanya pingsan saja.”

“Jinki, kenapa bisa begini?” Sebuah pertanyaan dilontarkan kepada Jinki yang menunduk di tempatnya berdiri.

“Saya tidak tahu, Ajussi. Saya sudah melihatnya pingsan di kelas ketika sampai di sana. Tapi Dokter mengatakan Rika baik-baik saja. Rika hanya butuh istirahat.”

Jinki berbohong. Ia tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Ia ingin memberi kesempatan Rika untuk mengatakannya sendiri.

Tuan Wibowo merunduk.

“Ma.” Sebuah suara terdengar lemah. Itu suara Rika. Rupanya dia sudah terbangun.

“Rika.” Nyonya Wibowo menggenggam tangan putrinya erat. Sedangkan yang lainnya terlihat sumringah melihat Rika telah sadar. Mereka semakin merapat mengitarinya.

“Aku kenapa?”

 

“Jinki bilang kamu pingsan di kelas. Dia yang membawamu ke rumah sakit.” Kali ini ayahnya yang bicara.

Rika menatap Jinki yang hanya tersenyum tipis kepadanya dengan wajah sendu. Beberapa detik kemudian Rika meneteskan air matanya. Ia teringat hal mengerikan yang baru saja menimpanya. Ia mulai menangis lagi. “Ma, aku takut,” lirihnya kemudian memeluk ibunya.

“Ada apa, Sayang?”

Rika hanya diam dalam tangisnya. Menenggelamkan wajahnya pada pundak ibunya. Ia sangat benci dengan dirinya sendiri dan terlalu malu untuk mengatakan hal yang baru saja menimpanya.

Jinki menatap Rika penuh sesal, kemudian merunduk dalam dengan tangan terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Sesal, sedih dan marah. Itu adalah perasaan yang terus teraduk-aduk hingga sekarang—setelah melihat Kibum menyakiti Rika. Ia merasa tidak berguna karena tidak dapat menjaga Rika dengan baik sebagai seorang kekasih. Dan Kibum, ia tidak lagi berpikir dia adalah seorang sahabat baginya, hanya seorang bajingan yang telah mengkhianati sebuah persahabatan.

Kibum, kamu akan mati di tanganku besok.

______

Kibum berdiri di bawah sebuah pohon besar yang tumbuh di taman di seberang jalan rumah Rika. Namja itu menatap rumah yang tampak tengah ditinggal penghuninya. Terlihat dari tidak ada satu pun lampu yang menyala dari jendela kacanya. Ia tampak sedih. Tubuhnya menggigil dengan rintikan hujan yang terasa menusuk kulit. Meski jaket dan dedaunan telah menghalanginya, tetapi saja, rasa dingin udara serasa menusuk tulang. Tapi tak pernah berarti jika dibandingkan dengan hatinya yang terasa lebih dingin dari pada udara di sekitarnya.

Meski hanya kegelapan yang menerpanya. Meski tak ada suara jangkrik dan katak yang menemaninya, hanya suara gemuruh hujan yang membuatnya setengah tuli bersama suara petir yang terus silih berganti; dan air yang terus jatuh dari pelupuk matanya membuatnya seakan rabun; cahaya kilat yang meneranginya sesekali, Kibum tetap menunggu bersama beberapa jam waktu yang berlalu. Menunggu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Meski sudah menggigil dengan kulit yang berubah pucat. Tapi ia takkan beranjak sebelum melihat Rika.

Deru mobil bahkan tak bisa menggelitik telinga, tapi apa yang ia lihat cukup menarik perhatiannya. Ia segera berdiri ketika sebuah kendaraan beroda empat terparkir di halaman rumah Rika. Turun lima orang dari sana.Terlihat seorang wanita paruh baya dan seorang gadis belasan tahun memapah seorang gadis berseragam sama dengannya dengan dua buah payung besar. Ada juga laki-laki yang mengekor dari belakang yang juga masih berseragam. Sedangkan laki-laki paruh baya berjas hitam berjalan terlebih dahulu—membuka pintu rumah mereka dan membawa tas milik anaknya. Beberapa saat kemudian lampu menyala dan tidak ada lagi orang yang bisa Kibum perhatikan dari tempatnya berdiri.

Setelahnya Kibum hanya menyandarkan tubuhnya yang lemas di pohon hingga melihat seseorang keluar dan berjalan menuju jalan raya dengan sebuah payung berwarna kelabu. Orang itu berjalan dengan lemas dan penuh tundukan.

Hyung, kamu terlihat sangat sedih. Jeongmal mianhaeyo.

 

Kibum mulai meninggalkan tempatnya di bawah langit yang terasa lebih tenang, seperti hatinya. Berjalan mengikuti jejak Jinki yang sudah tidak tampak lagi. Ia sudah bisa tenang mengetahui keadaan Rika sekarang.

______

Bisingnya kelas tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada bangku kosong Rika. Sesaat kemudian ia menatap depan kelas—tempat yang menjadi saksi tindakan bodohnya kemarin. Ingatannya mulai berkelebat lagi di kepalanya membuatnya semakin frustasi. Helaan napas yang terus terulang tidak pernah mengurangi sesak dadanya ataupun kepalanya yang terasa sakit. Sedangkan si pembisik sesekali memerhatikan sudut bibir yang lebam pada wajanya.

Seseorang memasuki kelas dengan langkah cepat. Menarik kasar kerahnya ketika ia telah berada tepat di samping Kibum. Menghujamkan tatapan tajam penuh kemarahannya sekali lagi. Seperti menghentikan waktu, semuanya terdiam dan menghentikan aktivitas mereka secara serentak. Pandangan tertuju pada sebuah titik. Bising seketika hilang berganti bisikan-bisikan penuh penasaran.

“Ikut aku!”

Minho memegang tangan Jinki. Sontak membuat Jinki mengalihkan pandangannya pada Minho. Tatapan yang mengatakan ‘jangan ikut campur. Biarkan kami!’.

“Hyung, apa yang kamu lakukan?” Wajah Minho tampak serius membalas tatapan Jinki yang menghujam.

“Biarkan, Minho! Tolong, jangan ikut campur. Aku akan baik-baik saja.”

“Ta-tapi ….” Minho melepaskan genggamannya perlahan, meski tampak ragu.

Hyung, kita bicara di luar saja.”

Jinki melepaskan cengkeramannya dan Kibum bangkit dari kursinya. Berjalan keluar kelas bersama Jinki, sedangkan Minho yang terlihat khawatir memilih menghubungi yang lainnya, dan para saksi kejadian itu terlihat ribut membicarakan apa yang baru saja terjadi. Tentu saja, seorang Jinki yang memiliki reputasi baik, bahkan sangat baik melakukan tindakan sekasar itu di depan umum. ‘apa yang terjadi?’ itu adalah pertanyaan yang memenuhi isi ruangan.

Jinki berhenti di belakang taman sekolah. Berdiri berhadapan dengan jarak sekitar dua meter. Saling berpandang. Marah Jinki masih begitu terlihat, sedangkan Kibum begitu terlihat pasrah.

Jinki mulai melangkah mendekati Kibum perlahan kemudian ….

Buk!

Kibum tersungkur untuk kedua kalinya. Menambah lebam pada wajahnya, meski begitu ia tidak segera bangkit—lebih memilih terduduk di atas rerumputan yang bercampur daun kering keemasan. Jinki kembali menarik kerah Kibum kembali—membuat Kibum mau tidak mau harus berdiri.

“Kau membuatnya sakit,” ujar Jinki penuh penekanan.

“Hyung!” Taemin berlari menghampiri Jinki bersama dengan dua orang lainnya.

Ketiganya segera melerai keduanya. Jonghyun dan Taemin menahan Jinki yang berusaha memberontak. Sedangkan Minho memegangi kedua lengan Kibum dan melihat pipi Kibum yang bengkak. Semuanya terlihat panik melihat kelakukan Jinki, sedangkan Kibum masih tenggelam dalam lautan penyesalannya.

“Agrh! Aku bilang lepas!” teriak Jinki masih terus berusaha meronta.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “The Destiny – Part 5”

  1. tindakan Kibum ke Rika nyeremin banget, bisa bikin trauma..
    persahabatan mereka berlima bisa rusak deh..
    ck..ck..ck….
    Kibum… Kibum… *geleng2**

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya ya.. 🙂

    1. yah, gtu deh. semuanya emang penuh pro dan kontra, tapi Kibum begitu kan ada alasannya juga eon #ngebela Kibum.
      thx ya eon mau koment lagi….

  2. Oh myyyy! Kenapa jadi galau bangeeeeet? Tapi seru2, ceritanya ringan, diksinya juga bagus, pertahanin lagi ka, kalau bisa ditingkatkan. Semangaaaaat! ^^

    1. galau? seru? #seneng aku.
      tapi ceritanya ringan? #perasaan rada berat deh #udah ditimbang #author sinting.
      semangat!!!

  3. aaaaaaaaaaaa ceritaaaanyaaaaaaaaaaaaa bersambung TT TT….
    jjadiinya penasaran lagiiii huhuhuhu ditunggguuuu nunaaaa selanjutnya ^^ figthingggggggggggggg’_’)9

  4. kim kibuuuuuuuuuuuummmmmm !!! aigoooo (?)
    degdegan baca ff ini kekekekekekk huuufftt untung bersambung, kalo ga pasti udah jantungan (?) ditunggu next part nya thor 😀

    1. ada-ada aja ini mah. masa jantungan, sih? nanti klo bener jantungan harus tanggung jawab nih aku. ff-ku berbahaya juga, ya?
      ok, tunggu ya dengan sabar….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s