2NE — SCENE 6: More and More

2NE — SCENE 6: More and More

Written by Zikey

2NE-10

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Supporting Cast: Hae Sun, Yoo Bi, Chae William, Bang Min Soo, GD as Kwon Jiyong, Lee Jinki as Onew

Genre: Angst, Mystery, Family, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: G

“The world is full of obvious things which nobody by any chance ever observes.”

[Sherlock Holmes – The Hound of the Baskervilles, Chapter 3: “The Problem”]

Apartement Jonghyun, Jung-gu

Jonghyun mengaitkan satu lagi kancing kemejanya, kemudian menyapu bagian bahu sedikit seraya tersenyum penuh pesona pada cerminan dirinya. Ia mendekatkan wajahnya pada cermin, kemudian dalam gerakan cepat, matanya mendeteksi seberapa tinggi tingkat ketampanannya pagi ini.

“Oh, luar biasa…” gumamnya seraya tersenyum bangga. Jonghyun baru akan mengangkat panci panas dari atas kompor ketika bel apartemennya berbunyi, dan membuat punggung tangannya tanpa sengaja menyentuh badan panci yang masih panas.

“Aaahh… panas sekali,” ia meringis kesakitan sekaligus kesal karena mendapat tamu sepagi ini. Sambil meniup-niup tangannya, Jonghyun berjalan untuk membuka pintu. “Ah, hyeong… kenapa pagi sekali datangnya? Karenamu tanganku yang malang ini terkena panci tahu!”

“Jadwal kita padat hari ini, lupa ya? Pertama, kamu harus menyutradarai syuting iklan untuk atlet nasional kita. Lalu dari sana, kita langsung pergi seminar. Kemudian, ada interview singkat dari majalah The Journalist. Setelah itu, kita akan mengontrol jalannya syuting dari sutradara Goo Jae Woo. Pada malam hari, giliranmu untuk mengambil gambar. Ingatkan? Kamu menjadi bintang iklan kamera.”

Jonghyun mendengus sebal, ia tahu seberapa padat jadwalnya. Tapi harus dilaporkan sepagi ini, sangat mengganggu! Lelaki berkemeja biru cerah ini kemudian mengangkat panci panas tadi, ketika tutupnya dibuka, wangi sup memenuhi ruangan. Membuat keduanya mendadak sangat lapar.

“Beli di mana? Wanginya lumayan.” Chang Ryul, sekretaris pribadi sekaligus manager-nya mendekat. “Waaahh… cantik sekali!”

“Aku jadi penasaran, Yujin membeli ini dimana.” Jonghyun bergumam sambil terus memandangi sup seollantang (sup tulang sapi jantan, yang memakan waktu 10 jam untuk dimasak).

“Dari Yujinni? Oooh, tentu saja dia yang masak!” seru Chang Ryul percaya diri, mengundang kerutan di kening Jonghyun. “Lain kali, kalau mengadakan acara kantor itu jangan keluyuran kemana-mana. Membuat acara tapi pesertanya ditinggal,” sindir Chang Ryul sambil mencomot satu potong telur dadar yang menggulung sosis dan nasi ketan. “Waktu acara libur bersama itu, kami terlantar kelaparan. Ingat tidak? Waktu kamu tahu-tahu pergi, bahkan aku saja tidak tahu, kami kelaparan saat kegiatan sore.  Kemudian Yujin ke tenda konsumsi, aku tidak tahu siapa yang membantunya memasak. Yang pasti, sore itu Yujin menyajikan sederet makanan rumah yang rasanya lebih enak dari restoran bintang lima.”

“Oh ya? Kenapa aku tidak pernah tahu kalau Yujin benar-benar bisa masak?”

“Aku kira kalian teman baik. Tapi memang sih, dia tidak pernah mengaku bisa memasak. Dia bilang makanan itu ia masak berdasarkan resep di internet, dan sisanya dibuat berdasarkan perasaan. Yujin tidak bisa masak makanan Korea, itu katanya, tapi ternyata hasilnya luar biasa.”

“Ya, ya, ya, terserah apa kata hyung.” Jonghyun menyahut malas, jelas, ia cemburu manager-nya lebih tahu tentang Yujin dibanding dirinya. Teman macam apa? Tentu, teman yang terlalu sibuk dengan karir dan penyesalan yang memenjarakannya selama bertahun-tahun. Walaupun Yujin sering membuat makanan untuknya, tapi makanan itu masih bisa dibuat oleh siapa saja.Tapi seollantang?

“Kalau cemburu, luangkan waktumu untuk Yujin.”

“Siapa yang cemburu?” sahut Jonghyun keki. “Hyung! Aku belum sarapan, tahu! Sana pergi! Bisa-bisa sarapanku habis,” sembur Jonghyun sambil memukul tangan Chang Ryul. Chang Ryul mencibir sambil mengunyah gulungan telur dadarnya yang ke lima, kemudian ia baru ingat beberapa hari yang lalu adalah hari pemakaman Yuna.

“Terlambat! Hari pemakamannya sudah berlalu lama, tidak ada gunanya kalau bertanya sekarang.” Jonghyun memotong bahkan sebelum Chang Ryul mengeluarkan suara dari kerongkongannya,  Jonghyun sudah bisa membaca hanya melalui raut wajah manager setianya itu.

“Maaf, aku lupa. Salahmu! Kalau bukan karena mengurusi tawaran-tawaran dan jadwal padatmu itu, aku pasti ingat. Oh iya….” Tiba-tiba suasana berubah lebih serius. “Aku tidak tahu harus memberitahu ini atau tidak, tapi… demi keselamatanmu… aduh, beberapa hari yang lalu aku melihat sosok yang mirip seperti dirinya. Banyak, aku tahu banyak manusia yang hampir serupa, tapi yang satu ini entah kenapa aku yakin.”

Rahang Jonghyun mengeras. Rupanya yang ia lihat di taman makam hari itu tidak salah, memang benar-benar orang itu! “Aku tahu,” desah Jonghyun penuh tekanan.

“Apa rencanamu?”

“Entahlah, aku hanya perlu berlindung saat ini.”

Hanok Chae, Ingye-dong, Suwon-si

“Dia kekasih Yujin?” Tanya Hae Sun menghakimi. “Aku lebih suka dengan laki-laki yang tinggal bersama Yujin itu.”

“Bu, jangan bicara yang macam-macam.” Yoo Bi mengingatkan, ia tidak ingin ibunya asal bicara dan malah menghancurkan hubungan Yujin dan Min Soo.

“Tunggu, Yujin tinggal bersama laki-laki, ia juga mengencani seorang laki-laki, tapi laki-laki ini berbeda. Astaga! Dari mana dia belajar bermain lelaki seperti itu?”

Eomma!” Hae Sun menahan langkahnya ketika Yoo Bi mencengkram lengannya. “Jangan ikut campur urusan Yujin, jangan mengganggunya, jangan bicara hal yang tidak-tidak, jangan berbuat macam-macam. Yujin pasti punya alasan, ia juga pasti punya penyelesaian dari masalahnya. Kita tidak perlu ambil pusing. Anggap saja ia terlanjur ketularan budaya di L.A.” Hae Sun berdecak kesal, tapi ia tahu Yoo Bi tidak sepenuhnya salah meski ia tidak terima jika Yoo Bi benar.

Usai menyiapkan minuman, Yoo Bi segera keluar dan menyajikan untuk Min Soo dan Jiyong. William masih belum datang, Yoo Bi tidak bisa membayangkan suasana seperti apa yang akan terbangun ketika ayahnya itu tiba, sementara si biang keladi masih berbaring di kasur berusaha menenangkan diri.

“Sedang menertawakan apa?” Yoo Bi menyela di antara tawa kedua laki-laki ini sambil meletakkan minuman di meja.

“Bukan apa-apa, hanya tidak menyangka dunia ini sangat sempit untuk sebuah hubungan kekeluargaan.” Jiyong menjawab di sela tawanya. “Lucu sekali bagaimana kita semua sudah saling terhubung secara tidak langsung. Aku pernah bekerja sama dengan Teen Top, aku sudah kenal Min Soo sebelum ini. Tidak menyangka, ternyata Min Soo kekasih Yujin. Gossip-nya akurat ternyata.” Jiyong meledek.

“Apa sih hyung? Tidak ada gossip yang beredar kok.”

“Yang lebih konyol! Tahu Joong Ki kan?” Yoo Bi reflek mengangkat alis, bagaimana Jiyong bisa mengenal Joong Ki? “Itu Joong Ki, teman Yujin, yang waktu itu membantuku menyusun kejutan untukmu. Tahu tidak? Joong Ki yang dulu tingga—“

“AH! Iya hahahha… iya iya, Joong Ki yang itu!” Yoo Bi cepat-cepat menyela sebelum Jiyong menyebut bahwa Joong Ki tinggal bersama Yujin. Oh, ia pasti telah melewatkan banyak hal selagi menata kembali hati dan pikirannya untuk Jiyong waktu itu.

“Nah, ternyata dia mengenal Jonghyun, tahu kan? Yang memberiku proyek baru itu, loh. Jadi aku rekan Jonghyun, ternyata Yujin sutradara di PH milik Jonghyun dan mereka berdua juga sudah lama berteman. Lalu teman Yujin yang bernama Joong Ki ternyata model baru untuk iklan salah satu sutradara di PH milik Jonghyun, kami bertemu waktu ia akan syuting. Lalu kekasih Yujin ternyata rekanku juga, bukannya ini unik sekali? Seolah yang hidup di bumi hanya kita saja.”

“Oh, iya…” Yoo Bi menjawab diplomatis, selain itu ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Otaknya sedang berusaha menyusun berkas-berkas data yang masuk beberapa menit yang lalu. Jika Jiyong sudah kenal Joong Ki, maka bom nya bisa meledak kapan saja. Jika meminta Jiyong untuk tidak memberitahu Min Soo bahwa Yujin tinggal bersama lelaki, maka Jiyong akan menolak keras. Ia pasti akan bertahan dengan teori emansipasi pria buatannya yang konyol itu.

“Waaahhh… anak siapa ini?” suara seorang laki-laki memasuki pendengaran Yoo Bi, suaranya seperti menggoda dan gemas. Ah, pasti ayahnya sudah bertemu Inna.

“Ayahmu?” Yoo Bi menjawab Jiyong dengan anggukan, kemudian ia menarik nafas dalam. Sejak pengakuan Yoo Bi dulu, ia tidak pernah berbicara dengan William. Walaupun Will dan Yujin berlibur ke Korea dan Yujin menginap di rumah, Will akan lebih memilih tinggal di hotel. Meski sakit hati, Yoo Bi juga tidak bisa menyalahkan ayahnya itu.

Ketika akhirnya Will beradu pandang dengan Yoo Bi yang berdiri satu langkah di belakang ambang pintu, Will menepuk lembut kepala Inna seraya mencubit pipi tembamnya dan berlalu. “Anakmu?” tanyanya apatis. “Yujin mana?” Yoo Bi tidak jadi menjawab pertanyaan pertama, dan ia berencana menjawab yang kedua. “Kalian berdua siapa?” Will kembali bertanya tanpa peduli dengan Yoo Bi yang ingin segera menjawab.

Dad, jangan kekanak-kanakan deh!” suara Yujin mengalihkan perhatian mereka, wajah pucatnya segera menyambut indera pengelihatan siapapun yang menoleh padanya. Yujin bersedekap sambil bersandar pada dinding, sebenarnya berjalan saja ia tidak kuat, tapi ketika mendengar suara ayahnya Yujin segera memaksakan diri.

“Kenapa wajahmu pucat?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kalian punya tugas untuk berbincang berdua, biar kami ke dalam saja,” sahut Yujin dingin. Ia ingin ayahnya sadar bahwa sikapnya tidak baik, untuk Yoo Bi dan Inna. Ia tahu Yoo Bi salah, ia yakin ayahnya kecewa. Namun, apakah meninggalkan anak gadisnya begitu saja merupakan jalan keluar? “Ayo!” Yujin memberi isyarat pada Min Soo dan Jiyong untuk masuk ke ruang keluarga.

“Kamu sudah merasa lebih enak?” tanya Min Soo khawatir dengan suara berbisik sambil membantu Yujin berjalan.

“Ya ampun, jangan berlebihan deh! Darah rendahku hanya sedang kumat kok, nanti juga baik sendiri.” Ketiganya segera duduk di sofa dan menyalakan TV.

“Apa kabar,” Will memulai dengan canggung. Ia sadar, dirinya sendiri yang harus memecahkan tembok es yang ia bangun di antara mereka. “Yang tadi anakmu? Cantik sekali,” pujinya tulus, namun masih lupa untuk mendengarkan jawaban Yoo Bi.

“Terima kasih,”

Untuk sesaat mereka saling diam, tidak tahu harus membicarakan apa. Namun, tidak mungkin mereka harus tetap seperti ini hingga ajal menjemput, benar kan? Jadi, Will memutuskan untuk angkat bicara. “Maaf, aku bukan ayah yang baik. Betapa memalukan aku waktu itu, menuruti amarahku dan meninggalkan darah dagingku begitu saja. Orangtua mana yang tega melakukan itu, aku benar-benar gagal menjadi ayah.”

“Yah,”

“Semestinya, aku bisa berpikir dengan jernih. Bukan salahmu, lagi juga, semestinya aku sadar bahwa marah tak akan ada artinya. Sungguh lancang aku, menyuruhmu untuk membunuh janin itu. Betapa—“

“Yah! Dengarkan aku, ayah tidak salah… semuanya salahku. Sebagai anak, semestinya aku mengerti bagaimana kalian para orangtua berusaha untuk memberikan yang terbaik pada anaknya. Aku saja yang terlalu labil, begitu tidak mau mengerti, begitu menutut banyak hal tanpa mau dituntut. Kini, setelah Inna lahir, baru aku sadar, betapa berat tanggung jawab kalian mengurus kami saat itu. Aku memang aib keluarga, tidak salah jika kalian membuangku, tidak akan pernah aku marah.”

“Tidak! Tidak, anakku, dirimu, Yujin, ataupun Kris, tidak ada satu juga di antara kalian merupakan aib. Hanya kami yang tidak benar dalam menunjukkan jalan, maaf. Dan, terima kasih, karena tetap mempertahankan janin itu. Betapa hatiku tersentuh melihat gadis cantik itu, terima kasih, karenamu aku menjadi kakek yang tampan.” Yoo Bi reflek tertawa mendengar kalimat terakhir ayahnya itu, sungguh, betapa lega hatinya bisa kembali mendengar banyolan konyol dari ayahnya lagi. Sekian lama ia merindukan Will, kini ia bisa merengkuh lelaki itu lagi. Ayah kandungnya, ayah yang paling ia banggakan.

Asan Medical Center, Songpa-gu, Seoul.

“Hasilnya sangat bagus, setelah sekian lama melakukan pemeriksaan, akhirnya pemeriksaan kali ini memberikan hasil. Apa ada yang terjadi belakangan ini?”

“Ada, tapi… aku hampir tidak bisa membedakan efek serangan panik dengan memori yang sebenarnya.”

“Coba ceritakan, aku ingin dengar.”

“Beberapa waktu lalu, aku pulang ke daerah Suwon, aku melewati gang lain. Di gang itu tiba-tiba serangan panikku kambuh, hampir terletak di ujung gang, ada sebuah rumah tua yang sudah hangus terbakar.”

“Benarkah?”

“O, temanku memaksa untuk mendekati rumah itu, hingga akhirnya aku mau. Saat itulah, aku benar-benar tidak kuat. Seperti ada yang ingin memasuki kepalaku, sangat sakit, tapi aku belum bisa melihat kilasan apapun, hanya suara ambulans yang akhirnya membuatku nyaris kehilangan kesadaran. Apa aku akan baik-baik saja?”

“Jika mengingat catatanmu dulu, sebenarnya agak beresiko. Ketika itu kamu memkasakan diri untuk mengingat semuanya, yang berakhir pada gangguan psikologismu. Jika aku amati catatannya, kemungkinan ingatanmu tidak kembali meski sudah sekian lama, karena kasus waktu itu. Ketika gangguan emosionalmu melebihi ambang batas, setelah masuk rumah sakit saat itu, aku pikir secara tidak langsung kamu bersembunyi dalam cangkang yang menurutmu aman.”

“Maksudnya?”

“Ketika pertama kali kita melakukan terapi, aku sudah membuatmu bertekad untuk mengingat semuanya. Tetapi karena terlalu memaksa diri, terciptalah sebuah mindset, bahwa kenangan sebelum kecelakaan itu begitu tidak aman. Sehingga kamu tetap bertahan dalam kondisi melupakaan masa terburukmu saat itu dan memulai hidup baru. Untuk beberapa kasus, biasanya mereka jadi memiliki kepribadian ganda. Untuk kasusmu, kamu memiliki dua cangkang di dalam pikiranmu. Satu, cangkang dimana Chae Yoo Jin adalah gadis yang hanya memiliki kenangan manis dalam hidupnya. Dua, cangkang dimana terisi penuh dengan kehidupanmu yang sesungguhnya, dimana gadis bernama Chae Yoo Jin mulai tersentuh kekejaman dunia.”

“Artinya, tahun-tahun yang terlupakan oleh Yujin adalah tahun-tahun dimana Yujin merasakan masa-masa dimana rasanya ia tidak ingin hidup lagi?” Jonghyun tiba-tiba angkat bicara, ia mendadak begitu penasaran.

“Kurang lebih demikian, karena itu, kamu harus meyakinkan dirimu terlebih dahulu. Apa kamu yakin ingin mengungkap kenangan-kenangan buruk itu lagi, atau tetap seperti ini? Jika memang sudah bulat ingin mengingat semuanya dengan baik, maka jangan pernah takut. Meski semuanya membuatmu bingung, atau membuat kepalamu sakit, atau terkadang batinmu jadi tersiksa, jangan pernah mundur. Karena cangkang memori itu baru bisa pecah jika kita sudah berhasil mengeluarkan masa-masa buruk yang pernah kamu lalui.”

“Kalau begitu, apa aku boleh minta obat penghilang rasa sakit?”

“Tidak Yujin! Harus aku ingatkan berapa kali? Kasusmu ini tidak butuh painkiller sama sekali, jangan pernah menggunakannya. Sesakit apa pun, kamu harus kuat, kamu harus bisa melawannya. Karena hanya dengan begitu kita bisa mengungkap segalanya.”

“Dokter!” tahu-tahu Jonghyun berseru heboh. “Maaf, engh… itu… temanku menyarankan metode hipnotis.”

“Metode hipnotis? Aaahh… pengangkatan kenangan melalui alam bawah sadar?”

“Iya, apa aman?”

“Tentu, tapi itu semua tetap tergantung pada Yujin-ssi. Karena, metode itu meski aman, akan lebih menyakitkan dari metode lain. Bagaimana Yujin?”

“Aku mau.”

Café Haneul, Dangju

“Beberapa hari yang lalu aku berhasil masuk ke kamarku, tidak bisa mengamati banyak tapi aku mengambil gambar setiap sisi kamar.” Yujin memutar layar laptopnya. “Tidak banyak yang bisa diamati, sepertinya mereka sudah membersihkan kamarku. Tapi aku menemukan beberapa catatan kecil di lantai, seperti terjatuh.”

Jonghyun mengambil catatan kecil itu dari tangan Yujin. “SMP Seungri? Kamu lulusan sekolah itu?”

“Sepertinya, aku lupa namanya.”

“Aku juga, artinya aku kakak kelasmu kan?”

“Apa? Ya ampun! Ini malapetaka!”

“Apanya?”

“Jalan takdir kita, seperti film buatan. Tuhan sebagai penulis cerita, malaikat sebagai sutradara, dan iblis-iblis sebagai kru.”

Jonghyun memutar bola mata. “Otakmu, ada kelainan ya?” kemudian ia menoyor kepala Yujin. “Eh Yujin, aku penasaran, serangan panik itu rasanya seperti apa?”

“Kata temanku, seperti hampir mati.” Onew menyahut.

“Kurang lebih, setiap orang berbeda-beda, tergantung kasus mereka. Waktu itu ada temanku yang trauma karena sering di-bully, serangan paniknya bisa muncul saat ia dikerumuni orang banyak. Menurutnya, ketika serangan panik itu muncul, ia merasa pusing dan takut, sulit bernafas, tidak jarang ia jadi pingsan. Sementara temanku yang lain, ada yang terkena serangan panik karena rasa takut yang terlalu berlebihan atau emosi yang terlalu besar, seperti terlalu marah, atau terlalu sedih.”

“Kamu sendiri?” Jonghyun dan Onew serempak bertanya.

“Aku? Adrenalinku naik, seperti sedang dikejar orang jahat, rasa panik yang sering orang alami. Hanya saja rasa panikku lebih besar dari orang panik biasa, aku jadi lebih takut, kehilangan kendali atas tubuh sendiri. Yang paling parah, aku sampai berimajinasi tertabrak mobil dan terbakar. Lampu merah yang berputar, suara sirine yang gaduh, suara kobaran api.” Yujin menggeleng saat tengkuknya merinding, ia bahkan tidak kuat jika diminta menceritakan rasanya. “Yang pasti, pusing, lemas, dan takut. Ingin lari tapi gelap, ingin menjerit tapi bisu, ingin bernafas banyak-banyak tapi sesak. Kurang lebih seperti itu rasanya.”

“Kalau begitu, saat kemarin diterapi, apa yang muncul dalam bayanganmu hanya imajinasi?”

“Tidak tahu, kalau hanya imajinasi tidak mungkin muncul berkali-kali. Selalu sama keadaannya, aku berlari dengan penuh amarah, kemudian terjebak dalam api, suara sirine mulai mendekat dan semakin keras. Aku yakin untuk yang satu ini sebagian dari ingatanku.”

“Lalu, orang yang kamu lihat? Apa setiap serangan panik datang, kamu selalu melihatnya?”

Yujin menggeleng, namun Onew masih yakin ini sebuah pertanda. “Baru kemarin, aku berhasil bergerak untuk berlari. Aku melihatnya dari jendela, berdiri di belakang kerumunan mobil pemadam. Aku tidak bisa melihat wajahnya, hanya bentuk tubuh yang kurang jelas. Aku tidak bisa memastikan ia laki-laki atau perempuan.”

Tiba-tiba ponsel Jonghyun bordering, “Ne, Jonghyun imnida.” Yujin dan Onew sama-sama menyesap minuman mereka selagi Jonghyun sibuk membahas jadwalnya melalui ponsel. “Aku harus pergi, tidak apa-apa kan?”

“Tentu, kami akan mengobrol berdua sambil menunggu waktu.” Onew tersenyum kemudian melambai. Keduanya memandangi punggung Jonghyun hingga benar-benar menghilang dari pandangan mereka, kemudian Onew mulai berbicara. “Aku dengar kamu datang ke makam Yuna?”

“Darimana datangnya kabar itu? Sepertinya tidak ada orang yang aku kenal di sana, saat itu.”

“Temanku, ia bilang melihat Jonghyun bersama seorang perempuan. Ia pikir kekasih baru Jonghyun, menurut ciri-ciri yang ia gambarkan, aku pikir itu kamu. Tapi, benar kan?” Yujin mengangguk. “Bagaimana kamu kenal Yuna?”

“Aku tidak kenal, hanya sekedar tahu. Waktu merawat Jonghyun, ia terus menyebut-nyebut nama Yuna. Aku penasaran, kemudian aku tidak sengaja melihat kalender miliknya. Jonghyun melingkari hari meninggalnya Yuna, jadi aku datang saja.”

“Oh, aku pikir saling kenal.”

“Tidak juga, aku hanya sekedar tahu saja. Aku sempat mendengar cerita Jonghyun mengenai Yuna, waktu itu kami baru pertama kenal.”

“Oh,”

Gedung 2NE, Chungmuro, Jung-gu

“Ini laporannya, saya sudah memasang peralatan dan mencari sudut bagus di dalam sekolahnya. Kami sudah mewawancarai beberapa murid, saya juga sudah mendapatkan proposal acara dari ketua pelaksana. Seluruh detail acaranya sudah saya pelajari, untuk penyusunan skrip juga sudah mulai dilakukan. Jika tidak terhambat, minggu depan kami akan secara resmi memperkenalkan diri di hadapan siswa-siswi SMA Anyang dan memulai syutingnya.” Yujin membungkuk sedikit kala menyudahi laporannya di depan staff lain.

Setiap kepala sutradara yang mengikuti ajang Su FFP wajib memberikan laporan setiap minggu mengenai progress proyek masing-masing kelompok, jika terlihat tidak berubah atau mengalami kemunduran maka kelompok tersebut harus berhenti mengikuti Su FFP dan membayar kembali uang proyek yang perusahaan berikan kepada Su.

Rapat masih terus dilanjutkan hingga seluruh kepala sutradara melapor, dan menjawab berbagai pertanyaan dari kepala staff lain. Yujin menghela nafas kelelahan ketika ia tiba di ruangannya, layaknya seorang CEO yang baru saja berdebat dalam rapat membicarakan soal nasib perusahaannya. Ia memiliki banyak tugas, sungguh tidak menyangka Jonghyun sebegini kejam. Berbagai jenis proyek semakin banyak masuk ke 2NE, membuat para sutradara pusing bukan kepalang menghadapi syuting dengan deadline mencekik.  Jonghyun tak lantas berpikir untuk mengurangi penerimaan proyek-proyek tersebut meski hampir setiap malam, dirinya melihat para kru yang terlibat Su FFP kewalahan.

Tidak akan ada yang berani protes kepada Jonghyun, bukan karena ia galak, lebih karena padatnya jadwal Jonghyun setiap hari. Ia hampir tidak ada waktu untuk duduk di ruangannya, membaca berkas lalu menandatanganinya. Seluruh berkas itu selalu memenuhi mobilnya, di dalam mobil itulah Jonghyun mempelajari seluruh berkas perusahaannya.

Yujin baru saja mematikan lampu di ruangannya ketika ia teringat untuk mengambil berkas referensi yang ingin Jonghyun berikan, besok Jonghyun tidak akan ada di kantor. Jadi Yujin buru-buru berlari menuju ruangan Jonghyun, atau ia harus menanti tiga hari untuk mempelajari data-data terdahulu yang mana akan memperlambat proses syuting film mereka.

Sajangnim!” seru Yujin begitu melihat Jonghyun menutup pintu ruangannya.

“Apa?”

“Berkas referensinya,” katanya sebelum tersengal-sengal. Jonghyun menepuk pelan keningnya kemudian kembali membuka ruang kerjanya.

“Aku lupa disimpan di mana, coba cari di sekitar lemari folder itu!” titahnya sambil ikut mencari di sisi lain. Namun perhatian Yujin segera teralihkan ketika melihat sebuah figura kecil di atas meja, seorang gadis dan Jonghyun, wajahnya begitu familiar. “Sepertinya ada di sekitar sini,” ujar Jonghyun, tapi Yujin tidak menyahut.

“Ketemu!” serunya riang, kemudian ia mengerutkan kening tatkala melihat Yujin yang terpekur memandangi foto di mejanya. “Kenapa sih? Seperti baru pertama melihat saja. Bukannya di rumahku banyak foto dia, ya?”

“Ini…”

“Yuna. Kenapa sih?”

“Jadi namanya Yuna… ia adalah Yuna.” Yujin menggumam pada dirinya sendiri, baru menyadari sesuatu.

“Ada apa sih, Yujin?” belum sempat Yujin menjawab, ponsel Jonghyun berbunyi. “Ini berkasnya, pelajari ya.” Kemudian Jonghyun menjawab panggilan di ponselnya. Selang beberapa detik, ponsel Yujin berbunyi juga.

“Siapa ini?” sapa Yujin langsung. “Oh, hei… ada apa sih? Kenapa menangis? Bicara yang jelas!”

Eomma eomma, meninggal—“

—More and More, END—

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “2NE — SCENE 6: More and More

  1. Penasaran kelanjutannya. Penasaran sama masa lalunya Yoon Ji dan hubungannya dengan Jonghyun dan Yuna~
    ditunggu kelanjutannya ya eon^^

  2. Kyaaa,…
    penasaran.. tambah penasaran,..
    setelah baca dari part satu, jadi bertanya-tanya, apa hubungan Jjong, yoon ji dan Yuna di masa lalu mereka,…

    1. Tambah penasaran apa tambah bingung nih? Hehehe~
      Baca terus yaaa, supaya rasa penasarannya kebayar😀
      ekeke~
      makasih udah mampir dan komen ^O^

  3. Waw!!
    Udah luama banget aku nunggu lanjutannya..
    Keren juga ceritanya makin lama.🙂
    Segera ya lanjutannya, penasaran nih.

    Maaf langsung komen di post paling belakang aja ya.😉
    Hwaiting!

    1. Iya nih.. aku semedinya kelamaan
      ekekeke~
      Oh ya?? *girang*
      Beneran? Kalau gitu tetep baca dong lanjutannya😀

      Gak apa-apa ^^
      Makasih udah mampir dan komen ya kiky😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s