A Life Story

alifestory

Title : A Life Story

Author : Lumina

Main Cast : Kim Jonghyun (SHINee)

Support Cast : Kim Kibum/Key (SHINee), Seo Jihye (Ulzzang)

Genre : Drama, Life, Sexual Education, Angst

Type/Length : Oneshot

Rating : Restricted

PS : Fiction ini mengandung tema dari sisi lain kehidupan mengenai penyimpangan seksual yang dialami oleh tokohnya. Aku memberikan peringatan keras bahwa pembaca berusia dini (di bawah 17 tahun), harap tidak membaca fiction ini tanpa pengawasan orang tua.

 _____

Lembayung merona di ufuk timur kala tangis pertama seorang bayi berparas tampan pecah dan pekiknya memenuhi tiap sudut ruang putih dari sebuah klinik bersalin. Peluh bercampur dengan air mata haru dari seorang ibu muda yang baru saja menyelesaikan perjuangan—yang katanya menempatkan dirinya antara hidup dan mati. Senyum tipis kemudian terlukis dalam mimik wajahnya yang nampak lelah dan tengah berusaha menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya yang menuntut oksigen lebih banyak—sebanyak degub jantungnya yang memburu.

“Jong-ah,” bisik lembut sang ibu muda di telinga bayi berselimut lampin yang kini berada dalam dekapannya, “Jonghyun-ah.”

Semilir angin menghantarkan suara lirih nan lembut dari ibu muda itu. Nama yang tersebut mengudara—menembus tingkap-tingkap langit. Sebuah buku kehidupan baru telah mengukir nama pemiliknya dan lembar-lembarnya siap untuk menorehkan setiap kisah dari seorang anak manusia.

-A Life Story-

Kau tidak perlu membaca bab-bab pertama dalam buku kehidupanku. Terlalu membosankan hingga kau akan mendapati dirimu tertidur dengan wajah tertutup buku yang terbuka di tempat terakhir kau mendaratkan pandanganmu sebelum hilang kesadaran—namun kau benar-benar lupa apa yang telah kau baca setelah kau terbangun.

Lahir dan tumbuh besar di sebuah desa bernama Hoeumri yang terletak di Chong Cheongdo dan hidup sebagai seorang anak lelaki dari sepasang suami-istri peternak sapi perah—itulah yang menjadi prolog dari kisah hidupku. Menempuh pendidikan di sebuah sekolah dasar biasa, lalu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hari-hariku berjalan sebagai rutinitas; membuka mata kala mentari menyapa di pagi hari, melakukan ini-itu yang selalu sama setiap harinya, kemudian jatuh tertidur ketika gelap menyelimuti malam—siklus yang berulang setiap harinya dan tentunya membosankan dari sudut mana pun kau melihatnya.

Seoul selalu menjadi obsesi terbesarku. Ibukota itu bagai kota yang tak pernah tertidur. Gelap tak pernah dapat menghalangi binar-binar gemerlap kehidupan di kota itu. Di mataku, kota itu terlihat bagai surga dunia yang sering dibicarakan orang—hidup yang hidup.

Langkah kakiku tak mengenal gentar ketika kali pertama berpijak di atas kota itu. Kala aku baru saja menamatkan sekolah menengah atasku, kedatanganku murni sebagai seorang remaja 20 tahun yang hendak mengejar mimpinya. Detik pertama aku mengisap udara glamor kota itu, aku tak pernah menyangka bahwa obsesi yang selama ini memenuhi benakku tengah menuntunku pada kehidupan baru ibarat heroin yang menjerat. Dari sinilah bab baru kehidupanku—yang akan membuatmu terjaga—di mulai.

-A Life Story-

“Kim Jonghyun, kau ingin tidur sampai kapan?” celoteh seorang namja bercelemek hijau tosca yang berdiri di sisi tempat tidur di mana aku terlelap bergulung selimut.

Samar-samar aku mendengarnya, namun memilih untuk bergeming. Aku sungguh kelelahan karena tidur larut malam setelah berpesta di bar semalam.

Wake up! Wake up!” teriak namja itu mulai tidak sabar dan mulai menarik selimut yang melilit tubuhku.

Yaaaa!!” pekik namja yang sama ketika tanganku balas menarik selimut yang ditariknya—tak ingin melepaskan penutup tubuhku yang topless—sehingga tubuh namja itu hampir terjungkal karena ulahku.

“Berhenti menyuruhku untuk bangun, Key,” ujarku dengan suara serak—identik dengan kesadaranku yang masih setengah mengawang di alam mimpi.

Namja yang kupanggil Key menggeleng geram sambil berkacak pinggang. “Kau tidak akan mendapat sarapan jika terus tidur,” ancamnya.

Kepalaku menyembul keluar dari balik selimut, “Lima belas menit, otte?”

Key menggeleng sebagai tanda menolak bernegosiasi. Aku yakin ia bahkan sudah bangun sejak pukul enam untuk membereskan apartemen dan menyiapkan sarapan. Dan ia pasti berpikir telah cukup memberikanku waktu lebih untuk tidur jika mengingat sekarang hampir pukul sembilan.

“Sepuluh?” tawarku lagi sembari melemparkan senyum lebar—masih belum rela beranjak dari atas springbed empuk di bawah tubuhku.

Dengusan nafas kasar terdengar. Senyumanku lenyap bersamaan dengan bunyi nafas yang aku tahu dengan jelas sebagai batas akhir kesabaran Key.

Arraseo, aku bangun,” ujarku malas. Tanganku menyingkap selimut dan dalam sekejap otot-otot tubuhku yang tak tertutup pakaian terpampang jelas.

“Cepat mandi sebelum sarapan,” perintah Key seraya meninju dada kananku pelan.

Aw,” erangku sekalipun tak ada rasa sakit yang kurasakan dari tinjuan Key, “Baiklah, cerewet. Kau ini tetap tidak sopan padaku, biar bagaimana pun aku ini hyung-mu, arra?”

Langkah Key terhenti mendengar ucapanku. “Ne, Jonghyun Hyung,” ledeknya lalu menjulurkan lidah sebelum daun pintu merapat.

-A Life Story-

Bising memenuhi udara, getarannya merambat hingga ke gendang telinga. Sepasang earphone tertambat di lubang telingaku—alunan musik dengan beat cepat mengalun—mengelakkan diriku dari suara gerak alat-alat berat di fitness centre.

Aku menoleh ketika pundakku ditepuk seseorang dari belakang. Bibirku menyungging seulas senyum setelah melihat seorang yeoja yang berdiri di belakangku—mengenakan kaos longgar dan training short pants, serta handuk kecil tersampir di pundaknya.

“Lama tak melihatmu,” ujarku membuka pembicaraan ketika melihat yeoja yang tadi berdiri di belakangku kini bergerak menuju treadmill yang berada tepat di sebelahku. Satu tanganku bergerak melepas earphone di telingaku.

“Kurasa tak terlalu lama. Bukankah kita bertemu minggu lalu?” jawab yeoja itu sembari mulai melangkah pelan sebagai permulaan.

Aku menyeringai pelan, “Kalau begitu anggap saja aku yang merindukanmu.”

Hanya butuh tak sampai sedetik bagi yeoja itu untuk menoleh dan tertawa mendengar pengakuanku, “Apa kau sedang merayuku, Oppa?”

“Mungkin,” jawabku kembali memandang ke depan dan memperlambat lariku—agar dapat bicara lebih santai, “Sejujurnya, aku tak berniat merayumu, Jihye-ya. Namja mana yang akan berkata ia tidak merindukan yeoja secantik dirimu?”

Omo, kurasa sudah nature-mu selalu merayu gadis-gadis, Oppa,” tukas Jihye menanggapi ucapan manis yang lagi-lagi terlontar dari bibirku.

Jeongmal?” aku menaikkan sebelah alis seraya menatap lawan bicaraku, “Aku tidak ingat pernah merayu yeoja lain, selain dirimu.”

Jihye menaikkan kecepatan treadmill-nya sehingga kini ia mulai berlari pelan. “Sepertinya ingatanmu tidak bertahan sekuat otot-otot tanganmu, Oppa,” ledeknya, “Kau terlalu sering merayu gadis-gadis. Hati-hati nanti yeoja yang menjadi pacarmu akan cemburu.”

Aku menghentikan aktivitasku. Kini aku balik berdiri mengarah pada Jihye dengan tangan bertumpu pada sisi treadmill, “Kalau kau yang menjadi pacarku, apa kau akan cemburu jika aku merayu yeoja lain?”

Nde?” Jihye menoleh ke arahku yang menatapnya—cukup intens. “Anii, aku sudah mengenalmu cukup lama, Oppa. Aku tahu kalau kau… namja genit,” ujar Jihye sedikit terbata karena memerlukan waktu mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan diriku.

Aku tertawa cukup keras mendengar jawaban Jihye, tanpa sadar sebuah keinginan muncul karena ketertarikanku padanya, “Kau memang yeoja yang menarik. Bagaimana kalau kita berkencan?”

-A Life Story-

Mata Key membulat mendengar penuturanku. Ada raut tak percaya dalam wajahnya—dan sekilas rona kekecewaan ikut tersirat bersamaan dengan perubahan mimiknya.

“Kau serius?” tanya Key meyakinkan bahwa aku tak sedang bercanda—seperti yang biasa sering kulakukan.

Dengan mantap kuanggukkan kepalaku dalam, “Aku takkan membuat lelucon untuk hal semacam ini, Key. Kau pasti tahu itu, eoh?”

Key membuang muka, mencoba menutupi rasa kesal yang dapat kubaca dari gesture tubuhnya.

“Kau tidak marah ‘kan kalau aku memiliki yeojachingu?” tanyaku ragu. Kedekatan kami selama 4 tahun terakhir—tinggal bersama di apartemen yang kami sewa—telah membuat hubungan kami begitu erat. Kami saling berbagi banyak hal, seolah telah menjadi bagian satu sama lain.

Anii, tentu saja… tidak,” desahnya lirih, “Itu hal yang… bagus.”

Perlahan aku berjalan menghampirinya dan mengambil posisi duduk di sebelahnya. Kupijit bahunya yang membelakangiku, “Tak akan ada yang berubah, Key. Aku tetap akan punya waktu untukmu.”

Arra,” jawabnya datar.

“Kau marah karena sekarang kau harus berbagi diriku dengan Jihye?” godaku sambil menyeringai.

Key memutar kepalanya dan berbalik menatapku. Dahinya mengernyit. “Cih, kau kira kau siapa, eoh? Kau yang akan rugi jika nanti aku juga mencari yeojachingu,” umpatnya tak mau kalah.

Aku hanya tertawa terbahak menanggapi ucapannya dan tawa Key ikut meledak sedetik setelahnya.

-A Life Story-

Hubunganku dengan Jihye memasuki bulan kelima. Semua berjalan sangat lancar. Jihye adalah seorang yeoja yang menarik. Setiap hal baru yang kupelajari tentangnya mampu membuatku berakhir dengan rasa kagum dan tak jarang terpesona akannya. Aku tak pernah menduga sebelumnya bahwa ketertarikan semata akan berakhir pada keterpesonaan.

Aku suka caranya berpakaian dan berdandan. Bagaimana ia melangkah di atas sepatu high heels-nya, serta gerak-gerik tubuhnya yang lembut mampu menghipnotisku kala memandangnya. Untuk pertama kalinya, aku mengingini seorang yeoja melebihi apa pun yang pernah kuinginkan sebelumnya.

Pesonanya seumpana cocktail—manis dan memabukkan, dua hal yang dapat kurasakan bersamaan setiap kali mataku menatapnya dengan intens. Meski demikian, aku tak pernah benar-benar mencumbunya. Harga dirinya terlampau tinggi untuk membiarkanku melangkah lebih jauh. Itu membuatku harus mati-matian menahan hasratku setiap aku bersamanya—sebagai seorang pria, aku menginginkannya—namun sikapnya membuatku bertahan demi menghormatinya sebagai wanita. Bahkan lebih dari itu, aku menghargainya setinggi penolakannya akan sentuhanku.

Gwenchana, Hye-ya, kau tidak perlu merasa bersalah. Hari ulang tahunku sama saja seperti hari-hari biasa, eoh? Kalau kau tidak bisa menemaniku hari ini, kita masih punya esok hari,” ujarku pada Jihye yang berada di seberang telepon. Hari ini adalah hari ulang tahunku, namun pekerjaan menuntutnya untuk lembur hingga larut malam. Pada akhirnya, ia tak bisa datang sekedar untuk menemaniku malam ini dan memberikan kecupan happy birthday.

Aku baru menutup sambungan telepon dan meletakkan ponselku di atas meja ketika suara langkah kaki terdengar memasuki apartemen.

“Kau masih di sini?” tanya Key heran melihatku berbaring di sofa dengan mata menatap layar televisi, “Bukankah malam ini kau kencan dengan Jihye-ssi?”

“Batal,” jawabku singkat sambil mengganti channel televisi menggunakan remote control yang kugenggam sejak tadi, “Ia harus lembur di kantornya.”

Key berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju ganti, kemudian melangkah ke kamar mandi. Kuikuti gerakannya dengan ekor mata sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Pandanganku masih melekat pada layar televisi ketika Key keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya. Rambutnya basah sehabis keramas—tetesan air bergantungan di ujung-ujung anak rambutnya dan jatuh ketika ia melangkah mendekat ke arah sofa.

“Geser,” ujarnya sambil mengusak rambutnya dengan handuk.

Aku segera membenarkan posisi dudukku dan memberinya ruang di sebelahku. Key duduk di sofa—berdampingan denganku yang masih asyik menonton televisi walau tak sepenuhnya tertarik pada tayangan yang sedang kulihat.

By the way,” ucapnya seraya memutar tubuhnya menghadapku, “Happy birthday.”

Issshh,” gerutuku saat mendengar ucapan selamat darinya.

Wae? Yeojachingu-mu pasti sudah mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, eoh? Sejak kemarin kau selalu mengingatkanku untuk tidak memberimu selamat sebelum Jihye mengucapkannya lebih dulu. Apa sampai sekarang ia belum juga mengucapkan selamat ulang tahun padamu?” tanya Key panjang lebar ketika wajahku nampak tidak suka ia mengucapkan selamat padaku.

“Dia belum mengucapkannya secara langsung.”

Key tertawa mendengar ucapanku. Tak lama tangannya sudah terulur mengacak rambutku.

Issshh, apa yang kau lakukan?” protesku sembari menepis tangannya. Aku tak suka rambutku diacak.

“Akuilah bahwa aku memang lebih baik darinya, Jong-ah,” rajuk Key setengah berbisik di telingaku.

“Diam, aku mau nonton!” potongku cepat sebelum Key berkata lebih banyak dan mulai membanding-bandingkan dirinya dan Jihye—ia sudah terlampau sering melakukannya setiap kali Jihye membuat kesalahan, seakan menegaskan bahwa yeoja itu tak dapat menandinginya. Sedikit-banyak, kebiasaan itu membuatku kesal, walau aku tak pernah menunjukkannya secara langsung.

Aku mencoba tidak mengacuhkan Key saat ia mulai memajukan tubuhnya dan mempersempit jarak antara kami.

“Ia bahkan tidak pernah membiarkanmu menyentuhnya seperti ini, eoh?”

Tubuhku menegang saat Key meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya.

“Hentikan, Key!” seruku sembari menarik kasar tanganku menjauh darinya.

“Kau berubah, Jong-ah,” desisnya dengan tatapan sinis ke arahku, “Dulu kau tak pernah menolakku.”

Kutelan ludahku, mencoba mengunci rapat bibirku untuk menggubris kata-katanya. Aku tak ingin bicara apa pun yang dapat membuatnya salah paham.

“Bukankah kau bilang tak akan ada yang berubah sekali pun kau berkencan dengan yeoja itu?” tuntut Key mengulang ucapan yang pernah kukatakan padanya.

“Key…”

Baru saja aku hendak membuka mulutku ketika tangan Key memaksa wajahku menghadap ke arahnya dan dengan tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibirku. Tanganku mencengkram bahunya dan mencoba mendorongnya, namun ia terus berusaha memperdalam ciumannya.

Aku tahu ini salah. Aku sadar ada yang tidak normal di antara kami. Banyak dari mereka bilang ini perbuatan setan. Namun, jerat ini telah membelengguku dan merantaiku dengan baja yang tak terpatahkan.

Lantas, bukannya mendorong tubuhnya lebih kuat—dengan seluruh tenaga yang kumiliki, yang kuyakin cukup membuatku terlepas darinya—aku malah mengalungkan tanganku di lehernya. Kubalas ciumannya. Aku bisa mendengar degub jantungnya yang berpacu cepat, membuat gairahku bertambah sehingga kini tanganku menarik tengkuknya dan memperdalam ciuman kami.

Key menarik tubuhku—bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh berbaring di atas sofa. Aku melepaskan ciuman kami perlahan dan beralih ke lehernya. Kecupan demi kecupan mendarat di atas kulit putihnya yang mulus.

“OPPA!”

Teriakan seseorang dengan suara yang familiar membuyarkan emosi yang menyelimutiku. Aku berhenti mencumbu Key dan reflek menoleh ke arah datangnya suara.

“HYE!!” pekikku kaget mendapati Jihye berdiri terpaku dengan mata terbelalak lebar. Bola matanya bergetar menatapku. Dekat kakinya terdapat kotak karton berisi kue ulang tahun yang sepertinya ia persiapkan untukku—kotak itu kini teronggok dengan kue ulang tahun yang tak berbentuk keluar dari dalamnya. Tanpa kuketahui, Jihye telah merencanakan kejutan untukku—dengan mengatakan ia tak dapat hadir, namun kemudian ia datang tiba-tiba dan merayakan hari ulang tahunku. Jihye yakin aku takkan pergi ke mana-mana malam ini, lalu seperti yang telah direncanakannya, ia masuk ke dalam apartemenku dengan diam-diam sembari membawa kue ulang tahun di tangannya—tentunya karena aku telah memberitahu password apartemenku padanya beberapa waktu lampau.

Aku melepaskan Key, terduduk di sofa dengan mata masih menatap lekat ke arah Jihye. Kulihat yeoja itu membungkam mulutnya dengan dua tangan. Mimiknya berkata seolah ia ingin muntah dan matanya menatap jijik ke arahku.

“Hye, dengarkan aku…”

Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, yeoja itu berbalik dan berlari keluar. Bunyi debaman terdengar keras saat ia menutup pintu apartemenku dengan kasar.

“Hye!” panggilku sembari bangkit berdiri dan bermaksud mengejarnya andai Key tak menahan lenganku.

“Sudah berakhir, Jong-ah. Yeoja itu sekarang sudah tahu siapa dirimu,” ucap Key ringan, namun dengan nada yang terdengar sinis di telingaku.

Andwae!” Kuayunkan tanganku kuat hingga tangan Key terlepas dariku. Aku harus mengejar Jihye—itulah satu-satunya hal yang terngiang di kepalaku.

-A Life Story-

Tanganku bergerak cepat menarik beberapa lembar pakaian dari lemari dan melemparkannya ke dalam koper yang kuletakkan di atas tempat tidur—kira-kira semeter jaraknya. Tak ada waktu untuk menatanya satu per satu, aku menjejalkan sebanyak mungkin pakaian yang sekiranya akan kubutuhkan beberapa waktu ke depan dan meninggalkan sisanya begitu saja—masih tergantung di lemari.

“Kau sakit jiwa, Kim Jonghyun!” umpat Key ke arahku dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Ia berdiri tak jauh dariku dan terus memandangiku.

“Aku takkan berubah pikiran, Key,” jelasku menjawab pertanyaan yang tak terlontarkan dari Key, namun kuyakin hal inilah yang dapat menghentikannya terus-menerus menatapku dengan amarah tertahan.

Aku melangkah cepat ke arah koper dan mencoba merapikan pakaian yang berceceran keluar agar memberi cukup ruang untuk menutupnya.

“Dia takkan berubah pikiran sekali pun kau melakukan semua ini,” sindir Key—mencoba mengintimidasi pikiranku agar aku membatalkan niatku, “Sadarlah, tak ada lagi yang bisa kau lakukan untuk membuatnya kembali.”

Kutarik koperku dari tempat tidur setelah menutupnya rapat. Aku memutar tubuhku mengarah kepada Key, “Aku tahu. Dia bahkan tak sudi lagi menjawab teleponku.”

“Lalu untuk apa kau memaksa untuk keluar dari apartemen ini, eoh? Jonghyun-ah, kau bahkan mengenal gadis itu baru beberapa bulan lalu dan sekarang kau ingin pergi meninggalkanku yang telah bersamamu selama empat tahun?”

Pertanyaan Key membuatku bimbang. Sial. Di saat seperti ini, mengapa gejolak itu justru nampak? Segala bentuk emosi bercampur aduk dalam benakku. Sungguhkah aku telah membuat keputusan yang tepat kali ini?

Empat tahun hidup bersama Key bukanlah waktu yang singkat. Meski pun kami terjerat dalam ikatan yang tidak normal—bisa dikatakan gila—namun perasaan itu sungguh nyata sekali pun seluruh dunia akan memandang hina kami. Ya, pandangan hina itulah yang juga diberikan Jihye ketika melihat bagaimana kami—aku dan Key—bercumbu mesra melepaskan segala logika dan membiarkan hasrat yang mendominasi.

Tangan Key terulur dan memeluk pinggangku. Kepalanya terbaring di dadaku, “Jangan pergi dariku karena kau takkan pernah bisa melakukannya. Kita saling mencintai, eoh?”

Cinta?

Pikiranku melayang jauh ketika satu kata itu terngiang di telingaku dan bayangnya muncul dalam kepalaku. Jihye! Aku mencintainya. Aku yakin aku mencintainya. Aku membutuhkan hadirnya bagai udara yang mengisi rongga dadaku di setiap waktu.

“Tidak, Key!” tolakku sembari menghentakkan tangan Key hingga pelukannya terlepas—ia kini menatapku nanar, “Mianhae, aku tak bisa meneruskan semua ini lagi. Kita akhiri saja…”

Stop!” pekik suara Key yang tinggi memotong ucapanku, “Jangan katakan apa pun, Kim Jonghyun! Kau mencintaiku dan hanya akan menjadi milikku! Aku sudah salah dengan membiarkanmu bermain-main dengan yeoja itu!”

“Aku tak bermain-main dengannya,” ucapku pelan namun tegas, “Key, maafkan aku. Aku jatuh cinta padanya dan hanya dia yang kuinginkan.”

Mata Key membulat mendengar penuturanku. Wajahnya memerah—melukiskan kemarahan yang meluap. Key menggertakkan giginya kuat-kuat hingga garis rahangnya mengeras.

“Kau tidak mungkin melakukan ini padaku, Jonghyun-ah!”

Aku tak dapat mengatakan apa pun. Aku tahu keputusan ini telah menghancurkan hati Key—dan lebih buruknya, Jihye tetap takkan kembali padaku. Meski demikian, aku tetap melakukannya.

Key masih berdiri mematung dengan emosi yang kerap memenuhi setiap jengkal tubuhnya ketika aku menggeret koperku melewatinya—sambil menggumamkan kata maaf.

-A Life Story-

Sempat terbesit dalam pikiranku bahwa meninggalkan Key akan membuka bab baru yang lebih baik dalam catatan hidupku. Namun ternyata, menghilangkan sebuah tokoh dalam buku kehidupanmu tak semudah menghapus noda pena atas lembaran kertas. Eksistensi Key dalam ceritaku seperti ukiran yang terpatri dalam prasasti—sekalipun abad telah memakan habis masa kejayaan, namun ia tetap membekas dan menjadi bukti pada masa depan.

Ia tak terhapuskan. Key menunjukkan bahwa belenggu baja itu tak lepas begitu saja ketika aku memutuskan melangkah keluar dari kisahnya. Ya, sebesar aku tak menginginkannya hadir dalam bab baru hidupku, sebesar itu pula ia ingin namaku mengisi kembali deret kalimat yang tersusun dalam buku kehidupannya.

Malam ini, lagi-lagi aku menguntit Jihye sepulang dari kantornya. Kurapatkan jaket hitam yang membungkus tubuhku serta membenarkan letak topi yang menutupi puncak kepalaku.

Keberanian dan kepercayaan diri yang kumiliki saat aku melangkah keluar dari apartemenku dan Key telah runtuh hingga menjadi serpihan debu yang terbang tertiup angin dan tak bersisa. Kini diriku hanyalah seorang pecundang yang memandang yeoja pujaannya sembunyi-sembunyi—dari kejauhan.

Batinku selalu bergumul setiap kali sosok Jihye tertangkap pandanganku. Sebagian memerintahkan kakiku untuk melangkah ke arahnya, namun sisanya mati-matian melawan dan mengekang keinginan itu jauh-jauh dalam benakku.

Aku berdiri mematung di dekat pohon yang berada di halaman rumah Jihye. Mungkin orang yang lewat akan berpikir aku adalah perampok atau orang jahat sejenisnya jika melihat caraku mengendap-endap masuk halaman rumah orang lain dengan penampilan mencurigakan. Tapi apa peduliku? Selama mataku masih dapat menikmati pesonanya, takkan kudengar cemooh orang lain. Karena ini hidupku, dan ini caraku menikmati sensasi yang kuinginkan dari sosok Jihye yang masih menjadi titik pusat obsesiku.

Lampu kamar Jihye yang terletak di lantai dua menyala. Kupandangi jendela kamarnya sambil terus berusaha untuk berpikir sejernih yang kumampu—jangan sampai aku menerobos masuk rumahnya dan menemuinya sekedar untuk merengkuh tubuh mungilnya.

Malam-malam biasanya, aku akan berdiri memandangi jendela itu selama berjam-jam hingga lampunya kembali padam—menyisakan gelap di balik kaca jendela yang tertutup gorden. Saat itu aku yakin Jihye telah terlelap. Aku akan puas hanya dengan berbisik selamat malam kepada angin yang kuharap akan menyampaikannya ke telinga yeoja itu, kemudian berbalik dan pulang ke rumah kontrakan yang kusewa setelah aku meninggalkan apartemen. Gila? Ya, terkadang cinta dan obsesi memang akan membuat otakmu tidak waras. Bukankah aku pernah lebih gila sebelumnya? Oh, aku tak ingin kembali mengungkitnya.

KYAAAAAAAA!!!

Lengkingan terdengar dari jendela kamar Jihye. Aku mengenal jelas suara yeoja itu.

“Hye! Jihye!” Aku panik. Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah pintu masuk rumahnya.

Pekik suara yeoja itu masih terdengar. Diselingi suara lemparan barang yang membentur lantai dengan keras. Aku menggedor pintu rumah Jihye, namun tak ada jawaban.

“Sial!” umpatku, lalu melangkah menjauhi pintu dan berlari kuat mendobraknya. Butuh empat kali menabrakkan bahu kananku hingga akhirnya pintu itu terbuka. Tanpa menunggu waktu lama—mengabaikan rasa nyeri yang berkedut di bahuku—aku berlari masuk ke dalam.

Langkahku tertahan di dasar tangga menuju ke lantai dua. Seorang wanita setengah baya—yang kukenal merupakan pelayan di rumah ini, terkapar di lantai dengan noda darah di bagian perutnya. Firasatku bertambah buruk. Kakiku gemetar saat berlari menaiki anak tangga secepat yang kumampu.

“Jihye!” teriakku ketika kakiku berpijak pada anak tangga terakhir di lantai dua. Aku kembali berlari cepat ke arah kamar Jihye dan mendapati pintu kamarnya terbuka lebar.

Ia berdiri di sana. Jantungku seolah melonjak keluar ketika melihat sebilah pisau yang telah memerah oleh darah berada dalam genggaman tangan Key—tertuju ke arah Jihye yang berdiri di sudut ruangan.

“Jihye!” panggilku lantang membuat kedua orang dalam ruangan itu menoleh ke arahku. Keduanya melemparkan ekspresi terkejut dengan alasan yang berbeda.

“Diam di sana Kim Jonghyun!” hardik Key dengan mata pisau mengarah kepadaku. Di kemudian melangkah cepat dan menarik tangan Jihye yang lengah karena kehadiranku.

“Key, apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!”

Key menyeringai—bulu kudukku berdiri karena melihat mimik wajahnya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Tubuhku menegang ketika Key menempelkan pisau ke pipi Jihye dan membuat darah—yang sepertinya darah wanita setengah baya di lantai dasar—pada pisau itu menempel di kulit Jihye.

“Kau yang memutuskan duluan, Jonghyun-ah,” geram Key sambil menatapku tajam—rasa sakit hati dan dendam terbias di matanya, “Kini giliranku yang memutuskan!”

Jihye menangis ketakutkan dalam cengkraman Key. Tubuhnya bergetar dan ia tak berhenti berteriak histeris.

“Key, kumohon… lepaskan dia,” ujarku berusaha tetap tenang dan tidak gegabah sehingga akan mengancam nyawa Jihye.

“DIAM!” teriak Key ke arahku, lagi-lagi ia mengarahkan pisau ke arahku, “Kau mencintainya, bukan? Tapi kini lihatlah ia tak berdaya di tanganku.”

Key kembali mengarahkan pisau ke wajah Jihye, “Katakan padanya, apakah kau mencintai namja itu? Apa kau rela mati demi cintamu pada namja itu, gadis manis?”

Aku mengepalkan tanganku melihat bagaimana Key mengancam Jihye. Sial! Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan demi menyelamatkan Jihye. Tidak akan kubiarkan Key menyakiti yeoja yang kucintai!

“JAWAB!” perintah Key dengan mata terbelalak ke arah Jihye ketika hanya isakan yang keluar dari bibir yeoja itu, “Kau tidak bisa menjawabnya? Wae?! Bukankah kau mencintainya? Bukankah kau yang telah membuatnya meninggalkanku?!”

“KEY!” teriakku ketika kesabaranku hampir habis, “Hentikan, Key! Kalau kau marah dan ingin membalas dendam, lakukan padaku! Aku yang telah menyakitimu, aku yang sepantasnya kau bunuh!”

Key berbalik menatapku—mula-mula masih dengan pandangan nanar, namun kemudian melembut, “Aku takkan membunuhmu, Jonghyun-ah. Aku hanya ingin yeoja ini mati supaya kita bisa bersama setelah ini. Kita bisa kembali seperti dulu, sebelum yeoja ini datang dalam hidupmu.”

Aku tak menyadari bahwa kata-kataku telah membuat Key lengah—dan Jihye memanfaatkan hal itu untuk menyikut dada Key sehingga ia terlepas dari cengkraman Key. Dalam hitungan detik, aku melihat Jihye berlari ke arahku dan tanpa sadar aku mengulurkan tangan untuk menyambutnya. Kupikir inilah akhirnya—Jihye berhasil lepas dari Key dan masuk dalam dekapanku—namun kusadari bahwa Key tepat berada di belakang Jihye dengan pisau yang masih ia genggam erat. Selang beberapa saat Jihye berada dalam pelukanku, mata pisau itu tertuju ke arah kami. Aku sama sekali tak menyadari yang terjadi karena semua begitu cepat—tanganku mendorong Jihye ke samping hingga ia jatuh berdebam ke lantai kemudian pisau itu tertancap di perutku.

AH!” pekikku saat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Aku jatuh ke lantai, tepat di sebelah Jihye yang berhasil terhindar dari serangan Key.

O… Oppa!!” teriakkan Jihye terdengar melengking hingga gendang telingaku rasanya hampir pecah. Tangan Jihye meraih tubuhku yang ambruk di sisinya.

“Lari…” ujarku parau, “Cepat lari, Hye-ya.”

Jihye menatapku dengan air mata yang mengalir deras dari matanya. Sedetik ia nampak ragu, namun kemudian ia melepaskan tubuhku dan beranjak pergi—meninggalkan suara langkah kakinya yang berderap menjauh.

Di sisi lain, Key mematung melihatku terkapar dengan pisau tertancap di perutku. Ia kembali sadar sekejap setelah Jihye menghilang di balik pintu.

Tubuhku terasa melayang. Kesadaranku mulai hilang karena darah yang terus mengucur keluar dari luka di perutku. Namun ketika kulihat kaki Key melangkah, dengan sisa tenanga yang kumiliki aku mencengkram kakinya.

“Hentikan, Key!” erangku disela rasa sakit yang menerpa sekujur tubuhku, “Kumohon, berhenti.”

Aku menghela nafas lega ketika lutut Key jatuh di depanku. Ia terduduk dan menangis menatapku yang semakin tak berdaya karena kehilangan banyak darah. Tangannya menutupi kedua belah pipinya dan matanya terbelalak lebar menyaksikanku yang meregang nyawa.

“Wae… Wae… WAE!!” teriak Key disela isaknya, “Mengapa kau lakukan ini Kim Jonghyun?! Mengapa kau harus mencintainya?! Mengapa… mengapa… aku membunuhmu?! Tidak!! Aku tak ingin membunuhmu!! TIDAK!!”

Tak ada lagi tenaga yang tersisa. Aku hanya tersenyum ke arah Key sebelum malaikat maut menarik jiwaku dari raga fana yang kini telah habis masanya.

-A Life Story-

Di sinilah kisah dalam buku kehidupanku diakhiri oleh goresan pena yang tak terhapus. Hidupku telah mencapai garis akhir, meski anganku masih ingin menggapai banyak hal fana dalam dunia tempat aku pernah lahir, tinggal, dan menjalani hari lepas hari.

Jika manusia mengibaratkan dunia seperti warna-warni. Hidupku pun bukanlah bagian hitam dari dunia, karena hitam yang bukan bagian dari warna—ia hanyalah ketiadaan cahaya. Benar atau salah bukanlah ilmu pasti—ia hanya persepsi, bergantung pada arah kau melihatnya. Seperti dua sisi keping logam, meski kau tak bisa melihat keduanya bersamaan, namun keduanya tetap berdampingan. Kalian adalah saksi dari kisah seorang manusia yang pernah hidup di dunia. Entah dari sisi mana kalian melihat kehidupan yang kujalani, namun yang pasti aku tak pernah menyesal telah dilahirkan ke dunia, seperti halnya aku tak pernah menyesal dengan jalan yang telah kulalui selama hidupku.

-END-

Author’s Note:

Secara umum, orientasi seksualitas manusia sendiri dibagi atas empat kelompok besar:

  1. Heterekseksual yaitu manusia yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.
  2. Homoseksual, yaitu pria atau wanita yang memiliki ketertarikan pada jenis kelamin sama.
  3. Kelompok yang berada diantara kedua kelompok ini, yaitu tidak dapat dikategorikan sebagai heterokseksual maupun homoseksual, karena mereka dilahirkan dengan genitalia ambiguous atau kegamangan genital dan penentuan jenis kelamin tersebut harus dilakukan kemudian dengan memperhitungkan berbagai faktor. Dalam istilah seksologi, kelompok ini dikategorikan sebagai transeksual yang dalam keseharian populer disebut waria.
  4. Kelompok gabungan heteroseksual dan homoseksual. Kelompok ini juga bisa disebut serakah, karena meskipun secara fisik maupun orientasi heteroseksual atau homoseksual, tapi juga memiliki ketertarikan pada sejenis (bagi hetero) dan berbeda jenis (bagi homo).

Dalam fiction kali ini, aku mengangkat tema yang keempat, atau biasa orang-orang sejenis ini umumnya sebut AC/DC atau biseksual. Kelompok biseksual memang tidak menampakkan secara fisik, sehingga tidak gampang dikenali. Karena itu, seseorang yang tampak sebagai pria tulen, ternyata berhubungan seks dengan pria.

Seorang dokter psikiatri terkenal, Sigmund Freud, menyatakan bahwa manusia sebenarnya memiliki sifat biseksual bawaan. Ini berarti setiap orang pnya dasar dan peluang menjadi biseks. Merujuk pada teori hormonal bahwa setiap manusia sebenarnya memiliki unsur hormon pria maupun wanita, tarik menarik unsur tersebut sebagai hal yang biasa dan mudah terjadi. Seorang pria yang unsur hormonnya menjadikan seorang hetero, bukannya tak mungkin tertarik dan memiliki fantasi tentang pria. Demikian juga perempuan hetero juga sangat mungkin tertarik pada sesama jenisnya. Wah, hati2 lho😯

Faktor pendorong timbulnya biseksual biasanya terjadi akibat percobaan seksual dalam hubungan antara sahabat baik cukup umum di antara wanita dan bisa pula terjadi antara dua pria berteman baik, atau seorang pria homoseks dapat mengembangkan hubungan seksual dari hubungan yang biasa, namun bersahabat, dengan seorang wanita.

Seks berkelompok adalah tempat lain untuk percobaan biseksual. Akhirnya, beberapa orang mengambil filosofi biseksual sebagai hasil pertumbuhan sistim kepercayaan pribadi. Misalnya, seorang wanita yang selama ini aktif dalam gerakan wanita menemukan bahwa mereka menjadi dekat dengan wanita lain lewat pengalaman dan menerjemahkan kedekatan ini ke dalam ekspresi seksual. Pria biseksual mungkin mengalami ketertarikan homoseksual dan terlibat dalam pengalaman homoseksual sebelum mereka menjadi sadar akan seksualitas ganda mereka. Bagi wanita, terjadi kebalikannya, kecenderungannya adalah untuk mengalami heteroseksualitas terlebih dulu.

Kebanyakan individu yang menyadari ketertarikan mereka pada jenis kelamin yang sama mencoba mengingkari minat mereka dan mencoba menyesuaikan diri untuk sementara dengan gaya hidup heteroseksual yang lebih diterima di masyarakat. Biasanya waktu masa remaja ada konflik batin yang semakin meningkat tentang kesukaan seksual mereka yang barangkali tidak dapat diselesaikan penuh sampai masa dewasa. Karena umumnya orang, bahkan orang dengan minat biseksual, dianggap sebagai heteroseksual atau homoseksual, orang-orang ini tampaknya bergumul untuk waktu yang lebih lama, mencoba menyesuaikan diri dengan salah satu gaya hidup atau yang lain. Umumnya orang-orang untuk sudah cukup jauh memasuki usia 20-an atau 30-an sebelum menerima kecenderungan biseksual mereka. Definisi masyarakat akan apa yang normal, layak, benar, dan alami memiliki pengaruh besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang orientasi seksual mereka. Oleh karena pandangan negatif terhadap biseksualitas, tidak heran bila pria dan wanita dengan kecenderungan biseksual merasa terasing dari dan ditekan oleh baik komunitas heteroseksual dan homoseksual. Bagi mereka, hal ini dapat menimbulkan pertanyaan yang serius tentang identitas seksual mereka.

Yeap, segitu aja info yang bisa aku jabarin karena sisanya jauh lebih memusingkan sampai aku mabuk sendiri bacanya. Intinya, orang-orang dengan orientasi seperti ini cukup banyak meski masih tergolong minoritas. Kalau dari aku pribadi, termasuk orang yang memandang sebagai kaum mayoritas, yaitu tetap menganggap hal ini sebagai penyimpangan seksual. Meski demikian, bukan berarti aku mengintimidasi orang-orang semacam ini. Mereka tetap manusia yang memiliki hak untuk menulis sendiri buku kehidupannya. Yeah, setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tergantung dari sisi mana kalian melihatnya. Cheers!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

49 thoughts on “A Life Story

  1. *tarik napas dulu**
    ditungguin TBiY part 5-nya, eh yang nongol kisah ‘cinta’ Jong-Key..😉

    ceritanya bagus, tentang orang2 yg mengalami orientasi seks yang menyimpang.
    memang gak bisa dihindari orang2 disekitar kita kemungkinan ada yang mengalaminya..
    tapi gimana sikap kita terhadap merekalah yang akhirnya membuat mereka menutup diri..
    kalau bukan karena ‘kepergok’ mungkin kita gak tau, seperti Jihye yang akhirnya tau klo Jjong temasuk yang mengalami orientasi seks menyimpang..

    yang pasti, penjelasan Lumie cukup membantu menjelaskan gmna orang2 yang mengalami hal itu.
    Trims infonya Lumie..

    Oiya, masih ditunggu loh TBiY-nya..🙂

    1. hehehe, TBIY-nya belum.. lagian ini ff udah agak lama dibikin, sebelom TBIY part 4 malahan.. tp emang belom sempet di post di sini aja.. hehehe..
      yeap, banyak kok ternyata kasusnya.. malah rumornya artis korea juga ada yang berorientasi menyimpang gtu kan?🙄 well, idup itu emang penuh warna.. TBIY-nya makasih mau ditungguin😉

  2. ah keren… ide dan cara penyampaiannya keren.
    aku sarankan nulis novel aja eon.
    fanfic aja pake riset segala, gimana kalo bikin novel beneran?🙂
    totalitasnya aku salut !

    1. hehehe, makasih udah baca.. wah, masih jauh skill aku untuk nulis novel.. risetnya cuma kecil2an kok.. masih dalam batas wajar untuk sekedar nulis ff😉

  3. Wah !! Eonnie !! Ffnya , mengerikan.

    Mmmm pesan moral sangat mudah di ambil. Mmmm aku juga kaget saat adegan ciuman. Hhhmmmm gag nyangka deh pokoknya.

    Ku pikir akhir cerita jihye sama jong bakal couple. Teernyata gag, hhhmmmm pasti key nyesel banget.

  4. eoniieee! DAEBAK!!! keren! suka!
    entah kenapa, dari persepsi pribadi kayaknya orang-orang homoseksual punya kecenderungan bwt ngebunuh karena cemburu #liat berita Rian. #saya ngeri
    trus temen sekolah aku aja begitu, awalnya heterekseksual trus dia jadi homoseksual. katanya gra-granya dia patah hati gtu #cuma gosip sih.

    1. hmm, i dunno.. mungkin karena mereka susah nemuin pasangan mereka lagi kalau sudah melepaskan yang satu?🙄 aku gak nyari tau sampai sedalem itu sih.. hehehe, maybe next time😉

  5. Lum lum, mbak, mbak, aku suka loh ama cara lumie mainin kata. Enakkkkk *berasa makanan*

    Oh, ga bs ngebayang Key yg baik hati itu dijadiin macem ini. Tapi wajar sih emang, seorang gay tdk akan mudah melepaskan pasangan gay-nya.

    Good job lumie utk semuanya ^^

    1. eh? emang caraku maenin kata kenapa bib? aku malah berasa kurang banget, apalagi soal diksi, banyak yang monoton..😕
      makasih bib udah baca.. sorry for key’s role😆

  6. bandel nih aq, msh kurang 2 thn lagi tp udh baca wkwkw. tp gk papa nambah pengerahuan, iya gk?hehehe

    dr awal author udh ngasih clue nih kl key agak2 gk bener #plak# udh bisa nebak jgn2 jjong itu gay. dr adegan mijat2an aku udh bisa nebak. dikira ceritanya cuma orng gay yg nutupin kedok dgn pacaran ama cwek. tp pas dia blng dia mencintai jihye (sblm adgn jongkey disofa itu) tebakanku agak goyah antara bisek atau temenan biasa.ternyata emng bisek ya… wah jd rada takut ama kehidupan asli jongkey, 2min, atau onkey nih.soalnya mereka keliatan deket bgt. bnyk jg diantara fans yg minta mereka pacaran beneran. ih amit2 …

    gk bisa ngritik deh, pas liat nama authornya lumina udh yakin pasti keren hehe

    1. nah yaaaaa~😆
      gpp juga sih baca kalau bisa lihat dari sisi positifnya.. aku cuma takut kalau yang masih dibawah umur, gak dewasa secara emosional, nanti malah jadi kebayang2 dan parno sendiri.. misalnya jadi nebak2 soal diri sendiri atau orang2 di dekatnya.. well, usia remaja kan memang rawan karena masih nyari jati diri.. jangan sampai jadi salah persepsi gtu, nanti dia ternyata punya temen deket malah dia jadi menduga yang enggak2 soal temennya..😆
      hahaha.. sebenernya ada clue-nya kok.. jjong ada bilang dia gak pernah mengingini yeoja seperti sebelumnya.. well, itu artinya….😆
      hmmm, i dun think so.. mereka sih sejauh pengamatanku masih wajar.. aku juga punya temen2 cewek yang sangat sangat dekat, tapi kami yakin kami normal.. masalah waktu aja sih, kami udah sahabatan 7-8 tahun.. mungkin kasusnya sama aja kayak member shinee, apalagi mereka juga tinggal bareng.. semacem brothership lebih tepat mungkin buat gambarin hubungan mereka🙂 aku pernah denger sih rumor yang bilang key itu gay, tapi sejauh pengamatanku, biarpun key punya sisi feminim, tp dia gak keliatan punya kelainan orientas seksual..🙄
      hahaha, belum tentu dong.. aku juga masih belajar nulis nihhh… ini juga banyak kekurangannya, tp aku udah males edit lagi..😆

  7. hai lumina!!
    kereen banget FFnya, apalagi penjelasan mengenai tema FFnya. let me guess, are you medical student or psychological student?
    soalnya kayanya kamu paham banget sm temanya.
    great FF!

  8. O_O
    hebat,cara pembwaannya bagus banget,
    awalnya sempet bingung,apa jonghyun itu suka sesama jenis apa bukan kok ciuman sama key juga,tapi pacaran sama jihye juga..
    ternyata ada penjelasannya juga.
    ffnya bgus,juga nambah pengetahuan hehe…
    suka sama ff kayak gini

  9. Aku suka sama tema ceritanya … penuh ilmu dan amanat ..
    Salut sama jjong .. walaupun jalan xerita bku kehidupannya gak trelalu menarik … tpi ia tetap bersyukur pernah merasakan hidup didunia

    Aju baru tau lohh klo ada bisek.. yg aku tau sih cma 3 golongan aja ..

    Onnie DAEBAK …

    SARAN ::: kalo bisa buat FF kayak gini lbih panjang lgi yahh …😀

    1. thanks for read, dear.. hmm, lebih panjang? kalau lebih deskriptif lagi mungkin bisa diusahain dengan nyari2 data atau memperdalam lagi konflik batinnya, tapi kalau maksudnya sampai jadi sequel sepertinya sulit..🙂

  10. syuttttt eonnn aku langgar rating nihhh hahahaha
    masih rada gak ridho jjong jadi bisexs huaaaah uri dinoooo tapi di pendeskripsiaaannnya jjong lebih panttes ma key #gedeblug
    kece tapi agak takut juga bayanginnyaaaaa ahahaha jadi banyak yang di skip wkwkwkwk
    oke dpet ilmu nihh eon

    1. hahahaha, nah kan yaaaa.. itu dia kenapa aku udah peringatin yg masih di bawah umur jangan maksa baca.. nanti jadi parno sendiri.. well, karena udah terlanjur, kamu jangan takut2 sendiri ya.. hal kayak gini masih minoritas kok di indo.. biarpun sekarang mulai agak marak diperbincangkan terkait beberapa publik figur yang mulai terbuka soal penyimpangan sosialnya.. jangan dipikirin terlalu dalam, sekedar kamu tau aja kalau ada sisi kehidupan macem gini.. ok? lain kali lebih pilih2 ya kalau baca..🙂

    1. comment’ku kepotong tadi…
      jujur aku lbh suka alur yg gak 100% yaoi.. terkadang fujoshi terlalu menganggap couple” itu real.. hehe😉
      keren kok ^_^

      nice info soal bisex😉 biarpun aku udh tau sih ^_^V
      author seorang eonni’kah? aku masih 96line.. blm 17thn sih.. (kurang sebulan aja).. harusnya udah boleh baca kan? #padahal udah baca.. hehe😉

      1. iya jjongnya sexy.. that’s my luck.. aku nemu foto itu pas ff ini udah kelar lho padahal..😆
        yeap, makanya aku gak mencantumkan yaoi jadi genre ff ini karena aku gak mau yang baca ngira ff ini murni melibatkan hubungan sesama jenis.. krn mau fokusnya justru dipenyimpangan seksualnya..🙄
        wah, yaudah gpp kurang sebulan doang.. yang penting bisa baca dari sisi positifnya🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s