Who I am? I am an Eve – SPY 11

Who I am? I am an Eve

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

Backsound : BIG BANG – Monster, B.E.G – Cleansing Cream, Infinite – 60 Seconds, Seo In Guk – With Laughter or With Tears, OST. Nice Guy – Change

SPY 11

Chase merubah wujudnya di tengah malam yang sunyi itu. Ia belum memasuki wilayah Korea Selatan, ia pasti dicurigai apalagi beberapa saat lalu ada wanita yang memergokinya. Well, harusnya dia tak perlu merasa begitu. Ia kepergok saat masih berwujud serigala. Tapi ia harus tetap waspada, kan? Apalagi ia tak mengenal tepatnya siapa wanita berjubah itu.Waspada. Itulah yang harus dihadapinya saat ini.

“Wah, kau keren juga. Kupikir werewolf hanya berubah saat bulan purnama saja,” suara wanita mau-tak mau membuat Chase terkejut dan berbalik. Wanita yang tadi melihatnya. “Kau mau kemana? Mau masuk ke negara seberang?”

Tapi Chase masih tak mau bersuara. Ia hanya menatap wanita itu tajam, meski raut wajahnya sangat tenang.

“Kau menganggapku orang asing jadi tak mau berbicara denganku? Ah, aku belum mengenalkan diri, ya,” wanita itu menyeringai lalu membuka tudung jubahnya. Memerlihatkan rambutnya yang indah bergelombang, dan parasnya yang sangat cantik. Paras yang membuat setiap anak laki-laki tergoda. Dan sayangnya Chase hampir tergoda dengan pesona itu. “Aku Ariana,”

“Kau siapa?”

“Aku Ariana. Kau mendengarku tidak?”

“Tapi kau itu apa? Kau memang manusia, tapi nampaknya kau hidup di dunia…” suara Chase perlahan menghilang ketika sebuah kata muncul di dalam otaknya yang cukup menggambarkan siapa wanita aneh yang berdiri di depannya ini. “Penyihir?”

Ariana tertawa sekali, lalu tersenyum manis. “Benar sekali. Wah, kami terkenal, ya,”

“Ya, karena pernyihir itu seperti manusia yang sok tahu banyak hal. Sepertimu,” balas Chase datar. Senyum Ariana hilang seketika.

“Aku menunjukkan diri di depanmu dan mengakui siapa aku bukan karena aku pamer atau ingin berbasa-basi,” suara Ariana mulai terdengar jengkel, “Tapi aku ingin membangun relasi denganmu. Bagaimana?”

“Cih, kau pasti membutuhkan sebuah bantuan. Atau karena kau berkelana di sini seorang diri?”

“Bukankah kau juga datang sendiri?” kilah Ariana menghiraukan pertanyaan Chase. “Karena itu, kau bisa ikut denganku. Aku baru beberapa hari di Korea Selatan dan aku mulai terbiasa dengan negara itu,”

“Kau menawarkan diri menjadi guide atau apa?”

“Kurang lebih seperti itu,”

“Tapi aku ragu denganmu yang baru beberapa hari di sini. Untuk menjadi guide, kedengarannya tidak mungkin, kan?”

Ariana mengabaikan itu sebentar dan balik bertanya. “Omong-omong, siapa namamu?”

“Chase,” jawab werewolf itu singkat.

__

Mr. Jung’s House

9.00 AM

Chan Gi sedang mengaduk oatmeal yang baru ia buat dengan pandangan kosong, tangannya menyangga tubuhnya yang berdiri dibalik mini bar di dekat meja makannya. Ia sama sekali tidak lupa. Tidak lupa kalau 3 hari lalu seseorang menemuinya dan hendak mengambil nyawanya. Dan akan kembali menagih nyawanya tiga hari kemudian, tepatnya hari ini. Bertepatan dengan hari pertunangannya. Sepasang lengan melingkari lehernya, membuat gadis berambut pendek sebahu itu terkejut dan menoleh.

“Eh, kau,” Chan Gi tersenyum tipis dan menyentuh lengan yang memeluknya.

“Kenapa kau melamun? Dan tidak sopan sekali kau, kenapa memanggilku seperti itu?” Chan Gi terkekeh lalu melepas sendok yang ia genggam.

“Memangnya kau mau kupanggil apa? Yoogeun oppa, begitu? Cih,” Chan Gi mencibir lalu terdiam ketika kepala pria itu menyender di pundaknya. “Kenapa kau jadi super manja begini? Kau membuatku was-was,”

“Memang kenapa? Aku tak boleh bermanja pada kekasihku sendiri?” Sungut Yoogeun lalu melepaskan tangannya. “Kau sendiri kenapa? Akhir-akhir ini kau nampak lesu. Harusnya kau senang,” Chan Gi hanya menatap Yoogeun tak bergeming, lalu tersenyum tipis.

Yoogeun ikut terdiam menyadari tatapan Chan Gi itu. Dengan lengan yang masih melingkari pinggang Chan Gi, pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Chan Gi, sementara sang gadis menatap Yoogeun lekat, dan ikut mendekatkan wajahnya. Bibir keduanya bertemu saat mata Chan Gi terpejam, begitu pula dengan pria yang merangkul pinggangnya.

Entah kerasukan setan mana yang membuat otak Chan Gi konslet seketika, gadis itu berjinjit untuk sedikit menyamakan tingginya dengan Yoogeun. Mulai menyentuh tengkuk pria itu, menahannya agar tidak terlepas darinya. Menikmati sepenuh hati pagutan-pagutan lembut dan dalam yang terjadi secara spontan itu. Dan ternyata otak Chan Gi benar-benar konslet. Kata-kata Key masih segar diingatannya, membuatnya seakan dengan mata terbuka menyambut kematiannya hari ini. Tidak, ia mulai berpikir ia harus melakukannya.

Menyerahkan dirinya pada orang yang dicintainya sebelum pergi.

Tek,

Chan Gi menyentuh kancing kemeja Yoogeun yang paling atas dan membukanya disela pagutan hangat mereka.

Tek,

Chan Gi mendengus senang karena merasa Yoogeun tak keberatan.

Tek,

Chan Gi semakin memeprcepat gerakan tangannya. Kepalanya semakin mendongak ketika merasa lidah Yoogeun menjelajahi lehernya, hangat dan basah. “Mmm..” Chan Gi mengerang pelan, tapi tangannya sama sekali tidak berhenti. Begitu ia menyentuh kacing terakhir, tangan Yoogeun menahannya.

Grep.

“Apa yang akan kau lakukan, Nona Baek Chan Gi?” tanya Yoogeun dalam sambil menatap tajam mata Chan Gi. Mengakhiri adegan panas mereka seketika. Chan Gi balas menatap Yoogeun sendu.

“Melakukannya,” jawabnya serak. Yoogeun merenyit.

“Mwo?”

“Melakukannya. Memberikan diriku padamu,” jawab Chan Gi lagi. Yoogeun melotot, ia menghempaskan tangan Chan Gi dan membenahi kemejanya.

“Otakmu sedang tidak bisa berpikir, eh?” cerca Yoogeun. Chan Gi terdiam. Pikirannya kalut. Dalam otaknya hanya ada kata ‘hari ini, hari ini, hari ini’. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Aku hanya ingin,” jawab Chan Gi. “Kenapa?”

“Kau bodoh, Chan Gi. Kita bahkan belum terikat pernikahan. Bagaimana bisa aku melakukan itu padamu? Yang bena rsaja,” sungut Yoogeun. Dia menangkup wajah Chan Gi dengan telapak tangannya. “Apa yang terjadi denganmu?”

Tapi Chan Gi hanya menatapnya sendu. Ia merengkuh tangan Yoogeun dan menggenggamnya. “Ku… kurasa aku butuh cuci muka sebentar,” Chan Gi tersenyum tipis lalu melangkah berbalik ke kamar mandi.

Setelah menutup kenop pintu Chan Gi langsung memutar keran hingga mengalirkan air yang cukup deras. Ia membasuh wajahnya tergesa, dan menepuk wajahnya. Tapi setelah mendongak, ia hanya mematung memandang dirinya sendiri. “Kuharap ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang kata orang menandakan kehidupan bahagia di dunia aslinya. Aku belum menghasilkan apa-apa selama jerih payahku selama ini. Hiks…”

Chan Gi membanting punggungnya ke dinding dan memerosotkan tubuhnya. Menangis sekerasnya, sekeras yang ia mampu.

__

A bus station in front of Jung’s Company building,

Seoul

Ariana sudah membeli berbagai macam jenis pakaian Munggle yang menurutnya ‘normal’, apalagi kemarin ia diberitahu bahwa Korea Selatan memiliki trend sendiri dalam fashion ketika K-pop dan K-drama mulai merajalela di dunia. Kini ia memakai blazer yang senada dengan boot-nya, tapi masih memakai jeans lamanya. Kenapa? Dia dapat menyembunyikan tongkat sihirnya di saku jeans itu. Karena saku jeans para Munggle tak mungkin dalamnya mencapai lebih dari 15 sentimeter.

Wanita itu menyandarkan dirinya ke tiang halte. Tatapannya lurus ke gedung Jung Company di seberangnya. Dari beberapa informasi yang ia coba untuk ketahui, Jessica menyamar sebagai pekerja di perusahaan itu. Jadi, ia bisa menemukan Eve itu dengan mudah bila tiap pagi ia standby di sekitar tempat itu.

Sebuah bis berhenti di seberang, dan mata Ariana tak pernah berhenti mengekorinya. Pandangannya jatuh ke seorang wanita yang baru turun dari bus dengan rambut blonde dan berponi. Wanita itu memutar tubuhnya, membuat Ariana tertegun menatap parasnya.

Cantik, ia mengakuinya.

Dan satu hal yang ia benci dari wanita itu ketika melihatnya secara langsung dari kejauhan.

Ternyata kharismanya memang berbeda.

Ariana menunduk dan menatap boot-nya ketika sebuah bis berhenti di halte tempat ia berada. Beberapa orang menatapnya aneh, mungkin karena ia nongkrong di halte yang jelas merupakan tempat dimana orang menunggu bus. Tapi Ariana tidak peduli. Ia masih terus mencari informasi. Pikirannya melayang saat malam tadi ia membaca buku milik ayahnya tentang mahkluk-mahkluk dan eksitensinya di dunia. Sebenarnya, buku ayahnya yang ia bawa diam-diam, hanya meminta ijin dari ibunya. Saai itu ia baru tahu kalau kelemahan Eve hanya ada satu. Kelemahan mereka yang benar-benar mematikan.

Venom vampire.

Venom vampire bisa mematikan Eve seketika saat masuk ke dalam tubuhnya. Ariana menyeringai dalam hati.

“Racun vampir, ya,” gumamnya sangat pelan, matanya kini masih memandangi Jessica yang melenggang masuk ke dalam gedung setelah bis di depannya melaju. “Tapi bagaimana aku mendapatkannya?”

__

An old castle,

South Korea

“Bagaimana rasanya, eoh?” gumam Hero yang bersandar di dinding kastil. “Sedari tadi kau hanya memikirkan pergi bersama Jessica. Ini mangsa perempuan pertamamu, kan?”

Key berdecak lalu memainkan bandul kalung besarnya, memutar-mutarnya di jemarinya seolah mengabaikan pernyataan Hero. “Biasa saja,” ia mengangkat bahunya. “Memangnya aku harus merasa bagaimana? Dia makananku, kan? Apa yang harus kurasakan memangnya?”

“Jessica masih ragu apakah ia akan datang atau tidak,” Hero menggantungkan kata-katanya, “Ia takut Yoogeun akan murka di pesta itu,”

“Kalau begitu Jessica yang bodoh,” Key memutar bola matanya, “Yoogeun hanya manusia, kan? Kenapa dia takut kalau Yoogeun akan murka? Memangnya Yoogeun akan tahu kalau tunangannya akan kumangsa?”

“Yah, katakan itu pada Jessica, bukan padaku,” Hero membalas cuek lalu berbalik. “Ngomong-ngomong, bukankah ada manusia yang berusaha menarik perhatianmu, dia sekantor denganmu, kan?”

“Ck, dia akan segera menjadi mangsaku,” Key menaikkan sebelah alisnya lalu menyeringai. “Tunggu saja. Tapi manusia itu bukan masalahku sekarang. Sekali tebas masalahnya akan selesai. Kalau yang akan kuhadapi ini…”

“Kau ragu?” Hero menyeringai membaca sekelebat pikiran yang muncul di otak Key. “Yeah, terkadang masa lalu bisa membuat sulit juga,”

“Apa sewaktu di Perancis dulu, Jessica pernah memikat seseorang?” tanya Key penasaran. Hero menaikkan alisnya.

“Kau takut itu akan berhubungan dengan ini? Yah, masalahnya kemampuanku bukan seperti kemampuan Tiffany. Aku hanya bisa membaca pikiran bukan membaca masa depan,” Hero berucap ragu, “Tapi kurasa Chase dekat dengannya,” Kening Key merenyit mendengar nama Chase, rasa penasarannya mulai timbul lagi.

“Kalian membicarakan apa?” tiba-tiba Jessica keluar dengan gaun malam panjang berwarna hitam yang elegan. Baik Key maupun Hero menoleh, lalu merasa surprise dengan dandanan Jessica malam ini. Hero hanya nyengir, tapi Key hampir tidak bisa menutup mulutnya sangking kagumnya dengan Jessica. “Tutup mulutmu, Key!”

“Kau sangat cantik, sungguh!” puji Key tulus. Sementra Hero hanya terkekeh.

“Bukan Eve namanya kalau tidak memiliki fisik yang sempurna,” celetuknya yang berhasil meluluh-lantakkan ekspresi Key yang seperti orang tolol.

“Cepat berangkat, kau kan harus tiba lebih awal, Key,” sembur Jessica tiba-tiba.

“Kenapa sewot sekali, Jess? Kau kesal karena ini malam pertunangan mangsa manusiamu itu?” ejek Hero. Jessica mendengus. Tapi Key melangkah melewati mereka berdua keluar kastil.

“Haaah… hari ini aku dapat makan malam. Oh yeah, yang harus kulakukan adalah bagaimana caranya supaya aku dapat menyeret gadis itu keluar tanpa sepengetahuan orang-orang,” langkahnya terhenti ketika tidak merasakan Jessica mengikutinya. Ia berbalik dan menyeret Jessica bersamanya. “Kau lelet amat sih!”

“Ergh,” erang Jessica dan mengikuti langkah Key.

__

Key memperlambat laju mobil sportnya ketika ia memasuki parkiran hotel mewah tempat berlangsungnya pertunangan Yoogeun dan Chan Gi malam itu. Sedari tadi Jessica hanya membungkam mulutnya, tidak menatap ke arah Key maupun ke arah jalan. “Gugup, eh?”

Jessica menoleh sebentar menatap Key lalu tersenyum tipis. “Kau mengubah rambutmu, ya?” ujarnya lembut. Key membuang muka lalu melepas kunci mobil.

“Aku masih tahu bagaimana tampil memukau di acara seperti ini,” jawabnya santai. “Sudah bawa undangannya?”

“Aku bukan mahkluk pelupa, Key,” mereka tertawa pelan dan bersama-sama keluar dari mobil. Jessica mengamit lengan Key dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang dompet pesta. Setibanya mereka di depan ballroom dan sudah dipersilahkan masuk, mereka mulai mengumbar senyum lebar.

“Untung saja kau pakai gaun itu,” bisik Key di telinga Jessica. Jessica mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Key.

“Kenapa?”

“Setidaknya kau cukup gorgeus untuk bersanding denganku,”  Jessica ingin sekali menjungkir balikkan Eve muda yang kadar narsisnya luar biasa itu. Key terkekeh melihat ekspresi jengkel Jessica.

“Sudah deh, nanti kau makin jatuh cinta padaku kalau menatapku seperti itu. Bukankah kita harus menyelamati sang empunya acara?” lengan Key yang lainnya menyentuh tangan Jessica yang mengamit di lengannya. Mereka berdua melangkah agak ke depan, mendekati panggung.

Mata Key berubah tajam ketika mendapati Yoogeun yang keluar perama dari ruang tempatnya mempersiapkan diri, disusul dengan Changi dari sisi lainnya. Ia melirik Jessica sebentar, sekedar mengira apakah akan ada reaksi tertentu dari Eve wanita itu. Tapi Jessica hanya menatap panggung ke depan tanpa ekspresi apa-apa. “Aku sudah melarang Yoogeun untuk bertunangan dengan gadis itu,” ujar Jessica pelan, menyadari kalau ia sedang dilirik oleh Key.

“Apa?!” jawba Key terkejut. Jessica mempertahankan amitan lengannya di lengan Key meski Key seperti berusaha untuk menyentaknya.

“Aku sudah merasa kalau bila ia bersama gadis itu, sesuatu yang rumit akan terjadi, karena itu aku melarangnya, bukan karena kau memiliki perasaan padanya,” sahut Jessica tajam. MC mulai membuka acara dengan pertukaran cincin, meresmikan pertunangan mereka. Key yang ditatap Jessica seperti itu akhirnya terdiam dan kembali mengontrol ekspresinya.

Jessica memalingkan wajah ke arah panggung, dan saat itulah pandangannya dengan Yoogeun bertemu. Mata Yoogeun melebar, tapi tidak dengan Jessica. Eve wanita itu membuang muka lalu memberikan reaksi kepada Key, mengusap lengannya. Sementara Key yang cukup tidak perduli apakah Chan Gi melihatnya atau tidak hanya berpikir dan menganalisis apalkah ada aura sihir di ruang ballroom itu. Siapa tahu saat ia hendak menyerang seseorang akan menghentikan dan menghabisinya. Lebih baik berjaga, bukan?

Prosesi pertunangan berlangsung aman, hanya saja Yoogeun menjadi gugup karena Jessica ada di acara itu. Darah pria itu berdesir melihat paras Jessica—lagi—ditambah dengan riasan dan gaun yang dipakai gadis itu. Sangat… cantik. Baik Yoogeun dan Chan Gi masing-masing turun dari panggung untuk menerima ucapan selamat dari keluarga, kerabat dan kolega, memasang wajah sebahagia mungkin. Chan Gi yang sedari tadi menyembunyikan wajah pucatnya dibalik riasan tebal hanya bisa menggigit bibir apakah Key akan datang malam ini dan menghabisinya.

“Yoogeun-ah, aku ke toilet dulu,” bisik Chan Gi sambil melepaskan diri dari gandengan Yoogeun. Yoogeun mengangguk lalu menatap punggung Chan Gi sebentar sebelum kembali bercengkrama dengan beberapa koleganya.

Sambil berjalan, Chan Gi berpikir apakah Key akan datang dan menyergapnya? Oh, bisakah mahkluk itu mengerti bahwa pesta belum selesai dan akan mengundang isu panas jika ia terbunuh di tengah pesta.

Grep!

“Hai, nona. Kuharap kau ingat perjanjian kita. Aku tahu pesta itu belum selesai tapi setidaknya aku ingin menyelesaikan urusanku denganmu,” Chan Gi terkesiap ketika seseorang mencengkeram lengannya. Chan Gi tahu benar suara siapa itu.

“Key!” suara Chan Gi tercekat meski ia menjerit menatap pria bertuksedo yang menatap tajam padanya. “Aku—“

“Aku tidak bisa mentolerir lagi, nona. Aku sudah memberimu waktu tiga hari, bukan?” ujar Key dingin. Secepat kilat ia menarik Chan Gi ke keluar ballroom tanpa diketahui semua orang, ah, kecuali satu. Jessica yang sedang bersandari di tembok ballroom bagian luar.

Sudut mata Yoogeun menangkap Chan Gi yang tiba-tiba menghilang sebelum masuk ke toilet. Tadi ia melihat Jessica. Jangan bilang kalau Chan Gi dibawa. Pikiran Yoogeun mulai diselimuti hal-hal negatif sampai ia berada di luar ballroom dan menemukan Jessica melipat tangannya di depan pintu.

“JESSICA!” Yoogeun menghambiri Jessica dengan raut marah. “Dimana Chan Gi?!?!”

Jessica mengangkat wajahnya lalu menatap Yoogeun datar. “Aku sudah bilang, jangan bersamanya. Kau sudah jatuh cinta padanya dan itu akan semakin mempersulitmu,”

Yoogeun menggeram lalu menjambak rambutnya. “Maksudmu apa?!?!”

“Aku tidak bisa mengatakannya, takdir tidak akan berubah,” jawab Jessica seadanya. Ia beranjak dan berbalik berjalan menjauh.

“Kalau terjadi sesuatu dengan Chan Gi, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu, Jung Jessica, ah, tidak, Monster,” desis Yoogeun geram. Jessica berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang menatap Yoogeun dan menampakkan kilatan matanya.

“Kau sudah tahu apa yang akan terjadi, kan,”

__

Chan Gi berkedip sekali dan ia sudah berada di atap gedung hotel yang sama dengan hotel tempat pestanya. Key berada di depannya, tepat dengan posisi tangan seperti memeluknya. Chan Gi terus menatap Key, berubah menjadi kengerian ketika tatapan Key berubah tajam dan lapar ke arahnya. Key mendekatkan wajahnya, agak turun ke bawah…

JLEB!

“AAAAAAAAAAAAAAARGH!” Chan Gi meronta di pelukan Key ketika taring mahkluk itu menembus bagian bawah tulang selangkanya.

Sreeeet…

“AAAAAAAAAARGGHHH!!” kedua mata Chan Gi membelalak ketika taring Key dilehernya berfungsi seperti gunting. Menyobek kulitnya menjadi sebuah sobekan panjang yang membelah kulitnya, menampakkan tulang rusuknya membuat pancuran darah segar mengalir ke gaun pestanya. Gigi depan Key yang tak kalah runcing menggigit salah satu bagian sobekan, lalu menariknya sehingga nampak seperti menguliti.

Sementara itu, Yoogeun berlari dari ballroom menuju lift terdekat, naik ke lantai paling atas. Tapi untuk mencapai atap gedung hotel itu ia harus menaiki tangga darurat untuk staff secara paksa dan terburu-buru. Yoogeun hampir frustasi ketika pintu menuju atap sulit untuk dibuka dan terlalu berat.

BRUAAAAAK

Wajah Chan Gi memucat, tangannya tidak bisa digerakkan lagi. Ia sudah tiba bisa apa-apa lagi selain merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Mulutnya terbuka dan ia mulai tak dapat menghirup oksigen dengan baik.

Kraaaaaak

Dan, seketika itu juga denyut nadi Chan Gi menghilang.

Key menggunakan kedua lengannya untuk melipat tubuh Chan Gi ke arah horizontal, menjebabkan tulang rusuknya terlepas dari tulang dadanya, mencungul keluar dan menampakkan beberapa organ dalamnya. Tangannya mencabut paksa jantung yang masih berdetak walau sangat sangat lemah.

BRUAAAAAAK

“BAEK CHAN GIIIII!!!!” suara Yoogeun bergitu keran membuat Key yang hendak menyantap jantung Chan Gi menoleh. Mulutnya berlumuran darah dan tubuh Chan Gi yang hancur tak bernyawa berada dalam pelukannya. Pandangan Yoogeun mengedar, dan matanya terpaku ketika melihat sosok yang tersenyum licik padanya sembari memegang tubuh Chan Gi yang mengenaskan di tangannya.

“Halo, tunanganmu sekarang akan menunggumu di sana,” ujar Key licik dan melahap Jantung Chan Gi seketika. Yoogeun terbelalak melihat bentuk tubuh Chan Gi yang sudah tak bernyawa itu.

“BEDEBAH KALIAN MAHKLUK TERKUTUK!” teriak Yoogeun dan menyerang Key. Tetapi Eve muda itu terlalu kuat, ia menepis bogem Yoogeun dan menangkap pergelangan tangannya, memutarnya dan melempar tubuh Yoogeun menjauh.

BRUAKKK

“Sekarang, lihat ini pria manis,” Key menyeringai , mengambil setetas darah Chan Gi yang mulai mengering dan menggoreskan sebuah tanda salib di pergelangan tanagn kiri gadis itu dengan darahnya. Yoogeun yang merasa punggungnya remuk karena terlempar begitu keras ke atas beton hanya bisa melirik benci menatap Key.

Key mengadah menatap langit, sepasang sayap hitam muncul dari punggungnya. “Selamat tinggal, semoga kita berjumpa lagi,” ujarnya dengan suara dinyanyikan. Key membawa tubuh Chan Gi mengangkasa, meninggalkan Yoogeun yang masih syok.

__

Ilsan-dong, South Korea

Midnight

Chase merenyit ketika Ariana tiba-tiba membawanya ke sebuah motel. Mau apa gadis ini?! “Untuk apa kita ke sini? Urusanku masih banyak Nona, lupakan tentang ambisimu itu karena akan membuat eksitensi mu berantakan,”

Ariana mendengus lalu mendesis, pergelangan kanannya merayap masuk ke saku celananya. “Legilimens!”

Chase tersentak, tubuhnya terdorong ke belakang dan ia meraung. Pikirannya serasa dibelah dan disedot oleh sesuatu yang dingin dan menyakitkan. Seluruh ingatannya tiba-tiba keluar seperti rol film, berputar terbayang di depan matanya ataupun di depan mata Ariana. Chase menggeliat melawan, berusaha mengusir pengaruh itu atas dirinya. Tapi, Ariana bukan seorang penyihir yang lemah. Kekuatan fisik Chase tiba-tiba lumpuh, karena itu ia tak bisa merupah wujudnya atau menyerang Ariana.

Film yang berputuar pertama ketika Chase dan teman-temannya bertransformasi menjadi seornag werewolf untuk pertama kalinya, dimana perubahan fisik semakin pesat dan dimana mereka menjelajahi tempat-tempat dalam kedipan mata. Ariana makin ganas menggeledah ruang pikiran Chase, menemukan film sepuluh tahun lalu. Dimana ia bertemu dengan Jessica, dan debaran-debaran hatinya. Ariana tersenyum simpul dan meneruskan menggeledah. Ia menemukan lagi film-film Chase dan Jessica, kolega Chase yang merupakan vampir…

Mata kucing Ariana menyipit senang melihat film itu. Chase mengeluarkan banyak keringat sementara isi pikiran dan ingatannya terus keluar. Setelah puas, Ariana menyudahi penggeledahannya dan membiarkan Chase yang kelelahan beristirahat selama beberapa detik, dan… “Imperio!”

Pikiran Chase kosong seketika ketika ia berusaha berteriak mengumpulkan tenaganya dan menyerang Ariana. “Chase Lee. Mengabdilah padaku,”ujar Ariana dengan nada yang arogan.

Dan hanya suara yang arogan itulah yang mengisi pikirannya. Chase tersenyum. “Tentu saja, nona,”

“Sekarang, jawablah pertanyaanku dengan jujur,” Ariana berjalan ke belakang Chase dan menyentuh pundaknya lembut. “Kau ingin mendapatkan Jessica, bukan?”

Pikiran Chase kosong, senyumnya perlahan memudar. “…ya.”

Ariana tersenyum licik. “Bersekutulah denganku, maka kau akan mendapatkan Jessica. Aku akan memberikannya padamu,” Ariana terdiam sejenak, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Chase. “Tapi kita harus berusaha untuk memisahkannya dari Eve bernama Key. Aku akan mendapatkan Key, kau mendapatkan Ariana. Bagaimana kedengarannya?”

“…”

“Pertama, kau punya kolega vampir, bukan? Racun mereka sangat berguna untuk melumpuhkan kedua orang itu. kau harus mengambilnya!”

“…”

“Kita harus ke tempat itu. Sekarang!”

__

An old castle,

South Korea

“Noonaaa~”

Grep!

“Kau kenapa sih, Key? Kenapa akhir-akhir ini kau jadi aneh begini?” Jessica terkaget ketika ia yang sedang berjalan santai tiba-tiba dipeluk dari belakang. Pikirannya pusing sejenak, wangi feromon Key sama persis dengan—ehem—Kibum, yang membuatnya mengingat pria itu lagi. “Aku mau bertemu Madeleine di teras belakang, sekarang lepaskan pelukanmu,”

Tapi Key tak bergeming, malah memeluk pinggang Jessica semakin erat. “Hei! Kau ini kenapa? Biasanya acuh, kenapa jadi manja seperti ini, Eve muda?”

“Tunggu, aku ingin mengisi lagi bateraiku, tunggu sebentar,” Key menghirup wangi tubuh Jessica dalam-dalam, mengusap pipinya dengan rambut Jessica, merasakan kelembutan rambut blonde bergelombang itu, memasukkan aroma Jessica sebanyak-banyaknya ke indera penciuman dan ingatannya. “I love you,”

Jessica terpaku lalu berbalik cepat ketika dirasakannya Key merengganggkan pelukannya. Ia mendengus, dasar anak muda. Seenaknya menggunakan kelebihannya untuk menghindar. Sambil menggeleng, ia melanjutkan langkahnya ke hutan belakang, setidaknya sekarang jadwal keberadaan Madeleine kembali normal dan teratur. Ia membuka gerbang belakang lebar-lebar, membiarkan semilir angin memasuki pori-pori kulit pucatnya. Pandangannya mengedar, mencari-cari rambut keperakan—yang awalnya hitam—Madeleine dan gaun ala Yunani sehari-harinya.

“Tidak kusangka kau di sini, Jess,” tegur Madeleine pelan, dari samping Jessica. Jessica agak terkejut namun tetap tersenyum.

“Kau mau membawaku jalan-jalan? Pikiranku penat,” kata-kata Jessica membuat Madeleine menerawang jauh.

“Kau mau? Tapi aku sendiri tidak berkeliling karena Unicorn-nya sedang tidur. Mereka akan bangun dan mengamuk kalau kita berkeliling, perasaan mereka sangat tajam,” ujar Madeleine penuh penyesalan. “Kalau agak sorean, mereka sudah bangun dan merasa lapar. Saat itu aku baru memberi mereka makan,”

Jessica mendengus kecewa namun tetap memasang senyum. “Hey, Joon… masih berkunjung?” tanyanya ragu-ragu.

Madeleine nampak lebih ragu-ragu lagi untuk menjawab. Tapi akhirnya dia terkekeh. “Dia… Elf itu… melamarku,”

“A-APA?!?!?!” pekik Jessica nyaring dan terkejut. Madeleine buru-buru melotot membuat Jessica mengecilkan suaranya. “Ba-bagaimana bisa? Tapi kau tidak pernah bilang? Lalu bagaimana? Kau terima?”

Kening Madeleine berkerut. “Aku bukan manusia yang gila menikah,” ujarnya datar. “Lagipula, menikah adalah pilihan yang berat. Kami akan mendapat anak, dan jujur saja mengurus anak seorang Elf sangat menyusahkan. Lagipula, Joon bukan tipeku,”

Jessica menghembuskan napas lega. “Untung saja kau menolaknya. Tapi Joon seornag pangeran, bukan?”

“Dia putra dari Ratu Elf,” balasnya lagi, tetap datar lalu menatap Jessica. “Karena dia memiliki kerajaan, keharusannya untuk menikah semakin besar. Tapi aku tak mau, ch, pernikahan bukanlah pilihanku,”

“Kasihan Joon, nampaknya dia serius denganmu,” gumam Jessica. “Jadi, apa sekarang kau sedang menyukai seseorang?”

Kening Madeleine seketika berkerut bingung. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku masih terlalu muda, Jess, aku tidak akan berpikir seperti itu. Kau juga. Bukankah Key mirip sekali dengan Kibum? Kau tahu, aku harus menahan mulutku untuk memanggilnya Kibum,”

“Key dan Kibum berbeda. Mereka mahkluk yang sangat berbeda,” Jessica mendengus. “Tapi sepertinya ada seseorang yang menyukaimu,”

“Joon?”

“Bukan,” jawab Jessica.

“Siapa?”

Jessica terdiam lalu menatap Madeleine. “Tebak saja sendiri,”

“Tumben kalian berdua ada di sini,” sebuah suara berat membuat keduanya terkaget dan menoleh seketika.

“Wohoo, pucuk dicinta ulam pun tiba,” gumam Jessica. Tetapi kedua alis Madeleine naik, bingung.

“Elias? Kau tidak praktek?”

“Aku masuk dulu ya, dah,” Jessica menepuk bahu Madeleine sebentar lalu berbalik masuk. Madeleine mengangguk lalu menatap Elias.

“Entah kenapa, jam kerja dipotong. Mungkin karena dekat dengan hari libur,” Elias mengangkat kedua bahunya. Madeleine menatap Elias datar dalam diam.

“Hei, Choi Minho, kau tidak memanfaatkan waktu luang ini untuk berkencan?” ujar Madeleine tiba-tiba yang membuat Elias kaget setengah mati.

“Kau minta berkencan denganku?”

Madeleine ingin sekali menoyor kepala Elf yang tingkat kegeerannya setinggi menara Pisa. “Aku bertanya padamu sebagai Choi Minho, manusia yang menjadi dokter spesialis tulang yang bekerja di Seoul International Hospital. Carilah seorang yang bisa kau ajak kencan! Hitung-hitung refreshing, kan?” Madeleine menatap Elias aneh. “Masa iya kau tidak menemukan gadis yang menarik untukmu?”

Elias tertegun, menunggu kalimat Madeleine selesai, lalu menoleh menatap Elf wanita itu. “Tentu saja ada. Aku ingin mengajak seseorang bernama Lee Son Hee berkencan, apa aku harus mengajaknya sekarang? Hey, kau pikir, ia akan menerima ajakanku atau tidak?”

Dan yang dilakukan Madeleine saat itu hanyalah mematung menatap Elias. “Heh?”

__

Yoogeun menatap peti mati di depannya dengan ekspresi datar. Ini bukan tubuh asli Chan Gi, meski paras dan bentuknya utuh seperti sebelum dikoyak oleh monster itu. Entah apa yang memperkuat keyakinannya, ini bukan Chan Gi. Chan Gi yang asli sudah dibawa oleh mahkluk bedebah itu, dan entah memang karena sudah kejadian yang seharusnya atau bukan, Yoogeun menyeringai sinis dalam hati. Sesukanya kah mahkluk itu menyamarkan bekas perbuatan mereka?

Pria itu memalingkan wajahnya sebelum keluar dari rumah duka, langkahnya lurus menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan tatapan kosong, tapi pikirannya melayang kemana-mana. Yang membuatnya meleberkan mata adalah ketika senyum seorang Baek Chan Gi muncul di dalam memorinya seperti sebuah film lama. Tawa gadis itu, sentuhannya, semua memori tentangnya berputar di dalam pikirannya dan membuat jantung Yoogeun berdenyut perih. Semua film itu terus berputar, setiap kalimat dan tingkah laku gadis itu terasa sangat nyata di dalam pikirannya, membuat air mata kepedihan akhirnya turun dari sepasang bola mata jernihnya. Ingatannya yang terkhir melayang pada ciuman gadis itu beberapa waktu lalu, kata-kata gadis itu yang membuat darahnya mendidih, mengira Chan Gi berpikiran sempit terhadapnya. Yoogeun terisak setengah tertawa meski air mata tak berhenti mengaliri kedua pipinya, menyadari pasti Chan Gi tahu bahwa ia akan segera pergi, menyadari bahwa alasan Chan Gi berbuat diluar kendali adalah karena dia kalut.

Harusnya Yoogeun menyadari kekalutan gadis itu.

Harusnya dia menanyakan masalahnya, menghiburnya, bukan membentaknya!

Yoogeun menelungkupkan kepala dan kedua tangannya di atas setir, ia mulai terisak. Kenapa sekarang ia menyadari kalau Chan Gi sudah berhasil masuk ke dalam hidupnya? Kenapa?

Kenapa baru sekarang ia merasa bahwa ia sangat membutuhkan Chan Gi di sisinya? Kenapa? Ia tak mungkin memohon Chan Gi untuk kembali berada di sisinya bagai orang gila, jelas saja, karena dunianya dan dunia Chan Gi telah berbeda.

Andai saja ia bisa mengatakan kalau ia mencintainya,

Andai saja ia lebih cepat melupakan Jessica,

Andai saja ia tidak pernah berurusan dengan mahkluk itu,

ANDAI SAJA TIDAK ADA MAHKLUK ITU DI DUNIA!!

Ia tak akan merasakan sesakit ini.

__

A forest,

France

Pepohonan yang rapat itu memang menghalangi cahaya matahari yang terik untuk menerangi isi hutan yang agak remang, tapi Ariana masih bisa melihat dengan jelas. Gadis itu berada di atas punggung seekor serigala, yang tengah membaui sesuatu dan berhenti. Ariana menyadari tingkah serigala itu, lalu menundukkan tubuhnya dan berbisik halus. “Apakah ada vampir di sekitar sini?”

“Ya,” bisik serigala itu lewat pikirannya.

“Tapi aku tidak bisa melihatnya,”

“Dia ada lima meter di depanku. Aku tak bisa terlalu mendekatinya dalam wujud seperti ini,” bisiknya lagi.

“Berubahlah,” ujar Ariana, lalu turun dari punggungnya.

Wush

“Nama vampire itu Max, dia sedang berkeliling. Aku mengenalnya, jadi tak apa bila mendekatinya perlahan,”

Ariana mengangguk mengerti. “Ayo kita dekati,” ia melangkah di depan Chase, dan baru saja ia dan vampir itu berjarak dua meter jauhnya, vampir itu sudah berbalik dan menatapnya dengan Chase.

“Ada urusan denganku? Aku bisa mencium bau anjing dari jarak sepuluh meter tadi,”

“Ya, sedikit. Aku butuh bantuanmu, Max, hanya bantuan kecil,” ujar Chase. Kening Max berkerut.

“Sebelumnya, bisakah kau kenalkan siapa dia?” Chase menghembuskan napas ketika mata tajam Max beralih menatap Ariana yang membeku, sedikit ketakutan ditatap oleh wujud yang sangat tampan dan pucat.

“Ariana, temanku. Lulusan Hogwarts,” kedua mata Max yang merah terang membelalak mendengar perkenalan singkat Chase. “Dia… membutuhkan venom vampir,”

“Venom vampir? Untuk apa?” kening Max berganti menjadi berkerut. Chase menghela napas. Harusnya ia sudah tahu, ini tak kan mudah. “Apakah aku harus memberikan venom-ku semudah itu dan membiarkan kalian pergi?”

“Tolonglah, hanya kali ini saja,” kali ini gantian Ariana yang berbicara.

“Memang sebanyak apa yang kau butuhkan?” tanya Max akhirnya. Chase melebarkan matanya. Semudah itukah? “Tapi Chase, kau yakin kau membutuhkan ini?”

“Apakah boleh aku memintanya?” tanya Chase. Max mengangkat kedua bahunya.

“Bukan masalah sih, toh venomku tidak memiliki DNA atau semacamnya. Itu hanya racun,” ujar Max tenang. Tapi sekejap matanya berubah tajam. “Tapi kalian harus bersumpah padaku untuk tidak menggunakan venom ini untuk menyakiti manusia,”

“Aku bersumpah,” dan sesudah Max menganggukkan wajahnya, Ariana tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah botol ramuan dari dalam sakunya. “Hanya sebanyak ini, tidak lebih. Dan aku bukan tipe orang yang akan menyakiti manusia, toh aku sendiri juga manusia,”

“Dan jangan gunakan ini untuk membuat…” ucapan Max terhenti sebentar, “Ah, lupakan. Yang penting jangan gunakan untuk menghancurkan khalayak banyak,”

“Aku mengerti,” ujar Ariana.

“Berikan itu padaku,” Ariana berjalan mendekati Max dan memberikan botol itu padanya. Ia membuka tutupnya dengan perlahan, dan memasukkan taringnya kedalam lubang botol itu. Mengalirkan sejumlah venom-nya hingga terisi tiga perempatnya. Setelah itu, ia kembalikan lagi pada Ariana. “Aku hanya dapat memberikan sebanyak ini,”

Ariana tersenyum. “Tak apa. Itu sudah cukup untukku. Terima kasih,” sepeninggal Ariana dan Chase, batin Max mulai bersuara.

Apa yang terjadi pada Chase? Ia tak nampak fokus. Ia seperti diperintah.

Dan siapa wanita itu? Apa yang dilakukannya terhadap Chase? Dia manusia, tapi peragai manusia tak akan seperi tiu. Lagipula… darah manusianya tak bergitu tercium. Apa wanita itu… setengah manusia?

To Be Continued…

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “Who I am? I am an Eve – SPY 11

  1. Hahaha,, jd pengen NOYOR CHOI MINHO..

    Okeh, ini ariana udh mulai keterlaluan.. Aku harap si Key bs ngelindungin Jessica..
    Huwaaaa.. Jessica pasti jg ikut diamuk sm Yoogeun.. X(

    Penasaran entar si Chase sm siapa. Jgn2 malah sm Ariana. *ngaco
    *lol😄😄

    1. Lumayan kan yang lagi kangen ama mino #DIESHHH

      Aku emang berencana bikin Ariana amat sangat keterlaluan muahahah. Tunggu yang leih ekstrem yaa😀 #diinjek
      Harusnya sih iya._. Yoogeun juga bakal ikut andil nanti. XDD
      Chase… sama akuhhh #DITENDANG huahah, thanks yaa udha komen :3

  2. ehm… akhirnya muncul juga. tapi kali ini gadak review episode selanjutnya…#penontonkecewa

    ada sedikit typo di bagian percakapan antara Chase dan Ariana, jadi rada bingung dikit tadi. feel sedihnya yoogeun kurang dapat dan herannya kenapa Jess jadi mentel gt? haha…

    smg aja g terjadi hal yg buruk k Key. oh, y. sejak kapan Ariana tauKey juga eve? trus kok Ariana g keberaatan walau tau Key tuh eve? huwaaaa… penasaran….

    lanjut, thor! keep writing~~

    1. Karena masih dieremin episode besok, #EHH
      Typo yang mana? Soalnya mereka berdua aku buat khusus (?) yadi rada rancu emang di sana (?). Nah ada juga yang nangkep yak. Adegan Yoogeun disitu emang aku paksain banget. Ya gimana, lagi ga bisa galau #eh (?)
      Ariana atau Chan Gi??? Soalnya Ariana belom tahu Key itu eve deh, tapi taunya Jessica… (alangkah bodohnya kan wuahah)
      Okeee.. trims ya ^^

  3. Ariana nyebelin bnget. obsesi pengen Key jadi milikny, bikin gregetan aja. ngasih Kutukan Imperius buat Chase lagi.
    Kasian ChanGi, baru idup bentar. Kirain Keh bakal goyah, trnyta tetep tega-an meski sama cewe
    Reene next part ditunggu lho

  4. uppps!! reeen, my favorite!! OMY!! Ga nayangka Key stega itu sama Chan Gi. sumpah adegan Yoogeun di mobil itu nyesek abiis, kasiaan.

    konfliknya makin banyak kayaknya yaa. ayoo semakin penasaraan. ditunggu kelanjutannya😀

  5. Bagian awal nyaris berjalan biasa, hanya saja sangat menyanyangkan YooGeun tidak bisa bahagia bersama ChanGi

    Ariana mulai keterlaluan, bukankah racun itu bisa membunuh.
    Sepertinya semua makhluk asing (bukan manusia) yang ada dalam cerita sangat jahat.
    KiBum mati oleh karena Eve, ada juga Nicky yang membunuh, ChanGi mati dimangsa Key. Tragis (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)

    Ditunggu kelanjutannya author
    (งˆ▽ˆ)ง

    1. Waaaahhh😄 Yah, takdir emang terkadang kejam #ehh
      Hm… gimana ya? Karena mereka memang seharusnya seperti itu. Eve kan seperti pengantar kematian, Nicky itu vampir gila, dan Chan Gi korban. Jadi ya… gimana ya? #eh?

      terimakasih yaa ^^

  6. aq plng suka bagian key-sicanya.. hehee lucu mereka. jd ngerasa kl jess nganggap key ank kcl.

    ya ampun chase kok jd kyk gitu? wah jess dlm bahaya nih. semoga key bisa melindungi jess ya. terus penasaran sama apa yg akan dilakukan yugeun. jgn2 mau bunuh key-sica jg ya?

    terakhir cuma mau bilang kl part ini byk bgt typo deh. jd agak2 bingung bacanya. lanjut!

    1. XDD lumayan kan key-siccanya huahahh xD

      Yahh begitulah. Namanya juga penyihir (?). Yoogeun ga kuat lah bunuh eve. dari kemampuan fisik sama otak aja udah beda jauh huahah XDD

      Iya ya? Yah maklum, ini kepost kilat (??) haha😄 Terimakasih yaa ^^

      1. Duh pgen tendang ariana jauh dari KEY!!
        Da keterlaluan bgt
        Lanjuti trus y da g sbar liat yg slanjutny
        Ff fantasi kyk gini yg w xka
        Apalagi castny key 😄

  7. duh baru sempet baca sekarang,pdahal udh lama nunggu nih epep nongol/? T_T gara” modem abis pulsa neh jdi bru baca skrang #hikseu T,T
    aseeek dah spy 11 dah nongol /nari ring ding dong sama yoogeun/ reene ini epep fantasy fav aku tau. ga tau? ywdah,ga perlu dipaksain/? #plaakk
    reenneeeee cpet lanjutin spy 12 nya wookee?? udh 1 taon nih nunggunya tamat wkwkw.. kirain dkit lgi tamat,eh taunya ada tulisan TBC nya. sumpah,itu penyakit ya?? kok setia bget nempel di epep ini? T__T ywdah,aku doain yng terbaik buat kamu reenneeee #kebanyakanhuruf #hurufejebol semoga epep nya cpet tamat dan happy ending yak!!^^b buat next spy nya cpetin ya,udh hmpir 2 bulan aku nungguinnya.
    wwkkw kok jadi rempong gini yah? yaudah aku pergi dlu wakkss xD /terbang sama kibum/

    1. Astaga aku kaget baca komenmu xD
      Seneng deh ada yang suka. HUAHAHAHAHAHA emang ya, aku juga udah pusing kok ini gak tamat-tamat T^T Doakan ya, DIKIIIIIIIIT lagi tamat. Tinggal nunggu klimaks cerita yang udah di depan mata, langsung selesai dehh~!
      Hehehe, maklum lah ya, lagi sibukh #JDUAR
      Thanks buat komennya yaaa ^O^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s