Wrong Path – Direction 2 [End]

Author: Yuyu

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Hwang Jungmi

Support Cast:

  • Key
  • Han Younji
  • Lee Jinki

Minor Cast:

  • Lee Taemin

Genre: Romance, sad, friendship

Length: Sequel

Note: Tulisan ber-italic dan berwarna ungu adalah flashback

Author Note: Wah, maaf ya lagi-lagi aku datang dengan ff yang belum sempat diedit mengingat deadline yang gak memungkinkan.. Harusnya ff ini selesai sekitar dua minggu lalu dan harusnya juga masih sempet diedit.. Tapi berhubung hardisk komputer rusak dan semua data hilang, mau gak mau harus ngetik ulang part ini dan baru kelar sehari sebelum ff ini publish, yang mana itu jadi penyebab ff ini belum diedit.. Mohon pengertiannya ya, akan segera diedit lagi.. Selamat membaca^^

wrong-path-poster-text

WRONG PATH

Masih ada kelas yang harus dihadiri Minho sebelum ia dibebaskan hari ini. Namun, ia tidak merasa ingin memasuki kelas terakhirnya. Tanpa menimbang terlalu lama, ia berjalan memutari gedung kampus, menuju halaman belakang yang jarang dikunjungi.

Rerumputan hijau bergoyang pelan di sekitar tempat yang dipijaki Minho saat angin berhembus. Ia menghempaskan diri di dekat satu-satunya pohon yang ada di sana untuk berteduh dari terik matahari. Bayangan dari pohon yang menjulang tinggi menghalangi sinar matahari untuk meraba langsung permukaan kulitnya.

Tas yang semula disandang di pundaknya kini dilepaskan. Ia biarkan saja tas tersebut berbaring di sisi kiri, sebagian tersirami cahaya matahari yang gigih menjalankan tugasnya. Minho mendongak. Sisa-sisa cahaya matahari mengintip dari balik dedaunan yang saling bertumpukkan di atasnya.

Hembusan angin kembali membelai lembut. Ketenangan sekaligus kenyamanan yang dirasakan Minho sekarang membuat ia terhanyut dalam arus pikirannya yang berombak hebat. Younji dan Jungmi muncul secara bersamaan. Kejadian minggu lalu ketika ia berbuat nekat dengan mendatangi Younji di Busan yang memenuhi hampir seluruh ruang tersisa di dalam otaknya. Akhirnya, ia mengambil sebuah keputusan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.

Bunyi samar saat kaki seseorang menginjak rerumputan yang dijadikan sebagai alas duduk oleh Minho membuyarkan lamunannya. Ia ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata. Kepala Minho bergerak turun, mengalihkan penglihatannya dari daun-daun hijau diselingi warna biru langit pada si pendatang yang terpaku di tempatnya berdiri.

Jungmi membulatkan mata, tak percaya dengan indera penglihatannya sendiri. Dari semua tempat, mengapa Minho justru berada di sini? Seingat Jungmi, ini adalah tempat kesukaannya. Bahkan ia yang memberitahukan tempat ini pada Minho. Bukan berarti halaman belakang ini semacam tempat rahasia atau terlarang. Hanya saja selama ini tidak ada mahasiswa lain yang terlihat menaruh minat untuk menemukan keindahan dari halaman yang telah cukup lama terabaikan.

Setelah menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, Jungmi tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Memutar tumit dan berlalu pergi? Terlebih lagi dari markas miliknya? Tidak, itu akan membuat ia terlihat pengecut. Lalu, haruskah ia dengan dagu terangkat berjalan mendekati Minho dan untuk kesekian kalinya mencoba mendapatkan penjelasan? Tidak juga, hal itu justru membuat ia terlihat menyedihkan. Ia telah mencoba beberapa kali dan hasilnya nihil. Apa yang membuat hal itu akan berbeda sekarang?

Kaki Minho yang jenjang membuat Jungmi harus berlari kecil untuk menyejajarkan langkahnya yang besar-besar. Ia tak perlu menunggu hingga berada tepat di sebelah pria itu untuk menghentikannya. Jungmi mengulurkan tangan mencengkram lengan Minho seerat mungkin dan memaksa tubuh kokoh pria itu berputar padanya.

“Kau ini kenapa?!” Sentak Jungmi dengan kasar.

Minho tak menggubris, ia bahkan enggan menatap Jungmi. Kepalanya berputar ke samping, menatap apa pun kecuali wanita yang diliputi oleh awan kebingungan karena tingkahnya.

Lalu-lalang mahasiswa menjadikan mereka berdua sebagai fokus perhatian. Jungmi sedikit memalingkan wajahnya ketika menyadari hal tersebut. Jari-jari tangannya mencengkram lengan Minho semakin erat.

“Kita harus bicara, di tempat lain,” tegasnya dengan suara tertahan, tak ingin lagi menjadi fokus perhatian.

“Berhentilah, Hwang Jungmi.” Suara Minho terdengar dingin. Setelah sekian waktu ia habiskan untuk menenangkan diri dan menetralkan perasaannya, akhirnya Minho balas menatap wanita yang ia sebut namanya. “Sebaiknya kita tidak saling mengenal saja.”

Tangan Jungmi terkulai lemas di sisi tubuhnya begitu kalimat yang dengan mulus dilontarkan Minho mencapai gendang telinganya. Kebingungan yang semula menggelayutinya kini semakin pekat dan kentara. Ia tak mengerti. Mereka baik-baik saja, sampai kemarin. Namun mengapa hari ini Minho tiba-tiba bertingkah kejam seperti ini? Apakah Jungmi telah melakukan kesalahan yang menyinggung perasaannya?

Sebelum Jungmi sempat merangkai untaian kata untuk menjawab Minho, pria itu memutar tumitnya dan berlalu pergi. Lagi-lagi dengan langkah lebar, dalam hitungan detik Minho telah menghilang dari penglihatan Jungmi.

Waktu seolah berhenti. Tak seorang pun, baik Minho atau Jungmi, berniat memutus kontak mata. Meski begitu, tak juga ada yang berniat membuka percakapan.

Jungmi yang pertama kali mengalihkan pandangannya setelah sekian lama berlalu dalam sunyi. Ia tak ingin Minho membaca perasaannya melalui tatapan mereka. Ya, meski Minho terus mendorongnya menjauh tanpa alasan yang jelas, perasaan Jungmi tak kunjung surut. Bahkan setelah Jungmi tahu jika alasannya adalah karena Minho telah memiliki–mantan–calon istri, hatinya tetap saja menolak perintah otaknya. Aneh, mengapa otak tidak bisa mengontrol hatinya padahal ia mampu mengontrol organ-organ lain?

Tak berniat memberikan kesempatan pada Minho untuk menyakitinya lagi, kali ini Jungmi yang memutar tumitnya dan berlalu pergi dalam hitungan detik.

Minho masih bergeming di posisi semula, tak bergerak bahkan seinci pun. Keputusan bulat yang ia ambil untuk mempertahankan Jungmi pada kenyataannya sesulit mengambil langkah pertama untuk merealisasikan hal tersebut.

Hembusan napas pelan diluncurkan pria itu melalui sela-sela bibirnya. Ia kembali mendongak, memejamkan mata dan hanyut dalam pikiran-pikiran yang mengajaknya untuk berkompromi.

***

Minho mendekatkan bibir cangkir berisi mocca latte ke mulutnya. Sambil menyesap kopi pesanannya, ia melirik sekilas pada wanita yang duduk di hadapannya.

“Jadi,” kata wanita itu melanjutkan. “Kau juga mengetahui hubungan Key dan Minhye?”

Dentingan pelan terdengar saat Minho meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap intens pada lawan bicaranya yang tak menunjukkan ekspresi berarti.

“Tergantung, hubungan bagaimana yang kau maksud?” Minho balas bertanya.

“Mereka masih menjalin kasih hingga detik ini, bukan?”

Tersentak oleh pertanyaan Yessa yang lebih gamblang, Minho kehilangan kata-kata sejenak. Bagaimana bisa seorang wanita bertanya mengenai hubungan gelap antara suaminya dan wanita lain dengan begitu tenang?

“Aku tidak tahu. Sejak pernikahan kalian, aku dan Key tidak pernah benar-benar membicarakan tentang dirinya, kalian atau mereka,” aku Minho jujur tanpa berusaha menutup-nutupi fakta yang ia ketahui. “Hanya saja, jangan berkeliaran di luar dengan seruan yang sama. Bukan hanya Key dan Minhye, kau juga akan terkena dampaknya.”

Seulas senyum sopan tercetak di wajah Minho. Ia berdiri, menundukkan kepalanya sedikit lalu meninggalkan Yessa.

Pagi tadi, tiba-tiba saja sebuah nomor tak dikenal menghubungi ponselnya. Ternyata penelpon asing itu adalah Yessa, istri resmi Key. Setelah mendengar pertanyaan yang diberikan untuknya di dalam cafe tadi, pertanyaan itu terus berputar-putar mengelilingi kepalanya. Benarkah Key masih berpacaran dengan Minhye? Gila, saraf-saraf otak Key pasti terbelit.

Berjarak beberapa blok dari cafe, seorang wanita yang mengenakan earphone menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan seirama dengan musik yang mengalun. Kuncir kudanya ikut bergerak-gerak saat kepalanya bergoyang pelan.

Minho memicingkan mata. Punggung yang terlihat familiar kini berada di depannya, berjalan tanpa berniat menengok ke belakang. Tawa pelan meluncur indah dari sela bibir Minho yang semula terkatup rapat. Segala macam pemikiran tentang Key langsung lenyap tak bersisa.

Dalam diam, Minho mengikuti Jungmi yang masih tak mawas atas kehadirannya. Saat kaki kanan wanita itu bergerak maju, Minho juga menggerakkan kaki kanannya. Saat kaki kiri bergerak, lagi-lagi Minho juga menggerakkan kaki kirinya. Ia tersenyum kecil. Kecuali suara-suara kendaraan serta lalu-lalang pejalan kaki lain, nampaknya Minho sungguh-sungguh berjalan tanpa suara.

Jungmi masih ada di hadapannya. Ketika Jungmi berbelok, Minho akan mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejaknya. Saat Jungmi berhenti sejenak untuk sekadar mengencangkan tali sepatunya atau mendongak dan menghirup napas dalam-dalam, Minho akan mematung dan menahan napas seolah derunya akan membeberkan kenyataan bahwa ia sedang mengikuti Jungmi.

Setelah berjalan beberapa menit, deretan bangunan yang ramai menghiasi kota Seoul digantikan oleh kilauan air yang memantulkan cahaya matahari. Minho menunduk sekilas. Kakinya kini berpijak pada rumput yang terhampar di sisi-sisi sungai Han.

Jungmi duduk tak jauh dari tepi sungai Han. Kedua kakinya tertekuk sementara earphone masih terpasang.

Ia duduk tepat di belakang Jungmi, tak berniat menjaga jarak aman karena yakin Jungmi tetap tak akan menyadarinya.

“Sejak kapan perasaanku padamu tumbuh?” tanya Minho, matanya terarah lurus pada punggung Jungmi. Saat yang ditatapnya bergerak-gerak di tempat duduk, Minho menghentikan lanjutan kata-katanya. Setelah memastikan Jungmi telah kembali fokus pada musik dan pikirannya, barulah ia melontarkan kembali apa pun yang ingin diucapkannya.

“Aku sendiri tidak yakin.”

Kotak kenangannya kembali terbuka. Kejadian-kejadian itu bermain di pikirannya dengan sangat jelas seolah baru terjadi beberapa menit lalu.

Pada awalnya, hubungan mereka sederhana. Menghabiskan waktu berdua saja untuk bermain basket di lapangan indoor tak jarang mereka lakukan. Bahkan terkadang, seolah ada walkie-talkie di dalam otak mereka sehingga tanpa membuat janji terlebih dahulu mereka tetap akan bertemu di tempat itu. Tak melulu untuk berolahraga, sekadar duduk menyandar pada dinding dan bertukar pikiran pun terasa begitu menyenangkan.

Pada masa-masa itu, tak sekali pun Younji absen dari benaknya. Atau, seperti itulah yang Minho harapkan.

Pada kenyataannya, ketika napasnya tersengal sehabis bermain satu ronde penuh bersama Jungmi, ia hanya sibuk mereka ulang jalannya permainan bersama wanita itu. Atau ketika Minho dan Jungmi menghabiskan jam kosong, terkadang bersama Key, di kantin kampus untuk membicarakan satu hal ke hal lain yang sama sekali tidak bersangkutan. Tidak habis pokok pembicaraan mereka. Pada saat itu pun yang Minho pikirkan hanyalah orang yang ada di hadapannya, bukan orang yang seharusnya berada di hadapannya.

Padahal ketika itu, hubungannya dan Younji telah melangkah ke jenjang yang lebih serius. Cincin bukti kesetiaan telah tersemat cantik di jari manis Younji. Kedua orangtuanya telah berlarian ke sana kemari mencari gereja yang cocok untuk acara pemberkatan. Gedung resepsi juga tak luput dari daftar mereka. Gaun pengantin Younji telah ditentukan, gaun sederhana yang sesuai dengan karakteristik calon pengantin.

Awalnya tidak ada yang aneh menurut Minho. Ia memang tidak pernah mengungkit tentang status maupun calon istrinya pada Jungmi. Saat itu ia berpikir bahwa Jungmi dan Younji adalah bagai dua arah mata angin yang berlawanan. Jalur mereka tidak mungkin berpapasan.

Hanya saja kewajaran itu segera berubah menjadi ketakutan. Entah alasan apa yang mendasarinya, yang jelas Minho tidak ingin Jungmi mengetahui keberadaan Younji di dalam kehidupannya.

Hal yang menakutkan terjadi. Tanpa disadari, perasaan Minho bercabang. Pertanyaan demi pertanyaan melintasi benaknya, namun yang terus berulang adalah sebuah pertanyaan yang bahkan hingga  detik ini pun belum ia temukan jawabannya. Mungkinkah cinta sejati dapat terbagi?

Beberapa waktu ia lalui untuk menenangkan pikiran dan mengurai perasaannya sendiri. Tidak, dia tidak bisa menyukai dua orang bersamaan. Melalui pemikiran panjang, Minho menemukan sebuah pernyataan yang menentukan langkah selanjutnya. Bahwa satu dari dua perasaannya pastilah tidak nyata.

Jangan ditanya bagaimana atau mengapa pada akhirnya Minho memilih Younji. Yang jelas, ketika itu ia telah memutuskan untuk mempertahankan Younji. Beribu alasan ia kemukakan pada diri sendiri. Bahwa ia tidak bisa membiarkan Younji seorang diri, bahwa ia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya. Terpenting, bahwa ia mencintai wanita itu.

Jika dipikirkan kembali, sebenarnya Minho ingin meninju wajahnya sendiri. Andai saja ia melakukan hal itu jauh-jauh hari sebelum keadaan bertambah rumit seperti sekarang, mungkin pukulan itu bisa menyadarkannya lebih cepat.

Sedikit terlambat memang, atau bahkan sangat terlambat. Setidaknya kini ia menyadari dua kesalahan yang seharusnya ia hindari sejak awal.

Kesalahan pertama adalah alasan mengapa ia lebih memilih untuk mempertahankan Younji dibanding Jungmi. Tidak, Minho tidak semulia itu hingga mengatasnamakan cinta yang ia sendiri tidak ketahui lagi artinya. Alasan sesungguhnya adalah karena ia tidak ingin dipandang sebagai orang brengsek yang melepaskan Younji setelah mengambil keuntungan darinya.

“Kesalahan kedua.” gumamnya lirih. Ia menghentikan ucapannya sejenak untuk memandangi sosok Jungmi dari belakang. Ujung-ujung jari Minho menyapu permukaan rumput.

“Kesalahan kedua.” Minho melanjutkan ucapannya tak lama setelahnya. “Berani benar aku mengatakan  ‘bahwa satu dari dua perasaanku pastilah tidak nyata’. Siapa yang tahu jika kedua perasaanku sama-sama tidak nyata? Tidak menutup kemungkinan jika apa yang kurasakan padamu maupun Younji bukanlah cinta yang sesungguh, ya?”

Hembusan napas pelan yang dikeluarkan Minho berbaur dengan udara yang mengeliling mereka. Jari-jari Minho tak lagi bergerak-gerak. Ujung jarinya masih menyentuh rerumputan di sampingnya, namun kini bergeming membiarkan pikirannya menciptakan kata-kata yang tepat.

“Wajar saja banyak orang mengatakan menjadi anak-anak jauh lebih menyenangkan. Pikiran mereka yang sederhana itulah yang membawa kebahagiaan. Semakin beranjak dewasa, satu kata ‘cinta’ saja bisa memiliki beragam definisi dengan panjang kalimat yang berbeda. Sekarang pun, aku menjadi ragu, apa itu cinta?”

Minho menahan tawa sinis yang hendak meluncur keluar dari mulutnya. Tawa tersebut berubah menjadi senyum masam.

“Aku tidak berani lagi mengatakan apa yang kurasakan ini adalah cinta dengan penuh percaya diri. Bisa saja, suatu saat nanti aku menyadari jika apa yang kurasakan padamu juga salah. Meskipun begitu, aku tetap ingin mempertahankanmu. Lebih baik menyesali apa yang telah dilakukan daripada menyesali apa yang tidak dilakukan, bukan? Daripada mengurung diri di pojok ruangan dan bersungut, lebih baik jika aku mencoba untuk melangkah di jalan yang kupikir benar. Setidaknya, aku masih bisa melihat pemandangan indah selama perjalanan itu daripada tidak mendapatkan apa pun sama sekali.”

Matahari telah bergerak turun perlahan-lahan. Minho menyadari bayangan tubuh mereka telah bergeser. Tangannya terulur maju, bayangannya pun melakukan hal yang sama. Senyum lebar tercetak di wajah pria itu. Ia menggerakkan tangannya maju sedikit lagi, kini bayangan tangannya menyentuh bayangan Jungmi.

“Tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan menarikmu kembali ke sisiku,” ujar Minho pelan. Pandangannya masih terarah pada bayangan mereka. Ia melingkarkan tangannya pada bayangan tersebut, seolah memeluknya. Tiba-tiba perasaan damai menyelimutinya selama beberapa saat ketika ia bergeming dalam posisi tersebut.

***

“Aku tahu wanita itu menemuimu kemarin. Apa saja yang ditanyakannya?”

Pertanyaan langsung dilemparkan Key sedetik setelah Minho menjawab panggilannya. Tidak hanya tidak mengucapkan salam, bahkan Key juga tak memberikan kesempatan pada Minho untuk menyapa. Tak butuh waktu lama untuk mengartikan siapa ‘wanita itu’ yang dimaksudkan Key.

“Pasti tentang Minhye, bukan? Apa saja yang kau katakan padanya? Kau tidak mengkhianatiku, kan?”

Pertanyaan dilemparkan untuk kedua kalinya tanpa memedulikan Minho yang belum memberikan jawaban. Tahu benar sifat Key, ia hanya diam Jika pertanyaan pertama benar-benar belum sempat ia jawab, maka untuk pertanyaan kedua ini sengaja tak ingin dijawabnya dulu.

Ponsel masih tertempel di telinga Minho sementara langkah kakinya beradu dengan derap langkah milik mahasiswa lain dengan segala kesibukan mereka. Beberapa orang yang mengenal Minho memberikan sapaan yang dibalas senyuman tipis olehnya. Telinga fokus pada suara tinggi yang masih tersambung di saluran telepon.

“Mengapa wanita itu sangat menyebalkan? Emosiku selalu naik hingga ke ubun-ubun dibuatnya. Apa kau pikir aku akan mati muda karena menikahinya?”

Satu sudut bibir Minho terangkat naik. Jika saat ini Key melihat senyum mengejek yang tertempel di wajah Minho, pasti ia akan diomeli.

Yaaa! Choi Minho!” Suara Key semakin melengking. “Kau mendengarkanku atau tidak? Jangan mengabaikanku!”

Mendengar protesan Key, Minho hanya tergelak.

“Satu, aku mendengarkanmu. Dua, aku tidak mengabaikanmu. Dan tiga, kau ingin aku mendengarkanmu atau menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, pilih salah satu. Aku tidak bisa menjawab sekaligus mendengarkan ocehanmu pada waktu yang bersamaan.”

Key mendengus geram.

“Kau harus mendengarkanku dan kau juga wajib memberikan jawaban.”

Kedua bola mata Minho berputar dramatis.

“Yessa memang menanyaiku tentang Minhye. Kurasa, aku juga harus menanyakan hal yang sama. Kau berhutang penjelasan logis padaku, Tuan Yang Selalu Benar,” ujar Minho sedikit sarkastis pada akhir kalimatnya.

Tiga orang teman klub basket Minho berjalan dari ara yang berlawanan. Jarak mereka terbilang jauh, namun begitu suara percakapan yang nyaring sampai di gendang telinga Minho lebih dulu. Suara Key yang berceloteh tak jelas teredam sempurna.

“Woah! Taejun sunbae benar-benar bergerak dengan cepat.”

“Mau taruhan? Taejun sunbae ditolak atau diterima?”

“Bukankah sudah jelas? Jika aku adalah seorang perempuan, aku pasti akan menerimanya!”

“Kalau kau bertaruh Jungmi akan menerima pernyataan cintanya?”

Tanpa bermaksud mencuri dengar sekali pun Minho tetap mendengar perbincangan mereka dengan sangat jelas. Ketiga orang itu mencapai tempat Minho, yang tanpa sadar telah berhenti berjalan. Setelah sapaan temannya ia balas dengan anggukan sopan, ia tersentak ke alam sadarnya. Dia tidak boleh berdiam diri seperti ini jika tidak menginginkan Jungmi jatuh ke dalam pelukan seniornya.

“Nanti kuhubungi lagi!” seru Minho pada Key.

Sebelum Key sempat menolak, Minho telah memutuskan sambungan. Tanpa merepotkan diri untuk menyimpan ponsel, ia biarkan benda elektroknik itu digenggam seerat mungkin. Ia berlari ke sana kemari, mencari tanda-tanda keberadaan Jungmi namun mendapatkan hasil nihil.

Terengah, Minho berhenti berlari. Ia sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut sementara peluh-peluh keringat mulai membanjiri figur wajahnya yang nyaris sempurna. Pikirannya menjadi kosong seketika itu karena kemungkinan-kemungkinan terburuk menghantuinya. Tidak, dia tidak ingin terlambat.

Menarik napas sedalam mungkin untuk mengisi paru-parunya dengan asupan oksigen yang cukup, Minho berpikir keras mencari keberadaan Jungmi. Lalu, seperti bohlam yang menyala, pria itu teringat pada satu tempat yang kemungkinan besar dikunjungi Jungmi saat ini. Anggap saja ini sebagai token terakhir dalam permainan poker, ia akan mempertaruhkan segalanya sekarang.

Belum satu langkah pun Minho jejakkan ke dalam lapangan indoor, pendengarannya telah menangkap suara bola yang memantul di atas lantai serta suara decitan sepatu yang menari-nari di atasnya. Kelegaan menggembalikan akal sehat dan kewarasannya.

Punggung tangan Minho segera menyeka sisa-sisa keringat yang mendekorasi wajahnya. Ia ingin tampil dengan pantas.

Di dalam lapangan, Jungmi iseng bermain basket untuk menghabiskan waktu. Karenanya, ia tak mengganti pakaian kasual yang selalu memberikan kenyamanan padanya. Kemeja lengan panjang yang dilipat hingga ke siku dibiarkan terbuka, menampakkan kaos hitam dengan variasa abu-abu di dalamnya.

Derak pintu yang terbuka cukup mengagetkan. Tak banyak orang yang datang kemari di luar jadwal kegiatan klub. Kecuali…

Dia, batin Jungmi.

Berusaha mengabaikan kemunculan pria yang tak ingin lagi disimpan di dalam ingatannya, Jungmi buru-buru menyudahi permainan yang ia mulai tak lama tadi. Ya, ia takut berada di dekat Minho. Bagaimana dia tidak merasa demikian jika setiap kali pria itu selalu membawa kenangan buruk di belakangnya?

Minho bergeming di depan pintu. Matanya fokus pada Jungmi, tak sekali pun meninggalkan gerak-gerik si wanita. Jungmi membungkuk, membiarkan benda bundar tersebut menggelinding hingga membentur tiang ring. Tas Jungmi berada di pinggir lapangan, dekat dengan tempat Minho masih terpaku. Oleh karena itu, tak lama setelah Jungmi menyambar tasnya, ia segera berhadapan dengan Minho.

“Jungmi-ya,” panggil Minho dengan cepat saat nama yang disebut hendak melewatinya.

Jungmi sontak berhenti, bukan atas keinginannya sendiri melainkan refleks yang tak mampu ia kendalikan.  Bodoh, hanya satu kata yang diucapkan oleh Minho saja mampu membuat setiap sel dalam tubuh Jungmi tergelitik.

“Apakah aku mengenalmu?” tanya Jungmi cukup sinis.

“Aku–“

Ucapan Minho terpotong saat ia mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Jantungnya terpacu dengan cepat. Meskipun tidak yakin jika pemiliknya adalah orang paling terakhir yang diharapkannya, ia tidak ingin mempertaruhkan peruntungan yang mungkin saja tidak ia miliki. Tanpa berpikir panjang, Minho menarik pergelangan tangan Jungmi dan membawanya masuk ke dalam gudang peralatan.

Beberapa detik berlalu bagaikan beberapa jam bagi Minho. Derap langkah yang ia dengar tadi berhenti tepat saat pintu lapangan indoor terbuka. Tanpa disadari, ia menahan napasnya. Sementara Jungmi masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang berlangsung saat ini, pria yang berdiri cukup dekat dengannya belum berniat memberitahukan apa pun.

Derap langkah itu kembali terdengar, tidak lama. Minho memperkirakan si pendatang kini berada di tengah-tengah lapangan.

“Jungmi-ya, kau di sini?” tanya si pendatang.

Jungmi mendongak, mengerutkan kening dan memberikan tatapan penuh tanda tanya pada Minho saat ia mendengar suara Taejun.

Tak lama, Taejun menyurutkan niatnya untuk menemukan Jungmi di tempat tersebut karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Derap langkah terdengar lagi, kali ini berjalan menjauh dan ditutup oleh debam pelan.

Minho menghembuskan napas lega. Ia memejamkan matanya sebentar dan segera membukanya saat menyadari pergerakan Jungmi. Pintu gudang terbuka, Jungmi telah bersiap meninggalkan tempat itu, jika saja namanya tak meluncur dari mulut Minho. Untuk kedua kalinya hari ini, suara Minho mampu memberikan sensasi yang tidak ingin dirasakan oleh Jungmi setelah apa yang terjadi di antara mereka.

“Aku tidak bisa membiarkan Taejun sunbae mendapatkanmu,” ujar Minho, terdengar lirih.

Gemeretak pelan terdengar saat Jungmi mengatupkan rahangnya dengan erat.

“Aku bukan barang,” desis Jungmi tertahan.

“Aku tahu perlakuanku padamu sangatlah buruk dan tidak adil, aku minta maaf,” lanjut Minho.

Bibir Jungmi masih menyatu rapat, membentuk garis datar yang tak mampu dilihat oleh pria di belakangnya.

“Luka yang telah kuberikan tidak akan bisa hilang hanya dengan ucapan maaf, aku mengerti itu.” Jeda cukup lama setelah Minho menyelesaikan ucapannya. Sedikitnya, ia berharap Jungmi akan bereaksi. Namun nihil, Jungmi tetap bergeming. “Ini mungkin terdengar tidak tahu malu, tapi aku juga sama terlukanya denganmu. Tidak mudah bagiku untuk mendorongmu keluar dari hidupku. Tapi, pada akhirnya tetap saja kulakukan. Kenyataan bahwa aku telah melukaimulah yang membuatku terluka.”

Minho maju satu langkah, tak lebih dari itu karena tak ingin menginvasi ruang milik Jungmi.

Jungmi masih enggan memutar tubuh untuk berhadapan langsung dengan Minho. Hanya mendengar suaranya saja, pertahanan diri Jungmi telah goyah. Jika ia beradu mata, tidak menutup kemungkinan dirinya akan runtuh tanpa perlawanan.

“Setelah kehilangan, kita baru menyadari apa yang telah terlewati. Kurasa benar, aku mengalaminya saat ini. Hwang Jungmi, berikan aku kesempatan kedua,” pinta Minho dengan tegas dan mantap.

Dasar pencuri, batin Jungmi, berhenti membobol pertahanan diriku.

Seulas senyum bermain di wajahnya saat ia melangkah meninggalkan Minho tanpa kata di belakangnya. Bukan permintaan maaf yang diinginkannya, maka dari itu, Jungmi bersedia menunggu sedikit lebih lama hingga Minho memberikan apa yang diinginkannya.

***

“Maaf, sunbae, aku tidak bisa menerima perasaanmu.”

Setelah mengatakan itu, Jungmi memberikan seulas senyum tipis.

Karena tidak berhasil menemukan Jungmi kemarin, Taejun menghubunginya dan mengajak berkencan. Tahu benar dengan apa yang direncanakan sang senior, ia tidak menolak ajakan kencan tersebut. Ia tidak ingin menghindari hal yang cepat lambat pasti akan terjadi juga. Lebih baik jika ia menyelesaikan hal ini lebih awal, menolak perasaan Taejun yang tak mungkin bisa diterimanya.

Setelah penolakan itu, kencan mereka resmi berakhir. Taejun adalah pria yang baik, ia akui itu. Sayangnya, hati Jungmi telah tertambat pada pria lain.

Setelah berpisah jalan dengan Taejun, Jungmi putuskan untuk mengunjungi tempat kesukaannya. Tak bosan-bosannya dia memandang keindahan sungai Han. Rasanya sangat nyaman seperti ini, duduk di atas rumput yang bergoyang pelan di sekitarnya ditemani oleh hembusan angin yang menyegarkan. Bahkan dengan kedua matanya yang tertutup rapat, wanita itu masih bisa melihat sungai Han yang membentang luas di sana.

“Hai,” sapa seseorang dibarengi oleh tepukan ringan di pundaknya.

Kelopak mata Jungmi perlahan terangkat. Duduk di sampingnya seorang pria yang tersenyum cerah bak matahari yang terlempar ke daratan.

“Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini,” balas Jungmi kembali memejamkan matanya.

“Aku juga tidak menyangka akan kemari.” Onew terkekeh. Ia melirik sekilas pada Jungmi yang membentuk dunianya sendiri.

“Kau tahu, aku dan Younji, hubungan kami telah benar-benar resmi kali ini.”

Saat nama Younji disebut, Jungmi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengernyit. Jangan salahkan dia. Hingga kini baginya nama itu masih menjadi kunci malapetaka dalam hidupnya. Setiap ia mendengar nama itu, mimpi-mimpi buruknya keluar dari persembunyian dan kembali menghantuinya.

“Selamat,” ujar Jungmi tidak terdengar terlalu tulus meskipun ia tidak bermaksud demikian.

“Kau sendiri bagaimana?”

“Aku?” Jungmi tertawa garing. “Aku bisa bagaimana lagi?”

Senyap memimpin tanpa dipinta. Baik Jungmi maupun Onew memilih bungkam. Mereka memandang lurus ke depan, masing-masing melihat hal yang berbeda. Onew memperhatikan seorang pejalan kaki yang membawa anjing peliharaannya untuk berjalan-jalan di tepi sungai. Bagi Jungmi sendiri, ia lebih tertarik pada pantulan cahaya matahari di badan sungai.

“Minho meminta kesempatan kedua dariku.” Jungmi memecah sunyi dengan suaranya yang terdengar tanpa ekspresi. Tak mendengar respon apa pun dari Onew tampaknya membuat ia menerka jika ini bukan hal yang mengejutkan bagi pria itu. “Tapi aku belum memberikan jawaban padanya.

“Mengapa?” tanya Onew cepat. “Kau tidak bisa memaafkannya?”

Kepala Jungmi menggeleng pelan. Rambutnya yang dikuncir satu bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai gerakan kepalanya. Setelah tak merasa tertarik lagi pada hamparan kristal di atas permukaan air, Jungmi mengalihkan perhatiannya pada rumput hijau yang bermain di bawah telapak tangannya. Mencari ungkapan yang tepat rasanya sulit karena apa yang diinginkan tak selamanya mampu diterjemahkan dengan sempurna oleh kata-kata.

Memaafkan? Bukan kata maaf yang ingin Jungmi terima dari Minho. Ada hal lain yang ingin didapatkannya sebelum ia melepaskan baju besinya dan mengibarkan bendera putih.

Pada akhirnya Jungmi hanya memberikan senyuman sebagai jawaban yang tak mampu ia ungkapkan secara verbal.

Onew mengamati wanita itu cukup lama sebelum akhirnya ia mengerti. Lalu sisa-sisa waktu selanjutnya mereka biarkan hening mengental. Berkat kehadiran masing-masing yang saling memberikan dukungan dengan cara yang kasat mata, mereka merasakan kehangatan melilit erat.

Matahari telah terbenam setengah lingkaran saat Jungmi memutuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat. Sedangkan Onew, jangan ditanya. Pria itu kembali ke tahap ‘pengantin baru’ yang terlambat dinikmatinya.

Satu. Dua. Satu. Dua.

Warna biru yang menghiasi langit kini mulai menghitam. Jungmi bergumam pelan seiring kakinya melangkah. Kepalanya tertunduk, menatapi ujung sepatunya yang bergerak-gerak.

Tidak ada kebahagiaan yang tertunda atau gagal. Mereka hanya belum memekarkan diri karena bukan saatnya untuk berbunga. Setiap bunga memiliki klasifikasi serta spesies yang berbeda juga keindahan yang tak sama pula. Jadi, bukankah sangat wajar jika waktu yang mereka butuhkan untuk tumbuh juga berbeda dari satu jenis ke jenis lain?

Jadi kapan bunga kebahagiaannya akan mekar? Jungmi tak henti-henti bertanya pada diri sendiri.

“Oh,” gumam Jungmi pelan. Rasa kagetnya ketika melihat sepasang sepatu berada tepat di depannya segera sirna setelah ia mengangkat kepala untuk melihat si pemilik sepasang sepatu tersebut.

Minho berdiri tegap di sana, menatapnya dengan dalam. Kedua sudut bibir Jungmi terangkat secara otomatis. Inilah yang diinginkannya.

Ketika pertama kali bertemu, meski tidak disadari, mereka telah saling tertarik. Status dari orang asing menjadi teman tak membutuhkan waktu lama. Mereka cepat akrab. Bahkan saat Minho meninggalkannya tanpa penjelasan, hal tersebut berlangsung terlalu tiba-tiba. Jungmi tidak ingin segala sesuatu yang terjadi di antara mereka merupakan hal-hal yang gampang didapat dan gampang ditinggalkan.

Ada harga yang harus dibayar untuk segala hal yang kita inginkan. Semakin berharga hal tersebut, maka semakin mahal pula harga dan perjuangannya.

The End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

28 thoughts on “Wrong Path – Direction 2 [End]

  1. Fiuuuuhhh ,,
    Heoh,, ini narasinya panjaang.. *usapkeringet *eh
    Mgkn karena spasi antar paragrafnya tll deket ya..

    Ini end? Beneran? Kaget pas baca judulnya dikasi embel2 END.

    Abis ini kisahnya si Key-Yessa kan?

  2. Eoh? udh end? jungmi akhirnya ngasi kesempatan k minho kn? huwaaa kereeennn d(^ v ^*)
    Ini msh ad lnjutannya kh? Penasaran dg kisah key..

  3. seriusan tamat? ya ampun haha ga kerasa. tapi berasa abis bayar utang, abis baca ini perasaan aku jadi lega. kasian kan minho-jungmi kalo cerita mereka digantung gitu aja di MBA. hehe
    abis ini pasti key-yessa. hwaiting yuyu eonn!

  4. Cool!! as always from yuyu eon!
    super!! aku speechless, ini ffnya berasa menyelam ke dalam pikirannya Minho sm Jungmi. cuma ga nyangka aja sesingkat ini.

    Ditunggu ff key-yessa nya🙂

  5. *getok yuyu* kenapa cuma dua???? Heiyaaaa.. Padahal ngarep bakal ada cerita2 yang lebih buat minho🙄 well, narasinya panjang banget yu.. Ngerti sih ini kental sama konflik batin, tp butuh kesabaran untuk baca kata per kata karena narasi yg gak abis2.. Karena ini ff minho, aku bisa bersabar..😆 jujur, masih gak dapet inti cerita minho-jungmi.. Selain krn minho galau antara perasaannya yg bercabang, sama jungmi yang ngerasa tersisihkan waktu minho milih younji.. Terus konfliknya berasa muter2 d situ aja dan aku rada kecewa sih krn gak dapet feel kayak yang ada d IM ato MBA..🙄 ok, sisanya tinggal 2 kan? Keknya key yg duluan ya krn d sini udh d singgung2 masalah key..

  6. Ffnya keren eon, ya pengaruh belum diedit ada bbrp typo sih hehe tapi peduli amat ah tetep kece🙂

    Akhirnya mino ama jungmi😀
    mwahaha aku kira ff ini sequelnya panjang bgt seriusan tapi srkalinya cma twoshot aku dikit kaget😛

    ditunggu karya lainnya eon~~

  7. Yeeeeeehhh akhirnya selse juga😄 semangat bacanya, minho sih castnya *uehem!* #diinjek
    Kukira panjang unn huahah😄 tapi ketje lah. End nya aku suka, ga bertele-tele dan imajinasinya berkembang sendiri jadinya.
    Bagiannya Key ditungguh loh unn, paling mumet sepertinya huahah😄
    Udah deh, untuk tulisanmu aku tak bisa berkomentar banyak, udah ketje abis._.😄 keep writing unn😀

  8. Di edit gak di edit rasanya gada perbedaan mencolok, tulisan unnie tetep WAW.
    gak nyangka loh wrong path two shot, tapi gapapalah kan selanjutnya pake cast key ._.

  9. ngikutin yg lainnya,.speechless.🙂

    udah jgn dtanya lg,ff yuyu slalu ‘wow’,,kata2nya itu loh,..narasinya juga beuuhh….
    hehe

    ada onew nyempil dikit d cerita, .:D

  10. kereenn..
    paling suka dengan kalimat Minho -Yuyu- yg ini “Lebih baik menyesali apa yang telah dilakukan daripada menyesali apa yang tidak dilakukan, bukan?”

    tulisan Yuyu-ssi selalu memberi inspirasi hidup (?) untuk para readers nya..
    keren,

    next Fiction ditunggu..🙂
    #senyumunyu

  11. Kenapa udah end?! Ini nggak ada lanjutannya lagi?
    Suka! Suka! Suka! By the way, aku masih belum ngerti sama endingnya hehe._. Jadi itu Minho sama Jungminya ngapain? Haduh, maap lemotnya kumat iniiii-__-

  12. ini sudah selesai kak? waah cepat sekali. tapi yah kalimat terkahir udah cukup menjelaskan semuanya xD
    ditunggu karya selanjutnya kakak yuyounji ^^ *berlagak sok akrab*

  13. minho~~ akhirnya cintamu happy ending jugaa.. walaupun sempet kebakaran jenggot garagara taejun hehe~ eh tapi bukannya taejun itu namanya minho pas main di to the beautiful you?? sama kerennya dong xixi
    unnie tetep semangatt ya bikin ffnya! (。’▽’。)♡

  14. eh kaget pas baca tiba2 udh the end aja. wkwkwk kirain td slh liat. hahahaha

    agak kurang greget sbnrnya karena endingnya gitu. kirain bakal ada obrolan dulu antara mino n jungmi di akhir part. hahaha
    tp ky gtu udh pasaran jg ya.

    ya udh deh
    hehehe
    sblmnya ngira partnya bkl pjg. hehe
    abis ini ff key yessa kan ya? aseeek
    tp apakah panjang ato 2 part juga ya? penasaran. hohoho

    semangat yu!!!

  15. Onew jg sempet mampir disini….????
    pakek “pamer” hubungannya sm Younji udah bener2 “resmi” lagi…
    #jitak Jinki… eh, nggak, cubit pipi Jinki….

    Yuyu…, nih, endingnya eon ngerti…
    Tapi, kurang gimanaaa…. gitu…..
    atau emang pasangan ini irit ngobrol, ya..???

    pas ketemu di pohon di belakang halaman kampus, ya../??
    mereka juga cuma pandang-pandangan aja, trus Jungmi kabur…
    Minho…???? jgn ditanya… cuma diem…

    Pas di Sungai Han juga….
    Jungmi mandangin sungai Han…
    Minho mandangin punggung Jungmi….

    aiissshhh… praktis, sejauh ini,
    baru pasangan Jonghyun-Hyunji yg “rame’
    Onew-Younji juga irit ngomong…
    Nggak tau, ni, kayaknya pasangan “high pride” Key-Yessa
    bakalan sengit kayak ‘Perang Diponegoro…”

    Tapi eon tetep suka FF ini,
    Marriage Vow nya ditunggu, ya…
    Keep writing, keep learning, keep improving…

    buat readers… termasuk aku…
    Keep reading, keep supporting, keep giving comment like oxygen…

  16. 😯 eoh? udahan? hwaaa~ jadi ini cuma twoshoot eon? kupikir bakal jadi 4-5 part! eiy tapi gapapa, stidaknya setelah setelah wrong path tamat, bakal lanjut marriage vow… haha aku udah ada sedikit gambaran kalo marriage vow bakal seru! penuh ‘teriakan’ khas key kkk~
    aigooo~ bang onyu nongol juga disini, bahkan ada sesi curhat sm jungmi (onyuuuu curhat dooong~ *ala mama dedeh*)😆
    trus apalagi ya? ohh ada typos sih, ah tapi bodoamat lah, ceritanya seru, pesannya nyampe. as usual ffnya yuyu eonni emang slalu ‘berisi’:mrgreen:

  17. Akhirnya aku bener-bener baca wrong path ini hahaha
    Btw entah kenapa aku gak dapet feel pas baca, konfliknya berasa gak ada selain perang batin minhonya, mungkin karena cuma side storynya kali yah, tapi overall bagus kok, dan dan…aku mau protes!!! Kenapaaaaa narasinya panjang bangetttt -_- kalau kepanjangan jadi males bacanya *digeplak*
    Semangaat buat kisah Key yaaah hehehe

  18. Good as always, Yu Eonni ^_^

    Padahal ngira ada 4-5 chapter. ternyata cuma 2. Tapi gapapa. Nice ending soalnya.
    Ditunggu side story lainnya.🙂

  19. Ini blom slse ya? Waah kaya.a abis ini MV nya key ya??? Kaya.a versi key panjang ya…
    Penasaran sama Yessa..hehe

  20. Udah end??
    Waaa gatau mau ngomong gimana yg jelas ini benar-benar daebak !
    Ditunggu cerita selanjutnyaa thor🙂

  21. Aigo… So sweet… Aku jadi penasaran lagi sama Onew Younji, gmana y mreka? Key Yessa? Aigo aku slalu suka karya Yuyu eonnie, tapi kadang gk bz komen gegara hp nya lola

  22. wwuuuaahhhh keren eon ga kepanjangan n ga kependekan tp ngena banget sama ceritanya , eon salam kenal ya aku pembaca baru mu🙂 , ditunggu cerita key nya,,

  23. wah udah 2 tahun lebih gak mampir ke blog ini, sekalinya mampir nemu ff ka yuyu. aku lupa kyknya dulu aku pernah baca ffmu jg tp lupa yg mana, akhirnya pas coba baca ini.. iya bener gaya penulisannya masih sama (walau sekarang udah ningkat bgt dr yg dulu)
    aku suka narasinya, panjang sih iya, tapi bagus monolognya keren. tapi butuh pemahaman banget ya kak. endingnya jg perlu di ngeh in bgt kalo akhirnya jungmin jadi sama minho hehe.
    semangat buat ff lainnya kak! fighting!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s