Dream Girl [1.2]

Title                 : Dream Girl

Author             : qL^^ (wp : mystorymyfictionworld)

Main Cast        : Kim Kibum, Kim Sooyan

Support Cast   : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Choi Minho, Lee Taemin, Park Hyeki, Nyonya Kim

Genre              : Romance, Angst, Fantasy

Type/Lenght    : Twoshoot

Rating                         : G

Summary         : You’re My Dream Girl

***

Dream Girl

Part 1

Kibum melangkahkan kaki menuju ruang tengah dimana kelima sepupunya tengah berkumpul. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil melonggarkan dasi tuksedonya.

“Kencan buta yang ke 48,” seru suara seorang gadis. “Selamat! Sebentar lagi oppa akan memecahkan rekor,” tambahnya lagi.

Kibum melayangkan tangannya untuk mengetuk pelan kepala si maknae. Hyeki hanya bersungut mengusap kepalanya.

“Ibu dan ayah benar-benar keterlaluan,” gerutu Kibum gusar.

Jinki tersenyum simpul. “Mereka hanya khawatir padamu,” ujar Jinki bijak.

Kibum mendengus lagi.

“Apa susahnya sih hyung? Kau bisa memilih gadis mana saja, lalu mencoba menjalani hubungan. Yah syukur-syukur kalau berhasil,” ujar Taemin memberi saran.

Kibum merubah posisinya menjadi duduk sedikit lebih tegak. “Masalahnya aku sama sekali tidak menemukan hal yang bisa membuatku yakin untuk menjalani hubungan dengan gadis-gadis itu,” keluh Kibum.

Minho hanya diam, lalu menepuk pundak Kibum bersimpati. Dia tahu benar bagaimana sulitnya menemukan orang yang cocok (baca : seven cousins).

“Kalau begitu kau harus mencoba lagi,” kata Jonghyun.

Kibum menatap hyungnya yang berambut cepak itu tajam.

“Aku benar ‘kan? Bukankah Kibum memang harus secepatnya mendapatkan seorang tunangan?” Jonghyun membela diri, merasa tidak terima ditatap tajam seperti itu.

Bahu Kibum kembali merosot. Semua ini terjadi karena sebulan yang lalu mereka meresmikan perusahaan cabang dengan Kibum sebagai direkturnya. Jonghyun bulan lalu sudah bertunangan dengan Choi Hyora dan sekarang seharusnya giliran Kibum dan Minho. Namun Minho masih belum sembuh dari patah hatinya dan akhirnya Kibum yang kena getahnya.

Orangtua Kibum mengirimkan setumpuk biodata gadis-gadis dari keluarga terpandang ke rumah mereka. Tumpukan itu tergeletak begitu saja di dekat perapian dan sejak itu daftar kencan buta Kibum dimulai. Dia sudah menjalani kencan ke -48 dan tidak ada satu pun gadis yang benar-benar membuatnya tertarik. Padahal orang tuanya mengancam agar dirinya segera mendapatkan tunangan agar mengikuti jejak Jonghyun.

Kibum membuang nafas lelah.

“Aku mau tidur,” ucap Kibum pendek dan tanpa menunggu balasan dari yang lain, pria muda itu beranjak menuju kamarnya.

“Biarkan saja,” hanya itu yang diucapkan Jinki saat keempat adiknya menatap punggung Kibum yang berlalu dengan keheranan.

***

Kibum terbangun. Duduk tegak dalam kegelapan kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, padahal dia yakin sekali dia bisa merasakan gadis itu benar-benar ada di hadapannya. Kibum baru menyadari bahwa dia berkeringat. Kondisi yang selalu dialaminya jika mengalami mimpi yang sama.

Mimpi itu lagi. Mimpi yang tidak jelas dengan gadis yang selalu mendadak ada di pelukan Kibum. Siapa dia? Kenapa Kibum sering sekali memimpikannya?

Dengan perasaan kacau, Kibum memutuskan keluar kamar untuk mencari angin segar. Dia berjalan menuju dapur dan samar-samar bisa mendengar suara televisi dari ruang keluarga. Para pelayan di rumah besar itu pasti sudah tidur. Kibum bisa menebak siapa yang ada di sana. Hanya ada satu orang dengan hobi aneh menonton film klasik di tengah malam begini. Akhirnya Kibum memutuskan untuk menuju ruang keluarga saja.

Jinki tersenyum ketika melihat Kibum muncul dengan piyamanya. Jinki sendiri memakai piyama dan menonton televisi, tapi dia tidak sendiri. Ada Hyeki di sana. Tertidur pulas dengan berbantalkan pangkuan Jinki. Gadis itu diselimuti selimut abu-abu tebal yang diyakini Kibum pasti milik Jinki.

Hyung, sedang apa?” tanya Kibum bingung.

“Menonton film,” jawab Jinki kalem.

Kibum menggelengkan kepalanya. Pria penyuka warna pink itu lalu duduk di sofa lain di ruangan yang diisi oleh banyak sofa empuk dan karpet itu. Perapian ruang keluarga masih menyala di belakang mereka.

“Kenapa Hyeki tidur di sini?” tanya Kibum lagi.

“Aku sudah menyuruhnya tidur di kamarnya, tapi dia memaksa ingin ikut menonton dan malah ketiduran,” jawab Jinki tenang.

Terkadang Kibum bingung melihat kedekatann Jinki dan Hyeki. Kibum bisa melihat Jinki sedikit mengerling Hyeki, namun gadis itu tidur nyenyak tanpa terganggu obrolan mereka.

She just like cheonsa,” gumam Jinki yang samar-samar didengar Kibum.

Cheonsa? Otak Kibum menangkap kata-kata yang terdengar sangat familiar baginya.

“Ya Tuhan!” seru Kibum tiba-tiba.

“Sssh,” Jinki menegur Kibum karena takut Hyeki terbangun.

Kibum menutup mulutnya dengan tangannya. “Ups! Sorry,” ujarnya pelan.

Jinki menatap Kibum dengan pandangan aneh. “Kenapa kau tiba-tiba berteriak begitu?” tanya Jinki penasaran.

“Ya Tuhan! Hyung, kau masih ingat mimpi yang dulu kuceritakan?” tanya Kibum serius sambil menantikan jawaban Jinki.

“Mimpi?” Jinki berpikir sebentar. Berusaha mengingat percakapannya dengan Kibum beberapa bulan yang lalu.“Aah, tentang gadis itu?” Jinki bertanya balik.

Kibum mengangguk bersemangat. “Kau masih ingat deskripsiku soal gadis itu?” tanya Kibum lagi. Dia sendiri berdebar-debar dan berkeringat dingin saat mengingat gadis itu.

“Entahlah, aku lupa,” jawab Jinki dengan wajah tak berdosa.

“Arragh, hyung!” protes Kibum kesal karena dia sudah sangat antusias menantikan jawaban Jinki.

Jinki menjitak kepala Kibum. “Sssh,” Jinki lagi-lagi menyuruhnya diam. Hyeki bergerak sedikit dalam tidurnya.

Kibum tidak peduli. Dia sedang terlalu bersemangat karena mendapatkan pencerahan mengenai gadis dalam mimpinya. “Dia seperti cheonsa, hyung!” ujar Kibum sedangkan Jinki hanya menatapnya seolah Kibum sudah gila.

“Apa?”

Cheonsa, hyung, cheonsa ─malaikat,” ulang Kibum. “Dia memakai gaun putih.”

Jinki terkekeh mendengar penjelasan Kibum. “Hanya karena dia memakai gaun putih, kau menyebutnya cheonsa?” tanya Jinki tak percaya. “Memangnya kau lihat wajahnya?” tanya Jinki lagi.

Kibum terdiam. Dia memang tidak melihat wajah gadis itu. Nama saja mimpi! Bagaimana mungkin dia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

“Tapi ada angka 50 yang kulihat,” ujar Kibum pelan sekali.

“Huh? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Jinki yang sesaat perhatiannya teralih pada film klasik di televisi.

“Aku bilang aku melihat angka 50 di mimpiku, hyung,” ulang Kibum. Dia berusaha menerka-nerka apa maksud angka 50 itu.

Jinki ikut berpikir. “50? Jangan-jangan dia gadis yang akan kau kencani di kencan buta yang ke-50?” tebak Jinki.

Kibum memikirkan ucapan Jinki. Memangnya angka 50 itu sebuah pertanda?

“Aaah, tidak mungkin, hyung,” tolak Kibum tak percaya.

Jinki mengangkat bahu. “Aku hanya menyuarakan apa yang ada di pikiranku,” ujar Jinki.

Benarkah? Seorang Kim Kibum tidak pernah mempercayai pertanda apa pun dalam hidupnya. Ah, kalau Jinki benar, maka pencarian dan penderitaan Kibum akan berakhir di kencannya yang ke 50. Diam-diam Kibum bersorak dan berdoa dalam hati semoga apa yang dikatakan Jinki memang benar.

“Aku akan kembali ke kamar, hyung,” ujar Kibum. Tidak sia-sia dia memutuskan mengajak Jinki mengobrol di tengah kebiasaan anehnya menonton film klasik di tengah malam.

Jinki mengangguk. “Ne, tidurlah. Semoga kau tidak mimpi yang aneh-aneh lagi,” kata Jinki dengan nada mengejek.

Ya!” Kibum mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Jinki yang meleset mengenai Hyeki. Hyeki terbangun sambil mengucek matanya sedangkan Kibum langsung kabur ke kamar.

“Kenapa? Siapa yang melempariku dengan bantal?” tanyanya dengan suara mengantuk.

Ya! Kim Kibum!” Jinki meneriaki Kibum yang sudah menghilang.

***

“Ibu!” Sooyan berkata dengan campuran nada kesal dan memohon.

“Sudahlah. Ibu sudah membicarakan ini dengan Nyonya Kim, jadi percayakan saja pada Ibu,” seru Nyonya Kim Saera.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak mau ikut kencan buta kan?” keluh Sooyan.

“Dan Ibu sudah bilang padamu kalau Ibu tidak suka melihatmu merengek begini, Kim Sooyan,” ujar Nyonya Kim tegas.

Sooyan bungkam. Dia hanya menatap ibunya kesal. Untung saja butiknya hari ini sedang tidak ramai. Kalau tidak, mau ditaruh dimana muka seorang desainer profesional seperti Sooyan. Dia dewasa dan mapan secara finansial, namun untuk urusan jodoh seperti ini seorang Kim Sooyan harus menempuh jalur kencan buta. Sooyan benar-benar tak habis pikir dengan ibunya.

“Berikan aku satu minggu lagi, ne? Aku akan buktikan kalau aku bisa mendapatkan pacar seperti yang ibu inginkan,” ucap Sooyan mencoba bernegosiasi dengan ibunya yang sekarang sibuk memilih-milih gaun malam.

“Kau pikir ibu tidak tahu? Kau cuma akan menghabiskan seminggu penuh untuk meratapi Choi Taejoon yang meninggalkanmu,” jawab Nyonya Kim gemas. “Dan Kim Sooyan, yang ibu mau bukan seorang pacar, tapi calon suami,” tambahnya lagi. Nyonya Kim menjawab pertanyaan Sooyan sambil mencoba mencocokkan satu persatu gaun yang dipilihnya untuk Sooyan.

Sooyan menunduk. Ibunya sangat mengenal dirinya. Seumur hidupnya, Sooyan harus berusaha melupakan Taejoon yang sangat disayanginya. Taejoon yang meninggalkannya. Taejoon yang menghancurkan cinta pertamanya.

Nyonya Kim masih sibuk memlilih gaun-gaun sementara Sooyan tenggelam dalam pikirannya mengenai Choi Taejoon. Pilihan Nyonya Kim akhirnya jatuh pada gaun putih gading tanpa lengan yang didesain oleh Sooyan sendiri.

“Cobalah,” ujar Nyonya Kim dengan nada memerintah.

Sambil bersungut, Sooyan membawa baju itu menuju kamar ganti. Sedangkan Nyonya Kim meminta bantuan pelayan butik Sooyan untuk memilihkan sepatu dan tas tangan serta coat yang cantik.

Sooyang keluar dari ruang ganti. Gaun itu terlihat sangat pas di badannya, seolah Sooyan mendesain gaun itu untuk dirinya sendiri. Dia sendiri harus menahan ekspresi kagum saat melihat gaun itu. Gaun itu belum pernah dicoba oleh siapa pun karena Sooyan memang tidak berniat menjualnya. Sooyan bahkan masih ingat dia mendesain gaun ini karena dia bermimpi pernah memakai gaun ini.

“Cantik,” ujar Nyonya Kim puas, membuat senyum Sooyan memudar. “Pakai ini untuk kencan butamu dan ingat Kim Sooyan, kau bukan gadis kecil lagi. Usiamu sudah matang, kau harus mulai memikirkan jodohmu dan memikirkan Ibu dan Ayah,” tambahnya lagi.

Skak mat. Sooyan tidak bisa berkutik mendengar ucapan Nyonya Kim yang terasa bagai permohonan terakhir. Sekali ini saja, dia akan melakukannya. Demi ayah dan ibunya.

***

Seharusnya sekarang sudah masuk musim semi, namun awal musim semi memang selalu dingin bukan? Sooyan merapikan coatnya sebelum turun dari mobil yang mengantarnya. Demi memastikan Sooyan tiba dengan selamat, Nyonya Kim memaksa mengantar Sooyan dengan menggunakan sopir keluarga mereka.

Sooyan membuka pintu restoran Jepang itu dan disambut oleh pelayan berkimono hitam putih. Sooyan tersenyum ramah dan menyebutkan nama pria yang sudah mereservasi restoran tersebut. Namanya Kim Kibum dan Sooyan berjaga sepanjang malam untuk mencari tahu segala hal tentang Kibum.

Kim Kibum, pengusaha muda terkenal, salah satu dari lima direktur tampan di SHINee Group. Dia sekarang memimpin perusahaan cabang sendiri dan tidak sukar bagi Sooyan untuk menebak itulah alasan mengapa Kibum harus segera menemukan pendamping. Pengusaha tampan dan kaya? Tentu saja dia akan mudah terlibat skandal. Diam-diam Sooyan merasakan beberapa persamaan antara dirinya dan Kibum. Sooyan menyayangkan nasib mereka dalam hal jodoh. Mapan secara finansial, namun harus sama-sama terlibat kencan buta untuk mendapatkan jodoh.

Pelayan berkimono itu menunjukkan ruangan mana yang sudah direservasi atas nama Kim Kibum. Pelayan itu pamit dan meninggalkan Sooyan di depan ruangan itu. Sooyan menghela nafas panjang, berusaha mempersiapkan dirinya untuk bertemu Kibum dan membuka heels putih yang membalut kakinya. Dia menggeser pintu ruangan itu pelan dan langsung berhadapan dengan punggung seorang pria.

Mendengar suara pintu dibuka, pria itu berbalik dan menyapa Sooyan sopan. Namun saat dia benar-benar melihat Sooyan ekspresinya berubah. Dia terlihat………….. terkejut? Apakah itu ekspresi terkejut? Hah? Kim Kibum terkejut melihat Kim Sooyan? Kenapa?

“Maaf, apakah ada yang aneh dengan saya?” tanya Sooyan sopan karena Kibum tidak kunjung mengubah ekspresinya. Siapa yang akan merasa nyaman ditatap seperti itu?

Pertanyaan Sooyan seperti berhasil membuat Kibum tersadar. Ekspresi pria itu berubah normal seperti baru tersadar dari hipnotis. Kibum tersenyum berusaha menguasai keadaan kembali. “Ah, maafkan kelancangan saya. Saya Kim Kibum, senang mengenal Anda,” ujar Kibum sambil mengulurkan tangan.

“Kim Sooyan,” jawab Sooyan singkat dan menjabat tangan Kibum.

Ada sensasi aneh di jantung Sooyan saat menjabat tangan Kibum. Entahlah, Sooyan berusaha mengingat apakah dia merasakan hal yang sama saat menjabat tangan Taejoon dulu, namunsekarang Sooyan bahkanlupa bagaimana rasanya saat menjabat tangan Taejoon pertama kali.

Mereka berdua lalu duduk dan memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, keduanya hanya saling menatap dengan kikuk. Sooyan harus mengakui Kibum jauh lebih tampan daripada foto-foto yang beredar di internet. Tanpa bicara pun, Sooyan bisa merasakan aura Kibum yang mendominasi.

“Ah, aku ingin mengucapkan selamat kepada Anda, Kibum-ssi, sebagai direktur baru,” ujar Sooyan membuka pembicaraan.

“Terima kasih,” jawab Kibum tenang. “Boleh saya tahu Anda kelahiran tahun berapa?” tanya Kibum lagi.

Sooyan mengernyit. Kalau dia menanyakan usia, pasti dia ingin bicara dalam banmal kan? Apakah Kim Kibum sangat percaya padanya sehingga mereka langsung berbicara dengan banmal walaupun baru pertama kali bertemu. Hati Sooyan berperang antara harus memberitahunya atau tidak, tapi toh Sooyan menjawab juga.

“Saya berusia 23 tahun,” ujar Sooyan.

“Ah, saya hanya berusia 1 tahun lebih tua daripada Anda,” kata Kibum.

Mereka terdiam.

“Gaun Anda bagus. Anda membelinya dimana?” tanya Kibum.

Lagi-lagi pertanyaan aneh. Dari wajahnya, Sooyan tahu Kibum sebenarnya sangat ingin menanyakan hal itu sejak tadi.

“Saya mendesainnya sendiri. Saya seorang desainer dan mempunyai butik di Cheongdamdong,” jawab Sooyan. Perasaan Sooyan sedikit terluka. Kibum pasti tidak tertarik padanya hingga pria itu bahkan tidak repot-repot mencari tahu mengenai dirinya. “Ah, saya minta maaf kalau Anda harus menghadiri kencan buta ini karena Ibu saya,” tambah Sooyan dengan jujur.

Kibum hanya tertawa kecil. Sooyan baru pertama kali melihat Kibum tertawa dan dia terlihat menyenangkan.

“Ibu Anda hanya khawatir pada Anda,” ujar Kibum mengopi kata-kata yang diucapkan Jinki padanya.

Sooyan tersipu. Sikap Kibum yang sangat baik sedikit demi sedikit memberikan nilai baik di mata Sooyan. Makan malam itu berlangsung menyenangkan. Keduanya membicarakan banyak hal (walaupun mereka masih berbicara menggunakan sapaan formal). Setelah makan malam, Kibum bahkan mengantarkan Sooyan pulang dengan Audi hitamnya.

Kibum tersenyum simpul sebelum memacu mobilnya melaju meninggalkan kediaman keluarga Kim dan Sooyan tidak bisa berhenti tersenyum menatap mobil yang menjauh itu. Masa dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak mungkin!

***

Jonghyun menyambut Kibum dengan senyum saat melihat pria itu melangkah memasuki ruang keluarga dimana kelima sepupunya sedang berkumpul.

“Kau sudah pulang?” tanya Jonghyun. Kibum tidak menyahut.

“Ah, aku benci melihat wajah hyung yang tertekuk begitu,” seru Taemin.

“Kencan buta yang ke 49,” suara Hyeki kembali terdengar. “Yang ke 50 dapat piring cantik,” gadis itu menambahkan dengan mengejek.

Untungnya Kibum sedang tidak berminat meladeni adik-adiknya. Pikirannya masih dipenuhi oleh gadis kencan butanya yang ke 49. Kim Sooyan.

Perasaan itu masih tertinggal dalam diri Kibum. Saat dia meliat Sooyan dengan gaun putih, berdiri anggun di depan pintu. Rambut wanita itu yang digerai dengan parfum yang bahkan wanginya masih bisa diingat Kibum. Nada bicaranya yang ramah dan bersemangat. Ah, Kibum masih ingat betapa terkejutnya dia melihat Sooyan. Untuk pertama kalinya seorang Kim Kibum kehilangan kontrol di hadapan seorang gadis. Entah mengapa dia merasa gadis itu adalah gadis yang selalu dimimpikannya tapi kalau seharusnya memang angka 50 itu pertanda, seharusnya Sooyan bukan gadis itu. Harusnya itu gadis yang akan menjadi kencan butanya yang ke 50 bukan? Bukankah itu yang dikatakan Jinki hyung?

“Gadis ini juga tidak menyenangkan?” tanya Minho pada Kibum, membuat Kibum tersadar dari lamunannya.

“Gadis apa?” tanya Kibum bodoh.

Semuanya tertawa.

“Tentu saja, gadis kencan butamu. Kibum-ah,” ujar Jinki.

Jonghyun tiba-tiba bersorak. “Oh ho! Aku bisa merasakan sesuatu! Gadis ini berbeda bukan? Kau terpikat padanya?” tanya Jonghyun mengorek-ngorek informasi.

Hyung!!” protes Kibum sambil mendorong Jonghyun menjauh.

Sooyan memang berbeda tapi untuk bicara soal terpikat? Rasanya terlalu cepat walaupun Kibum tidak memungkiri dia merasakan sesuatu yang berbeda.

“Nona Jisun dan Hyora sudah tiba, Tuan Kim,” ujar Kepala Pelayan Han yang tiba-tiba muncul.

Kibum terlonjak kaget. “Jisun? Hyora? Kalian mengundang mereka kemari?” tanya Kibum.

“Tentu saja. We’re partying!” jawab Hyeki yang sudah berlari menuju ruang depan untuk menyambut kedua kakak perempuannya.

Kibum hanya bisa menggeleng pasrah. Dia menuju kamarnya untuk berganti baju lalu kembali bergabung dengan ke enam sepupunya ditambah dua tunangan sepupunya itu. Minho terlihat sedikit canggung dengan Jungjin, tapi setidaknya mereka berbaur dengan baik. Hyora terus bersama Jonghyun membuat Hyeki akhirnya menempeli Taemin dan Jinki. Pesta weekend yang dicanangkan Hyeki berlangsung meriah namun pikiran Kibum masih tetap terpaku pada gadis itu. Ah, haruskah dia memutuskan hubungan dengan gadis itu dan menunggu gadis kencan buta yang ke 50-nya?

***

Kibum memarkirkan Audinya di kawasan Cheongdamdong dan turun dari mobil diikuti oleh Hyeki. Gadis itu berjalan dengan tidak sabaran di samping Kibum.

“Butik? Oppa, buat apa kita ke butik?” tanya Hyeki tak percaya.

Bukannya Hyeki tak percaya Kibum mampir ke butik. Hyeki hampir selalu berbelanja baju bersama Kibum tapi dia tidak pernah diajak ke butik lain selain butik yang selalu didatangi mereka.

“Bukankah kau bilang ingin membeli koleksi yang berbeda? Sekarang aku mengajakmu kemari,” jawab Kibum santai.

Hyeki mendengus tidak percaya. Kibum tidak pernah sebaik hati itu kecuali disuruh Jinki.

“Selamat da─ Oh,” Sooyan yang menyambut mereka di depan pintu terlihat sangat terkejut ketika melihat Kibum.

“Halo, Sooyan-ssi,” sapa Kibum ramah.

Hyeki menatap Sooyan dengan pandangan menyelidik. Dia lalu menyikut Kibum.

Ya! Eonnie itu siapa?” tanya Hyeki sambil berbisik.

“Teman oppa,” jawab Kibum sambil berbisik juga. “Nah, Hyeki-ya, sekarang pilihlah bajumu, nanti oppa akan membayarnya,” ujar Kibum lebih keras sambil mendorong punggung Hyeki ke arah gantungan baju.

“Aneh,” gumam Hyeki dan gadis itu beranjak memilih baju yang diinginkannya.

Sooyan tersenyum ramah. “Aku tidak tahu kalau kau tahu dimana butikku,” ujar Sooyan. Kemunculan Kibum di butiknya memang di luar dugaannya.

“Aku bertanya pada Ibu,” jawab Kibum tenang. Dia mengalihkan perhatian dengan menatap dekorasi butik Sooyan yang seperti fairyland. Tentu saja dia bohong mengenai hal itu. Dia sudah memata-matai butik ini sejak beberapa hari yang lalu dan membawa Hyeki kemari supaya dia punya alasan untuk masuk.

“Yang tadi itu sepupumu yang kauceritakan?” tanya Sooyan.

“Ya, dia sepupu ke-tujuh, maknae,” jawab Kibum. “Namanya Hyeki,” tambahnya.

Sooyan tersenyum. “Dia terlihat imut,” ujarnya.

Kibum hanya tertawa membayangkan tingkah ajaib Hyeki dengan wajah yang disebut imut oleh Sooyan.

“Seharian ini kau hanya di butik saja?” tanya Kibum.

“Oh, aku akan berdiskusi dengan redaksi majalah fashion untuk menerbitkan desainku,” ujar Sooyan singkat. “Kau sendiri tidak sibuk? Bukankah sekarang masih jam kerja?” tanya Sooyan lagi.

Kibum menunjuk Hyeki dengan gerakan kepalanya. “Bocah itu memaksaku menemaninya ke sini,” ujarnya.

Tiba-tiba Hyeki sudah muncul sambil membawa belanjaannya. Pegawai Sooyan membantu menghitung belanjaan Hyeki dan Kibum memberikan kartu kreditnya.

Eonni, aku sangat suka desain bajumu. Boleh tidak aku minta nomer ponselmu kalau-kalau aku ingin dibuatkan gaun?” tanya Hyeki penuh semangat.

Sooyan tersenyum dan akan menyebutkan nomer ponselnya. Hyeki merogoh ranselnya mencari-cari ponselnya.

Omo! Aku lupa membawa ponsel,” gerutu Hyeki. “Oppa, pinjamkan ponselmu ya,” pinta Hyeki.

Kibum hanya menatap Hyeki keheranan. Pertama, Hyeki tidak menyukai gaun. Kedua, Hyeki tidak pernah ceroboh lupa membawa ponsel karena Jinki akan khawatir. Kibum tetap menyerahkan ponselnya setelah Hyeki mengulurkan tangannya penuh ancaman. Akhirnya nomer ponsel Sooyan tersimpan dengan aman di ponsel Kibum dan kemudian Kibum dan Hyeki pamit pulang. Kibum melambai dan tersenyum pada Sooyan sebelum memacu mobilnya.

“Apa-apaan ini?” tanya Hyeki saat mereka sedang di mobil.

“Maksudmu?” Kibum pura-pura tidak mengerti.

Ya! Menjadikanku sebagai alasan. Berbohong kalau aku yang memaksa oppa ke sana. Aku bahkan sudah berhasil mendapatkan nomer eonni untuk oppa, tapi oppa masih mau merahasiakannya dariku?” protes Hyeki frustasi.

Kibum hanya tertawa. “Ne, ne, terima kasih sudah mendapatkan nomernya untuk oppa,” ucap Kibum sambil bercanda.

Hyeki mengerucutkan bibirnya, tapi dia tidak berhenti merasa penasaran. “Jadi dia gadis kencan buta oppa yang ke 49 kan?” tanya Hyeki. “Oppa menyukainya bukan? Kenapa tidak langsung mengajaknya kencan sungguhan?”

Kibum hanya diam. Bukannya tidak ingin, tapi dia selalu mengingat mimpinya setiap melihat Sooyan dan itu menahannya untuk mengajak Sooyan berkencan.

“Belum bisa. Nanti akan ada waktunya,” ujar Kibum.

Hanya itu yang diucapkannya dan Audi hitam itu membawa mereka pulang.

*TBC*

Notes : Remember me? I am back with this crazy story. Haha. Let me know if you like this story by leaving comment and like.

XOXO,

qL^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

35 thoughts on “Dream Girl [1.2]”

  1. Ooo… Jadi Key kaget ngeliat Sooyan krn mirip sama gaddis yg dia mimpiin. Tapi angka 50 itu bikin dia ragu…
    Kayaknya masih berkaitan sama Seven Cousins ya :3

    Ceritanya bagus kok 🙂 aku penasaran lanjutannya 😀 ditunggu 🙂

    1. haloo yongie!! yep! ini masih ada kaitannya sm seven cousins hehe
      jadi kayak stand alonenya mereka.

      thanks yaa udh bca dan komen 🙂

  2. Seperti kelanjutan Seven cousins. Tapi JongHyun dapat pasangan, key harus dapat pasangan. Kenapa JinKi yang tertua belum?
    Kapan sepupu” yang lain juga punya pasangan?
    Ditunggu kelanjutannya (งˆ▽ˆ)ง

    1. iya lebih kaya stand alonennya seven cousins.
      haha, kenapa yaa? aku belum tau mau masangin Jinki sama siapa, soalnya dia karakter yang complicated.
      entar kalau dapat ide, aku lengkapin deh kisah pasangan sepupu yang lain ahaha
      gomawo udh baca dan komen 😀

    1. ketahuan deh, awalanya itu angstnya mau lebih banyak eh ternyata pas nulis aku ga bisa ngebayangin karakter key yg mewek2, jadinya begitu deh #sigh
      thanks udh baca dan komen 😀

  3. kak qL !!!!
    haha, akhirnya di siang ini aku mencoba mencomot satu ff ringan. Yihaa, trnyata seru..
    penasaran deh sama Hyeki, ntah napa langsung demen Hyeki, bukan Sooyan =_=”
    Ah, sudahlah..lanjut ke part berikutnya 😀

  4. Unyu2 deh kibum..
    Pengen (ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ)

    Tunangannya Jjonghyun harusnya marga Kim, hohoho
    Biar jd Kim Hyora.
    *colekHyora

    Ah, ini authornya Śɑ̤̈♍ɑ̤̈ kyk Seven Cousins ya?
    Ditunggu part 2, ne..

    1. hai, iyaa aku authornya seven cousins -___-”
      efek Key kalau aku yg nulis wkwkwk.

      ahaha, hyora-ssi, pinjem namanya bentar yaa
      siip
      gomawo udh baca dan komen 😀

  5. ahh..
    Seru2..
    Dan ada Hyora.. Hahaha.. Kalo gitu sementara aku ganti marga deh.. Hahah..
    Next ditunggu..

    1. mitos buatan onyu hihihi -__-
      iyaa, adek sepupu. cek aja di seven cousins kalau mau tau silsilahnya 😀 #promosi. ada di library sf3si kok
      gomawo udh baca dan komen 😀

  6. hi qL.. salam kenal ya.. 🙂
    ceritanya bagus, walaupun saya belum baca yang seven cousin, tp bisa ngerti dengan cerita ini..

    Mudah2an emang si Sooyan itu jodohnya Kibum ya..

    Ok qL, ditunggu part selanjutnya ya.. 🙂

    1. hi eon:)
      emang ceritanya bukan sequel atau prequel kok eon, cuma tema besarnya aja tentang keluarga 7 orang ituu
      gomawo udh baca dan komen 😀

  7. Penasaran nih, apakah key bakal lanjut sama sooyan?
    Atau key nunggu sampai kencan ke 50?
    Jangan gegabah ya key, kalau udah klop langsung aja jangan pake ragu.
    Kan bisa aja kencan ke 50 itu pertanda, kalo dijalani bakal kehilangan kesempatan gitu atau bisa aja peringatan “jangan sampai kencan ke 50” hahaha*ngasal aja*.
    Nice chingu, next part ditunggu.

    1. ahaha jadi sbnrnya angka 50 adalaah…..
      silahkan cek part 2nyaa

      emang kalau ngemimpiin sesuatu suka dikait2in kan sama kenyataan atau apa yg bakal terjadi?
      siip! gomawo udh baca dan komen 😀

  8. Kalo aku jadi key udah pasti galau banget itu. ternyata bisa ya orang jatuh cinta pada pandangan pertama #dor
    duh harusnya si key cari ahli tafsir mimpi *apaan deh
    Lanjut Lanjut Lanjut

    1. pinter? atau usil?
      angka 50 itu adalaah……. tiiiit –> tunjuk part 2

      gomawo udh baca dan komen 😀

  9. First… Aku suka banget karakter Hyeki. Hehe

    Emmm… Penasaran-penasaran. Rada nebak2 dikit sih endingnya bagaimana. Semoga tebakanku salah. Hahaha 😀

    Nice, ringan, simple, sweet… Kerenlah

    1. kok semua orang malah fokusnya ke Hyeki ya? pdhl dia support cast loh
      silahkan cek langsng part 2 nyaa semoga endingnya sesuai harapanmu

      gomawo udh baca dan komen 😀

  10. nice 😀 meski aku belum pernah baca seven cousins ,, kayaknya si sooyan yang jadi jodohnya Key.. kkkk~ #soktaunih 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s