Hindar

Title : Hindar

Author : Bella Jo

Main Cast : Shin Ahra (OC), Lee Taemin

Support Cast : Choi Minho, Park Inyoung (OC)

Length : Oneshot

Genre : Friendship, Supranatural, tragedy, mistery

Rating: General

Summary : “Jangan!! Jangan pergi, Tae!!”

HINDAR

Langit malam semakin gelap. Waktu beranjak cepat, berpindah dan berganti tanpa bosan-bosannya. Semilir angin yang menabrak dedaunan memberi peringatan pada setiap orang yang bernaung di bawah langit saat itu, hujan akan turun malam ini. Namun angin tak bisa menembus tebalnya tembok satu rumah, di mana seorang gadis sedang terlelap di salah satu kamarnya.

RING DING DONG RING DING DONG
Diggi ding diggi ding ding ding…

Bunyi itu terdengar samar di telinga si gadis yang masih memejamkan mata. Namun dering itu terdengar semakin keras. Perlahan ia membuka matanya, pandangannya masih kabur. Ia mendapati sosok yang ia kenali sudah berdiri sambil berkacak pinggang di samping tempat tidurnya. Lelaki itu menyodorkan ponsel berwarna merah ke arahnya.

“Ahra, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, benar-benar berisik sejak  tadi!!” ucap lelaki itu judes. Ahra mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti, “Ne, Oppa? Siapa yang nelpon?”

“Mana Oppa tahu! Lihat aja sendiri tuh!” ucap lelaki itu sambil meletakkan benda tipis di tangannya ke samping gadis yang rambutnya masih acak-acakan itu. Ahra menguap lebar lalu menekan tombol hijau ponselnya, “Yeobosaeyo?” sapanya dengan nada ngawur, mulutnya masih terbuka lebar.

“Yeobosaeyo, Ahra-ya!”

Ahra tertegun di tempatnya. Ia mengenali suara riang ini, suara lelaki yang kadang-kadang saja bisa ia dengarkan keceriaannya. “Taemin?!” pekiknya kaget. Yang disebut hanya tertawa renyah, “Pasti baru bangun tidur, ya? Kedengarannya seperti komputer yang baru direstart…,” goda lelaki itu. Ahra tersenyum. “Apa kabar? Sudah lama kau tidak menghubungiku…”

“Cukup baik. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Pulau Cheju. Kau mau kukirimi oleh-oleh?” tawarnya langsung. Ahra berpikir sejenak lalu menjawab, “Tidak perlu. Aku lebih senang melihatmu kembali ke Seoul daripada mendapat oleh-oleh semahal apapun,” ucapnya. Taemin terkekeh di seberang sana, “Aku pasti akan kembali ke Seoul saat liburan sekolah. Kau tau, aku juga sangat merindukanmu.” Shin Ahra hanya mampu tersenyum simpul mendengar ucapan sahabat baiknya itu, Taemin sudah mengerti betapa rindunya ia tanpa perlu diberi tahu.

“Hmmm… Aku berharap kau mendapat libur lebih cepat,” tanggapnya. Kekehan Taemin kembali terdengar dan ahra merasa sangat nyaman mendengar suara lembutnya. “Kau bicara seperti sonsengnim yang sudah bosan mengajar di kelas,” celetuk Taemin lagi.

“Baiklah, aku hanya ingin memberitahumu saja. Kau pasti lelah seharian. Beristirahatlah,” ujar Taemin akhirnya. Setitik rasa kecewa muncul di hati Ahra, namun gadis itu tak bisa memungkiri bahwa ia memang kelelahan setelah beraktivitas seharian bersama teman-temannya sejak pagi tadi. Malam ini adalah waktu yang tepat bagi Ahra untuk beristirahat. Tunggu, bagaimana Taemin bisa tau kalau Ahra sedang lelah?

“Ahra-ya? Kau masih di sana?” panggil Taemin setelah lama tak terdengar tanggapan Ahra. Gadis itu tersentak dari lamunannya dan menarik nafas panjang, “Oh, ne. Aku juga tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu. Tae-ya, kau harus berhati-hati di sepanjang perjalananmu nanti. Arasseo?”

“Ne, Umma~~! Aku pasti akan berhati-hati sepanjang jalan, kok. Gogjonghajima~”

“Baguslah kalau begitu. Semoga kau ingat kalau kau pernah hampir tersesat hanya gara-gara keisenganmu memisahkan diri dari kelompok saat wisata alam bersama teman-teman Junior High kita dulu,” ucap Ahra memperingatkan. Taemin terbahak di seberang telpon sana. Senyum Ahra jadi terpancing keluar.

“Annyeong, Ahra-ya~~ Mimpikan aku malam ini, ya~!” goda Taemin sebelum menutup telpon. Senyum Ahra semakin mengembang, “Annyeong, Tae-ya. Semoga kau juga tidak bosan muncul di mimpiku.”

Ahra menjauhkan ponselnya dari telinga. Senyumannya mengembang lebar. Namun perlahan senyuman itu pudar, hatinya menangkap satu firasat untuk menghindari sesuatu.

***

Hari berganti dengan cepat. Sudah dua minggu berlalu dan Ahra tidak pernah mendapat telpon dari Taemin lagi sejak saat itu. Ia sudah mencoba menelpon sahabatnya sejak kecil yang pindah ke Busan lima tahun lalu itu, namun nomornya sudah tidak aktif lagi. Mungkin saja Taemin menukar nomor ponselnya dengan nomor baru dan akan menelpon Ahra nanti. Ya, Ahra hanya bisa berpikir positif.

Gadis berambut ikal panjang  itu terduduk lesu sambil menatap layar ponselnya. Ia mengharapkan pesan dari Taemin, hanya untuk sekedar tahu kalau sahabat baiknya itu sehat-sehat saja. Dan kalau berkenan, mungkin mau berbagi cerita tentang liburannya ke Cheju kapan lalu. Gadis itu menghela nafas panjang. Akhirnya ia memilih untuk membolak-balik halaman buku Biologinya, membaca untuk menghabiskan waktu. Maklum saja, ia sudah jadi siswi kelas 3 Senior High.

Tiba-tiba seseorang menyenggol mejanya. Ahra mendongakkan kepalanya spontan. Ia terpatung begitu melihat wajah orang yang sempat membuyarkan konsentrasinya itu. “Mian,” ucap orang itu singkat lalu langsung kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Gwaenchana…,” bisik Ahra takut-takut. Matanya mengikuti ke mana orang itu pergi. Ahra menelan ludah gugup. Ada helaan nafas lega yang ia hembuskan, bersyukur karena tidak perlu berurusan lama dengan orang tadi.

Orang tadi adalah Park Inyoung, teman sekelas Ahra yang aneh dan agak nyentrik. Entah apa yang membuatnya selalu bertingkah aneh dan tertutup. Bahkan gadis yang seumuran dengannya itu tidak begitu suka bersosialisasi dengan warga kelas lain dan memilih untuk duduk sendiri di sudut belakang kelas dari pada mengobrol atau tertawa bersama. Anehnya lagi, Inyoung selalu membawa kucing bersamanya dan sering memakai benda-benda serba hitam. Sudah banyak guru yang menegurnya, tapi semua teguran itu ia patahkan dengan alasan tidak ada peraturran sekolah yang dilanggarnya lewat kelakuannya itu.

Hanya satu orang yang dekat dengan Inyoung, itupun karena keduanya sudah berteman sejak mereka masih kecil. Orang itu adalah orang yang sedang bicara dengan Inyoung sekarang, Choi Minho. Dia lelaki berkulit gelap, berambut cepak, dan terkenal dengan perannya di berbagai klub olahraga. Tak ada yang mengerti kenapa kedua orang yang saling bertolak belakang itu bisa bersahabat sampai sekarang. Mungkin itu memang sudah takdir yang tak terhindarkan.

Minho sendiri orang yang cukup pendiam, walau tak bisa dipungkiri senyum ramahnya sangat manis. Hanya segelintir orang yang bisa ngobrol santai dengannya, namun tak satupun perempuan selain Park Inyoung. Dibanding dengan gadis nyentrik itu, Minho jauh lebih bersahabat dengan orang lain, bahkan sangat aktif di kelas.

Ahra terus menatap keduanya tanpa bisa mengalihkan pandangan, entah kenapa ia begitu penasaran dengan percakapan keduanya. Dua orang nyentrik yang tanpa mereka sadari –atau sudah sangat mereka sadari sampai mereka bersikap terlalu cuek- telah meraup perhatian warga kelas, dan salah saunya adalah Ahra.

“Sirheo!!” ucap Inyoung tegas, dengan nada cueknya yang biasa. Ahra menguping pembicaraan mereka. Minho tampak kesal dan tidak terima, namun masih tetap berusaha tenang, “Wae? Aku hanya ingin menyarankan hal yang baik kepadamu…,” kilahnya. Inyoung mendengus, lebih seperti mengejek, “Mungkin itu hal baik menurutmu, tapi tidak menurutku. Pokoknya aku tetap mau mempelajarinya sampai aku jadi pro. Titik!” ketus gadis itu. Minho hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian temannya itu. Ahra sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Gadis itu langsung kembali ke posisi duduknya semula saat Inyoung semakin mendekati mejanya. Ia pura-pura membaca buku dengan serius.

“Hei,” sapa Inyoung. Ahra terlonjak, ia menatap Inyoung dengan gugup sambil berusaha keras untuk tersenyum, “Hei….”

Inyoung menatapnya dingin. Kalau saja tatapan gadis itu lemari es, pasti Ahra langsung membeku di tempatnya. Gadis nyentrik itu mendekati Ahra lalu mencondongkan badannya ke arah gadis itu. “Bukankah menguping sekaligus mengintip itu perbuatan yang buruk?” bisik gadis itu. Tapi telinga Ahra bisa menangkapnya dengan jelas. Gadis itu tertegun, matanya membelalak. Inyoung hanya melemparkan senyum sinisnya ke arah gadis berkacamata itu dan berlalu pergi.

Ahra menarik lagi nafasnya yang sempat terhenti saking takutnya tadi. Ia membatin, “Bagaimana dia bisa tahu?”

***

Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan semua murid SMA itu langsung berhambur pulang, kecuali beberapa murid yang masih harus mengikuti kegiatan ekstra. Suasana langit lagi-lagi mendung, menambah dingin hati Ahra yang melenggok pulang ke luar pekarangan sekolah. Kepalanya tertunduk, menatap tanah yang menjadi pijakan sementara hidup di dunia. Helaan nafasnya terdengar beberapa kali.

“Ya! Kerutan di wajahmu akan bertambah banyak kalau terus merengut seperti itu!” celetuk seseorang. Ahra mendongak cepat, ia mengenali suara riang itu. Begitu matanya menatap sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya itu, senyumnya langsung merekah lebar.

“Taemin!!” pekiknya riang. Ia segera berhambur ke arah lelaki berkulit putih dengan rambut panjang yang dicat coklat gelap itu. Taemin membalas senyuman Ahra dan menyambutnya dengan tak kalah riang, “Pemilik senyum manis ini baru temanku!” godanya. Wajah Ahra bersemu sambil cengar-cengir. Ia memukul pelan lengan lelaki itu.tiba-tiba ia teringat pada rasa khaatirnya selama beberapa hari ini.

“Kenapa kau tidak menjawab telpon maupun membalas pesanku? Kau ganti nomor? Kenapa tidak mengatakan apapun padaku?! Apa  kau tidak tau betpa khawatirnya aku selama dua minggu ini karena tidak mendapat berita apapun tentang dirimu?!” omel gadis itu sambil terus memukul-mukul lengan lelaki itu. Taemin menghindar sambil mengadu kesakitan, “Pelan, Agassi! Aku cukup sibuk dua minggu ini, sangat kekurangan waktu bahkan untuk diriku sendiri…,” kilahnya.

“Alasan!!” ucap Ahra ngambek. Ia melipat tangan di depan dada. Taemin kembali terkekeh melihat gadis itu membalik badan membelakanginya. “Arasseo, arasseo. Mianhae, Ahra-ya. Jangan ngambek lagi! Aku bahkan sudah mengabulkan permintaanmu untuk kembali ke seoul…,” bujuknya sambil menarik lengan gadis itu menghadapnya. “Kalau kau ngambek terus, aku akan kembali ke Busan,” ancamnya.

Tak lama keduanya sudah kembali tertawa dan melenggang pulang bersama persis seperti dulu, saat mereka masih duduk di bangku Junior high. Namun ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik keduanya dari kejauhan. Keduanya mengerutkan kening, menatap heran dengan penuh tanda tanya. “Kau lihat?” tanya salah seorangnya. Ia mengelus seekor kucing hitam yang ada dalam dekapannya. Yang ditanyai mengangguk, wajahnya tampak tak senan, “Kita harus menghindarkan gadis itu dari orang tadi…,” gumamnya. Yang mengelus kucing tadi berbalik, menatap tidak peduli, “Merepotkan. Kalau dia bisa melihatnya, berarti saatnya sudah dekat. Bantu saja dia untuk banyak-banyak berdoa….”

***

“Jauhi dia.”

Ahra mendongak dan memandangi heran sekaligus kaget lelaki yang sudah berdiri di samping mejanya. Ia memandang wajah teduh lelaki itu dengan tidak mengerti, “Apa maksudmu, Minho-ssi?”

“Laki-laki berambut coklat gelap itu, jauhi dia!” ucap Minho lagi, masih tidak begitu jelas. Ahra agak mengerti maksud pembicaraan teman sekelas yang biasanya hanya mengajarinya pelajaran yang tidak begitu dimengertinya itu. “Maksudmu Lee Taemin?” tanyanya memastikan.

Minho tidak menyahut, hanya mengangguk pasti, matanya menegas. Ahra menatapnya polos, “Waeyo?” herannya. Minho mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Kau takkan paham walaupun aku menjelaskannya sekarang,” lirihnya. Ahra mengernyitkan dahi. “Pokoknya lakukan aja apa yang kukatakan,” ucap Minho lagi sambil langsung melangkah pergi. Ahra melongo bego memandangi kepergiannya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Aneh sekali, jarang Minho bicara dengan perempuan selain saat pelajaran berlangsung. Tapi Minho malah memintanya melakukan hal yang aneh, setidaknya bagi gadis itu.

“Menjauhi Taemin? Wae?”

“Ahra-ya!”

Ahra menoleh. Taemin menjemputnya seperti yang ia janjikan kemarin sore. Lelaki itu melempar senyum lebar ke arahnya. Taemin mengahampiri dirinya yang tengah duduk di depan bangunan sekolah, setengah berlari. Ahra balas senyum, namun kali ini agak kaku. “Lama menunggu?” serbu Taemin langsung. Ahra menggeleng, “Ani. Baru lima menitan yang lalu…”

“Hoooh… Syukur kalau gitu… Ayo!”

Taemin mengajak gadis itu beranjak dari tempatnya. Sebenarnya gadis berkacamata bingkai putih itu agak enggan, tapi kerinduannya pada Taemin mengalahkan keengganannya. Fakta kalau mereka sudah tidak bertemu dua tahun belakangan ini membuatnya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama sahabatnya itu. Apapun yang dikatakan Minho nanti, itu urusan belakangan. Setidaknya Minho harus menjelaskan alasan melarangnya bertemu dengan Taemin, kan?

“Kita mau ke mana hari ini?” tanya Taemin.

“Terserah kau saja. Tapi sebaiknya kita singgah ke warung pinggir jalan saja. Aku lapar….,” sahut gadis itu. Keduanya melangkah bersama ke salah satu warung makanan tongkrongan mereka dulu, menghabiskan waktu sambil berbagi cerita.

Tanpa disadari keduanya, seorang gadis tengah mengamati mereka. Lidah gadis itu mendecak pelan, “CK!! Gadis yang benar-benar merepotkan!” keluhnya sambil berlalu pergi bersama hembusan angin.

***

Hari berganti malam. Ahra kembali ke rumah dengan Taemin yang mengantarkannya. Satu hari ini mereka hanya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah Ahra sambil bercengkrama ria. Tak jarang keduanya tertawa bersama dan singgah di warung-warung makan sekitar hanya untuk sekedar membeli minuman dan cemilan.

“Kapan aku boleh singgah ke rumah nenekmu?” tanya Ahra sebelum keduanya berpisah. Taemin menggaruk-garuk kepalanya, “Lebih baik jangan dulu. Nanti halmeoni mengira aku tidak mau kembali ke Busan karenamu….,” tolaknya. Ahra mengerutkan alis, “Memangnya kamu bolos?” Taemin hanya tertawa cengengesan, membuat Ahra geleng-geleng kepala. “Pantas saja. Ya sudah, tidak akan main ke rumah nenekmu. Bisa-bisa beliau menuduhku macam-macam…,” ujar Ahra sambil tersenyum kecil.

“Sampai besok!” pamit Taemin. Ia mulai melangkah menjauhi pekarangan rumah gadis itu. Ahra melambaikan tangannya, “Jangan lupa jemput aku besok!” pesannya. Taemin membentuk sabit di bibirnya, namun matanya menyendu, “Ya, kalau kita bisa bertemu lagi besok….,” bisiknya.

Taemin melangkah semakin jauh, namun ada dua orang yang menghalangi langkahnya. Taemin mendongak, menatap wajah sepasang lelaki dan perempuan yang sudah ada di depannya. Salah satunya menggendong seekor kucing hitam di tangan kanannya, mengelusnya perlahan.

“Kalian…,” heran Taemin, bukan karena kedua orang itu menghadangnya, tapi karena satu hal lagi. Si gadis mengehela nafas panjang sambil menatap dingin, “Kalau Minho tidak bersikeras minta pertolonganku, aku tidak akan mau terlibat dalam hal ini….,” ujarnya malas.

Angin dingin malam berhembus kencang, menerpa wajah dan diri ketiga orang yang saling berhadapan itu. Belum ada satu kata pun yang meluncur dari lidah mereka. Mereka hanya saling lempar tatapan dingin yang membuat suasana semakin mencekam dan sunyi. “Kenapa kau masih mendekati Ahra?” tanya Minho tanpa basa-basi, memecah keheningan yang sempat tercipta. Taemin tersenyum sinis lalu mengangkat bahu, “Memangnya salah kalau aku menemui sahabatku sendiri? Itu wajar kan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu!” ketus Inyoung. Ia menurunkan kucingnya dengan kesal, “Kau membahayakan nyawa gadis itu!!” tekannya. Jari telunjukanya mengarah ke Taemin. Yang disembur hanya menatap datar, “Kalaupun kami bisa bertemu, itu bukan salahku kan? Waktunya memang sudah dekat,” kilahnya, “Lagi pula, kalian tidak merasa segan berbicara dengan orang yang baru kalian kenal? Nama saja belum tahu….,” ucapnya acuh tak acuh.

Inyoung mendekat, kucingnya mengikut di kakinya, “Kau Lee Taemin, lahir Seoul 17 tahun yang lalu dan pindah ke Busan lima tahun lalu. Cukup? Kami mengenalmu,” ujarnya dingin. Taemin menaikkan alisnya, “Bagaimana kalian bisa tahu? Kalian paranormal?” tanyanya membelalak dengan nada canda. Inyoung hanya mendengus kesal, “Itu tertulis jelas di wajahmu!” ketusnya.

Tangan Inyoung mendorong Taemin ke belakang sampai lelaki itu hampir jatuh terjerembab. Sayangnya kaki Taemin malah menginjak ekor kucing gadis serba hitam itu, membuat kucing tersebut mengeyong keras lalu berlari kencang ke arah jalan. Sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah makhluk kecil bertaring itu, sementara si kucing tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. “TTIIIIINNN!!!” Suara klakson motor itu terdengar nyaring.

“Noir!!” Inyoung meneriakkan nama kucingnya. Ia terlalu jauh untuk menyelamatkan kucingnya. “Mati aku!” pikirnya panik.

Hanya dalam beberapa detik, Ahra datang dan menyelamatkan makhluk kecil itu. Sepertinya ia memang sedang berada tak jauh dari sana. Inyoung terpatung di tempatnya, menatap tak percaya ke arah Ahra dan kucingnya yang masih selamat di gendongan gadis berkacamata itu. Setelah sadar dari ketidakpercayaannya, Inyoung langsung berlari kencang menuju keduanya. Larinya panik dan penuh dengan tatapan berterima kasih. Taemin dan Minho ia tinggalkan begitu saja.

“Gomawo! Jinja gomawo!” ucap Inyoung berkali-kali. Ia mengambil alih kucingnya dari dekapan Ahra lalu mengelus dan memeluknya penuh rasa sayang. Ahra hanya bisa tersenyum kaku di tempatnya, masih canggung untuk berbicara dengan gadis itu. “Kebetulan tadi aku mendengar ribut-ribut dari luar, makanya aku keluar. Kukira ada yang sedang bertengkar. Waktu mau mendekati kalian, kucing itu hampir tertabrak motor dan…”

“Arasseo. Jinja gomawo,” potong Inyoung, menghentikan semua penjelasan panjang Ahra. Inyoung menatap Ahra dan kucingnya bergantian lalu menghela nafas panjang. “Aku berhutang budi padamu. Kau bisa mengajukan satu permintaan padaku, apa saja sebagai balasan jasamu…,” ucapnya lagi. Ahra memandangnya bingung, “Permintaan?”

“Ya, tapi aku tidak bisa mengabulkan satu hal, menghidupkan orang mati….”

***

Ahra memutar semua kejadian akhir-akhir ini memang berputar-putar dalam pikirannya. Ia berpangku tangan, mencoba mengingat semuanya. Ada beberapa hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Pertama, kepulangan Taemin yang tiba-tiba. Kedua, sikap Minho dan Inyoung yang tiba-tiba bicara padanya dan tampak benar-benar anti terhadap kehadiran Taemin. Ketiga, permintaan yang ditawarkan Inyoung sebagai balas budi karena aksi penyelamatannya. Ya, semuanya terasa ganjil, tidak normal. Pasti ada kenyataan yang tersembunyi di balik semua ini. Ia menghembuskan nafas kuat-kuat, terlalu lelah dengan semua pemikirannya.

“Wae? Kau sakit?” tanya Taemin yang tengah berjalan di sampingnya. Ahra menoleh lalu menggeleng pelan seraya tersenyum, “Ani. Gwaenchana, aku hanya agak lelah…” jawabnya. Taemin tampak khawatir, “Lebih baik kau banyak-banyak beristirahat. Bisa saja hal yang buruk terjadi padamu saat kau kelelahan…,” cerocosnya. Keduanya memang sedang berjalan kaki menuju sekolah Ahra. Satu hal lagi yang Ahra sadari, keduanya tidak pernah naik transportasi karena Taemin selalu memintanya untuk jalan kaki. Taemin juga mengantar jemputnya selama ia berada di Seoul, dan selalu jalan kaki. Aneh. Setahu Ahra, rumah nenek Taemin cukup jauh dari rumahnya.

Ada perasaan aneh yang menerpa hati gadis itu. Entah kenapa ia ingin menghindari Taemin untuk sementara waktu, setidaknya untuk menata pikirannya agar dapat mencerna apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini. “Taemin…,” panggilnya. Taemin menoleh, “Ng?”

“Nanti nggak usah jemput Ahra dulu. Hari ini ada les di sekolah…,” bohongnya, “Kita ketemu di tempat biasa saja, ara?”
Taemin mengingat tempat yang dimaksud Ahra. Sebuah gedung tua yang jarang didatangi orang. Di samping bangunan itu terdapat banyak besi-besi tua penuh karat. Sebenarnya tempat itu cukup bahaya untuk didatangi, tapi itulah tempat penuh kenangan bagi keduanya. Lelaki itu menganggguk, “Baiklah, nanti aku tunggu di sana.”

Keduanya sampai di depan sekolah Ahra dan berpisah di sana. Ahra memandang punggung Taemin yang mulai menjauh. Insting kewanitaannya berkata kalau dia harus menghindari Taemin untuk saat ini dan seterusnya…

***

Gundah. Itu yang terus dirasakan Ahra seharian ini. Gerimis yang semakin deras membasahi dirinya tak lagi ia pikirkan. Ia hanya ragu untuk menemui Taemin. Perasaannya tak enak, dia yakin akan hal itu. Seakan ada dorongan untuk pulang begitu saja tanpa menemui sahabatnya itu. Tapi janji adalah janji dan dia tidak suka ingkar janji. Mau tak mau kakinya terus melangkah menuju bangunan tua itu.

“Agassi!”

Gadis itu menoleh. Ahjumma penjaga warung tempat ia makan bersama Taemin dua hari lalu menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh. Ahra memandangnya heran. Sudah lama ia kenal ibu itu dan baru kali ini ia melihatnya seheboh itu. “Waeguraeyo, ahjumma?”

“Kau tampak sangat aneh saat terakhir makan di warungku!” cerocos ahjumma bertubuh tambun itu langsung. Ahra mengerutkan alisnya, “Aneh bagaimana? Sepertinya semua normal, tidak ada yang aneh.”

“Kau bicara sendiri, tertawa sendiri… Kau membuat pelangganku pergi karena mereka mengira kau gila,” ahjumma itu menghentikan ucapannya, tubuhnya agak bergidik menjauhi Ahra, “…kau belum gila kan?” tanyanya takut-takut.

Ahra tertawa canggung, “Ahjumma bercanda kan? Waktu itu aku datang bersama ttemanku. Ahjumma juga kenal Lee Taemin, bukan?” ucapnya tak percaya. Kali ini ahjumma itu mengerutkan keningnya, semakin menambah banyak jumlah kerutan di wajah letihnya, “Aku lihat sendiri kalau kau datang sendirian, terus berbicara sendiri, tertawa sendiri seperti orang gila!!”

“Tapi…”

“Pokoknya jangan datang ke warung ku lagi kalau kau masih gila! Nanti semua pelangganku bisa lari ketakutan karena tingkahmu!” tandas wanita itu mengakhiri pembicaraan. Dengan langkah takut-takut ia menjauhi Ahra yang masih terbengong bingung. Bertambah lagi hal aneh yang terjadi padanya.

“Aku yakin bersama Taemin saat itu. Tapi kenapa…?” Ahra semakin gundah. Kepalanya semakin sakit memikirkan semuanya. Langkahnya melambat, dirinya sudah semakin dekat dengan gedung tua tujuannya. Tapi hatinya semakin ragu untuk datang ke sana.

“Haruskah aku datang ke sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah aku sampai di sana? Bagaimana kalau ternyata Taemin sudah berubah menjadi orang jahat? Bagaimana kalau…,” semua pikiran negatif berseliweran di kepalanya. Semakin ia melangkah, semakin berat hati dan pikirannya. Tanpa ia sadari ia sudah sampai di tempat itu.

Ahra menghela nafas panjang, menghimpun kembali semua keinginannya untuk bertemu Taemin. “Setidaknya aku ingin menemuinya untuk terakhir kali…,” lirihnya dalam hati.

Ahra melangkah ke dalam pekarangan tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat, tapi ia sama sekali tak menemui sosok Taemin. Yang ditangkap matanya malah betapa seramnya keadaan tempat yang ia datangi itu sekarang. Hari sudah beranjak sore dan langit mulai gelap. Suara kendaraan terdengar sepi berlalu lalang. Ahra menelan ludahnya. Rasa takut semakin memeluk dirinya.

“Sudah kukatakan, jauhi dia.”

Ahra menoleh ke balik dinding kusam yang tak jauh darinya. Ia mengenal suara itu, suara Minho. Gadis itu melangkah mendekati tempat itu. “Sirheo,” kali ini suara Taemin yang kedengaran. Entah kenapa Ahra merasa lega, setidaknya ia tidak sendirian menghadapi lelaki kaku itu. Ia hendak mendekati orang-orang itu.

“Kau hantu, kau tahu?! Kau seharusnya tidak ada di sini!! Jangan ganggu dia!!” kali ini pekikan Inyoung berhasil membuat langkah Ahra terhenti. Tubuhnya menegang kaku dan suhu tubuhnya mendingin. Perlahan bulu kuduknya berdiri. Matanya terbelalak lebar dengan mulut yang meenganga tanpa sadar. ‘Hantu’? Itu bohong kan?

“Iya! Kalau aku hantu, memangnya kenapa?! Aku tidak mengganggu kalian. Kalian juga bukan manusia biasa kan? Jangan sok hanya karena kalian masih hidup!!” kali ini Taemin yang menyemburkan semua kekesalannya. Dan saat semua kalimat Taemin selesai, tubuh Ahra benar-benar lemas. Kakinya tak mampu menopang berat badannya lagi.

“Kami hanya ingin menyadarkanmu,” terdengar suara tenang Minho, “Alammu bukan di sini lagi. Kau bisa mengacaukan hidupnya kalau kau terus muncul di depannya…” Tak ada sahutan balik dari Taemin, yang terdengar malah suara kerasa decakan Inyoung, “Kami memang bukan manusia biasa. Aku penyihir sementara Minho memang bisa melihat hantu sejak masih kecil. Kami cuma mau menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan!!” ketusnya, menambah lemas Ahra yang mendengarkan semua pembicaraan mengejutkan tersebut.

“Aku… aku hanya ingin bertemu Ahra untuk yang terakhir kalinya… Aku cuma mau ngelihat senyumnya lagi setelah bertahun-tahun ini tidak menemuinya….. Aku…aku…,” resah Taemin.

“Kau menghancurkannya perlahan. Kau membuatnya tampak gila di mata orang normal,” tandas Minho tajam. “Kalau hanya untuk yang terakhir kalinya, kau takkan pura-pura hidup di matanya sampai sekarang!” tambah Inyoung lagi, “Kecelakaan di Pulau cheju itu memang bukan keinginanmu kan? Itu garisan takdir.” Taemin diam di tempatnya, tak tahu harus berkata apa. Inyoung mendekatinya, mendengus penuh tekanan, “Kebohonganmu jauh lebih menyakitinya dari pada saat kau tak bisa mengucapkan salam terakhirmu padanya. Kebohonganmu.” Ia semakin mendekati Taemin yang terus menundukkan kepalanya, meenatap tanah yang selama ini pura-pura dicercah kakinya. Inyoung mulai berbisik di telinganya, “Tak ada yang tahu apa yang kan terjadi di setiap detik lanjut selama berada di dunia ini. Sama seperti kau yang tak tahu kalau gadis itu sudah menguping pembicaraan kita sejak tadi…”

Taemin langsung mendongak. Matanya menangkap sosok Ahra yang tampak menahan tangis di dekat sebongkah tembok yang mengusam. Inyoung menjauhkan dirinya sambil tersenyum penuh arti melihat Taemin yang langsung mengejar gadis berkacamata itu.

“Kau tahu kalau dia sudah ada di sana sejak tadi, kan?” ujar Minho. Ia melipat tangan di depan dada. Inyoung semakin mengembangkan senyumnya, “Yap. Ada gunanya juga mempelajari sihir walau kau melarangku setengah mati kan? Seseorang harus mengungkapkan kebenaran sebelum dia dianggap gila oleh semua penduduk dunia,” sahut gadis itu santai. Namun ekspresinya berubah perlahan, “Tapi waktu kematiannya semakin dekat sampai dia bisa melihat Taemin sejelas itu. Sudah saatnya bagiku mengabulkan satu permintaannya….”

Gadis itu menghilang dalam sekejap. Minho menoleh ke arah Noir, kucing hitam yang ditinggalkan Inyoung di samping lelaki berkulit gelap itu. Selama ini Inyoung begitu protektif terhadap kucingnya karena binatang peliharaan sudah seperti nyawa kedua bagi penyihir. Minho menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa, “Kapan gadis itu akan berubah?” keluhnya.

“Ahra, dengar aku dulu!” Taemin meraih tangan Ahra dengan susah payah, memaksa gadis itu menghadapnya. Taemin bisa melihat wajah gadis itu sudah basah penuh linangan air mata. Ahra menatapnya sebal, namun ada rasa takut yang tersirat dari matanya. “Lepaskan aku!! Kau membohongiku, Tae!!” pekik gadis itu serak. Air matanya semakin deras, “Pembohooong!!!”

“Ahra-ya!!”

Pekikan Taemin terlambat. Begitu Ahra berhasil melepaskan diri dari pegangan Taemin, tubuhnya langsung menabrak tumpukan besi tua yang tadinya tegak bersandar pada pagar beton tempat itu. Besi-besi itu langsung berjatuhan menimpa tubuh Ahra yang juga terjatuh di atas sebuah pancang besi pendek yang berdiri tegak di depannya. “Kkhh!!” hanya itu suara yang mampu keluar dari bibir Ahra. Darah bermuncratan dari mulut dan sekujur tubuhnya, terutama dari dadanya di mana paru-paru kanannya sudah tertancap besi pendek itu.

“Ahra-ya…,” Taemin mendekati gadis itu. Mata Ahra menangkap samar kaki Taemin yang melayang, tak lagi cercah ke tanah. Taemin melihat kondisi Ahra yang menyedihkan, mendengar nafasnya yang sudah tinggal satu-satu, menyentuh kulitnya yang dipenuhi genangan darah merah pekat.
“Mianhae…,” bisik lelaki itu pelan, “Kalau saja aku tidak ingin menampakkan diriku di hadapanmu, ini tidak akan terjadi…”

“UHUK UHUK UHUK!! Hh..hh..hh..,” Ahra terbatuk beberapa kali yang berebut keluar bersama nafasnya. Taemin semakin cemas. Ia mulai merasa Ahra semakin serupa dengannya, setidaknya itu yang tampak di matanya sekarang, saat tubuh asli Ahra mulai berpisah dengan ruhnya. Ahra sendiri dalam keadaan setengah sadar. Paru-parunya semakin sulit diajak kerja sama mengambil nafas. Sekarang hatinya mencekam. Akankah dia mati sekarang? Apa semua masalah dengan Taemin, Inyoung, dan Minho akan berakhir begitu saja dengan kematiannya? Apa semua cita-cita tentang masa depannya akan lenyap begitu saja? Bagaimana nasibnya saat menghadap Tuhan nanti? Sekarang dia benar-benar takut.

“Takut?” Kali ini telinga Ahra menangkap samar suara dingin Inyoung. Benar saja, gadis nyentrik itu tengah membungkukkan badan dengan wajah menghadapnya. Ia tersenyum tipis, “Cukup menyedihkan untuk kematian seorang gadis baik-baik…,” gumamnya, “Lalu, apa permintaanmu? Aku tidak suka berhutang, terutama pada orang yang sudah mau mati.”

Ahra berusaha keras menarik nafas-nafas panjang, setidaknya agar dia bisa melanjutkan hidupnya sedikit lebih lama. “Ba..gai..mana.. kau.. bisa me..ngabulkan.. permintaanku…?” sahutnya patah-patah. Baru kali ini ia merasa betapa sulitnya bicara sambil mengumpulkan nafas.
“Aku penyihir, kau tahu?” Sahut Inyoung santai. “Cepatlah sebelum malaikat maut benar-benar membawa  jiwamu pergi.”

Ahra memejamkan matanya. Nafasnya hanya tinggal satu-satu. Semua bayangan orang-orang yang berharga baginya terus melintas dan membayangi pikirannya. Ibunya, ayahnya, oppanya, dongsaengnya, teman-temannya, sahabat baiknya, dan satu orang yang terus memenuhi otaknya akhir-akhir ini, Taemin. Senyum Taemin terlintas di otaknya, menghidupkan arus ide di kepalanya. Akhirnya ia menemukan satu permintaan yang tepat untuk diajukan, permintaan yang mewakili seluruh jiwanya untuk saat ini.

“Jadi, apa permintaanmu?”

“…Putar…kem..bali …waktu…sam..pai sa..at di ma..na.. Taemin..belum..mati… Hh..hh..hh.. Agar…aku..bi..sa..menghindar…kannya…dari takdir ini…,” ujar Ahra dengan segenap tenaganya yang tersisa. Inyoung melempar pandangannya pada Taemin yang tertegun dengan isi permintaan Ahra. Inyoung tersenyum, kali ini melembut, “Permintaan yang baik dari gadis baik. Sebenarnya merepotkan kembali mengulang lagi semua hal yang sudah kulakukan, tapi baiklah.”
Telinga Ahra mendengar samar suara Inyoung yang mengucapkan mantra-mantra asing. Hanya beberapa saat dan kemudian gadis itu benar-benar tak lagi sadarkan diri. “Aku hanya ingin menghindari takdir ini… Itu saja…,” lirihnya dalam hati. Dan hening pun menghampirinya.

***

“Ahra, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, benar-benar berisik sejak  tadi!!”
Suara itu suara yang amat dikenali Ahra, suara judes abangnya yang kedengarannya sekarang sudah berdiri di sampingnya. Ahra mengerjapkan matanya, menatap samar sosok abangnya yang masih belum begitu tampak jelas.
“Ne, Oppa? Siapa yang nelpon?” Ahra bangkit dari tidurnya lalu duduk sambil mengucek matanya.
“Mana oppa tahu! Lihat aja sendiri tuh!”
Ahra mengangkat alis, “Aneh, rasanya seperti deja vu…,” batin gadis itu dalam hati. Ia mengangkat telponnya sambil menguap lebar, “Yeobosaeyo?”
Seperti yang Ahra duga, itu Taemin. Sahabatnya itu kembali menelpon setelah sekian lama tidak menghubungnya.
“Apa kabar? Sudah lama kau tidak menghubungiku…”

“Cukup baik. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Pulau Cheju. Kau mau kukirimi oleh-oleh?”
Tidak, Ahra merasa ini tidak benar. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia harus melarang Taemin pergi ke tempat itu. Harus. Kepanikan muncul di hati Ahra. Ada yang harus dihindarinya. Ya, dia harus menghindari nasib buruk yang bisa terjadi nanti. Nasib buruk yang rasanya benar-benar nyata bahkan sebalum ia mengalaminya. Jantung Ahra berdebar keras, nafasnya semakin cepat. Ia harus menghentikan rencana sahabatnya itu.
“Jangan!! Jangan pergi, Tae!!”
________

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

45 thoughts on “Hindar”

  1. ya ya yaaay..
    aku suka ceritanyaa!!!
    jalan ceritanya ringan, tpi tetep nyeremin. untunglah Ahra ngasih permintaan yang menguntungkan ;D
    tapi…Taemin jadi pergi lah ya? namanya takdir gak bisa dihindari, menurutku sih gitu .___.” Tapi menurut Bella gimana? rncananya Taemin pergi ato enggak? xD

    lanjut nulis, Bella!!! apalagi dg genre2 seputar ini ;D

    1. Hmmm… mnrt bella sih tergantung interpretasi pembaca aja. Kan g seru kl semuany dijelasi author. Kekeke….. tp takdir mmg susah dihindari, bhkn hmpr g mgkn.. soo??

      Hehehe, gomawo dah bc n komen, dhila~

  2. Keren banget author, Taem jadi tidak matinya?.
    Ulangi waktu dan jangan pergi, tetap hidup lebih baik.
    Permintaan yang bijak.
    Buat sequel-sequel, lanjutin (ˇ ʃƪ ˇ)​
    Keep writing author (งˆ▽ˆ)ง Ngeri, bayangin AhRa berdarah-darah seperti itu.

    1. Mati g, y… mauny s taemin mati, g??
      Sesuai interpretasi chingu aja, d…

      kkkkkkk….
      Sequel? Kykny lbh baik ditinggali gantung gt, d. Kn lbh asyik jdny…

      Gomawo, Imelia~

  3. Aiiih, ceritanya keren! Cuma, aku agak ngeri ngebayangin Ahra yang berdarah-darah kayak gitu. Yah, sebagai seseorang yang punya phobia darah, otomatis aku langsung lemes… Nggak tahu kenapa, kkk._.V

    Johaeyo, aku suka model cerita kayak gini. Nggak perlu sequel juga nggak apa, ini udah cakep! Tapi kalau mau pake sequel biar lebih jelas juga nggak apa. Keep writing~

    1. Apa Seseram itu ahra yg berdarah2?
      Wah, phobia darah? Siapin kntg muntah aja, hehe

      Iy, genre crt kyk gini kn mmg jarang ddpt. Sequel? Hihi…. joa. Mmg lbh bgs kl g pk sequel biar pembaca lbh bbs menentukan arah crt selanjutny….

      Gomawo, chingu~

  4. udah lama ga baca ffnya Bella nih. Akhirnya bisa baca juga karya terbarunya.
    ide ceritanya bagus nih, Bella b^^d di akhir dibikin gantung gimana gitu. Tapi, menurutku meski Ahra ngelarang Taemin pergi, Taemin pasti ttp bakalan mati dengan cara apa pun. Soalnya kn kalo Taemin ga mati, Ahra ga bakalan dapet kesempatan dari Inyoung buat memutar . Jadi keingetan film Time machine nih.hhe.

    Oia, sekadara masukan. tulisanmu yang ini agak beda dari tulisanmu yang sebelum2nya yah Bella. aku agak gimana gitu dengan penggunaan bahasa tidak baku dalam dialog. Cuma itu aja sih, yang lainnya oKEY ko. Ditunggu karya lainnya b^^d

    1. Eoniiiii….
      Dah lm bgt kykny eonni komen d crt bella.
      Yups, takdir g bs dganti, jd terserah pembaca aja mau lnjt gmn. Time machine? Wah, bella blm prnh nntn tuh.

      Iy, eonn. Cara crtny mmg beda. Abisny bella nulis ini untk tugas b indo wkt sma n diubah secukupnyuntk dikirim k sf3si. Eonni tau aja, d. Kl untk tugas sma, bella g bs pk gaya bhs yg biasa…

      Ok, d, eonn
      Gomawo, eonni~

      1. Iya nih, tapi sayang di ff sini g ada si gantengnya.hhe. ^^v
        iya, Time machine. coba deh kapan2 Bella cari tau film-nya. Keren loh! setting-nya jaman dulu gitu. Jdi pacar si cowo itu mati dibunuh perampok. Trus dy bkin time machine buat balik k hari itu dan nyelametin pacarnya. Tapi, mski lolos dari perampok, si cewe ttp mati dengan cara yang berbeda2.

        .hhe. iya, kn aku reader setianya Bella.biasanya kan Bella bahasanya baku banget.
        oKEY deh Bella, aku tunggu karya2 lainny yaa 😉

        1. si ganteng dsembunyiin utk cerita selanjutny, eonn… *ceritany baru nongol*
          wah, Bella pengen coba bikin cerita kyk gitu, d. seru kayakny… oh, Bella pernah liat review film yg mirip, eonn. judulny Butterfly Effect. hampir2 sama gitu, d….

          sekali2 beda dgn bahasa g baku, eonn^^. tp ternyata susah jg ganti gaya bahasa, makany sempat ttp baku d beberapa sceneny…

          gomawo, eonni ^^

        2. Iya, udah disembunyikan, dimayatkan lagi *mau protes sama Bella* >.<
          Iya, ayo dicoba deh Bella. pasti menarik.
          Butterfly effect aku udh nonton beberapa kali dan seru banget! sama ada lagi Bella, judlunya Frequency, mesin2 waktuan gitu. tapi seru banget b^^d

          Kalau bahasa ga baku, aku kesannya berasa lagi baca teenlit apa cheeklit gitu. heheh.
          tapi menurutku, Bella lebih bagus pake bahasa yang baku kaya biasanya.
          Nah, aku nantikan lagi karya lainnya yaa 😉

  5. ni ff lama, ya? aku sih cukup merinding, meskipun dari awal tahu taem itu hantu. ceritanya itu mirip sama cerita mana gtu, saya juga lupa, tapi endingnya beda. mirip pas bagian mereka pergi ke warung trus ibunya bilang begitu. tapi rada aneh juga sih, tiba-tiba ibu warung dateng trus ngomel-ngomel. klo di cerita yang aku tonton itu justru orang itu yang nanyain tentang orang yang dateng bareng dia.
    mungkin saya terlalu sering liat cerita modelan kayak gini di tv jadi kurang srek. tapi aku setia menunggu cerita selanjutnya dari bella….

    1. iy, ff ini kubuat d zaman2 SMA waktu tugas bahasa indonesia n diubah seperluny utk jadi FF. sukses ngebuat merinding disko? hihihi…
      hmmm… alnya kmrn deadline ceritanya cuma 2 hari jadi yg kepikiran tuh si ibu marah2 aja, kebayangnya d korea kan ahjummanya cerewet2 gimanaaa gitu… mian kalo jadi gaje gt….

      hmmm, sering liat d tv? maklum author jarang nntn tv utk nntn cerita2 indo, jd kurang bgt tau. tapi it’s ok…

      gomawo, Hana~~

      1. negbaca cerita ini lagi tapi dengan aktor yg berbeda,, serius,,agak susah bel.. apalagi ngebayangi awalnya si ini trus jd taemin, dan si itu trus jd minho.. (?) haha..

        1. kkk…. aq g nyangka Arfa baca Hindar jenis yg ini… hahahaha…

          mmg kl dibandingin sama si ini dan si itu mah nggak cocok banget, y? hahahaha…

    1. gomawo, Swanty.
      kan jarang Taetaem jadi hantu, iy g? haha…

      sequel? kayaknya bagusan nih cerita gantung aja supaya pas gt. kalo ada sequelny jadi kurang seru, kn?

  6. Thor,sequel dong.FFnya keren.Itu jadi Ahra selama ini dianggap gila dong sama yang ngeliat dia ngomong sama arwahnya Taemin? O.O Keren ya,ada penyihir.

    1. hihihihi…. iy, selama ini Ahra dianggap rada gila ama orang2 yg ngeliat dia, kecuali Inyoung dan Minho tentunya.
      sequel? author rasa ceritanya udh pas dsini aja, g cocok kl dlanjutin. tergantung persepsi readers aja nih cerita jadi gmn…

      gomawo, Rae Ah-ssi~~^^

  7. Sejak awal sudah ngerasa Taemin bakal kecelakaan dan menghantui Ahra~ tapi syukur deh mereka berdua nggak jadi mati 🙂

    Nice, keep writing ^^

  8. Bacanya dagdigdug nahan tangis karna taem gue udh gak ada, tp ada lg hihi keren bgt author nya daebak deh!!

    1. wah, awas kena serangan jantung tuh… jangan sedih, y… walau tetemny udh jd arwah, dia ttp baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong…#plaaakkk

      gomawo, Vidya-ssi~~

  9. Aaaaaa chingu-yaaa
    Hanbuteo nanar sseo isseo sseo ne ? *inget” lirik lagunya onew*
    *Ya pasti karena FF ini lah !*aku nangisnya sampe mau triak” gtu cuma di tahan, soalnya lagi pada tidur. trs nangis waktu ahra minta permintaan, dia baik banget.
    Tadinya ku kira dia bakal minta buat sama sama taemin di kehidupan yg selanjutnya, tapi engga. Keren thor FFnya berhasil buat aku nangis, soalnya aku bukan orang yg gampang terbawa suasana gitu ._. Ah kayanya kebanyakan nih commentnya udah deh.

  10. Aaaaa ini keren! Cara kalimatnya pas dalam latarnya. Tapi menurutku masih aneh pas baca hantu gitu. Hihi aneh aja, sama pas Ahra mati terkesan dipaksa(?).-.
    Tapi it’s oKEY, ini keren kok. Ndak oong(?) deh -_-v
    Keep write anyway 😀

  11. Walaupun aku masih ngerasa aneh tentang fanfic supranatural dan kawan kawannya, but this one: SUKA.BANGET.BANGET.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s