The Destiny – Part 6

The Destiny [Part 6]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : Mendengar suara yang memanggilnya Kibum segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk melihat rumput yang tampak gelap. Ia melihat gadis itu menghampirinya, membuatnya terkejut dan harus berlari menjauh.

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

“Jinki, ada apa?” tanya Jonghyun yang masih berusaha menahan Jinki dari rontaannya.

“Si Berengsek itu mencium yeojacingu-ku!” teriak Jinki sejadi-jadinya.

Semua mata sontak menatap Kibum dengan serius, termasuk Minho yang berada tepat di samping Kibum. Tetapi Kibum tetap dalam tundukkannya. Ia tidak berani menatap mata-mata itu.

Jinki sudah berhenti memberontak, sedangkan pegangan Taemin dan Jonghyun pada lengan Jinki pun mulai mengendur. “Lepaskan!” lirih Jinki mulai menteskan air matanya satu persatu.

Taemin dan Jonghyun melepaskan Jinki yang mereka rasa sudah lebih tenang. Seketika Jinki bersimpuh di tempatnya. Ia menangis mengingat kejadian yang ia lihat kemarin. Kejadian yang membuat hatinya terasa terbakar dan sangat perih. Ia takkan lupa. Itu terlalu menyakitkan baginya. Bukan hanya melihat gadisnya dicium di hadapannya, tetapi karena ia tidak bisa menjaganya dengan baik.

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Melihat Si Berengsek itu menciumnya di hadapanku. Rika pingsan dan tengah sakit sekarang. Bahkan sejak kemarin ia tidak mau lagi bicara padaku. Dia pasti marah padaku karena aku yang tidak bisa menjaganya. Harusnya aku datang lebih cepat. Harusnya aku tahu kalau Kibum adalah penghianat!!”

Jinki menangis lagi. Ia merunduk dalam. Kali ini terdengar lebih keras dan terdengar semakin lirih.

“Hyung.” Taemin ikut terduduk dan menggengam erat tangan Jinki. Menatap hyung-nya dengan pandangan kasihan. Sedangkan Jonghyun yang masih berdiri di tempatnya menatap Kibum tajam penuh permusuhan. Minho pun yang berada di sisi Kibum juga memberikan tatapannya. Tatapan marah dan kecewa.

“Kenapa kamu jadi begini, Kibum?”

“Aku ….” Kibum tidak dapat menjawab pertanyaan Minho. Ia terlalu malu.

Merasa kecewa dengan tingkah sahabatnya …, ah, salah. Sepertinya Minho sudah tidak lagi menganggapnya begitu. Minho melangkah menuju Jinki tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia mengekori Taemin dan Jonghyun yang masih berusaha menenangkan Jinki dalam langkah mereka.

Kibum menjatuhkan dirinya pada rerumputan. Lututnya terasa lemas. Ia melihat sahabat-sahabatnya membenci dan meninggalkannya sendirian. Sekarang, apa lagi yang tersisa?

______

Sepasang kaki baru saja menginjakkan diri pada trotoir jalan. Melangkah perlahan menuju sebuah taman. Sesaat ia menghentikan langkahnya dan menatap sebuah jendela. Tatapan yang sangat menyedihkan. Namja itu terduduk di bawah pohon dan memeluk lututnya. Menatap kembali jendela itu dengan dagu yang ia sandarkan pada lututnya. Untuk kali ini langit sedikit memberinya belas kasihan. Dengan awan hitamnya yang terus menahan air agar tak membasahinya. Ya, Kibum memang terus berdoa agar hujan tak lekas turun.

Tidak lama kemudian datang sekelompok orang dengan sebuah mobil dan sebuah motor. Ia kenal kendaraan-kendaraan tersebut. Mobil Jonghyun dan motor Jinki. Tidak banyak waktu yang Kibum punya untuk memperhatikan mereka. Hanya beberapa detik berlalu kelimanya telah hilang di balik pintu.

Sesekali Kibum menatap langit merah di atasnya. Namun, bahkan belum sampai langit menjadi benar-benar gelap—mereka telah melalui pintu itu kembali. Dari tempatnya ia melihat Jinki sangat sedih dalam tundukannya, sedangkan yang lain berwajah kecewa. Dari tempatnya duduk hanya itulah yang bisa ia tangkap. Tidak termasuk kata-kata yang keluar dari bibir mereka.

Jinki mendesah. “Aku benar, kan? Dia pasti marah padaku.”

“Kenapa bicara seperti itu, Hyung? Bukankah Rika eomma mengatakan dia sedang tidur?”

“Aku tahu kamu tidak bodoh, Minho. Jangan mengatakan hal itu untuk menghiburku. Aku tahu kalian sadar bahwa Rika eomma mengatakan hal itu agar tidak melukai perasaan kita. Aku tahu Rika tidak mau bertemu denganku.”

“Tapi Hyung, Rika Noona bukanlah orang seperti itu. Aku yakin dia pasti punya alasan sendiri,” bantah Taemin.

“Aku rasa Taemin benar,” timpal Jonghyun.

“Mungkin harusnya aku tidak ikut. Pasti dia masih marah padaku. Mungkin karena dia tidak mau bertemu denganku makanya dia tidak bisa bertemu dengan kalian juga,” ujar Jungeun sedih dalam tundukkannya.

“Yah, dia tidak marah padamu. Dia bilang sendiri padaku, dia merasa bersalah padamu,” bantah Minho.

“Jeongmal?”

“Hm.” Minho mengangguk.

 

“Sebaiknya kita datang lagi besok. Mungkin besok dia akan berubah pikiran,” saran Jonghyun.

Yang lainnya mengangguk kemudian pergi dengan kendaraan mereka—meninggalkan Kibum yang bahkan tidak mereka sadari keberadaannya. Kibum mengalihkan kembali pandangannya pada jendela. Dan ketika bulan muncul ia melihat seorang gadis duduk di atas jendelanya dan melihat ke arah langit malam. Menatap bulan dan bintang yang bertebaran bagai berlian di atas pasir hitam. Begitu indah.

Kibum sesaat terkejut. Wajahnya tampak sedih menatap ekspresi Rika yang tidak jauh berbeda dengan ekspresinya saat ini. Semburat senyum getir muncul tanpa ia sadari. Muncul ketika ia mengingat masa-masa Rika tersenyum dan tertawa di kelas. Ia sangat suka ketika gadis itu tertawa dan tersenyum, meski itu bukan untuknya. Ia sadar bahwa dialah yang menghapuskan ekspresi itu dari wajah manisnya saat ini.

______

Kibum memasuki ruang kelasnya. Sesaat langkahnya terhenti ketika pandangannya menangkap tatapan aneh dari penjuru kelas yang mengarah kepadanya. Bisikan-bisikan tidak tentu menggelitik telinganya. Sesaat pula ia menatap kursi Minho yang telah ditinggal penghuninya. Kini namja cuek itu telah bertransmigrasi ke tempat duduk kosong di samping Jungeun. Kibum menunduk dan menghela dalam langkahnya yang terasa begitu berat.

Bahkan ketika ia duduk tetap saja tatapan serta bisikan tidak berhenti mengarah kepadanya. Ia tidak tahu apa yang mereka dengar atau mereka bicarakan. Mereka hanya mengumbar gosip dan tuduhan tidak berdasar di belakangnya. Mencaci dan merutukinya tanpa perlu mengklarifikasi. Kibum hanya menghela napas dan memejamkan matanya untuk beberapa saat. Berharap dengan hal kecil yang ia lakukan bisa memberinya sedikit kesabaran.

______

Di dalam kelas itu tersisa empat namja. Yang lainnya telah meninggalkan kelas ketika bel telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kibum adalah salah satu dari mereka. Ia tengah sibuk bersiap meninggalkan kelas, sedangkan sisanya tengah berkasak-kusuk dengan sunggingan senyum nakalnya. Menatap Kibum dengan wajah penuh ketertarikkan.

Kibum beranjak dari tempatnya. Sama seperti ketiga temannya yang mengikutinya dari belakang. Memasuki tempat sepi tiga namja itu berjalan lebih  cepat dan menghampiri Kibum.

“Kibum!”

Kibum menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia tidak bicara, hanya memberikan tatapan polos pada teman-temannya.

“Yah, mulai kapan kamu melakukannya?” Jungseo merangkul Kibum dan tersenyum kepadanya.

Kibum mengernyit. “Melakukan apa?”

“Ah, kamu ini. Jangan pura-pura polos. Seisi sekolah sudah tahu, kok,” cetus Youngseok.

“Hah?”

“Kamu tidur dengan Rika, kan? Aku dengar dia hamil, makanya dia tidak masuk sekolah,” ujar Yunjae.

Kibum menghela napas berat. “Aku tidak tidur dengannya! Rika tidak hamil. Dia sedang sakit, dan dia ….”

“Dia apa?” tanya Jungseo.

“Dia itu membenciku. Jadi, itu tidak mungkin itu terjadi pada kami.” Kibum masih berusaha bersabar.

“Jeongmal? Lalu kenapa Jinki Hyung sangat marah padamu, dan teman-temanmu juga? Aku dengar beberapa hari yang lalu Rika pingsan di kelas. Aku rasa ada hubungannya dengan itu,” ujar Yunjae.

Kibum menunduk dalam dan menggigit pelan bibir bawahnya. “Itu …, aku….”

“Itu urusan kami dan bukan urusan kalian! Jika kalian tahu, apa yang akan kalian lakukan? Menyebarkannya ke seisi sekolah, hah?!” bentak seseorang yang tengah berjalan menghampiri mereka.

“Jong Hyung,” gumam Kibum terkejut.

Jonghyun telah berdiri di sekitar mereka dan menatap sinis ketiga teman Kibum itu. “Kalian tidak lapar? Atau makanan kalian adalah gosip?”

Ketiganya berdecak kesal kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Kibum merunduk dalam di tempatnya.

Jonghyun menghela panjang. “Jangan berpikir aku membelamu hanya karena kita sepupu. Aku hanya kasihan melihatmu yang berubah menjadi begitu menyedihkan seperti ini.”

“Gwenchanayo.”

 

Jonghyun berlalu tanpa berkata sepatah kata pun. Berjalan menuju kantin. Meninggalkan Kibum yang masih terpaku di tempatnya penuh pikiran.

______

Saat ini langit terlihat sangat teduh dalam kegelapan yang hampir menyelimuti seluruh langit yang bisa ia tatap. Kibum memandang langit yang berubah warna untuk hari ini, dari biru menjadi merah dan berubah gelap dengan berlian yang tergantung diatasnya. Hanya untuk menghibur diri dari rasa sesaknya. Jika dunia marah padanya, ia harap tidak begitu dengan langit untuk hari ini. Setidaknya tetaplah cerah ketika ia menunggu di bawah pohon seperti saat ini. Tidak kehujanan di musim semi ini seperti bebebrapa hari yang lalu.

Kali ini jangkrik dan katak yang selalu setia menemaninya—yang tetap setia mengeluarkan melodinya—menjadi pengiring dalam penantiannya yang baginya adalah kesia-siaan. Sesekali mendesah dan sesekali berkaca-kaca. Menatap jendela yang begitu rendah hatinya selalu terbuka untuknya, hingga setidaknya ia tahu, gadis itu ada di dalam sana.

Seperti malam sebelumnya, Jinki dan yang lain datang. Masih berharap Rika mau berbicara dengan salah satu dari mereka.

“Rika,” panggil ibunya yang kini telah berada di dalam kamarnya.

Rika yang tengah meletakkan tubuhnya di atas kasur tidak merespon. Ia lebih memilih tetap memandang langit dari tempatnya berada. Meski hanya terlihat dalam bentuk persegi panjang dan tidak besar.

“Jangan begitu, Sayang. Mama tidak mungkin berbohong lagi pada mereka.”

Rika duduk dan menatap ibunya. “Aku …,baiklah. Biarkan Jungeun masuk, dan minta yang lain untuk menunggu.”

Nyonya Wibowo tersenyum tipis mendapat jawaban bijak dari anaknya. Wanita itu keluar dan beberapa saat kemudian berganti dengan wanita yang jauh lebih muda. Gadis yang selalu ia lihat setiap pagi di sekolah barunya.

Jungeun terlihat kikuk di tempatnya berdiri.

“Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf padamu, Rika. Tidak seharusnya aku membela Kibum. Tidak seharusnya hanya karena dia kita menjadi seperti ini.”

“Jadi, kalian sudah tahu. Jungeun, kamu melakukan hal yang benar. Semua ini memang kesalahanku. Aku senang ada teman yang mau menegur dan menasihatiku di saat aku salah. Itu berarti kamu peduli padaku.”

Jungeun berkaca-kaca dan tidak sampai satu menit gadis itu menangis.

“Hai, jangan menangis. Duduklah bersamaku di sini!” Rika seraya bergeser ke tepi ranjang dan menepuk-nepuk pelan tempat di sampingnya.

Jungeun menurut dan menatapi wajah Rika yang tampak sedikit muram. “Kau baik-baik saja?”

Rika mengangguk kemudian mereka terdiam sebentar.

“Kibum. Apa hari ini Kibum tidak ikut juga?”

 

“Tahu dari mana dia tidak ikut?”

 

“Dari jendela. Aku bisa melihat kalian dari sana.” Rika menunjuk ke arah jendela yang masih terbuka.

Jungeun mengangguk. “Kau masih mau bertemu dengannya? Bukankah dia yang membuatmu sakit seperti ini? Kamu tidak marah padanya?”

 

“Marah? Aku tidak pantas marah. Bukankah ada peribahasa ‘siapa yang menabur dialah yang menuai?’ Itu benar-benar terjadi padaku, kamu tahu?”

Jungeun terdiam mendengar cerita sahabatnya.

“Kibum melakukannya karena dia marah padaku. Dia merasa aku permainkan karena aku tetap tidak peduli pada kata-katanya, padahal ia yang lebih dahulu mengatakannya padaku. Dia memintaku menunggunya, tapi keesokkannya dia malah mendengar hubunganku dengan Oppa. Aku tidak tahu seberapa menyakitkannya, tapi pasti sangat menyakitkan.”

 

“Memang apa yang terjadi saat itu? Kenapa kamu membiarkan dia menciummu?”

 

Rika menunduk dalam. “Aku hanya terlalu takut padanya. Aku tidak tahu, tapi tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.” Wajah Rika terlihat semakin sedih.

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu mengingatnya.”

 

“Tidak apa. Lalu bagaimana dengan Kibum?”

 

“ Orang-orang menjauhinya, begitu juga Jinki Sunbae, Jonghyun Sunbae, Minho dan Taemin. Beredar gosip kamu tidak masuk sekolah karena kamu sedang hamil karena Kibum. Itu sangat lucu, kan?”

 

“Itu sama sekali tidak lucu, Jungeun. Kibum pasti sangat kesepian. Aku membawa masalah besar untuknya. Aku minta kamu jangan jauhi dia juga, ya? Dia sama sekali tidak bersalah.”

 

“Iya.”

 

“Kalau begitu ayo kita ke bawah! Yang lainya pasti sudah menunggu kita.”

 

“Tentu saja. Mereka pasti senang melihatmu.”

______

Rika berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju jendelanya. Dari tempat itu ia melihat teman-temannya pergi meninggalkannya. Ia memikirkan Kibum untuk kesekian kalinya. Setelah kejadian itu otaknya selalu dipenuhi Kibum, dan setelah mendengar apa yang menimpa namja itu ia semakin tidak bisa untuk berhenti memikirkannya, tetapi …, Jinki. Ia menyesali dirinya yang tidak memikirkan namja itu. Ia tidak tahu jika Jinki juga terluka sepertinya. Ia menyesali semuanya.

Rika menghela entah untuk yang keberapa kalinya, dan sekarang tatapannya entah kenapa menuju tempat gelap yang minim dengan penerangan itu. Taman kecil di seberang rumahnya. Ia menatap sosok namja yang tengah menatap jalanan. Wajahnya memanglah tidak tampak jelas, tapi hanya dengan melihatnya sekilas, ia tahu. Ia tahu itu adalah Kibum.

“Apa …, apa yang ia lakukan di sana? Sejak kapan? Kibum ….”

Gadis itu segera berlari ke lantai bawah—pergi keluar dari dalam rumahnya yang nyaman tanpa alas kaki ataupun jaket yang bisa melindunginya dari hawa dingin malam. Ia tidak mau kehilangan orang itu. Ia terlalu merasa bersalah. Karena itu ia berlari. Berlari semampu yang ia bisa.

“Kibum!”

Mendengar suara yang memanggilnya Kibum segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk melihat rumput yang tampak gelap. Ia melihat Rika menghampirinya. Membuatnya terkejut dan berlari menjauh.

“Berhenti Kibum!” teriak Rika yang tengah mengejar.

Kibum berhenti. Meski berkali-kali tersakiti entah kenapa ia masih saja menuruti perkataan gadis yang kini berhenti tepat di belakangnya. Tubuhnya menegang dan ia takut. Takut kata-kata kasar dan caci maki keluar dari bibir Rika. Takut pada kebencian yang akan diberikan kepadanya. Ia terlalu takut menerima semuanya. Baginya kebencian dari seisi sekolah itu sudah cukup. Ia mengepal tangannya kuat.

“Mianhaeyo.”

Seketika otot-otot Kibum lemas. Matanya terbelalak.

“Jeongmal mianhaeyo.”

Mata Kibum berubah panas. Ia meremas dadanya dan merunduk ketika air matanya mulai berjatuhan. Itu sangat menyakitkan. Kata-kata itu sangat menyakitkan. Lebih menyaktikan dari makian. Serasa menusuk hati Kibum begitu dalam. Bukankah seharusnya ia yang mengatakannya lebih dulu. Tapi bagaimana bisa? Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk mendekati Rika. Ia tidak tahan melihat wajah Rika yang terlihat muram. Itu membuatnya sedih dan semakin menenggelamkannya dalam jurang penyesalan.

Rika berjalan perlahan menghampiri Kibum yang masih mematung. Telapak kaki yang merasakan dingin dari rumput yang ia injak sama sekali bukan masalah. Berdiri di hadapan Kibum. Tapi sayang, ia masih tidak bisa menatap wajah Kibum. Namja itu masih tidak mau menatap matanya. Tetap berada di dalam tundukannya yang berkelanjutan.

“Aku mohon maafkan aku.” Rika berbicara dengan lirih. Terdengar rasa penyesalan yang dalam, tapi itu tidak cukup membuat Kibum mau menatapnya. “Kamu tidak mau memaafkan aku? Ah, bodohnya aku. Kenapa bertanya lagi. Aku memang jahat dan keterlaluan. Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Harusnya aku tahu diri.”

“Harusnya aku yang meminta maaf padamu! Aku sudah melukaimu, Rika. Aku bahkan telah membuatmu sakit seperti ini.” Ia mulai mengangkat kepalanya menatap Rika. Membiarkan gadis itu melihat bekas-bekas tangisan di pipi putihnya.

Rika tersenyum lembut. “Aku memang pantas mendapatkannya. Karena aku yang lebih dahulu melukaimu.”

Kata-kata itu rasanya membuat pedang di hatinya tertancap semakin dalam dan meradang, karena itu Kibum menangis lagi setelah lama berusaha menahan air matanya sekuat tenaga.

“Kenapa kamu mengatakan hal itu, Rika? Itu membuatku semakin merasa bersalah. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar jahat.”

“Bisakah kamu memberikanku satu kesempatan untukku, Kibum?”

Kibum memandang Rika dengan alis bertaut.

Rika menyeka air matanya yang hampir meluap dan berusaha menjadi lebih tenang. “Meskipun aku tidak bisa menjadi kekasihmu seperti yang kamu inginkan. Tetapi setidaknya aku ingin menjadi orang yang dekat denganmu. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin menebus semua sakit hatimu. Bisakah aku menjadi sahabatmu?”

“ Tidak.” Jawaban Kibum sontak menimbulkan semburat kekecewan yang dalam pada raut wajah Rika.

“Aku yang akan membuatmu bahagia. Aku bahkan tidak akan membiarkan seorang namja pun melukaimu, termasuk Jinki Hyung,” lanjut Kibum membuat Rika terkekeh. Ia baru saja berpikir macam-macam. Berpikir ia tidak akan pernah bisa menebus kesalahannya.

Saat ini mereka bisa melepas semua beban yang ada di hati mereka. Semua terasa jauh lebih ringan bagi mereka sekarang. Kibum tersenyum kepada Rika.

“Kibum, kamu mengambil ciuman pertamaku.”

“Mwo?!”

______

Taemin mengetuk beberapa kali pintu kamar Jinki kemudian masuk. Dilihatnya Jinki tengah menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Ia terlihat tidak bersemangat. Sedangkan tangannya menatap foto yang berada di dalam dompetnya. Ia mendesah.

 

“Hyung, belum tidur?” Taemin berdiri di depan pintu yang setengah terbuka, kemudian berjalan menuju tepi ranjang Jinki.

Jinki menutup dompetnya dan menaruhnya sembarang di atas meja kecil di samping ranjangnya.

“Kenapa muram? Bukankah Hyung sekarang sudah berbaikan dengan Rika Noona? Apa ada masalah lain?”

“Taemin, jika kamu berada di posisiku apa kamu bisa memaafkan Kibum?”

“Sekarang saja sudah sulit memaafkannya, meski sebenarnya aku ingin. Kibum Hyung terlihat sangat menyedihkan setelah kejadian itu. Tetapi tetap saja, ketika aku mengingat apa yang ia lakukan pada Rika Noona aku menjadi marah sekali.”

“Jika Rika yang memintamu?”

“Itu …, aku tidak tahu. Apa Rika Noona memintamu memaafkan Kibum Hyung?”

Jinki tidak memberi respon.

“Taemin, apa mungkin Rika menyukai Kibum? Aku sungguh tidak percaya dia bisa memaafkannya semudah itu.”

Hyung, pemikiranmu selalu berlebihan belakangan ini. Berpikir positif lah sesekali.”

-Flashback-

“Bisakah Oppa memaafkan Kibum?”

“Mwo?”

“Bisakah Oppa melupakan semua yang terjadi dan bersahabat lagi dengannya seperti dulu?”

Chagiya, bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Apa kamu tidak marah? Kenapa kau …. Dia sudah ….” Jinki sudah tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Rasanya otaknya buntu ketika mendengar permintaan Rika barusan. Kalimat yang secara tidak langsung memberitahunya bahwa Rika telah memaafkan Kibum sepenuhnya.

“Oppa, aku yang telah membuatnya begitu. Aku tahu bahwa Oppa juga mengetahui perasaan Kibum padaku sejak pertama kali kita bertemu, kan? Sebagai orang yang sangat dekat, Oppa pasti menyadarinya lebih cepat. Lebih cepat dari pada diriku. Bisakah Oppa mengerti perasaanya? Dia sangat terluka karena aku.”

“Bisakah kamu mengerti perasaanku?” Jinki memutar pertanyaannya membuat Rika tidak menjawab, karena ia tidak tahu apa yang Jinki rasakan selain kemarahannya pada Kibum, dan ia yakin itu bukanlah jawaban yang tepat.

“Kamu tidak mengerti perasaanku? Aku memang marah pada Kibum. Aku sangat marah padanya bahkan serasa ingin membunuhnya. Tapi …, tapi aku jauh lebih marah pada diriku sendiri. Aku marah karena tidak bisa mengenal Kibum lebih baik. Aku marah karena aku tidak bisa menghindari apa yang seharusnya bisa dihindari. Aku yang tahu perasaan Kibum ingin dia menjauhimu. Aku ingin ia tahu kamu orang yang aku cinta. Aku pikir …, aku pikir kamu marah padaku karena kamu tidak mau bicara dan melihatku. Aku pikir aku adalah namjacingu yang tidak berguna!”

Sesak. Rasanya sesak. Rika menunduk dalam. Ia teringat apa yang telah ia pikirkan selama beberapa hari ini. Hanya Kibum dan Kibum. Tidak ada ruang di kepalanya lagi, bahkan untuk namjacingu-nya sendiri. Ia menyesal. Begitu merasa bersalah.

“Oppa, jeongmal mianhaeyo.”

 

“Rika, aku minta maaf. Aku sungguh tidak bisa. Aku tidak bisa memaafkan Kibum. Dia terlalu membuatku tersiksa. Membuatku tidak bisa tidur, makan atau belajar. Otakku selalu dipenuhi dia dan kamu. Aku selalu mengingat kejadian itu ketika mendengar namanya. Jadi, bisakah kamu tidak menyebut nama itu lagi di hadapanku?”

Rika mengangguk pelan.

-flashback End-

 

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “The Destiny – Part 6”

  1. yaaah, persahabatan mereka jadi pecah.. -_-
    poor Kubum, Jinki jadi benci sama dia..

    rasa suka Rika sepertinya sudah terbagi antara Jinki-Kibum..

    perasaan saya aja atau bukan ya..
    klo persahabatan antar sesama cowo bisa pecah kalo ada cewe diantara mereka, seperti kejadian Jinki-Rika-Kibum..

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. ya, itu emang hal yang umum banget terjadi dengan persahabatan. thx, ya eonnie mau koment lagi …#senyum

  2. Huaaa Rikanya sekarang udah nge bagi perasaannya ke kibum.
    Meskipun kasihan ngeliat kibum tersiksa tapi gatau kenapa aku justru lebih setuju Rika sama Jinki, karna jinki juga bener bener cinta sama Rika dan kasian juga kalo Rika malah lebih ngebela kibum. 😦 nice ff

  3. ya ampun feel nya dapet banget, mau nangis baca ceritanya, keren banget, setuju deh kalo misalnya ada yang lebih milih jinki-rika, gatau deh kenapa, tapi aku lebih setuju rika-jinki 😀 nice

  4. huaaaaaaT.T
    key., i’m here only for you baby,.,

    thor, jgn kjem2 bner sama key,kesian t,
    daebak feel’nya,d tunggu part selanjut nya.,

    1. hahaha… sabar! sabar!
      aku nggak kejem kok sama key, klo kejem adikku bisa cincang aku.
      tenang aja… waktu akan menjawab semuanya… #sok
      ok, thx

  5. Key nyaa kasiaann 😦
    Tapi suka kok sama ff ini 🙂

    Oh yaa mau nanya kira” part 7 nyaa hari apaa adaa nyaa ??? Jdi ga bulak – balik buka page ini …. Hhehe 😀

    1. wah, aku nggak tahu. tapi nggak sampe seminggu lah. soalnya yang jadi admin bukan saya. saya cuman ngirin doang. kamu tanya aja adminnya di hero room atau di talk-talk, sapa tahu dijawab. makasih ya…

    1. amanda, kamu koment aja di talk-talk. minta admin balas pertanyaan kamu. klo nggak kamu sms lana aja. di the hero. ada kok nomernya.

  6. Unni gimana … huhuu padahal kan aku pengen baca unni..n. aku suka ff nya unni … uda kangen ff ini

      1. aaa.. author rajin banget bales komen-komen readers 😀
        tapi ga apa-apa sih, bagus juga hehe 😀
        tp mian banget ya thor, kalau aku komen gaje wehehehe 😀
        nanti abis aku baca tiap part-nya aku komen.
        jadi makin semangat komen ff author 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s