Nothing Happened

Main Cast: Kim Jonghyun, Park Jiyeon

Support Cast : Jiyeon’s Father, Jonghyun’s Mother

Length: Stand Alone

Genre: Angst

Rate : PG 16+

Warning : Alur cepat

Inspired by: Jung Yeop (Nothing Happened)

before story of Because We’re Together –  The Rule

 

                Pemakaman itu masih juga dipenuhi pengunjungnya, terpusat pada satu makam yang masih baru dengan taburan bunga lili putih di atasnya. Di nisannya terlihat sepasang tangan kecil merengkuh batu itu, mata pemiliknya sembap luar biasa. Tepat di sampingnya, ikut duduk pria yang memiliki garis wajah persis dengannya. Sekali melihatnya bisa ditebak pria itu adalah ayah si gadis kecil.

                Mereka masih duduk termenung di sana, meski seluruh pengunjung yang menyambangi makam yang baru berumur sejam itu telah pergi sejak beberapa menit yang yang lalu. Tak satupun dari mereka yang berniat meninggalkan tempat itu. Baru setelah hujan turun, mengubah tanah kecoklatan itu menjadi lebih gelap, sang ayah menggendong anak gadisnya yang masih juga enggan beranjak dari duduknya. Mata polosnya kemudian menatap langit gelap.

                “Apa langit itu ikut menangis untuk kita, appa?”Tanya sang anak dengan tangan terulur, membiarkan tapak tangannya basah oleh gerimis.

                “Mungkin, Jiyeon sayang. Mungkin…”

                Sang ayah memeluk erat gadis kecil dalam gendongannya. Dadanya terasa penuh karena bayang-bayang masa depan yang menghantuinya. Membesarkan anaknya seorang diri, tentu tidak mudah. Mencari ibu baru yang bisa memberinya cinta seperti wanita yang sudah terkubur dalam tanah itu, sesuatu yang jauh lebih mustahil. Jadi, apa yang harus ia lakukan?

****

                Jonghyun memasukkan kayu-kayu itu ke dalam tungku pelan-pelan. Tidak mau melukai tangannya sendiri dengan luka bakar tentunya. Ia mengusap matanya yang sudah berair sedari tadi akibat asap mengepul hasil pembakaran kayu. Tapi ia tak peduli. Dalam pikirannya sekarang, ia bisa melihat eommanya tertidur lelap dengan kehangatan kayu bakar yang sedari tadi dikipasinya.

                Itulah yang dipikirkannya sekarang, sementara senyum bak malaikat tak juga hilang dari wajahnya. Baru setelah kayu-kayu itu sudah habis terbakar, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Menghangatkan dirinya yang hampir membeku di tengah cuaca dingin di luar sana.

                “Wasseo!”pekiknya pelan.

                Ia segera berlari ketika suara deritan pagar rumahnya terdengar. Tangannya hampir menekan handle pintu, hingga matanya harus terbelalak menatap pemandangan yang sesungguhnya belum sesuai untuk umurnya yang masih belia. Ia tak bisa bergerak dari tempatnya, berusaha mencerna kejadian di depannya. Ciuman panas yang dalam, bahkan Jonghyun bisa melihat bagaimana kedua insan itu saling bertautan lidah.

                Kaki Jonghyun bergerak mundur ke belakang. Berhenti tepat ketika dirasanya sesuatu menghalangi langkahnya, membuat punggungnya harus bertabrakan dengan dinding, sedetik kemudian merosot pelan hingga selanjutnya yang dirasakan dinginnya lantai kayu yang terkesan mengejeknya.

                Tidak mungkin. Bagaimana bisa eomma mencium pria yang berbeda di hari yang sama. Pasti ada kesalahan di matanya. Pasti otaknya tak berfungsi dengan baik, hingga ingatannya tak bekerja dengan baik. Ia ingat betul wajah pria yang menjemput eomma pagi ini, memberikannya ciuman kilat di bibir tipis eommanya itu saat ia tak sadar Jonghyun tengah mengintip dari balik kaca jendela yang sama dengan beberapa detik yang lalu.

                “Jonghyun ah…“

                Lamunan Jonghyun buyar saat dilihatnya wanita itu tersenyum hangat padanya.

                “Eomma bawa makanan enak untukmu, ayo kita makan.“

                Jonghyun masih termangu. Masih mencerna kejadian tadi dengan otaknya yang masih minim akan pengalaman hidup, mengingat umurnya yang masih sembilan tahun. Eomma menangkap raut tanya di wajah putra tunggalnya itu, sedikit waswas jika benar Jonghyun melihatnya berciuman dengan lelaki tadi.

                “Sayang, kau kenapa?“

                Minjung mengelus pipi anaknya, membuat Jonghyun segera menepis pikiran buruknya, dan lebih memilih pada anggapan bahwa pasti ada yang salah dengan matanya. Atau mungkin ia masih terlalu muda, masih belum begitu mengerti seluk beluk permasalahan orang dewasa. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang eommanya, menghirup dalam-dalam aroma eomma yang selalu disukainya. Matanya yang semula tertutup, terbuka perlahan. Sinar sendu terpancar dari mata bening itu. Ia tahu, aroma eommanya sangat berbeda dengan pagi tadi.

****

                Jiyeon mengemas pakaiannya dari dalam koper besar menuju lemari kayu itu. Tangannya cukup terampil melipat baju-baju miliknya. Sebagai seorang anak, tentulah ia tidak bisa menolak keputusan sang ayah untuk segera meninggalkan rumah lamanya ke tempat lain. Cukup berat baginya, apalagi di rumah itu pula yang menjadi kenangan atas kehadiran ibunya yang sudah meninggalkan dunia ini.

                “Jiyeon ah…“

                Kepala Jiyeon berbalik. Ayahnya bersandar di tepi pintu. Pria itu terlihat aneh bagi Jiyeon. Sesekali didengarnya cegukan, dengan rona kemerahan di pipinya. Alis Jiyeon terangkat. Bahkan dari jarak sejauh ini ia bisa mencium aroma yang sangat menyengat. Ia tidak tahu itu bau apa, tapi hidungnya sangat benci menerima rangsangan aroma ini.

                Ketika sang ayah hampir terjatuh, dengan cekatan Jiyeon segera memapahnya. Tubuhnya terlihat kecil, tapi sesungguhnya ia masih punya kekuatan yang cukup untuk membaringkan ayahnya ke atas tempat tidur barunya. Tangannya bergerak cepat menutup hidungnya, sesaat kemudian ia segera berpikir sang ayah sedang mabuk.

                Jiyeon mengeluarkan salah satu selimutnya, berniat untuk menutupi tubuh ayahnya. Ia tidak pernah menduga jika tangannya tertarik keras, hingga tubuhnya terbanting ke atas ranjangnya. Ia menutup matanya, menghilangkan rasa sakit kepalanya yang bertubrukan dengan kasur.

                “Appa…“

                Tangan Jiyeon menggengam erat kerah bajunya. Ia masih cukup bingung melihat ekspresi wajah sang ayah cukup mengerikan baginya. Terlebih ketika pria itu kembali mencengkeram tubuhnya, membuka paksa satu persatu kancing baju Jiyeon.

                “Appa, appa, kau kenapa?“

                Tak ada jawaban. Sang ayah makin sengit, tubuh Jiyeon hanya terbalut pakaian dalamnya kini. Tubuhnya bergetar hebat saat dilihatnya celana sang ayah sudah terbuka. Ia mulai gelisah.

                “Tenang saja sayang, tutup matamu. Kau hanya perlu diam dan membiarkan appa melakukannya dengan tenang. Oke?“

                Jiyeon mengangguk. Ia masih bingung. Masih sibuk menerka entah apa yang akan selanjutnya tejadi. Ia bisa merasakan tangan besar ayahnya meraba sekujur tubuhnya, dan ia tahu ia tidak mengenakan apapun saat ini. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya, ketika ia mulai merasakan sakit yang luar biasa. Matanya yang tertutup kini melotot sempurna.

                “Appa.. engh… sakit. Kenapa.. rasanya sangat sakit”

                “Tidak, sakitnya hanya sementara.“

                “Tapi.. ini… sakit… sekali, appa. Kumohon, hentikan.“

                Tangan Jiyeon mencengkeram tepi kasur. Lehernya terjulur ke atas, seluruh tubuhnya menggelinjang. Ia merasakan sesuatu terjepit di pangkal pahanya, dan ia tahu itulah yang menjadi penyebab utama atas rasa sakitnya. Ia mulai meronta, berusaha melepaskan diri dari tubuh besar yang mengapitnya.

                Ia masih tidak tahu apa yang terjadi. Yang jelasnya ia harus menghentikan semua ini. Syarafnya mulai tak terkontrol ketika dirasakan sensasi aneh menghampirinya. Tangannya mengepal, dihujatkan pada dada sang ayah.

                “Hentikan, Jiyeon! Sudah kubilang untuk diam saja.“

                “Hentikan! Ini sakit sekali appa, aku mohon.“

                Jiyeon menjerit keras. Rambutnya kini tertarik keras.

                “Berhenti atau kau akan merasakan sesuatu yang lebih sakit dari ini!“

                Menyerah. Jiyeon menggigit bibirnya sendiri. Masih dalam rintihan sakitnya, ia berdoa dalam hati. Memanggil-manggil nama sang eomma, berharap jika mimpi buruk ini akan segera berlalu.

****

                Jonghyun memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya. Seorang murid sebayanya sudah berada di sampingnya. Oh tidak, seharusnya ia lebih sigap membereskan barang-barangnya. Dengan begitu, ia tidak perlu mendengar ocehannya yang tak berguna.

                “Lihat si pendek ini.“

Demi Tuhan. Ia selalu benci jika seseorang mulai mengatainya pendek.

                “Ada isu yang beredar jika eomma mu terlihat di motel murahan bersama pria.“

                “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Doojon.“

                “Jangan bersikap sok polos. Bukankah aku sudah memperingatkanmu berulang kali? Eomma mu yang pelacur it-“

                Buk. Setetes darah segar mengalir dari sela bibir  Doojon. Bibir tipisnya terasa ngilu. Ia tidak pernah menyangka jika kepalan tangan si pendek itu bisa sesakit ini.

                “Jika kau menyebutkan lagi kata kotor itu, jangan harap gigimu akan utuh!“

****

                Gadis kecil itu menatap embun di kaca jendela kelasnya.  Tidak ada ekspresi yang tampak di wajahnya, selain pandangan kosong yang tertuju pada kerumunan siswa-siswi di bawah payungnya. Ia masih enggan berdiri dari tempatnya. Bukan karena ia lupa membawa payungnya. Tidak, ada rasa takut yang lebih dari sekedar kedinginan dibandingkan ketika ia menginjakkan kaki di rumahnya.

                “Kau tidak pulang, nona Park?”

                Hyunah songsaenim menghampirinya, membuatnya segera menunduk untuk membereskan barang-barangnya. Ia menaikkan alisnya ketika sebuah kotak bekal terselip di antara buku-bukunya.

                “Belum makan siang kan?”

                Jiyeon kembali menundukkan kepalanya. Menatapi kotak berwarna kuning itu membuat matanya memanas seketika. Kerinduan itu kembali menyelimutinya. Tak butuh waktu lama tetesan air bening menghiasi kulit wajahnya.

                “Sayang, kau kenapa? Apa kau sakit? Sesuatu terjadi padamu?”

                Ia menggeleng, sementara air matanya semakin tak terbendung. Hyunah songsaenim mulai khawatir. Sejauh ini, yang ia tahu Jiyeon adalah anak yang pendiam, dan ia selalu berusaha menebak entah apa yang ada dalam pikiran seorang anak gadis berumur delapan tahun ini.

                Hyunah segera memeluk gadis cilik itu. Berusaha menenangkannya seperti ketika anak perempuannya sendiri sedang menangis. Yang membuatnya semakin khawatir adalah justru Jiyeon menangis semakin keras. Apa anak ini sedang sakit? Pikirnya. Baru saja ia akan melepas pelukannya, ia mendengar satu kata yang terus terulang dari mulut Jiyeon. Eomma.

****

                Jonghyun melangkahkan kakinya tak semangat. Bukannya ingin percaya pada ucapan Doojon tadi, tapi rangkaian kalimat itu terus menggerayangi pikirannya. Membuat saraf-saraf otaknya menarik berbagai prasangka buruk.

                Ia menyandarkan kepalanya ke tiang penopang halte. Menatap gerimis hujan yang sudah menimbulkan bercak basah pada blazernya. Ia tak pernah mendapatkan pendidikan mengenai kata ‘pelacur’ itu dalam mata pelajaran di sekolah dasarnya. Yang ia tahu, wanita semacam itu adalah wanita murahan yang membiarkan dirinya ditiduri oleh pria-pria. Tentu ia tidak tahu bagaimana proses ditiduri-meniduri itu bisa terjadi. Yang jelas, ia tahu profesi itu adalah pekerjaan paling terkutuk di antara semua perbuatan tercela yang pernah ditahunya. Oh, memikirkan ini justru membuatnya semakin gila saja.

                Ia hampir berdiri, saat matanya menangkap sosok gadis kecil yang juga bersandar di tiang penopang yang berseberangan darinya. Dari yang dilihatnya, gadis itu terlihat damai dalam tidurnya. Apa ia tak tahu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Apalagi saat ini penculikan anak sedang menjadi trend di tiap program berita yang pernah dilihatnya.

                Niatnya untuk menghampiri gadis itu menghilang, ketika pria yang jauh lebih tua darinya membangunkan gadis kecil itu.

                “Ayo, Jiyeon sayang. Bangunlah, kita harus pulang sebelum hujan makin deras, oke?”

                Jonghyun bisa melihat getaran di bibir gadis kecil itu, ketika matanya terbuka dan mendapati sang ayah tersenyum padanya.

                “Jiyeon…”

                “Ne, appa.”

                Tanpa sadar mata Jonghyun mengikuti langkah pria tua itu. Ada rasa cemburu ketika tangan besar itu menuntun si gadis kecil masuk ke dalam mobil. Air matanya meleleh tanpa ia sadari. Kapan ia bisa merasakan kehangatan genggaman tangan dari pria tua yang bisa ia panggil appa? Ia ingat pernah membicarakan soal ayah pada eommanya, dan ia harus mendapatkan omelan panjang. Di usianya kini, ia tahu. Sang ayah meninggalkannya. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang terus terputar di benaknya, salah satu yang selalu mengganggunya adalah, apa lelaki yang telah membuatnya terlahir di dunia ini meninggalkannya karena tidak pernah menginginkan kehadirannya?

****

Beranjak dewasa tidaklah ditentukan oleh kisaran umur. Bukan berarti masih empat belas tahun hidup di bumi adalah sebuah jaminan untuk menciptakan batas yang disebut remaja. Dan ini adalah sebuah penerapan khusus untuk Park Jiyeon. Menjadi dewasa karbitan adalah pilihannya. Tumbuh dan berkembang menjadi seorang ambisius. Ia melewati sekolah dasarnya hanya dalam waktu lima tahun, dan jika targetnya benar ia hanya akan menghabiskan satu tahun setengah untuk sekolah menengah pertamanya. Kemudian ia akan melanjutkan jenjang selanjutnya sesegera mungkin.

Ia memang mengharapkan itu. Segera masuk ke universitas, menempati apartemen baru dan punya kehidupan baru. Ia mulai mengkhayalkan masa depannya, ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan sosok tinggi besar itu berdiri. Ada ketegangan lagi yang merasukinya, karena ia tahu, sosok penyayang itu kini menjelma menjadi monster.

“Nilai matematikamu hanya delapan, Yeon.”

Rahangnya mengeras demi aroma mabuk yang diciumnya.

“Kau tahu appa selalu bilang nilaimu harus sempurna kan? Dan kau tahu selalu ada hukuman untukmu yang tidak mematuhi perintahku. Dan kau sangat mengerti maksudku, Jiyeon sayang?”

****

Jonghyun meneliti nomor yang tertempel pada pintu itu. 278. Kamar yang tepat sesuai yang dikatakan oleh resepsionis tadi. Tangannya mengepal, tergantung di udara, hampir menyentuh sisi pintu. Perdebatan mulai timbul dalam hatinya, antara keinginannya mengetuk pintu itu atau segera meninggalkan hotel elit itu segera.

                Tidak, ia sudah sampai sejauh ini. Jika ia menyerah, dan tetap membiarkan tangan pria yang tak dikenalnya menyentuh ibunya, maka sama saja ia telah menginjak harga dirinya sebagai lelaki. Kewajibannya sebagai seorang anak untuk melindungi ibunya tak ada artinya lagi.

                Kembali tangannya tergerak ke atas, dengan segenap keberanian yang berhasil dikumpulkannya, kepalan tangan itu akhirnya mengetuk sisi pintu itu. Tak cukup semenit, pintu segera terbuka menampilkan pria dengan kisaran umur lima puluh tahunan memakai baju mandi. Pria itu mengerutkan keningnya. Kepalanya menjulur keluar, sedang matanya mengedar ke sekeliling mencari sosok yang telah mengganggu kegiatannya.

                “Siapa sayang?”Suara wanita terdengar kemudian.

                “Hanya orang iseng!”

                Pria tua itu kembali menutup pintunya. Melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena kelakuan orang yang dianggapnya iseng.

                Di balik tembok itu, Jonghyun menahan napasnya. Suara pintu yang tertutup seakan memberi hantaman keras di dadanya. Ia tahu suara itu. Suara lembut yang selalu membangunkannya di pagi hari. Suara yang selalu menemani malamnya dengan senandung lembut hingga ia tertidur lelap.

Tak ada suara, tersisa isakan tangis lelaki lemah yang kini memeluk lututnya. Yang tertinggal hanyalah seorang pengecut yang terlalu takut menghadapi kenyataan jika sang eomma telah menjalani kehidupan hina itu selama bertahun-tahun.

                Maka ia akan menganggapnya sebagai angin lalu, layaknya bunga busuk dalam tidurnya, yang akan kembali menyerbakkan wanginya ketika senyuman eomma menjemputnya di pagi hari. Nothing happened.  Satu hal itu akan menjadi mantranya, yang menguatkan tiap jejak langkahnya menjauhi hotel itu, ia tidak melihat apapun, dan tidak akan membiarkan sepintas saja memori itu terulang kembali dalam pikirannya.

****

                Jiyeon melepaskan genggaman di kopernya. Suara bising mulai tertangkap oleh gendang telinganya, terus terangsang menuju sistem sarafnya hingga otaknya bisa segera menduga kereta yang akan menuju tempat tujuannya segera datang.

Akhirnya ia bisa terbebas, setelah sekian tahun terjebak dalam dekapan mimpi buruk yang didapatkan dari ayah kandungnya sendiri. Bisa meraih kembali impian akan kehidupan normal yang sudah terenggut oleh perlakuan hina yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

                Ketika ia membuka matanya, yang ditangkap matanya adalah beberapa orang terlihat berdesakan melalui pintu itu. Karcis di tangannya digenggamnya erat, kemudian diraihnya koper yang ditelantarkan sedari tadi. Ia memutar tubuhnya, melangkah berlawanan arah dengan para penumpang itu.

                Masa bodoh. Ia tak lagi mempedulikan impiannya. Ada sesuatu yang menahannya untuk memasuki kereta itu. Benar, ia masih punya ayahnya. Pria tua itu pasti akan sedih jika tahu putri satu-satunya meninggalkannya. Dan ia pun tidak bisa membohongi dirinya, jika ia masih sangat menyayangi pria itu. Harus ada seseorang yang merawatnya. Ia tahu, ia harus mendampingi ayahnya melewati masa-masa tuanya.

                Meski itu berarti ia harus selalu siap mendapatkan luka fisik, membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan nafsu. Tidak apa-apa. Ia sudah siap dengan itu. Karena ia akan membiarkan semuanya terjadi, seolah itu hanyalah sebuah mimpi buruk dan esoknya ia akan terbangun dengan melumpuhkan segala kenangan menyakitkan dengan tumpukan buku, meski hanya sesaat. Dan mungkin, saat ia mulai tenggelam dalam tiap kata latin yang tercetak miring ia akan percaya, nothing happened.

Nothing happened, nothing happened
if this night passes and I wake up again with you…

 

FIN

ff ini mestiny udah publish dr tahun lalu, tp karena keterbatasan waktu oleh bejibunny tugas” mahadewa dr para dosen, masa liburan yg terpaksa terisi dgn kuliah yg tertunda, mood yg belum jg pas, jadilah before story ini terlantar d draft selama berbulan” dan hampir terlupakan hehe. Mungkin hampir seluruh reader sudah lupa sama main story kisah Because We’re Together ini. dan oh ya, mianhe jg kalo tulisan kali jelek, empat bulan gak nulis bikin semua perbendaharaan kata hilang hoho. Jd, tetap ya, mianhe untuk keterlambatan sy dlm menulis dan makasih banyak untuk semua yg sudah mengikuti terus prkembangan ff ini dr awal sampe akhir. Termasuk siders jg, makasih udah mau baca :)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

35 thoughts on “Nothing Happened

  1. q lebih suka yg sblumnya!
    cuz dsna castny bnyk!
    pengen deh ad sequel tp yg bner-bner nyritain khidupan mrka brg-brg

    1. beberapa justru bilang bingung kalo dsatuin macam gitu, thanks loh masukanny!
      sequel gak ya,paling stand alone aj terus
      makasih udah mau baca n ninggalin jejak🙂

  2. Uwa… Keren!
    Ya ampun, Jiyeon kasian banget. Di’anu’in ama appanya sendiri.
    Jjong juga. Pasti miris bgt kalau ngeliat org tuanya ternyata ‘itu’.

    Keren. Aku suka😄

  3. hhh jaman sekarang lagi marak-maraknya ayah kandung yg ‘itu’ in anak kandungnya sendiri, ngeri. gabisa bayangin kalo jadi jiyeon, nilai dapet 8 dihukum begitu.
    Kasian Jjong, hidupnya penuh cemoohan gegara pekerjaan ibunya.
    Ternyata aku udah baca semua before storynya, cuman gak yakin ninggalin komen sih ._.

    1. Jaman skrg miris bget ya,ckck.
      Udah bc dr awal ya,d BWT udah ad clueny tuh jiyeon dsiksa,tp blum jls sm ayahny ya. Duh,mian kalo ga kebalas. Males buka ff jadul yg tulisanny butut bget,eniwei makash ya🙂

  4. Story linrnya masih berlanjut, JiYeon pergi saja, lanjutkan hidup yang lebih baik. Sayang dia tidak memilih pergi.
    Umur mereka berapa saat itu?
    Lanjutkan author, masih ada beberapa personil yang belum d bahas, Key, Taem , MinHo dan Jong.

    1. D cerita kan ditulis Jiyeon msh 14,jjong 16 an lah.
      Emang alurny mcam gitu,kalo msalny jiyeon prg kan ga bkalan ketemu sm teman” shinee. Ini jg ksah sbelum dr BWT.

      Iy, tetap ditgguin ya versi member lain. Makash udah mampir n ngkutin jalan critany🙂

  5. Baru baca beberapa baris, terlihat menarik. Tapi harus baca yang before story-nya dulu yaa, Boram?
    oKEY deh, aku nitip komen dulu dan baca before story-nya dulu *whuuussss*

    1. Udah baca cause we’re together, nah pas lanjut ke The rule, ada tulisan before story-nya ada juga yang God must be hate me. Wah, jadi aku langsung aja loncat ke sini. Meski ga tau apa yang terjadi di The rule dan God must be hate me, tapi cukup ngerti dgn cerita ini. Mungkin di 2 ff sebelumnya menceritakan, cerita dua orang yang lain mungkin yaa?
      Di sini kan nyeritain Jiyeon sma Jjong.
      Duh! sedih bener deh Jiyeon sama Jjong. Keadaannya kaya buah simalakama gitu, serba salah😦

      1. tiap judul ff puny cerita sndr,jd gak mesti bc kisah sbelumny biar bs ngerti.
        Yg the rule it story lineny macam BWT,trus GMBHM it before story versi jinki.
        Semua versi ini diangkt dr kisah nyata sbnrny,beberapa dr berita tv n artikel”.
        Makash loh Euncha udah mau bc n ninggalin komen :*

  6. aku udah baca ff sebelumnya, jadi sisa before story yang belum tinggal key sama Taemin dong. say tunggu ya! tapi saya paling suka modelan god must be hate me, klo bisa modelan gtu eon, disini aku feelnya kurang dapet soalnya berasa kayak kereta luncur #cepet gtu maksudnya.

    1. Sama Minho tentuny :”)
      ragu jg sih wktu mau publish,sama kek d warningny,berasa cepat bgt pindah alurny. Cuman ya drpd dtunda lg,ff lain keganggu jadwalny n bisa” reader udah gak ad yg ingat lg BWT yg kisah awalny.
      Makasih ya udh ninggalin komen n ngikutin dr awal :*

  7. Ini jadi flashback nya jiyeon dan jonghyun ya,, duhhhh parah bgt sih appa nya jiyi😦
    Poor jiyeon jonghyun hiks hiks hiks

    Dan ini masih berlanjut kan?? Di cerita sebelumnya jiyeon hamil,, berarti yg hamilin jiyeon itu appa nya sendiri???? *asal nebak

    Ahhhh jinjjaaaa ∂ķΰ pengen bgt baca lanjutaannya… Ayo donkk thorr buatin lagi ya😀

  8. Ni before Story Because We’re Together ‘episode’ Jonghyun n Jiyeon.
    nyessekkk banget, Boram…
    Kehidupan mereka bikin eon mau bersyukur dg apa yg eon punya sekarang…
    Terus di update FFnya ya…
    Eon pasti mau baca n komen….

    Oya, eon agak risih dengan kata “sejam” di bagian awal,
    kayaknya lbh baik pakek kata” ‘satu jam” aja
    Eon dari Palembang, yg sedikit terkenal dengan bahasa, logat, dan intonasi
    yg sedikiiiiitttt ‘tinggi, kasar’, padahal biasa aja…
    (setidaknya bagi yang asli orang palembang)
    Nah, disini biasa bilang ‘sejam’ untuk bahasa nonformalnya
    jadi untuk tulisan ini, kyaknya pakek yang lebih ‘formal’ aja, biar enak n ‘halus’
    #gak penting banget ya, masukannya…
    Tapi, seperti biasa, eon selalu suka ceritanya Boram…

    Ditunggu, kelanjutan Because We’re Together, ya

    1. setiap kali baca komenmu berasa pengen nangis saking terharuny eon, ini komen ato surat cinta panjang begini😛

      oya, masukanny makasih loh, gak tau ternyata penggunaan bahasa ku bs jd lai interpretasiny macam gini.
      makasih jg ya eon sdh ngikutin ff ini dr awal :*

  9. aahh..
    miris banget yang dialami Jjong n Jiyeon..

    saya udah baca The Rule, BWT, GMBHM yang Jinki..
    si Taemin belum ya, seinget saya dia yang di paksa buat pake baju perempuan..

    emang kisah sebelumnya udah agk lama, jadi pas awal baca agak lupa sama sama kisah yg lain.

    Ok Boram, ditunggu kisah2 member lainnya ya..🙂

  10. Aaaaargh…
    Nyesek sumpah bacanya Eonnie…
    Baik banget Jiyeon. walaupun disakitin sama Appa-nya, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang anak.
    Jonghyun miris banget juga,
    next-nya ditunggu, eon!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s