I Need That One Thing [1.2]

Title: I  Need That One Thing [1.2]

Author: Wahyu Yoshinoyuki

Main Casts: Choi Min Ho, Kim Hye Kyo (OC)

Support Casts: Kim Hyo Kun (Author numpang tenar), Kim Jun, Lee Tae Min, Onew

Lenght: Twoshots

Rate: Teen

Genre: Angst – Romance

Annyeonghaseyo, Wahyu Yoshinoyuki-imnida, errr saya bukan Shawol sih, saya ini sebenernya Mightymax cuman lagi iseng aja bikin fanfict Shinee, hehehegx

Jadi kalo ada hal yang freak (?) ato apalah yang nggak penting dibaca di ff ini saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena ini juga ff perdana saya

Tapi saya juga minta maaf kalo ff ini bikin Anda sekalian dan rekan-rekannya (?) jadi mules trus bolak-balik kamar mandi karena ceritanya nggak mutu dan dirasa ada hal dominan yang nggak penting, saya bener-bener minta maaf dan saya bener-bener butuh koreksinya kalau ada typo (s) juga *author lebay deh

Udah yak saya nggak mau kebanyakan cincong, happy reading 🙂

Fanfict ini juga pernah dipost di esemaniafanfiction.wordpress.com

Disclaimer: Sederhana, nggak muluk-muluk, this story is mine and don’t plagiat my story

Summary: “Aku tahu yang kau rasakan Eonni, kau ingin Min Ho Oppa bersikap dewasa, bersikap bahwa ia benar-benar mencintaimu, dan bersikap seperti dulu, saat kali pertama kau mengenalnya.” –Kim Hyo Kun-

***

Sejumlah poster jumbo yang berisi lima namja itu masih berjajar indah, diselingi oleh sinar mentari yang merayap masuk ke kamar itu, semua tertempel pada tembok dengan cat berwarna ungu muda yang menjadi warna favorit empunya. Di antara namja-deul itu hanya ada satu yang paling menarik perhatiannya, sang Flaming Charisma. Dia bisa betah berjam-jam menatap dan mengamati setiap lekukan senyum yang diukirnya. Namun itu dulu, sebelum namja chingu-nya itu berubah menjadi sosok yang paling asing di dalam hidupnya.

Ah, Hye Kyo yang terdiam di ranjang hanya bisa memijat keningnya sesaat kalau mengingat tingkah laku Min Ho yang kini kekanakan. Kekanakan yang hanya bisa Hye Kyo rasakan sendiri. Entah mengapa sikap kekanakan itu menjadi hal serius yang telah menjadi jurang pemisah di antara mereka. Kadang yeoja berambut tebal sebahu itu bingung, apakah dia sendiri terlalu sensitif karena akan menjadi seorang psikologis beberapa waktu lagi. Entah, entah, dan entah. Dia terus memijat keningnya sembari membuang pandangan, membelakangi poster-poster yang tak lelah tersenyum untuknya.

Tok tok

Eonni, aku mau berangkat sekolah dulu,” ujar seorang yeoja setelah mengetuk pintu kamarnya pelan, Hye Kyo mendengar derap kaki yang menjauh, segera ia meloncat dari ranjangnya dan secepat kilat membuka pintu kamarnya.

“Kau belum sarapan kan Hyo-ya?” ia tatap yeo dongsaeng-nya agak tajam, berusaha menghentikannya pergi.

“Aku sudah besar, aku bisa masak sendiri, umurku sudah delapan belas tahun dan aku tidak selalu berpangku tangan kepada Eonni-ku yang juga manusia, yang tak lepas dari masalah, aku ingin bisa hidup mandiri tanpa orang tuaku,” saat perkataannya selesai, yeoja yang tentu lebih muda darinya itu membungkukkan badannya, berpamitan dan pergi.

“Hyo Kun-i,” ucap Hye Kyo pelan.

Ne?” yeoja dengan rambut berombak yang dikuncir kuda itu menoleh ke kakaknya.

Josimhada, err geurigo mianhae,” Hye Kyo agak menundukkan kepalanya, bersalah karena seharusnya ia siapkan sarapan untuk Hyo Kun sebelum mengurung diri di kamarnya. Itu kewajibannya yang tak pernah lalai ia lakukan, sebelum masalah dengan Min Ho membelitnya. Sungguh, ia merasa tak bertanggung jawab kepada adik dan orang tuanya, yang pergi ke luar kota untuk beberapa bulan guna menyelesaikan bisnis keluarga.

Gomawoe, Eonni,” Hyo Kun meninggalkannya dengan melemparkan senyuman sebelumnya. Membuat yeoja berusia dua puluh tahun itu menggeleng lemah ketika yeo dongsaeng-nya benar-benar sudah keluar dari rumah.

‘Andaikan saja Min Ho Oppa bisa sedewasa Hyo-ya,” batin Hye Kyo dengan sedikit rasa sesal yang menggumpal di hatinya.

***

Seminggu yang lalu…

Hye Kyo tengah berlari terengah-engah menuju lapangan basket yang terletak tak jauh dari taman sungai Hangang pada keremangan sore itu.

“Bodohnya kau Hye Kyo, kau terlambat sepuluh menit,” ujar Hye Kyo memaki dirinya sendiri saat melirik arloji jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Padahal dia baru saja pulang kuliah dan seharusnya dia sudah di rumah sekarang, membantu Hyo Kun menyelesaikan pr matematika yang amat dibencinya. Tetapi karena ada sesuatu hal yang mendadak di universitasnya tadi, jadilah dia sekarang mengejar waktu seraya berharap Min Ho masih ada si tempat perjanjian.

Senja hampir mengabur, ditiliknya langit juga memudar, kerlap-kerlip bintang pun perlahan mulai terlihat, tetapi kekelaman tak terasa dingin karena semilir angin musim panas masih menyapu pelan pori-pori kulitnya. Ia berusaha mempercepat langkahnya untuk segera sampai. Dan tak sampai dua menit, lapangan basket kecil itu sudah nampak di hadapannya.

Oppa!” sorak Hye Kyo di tempat sunyi itu. Ia tunggu sekian detik, tak ada jawaban, lalu dengan gemas ia mengetik pesan pada gadget berwarna ungu muda yang sedari tadi digenggamnya.

“Kau tidak menepati janjimu, kau terlambat, kau sudah tidak mencintaiku,” celetuk suara bass dari arah belakang itu sontak mengagetkan Hye Kyo dan membuatnya hampir menjatuhkan benda kotak yang dipegangnya.

“Aku minta maaf karena tadi di kelas terakhir ada urusan mendadak. Tetapi, apa maksudmu? Mengapa kau mengataiku seperti itu?” Hye Kyo langsung menghujani namja yang sedang memutar-mutar bola basket itu dengan pertanyaan.

“Apa? Hanya minta maaf? Lalu apa gunanya polisi kalau di dunia ini segala masalah diakhiri dengan minta maaf? Kau memang sudah tidak mencintaiku Hye Kyo-ya, buktinya hanya janji bertemu di tempat seperti ini saja kau tak bisa, tahukah kau betapa sulitnya aku kemari tanpa para Shawol yang siap meremasku kapan saja? Huh?” kini gantian namja berpostur tubuh tinggi yang memborbardir, Hye Kyo sebenarnya mampu membalasnya lebih panjang tapi sepertinya setengah nyawanya hilang ketika berlari kesetanan tadi.

“Baik Oppa, aku hargai pengorbananmu itu tapi sudah jangan kekanakan begini, ini hanya masalah kecil, lagipula aku baru sekali ini tak bisa memenuhinya, tolong ini hanya persoalan kecil kan, kita bisa selesaikan baik-baik,” Hye Kyo mendekati namja berambut hitam itu, mencoba merebut tangannya yang bebas dari bola basket, tetapi Min Ho menepisnya.

“Pokoknya aku marah padamu, masalah kecil seperti ini nantinya akan jadi masalah besar kalau dibiarkan menumpuk-numpuk, kau sudah tidak mencintaiku Hye Kyo-ya, jangan temui aku lagi,” Hye Kyo hanya bisa mematung menyaksikan namja chingu-nya pergi, selepas punggung itu tak nampak lagi, Hye Kyo pulang dan memaki-maki Min Ho di tengah jalan.

“Dasar namja maunya menang sendiri! Kau kira aku ini apa? Hah? Sebentar lagi aku akan jadi seorang psikologis tahu! Aku bisa melihat sikapmu yang kekanakan seperti murid TK yang kehabisan susu dalam botolnya dan kalau kau mau tahu, kau itu kalah dari Hyo-ya yang empat tahun lebih muda darimu!”

Tak terhitung berapa pasang mata yang mendelik heran pada Hye Kyo, dia tak peduli, dia hanya memfokuskan untuk menata mood-nya di depan Hyo Kun, ia selalu ingat bahwa gurunya mengajarkan kalau kita tak boleh menampakkan ekspresi marah kepada orang lain semaunya.

***

“Min Ho-ya!” teriak Onew yang mendapati Min Ho masih asyik dengan PSP kesayangannya.

Wae Hyeong?” tanya Min Ho yang matanya tetap tertuju pada game winning eleven yang dianggapnya lebih setia dibandingkan dengan yeoja chingu-nya sendiri.

“Ayo cepat kita latihan, kau ini merasa sebagai member SHINee atau bukan? Jadwal kita padat Min Ho-ya,” bujuk leader bermata sipit itu dengan menarik-narik lengan nam dongsaeng-nya.

Aniya Hyeong, aku sedang marah kepada seseorang dan aku hanya ingin menumpahkan kekesalanku pada benda ini,” tak mempedulikan Onew, namja paling tampan di SHINee itu tetap duduk di sofa yang membikinnya pe-we.

Ppali Min Ho-ya, jangan terus-terusan bersantai di dorm, kau ingin aku berteriak tepat di telingamu hanya untuk menyuruhmu latihan saja?” Onew mencoba merayunya lagi, ah bukan merayu, hanya berkata datar menurut apa yang dicerna oleh Min Ho.

Nah karena itulah namja bersuara bass itu masih memenceti tombol bundar dan kotak pada PSP-nya secara bergantian, dan seakan menganggap jika hanya ada dia saja di sana.

Sang leader mulai menyerah lalu ia pindahtugaskan perintah itu kepada Tae Min, begitu berpapasan, Onew membisikkan sesuatu sembari menepuk pundaknya. “Aku tunggu sampai dua menit Tae Min-ah, dan ingat, harus berhasil.”

Tae Min mengangguk mantap lalu segera duduk di sebelah Min Ho. Mengetahui sofanya berdecit, Min Ho sedikit menoleh ke arah magnae yang berpangkat dance machine sekaligus member yang paling dekat dengannya itu.

Uri couple 2Min, ayo kita latihan Dream Girl dan Beautiful lagi, barangkali kekesalanmu bisa berkurang,” kali ini mata Min Ho mau menatap wajah Tae Min agak acuh. Sedikit tak enak juga karena sikapnya akan membuat atasannya naik pitam, akhirnya dengan berat hati Min Ho menurut.

Tae Min ulumkan senyumnya agar Min Ho lekas berdiri dan mengemasi barangnya, dan berhasil, Tae Min memang tak perlu banyak waktu untuk membujuk couple-nya.

‘Hye Kyo-ya, kalau kau masih bertahan dengan permintaan maafmu yang murahan itu, aku takkan mau menghubungimu lagi,’ ujar Min Ho geram dalam hati.

***

Masih menggeliat anggun di ranjang single yang dilapisi warna favoritnya itu, Hye Kyo tak segera bangun meski ia tahu matahari tak malu-malu lagi bertengger di langit. Ia masih membiarkan tirainya terbentang menghalangi sinar matahari yang terik, kamarnya sendiri sudah cukup terang karena tak semua sinar itu benar-benar terbentengi korden yang terbuat dari katun tipis itu. Ada celah-celah kecil yang memungkinkan sinar itu merangkak masuk. Diliriknya jam beker berbentuk kodok yang berdiri miring pada meja nakas di sebelah kanan ranjangnya.

‘Ah masih jam enam pagi,’ batinnya santai.

Ia menguap sejenak dan memutuskan untuk tidur lagi, ia ingat betul ini hari Minggu dan ia wajib memakainya untuk istiharat panjang, toh Hyo Kun bisa memasak santapannya sendiri. Lalu ia benahi letak bantalnya dan mulai memejamkan mata.

Tiba-tiba kamar sebelah yang tadinya tenang langsung jadi gempar karena memutar sebuah lagu dengan volume yang tinggi.

Doraseoyaman haneunde siganeun heulleoman ganeunde

(I’m going to have to turn around time)         

Ha jiman amu maldo motago nunmul heullineun na

(I’m crying, but does not say anything)

Nunbichi nal bogo itjanha balgireul butjapgo itjanha     

(I’m seeing the light caught the eye and got away)

Deo isang ireon nal jichige hajineun ma

(I do not wear this anymore)

Won rae nan ireon nomiya nan neul igijeogin nomiya

(Originally I had this guy a selfish guy I’ve always)

Yeongwonhal geot gatatjiman urin yeogikkajiya modu kkeuchingeol yeogikkajingeol

(This is the line seemed to last forever, but)

Nan ireon nomiya                

(I’m working on it)

Haengbokhaeya dwae

(We have to be happy)

 

@T-Max – This Guy

 

“Huaah, itu lagu siapa Hyo-yaaaa?” Hye Kyo terbangun karena suara rap seseorang yang keluar dari kamar Hyo Kun di sebelahnya, ah suara rap, Hye Kyo jadi sebal karena mengingat apa profesi namja chingu-nya itu di pagi yang harusnya menyenangkan ini.

Hah apa? Aku tidak dengar Eonni,” jawab Hyo Kun samar, tertelan lagu yang masih berdendang hebat.

“Jangan bilang itu lagunya T-Max Hyo-ya!” Hye Kyo membekap kedua telinganya dengan dua bantal tebal yang ada di sampingnya, membikin dirinya seperti sandwich daging sapi yang sering dilahapnya ketika makan siang di universitas.

Mwo? Aku tidak dengar Eonniii,” jawab suara di sebelahnya makin samar.

“Anak ini,” tak sabar, Hye Kyo pun bangkit dari ranjangnya untuk menggedor pintu kamar yeo dongsaeng-nya yang terkadang keterlaluan.

“Hyo-ya, jangan mentang-mentang dia sudah kembali untukmu kau jadi kerasukan seperti ini!” teriak Hye Kyo sebelum emosinya memuncak.

Eonni, sudah aku bilang aku tidak mendengarmu, ara?

Sahutan itu justru membuat Hye Kyo dengan mudah menyingsingkan lengan bajunya dan menjeblak pintu berhias bunga berwarna biru muda itu.

Brakk

“Kalau kau tidak mendengarku, mengapa masih kau jawab per-” Hye Kyo terkejut lantaran tak menemukan Hyo Kun di sana, hanya ada sebuah ponsel dengan layar menyala, benda itu sendiri tergeletak di atas meja belajar yang bersih, kamar bersuasana biru muda itu tak nampak ditempati beberapa menit yang lalu.

Ia raba sebentar ranjang Hyo Kun, dingin, ah memang sudah lama ditinggalkan, lalu ia pegang ponsel yang sudah tak ribut itu dan memutar-mutarnya dengan perasaan campur aduk, antara jengkel dan heran.

“Dasar dongsaeng jahil, beraninya menipuku dengan rekaman suaranya sendiri, memangnya suaramu itu bagus apa,” Hye Kyo merasa sebal karena telah dibodohi oleh yeoja yang sebentar lagi menempuh ujian kelulusan itu, tapi selang beberapa detik Hye Kyo tersenyum, ini adalah hiburan yang sengaja dibuat, ia tahu Hyo Kun bosan melihat kakaknya sering berdiam di kamar dan tidak membuatkannya sarapan seperti biasanya.

Tak sengaja ia lihat sebuah pesan singkat yang tergantung di sisi samping meja belajar Hyo Kun, ia mulai membaca deretan hangeul yang rapi dan miring ke kanan itu.

Eonni, saat kau baca ini kau harus segera bersiap untuk menemuiku di lapangan basket kecil yang lokasinya dekat taman sungai Hangang itu, aku ingin memperlihatkanmu sesuatu, juga di meja makan sudah aku siapkan omelet untukmu, cepat makan sebelum dingin, oh iya satu lagi, aku minta maaf karena mengutak-atik jam bekermu tanpa izin, aku sengaja memundurkannya dua jam, hehe, dan kau bisa tebak jam berapa sekarang ini, ingat, aku menunggumu.

Adik yang menyayangimu,

Hyo

Plek

Ia tepuk keningnya sembari menggeleng heran, ia tak tahu dari mana adiknya belajar menerapkan kegiatan yang aneh tapi menghiburnya. Tanpa ba-bi-bu langsung ia lakukan keinginan Hyo Kun yang sudah tertulis jelas di kertas tadi.

***

Menelusup gang-gang sedang yang masih bisa dilewati sebuah mobil adalah hal yang selalu Hye Kyo lakukan ketika hendak mencapai tempat itu. Yap, lapangan basket yang kecil dan cukup sunyi itu selalu jadi tempat hiburannya kala bersedih atau ingin menyepi. Ia masih ingat saat dirinya dan Hyo Kun tak menemukan tempat fantastis sebagai wadah permainan imajinasi mereka setelah mengembara ke sana kemari tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Ah, Hye Kyo sekilas merindukan masa kecilnya yang tenang, tanpa seseorang dengan label namja. Kalau dia punya mesin waktu pasti dia akan melakukan kejadian yang ingin ia ulangi berkali-kali, bahkan kalau bisa ia ingin mengulangi moment di beberapa saat sebelum Min Ho mengubah dirinya menjadi anak berumur sepuluh tahun yang hanya bisa memaki kakaknya kalau sedang marah, yap sejujurnya Hye Kyo berharap kejadian itu tak terjadi, sungguh.

Kyah, Oppaaa, jangan bermain curang karena aku lebih pendek darimu.”

Hye Kyo mengenali suara yeoja berlogat manja itu, ia pun mempercepat langkahnya, dan akhirnya ia dapati sepasang kekasih sedang bermain bola basket di sana. Yeoja itu sedang berusaha merebut bola yang di-dribble dengan santai, terkadang pula dilempar ke atas.

“Aku tidak bermain curang Hyo-ya, kau itu sudah cukup tinggi, 167 bukan?”

Hye Kyo tersenyum melihat namja berambut cokelat itu mengangkat bola basketnya tinggi-tinggi, yang tak memungkinkan yeoja di depannya mampu meraihnya. Girang melihat yeo dongsaeng-nya dijahili mungkin.

“Tapi kan kau itu 185 Oppa! Kau tidak sadar apa? Delapan belas sentimeter!”

“Baguslah kalau kau bisa menghitungnya dengan baik, kukira kau akan menjawab dua puluh sentimeter,” dengusan yeoja itu tak membuat namja-nya merasa bersalah, justru namja itu hanya tersenyum sambil membuang bolanya sembarangan, lalu dengan sigap melingkarkan kedua lengannya pada perut yeoja-nya dan memutar badan mungilnya tiga kali berturut-turut lantas memeluknya erat-erat.

Terlihat sebuah kebahagiaan yang memancar indah dari wajah mereka, Hye Kyo mulai terkekeh melihat tingkah kekanakan itu. Mungkin inilah yang ingin Hyo Kun perlihatkan. Terkadang orang dewasa itu butuh hiburan yang kekanakan, tetapi harus sesuai suasana dan kebutuhan, tak seperti yang dialaminya dengan Min Ho tempo kemarin, yang itu keterlaluan.

“Sudahlah Jun Oppa, nanti dia bisa ngambek berkepanjangan,” kata Hye Kyo akhirnya mengakhiri keromantisan dua sejoli itu. Sontak namja yang diketahui bernama Jun itu melepaskan pelukannya, tidak enak kalau bermesraan di depan orang lain.

“Kyah Eonni mengapa diam saja di situ? Membiarkanku di-bully olehnya?” Hyo Kun menatap sinis mata besar namja-nya, justru hal ini membuat dua seniornya tertawa bersama.

Gwaenchana, err, Eonni minta maaf karena datang terlambat, kau tidak marah padaku kan Hyo-ya?” tanya Hye Kyo hati-hati.

Kuncir kuda Hyo Kun bergoyang membarengi gelengannya. “Untuk apa marah? Kau tidak melakukan kesalahan atau kekeliruan apa pun Eonni, yang melakukan dua hal itu hanya Ahjussi ini.”

“Yo yo yo, kita hanya berjarak sepuluh tahun Hyo-ya, kau tidak boleh memanggilku Ahjussi, tidak sopan sekali sih,” Jun mencubit kedua pipi Hyo Kun dengan gemas, tak mau dikatakan tua mungkin.

Hye Kyo masih terkekeh melihatnya, senang, karena ia bisa menonton drama Korea gratis tanpa perlu menghabiskan uang sepeser pun.

“Hye Kyo-ya, yeo dongsaeng-mu ini jadi semakin dewasa ya setelah dua tahun kutinggalkan, semakin cantik pula,” jemari Jun kini asyik membelai rambut yeoja-nya, meski mata besarnya tertuju pada Hye Kyo.

Yeoja berwajah oval itu tersenyum sekilas, mengerti sanjungan tadi diperuntukkan bagi dirinya walau mengusung notabene adiknya. Terlintas di fikirannya bila andai saja Min Ho seperti Jun, yang dewasa sesuai usianya, yang juga mendapatkan yeoja yang cukup dewasa. Hye Kyo tak keberatan kalau Hyo Kun berpacaran dengan namja yang sudah dikenalnya sejak empat tahun lalu itu, dia juga tak keberatan jarak umur mereka yang agak jauh. Sempat dirinya merasa iri, mengapa mereka yang banyak perbedaan bisa lebih rukun dibandingkan dia dan Min Ho.

“Mengapa kau diam saja? Apakah Eonni sedang memikirkan Min..”

“Ssst, kau kira hanya ada kita berdua di sini?” Hye Kyo meletakkan telunjuknya pada bibir Hyo Kun, berharap dia akan diam, ini justru membuat Jun berdeham sebentar lalu menjauh.

“Kalian boleh selesaikan persoalan kalian dahulu.”

Baru dua langkah saja, Hye Kyo langsung mencegah namja bermata cokelat itu pergi. “Aniya Oppa, yang tadi itu hanya soal sepele, benar.”

“Tidak, tidak benar, tadi itu masalah penting bukan? Aku mengerti Hye Kyo-ya, sudah sana bicarakan dulu dengan Hyo-ya,” Jun benar-benar pergi, lenyap dari pandangan mereka, sedang mata besar adiknya menatap lesu pada bayangan samar namja-nya.

Hye Kyo menggigit bibir bawahnya, semakin iri sekaligus jengkel.

‘Mengapa kau tak bisa seperti dia Min Ho Oppa? Mengapa kau tak bisa mengerti sebuah keadaan? Mengapa kau tak bisa menghadapinya sebaik Jun Oppa? Mengapa?!’ tanya Hye Kyo frustasi dalam hatinya.

Setumpuk rasa bersalah mampir di jiwanya, memikirkan Min Ho adalah ide buruk yang menghancurkan pertemuan yang seharusnya mengobati kerinduan untuk keduanya setelah dua tahun terpisah.

Eonni? Gwaenchanchi?”

“Kau ini bagaimana sih? Kau siapanya? Cepat susul dia, minta maaf dan jangan pedulikan aku.”

Eon-eonni, m-maksudnya apa?”

“Singkat saja, aku minta maaf telah membuat pertemuan kalian berantakan, dan kau sebagai pacarnya cepat hibur dia, dan lakukan apa yang sudah kukatakan tadi.”

Geureonde, Eonni..”

Ppali Hyo-ya!” ia dorong tubuh kurus itu ke depan, untuk segera mematuhi instruksi yang malas diulangnya.

Namun kaki Hyo Kun ragu melakukannya, ia tetap tegak berdiri. “Aku tahu yang kau rasakan Eonni, kau ingin Min Ho Oppa bersikap dewasa, bersikap bahwa ia benar-benar mencintaimu, dan bersikap seperti dulu, saat kali pertama kau mengenalnya.”

Perlahan sebuah danau menghampiri pelupuk mata Hye Kyo, ia balikkan badannya agar Hyo Kun tak melihatnya menangis dan segera pergi, tetapi yeoja yang lebih dewasa daripada umurnya itu mendekat, memeluk kakaknya dengan penuh sayang.

“Aku yang minta maaf padamu Eonni, karena aku tak bisa mencegah air matamu terus mengalir, aku menyesal.”

Tatkala kakak beradik itu menitikkan sejumlah tetesan bening dari mata mereka masing-masing, namja yang tak sepenuhnya pergi itu mematung sebentar lalu mengangguk pelan lantas kembali untuk menghibur keduanya.

***

Balkon kamar Min Ho amat nyaman dipakai untuk memandang sekeliling. Bunga-bunga yang bermekaran, daun serta ranting yang melambai tersenggol angin, sinar mentari hangat yang dengan senang hati memberikan asupan vitamin E untuk kulitnya seusai merangkak masuk melalui ribuan celah kecil pada pori-porinya. Pada tangan kanannya, tergenggam sebuah ponsel berwarna hitam yang jarang disentuhnya, ia putar-putar benda itu sebentar kemudian menekan salah satu tombolnya. Tertampil potret dirinya dan Hye Kyo yang berpelukan mesra, matanya tajam menganalisis segala gurat senyum yeoja itu. Manis, cantik, menawan, menentramkan, dan sederet kata lainnya yang tak mampu Min Ho ucapkan. Ia mengerti Hye Kyo adalah komponen penting dalam hidupnya, yeoja itu adalah segalanya, tetapi kini unsur itu hilang dari hari-harinya, yang terkadang membuatnya menjalani hari tanpa nyawa. Ya, Min Ho merindukan kekasihnya. Ia berpikir dirinya agak keterlaluan kemarin, tetapi namja itu bersikukuh kalau masalah itu akan jadi bom waktu jika ditabung setiap waktunya.

Ia utak-atik ponselnya lagi, mencari kontak bernama ‘Nae Chagi-ya’, tak perlu lima detik ia berhasil menemukannya, ingin disentuhnya tombol berwarna hijau pada layar itu tetapi sedetik kemudian ia urungkan.

Hyeong, kau ada masalah?” tanya Tae Min dari arah belakang yang normalnya mengagetkan Min Ho.

A-ani, aniya Tae Min-ah,” jawab Min Ho berusaha mengurangi rasa kagetnya.

“Bolehkah aku bertanya sedikit tentang…Hye Kyo-ya? Sepertinya kalian sedang jarang bertemu ya, berkomunikasipun juga terlihat sama,” Tae Min jajari Min Ho yang terlihat masih kaget, ia juga berusaha menangkap apa yang sedang dipikirkan sobat kentalnya.

“T-tidak, hubungan kami baik-baik saja kok, jeongmal,” tak mau ditanyai lebih banyak lagi, Min Ho masuk lagi ke dalam kamarnya, pura-pura sibuk mencari sesuatu.

Tae Min hanya menatap sendu Min Ho, ia benci bila keluarga kecilnya tak mau berbagi masalah yang dideritanya, itu akan menciptakan kekakuan di antara mereka. Selama tiga menit ia sebarkan pandangannya pada halaman mungil dorm-nya, mulai memeras otaknya, mencari cara yang tepat untuk rencana yang akan dijalankannya.

“Aku harus bisa, harus,” kata Tae Min dengan penuh keyakinan.

***

Sebuah mobil berwarna biru tua yang dipadukan dengan goresan-goresan artistik berwarna hitam legam memasuki kawasan Hannam-dong. Lalu parkir di sebuah gedung yang berisi ruangan untuk trainee. Entah mengapa Min Ho tertarik beristirahat kemari, ke tempat perkumpulan lead rapper yang ada di Korea Selatan ini. Ia sudah mengenal tempat ini sejak dia belum debut. Bahkan ia juga pernah mengajak Hye Kyo kemari dan mengungkapkan kalau ini adalah tempat yang kadang dipakainya untuk menyepi.

Annyeonghaseyo,” sapa Min Ho ramah pada setiap orang yang ia kenal maupun tidak. Hal ini telah ditanamkan sejak dia belum setenar sekarang, untuk melatih tata krama tujuannya.

Kini ia hanya duduk di depan pintu halaman belakang yang tak cukup luas, hanya ada kolam ikan koi di sana. Ia tolehkan kepalanya ke arah kanan, mencari pelet yang selalu tersedia untuk sekedar dilemparkan pada hewan bersirip yang berenang gemulai, menimbulkan kecipak air yang Min Ho sukai suaranya.

Tadinya dia sendirian, sebelum seorang namja bertubuh tinggi berdiri di pojok kirinya, mengamati ikan koi dengan mulut menganga yang siap menelan butir-butir makanan favoritnya. Min Ho amati penampilannya dengan seksama, pakaiannya dominan dibalut warna biru muda. Mulai dari penutup kepala, kemeja, sweater tipis, dan celana jeans. Aneh saja pikirnya, melihat itu Min Ho sedikit teringat pada Hyo Kun, yeo dongsaeng kekasihnya yang maniak warna biru muda.

Slessh

            Sudah pukul 20.00, Hye Kyo mempersilakannya masuk ke dalam rumahnya seusai membuka pintunya dengan agak sukar, karena adiknya sudah tidur dan ia lupa menaruh kunci itu di mana.

            Kesannya sepi, orang tua Hye Kyo sering pergi keluar kota dan yang tinggal bersamanya hanyalah adiknya Hyo Kun yang masih kelas 2 SMP.

            “Mengapa Eonni tadi tidak mengetuk pintunya lebih keras? Aku bisa membukakan pintunya untukmu,” protes seorang yeoja mungil ketika dia dan Hye Kyo duduk di ruang tengah, Min Ho tak sengaja memperhatikan pakaiannya, mengenakan piyama berwarna biru muda dengan motif beruang cokelat yang menggenggam bunga mawar, dia sendiri menyeret kakinya memakai sandal rumah berbentuk kucing yang berwarna senada pula. Min Ho sendiri hampir tertawa melihatnya.

            “Gwaenchanayo, Eonni tak mau mengganggu mimpi indahmu Hyo-ya, sudah sana tidur lagi,” ujar Hye Kyo sembari mengelus kepala adiknya.

            Merasa agak tertarik dengan kehadiran calon adik iparnya itu, Min Ho mendekatinya lalu sedikit berjongkok di depannya. “Annyeong Hyo-ya, mulai sekarang panggil aku Min Ho Oppa saja ya, Min Ho Oppa, bisa kan?”

            Refleks Hyo Kun menggeleng lemah, membuat Min Ho sedikit kaget. “Aku tidak diajari orang tuaku memanggil seorang namja dengan sebutan Oppa sembarangan, aku tidak ingin dikira sudah sangat akrab dengan namja tersebut, ara Min Ho-ssi?” kemudian langkah kaki kecilnya bergerak lincah menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Min Ho yang terperangah.

            “Sudah maklumi saja, pertama kali bertemu dengan siapapun pasti dia menutup dirinya begitu, tetapi kalau sudah sering dia akan benar-benar cerewet di depanmu, katanya karakter warna biru memang seperti itu,” penjelasan Hye Kyo hanya bisa ditanggapinya dengan dua kali anggukan pelan.

Slassh

‘Ah bodoh, mengapa aku jadi teringat itu?’ batin Min Ho.

Ia terkekeh mengingatnya. Dirinya juga menyukai warna biru, hanya saja tak segila Hyo Kun.

Tanpa disadari namja itu mendekat, Min Ho merasa ia pernah bertemu dengannya di suatu tempat tapi ia tak ingat, tetapi ia mengenalnya. Segera ia berdiri dan membungkuk mengucapkan salam.

Annyeonghaseyo.”

Annyeonghaseyo,” balas namja itu serupa sembari tersenyum tanpa menghilangkan mata besarnya.

Hening, tak ada satu pun suara kecuali gemerisik air dan gemeletup yang dihasilkan oleh gerakan sigap ikan-ikan koi, ia kembali duduk. Namja yang kelihatannya lebih senior dari Min Ho itu duduk di sampingnya dan memulai percakapan.

“Apakah kau mengenalku?” tanyanya hati-hati.

Min Ho agak terkejut tetapi ini terkejut heran, seonbae-nya sudi mengobrol dengannya. “Geurae, seorang Kim Jun memang harus dikenal karena dramanya yang melejitkan nama Korea.”

Jun tertawa pelan, tidak menyangka akan dipuji oleh hoobae-nya. “Dan seorang Choi Min Ho juga harus dikenal karena ia tergabung dalam SHINee, boyband yang kini sangat sukses.” *kurang panjang yak pujiannya? xD

“Kau terlalu berlebihan Seonbae.”

“Hah? Aku tak salah dengar? Aku memang Seonbae-mu tapi tak patut kau memanggilku begitu.”

Min Ho menyatukan alisnya. “Geurom?”

“Panggil aku seperti kau memanggil leader-mu, atau siapapun yang lebih senior darimu.”

Waeyo?”

“Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja.”

Geurae..”

“Ayo katakan.”

“Jun…Hyeong

“Sepertinya susah sekali sih kau mengatakan itu.”

Rasanya seakan diejek karena belum fasih bicara, bukan, bukan itu yang dirasakan Min Ho, tetapi ia baru bertatap muka dengan namja yang duluan terkenal darinya kali ini, wajar saja kalau masih kaku.

“Yah, memang susah Min Ho-ya. Oh boleh kan aku memanggilmu seperti itu?”

Min Ho hanya menganggukkan kepalanya.

“Ah omona, ada dua Min Ho di hidupku, sama-sama kupanggil Min Ho-ya, dan keduanya memiliki sifat yang sama pula.”

Mata Min Ho membulat, bertanya ‘apa maksudmu?’

“Yah Min Ho-ya. Nama itu adalah doa bukan? Tapi mengapa nama Min Ho selalu berputar pada pencerminan sifat keras kepala, tidak dewasa, bergelimang popularitas, sampai-sampai tak mau mengalah pada yeoja chingu-nya.”

Mata Min Ho memicing, bertanya lagi ‘apa kau ini bisa membaca pikiran?’

“Hei jangan kira aku ini paranormal atau semacamnya, uh perkiraan konyol, tentu saja aku tahu semua itu karena mengetahui apa yang telah dialami Hye Kyo-ya!”

Mendadak mata Min Ho mendelik keheranan, dan melayangkan pertanyaan langsung. “Dari mana kau tahu??”

“Lalu siapa yang pertama kali kau fikirkan saat melihatku? Eumh?”

Tanpa loading yang lambat Min Ho menyahut. “Hyo-ya. Kim Hyo Kun. Yeo dongsaeng Hye Kyo-ya yang…”

“Juga yeoja chingu orang yang kau ajak bicara ini,” ujar Jun yang menerawang ke depan, membayangkan yeoja yang ia inginkan terus menyertainya.

Mwo? Neo.. neo..”

“Apa? Salah jika aku memacarinya? Dia itu sudah dewasa bahkan lebih dewasa dibandingkan dirimu sendiri Min Ho-ya!”

“Hei mengapa kalian berdua terus mengataiku seperti itu? Tidak dewasa, kekanakan, kau kira aku ini masih delapan belas tahun apa? Jangan berkata yang aneh-aneh tentang diriku!”

“Kau tersinggung? Rupanya kau masih punya hati ya. Tetapi kalau kau masih punya hati, mengapa tak segera kau selesaikan masalahmu dengannya? Kau tidak merasa ia terluka karenamu? Huh?”

Tangan Min Ho mengepal, ia mulai geram, sungguh ia tak suka diajak bertengkar mulut seperti ini apalagi kalau ujung-ujungnya debat kusir.

“Tak bisa menjawab? Uh kasihan. Ternyata Flaming Charisma yang dengan senyumannya saja bisa membuat ratusan yeoja jatuh hati padanya, tapi mengapa seorang saja yang berstatus kekasihnya tak bisa ia taklukkan?”

Min Ho membuang nafasnya jengah. “Hyeong, kau terlalu ikut campur, kumohon diamlah dan jangan pojokkan aku terus.”

“Oh jadi sedari tadi kau menganggapku mencampuri urusanmu itu?”

Ne.”

Geurae kalau itu maumu Flaming Charisma, aku akan pergi, dan selesaikan masalah kecilmu yang kau besarkan sendiri,” Jun perlahan bangkit, di dalam hatinya dia sendiri sedang menghitung, menunggu Min Ho bereaksi.

Lima

Empat

Tiga

Dua

Satu…

Min Ho berdiri dan berteriak lantang. “Aku mengaku salah! Aku yang membesarkan masalah kerdil ini, aku sudah sadar kalau akulah biang keladinya!”

Jun tersenyum sebelum berbalik, lalu ia rangkul namja yang dimasuki amarah itu.

“Min Ho-ya, akan kuberitahu satu hal padamu, ayo duduk, orang yang sedang marah harus mengubah posisinya.”

Min Ho mulai mengatur nafasnya agar dia tak sepenuhnya dihantui rasa menyesal yang menggelayuti fikirannya, begitu rangkulannya terlepas ditatapnya namja bermata besar yang bintangnya mulai meredup, berbeda dengan dirinya yang kini memiliki bintang yang paling bersinar terang.

“Hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kau dan aku juga sama-sama mengalaminya, dulu aku ‘begitu’ sekarang aku ‘begini’, kau sekarang ‘begini’ dan besoknya kau akan ‘begitu’, ara?”

Sekali anggukan saja, Jun kembali melanjutkan ceramahnya.

“Kadang kau akur dengan yeoja-mu, kadang juga tidak. Tetapi sepertinya aneh kalau masalah kecil mengganas karena keegoisan namja yang punya sifat kekakanan, iya kan?”

Ne, ne, arasseo.”

“Sudah cepat minta maaf padanya, kuajari, katakan kalau kau menyesal karena lebih mementingkan egomu dan pedoman yang sudah tertata dalam otakmu daripada perasaan yeoja-mu,” jelas Jun sok menggurui, tetapi Min Ho menerimanya dengan baik, menurut seperti anak TK.

Jeongmal kamsahamnida Jun Hyeong,” Min Ho mengulas senyumnya yang menawan bagi yeoja-deul, lega juga karena ia bisa mengeluarkan kekesalannya pada objek hidup.

“Oh iya, boleh kutanyakan sesuatu padamu?” tanya Min Ho yang mulai ramah.

“Memangnya apa?”

“Apakah setelah Hyo-ya lulus SMA kau akan menikahinya, kau kan sudah ikut wajib militer?”

Aigoo!” Jun terkesiap dan hampir jatuh dari kursinya.

“Kumohon jawab aku,” Min Ho berlagak memakai aegyo Key, padahal dia sendiri benci aegyo karena bingung cara membalasnya.

“Dasar anak ini.”

“Ayo jawab Hyeong.”

Aniya.”

Mwoya?”

“Tidak ada pengulangan.”

“Akan kuberitahukan kepada Shawol kalau Kim Jun telah mencampuri urusan pribadi Flaming Charisma-nya.”

“Dasar tukang adu. Baiklah, kuberitahu satu hal lagi, kalau misalkan aku melakukannya, itu artinya aku merenggut masa depannya, aku lebih memilih menunggunya meraih dunia yang inginkannya, sudah cukup kan?”

“Kalau dia sudah tak mau denganmu bagaimana?”

Sorot mata tajam melayang ke arah Min Ho, dia sempat mendegut ludah.

“Aku akan cari yeoja lain, susah sekali sih.”

“Lalu kalau..”

“Sudah sudah jangan tanya lagi, kau segeralah ke rumah Hye Kyo-ya, aku sedang ada urusan, kalau kau mau tahu, sudah ada seminggu lebih aku menunggumu di sini hanya untuk mengomelimu, ugh menyebalkan,” Min Ho tertawa renyah melihat seniornya pergi karena tak mau diinterogasi tentang Hyo Kun, seniornya yang muncul tiba-tiba di hadapannya dan memberi pencerahan yang pada awalnya menyebalkan.

***

Tangannya menggenggam erat pada sebuah buket mawar ungu yang wanginya menyerbak, menggelitiki hidungnya seakan memberikan semangat. Namun, ia sembunyikan sebentar ke balik punggungnya. Min Ho sudah putuskan untuk minta maaf kepada Hye Kyo meski dirasakannya cukup sulit, kalimat yang diajarkan Jun padanya pun terasa asing ketika dilontarkan lidahnya sendiri.

Sudah lebih dari jam empat sore, Min Ho tahu yeoja chingu-nya sudah pulang kuliah dan calon adik iparnya pasti juga sedang memasak makan malam. Ia sudah hafal di luar kepala jam-jam kegiatan mereka berdua, karena diatur dengan rapi dan tak banyak perubahan. Karena sudah bertahun-tahun pula Min Ho menyaksikan segala rutinitas itu di depan matanya.

Tok tok tok

Min Ho berharap derap kaki yang akan didengarnya memunculkan wajah cantik Hye Kyo. Karena tak mungkin yeoja itu menyuruh yeo dongsaeng-nya tergopoh-gopoh membukakan pintu dengan celemek yang masih menempel di badannya dan juga sendok sup besar di tangan kanannya.

Kreek

***

TBC…

With Love,

Wahyu Yoshinoyuki ^_^

I’m waiting for your comeback on June 28th HoneyJun 🙂

                                   

Gimana nih first ff SHINee saya? Kayaknya masih ecek-ecek yakkk? Saya tunggu yak kritik dan sarannya di bawah ini kalau banyak yang kurang cocok atau apa, yaa namanya juga baru nyoba sekali, maklum kalo masih jauh dari sempurna

Jeongmal kamsahamnida buat yang segan baca ff ini, mau komen ataupun mengkritik ff ini, saya yakin masih banyak terdapat kekurangan yang njedul (?) banget, makasih 🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

5 thoughts on “I Need That One Thing [1.2]”

  1. Heeem sebenernya alur cerita dan percakapan tokohnya agak membingungkan.
    Tapi karna first tetep oke kok.
    Keep writting yaaak 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s