The Destiny – Part 7

The Destiny [Part 7]

Tittle                : The Destiny

Author             : Lee Hana

Main cast         : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length             : Sequel

Rating              : T

Summary         : “Sebenarnya Appa sudah menjodohkanmu dengan anak teman Appa.”

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Rika menjejaki kembali langkahnya pada lantai putih kelasnya. Dalam diam, ia melihat semua mata terarah padanya. Tatapan penuh tuntutan terhadap setiap pertanyaan yang masih melayang-layang di kepala mereka. Tapi ia tak peduli. Matanya hanya menatap satu bentuk. Seseorang yang tengah duduk dalam kesendiriannya. Hidup dalam dunianya yang gelap dan penuh nada. Menutup mata sambil mendengarkan musik di telinganya.

Seseorang seketika berdiri—menyadari sang pemilik tempat telah kembali, tetapi Rika meminta Minho duduk kembali di tempatnya—membiarkan dirinya duduk bersama Kibum. Membuat seisi kelas memandang curiga kepada mereka, sekali pun Kibum tak menyadarinya. Sedangkan Rika, ia hanya ingin membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu terus menggenangi otak mereka yang keruh.

Beberapa menit kemudian Kibum membuka matanya dan menengok tanpa semangat. Ia tersentak—hampir terjungkal jatuh dari kursinya. Matanya membulat melihat sosok gadis yang begitu ia rindukan meskipun baru tadi malam baru ia bertemu.

Tawa di dalam kelas pecah melihat reaksi Kibum, itu karena mereka memperhatikannya. Termasuk juga Rika, ia tertawa kecil.

“Ri-Rika?”

Gadis itu tersenyum lembut. “Anyeong, Kim Kibum,” sapanya manis.

“Anyeong.” Kibum melihat ke arah tas cokelat yang tergelatak di mejanya. “Kau duduk di sini?”

“Tidak apa-apa, kan?”

“Tapi …,” Kibum melihat ke sekelilingnya. Melihat teman-temannya yang memperhatikannya.

“Tidak akan terjadi apa-apa.”

______

“Bagaimana? Senang?” Rika membuka pertanyaan pada gadis yang sedang duduk di sampingnya.

Jungeun memutar kepalanya menghadap Rika. Alisnya bertaut. “Jika maksudmu karena kamu sudah sekolah lagi, tentu saja aku senang.”

 

“Bukan. Minho.”

 

“Ada apa dengannya?” Jungeun masih belum menangkap arah pembicaraan.

“Aissh. Sebenarnya kamu itu suka padanya tidak, sih?!”

“Memangnya kamu itu mau bicara apa, sih?”

“Kau senang tidak bisa duduk dengan Minhooooo?” tanya Rika lagi dengan gemas.

“Aa,” jawab gadis itu pendek kemudian menghela napas. “Dia jarang sekali bicara dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk tidur. Itu kan membosankan.” Jungeun  terlihat kecewa.

“Hahaha.”

“Kenapa, sih?”

 

“Percuma ya kamu cemburu padaku?”

Jungeun tersentak. “Kamu …, kamu tahu?!”

Rika mengadu bahunya dengan bahu Jungeun pelan. “Kamu ini! Aku tahu. Aku lihat ekspresi cemburumu ketika aku sedang asyik berbicara dengan Minho.”

Jungeun diam saja. Ia malu.

“Kau duduk denganku lagi, ya?”

“Em, kita lihat nanti saja, lah!” jawab Rika sambil pikir-pikir membuat bibir Jungeun mengerucut. “Kamu mau menemaniku pergi menemui Jinki Oppa?”

Jungeun menggeleng. “Aku tidak mau mengganggu kalian. Jinki Sunbae pasti ingin melepas rindu padamu.”

Rika menautkan alisnya. “Apa sih maksudmu?” Kemudian berlalu dengan semangat menuju kelas Jinki tanpa perlu menunggu Jungeun memberikan jawabannya.

______

Kelas yang hanya dihuni oleh Kibum kini bertambah satu ketika Minho duduk di samping Kibum yang tengah membaca majalah. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

Kibum menutup majalahnya. “Kenapa baru bertanya sekarang? Bukankah ini sudah sangat terlambat?” tanya Kibum ketus.

“Itu karena aku …, itu karena ….”

“Sudahlah.” Kibum beranjak dari kursinya.

“Aku tidak suka kamu memperlakukan Rika seperti itu!” ujar Minho lantang.

Kibum segera menoleh ke arah Minho. “Kamu menyukainya?”

Minho menunduk. “Aku hanya tidak suka. Mungkin kamu tidak tahu, tapi aku cukup dekat dengannya. Aku mengenalnya lebih jauh, dan aku tahu dia gadis yang baik. Setelah dia menghampirimu tadi pagi, aku pikir aku bersikap salah Kibum.”

Kibum duduk kembali setelah mendengarkan beberapa saat.

“Tidak. Aku hanya tidak bisa menerima semua akibat dari sikapku waktu itu. Aku hanya terlalu kesepian. Aku sebenarnya marah pada Rika, karena itu aku melakukannya dan melukainya. Saat itu aku merasa dipermainkan,” ungkap Kibum masih penuh dengan penyesalan.

“Dia tidak bermaksud Kibum. Ia merasa bersalah padamu. Dia memceritakannya padaku. Dia bilang dia gadis yang jahat karena melakukan itu padamu. Ia mengatakannya bahkan sebelum kejadian itu terjadi.”

Kibum menghela napas panjang. Merunduk penuh penyesalan. “Tetapi aku ….” Kibum mendesah sekali lagi.

______

Jonghyun yang baru keluar dari kelas tanpa sengaja bertemu dengan gadis manis itu.

“Anyeong!” sapa Rika seraya sedikit membungkuk.

“Anyeong!” sapa Jonghyun yang juga membungkukkan tubuhnya. “Sedanga apa? Mencariku, ya?” tanya Jonghyun percaya diri dengan senyum nakal.

Rika membuka mulutnya sedikit. Membuat ekspresi terkejut yang dibuat-buat. “Bagaimana kamu tahu?!” tanyanya lalu tertawa sedikit.

Jonghyun merona. Ia tidak tahu gadis ini ternyata jauh lebih manis dari bayangannya. Ia tahu siapa yang Rika cari, karenanya ia sedikit menghela. “Mau aku paggilkan Jinki?” tanya Jonghyun yang merupakan teman satu bangku Jinki di kelas.

Rika mengangguk semangat.

Jonghyun masuk kembali ke dalam kelas dan menghampiri Jinki yang sedang bergumul dengan buku pelajaran di hadapannya. “Yah!”

Jinki mendongak. “Mwo?”

Jonghyun menggerak-gerakkan kepalanya ke arah pintu kelas. Jinki mengernyit membuat Jonghyun memutar kedua bola matanya ke atas. “Rika,” jawabnya malas.

Jinki melihat ke luar kelas. Sesosok gadis tengah melambai dengan senyum manis membuatnya segera beranjak dan berlari meninggalkan Jonghyun begitu saja.

“Chagi-ya!” panggil Jinki semangat dengan senyum merekah dan berhambur dengan tangan terbuka lebar.

Jonghyun duduk di kursinya. Menyanggah dagu dengan kepalan tangan. Melihat Jinki dengan iri. Ia mendesah sekali lagi.

“Oppa!” bentak Rika seraya menyanggah dada Jinki. “Jangan lakukan ini di depan umum!”

Jinki merengut sebentar lalu tersenyum. “Aku senang sekali melihatmu kembali ke sekolah.”

Rika tersenyum puas.

______

Tak terasa sudah sepuluh hari ia terus duduk bersama Kibum. Dan Rika sadar ia tak mungkin membiarkan Kibum terus menerus seperti itu. Ia sadar ialah yang harus bertindak untuk mengakhri semua masalah ini. Masalah yang ia timbulkan tanpa sengaja, dan bukan berati ia harus lepas tangan atas semua ini. Semuanya terlalu membaninya.

Rika dengan berat hati menghancurkan ‘ayam-ayamannya’. Yang selama bertahun-tahun ia simpan dan terus ia isi dengan uang recehan atau pun jumlah yang lebih besar. Terdengar sangat kuno memang, dan menyusahkan mengingat ia harus membawanya hingga ke Korea. Tapi ia sangat suka mengisinya sampai penuh dan menebak berapa jumlah yang akan ia dapatkan. Tapi sekarang, bahkan baru dua per tiga terisi ia harus menghancurkannya.

Ini demi kalian teman-teman

______

Seseorang menghampiri Jonghyun yang tengah sibuk dengan PSP-nya.

“Jonghyun, ada yang mencarimu di luar.”

“Nugu?” tanya Jonghyun tanpa mengalihkan pandangannya. Dan masih begitu serius dengan benda di tangannya.

“Molla. Dia yeoja.”

“Yeoja? Eunseok?”

“Ani. Dia sepertinya bukan orang Korea.”

“Rika,” gumamnya kemudian segera mematikan PSP-nya dan meninggalkan tempat duduknya. Menghampiri Rika yang sedang sibuk memandangi lantai.

“Rika.”

“Jong Oppa.”

“Ada apa? Mencari Jinki? Dia sedang keluar.”

“Aniyo. Aku mencarimu.”

Mata Jonghyun membulat. “Aku?” Jonghyun menunjuk wajahnya sendiri.

“Ne. Apa hari minggu nanti ada waktu?”

“Minggu?”

“Ne. Aku mau mengajakmu bermain dan lunch. Jadi, apa bisa?

Jonghyun mengingat-ingat kegiatannya pada hari minggu dan berpikir untuk beberapa lama.

“Sepertinya tidak bisa, ya? Kalau begitu aku pergi sekarang.”

“Eh, tunggu! Aku bisa, kok.”

“Jeongmal?!” tanya Rika riang.

“Ne,” jawab Jonghyun sedikit terpaksa.

“Senangnya. Gomaweo. Aku akan menunggumu. Sampai jumpa. Jangan lupa datang ya, Oppa!”

Rika pergi dengan gembira seraya melambai.

Jonghyun terdiam. “Omo. Apa yang aku lakukan? Apa yang harus aku katakan pada yang lainnya?” Jonghyun menggaruk kepalanya bingung. Ia pun kembali ke dalam kelasnya.

______

Jinki menyuap makanannya dengan sangat lahap. Tiga potong ayam goreng telah dihabiskannya. Sedangkan dua orang paruh bawa di hadapannya hanya bisa saling berpandang dengan ekspresi bingung. Dan seorang namja yang duduk di sampingnya hanya menyantap makanannya dengan biasa saja.

“Ini lezat sekali,” ujar Jinki tidak jelas yang tengah mengunyah makanannya.

“Taemin, apa yang terjadi pada hyung-mu?” tanya Nyonya Lee.

“Hari ini yeojacingu Jinki Hyung masuk sekolah lagi setelah tiga hari sakit, Eomma.”

“Mwo?!” pekik sepasang suami isteri itu.

“Tepatnya dia mengajakku kencan besok.” Jinki menyahut yang baru saja menelan makanannya.

“Kau sudah punya pacar? Kenapa tak katakan pada kami?” protes Tuan Lee.

“Karena kami baru seminggu pacaran.” Jinki menyuap lagi.

“Hyung, sepertinya Hyung salah paham. Itu tidak mungkin kencan karena Rika Noona memintaku datang bersamamu besok,” ralat Taemin kemudian menenggak minumannya.

“Aissh!” gerutu Jinki kemudian menghentikan makannya.

“Rika? Namanya Rika? Terdengar asing. Apa dia orang Jepang?” tanya Nyona Lee.

“Aniyo, Eomma. Dia orang Indonesia,” jawab Taemin.

“Appa jadi penasaran. Kalau ada waktu kenalkan dia pada kami,” pinta Tuan Lee.

 

“Ne, Appa.”

 

______

 

Jonghyun telah berada di tempat yang Rika  tentukan—sebuah restoran kecil di pinggir pasar. Tempatnya memang sedikit kuno. Ia datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Tapi sesuatu telah membuatnya bingung. Di tempat itu tak ada pelanggan lain selain dirinya.

Tak berapa lama berselang, terdengar gemerincing bel yang terdengar dari bel yang menggantung pada sudut pintu—tanda bahwa ada seseorang yang baru saja memasuki restoran itu. Dua orang yang Jonghyun kenal.

“Kalian? Apa yang kamu lakukan dengannya di sini, Minho?”

“Rika mengundang kami. Hyung, sendiri?”

“Sama.” Tampang Jonghyung berubah sedikit kesal melihat tampang Kibum.

Kibum melangkah menuju meja lainnya mengetahui Jonghyun yang sudah pasti akan menolaknya untuk duduk bersama. Minho mengikutinya. Gemerincing bel kembali terdengar. Kali ini perhatian mereka teralih pada Lee bersaudara yang terlihat bingung melihat mereka di sana.

“Kalian diundang juga?” tanya Taemin sedangkan Jinki hanya mendesah berat melihat sosok yang tengah duduk bersama Minho.

Keduanya mengangguk. Dua? Ya, Kibum merasa Taemin marah padanya. Jadi, ia kira yang dimaksud dengan kata ‘kalian’ oleh Taemin adalah Minho dan Jonghyun saja, karenanya ia diam dan tetap menunduk. Mereka berdua duduk menemani Jonghyun yang duduk sendirian.

Sekitar lima belas menit kemudian Rika datang dengan barang-barang bawaannya—sebuah ransel. Ia melihat mereka duduk terpisah, karenanya ia mendesah. Ia berjalan menuju sebuah meja bundar besar yang ia pesan khusus dari pemilik tempat ini. Ia duduk di sana. Dan ada enam kursi yang mengelilinginya. Pas untuk mereka semua—tidak lebih dan tidak kurang. Rupanya Rika sudah mempersiapkan ini dengan sangat matang.

Pada akhirnya mereka duduk bersama membantuk lingkaran. Meski pada dasarnya Jonghyun dan Jinki tak suka; sedangkan Taemin terlihat kaku; Minho dan Rika terlihat tidak terlalu nyaman dengan keadaan ini.

Rika membalikkan isi tasnya yang terbuka. Mengeluarkan semua isinya dengan kasar. Buku, beberapa pulpen, toples kosong, gelas yang nanti akan diisi yang gulungan kertas kecil, serta lipstik merah muda dan sebuah botol kosong yang baru saja dibawa oleh sang pelayan.

Mereka semua melihat barang-barang yang berserakan itu dengan bingung, kemudian menatap Rika penuh tanya.

“Kita mau apa?” tanya Jonghyun.

“Bermain.”

Semua saling bertatap bingung tanpa bicara.

“Jadi begini …,” Rika mulai memberitahu cara bermainnya dan yang lainnya mendengarkan dengan seksama.

Setelah mendengarkan beberapa menit mereka mulai mengikuti instruksi Rika untuk menulis—lima pertanyaan seputar diri mereka—dan memasukkannya ke dalam toples kosong itu.

“Mulai!”

Botol mulai di putar. Mereka menanti-nanti siapakah sasaran empuk untuk ditanyai. Botol berhenti pada Jonghyun, dan sesuai tata cara permainan yang Rika buat—Jonghyun harus mengocok gelas hingga sebuah pertanyaan yang tertulis pada gulungan kertas itu keluar.

“Apa warna yang Kibum paling sukai?” Jonghyun membaca secarik kertas kecil di tangannya. “Merah muda,” jawab Joghyun tak sampai dua detik.

“Itu sih mudah,” celetuk Jinki, sedangkan Rika meringis senang.

Putaran kedua dimulai. Kali ini botol berhenti pada Kibum.

“Makanan apa yang paling Jinki sukai?”

“Ayam.”  Kembali benar.

Terus seperti itu. Semua pertanyaan yang mereka jawab benar semua, dan tak ada yang meleset sekali pun. Bagi Rika itu adalah hal yang istimewa. Ia tidak menyangka bahwa ia telah merusak persahabatan yang telah terjalin sekuat ini. Ini membuatnya sedih, tetapi permainan ini memanglah salah satu rencananya untuk mendekatkan mereka kembali.

“Minuman apa yang paling Taemin sukai?” Rika membaca kertas di tangannya kemudian berpikir seraya melihat Taemin. “Emmm, susu?” terkanya.

“Benar,” ujar Jinki.

Rika melotot tak percaya. Padahal ia sudah pasrah dengan hukuman yang sudah menantinya. Ia menjawabnya asal. Ia sudah siap wajahnya dicoret dengan lipstiknya sendiri, tetapi mendengar bahwa jawabannya itu benar ia menjadi takjub. “Jeongmal?!” pekiknya.

“Tunggu dulu! Susu apa?” Taemin kurang puas dengan jawaban yang Rika berikan.

“Susu apa? Em, sebentar!” Rika kembali berpikir dan ia berharap tebakannya kali ini benar lagi. “Susu cokelat?”

“Salah!” ujar kelimanya serempak membuat Rika sedikit terkejut hingga harus beberapa kali mengerjapkan matanya, sesaat kemudian ia mendesah dengan tubuh lemas.

“Aku tahu ini pasti akan terjadi padaku,” ujar Rika pasrah.

Arraseo. Kamu boleh mencoret wajahku. Tapi ingat! Satu coretan saja, ya?” Rika menunjuk-nunjuk Taemin yang kini sudah duduk di sampingnya dan telah memegang lipstik di tangannya.

Taemin memutarnya. Mengeluarkan stik berwarna merah muda, sedangkan Rika menutup matanya erat. Ia benar-benar tidak mau terlihat lucu di hadapan mereka semua, tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin melanggar peraturan yang ia buat sendiri, kan?

Taemin menempelkan Lipstik itu pada bibir Rika dengan jeli dan sangat hati-hati. Sebenarnya pada saat itu hatinya benar-benar berdebar, dan pada saat itu juga Taemin merasa malu melakukannya. Sedangkan yang lainnya terlihat iri, khususnya hyung-nya sendiri. Sebagai namjacingu Rika, bahkan ia belum pernah memakaikan lipstik di bibir gadis itu. Itu sangat membuatnya cemburu.

“Eh?” Rika merasa aneh. Ia membuka matanya dan melihat Taemin memakaikan lipstik pada bibirnya dengan jarak yang cukup dekat.

Lipstik telah menempel pada bibir Rika dengan rapi dan cantik. Gadis itu segera bercermin dan ia terlihat cukup terkejut. “Taemin, bukankah aku bilang kamu boleh mencoret wajahku?”

“Bibir bukannya bagian dari wajah juga?” jawab Taemin polos.

Wajah Rika memerah dan tersenyum manis kepada Taemin. Berkata, ‘kau baik sekali, Lee Taemin’ lewat senyumannya itu.

“Jadi, apa kalian sudah berbaikan?” tanya Rika membuat semuanya terkejut. “Apa kalian tidak sadar kalian begitu dekat? Aku bahkan sangat iri pada kalian. Tapi kenapa hanya karena aku persahabatan itu kalian putuskan dengan begitu mudahnya. Jangan pernah melepaskan hal yang begitu berharga seperti itu hanya karena seorang yeoja. Jika aku tahu bahwa aku hanya membawa perpecahan di antara kalian, aku lebih memilih menghilang dari hadapan kalian. Apa kalian tidak tahu aku merasa bersalah?” ungkap Rika membuat semuanya bungkam.

“Jadi kamu sudah merencanakan ini sebelumnya, Chagiya?”

“Ne, Oppa. Aku bahkan sudah menggunakan sebagian besar tabunganku untuk mem-booking tempat ini.”

Jinki tersenyum kecil. Ia senang bahwa yeojacingu kesayangannya adalah yeoja yang dewasa dan begitu baik. Ia bangga. “Kibum, aku sudah memaafkanmu.”

Kibum tersentak. Ia mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk menatap Jinki yang tengah tersenyum kepadanya. “Go-gomapseumnida, Hyung.”

Kibum melihat ke arah semua sahabatnya itu satu persatu. Mereka semua tersenyum tulus pada Kibum seperti Jinki. Memberi isyarat bahwa mereka juga sudah bisa menerimanya. Dan itu semua membuat Kibum menangis haru.

“Kibum, aku tak tahu hatimu selembut ini hingga bisa menangis,” ujar Rika terkejut.

“Dia memang cengeng, Rika,” celetuk Jonghyun.

“Jong Hyung lebih cengeng lagi, Rika Noona,” ungkap Taemin membuat Jonghyun menatap Taemin tajam. Sedangkan Rika tertawa bahagia. Ia senang bahwa pengorbanannya tidaklah sia-sia.

“Gomaweo teman-teman. Aku benar-benar bersyukur. Baiklah, hari ini aku akan mentraktir kalian makan,” ujar Kibum yang baru saja selesai menangis.

“Yeah!”

______

Seorang laki-laki berjas hitam tengah berjalan menuju seseorang yang memakai pakaian yang senada. Seseorang yang tengah duduk di dekat etalase sebuah restoran mewah. Ia tengah bersandar pada kursi seraya menatap jalanan kota Seoul di siang ini.

“Anyeonghaseyo,” sapa laki-laki tadi kemudian duduk di hadapannnya.

“Anyeonghaseyo.”

“Jadi, kenapa kamu memintaku datang? Apa ini masalah kesepakatan kerja kita?”

“Aniyo. Ini masalah perjodohan anak-anak kita. Aku ingin mempercepatnya.”

“Ah, aku tak benar-benar yakin dengan masalah ini. Putriku masih sangat muda.”

“Apa yang kamu bicarakan? Kita hanya memperkenalkan satu sama lainnya secara resmi. Setelahnya aku akan memberikan mereka kebebasan dengan pertunangan ataupun pernikahan.”

“Kenapa begitu tiba-tiba? Bukankah kita sepakat untuk melakukannya ketika mereka lulus nanti?”

“Keadaan anakku kurang baik belakangan ini. Ia selalu muram dan jarang bicara. Ia juga jarang makan. Aku khawatir padanya. Aku harap dengan pertemuan ini keadaannya bisa membaik.”

“Begitu. Baiklah, aku akan katakan padanya.”

______

Sore telah menjelang, tapi perasaan bahagia Kibum belum juga hilang. Sepanjang perjalanannya pulang ia tak henti-hentinya tersenyum bagai orang yang punya penyakit kejiwaan. Ia tak peduli dengan pandangan orang yang menatapnya heran. Ia hanya merasa begitu bahagia sahabat-sahabatnya bisa menerimanya kembali, ditambah Rika yang entah kenapa menjadi begitu baik padanya. Seseorang yang sudah banyak berkorban untuknya.

Kibum berjalan memasuki rumah besarnya. Di ruang keluarga, ia melihat ayah dan ibunya tengah duduk berdampingan di sofa. Mereka terlihat seperti tengah mendiskusikan sesuatu yang tampaknya serius.

“Selamat sore, Amma, Appa!”

Kedua orang tuanya menoleh ke arah Kibum. “Duduklah, Kibum!” perintah Tuan Kim.

Kibum duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. “Ada apa, Appa?”

“Sebenarnya Appa sudah menjodohkanmu dengan anak teman Appa.”

“Mwo?! Appa, mana bisa melakukan hal ini terhadapku? Appa, memutuskannya sendirian tanpa meminta pendapatku?!”

“Mianhaeyo. Kami sebenarnya ingin mendiskusikan hal ini juga denganmu, tapi melihat sikapmu belakangan ini, kami berpikir hal ini adalah yang terbaik. Kami tidak mau melihatmu selalu murung. Amma, khawatir padamu, Kibum.”

“Tapi, Amma, aku sudah menyukai gadis lain.”

“Kami sudah tahu itu. Minho sudah menceritakannya pada Amma. Dia bilang kamu murung karena kamu patah hati. Gadis yang kamu suka ternyata sudah menjadi pacar Jinki, kan?”

“Karena itu, kami bersepakat bahwa dengan perjodohanmu maka sakit hatimu akan sedikit terobati,” timpal Tuan Lee. Berharap anak semata wayangnya bisa mengerti dengan keputusan mereka.

Kibum terdiam meski apa yang baru saja mereka katakan bukanlah satu-satunya alasan atas sikapnya. Ia menimang-nimang sesaat untuk memberikan pengakuan dosanya.

“Kibum, Appa dengar dia gadis yang manis dan baik. Ia juga pitar dan berasal dari keluarga yang baik. Gadis itu bernama ….”

Appa, aku mau mengaku. Apa yang kalian dengar dari Minho bukanlah satu-satunya alasan. Mungkin lebih tepat jika dibilang kalau itu bukanlah alasan utamanya. Itu karena aku membuat kesalahan besar pada gadis itu dan Jinki Hyung,” potong Kibum. Kedua tangannya saling menggenggam dengan erat. Matanya menatap kedua orang di hadapannya dengan tatapan serius.

 

“Apa maksudmu Minho tak mengatakan semuanya?” tanya Nyonya Kim.

“Ne, Amma. Aku …, aku sudah mencium paksa kekasih Jinki Hyung, dan tanpa sengaja Jinki Hyung melihatnya. Setelahnya gadis itu sakit dan mereka semua marah padaku, termasuk Minho juga,” aku Kibum sedih.

“Karena itu, aku sedih. Karena aku marah pada diriku sendiri, dan karena aku kesepian. Seisi sekolah bergunjing di belakangku. Appa, Amma, sekarang aku sudah baik-baik saja. Mereka semua sudah memaafkanku dan gadis itu sudah bisa tersenyum lagi seperti biasanya. Jadi, bisakah kalian membatalkan perjodohan ini?”

Sesaat kedua orang tuanya saling menatap dengan serius. “Kibum, Appa sudah terlanjur mengatakan hal ini pada teman Appa. Maaf, kami tidak bisa.”

Kibum merunduk dalam. begitu sedih dan kecewa terhadap kedua orang tuanya.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

10 thoughts on “The Destiny – Part 7”

  1. aahh..
    syukurlah mereka sudah bersahabat kembali..
    si Rika pinter juga nih milih cara biar bisa baikan..
    mirip permainan truth or dare..

    awal baca di Summary-nya, saya kira yang mo dijodohin si Jinki, ternyata Kibum..

    Di part awal yang nikah duluan si Jinki, bukan Kibum..

    Yawda deh Hana, saya tunggu part selanjutnya ya.. 🙂

    1. saya, kan nggak tega eonnie kalo mereka trus-trusan beratem.
      eh, tahu, ya si kibum?
      eonnie ralat! itu bukan nikah, tapi tunangan. eksis di koment terus ya eonnie!
      thx lagi!

  2. pas baca summary malah aku kira Rika yg bklan dijodohin…
    ato jgn2 ntr yg mw dijodohin sm kibum itu Rika yah???
    Andwe… ntr Jinki merana donk???
    ya udahlah, ditunggu next part aja dech…
    makin kesini makin seru aja nich 🙂

    1. jeongmal?!!
      nanti ketawan kok siapa sma siapa di part-part terakhir. tapi masih agak lama juga sih. sabar, ya. author kasih yang terbaik deh buat semuanya.
      thx mau koment, indri

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s