Family Business – Part 2 : Black Shuck

Back Shuck

Title                 : Family Business : Black Shuck

Author             : Black Scratch

Main Cast        :

  • Choi Minna (OCs)
  • Choi ‘Minho’ (SHINee)
  • Kim Taeyeon (SNSD)
  • Lee ‘Taemin’ (SHINee)
  • Lee Jinki ‘Onew’ (SHINee)

Support Cast    :

  • The Others

Genre              : Horror, Fantasy, Mystery, Action, Tragedy , Romance

Length             : Sequel

Rating              : PG

Inspired Film   : Supernatural

Sebelumnya terima kasih kepada buku John Winchester’s Journal karena sudah memberikan petunjuk bagi semua legenda-legenda yang dicatatnya disana.

Sebelumnya, karena author ga tau jarak dan waktu untuk sampe ke suatu tempat di US, author buat ceritanya asal sampe aja ya.

FF ini udh author post di blog author. Siapa yg berbaik hati pen liat2 blog author, silahkan kesini http://sammylittlexotaemints.wordpress.com/

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

“ Kajja! Aku ingin memakan makanan dingin itu. “ Kata Minna. Minna kemudian dengan santai membuka pintu keluar, namun terkunci. “ Mwoya? Ini belum jam tutup, tapi kenapa terkunci? “

“ Euh, Minna. Bisa kau berbalik sebentar untuk melihat ini? kau pasti sudah tak sabar. “ Pinta Minho.

“ Ommo, kosong… “ Ketika Minna berbicara itu, lampu pun mati. “ Augh… Apakah iblis-iblis di Amerika gemar mematikan lampu? “

“ Hey! Anybody?! “ Kemudian teriakkan seseorang terdengar oleh mereka.

“ Tapi Tuhan begitu baik, memilih korban yeoja. “ Kata Minho kemudian mencari darimana asalnya suara teriakkan itu sambil membawa korek api di tangannya.

Mereka menemukan 4 yeoja di kamar mandi, sedang mencari pintu di keadaan gelap. Sepertinya salah seorang dari mereka adalah orang Korea, karena ia terus menggerutu menggunakan bahasa korea.

“ Agassi? “ Tanya Minna. “ Apa yang kau lakukan disini? “

“ Ahh… Akhirnya. Anni, aku hanya mencuci bajuku ini, habis terkena saus tomat. Namun kemudian lampu mati dan aku tak membawa penerangan apapun. “ Jelasnya.

“ Apa ini sudah jam tutup? Pintu dikunci. “ Tanya Minho.

“ Belum. Ini baru jam 9 PM. Belum waktunya untuk tutup. “ Jawabnya.

DUG

Bunyi itu tiba-tiba keluar. Minna spontan membuka pintu kamar mandi.

“ Kalian ikut atau tidak? “ Tanya Minna. Kemudian mereka berjalan mengikutinya.

Hanya satu korek api yang menemani mereka berenam. Minna memimpin kelima orang lainnya menuju ke pintu keluar. Masih terkunci rupanya.

“ Maukah kau melakukannya untuk kami? “ Tanya Minna. Minna mengisyaratkan untuk untuk menendang pintu yang terbuat dari kaca itu dengan menggoyangkan kepalanya ke arah pintu dan tersenyum. Minho memutar manik matanya.

“ Apakah harus? “ Tanya Minho mencoba meyakinkan. Minna tersenyum sambil mengangguk. Minho kemudian mengangguk tak yakin dan mundur beberapa langkah. “ Maaf, nona-nona. Sepertinya kalian harus mundur. “ Dan Minho pun berlari lalu menendang pintu kaca itu dengan kuat. Namun bukannya malah pecah, Minho malah hampir mematahkan kakinya sendiri.

“ Minho! “ Teriak Minna lalu berlari kepada Minho.

“ Gwenchana. Hanya sedikit pusing di awal. “ Katanya sambil menggelengkan kepala.

“ You.. Apa kau tahu dimana jalan keluar yang lain? “ Tanya Minna

“ Ada, jalan belakang. “ Jawab yeoja itu kemudian.

Yeoja itu memimpin jalan dengan ragu-ragu. Minna sedikit mendorong yeoja itu. Minna beserta yang lain merasa aman di belakang yeoja ini. Namun tidak dengan sang yeoja. Minna agak ketinggalan berjalan ketimbang yang lain.

“ Argh! “ Teriak yeoja itu kemudian hilang di balik pintu sebelah kanan dari koridor kantor. Kedua yeoja yang lain langsung mundur perlahan, kecuali yeoja Korea yang satu itu.

“ Jangan berlari jika kalian tidak ingin mati cepat. “ Perintah Minna. Kedua yeoja ini mengurungkan niatnya dan maju beberapa langkah. “ Neo… Jaga dia. aku akan mengeceknya. “

“ Minna, kau yakin? Ini baru hari pertama. “ Kata Minho mencoba meyakinkan.

“ Setidaknya aku lebih pintar darimu. “ Balas Minna sambil menyeringai. Minho hanya tersenyum garing dan membiarkan Minna pergi.

Minna membawa korek api Minho bersamanya. Berjalan di koridor yang membawanya ke sebuah ruangan. Disana, ia melihat dengan jelas beberapa potong tubuh yang sedang terpental-pental di ruangan itu. ia segera bersembunyi di balik sebuah meja kantor di ruangan tersebut. Ia tak melihat apapun disana, namun ia bisa melihat bagaimana darah dan bagian tubuh terpental kesana kemari dan menghilang seperti di makan sesuatu. Ia mencoba berpikir. Mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk menyelidiki hal ini.

Tak lama kemudian ia menemukan sebotol kecil tinta di meja yang menyembunyikannya. Ia mengambil tinta itu dengan cepat dan menyiramkannya kepada benda yang mencabik yeoja tadi. Ia membulatkan matanya.

“ I think i should run. “ Ketika ia melihat seekor anjing yang begitu besar terbanjur oleh tinta hitam yang ia siramkan kepada anjing tersebut, ia langsung lari sekencang-kencangnya. Gonggongan anjing yang mengejarnya semakin dekat. Minna berlari ke arah Minho menunggu dirinya.

Minna tak bisa lagi berpikir. Saat itu satu-satunya jalan keluar hanya pintu itu. Minna sedikit tergelincir ketika membuka pintu.

“ Run! “ Serunya dengan singkat. Minho dan ketiga yeoja yang lainnya langsung lari. Kedua yeoja yang bersama mereka langsung berpencar. “ Sial, anjing ini lebih dari satu! “

“ Jadi? “ Tanya Minho terus berlari.

“ Mereka akan mati cepat jika mereka berpencar seperti… “

“ Argh! “ Kedua yeoja itu berteriak serempak. Ketiganya berhenti. Kemudian saling bertatapan.

“ Lebih banyak yang mengejar. “ Ucap Minna. Minna kemudian langsung memimpin pelarian mereka. Kedua orang lainnya saling menatap sebelum akhirnya mereka menyusul Minna.

Mereka berbelok ke sebuah ruangan yang mereka ketahui sebagai gudang. Minho lalu menguncinya dan duduk dengan bersenderkan pintu tersebut. Anjing yang entah berapa jumlahnya itu mulai menggonggong dan mengetuk pintu gudang.

“ Hh… Hh… Setidaknyah… Kita sudah bisa beristirahat… Hh… “ Ucap karyawan Korea itu.

“ Hey, yeoja Korea. Siapa namamu? “ Tanya Minna sambil terengah.

“ Na? Taeyeon. Kim Taeyeon. “ Jawabnya.

“ Sudah aku bilang dia masih hidup, bukan? “ Yakin Minho. Minna tak menggubrisnya.

“ Kau bawa jurnal Appa? “ Tanya Minna kemudian.

“ Hey, tunggu. Siapa kalian? “ Tanya karyawan Korea itu kemudian.

“ Kami? Choi bersaudara. Kau masih ingat kami? “ Jawab Minho.

“ Choi bersau… Minna? Minho? “ Tanya Taeyeon.

“ Ahh… Noona masih mengingat kami rupanya. “ Ucap Minho masih dengan sengalannya.

“ Makhluk apa itu tadi? “ Tanya Taeyeon.

“ Kau bawa jurnal Appa? “

“ Aku membawanya… Tapi kupikir… “

“ Jangan banyak berpikir. “ Minna kemudian merebut jurnal itu dan membacanya sembarang.

Anjing hitam atau Black Shuck. Dari bahasa Inggris kuno scucca = setan. Juga dikenal sebagai barghest, yang artinya tanda kematian. Anjing-anjing hitam menghantui jalan-jalan. Kadang mereka ditemani wanita tak berkepala atau anjingnya yang tidak berkepala. Kalau melihat mereka artinya salah satu anggota keluargamu akan meninggal. Sebagian besar cerita yang ada di buku berasal dari Inggris, tapi aku sudah bertanya-tanya sedikit ke sana sini. Semua orang punya cerita tentang anjing hitam: di Mason Country, Tennesse; Meriden, Connecticut; Long Island, Oregon.

 

[Black Shuck’s Picture]

 

Minna membaca tulisan Appanya yang bertuliskan informasi tentang Anjing hitam atau Black Shuck ini. Ia terpikir akan apa yang mereka hadapi saat ini.

“Mungkin inikah Black Shuck? Namun dari cerita masyarakat zaman dulu, Black Shuck adalah anjing hitam yang besar. Tapi kenapa ini tidak terlihat? “ Tanya Minna.

“ Kau mungkin belum mengerti intinya. Namun Black Shuck akan terlihat atau lebih tepatnya memperlihatkan diri ketika akan ada satu orang anggota keluargamu akan meninggal. Jadi mereka tidak terlihat sekarang. Apakah kita akan disini atau kita melakukan sesuatu? Pintu ini tak akan kuat selamanya. “ Usul Taeyeon.

“ Apa disitu dijelaskan bagaimana cara membunuh mereka? “ Tanya Minho. Minna mencoba menemukan sesuatu, namun ia tak menemukan apapun di buku setebal itu hanya dalam waktu kurang dari satu menit saja. Minna kemudian menggeleng.

“ Mereka bisa dibunuh hanya dengan senjata api biasa. Tapi mereka terlalu banyak untuk dimusnahkan satu persatu. Apalagi kita tidak memiliki senjata apapun. “ Jelas Taeyeon.

“ Jadi kau menjadi pemburu sekarang? “ Ejek Minna.

“ Ini untuk membalas dendam semua orang yang sudah terpenggal tubuhnya. Sesudahnya, aku akan berhenti bekerja seperti ini. “ Jawab Taeyeon.

“ Kecuali kita punya satu cara… “

**********************

Minna berlari dengan sekuat tenaga. Mengalihkan perhatian dari Anjing Hitam yang haus darah dan kelaparan. Minna adalah atlit lari sejak ia duduk di kelas 2 sekolah dasar. Ia juga banyak memenangkan medalinya. Namun mungkin perlombaan lari itu lebih tidak berharga daripada perlombaan sekarang. karena hadiah utamanya adalah tetap hidup. Tetap berkeliling di gedung yang sama tak membuatnya lelah begitu banyak. Ia hanya perlu menghindar dan berlari.

Sementara Taeyeon mencoba turun ke lantai bawah melewati jendela luar lantai dua, Minho memegangi tali tambang bekas di gudang yang mengikat Taeyeon turun.

“ Lebih baik kau cepat dan menemukan senjatanya. “ Gumam Minho sambil terus mengulur dengan pelan tali yang mengikat Taeyeon.

“ Tinta… Tinta… Tinta… Nah. Itu dia! “ Minna berlari lebih cepat mengambil langsung tinta di meja salah satu kantor sambil terus berlari. Ia kemudian menyiram anjing-anjing itu. sebagian anjing itu terlihat. Namun ada beberapa gonggongan tak berwujud disana. Minna kembali mencari tinta untuk menyiram beberapa ekor anjing lagi. ia menemukannya, namun ia tak dapat menemukan dimana anjing yang belum tersiram. Jadi ia berhenti dan berbalik. Anjing-anjing di belakangnya juga berhenti seolah menantang, memberi kesempatan Minna untuk tersengal dan menikmati indahnya hidup sebelum kematian menjemput. Ia menantang anjing-anjing yang berjumlah lebih dari 3 itu dengan memberi isyarat untuk maju. Anjing-anjing itu pun menggonggong dan mendekat dengan cepat.

“ Argh! Ahh! “ Teriak Minna ketika sesuatu dirasanya menggigit kakinya. Ia mengatupkan matanya.

DOR

Dan suara menggema di ruangan seiring dengan suara pecahan kaca yang berhamburan. Taeyeon dan Minho mulai menembaki satu persatu anjing yang telah ditandai oleh  Minna. Satu persatu anjing-anjing itu mengeluarkan darahnya dan mengerang kesakitan. Minna masih saja mengatupkan matanya menahan sakit. Satu anjing kemudian menggonggong, anjing yang mengigit Minna.

“ Tenang. Kita buat kesepakatan. “ Ucap anjing itu sambil terus menggeret Minna.

“ Kau tak bilang kau bisa bicara, setan. “ Balas Taeyeon mengejek.

“ Kau tahu. Ini bukan anjing. Ini aku. Seorang yang kalian cari. Seorang yang membunuh semua orang tua kalian. Ternyata masih ada yng belum mati rupanya. “

“ Diam kau, anjing! Apa yang bisa kami percaya darimu? “ Tanya Minho.

“ Sudah lama ya, Minho. Hanya untuk menyelamatkan adikmu saja. “

“ Apa itu? “ Tanya Taeyeon.

“ Asal kalian setuju, aku akan langsung melepaskannya. “

“ Jangan lakukan, bodoh! “

“ Aku hanya tinggal memenggal kepalanya. Dan aku tak bisa menunggu lama. “

“ Apapun itu, asal kau menyerahkan dia terlebih dahulu. “ Ucap Minho kemudian. Minna dilemparkannya kasar ke depan kaki Minho dan Taeyeon.

“ Aku hanya meminta darahnya untuk persetujuan, terima kasih kawan lama. “

“ Makan ini kawan lama. “ Dan Minho menembak anjing itu. sebuah asap berwarna hitam akhirnya keluar dari mayat setan yang kesetanan (?).

“ Minna! “ Teriak Minho. Ia mencabut sesuatu dari kaki Minna. Semacam gigi yang sangat besar menancap di kaki Minna. Terukir semacam nomor di permukaan gigi tersebut. 0303. Ia akhirnya menyimpan gigi tersebut di dalam kantong jaketnya.

“ Bagaimana menurutmu? Kita sebagai keluarga sekarang berburu. “ Tanya Taeyeon sambil mengikat luka Minna dengan jaketnya.

“ Aku? Pemburu? Yang benar saja. Appa tak pernah mengizinkanku bertemu makhluk seperti tadi. “ Ujar Minho kemudian sambil menggendong Minna.

“ Jeongmal? Kukira sebagai sesama namja kalian membagi hal tentang ini. “

“ Ia hanya menyuruhku untuk menembak dan menembak. Itu membosankan. “

“ Kau harus lebih banyak belajar dari Noonamu ini. “

“ Kau bawa kendaraan? “

“ Ne. Tenang saja. “

Minho, Minna dan Taeyeon berada di satu motel di daerah Kansas. Taeyeon menjahit luka Minna yang tertidur. Sementara Minho membersihkan senjata-senjatanya. Dan senjata kesayangannya, senapan Steven 311 side-by-side yang ampuh menghilangkan apapun.

“ Bagaimana kabar kalian? “ Tanya Taeyeon tiba-tiba.

“ Sangat tak baik. semenjak hari itu, ia menjadi orang yang jarang sekali tertidur. Aku yang khawatir selalu menjaganya dan memeluknya di ranjang bayi. Aku tak mengerti, tapi seolah ada yang sedang mengawasinya. Seolah menunggu waktu yang tepat untuk berbuat sesuatu pada Minna. Dan mengejek ke arahku seolah mengisyaratkan bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa jika hari itu terjadi. “

“ Lalu, bagaimana kabarnya? Kulihat ia menjadi agak, Euhm… Kasar, mungkin? “

“ Begitulah. Ia menjadi orang yang pendiam. Saat sekolah pun, ia memilih untuk lebih banyak menulis ketimbang berbicara. Ia selalu menjadi orang yang lebih memilih menggenggam tangannya ketimbang harus melawan. Ia menjadi orang pendendam, namun pintar. Ia juga tak bisa tersenyum atau pun menangis. Namun ia adalah satu-satunya kecerdasan yang kami punya. “

“ Aku minta maaf harus meninggalkan kalian disana saat itu. aku juga meninggalkan Jinki. Aku ketakutan. Yang bisa kulakukan hanya berlari kala itu. Aku juga tak tahu dimana Jinki sekarang. Bertahun-tahun mencari Jinki, namun yang kutemukan hanya informasi tentangnya. Sekarang ia dipanggil Onew. Ia juga sama seperti kita. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. “

“ Yang terpenting sekarang aku harus menjaga kalian. Bagaimana pun itu, sampai waktu dimana aku bertemu Appa, aku harus bisa membiarkan kalian hidup. “

“ Lebih baik kau katakan saja pada dongsaengmu itu. yang membutuhkanmu adalah dia, bukan aku. Aku bisa menjaga diriku hingga aku menemukan apa yang harusnya kita temukan. “

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

2 thoughts on “Family Business – Part 2 : Black Shuck

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s