Undiscloser Desire – Part 11

303310_446582102027361_1450612211_n

Tittle : Undisclosed Desire Part 11

Author : ViKey…………

Maincast : Kim Jonghyun,Lee Hyukyung, Kim Yoogeun.

Support cast : Key, Han  Yoora, SHINee member.

Genre : Marriage Life, Sad, romance, Family.

Rate : PG

Length : 2800 word whitout chit-chats.

Type : Sequel, part 11 from 12

Summary : Meski tak akan mudah, karena Jonghyun sangat menyadari bahwa kesalahannya kali ini begitu besar. Dia bisa merasakan dalamnya kekecewaan wanita yang sudah ia nikahi lima tahun ini. Seandainya dia harus bersujud sekalipun akan ia lakukan. Baginya, Hyukyung dan Yoogeun adalah hidupnya, mataharinya dan titik pusat eksistensinya.

A/n : Diharapkan baca Part 10 dulu biar nyambung, karena part ini detail dr part 10.

 

Part 11 : Regret.

Segala hal yang terjadi dimasa lalu, tak akan pernah bisa terulang kembali. Atau mungkin merubahnya, bahkan jika kau mempunyai pembalik waktu sekalipun. Hanya akan menjadi kenangan dan sebagai pengingat.

OooO

Tubuh ringkih namja mungil itu terus bergetar, isakkan yang terdengar begitu menyanyat hati. Namun, Semakin lama, kian lirih hingga senyap dan menyisakan kehampaan. Meninggalkan keheningan yang terisi oleh gerakan diafragma dari dada si kecil yang kini terlelap dalam kepedihan.

“Hiks… “

Sesekali isakkan yang masih terdengar dari garis apel namja kecil itu menghantarkan alunan melodi kesedihan yang menggetarkan nurani bagi siapa saja yang mendengar. Mata kecilnya menatap kosong langit-langit kamar rumah sakit. Begitu hampa, seolah tak ada lagi cahaya dari mata sipit itu. Sungguh dahsyat akibat yang ditimbulkan dari beban psikologi yang menghantamnya, seorang namja kecil bernama Kim Yoogeun yang dipaksa menerima kenyataan pahit diluar nalarnya sebagai jiwa bersih seorang anak berusia 5 tahun. Sebuah kenyataan yang membuat jiwanya terguncang berkat keegoisan para dewasa yang tak pernah menyadari betapa ia menderita selama ini.

OooO

“Umma… Appayo~.” Yoogeun mengeluh dengan suara lirih. Berusaha meraih tangan halus sang umma yang tengah membenahi selimut dibadan mungilnya.

“Yoogeunie~… appa ne? sebelah mana?” seketika Hyukyung mendekat. Merespon dengan sorot khawatir yang begitu kentara.

“Disini umma…” diambil tangan sang umma yang masih berada di atas kepalanya menuju dada.

“Sakit sekali…” mata kecil itu mengerjap menahan tangis saat Hyukyung mengusap dada Yoogeun yang bergerak tak beraturan. Terasa sesak lagi kah?.

“Aigoo… jagoan umma sakit ne. sini Umma peluk sayang.” Sekuat tenaga Hyukyung berusaha menahan perasaanya. Terasa sesak melihat sang aegy mengerang kesakitan seperti itu. Bahkan bahunya mulai bergetar saat merasakan tubuh mungil Yoogeun yang sedikit menghangat dalam rengkuhannya.

“Apa sudah merasa lebih baik sayang?” bisik Hyukyung seraya membuai Yoogeun dalam pelukannya. Mengecup ubun-ubun sang adeul dengan penuh kelembutan.

“Yooegun sayang umma… Yo-geun ana-k umma… hiks.. um-ma.” Tangis Yoogeun pecah dalam pelukan Hyukyung, jemari kecilnya mencengkram baju belakang sang umma begitu erat seakan takut ditinggalkan.

“naddo… saranghae.. jeongmal saranghae.. umma juga sayang Yoogeun. Sayang sekali, selamanya Yoogeun adalah jagoan kebanggaan umma.” Dengan perlahan, titik-titik air mata mulai berkumpul dipelupuk mata wanita cantik yang tengah berbadan dua itu. Dengan perlahan Hyukyung melepaskan pelukan ditubuh Yoogeun dan menatap mata kecil sang adeul yang bersimbah air mata itu dengan begitu lekat.

“Uljima ne!” ujar Hyukyung masih pelan. Ibu jarinya bergerak mengusap lelehan air mata di wajah pucat Yoogeun sembari tersenyum dalam tangisnya. Kemudian wajahnya mendekat, mengecup kelopak mata Yoogeun yang kini terpejam dalam kedamaian.

“Selamanya Yoogeun akan menjadi anak umma.”

“Yaksok?” sahut Yoogeun sungguh-sungguh begitu dua kelopak matanya terbuka, mengulurkan kelingkingnya pada sang umma dengan tatapan berharap.

“Ne… yaksokeyo~..” balas Hyukyung, menyambut uluran kelingking Yoogeun. Yah, sebuah pinky Promise.

“Yoogeuni!!”

Suara keras Jonghyun yang baru masuk membuyarkan suasana hangat ibu dan anak yang baru saja tercipta.

“Appa…” respon Yoogeun dengan senyum mengembang. Tak lagi khawatir dan merasa sedih setelah pinky promise yang di lakukan sang umma barusan.

“Ah… jagoan appa sudah sembuh ne?” Jonghyun membalas senyum Yoogeun seraya mendekati ranjang Yooegun, memilih duduk di sisi yang kosong di samping kanan Yoogeun.

“Ne.. Yoogeun sudah sembuh Appa… karena ada umma yang menemani Yoogeun.” Jawab Yoogeun semakin mengeratkan pelukan di leher Hyukyung.

Tatapan Hyukyung semakin melembut, membelai sisi kepala Yoogeun begitu perlahan penuh dengan limpahan kasih sayang. Menunjukkan betapa ia begitu mengasihi sang adeul.

“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan.” Merentangkan tangannya, Jonghyun berniat merengkuh Yoogeun dalam pelukannya. Dan disambut hangat oleh tubuh mungil Yoogeun yang kini menempel erat di tubuh kekar sang appa.

“Baiklah jagoan, sekarang ganti bajumu.” Titah Jonghyun seraya menepuk puncak kepala aeginya, tak mengindahkan tatapan penasaran dari Hyukyung.

Dengan girang Yoogeun membuka lemari kecil di samping tempat tidurnya, meski terlihat sedikit lemah namun namja kecil itu terlihat begitu semangat setiap kali pergi bersama dengan kedua bumonimnya, hal tersebut merupakan moment yang begitu mengesankan baginya.

“Umma bantu ne…” tawar Hyukyung yang sudah duduk di dekat Yoogeun, sedikit tanda Tanya dibenaknya karena Jonghyun sama  sekali belum menceritakan kemana ia akan mengajakn Yoogeun  pergi. Namun ia lebih memilih diam tak menyuarakan rasa penasarannya.

“Aigoo… jagoan appa sudah keren. Nah umma! Saengi! Yoogeun dan Appa pergi dulu ne.” pamit Jonghyun beberapa menit kemudian. Hyukyung sudah selesai mengganti baju Yoogeun dan merapikan penampilan adeul kesayangannya saat Jonghyun menggendong Yoogeun kemudian mengusap perut Hyukyung yang terlihat mulai membuncit di usianya yang menginjak 4 bulan.

“Umma tidak ikut?” Tanya Yoogeun mendengar perkataan appanya barusan. Berusaha melepaskan gendongan appanya kemudian berlari mendekati Hyukyung.

“Shiroo.. umma harus ikut. Yoogeun dengan umma saja.”

“Memangnya kalian mau kemana? Appa mau mengajak uri Yoogeunie kemana?” Hyukyung berusaha menenangkan Yoogeun yang terlihat mulai cemas dan ketakutan. Sembari membelai punggung putra kesayangannya, wanita yang dulunya bermarga Lee itu menatap Jonghyun menuntut penjelasan.

“Sebenarnya aku ingin mengajak Yoogeun bertemu Yoora. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Yoogeun untuk terakhir kalinya.” Lirih Jonghyun sedikit merasa tak nyaman. Serasa seorang suami yang ketahuan menyembunyikan kebohongan.

“Mwoya…” kaget Hyukyung meski tetap menjaga suaranya, tak ingin sesosok tubuh mungil dalam pelukannya semakin merasa takut.

“Aku terpaksa Hyu… ini satu-satunya cara supaya Yoora mau membatalkan tuntutannya. Ku mohon, Hyu! Bujuklah Yoogeun.” Wajah tampan Jonghyun tertunduk, sangat menyadari bahwa hal yang ia pinta dari istrinya sedikit berlebihan.

“Tidak… aku tidak mau dan aku tidak menginjinkannya.” Tegas Hyukyung.

Menengadahkan wajahnya, Jonghyun terperangah. Tak menyangka Hyukyung bisa menatapnya dengan wajah tegas seolah tak terbantah.

“Tapi Hyu… ini kesempatan kita, supaya kita bisa mendapatkan hak asuh Yoogeun sepenuhnya tanpa seseorangpun bisa mengusiknya kembali. Karena Yoora berjanji setelah pertemuan ini dia akan pergi dari kehidupan kita selamanya.”

“Kita bicarakan ini lain kali, keluarlah Jjong. Biarkan Yoogeun istirahat kembali.” Pinta Hyukyung pada akhirnya, mengangkat Yoogeun dalam buaiannya seraya mendorong bahu Jonghyun menuju pintu keluar.

“Tidak ada lain kali Hyu… sejujurnya, aku sudah mulai putus asa menghadapi tuntutan Yoora. Tidakkah kau tahu, aku takut kehilangan Yoogeun. Sungguh takut.” Suara Jonghyun kini terdengar lirih, terasa sekali bahwa ia mulai putus asa.

Sesungguhnya Hyukyung mulai merasa iba pada suaminya itu, dia ikut merasakan bagaimana takutnya kehilangan Yoogeun. Orang tua mana yang tega membiarkan anaknya di ambil orang lain, meskipun orang itu adalah ibu kandungnya sekalipun. Namun, jika harus mengorbankan perasaan Yoogeun, Hyukyung pun harus berpikir berkali-kali untuk membiarkan Jonghyun membawa sang buah hati menenemui Yoora. Kenyataan bahwa terakhir kali, Yoogeun begitu ketakutakan dan trauma akibat pertemuannya dengan sang ibu kandung .

“Tetap tidak Jjong… Yoogeun masih sakit, juga kondisi psikisnya masih belum stabil. Aku takut pertemuannya dengan Yoora kembali bisa menimbulkan dampak yang lebih buruk.” Hyukyung bersikukuh.

“Tidak mau umma… Yoogeun takut. Hiks, hiks.” Tubuh Yoogeun bergetar dalam pelukan Hyukyung, begitu ketakutan mendengar nama Yoora di sebut. Seolah bagi Yoogeun, nama Yoora adalah mantra paling mengerikan yang pernah ia dengar.

“Maaf Hyu… untuk kali ini saja aku harus mengecewakanmu.” Sedikit merasa bersalah, Jonghyun berusaha mengambil alih Yoogeun dari gendongan Hyukyung. Cukup kesulitan karena Yoogeun sempat memberontak dan mencengkram bahu Hyukyung begitu kencang.

“Shiroe appa!! Shirroe…. Umma… umma…” Tangisan Yoogeun semakin mengisak. Meronta dalam pelukan Jonghyun sekuat tenaga.

“Hentikan Jjong, kasihan Yoogeun. Dia masih sakit, Kim Jonghyun berhenti.” Mencoba menghalangi, Hyukyung berusaha menahan langkah Jonghyun yang kini sudah berhasil membawa Yoogeun menuju pintu keluar.

“Maaf Hyu… ini untuk terakhir kalinya. Dan Yoogeun akan menjadi anak kita selamanya.” Pinta Jonghyun sedikit tegas, terus memaksa Yoogeun dalam gendongannya.

“Jadi, menurutmu status Yoogeun lebih penting dari pada perasaannya saat ini. Dengan ataupun tanpa pengakuan Yoora, Yooegun tetap anakku , anak kita. Kenapa kau jadi begini.” Suara Hyukyung semakin melemah, berusaha menahan air mata yang kini mulai menggenang.

“Karena Yoora memiliki cukup bukti untuk memenangkan perkara dan AKU TAK INGIN KEHILANGAN YOOGEUN!!” Bentak Jonghyun sedikit keras yang serta merta membuat tubuh Hyukyung melonjak kaget dan terkejut.

Tarikan Hyukyung di lengan Jonghyun terlepas, namun Yoogeun berhasil menggapainya. Menahan tangan Hyukyung berusaha meminta bantuan. Miris sekali Hyukyung melihatnya, namja cerdas yang biasanya terlihat ceria dan menggemaskan kini meraung tak berdaya dalam pelukan paksa sang appa. Ingin sekali Hyukyung meraih paksa Yoogeun dan membawanya dalam dekapannnya serta mengusap kepalanya dengan kelembutan, menghalau semua kesedihan dari mata bening yang semakin redup, kehilangan semua cahaya dan keceriaannya.

“Baik, jika itu maumu. Sekarang pilih temui Yoora atau aku yang akan pergi dari rumah ini. Kurasa kehadiranku di sampingmu tak lagi berarti, ucapanku tak lagi kau dengar kan Kim Jonghyun. Aku kecewa padamu.” Menundukkan wajahnya, saat tetes demi tetes air mata menuruni pipi Hyukyung. Terasa sakit, merasakan betapa egoisnya Jonghyun. Mata hatinya mulai digelapkan dengan pentingnya status dan pengakuan hukum atas hak asuh Yoogeun tanpa pernah menyadari bahwa Yoogeunlah yang menderita dengan semua kekacauan ini.

“Kau dan Yoora adalah orang tua kandung Yoogeun, jadi aku tak punya hak untuk menetukan mana yang terbaik dan tidak untuknya. Kalian egois, hanya mementingkan hasrat dan keinginan pribadi.” Lanjutnya lagi. Perlahan tapi pasti, genggaman Yoogeun dan Hyukyung mulai mengendur hingga semakin terlepas. Sampai kapanpun Hyukyung tak akan pernah melupakan tatapan memelas Yoogeun saat ini, begitu penuh kesedihan dan kesakitan membuat hatinya semakin teriris pilu. Sungguh, Hyukyung tak akan pernah mampu menahan perasaanya lagi, Yoogeunnya, anak kesayangannya memanggil namanya dengan pilu dan ia hanya bisa terdiam tak bisa melakukan apapun untuk menenangkannya.

Deg!

Hati Jonghyun tersentak, tanpa melihatpun Jonghyun tahu bahwa Hyukyung tengah menangis saat ini. Dan mendengar perkataan Hyukyung barusan, betapa ia menyadari bahwa istrinya merasa sakit dan kecewa. Tapi, Jonghyun tak punya pilihan. Maka, dengan pertimbangan kesalah pahaman dengan Hyukyung bisa di selesaikan nanti, Jonghyun melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan Yoogeun yang semakin terisak dengan lemah dalam pelukannya.

****

Suasana terasa begitu lengang, hanya terisi denting sendok yang beradu dengan piring. Jonghyun mengunyah makanannya dengan setengah hati, matanya tak henti melirik Yoogeun yang terlihat semakin lemah diatas kursi yang dia duduki. Matanya beralih menatap piring dihadapan adeul kesayangannya yang masih utuh tak tersentuh sedikitpun. Jonghyun semakin menyesal tak menghiraukan ucapan Hyukyung tadi pagi.

Di sebrang Jonghyun, tepat disamping Yoogeun. Sesosok yeoja bernama Han Yoora tengah mengawasi tindak – tanduk Jonghyun. Wajahnya menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan, bisa menikmati makan siang ditemani Jonghyun dan Yoogeun membuat kebahagiaannya membuncah. “Seharusnya memang begini, ada Jonghyun dan Yoogeun di dalam hidupku.” Batin Yoora, tak melepas senyum sumringahnya untuk sejenak. Tak rela rasanya jika Yoora harus mengakhiri moment indah ini. Dia jadi membayangkan keluarga idamannya, ada Jonghyun sebagai suaminya dan Yoogeun dalam dekapannya, hidup bertiga dengan bahagia. Yah, hanya bertiga.

“Yoogeunnie… kenapa tidak di makan sayang? Mau di suapi?” Yoora memiringkan tubuhnya, mengusap lembut suarai coklat pendek milik Yoogeun.

“Shirreoo… pulang, Yoogeun mau pulang.” Lirih Yoogeun, mengalihkan tatapannya kearah sang appa dan memandangnya dengan mata memerah yang kembali berkaca-kaca.

“Maaf Yoo… sepertinya kami harus pulang.” Menyudahi makannya, Jonghyun berdiri mendekati Yoogeun dan menggendongnya.

“Iya… kita pulang sayang. Mianhe… Appa sudah memaksa Yoogeuni… mianhe, sayang.” Rasanya Jonghyun juga ingin menangis melihat wajah terluka dari putra kesayangannya. Benar ucapan Hyukyung, bahwa ia egois. Lebih mementingkan status Yoogeun dari pada sang anak sendiri.

“Tapi Jjong…” Yoora berusaha menahan. Tak ingin moment yang menurutnya sangat membahagiakan ini berakhir dengan begitu cepat.

“Tidak… aku harus membawa Yoogeun pulang, yang dia butuhkan saat ini adalah kehadiran Hyukyung.” Bantah Jonghyun. Tetap mempertahankan Yoogeun dala dukungannya seraya berjalan menuju pintu besar.

“Untuk kali ini saja, ijinkan aku ikut ke rumahmu. Walau bagaimanapun, aku juga khawatir pada Yoogeun.” Pinta Yoora, berusaha membujuk Jonghyun.

Tak ada tanggapan, Jonghyun tak mengiyakan juga tak menolaknya. Yang ada di pikirannya hanya Yoogeun, sungguh perasaan sesal semakin mendesak hatinya. Merasakan tubuh Yoogeun begitu dingin, juga nafasnya yang semakin tak beraturan. “Tolong jaga Yoogeun” ujar Jonghyun pada pada akhirnya, meminta Yoora memangku namja mungil kesayangannya.

Mobil Audi biru milik Jonghyun melesat dalam kecepatan penuh. Tak memperdulikan bahwa ia sudah beberapa kali menerobos lampu merah.

“Brak!!”

Suara pintu menjeblak terdengang bergema, dengan langkah tergesa Jonghyun membawa Yoogeun ke dalam rumah. “Kyungie!!” teriaknya memanggil nama sang istrinya.

Tak ada sahutan. “Hyukyung…” panggilnya lagi, tapi hasilnya sama. Hyukyung tak muncul untuk menyambutnya.

“Yoora… tunggu disini sebentar, aku harus mencari Hyukyung.” Titah Jonghyun begitu dia membaringkan Yoogeun di kamarnya. Kecemasannya semakin meningkat, kini Yoogeun bahkan tak sadarkan diri.

“Kemana Hyukyung… bukannya dirumah. Ini malah tak ada saat dibutuhkan.” Sahut Yoora berusaha memanasi Jonghyun.

“DIAM! Dan tetap di tempatmu.” Tegur Jonghyun tak suka, merasakan adanya sindiran dalam ucapan Yoora barusan. Tiba-tiba matanya menangkap secarik kertas di atas meja disamping pembaringan Yoogeun, kertas yang Jonghyun yakini sebuah pesan dari Hyukyung.

“Ya Tuhan!! Cobaan apalagi ini.” Suara Jonghyun terdengar parau, tubuhnya merosot di lantai. Kedua tangannya bergetar hebat, menangis. Yah, Jonghyun menangis. Selembar kertas terjatuh dari genggamannya.

Aku pergi! Jangan mencariku lagi.

Lee Hyukyung

Yoora memungut kertas tersebut, sebuah asa timbul di hatinya. Hyukyung meninggalkan Jonghyun, bukankah ini kesempatan untuknya. Menggantikan posisi Hyukyung di rumah besar ini. Menjadi Nyonya Kim, terdengar menyenangkan.

“Jadi, Hyukyung pergi.” Lirih Yoora, memasang wajah iba begitu dia berjongkok di hadapan Jonghyun.

“JANGAN MENYENTUHKU!!! SEMUA INI SALAHMU!!” Sentak Jonghyun, menepis dengan kasar jemari Yoora yang berusaha menyentuh bahunya.

“Pergilah… pergi dari kehidupan kami. Sudah cukup kau menghancurkan hidupku, Han Yoora~ssi.” Merendahkan suaranya, Jonghyun kini menatap Yoora dengan ekspresi bercampur, kesal, marah, sedih dan menyesal. Betapa ia kini hanya bisa meratapi kebohongannya, membiarkan Hyukyung pergi hanya demi sebuah pengakuan tak penting atas status Yoogeun yang sudah jelas-jelas merupakan anak kandungnya.

“Eung… umma…” erangan Yoogeun mengalihkan perhatian Jonghyun.

“Ini Appa sayang.. ssshh..” dengan gerakan cepat, Jonghyun memeluk Yoogeun yang kembali tersadar dan memanggil Hyukyung.

@@@

Semburat cahaya senja menyelinap masuk lewat celah gorden. Membiaskan warna jingga yang terlihat begitu indah. Tepat mengenai sesosok yoeja bernama Kim Hyuna yang kini tengah duduk bersandar di sofa kulit lembut berwarna Burgundy.

“Apa noona akan percaya begitu saja ucapan pria bermarga Choi itu.” Suara Taemin memecah lamunan Hyuna, sembari mengulurkan secangkir coklat hangat namja bernama lengkap Lee Taemin itu kini sudah duduk di samping Hyuna.

“Entahlah, noona belum bisa memikirkannya dengan jernih.” Respon Hyuna, hanya bisa menundukkan wajahnya dengan lesu.

“Tapi, yang harus noona ingat bahwa noona sudah menjadi istri Kibum hyung. Dan sebentar lagi kalian akan memiliki aegy. Masa lalu adalah masalalu, untuk apa terus di ungkit.” Lanjut Taemin, betapa namja yang selalu dianggap childish oleh Hyuna ini terlihat begitu bijak dan dewasa.

“Huh…” menarik nafas sejenak, Hyuna berusaha melepas sedikit keresahannya. Mendengar bahwa Kibum atau Key –suaminya- pernah mencintai Hyukyung cukup membuat Hyuna meragu. Rasa takut untuk di tinggalkan kembali menyusup dalam hatinya. Kenangan pahit kandasnya hubungannya dengan Minho, sedikit banyak menyisakan trauma dalam diri gadis bermata coklat caramel itu.

“Sejujurnya noona, aku percaya pada Kibum hyung. Dia tak akan menyakitimu, karena Kibum hyung begitu menyayangimu. Berani bertaruh, pria narsis itu pasti akan melonjak bahagia seandainya dia tahu noona sedang hamil.”

“Taeminnie… Apa sebaiknya noona pulang saja, ehm…tiba-tiba noona ingin sekali melihatnya.” Hyuna melirik Taemin, sedikit meringis melihat reaksi Taemin yang menatapanya dengan bingung. Entahlah, Hyuna sendiripun tak tahu. Rasa ingin melihat raut sang suami begitu membuncah dalam hatinya. Seakan sebuah kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi. Ngidam? Kata itu langsung melintas dibenaknya.

“Aneh… jangan bilang kalau noona sudah merindukannya, mengerikan. Bahkan belum ada 24 jam kalian berpisah.” Taemin berdecih kesal –pura-pura kesal lebih tepatnya.

“Jangan pulang sekarang, tunggu sampai Kibum hyung datang kesini dan meminta noona untuk pulang.” Larang Taemin, terlihat begitu serius dan tak terbantahkan.

“Akan sangat memalukan jika Kibum hyung tahu bahwa noona bahkan tidak bisa berpisah darinya sebentar saja.”

“Terserah katamu saja.” Hyuna menuruti perkataan Taemin.

@@@

“Bagaimana keadaannya Dokter?” Suara panic Jonghyun menghadang langkah seorang dokter muda yang baru saja menutup pintu ruang IGD. Penampilan pria berputra itu begitu berantakan, dengan kemeja yang terlihat kusut juga tatanan rambutnya tak lagi berantakan.

“Keadaan putra anda sudah mulai stabil. Demamnya mulai turun, tapi dia membutuhkan perawatan lebih intensif. Berdasarkan rekam medisnya, apakah dia pernah menjalani operasi tulang dada?”

“Benar dok, Yoogeun pernah menjalani operasi pembenahan susunan tulang rusuk.” Ujar Jonghyun.

“Saya khawatir Yoogeun mengalami masalah dengan bekas operasinya, sewaktu-waktu kondisinya bisa menurun drastis.” Jelas dokter muda dengan name tag Do Kyungsso.

“Sedari tadi dia memanggil ibunya, kalau boleh tahu kemana ibunya?” tanya sang dokter, sedikit terheran melihat perubahan yang begitu kontras saat ia menanyakan perihal ibu dari pasiennya.

“Ibunya sedang ada urusan, aku akan menjemputnya sekarang juga. Saya titip Yoogeun sebentar dokter, terima sebelumnya.”

“Dokter, tunggu!” panggil Jonghyun, sedikit menahan langkah sang dokter. “Kalau boleh tahu, apa dokter Lee Jinki ada di tempat?” lanjutnya.

“Oh, dokter Lee? Sayang sekali, beliau sedang di Amerika. Ada pesan yang ingin di sampaikan padanya?” Jonghyun hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban dari dokter muda barusan.

.

.

Jonghyun membuka pintu ruangan Yoogeun, tak berniat masuk. Hanya menatap putra kesayangannya dengan raut muram. “Maaf kan Appa….” Lirih Jonghyun, rasa sesal yang menyusup di hatinya begitu menyesakkan. Kemana dia harus mencari Hyukyung sekarang. Lee Jinki sudah di coret dari daftar tempat yang akan dia datangi. Apartement Key menjadi tujuan utamanya saat ini. Yah, Jonghyun sangat berharap Hyukyung sekarang berada di tempat Key dan Hyuna.

Dengan tekad dan pengharapan yang besar, Jonghyun meninggalkan rumah sakit. Semoga saja dia belum terlambat. Dia harus bisa mendapatkan maaf dari Hyukyung secepatnya. Meski tak akan mudah, karena Jonghyun sangat menyadari bahwa kesalahannya kali ini begitu besar. Dia bisa merasakan dalamnya kekecewaan wanita yang sudah ia nikahi lima tahun ini. Seandainya dia harus bersujud sekalipun akan ia lakukan. Baginya, Hyukyung dan Yoogeun adalah hidupnya, mataharinya dan titik pusat eksistensinya.

“Kim Hyukyung… tunggulah aku!” gumam Jonghyun.

.

.

.

Langit sudah berubah gelap saat Jonghyun menutup pintu pintu mobilnya sedikit bimbang. Pandangannya menatap jauh ke atas sana, deretan jendela apartement mewah di kawasan Gangnam yang terlihat gemerlap mengalahkan binar-binar cahaya bintang di langit sana. Hatinya semakin meragu, takut Hyukyung tak akan mau memaafkannya. Berusaha memantapkan hati, Jonghyun berjalan menuju pintu masuk kedalam bangunan berlantai 31 yang terlihat begitu menjulang.

Lantai 21, merupakan tujuannya saat Jonghyun menunggu lift terbuka. Kemudian ia masuk dan memencet angka dua dan satu.

“Semoga Hyukyung mau memaafkanku.” Do’a Jonghyun ketika dia sudah keluar dari lift dan berdiri di depan pintu kamar apartement milik Key. Sedikit berharap semoga saja Key belum mengganti password apartement-nya.

“Drtt… drtt..” deringan telfon membatalkan niat Jonghyun yang ingin memencet beberapa kode di layar kecil di samping pintu. Dengan tergesa Jonghyun mengambil ponselnya dan menjawabnya setelah membaca tulisan di layar “Rumah sakit Calling…”

“Yeobseyo… ne, Saya Kim Jonghyun.”

“…….”

“Mwoya… Kondisi Yoogeun drop?” Pekik Jonghyun terkejut.

“Ne… saya langsung kesana. Kamsahamnida.” Sesaat setelah mengantongi ponselnya lagi, Jonghyun langsung memencet kode masuk dan terbukalah pintu apartment Key. Tidak ada waktu lagi, aku harus membawa Hyukyung untuk Yoogeun. Batin Jonghyun.

Drap! Drap! Jonghyun berlari dengan tergesa. Menerobos pintu apartement Key tanpa permisi.

“Hyukyung. . Kyungie. . Oddiseyoo.” teriakan Jonghyun mengganggu tidur Key dan Hyuna.

“Jonghyun hyung!” “Jjong oppa!” panggil Key dan Hyuna bersama.

“Key, Hyuna! Dimana Hyukyung.”

Bugh. .

Satu pukulan mendarat di wajah Jonghyun. Membuat namja kekar itu terperangah.

“Ke. . Key!” ujar Jonghyun tak percaya.

“Itu pantas untukmu hyung. . Bukankah dulu aku pernah bilang, bahwa aku akan membunuhmu jika kau menyia-nyiakan Hyukyung.” jelas Key dengan dingin. Hyuna sendiri hanya bisa terdiam. Tak ingin ikut campur, takut dia salah mengambil kesimpulan. Yah, pertengkarannya dengan Key beberapa waktu lalu membuatnya lebih-lebih berhati-hati sekarang. Setidaknya mereka baru saja berbaikan.

“MIANHE. . jeongmal. Kau boleh memukulku sepuasnya, tapi bukan sekarang. Biarkan aku bertemu Hyukyung dulu. Yoogeun sangat membutuhkannya. Dia. . Dia kritis. Ku mohon Key!”

“Mwoyaa?? Ada apa dengan Yoogeun. Apa yang terjadi padanya.” pekik Hyuna dengan kaget.

“Jebal, biarkan aku bertemu Hyukyung.” tiba-tiba Jonghyun berlutut dan menangis. Memohon dengan kalut, yang menandakan bahwa keadaan Yoogeun benar-benar dalam posisi bahaya.

“Bangunlah hyung. . Aku percaya padamu, kita harus bergegas. Hyukyung ditempat Jinki hyung sekarang ini.”

“Bu- bukankah Jinki hyung di Amerika.” Sendat Jonghyun, sedikit terhuyung saat Hyuna menolongnya berdiri.

“Jinki hyung sudah pulang dua hari yang lalu.” jawab Key seraya berjalan menuju kamar dengan tergesa.

“Kajja Key… kita harus  bergegas.” Seru Hyuna.

“Jangkaman… kau harus pakai mantelmu Na~ya… diluar dingin.” Perintah Key begitu ia keluar dari kamar seraya membawa mantel bulu tebal di tangan kanannya kemudian memakaikan ke tubuh sang istri.

“Thanks…” respon Hyuna, andai saja tidak dalam situasi panic. Mungkin Hyuna akan merasa tersanjung dengan perhatian-perhatian kecil dari Key.

“Key, Hyuna. Kalian ke rumah sakit saja dulu. Tolong jaga Yoogeun untukku. Biar aku yang menjemput Hyukyung di rumah Jinki hyung. Terima kasih.” Permintaan Jonghyun mengalihkan perhatian Hyuna, belum sempat Hyuna maupun Key mengiyakan, Jonghyun sudah melesat pergi.

“Semoga berhasil Hyung.” Lirih Key menatap punggung kakak kelasnya di sekolah dulu. “Kajja, Yoogeun membutuhkan kita sayang.” Lanjut Key, menarik lengan Hyuna menyusul langkah Jonghyun.

Bersambung~….

 

Note : sepanjang menulis FF, baru kali ini aku ikut ngegalau pas ngedit. Part paling susah dari sepuluh part lainnya. Thanks banget buat yang udah sering ngingetin a buat lanjutin UD, I Lope you All!!. Seorang author bukan apa-apa tanpa readernya.

Nb. Untuk kisah 2kimMinho rencananya akan di bikin side story, jadi jangan protes ya k lo di part ini gak ada interaksi atau detail dr problem mereka. Hehehe.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Undiscloser Desire – Part 11”

    1. Hu;uh… dr awal emang di set agak nyesek… T.T

      happy ending??? Yah I Like Happy ending…

      gumawo ya yanty.. udah ngikutin dr awal,..

  1. ya ampun Vieeee..
    part sebelumnya lewat.. begitu tau udah part 11 langsung nyari yg ke 9-10, kebut bacanya, makanya komennya di part ini aja…
    Mian ya… *kedip**

    kasian banget Yoogeun, kejadian yang dialaminya bisa jadi trauma psikis..
    memang egonya orang dewasa kadang gak bisa sejalan sama perasaan dan hati ya…
    miris dan sedih baca part ini.. -__-

    si Yoora pake manas-manasin lagi, pengen dijitak deh.. 😀

    seperti biasa, Key-Hyuna pasangan yang tidak bisa berpisah begitu aja..
    seperti kata Taemin, “mengerikan” 😛

    Syukurlah part selanjutnya final, walaupun Hyukyung kabur, tetep ada harapan Happy ending..
    Mudah2 endingnya membahagiakan buat semua cast.. *ngarep**

    Ok Vie, ditunggu banget part akhirnya.. 🙂
    lupa, side storynya juga loh… 😀

    1. Ahahaha… kok bisa kelewat eonni?? #innocent face.
      Hmm… dalam dunia nyata juga kayak gitu. seringkali anak-anak itu jadi korban dari konflik orang-orang dewasa. aku ambil dr pengalaman nyata itu eon.
      Tukim mang emang udah 2kim forever.hahaha

      Okeh… ditunggu part selanjutnya ya eon…..
      Trims

  2. hmmm, untuk ff yang ini baru ngomen pertama nih padahal mau end
    mian baru sempet *.*v

    di awal udah disuguhin scene nyesek
    huaaaaa
    sumpah dari awal sampe akhir nyesek mulu nih

    di sini aq agak sebel sama jjong nih
    serasa pengen bejek-bejek tuh orang *digampar blinger
    tapi setelah dipikir-pikir kelakuan jjong ada benernya sih
    dia cuma takut kalo hak asuh yoogeun jatuh ke yoora makanya dia ngelakuin itu
    tapi caranya yang salah bukannya menyelesaikan masalah tapi justru menambah masalah baru yang akibatnya hyukyung pergi dan yoogeun sakit

    pokoknya feelnya dapet dah

    hmm, ada beberapa typo(s) nih:
    # Disini
    setahu aq sih penulisannya dipisah karena menunjukkan tempat
    #dipelupuk
    #mengajakn
    #di sebut–> disebut
    #kesalah pahaman
    #sebrang
    #yoeja
    #masalalu
    #Penampilan pria berputra itu begitu berantakan, dengan kemeja yang terlihat kusut juga tatanan rambutnya tak lagi berantakan.
    aq baca bagian itu kok janggal ya masa berantakan tuh bajunya yang kusut juga tatanan rambutnya “tak lagi” berantakan. setau aq kalo berantakan tuh berantakan semua termasuk rambut, mungkin typo kali ya
    berhubung di bawah udah ada note-nya jadi maklum deh toh author juga manusia yang tak luput dari kesalahan

    udah ah komennya, takut kepanjangan hehehehe

    aq tunggu endingnya yaw
    dan jangan lupa side storynya
    heehehehe

    keep writing ^^

    1. woaaahhhh…. trims banget koreksinya…. aku tuh emang lagi belajar berperang melawan typo. sumpah!!! very kamsahamnida!!!

      Gak usah takut kepanjangan…. aku suka koment yang panjang-panjang kok. meski gak sepanjang FF ini.hehehe

      Okeh…sipp!! tunngu ya…. gumawo!!

  3. Pas baca ff nya langsung pengen nangis…. hik hik hik
    Ceritanya bikin sedih….
    Itu yoora aku pengen jambak rambut nya..
    Bikin kesel aja…
    Aduuuhhh kasih
    an yogen nya…
    Aku tunggu lanjutan nya …
    Aku mau baca ulang lg.
    Dan siapin lagi tisu

    1. waduh… uljima… uljima… #sodorin tissue

      kalau mau jambak rambutnya silahkan… tapi jangan jambak rambut aku ya.hahaha
      Sipp!! ditunggu sjs. psrt depsn ending kok….gumawo yah!!!

  4. Wwhhooaa… ini bersambunggg……

    Cepetaaannnn disambung author yang cantiiikk….

    Ya Allah… ini adalah ff straight pertama setelah beberapa bulan sibuk dengan yaoi..

    Yyyeeaahh… tidak selamanya cerita straight itu mudah…

    Ini nyeseekk.. bin jlleeebbb…

    Di sambungnya cepetan pleaseeeee…

    Kalo bisa cpetan yaaaa….

    Jonghyun paboooo…. udah dilarang masih juga pergi…. pabo pabo… uugghh geram sendiri bacanya…

    1. Iyahh cantik!! part depan ending..hehe
      trims loh pujiannya….

      ditunggu aja.. trims ya udah mau mampir dan bernyesek ria.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s