Secret Admirer

secretadmirer

Title: Secret Admirer

Author: Lumina

Main Cast:

  • Lee Minna (OC)
  • Choi Minho (SHINee)
  • Lee Jinki (SHINee)

Support Cast: Jonghyun, Taemin, Key (SHINee)

Rating: G

Length: Oneshot

Genre: romance, school life

Disclaim: This is a fanfiction. The casts belong to themselves, but the story is mine. Please, don’t take any part of it without my permission.

___

Alis matanya terukir sempurna di atas sepasang manik hitam yang berpendar tiap kali mata sipitnya memandang ke arah ring di ujung lapangan. Butiran keringat berkilau ketika sinar matahari menerpa kulitnya yang mulus. Wajah tampan yang terpahat sempurna. Tubuh proporsional dengan tinggi badan yang mendukungnya menjadi kapten tim basket sekolah dengan posisi center. Gerakan kaki dan tangan yang lincah saat ia melakukan dribbling. Lompatan yang melontarkan tubuhnya ke udara seperti sedang terbang sebelum akhirnya memasukkan bola jingga ke dalam ring dengan dunk dan mencetak poin kemenangan. Semua pemandangan itu tak lepas dari pandanganku yang tersembunyi di balik bingkai hitam kacamata berlensa tebal yang sudah ketinggalan jaman.

Tanganku bergerak refleks memasukkan telunjuk ke lubang pendengaran saat genderang telingaku bergetar mendengar jeritan cempreng gadis-gadis di pinggir lapangan yang mengelukan namanya. Sesekali aku ingin mencoba berteriak seperti mereka, namun akhirnya aku mengurungkan niatku. Sudah cukup debaran jantungku yang tak beraturan ini menggemakan namanya terus-menerus dalam aliran darahku. Lagipula, aku sudah memutuskan untuk hanya mengaguminya dari jauh.

Ah, kuakui terkadang hal ini membuatku frustasi. Tapi ini jauh lebih baik daripada mendengar cercaan seantero sekolah. Terakhir kali aku mencoba selangkah lebih dekat ke arahnya, tatapan tajam dari gadis-gadis penggemarnya sudah berhasil membuatku bergidik ngeri. Padahal aku hanya ingin mengembalikan bola basket yang tak sengaja bergulir ke bawah kakiku yang berada di pinggir lapangan. Pada akhirnya, aku kembali melontarkan bola itu hingga memantul bebas di lantai hijau lalu berbalik pergi, kembali bersembunyi seperti kura-kura yang pengecut.

“—na? Lee Minna?!”

Aku tersentak kaget mendengar namaku dipanggil. Kualihkan pandanganku dari kaca jendela perpustakaan—di mana aku selama ini memandangi pesonanya.

“Ini,” ujar seorang sunbae—salah satu pengunjung tetap perpustakaan—seraya menggoyangkan dua buah buku yang daritadi sudah terulur ke hadapanku, “aku mau pinjam ini.”

Ne.” Masih dengan sedikit salah tingkah karena debaran jantungku yang belum stabil, aku menerima buku-buku itu dan mencatatnya dalam daftar peminjam.

“Apa yang kau lihat, sih?”

“Su—sudah, Sunbae!” seruku dengan segera mengembalikan buku-buku kembali ke tangannya sehingga ia berhenti melongok ke balik jendela yang tadi sempat menyita konsentrasiku.

Aku menghela nafas lega ketika sunbae itu akhirnya melangkah keluar dari perpustakaan dan tidak bertanya lebih lanjut padaku. Untunglah rasa ingin tahunya tidak sebesar yang kukhawatirkan.

Hanya butuh sedetik untuk kembali menoleh ke jendela yang langsung menghipnotisku dengan pemandangan di baliknya. Dan aku mulai merasakan debaran yang tadi sempat berhenti sesaat kembali mendominasi ketika mataku kembali menangkap sosoknya.

Kebiasaan ini sudah menjadi rutinitasku semenjak empat bulan lalu. Saat itu jejeran buku-buku di rak yang mengelilingiku jauh lebih menarik daripada pemandangan di luar jendela. Mataku lebih memilih memperhatikan deretan kata dalam buku-buku tebal yang berdebu karena terlalu lama menggantung di rak-rak teratas yang berada di pojok ruangan. Namun semuanya berubah ketika mataku menangkap sosoknya yang berlari di lapangan. Aku—mengaguminya yang begitu mempesona.

Aku adalah seorang gadis yang bergelimang bait-bait ilmu pengetahuan, sedangkan ia ibarat seorang lelaki yang bergerak bebas sesuka hatinya. Keseharianku adalah duduk menyendiri diliputi senyap di dalam perpustakaan dan ia tanpa henti menari diiringi bunyi pantul bola basket yang bergerak lincah di tangannya.

Saat-saat memandanginya adalah waktu di mana detik-detik berlalu dengan cepat. Tanpa kusadari, waktu latihan klub basket telah berakhir dan ia berdiri di sisi lapangan, menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Sesekali ia tertawa saat bercengkrama dengan rekan-rekannya, membicarakan hal-hal yang tak dapat ditangkap indera pendengarkanku sehingga membuatku sejenak merasa ingin menerobos keluar karena rasa penasaran yang mengacaukan kinerja sarafku. Aku ingin tahu tentang dirinya, lebih banyak.

Koridor sekolah telah sepi ketika aku menutup pintu perpustakaan dan memasang gembok pada rantai-rantai kekangnya. Langkahku tertahan ketika melintasi lapangan basket. Terdengar suara dentuman bola yang menghantam lantai keras, juga decit sepatu karet yang bergerak di lantai licinnya.

Ada seseorang di sana.

Ragu-ragu aku melangkah. Tak banyak yang dapat kulihat dalam keremangan lampu yang berada jauh di pojok lapangan basket.

YEAH!” Seseorang berseru tepat ketika bola basket yang bergulir di bibir ring berputar masuk ke bagian tengahnya.

Mataku menyipit seakan hal itu dapat membuatku mengenali sosok lelaki yang kini telah kembali men-dribble bola di tangannya. Satu, dua, satu, dua … langkah kakinya berlari seirama, kanan-kiri. Semakin mempersempit jaraknya dengan ring, kemudian dengan percaya diri ia melompat melakukan lay-up.

Bola di tangannya terlontar ke udara dan dengan mulus melesat ke dalam ring dengan sempurna—andai setelahnya tak kudengar ia berteriak.

Aku berhenti memandangi bola yang perlahan kehilangan energi dan berhenti. Kulihat ia terduduk di lapangan dengan siku kirinya menopang tubuhnya yang terjungkal ke belakang.

Gwenchana?” tanyaku sembari berjalan mendekatinya dan kini aku dapat dengan jelas melihat wajahnya.

Ah, kau,” ucapnya tak menjawab pertanyaanku, “kenapa kau ada di sini, Minna-ssi?”

Aku berlutut di sampingnya. “Sikumu berdarah, Minho-ssi.”

Minho memutar lengannya sehingga kini ia bisa dengan jelas melihat bercak merah menodai siku kirinya yang tadi membentur lantai.

Kurogoh kantung depan tasku. Seingatku, aku menyimpan beberapa plester di dalamnya—sekedar untuk berjaga jika dibutuhkan.

“Ini,” ujarku seraya menyerahkan plester kepada Minho, “dibersihkan dulu sebelum ditutup plester supaya tidak infeksi.”

Ah, terima kasih.” Minho menerima plester dengan tangan kanannya.

Uhm, kalau begitu, sampai jumpa.” Aku lekas berdiri setelah plester di tanganku telah berpindah tempat ke tangannya dan menciptakan atmosfer canggung di antara kami. Meski kami teman sekelas selama hampir dua tahun di SMA, aku belum pernah bicara secara langsung—berdua saja—dengan Minho.

Dengan tergesa, aku melangkah secepat yang kumampu meninggalkan lapangan basket dan membiarkan Minho yang terus menatap punggungku heran.

Ia datang ke perpustakaan keesokan harinya, saat jam pulang sekolah. Tangannya menyodorkan sebuah buku ke arahku bersamaan dengan bibirnya yang mengulum senyum dan mata besarnya yang menatap wajahku tanpa berkedip sehingga aku langsung memalingkan wajahku karena malu.

Aku mengambil buku di tangannya dan hendak mencatat judul buku tersebut pada buku laporan peminjaman, namun kemudian gerakan penaku terhenti dan aku mengernyit heran.

Uhm, Minho-ssi,” panggilku ragu sembari takut-takut menatap ke arahnya, “kau yakin ingin meminjam buku ini?”

Mencegah Kanker Serviks Sejak Dini. Mata Minho membulat ketika membaca judul buku yang sengaja kuputar mengarah padanya. Semburat merah menghiasi pipinya karena menahan malu. Ia berdeham pelan sembari menggaruk tengkuknya. “Sepertinya aku salah mengambil buku.”

Nde?” Suara Minho terdengar seperti cicitan yang tidak jelas di telingaku. Ia lantas menarik buku di tanganku dan beranjak pergi hingga sosoknya menghilang di balik deretan rak buku yang menjulang tinggi.

“Ini,” ujarnya setelah menghabiskan waktu beberapa menit di antara rak-rak buku. Kali ini ia membawa sebuah buku tentang cedera dalam olahraga. Aku lekas mencatat kode dan judul buku itu lalu menyerahkan kembali buku itu kepada Minho.

Uhm.” Ia bergumam ketika menerima buku dariku. “Kau tidak ingin menonton latihan basket dari dekat?”

Eoh?” Kupandang wajahnya penuh tanya.

Ah, bukan apa-apa.” Lagi-lagi ia menggaruk tengkuknya canggung. “Sudah, ya. Sampai jumpa!”

Minho melangkah keluar dari perpustakaan dan meninggalkanku kembali bercumbu dengan sepi. Aku menoleh ke arah jendela yang langsung berhadapan dengan lapangan basket. Beberapa anggota klub basket telah berkumpul di lapangan. Kuedarkan pandangan ke berbagai arah dan menghela nafas lega ketika mataku menangkap sosoknya yang baru masuk ke lapangan sembari berlari kecil. Ia melemparkan senyum menawannya dan mengatakan sesuatu yang sepertinya dapat kubaca dari gerak bibirnya meski jarak memisahkan kami cukup jauh, maaf aku terlambat.

Aku ingin berlama-lama menatap sosoknya yang bersinar seolah mengalahkan matahari. Saat ia bermain basket, seluruh perhatian terpusat pada dirinya—termasuk sepasang bola mataku yang tak ingin berkedip karena takut kehilangan sosoknya yang begitu lincah.

Sayangnya, aku ingat bahwa guru kimiaku tadi berpesan untuk membawakan buku ensiklopedia tentang molekul dan ion ke ruangannya. Maka sedikit tidak rela, aku beranjak untuk mengemban tugasku.

Langkahku melambat kala melalui koridor panjang yang berada di sisi lapangan basket. Dari koridor ini aku dapat melihatnya lebih jelas. Dengan segera kuantarkan buku pesanan guru kimiaku dan kembali menapaki koridor panjang sembari menahan debaran jantung yang tak karuan.

Ia berdiri di sisi lapangan. Peluh membasahi dahinya, namun justru di mataku sosoknya menjadi lebih rupawan. Botol air mineral digenggamnya erat ketika menegak pelepas dahaga itu. Jakunnya bergerak naik-turun ketika cairan bening mengalir di kerongkongannya.

“Lee Jinki! Jinki! Jinki!”

Oppa! Jinki Oppa!”

Suara cempreng gadis-gadis penggemarnya memekakkan telinga. Suara mereka benar-benar dapat dikategorikan sebagai polutan.

Oppa, bolehkan aku jadi pacarmu?” Salah seorang gadis yang kuduga adalah hoobae—dari caranya memanggil Jinki Sunbae dengan aegyo yang dibuat-buat—berhasil membuat langkahku terhenti dan tubuhku mematung di tempatku berdiri.

Jinki Sunbae hanya tertawa memamerkan eye smile yang membuat debaranku semakin tak karuan. Tanpa sadar aku menghela nafas lega melihatnya bereaksi menanggapi pertanyaan-pertanyaan aneh gadis-gadis centil itu.

Oppa, aku serius!” Gadis yang tadi mulai merajuk dan memanyunkan bibirnya.

Jinki Sunbae berhenti tertawa dan menatap gadis itu. “Tidak bisa, kau bukan tipe-ku.”

Jantungku serasa berhenti berdetak sedetik lamanya karena ketika Jinki Sunbae menyudahi ucapannya, mataku bersirobok dengan miliknya. Di saat seperti ini, kurasa otak tengahku korsleting karena seharusnya aku langsung mengalihkan pandanganku, namun kenyataannya berkedip pun aku tak mampu.

“Memangnya Oppa suka yeoja seperti apa?” Gadis lainnya yang nampak penasaran ikut melontarkan pertanyaan.

Kedua manik mata Jinki Sunbae masih menatap ke arahku saat sudut bibirnya mulai terangkat dan menyunggingkan senyum. Tentunya melihat ia tersenyum dengan jarak sedekat ini, ditambah tatapannya yang tak lepas dari mataku, membuat peredaran darahku kacau sehingga otakku serasa kekurangan asupan oksigen untuk berpikir dan memerintahkan tubuhku agar melepaskan diri dari pesonanya.

“Dia,” ucap Jinki Sunbae dengan telunjuk mengarah lurus kepadaku, “yeoja di sana.”

Satu—dua—tiga—aku menghitung debaran jantungku ketika langkah demi langkah dari kaki panjang Jinki menghapus jarak di antara kami.

“Kau—Minna-ya, eoh?” tanya Jinki Sunbae yang kini berdiri tak sampai tiga-puluh-senti dariku. Aku mengangguk kaku karena leherku seakan membatu. “Aku suka padamu. Kau mau berkencan denganku?”

Bola mataku bergerak ke atas. Mataku membulat menatap tubuh jangkungnya.

N—nde?”

“Iya, aku mengajakmu berkencan. Kau kan yeoja yang suka memperhatikanku dari jendela perpustakaan?”

Nafasku tercekat. Dia—tahu? Lalu kurasa tubuhku benar-benar kekurangan oksigen sehingga pandanganku berkunang-kunang lalu aku merasa semuanya menjadi gelap.

Saat aku terbangun, aku mendapati diriku—sendirian—terbaring di atas seprai putih dan kusadari aku telah berada di ruang kesehatan. Secarik kertas tergeletak di nakas sebelah tempat tidur, berdampingan dengan pot bunga yang kosong.

Hari Sabtu, pukul 6 sore. Kutunggu kau di Menara Namsan. –Jinki

Untuk kesekian kalinya mataku kembali membulat karena terkejut. Apakah ini mimpi?

Tidak. Aku yakin aku tidak bermimpi karena setelah kejadian di lapangan itu, semua gadis-gadis centil penggemar Jinki Sunbae menatapku sinis bercampur iri. Terkadang mereka mencemoohku saat aku berjalan melalui kerumunan, namun aku berpura-pura tuli. Tidak ada satu hal pun yang mampu membuatku lebih bahagia daripada menerima ajakan kencan dari Jinki Sunbae.

Ada saat di mana kata-kata tajam mereka hampir berhasil membuatku rendah diri, namun aku akan segera mengeluarkan secarik pesan yang ditinggalkan Jinki Sunbae untukku. Membaca pesan itu berulang kali membuatku kembali percaya diri.

Sejak menerima pesan yang berisi ajakan kencan dari Jinki Sunbae, aku terus berpikir bagaimana caranya tampil menarik di hadapannya. Tak mungkin kukenakan celana jeans kumal model ketinggalan jaman yang sudah tak beredar lagi di pasaran. Juga mengenakan kemeja yang lebih cocok dikenakan ibu-ibu kantor pemerintahan.

Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi tentang model pakaian terbaru serta tips mengaplikasikan make-up, juga banyak hal lain yang pada umumnya disukai gadis remaja seusiaku—yang selama ini luput dari perhatianku karena aku sangat-sangat-sangat old fashioned.

Hari sabtu pun tiba. Aku mematut diri di depan cermin. Tubuh kurusku—tak bisa dibilang ramping karena aku hampir tak dapat melihat lekuk tubuh wanita dalam diriku—dibalut simple dress berwarna nude yellow dan berleher v-neck yang cukup rendah, tanpa lengan. Aku sedikit risih mengenakannya, namun aku berusaha untuk tetap percaya diri dengan pakaian yang katanya membuat gadis mana pun terlihat menarik.

Rasanya hampir frustasi ketika berulang kali aku gagal menorehkan eyeliner pada kelopak mataku. Sekali aku mengoleskannya terlalu tebal. Kedua kali, tidak simetris. Dan ketiga, aku tak sengaja berkedip saat eyeliner cair itu belum kering seutuhnya sehingga membuat semuanya berantakan.

Akhirnya, ketika aku berhasil membentuk garis hitam sempurna di kelopak mataku dan memoleskan maskara pada bulu mataku, aku merasa puas melihat pantulan wajahku di cermin. Kusapukan blush-on warna peach ke tulang pipiku dan memulas bibirku dengan lipgloss warna pink.

Untuk pertama kalinya, aku melihat diriku berbeda dari aku yang biasanya. Tanpa kaca mata tebal berbingkai hitam yang sedikit kebesaran—karena telah kuganti dengan lensa kontak—, juga dengan riasan di wajahku yang mulus tak berjerawat dan tak berminyak. Aku merasa cantik.

Jinki Sunbae memuji penampilanku saat kami bertemu di tempat yang ia katakan dalam pesannya. Aku bisa melihat tatapan terkejutnya ketika pertama kali aku muncul di hadapannya dan memanggil namanya. Ia bahkan butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa akulah Minna, Si Kutu Buku yang diajaknya berkencan malam ini.

Neomu yeppo, Minna-ya,” pujinya untuk kesekian kali saat kami berada di puncak Menara Namsan dan menikmati pemandangan Seoul di malam hari.

Aku merasa lengan Jinki Sunbae menjalar di pinggangku. Ia memelukku dan menarik tubuhku mendekat ke arahnya. Jantungku hampir melonjak keluar saat kurasakan tubuh kami menempel dan Jinki Sunbae meletakkan kepalanya di puncak kepalaku.

SunSunbae?” Aku melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku. Bohong kalau aku tidak menyukai sentuhannya, namun aku tak ingin mati malam ini karena jantungku berhenti berfungsi.

Jinki Sunbae nampak kecewa ketika aku menarik diri sehingga menciptakan sedikit ruang antara kami. Ia memegang bahuku dan memutar tubuhku menghadapnya.

“Minna-ya, kau mau jadi pacarku?”

Matanya menatapku lembut. Aku menelan ludah yang mengganjal tenggorokanku. Dan tanpa diperintahkan, seolah diriku terhipnotis seutuhnya oleh pesona Jinki Sunbae, aku pun mengangguk malu-malu.

Gomawo,” bisiknya lembut sembari mencondongkan tubuhnya ke arahku. Detik selanjutnya aku merasa bibir lembutnya menyentuh bibirku dan memberikan kehangatan hingga sekujur tubuhku.

Malam semakin larut dan kencan impianku pun harus berakhir. Namun, malam itu mataku tak kunjung dapat terpejam. Sisa-sisa sentuhan Jinki Sunbae masih membekas di bibirku. Otakku terus mereka ulang adegan yang membuatku mulai berpikir mungkin aku hampir gila.

Aku kembali menjadi Minna Si Kutu Buku ketika masuk sekolah di hari Senin. Kacamata tebal berbingkai hitam kembali bertengger di batang hidungku. Tadi pagi aku sempat menimbang-nimbang, apakah aku harus memperbaiki penampilanku juga di sekolah? Namun aku lebih takut pada olokan teman-temanku, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk tampil seperti biasa.

Gerombolan gadis-gadis centil penggemar Jinki Sunbae berbisik-bisik ketika aku melewati mereka. Aku menarik nafas panjang, mengangkat kepalaku dan berusaha untuk berjalan tegak. Biar bagaimana pun Jinki Sunbae telah memilihku, bukan salah satu dari mereka.

Aku masih memiliki kepercayaan diri yang mungkin setinggi Menara Namsan, andai kemudian tak mendengar salah seorang gadis di antara gerombolan itu berseru dengan keras, “Kalian sudah tahu belum, ternyata kemarin itu Jinki Oppa hanya taruhan dengan Jonghyun Oppa!”

Ah, jinjja?” tanya gadis lainnya dengan nada dibuat-buat, “Aduh, kasihan sekali yang sudah besar kepala!”

Kata-kata mereka terasa seperti sebilah pisau yang menghujam jantungku. Kakiku langsung berlari secepat mungkin membawa tubuhku enyah dari hadapan mereka.

Aku bersandar pada pintu perpustakaan. Tak ada seorang pun di perpustakaan sepagi ini. Air mataku mulai mengalir dan membasahi kedua belah pipiku.

Taruhan? Sungguhkah ini semua hanya taruhan antara Jinki Sunbae dan Jonghyun Sunbae? Bodohnya aku terlalu percaya diri bahwa Jinki Sunbae sungguh-sungguh menyukaiku. Benar kata gadis-gadis itu, aku terlalu besar kepala mendengar Jinki Sunbae yang memujiku cantik, padahal itu hanya omong kosong. Ada lebih dari seratus gadis yang menggilainya. Mereka berdandan dengan lebih baik dan berpenampilan lebih menarik daripada seorang gadis kutu buku bernama Lee Minna.

Kuseka air mata yang semakin deras dengan punggung tangan. Berkali-kali. Namun air mata itu tak kunjung berhenti seperti mata air yang menganak sungai.

Aku terkejut ketika pintu perpustakaan di balik punggungku didorong dari luar. Dengan cepat kuseka sisa air mata dan melangkah menjauhi pintu agar seseorang di luar bisa masuk—meski aku tak ingin siapa pun melihatku dengan keadaan berantakan seperti ini.

“Minna?” Minho memanggil namaku saat kakinya melangkah masuk. Ia kembali menutup rapat pintu perpustakaan di belakang punggungnya. “Gwenchana?”

Tak ada jawaban yang bisa kuberikan. Mengatakan baik-baik saja sama artinya dengan berbohong—yang kurasa Minho juga dapat menebaknya. Sedangkan aku juga tidak ingin kembali menangis dan menunjukkan sisi lemahku pada lelaki di hadapanku.

Minho melangkah mendekat ke arahku. Tangannya kemudian bergerak menepuk bahuku. “Ia tak pantas kau tangisi. Jangan sedih, eoh?”

Aku menatap Minho. Kau tahu soal taruhan itu?

“—aku tahu,” ucapnya seolah bisa membaca pikiranku, “Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung bertaruh tentangmu. Mianhae, aku harusnya memberitahumu.”

Aku menggeleng pelan. “Bukan salahmu. Aku saja yang bodoh karena semudah itu percaya. Harusnya aku sadar bahwa yeoja sepertiku tidak menarik.”

Yaa!” Minho berseru saat mendengar ucapanku, “—kata siapa kau tidak menarik?”

___

Minho’s POV

Lagi-lagi mataku menangkap sosoknya yang duduk di balik jendela perpustakaan. Gadis berkacamata dengan bingkai hitam itu selalu memandangi kami—anggota klub basket—latihan setiap pulang sekolah. Ah, aku jadi penasaran apa yang menarik perhatiannya.

Aku tahu gadis itu bernama Lee Minna. Kami satu kelas, namun tak pernah bicara satu sama lain. Ia murid yang pandai dan selalu mendapat pujian dari semua guru. Mungkin karena itulah semua siswa lain iri padanya dan tidak ada yang terlihat ingin berteman dengannya. Atau mungkin karena ia memang pendiam? Aku saja sulit berkomunikasi dengannya meski aku ingin.

“Minho-ya, semalam kau pasti nonton pertandingan bola lagi?” tanya Jonghyun Hyung yang juga anggota klub basket. Aku hanya mengangguk. Sepak bola memang hal yang kusukai di samping basket. Andai sekolah ini menyediakan klub sepak bola, aku pasti tidak akan bergabung dengan klub basket dan lebih memilih olah raga menggunakan bola kaki itu.

Yaa, kau jangan nonton pertandingan bola terus, Minho Hyung! Ingat minggu depan kita juga ada pertandingan! Kalau kau sakit atau kurang konsentrasi karena tidak tidur, nanti kita bisa kalah!” Taemin menimpali dengan nada menyebalkan. Aku langsung melempar bola basket ke arahnya hingga menjatuhkan kotak susu pisang—kesukaannya—yang sedang diminumnya.

Di balik badan Jonghyun Hyung, anggota klub yang lain—Jinki Hyung dan Kibum—juga tertawa mendengarku di-bully. Ini sungguh penghinaan. Aku memang sering mengabaikan waktu tidurku untuk menonton pertandingan sepak bola, namun itu tak mempengaruhi konsentrasiku bermain basket.

Olokan mereka membekas di benakku. Sungguh menyebalkan. Akan kubuktikan bahwa aku adalah seorang power forward yang tangguh.

Sepulang latihan, aku tak segera meninggalkan lapangan dan kembali ke rumah. Sendirian aku berlatih di lapangan basket hingga langit perlahan mulai gelap. Setidaknya ini cukup ampuh untuk mengatasi kekesalanku.

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk latihan. Dua jam latihan bersama anggota klub lalu disusul dengan latihan tambahan—seorang diri—selama hampir dua jam. Tubuhku sudah lelah ketika aku melakukan lay-up terakhir sehingga aku kehilangan keseimbangan saat mendarat.

AH!” Aku jatuh terduduk di lapangan. Kutahan tubuhku yang terjungkal dengan lengan kiri—yang bergerak refleks.

Gwenchana?” Sebuah suara mengalihkan perhatianku dari rasa sakit yang berdenyut di lengan dan bokongku.

Aku melihatnya. Ia yang tak pernah terlibat percakapan denganku, gadis perpustakaan yang selalu memandang ke arah lapangan basket dari balik jendela—Lee Minna.

Ah, kau—” Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku. “—kenapa kau ada di sini, Minna-ssi?”

Minna menunjuk siku kiriku yang berdarah. Aku hendak berkata itu hanya luka kecil ketika ia mengulurkan plester ke arahku.

“—dibersihkan dulu sebelum ditutup plester supaya tidak infeksi,” pesannya.

Dengan sedikit canggung aku menerima plester pemberiannya dan mengucapkan terima kasih. Aku berpikir apa yang seharusnya kulakukan ketika kekosongan menyelimuti udara di sekitar kami. Ah, mungkin aku bisa menawarkan diri mengantarnya pulang. Bukankah hari sudah malam?

Uhm, kalau begitu, sampai jumpa.” Belum sempat aku membuka mulut untuk menawarinya pulang bersama, ia sudah berdiri dan beranjak pergi.

Aku hanya menghela nafas kecewa. Bodoh! Padahal ini kesempatan langka di mana kami bisa berbicara berdua. Aku berdiri dan menepuk celanaku yang kotor, lalu berjalan ke pinggir lapangan dan mengambil tasku. Kumasukkan plester pemberian Minna ke dalam tas. Rasanya sayang jika menggunakan barang pertama yang kudapat darinya.

Tanganku bergerak riang memutar kunci motorku saat aku berjalan ke parkiran. Sepertinya, aku menemukan cara lain untuk mengatasi mood burukku.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri datang ke perpustakaan—yang selama hampir dua tahun tak pernah kupijak satu kali pun. Aku menyembunyikan diri di balik rak-rak buku yang berjejeran. Diam-diam kuperhatikan dirinya. Bola matanya yang bergerak membaca rentetan kalimat dalam buku. Tangannya bergerak luwes membalik lembar demi lembar halaman yang telah dibacanya.

Waktu bergulir begitu cepat dan membuatku terlonjak kaget ketika menyadari aku sudah hampir terlambat untuk latihan basket. Dengan tergesa kuambil buku apa pun yang berada di dekatku. Setidaknya, aku ingin bicara dengannya sebelum meninggalkan perpustakaan.

Uhm, Minho-ssi, kau yakin ingin meminjam buku ini?” tanya Minna ketika aku memberikan buku di tanganku untuk dicatatnya.

Sial! Buku macam apa itu yang kuambil? Bodohnya aku! Ini sungguh memalukan!

Aku memaki diriku sendiri dalam hati sembari menarik kembali buku aneh itu dari tangan Minna yang masih menatapku heran. Ketika Minna sudah tidak bisa melihat sosokku yang berada di balik rak, aku menghantamkan kepala bodohku ke rak—tak terlalu kuat karena aku khawatir rak-rak buku ini akan roboh jika beradu dengan kepala kerasku.

Mataku menyusuri jejeran punggung buku dan menarik buku yang kira-kira tidak aneh untuk kupinjam. Minna mencatat buku yang kuberikan kepadanya.

Uhm, kau tidak ingin menonton latihan basket dari dekat?” tanyaku seraya menerima buku pinjamanku kembali. Gadis itu hanya menatapku heran sehingga membuatku salah tingkah. “Ah, bukan apa-apa. Sudah, ya. Sampai jumpa!”

Aku bergegas keluar dari perpustakaan dengan menahan malu. Saat tiba di lapangan basket, semua anggota klub sudah berkumpul.

Hyung, kau terlambat!” seru Taemin seolah aku tidak tahu bahwa aku memang terlambat.

“Kau darimana, Minho-ya?” Mata Jonghyun Hyung menatap janggal buku yang masih kujinjing di tanganku.

“Perpustakaan,” jawabku singkat sembari meletakkan tasku di pinggir lapangan.

“Sejak kapan kau suka membaca buku? Kukira perpustakaan adalah tempat terlarang buatmu,” sindir Jinki Hyung yang sedang melakukan streching tak jauh dari tempatku meletakkan tas.

Uhm, kalian tahu yeoja penjaga perpustakaan itu suka menatap ke arah lapangan dan melihat kita latihan?” tanyaku tak mengacuhkan sindiran Jinki Hyung.

Yeoja yang mana?” tanya Kibum penasaran. Refleksnya selalu paling cepat kalau mendengar kata yeoja.

“Teman sekelasku, namanya Lee Minna.”

Jonghyun Hyung telah melemparkan pandang ke jendela perpustakaan yang berada di seberang lapangan basket. “Oh, yeoja kutu buku itu? Pasti hidupnya hanya dipenuhi buku-buku ilmiah. Eh, tapi tunggu dulu, jangan bilang dia suka memandangi kita karena dia menyukai salah seorang di antara kita?”

Jinki Hyung meninju pelan bahu Jonghyun Hyung sambil terkekeh. “Lalu menurutmu siapa yang dia suka?”

Aku menelan ludah mendengar pembicaraan mereka berdua.

“Mau taruhan?” Jonghyun Hyung mengangkat sebelah alisnya.

Call. Aku bertaruh namja yang disukainya itu aku,” seringai Jinki Hyung penuh percaya diri.

Dan ternyata benar saja. Hatiku rasanya perih seperti luka yang ditetesi air lemon saat kulihat dengan jelas dari tatapan matanya, Minna terpesona akan sosok Jinki Hyung. Sang kapten basket itu dengan penuh percaya diri mengajak Minna berkencan dan membuat gadis itu pingsan karena shock.

Aku langsung berlari keluar lapangan dan mengangkat tubuhnya yang kurus—dan ringan—ke ruang kesehatan. Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung mengikuti kami dari belakang.

“Jadi sekarang bagaimana? Sudah terbukti namja yang disukainya itu aku.” Jinki Hyung masih bercakap soal taruhan, saat aku cemas setengah mati melihat Minna yang tak kunjung sadar.

“Masih belum pasti,” elak Jonghyun Hyung tak mau kalah begitu saja, “aku baru akan mengakuinya kalau kau berhasil mengajaknya kencan dan—”

BRAK! Aku menggebrak nakas di samping tempat tidur. “Bisakah kalian berhenti membicarakan taruhan itu? Siapa pun yang disukainya, itu adalah haknya dan lebih baik kalian tidak ikut campur!”

Aku amat marah. Sebelum emosiku meluap dan membuatku meninju wajah kedua sunbae yang juga rekan satu timku, kuputuskan untuk meninggalkan ruang kesehatan.

Emosi yang memuncak membuatku melemparkan bola basket ke dalam ring berkali-kali tanpa arah. Dentuman demi dentuman terdengar bersamaan dengan bola yang menghantam ring hingga bergetar. Ironisnya, hal itu tak jua membuat kekesalanku hilang.

Aku harus memberitahu Minna soal taruhan itu. Meski aku patah hati mengetahui bahwa Minna menyukai Jinki Hyung, namun aku tak ingin ia merasakan hal yang sama denganku.

Aku mengintip lewat jendela perpustakaan. Kulihat Minna duduk di kursinya. Tangannya memegang note dan senyuman menghiasi wajahnya yang nampak berseri. Aku tak pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Hanya karena Jinki Hyung. Lelaki itulah yang disukai Minna dan mampu membuat gadis itu merasa bahagia.

Kakiku terasa lemas ketika akhirnya aku menapaki koridor dan menjauh dari perpustakaan—mengurungkan niatku karena aku merasa sesak menghimpit rongga dadaku hingga sulit bernafas.

Hari Senin pagi, aku berangkat ke sekolah dengan perasaan bercampur aduk. Sebagian masih merasa sakit jika mengingat kencan antara Jinki Hyung dan Minna. Namun aku tak dapat menutupi perasaan cemas tentang taruhan yang dilakukan antara Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung.

Benar saja. Aku baru menapaki gedung sekolah, berjalan di koridor panjang dan gunjang-ganjing itu langsung terdengar di telingaku. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju kelas Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung yang bersebelahan dengan kelasku.

“Jinki Hyung!” panggilku lantang, kakiku berjalan cepat ke arahnya yang sedang tertawa bersama Jonghyun Hyung.

“Minho-ya, kebetulan kau datang!” Jonghyun Hyung berseru ke arahku dengan satu tangan terangkat. “Kemarilah, kau pasti juga ingin melihat ini!”

Jonghyun Hyung menunjukkan layar ponsel Jinki Hyung ke hadapan mataku. Kulihat di sana foto Jinki Hyung dan Minna—tengah berciuman.

“Aku sudah memberikan bukti, sekarang kau mengakui kalau aku menang, eoh?” Jinki Hyung menyeringai bangga.

“Berengsek!” umpatku langsung mencengkram kerah baju Jinki Hyung dan mengangkat tinjuku.

Yaa! Minho-ya!” Jonghyun Hyung melonjak kaget melihatku hingga menjatuhkan ponsel Jinki Hyung dari genggamannya. Tangannya kemudian menahan bahuku.

“Sudah kukatakan, jangan mempermainkannya!”

BAM! Aku melayangkan tinjuku ke permukaan meja. Tulang-tulang jariku berkedut nyeri, namun tak kugubris sedikit pun. Dengan kasar kuenyakkan tubuh Jinki Hyung—yang sejak tadi berusaha mendorong tangan kiriku yang mencengkram kerahnya—dan berlari ke luar kelas.

Aku tak perlu susah payah mencarinya karena aku langsung menemukannya tengah menangis di perpustakaan—tempatnya bersembunyi selama ini. Sungguh ingin kurengkuh tubuh mungilnya dalam pelukanku, namun aku tak ingin membuatnya salah sangka. Aku tidak ingin disamakan dengan lelaki berengsek macam Jinki Hyung!

Kutepuk bahunya lembut—beberapa kali—untuk membuatnya lebih tenang. “Ia tak pantas kau tangisi. Jangan sedih, eoh?” Dia menatapku heran sehingga aku akhirnya mengakui soal taruhan itu, “—aku tahu, Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung bertaruh tentangmu. Mianhae, aku harusnya memberitahumu.”

 “Bukan salahmu. Aku saja yang bodoh karena semudah itu percaya. Harusnya aku sadar bahwa yeoja sepertiku tidak menarik.” Wajahnya nampak terluka mengatakan hal itu, membuatku tidak bisa diam saja dan menahan gejolak yang kurasakan selama ini.

Yaa!” seruku cukup keras dan membuatnya tersentak kaget, “—kata siapa kau tidak menarik?” Aku menggaruk tengkuk salah tingkah. “Kau—menarik.”

Kuberanikan diri meliriknya yang kini menatapku dengan dahi mengernyit bingung. Kuulas senyum tipis ke arahnya, “Uhm, sebenarnya ada yang ingin kukatakan kepadamu, Minna-ssi. Selama ini aku sering memperhatikanmu—diam-diam.”

Matanya membulat manatapku tak percaya. Melihat mimik wajahnya membuatku jadi gemas. Kucondongkan badan ke arahnya dan berbisik di telinganya, “Bisa dibilang aku ini pengagum rahasiamu.”

–END–

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

51 thoughts on “Secret Admirer

  1. keren, Q kira minna pengagum Minho eh malah jinki. Dan yang kebalik Minho malah si secret admirer -nya Minna… kekeke
    Lumi ngejebak nich.. wkwk

  2. awalnya sih ngiranya si minho tapi pas baca “mata sipit” langsung lah beralih ke onew
    itu….itu…..*nujuk-nunjuk
    diksinya suka, deskripsinya apalagi
    sebenernya sih agak gemes ama karakternya jinki n jjong di sini
    emang cewe tuh serendah itu ya? sampe-sampe dijadiin taruhan hanya karena dandanan mereka ‘gk normal’
    rasanya pengen bejek-bejek cowo kaya gitu
    *emosi sendiri
    waktu baca yang minho udah nebak kalo dia ‘punya rasa’
    aq suka endingnya
    biasanya sih kalo yg secret admirer yg sering aq baca tuh si secret admirernya jadian sama yg di -secretadmirer-in (?) tapi di sini gk
    kesannya memang gantung karena si minna ama minho gk jadian tapi itulah yg buat beda
    di sini terkesan membiarkan reader utk berimajinasi tentang kelanjutannya
    suka-suka
    udah ah gk mau lebih panjang lagi
    ditunggu karya selanjutnya ya ^^

  3. Aku bener2 ngira kalau minna suka mino. Ehh ternyata onew. Habis itu aku kira secret admirernya minna eh ternyata mino.

    Bener2 ngejebak eon. Wkwk. Setuju ama semua komen di atas.

    Aku suka eon~~

  4. saya kira cast cewe-nya Lumina, gak taunya Lee Minna🙂

    hampir ketipu nih, kiraiin si secret admirer itu si Minna yang suka ma Jinki…
    ternyata si Minho yang suka sama Minna..
    nggak ‘ngeh’ sama tulian mata sipitnya diawal paragraf😀

    karakternya Jinki disini pengen dijitak deh, tega banget perasaan cewe jadi taruhan..
    syukurlah akhirnya sang secret admirer alias Minho mengungkapkan perasaannya, sakit hati Minna bisa terobati.. 🙂

    Ok Lumie, sekian komennya, masih ditunggu TBiY-nya ya..🙂

    1. 😆 that’s my korean name, kak😆
      secret admirernya ada 2..😆 iya, dr awal udah dikasih tau matanya sipit.. tp keknya pada ketipu krn minna ketemu minho pas di lapangan basket itu.. padahal di situ minna gak ada muji minho sama sekali lhoo..😆
      jitak aja si jinki.. asal jangan minho yang dijitak😆
      TBIY-nya menyusul ya akhir bulan ini.. aku ngejar skripsi dulu sampai pertengahan bulan..🙂
      nanti langsung tamat + side story deh😉

  5. Aku Terjebak… aku terperangkap…. #mendadak nyanyi hello.
    I’am Trap… i’am trap.. i’am trap… #gati lagu Henry suju…

    hahahaha…. ada alasannya Loh Lumie kenapa aku tiba-tiba nyanyi. yang pertama… oke!! FInee11 aku terjebak kirain yang di senengi Minna itu Minho… mendadak kaget dibagian ini.

    Ia berdiri di sisi lapangan. Peluh membasahi dahinya, namun justru di mataku sosoknya menjadi lebih rupawan. Botol air mineral digenggamnya erat ketika menegak pelepas dahaga itu. Jakunnya bergerak naik-turun ketika cairan bening mengalir di kerongkongannya.

    “Lee Jinki! Jinki! Jinki!”

    “Oppa! Jinki Oppa!”

    abisan klo urusan tubuh proporsional itu pasti Minho. dan baca cast-nya th firts guy-nya Minho. eh, ternyata malah Onyuuu… ya ampun!! ampe aku scroll lagi ke atas berharap itu typo. deong!!!!
    dan yang kedua selamat buat Minna yang kejebak taruhannya Onyu… selamat ya… kan akhirnya dapat Minho..hahaha

    Aku suka deskripsinya tentang perpus… detail.. bisa aku bayangin setting perpusnya. wkwkwkw #ketahuan demen nongkrong diperpus. haha
    udah ah… kepanjangan nih. thanks lumie. ditunggu Ending the blue nya. okeh!!!

    thanks ya lumie!11 ditunggu ending the blue nya…. Pkehhh

    1. hahahaha… makasih vikeeeeyyy udah baca dan komen.. tbiy-nya segera menyusul ya.. maaf lama nungguinnya.. tp ff ini sama yg a life story itu ff lama.. jadi bukan karena aku males lanjutin tbiy.. karena emang sibuk, jadi bisanya ngepost ff lama deh..😦

  6. Awalnya sih sempat aneh, masa Minho matanya sipit? Tapi makin ke endingnya ternyata itu Jinki. Dan ternyata Minna suka ma Jinki. Suka ma cerita ini, gak bisa ditebak juga.

  7. Huah! akhirnya. akhirnya.akhirnya. haha, gak tau kenapa, momo bacanya jadi tahan nafas, rasanya tu kasian banget, plus penasaran bgt ntu nasibnya minna kyk gmn.
    tapi syukur deh, akhirnya minna punya minho, untung eonni baik gak nglantarin minna gitu aja, untung aja yg di mksd SA di sini minho, untung aja gak si minna. ha, kebykn untung jadinya😀
    Joa sama ceritanya, tp agak sedikit kurang surprise gitu yg di bagian minho sm jinkinya, si minna juga kurang kecewa gitu eon kyknya,😀 tp itu cuman ‘kurang’ kok eon, overall bagus! yey! *clap

  8. Aku suka ide ceritanya ;D
    Tapi maaf saja yahh .. menurut ku cerita dibagian minho dan minna kurang gereget gimana gitu😮 ..
    Aku nya kok ngerasa perasaan minho ke minna itu instant banget kurang feeling gitu ..

    #pendapat aku🙂

    1. thanks for read, dear.. kelihatannya instan ya? karena gak dijabarin secara gamblang mungkin.. minho mulanya cuma penasaran krn minna selalu mandangin lapangan basket dan liatin mereka latihan.. rasa penasaran itu yang jadi titik awal dan akhirnya membangun perasaan lebih.. maksudnya lebih di sini memang gak disebutkan perasaannya itu sedalem apa karena topiknya memang pengagum aja.. makanya endingnya juga minho gak bilang suka sama minna kan? jadi bukannya instan, tp memang perasaannya belum sampai tahap itu..🙂
      makasih komennya, aku akan belajar lagi supaya bisa menyampaikan lebih baik🙂

  9. Aaakk..ff ini penuh kejutan😉 ternyata Minho juga jadi SA
    Suka ceritanya, disampaikan dengan baik, dan ceritanya fokus pada pengagum rahasia, nggak merembet sampai kedua tokoh utamanya jadian🙂
    Nice story😉 Btw, Minna membantu pegawai perpustakaan atau gimana, Kak? Soalnya di sini dia mencatat buku-buku yang dipinjam gitu.

    1. makasih uda baca ami.. makasih juga udah suka🙂
      yeap, bisa dibilang begitu.. sejenis asisten penjaga perpus kali ya? soalnya dulu di sekolahku, murid boleh bantuin guru perpus jaga pas jam istirahat atau pulang sekolah.. well, klo disekolahku malah perpusnya jadi tempat nongkrong sambil ngegosip malahan.. memang sih harusnya masih ada gurunya di perpus, tp di ff ini diilangin keberadaannya..😆

  10. Jadi disini ceritanya itu Pengagum Rahasianya itu ada dua ya? Si Minna sama Minho? 2min~ kkkk~

    Aku suka, setuju sama aminocte, FFnya disampaikan dengan baik dan rapih. Udah lama nggak baca FF-FF Lumina, bikin yang baru lagi ya, terus kirim sebanyak-banyaknya (?) ‘-‘)9 #heh

    1. yeap, begitulah🙂
      makasih ya udah baca.. hehehe, maaf ya aku belakangan ini memang jarang banget nulis.. ini juga ff yang udah agak lama sebenernya..😦
      nanti ya kalau gak sibuk aku nulis lagi.. sekarang lagi pusing sama skripsi soalnya😦

  11. aaaa.. suka sama ceritanya..
    sama-sama pengagum rahasia kekeke😀
    kebayang Jinki pasti kece banget #abaikan
    nice story🙂

  12. aku suka! suka! ciri khas anak sekolah banget. tapi kenapa di sini jinki jadi brengsek gitu ya? his innocent face is lost.
    aih minong, make me fallin love~

  13. Minhoooooo!! So sweet paraaaah!!♥♥
    Eonni ceritanya bagus sekaliiii. Aku suka kata2nya.
    Pinteeeer banget bikin cerpen, pake kata2 macam novel, yanv ceritanya bisa dikategorikan high-class! *apasih gue* -_-
    Great packaging!!
    Sequelnya doiing sequelnya
    Hihi

    1. minho selalu sweet kok😳
      makasih udah baca dan makasih juga pujiannya.. even i’m still lacking in many things😉
      gak ada sequel ya, dear.. sorry🙂

  14. suka suka❤
    benar-benar menjebak.. aku pikir mina suka sm minho.. soal'nya awal"nya ketemu sama minho dulu😉
    keren kok.. aku suka sm diksi'nya.. gk terlalu banyak percakapan.. tp kena banget😀

    taemin gak ikutan disebut yaa? tim basket'nya tadi onjongkeyho.. hehehe

  15. Hihi akhirnya bisa baca epep kak Lumie egen^^b
    Serius. Akhir-akhir ini kayaknya semua cast SHINee yg kubaca pas bgt Jinki itu jd bitchy person. Ya ampun, pd ketuker jiwa kali ya -_-
    Sillent love, entah knp aku kesel bgt sebenernya sm org yg gt. Tapi emg gasemudah yg dibayangin sih.-.
    Karakter Minho kukira sprti peran sampingan, eh pas ada side-nya ternyata.. Kerenlah kak😀

    1. makasih udah baca ya, dear.. hahaha, iyakah? mungkin shawol udah pada bosen liat sisi baiknya jinki, jd mau ngasih image lain..😆 klo aku sih cuma karena member lain kykna gak cocok untuk karakter yang dibawain jinki di sini.. makanya mau gak mau si leader itu harus dikorbankan😆

  16. Un knp ffnya ga bisa kebuka ya dihpku? Tp comment2 yg bawahnya bisa u,u
    Pdhl kmrn2 kalo mau baca ga begini. Kenapa ya un?:(

    1. really? wah, aku gak tau kalau soal itu.. ff yang lain jg gak bisa baca? hmmm, coba aja tanya sama admin di page help us out gtu? mungkin mereka bisa bantu..🙂

  17. sedih mengetahui bahwa onew itu napeun namja~ huaa T.T
    jahatnya author~ tapi overall bagus kok, suka banget sama ceritanya

  18. kejebak! dan kejebak! huft! #ada jebakan di sini.
    eon, saya kok nggak rela ya oppa ayamku jadi begini? dia kan mukanya kalem. kok bisa jadi begini? #abaikan.
    tapi klo boleh nebak nih. ni ff lama yang baru dipublish sekarang gtu, ya? #sok tahu.
    cerita-ceritanya mirip ccc #abaikan lagi.
    ok, tunggu karya yang lain!

      1. nggak papalah. itu sih terserah auhor, kan?
        cinta cenat cenut season pertama #hahaha
        maklum, sesekali nonton begituan. walau nggak sering-sering.

  19. Huaaa… Lumie eonni FFnya baguss😀 sama seperti yang lain, aku kira yang Minna suka itu si Minho eh ternyata onyu ._.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s