2NE — SCENE 7: CLUE

2NE — SCENE 7: CLUE

Written by Zikey

2NE-10

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Supporting Cast: Han Yuna, T.O.P (Big Bang), Lee Jinki as Onew, Lee Chang Sun as Lee Joon

Genre: Angst, Mystery, Family, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: G

I’ve found the evidence
To all of your doings
I’ll make sure to figure you out

[SHINee – Clue]

Rumah Yujin, Buam-dong

Yujin semakin risau, rasanya begitu sulit jika hanya duduk menunggu mereka tiba. Kini satu menit pun terasa begitu panjang, sehingga membuatnya semakin gelisah. Matanya masih berkaca-kaca, ia tidak lagi sedih dengan kabar yang baru ia terima, kini ia justru khawatir. Meski kurang harmonis, namun Yujin tahu benar Joong Ki sangat mencintai ibunya. Entah masalah apa yang membuat hubungan keduanya melonggar, tapi Yujin bisa memastikan seberapa besar luka Joong Ki. Laki-laki itu pasti merasa menyesal dan bersalah atas sikapnya sendiri.

“Ada apa sih? Kenapa cemas begitu?” tahu-tahu Jina muncul di sudut ruangan.

“Tidak bisa muncul lebih bersahabat ya?” cibir Yujin. “Ibu Joong Ki meninggal dunia, selama tiga hari ia menghadiri konferensi dengan kolega ayahnya. Dan aku yakin benar ayahnya sama sekali tidak memberitahu Joong Ki oppa kalau ibunya masuk rumah sakit, jadi bisa dipastikan keadaan oppa saat ini kacau. Adiknya bilang Joong Ki oppa tidak hadir sejak tadi.”

“Ya ampun, walaupun cari uang itu penting, bukan berarti keluarga ditinggalkan, ya kan?”

“Kurang lebih,” Yujin masih sibuk berjalan mengelilingi ruangan hingga ia teringat sesuatu. “Yuna!”

“Astaga Yujin, ada apa denganmu? Nyawaku hampir terbang tidak karuan karena terkejut!”

“Namamu Yuna! Han Yuna.” Jina terbang mendekat. “Mantan kekasih Jonghyun,”

“Jonghyun? Temanmu yang tampan dan keren itu? Sutradara yang pernah muncul di TV dan pernah main film itu kan? Astagaaaaa!! Aku mantan pacarnya? Gila! Oh oke… maaf, bukan saat yang tepat untuk terpesona. Jadi?”

“Bukannya ini terlalu kebetulan? Aku sahabat Jonghyun, tahu-tahu kamu datang menghantuiku dan ternyata kamu mantan kekasih Jonghyun yang sampai sekarang belum aku ketahui bagaimana ia atau sebut saja, kamu menghembuskan nafas terakhir. Kalau kamu gentayangan karena arwahmu tidak tenang atau dengan kata lain tidak bisa menerima kematianmu, artinya ada yang terjadi pada Yuna.”

“Aku bukannya tidak bisa menerima kematianku, aku hanya penasaran bagaimana caranya gadis muda dan cantik sepertiku bisa tiba-tiba bersama malaikat kematian. Oh, oh tunggu, itu bukan poinnya kan?” Jina yang ternyata bernama Yuna itu mulai mengerti maksud Yujin barusan. “Maksudmu, ada yang salah dengan kematianku entah berhubungan dengan Jonghyun ataupun harus diketahui olehnya, iya kan? Ya ampun! Aku cerdas sekali, hahaha!”

“Astaga, berhenti bicara! Catat dulu saja sebuah fakta yang selalu mengganjal pikiranku tentang Jonghyun, ia tidak pernah suka orang-orang yang ia kenal berjalan, atau berkendara dengan earphone menancap di telinga atau dengan konsenterasi yang terbagi pada ponselnya. Kalau bisa aku cari tahu, aku berasumsi ini berhubungan denganmu. Menurut yang aku tahu, Yuna adalah pacar terakhirnya dan yang paling mengenang. Kemungkinannya, sesuatu yang membuatnya kehilangan Yuna akan ia benci.” Ia menyimpulkan dengan bangga.

“Jadi bagaimana kamu akan cari tahu caraku meninggal dunia?”

“Dengan atau tanpa bantuan Jonghyun, itu yang harus aku pikirkan sekarang. Ya! Gara-gara mengurusi kasus kematianmu, aku sampai lupa mengurus kasusku sendiri. Kamu bahkan tidak membantu sama sekali, huh!”

“Maaf, aku akan coba cari tahu deh. Aku bisa berkeliaran di sekitar rumahmu untuk mencari tahu, oh, biar aku masuk ke kamarmu dan mengamati isinya!”

Pembicaraan mereka terpecah oleh suara pintu yang dibuka secara kasar, bayangan sosok lelaki muncul di antara bias cahaya. “Oppa…” panggil Yujin hati-hati.

“Cepat bantu aku!” suara khas milik Top membuat Yujin reflek berlari mendekat. “Aku tidak menyangka ia seberat ini,” keluh Top sambil kembali menuntun Joong Ki bersama Yujin. Susah payah keduanya membawa Joong Ki ke kamarnya, dengan asal, Top merebahkan tubuh sahabatnya di pembaringan.

“Pelan-pelan!” omel Yujin, ia tahu Joong Ki pasti mabuk karena tertekan. Lelaki ini tidak pernah minum kalau bukan karena hal yang benar-benar menekan batinnya. “Ya ampun! Dia kenapa?” ia baru sadar wajah Joong Ki lebam, seperti habis berkelahi. Top tidak menjawab, ia hanya melepaskan sepatu dan kaos kaki Joong Ki dalam diam. Yujin ingin menuntut jawaban, namun ketika ia melihat memar di wajah Top, ia segera mengurungkan niatnya.

“Tolong ganti bajunya, aku mau ambil handuk dan air.” Yujin segera keluar dari kamar, mencari kotak P3K, mengambil handuk kecil dan sebaskom air hangat.

“Bajunya diletakkan dimana?” tanya Top ketika Yujin kembali masuk ke kamar, Joong Ki sudah ia balut rapi dengan pakaian tidur.

“Letakkan dulu di lantai, kemari!” Yujin meletakkan baskom air dan handuk di meja terdekat, kemudian duduk di pinggir kasur Joong Ki, menyisakan tempat untuk Top duduk.

“Kenapa?”

“Duduk! Biar aku obati wajahmu.” Top baru akan kembali berlalu ketika dengan cekatan Yujin meraih lengannya dan menariknya untuk duduk. “Jangan sok jagoan! Siapa perempuan yang mau dengan laki-laki berwajah memar-memar sepertimu?” Top diam, tidak berfikir untuk menjawab sama sekali.

“Tidak bertanya apa yang terjadi?” tanya Top akhirnya disela-sela kesunyian Yujin yang sedang sibuk mengobati lukanya.

“Aku tidak akan menyandang status sutradara kalau tidak suka menonton dan mengamati kisah-kisahnya. Aku bukan jadi sutradara secara cuma-cuma, hanya dengan mengamati aku tahu apa yang terjadi.”

“Oh ya.” Top meremehkan.

“Joong Ki oppa membuat masalah kan? Hari ini ia tiba-tiba dapat berita ibunya meninggal, aku tahu bagaimana perasaannya. Aku tidak bisa menyalahkan ayahnya, tapi setidaknya itu yang terngiang di otaknya atau setidaknya ia merasa bersalah pada ibunya. Bukannya datang ke pemakaman, ia malah minum di kelab malam bersama gadis-gadis koleksinya. Kamu datang, kalian berdebat, saling tinju, sampai akhirnya Joong Ki oppa mengalah. Kalian datang ke rumah orang tuanya, bukannya ikut menjadi penerima tamu, Joong Ki oppa justru minum sendirian sampai kamu menemukannya dalam keadaan mabuk. Koreksi saja bagian mana yang menurutmu salah.” Yujin menutup prediksinya dengan bangga.

Top menggedikkan bahu, walaupun gengsi ia tetap mengakuinya. “Secara garis besar, lumayan. Satu poin untukmu, sekarang nilaimu tujuh.” Top menepuk puncak kepala Yujin kemudian berjalan keluar kamar.

“Ngomong-ngomong, terima kasih. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot menyentuh peralatan dengan bau aneh itu. Selamat malam,” katanya sebelum menutup pintu kamar Joong Ki, memancing semburat senyum bangga di wajah Yujin.

“SIANG!” seru Yujin ceria kemudian mengecup pipi Joong Ki. “Ayo bangun, kita masak sarapan bersama!” meski kacau, semalam Joong Ki tetap memiliki sedikit kesadaran untuk membagi bebannya pada Yujin yang terus menemaninya hingga pagi menjelang. Walaupun dengan pengaruh alkohol, Joong Ki merasa lega bisa membagi bebannya hingga ia bisa tidur dengan nyenyak.

“Cepat bangun, atau mau aku siram juga?” bisik Yujin kemudian berjingkrak keluar dari kamar Joong Ki. Lelaki ini membuka matanya, menerima sambutan matahari yang memasuki celah tirai kamarnya. Ia meraih gelas berisi air mineral dan mangkuk berisi sup untuk mengobati rasa mabuk yang membuat kepalanya terasa berputar. Dari dalam kamar, melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat itu ia dapat mendengar suara berat sahabatnya dan suara nyaring gadis yang sudah seperti adiknya sendiri itu.

“Cepat jemur!”

“Kenapa jadi aku? Kan kamu yang salah! Aku sudah bangunkan sejak satu jam yang lalu, jangan bilang aku tidak memperingatimu Top.”

“Yang benar saja! Ibuku bahkan tidak pernah menyiram air ke kasurku. Eh, ngomong-ngomong aku ini lebih tua, sopan sedikit!”

“Tidak peduli. Aku sudah ingatkan berkali-kali, cepat bangun atau aku guyur! Salahmu karena tidak bangun juga, dasar pemalas!”

Joong Ki terkekeh, ia ingat masa-masa ketika keduanya belum terlalu dekat. Gadis ini bukannya galak, hanya aura kewanitaannya yang terlalu besar sejak SMA. Mulutnya tidak akan berhenti mencicit seperti ibu rumah tangga lainnya, ia akan segera mengoceh jika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan tempatnya. Jika berdebat, Yujin akan bilang ‘Ini mengenai keadilan! Meletakkan barang sesuai tempatnya juga bagian dari bersikap adil terharap barang-barang dan diri sendiri. Apa salahnya sih sedikit disiplin dan bersikap adil?’.

“Ayo kita jemur bersama,” Joong Ki menengahi. Ia sudah berada di ambang pintu dan menyumbangkan sebuah senyum indah untuk memperbaiki suasana hati Yujin.

“Konyol, berjuta kali juga aku tidak akan terpesona dengan senyummu.” Top melecehkan sambil berjalan, hendak mengambil gelas.

“Setidaknya merasa lebih baik kan?” Joong Ki meledek.

“Ya ampun,” desis Top sambil memutar bola mata.

“Berhenti bermesraan! Ayo, banyak pekerjaan rumah yang menanti.”

Joong Ki segera membasuh wajahnya di kamar mandi, memberikan kesegaran sebelum mulai membantu Yujin. Meski satu-satunya gadis di rumah ini tidak ahli memasak, namun ia tetap berkeras untuk melakukan tugas seorang wanita, memasak. Jadi Top dan Joong Ki mengerjakan tugas bersih-bersih rumah, diawali dengan menjemur kasur Top dan mengeringkan genangan air di kamarnya.

“Aku sedang meracik bumbu untuk daging bakarnya, jadi, siapa yang mau membantuku untuk belanja di supermarket?” suaranya tidak keras, namun cukup lantang untuk membuat Top dan Joong Ki menoleh. “Ayo cepat, siapa yang mau membantu?” tanya Yujin sekali lagi sambil memasukkan wortel ke dalam panci, disusul kol, kentang, dan buncis.

“Aku,” sahut Joong Ki.

“Tidak, aku saja.” Top menyelak.

“Aku sudah lebih dulu.”

“Tapi aku mau pergi belanja, aku ingin belanja juga.”

“Jangan bertengkar, Top bisa pergi belanja, oppa bantu aku saja di sini.” Yujin menyudahi pertengkaran dua laki-laki yang tinggal bersamanya itu.

“Entah ada apa dengan Tuhan, dan dirimu, sehingga aku bisa berakhir di tempat ini bersama perempuan itu.” Top mencibir, menuding Joong Ki sambil berlalu menuju meja dapur dimana Yujin meletakan secarik kertas berisi daftar belanja dan beberapa lembar uang.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk datang kemari.” Joong Ki melawan sambil bertolak pinggang, kemudian cepat-cepat berlari mendekati Yujin sebelum Top mencekik lehernya.

“Jangan lama-lama ya, aku butuh bahan-bahannya.”

“Iya Top, jangan lama-lama ya, kami sibuk.” Joong Ki meledek, membuat Top gemas ingin melayangkan tinju di wajah tampan yang masih lebam itu. “Jadi, aku bisa bantu apa?” tanya Joong Ki segera begitu Top keluar dari rumah.

“Lantainya sudah disapu dan dipel?”

“Sudah, ya ampun! Kamu bilang ini namanya memasak? Bukan begini cara memotongnya. Bentuk irisan dan potongan salah satu dari bahan masakan, bisa mempengaruhi cita rasa masakanmu. Untuk yang satu ini, harus diiris secara diagonal supaya aromanya lebih tajam. Sepertinya kelas memasakmu sama sekali tidak membantu.”

“Hah? Oppa…—“

“Jangan panggil aku si cerdas Joong Ki jika aku tidak tahu kalau Chae Yoo Jin mengambil kelas masak setiap hari jumat dan sabtu. Karena aku peduli padamu dan aku menyayangimu, sangat aneh kalau aku tidak sadar sama sekali.”

“Padahal aku ingin buat kejutan.”

“Fakta bahwa Yujin mengambil kelas memasak sudah cukup mengejutkanku, ditambah melihat hasil les yang tidak terlalu berhasil ini. Cukup untuk membuat jantungku meloncat, puas kan?”

Oppa!”

“Apa kabar kekasihmu?”

“Baik, kami semakin dekat.” Yujin mengulum senyum, pura-pura mengaduk sup.

“Sudah sampai ke tahap mana?”

Ne?” mata bulat Yujin langsung menatap Joong Ki lekat-lekat.

“Kenapa terkejut? Bukannya ini hal biasa? Jangan bilang… kalian belum pernah pegangan tangan?”

“Sudah! Enak saja, itu kan tahap paling dasar.”

“Oh ya? Lantas, kenapa terkejut sampai mendelik begitu?”

“Aku… mmm… ya, menurutku itu bukan hal yang pantas untuk dibicarakan dengan laki-laki sepertimu.”

“Jangan berbohong padaku Yujin, kamu tahu kan aku mengerti dirimu seperti kamu mengerti dirimu sendiri. Mungkin memang pernah berpegangan tangan, tapi tidak secara tulus. Maksudku, sekedar tidak sengaja, atau ia membantumu menyeberang, atau semacamnya. Iya kan?” wajah Yujin mengerut kesal.

“Kalau begitu, jelaskan padaku sudah sejauh apa. Pegangan tangan? Aku anggap iya. Saling rangkul?” Yujin mengangguk.

“Memeluk?” Yujin mengangguk lagi tidak mau kalah, tidak menyadari rona pada wajahnya yang semakin jelas.

“Ciuman?”

*Ting Tong*

What a great timing universe!” kata Yujin berterima kasih pada alam, membuat Joong Ki mendesis kesal. “Buka!” Yujin bertitah, dengan malas lelaki rupawan ini berjalan menuju pintu.

“Oh, shit!” Joong Ki reflek mengumpat. Wrong person in a great timing, perfect help universe! Joong Ki menelan ledekannya bulat-bulat, namun raut wajahnya tak menyembunyikan fakta bahwa ia harus terbahak saat ini.

“Ini, emm… benar rumah Chae Yoo Jin, bukan?”

Oppa, siapa tamunya? Kalau sampai salah satu perempuan koleksimu, kalian akan aku bunuh!” suara Yujin terdengar jelas, tentu saja, dapurnya tidak jauh dari pintu.

Mendadak suasananya terasa sangat canggung, Joong Ki jadi mati gaya. Untuk pertama kalinya kekasih Yujin bertamu, dan pemandangan yang harus ia terima adalah lelaki tampan dengan celemek biru muda membukakan pintu rumah untuknya. Tentu saja Joong Ki merasa seperti tertangkap basah bekerja sebagai pelayan. Oh, ralat. Tentu saja Joong Ki merasa seperti tertangkap basah menjadi selingkuhan Yujin.

“Silahkan masuk,” ajaknya dengan kaku, disusul Min Soo yang berusaha tersenyum dan masuk dengan canggungnya.“Kebetulan kami sedang masak, sudah sarapan?” Joong Ki berbasa-basi.

“Ee..su..ee.. bel.. eh, maksudku sudah.” Min Soo benar-benar tidak tahan lagi, ia harus bertanya untuk menghilangkan kesan salah paham ini. “Kalian tinggal bersama?”

“Min Soo!” Yujin nyaris menjerit, tapi kemudian disusul jeritannya yang lain, ketika pisau tajam itu akhirnya membelah apel dan tanpa kendali menghujam jarinya. Ia tidak menyangka tamu yang akan muncul dari balik tembok itu ternyata Min Soo, dan ia lebih tidak menyangka jika apel ini bisa beku!

Min Soo reflek berlari ke arah Yujin untuk memastikan jarinya baik-baik saja, namun pemandangan yang ia lihat tentu bukan seperti yang ia harapkan. Ingin sekali Min Soo mengomelinya karena membelah apel dalam kepalan, bukannya diletakan di atas alas pemotong.

“Kamu bodoh ya?” omel Min Soo saat Yujin dengan panik membersihkan meja dapur yang terkena tetesan darah dari jari telunjuknya yang terluka. Dengan cekatan lelaki itu meraih pergelangan kiri Yujin, menariknya mendekati tempat cucian piring. “Bersihkan dulu lukanya, bukan dapurnya.” Min Soo bergumam pelan, namun cukup terdengar Yujin.

“Hey, apa kamu tidak mau membantu? Carikan kotak P3K, tolong!” Joong Ki yang sedari tadi terpekur melihat drama live show itu langsung berlari mengambil kotak First Aid.

“Alkohol,”

“Tidak mau!”

“Pisau itu ada bakterinya!” tapi Yujin tetap tidak mau mengalah, ia tidak mau merasakan guyuran alkohol di atas lukanya. Meski Min Soo bersikeras, Yujin tetap menolak, wajahnya mengerut kesal membuat Min Soo akhirnya mengalah juga. “Antiseptik,” Min Soo meminta obat lain pada Joong Ki. Kemudian ia segera mengolesi luka sayat Yujin ketika membuang es yang sedari tadi ditempelkan pada lukanya, dan di akhiri dengan balutan plester luka.

“Orang bodoh macam apa yang menggenggam apel saat dipotong? Untuk apa beli talenan?” Joong Ki tahu-tahu mengomel, membuat Min Soo merasa diwakili.

“Kalau apelnya tidak beku juga aku tidak akan luka!” Yujin mengelak, ia merasa metode memotongnya tidak salah hanya agak berbahaya.

“Dasar ceroboh!”

“Hey, kalian tinggal bersama?” Min Soo mengulang pertanyaannya, membuat keduanya reflek tutup mulut,

“Cuma bertamu,” suara berat yang sempat membuat Yujin tersihir saat pertama mendengarnya itu menyahut entah dari mana. Ketiganya mencari sosok yang barusan menjawab, dan ketika itu rasanya Yujin ingin sekali bersujud sebagai rasa terima kasih.

You’ve got some sense, huh. Joong Ki bergumam bangga dalam hati, setidaknya temannya yang ignorant itu bisa meluruskan situasi. Top berjalan mendekat dengan 4 kantung belanjaan di kedua tangannya, meletakkan keempatnya di atas meja dapur dengan cuek.

“Kalian tidak akan terus diam dan memandangiku kan? Aku kesini untuk makan enak, bukannya dipandangi dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh kalian. Cepat masak!” ia bertitah kemudian berlalu menuju ruang TV sambil menenteng satu botol jus dan camilan.

“Biar aku yang lanjutkan,” Yujin segera bergerak.

“Biar aku bantu,” Min Soo mengambil inisiatif, walaupun tidak mahir setidaknya ia sering di dapur. Min Soo segera mendekati keranjang berisi sosis, bakso, dan telur burung puyuh, tidak  jauh dari keranjang tersebut sebatang daun bawang sudah setengah diris di atas talenan. Tanpa bicara, lelaki ini melanjutkan pekerjaan yang terlihat tertunda itu. Sementara Joong Ki mengambil alih apel yang tadi membuat jari Yujin terluka, memotongnya menjadi beberapa bagian, meletakkannya di atas piring kecil dan membawanya pada Top.

“Ini rasa terima kasihmu?” cibir Top saat Joong Ki duduk di sebelahnya usai meletakkan sepiring apel.

“Kurang? Mau aku cium?” Top buru-buru meraih satu potong apel, manglihkan pandangan dari Joong Ki.

“Cu-cukup,” katanya canggung kemudian menggigit apel tersebut. “Ngomong-ngomong, kenapa otakmu macet?”

“Karena memang seharusnya macet! Sekarang sih aku berterima kasih karena alasanmu itu, tapi selanjutnya? Apa iya, ia akan percaya semudah itu kalau menemukan kita ada di rumah ini lebih dari dua kali?”

“Oh iya, benar juga. Ya sudahlah, yang nanti ya pikirkan nanti saja. Aku ingin pindah tempat tinggal.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Tinggal dengan perempuan membuat hatiku jadi seperti banci, menyebalkan sekali si Yujin itu.”

“Harusnya kamu senang karena bisa bertemu dengan perempuan seperti dia, supaya kamu sadar hati kamu tuh bekunya udah kayak baja.”

“Itu yang aku perlukan, kan? Untuk apa aku masuk akademi selama 4 tahun kalau keluar dari sana, klemar-klemer seperti banci TV, termasuk kamu. Kadang aku jadi bingung sendiri, bagaimana bisa kita berdua jadi sahabat. Pasti rasanya aneh berteman dengan gay, tapi aku justru biasa saja. Apa kita sejenis?”

Joong Ki terbahak.“Yang benar saja! Itu bukti kalau kamu ini tidak punya perasaan, seperti batu. Laki-laki lain tidak akan mau mendekatiku kalau tahu aku suka sesama jenis, intinya, kamu juga tidak normal tapi lain kondisi.”

“Sialan!” keduanya tertawa. “Aku ingin segera membunuh bajingan itu!”

Timing-nya meleset nih, sabar aja lah, jangan merusak momen bagus kita. Kita menunggu selama enam tahun bukan untuk bersikap gegabah kan? Tenang saja, ia akan menerima karmanya.”

Starbucks Coffe, Jongno-gu, Seoul.

“Ouy, hyeong! Aku dengar kasusmu sudah berhasil ditutup?”

Onew menghela nafas tanpa berhenti membaca. “Ya, dan sekarang aku berharap mereka tidak akan memberiku kasus baru.”

“Lalu kenapa masih mempelajari berkas lama?”

“Bukan, ini bukan berkas kasus-kasus yang lama. Ini berhubungan dengan teman Jonghyun, aku dengan baik hati membantunya. Betapa cerdasnya!” Onew memuji dirinya sendiri secara sarkasme. “Bukannya aku menyesal, tapi aku hanya kesal saja. Harusnya aku bisa menjernihkan kepala sebentar, tapi aku harus cepat menyelesaikan ini.”

“Memangnya kenapa? Kasus ini bukannya akan dimusnahkan besok kan?”

“Justru itu Joon, kasus ini sudah lama terlantar. Sebenarnya aku juga belum tahu kasus ini masih bisa dibuka lagi atau tidak. Pasalnya, waktu itu kasus ini sudah ditutup karena tidak ada saksi dan bukti yang jelas.”

“Tentang apa sih?”

“Kematian orang tua salah satu anak keluarga Chae generasi 20.” Onew memijat kepalanya sebentar lalu bersandar pada kursi.

“Tunggu, menurut yang aku tahu, keluarga Chae generasi 20 itu pemilik konstruksi C.W kan? Bukannya belum ada yang meninggal?”

“Jadi, beberapa tahun yang lalu, keluarga Chae ini mengadopsi seorang gadis bernama Yoo Jin. Yoo Jin ini keluarga Han, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tahun 1999. Menurutnya, waktu itu seseorang sudah memberi kesaksian bahwa sebuah mobil yang menghantam mobil orang tuanya. Tapi, saat dalam proses, tahu-tahu saksi itu mengelak dan memutar balikkan fakta.”

“Apa hyeong pernah nonton drama berjudul City Hunter? Bukannya ini persis? Dia hanya mengarang sepertinya.”Joon mengelak skeptis.

“Cerita fiksi tidak selamanya murni fiksi kan?” Joon tidak menjawab, benar juga kata Onew barusan. “Kamu sedang mengerjakan kasus apa?”

“Yuna,”

“Masih saja? Setidaknya lebih baik, daripada Jonghyun terus menyalahkan diri. Ada baiknya kalau kita tahu siapa pelakunya. Jadi sudah dapat apa saja?”

“Belum banyak, masih mengumpulkan data. Kebetulan aku kerjasama dengan detektif, setidaknya waktuku tidak banyak tersita kan?”

Bravo! Sial, kenapa aku tidak terpikir sejak kemarin? Tapi… apa tidak aneh, jaksa penyidik meminta bantuan detektif?”

“Kenapa tidak? Toh ini bukan kasus yang resmi ditugaskan pada kita kan? Dia temanku, detektif paling handal yang pernah kukenal, ia bisa mengerjakan dua kasus sekaligus. Mau? Namanya L.”

“L? Large atau alphabet?” Onew terkekeh meremehkan.

Hyeong, jangan menghinanya. Setidaknya L lebih bagus dari Onew, hyeong baru akan tutup mulut saat melihatnya.”

“Maaf, maaf, jadi apa saja yang sudah diberikan oleh detektif L ini?”

“Sebuah fakta yang aku hampir tidak pernah tahu, Jonghyun tidak pernah menceritakannya padaku.” Alis Onew langsung mengerut, merasa tertarik. “Jonghyun merebut Yuna dari Choi Seunghyun, laki-laki yang selalu menjadi saingan Jonghyun sejak SMP. Ingatkan?”

“Choi Seunghyun?” Onew membeo, kemudian ia berusaha mengingat siapa yang Joon maksud. “Oh, laki-laki yang jago berkelahi itu, anak berandalan yang pernah menghajar murid sekolah lain sampai masuk rumah sakit?”

Joon langsung menjentikkan jari heboh, jus manga yang baru ia sesap langsung ditelannya bulat-bulat. “Iya! Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka Jonghyun bisa merebut kekasihnya! What a miracle!” Onew mengangguk, menyetujui pendapat Joon. Jelas saja tidak bisa dipercaya, dulu Jonghyun anak baik-baik, sangat normal. Pantas saja popularitas Jonghyun tahu-tahu melambung tidak karuan di sekolahnya, ternyata karena masalah ini.

“Apa si L itu memberitahumu, bagaimana cara bocah cupu seperti Jonghyun bisa merebut kekasih berandalan?”

“Ingat Seunghyun masuk ke R.O.T.C? Ia dan Yuna ternyata tidak putus, mereka masih berhubungan sebagai kekasih selama Seunghyun menjalani masa taruna. Nah, selama masa sibuk Seunghyun, ternyata Jonghyun berhasil membuat Yuna berpaling. Setelah bertahun-tahun bersabar menunggu pasangan perfect-absurd ini kandas, akhirnya Jonghyun berhasil. Keduanya sudah berpacaran bahkan sebelum Yuna dan Seunghyun putus, mereka baru membuat hubungan mereka official setelah itu. Tapi tahu sendiri kan teman Seunghyun ada dimana-mana?”

“Hubungannya dengan kasus Yuna?”

“Sebentar! L bilang, terakhir Seunghyun menampakan diri adalah ketika pemakan Yuna. Ia menjadi orang yang paling lama berada di makam Yuna.”

“Bukannya Jonghyun?”

“Seunghyun berada di antara pepohonan, berdiri menatap makam Yuna hampir seharian. Setelah itu data Seunghyun tidak bisa ditemukan dimana-mana, meskipun nama dan fotonya ada di dalam data alumni R.O.T.C. L bahkan tidak bisa membuat teman-teman Seunghyun membuka mulut, entah karena memang tidak tahu atau setia kawan. Semuanya menyerukan hal yang sama, mereka tidak mengenal Choi Seunghyun. Bahkan yang membocorkan informasi ini hanya anak-anak cupu yang dulu sering di kerjai, mereka menyimpan informasi seperti ini ternyata.”

“Tidak mungkin!”

“Kemungkinannya hanya dua, ia pergi dari Negara ini atau membuat identitas baru.”

“Tapi untuk apa?”

“Itulah yang menjadi pertanyaan, untuk apa?”

—CLUE, END —

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “2NE — SCENE 7: CLUE

  1. Jadi eommanya joongki yang meninggal? Walah.

    Wah, aku baru tahu kalau yuna mantannya seunghyun. Terus sembunyi di pohon2. Jgn2 dia yang lukain Jjong di pemakaman, ya… Hmm…

    Ditunggu next partnya🙂

  2. astaga… mesti tahan nafas mbaca part ini. mesti nginget-inget part sebelum-sebelumnya trs digabungin jadi satu…
    waaa… tapi masih buntu banget.
    tapi good as usual, meski ada beberapa perbincangan yang kurang paham arahnya kemana. tapi pokoknya penasaran bangettt nget nget….

    semangat buat authornya dan di tunggu updatenya🙂
    fighting

    1. Sama, aku aja nulisnya harus inget-inget part sebelumnya, terus digabungin buat ngarahin cerita kkkk~
      masih kah? belum kebaca juga? sedikit pun? ;_;
      Iya, beberapa perbincangannya emang masih au bikin gak jelas
      yeeey~

      Oke deh ^O^
      Makasih banyak ya udah mampir dan komen *smooch*

  3. kyaaa~~~
    astaga,… percakapan antara joon dan onew bikin dag dig dug,..
    kelihatannya sudah mulai jelas alur ceritanya,..
    Author daebak!!!
    jangan bilang kalo seunghyun itu TOP,
    trus orang yang ingin di balas TOP sama Joong ki itu Jonghyun,..
    bikin tambah penasaran!

    di tunggu next partnya,..
    gomawo^^

    1. Oh yaaa?? au bikin percakapan itu mikirnya ratusan kali xD
      hahaha~
      aduuh makasiiihh
      jangan-jangan *O*
      waduuhh… kayanya analisa kamu nyaris kena nih kekeke
      bahayaa xD

      oke deh
      btw, makasih banyak udah mampir dan komen *smooch*

  4. halo author, maaf ya selama ini aku jadi silent reader u___u hehe
    selalu ngikutin ff ini dari awal, bagus bangeet
    di awal awal ceritanya sama sekali gak ngerti mau ke arah mana, tapi sekarang udah lumayan ngerti n__n
    pokoknya suka banget sama ni ff :3
    ditunggu part selanjutnya yah. fighting! ^^/

  5. Waaahhh ini beneran
    dibandingkan scene sebelumnya, yang ini lebih bikin geregetan
    adegan terakhir itu loohh.. Choi Seunghyunnya itu Top apa Seungri ya? Bukannya nama mereka sama ._.a apa malah bukan mereka sama sekali?
    btw, adegannya Joong Ki sama Top… hahaha, Joong Ki berasa gay nya di sini xD
    bayangan Kang Maru terhapus sudah~
    Scene 8, palli palli!!

  6. Omg, setelah ubek2 library nemu juga FF yg pas pngen aku baca what a miracle!
    Mian, karna bacanya lgsung dr part awal bru komen skrg Hehehe.
    Inti ceritanya bgus dan memang bkin penasaran.. Bnyak hal tak kuduga.. 2 thumbs deh!! *clap clap clap.
    Kalo di koreksi lg, ada beberapa typos tp gak bnyak,.. Oke, i’m waiting 4 the next scene🙂 hwaiting Zikey!!
    *Buruan di update ya!!😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s