The Destiny – Part 8

The Destiny [Part 8]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : “Tetapi, aku tidak pernah serius menjalani hubungan ini, Oppa. Aku tidak bisa.”

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Kibum berjalan lunglai menuju kelasnya. Sepanjang jalan ia menunduk lesu. Wajahnya terlihat muram. Semua kebahagiaan yang siang kemarin ia rasakan terasa telah tenggelam dengan sesuatu yang ia dengar di hari yang sama.

Kibum duduk di kelasnya dengan lemas, membuat Minho yang sedang bermain dengan ponselnya melihatnya heran. Kibum menggeletakkan kepalanya di atas meja dengan tampang kusut.

“Yah, kenapa lagi? Kamu lupa kejadian kemarin hingga masih murung seperti ini?” tanya Minho yang mengingatkan Kibum tentang kejadian di restoran.

Kibum menatap Rika yang tengah bercanda dengan Jungeun. “Aniyo, aku sangat ingat.” Kibum mengangkat kepalanya  kemudian mendesah.

“Lalu, apa lagi?”

“Berjanjilah kamu takkan mengatakan hal ini pada siapa pun.”

Minho mengangguk mantap dengan ekspresi serius.

“Aku sudah dijodohkan.”

“Mwo?! Kamu dijo …, emp. Mulut Minho segera dibekap Kibum karena mengundang perhatian seisi kelas, termasuk Rika dan Jungeun karena suara kerasnya

“Aish! Kamu berisik sekali,” desis Kibum kemudian melepaskan bekapannya.

“Mianhaeyo. Aku terlalu terkejut.”

______

Jam istirahat telah dimulai sejak beberapa saat yang lalu. Dan seperti biasa, Jungeun dan Rika pasti akan duduk satu meja. Berbincang dan menghabiskan makan siang bersama. Tapi tidak lama kemudian Kibum dan Minho mendatangi mereka. Duduk bersama dalam satu meja. Mereka memberikan senyuman mereka kepada sepasang sahabat itu.

“Rika, tadi Cheon Seongsaengnim mendatangiku. Dia meminta kita agar menemuinya di ruang guru setelah pulang sekolah,” ujar Kibum.

“Baiklah. Tetapi ada apa?”

“Aku tidak tahu,” jawab Kibum seraya mengangkat bahunya.

“Sepertinya aku tahu,” ujar Minho yang seketika mengambil perhatian ketiga temannya itu.

“Kau tahu apa?” tanya Kibum.

“Mungkin kalian akan dijadikan pasangan sebagai ….”

“Apa?! Pasangan?!” pekik Jungeun dan Kibum.

Minho menutup telinganya. “Tolong biarkan aku menyelesaikan kata-kataku!”

“Mianhae,” pinta Kibum dan Jungeun serentak.

“Kalian akan dijadikan pasangan sebagai calon peserta dalam lomba debat Inggris yang akan diadakan dalam waktu dekat ini.”

“Benar juga. Bukankah lomba itu selalu diadakan setiap tahun? Dan sekolah kita selalu mengikutinya,” seru Jungeun.

“Dan tahun lalu Jinki Hyung dan Kibumlah yang menjadi juara pertama. Tapi tahun ini Jinki Hyung dilarang ikut karena harus fokus untuk menghadapai ujian akhir,” timpal Minho lagi menjelaskan.

“Begitu. Jika memang benar aku pasti akan dengan senang hati mengikutinya,” ujar Rika semangat.

“Tapi, jika kamu ikut maka selama lima hari menjelang debat kita akan pulang malam hari. Kita akan belajar intensif bersama Cheon Seongsengnim dan pulang bersama dengan anak kelas tiga yang sedang menjalani jam pelajaan tambahan mereka,” jelas Kibum.

“Kenapa harus begitu?” protes Rika yang ekspresinya berubah kecewa.

“Karena ada persiapan-persiapan yang harus kita ikuti agar dapat bersaing pada debat Inggris itu dengan baik,” jelas Kibum mengingat apa yang ia lakukan bersama Jinki pada tahun yang lalu.

“Begitu, ya? Tidak apa. Aku yakin appa-ku bisa mengerti.”

______

Ketika siswa-siswi lain berjalan menuju gerbang, Rika dan Kibum melangkah menuju ruang guru. Dan ketika ruang-ruang kelas telah kosong, merekalah yang akan menempatinya untuk belajar hingga malam.

“Tebakan Minho tepat sekali.” Rika dan Kibum baru saja keluar dari ruang guru.

“Kau tidak menyesal kan menerimanya?” tanya Kibum yang tengah berjalan beriringan dengan Rika.

“Tentu saja tidak.”

“Rika!” Jinki tengah berlari kecil menghampiri mereka. Disusul Jonghyun di belakangnya.

“Kenapa belum pulang?” tanya Jonghyun.

“Tahun ini aku ikut serta lagi di debat Inggris. Dan kali ini, Rikalah yang jadi partnerku,” ungkap Kibum senang.

“Chukhae!” ujar Jinki dan Jonghyun serentak.

“Jadi, selama lima hari ini kita bisa selalu pulang bersama, dong?” celetuk Jinki senang.

“Malam ini aku akan pulang bersama Kibum, Oppa,” tolak Rika.

“Aku?!” pekik Kibum terkejut seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Ne. Setelah kita belajar kamu harus berkunjung ke rumahku. Menjelaskan semuanya kepada Appa alasanku harus pulang malam selama lima hari ini. Aku takut Appa tidak akan percaya jika hanya aku yang mengatakannya. Appa terlalu protektif padaku,” ungkap Rika yang terlihat sedikit kecewa.

“Arraseo,” jawab Kibum.

“Kalau begitu jaga yeojacingu-ku hingga selamat sampai rumahnya dan jangan melakukan hal yang macam-macam seperti apa yang pernah kamu lakukan, ara?” pinta Jinki serius.

“Ne, Hyung. Aku sudah kapok, kok.”

Dreet! Dreet!

Rika melihat nomer yang muncul di layar ponselnya, dan tanpa bayak berpikir dia megangkatnya.

“Hallo, Pa …. Benarkah?…. Jam delapan… Terima kasih, Pa.”

Rika menutup teleponnya. “Appa akan menjemputku malam ini.”

“Jadi, aku tidak perlu ke rumahmu?” tanya Kibum.

“Tentu saja tidak. Yang aku katakan benar, kan? Appa terlalu protektif padaku sejak aku pindah ke sini.”

“Itu kan karena appa-mu khawatir padamu, Rika,” ujar Jonghyun.

“Bukankah aku tadi menambahkan kata ‘terlalu’? Itu berarti berlebihan untukku. Dan sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.”

______

Chagiya, besok kan tanggal merah. Bagaimana jika kita kencan?” tanya Jinki yang tengah berjalan beriringan menuju kantin.

“Benar juga. Tapi, apa tidak apa-apa di saat seperti ini? Aku harus fokus dengan debat Ingris-ku karena debat akan diadakan lusa.”

“Tapi, setelah itu aku pasti akan jadi lebih sibuk lagi dengan persiapan ujianku. Setidaknya kita harus melakukannya sesekali,” rajuk Jinki penuh harap.

Rika berhenti melangkah dan berdiri menghadap Jinki. “Itu benar juga. Baiklah, setuju. Tapi, Oppa, aku tidak mau dijemput. Kita bertemu di tempat kencan saja, ok?”

Jinki yang ikut berhenti dan menatap Rika mengernyit. “Kenapa?”

Rika menggeleng. “Aku pasti kena marah karena kencan sehari sebelum debat Inggris-ku dimulai.”

“Benar juga. Kamu mau pergi ke mana? Mau mengunci gembok cinta di menara Seoul?”

“Ani. Kita ke Lotte saja. Pasti seru.”

“Ke sungai Han dan membuat permintaan?”

“Bagaimana jika kita shopping ke jalan Kangnam?”

“Aku pikir kalian terlalu banyak keinginan,” seru Jonghyun yang ternyata sejak tadi menguntit di belakang mereka.

Mereka berdua hanya memandang Jonghyun yang tengah berjalan mendekati mereka.

“Coba kalian pikir. Pasti setelah ini  Jinki akan fokus pada ujian akhir dan seleksi masuk universitas. Sedangkan di tahun berikutnya, Rikalah yang kan sibuk mehadapi ujian. Aku rasa kalian tidak punya waktu sebanyak itu,” ujar Jonghyun kemudian berjalan meninggalkan mereka seenaknya.

Rika menghela dan merunduk sedih.

“Jangan dengarkan Jonghyun. Kita pasti akan pergi ke tempat-tempat itu. Tapi untuk kali ini kita ke Lotte World. Kamu mau ke sana, kan?” Jinki berusaha menghibur.

“Ne, Oppa.”

______

Rika berjalan menuju halte dengan bahagia. Ia menatap sang langit dengan awan putih yang berarak mengiringi perjalanannya. Hari yang cerah, secerah senyumannya saat ini.

“Oppa,” gumam Rika ketika melihat Jinki tengah duduk di halte bus yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri.

Jinki tengah duduk memandang arus jalanan yang terlihat sedikit lenggang dibandingkan hari-hari biasanya. Ketika ia menolehkan wajahnya, ia melihat sesosok gadis yang berjalan ke arahnya dengan wajah bingung.

Dres biru muda selutut dengan rumbai putih pada bawahannya, warna yang senada dengan bando yang menghiasi rambut panjangnya yang ia gerai, juga tas kecil yang menggantung di bahunya. Ia telihat sangat manis dan feminim. Sedangkan Jinki memakai celana Jeans dengan kaos biru yang ia timpali dengan jaket base ball hitam putih dan topi berwarna merah terang.

“Oppa, apa yang kamu lakukan? Aku kan memintamu untuk ….”

“Itu menyusahkan,” potong Jinki. “Aku ingin menaiki bus bersamamu, seperti yang biasa pasangan kekasih lain lakukan,” sambungnya lagi kemudian tersenyum.

Rika membalas senyumannya.

“Itu busnya sudah datang, Oppa.” Rika menunjuk sebuah bus yang datang dari jarak lima puluh meter.

Jinki berdiri kemudian menggandeng Rika menaiki bus yang kini telah berhenti di halte. Duduk pada kursi berdampingan. Mobil melaju dengan tenang. Di saat seperti itu Rika terlihat sangat bahagia. Ia menatap pinggiran jalan yang ia lewati bagai hamparan bunga. Matanya berbinar-binar. Ia juga menanyakan banyak hal, seperti: seperti apa Lotte World itu? Apa saja yang bisa kita lakukan di sana? Sudah berapa kali Oppa ke sana? Apa benar-benar menyenangkan? Dan banyak lagi.

Sekitar satu jam kemudian mereka turun pada sebuah halte. Tempat yang tidak jauh dari gerbang tempat yang ingin mereka kunjungi. Hanya sekitar setengah kilometer.

“Wah, aku jadi ingat Dufan,” ujar Rika ketika melihat hamparan wahana di sana serta lautan manusianya yang terlihat sibuk mondar-mandir di hadapan mereka.

“Dufan?”

“Taman hiburan di tempatku, sama seperti Lotte.”

Jinki mengangguk mengerti.

Mata Rika terlihat sangat tergoda dengan berbagai wahana di sana. “Oppa, ayo kita naiki itu, itu dan itu!” Rika menunjuk beberapa wahana di hadapannya kemudian menyeret Jinki dengan semangat.

______

Sekelompok namja tengah berjalan di antara kerumunan orang, namun salah satunya tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang gadis yang ia kenal bersama seorang namja.

 

“Bukankah itu Rika?”

Sesaat kemudian ia berlari kecil menghampiri mereka, namun baru saja ia sampai kedua orang itu telah menghilang.

“Kemana mereka?” tanyanya seraya mengedarkan pandangan.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sana? Ayo kemari!” perintah seseorang yang terlihat sedikit lebih tua darinya.

“Ya.”

 

______

 

Jinki berjalan tergopoh-gopoh menuju sebuah kursi panjang di dekat sebuah taman, kemudian duduk di sana sambil mengangkat kepalanya menghadap langit. Ia menutup matanya.

Rika duduk di sampingnya. “Kau payah, Oppa.”

“Chagiya, aku pusing dan mual.”

“Kau seperti wanita hamil, Oppa,” ledek Rika sedangkan Jinki hanya melirik sebal.

“Baiklah,” ujar Rika seraya kembali berdiri. “Aku akan membeli air minum dulu. Kamu jangan ke mana-mana, ya?”

Jinki mengangguk.

Untuk sesaat Jinki melihat wahana yang baru ia naiki. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat orang-orang yang terlihat berteriak-teriak di atas roller coaster itu. Dan beberapa dari mereka adalah penumpang yang tadi naik bersama mereka juga. Jinki terlihat sangat terkejut.

“Bagaimana bisa mereka sekuat itu?” gumamnya bingung.

“Ini, Oppa.” Rika menyodorkan sebotol air minum pada Jinki.

Jinki menenggaknya setengah kemudian melihat jam tangannya. “Hampir jam makan siang. Kamu mau makan apa?”

“Toppoki dan es krim cokelat,” jawab Rika cepat.

“Ok.” Jinki menunjukkan jempolnya. “Tapi, di sini panas. Kita makan di taman, ya?”

“Ne, Oppa.”

 

Sekitar lima belas menit kemudian Jinki membawa dua piring toppoki dengan dua gelas es krim cokelat. Di tempat itu mereka makan dengan lahap. Hawa dan suasananya sangat sejuk dan nyaman. Benar-benar tempat yang sesuai untuk bersantai di siang hari.

Mereka baru saja selesai memakan semua makanan mereka, namun Jinki tersenyum geli menatap Rika. Membuat Rika heran dan menggaruk-garuk kepala.

“Oppa, apa yang kamu tertawakan?”

Jinki tidak menjawab. Ia mengusap lembut bibir bawah Rika yang masih ditempeli krim cokelat. Rika terlihat sedikit terkejut dengan perlakukan yang Jinki berikan, sedangkan Jinki hanya tersenyum lembut menatap Rika hingga tangannya tiba-tiba berhenti bergerak. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius dan mulai mendekati wajah Rika.

Seketika tubuh Rika menegang dan matanya membulat lebar. Wajahnya terlihat sangat ketakutan, membuat Jinki mau tidak mau menghentikan tindakannya pada jarak lima centi meter. Ia duduk tenang pada posisinya kembali. “Mianhaeyo,” ujarnya sedih penuh sesal.

Otot Rika mulai melemas dan ketakutannya mulai menghilang dengan perlahan. Ia melihat Jinki dengan pandangan kasihan. Menatap Jinki yang tengah menunduk dalam sesal atas tindakannya.

“Oppa, gwenchanayo. Maafkan aku, aku terlalu takut melakukannya.”

Jinki hanya tersenyum. “Itu bukan salahmu.” Jinki mencoba menghibur namun ekspresi Rika tidak kunjung membaik. Ia sadar, ini adalah akibat kejadian yang pernah dialaminya beberapa waktu lalu.

“Kita foto, yuk!” ajak Jinki berusaha mengalihkan perhatian Rika kemudian mengambil ponselnya di saku.

“Mwo?”

 

Jinki merapatkan letak tubuhnya pada Rika, kemudian mengangkat kamera ponselnya sedikit ke atas. “Siap? Hana, dul, set.”

 

Chu~

Rika terbelalak dengan keadaan bibir sedikit terbuka karena Jinki yang tiba-tiba saja mencium pipinya.

Cekrek!

“Kalau pipi tidak apa-apa, kan?” tanya Jinki dengan tatapan nakal. Memandang Rika yang masih terlihat shock.

 

Rika mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terdiam untuk beberapa saat melihat Jinki yang tersenyum-senyum kepadanya.

“Lihat! Ekspresimu lucu sekali,” ujar Jinki ketika melihat gambar Rika di layar ponselnya kemudian menunjukkanya di hadapan Rika. Untuk kedua kalinya Rika terbelalak.

“Oppa, hapus!” bentak Rika kesal ketika ia ingin merebut ponsel Jinki, namun tidak berhasil.

“Oppa, cepat hapus!” perintahnya lagi semakin geram.

“Aniiiii,” ledek Jinki kemudian berdiri dan berjalan menjauh dari Rika.

“Oppa!” teriak Rika kemudian mengejar Jinki yang sudah siap berlari. Mereka berkejar-kejaran di taman itu.

______

Tak sampai begitu sore. Bahkan waktu baru menujukkan pukul empat sore, tetapi saat ini bus yang mereka tumpangi sudah berhenti di halte yang Rika tuju. Gadis itu berdiri untuk segera keluar bus.

Jinki meraih tangan Rika. Menahannya sesaat. “Aku lupa bilang, hari ini kamu sangat cantik. Aku hanya ingin mengatakaan itu saja. Sampai jumpa besok. Aku pasti akan datang untuk mendukung kalian,” ujarnya kemudian tersenyum.

“Gomaweo.”

 

Rika kembali melangkah keluar. Dari tempatnya berdiri ia melihat bus kembali melaju bersama Jinki di dalamnya.

Jinki mengambil ponsel di sakunya. Ia tersenyum sekali lagi melihat foto yang ia ambil tadi. “Gadisku memang manis dan sangat lucu.” Kemudian tertawa kecil.

Rika memasuki rumahnya. Dari tempatnya ia melihat ayahnya tengah menonton berita sore di sofa bersama dengan anggota keluarga yang lain.

“Bagaimana belajar bersamanya, Rika?” tanya Tuan Wibowo—mengalihkan tatapannya dari TV ke arah anaknya.

“Baik, Pa.”

______

Tuan Wibowo memarkirkan mobilnya di depan sebuah sekolah menengah atas. Tempat diadakannya perlombaan debat Ingris tahun ini. Melihat ke arah Rika yang tegang.

“Tenang dan konsentrasi ketika perlombaan dimulai, ya? Rika pasti bisa.”

“Ya, Pa. Doakan kami agar menang.”

“Tentu saja. Kamu sudah memintanya berkali-keli sejak tadi malam.”

 

“Iya juga,” ujar Rika kemudian tersenyum. “Baiklah, aku pergi ke teman-temanku, ya?”

Rika kemudian keluar dari mobil. Ia berlari menuju enam pasang kaki yang tengah berdiri menunggunya. Lima orang namja dan seorang yeoja. Sedangkan mobil Tuan Wibowo mulai melaju lagi menuju rumahnya.

“Teman-teman!”

“Sudah siap?” tanya Jinki.

“Aku tidak tahu. Jantungku tidak berhenti berdebar ketika perjalanan menuju kemari,” ungkap Rika kemudian kembali memegang dadanya. Ia masih merasakan debaran jantungnya yang cepat.

“Tak apa. Aku juga sama,” timpal Kibum.

“Semangat, Rika dan Kibum!” seru Jungeun seraya menunjukkan kepalan tangannya di hadapan keduanya.

“Semangat!” jawab keduanya lantang.

“Ya, sudah, ayo kita masuk gedung! Bukankah lima belas menit lagi perlombaan akan dimulai?” ajak Jonghyun.

“Ne,” jawab Rika dan Kibum serentak.

______

Tuan Wibowo baru saja pulang setelah mengantar Rika ke tempat perlombaan. Ia memarkirkan mobilnya di halaman. Kebetulan hari ini ia tidak begitu sibuk hingga memutuskan masuk kerja sedikit siang. Itu bisa ia lakukan karena perusahaan itu adalah perusahaannya. Sebuah perusahaan industri menengah ke bawah. Perusahaan yang belum lama ia bangun.

Tuan Wibowo memasuki rumahnya. Di dalamnya ada pemandangan yang sedikit berbeda. Isterinya tengah menemani seorang pemuda duduk di sofa.

“Randi?”

“Hallo, Paman. Apa kabar?”

Tuan Wibowo duduk di sofa yang lain. “Baik. Kapan kemari? Apa ada urusan keluarga?”

“Tidak. Kebetulan aku punya proyek bersama teman-temanku di sini,” ujar Randi kemudian mencari sesuatu di sekitar tempatnya. “Rika dan Risa …, ah, aku sampai lupa. Mereka sekolah, ya?” Randi meringis malu atas sifat pikunnya.

“O, ya, Paman. Kemarin Rika bersama siapa di Lotte?”

“Lotte? Maksudnya?”

“Aku melihat Rika sedang ada di Lotte World bersama seorang laki-laki. Jadi, apa dia pacarnya?”

 

______

Rika sesekali menatap trofinya yang ia letakkan di atas meja ketika ia tengah duduk di sofa sambil menonton TV. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum ketika membayangkan ekspresi yang akan ditunjukkan ayahnya ketika melihatnya. Ekpresi yang sama ketika ia menunjukkan trofi itu kepada ibunya yang kini tengah sibuk memasak untuk makan malam, serta adik perempuannya yang baru beberapa saat lalu pulang dari sekolahnya dan tengah istirahat di kamarnya.

Rika berharap trofi ini bisa menjadi jembatannya mendapatkan restu untuk hubungan yang ia lakukan diam-diam. Ia berharap nilai akademik tidak lagi menjagi alasan ataupun halangan. Baginya ini adalah sebuah pembuktian. Bukti bahwa ia mampu menjalani keduanya secara bersamaan dengan baik.

Tak lama pintu terbuka dan seseorang masuk. Sontak menghentikan lamunannya dan mengalihkan pandangannya pada sang ayah yang terlihat lelah. Ia berlari kecil dengan trofi di tangannya. Memperlihatkannya dengan bahagia dan bangga. Rika tersenyum puas atas keberhasilannya.

Tuan Wibowo menatap trofi itu, sesaat kemudian melihat ke arah wajah anaknya dengan tatapan serius.

“Papa, lihat, kami memenangkan debat ingrisnya dan mendapatkan juara satu,” ujar Rika riang. Namun setelah mengatakannya ekspresi ayahnya tidak kunjung berubah, membuatnya kecewa.

“Papa tidak senang? Apa tidak ada yang ingin Papa katakan?”

“Rika, Papa lebih suka memiliki anak yang jujur dan penurut tetapi bodoh dibandingkan pintar tapi pemberontak dan suka berbohong.”

Rika tersentak. Ia menatap ayahnya dengan pandangan bersalah, namun ia segera meyakinkan dirinya bahwa ia akan dimaafkan. “Iya. Aku memang berbohong. Selama ini aku memang melanggar pesan Papa. Tapi, aku ingin menunjukkan pada Papa kalau aku bisa. Semua kekhawatiran Papa tidak terbukti. Aku bisa tetap menjaga nilai akademikku dan memiliki kekasih di saat bersamaan. Lihat, aku memenangkan ini!” ujar Rika tidak kalah serius kemudian menunjukkan kembali trofi di tanganya.

“Itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Mungkin seharusnya Papa mengatakannya padamu sejak dulu—semua alasan kenapa kita pindah dan kamu tidak pernah Papa ijinkan memiliki kekasih.”

 

“Apa maksud Papa? Jadi, selama ini Papa berbohong padaku?”

______

Rika berjalan dengan lemas dari kelas. Kepalanya terasa sedikit berat sejak kemarin. Ia rasa ini adalah akibat apa yang ia lakukan kemarin. Ia terlalu banyak berpikir hingga kepalanya terasa sakit. Saat ini ia ingin pergi menuju kamar mandi untuk sedikit menyegarkan dirinya.

Baru saja ia melewati pintu kelasnya, namun seorang namja telah berdiri tegap di hadapannya. Sayangnya, dia adalah orang yang paling tidak ingin ia temui untuk saat ini. Rika mendesah berat. Raut wajahnya sendu menatap Jinki, sedangkan namja itu tersenyum lembut ke arahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jinki khawatir ketika melihat wajah yeojachingu-nya itu pucat.

“Aniyo,” jawab Rika pelan.

Jinki menempelkan punggung tangannya pada dahi Rika dan merasakan suhu tubuhnya, tetapi memang suhu tubuh gadis itu normal.

“Kau terlihat tidak sehat, Chagiya.

“Oppa, aku ingin bicara serius denganmu. Bisakah kita mencari tempat yang lebih tenang?”

“Aku juga ada hal yang ingin disampaikan padamu.”

Mereka pun melangkah pergi dari sana. Pergi menuju sebuah lorong sepi yang sedikit gelap.

“Bisa kah minggu ini kamu berkunjung ke rumahku? Appa dan Amma ingin ….”

“Kita putus saja, Oppa,” potong Rika dengan pandangan sendu ke arah Jinki. Wajah Jinki yang semangat seketika pupus menjadi ekspresi yang tidak bisa ditebak.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

20 thoughts on “The Destiny – Part 8”

  1. Rika putusin Jinki??? Andwe…
    Padahal baru juga seneng2. Kasian kan Jinki. Padahal udah mw dikenalin ortunya gitu 
    Aku jadi semakin yakin dengan prediksiku kalo…. *ehemm…
    Ditunggu aja dech next partnya. Kita buktikan bersama 

    1. wah, kayaknya sih prediksi kamu bener deh. emang prediksi apaan sih? #author sinting.
      yo, kita buktikan bersama. ah kata-katanya berasa kayak pa gtu. sering denger tapi apa ya?
      ok, thx komentnya, ya!

  2. haiii Hana, ni ff gak bisa dibuka loh..
    kira2 kenapa ya?

    saya bacanya pake hp, dari tadi pagi loh gak bisa dibuka, sore ini dicoba lg ttp gk bisa dibuka..

    🙂

    1. aku nggak tahu eonnie. aku bisa kok. aku juga nggak ngerti. mungkin sinyal atau kecepatannya yang kurang bagus #mungkin.
      dateng-dateng di ff aku udah rame sebut-sebut ini itu, aku aja sampe nggak ngerti. coba lagi ya eon, tapi jangan lupa koment juga!

  3. Iyaa … Dri tdi pagi ga bisa dibukaa 😦
    Knp yaa ?? Pdahal penasaran bangett 😦
    Aku nungguin ff inii 😦

  4. hai 10x….
    🙂
    🙂
    🙂
    dah lama gak berkunjung ke blog ini
    kangen berat ma ff nya…
    ehhhhhhh….
    tp pas mo baca kok gak bisa di buka ya???
    🙂
    🙂
    bahkan untuk seluruh konten…
    mohon penjelasan dan bantuan nya ya min…..

    🙂

  5. Alhamdulillah udh bisa dibaca lagi… 🙂

    haiii lagi Hana…

    baru aja mereka senang2, udah ada masalah baru…
    kasian juga Rika-Jinki, baru mulai dari awal lagi hubungannya udah dilarang pacaran sama papanya Rika…
    oiya Hana belum dijelasin kenapa papanya Rika ngelarang Rika pacaran.. jangan2 karena Randi… *sok tau**

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya ya… 🙂
    kira2 sampe part berapa nih?

    1. part berapa yah? kasih tahu nggak yah. #halah
      12 part eon. banyak ya? emangnya eonnie tahu siapa randi?
      lihat aja deh di part selanjut-selanjutnya. nanti ketawan kok.
      tongkrongin terus ya ff ku. jangan sampe bosen.
      thaks eonie mau koment lagi….

    1. @amanda,
      baca pake hp, begitu buka page SF3SI langsung scroll ke paling bawah, ganti view mobile sitenya dengan view full site, untuk wp yang pake mobile site emang lg susah..
      taunya ttg ini jg dari Vikey…
      moga bisa ya 🙂

  6. Apa?! Putus?! Kasian banget jinki ._.
    Tapi kayaknya rika gaboleh pacaran karna dijodohin yah?
    Jangan2 dia dijodohin sama kibum?!
    Ahahahah, maafkan ke-sotoyanku yah author J
    Next chapter juseyo!! J

    1. sotoy mah gak papa asal bener. emang aku sotoy tapi salah #itu sih yang dibilang temen.
      oke, tunggu yang sabar aja yah …
      thx komentnya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s