I Need That One Thing [2.2]

Annyeonghaseyo, Wahyu Yoshinoyuki-imnida, errr saya bukan Shawol sih, saya ini sebenernya Mightymax cuman lagi iseng aja bikin fanfict Shinee, hehehegx

Jadi kalo ada hal yang freak (?) ato apalah yang nggak penting dibaca di ff ini saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena ini juga ff perdana saya

Tapi saya juga minta maaf kalo ff ini bikin Anda sekalian dan rekan-rekannya (?) jadi mules trus bolak-balik kamar mandi karena ceritanya nggak mutu dan dirasa ada hal dominan yang nggak penting, saya bener-bener minta maaf dan saya bener-bener butuh koreksinya kalau ada typo (s) juga *author lebay deh

Udah yak saya nggak mau kebanyakan cincong, happy reading🙂

Title: I  Need That One Thing [2.2]

Author: Wahyu Yoshinoyuki

Main Casts: Choi Min Ho, Kim Hye Kyo (OC)

Support Casts: Kim Hyo Kun (Author numpang tenar), Kim Jun, Lee Tae Min, Onew

Lenght: Twoshots

Rate: Teen

Genre: Angst – Romance

Disclaimer: Sederhana, nggak muluk-muluk, this story is mine and don’t plagiat my story

Summary: Yeoja dengan rambut bergelombang itu tak peduli, ia masuk ke rumah dan pintu kokoh itu langsung menelan tubuhnya. Kekecewaan menggunung di dalam jiwa yeoja bermanik mata hitam itu, kemarahan juga masih menyelimuti fikirannya yang selalu berharap Min Ho sama seperti sedia kala. Hye Kyo tutup wajahnya dengan kedua belah tangannya ketika berpapasan dengan Hyo Kun sebelum memasuki kamar, menyembunyikan air mata yang tak lelah membasahi pipi tirusnya.

***

Kreek

Wajah cantik itu menyembul, tetapi bukan wajah cantik yang dirindukannya. Justru khayalan yang tak diinginkannya tadi terwujud dengan sempurna di hadapannya.

“Hye Kyo Eonni sedang mandi, akan kuberitahu dia kalau kau datang, silakan masuk, tunggulah sebentar,” kata Hyo Kun yang menyambutnya ramah.

Aniya, aku hanya sebentar saja, aku akan menunggunya di sini,” Min Ho tak masuk ke dalamnya, ia memilih duduk di kursi teras yang ramping dan penuh ukiran yang meliuk-liuk pada lengannya.

“Baiklah kalau begitu,” sebelum Hyo Kun masuk lagi, Min Ho mulai mengamati pakaian yang dikenakan yeoja itu, yap, warna yang masih sama dengan malam saat empat tahun yang lalu itu.

“Hyo-ya?”

Ne Oppa?” yeoja itu tak jadi masuk lebih dalam.

“Kalian sama-sama menyukai warna biru muda ya?” tanya Min Ho yang membuat alis Hyo Kun bertaut.

Cukup tiga detik saja Hyo Kun menukasi. “Jangan katakan padaku kalau dia yang menyuruhmu kemari Oppa.”

Lagi, Min Ho tertawa melihat raut wajah calon adik iparnya, entah baginya pasangan kekasih itu terlihat lucu kalau sedang marah.

***

“Kau puas Eonni? Sudah kukatakan padanya sesuai yang kau minta, dan sudah lebih dari lima menit dia menunggu, sekarang temui dia,” Hye Kyo menatap tajam bola mata adiknya itu, tak percaya jika Min Ho datang ke rumahnya.

Sireo,” balasnya singkat.

“Huh, semudah itu kau mengatakannya Eonni? Kau tahu kan siapa yang kita datangkan ke rumah ini? Choi Min Ho Sang Flaming Charisma dan sederet gelar lain yang tak bisa kuucapkan semuanya, kau kira mendatangkannya itu semudah menjentikkan jarimu?” Hye Kyo memutar matanya jengah, tak percaya juga kalau rencananya beberapa hari yang lalu berhasil, tetapi ia merasa enggan menemui Min Ho saat ini juga.

“Hyo-ya, bayangkan kalau kau ada di posisiku pasti kau-“

“Ya benar, jika aku ada di posisimu aku takkan mau menemuinya juga walau akulah yang merencanakan ini semua, tapi Eonni kau juga tahu apa akibatnya. Jawab aku, kau lebih dewasa dariku bukan?”

Sebenarnya Hye Kyo agak kesal karena Hyo Kun memotong kalimatnya dan melayangkan pertanyaan yang pasti membuatnya beranjak dari ranjangnya untuk menemui namja chingu-nya.

Ia pun menghela nafasnya sejenak. “Kembalilah ke dapur Hyo-ya, aku akan menyusul dalam empat menit.”

Sempat Hye Kyo melihat senyum Hyo Kun saat dirinya berlalu dari kamarnya.

‘Terima kasih dan maaf telah melibatkan kalian, Hyo-ya dan Jun Oppa,’ batin Hye Kyo ketika menarik kenop pintu rumahnya.

Kreek

Senja memperindahnya, menjadi aura keemasan yang menghiasi wajah tampan kekasihnya. Hye Kyo membatu sejenak ketika mendapati Min Ho berdiri di hadapannya dengan sebuah buket mawar ungu di tangan kanannya. Terpana, tentu saja, ia menyukai namja yang berlaku romantis dan lembut, dan itulah Min Ho baginya. Dapat ia lihat kertas yang terselip di buket itu, tinta dengan warna yang sama dengan mawar itu, tulisan tangan Min Ho sendiri yang berbunyi ‘mianhae Chagi-ya’.

“Hanya ini?” ujar Hye Kyo dengan nada menuntut.

“Maksudmu?”

Hye Kyo hanya melipat tangannya di depan Min Ho.

“Oh itu, geurae. Ehm aku menyesal karena lebih mementingkan egoku dan pedoman yang sudah tertata dalam otakku daripada perasaan yeoja-ku.”

Hye Kyo spontan melotot mendengarnya.

‘Apa?! kau hanya menghafalkannya? Kau hanya mengatakannya dengan mulutmu tanpa dibarengi hatimu?!’ batin Hye Kyo geram.

Kreek

“Mengapa kalian tidak duduk?” mata kedua sejoli itu langsung ditujukan pada orang yang mencairkan suasana monoton tadi.

“Jangan menatapku seperti itu, aku ini yeoja baik-baik, sudah punya namja chingu lagi,” dengan mahir Hyo Kun letakkan dua cangkir teh dan cawannya di atas meja teras dari baki yang dibawanya sembari bercanda, ia mengerti ia datang di saat yang tepat sebelum Eonni-nya kalap dan menampar Min Ho.

“Tidak penting,” gumam Min Ho yang membuat yeoja bercelemek biru muda itu tertawa kecil.

Keduanya pun menurut duduk di kursinya masing-masing dan meraih cangkirnya perlahan untuk diteguk sebagian lalu dikembalikan ke tempatnya semula, Min Ho juga meletakkan buket itu di meja yang sama. Kemudian Hyo Kun betul-betul mundur dari hadapan mereka.

“Tuluskah kau mengatakannya?” tanya Hye Kyo tiba-tiba.

“Yang mana?”

“Menurutmu?”

“Aku tahu aku salah Hye Kyo-ya.”

“Lantas?”

“Aku minta maaf.”

“Baik kumaafkan.”

“Hanya itu saja?”

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau tidak merasa kalau tak hanya aku saja yang membesarkan masalah ini?”

Hye Kyo melotot untuk yang kedua kalinya. “Kau menuduhku andil dalam hal ini?”

“Tak mungkin jika sebuah masalah berakar dari satu objek saja kan? Justru terkesan aneh dan janggal, api itu takkan membesar kalau tak ada angin kan?”

“Kau menyalahkanku Oppa? Jadi yang membuat masalah ini membesar bukan hanya karena egomu saja?”

“Menurutmu?” Min Ho mengutip pertanyaan Hye Kyo yang sudah melesat pada dirinya tadi.

Hye Kyo mengepalkan tangannya, ia sontak berdiri dan menyiramkan air tehnya yang tersisa tepat ke wajah Min Ho.

“Dasar namja tak punya otak! Apa sebenarnya yang kau pikirkan tentangku? Hah?!”

Beruntun Hye Kyo membanting buket mawar itu ke wajah Min Ho lagi, namja itu menyeringai dibarengi sorot mata yang penuh kebencian dan pergi dari sana.

“Kau akan menyesal memperlakukanku seperti ini Hye Kyo-ya.”

Yeoja dengan rambut bergelombang itu tak peduli, ia masuk ke rumah dan pintu kokoh itu langsung menelan tubuhnya. Kekecewaan menggunung di dalam jiwa yeoja bermanik mata hitam itu, kemarahan juga masih menyelimuti fikirannya yang selalu berharap Min Ho sama seperti sedia kala. Hye Kyo tutup wajahnya dengan kedua belah tangannya ketika berpapasan dengan Hyo Kun sebelum memasuki kamar, menyembunyikan air mata yang tak lelah membasahi pipi tirusnya.

***

Nafasnya tak teratur, sekepal amarah masih membungkus pikirannya, wajahnya masih lengket karena siraman air teh tadi, tak ia hiraukan putik mawar ungu yang juga melekat di di lokasi tubuhnya yang sama. Ia tak peduli kamar dorm-nya masih berantakan atau masih bersih, segera ia hempaskan badannya yang lelah, ah bukan, hatinyalah yang lebih merasa lelah. Kepalanya juga pusing, tetapi fikirannya juga demikian, rohaninya lebih dan lebih terhantam.

“Kau baik-baik saja Hyeong?” suara Tae Min mengejutkan Min Ho dan sedikit membuatnya terlonjak.

Ne.”

“Tetapi kau tidak terlihat seperti itu, dan benda apa yang menempel di wajahmu itu?” Tae Min mendekat, mencoba mengamati setiap lekuk wajah tampan itu saat duduk di sebelahnya, bukan benda kecil itu yang Tae Min perhatikan, melainkan mimik kekesalan yang belum terlampiaskan.

“Apa yang terjadi padamu Hyeong?”

“Aku baik-baik saja! Jangan ganggu aku! Pergilah!” kini Tae Min tahu, kekesalan Min Ho sudah tumpah ke dirinya.

Tae Min pun hanya menunduk, berharap kakaknya tak semakin termakan emosi.

Aigoo, apa yang telah kulakukan, maafkan aku Tae Min-ah, aku tidak sengaja membentakmu,” Min Ho mencoba duduk, menatap wajah imut magnae yang sedikit menggerus perasaan yang menggembungi kalbunya tadi.

“Aku ingin bicarakan sesuatu padamu Tae Min-ah, kau mau kan?” Min Ho usap pundak namja yang terkadang terlihat cantik itu dengan pelan.

Sebuah senyum tulus terpatri di bibir Tae Min. “Dengan senang hati Hyeong.”

Tae Min merasa lega di dalam hatinya, kalau curhat begini mungkin masalah Min Ho takkan makin melebar karena disimpan sendiri, pikirnya.

Terus ia tatap namja tampan itu dengan seulas senyum ikhlas yang tak pernah dipaksakannya, Tae Min pun juga mengangguk jika Min Ho memintanya mengiyakan, ia sendiri juga tak bosan memasang telinganya baik-baik, menyerap informasi yang berupa masalah bagi Min Ho dan berusaha mendapatkan solusi terbaik untuk semuanya.

***

Sepatu sneakers-nya melangkah tepat di teras rumah yeoja chingu-nya. Jun berhenti untuk segera mengetuk pintu itu. Sebenarnya dia ada acara makan malam bersama di SoundBirds, tetapi demi mengantarkan buku matematika milik Hyo Kun akhirnya ia mengurungkan niatnya datang ke acara itu tepat waktu. Lagipula dia juga sudah tidak tahan melihat buku berisi nilai-nilai ulangan yang mengerikan itu tetap bersemayam di rumahnya.

Tok tok..

“Apa?! Dia menuduhmu seperti itu Eonni?!”

Jun tak jadi meneruskan karena sangat mengenal teriakan seorang yeoja dari rumah itu, mungkin dari ruang tamu. Ia juga sudah sangat biasa dengan hobi Hyo Kun yang suka berteriak.

“Dia sudah sangat keterlaluan Eonni! Dia benar-benar sudah tak punya otak! Sudah untung kau mau memaafkannya tetapi dia malah membuat masalah baru.”

            “Hyo-ya berhentilah mengatainya di depanku, aku capek membahas ini.”

‘Ada masalah baru ternyata,’ batin Jun mulai mengerti arah pembicaraan mereka.

Ia dekatkan telinganya pada pintu itu, berusaha mengetahui lebih banyak, ah lebih tepatnya menguping. *uwaah jangan dicontoh yak readers xD

“Geurae, aku akan akhiri pembahasan ini di depanmu dengan mengatainya langsung di depan wajahnya!”

            “Hyo-ya, jangan terbawa emosi, ini masalahku, biarkan aku sendiri yang menyelesaikannya.”

‘Wah berbahaya, mesin teriak itu sudah naik darah,’ batin Jun sedikit ngeri.

“Aku tak mau kakak yang sangat kusayangi diperlakukan kekanakan seperti ini terus menerus, aku akan ke dorm SHINee, kalau perlu sampai di hadapannya aku juga akan menamparnya!”

            “Kau gila? Kau kira dia itu siapa? Dia Choi Min Ho! Kau ingin membuat skandal? Hah? Kau ingin ratusan Shawol di luar sana mencekikmu satu persatu dongsaeng babo?”

            “Aku tidak peduli, bagiku ini sudah menyangkut harga diri dan aku tak terima kau diperlakukan seperti itu!”

            “Hei yeoja gegabah dan semaunya saja, sekarang kutanya kau. Memangnya kau tahu di mana dorm SHINee itu?”

Jun tertawa mendengar pertanyaan Hye Kyo, benar juga, yeoja itu masih labil dan mudah mengatakan apa saja sesuka hatinya jika sedang marah. Lalu ia berusaha menghentikan tawanya. Ia berkonsentrasi menangkap pembicaraan kakak beradik itu. Kini di dalam jadi sunyi sekitar lima detik.

“Aku punya mulut Eonni! Dan aku bisa tanya di mana sarang kodok sialan itu.”

            “Berhenti Kim Hyo Kun! Patuhi perintah Eonni-mu sekarang juga!”

            “Sireoyo!”

Terdengar suara langkah kaki, Jun yakin itu Hyo Kun, ia pun sedikit menjauh dari pintu dan bersiap diri.

Kreek

“Hei yo mau ke mana nona muda? Sudahkah kau kerjakan pr matematikamu?”

Op-oppa?” mata cokelat Hyo Kun membesar, kaget mendapati namja chingu-nya berdiri persis di depan pintunya.

“Masuk, aku perlu klarifikasi tentang ini,” Jun pun mengangkat buku matematika yeoja-nya.

“Besok saja, aku ada urusan penting malam ini,” Hyo Kun hendak melengos tetapi tubuh tinggi namja-nya menyulitkannya keluar, ia berusaha mendorongnya tetapi tak ada perubahan.

“Menyingkirlah Oppa, kau menghalangi jalanku,” tandasnya dengan penekanan pada tiap katanya.

“Dasar remaja labil, sudah kubilang masuk ya masuk. Telingamu tidak sedang disumbat earphone dengan lagu Don’t Be Rude bervolume tinggi kan?”

Hyo Kun hanya bisa mendengus pasrah ketika Jun mendorongnya ke dalam. Saat ia cekal tangannya, bisa ia dengar yeoja itu menggerutu ‘Pak Tua’ walau seperti desahan.

“J-Jun Oppa, sejak kapan kau kemari?” tanya Hye Kyo yang kaget ketika mereka berdua melewati ruang tamu.

“Hanya beberapa detik sebelum mesin teriak otomatis ini berkata uhm maksudku berteriak ‘Apa?! Dia menuduhmu seperti itu Eonni?!’, nah yang itu.”

“Berhenti memanggilku mesin teriak Ahjussi!!”

“Bisakah kau diam sebentar? Telingaku sakit Hyo-ya, kau ingin membuatku tuli eoh?” rasa sebal Jun tersalurkan dengan mencubit kedua pipi yeoja-nya amat gemas.

Hye Kyo tersenyum simpul, ia bersyukur adiknya tak lancang dan main pergi saja karena ada Jun.

“Aku jamin dia akan diam karena puluhan soal matematika Hye Kyo-ya,” Jun mengerling ke arahnya, Hye Kyo tertawa kecil menanggapinya, ia sendiri membiarkan adiknya digiring ke kamarnya meski hanya akan berduaan dengan namja-nya, Hye Kyo percaya kedewasaan Jun takkan bersikap macam-macam.

Ah, untunglah pekerjaan mengurusi bocah itu sudah berakhir bagi Hye Kyo, kini ia tepakkan kakinya menuju kamar untuk menenggelamkan diri pada alur cerita novel favoritnya sembari menyumpal telinganya dengan lagu bergenre ballad maupun other yang akan menambah nikmat refreshing sederhananya.

***

Satu bulan berikutnya…

Musim panas yang indah menerpa hari-hari yang dilalui Hye Kyo, beruntung suhu sudah mencapai puncaknya dan hampir berakhir sehingga tak banyak orang-orang mengeluh dan memakai pakaian serba mini dan tipis di sepanjang jalan, baginya pemandangan itu memuakkan.

Hye Kyo pegang secarik tiket Music Bank di tangan kanannya, acaranya akan dimulai hari ini, tepat pada pukul 16.00 di akhir pekan ini. Ia sendiri mendapatkan kertas berkilauan ini dari adiknya yang mendapatkannya dari namja-nya. *bahasa yang membingungkan yak? xD

Ia sendiri mengiyakan karena tak ada kegiatan dan butuh hiburan, kepenatannya di awal semester baru sudah cukup menguras otak dan kekuatannya. Ia benar-benar butuh refreshing yang agak ‘wow’.

Di depan cermin Hye Kyo mematut diri. Memperhatikan dress selutut berlengan pendek sederhana berwarna ungu muda bertaburan pita-pita kecil yang dipadukan dengan warna putih dan sedikit sentuhan blink-blink di sebagian lapisnya, renda tipis di setiap tepinya pun juga mempermanis penampilannya. Ia sudah siap melupakan beberapa bagian kejadian yang ia alami belakangan ini. Ia berharap Min Ho tak selalu mengusik dan menggalaukan nuraninya. Itu menyebalkan, itu menyiksa, dan itu menjemukan.

“Waa~ cham yeppeun Eonni,” timpal suara seorang yeoja yang masuk ke kamarnya tanpa izin.

Hye Kyo tersenyum ketika menoleh ke sumber suara. “Kau yang menyuruhku memakai dress yang bagus makanya aku lakukan. Kau juga cantik kok Hyo-ya, masih dalam lingkup warna biru mudamu itu.”

“Ah tidak biasa saja, aku masih kecil, belum kelihatan cantiknya, ayo keluar, supir pribadi kita sudah menunggu,” Hyo Kun menggamit tangan Hye Kyo seenaknya.

“Dasar dongsaeng gila, sudah mengatakan kekasihmu sebagai supir, juga mengatai dirimu sendiri ‘masih kecil’, kau sudah bisa menghalangi pandanganku karena sedikit lebih tinggi dariku, kau ingin jadi sebesar apa nanti?”

Hyo Kun hanya menampangkan wajah innocent-nya tanpa berkata, barulah sampai di depan mobil berwarna silver dia buka suara. “Hei kau, mana mobil sport-mu?”

Namja yang sedang memegang kemudi itu menyeringai sebal. “Kau kira kau sedang syuting BBF di Jeju? Menyebalkan, aku tahu gaya bicaramu itu kau imitasi dari Geum Jan Di.”

“Tapi kan aku ini yeoja-mu, aku ingin menumpangi mobil keren dan mahal itu bersama Eonni-ku,” kicau Hyo Kun yang menyeret masuk Hye Kyo ke kursi belakang dan memasang seat belt-nya masing-masing.

“Hei, ayo jawab aku, kau tidak punya mulut?”

Jun melepas seat belt-nya dan menjitak kepala Hyo Kun pelan. “Babo, mobil sport itu kursinya hanya ada dua, kalau kau dan Hye Kyo-ya sudah menumpanginya lalu aku duduk di mana? Dan aku harus tanya padamu, punya mata tidak?”

Drama ini sukses membuat Hye Kyo tertawa lepas, yap entah sebuah kesengajaan atau tidak, tetapi setiap mereka berdua bersamanya, seakan ada opera yang dipertontonkan untuk dapat menghibur Hye Kyo.

“Sudah sana fokuskan mata besarmu itu pada kemudi dan jalanan, aku khawatir kalau kau tidak konsen bisa-bisa kau menabrak angin,” namja yang kali ini mengenakan pakaian berwarna cokelat muda itu hanya bisa menghela nafasnya, menghadapi yeoja berusia delapan belas tahun terkadang menyusahkan, pikirnya.

“Aku janji aku akan menghajar anak ini untukmu selepas menonton Music Bank Oppa, dia akan kuberi pelajaran,” ujar Hye Kyo sembari memandang adiknya dengan pandangan sok mengerikan.

Hyo Kun hanya mendengus dan balas menatap dengan tatapan ‘kau menyebalkan’.

Seusai memasang kembali seat belt-nya Jun terkekeh kemudian menggeser persnelingnya dan melajukan mobil itu. “Kaja GO.”

“Oh iya Oppa, apakah artis SME nanti banyak yang tampil?” tanya Hye Kyo yang teringat sesuatu.

“Artis SME kan banyak yang sedang tur dunia, jadi kemungkinannya sedikit,” sahut Jun tanpa mengalihkan pandangannya ke belakang, karena ada Hyo Kun juga yang selalu siap mengerjainya kalau dirinya lengah.

Hye Kyo menganggukkan kepalanya pelan, ia pegang dadanya sembari memejamkan mata.

‘Semoga SHINee tampil di tempat lain yang tak sedang kutuju, kan mereka sangat terkenal, pasti mereka lebih puas tampil di konser yang super megah,” harapnya dalam hati.

***

Ruangan indoor berukuran raksasa itu dijejali oleh ratusan orang yang seluruhnya pengagum boyband dan girlband, tak terhitung pula banner-banner unik yang berkilauan terangkat tinggi ke hadapan pangggung. Hye Kyo menikmatinya, meski ia tak menempati kursi VIP atau semacamnya, yang penting ia bisa melihat dengan jelas dekor panggung yang pasti semakin mengilaukan penampilan para superstar. Riuhan yang membuat dadanya gempar sejenak seakan melambungkannya ke negeri antah-berantah, ia mulai menyukainya. Ingin ia larut dalam suasana ini, melupakan segalanya, terkebiri oleh euphoria yang kali pertama dirasakannya, tetapi karena sepasang kekasih berbeda usia yang tak bisa berhenti mengoceh di sebelahnya, ia pun tak bisa menikmati kegaduhan yang menyenangkan ini dengan baik.

“Hei bodoh, kau masih merasa sebagai Kim Jun bukan? Cepat pakai kacamatamu pak Tua dan tetap duduk di antara kami tanpa menoleh ke manapun , aku tak mau ada fan meeting dadakan di sini.”

“Biarkan saja, aku yakin tak ada yang mengenaliku di sini kok, sudah diam saja bocah.”

“Berhenti memangggilku bocah Pak Tua!!”

“Berhenti memanggilku uhm maksudku meneriakiku Pak Tua, dasar mesin teriak otomatis!”

Hye Kyo menggelengkan kepalanya sebal sembari memegangi keningnya. “Hei hei bisakah kalian diam? Daritadi aku hanya bisa mendengarkan kalian bertengkar. Bocahlah, Pak Tualah, kita ke sini untuk hiburan kan? Kalau mau bertengkar jangan di sini, di area pemakaman saja, kan enak sepi, tidak ada satupun yang menyela kalian.”

Dua orang itu hanya bisa memicingkan iris karamelnya ke arah Hye Kyo tanpa bicara lagi sepatah pun.

“Nah begini kan enak,” Hye Kyo mengganti posisi duduknya supaya nyaman memandang panggung yang memanjakan matanya dengan hiasan dominan berwarna ungu muda, terkesan jarang memang, tetapi Hye Kyo menyukainya.

“Hye Kyo-ya, kau ingin berada di sana, begitu?” tanya namja yang memperhatikan ketertarikan Hye Kyo pada tatanan panggung tersebut.

Yeoja yang tak pernah memakai high-heel itu membalasnya dengan senyuman. “Memangnya boleh Oppa? Hyo-ya saja tak pernah kau ajak ke sana.”

“Apa katamu? Kau menyebut namaku? Ish, kalian mau mengejekku ya?” timpal suara yeoja yang kekanakan.

“Ugh, untuk apa kami mengejekmu? Tak ada gunanya, sudahlah diam saja, kau kira mesin teriak di sini hanya kau seorang?” ujar Jun seperti memancing amarah Hyo Kun.

“Bla bla bla bla bla….” akhirnya keduanya tak terhindarkan oleh umbaran yang menurut Hye kyo hanya debat pepesan kosong.

“Yah mulai lagi deh,” Hye Kyo melorotkan bahunya, sebuah drama selalu saja terpampang di wajahnya ketika dua orang yang kadang keras kepala itu bersama, ia pun menutup kedua telinganya rapat-rapat dan memejamkan matanya untuk tenang sebentar.

“Kau benar-benar ingin berada di atas performance stage itu kan? Aku bisa membantumu,” Hye Kyo mampu mendengar samar ucapan Jun setelah namja itu mencolek bahunya.

Mwo?” ia meminta pengulangan karena ruangan semakin mengoar tapi Jun tak mengindahkannya.

Annyeong Hye Kyo-ya, ayo ke panggung, semuanya sudah menunggumu,” sapa Tae Min yang kini sudah berada di sebelah kirinya.

“T-Tae Min-ah,” namja yang dipanggil Hye Kyo itu melengkungkan bibirnya, berharap yeoja itu tak gagap lagi.

Spontan Hye Kyo melemparkan ekor matanya ke arah panggung, benar, ada Onew, Jong Hyun, Key dan tentu saja namja chingu-nya Min Ho yang sedang berbicara dengan host. Serasa ada yang menekan kuat-kuat dadanya sesaat usai melihat Min Ho, terlintas di benaknya ia ingin lekas kabur dari sini.

“Jun Oppa! Kau bilang artis SME sedikit yang tampil di sini!” cecar Hye Kyo yang membalikkan wajahnya ke arah Jun dengan mimik marah.

“Kau kan hanya tanya apakah artis SME banyak yang tampil bukan siapa saja artis SME yang akan tampil, jadi ya aku Cuma menjawab pertanyaan yang kau ajukan,” jawab Jun sekenanya.

Entah bisikan dari mana, tetapi rasanya Hye Kyo ingin menendang keluar namja itu dari rumahnya jika hendak mengajak Hyo Kun kencan.

“Hei Eonni, di rumah tadi kan kau pegang tiketnya, di tiket itu kan sudah terpampang jelas nama bintang tamunya termasuk SHINee. Sekarang kutanya kau, punya mata tidak?”

Darah Hye Kyo seketika mendidih, lantas ia tuding kedua orang itu dengan tatapan mengerikan. “Kalian…”

Ppali Hye Kyo-ya, kami mempersiapkan ini semua hanya untukmu,” segera Tae Min menggamit tangannya dan dibawanya yeoja itu ke atas panggung, perlahan intro lagu ‘Beautiful’ mengalun lembut kala memasuki gendang telinganya.

Nal nochi anneun nunbichi isseo…

Tae Min mulai menyanyikan lagu tersebut ketika hendak mencapai panggung, Hye Kyo semakin gelisah, ia hanya mampu menutupi wajahnya dengan rambutnya yang tergerai.

Nunmuri saljjak maechyeo areumdaweo your eyes…

Perlahan Hye Kyo menapaki performance stage itu tanpa sadar, kalau saja Jong Hyun tak bernyanyi dan mengerling ke arahnya pasti dia sudah terlamun.

Geu du nun sokaen seulpeumdo isseo

Geugae mweonji da algo shipeo

Tak hanya Jong Hyun, Key juga ikut-ikutan mengerling padanya, bahkan sekarang tangannya direbut oleh namja berambut blonde itu, menuntunnya pada sebuah kursi di samping Onew.

Neo ae modeun geol gamssa aneulgae

Ipsuri dahtneun e sungan

Yeoja yang seperempat tak percaya kalau sekarang berada di atas stage bermandikan warna kesehariannya itu masih sempat berpikir ketika mata sipit Onew yang centil itu mengerling membarengi sentakan di pundaknya agar dirinya mau duduk, membuat para MVP klepek-klepek melihatnya –iri lebih tepatnya-.

‘Mereka sudah lama merencanakan ini, semua tersusun dengan baik, bahkan tiga orang itu kompak mengerling padaku, ugh siapa sebenarnya yang mencetuskan ide gila ini?’ rutuk Hye Kyo dalam hati.

            “Neo ae modeun geol you’re my girl.”

Sebuah suara bass menginterupsi pendengarannya, Hye Kyo sendiri terpaku mendapati Min Ho merengkuhnya sembari bernyanyi, ia tahu ia gemetar dan tak berani menengok ke belakang.

“Tatap aku Chagi-ya, tatap aku,” bisik Min Ho usai menjauhkan microfon-nya tepat di telinga kanannya sebelum betul-betul berpindah posisi untuk menatap Hye Kyo dengan mata bulatnya yang terisi penuh oleh kecintaan yang berbaur kerinduan.                

           

Nae mahm gajang jarikkaji

(All the way to the edge of my heart)

Haengbokae mulgyeori kkeuteopshi angyeo

(The waves of happiness embrace me endlessly)

Geudae miso maju hamyeon

(When I get to see your smile)

Han eopshi gamgyeokhae nollaoon chukbokhae

(I’m endlessly touched and celebrate in shock)

Jonjaemahneuroneun boyeojugin bujokhae

(My existence isn’t enough to show you)

Dalkomhan yeolmahng sujubeun sumgyeol

(Sweet desire, innocent breathing)

Seororeul hyanghadeon misehan oomjigimaedo

(Even our tiny gestures toward each other)

Neon areumdaweo

(You’re beautiful)                 

 

“KYAAAAAAAAAA!!!!!!!!” terdengar amat jelas teriakan para penonton saat Min Ho menyelesaikan rap-nya dan bersimpuh pada Hye Kyo, menunjukkan sulap kecil dengan mengubah secarik saputangan yang ditarik dari dalam saku jasnya menjadi sekuntum mawar ungu, yang di dalam mahkota bunganya terselip benda kecil berkilau berbentuk bundar yang spontan membuat mata Hye Kyo berkaca-kaca.

Entah prosedur atau bukan, keempat namja lainnya menyenandungkan reff lagu secara kompak dan indah, seakan menanggapi penonton yang terpukau dengan acara tak terduga yang sudah tergelar di panggung. Juga memberikan kesempatan bagi sepasang kekasih itu untuk berbincang.

Op-oppa, k-kau serius? B-bukankah kau sudah membenciku karena kejadian tempo itu?” tanya Hye Kyo bergetar, manik matanya kaku, terkunci pada cincin di mawar itu.

“Kau tuli atau bagaimana? Kau sudah lupa ketika aku bernyanyi seraya memelukmu dan mengatakan bahwa kaulah segalanya?” tanya Min Ho bermaksud menggoda.

“B-bukan begitu, r-rasanya mustahil saja aku ada di sini, aku yakin ini pasti mimpi, aku yakin, aku harus bangun sekarang, aku ha-“

Min Ho meletakkan telunjuknya pada bibir Hye Kyo. “Sst.. tenanglah Chagi-ya, tenang, semua yang ada di sini nyata, bukan sekedar fatamorgana semata.”

Yeoja yang terduduk lemas di kursi itu hanya menurut serta menunggu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku tahu aku kekanakan, aku tahu aku keterlaluan, aku tahu, aku tahu, dan aku tahu kalau aku melakukan segalanya yang kau benci Chagi-ya, aku minta maaf, aku menyesali perbuatanku. Akupun hanya bisa menyadarinya dengan tangisan dan tanpa berkata apa-apa. Maukah kau menerimaku dan memulai lagi cerita cinta kita? Melupakan kesalahanku, keegoisanku, dan ketidakdewasaanku yang telah lalu pula?”

Hye Kyo tersenyum tipis, sebenarnya kagum, namja itu mampu berbicara amat panjang layaknya pidato di tengah perasaan tak mengenakkan yang menyesaki hati nuraninya.

“Hmm, geurae Chagi-ya, tapi aku punya tiga syarat yang harus kau penuhi.”

“Apa itu Chagi?” tanya Min Ho antusias, Hye Kyo ingin tertawa melihat wajah namja chingu-nya yang sangat innocent.

“Pertama, maafkan aku atas tingkah gilaku kemarin, pasti logikaku sedang berada di rimba belantara kala itu. Dan kau benar, akulah angin yang menyebabkan masalah kecil itu membesar, mianhae Chagi-ya.”

Sekali anggukan saja yang muncul, setelah itu Min Ho menatap lamat-lamat wajah yeoja-nya. “Dan syarat kedua?”

“Err satu pertanyaan. Kau benar-benar mencintaiku tidak?”

“Tentu, sangat mencintaimu, terlalu malah.”

“Kalau begitu lakukan yang kubutuhkan.”

“Kau lihat, aku berusaha melakukan apa yang kau butuhkan, aku telah memikirkannya dan selama ini aku tahu apa ‘itu’ Chagi-ya.”

Jinjja? Kau tahu kalau aku membutuhkanmu sebagai Choi Min Ho ketika kali pertama aku mengenalmu?”

Min Ho mengerutkan keningnya. “Chagi-ya, itu namanya keinginan. Kau ini kan calon psikologi, masa’ tidak bisa sih membedakan antara keinginan dan kebutuhan? Dengarkan, yang kau butuhkan hanya Choi Min Ho yang baru, yang akan terus mengintropeksi dan membenahi dirinya, takkan ada lagi Choi Min Ho yang menyebalkan atau yang awam seperti dulu, kau suka?”

Hye Kyo hanya manggut-manggut, kini justru dialah yang bersikap seperti anak TK, menurut dengan mudah.

“Lalu syarat ketiga?”

Kerlingan centil ala Onewlah yang ditangkap mata bulat Min Ho, ia garuki sebentar tengkuknya yang tak gatal. “Kau yakin? Kau bisa diburu Shawol terutama Flames kalau aku benar-benar melakukan ini.”

Aniya, aku yakin mereka akan mendukung kehidupan pribadi Flaming Charisma-nya, itu kan baru fans yang baik.”

Namja itu hanya terkekeh sebentar lalu meletakkan microfon-nya sembarang dan beranjak bangun serta menyergap tubuh mungil Hye Kyo penuh kasih. “Saranghae Hye Kyo-ya.”

Chup~

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” teriakan penonton lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya, tetapi dua sejoli yang sedang diracuni cinta itu tak peduli, mereka masih saling berbagi kehangatan lewat ciuman manis yang menandakan bahwa rencana yang sudah dirangkai dengan teliti telah mencapai tujuannya.

***

Tiga hari sebelum performance….

Min Ho menyeret paksa kakinya yang terasa amat berat, matanya menelisik setiap sudut rumah yang sangat familiar baginya. Ini rumah Hye Kyo, yeoja chingu-nya yang kini sudah terbujur tak berdaya di liang lahat yang tak pernah disaksikannya, yang bisa ia tatap hanya potret kekasihnya saja, tersenyum kaku dan beku, ia bisa melihat detilnya meski berjarak sekitar tiga meter dari tempatnya berpijak sekarang. Dadanya sesak, perih dan berdenyut. Begitu kalut perasaannya sekarang hingga ‘campur aduk’ itulah yang mampu dirasakannya. Tak sadar beberapa bulir membasahi pipinya, ia menangis tanpa suara, bukan, suaranyalah yang tertahan oleh kenyataan meski ia tahu kalimat itu tergantung di ujung lidahnya, siap terlontar kapan saja, tapi dia juga tak memungkiri, kalau tiada setitik pun kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan itu.

Eonni, Eonni, Hye Kyo Eonni, jangan tinggalkan Hyo, Hyo tak mau sendirian di rumah, Hyo akan kesepian tanpamu Eonni,” ujar seorang yeoja berpakaian serba hitam yang menangis tersedu-sedu di hadapan altar bertaburan bunga-bunga, tetapi konotasi bunga tersebut sudah lain di tempat ini, bunga duka, yang kalau ditelusuri lebih dalam juga ikut berbela sungkawa melalui mahkota bunganya yang menampilkan warna pucat, khas kesedihan.

“Jangan mengatakan itu Hyo-ya, lepaskan dia, ikhlaskan dia, dia akan lebih bahagia di alam sana, semua manusia pasti akan mengalaminya, jangan sesali kepergiannya Hyo-ya,” pelukan penghibur datang dari seorang namja yang lebih tua beberapa tahun darinya. Yeoja yang memanggil dan dipanggil dengan sebutan Hyo itu terus menangis di dalam dekapan namja tersebut.

Tak sengaja mata sembab yeoja itu menangkap sosok Min Ho, langsung ia lepaskan namja-nya dan beralih menuju Min Ho seraya menudingnya dengan nada suara ditinggikan. “Kau pengecut! Kau tak bertanggung jawab! Kau bisa lihat kan? Kau merenggut semuanya dariku, kau membuat kakak yang paling kusayangi di dunia ini bunuh diri hanya karena ditingalkan olehmu, kau telah menghancurkan hidupku Choi Min Ho! Kau juga harus mati!!”

Min Ho mundur dua langkah, untungnya dia tak sempat menghantam lemari karena namja yang dikenal sebagai seniornya segera menahan yeoja itu menusukkan pisau yang didapat entah dari mana.

“Pergi Min Ho-ya, pergilah kalau kau masih sayang dengan nyawamu, sekarang!” kata namja itu seolah mengusir.

“Pembunuh… kau pembunuh… kau harus kubunuh…” desah Hyo yang tak berhenti menatap tajam Min Ho yang terpatung di tempatnya.

“A-aku minta maaf, a-aku minta m-maaf, ak-aku aku tak menyangka kalau ini akan t-terjadi, ak-aku minta maaf, aku m-menyesal, aku sangat menyesal,” Min Ho tergagap dalam tangisnya, hanya ini yang mampu diucapkannya, sedangkan perasaan lain yang tak dapat diungkapkan telah mengendalikan otaknya.

~@~

“A-aku minta maaf, a-aku minta m-maaf, ak-aku aku tak menyangka kalau ini akan t-terjadi, ak-aku minta maaf, aku m-menyesal, aku sangat menyesal,” Min Ho tergagap dalam tangisnya –spesifiknya mengigau dalam tangisnya-.

“Sudah kubilang kan Tae Min-ah, aku bisa melakukannya,” ceplos Onew di kamar Min Ho.

Yap, mereka sepakat memasuki kamar Min Ho saat namja itu sedang terlelap, mengendap-endap tentunya. Setelah yakin Min Ho takkan terbangun oleh gerak-gerik leader dan magnae itu, Onew keluarkan sebuah buku saku dan mulai membacanya guna melancarkan aksinya. Mereka berdua menghipnotis -lebih tepatnya menyugesti- Min Ho untuk membayangkan kalau yeoja chingu-nya meninggal hanya karena ulah bodohnya dan dibenci oleh orang-orang terdekat Hye Kyo. Memang terkesan cara yang instan plus licik, tetapi kalau hanya ini cara satu-satunya? Ya mau diapakan lagi.

“M-memang benar, tapi aku tidak tega padanya, lihatah wajah Min Ho Hyeong, kasihan sekali bukan?”

“Sudah tidak apa-apa uri baby Tae Min, dia akan baik-baik saja setelah ini, percayalah padaku.”

“Ya sudahlah kalau begitu,” kata Tae Min pasrah dan hendak melengos.

“Hei enak saja langsung pergi, kau menjanjikan apa padaku kalau berhasil? Eum?”

Tae Min menghela nafas pendek. “Ya, aku tahu, ayam goreng kan?”

Good Boy,” puji Onew yang mengusap bahu magnae-nya, dilihatnya Tae Min agak cemberut.

Wae? Sepertinya tidak asyik ya kalau hanya makan saja, kita beli ayam dan banana milk shake saja sekalian, eottokke?”

“Yaaak! Kapshidaaaa Hyeong!” Tae Min menggeret tangan Onew dan segera berburu minuman favoritnya.

***

Kedua namja itu baru saja duduk di ruang makan setelah bepergian selama lima belas menit dan hampir saja melahap santapan mereka kalau saja tak ada teriakan Min Ho yang menghentikannya.

Hyeong! Onew Hyeong, tadi aku bermimpi buruk, kau harus menolongku Hyeong, kau harus!”

“Ssst, Min Ho-ya tenanglah, sekarang basuh wajahmu dulu ya, kau terlihat berantakan tahu,” nasehat Onew yang sebenarnya tak sabar ingin mengunyah daging ayam itu sepuasnya, tapi wajah Min Ho yang masih berlumuran air mata itu membuatnya kurang nyaman.

“Dengan air Hyeong?” tanya Min Ho lagi.

“Kau ingin membasuh wajahmu dengan banana milk shake milik Tae Min-ah?” tanya Onew yang membuat Tae Min hampir melemparinya dengan sedotan.

Geurae. Aku segera kembali Hyeong dan kau harus membantuku nanti,” Min Ho bergegas dengan riak muka masih ketakutan sedangkan dua orang lainnya tertawa puas.

Daebak Hyeong daebak, Min Ho Hyeong akhirnya sadar,” puji Tae Min di sela seruputan banana milk-nya.

“Nah makanya kau tidak boleh meremehkanku lagi. Oh iya, sekarang siapa yang akan membantu rencana kita siapa?”

“Hyo Kun-ah, dongsaeng-nya Hye Kyo-ya err..dan namja-nya Hyeong, mungkin mereka mau.”

Namja? Yeoja berusia 18 tahun sudah punya namja?”

“Iya, Min Ho Hyeong sudah pernah memberitahuku, tahu tidak namja-nya itu siapa? Kim Jun, si Song Woo Bin itu Hyeong.”

“Wah hebat ya. Emm, dia pintar, dia memilih namja yang benar, untung dia tidak memilihmu.”

“Eh? Mengapa begitu?” Tae Min langung berhenti menyesap minumannya.

“Karena kau sering membohongi Hyeong-deul-mu uri baby Tae Min,” Onew mengacak-acak rambut Tae Min yang semula masih rapi.

“Aish, sudah ah jangan diungkit lagi, kalau kau masih mengataiku begitu aku akan mencuri ayam gorengmu,” protesnya yang membetulkan lagi tatanan rambutnya.

Jitakan Onew pun hampir terlaksana tapi terpaksa di-delay karena Min Ho buru-buru datang ke arah mereka, yah memang cukup mengganggu tetapi sebenarnya keduanya ingin berjingkrak senang.

This is show time,” Onew mengerling ke arah Tae Min dan responnya pun serupa, mengartikan jika prediksi mereka telah berjalan mulus.

***

Fin

With Love,

Wahyu Yoshinoyuki ^_^

I’m waiting for your comeback on June 28th HoneyJun🙂

                                   

Gimana nih first ff SHINee saya? Kayaknya masih ecek-ecek yakkk? Saya tunggu yak kritik dan sarannya di bawah ini kalau banyak yang kurang cocok atau apa, yaa namanya juga baru nyoba sekali, maklum kalo masih jauh dari sempurna

Jeongmal kamsahamnida buat yang segan baca ff ini, mau komen ataupun mengkritik ff ini, saya yakin masih banyak terdapat kekurangan yang njedul (?) banget, makasih🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “I Need That One Thing [2.2]

  1. Happy ending /yeyey/😀

    Ckck, OnTae selalu dengan ayam goreng dan banana milknya. Wkwk
    Iri juga ama Hyekyo. Dikerlingin ama member SHINee T_T #plak

    Ceritanya bagus, aku suka…
    Btw waktu Minho mimpi itu kukira betulan, terus aku bingung wkwk #plak

    keren!🙂

  2. yeyeye, saya emang suka happy ending chingu, makanya dibikin begini😀
    oh iya doong, itu kan maskot (?) leader dan magnae Shinee xD
    oh anda iri? saya juga iri sih sebenernya, sama leader sangtae yang unyu-unyu gitu pula
    *plakk
    *ditabok jun
    iyaa, gomapta udah mau baca, komen dan muji saya
    ohh nggak dong ya, saya nggak tega bunuh hye kyo, ntar saya bisa dilabrak beneran sama leader saya yg jd OC.a hye kyo itu chingu
    ne, gomapta😀

  3. Daebaaaaaak..
    Oh iya author..emng beneran bisa ya menyugesti kyak gitu???? Kalo iya caranya gimaana????*miaan aku mah sering mengghyal, jadi susah..nih ff beneran asli ceritanya..atau asli fiksi hehehe
    Daebak author:)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s