Finally, We Opened Up Our Minds – Part 1

Title                : Finally, We Opened Up Our Minds – Chapter 1

Author            : Riuunachan

Length            : Ongoing

Main Casts    : Han Hae Mi (OC), Choi Minho

Other Casts    : Shin Minah (OC), other casts will be appear in the next chapter

Genre             : Romance

Rate                : PG-13

Summary      :

Saat itu, aku melihatmu. Aku tahu bahwa tak ada yang mampu memalingkan pandangannya darimu. Senyummu, tatapanmu, semua tentangmu mampu membuatku terus lekat menatapmu.

Sayangnya, saat itu aku menyebut perasaan itu sebagai benciku padamu. Aku tak ingin lagi melihatmu. Aku tak mau lagi ingat hal tentangmu. Aku tak mau lagi tahu bahwa aku pernah mengenalmu.

Saat itu, saat kita sama-sama tak mengerti tentang sesuatu yang sering mereka sebut ‘cinta’. Sayang sekali kita terlalu lama memejamkan mata, hingga saat kita membukanya lagi, dunia sudah berbeda. Kau dan aku, akankah menjadi ‘kita’?

Disclamer     :

This story, plot, and casts is mine!! Minho is mine! Well, don’t plagiat this story, ara?

A/N                 : Joneun, Riuunachan imnida! Ini ff pertama yang aku post. Karena aku suka banget sama sesuatu berbau Romance, di ffku kali ini aku tetap mengusung genre ini. Karena aku baru belajar nulis, jadi maaf banget kalau masih ada kesalahan di sana-sini, termasuk ejaan dan typo-typo yang bertebaran. Oh iya, termasuk chapter pertama yang tergolong pendek ini dan mungkin konflik yang masih tumpul. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Jadi, tolong banget ya. Terima kasih. Semoga kalian suka!❤

FF ini juga dipublish di :

A Piece Of Paper by riuunachan(dot)wordpress(dot)com

Poster_Finally We Opened Up Our Minds

 

*******************

Author POV

Mentari pagi bersinar dengan kemilaunya, berupaya menghantarkan kehangatan pada setiap warga kota yang kini terlihat berlalu-lalang di sepanjang trotoar kota Seoul. Beberapa orang terlihat berkerumun di halte-halte bus yang berdiri di atas trotoar. Hal itu pula yang kini dilakukan oleh seorang gadis ber-name tag Han Hae Mi. Tangan kirinya yang menggenggam iPod, ia masukkan ke dalam saku blazer miliknya. Sedangkan tangan kanannya sibuk membetulkan letak headset di telinga kanannya.

Tak berapa lama kemudian, bus yang ia tunggu datang. Seperti hari-hari biasanya, gadis itu memilih tempat duduk paling belakang. Ia rapatkan badannya mendekati jendela begitu ia duduk di kursi panjang bus itu. Bus pun melaju dengan kecepatan sedang menuju halte-halte berikutnya.

Bukan hal baru bagi Hae Mi jika bus yang akan mengantarkannya ke sekolah itu, berulang kali berhenti untuk mengangkut penumpang yang akan ikut serta dengannya. Di pemberhentian berikutnya, ada tiga orang yang masuk ke dalam bus itu. Hae Mi yang tengah asyik mendendangkan lagu milik BigBang—boyband Korea favoritnya—itu terbelalak mendapati seorang namja masuk ke dalam bus yang sama. Namja itu mengenakan jas almamater yang sama dengannya. Merasa ada yang memperhatikan, namja jangkung yang ditatap Hae Mi tadi juga tak kalah terkesiap melihat Hae Mi yang menatapnya kaget.

“Kau murid Seoul High School?” Tanya namja itu dengan senyum yang mulai melunak.

Hae Mi mengangguk salah tingkah. Diliriknya name tag namja yang duduk di sampingnya ini. Choi Minho, ucap Hae Mi dalam hati. Ia mengernyit. Sepertinya, ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Kenalkan, aku Choi Minho. Murid baru dari Incheon,” sapa Minho ramah seraya mengulurkan tangannya ke arah Hae Mi.

“Oh, ne. Hae Mi, Han Hae Mi imnida. Bangapseumnida,” ucap Hae Mi riang menyambut uluran tangan Minho.

Bus itu pun melaju membawa keduanya menuju tempat mereka menimba ilmu. Deruan mesinnya membelah kendaraan-kendaraan lain dan menyusuri jalanan. Mengantar mereka menuju tujuan mereka.

*******************

 “Kyaaaaa~!!!!! Hae Mi~ah!! Bukankah namja bernama Choi Minho itu tampan sekali?! Kau sudah lihat?” Tanya Minah berseru takjub.

Hae Mi hanya mengangguk-angguk. Bukan lantaran ia menyetujui perkataan sahabatnya ini. Itu karena ia sibuk mendengarkan lagu BigBang yang mungkin sudah ratusan kali ia dengarkan.

“Menurutmu apakah ia sudah punya yeojachingu?” Tanya Minah lagi.

Sama seperti tadi, Hae Mi hanya mengangguk-angguk mengikuti beat lagu Fantastic Baby milik BigBang. Minah yang mulai curiga, memperhatikan Hae Mi dengan seksama.

“Yaaaaa!! Kau tak mendengarkanku!” Protes Minah sambil mencabut headset putih milik Hae Mi.

“Yaaaa!! Sakit, tahu?! Mworago?!” Hae Mi juga ikut protes.

“Argh! Mollayo!”

Sesaat kemudian, namja yang baru dikenalnya di bus kota tadi berjalan melintasi mejanya dan Minah. Namja itu berjalan ke arah tempat penjual mie ramen di kantin mereka berada. Sadar ada pasang mata yang mengintai, namja itu menoleh, melemparkan senyum yang….terlihat canggung. Cepat-cepat Hae Mi mengalihkan perhatiannya dari namja itu. Ia beranjak dengan terburu-buru tanpa menghabiskan minumannya.

“Yaaa! Kau ini kenapa? Itu tadi namja yang bernama Minho. Bagaimana? Ia tampan, bukan?” Seru Minah tanpa menyadari raut wajah Hae Mi yang berubah.

“Aku tak peduli,” jawab Hae Mi singkat lantas meninggalkan Minah yang masih ternganga.

“Yaa! Neo Micheosseo! Ya, Han Hae Mi! Aish, jinjja!!”

*******************

Han Hae Mi POV

Minah, sahabatku ini terus saja mengoceh panjang lebar kali tinggi sama dengan luas. Aku tak begitu mendengarkannya, lagu Fantastic Baby milik BigBang ini lebih mengasyikkan untuk  di dengarkan.

“Yaaaaa!! Kau tak mendengarkanku!” Protes Minah sambil mencabut headset putih milikku.

Aish, anak ini benar-benar gila. Apa ia bosan hidup? Bagaimana bisa ia mencabut headset dari telingaku? Bagaimana bisa ia memutus lagu Fantastic Baby milik oppa-oppaku yang tampan itu?

“Yaaaa!! Sakit, tahu?! Mworago?!” Teriakku padanya. Aku berani bertaruh kalau daun telingaku sudah memerah sekarang.

Masih sibuk menggerutu dan menuntut pertanggung jawaban dari Minah, aku menangkap siluet itu melaluiekor mataku. Namja yang baru kukenal tadi pagi itu kini melangkah melewati bangkuku menuju penjual mie ramen kantin sekolah kami. Tiba-tiba ia menoleh, balas menatapku yang tertangkap basah menatapnya. Pandangan kami bertemu, ia tersenyum canggung. Aku diam, tak membalas senyumannya. Kualihkan pandanganku ke arah lain. Minah ada benarnya, ia tampan. Sangat tampan.

“Yaaa! Kau ini kenapa? Itu tadi namja yang bernama Minho. Bagaimana? Ia tampan, bukan?” Seru Minah sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kakiku.

Aku diam sejenak. Sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk berkata bahwa ia tak tampan. Sungguh, aku yakin bahwa semua orang akan sependapat dengan Minah.

“Aku tak peduli,” jawabku singkat. Kupacu langkahku meninggalkan Minah. Aku sedang tak ingin membahas namja bernama Choi Minho itu. Entah mengapa, aku tak tahu. Jauh di dalam sana, aku tahu bahwa ada perasaan ingin menatapnya lagi. Ah, mungkin hanya emosi sesaat. Percayalah, Hae Mi!

“Yaa! Neo Micheosseo! Ya, Han Hae Mi! Aish, jinjja!!” Kudengar raung suara Minah dari belakangku. Aku tak peduli. Berada dekat dengannya mampu membuat telingaku tuli. Tapi aku berbohong. Karena sudah sejak kelas dua kami bersama, dan yeoja gila itu yang mau tak mau harus kuakui sebagai sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkannya.

*******************

“Siaaaaallll!!!” Gerutuku sembari mengembalikan barang-barang yang kukeluarkan ke dalam tas kembali. Aku menginjak lantai kelas dengan kesal. Minah sudah pulang beberapa menit yang lalu.

“Ohueeeheehee….Minah, aku tak bisa pulang. Aku menyesal menolak tawaranmu tadi! Huaaaa!”

Beberapa menit yang lalu, tepat saat bel pulang sekolah berdering, butiran-butiran hujan mulai membasahi Seoul. Bau tanah basah selalu bisa menenangkan hati ini. Tapi situasi itu berbeda saat kau terjebak di tempat yang bahkan tak punya tempat untuk merebahkan diri. Beberapa menit yang lalu pula, Minah menawariku untuk pulang bersamanya. Berbeda denganku yang naik bus pualng-pergi, Minah selalu diantar dan dijemput oleh sopir pribadi keluarganya. Masalah muncul saat aku mengacak-acak tasku dan tak menemukan payung biru yang biasanya kubawa kemana saja. Sungguh, aku menyesal telah menolak tawaran Minah tadi.

Akhirnya dengan gontai, aku menyusuri koridor sekolah. Aku mencari bangku panjang yang tak jauh dari arah gerbang masuk. Kubuka iPod-ku dan memainkan playlist yang telah kususun disana. Begini lebih baik.

Author POV

Sepertinya hujan sore ini tak berlangsung sebentar. Beberapa murid yang masih terjebak di area sekolah, terlihat menyibukkan diri dengan mengobrol dengan sesama, menikmati teh hangat di kantin, untuk yang rajin, mereka akan memilih menyicil pekerjaan rumah mereka di perpustakaan. Berbeda pula dengan yang dilakukan gadis yang kini duduk dengan nyamannya di sebuah bangku panjang. Ia memilih untuk bersenda dengan iPod miliknya.

Tanpa gadis itu sadari, ada sepasang mata yang tengah menatapnya ragu. Berulang kali pasang mata itu menatap kemudian mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Hingga sepasang mata itu menuntun sepasang kakinya untuk melangkah mendekati yeoja itu.

“Mwo?” Tanya yeoja itu dengan tatapan kagetnya. Sudah dua kali sepasang mata itu menangkap gerak kaget dari yeoja itu.

“Cuaca hari ini sangat dingin,” jawab seseorang yang ternyata seorang namja.

“Eoh? Gomawo,” ucap yeoja itu menyambut susu coklat hangat yang diulurkan namja itu padanya.

“Aku masih belum mengenal banyak orang disini,” jelas namja itu seolah mengerti pertanyaan apa yang terlintas di pikiran yeoja itu.

“Oh…ne aku mengerti. Pelan-pelan saja,” timpal yeoja bernama Han He Mi itu seraya memamerkan deretan giginya yang rapi.

Choi Minho POV

Aku melihatnya lagi. Ia sedang duduk dengan headset yang terpasang di telinganya. Ah, tak salah bukan jika aku mengajaknya ngobrol sebentar? Toh, aku tak mengenal banyak orang disini, baru beberapa saja. Baiklah. Kupaksakan kakiku melangkah mendekati tempat duduknya. Hingga saat aku sampai di dekatnya, kuulurkan segelas susu coklat hangat padanya.

““Mwo?” Tanya yeoja itu dengan tatapan kagetnya. Sudah dua kali aku melihat ekspresinya yang demikian. Lucu sekali.

Kedua matanya terbelalak, dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Kulit yeoja ini putih bersih bagaikan bengkoang yang telah dikupas dan dicuci bersih. Bulu matanya tebal dan lentik bak kipas berbulu yang indah dan lembut. Kedua pipinya yang tak lepas dari rona merahnya, sampai lesung pipi di pipi kirinya yang selalu ada saat urat pipinya tertarik.

“Cuaca hari ini sangat dingin,” ucapku.

“Eoh? Gomawo,” ucap yeoja itu menyambut susu coklat hangat yang kuulurkan padanya.

“Aku masih belum mengenal banyak orang disini,” jelasku. Mungkin saja kan ia terganggu dengan kehadiranku?

“Oh…ne aku mengerti. Pelan-pelan saja,” timpal yeoja bernama Han He Mi itu seraya memamerkan deretan giginya yang rapi. Aku menyambut senyuman itu. Menenangkan.

“Mana temanmu yang tadi bersamamu di kantin? Sepertinya kalian dekat sekali,” tanyaku padanya.

“Oh, Minah maksudmu? Ia sudah pulang duluan. Aku menolaknya saat ia menawariku pulang bersama. Kukira aku membawa payung, ternyata tidak,” jawab Hae Mi menjelaskan. Raut wajahnya berubah cemberut. Aigoo, yeoja ini imut sekali.

“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku? Oh, aku masih harus mengurus beberapa surat penting yang belum kuurus di sekolah ini. Tapi sekarang sudah selesai,” jawabku.

Beberapa menit berlalu kami habiskan bersama. Ia menjelaskan bagaimana sekolah ini, sedang aku mendengarkannya dengan seksama. Aku juga sedikit bercerita tentang sekolah lamaku. Yah, begitulah yang kami lakukan sampai hujan tak lagi deras seperti sebelumnya. Hingga aku menyadari sesuatu terjadi di dalam sana. Jauh. Jauh di dalam sana.

Author POV

“Kyaaaa!!! Kau gila, Hae Mi!” Teriak Minah dengan lantangnya. Ingin rasanya bagi Hae Mi membekap mulut temannya ini. Tetapi selama hak asasi manusia di negeri ini masih diperjuangkan, haram baginya melakukan itu.

“Minahku yang cantik,” Hae Mi berkedip-kedip manja menatap Minah. “Bisakah kau turunkan volume suaramu sedikit? Aku tidak tuli!!” Teriak Hae Mi pada kalimat terakhirnya.

“Kau juga berteriak, Mi~ya.”

“Aku menirukanmu,” jelas Hae Mi frustasi.

“Jadi, sudah sedekat itu kah kalian berdua? Kau ini diam-diam menyebalkan!” Protes Minah tak menuntut penjelasan.

“Astaga, Minah! Itu karena jurusan bus kami sama, dan lagi ia belum mengenal banyak teman di sekolah kita! Kau puas?” Seru Hae Mi dengan suara tertahan.

“Apa kau belum merasakan sesuatu yang aneh?” Tanya Minah yang disambut dengan kerutan di dahi Hae Mi.

Hae Mi mengernyit tak mengerti. Kata-kata atau kalimat-kalimat yang dikeluarkan Minah selalu saja berbelit dan tak mudah ia mengerti maksudnya. Minah terlalu banyak menonton drama, pikir Hae Mi. Ucapan-ucapan Minah bagai sandi-sandi yang tak pernah ada. Jadi, hanya Minah saja yang memang tahu apa artinya.

“Bukankah ia memang tampan, Mi~ya?” Tanya Minah menggoda Hae Mi.

Hae Mi diam. Ia mencoba menelisik detail wajah namja itu. Kau benar, Minah. Ia sangat tampan, pikir Hae Mi dalam hati. Padahal mereka—Hae Mi dan Minho baru saja mengenal—tetapi Hae Mi sudah merasa tidak suka dekat dengannya. Ia benci tatapan mata namja itu yang membuat orang yang menatapnya tak bisa berpaling. Ia benci senyum manis namja itu yang merajuk ingin dibalas. Ia benci badan kokoh namja itu yang terlihat mumpuni itu. He Mi benci badan tinggi namja itu yang terlihat mampu melindungi siapa saja yang ada di dekatnya. Singkat kata, ia benci padanya. Namja itu. Choi Minho.

“Kau benar. Ia tampan,” ucap Hae Mi lirih.

“Ahahaaahaaa….Kau kena Hae Mi~ya! Kau…,”

“Aku benci padanya,” potong Hae Mi.

Minah mengernyit. Jika bagi Hae Mi, ucapan Minah bagaikan sandi yang tak pernah tercipta, maka bagi Minah, terkadang ucapan Hae Mi bagaikan bahasa luar angkasa. Bahasa yang digunakan Hae Mi, mampu membuatnya bertanya berulang-ulang untuk mengetahui apa maksudnya. Sayangnya Hae Mi selalu membiarkan tanda tanya itu mengudara.

“Apa alasanmu membencinya? Kau bercanda? Dari sisi mana kau bisa berkata bahwa kau membencinya?” Minah mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang bahkan Hae Mi pun tak tahu apa jawabannya.

“Yaaa! Han Hae Mi jawab aku!”

“Itu…karena….aku……,”

TBC

Duh. Duh. Duh. Ancur banget ya? Sekali lagi, kritik dan saran sangat dibutuhkan. Mohon kerjasamanya ya chingudeul. Love.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “Finally, We Opened Up Our Minds – Part 1

  1. its not bad. kritiknya. sebenernya dari sisi eyd udah bagus. bahasa udah bagus. apa lagi? cuma butuh latian aja kok. sama aku juga masih latian nulis. cuma klo kayak bahasa asing, misal. ‘gomawe’ ya harus bercetak miring.
    klo feel romance aku tuh rabun. riunachan suka romance aku malah kebalikannya. sejujurnya lagi pengen baca fluff. secara tidak senganja membaca summarinya menggairahkan saya jadi pengen baca.

  2. Aaaaa neomu joha~nice FF author~saya adalah penggemar berat romance dan cinta mati ama Choi Minho *eh .hahaa intinya aku suka FF ini~dari segi bahasanya yg baku terutama🙂 keep writing ya! Next part saya tunggu

  3. Menurut aku ini udah bagus kok. Gaya bahasanya kamu aja lebih bagus dari ff aku.
    Tapi mungkin masih perlu di asah terus, kan setiap manusia perlu belajar kan?
    Aku suka kok ff kamu, fighting terus yaa~ Aku tunggu lanjutannya

  4. Waaaah… Aku suka ceritanya..
    Klo aku jadi Hae Mi pst aku seneng bgt ketemu minho di bis trs kenalan, pulang bareng, ngobrol berduaan.. Aaaarrrgghh jd ngiri..
    Tp aku juga msh ga ngerti, kenapa Hae Mi bisa tiba-tiba kesel gitu sama minho, masa di sebel karna minho perfect hahaha.. Tapi berharap bgt nanti keduanya bisa saling suka..
    Ditunggu banget kelanjutan ceritanya.. Thanks author^^
    Keep writing and fighting^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s