The Destiny – Part 9

The Destiny [Part 9]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : Taemin melangkahkan kakinya menuju gerbang dengan langkah mantap, tetapi tiba-tiba kakinya berhenti bergerak ketika melihat seseorang tengah berpelukan dengan mesra di depan gerbang sekolah. Itu Rika, bersama dengan seorang namja yang tidak ia kenal kemudian pergi menggunakan sebuah mobil.

♛♛♛

“Mwo? Aku bahkan belum menyelesaikan kata-kataku. Kenapa kamu memotong kata-kataku?” protes Jinki.

“Itu takkan berhasil,” ujar Rika dalam tundukannya yang dalam.

“Tetapi Appa dan Amma ingin bertemu denganmu. Aku bercerita banyak tentangmu pada mereka, dan sepertinya mereka menyukaimu.”

Rika menatap wajah serius Jinki. “Tetapi, aku tak pernah serius menjalani hubungan ini, Oppa. Aku tak bisa.”

“Kamu takut bertemu mereka? Apa kamu belum siap? Aku tidak akan memaksamu.”

“Kamu tak mengerti apa yang aku katakan? Aku minta kita akhiri saja hubungan ini!”

“Apa aku menyakitimu? Apa aku berbuat salah?”

Rika menggelang lemas. “Semua kesalahan terletak padaku. Sebenarnya, Appa tak pernah tahu tentang hubungan ini. Aku menjalani ini diam-diam dan aku harus terus berbohong. Semua itu membuatku lelah dan merasa bersalah. Lagi pula, aku terlalu banyak membuat masalah di antara kalian. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Aku sudah mencoba bicara pada Appa tetapi ….”

“Sudah cukup, Rika! Arasseoyo. Aku akan mencoba meyakinkan appa-mu.”

“Itu akan percuma.”

“Setidaknya biarkan aku mencobanya. Tolong biarkan aku mempertahankanmu! Bisakah kamu percaya padaku?” pinta Jinki penuh harap.

“Aku tidak bisa. Aku lebih tahu bagaimana watak Appa. Dan aku jauh lebih lama mengenalnya dari pada dirimu. Dia sangat keras kepala. Aku benar-benar ragu. Mianhaeyo, Oppa.”

Setelah mengatakannya Rika mulai melangkah pergi tapi Jinki meraih tangan Rika dan menahannya. Kembali mata mereka bertemu. “Aku tidak bisa melepasmu,” lirih Jinki.

“Aku benar-benar minta maaf.” Rika melepaskan tangan Jinki dan berlalu.

Dalam langkahnya, Rika memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia masih mencoba menahan air matanya untuk tetap tidak keluar hingga menggenangi matanya yang mulai merah. Ia mencoba tabah, dan meyakinkan dirinya bahwa Jinki akan baik-baik saja.

Sedangkan Jinki, ia masih berdiri memandangi punggung yang semakin menjauh itu. Ia benar-benar sedih bahkan hingga air matanya menetes tanpa ia sadari. Ketika sosok gadis itu telah benar-benar menghilang, ia segera menyandarkan tubuhnya pada tembok. Tubuhnya terasa lemas dan dadanya terasa sesak. Dan tanpa mereka tahu, ternyata Jonghyun mendengar semuanya.

______

Rika terus berjalan menuju atap gedung yang sepi. Di sana ia membiarkan hembusan angin menerpa tubuhnya dan memberikan sedikit kesejukan . Ia dengan puas mengeluarkan air matanya tanpa takut ada yang melihat.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!” teriak Rika di tepi atap. Berusaha mengeluarkan semua amarahnya.

Seseorang berlari dengan cepat ke arahnya dan menariknya. Membuat Rika jatuh ke pelukannya tanpa diduga-duga. Namja itu menahan tubuh Rika yang hampir jatuh. Mata mereka bertatap dalam jarak yang teramat dekat. Saling merasakan hembusan napas masing-masing. Untuk sesaat keduanya terdiam seperti hilang kesadaran. Semua itu membuat jantung namja itu berdetak lebih cepat. Ia berdebar-debar.

“Tolong lepaskan aku, Taemin!” pinta Rika pelan.

Taemin sontak tersadar dan menjauh dari kekasih kakaknya itu.“Mianhaeyo, Noona.”

 

Taemin menatap wajah Rika. Mata sembab dan merah Rika begitu jelas terlihat. Begitu juga bekas aliran-aliran air mata yang menyungai pada pipinya sesaat yang lalu. “Noona, menangis? Apa yang terjadi hingga Noona begitu sedih dan berniat bunuh diri?” tanya Taemin khawatir.

Rika menatap Taemin heran. “Bunuh diri? Aku tidak ingin bunuh diri. Aku hanya ingin …, aku….”

“Aku sepertinya salah paham. Mianhae,” potong Taemin.

Gwenchanayo. Tapi tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku menangis, ya?”

“Tenang saja. Aku pintar menjaga rahasia. Baiklah, sepertinya aku menggangu. Aku pamit, Noona.”

Taemin mulai melangkah pergi, tetapi baru satu langkah ia lewati tangan Rika telah menahannya. Gadis itu memegang lengannya, membuat Taemin menatap Rika kembali.

“Gwenchanayo, kamu di sini saja.”

Ia melapaskan genggamannya kemudian kembali kepada posisi saat Taemin menemukannya. Rika mengambil napas panjang dan sekali lagi ia berteriak dengan seluruh tenaganya. “PAPA JAHAAAAAAAT! AKU BENCI PAPAAAAA!”

Setelah berteriak tubuh gadis itu melemas. Ia membalikkan posisi tubuhnya yang kemudian merosot pada tembok pembatas atap. Tembok yang memiliki tinggi hingga dadanya. Di sana Rika duduk dan memeluk lututnya yang terasa begitu lemas. Menenggelamkan kepalanya dalam. Sedangkan Taemin yang sejak tadi hanya melihat kini ikut meringkuk di sampingnya.

Taemin mendengar tangisan Rika. Ia merasa gadis di sampingnya saat ini begitu sedih hingga terisak seperti ini. Itu membuatnya sedikit kebingungan. Perlahan ia memberanikan dirinya untuk mengangkat tangannya. Berusaha merengkuh Rika dengan penuh keragu-raguan. Beberapa kali tangannya ia tarik dan ulur, meski pada akhirnya ia berhasil meletakkan tangannya pada bahu Rika. Menepuk-nepuknya perlahan dan mencoba menenangkannya.

Rika mengangkat kepalanya ketika ia sudah merasa lebih tenang. Memandang kosong pemandangan di hadapannya. Sebuah halaman kosong tanpa apapun.

“Kamu tak bertanya apa masalahku? Kamu tidak penasaran apa arti dari teriak-teriakanku tadi?”

“Penasaran. Tapi itu privasi, Noona. Noona, berhak menyimpannya sendiri jika Noona menginginkannya,” ujar Taemin dengan seulas senyum manis.

“Gomaweo. Kamu memang benar-benar manis, Taemin,” puji Rika seraya membalas senyuman Taemin.

Rika dan Taemin mendongak. Memandang langit yang sedikit berawan. Ini cukup menyenangkan karena mereka tak harus merasakan menyengatnya panas matahari yang telah berada di ubun-ubun.

Keduanya bungkam. Membiarkan diri mereka merasakan heningnya siang dan semilir angin menerpa mereka dengan sejuk. Nyaman dan santai. Tak terasa Rika telah tertidur dan kini kepalanya mulai bergerak. Jatuh tersandar pada bahu Taemin dengan begitu tiba-tiba. Sontak membuat namja itu cukup terkejut.

Mata Taemin yang sejak tadi begitu serius menatap langit, kini teralih pada wajah Rika yang tenang dengan mata sembabnya, meski begitu ia masih tetap terlihat cantik di mata namja polos itu. Dan untuk kedua kalinya degup jantung Taemin kembali tak teratur. Untuk kali ini ada perasaan aneh mulai menyerangnya. Namja itu memegangi dadanya yang berdebar hebat.

Entah kenapa Taemin tidak bisa memalingkan tatapannya dari wajah Rika. Melihat seluk beluk wajah manis yang membuat degup jantungnya semakin menggila. Kegelisahan mulai mengusainya ketika ia menatap jeli bibir merah di hadapannya. Dengan perlahan wajah mereka mulai mendekat.

______

“Jinki! Jinki!” panggil seorang namja dengan begitu tergesa-gesa. Ia memasuki ruang kelas dengan gaduh serta berraut panik.

“Ssssht!” Jonghyun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya. Mengisyaratkan teman sekelasnya itu agar diam.

Jonghyun melihat ke arah Jinki yang tengah tertidur lelap. Namja itu menenggelamkan wajahnya pada lengan yang ia lipat di atas meja. Tertidur setelah beberapa lama menangis diam-diam, sedangkan Jonghyun sejak tadi pura-pura tidak tahu dan berjaga di sisinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun pelan.

Namja itu membisikkan sesuatu pada telinga Jonghyun. Raut wajah Jonghyun seketika berubah terkejut. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar.

“Kaja!” ajak namja itu dengan tergesa-gesa kemudian pergi keluar kelas.

Jonghyun segera berlari mengejar dan mengikutinya. Berlari menaiki anak tangga hingga mereka sampai pada atap gedung. Sebuah tempat di mana Taemin dan Rika berada.

Di tempat itu mata Jonghyun melebar melihat pemandangan di hadapannya. Wajahnya mulai merah karena darahnya yang mengalir naik memenuhi kepalanya. “Taemin!!”

Taemin tersentak hingga bahunya bergoncang dan membuat Rika terbangun. Taemin segera memperbaiki posisinya dan menatap ke arah Jonghyun yang tengah memelototinya. Sedangkan Rika memandang bingung sekitarnya sambil mengucek matanya.

Jonghyun menghampiri Taemin dengan langkah cepat. “Apa yang baru saja kamu lakukan, Taemin?!”

Taemin mulai gugup dan ketakutan. Ia merunduk diam.

“Ada apa, Jonghyun Oppa?

Jonghyun menatap Rika. “Apa kamu merasakan sesuatu pada bibirmu?”

“Bibir?” gumam Rika dan memegangi bibirnya untuk sesaat. Rika menggeleng. “Ada apa?”

Jonghyun melihat tajam ke arah Taemin untuk beberapa saat kemudian menyeretnya paksa. Membawanya ke tempat yang cukup jauh untuk tidak dapat dilihat ataupun di dengar oleh Rika. Meninggalkan Rika dan tak membiarkan Rika mengetahui apapun.

Jonghyun mencengkeram erat kerah seragam Taemin dan memelototinya. Sedangkan namja yang sejak tadi bersama Jonghyun sudah ia suruh pergi menjauh dari mereka.

“Apa yang kamu lakukan tadi? Apa kamu tadi menciumnya, hah?!”

“Hyung, mianhaeyo. Aku belum melakukannya,” ujar Taemin takut.

“Kau kira aku akan percaya?!” bentak Jonghyun.

“Aku bersumpah! Aku khilaf, Hyung. Jeongmal!”

Jonghyun melepaskan cengkeramannya. Ia mendesah dan berusaha menenangkan dirinya. “Kau sadar apa yang baru saja kamu lakukan?”

Taemin mengangguk. “Aku bersalah. Tapi Hyung, aku benar-benar tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku sendiri bingung. Di sini rasanya aneh ketika aku berada di dekat Rika Noona.” Taemin memegangi dadanya. “Bisakah kamu memberitahuku apa yang terjadi?”

Jonghyun mendesah pelan dan terlihat sedih. “Kau menyukainya, Taemin. Itu namanya jatuh cinta.” Jonghyun menjelaskan perlahan.

“A-aku jatuh cinta pada Rika Noona?” gumamnya dengan nada tidak percaya dan lemas. Taemin terlihat semakin bingung dan sedih.

Jonghyun mencengkeram lembut bahu Taemin. “Gwenchanayo. Itu bukan salahmu. Perasaan itu bukan kamu yang buat, kan?”

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Taemin yang masih berada di dalam kebingungannya.

“Jangan katakan hal ini pada hyung-mu!”

“Tidak boleh? Waeyo?”

“Kamu akan menyakitinya, Taemin. Untuk saat ini, berusahalah agar Jinki tidak mengetahuinya. Saat ini Jinki sedang mengalami masa sulitnya, kamu harus banyak memberinya perhatian dan kasih sayang.”

“Masa sulit? Apa karena ujian kelulusan?”

Jonghyun tertawa kecil. “Kamu tahu kan dia jenius? Jika kamu ingin mengetahuinya sebaiknya kamu tanyakan sendiri pada Jinki.”

______

Taemin keluar dari ruang latihan tarinya. Ia baru saja menari untuk beberapa lama—berusaha mengeluarkan semua kegelisahannya. Kini tubuhnya dipenuhi dengan keringat dan sekarang sudah hampir malam.

Setelah membersihkan diri ia bersiap untuk pulang. Di saat seperti ini keadaan sekolah memang cukup kosong. Berbeda sekali dengan pagi hari yang bising. Redup dan sunyi.

Taemin melangkahkan kakinya menuju gerbang dengan langkah mantap, tetapi tiba-tiba kakinya berhenti bergerak ketika melihat seseorang tengah berpelukan dengan mesra di depan gerbang sekolah. Itu Rika, bersama dengan seorang namja yang tidak ia kenal kemudian pergi menggunakan sebuah mobil.

Taemin mencengeram dadanya. Rasanya sakit. Tetapi bukan kecemburuan yang kini ada di kepalanya, tetapi hyung-nya, Lee Jinki. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia semakin bingung.

______

Rika berjalan lunglai menuju gerbang sekolah sendirian. Hari ini ia akan dijemput. Sungguh sial, setelah insiden itu ia hampir tak memiliki keleluasaan hanya untuk sekedar menghubungi mereka melalui telepon ataupun jejaring sosial.

Rika berjalan dengan menunduk. Tak memperhatikan namja yang kini memperhatikannya. Namja yang tengah berdiri bersandar pada mobil milik ayahnya. Namja itu tersenyum geli melihat ekspresi Rika yang muram.

“Hei, kenapa murung begitu?!” tanyanya setengah berteriak.

Rika terdiam sebentar. Ia merasa suara ini begitu familiar. Ia mendongak. “Kakak!” pekiknya terkejut. Dari tempatnya berdiri ia melihat namja itu melambai tinggi padanya dengan senyum lebar.

Rika segera berlari menghampirinya dan memeluknya. Bahkan namja itu memutar-mutar tubuh Rika hingga kakinya tak menyentuh tanah.

Mereka melepaskan pelukan. “Kakak, bagaimana bisa Kakak di sini?” tanya Rika dengan wajah cerah.

“Ada sedikit urusan.”

 

“O.”

 

“Ayo, pulang!” ajak Randi seraya membukakan pintu untuk Rika. Tak berapa lama kemudian mobil melaju meninggalkan gerbang itu.

______

Kibum baru saja ingin beranjak menuju kamarnya ketika ia baru saja menyelesaikan makan malamnya.

“Kibum duduklah! Ada yang ingin kami bicarakan denganmu,” perintah Tuan Kim.

Sesuai keinginan ayahnya, Kibum menurut dan duduk kembali di tempatnya dengan tenang.

“Kibum, lusa kamu akan dipertemukan dengan orang yang kami jodohkan denganmu,” ujar Tuan Kim tiba-tiba.

“Mwo?! Appa, apa ini tidak terlalu cepat?” protes Kibum.

“Bagi kami tidak,” jawab Tuan Kim santai.

“Kibum, Amma yakin dia pasti gadis yang baik,” timpal Nyonya Kim.

Kibum mendengus kesal.

“Kamu mau lihat fotonya? Appa memiliki satu.”

“Tak perlu. Toh, lusa aku akan melihat wajahnya secara langsung.”

“Benar juga,” cetus Tuan Kim.

______

Taemin mengintip ke dalam kamar Jinki. Di sana ia lihat Jinki tengah menggeletakkan tubuhnya di atas ranjangnya. Setelah pulang dari sekolah ia tidak lagi melihat hyung kesayangannya itu. Bahkan saat makan malam pun ia tak ada. Ini sangat membuat Taemin khawatir.

Taemin memasuki kamar Jinki dengan langkah pelan. Berdiri di balik punggung Jinki.

“Hyung, kamu sudah tidur?”

Tak ada jawaban.

“Hyung,” panggil Taemin sekali lagi, tetapi kembali tak ada balasan.

Taemin memutari ranjang itu dan melihat ke arah Jinki. Dilihatnya mata Jinki sembab dan merah. Bantal yang menyanggah kepalanya pun telah basah dipenuhi oleh air matanya.

Taemin berjongkok di hadapan Jinki dengan perasaan gusar “Hyung,” panggilnya lagi. Kali ini terdengar lirih dan semakin khawatir.

Jinki tetap diam seribu bahasa. Ia terlihat sangat sedih.

“Ayolah, Hyung! Bicaralah! Kamu membuatku sangat khawatir,” protes Taemin.

Taemin berpikir sejenak dengan melihat Jinki. “Apa ini masalah Rika Noona? Apa dia menyakitimu, Hyung?

Kembali Jinki tak memberi respon, membuat Taemin mulai geram. Taemin dengan cepat mengambil ponsel yang terselip pada saku celana jeans-nya dan menekan beberapa tombol. Ia berusaha menelepon Rika, tetapi sama sekali tidak bisa tersambung. Ponsel Rika mati.

“Aku akan bertanya sendiri pada Rika Noona,” ujar Taemin dan mulai melangkah pergi—berusaha mencari tahu apa yang terjadi—menuju rumah Rika meskipun sekarang hampir larut.

Jinki meraih tangan Taemin dan menahannya. Jinki merubah posisinya kepada posisi duduk dan Taemin duduk di samping hyung-nya. Berusaha mendengarkan apa yang ingin ia katakan.

“Aku putus dengan Rika, Taemin,” ungkap Jinki dengan suara parau.

Taemin terbelalak. “Hyung.”

“Dia berkata bahwa ia tidak pernah serius menjalani hubungan ini denganku. Dia memutuskanku karena appa-nya tidak memberinya izin. Bahkan ia tidak membiarkanku untuk berusaha mempertahannya. Ia tidak percaya bahwa aku bisa membuat appa-nya yakin.”

Taemin mendesah berat dan tertunduk lemas. Keduanya diam dengan raut muram.

“Mau aku bawakan makanan? Kamu belum makan malam kan, Hyung?”

“Aku tidak lapar, Taemin. Aku ingin tidur saja.”

“Baiklah. Apa kamu mau aku buatkan susu hangat? Itu akan membuatmu tidur lebih cepat.”

Jinki mengangguk pelan dan Taemin pun segera keluar dari kamar Jinki.

______

Rika masih terlihat murung. Itu membuat keluarga dan teman-temannya menjadi khawatir. Sejak dua hari yang lalu ia menjadi tak seceria biasanya dan lebih banyak diam. Dan pagi ini pun Jinki kembali menunggunya di depan kelas. Sontak membuat Rika menghentikan langkahnya dan melihat Jinki.

Jinki menghampiri Rika. Beraut ceria seperti tak pernah ada yang terjadi. Menghampiri gadis itu dengan langkah perlahan. Berdiri di hadapannya dan kembali memberikan senyuman cerah. Namun melihatnya Rika malah tertunduk sedih.

“Anyeonghaseyo,” sapa Jinki ramah.

“Anyeonghaseyo,” jawab Rika pelan.

“Setelah pulang sekolah aku akan berkunjung ke rumahmu. Kita bisa pulang bersama.”

Rika mengangkat kepalanya dan menatap Jinki dengan pandangan tidak percaya. “Oppa, tak mengertikah kamu apa yang kemarin aku katakan?” tanya Rika dengan nada serius.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa?” jawab Jinki santai.

“Lalu kenapa kamu seperti ini?”

“Apa yang salah? Kamu yeojachingu-ku.”

“Oppa!!”

“Kau tidak ingat apa yang terakhir aku katakan? Aku akan bertemu appa-mu.”

“Rika!” panggil Jungeun yang tiba-tiba muncul dari dalam kelas. Tetapi belum sempat ia sampai di samping sahabatnya kakinya telah berhenti melangkah. Melihat keduanya yang saling bertatap dengan raut marah.

“Se-sepertinya aku mengganggu kalian. Mianhae.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah selesai,” ujar Jinki kemudian pergi dari sana.

Jungeun melihat ke arah Rika, tetapi gadis itu malah meninggalkannya ke dalam kelas. Ia mengikutinya dan duduk di samping Rika.

“Apa yang terjadi? Jadi inikah alasannya kamu bersikap aneh sejak kemarin? Kamu bertengkar dengan Jinki Sunbae?”

 

Rika mendesah berat dan ia terlihat berpikir. Menimang-nimang untuk memberi tahu apa yang terjadi atau tidak.

“Ayolah! Bukankah aku sahabatmu? Kamu bisa mempercayaiku.”

 

“Ini agak rumit dan ceritanya akan sedikit panjang. Lagi pula di sini ada banyak orang. Jadi, aku akan mengatakannya saat istirahat saja, ya?”

 

Jungeun mengangguk.

______

“Jadi begitu. Ini benar-benar menyebalkan. Tidak seharusnya ayahmu melakukannya. Jika aku jadi kamu, aku pasti lebih memilih pergi bersama Jinki Sunbae,” cetus Jungeun begitu kesal, tetapi tiba-tiba ia terlihat berpikir dan melihat ke arah sahabatnya itu. “Kau jangan dengarkan aku, ya? Jangan lakukan apa yang baru saja aku katakan, ok?” pinta Jungeun dengan pandangan khawatir.

Rika tersenyum kecil. “Aku tidak akan melakukan itu.”

Kibum dan Minho tiba-tiba duduk di hadapan mereka. Tak jauh dari Rika, wajah Kibum pun sama buruknya. Duduk berhadapan dan sama-sama murung.

“Kamu kenapa, Rika?” tanya Minho.

Rika hanya menggeleng.

“Kibum, kamu kenapa?” Kini Jungeun yang bertanya.

“Gwenchanayo.”

 

Dan pada saat yang bersamaan, mereka menenggelamkan kepala mereka di atas tangan mereka yang tengah terlipat di atas meja. Sedangkan Minho dan Jungeun saling berpandang bingung.

______

“Rika, ayo kita pergi ke rumahmu bersama-sama!” ajak Jinki yang seraya meraih tangan Rika.

“Aku tidak mau, dan jangan berani-beraninya Oppa datang ke rumahku!” tandas Rika tegas.

“Wae? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” tanya Jinki dengan tatapan penuh curiga.

“A-ani. Pokoknya tidak boleh.”

“Kalau begitu ayo kita pergi ke rumahmu bersama-sama. Aku yakin bisa meyakinkannya.” Kali ini Jinki menarik tangan Rika dan memaksanya.

“Lepaskan aku, Oppa!” bentak Rika seraya menarik tangannya.

“Hyung!” Suara Kibum menggema di lorong yang telah sepi itu. Namja itu berlari menghampiri mereka.

“Hyung, apa yang kamu lakukan?! Kamu akan menyakiti Rika!” bentak Kibum seraya melepaskan genggaman Jinki dari tangan Rika.

“Kau tak perlu ikut campur, Kibum. Rika itu yeojacingu-ku!” ujar Jinki ketus.

“Tapi dia juga sahabatku!” balas Kibum lantang.

“Arraseo. Aku akan pergi sendiri.”

Jinki pergi dengan langkah cepat menuju luar gedung. Berjalan dengan amarah yang menggebu-gebu menuju motornya yang terparkir di halaman parkir sekolah. Meninggalkan Rika yang kini terlihat panik.

“Aku harus cepat kembali,” ujar Rika kemudian berlari dari tempatnya berdiri menuju halte.

“Sebenarnya ada apa, Rika?” tanya Kibum sedikit berteriak. Namja itu berlari mengekori Rika.

Rika yang baru saja sampai di halte terlihat tak sabaran seraya melihat arah jalan raya. Berharap bus yang akan ia naiki segera datang. Tubuhnya mulai berkeringat sama seperti halnya Kibum yang kini tengah menemaninya.

“Sebenarnya ada apa, Rika? Apa kamu bisa ceritakan sesuatu padaku?”

“Ani, Kibum,” jawab Rika tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya menuju jalan. Kali ini ia melihat sebuah bus datang ke arahnya.

 

Sesuai harapannya kini bus tak begitu lama datang, dan tanpa buang-buang waktu keduanya masuk dan bus kembali berjalan. Di saat seperti itu pun hati Rika tak bisa tenang. Ia memandang Kibum.

“Aku mohon kali ini kamu jangan campuri urusanku, ara? Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Oppa berdua,” pinta Rika.

Kibum mengangguk.

Sekitar setengah jam kemudian bus berhenti pada halte di dekat rumahnya. Setelah turun, secepat kilat ia berlari menuju rumahnya. Dari tempatnya berlari, ia melihat sebuah motor telah menetap di halaman rumahnya. Ia tahu pasti siapa pemilik motor itu. Karenanya Rika berusaha mempercepat lajunya dan meraih gagang pintu.

Kreek!

Jinki telah membukanya terlebih dahulu. Namja itu melihat Rika yang telah dipenuhi dengan peluh. Bahkan dari tempatnya berdiri ia bisa dengar deru napas Rika yang terengah. Tapi ia tak peduli. Jinki hanya berlalu menuju motornya dengan wajah datar.

“Oppa!” panggil Rika seraya menatap Jinki penuh harap.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “The Destiny – Part 9

  1. Akhirnya aku bisa baca The Destiny lagii~
    Oh ya Author aku boleh tanya gak? Sebenernya itu yang Author maksud itu ‘Menimang-nimang untuk memberi tahu apa yang terjadi atau tidak’ itu kayaknya harusnya diganti jadi menimbang-nimbang deh. Bener gak?
    Tapi ceritanya keren deh, bikin penasaran! Fighting Author~ Ditunggu lanjutannyaa~

  2. eeh, udah dipublis dari kemarin, agak telat baca nih..

    aahhh….
    Jinki emang pacar idaman, berusaha mempertahankan hubungannya dengan Rika walaupun kemungkinan ditolaknya lebih besar oleh ayahnya Rika..🙂

    ciiieeeeee.. Taemin jatuh cinta sama Rika juga nih, hampir kejadian tuh..😛
    udah Jinki, Key, Taemin yang suka sama Rika. Jangan2 Jjong n Minho bakalan ikutan suka…

    di part sebelumnya Randi dateng ke rumah Rika dan nyebut ayahnya Rika sebagai Om. apa Randi ini kakak sepupunya ya?

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya ya..🙂

    1. nah, bener itu. cuma kakak sepupu, gitu loh.
      aku nggak seserakah itu kali #mksdnya rika.
      Minho kan udah ada yang disuka #lihat part pertama
      klo jong cuma kagum aja, kok.
      pas aku lihat ada yang masuk ffku. aku kira eonnie, ternyata bukan. diriku bertanya-tanya mana, lidia eonnie. hehehe
      kan biasanya jadi first reader.

  3. Aku bacanya loncat-loncat sih…. Jadi gak ngikutin banget….
    Ahh.. Akhirnya Jinki sm Rika jadian ya? Dan kenapa sih hrs putus… Ihh.. Aku iri. Coba Jinki jadi pacarku #dilirik Key sinis..haha

    Btw, Key mau dijodohin sama siapa tuh??? Penasaran… Ditunggu lanjutannya… Semangat!

    1. sama …, aku #tunjuk diri sendiri
      hehehe, becanda….
      Vikey bacanya loncat-loncat, ya? #kayak kangguru dong.
      Ok, thx. klo bisa bsok2 jangan lompat-lompat lagi, ya?
      thx, dh mampir ….

  4. Apa jinki oppa udah tau kebenarannya? Aigo~ aku merasa itu rika kayak serakah banget. Yah walaupun gak semuanya salah dia. Tapi tetep aja.

    1. kamu kayaknya bnci banget sama rika. kalo kamu berada di posisi dia gimana?
      klo aku kemungkinan terbesar aku akan melakukan hal yang sama kayak dia. bahkan lebih tolol karena aku itu bukan tipe orang yang sensitif. nggak terlalu peduli perasaan orang sama aku, atau nggak menyadari #kok jadi curhat?
      ya, udah, sabar, ya? makasih.

  5. Bukan membenci eon. Ini karna aku terlalu menghayati cerita dan karakter yang eonni buat loh. Jarang-jarang banget nih aku kayak gini..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s