Egoistic Marriage – Part 9

Tittle      : Egoistic Marriage – The One (IX)

Author : Ria QR (@riaqadriyah)

Main Cast :

–          Choi Min Ho

–          Kim Ki Bum

–          Kim Jong Hyun

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

–          Kang Hye Mi (Imaginative Character)

Support Cast :

–          Nenek Goo Hara (silahkan membayangkan KARA’s Hara yang asli hehehe^^)

–          Kakek Kang Nam Gil

–          Yoon Ha Na

–          Shin Min Mi

–          Shin Min Ri

–          Park Ha Chan

–          Park Ri Rin

–          Lee Chaerin as Taemin and Jinki’s eomma (bayangkan 2ne1 CL hehe^^)

–          Kim Taeyeon as Key and Jonghyun’s eomma (bayangkan SNSD Taeyeon yaa^^)

–          Choi Soo Young as Minho’s eomma (bayangkan SNSD Soo Young juga yaa^^)

–          Lee Dong Hae (Ini juga bayangin Suju’s Dong Hae yang asli yang main yaa^^)

–          Goo Siwon (bayangin suju’s siwon juga yaa^^)

leght : Sequel

genre : romance, family

rating : PG 15

Summary

Kang Nam Gil (RIP) dan Goo Hara (70yo) adalah sepasang kekasih saat mereka masih muda. Namun perbedaan membuat mereka terpisah. Tak ingin kisah cinta mereka putus begitu saja, mereka berniat menjodohkan cucu-cucu mereka. Kang Nam Gil mempunyai seorang cucu bernama Kang Hyemi (18) dan Goo Hara mempunyai 5 cucu dari anak laki-lakinya, Goo Siwon (RIP) yakni lee Jinki (22) dan Lee Taemin (18) (keduanya anak dari istri pertama, Lee Chaerin), Kim Jonghyun (21) dan Kim Ki bum (20) (keduanya anak dari istri kedua, Kim Tae yeon), Choi Minho (20) anak dari istri ketiga, Choi Soo Young.

Sesuai perjanjian 50 tahun lalu, yakni cucu Kang Namgil akan dijodohkan dengan dengan cucu Goo Hara, maka Hyemi dijodohkan dengan kelima cucu Goo Hara sekaligus. Siapapun yg berhasil membuat Hyemi jatuh cinta, dan menikahinya, akan mendapatkan 80% dari warisan.

Hyemi pun tinggal dan bersekolah bersama kelima namja putra keluarga Goo, namun merahasiakan pertunangannya dengan seluruh orang dikampus mengingat penggemar kelima namja itu sangat banyak. Namun Jonghyun dengan ceroboh mengumumkan pertunangannya, sehingga Hyemi pun menemukan banyak masalah.

Hyemi pun hampir diperkosa, namun Key datang menolongnya. Key memarahi kecerobohan Hyemi, membuat Hyemi sangat sakit hati. Key merasa bertanggung jawab atas itu dan berniat mencari dalangnya.

(untuk cerita lebih lengkap silahkan membaca Egoistic Marriage chapter I – VII di page library)

EGOISTIC MARRIAGE – THAT ONE (IX)

Egoistic Marriage

 

Taemin menghentikan mobilnya saat ia dan Hyemi tiba dirumah. Taemin membuka pintunya sendiri lalu memutar untuk membukakan pintu untuk Hyemi. Hyemi tersenyum. Ia tahu Taemin pemuda yang baik. Teman yang baik.

            Disaat yang sama Minho juga tiba dirumah. Ia memarkirkan motor besarnya tepat disamping mobil Taemin. Minho turun dari motor lalu membuka helmnya. Seperti sedang syuting, Minho tampak seperti bintang film action. Sejenak Hyemi terpaku melihat betapa kerennya namja bernama Choi Minho itu. Mendadak Hyemi merasakan jantungnya berdetak lima kali lebih cepat. Hyemi hampir lupa pada perasaannya pada Minho sejak peristiwa minggu lalu.

            “Hai taemin,” sapa Minho sambil mengacak-acak rambut Taemin. Taemin hanya menggerutu pelan, tampak tidak memprotes lebih jauh. Sepertinya Taemin sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Minho. Minho melirik Hyemi. Hyemi melihatnya dan langsung membuang muka. Kenapa ini? Ayolah Hyemi…

            “Hyemi, mau menemaniku?” tanya Minho pada Hyemi. Hyemi menatap Minho. Tadi ada sedikit nada grogi di kalimat Minho.

            “Menemani untuk apa hyung?” tanya Taemin seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Hyemi.

            “Dosenku ulangtahun. Teman-teman angkatanku menyuruhku membelikan kado untuknya. Dosenku itu perempuan, dan aku tidak tahu selera perempuan. Makanya aku ajak Hyemi, mungkin dia bisa menolongku.”

            Taemin mengangguk-angguk mengerti. “Bagaimana Hyemi?” tanya Taemin pada Hyemi.

            “Kalau memang aku dibutuhkan, aku mau. Kapan?” tanya Hyemi.

            “Sekarang,” jawab Minho singkat. “Ayo,” katanya lagi sambil memberi Hyemi helm. Helm yang sama saat terakhir Hyemi dibonceng oleh Minho. Minho naik ke motornya terlebih dahulu diikuti Hyemi.

            “Aku pergi Taemin,” pamit Minho lalu melesatkan motornya keluar.

            Taemin menghela nafas. “Minho hyung diam-diam menghanyutkan. Padahal aku juga sudah berjanji akan menjaga Hyemi. Apa boleh buat,” kata Taemin pada dirinya sendiri.”

***

            “Kenapa harus hari ini?” tanya Hyemi saat ia dan Minho sedang berada dibalik rak-rak peralatan makan mewah.

            Minho menarik satu cangkir kristal. “Karena besok ulangtahunnya,” kata Minho sambil terus memperhatikan cangkir tadi.

            Hening kembali. Hyemi memutuskan untuk tidak memperpanjang obrolan. Ia sendiri tidak tahu harus membicarakan apa lagi. Mereka jarang bersama akhir-akhir ini. Belakangan ini Hyemi selalu diikuti Jonghyun. Lagipula Minho terlalu pendiam. Setiap pertanyaan yang susah payah hyemi susun untuk memulai obrolan, dengan entengnya Minho menjawabnya dengan kalimat-kalimat singkat.

            Hyemi melirik Minho dari ujung matanya. Namja itu tampak sedang serius mencari hadiah. Wajah tampannya yang serius membuat namja itu seperti diliputi karisma yang luar biasa. Hyemi tahu tatapannya mulai melembut.

            Mendadak Hyemi meraba lehernya. Oh tidak, Minho seharusnya tidak boleh melihat yang ini! batin Hyemi. Apa yang akan dipikirkan Minho nanti jika ia melihat ini? Hyemi langsung saja berkaca di gelas tinggi yang ada didekatnya. Oh mudah saja. Hyemi tinggal menaruh sebagian rambutnya didepan agar leher sampingnya tertutupi. Dengan begini, Minho seharusnya tidak akan curiga.

            “Hei Hyemi,” panggil Minho membuat Hyemi melompat sedikit di tempatnya berdiri. Ia kaget, tentu saja. Ia baru saja menyembunyikan sesuatu dari Minho. Salah sedikit, bisa ketahuan. “Ya?” jawab Hyemi.

            “Kurasa kita jangan membelikan dosenku peralatan makan. Bagaimana kalau perhiasan saja? Gelang atau anting-anting. Semua barang disini tidak ada yang menarik minatku,” kata Minho.

            “Oh ya. Tadinya juga kupikir begitu. Jadi bagaimana? pindah ke toko perhiasan?”

***

            Hyemi memperhatikan dengan seksama setiap anting-anting yang dipajang di toko perhiasan ini. Semuanya cantik-cantik. Ah… dosen Minho pasti orang yang sangat beruntung.

            “Menurutmu sebagai wanita, mana yang menarik?” tanya Minho tanpa melirik ke Hyemi. Hyemi spontan menunjuk anting-anting berlian kecil yang membentuk ukiran bunga sakura. “itu! itu manis sekali!”

            “Masa?” kata Minho datar. Ia sama sekali tidak tahu menahu soal barang-barang berkilauan. “Noona, bisa tolong ambilkan anting-anting ketiga dari depan itu?”

            SPG wanita tadi pun mengambilkannya untuk Minho. Hyemi spontan sibuk ber-wah-wah ria. Jika dilihat dari jarak sedekat ini, anting-anting ini benar-benar sangat cantik. Hyemi mengambil anting-anting itu lalu meraba-rabanya, persis seperti anak kecil menemukan mainan baru. Diam-diam Minho melirik Hyemi dari sudut terluar matanya. Minho tersenyum. Ia tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.

            “Serius ini bagus?” tanya minho.

            Hyemi mengangguk semangat sambil masih meraba-raba anting-anting itu. “Dosenmu akan sangat bahagia di hari ulangtahunnya jika kau dan teman-temanmu memberinya ini.”

            “Baguslah. Tidak sia-sia mengajakmu,” kata Minho. “Noona, aku ambil yang ini.”

            Setelah selesai membayar, keduanya pun melangkah keluar toko.

***

            Hyemi memasang helmnya tapi setelah itu kembali memperhatikan anting-anting yang dibelikan Minho sebagai kado ulangtahun dosennya. Hyemi benar-benar jatuh cinta dengan anting-anting ini. Bentuknya simple tapi sangat manis. Wanita manapun pasti akan senang jika diberi barang secantik ini, termasuk dosen Minho. Seandainya saja Minho membelikan ini untuknya….

            “Ah aku lupa dompetku,” kata Minho tiba-tiba. “Hyemi tunggu aku didepan toko. Aku masuk dulu. Dompetku ketinggalan,” kata Minho disambut anggukan oleh Hyemi. Hyemi sudah terhipnotis dengan anting-anting tadi.

            Minho pun masuk kembali ke toko. Minho cepat-cepat berlari ke arah tempatnya tadi membeli anting-anting.

            “Noona, apa kau masih punya anting-anting seperti tadi?” tanya Minho.

            “Tentu saja. Ada apa? Apa yang tadi ada kerusakan?” tanya noona itu ramah. Minho menggeleng. “Semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin membeli satu lagi.”

            “Satu lagi? Oh baiklah, kebetulan barang itu hanya tinggal dua. Satu yang baru saja anda beli lalu satu lagi yang ini,” kata noona tadi sambil mengeluarkan anting-anting yang sama persis dengan tadi.

            “Aku beli ini. Tolong cepat,”kata Minho lalu dengan cepat noona tadi mengurus pembeliannya.

            Minho melirik keluar toko perhiasan itu. Tepat dibalik pintu kaca disana, Hyemi masih sibuk memperhatikan anting-anting tadi dari balik kotak transparannya. Minho bisa melihat yeoja itu tersenyum-senyum melihat anting-anting itu. Ya benar, Minho berbohong soal dompetnya yang ketinggalan. Yang benar adalah, Minho hanya mencari-cari alasan untuk masuk kembali kedalam toko. Tidak lain untuk membeli anting-anting yang sama untuk Hyemi.

            Setelah mendapatkan barang yang Minho inginkan, Minho melesat keluar menuju Hyemi. Ia tidak sabar ingin memasangnya sendiri di kedua pasang telinga Hyemi.

***

            “Hei,” panggil Minho membuat Hyemi kaget. Hyemi terlalu sibuk memperhatikan anting-anting kado itu sehingga ia tidak sadar Minho sudah berada didepannya.

            “Sudah kau dapatkan dompetmu?” tanya Hyemi.

            Minho mengangguk. “Maaf ya lama menunggu.”

            “Tidak apa-apa,” jawab Hyemi lalu memperhatikan anting-anting tadi lagi.

            “Kau suka sama anting-anting itu?” tanya Minho dan Hyemi dengan cepat mengangguk sebagai jawaban.

            “Sebagai permintaan maaf karena sudah lama membuatmu menunggu dan berdiri tidak jelas didepan toko besar seperti ini, akan kuberi hadiah,” kata Minho membuat hyemi menatap namja itu. Minho masih memasang tampang datar.

            “Kado? Astaga kau tidak perlu repot-repot. Hanya 15 menit, bukan masalah,” kata Hyemi sambil menggoyangkan tanggannya sebagai tanda tidak perlu.

            Tiba-tiba Minho mengangkat sesuatu tepat dimata Hyemi. Hyemi mengerjap-ngerjapkan matanya. Astaga, itu anting-anting yang sama dengan yang ada ditangannya sekarang. Hyemi mengucek-ngucek matanya, takut salah melihat. Tapi anting-anting itu benar-benar nyata. Lalu maksud Minho tentang kado itu apakah ini? Minho membelikannya anting-anting ini?!!

            Tanpa menjelaskan apa-apa Minho maju selangkah kedepan Hyemi sambil membawa anting-anting itu. Sementara Hyemi masih bengong, masih berusaha mencerna semuanya. Bahkan disaat Minho membuka kotak anting-anting itu lalu menyelipkan rambut Hyemi kebelakang, Hyemi tidak keberatan.

            “Kupasangkan,” kata Minho lalu memasang anting-anting sebelah kanan.Hyemi masih terlalu terkejut sehingga ia tidak sadar sesuatu akan terjadi. Minho berpindah ke telinga bagian kiri. Disaat itulah Minho menemukannya. Meskipun samar-samar karena sudah akan menghilang, namun bekas kemerahan itu tetap saja membuat Minho terkejut. Itu apa? kissmark? Siapa yang melakukannya?

            Hyemi mengerjapkan matanya. Oh tuhan, Minho melihat lehernya! tidak…. Minho sudah pasti melihat cap sialan itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan?

            Sejenak hening menyelimuti keduanya sampai akhirnya Minho bertanya, “Siapa yang melakukannya?”

            Hyemi menelan ludah. Potongan-potongan adegan yang tidak ingin ia ingat kembali muncul di benaknya. Menari-nari dan memaksa Hyemi mengingatnya. Hyemi menunduk. Matanya berat. Airmatanya menggunung. Kotak anting-anting hadiah untuk dosen Minho jatuh ke tanah begitu saja. Hyemi mulai sesenggukan. Minho melihatnya sedikit bingung bercampur stress. Semua pertanyaan berkecamuk dipikirannya. Tuhan… Siapa yang berani menyentuh Hyemi? Siapa yang berani menyentuh tunangannya?

            Tanpa mengatakan apa-apa Minho langsung menarik Hyemi ke pelukannya. Minho tahu semua orang sudah memperhatikan mereka. Bagaimana tidak, Saat ini mereka berdua sedang berdiri tepat didepan toko perhiasan itu. Tapi Minho sudah tidak peduli lagi. Hyemi butuh pelukannya.

***

            “Hyung, kita berpisah disini saja,” kata Key pada Jonghyun. Mereka sedang berada di depan pintu masuk Dongdaemun yang jalannya sudah bercabang tiga. belok kanan untuk mencari pakaian dan lurus bagi yang ingin makan.

            “Baiklah,” kata Jonghyun lalu meninggalkan Key. Setelah yakin kakaknya itu sudah jauh meninggalkannya, Key pun melangkahkan kakinya menuju restoran kecil tempat janjiannya dengan kyuhyun.

            Kyuhyun yang menentukan semuanya maka Key harus bersabar dan mengikuti apa maunya. Seandainya tidak, Key tentu saja akan memilih restoran Italia atau restoran Perancis di distrik lain di Seoul. Bukannya makan di restoran kecil yang ada di Dongdaemun. Oh iya, kenapa Jonghyun mau-mau saja berbelanja di tempat seperti ini? Bukan apa-apa, Key hanya tidak habis berpikir seorang hedonis seperti Jonghyun yang celana basketnya saja harus diimpor langsung dari New York sekarang berbelanja di Dongdaemun.

            Key menemukan Kyuhyun duduk sambil mengaduk kopinya di restoran kecil itu. Key pun masuk dan menarik kursi tepat di depan Kyuhyun.

            “Sekarang katakan,” kaya Key langsung membuat Kyuhyun yang tidak sadar akan kedatangannya menatap Key. Kyuhyun tersenyum.

            “Jangan buru-buru tuan Goo. Kau tidak mau minum kopi dulu?” tawar Kyuhyun.

            “Aku tidak biasa minum kopi murahan,” kata Key datar. Kyuhyun mendesis. Baginya Key memang anak orang kaya sok sempurna.

            “Kau tidak lapar? pesan saja dulu makanan. Ini sudah jam makan malam, lho,” kata Kyuhyun sambil melirik seragam universitas yang masih dipakai Key. “Dan tampaknya kau belum makan malam, kan? Ayolah Kim Ki Bum, sekali-sekali cobalah makanan rakyat biasa.”

            “Apa kita bisa berhenti berbasa-basi?” tanya Key sudah tidak sabar tapi raut wajahnya masih datar.

            “Bagaimana ya… sudah sampai sini hanya karena kau tidak mau makan malam bersamaku saja apa kau mau kehilangan info yang kutawarkan?” tanya Kyuhun sambil menghirup kopinya.

            Key menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Baiklah, ia akan mengikutinya.

            “Pesankan semua  makanan yang paling enak disini,” kata Key.

***

Minho ingin sekali meninju apa saja yang ada didepannya. Ingin sekali melempar semua barang yang ada didekatnya. Kenapa hatinya begitu sakit mendengar setiap penuturan Hyemi? Minho mau tidak mau harus membayangkannya sendiri dan itu semua membuat emosi Minho naik sampai ke ubun-ubun. Minho menyesal sekali tidak ada pada saat itu. Ingin sekali ia menghajar orang yang berani menyentuh Hyemi. Ia ingin menghajar orang itu dengan tangannya sendiri.

            Saat ini keduanya ada di taman kota. Taman kota sudah sepi karena hari sudah malam.

            “Lalu siapa yang kemana Eunhyuk itu?” tanya Minho sedikit menekan suaranya yang juga sudah diliputi emosi.

            Hyemi menggeleng tanda ia tidak tahu. Posisinya masih sama. Duduk diatas bangku taman sambil memeluk kedua kakinya dan membenamkan kedua wajahnya diantara kedua lututnya.

            “Ada lagi yang tahu soal hal ini selain aku?” tanya Minho lagi.

            Sejenak diam. Hyemi berusaha mengingat siapa yang mengetahui hal ini. Key… tentu saja. Dialah saksi utama dan penyelamatnya. Lalu… yeoja baik hati bernama Yoon Hana yang kini ia tidak tahu dimana. Hanya itu. Tapi apakah Minho akan marah kalau mengetahui bahwa Key juga mengetahui hal ini? Apa Minho akan marah kalau tahu Key yang menyelamatkannya? Hah… kenapa aku jadi pede begini sih, batin Hyemi.

            “Aku tidak akan marah,” kata Minho seolah tahu apa yang ada dipikiran Hyemi.

            Hyemi mengangkat wajahnya dan menatap Minho. Minho melihat wajah gadis itu yang sembab. Tidak, ia tidak akan marah. Siapapun itu, biarpun salah satu dari keempat saudaranya juga sudah tahu ia tidak akan marah. Bagaimana ia bisa marah jika melihat wajah gadis ini? Ia tidak setega itu.

            “Katakan,” kata Minho.

            “Key…” jawab Hyemi hampir berbisik.

            Key? Kenapa Key? batin Minho. Padahal aku lebih berharap kalau itu adalah Jinki Hyung atau Taemin. Bukannya Key. Sejak kapan Key akrab dengan Hyemi?

            “Bagaimana bisa?”

            “Key yang menyelamatkanku,” kaya Hyemi lagi membuat Minho membulatkan mata. “Baik, akan kuceritakan ulang… lebih lengkap.”

***

            Key sudah kenyang. Ia sudah makan ramen yang katanya paling enak di bagian timur Seoul bermangkok-mangkok. Suatu fakta baru baginya bahwa makanan rakyat biasa itu juga enak. Ia juga sudah meminum berbotol-botol soju sama seperti namja yang ada didepannya. Kyuhyun bahkan sudah menaruh wajahnya diatas meja.

            “Heiiiii~~~ tuan sok sempurnaaaaaa,” kata Kyuhyun dengan wajahnya yang memerah. “Akuuuuhhh…. hik…. selaluuu i….iri… pada…muuuhhh~~ hik,” kata Kyuhyun sambil menunjuk-nunjuk dahi Key.

            “Hei anjing keciiil~~~” kata Key tak kalah mabuknya. “Sudah takdirnyaaaaa….. Akuuuuu sepertiiiiiii… hik…. iniiiiii.”

            “Hahahahahahahahaaaaaaa….” Kyuhyun tertawa tidak karuan. “Heiiii kau mauu tahuuuu siapa yang hik… menyuruhku?”

            “Tentu sajaaaa babooo~~~”kata Key melambai-lambai.

            “Diaaaa….  seniooorrrr….. kau hik hik hik…. tahuuu?”

            Key menegakkan tubuhnya. “Siaappaaaa anjing kecil???”

            “Diaaa…. yeojaaaa….”

            Mendengar itu Key sudah duduk sempurna kembali dikursinya. “Yeojaaa? apa diaaa cantiiiik?”

            “Hmmm….. Diaaa temaaaan kakakmuuu hik hik hik hik kakakmuuu yang lubang hidungnyaaaa…. besaaaaar~~~” kata Kyuhun sambil mengorek-ngorek kedua lubang hidungnya dengan telunjuknya. “Hihihihihi…. orang sepertiii itu kenapaaaaa disukai banyaaaak wanitaaa~~~?”

            Key semakin menegakkan tubuhnya. Kesadarannya seolah kembali. Ia kenal sebuah nama yang mewakili semua ciri-ciri yang disebutkan Kyuhyun.  Tapi tidak… masa dia? dia kan… bukan tipe orang seperti itu?

            Dengan ragu Key menyebutkan nama itu. “Shin Minmi?”

            Tiba-tiba Kyuhyun menegakkan tubuhnya. “Naaaaaaaahhh! SHIN MINMIIIIIII~~~”

            Key melotot tidak percaya. Kenapa dari sekian banyak yeoja teman Jonghyun kenapa harus yeoja bernama Shin Minmi? Dia juga termasuk teman masa kecilnya! Astaga…. Key mau saja tidak percaya tapi ada orang bilang ucapan orang mabuk adalah sebenar-benarnya ucapan yang benar. Maka dari itulah key mencetuskan ide untuk minum-minum.

            Key lalu mengenakan jaketnya. Ia mengeluarkan uang beberapa ratus ribu yen lalu menaruhnya di meja. Key lalu berdiri.

            “Mianhae Kyuhyun. Kau mungkin tidak tahu, aku adalah peminum kelas atas. Beberapa botol soju tidak akan mempan padaku,” kata Key lalu berbalik menuju pintu

Alangkah terkejutnya Key. Disana, sekitar dua meja dari mejanya bersama Kyuhyun, Jonghyun sudah duduk dengan manis.

            Masih belum berakhir keterkejutan Key, Jonghyun malah berdiri dan menghampirinya.

            “Ada apa dengan Minmi?”

            Key merasa bahwa kiamat baginya sudah didepan matanya.

***

            “Kau marah?” tanya Hyemi begitu selesai menceritakan semua yang terjadi secara lengkap.

            “Tentu saja aku marah. Seharusnya aku yang menyelamatkanmu,” kata Minho membuat Hyemi membulatkan mata.

            “Mianhae…”

            “Aku ingin tahu siapa dibalik semua ini,” kata Minho. “aku harus mulai menginterogasi Kyuhyun dulu. Dia juga teman angkatanku.”

            Hyemi hanya bisa memandangi Minho yang sedang emosi. Ada rasa bahagia dihatinya begitu tahu bahwa Minho peduli padanya.  Minho berbalik ke arah Hyemi.

            “Hapus air matamu. Kita pulang,” kata Minho.

***

            Jonghyun sudah membanting kantung belanjaannya. Key menatap ngeri dinding gang yang ada disamping mereka. Dinding itu retak-retak karena sudah dipukuli habis-habisan oleh Jonghyun. Key bisa mengerti perasaan Jonghyun. Bagaimanapun juga Minmi paling dekat dengan Jonghyun. Mereka tumbuh bersama. Sama sekali tidak ada alasan yang membuat yeoja sebaik Minmi bisa berbuat setega itu.

            “Kenapa Minmi???!!!” seru Jonghyun frustasi.

            “Hyung… aku mengerti perasaanmu. Aku juga tidak percaya Minmi yang melakukannya.”

            “Karena apa???!” seru Jonghyun lagi, sama sekali tidak menggubris Key. Key memilih untuk diam. Kakaknya ini butuh pelampiasan.

            “Lalu Hyemi…. astaga…. bekas kemerahan itu… kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya???!!! kenapa aku tidak tahu???!!! Padahal aku yang harus menjaganya!! padahal aku yang disampingnya!!!”

            Jonghyun lalu meninju lagi dinding gang sempit itu sekuat tenaga. Darah mulai mengucur dari tangannya. Key melihatnya menjadi histeris. Baru saja Jonghyun mulai lagi untuk meninju, Key mencegat tangannya.

            Jonghyun menatap Key. “Kenapa harus Minmi?” tanya Jonghyun hampir berbisik.

            “Hyung… mianhae… tapi aku punya satu pemikiran…” kata Key sambil menatap kakaknya. “Mungkinkah Minmi melakukannya karena ia mencintaimu?”

TBC

Author note :

(buat yang pengen baca aja)

            Saya bahagia setelah satu setengah tahun vakum dari dunia per-fanfic-an(?) lalu kembali ke SF3SI mencari ff saya dan menemukan ternyata sampai tahun 2013 ini masih ada reader baru yang membaca ff saya. Bahkan reader lama ada yang sampai membaca EM (Egoistic Marriage) sampai dua kali.

            Jeongmal Gamsahamnida untuk chingu-chingu yang sudah mau menyempatkan membaca fanfic-fanfic saya bahkan sampai memberi oxygen (komentar). Saat membaca komentar yang menunggu fanfic gaje saya dilanjutkan, dan saya diberi semangat, rasanya bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali.

            Adapula yang mengira saya bekas author tetap, hehehe saya bukan author tetap, hanya freelance dari dulu hingga kini🙂

            Dulu saya vakum karena mau fokus UN dan SNMPTN, berkat doa-doa chingu, Alhamdulillah saya lulus UN SNMPTN dan sekarang sudah setahun kuliah di kedokteran unhas makassar. Saat lulus pengennya langsung nulis FF lagi, Cuma tahun pertama kuliah rasanya masa muda saya direnggut habis-habisan.

            Oke, author note ini udah mulai kelebay-lebayan. Mianhae, mianhae, buat yang nunggu (Ada gitu yang nunggu ff gaje gini?) dan gamsahamnida yang sudah kasih komen-komen pemberi semangat. Bener-bener comment like oxygen, bikin semangat buat lanjut nulis bangkit sebangkit-bangkitnya. Saya ngirim ini di hari 5 years with SHINee, hihi ngga kerasa ya, udah lima tahun. Udah 3 tahun juga saya jadi bagian SF3SI, mulai dari reader dulu.

            Udah, gitu aja, Klo diterusin bisa jadi fanfic hahahaha. Dadaahhhhh *tebar ramuan bulu ketek minho campur bulu idung Jonghyun*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

75 thoughts on “Egoistic Marriage – Part 9

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s