Not a Frozen Smile Anymore

Not a Frozen Smile Anymore

Author: Fla

Main Cast: Kim Kibum, Han Hyuna

Length: Oneshot

Genre: romance

Rating: General

 

Not a Frozen Smile Anymore

Fla © 2013

 

Aku tak pernah tahu pasti kenapa ia selalu datang paling pagi karena aku sendiri tidak pernah datang cepat, paling tidak lonceng masuk sudah berbunyi ketika aku baru akan menaiki anak tangga menuju kelasku.

Tapi konon, gadis itu selalu menjadi penghuni pertama yang menjejakkan kaki di kelas, sampai-sampai ada lelucon yang mengatakan: datang saja di pagi hari kalau kau butuh sontekan tugas sekolah. Ya, terlepas dari segala keanehannya, gadis itu tergolong sebagai manusia yang memiliki jumlah lipatan otak sangat rumit. Kau tahu Einstein dicap genius karena apa? Jumlah lipatan otaknya lima persen lebih banyak dari manusia kebanyakan. Hanya lima persen tapi sejenius itu, wow. Ada tidak operasi untuk menambah jumlah lipatan otak? Kalau ada, aku peminat nomor satu.

Setiap aku bertanya pada temanku yang lain mengenai kegiatan gadis itu di pagi hari, mereka tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia belajar, mengerjakan tugas yang tak sempat dituntaskan di rumah, atau sejenisnya. Beberapa orang mengatakan, seringkali mereka memergoki gadis itu sedang mencoret-coret papan tulis, dan lagi-lagi bukan dengan rumus atau teori apapun. Konon, gadis itu senang membuat komik dengan gambar-gambar khasnya, hanya berupa kepala bulat dan tubuh lidi, bisa kau bayangkan?

Lalu apa cerita yang tersirat dari semua gambar-gambarnya itu? Tidak jelas, tapi ia selalu menggambarkan runtutan kejadian, sistematis. Kadang hanya berisikan kisah seorang anak gadis yang tak bisa daftar sekolah hanya karena orang tuanya menganggap sekolah itu tak lebih dari kurikulum berhadiah ijazah. Pernah pula ia menggambarkan kisah seorang anak gadis yang mati-matian berjuang untuk membeli 10 paket album terbaru boyband kesayangannya, bukan karena ingin punya, tetapi lebih karena ingin meningkatkan angka penjualan album tersebut.

Lalu, beberapa temanku yang lain bersaksi bahwa gadis itu selalu berhenti menggambar ketika lonceng hampir berbunyi, ia akan langsung keluar dari kelas dan berdiri di balkon—lengkap dengan earphone menancap di ponselnya.

Aku menjadi penasaran dengan tingkahnya yang seringkali menjadi topik pembicaraan tatkala para siswa sedang menikmati santap siang. Hari ini, demi menuntaskan rasa penasaranku, aku datang pagi-pagi sekali bahkan sebelum gadis itu tampak. Suasana kelas jelas sepi, hanya aku yang duduk termanggu di bangkuku, yeah, deretan belakang yang semoga tidak terbelakang.

Aku melamun. Hmm, kalau dirasa-rasa, gadis itu memang aneh. Dibilang kaku juga tidak, pendiam juga tidak, hanya saja… ei, mengapa aku baru sadar bahwa ia sama sekali tidak pernah tersenyum bahagia. Eh, jangan salah paham. Ia masih tersenyum, hanya saja… lebih tampak seperti senyum menghargai orang lain, senyum sopan santun, ataupun senyum turut bersimpati atas kebahagiaan orang lain. Ehm, omong-omong, kenapa aku jadi berpikir tentang ini? Ah, tidak apalah, sebagai teman yang baik aku harus tahu keadaan semua temanku, at least aku tahu ia sedang punya beban apa.

Drap drap drap.

Aku bisa mendengar langkah kaki mendekat, kebetulan tempat dudukku memang di dekat jendela yang sejajar dengan pintu masuk. Ah, itu pasti dia. Oh, benar, itu dia.

Gadis itu menaruh tasnya di bawah, begitu saja. Lantas ia segera meraih kapur, jemarinya mulai menggambar sebuah bulatan—pasti itu yang dimaksud sebagai kepala. Oh, sebentar lagi mungkin ia akan menggambar garis tangan atau badan. Eh, tapi tidak. Ia terdiam memandang papan tulis yang masih lengang. Beberapa saat ia tak berkutik, entah terhanyut dalam lamunan jenis apa. Hei, seseriuskah itukah ia sampai tidak menyadari bahwa aku sedang mengamatinya?

Oke, aku pun tidak berniat mengusiknya. Aku hanya ingin tahu mengenai kebiasaan anehnya tadi. Tapi, ini sudah sepuluh menit dan ia sama sekali tidak menggerakkan tangannya lagi. Bisa kulihat bahunya merosot kemudian, seperti orang yang baru saja kehilangan gairahnya. Kenapa? Kenapa ia tidak menggambar di saat aku ada? Sedang tidak ada inspirasi, atau memang merasakan kehadiranku sehingga ia tidak nyaman?

“Hei, Hyuna-ya, merasa terganggu dengan kehadiranku?” Bosan kumenunggu, mulai pahit rasanya ketika mulut ini terus terkatup.

Eoh?” Ia menoleh, wajahnya datar, super datar. Mungkin sama datarnya dengan wajah kakakku sepulang dari sidang penelitiannya. Sama seramnyakah diriku dengan para dosen-dosen yang gemar ‘meniup’ para mahasiswanya itu di persidangan?

Ia membeku di tempatnya, bisa kulihat mukanya yang pucat pasi. Hei, memang pucat sejak tadi atau pucat karenaku? Ohoho, seorang Kim Kibum mungkin layak dinobatkan sebagai manusia dengan tingkat percaya diri berlebihan. Hei Kawan, tapi kau harus tahu, percaya diri itu modal utama hidup. Jadi, anggaplah sifatku yang satu ini sebagai suatu kelebihan, ya?

“Rileks saja, Hyu. Aku tahu kebiasaanmu menggambar. Justru itu, aku ingin melihat seperti apa jenis gambar yang seringkali dibicarakan teman-teman itu.”

Ia tak menjawab, hanya turun dari undakan lantai di depan papan tulis, memilih berjalan keluar kelas seakan tak memedulikan pernyataanku. Eoh? Apa dia keberatan kulihat gambarnya? Minder? Astaga, apa begitu?

Sini kuberi tahu sedikit saja, merugilah orang-orang yang rendah diri. Mau melamar kerja susah, mau buka usaha tak punya nyali, apalagi mau cari jodoh. Begitu ada pria yang melamarnya, ia akan merasa dirinya tak pantas untuk pria itu. Fufufu, aku tidak mengerti dengan para yeoja yang memiliki pola pikir seperti itu. Hei, Nona, juga para wanita di seluruh dunia. Ketahuilah bahwa ketika seorang pria datang padamu, ia tidak lagi peduli kau gendut, punya tompel, punya panu di wajah, punya mata tanpa lipatan, ataupun punya kulit berwarna gelap. Ia datang, berarti hatinya sudah mantap memilih hawa idamannya. Pilihan hidup tak melulu soal dimensi fisik. Nah, nah, kan, aku jadi melantur. Astaga, aku ini masih berstatus sebagai siswa, apa pula tujuanku berbicara tentang jodoh. Hentikan, deh.

Kususul langkah Hyuna, ikut berdiri di sampingnya. Kami saling membisu, bersisian di tepi balkon. Oooh, aku hampir lupa kalau ini memang rutinitasnya. Eh, tapi bukankah ini masih terlalu pagi dan bel masuk masih lama berbunyi?

“Kudengar, menjelang bel berbunyi kau selalu berdiri di titik ini. Kenapa harus pada waktu-waktu itu? Adakah tujuan khusus?”

Gadis itu menoleh sebentar, lalu membalasku hanya dengan sebuah senyuman… errr, boleh kuartikan ini sebagai senyuman pahit? Oke, kuanggap dia memang tak berniat menjawabku lewat kata.

Selanjutnya, kami sama-sama termenung masing-masing. Halo, halooo, aku tidak tahan diam. Aihh, gadis ini mengapa menjadi sangat pendiam? Hmmm, dalam persepsiku, terkadang seseorang menjadi lebih pendiam karena lawan berbicaranya terlalu mendominasi, sedangkan ia merasa sungkan untuk masuk dalam pembicaraan. Jadi kali ini, aku bertekad untuk menjadi pendengar yang baik, meskipun aku tak bisa memastikan kapan gadis ini akan terbebas dari bungkamnya.

Mataku mulai bergerak-gerak mencari objek menarik, tapi nihil, ini masih terlalu pagi sehingga suasana masih sangat sepi. Hanya satu dua kepala tampak. Heran, mereka ini kerajinan atau bagaimana? Wait, bukan, mereka ini sekumpulan siswa pecinta kebersihan yang berbaik hati ingin menyapu lantai kelasnya. Sebab, menurut pengamatanku, justru siswa yang rajin secara akademik tidak akan datang pagi. Kebalikannya, siswa pemalas yang hobi kencan malam, main play station, game online, maupun berlama-lama di depan komputer dan televisi hanya untuk memantau aktivitas member boyband kesayangannya—justru akan sangat gesit datang pagi-pagi ke sekolah. Tujuannya, mengejar materi ulangan yang tidak sempat dibaca semalam. Atau, yang lebih ironis, menyalin jawaban tugas rumah kawannya.

Ei, aku termasuk siswa yang seperti apa ya? Kalau dipikir, aku tidak juga rajin, tidak juga pintar, tapi tidak terlalu bebal. Ketidakdisiplinanku hanya dalam masalah datang terlambat ke sekolah. Yaaaa, kau tahu tidak? Itu karena aku selalu memasak di pagi hari untuk sarapan seluruh anggota keluargaku, bukan karena aku tukang tidur yang susah dibangunkan, ya!

Lucu kalau diingat. Nyaris tiap pagi aku lari-lari masuk gerbang utama—yang bisa kusaksikan dari tempatku berdiri saat ini. Kadang sambil merapikan tatanan rambutku yang tak sempat diberi gel, sesekali sambil cekikikan sendiri karena keteledoranku dalam mengetik pesan singkat ketika aku berlari dari halte bus sampai gerbang. Ah, ada satu yang paling kunikmati. Kalau kau langganan datang mepet waktu, kau pasti tahu rasa puasnya ketika kau berhasil mendahului bel pagi. Ini yang sering membuatku tersenyum, bahkan sesekali ber-yes ria tepat ketika aku melewati gerbang.

Aku terkikik tolol sampai akhirnya sadar bahwa gadis di sebelahku sedang mengernyit. Merasa anehkah ia dengan tingkahku?

“Jadi, kau datang pagi hanya karena ingin melihat gambarku?” Pertanyaannya menghentikan tawa bodohku.

Buru-buru aku memasang tampang polos, “Ya, memang. Boleh, kan? Ei, omong-omong, apa yang selalu kau gambar? Kisah yang terjadi di sekelilingmu, kisah curhatan temanmu, atau… mungkin, kisahmu?” Rasa ingin tahuku memang selalu muncul nyaris setiap waktu.

“Bukan, yang kugambar adalah mimpiku,” jawab gadis itu pendek sambil membunyikan jemarinya. Kletuk kletuk renyah terdengar.

“Lalu, kenapa hari ini kau tidak menggambar? Apa karena kau tidak bermimpi semalam?”

“Bukan, aku nyaris selalu bermimpi,” sergahnya kilat.

“Wow, begitukah? Kalau begitu apa sebabnya kau tidak bisa menggambar tadi? Oh ya, kenapa kau selalu menggambar dalam wujud lingkaran dan garis-garis saja?” Aku mulai iseng, pertanyaanku tadi sebenarnya sangatlah tidak penting—dan tidak ada hubungannya dengan misiku untuk ingin selalu tahu tentang keadaan orang-orang di sekitarku.

“Tidak ada alasan khusus, hanya saja itu adalah cara tersederhana untuk menguraikan kejadian. Aku tidak perlu repot-repot dengan mimik wajah ataupun lekukan detail di telapak tangan dan sebagainya. Aku menggambar hanya untuk belajar menyampaikan apa yang kumimpikan.”

Wah, ini aneh. Apa perlu mimpi itu diwujudkan dalam cerita? Apa ruginya memang kalau sampai terlewat dan membiarkan mimpi itu hanya menjadi angin lalu? Aih, tapi gadis ini oke juga daya ingatnya sampai masih bisa menceritakan lewat gambar runtutan kejadian. Oo, apa ini tujuannya? Melatih daya ingat? Sebab kalau ia memang berniat melatih caranya bercerita, lebih baik ia belajar cara merangkai kata.

“Jadi, kau ingin semua orang tahu tentang mimpimu?” Aku masih tak mengerti motifnya.

“Tidak, aku tidak peduli dengan orang lain. Eh, tapi aku cukup terharu karena ternyata orang-orang memperhatikan apa yang kukerjakan.” Gadis itu tersenyum. Apa ini maknanya? Senyum untuk menutupi ironi hidupkah? Hei, apa selama ini ia merasa orang-orang tak memedulikannya? Hmmm, bisa jadi.

“Lalu? Apa tujuanmu?”

“Apa melakukan sesuatu harus bertujuan? Tidak juga. Sama seperti kolektor, mayoritas mereka beralasan hanya karena ‘suka’. Hmmm, ini hobiku. Hanya itu.” Gadis itu memberikan jawaban yang sangat tepat, membuatku tidak bisa bertanya lebih lanjut.

Ah, benar juga. ‘Suka’ memang tak butuh tujuan. Tidak semua hal harus memiliki alasan. Aku pun akan bingung menjawab mengapa aku punya rutinitas belanja pakaian setiap weekend. Salah besar kalau kau menuduhku ingin selalu menjadi yang ter-update dalam hal fashion. Oh, no, no, no. Aku hanya suka. Ada kenikmatan tersendiri ketika berhasil menemukan baju yang unik. Baiklah, jawabannya tadi memang tak berhak lagi kucecar. Eh, sebentar. “Hyu, berarti benar kau tidak bisa menggambar pagi ini karena terusik olehku? Aigoo, berarti aku harus minta maaf padamu.”

“Tidak perlu. Kau sama sekali tidak menggangguku, Kim Kibum.” Ia menjawab santai, dibubuhi senyum tipis yang sedikit bermakna lain—maksudku, tidak begitu ‘basa-basi’.

“Kalau begitu, gambarlah. Aku penasaran, Hyu,” balasku jujur. Gadis itu kembali pada rupa aslinya, wajah yang tak tertebak guratan emosinya. Tapi, beberapa detik kemudian bisa kutangkap alisnya naik sedikit—dan ada raut tidak suka atas pertanyaanku. Aku menjadi salah tingkah, rasanya aku baru melakukan kesalahan. Apa aku seperti baru memerintahkannya? Aku buru-buru menyambung kalimatku, sedikit gelagapan, “dan jangan tanya kenapa aku penasaran, itu kesukaanku—hobi yang mendarah daging.” Kugaruk tengkukku yang tidak berdaki, tentu saja.

“Kim Kibum, mau tau apa mimpiku semalam? Aku bermimpi… seorang pria sangat tampan tersenyum padaku. Hanya satu itu yang kuingat.”

“Hmmm, kau tidak menggambarnya karena mimpimu itu bukan runtutan kejadian? Jadi, menurutmu itu tidak menarik, begitu? Setahuku, kau memang selalu menggambar peristiwa.”

Hyuna tercengang, mungkin ia terkejut karena aku tahu banyak tentangnya. Huahahaha, satu lagi potensiku, sepertinya aku berbakat jadi wartawan gosip selebriti.

“Hei, mengapa kau ini sok tahu sekali?” tudingnya tanpa berani menghadapkan wajahnya padaku, ia membuang pandang ke arah gerbang. Matanya menyipit, tapi sepertinya bukan marah dan bukan juga ekspresi muak. Aku mulai menebak-nebak. Ia hanya… seperti orang yang sedang mengenang sesuatu.

“Kim Kibum, aku tidak menggambarnya karena ingatanku tidak cukup bagus untuk mengingat seperti apa detail wajah nan rupawan itu. Aku jelas tidak tega kalau hanya menggambarnya dalam bentuk lingkaran wajah, lengkungan bibir tersenyum, dan titik mata saja. Lagipula, sisi tampannya tidak akan tampak. Tidak ada peristiwa, juga tak bisa menggambarkan keindahan mimpiku itu. Lalu, apa lagi sisi menariknya bagiku? Singkatnya, tidak ada inspirasi untuk menggambar. Sesederhana itu.” Hyuna menjelaskan, aku mengangguk-angguk bodoh.

Sebentar, sebentar. Kenapa aku punya sebuah pemikiran tentang hobi menggambarnya, kebiasaannnya berdiri di balkon, dan penyebab pagi ini tangannya kelu untuk menorehkan karya. Apa aku terlalu berpikir jauh? Oh, please. Mengapa jalan berpikirmu lebih berliku daripada yeoja, Kim Kibum?

“Hei, Hyu… hmmm, apa aku bisa membantumu mengingat detail wajah yang memikat itu? Aku bisa jadi modelmu. Kurasa aku cukup tampan untuk itu.” Iseng-iseng ingin tahu reaksinya. Rasa penasaranku menukik bak grafik eksponensial.

“Hmmm, boleh juga. Baiklah, jadi modelku dan jangan berbicara sampai aku tuntas. Hmmm, kalau kau tidak keberatan, kali ini aku ingin mengabadikan mimpiku. Jadi aku akan menggambarnya di bukuku, bukan di papan tulis kapur. Bagaimana?”

Nah, Kawan. Detik ini, ia memamerkan senyumnya yang ternyata sangat manis. Inilah senyumnya yang sungguhan. Aku bisa melihat aneka perasaan di dalamnya.

Oh ya, kuberitahu rahasia. Wanita akan bisa berubah dadakan jika sedang berada di depan pria pujaannya. Yang pendiam menjadi sangat hiperaktif, sebaliknya yang biasanya hobi teriak-teriak bisa berubah menjadi kalem ketika berhadapan dengan sang pria idola, yah, entah jaga image atau memang dikalahkan oleh debaran jantung.

Baru saja Hyuna merubah caranya tersenyum, bisa kau simpulkan maksudku? Ah, kuyakin kau pandai, Kawan.

Sssstt, satu lagi. Berkat berdiri di tempat ini aku jadi tahu bahwa memang ada yeoja yang mengakui ketampananku dan aku jadi tahu bahwa diriku punya penggemar rahasia. Hei, kau tidak usah bilang pada Hyuna kalau aku sudah tahu, ya? Biarlah kita saja yang tahu, oke? Kalau kau bertanya kenapa aku mau menjadi model gratisan—padahal aku ini sebenarnya berpotensi menjadi foto model dengan bayaran selangit—kuberi tahu. Tidak semua wanita yang jatuh cinta berharap bisa mendapatkan pria yang disukainya. Kebanyakan dari mereka, hanya ingin berteman dekat dengan pria itu. Aku ingin berbaik sangka, siapa tahu, kasus yang sedang kualami adalah ini.

Hei, hei, aku yakin detik ini kalian pasti sedang menuduhku terlalu percaya diri? Memang. Tapi, aku tahu pasti kali ini tebakanku tidak salah. Hyuna, gadis itu tersenyum sangat lebar, ada sensasi bahagia tak terkira di dalamnya. Seperti fans yang berhasil mencuri kesempatan untuk berbincang dan berfoto bersama dengan idolanya–plus tanda tangan sebagai kenangan. Fufufu, aku memang layak diidolakan, sih. Hati-hati kau juga terpesona padaku. Ting ting ting.

 

The End

Astaga, apa yang kutulis? Super aneh. Tak apa, hanya tidak ingin otak karatan karena terlalu lama tidak menulis fiksi.

25 thoughts on “Not a Frozen Smile Anymore

  1. “padahal aku ini sebenarnya berpotensi menjadi foto model dengan bayaran selangit”
    hahaha bener banget tuh xD
    simple but nice story author, entah kenapa kata katanya ngena banget :’))
    like likee^^

  2. Nemu typo dikit sih, tapi ga pengaruh hhe.
    Wakakak key narsis dan gokil. Aku senyum2 sendiri waktu key cerita hehe.

    Ceritanya bagus dan ngena. Like this!
    Nice fic😀

    1. wah, masih ada typo ya ternyata, berarti aku kurang jeli…

      FF ini memang ditujukan buat hiburan aku pribadi pas nulisnya… hihi, Key yang asli mungkin juga senarsis itu sih

      makasih banyak ya telah berkunjung ^^

  3. Keyeeen, sikap Key yang over-confidence dan cerewet keliatan jelas di sini. Cuma baca paragrafnya, aku bisa bayangin dia bener2 orang yang rame (?). Seperti biasa yaa, maknanya dalem banget, tapi tetep lucu. Salut😀

  4. Key narsis selangit
    (˘_˘” )( “˘_˘), tapi bener juga yang dibilang “Merugilah orang-orang yang rendah diri. Mau melamar kerja susah, mau buka usaha tak punya nyali, apalagi mau cari jodoh. Begitu ada pria yang melamarnya, ia akan merasa dirinya tak pantas untuk pria itu”, pola pikir yang benar menurutku.
    Key asli narsis banget ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​
    Ditunggu karya lainnya (งˆ▽ˆ)ง

  5. wahahahaa…ternyata ini full bacotan Key semua yaa..xDDD :))
    narsis gela, tapi syarat makna😉 mulai dari kebiasaan berangkat ke sekolah, mengingat mimpi, tingkah di depan cowok, percaya diri, banyak deh pokoknya😉
    dan beberapa di antaranya ada yg sukses bikin makjleb .___.”.
    *?*
    lanjut lagi ya kak! ^o^/

  6. ish, sampe speechless saya saking gemesny. authorny mana nih, bagus banget epepny, numpang kisseu dah buat Kibum😄
    soal telat sekolah it kena banget. Paling asik ya pas BP telat datang jd bisa bebas, ato paling ekstrim sampe manjat pagar😀
    next ff yaaaaa~

    1. ini authornya datang, hehehe
      wah, aku ga pernah telat sekolah, jadi ga tau sih sensasinya yang macem itu, cuma sering dapet cerita dari temen2 aja

      thanks banget ya udah mau mampir
      see you later ya di ff berikutnya😀

  7. Sukses bikin aku senyum-senyum gaje + nge-flashback kisah sekolahku.
    Hahahahaha😀
    Oh Key, demi apapun kau memang percaya diri sekali. kekeke :p
    Ceritanya sederhana tapi ngena banget😀

  8. kereeeeen…
    baru kali ini baca ff isinya curcolan Key semua, mana narsisnya selangit, lgi… hahahaha

    tapi banyak kata2 sarat makna dsini, jarang banget didapet. tapi thor, aq rasa cara pikir Key dsini terlalu rumit kyk jalan pikiran cewek *walau dia udah smpat bilang juga, siiih* soalnya setahuku cowok tuh mikirnya simpel2 aja n sesuai logika gt, d…

    ok, keep writing~~~!

  9. aigoo key..aku pengen punya rasa percaya diri yg tinggi kya kamu…
    Fakta’y yg ditulis author ttg key tu bner dan aku bca ff ni smbil snyum2 sndiri…
    Bgus thor ceritanya..

  10. banyak pesan ya di dalam cerita ini yang bikin senyum-senyum sendiri (karena berasa ‘aku’ banget)
    key narsis banget jadi orang ya ampun lain kali di kontrol ya kepedeanmu itu~
    ceritanya bagus. ditunggu karya selanjutnya thor!🙂

  11. That was SO Kibum. Over confident, talkative, and just a liiiilll bit naggy. But those are his charms. And oh, totally in love with the last line though: TING TING TING.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s