The Cruel Marriage – Part 5

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad, a little bit fantasy.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!

Part 5

‘Tangan yang sebelumnya hangatpun mampu berubah dingin, begitupun dengan hatiku yang sudah tidak memiliki ruang untuk kehadiranmu kembali..’

Author’s POV

Tangan Minho bergetar hebat, wajahnya pias diselingi keringat dingin yang mengaliri pelipisnya menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya saat ini. Sebuah nisan, dengan nama seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, Jung Soojung.

Sebelumnya seseorang yang ia tugaskan mencari gadis itu menelpon, mengatakan telah menemukan keberadaan Soojung. Ia meloncat saking girangnya namun, begitu tahu yang ditemukannya bukanlah apa yang ia inginkan hatinya mencelos begitu dalam. Wajahnya nampak seperti orang linglung sekarang.

“Apa kau serius ini—Soojung?” ia menatap pria disebelahnya, Lee Donghae. Seorang kepercayaannya yang bekerja di badan intel korea, orang yang telah dimintainya mencari Soojung. “Mianhae, Minho-ya.”

“Tidak hyung, Soojung tidak mungkin—INI BUKAN SOOJUNG, DIA MASIH HIDUPKAN HYUNG? JAWAB, HYUNG!!” Minho meraih kerah Donghae, menggoyangnya keras berharap pria yang lebih tua darinya itu akan menjawab ini semua hanya lelucon darinya. Tapi, nyatanya tidak.

Yang mampu Donghae lakukan hanya menunduk, ia tahu betapa kerasnya Minho ingin menemukan Soojung nyatanya sampai diseluruh penjuru dunia, di sinilah Soojung terakhir kali menetap. Di sisi Tuhan.

Perlahan cengkraman Minho mengendur, panas di matanya membuat penglihatannya buram karena tergenang air mata. Bukan ini yang dirinya harapkan, walau sekarang ia membenci Soojung tapi yang diharapkannya adalah gadis itu masih ada, setidaknya mengamati dari jauh mungkin akan membuat rasa rindu yang selama 10 tahun dipendamnya akan menguap meski sedikit.

Kini senyuman gadis itu hanyalah bayangan-bayangan masa lalu, sudah tidak ada lagi gadis yang Minho cintai, sudah tidak ada lagi ibu yang akan memeluk gadis kecilnya—Hyeon. Tubuhnya jatuh terduduk, ia meraung keras di makam yang sepi itu. Membiarkan semua perasaannya beralih menjadi kemarahan.

“SOOOOOJUUUUUUUUUNGGGG-AHHHHHH!!!!”

Bolehkah waktu berputar kembali, setidaknya saat dimana ia dan Soojung masih bersama tanpa ada yang mampu memisahkan. Walau maut sekalipun.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

“Selamat datang Jessica-ssi, Krystal-ssi!”

Wajah Tiffany seketika pias, matanya membesar dan mulutnya menganga tak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang. Ada perasaan takut ketika wajah yang selama 10 tahun tidak dilihatnya itu menampak dari balik kacamata hitam yang baru saja di lepasnya, wajah yang paling tidak mau ia lihat dan ingat.

“Ka..kau!”

Semua perhatian beralih pada Fanny yang berdiri dari duduknya, menunjuk tepat pada Krystal yang berbalik menatapnya dengan alis berkerut bingung.

“N-ne?”

“Kau Soojung! Tidak ini pasti halusinasi, kau tidak mungkin masih hidup!”

“Maksud anda apa ahjumma, saya tidak mengerti?” diam-diam Jessica tersenyum sinis. Ternyata reaksi Tiffany sampai separah itu, ini semakin bagus.

“Fanny-ah, wae irae?” Siwon ikut berdiri mendekati istrinya.

“Di-dia pasti Soojung! Kau Soojung’kan?”

“Jwessonghamnida, tapi ini dongsaeng saya ahjumma dan namanya Krystal Yoon bukan Soojung. Kami baru saja kembali dari San Fransisco seminggu lalu sebelum orang tua kami memutuskan untuk menitipkan kami ke sini, mungkin anda salah orang!” sela Jessica dengan tenang.

“Ahjussi, mungkin eommonim butuh istirahat!” Suzy segera memapah Fanny keluar dari ruang keluarga tersebut, meninggalkan Siwon dan kedua gadis itu terdiam beberapa saat. “Ternyata, sampai seperti itu?”

Siwon menunduk, seperti merasakan tatapan yang Jessica lemparkan tadi terkesan dingin. “Sekali lagi, Jwessonghamnida Jessica-ssi atas kesalahan yang telah keluargaku perbuat.”

“Sudahlah Ahjussi, apa yang terjadi dahulu tidak akan bisa diperbaiki lagi, biarkan saja semua tetap apa adanya.” Kata Krystal. Seorang pelayan yang sebelumnya sudah disiapkan Siwon untuk mengantar kedua gadis itu ke kamar mereka yang baru segera menuntun begitu mendapat sinyal dari Jessica. Keduanya segera lenyap di balik undakan tangga menuju lantai dua.

Krystal melempar kasar kopernya ke sofa, mengerang tertahan seraya mengacak rambutnya. Kesabaran yang berusaha ditahannya seketika goyah, ia marah tentu, bisa bertemu langsung dengan orang yang telah membunuh kakaknya adalah keinginan yang paling tidak ia harapkan untuk terkabul.

Ditambah harus satu atap dengan wanita itu, Ia harap keesokkan harinya wanita itu tidak pernah ada di muka bumi ini. Setelah merasa agak tenang, Krystal duduk dipinggiran ranjang melihat refleksi dirinya dalam cermin yang begitu kacau.

Tidak tahu sejak kapan, dibelakangnya sudah berdiri bayangan lain. Itu bukan Jessica, tapi seseorang dalam mimpinya tadi malam. “K-kau?!”

‘Kau telah membuat kesalahan bodoh Jung Krystal, sudah kubilang hentikan tapi mengapa kau tak gubris?’ lirih wanita itu. Aliran air mata berwarna hitam mengalir dari kedua kelopak matanya yang bening hitam.

“A-aku tidak mengerti maksudmu? Kau ini siapa dan apa maumu?”

‘Aku adalah kau Jung Krystal,’ sosoknya perlahan melenyap seperti siluet yang semakin lama semakin tipis tertelan kabut. Meninggalkan Krystal dalam sejuta tanda tanya.

# # #

Suzy memandang datar pada Tiffany yang sekarang menggigil karena ketakutan. Shock pastinya, bagaimana bisa orang yang telah mati hidup kembali? Atau bagaimana bisa ada orang yang berwajah mirip—tidak—lebih tepatnya sama di dunia ini? kecuali..

“Sudahlah eommeonim, tenangkan dirimu!” seru Suzy, jengah.

“Mudah sekali kau meminta aku tenang, sementara kau tidak lihat Soojung kembali dan aku yakin dia berniat menuntut balas padaku karena membunuhnya!”

“Dia  tidak akan berani berbuat seperti itu eommonim.”

“…”

“Dia mengaku bernama Krystal Yoon, dan tak ada apapun yang berhubungan dengan Jung Soojung bukan. Mungkin itu memang orang lain yang hanya mempunyai wajah sama.”

“Maksudmu?”

“Sudah eommonim, kau ikuti saja alurnya. Aku akan membantumu, itu pasti.” Kata Suzy tenang.

Ia sudah mampu membaca suasana, bila perkiraannya tidak salah. Krystal mungkin saja Soojung yang menyamar dan ia menyusup kembali ke rumah ini tentunya dengan tujuan tertentu yang Suzy sediri masih bingung apa, kalau itu hanya agar bisa kembali bersama Minho, mengapa dia tak langsung mengaku saja dari dulu  meskipun itu berisiko Tiffany akan kembali mencoba menyingkirkannya.

Sepertinya permainan akan sedikit lebih rumit lagi setelahnya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

Younghyeon bersidekap, tubuh mungilnya bersandar pada tembok di samping pintu kamar Krystal. Ketika Krystal keluar ia terkejut melihat ada orang di luar kamarnya, “Nuguyeyo?”

Hyeon menatap Krystal dengan wajah datar, melirik penampilan Krystal dari ujung kaki sampai ujung rambut yang tentu membuat Krystal agak risih. “Yoon Krystal imnida, kau pasti Younghyeon, iya’kan?” jawabnya mencoba terlihat ramah.

“Apa kau tidak ingat aku?” tanya Younghyeon sekali lagi.

“Eh, memangnya kita sudah pernah bertemu?”

“Eonni tidak ingat pernah menolong anak kecil yang pernah hampir tertabrak di daerah Myeongdong. Itu aku, eonni.” Seketika Krystal sadar, jadi gadis kecil yang pernah di tolongnya adalah keponakannya sendiri? Dunia ini memang sempit.

“Oh, pantas aku merasa familiar dengan sosokmu.” Krystal tertawa kecil.

“Semoga kau betah di sini eonni.” Younghyeon berlalu tanpa membalas ucapan Krystal, sementara gadis itu mengeryit heran.

“Apa yang dilakukan keluarga itu sampai Younghyeon berubah menjadi dingin?” bisiknya marah. 

“Ada apa Krystal-ah?” kata Jessica yang tiba-tiba telah berdiri di belakang Krystal. Ia menoleh, dan hanya memberikan gelengan kecil padanya. “Gwenchana.”

“Kau itu kenapa sih? Sejak sampai di sini perilakumu aneh sekali? Apa kau mulai ragu untuk menjalankan rencana ini?” tanya Jessica kesal. Ia melipat tangan di dadanya menyandar pada tembok. 

“Aku tidak begitu, kau saja yang nampaknya terlalu berambisi eonni. Ingat, rencana kita hanya memisahkan Younghyeon dari Minho jadi jangan bertindak lebih ataupun gegabah.” Krystal melirik datar pada Jessica yang kembali bersungut balas menatap dengan sinis.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, hati-hati kau jatuh cinta pada Minho!” bisiknya di telinga Krystal, berjalan pergi.

“Tidak akan.”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

Krystal’s POV

Aku hanya bisa mendesah kecil melihat kepergian Kak Jessica, kalau boleh jujur aku bukan ragu tapi tidak ingin menjalankan rencana nista seperti keinginan kakek. Bagaimanapun selama 10 tahun ini Minho-lah yang dengan sabar dan bertanggung jawab membesarkan Younghyeon, dan ketika mereka terpisah nanti bukan tidak mungkin kalau keduanya malah semakin terluka.

Kepergian Soojung yang misterius, dan hanya meninggalkan suami dan anaknya dalam lingkupan dendam seperti ini. Aku ingin menjaga mereka, tapi mengingat perlakuan Minho yang mengkhianati Soojung demi seorang gadis bernama Suzy itu membuat seluruh hatiku panas.

Kenapa semua ini harus terjadi? Hanya karena sebuah dendam saja banyak pihak yang akan dirugikan setelah ini, dan entah mengapa aku merasa ini salah. Ini membuatku pusing, mungkin berjalan-jalan sebentar di kota adalah hal yang bagus.

Aku kembali ke kamar, mengganti bajuku dengan baju biasa. Berpenampilan terlalu berkelas itu sangat menyusahkan, lalu segera keluar dari rumah besar yang bagiku atmosfirnya sungguh memuakkan itu. 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

Daerah dekat sungai Hangang tidak buruk juga. Wisata kuliner sepertinya seru, apalagi udara Seoul sedang dingin-dinginnya, sudah lama aku tidak berjalan-jalan begini. Terakhir kali bersama Soohyun ketika ia berlibur ke sini, itupun 2 tahun lalu. Aku rindu padanya.

Perhatianku teralihkan pada sebuah stand sate ikan, karena lumayan ramai aku mendekat dan mencoba. “Ahjussi, sate ikannya 2 tusuk ya!”

“Ne, sebentar!”

“Stand sate ikan di sini memang yang paling enak di Seoul, kusarankan kau membeli banyak untuk orang-orang rumahmu.” Aku menoleh mendengar perkataan orang asing itu, dan ketika tahu mataku membulat seketika, “So-Soohyun-ah!”

“Hey Miss, berapa lama kita tak bertemu?”

“A-apa benar ini..?” aku terkejut setengah mati, wajahnya, senyumnya, semua yang ada pada dirinya tidak pernah berubah, yang berubah hanya potongan rambut dan gaya berpakaiannya yang makin terlihat dewasa.

Air mataku rasanya sudah tak terbendung lagi, seketika aku berhambur memeluknya meraung keras sehingga tak sedikit orang yang mengalihkan perhatiannya ke arah kami, well aku tidak perduli. Yang sekarang aku inginkan adalah melampiaskan rasa rinduku selama 6 tahun tanpanya.

 “Hey, Miss berhentilah menangis, bukankah kau seharusnya senang aku bisa ada di sini sekarang?”

“Kau menyuruhku berhenti, kau tahu! Selama 6 tahun aku menggila tanpamu, apalagi kau jarang menghubungiku, apa saja yang kau lakukan di London? Selingkuh, hah?” bentakku seraya memukul dadanya keras-keras.

Ia hanya tertawa, lalu tangannya meraih wajahku. Memberikan ciuman di puncak kepalaku yang masih terasa hangat seperti dulu. “Of course not miss, bagaimana aku mau selingkuh kalau semua yang aku lakukan selalu saja memikirkanmu?” kali ini perkataannya sukses membuat aku mem-blushing.

“Oh, kau memang tidak selingkuh, tapi jadi pandai menggombal. Katakan, kau baru menonton film apa sebelum kemari?”

“Kau selalu tahu kebiasaanku.”

“Yeah, kebiasaan meniru adegan film itu hanya ada pada kau Soohyun-ah.”

Aku kembali mendekapnya erat, aroma yang sama kembali menguar memenuhi indera penciumanku. “I miss you, dear.” Kataku pelan, namun kurasa ia mendengar karena sekarang ia kembali terkekeh, “Miss you too, Krys!”

Kim Soohyun—lelaki yang selama 7 tahun ini menjadi kekasihku. Saat aku berkuliah di London dan tidak mempunyai kenang-kenangan apapun untuk diingat, ia menciptakannya untukku, dengan menjadi sahabatku semasa kuliah di sana. Banyak kenangan manis yang sekiranya mampu kuingat kini, bagaimana kami berbagi makanan saat uang saku kami sama-sama habis, berjalan-jalan ke big ben, sampai akhirnya kami menjalin komitmen lain yang di sebut sepasang kekasih.

Kami tak pernah saling menyatakan cinta, ia hanya selalu memamerkan aku pada teman-temannya sebagai pacar, so kuanggap itu sebagai pernyataan bahwa hubungan kami sudah lebih dari sekedar persahabatan.

Aku menuntunnya duduk di pinggir sungai Han sambil memakan sate ikan. Cara makannya yang tidak pernah bagus itu masih tidak berubah. “Kapan kau kembali?” tanyaku. Membuang satu tusukkan ke dalam tong sampah dengan lancar.

“Kemarin, mianhe aku tidak sempat bilang. Saat kembali ke sini pun aku sedang dalam tahap mengerjakan proyek perusahaan di sini, jadi tidak sempat menghubungimu.”

“Kau memang seperti itu, aku mau bagaimana lagi?” desahku seadanya

“Hahaha, gomawo sudah mengerti.”

“Oh, ya. Kau tinggal dimana sekarang?”

“Untuk sekarang aku masih tinggal di hotel. Tapi lusa, aku akan pindah ke rumah sepupuku. Kebetulan aku juga sedang membantu perusahaannya, bagaimana kabar halbeoji?”

“Mau kabar buruk atau kabar baik?” ia menatapku bingung, lama tak menjawab dan dia hanya tersenyum. “Tentu yang baik.”

“Itu jawabannya, dia baik-baik saja. Memang kau mau dia seperti apa?” Soohyun hanya tertawa renyah, tapi aku menganggapnya tidak lucu. “Kau ini Miss, tidak pernah bisa diajak bercanda. Selalu saja ketus pada orang lain..”

Hari itu, aku habiskan dengannya. Melepaskan apa yang mereka sebut sebagai rindu, hanya berdua dan seolah-olah bebanku diangkat tinggi dan menguap bersama tawa dan canda kami.

# # #

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 ketika aku sampai di mansion itu lagi. Aku melewati kamar Jessica dan tanpa sengaja menangkap sebuah percakapan telpon yang sukses membuatku penasaran.

 “Jadi kau sudah melakukannya?”

“…”

“Thanks Donghae-ya, aku tahu kau yang terbaik!”

“….”

“Ne.. love you too. Jumusaeyo.”

Donghae? Aku tahu siapa pria itu—dia adalah kekasih Jessica yang baru sebulan ini dikencaninya dan pria itu bekerja dibidang intel. Aku merasa ini ada hubungannya dengan rencana yang saat ini sedang kami jalankan.

“Eonni, wae irae?” tanyaku tiba-tiba.

“Oh Krystal, kau mengagetkanku saja. Aku baru saja menerima telpon dari Donghae bahwa rencana pertama kita berhasil!”

“Maksud eonni? Rencana yang mana?”

“Mempertemukan Minho dengan Soojung yang telah meninggal. Kata Donghae Minho shock sekali begitu ia menunjukkan makam Soojung padanya, bukankah ini bagus. Maka ketika ia melihatmu nanti, BAM semua akan seperti dalam drama. Hahaha…” ujarnya riang.

“Untuk apa kau melakukan itu eon?” kataku, agak tersulut emosi.

“Krystal-ah, Suzy hampir membaca rencana kita. Dia menganggap kau itu Soojung dan dengan begini usaha kita akan semakin sulit untuk mengeluarkan Younghyeon dari rumah ini. Coba kau pikir, andai mereka menganggap kau sebagai Krystal mereka tidak akan berani berbuat macam-macam padamu. Ya’kan?”

“Maksud eonni?” aku merasa masuk akal dengan semua pernyataannya tapi, kenapa ada yang ganjal dari setiap ucapannya.

“Sudahlah, soal ini biar aku yang urus. Kau hanya perlu dengarkan segala instruksiku dan jalankan peran yang sudah halbeoji atur untukmu, arraseo?”

Aku muak dengan semua ini! Padahal rencana ini belum berjalan 10% tapi, aku pikir ini akan benar-benar menyusahkanku. Kuharap Tuhan mengampuni aku dan Jessica.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jarum jam sudah menunjukkan pukul duabelas malam, tapi mataku tak kunjung terserang kantuk. Aku membolak-balikkan tubuhku di atas tempat tidur dengan resah, entah kenapa. Sesekali kulirik Jessica eonni yang sudah tertidur dengan pulas.

Dengan kesal aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan beranjak keluar. Tapi ketika telapak tanganku menyentuh gagang pintu, aku seperti mendengar seseorang melangkah terseret-seret dari luar. Dia sendirian, kurasa. Tempat ini sudah sepi ketika tengah malam, pastinya.

Dengan ragu, kubuka sedikit pintu kayu itu, menyisakan celah yang cukup agar aku bisa mengintip dari dalam. Tepat dugaanku, seseorang masih terjaga tengah malam begini. Aku merenyitkan kening ketika yang kulihat adalah sesosok pria, dengan kemeja yang sudah berantakan, mata bengkak, dan salah satu tangannya memegang leher botol minuman keras. Minho? Ia nampak frustasi, sepertinya.

“Soojung-ah…” racaunya pelan. Langkahnya terus terarah melewati koridor yang melewati kamarku. “Neo eodiga?” tanyanya lirih.

Aku langsung menutup pintu, dadaku sudah terasa sesak. Melihat tatapannya yang kosong itu… benar-benar membuatku bingung. Dia suami kakakku. Dan dia jadi begitu ketika mengetahui kakakku sudah tiada. Apakah sebegitu besar cintanya pada Soojung? Tapi bagaimana dengan Suzy? Bukankah dia meninggalkan Soojung karena gadis itu? Aku memijit keningku, lalu menyeret langkah kembali ke tempat tidur. Aku langsung merebahkan tubuhku dan menenggelamkan wajahku ke dalam bantal. Dan entah dari kapan, aku sudah menangis.

Entah kenapa aku tak bisa melihatnya seperti ini. Aku tak tahu kenapa.

###

“Krystal, bangun,” seseorang mengguncang-guncang bahuku pelan. Aku menggerakkan alisku, lalu berusaha membuka mataku walau terasa sangat berat.

“Hm?”

“Krys, bangun. Cepat mandi, sebentar lagi kita akan sarapan,” aku membuka mataku meski posisi tubuhku sama sekali belum berubah. Aku memutar otakku, memikirkan aku sedang ada dimana, apa tujuanku di sini, dan apa yang akan kulakukan setelah ini.

“Krys,” suara Jessica eonni kembali terdengar.

“Ne, arasseo,” ujarku sambil berusaha mendudukkan tubuhku. Aku bangkit perlahan, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

Author’s POV

Jessica memamerkan senyumnya saat ia sudah duduk di salah satu kursi meja makan di ruangan yang sangat besar itu. Ia duduk berhadapan dengan Suzy, sementara Krystal duduk di sampingnya, berhadapan dengan Younghyeon. Ia sangat puas, terlebih melihat ekspresi Tiffany yang seperti melihat hantu tiap menatap Krystal. Dan sayangnya, pandangan Tiffany tak pernah lepas dari Krsytal.

“Younghyeon-ah, panggil appa,” gumam Suzy pelan pada yeoja cilik yang duduk di sampingnya yang sedang menikmati sepiring pancake dengan sirup maple. Hyeon melirik Suzy sekilas, lalu kembali berkonsentrasi memotong pancake yang ada di hadapannya. Kali ini ia berusaha menghormati tamu, dengan melupakan acara ‘ngambek’nya dan kembali makan di meja makan bersama.

“Untuk apa? Bukankah agassi lebih suka membangunkannya sendiri?” balas Younghyeon cuek, dan cukup keras untuk didengar seluruh orang yang duduk di meja itu. Kening Krystal berkerut. Younghyeon sangat-sangat dingin, atau hanya kebiasaannya saja?

Suzy menggeram, ia ingin sekali menjambak rambut anak kecil itu, namun demi menjaga image di depan calon mertuanya, ia harus menampilkan sisi positifnya dulu. “Baiklah, anak kecil,” desisnya lalu bangkit dan melangkah menuju ke kamar Minho.

# # #

“Eonni…” panggil Krystal ragu. Ia meletakkan pisau roti dan garpunya lalu mendongak menatap Jessica. “A-aku ke kamar sebentar, ya,” pintanya. Jessica mengerutkan keningnya bingung.

“Kenapa?” balas Jessica yang mengundang perhatian dari tuan Choi.

“Ada apa, Krystal-ssi?”

Krystal menelan ludahnya, agak gugup dengan alasannya. Akhirnya ia mencondongkan tubuh ke arah Jessica, lalu sedikit berbisik, “Aku kebelet,”

Jessica hampir membuat makanan yang sedang dikunyahnya meloncat keluar kalau saja ia tidak menutup mulutnya dan menahan tawanya. “Astaga, kukira apa, Krys. Cepat sana,”

Krystal membungkuk ke arah Tuan Choi sebentar sambil tersenyum tipis, lalu menatap Jessica yang kembali menyantap sarapannya. Ia memundurkan kursinya, lalu berdiri dan bergegas kembali menuju kamarnya.

Tepat setelah Krystal pergi, Suzy kembali dengan Minho di belakangnya. Ia tersenyum kepada Nyonya dan Tuan Choi sebelum duduk kembali dan melanjutkan makannya. Minho mengambil tempat duduk di sisi lain Younghyeon, yang sama sekali tak mendapat reaksi dari anak semata wayangnya itu.

Dan memang Younghyeon tidak suka dengan keadaan itu. Ia menghabiskan pancake-nya dengan cepat, meneguk susu yang ada di dekatnya lalu membersihkan sudut bibirnya dengan serbet. Benar-benar cara makan yang berkelas. “Halboeji, halmoeni, aku sudah selesai. Saatnya berangkat sekolah,” ujar Yonghyeon tiba-tiba bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan meja makan itu. Tuan Choi hanya tersenyum, sementara Minho hanya menatap putri semata wayangnya sambil memijit kepalanya yang masih terasa pusing karena efek elkohol yang diminumnya semalam.

Krystal baru saja melangkah mendekati meja makan begitu ia berpapasan dengan Younghyeon. Ia menolh menatap gadis cilik itu, lalu meraih bahunya. “Younghyeon-ah, kau mau sudah mau berangkat?”

Younghyeon menghentikan langkahnya lalu menatap Krystal. “Ne, eonni,” Krystal melirik Jessica yang juga sedang menatapnya lewat sudut matanya, tersenyum simpul lalu kembali menatap Younghyeon.

“Boleh aku mengantarmu?” tawar Krystal tiba-tiba. Younghyeon melirik appa-nyaa yang masih mengawasinya dari meja makan, lalu ikut menatap Krystal, membalasnya dengan sneyum manisnya.

“Baiklah, eonni,”

Minho menatap sosok putrinya yang menghilang bersama dengan seorang yeoja. Ia terus memperhatikaan kedua yeoja itu, hingga fungsi otaknya kembali secara tiba-tiba. “A-andwae,” gumamnya. Suzy agak terkejut ketika Minho tiba-tiba bangkit, ia bahkan belum menyentuh apa-apa di meja makan. “Soo Jung-ah!” teriaknya lalu berlari menyusul Younghyeon dan Krystal. Nyonya Choi yang sedari tadi mengunci bibirnya rapat-rapat menatap nanar sosok putranya yang ikut menjauh.

Tapi, tak ada yang menyadari senyum licik Jessica yang terlukis di bibirnya saat ia meneguk teh dari cangkirnya…

To be Continue….

A/N : Annyeong! Sebenernya ini setengah masih ditulis chinchi eon, setengahnya lagi baru ditulis olehku. Adegan-adegan terakhir itu alangkah gajeya, bukan? Huahaa… *ngais tanah* Mianhae kalo malah memperburuk (?) keadaan huaaa…

Comments and likes always allowed! ^^

Oh ya, readers-deul boleh minta sedikiiiit bantuan? Dikiiit aja ga banyak-banyak :3 Menurut kalian, siapa tokoh dalam fiksi Who I Am? I Am an Eve yang pantas mati? Aku kasih polling dan kubuka selama seminggu. Jangan milih dua ya ^^ Hasilnya nanti sekalian kubuat di partnya ya ^o^

Satu lagi, polling lagi gapapa ya? Pertanyaannya yang menurut kalian cocok kalau maincast cowo ini cocok diadu (?) sama Kim Myungsoo/L Infinite ^^

Thank you! ^^

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

36 thoughts on “The Cruel Marriage – Part 5

  1. Akhirnya part 5 muncul jugaaaaa..
    Aku penasaran banget sama kelanjutan ff ini, tp ending di part ini malah makin bikin penasaran-_-
    Belom sempet kyrstal ketemu minho udah tbc aja-_-
    Ditunggu banget kelanjutan partnya, dan jangan lama-lama ya thor hehe^^ makasih..

  2. Huahh setidaknyaa ff ini masihh berjalann :))
    w kasian sama minho & krystal~ T_T
    Yunhooo sm Jessicaa kok bisaa sih kek gitu ._.
    siwon mainnnn ngijinin ajaa~ emang dia tau apaaa yg ada di ogak yunho u,u
    Jadiii emosi sendiri bacanya…

  3. Wah ceritanya semakin seru, publishnya yang cepat yah onnie, jebal
    Entah siapa karakter yang bersih disini.
    Sepertinya MinHo karakter yang kasihan dan malang disini, begitu juga Krystal.
    Kakek Jung Jjang~
    Tapi sejak awal sudah sentimen ke Nyonya Choi. Karakternya Nyonya Choi asli jahat banget. (” _ *)
    Lanjutin author (งˆ▽ˆ)ง semangat!!

  4. Belum baca part sebelum2 langsung buka ini part ja
    Tertarik sama judulnya
    Mau baca part sebeljmnya dulu deh
    Bikin penasaran nih epep
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

  5. keren alur nya author-nim
    ditunggy next chap nya.
    pls jgn post terlalu lama. ntar malah jadi lupa sama prev story nya

  6. publish jg akhirnya!!!
    aku msh penasaran sebenarnya apa rencana si kakek. knp Younghyeon hrs dpisahkn dgn minho. Bukan slh minho wehhh…ini slhnya tiffany..
    trus itu, soohyun udh balik pula…aishhh!!

    1. 😄 Kan perasaan seorang kakek atau nenek ke cucunya itu lebih protektif daripada orang tua ke anaknya. Jadi ya… begitu dah kira-kira wakaka xD
      Sabar ya tunggu lanjutannya😀 Trimakasih sudah komen😀

  7. ceritanya seru nih, maap baru coment di part ini baru nemu blog.nya soalnya ^^, kisah minstal d sini rumit bnget, aq suka, n tntng polling, aq setuju kalo Myungsoo krakternya cocok, pkoknya d tunggu part slanjutnya, jgn lama” chingu ok *wink 🙂

  8. seru nih ceritanya.. penuh misteri.
    mianhae lgi komen d part ini soal nya baru nemu jg blog nya.
    lanjutannya jgn lama” ya..🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s