[WFT C] Switzerlove [1.2]

Title : Switzerlove

Author : Nia

Main cast :

–          Lee Taemin (SHINee)

–          Risa Jung (OC)

Support Cast :

–          Yeong Sung (OC)

–          Onew, Jonghyun, Key, Minho (SHINee)

Length : Twoshot

Genre : Romance

Rating : General

———–0————

Malam hari semakin dingin, dan Taemin belum juga pulang kembali ke tempat tinggal sementaranya. Taemin mengeratkan baju hangatnya, lalu mulai berjalan lagi melewati tumpukan salju yang menggunung. ‘Hyung, kita masih lama, tidak sih?” Taemin menggerutu pelan.

“Kita tersesat, Taemin-ah! Kita harus bertanya pada orang lokal…, tapi hyung sendiri tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa Prancis. Jadi kita harus bagaimana, Taemin-ah?” Yeong Sung, si kameramen perkasa yang selama ini menemani Taemin mulai panik. Bukan, ini bukan salahnya. Taemin yang sedari tadi keluyuran kemana-mana tanpa memperhatikan jalan dan tersesat seperti ini bukanlah salahnya. Lagipula, tugas seorang kameramen hanya merekam, kan? Tapi justru, kini kamera itu dimatikan untuk menghemat baterai. Dan lagi, rasanya aneh jika ia merekam wajah Taemin yang hopeless seperti ini.

“Hyung, kau payah sih!” Taemin mulai menyalahkan kameramennya sendiri. “Kan kau sudah kuberitahu kalau kita mau pergi ke Switzerland, seharusnya kau juga sudah memersiapkan kamus untukku!” gerutu Taemin lagi.

“Taemin-ah, yang pergi kan kamu, yang menjadi bintang di kamera ini juga kamu. Lalu kenapa aku harus ikut campur?” tanya Yeong Sung kesal.

Taemin hanya bisa cemberut. Tapi kemudian ia berteriak histeris saat melihat seorang yeoja sedang dipukul beberapa namja berbadan besar. “Hyung! I-itu!”

Secepat kilat, Taemin berlari dan menghampiri yeoja yang kini sudah mulai terkapar. Beruntung karena kedatangan Taemin, namja-namja berbadan besar itu pergi semua.

LET’S GO, GO!” teriak salah satu dari mereka sebelum mereka pergi. Setelah teriakan itu, beberapa namja yang mengikutinya segera berpencar ke tempat yang lebih gelap, dan juga lebih aman untuk bersembunyi supaya Taemin dan Yeong Sung tidak bias melihat mereka.

Excuse me.. Can I help-Ah, hyung! Eotteokhae? Aku tidak bisa bicara dengannya!” Taemin panik setengah mati. Ia ingin berkata sesuatu, tapi ia yakin yeoja didepannya ini tidak akan mengerti karena Taemin hanya bisa bicara bahasa Korea, terutama di keadaan genting seperti ini.

“Boleh tolong bawa aku ke rumah sakit terdekat?” Tiba-tiba saja yeoja yang terlihat seperti orang Barat itu dengan fasihnya bicara dalam bahasa Korea. Walau dengan nafas yang terengah-engah dan kesadaran yang hampir hilang sepenuhnya, tapi yeoja itu benar-benar bisa membuat Taemin melongo seperti orang bodoh.

“Ya! Cepat bawa dia! Kau ingin lihat dia mati sekarat, huh?” Yeong Sung berteriak menegur Taemin yang masih saja tidak berkutik. Padahal, saat ini memang benar-benar situasi genting.

***

Sejauh ini, Taemin berhasil mendapat beberapa informasi tentang yeoja yang kini sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit dihadapannya.

Yang pertama, nama yeoja ini Risa Jung. Yeoja yang mahir ber-wushu ini ternyata keturunan setengah Korea dan setengah Switzerland. Yang kedua dan merupakan hal terparah bagi Taemin, yeoja ini adalah anak dari salah satu mentri penting di Switzerland. Dan asal tahu saja, Taemin paling malas berurusan dengan pemerintah, media sosial, dan juga skandal-skandal lain yang akan menimbulkan gosip tak jelas.

Dan Taemin yakin, justru ia akan terkena skandal tak jelas seperti itu kali ini.

Untuk soal Yeong Sung, kameramennya itu, Taemin hanya bisa menyuruhnya pulang kembali ke tempat tinggal sementaranya. Taemin pikir hyungnya yang satu itu harus bisa kabur duluan kalau memang sesuatu yang buruk terjadi menimpa Taemin. Selama masalah besar tidak terjadi, lebih baik ia menyuruh Yeong Sung bersembunyi.

“Aku heran, bisa ya orang yang jago wushu justru sekarang terkapar karena beberapa namja berbadan kekar?” Taemin iseng bertanya untuk menggoda Risa. “Tentu bisa, bodoh! Mereka yang jumlahnya 4 orang, menerjang seorang yeoja. Justru kalau aku bisa melawan mereka, itu namanya hebat.”

Sejenak Risa melirik kearah kaca jendela yang terbuka, lalu matanya membulat ketika melihat gelapnya langit di luar sana. “Memangnya tadi kau kenapa sih sampai bisa digebuki seperti itu? Kau korupsi? Terlibat kriminal? Atau kenapa? Kupikir, anak mentri seharusnya bersih dari masalah, kan?”

“Jangan berprasangka buruk terhadapku. Mereka semua itu suruhan mantan pacarku, tahu! Kami memang baru putus kemarin, tapi mana kutahu kalau dia akan menyuruh orang untuk menghajarku seperti tadi? Ya lagi pula, aku juga sih yang salah.. Seharusnya aku tadi tidak keluyuran sekalipun untuk membeli sebungkus ramyeon. Apalagi, tanpa pengawasan seperti tadi. Pasti pulang nanti appa akan memarah- Tunggu! Kenapa aku jadi menceritakan semua ini padamu? Memang dasar ya, mulut ini tidak tahu diri!” Lalu dengan sekali gerakan, Risa menampar mulutnya sendiri.

Taemin berdecak pelan. “Memangnya kenapa dia bisa menyuruh orang-orang seperti itu? Lalu kenapa juga kau putus dengannya?”

“Dia itu.., sudahlah. Aku jadi malas membicarakannya. Lagian kau juga bukan siapa-siapaku. Malahan, appa belum tahu tentang masalahku ini.” balas Risa sambil memejamkan matanya. “Ya sudah. Berhubung aku sudah diberi peta oleh resepsionist tadi, aku ingin pulang saja. Aku benar-benar berdoa supaya kita tidak bertemu lagi!”

Risa tersenyum tipis membalas ucapan Taemin tadi. “Aigoo, Taemin-ssi. Maaf sekali, tapi kurasa doa itu tidak akan pernah terkabul. Sebaiknya kau tidur nyenyak malam ini dan lihatlah apa yang terjadi esok pagi.”

***

Malam itu, Taemin berjalan seorang diri menuju tempat tinggal sementaranya. Setelah sampai di dalam kamarnya sendiri, Taemin dengan santainya merebahkan diri di atas kasur yang empuk. Ia memandang kaca jendela yang terbuka begitu saja, sambil otaknya menelusuri segala kejadian yang melibatkan nama Taemin hari ini. Kejadian yang ia alami.

“Risa… Sepertinya hari ini hidupku banyak dipenuhi oleh wajahnya.” gumam Taemin tanpa ia sadari. Dan entah kenapa, ia tiba-tiba tersenyum karena nama itu. Kini dia pikir rasanya menjadi salah satu bagian dari hidup Risa tampaknya tidak buruk-buruk amat. Apalagi kalau Risa bukanlah anak seorang mentri disini.

Eh? Bagian hidup?

Dugh!’

Selembar surat yang diremas-remas jatuh tepat di lantai di hadapan Taemin, lengkap dengan sebuah panah yang dilumuri oleh darah segar. Jika adegan ini Taemin lihat saat ia sedang menonton film di dorm SHINee, pastilah ia akan terkagum-kagum dengan pengiriman surat yang menggunakan panah dan darah segar. Tapi masalahnya, kini Taemin sendiri yang mengalami adegan itu. Dan harus ia akui, sekarang badannya gemetar ketakutan karena surat yang baru saja dilemparkan dari luar jendela ini.

“Tenang, Lee Taemin, tenang.. Kau tidak akan mati hanya dengan tulisan dari surat ini….” Taemin bergumam terus-menerus hanya untuk menenangkan dirinya sendiri. Perlahan, kakinya beranjak turun dari atas kasur untuk menapak di karpet merah, tempat dimana surat itu tertanam dengan panah.

Beruntung surat dengan panah itu hanya tertancap di karpet merah dan tidak mengenai kaki Taemin. Walau nyaris, tapi tetap saja jarak 3 centi meter sangat memengaruhi apakah kaki Taemin terluka atau tidak.

Meskipun ragu-ragu, tapi Taemin tetap membuka surat yang telah diremas itu. Ia membacanya dengan seksama, hingga tiba-tiba serangkaian kata itu membuat matanya membelalak kaget, tak percaya.

‘Jauhi gadis itu. Jangan berpura-pura bodoh untuk menghindar dan melupakan namanya. Aku hanya memintamu untuk menjauhinya, dan kembali ke kota asalmu. Tapi berhubung kau sudah memulai segala permainan ini dengan menolongnya, maka kau juga yang harus mengakhiri semua ini.-Choi Minho’

Bibir Taemin bergetar pelan. Beberapa kemungkinan mulai berdatangan menghiasi pikirannya setelah ia membaca surat itu. Pertama, Minho tiba-tiba mengikuti Taemin ke Switzerland dan menjadi pembunuh bayaran untuk membunuh Risa. Kedua, Minho diam-diam menjalin hubungan dengan Risa, bahkan tanpa sepengetahuan member SHINee lainnya dan ikut menyusul Taemin ke Switzerland. Ketiga, semua hal yang dipikirkan oleh Taemin hanyalah mimpi belaka.

Tapi yang Taemin yakini, ia harus berhati-hati dengan Minho untuk saat ini. Meskipun nama ‘Choi Minho’ cukup pasaran di dunia, tapi rasanya terlalu tidak masuk akal apabila ada Minho lain yang mengirimkan surat seperti itu kepada Taemin. Rasanya seperti kebetulan yang datang secara tiba-tiba. Lagipula, berhati-hati memang ada baiknya dilakukan sejak sekarang.

***
Beberapa hari belakangan ini, -tepatnya setelah Taemin bertemu dengan yeoja menyusahkan itu- Taemin benar-benar diincar banyak wartawan. Tak hanya wartawan, orang-orang biasa pun juga tega mengincarnya dan menduganya sebagai pacar baru Risa.

“Hyung.. Eotteokhae?” Taemin menunjukkan kecemasannya lewat hubungan telfon itu.

“Wae?” tanya Minho, Key, Onew, dan Jonghyun serempak.

Ya, kini si maknae itu sedang mengadakan semacam telfon yang memuat 5 orang pembicara sekaligus. Atau mungkin, bisa lebih. Walaupun pikiran-pikiran tadi malam masih merayap di otaknya saat mendengar suara Minho kembali, tapi tetap saja Taemin berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Seolah-olah surat itu tidak pernah terkirim, apalagi dengan nama pengirim Choi Minho.

“Hyung, aku.. Aku.. Ah, terlalu panjang kalau diceritakan, hyung! Intinya, sekarang aku tertahan di Switzerland karna menyelamatkan seorang yeoja. Eotteokhae, hyung?” Taemin kembali pada inti pembicaraannya ini. Untuk sementara waktu, ia harus mengesampingkan urusan surat itu. Barangkali Taemin justru bisa mengetahui siapa namja yang menjadi namja chingu nya Risa melalui surat itu.

“Ya! Memangnya kenapa sih? Kalau mau cerita, cerita yang jelas!” Key berteriak-teriak melalui telfon itu. Untung saja Key masih menikmati liburannya di London. Kalau tidak, mungkin Taemin akan habis tercincang apabila Key ikut bersamanya. “Yeoja itu anak salah satu mentri penting disini, hyung.. Dan aku terlibat skandal berpacaran dengannya. Hyung mengerti sekarang?” Taemin menjelaskan dengan emosi yang meletup-letup. Mungkin kalau digambarkan, sekarang kepalanya sudah mengepul karena asap.

“Omo! Apa banyak wartawan disekitarmu? Ini gawat, Taemin-ah!” Jonghyun jadi panik seketika. “Kelewat banyak, hyung. Sekarang justru hampir semua wartawan sudah duduk manis mengelilingi gedung tempat aku dan yeoja itu berada. Rencananya sih-”

“Tunggu! Apa kau berada di lokasi yang sama dengan yeoja itu?” Minho tiba-tiba menyela Taemin. “Eoh. Satu ruangan, malahan. Habis nanti rencananya appa yeoja ini mau datang. Entahlah, mungkin aku akan diintrogasi.” Taemin menghela napas panjang, lalu menatap kearah Risa yang kini juga menatapnya. Awalnya bibir Taemin agak bergetar saat menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan Minho tadi. Tapi setelah dipikir-pikir, memang takut terhadap Minho bukan hal yang layak untuk mendiami pikiran Taemin saat ini. Yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya supaya ia dan juga Yeong Sung bisa keluar dari Switzerland dengan selamat. “Taemin-ah! Berhati-hatilah! Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi kami, ya!” Onew menimpali. “Iya, sudah dulu ya hyung! Aku mau mempersiapkan mental dulu. Dah!”

“Yang tadi itu, Onew-ssi, ya?” tanya Risa tepat setelah Taemin menjauhkan hand phonenya. “Iya, darimana kau tahu?” Meskipun Taemin sadar bahwa ia baru saja menelefon member SHINee dengan loud speaker, tapi tetap saja rasanya mendengar suara melalui telefon akan terdengar samar-samar. Kecuali, kau memang sudah terbiasa berbicara dengan orang itu setiap harinya baik di dunia nyata maupun di telfon juga.

“Tentu aku tahu. Aku shawol, MVP tepatnya.” jawab Risa tenang. “Ada ya, shawol seperti dirimu? Biasanya yang kutahu, fans itu akan berteriak-teriak histeris saat ia bertemu dengan idol nya. Lah ini malah kau yang jadi sok menggurui, sok tegas, sok bijaksana, sok segalanya.” cibir Taemin. Ia tidak berani menatap mata Risa, takut kalau yeoja yang pandai wushu itu tahu-tahu membuat tulangnya patah atau bahkan bisa terbagi menjadi beberapa bagian kecil.

“Seperti yang kupikirkan sejak awal apabila aku memberitahumu bahwa fandomku shawol, kau akan bingung kenapa aku tidak berteriak histeris saat melihatmu. Tapi, ya.. Kalau boleh jujur, aku hanya mencoba untuk tetap tenang. Appa selalu mengajarku untuk seperti itu. Lagipula, kau bukan Onew oppa, sih! Jadi ya aku biasa saja..” jawab Risa kembali ‘sok’ tenang. “Cih, tadi panggil ‘Onew-ssi’, sekarang ‘Onew oppa’. Benar-benar labil. Ckckck..” celetuk Taemin asal. “Apa katamu?” Risa rupanya tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Taemin. “Tidak, tidak jadi.”

“Jadi pintu ini benar-benar terkunci?” tanya Taemin mengubah topik pembicaraan. Ia menerawang arsitektur ruangan ini -salah satu ruangan di rumah Risa- yang begitu megah. Dengan dinding bergaya Eropa yang penuh dengan ukiran, ia jadi benar-benar pecaya kalau appa dari yeoja setengah namja ini benar-benar seorang mentri penting di Switzerland.

Ya bagaimana Taemin bisa menahan dirinya untuk tidak menyebut yeoja ini dengan sebutan ‘yeoja setengah namja’ apabila Risa terlalu cuek, tomboy, dan juga kasar? Terlebih lagi, yeoja ini memang ahli wushu sejak kecil. Beruntung, rambut panjang Risa yang selalu dikuncir satu kadang-kadang mengingatkan Taemin bahwa dia ini memang yeoja sungguhan. Tapi mau bagaimana pun juga, Taemin lebih srek memanggilnya dengan sebutan ‘yeoja setengah namja’.

“Iya. Tapi kurasa pintu ini akan terbuka ketika appa mau datang.” Risa menjawabnya setengah malas sambil menatap pintu itu. “Aku kan awalnya hanya ingin menolongmu. Tapi justru sekarang aku yang disusahkan. Aku lelah, tahu! Melihat wartawan disana yang kelelahan karena menunggu bahan gosipan sudah membuatku lelah. Kalau begini, mungkin lebih baik aku langsung saja kabur sekalian kembali ke Seoul!” Taemin malah mengomel-ngomel sendiri. Entahlah, ia juga tidak tahu kalau perkataannya membuat Risa terkejut. Padahal, Taemin hanya ingin memancing Risa, sesuai dengan surat yang ia dapat malam itu. Ia ingin melihat reaksi Risa saat ia bilang ingin kembali ke Seoul dan angkat tangan dari semua masalah ini. Taemin tidak bisa menyangkal, tapi sebagian dari dirinya menginginkan yeoja itu untuk mencegahnya pergi.

“Jadi kamu mau melarikan diri? Ternyata semua namja sama saja, ya.. Enggak kamu, enggak dia, sama saja! Ketika sudah susah malah langsung kabur, melarikan diri, bukannya cari jalan keluar.” Risa membalasnya dengan ketus. “D-Dia? S-Siapa? P-Pacarmu?” tanya Taemin takut-takut. Kembali, Taemin memikirkan surat dari Minho sewaktu itu.

Taemin bisa merasakan dadanya bergemuruh hebat, dan lidahnya terasa kelu saat ia bertanya tadi. Kini ia dihadapkan dengan rasa takut yang disebabkan oleh dua hal. Yang pertama tentu karena surat itu. Dan yang terakhir, Taemin merasa takut saat mengingat Risa sudah memiliki namja chingu sebelumnya. Mungkin ini seperti cinta yang tak terbalas

Tidak, aku tidak mungkin menyukainya, batin Taemin mati-matian seakan menghipnotis dirinya sendiri. Disisi lain, Risa hanya bisa menundukkan kepalanya, sementara otaknya sedang berkelana, siap membuka pintu yang berisikan tiap-tiap luka kering.

“Apa dia mantan pacarmu? Yang membuat kita sekarang dalam situasi-”

“Ya! Lalu kenapa?!” bentak Risa keras. “Ya, dia yang membuat kita terjebak seperti ini! Dan kalau kau mau tahu, aku memutuskannya karna ia menghamili istri orang lain! Ia mengancamku untuk tetap saling berhubungan, tapi aku menolak dan karena itu juga ia marah padaku. Puas kamu sekarang?! Kau sama saja dengan namja bejat itu!”

“A-Aku.. Bukan begitu.. Aku..” Taemin terus bergumam tak jelas hingga akhirnya ia kehabisan kata-kata. Jujur saja, Taemin agak tidak terima saat dirinya disamakan dengan namja yang hampir membunuh Risa itu. Justru kan Taemin yang menyelamatkan yeoja itu dari ambang kematian, dan tentu saja Taemin tidak terima disamakan seperti itu. Tapi demi mendapatkan informasi lebih dari Risa, Taemin berusaha mengabaikannya. Sekalipun rasanya pedih. Pedih karena yeoja yang selama beberapa hari terakhir ini dekat dengannya tiba-tiba berbicara seperti itu. Seakan mengkhianati, ya tidak sih?

“Aku… Ah, tidak. S-Siapa nama namja itu?” tanya Taemin pelan. Setelah pertanyaan ‘kurang sopan’ itu terluncur dari mulut Taemin, ia sendiri bisa melihat tubuh Risa menegang di sebrangnya. Beruntung kini ia duduk di sebuah sofa cukup besar, dengan sebuah meja kecil menjadi pemisah antara sofa yang ditempatinya dan yang ditempati Risa. Dan karena itu juga, Taemin bisa melihat jelas ekspresi Risa, kecuali yeoja itu memang berniat menyembunyikan wajahnya.

“Dia…,” Risa membuka mulutnya ragu-ragu. Ia sendiri bingung. Tadi baru saja dia bilang Taemin sama bejatnya dengan namja itu. Tapi kenapa justru sekarang ia rasanya ingin sekali mencurahkan segala masalah ini pada Taemin? Rasanya ia seperti mendapatkan sandaran yang baru. Tempat yang ia rasa nyaman untuk berceloteh panjang lebar, Taemin.

Tiba-tiba, seorang ajumma berwajah mirip-mirip orang Korea, tidak begitu tua dengan pakaian seragam pelayan yang ia kenakan masuk ke dalam ruangan itu setelah mengetuk pintu. Rasanya, ruangan ini tidak pantas disebut kamar karena memang tidak ada ranjang di dalamnya. Mungkin, ini hanyalah ruang kumpul-kumpul keluarga Risa. Memang beruntung, ya, mempunyai keluarga kaya raya. Ruang kumpul-kumpul saja luasnya bisa seluas lapangan bola.

Ajumma itu menghampiri Risa dengan tatapan was-wasnya, lalu ia berbisik pelan tepat di telinga Risa. Entah itu untuk menjaga privasi, atau justru ajumma ini mengira Taemin seperti seorang penyelundup. Yang jelas, ia selalu menatap Taemin walau mulutnya masih membisikkan tiap kata di telinga Risa. Sebenarnya dipandang seperti itu agak membuat Taemin risih. Tapi jika berhubung ia sedang berada di ‘wilayah orang’, jadi ada baiknya jika Taemin hanya diam-diam saja.

Tak lama kemudian, Risa menyuruh ajumma itu keluar dan ia menatap Taemin dalam-dalam. “Appa akan memasuki ruang ini sebentar lagi. Kau sudah siap, kan?”

Belum saja Taemin merasakan kaget sepenuhnya, kini ia dikejutkan dengan kehadiran seorang sosok ajussi yang tak begitu tua, tapi berkulit putih layaknya orang Barat. Dan sejak detik pertama Taemin memandang, ia sudah merasa ajussi ini juga memiliki keturunan darah Korea, sama seperti Risa. Saking kagetnya, Taemin juga sampai lupa untuk menjawab pertanyaan Risa tadi.

“Jadi anak muda, kau yang menyebabkan gosip hangat ini terjadi?” tanya ajussi itu dengan bahasa Korea yang lancar, sehingga memberikan kesan yang sama pada Taemin saat pertama kali ia bertemu dengan Risa. Lagi-lagi, Taemin juga dibuat seperti orang bodoh oleh ajussi ini. Tidak ayah, tidak anak, sama saja memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab pada saat mereka pertama kali bertemu.

“Eh? Ajussi, itu-”

“Tidak, yang tadi itu tidak perlu dijawab, kok. Aku juga tahu kau yang membuat ini semua, dan aku juga tidak akan marah. Jadi, kau berasal dari Seoul?”

“Appa, dia ini salah satu member SHINee, yang sering aku ceritakan..” Risa menjawab sebelum Taemin membuka mulutnya. “Ah, jadi kau pacar barunya-”

“Appa, jangan dengarkan berita itu. Kita tidak pacaran. Kau percaya pada anakmu atau pada berita itu?” Lagi-lagi Risa yang menjawabnya. Ia ingin sekali menyudahi pembicaraan ini, lalu menyelesaikan semuanya. “Lalu, apa modusmu sehingga bisa timbul gosip itu diluar sana? Kau.. Tidak sedang ingin menghancurkan kami, kan? Maksudku, popularitas-”

“Eh? A-Ani! Tentu saja tidak!” Taemin buru-buru menyela. Ia terlalu takut kesalah pahaman akan terjadi disini. Seperti biasanya, ia memang malas dan terlalu takut untuk menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan seperti ini. Sekali salah bicara saja, bisa membuatmu masuk ke dalam penjara. Masih mending jika hal ini terjadi di negaranya sendiri. Tapi sekali lagi, masalahnya Taemin sekarang sedang berada di ‘wilayah orang’.

“Aku tadinya hanya ingin menolong Risa-ssi yang dipukuli saja, kok. Itu saja. Aku juga tidak menyangka perbuatan sebaik itu akan menimbulkan segudang masalah seperti ini.” jelas Taemin sambil sesekali memaksakan senyumnya. “Ah, kalau begitu ajussi tinggal meluruskannya sesuai dengan yang kau katakan tadi. Benar, kan?”

Taemin hanya menganggukkan kepalanya canggung seraya menatap kosong. “Tapi, kamu memangnya tidak menaruh rasa pada Risa?”

“Eh?” Taemin kelabakan menghadapi ajussi gila yang satu ini. “Putri ajussi ini can-”

“Appa!” Risa menatap tajam, tapi hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh appanya. Memang terlihat dari paras ajussi tua ini, dia orang yang humoris. “Geurae, appa akan meluruskannya dulu. Annyeong!”

Setelah appa Risa pergi, kini Taemin dan Risa kembali dikelilingi oleh keheningan. “Besok.. Hari terakhir aku disini.” ucap Taemin pelan, hampir berbisik. “Hmm. Pulanglah, masalahnya sudah selesai.”

“Eh? Masalahnya sudah selesai?” Taemin membeo dengan mukanya yang kelewat kaget hingga membuat Risa tertawa pelan. Tapi jujur, Taemin juga tidak berpikir masalahnya akan selesai dalam sehari, walaupun ia juga tidak mengharapkan masalah ini akan diungkit-ungkit terlalu lama. “Iya, sudah selesai. Aku yakin appa akan langsung membereskannya, jadi kita tidak perlu khawatir. Pulanglah, dan beri kabar kepada hyungmu. Justru kupikir mereka pasti yang sangat khawatir.”

“Dan.., Taemin-ssi,” Risa kemudian melanjutkan. “Terima kasih karena hati kecilmu sudah tergerak untuk menolongku, saat itu.”

Taemin hanya bisa memandang Risa dengan tatapan bingungnya. Tapi sejurus kemudian, Taemin berjalan menuju pintu dengan mata yang masih terpaku memandang Risa. Ia hanya bisa menurut, lalu perlahan-lahan keluar dari ruangan itu. Taemin meninggalkan Risa sendirian disana.

-tbc-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

56 thoughts on “[WFT C] Switzerlove [1.2]

  1. aaaaaaa……
    masih rada bingung ttg minho2annya…

    bahasanya bagus, ada yang kurang baku tapi ttp g mengurangi daya tarik cerita yang ringan.
    aku bayangin OFD SHinee masa cuma bawa satu juru kamera? bukannya rame2 ama pd-nya sekalia? hmmm… tapi kalo ini bayangan chingu sih it’s ok.

    kkkkk… taemin terasa masih bocah dsini, spt biasa. tapi aq msh g ngerti knp taemin bs tiba2 suka ama risa. rasa suka itu mmg bs timbul bgt aja, tapi pasti ada satu alasan yg menjadi penarik rasa suka itu sendiri.

    ayo lanjut lanjut~~~

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih comment^^
      Iya sih.. Emang rame2.. Tapi yang aku takut kalo aku disini aku pake banyak cast, jadi ga fokus sama ceritanya.. Ehehe:D
      Taemin kan berhari-hari kejebak sama Risa, nah dari situ dia jadi kenal lebih banyak tentang Risa, terus tau juga sifat Risa.. Nah dari situ deh si Taemin mulai suka~ ehehe:D
      Mungkin ga dijelasin secara rinci, ya? Maaf yaa~ eheh:D
      Sekali lagi makasih ya udah mau comment^^

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Eehehe:D part 2 nya udah di upload, silakan baca, yaa^^ ehehe:D

  2. Aku ninggalin jejak dulu chingu ^^ , nanti aku baca deh hehe…😀

    Btw… Mampir ya di ep ep aku –> We Hate (Love) You, Lee Taemin! *promosi berkelanjutan

  3. Aigoo, ini kayaknya setu nih!
    Taemin nolong cewek peranakan gitu, trus ceweknya bukan cewek biasa. Trus ada Choi Minho pula, dan gatau siapa.
    Aduuh, jangan sampai itu si Minho yang di London..xD

    Sama kayak komen pertama, rombongan SWD itu ampe sepuluh orang kalo gak salah. Ya, anggap aja ini mereka kesasar berdua, trus yang kameramennya disuruh pulang. Gak masalaah..😉

    Cara ceritainnya juga enak, mudah dimengerti walau aku bacanya rada ngebut..xD

    Kemungkinan kelanjutannya nih si Taemin ketemu sama Minho ‘si peneror’ gak yaa? Okee, ditunggu daah😀

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Iya sih.. Tapi sama seperti yang saya kasih tau di komen sebelumnya, saya lebih pengen fokusin ke ceritanya aja.. Kalo kebanyakan cast yang disebutin satu-satu, sayang kalo mereka cuma numpang nama doang^^ eheh:D
      Makasih ya udah mau komen~ hehehe:D

  4. “Hyung, aku.. Aku.. Ah–kamu kebiasaan kasih titik-nya dua, ya? yang ada itu tiga, ada juga yang diakhiri dengan spasi atau pun titik itu sendiri. just that,
    eh, tapi aku nggak kepikir loh cerita beginian. maklum nggak ada pengalaman. idenya bagus. tapi mungkin harus lebih detail, karena ada beberapa yang aku bingung. soalnya aku tuh orangnya aslinya lola. oke, mungkin bagian keduanya lebih tegang. #siapin ikat pinggang–buat apaan?
    ditunggu!

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komen:D
      Makasih atas masukan dan pujiannya^^
      hehe:D
      part 2 nya udah di upload, silakan di cek, yaa^^

  5. ini Taemin yang acara woderfulday ya?
    kok bisa kesasar siy, bukannya ada guide-nya?

    si Taemin nolong Risa, malah jadi gosip pacaran..
    kayaknya Taemin udah mulai ada rasa sama Risa😉

    Gak pa2 kalo jadi beneran, jadi bener2 wonderfullday buat Taemin..😛

    penasaran Juga sama ‘Minho’
    surat pake panah jadi ngebayangin drama korea yg kolosal deh..😀

    Ok Nia, ditunggu lanjutannya ya..🙂

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar^^
      Iya… Tapi ini kan cerita nya fiksi, jadi ya anggap aja guide nya lagi ga ada(?)
      Lagian juga waktu di filmnya, saya inget member SHINee kayak di ajak buat mandiri.. Meskipun mereka ga tau bahasanya, mereka kan disuruh coba sendiri gitu buat tanya orang lain..

      ehehe:D iyaa~
      Makasih ya udah mau komen~ part 2 nya udah keluar, silakan di cek yaa^^

  6. Choi MinHo, Choi MinHo yang mana?
    SHINee Choi MinHo?
    Andwae… Maldo andwae
    Tapi kok bsa cuman 1 staff kameramen yg ikut, harusnya staff yang lain juga ikut paling tidak 5 orang ke ataslah.
    Lanjutkan author (งˆ▽ˆ)ง

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Choi minho yang mana, yaaa~~ hayoloh(?)
      jawabannya ada di part 2^^
      Sama seperti jawaban sebelumnya, saya cuma mau fokus ke ceritanya aja^^ sayang kan kalo saya pake banyak cast, tapi cuma mejeng nama doang? Ehehe:D
      Makasih ya udah mau kasih komentar^^ part 2 nya udah di upload, silakan di cek, yaa:D

  7. masih bingung tentang minho-nya. itu beneran minho shinee ato minho minho yang lain?
    anway ceritanya bagus. bahasanya ringan dan gak berbelit-belit.
    ditunggu kelanjutannya author😀

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Biar ga bingung, coba deh baca part 2 nyaa:D eheh:D
      Makasih ya^^ part 2 nya udah di upload, silakan di cek, yaa:D

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Part 2 nya udah di upload, silakan di baca, yaa^^ Terima kasihh~

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Ga ngerti yang mananya, ya? hehe:D
      Part 2 udah di upload, silakan di cek, yaa:D

  8. Halo, Nia! ^^
    Switzerlove ini judulnya aja sudah menarik banget, lho! Dan ternyata idenya juga lumayan menarik. Cuma mungkin aku mau membahas beberapa hal dari cerita ini.
    Pertama, aku nemuin beberapa penggunaan kata yang kurang efisien. Jadi yang tadinya sudah terungkap hanya dengan beberapa kata, tapi jadinya kurang ‘cantik’ karena ada kata terselip yang ‘boros’. Misalnya ini:
    “…Taemin belum juga pulang kembali ke tempat tinggal sementaranya.”, di situ kamu menggunakan kata ‘pulang’ dan ‘kembali’ dalam satu kalimat. Padahal dengan salah satunya saja, maksudmu sudah tersampaikan. Dan ada lagi, tapi itu contohnya.
    Kemudian, jika pada kalimat pertama sudah menggunakan nama cast, kalimat kedua sebaiknya menggunakan kata ganti. Misalnya pada paragraf pertama:
    “Malam hari semakin dingin, dan Taemin belum juga pulang kembali ke tempat tinggal sementaranya. Taemin mengeratkan baju hangatnya, lalu mulai berjalan lagi melewati tumpukan salju yang menggunung. ‘Hyung, kita masih lama, tidak sih?” Taemin menggerutu pelan.”. Di sana terdapat Taemin, Taemin, dan Taemin. Semua menggunakan ‘Taemin’. Padahal polanya akan lebih enak jika menggunakan ‘Taemin’ (kalimat 1), ‘dia’ (kalimat 2), dan ‘pemuda itu’ atau ‘maknae SHINee itu’ (pada kalimat 3). Lebih beragam dan tidak membosankan.
    Terus, panggilan menggunakan huruf besar, ya. Appa, Oppa, Hyung, itu semuanya harus menggunakan huruf besar. Oh iya, Nia suka memberi tanda strip pada bagian penggantungan dialog ya? Kayak di novel. I like it that way ^^ coba stripnya kamu tambahin lagi, biar terlihat ^^ (itu sih cara yang suka aku gunakan kalau membuat dialog bersambung menggunakan strip)

    Bicara ide lagi, nih. Idenya seru. Dan aku suka caramu bercerita. Meskipun masih kaku, tapi pengemasan cerita terasa segar dan renyah. Contohnya pas bagian Risa yangm ternyata MVP, trus Taeminnya bilang: “Tadi panggil Onew-ssi, sekarang Onew Oppa, dasar labil, ckckck” ^^ itu ekspresi yang renyah. Semoga part 2-nya nanti klimaks dan bisa lebih seru lagi.
    Aku datang lagi di part 2 nanti, ya, Nia! Semangat!

    1. Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar:D
      Makasih juga atas masukan dan pujiannya^^ sangat membantu, terima kasih yaa:D
      Part 2 udah di upload, silakan di cek, yaa^^ hehe:D

  9. Author, sumpah aku penasaran banget sama si minho itu.
    Ga nyangka, ternyata masih ada juga jaman orang yang ngirim surat pake panah………sama darah.
    Ih aku sih kalo jadi taemin, aku bakal jerit ketakutan ><
    Anyway, ff nya bagus~ good luck ya thor~^^

  10. HIIIHHHHH KEREN BANGETTTT APALAGI BAHASANYAAAAAA AHHSHXNAHSNAHXBANNS CERITANYA JUGA BIKIN PENASARAN DAN GAK BOSENIN :3 dan ternyata taemin suka sama risa… Padahal taemin punya aku…… Eh salah…. Part 2nya dongggg ;D

  11. ngakak ye tetem, ada yang nggak ngepens sama kamu. noh pensnya onew banyak sampe ke zwitser *ini apaan coba*

    oke, ide cerita uda menarik meski ada beberapa kalimat yang tidak efisien. penasaran sama risa, beberapa adegan nggak mainstream jadi suka. tp minho jahat masa *potek ahahha
    keep writing saeng

    1. Makasih ya eon udah mau mampir dan kasih komentar:D
      ehehe:D iya nih. aku juga ga sadar tau-tau bisa bikin minho karakternya sejahat gitu U,u
      Makasih ya, eonn:D

  12. Cang cang canggg
    Cara berceritanya secara keseluruhan bikin enjoy yang baca, pas😀
    Kekurangannya, entah bisa disebut kekurangan atau engga, kadang aku ngerasa penggunaan kata engga bakunya agak mengganggu di sini, tapi ga apa deh.

    Ada yang masih aku pikirin tentang Minho. Hmmm, penasaran ini Minho siapa
    Maapin ya komenku ga mutu banget *bow*

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Ah, ga juga kok.. Ada juga yang masih penasaran sama minhonya xD
      Makasih ya komentarnya:D

  13. Bagus ceritanya, aku suka:) Tapi aku agak bingung, di sini kenapa si minho itu ada? Bukannya dia ada di London gitu? Atau emang dia dibikin ada di Korea?
    Overall, ceritanya seru. Aku suka bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti^^ semoga part 2 lebih menegangkan! AUTHOR FIGHTING^^ GOOD LUCK YAA THOORRR~~~~ KEEP WRITINGGG!

  14. Ceritaaanya baguss, tp aku kurang ngerti sm jalan ceritanya. Tp setelah baca ff ini, aku jd keinget sm perjalanan mrka wkt ke luar negeri, aku jd ngebayangin kalo taemin kyk gitu beneran hahaha..
    Lanjut next part.. Thanks author nia..
    Aku udah laksanakan permintaannya hehehe^^

  15. alurnya terlalu singkat, aku belum ngerti awalannya. tapi udah tergambarlah. wah sebenernya siapa ex-namjachingu risa. dan choi minho yg ngirim surat itu sebenernya cuman pembunuh bayaran apa ex-namjachingunya risa ? taemin nya masih polos #eh.

    1. Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar:D
      Kalau untuk alur, aku udah berusaha sebisa mungkin. Tapi mungkin emang hasilnya kurang memuaskan, maaf yaa..
      Kalau belum ngerti, baca aja part 2 nya.. Semua jawaban ketemu di sana:D

  16. huhu penasaran siapa yang ngirim surat itu! beneran minho atau orang lain yg namanya sama, trus si risa itu noona atau bukan ya? penasaran ._. *plakk

    oke sipp, ceritanya aku suka! lanjut baca yg selanjutnya hehe “b

    1. Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar:D
      HahaaaxD aku ga pernah mikir si risa ini sebenernya lebih tua/lebih muda dari taemin sih…………….. (ketawan ga mikir panjang) tapi aku inget-inget lagi dari cara penceritaannya di sini, kayaknya sih aku mengimajinasikan risa sebagai sosok yang lebih muda dari taemin, tapi juga lebih dewasa secara papanya kan mentri gitu.. Hehehe:D
      sekali lagi makasih yaaa:D

    1. Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar:D
      yang ngirim surat si minhoooo xD emang kayaknya surat itu ngebingungin, yaa? Hehehe:D kalo bingung, baca part 2 nya ajaa.. Hehehea:D
      Makasih ya udah mau kasih komen:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s