[WFT B] Another Destiny [1.3]

judul : Another Destiny

author : Go Eunmi

Main cast : Lee Taemin, Lee Hyora

support cast : Choi Minho, Kim Kibum, Kim Hyuna, Cho Hana, Go Eunmi

Length : sequel 1-3

Rating : PG-13

Genre : Romamce

PicsArt_1373388543350

Gwangju, 2010

Selalu ada kata yes setiap lonceng sekolah berbunyi kemudian semua siswa berhamburan keluar kelas dengan gembira persis seperti monyet yang dilepas di hutan bebas. Taemin memasukan bukunya ke dalam kolong meja lalu beranjak dari kursi dan keluar kelas. Tapi sebelum dia mencapai pintu kedua temannya langsung merangkulnya mengikuti langkah kakinya. Saat akan keluar kelas ada tiga orang siswi perempuan yang lewat didepan kelas mereka. Salah satu dari mereka melihat sosok Taemin kemudian mendadak berhenti.

“Taemin-ah” panggil salah satu gadis yang rambut ikalnya diikat satu kebelakang. Taemin menoleh lalu tersenyum manis kepada gadis itu. Gadis tersebut berjengit lalu mengepalkan kedua tangannya di depan dada karena terlalu senang.

mau tidak ya dia pergi ke kantin bersamaku

Taemin mengernyit, menyipitkan matanya lalu tersenyum kecil ketika pikiran gadis itu terbaca olehnya. Taemin langsung merencanakan sesuatu.

“Kami mau ke kantin. Kalian mau ikut dengan kami?”

Mata Minho langsung membesar. Dia yang berada tepat disamping Taemin kaget mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Taemin dengan lancar tanpa beban. Kibum yang berada di samping Minho juga tak kalah syok. Mulutnya ternganga lebar sambil menatap Taemin tidak percaya. Sementara Taemin mengangkat kedua alisnya dengan santai seakan ini adalah hal biasa. Padahal kejadian ini sangat langka sekali. Pasalnya gadis yang bernama Hyuna sering sekali mengajak Taemin pergi tapi Taemin selalu menolak. Hyuna tidak pernah menyerah untuk mendekati Taemin dengan cara apapun. Dan sekarang dia seperti mendapat durian runtuh mendapat ajakan langsung dari Taemin walaupun hanya pergi ke kantin.

“Mauuu!!” teriak Hyuna memekakkan telinga. Minho langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya. Kibum mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Taemin sedikit memundurkan kepalanya ke belakang sambil menutup matanya mengusir suara yang menyengat gendang telinganya. Kedua teman Hyuna juga berlaku sama. Mereka tampak kesal dengan reaksi Hyuna yang terlalu berlebihan itu.

Hya! Kau itu hanya diajak ke kantin bukan liburan gratis ke Eropa!” omel Kibum pada Hyuna. Hyuna hanya memicingkan mata pada Kibum tidak peduli dengan ocehannya.

Kaja.” Hyuna langsung menggandeng tangan Taemin tanpa permisi. Tubuh Taemin langsung diseret Hyuna menuju kantin. Sementara teman-temannya hanya mengikutinya dari belakang.

Aahh selama ini usahaku membuahkan hasil. Apa Taemin mulai tertarik padaku ya?

Taemin mengulum senyum menahan tawa saat pikiran gadis itu terbaca olehnya. Hyuna terlihat sangat gembira disamping Taemin. Dia berjalan sambil menghentak-hentakkan langkahnya membuat kunciran kudanya terayun ke kanan dan ke kiri.

Semua siswa yang ada di kantin langsung memperhatikan sosok Taemin dan juga Hyuna saat mereka berdua menapakkan kakinya di kantin. Semua siswa sudah tahu bahwa Hyuna menyukai Taemin tetapi Taemin selalu menolaknya. Maka dari itu mereka semua kaget kenapa Taemin tiba-tiba bisa bersama Hyuna, bergandengan tangan pula. Saat mereka berjalan menuju salah satu bangku mata-mata itu sama sekali tidak terlepas dari mereka.

“Taemin-ah kau mau makan apa? Silahkan pesan sesukamu. Tenang saja aku yang bayar.” Kata Hyuna dengan gembira sambil terus menatap Taemin tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.

“Benarkah?” mata Taemin langsung berbinar-binar. Lalu melayangkan pandangannya keseluruh penjuru kantin memilih makanan apa yang akan dia pesan.

“Tunggu,” cegah seseorang yang langsung nimbrung di tempat duduk mereka. Minho menaruh tangannya di atas meja. “Ini tidak adil. Jika Taemin makan gratis, kami juga!” tandas Minho dengan tajam diikuti dengan anggukan setuju dari Kibum, lalu kedua teman Hyuna juga ikut-ikutan. Hyuna membelalakan matanya.

“Aaa shireo! Ini untuk Taemin saja. Kalian bayar sendiri.”

“Tidak bisa! Jika kau tidak mau kami akan mengambil Taemin.” Kibum langsung menangkap tangan Taemin membuat dia mengalihkan pandangan matanya yang kelaparan. Taemin mengernyitkan dahinya tidak paham dengan keributan yang tiba-tiba.

“Ayo.” Kibum menarik Taemin dari kantin seperti ibu-ibu yang menarik anaknya yang nakal. Taemin langsung mencekal tangannya.

“Mau kemana?” tanya Taemin heran.

“Oke, oke. Aku akan mentraktir kalian juga.” Hyuna akhirnya memutuskan dengan terpaksa sambil menggembungkan pipinya. Dia tidak mau kehilangan kesempatannya berdekatan dengan Taemin.

Kibum dan juga Minho langsung tersenyum penuh kemenangan. Taemin langsung tahu apa yang ada dipikiran kedua temannya ini. Dia ikut cekikikan lalu duduk bersama makan gratis dari Hyuna. Dunia memang adil.

***

“Jadi itu maksudmu tiba-tiba mengajak Hyuna ke kantin bersama?” tanya Minho dengan tampang yang sangat ingin tahu. Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.

Aish otakmu memang licik.” Cibir Kibum.

“Otak kalian berdua yang lebih licik.” Taemin menunjuk-nunjukkan telujuknya ke kepala kedua temannya itu. “Teganya minta traktir pada Hyuna. Kalau dia tidak bisa bayar bagaimana?”

“Kita bukan licik, hanya memanfaatkan keadaan. Jika dia menginginkanmu, dia harus melewati kami terlebih dahulu.” Ucap Minho seperti pengawal kerajaan yang gagah.

“Setuju!” sahut Kibum. Lalu mereka berdua saling tos dengan gembira.

“Kalau kau kenyang, kita juga harus kenyang.”

“Dasar otak rakus. Cukup! Ini yang terakhir.” Putus Taemin begitu saja.

“Payah.” Kibum memukul kepala Taemin membuat pria itu meringis dan mengusap-ngusap kepalanya yang kena pukul.

“Bukan begitu. Hyuna sudah mulai salah paham padaku. Kalau dia terus-terusan seperti ini bisa-bisa aku yang repot.”

“Yang penting kita kenyang, iya tidak?” Minho meminta persetujuan dari Kibum dengan melirik Kibum yang terhalang oleh Taemin.

That’s right!” jawab Kibum sok Inggris sambil mengacungkan jempolnya.

Aish… apa tidak ada yang bisa kau pikirkan selain makanan? Hah? Dasar pria brengsek kau!” Taemin mengacak-ngacak rambut Minho lalu menekan kepala Minho hingga terlengkup kebawah sambil tertawa-tawa. Tangan Minho menggapai-gapai mencari topangan tapi Taemin justru menambah intensitas tekanannya. Sedangkan Kibum hanya tertawa-tawa tidak membantu.

“Kau yang lebih berengsek Taemin-ah!” balas Minho yang kini tangannya sudah menarik seragam Taemin. Kemudian dalam hitungan detik Minho langsung bisa melepaskan diri karena tenaga Minho memang lebih besar dari Taemin. Kini giliran Minho yang membalas Taemin.

“Hahaha rasakan!”

Ya! sakit bodoh!”

***

Taemin melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Dia langsung menemukan kakeknya sedang duduk santai diatas kursi goyang di ruang tengah yang menghadap langsung ke halaman dengan pemandangan rumput hijau dan pepohonan. Kursi goyang itu bergerak pelan sekali. Taemin memperhatikan kakeknya yang termenung menatap halaman rumah. sama sekali tidak menyadari kedatangan Taemin.

Semakin hari aku semakin menua. Ada waktu dimana aku akan meninggalkan Taemin sendiri. Seharusnya dia bersama dengan orang tuanya, bukan hidup kesepian bersamaku disini.

“Siapa yang bilang aku kesepian?” kakek Han langsung menoleh. Lalu tersenyum ketika menemukan Taemin sedang berdiri sambil bersandar di kusen. Dia memperhatikan Taemin dengan seksama.

Cucuku sudah besar rupanya.

Taemin tersenyum saat membaca pikiran kakek Han lalu menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Taemin mendekat ke arah kakek Han lalu berlutut di hadapannya.

“Kakek, selama aku hidup dengan kakek aku tidak pernah merasa kesepian. Sama sekali tidak. Jika kakek pergi meninggalkanku, aku juga tidak akan pernah kesepian. Sekalipun kakek pergi dan tidak akan pernah kembali, tapi kakek akan tetap hidup di hati seorang Lee Taemin.”

Kakek Han tertawa senang khas orang tua. Tangannya yang keriput menepuk-nepuk pelan pundak Taemin.

“Tidak sopan membaca pikiran kakekmu.” Jawab kakek Han tidak nyambung.

“Ini bukan keinginanku kek. Jika aku bisa aku akan menghentikannya. Tapi sayangnya, pikiran kakek itu seperti lembaran buku yang terbuka lebar. Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Kepala Taemin menggeleng-geleng pura-pura prihatin. Kemudian diikuti tawa kakek Han menggema di seluruh ruangan.

Lee Taemin, laki-laki berusia 18 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah atas tingkat tiga memang berbeda seperti remaja lainnya. Dia memiliki sisi lain yang orang lain tidak tahu -kecuali kakek Han- yaitu kemampuan membaca pikiran orang. Dia menyadari kemampuannya itu semenjak dia duduk di sekolah dasar. Saat dia terus-menerus bisa mendengar orang berbicara tanpa menggerakan mulut mereka. Dia langsung menceritakan keanehan ini pada kakek Han. Kakek Han awalnya heran, tapi dia mulai menyadari bahwa Taemin memang benar-benar bisa membaca pikiran orang. Sejak Taemin bayi dia sudah tinggal bersama kakek Han. Taemin hanya tahu keluarga satu-satunya adalah kakek Han dan kakek Han bilang kedua orang tua Taemin sudah meninggal sejak dia masih bayi.

“Tapi kakek serius, jika nanti kakek pergi tidak ada yang menjagamu.”

“Kakek,” ucap Taemin serius. “Seperti yang kakek bilang, aku sudah besar. Aku laki-laki. Aku bisa menjaga diriku sendiri. kakek harus percaya itu. Dn percaya satu hal, Tuhan pasti akan menjagaku juga. Oke?”

“Baiklah, kau memang sudah besar. Cucuku sudah menjadi laki-laki yang pemberani rupanya.”

“Aku tidak pernah takut pada apapun kek. Ingat itu.” kata Taemin dengan nada memperingati menimbulkan gelak tawa lagi dari mulut kakek Han.

***

Suara huru-hara terdengar di seluruh penjuru kelas. Ada yang saling melempar kertas satu sama lain. Ada yang menggebrak-gebrak meja seakan-akan itu adalah sebuah drum, lalu ditambah dengan sebuah sapu yang dijadikan sebagai gitar dan mereka bernyanyi seakan sedang di atas panggung megah. Sementara Taemin duduk di kursinya dengan sepasang headset yang menyumbat telinganya. Dia tidak tahan dengan suara bising yang ada di kelas. Bukan hanya suara-suara berisik yang keluar dari mulut teman-temannya tetapi juga kebisingan yang keluar dari pikiran mereka. Mata Taemin yang menerawang keluar kelas tiba-tiba memfokuskan pandangannya pada satu titik. Pada seorang gadis berambut hitam lurus dengan tubuh yang pendek, wajah mungil dan mata coklatnya yang tidak seperti kebanyakan orang Korea. Taemin terus menatap gadis tersebut yang menggendong tas berwarna pink tanpa berkedip. Gadis itu berjalan disamping Jung seonsaengnim. Taemin tiba-tiba menegakkan tubuhnya lalu melepas headset yang menyumbat telinganya saat gadis itu dan Jung seonsaengnim mendekat ke arah kelasnya. Dia berdiri tapi langsung diam saat Jung seonsaengnim masuk kedalam kelasnya. Keributan semua siswa mendadak lenyap seakan ditelan bumi. Semuanya langsung duduk rapi di kursinya masing-masing. Taemin masih menatap gadis yang berdiri dibelakang Jung sonsaengnim. Tubuhnya merosot perlahan ke kursi tapi matanya tetap fokus. Dia merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya. Entah apa itu, Taemin pun tidak begitu mengerti. Yang jelas gadis itu seperti memiliki kekuatan yang mampu menarik perhatian Taemin dan membuat Taemin tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

“Perhatian semuanya!” Jung sonsaengnim berdiri di depan kelas dengan suara lantang. “Kita kedatangan siswa baru dari Seoul.” Lanjutnya, lalu suara kasak-kusuk semua siswa mulai terdengar.

“Silahkan perkenalkan dirimu.” ucap Jung sonsaengnim pada anak baru itu.

Gadis itu langsung gugup. Dia memainkan jari-jarinya yang di taruh di depan perutnya. Kepalanya mendongak membuat semua siswa menjadi ricuh.

“Waaaaw beautiful.” Celetuk Kibum yang diikuti pukulan teman-temannya di tubuh Kibum. Gadis itu langsung menundukan kepalanya karena malu.

Ya! Kibum jangan centil kau.” Omel salah satu siswi disitu dengan mengibaskan rambutnya. Kemudian semua siswa bersorak berisik sekali.

“Diam!!” Jung sonsaengnim menggebrak meja membuat suara berisik itu perlahan lenyap menyisakan bisikan-bisikan kecil.

“Silahkan perkenalkan dirimu.” ulang Jung sonsaengnim.

Gadis tersebut perlahan mendongak lagi, menarik napasya. Semua pandangan mengarah padanya tanpa teralihkan. Apalagi Taemin yang sejak tadi hanya diam, biasanya dialah biang keladi dari setiap keributan yang ada di kelas. Entah kenapa gadis itu seolah-olah telah menyerap energinya.

“S-se-selamat pagi.” Ucap gadis itu gugup dan menelan ludah perlahan. “Namaku Lee Hyora. Aku pindahan dari Seoul. Semoga kita bisa bekerja sama. Terima kasih.” Hyora kemudian membungkuk sopan.

“Nah, sekarang kau boleh duduk di..”

“Disini saja.” Taemin berdiri tiba-tiba membuat semua siswa menoleh padanya. Hyora kaget dan langsung menatap kearah Taemin. Saat itu juga jantung Hyora langsung berdebar kencang. Tubuhnya mulai panas dingin. Dia terserang sengatan listrik yang begitu hebat saat menatap mata Taemin dan senyum Taemin yang sangat menawan.

Ya! Apa maksudmu? Kau mengusirku hah?!” Dongjoon membelalakan matanya tidak terima pada Taemin karena kursinya akan di monopoli oleh Taemin.

“Kau bisa pindah kebelakang.”

Aish menyebalkan sekali. Seenaknya mengusirku dari tempat dudukku sendiri. Awas kau Taemin!

Taemin mengernyit saat pikiran Dongjoon melintas begitu saja. “Cepat!” Taemin dengan seenak jidatnya menarik kerah seragam Dongjoon membuat laki-laki itu mau tidak mau berdiri darikursinya dan duduk di kursi belakang. Dongjoon begitu sangat kesal kepada Taemin yang bertingkah sesuka hatinya.

“Taemin kau tidak bisa mengusir Dongjoon.” Jung sonsaengnim angkat bicara, Dongjoon tersenyum lebar senang karena mendapat pembelaan dan langsung menyambar tasnya lalu duduk kembali disamping Taemin. Taemin mendelik kesal lalu duduk.

“Hyora, kau bisa duduk di..” Jung seonsaengnim mencari tempat duduk kosong. “Ah, duduk di sebelah Minho saja.”

Minho tersentak dan menoleh ke sampingnya. Kursi di sebelahnya memang kosong tidak ada orang. Itu karena dia tidak mengijinkan siapapun duduk disitu. Menurutnya memiliki teman sebangku itu akan membuat konsentrasi belajarnya terganggu. Apalagi jika dia sedang membaca buku atau bermain game.

“Tapi seonsaengnim. Ini..”

Minho menghela napas tidak bisa melanjutkan kalimatnya. dia tidak bisa menolak karena yang meminta adalah Jung seonsaengnim sendiri. Akhirnya Hyora berjalan menuju kursi disebelah Minho atas perintah Jung seonsaengnim. Dengan takut-takut Hyora duduk di sebelah Minho sementara Minho menekuk wajahnya karena kesal. Mulai sekarang dia tidak akan bebas lagi karena sekarang dia memiliki teman sebangku yang akan mengganggunya. Minho sama sekali tidak melirik pada Hyora membuat Hyora sendiri jadi takut duduk bersama Minho. Taemin yang masih kesal karena rencananya gagal menatap kearah Hyora dan Minho. Dia mendelik tidak suka.

Astaga guru sialan itu kenapa meminta gadis mata coklat ini duduk disampingku. Bisa-bisa konsentrasi belajarku terganggu habis-habisan. Menyebalkan!

Taemin tersenyum mendengar runtukan Minho. Dia langsung punya rencana bagus untuk itu. Taemin cekikikan seperti orang tidak waras. Dongjoon mengernyit memperhatikan gelagat Taemin yang aneh. Tadinya kesal sekarang malah cengar-cengir sendiri.

Ya Taemin-ah, kau mirip orang gila.” Tandas Dongjoon pada Taemin.

Aish, diam kau! Aku marah padamu.”

“Hah? Aku juga marah padamu.”

Alhasil Dongjoon dan Taemin saling melempar pandangan satu sama lain persis seperti para gadis-gadis labil.

Taemin terus menatap Hyora tanpa henti. Entah kenapa gadis itu seperti magnet yang menarik dirinya untuk terus-menerus menarik perhatiannya. Sebelumnya tidak ada yang bisa melakukan seperti ini pada Taemin. Taemin menelusuri setiap lekuk wajah Hyora inchi demi inchi tanpa bosan. Saat matanya memandang mata Hyora dia mendadak merasa aneh. Kenapa matanya seperti itu. Matanya bagus sekali. Langka. Lama diperhatikan Taemin merasa ada yang aneh pada diriya. Bukan. Tapi ada yang aneh pada diri Hyora. Hyora memang beda. Gadis itu benar-benar unik dan langka. Bukan penampilan dan wajahnya yang mirip boneka tapi juga pikiran Hyora. Dari awal Taemin melihat Hyora, Taemin sama sekali tidak bisa membaca pikiran gadis itu. pikiran Hyora sangat sepi dan sulit sekali untuk dibaca. Seperti ada sesuatu yang menutupi pikirannya sehingga Taemin tidak bisa membacanya. Taemin jengkel setengah mati. padahal dia sudah konsentrasi penuh pada Hyora tapi tetap saja pikiran gadis itu sunyi dan sepi. Tidak ada satu patah katapun yang bisa dibaca oleh Taemin. Ini benar-benar aneh. Tidak bisanya dia sulit membaca pikiran orang lain. Biasanya pikiran mereka selalu terlintas dengan mudah.

***

Taemin pulang ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan teman-temannya. Dia sudah cukup jengkel dengan dirinya sendiri karena tidak bisa membaca pikiran Hyora membuat dia stress setengah mati. yang ada di pikiranya saat ini adalah, dia harus cepat-cepat pulang ke rumahnya bertemu kakek Han dan menceritakan keanehannya. Dia sangat ingin tahu kenapa pikiran Hyora begitu sunyi seperti ada penghalang besar yang membuat dirinya tidak bisa memasuki pikiran Hyora.

Begitu pintu rumah terbuka Taemin langsung membuka sepatu tanpa menaruhnya di rak sepatu seperti biasa. Dia berlari ke dalam rumah mencari keberadaan kakek Han. Taemin menemukan kakek Han berada di halaman rumahnya sedang memotong rumput sambil bersenandung.

“Kek,” napas Taemin naik turun dengan cepat. Peluh membasahi wajahnya. Kakek Han mengerutkan dahinya merasa bingung. Taemin begitu lusuh seperti habis lari maraton.

“Ada apa Taemin-ah?”

“Kek,” Taemin ikut berjongkok di samping kakek Han dengan wajah yang serius dan napas yang memburu. “Ceritakan padaku kenapa aku tidak bisa membaca pikiran Hyora.” Lanjut Taemin dengan memegang kedua pundak kakek Han dengan paksa. Kakek Han tambah bingung.

“Hyora? Siapa dia?”

Taemin menepuk jidatnya merasa dirinya bodoh. Tentu saja kakek Han tidak tahu siapa Hyora. Kepanikan membuat Taemin tidak bisa berpikir jernih.

“Dia anak baru di kelasku. Dan dia… aneh sekali. Dia berbeda. Hyora seperti memiliki benteng besar yang tidak bisa aku masuki. Pikirannya sunyi, sepi, tidak terdengar apapun olehku.” Penjelasan Taemin yang beruntun membuat kakek Han mengangguk-anggukan kepalanya seolah paham. Kakek Han berdiri tanpa menjawab pertanyaan Taemin, lalu menaruh gunting rumputnya di kotak perkakas dan masuk kedalam rumah. Taemin ikut berdiri dan menggaruk-garuk kepalanya merasa bingung dengan kakeknya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Kakek Han membuka sarung tangannya, meletakkannya di meja lalu duduk di kursi goyangnya.

“Kek,” Taemin mendekati kakek Han menuntut jawaban tidak sabaran. Tapi kakek Han malah menatap Taemin dengan tatapan tidak percaya.

“Itu.. wajar.” Akhirnya kakeh Han bicara. “Duduk lah dulu. Kakek akan menceritakan sesuatu padamu.”

Taemin yang rasa penasarannya sudah di ujung tanduk langsung menuruti perintah kakek Han duduk di sofa tepat di hadapan kakek Han.

Kake Han berdehem kemudian menarik napas. “Berarti kau telah bertemu dengan dia yang ditakdirkan untukmu.” Kakek Han tampak tersenyum kecil membuat wajahnya yang keriput terangkat. Taemin semakin bingung dan mencondongkan tubuhnya kedepan, menopang dagunya dengan kedua tangannya siap mendengarkan dengan baik.

“Bertemu?” Taemin memiringkan kepalanya.

Ne, ada dua tipe manusia yang tidak bisa kau baca pikirannya Taemin-ah.” Ucap kakek Han dan Taemin terlihat bingung. “Tipe pertama adalah orang yang masih sedarah denganmu. Itu artinya orang itu memiliki ikatan saudara kandung atau saudara sedarah denganmu. Dan tipe kedua adalah,” kakek Han tersenyum penuh misterius dan membuat Taemin semakin penasaran.

“Manusia seperti apa?” tuntut Taemin tidak sabaran.

“Pasti kau menyukai bagian ini.” kakek Han tertawa membahana. “Tipe kedua adalah manusia yang ditakdirkan untukmu. Artinya orang itu adalah jodohmu.”

Taemin menganga lebar dengan wajah yang antusias. Dia tidak pernah tahu bahwa ada beberapa manusia yang tidak bisa dibaca pikirannya. Dan tipe kedua ini membuat Taemin terkejut dan takjub bukan main. Taemin mulai berpikir tentang Hyora. Dia gadis pertama sekaligus orang pertama yang tidak bisa ia baca pikirannya. Dia menyangkut pautkan tipe-tipe orang itu dengan Hyora. Tipe pertama adalah orang yang sedarah dengannya. Semacam saudara. Tapi dia dengan Hyora baru pertama kali bertemu, lagipula dia tidak mungkin memiliki saudara karena sejak bayi dia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah kakek Han. Dan kemungkinan besar Hyora adalah tipe orang kedua, yang berarti Hyora adalah gadis yang ditakdirkan untuknya. Astaga! Ini mustahil. Ini ajaib. Taemin membatin.

Taemin masih menyelami pikirannya sendiri. Senyumnya mengembang tiba-tiba dan jantungnya bertalu-talu gembira. Dia tidak menyangka bahwa dia begitu mudah menemukan takdirnya, bahkan sekarang sudah ada di depan matanya. Hyora, gadis pertama yang ia tidak bisa baca pikirannya. Ini tantangan. Ini kali pertama bagi Taemin menerka-nerka bagaimana isi hati dan isi di kepala orang lain. Pasti akan sangat menyenangkan mengenal seseorang secara bertahap tanpa tahu apa yang ada di pikirannya. Tapi… Taemin menatap kakek Han penuh selidik. Penjelasan kakek Han tadi memberikan sedikit keganjalan di hati Taemin dan banyak pertanyaan aneh di otaknya. Jika orang yang sedarah dengannya tidak bisa ia baca pikirannya kenapa dia bisa membaca pikiran kakek Han?

“Kek,” Taemin berkata di tengah-tengah lamunannya. Kakek Han mengangkat kedua alisnya yang putih. “Kenapa… aku bisa membaca pikiran kakek? Bukankah kakek itu sedarah denganku?”

Kakek Han diam. Raut wajahnya berubah sendu. Dia mengusap wajahnya dengan tangannya. Kakek Han bangkit dari kursi goyangnya dan berlalu dari hadapan Taemin. Sikap kakek Han berubah seketika seperti menyembunyikan sesuatu. Tak lama kemudian kakek Han kembali dengan sebuah kotak kardus kecil di tangannya. Kakek Han duduk disamping Taemin dengan memberikan kotak kardus yang ada ditangannya kepada Taemin. Tangan Taemin menerima dengan penuh tanya. Didalam kotak kardus kecil tersebut ada beberapa barang yang sudah usang, seperti barang lama. Taemin mengaduk isi kardusnya dan mengambil satu lembar foto didalam sana. Gambar yang ada di foto itu adalah dua orang dewasa sedang tersenyum bahagia. Taemin memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Mendadak seperti ada benda keras membentur hatinya. Mata Taemin berkedip beberapa kali.

“Siapa mereka kek?” tanya Taemin tanpa mengalihkana pandangannya. Jemarinya begitu erat menggenggam gambar tak bergerak itu.

“Mereka adalah kedua orang tuamu. Mereka datang pada kakek memberikan kardus tersebut dan menitipkanmu ketika kamu masih bayi. Kakek bukan siapa-siapa, kakek hanya tetangga rumah orangtuamu. Kakek hidup sebatang kara. Istri kakek meninggalkan kakek sendiri tanpa keturunan. Pada saat itu kedua ibumu menangis sambil menggendongmu sementara ayahmu terlihat sangat kalut dan kacau. Mereka bilang, mereka akan kembali untuk mengambilmu tapi beberapa bulan kemudian kakek mendengar kabar bahwa kedua orangtuamu meninggal karena kecelakaan mobil. Dan mulai dari situlah kakek berniat merawatmu seperti cucu kakek sendiri.”

Tatapan Taemin kosong. Benaknya tidak tenang. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Giginya bergemelatuk dan rahangya terkatup. Matanya mulai memerah tapi tidak menangis. Selama ini dia hanya tahu kakek Han adalah kakek kandungnya, ayah dari ibunya. Ternyata kakek Han bukan kakek kandungnya. Hanya seorang pria sebatang kara yang bermodalkan rasa kasihan dan tanggung jawab untuk merawatnya sampai sekarang.

“Ini, ibumu memberikan cincin ini padamu. Ibumu mengatakan bahwa kakek harus memberikan cincin ini padamu setelah kau menemukan jodohmu. Kakek rasa sekarang lah waktunya.” Taemin menoleh dan menemukan sebuah cincin putih dengan satu permata kecil di tengahnya. Cincin itu berkilap lalu Taemin mengambilnya.

“Berikan itu pada gadismu nanti. Itu pesan dari ibumu.” Taemin menarik napasnya memperhatikan cincin tersebut yang ada di telapak tangannya. Seketika nama Hyora terlintas di benaknya. Ya, cincin ini akan dia berikan pada Hyora nanti jika waktunya sudah tepat.

-TBC-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “[WFT B] Another Destiny [1.3]

  1. Wah wah… Ceritanya seru! Taem bisa baca pikiran org🙂

    Jadi gitu ya.. Taem ga bisa baca pikiran org yg jadi saudaranya atau jodohnya. Jadi pengen tau siapa Hyora wkwk #plak.

    Ada beberapa typo, tapi ga pengaruh am jalan cerita. Overall aku suka😄

    ditunggu next partnya😉

    1. Yup ada beberapa manusia yang ga bisa dibaca pikirannya sama Taemin. Ayo Hyora itu siapa?? hehehe
      oke, thanks comment nya ya🙂

    1. enak dong kalo Taemin bisa baca pikiran,jadi dia tau apa yang kita mau haha
      Taemin bukan jodoh Hyora tapi jodoh aku kekeke
      thanks ya udah comment🙂

  2. Wah.. Ceritanya seru , aku sempat berpikir kalo Hyora itu saudara tetem karena marga mereka sama-sama Lee , itu pemikiranku lho😀

    Ceritanya hampir-hampir mirip Twilight yang Edward gak bisa baca fikiran Bella , pemikiran aku lho bukan maksud apa-apa

    Tapi Nice FF chingu ^^ , jangan lupa mampir ya : We Hate (Love) You, Lee Taemin! *kabuurr

    1. emm Taemin sodara hyora? bisa jadi bisa jadi hahaha.
      Tapi Taemin bukan vampir dia manusia biasa. kalo Taemin vampir aku rela deh di gigit sama dia kekeke
      oke sip *buru2 baca🙂

  3. Wah keren membaca pikiran, diandaikan bisa seperti itu. Para pembaca pikiran, pasti mudah menjalani hidup mereka. (˘_˘”)(“˘_˘)Kecuali jika mereka mendapati orang sedang muji mereka padahal nusuk di belakang.
    TaeMin sangat manly dan biasa di FF ini, benar” karakter yang enak dibaca.

    Seperti sedang nonton, saat baca FF ini.
    Keep writing author (งˆ▽ˆ)ง

    1. Hahaha iya seru kayanya kalo bisa baca pikiran orang lain. Tapi kayanya ga tenang juga kalo ada yang mau jahatin.
      manly kan salah satu impian Taemin, jadi aku realisasikan disini. biar dia seneng hehehe
      Yap makasih🙂

  4. Huah… kereennn… itu Taemin ma Hyora sama2 org korea kan? atau t
    setting tempatnya bukan di korea? ah utk bagian itu aku bingung.. oiya Lee Taemin, marganya Hyora itu ‘Lee’ lohh… sapa tau dia itu sodara yg sempet ilang (?) ati2 patah ati maknaaeee…
    Kayanya panjang bgt ya nih komen.. hueh miaaann *dirajam penghuni disini* keep writing thorr

    1. iya Taemin sama Hyora sama2 orang Korea ko cuma Taemin di daerah Gwangju sedangkan Hyora dari Seoul.
      ga apa2 comment panjang2 selama gratis hahaha

  5. ayooo lanjuuutttt…. penasaraaannn!!!!
    Taemin juga ga bisa baca pikiranku ko brarti kita jodoh taemin-aahhh u.u

    penulisannya rapih, pemilihan kata-katanya juga banyak, cerita mudah untuk dimengerti, setting, alur, dan keadaan bisa terlihat jelas… bagus dehhhh ^o^d

    1. ngareep banget ga bisa dibaca pikirannya hahaha :p
      aku juga mau sih jadi jodohnya Taemin kekeke
      Makasiih😀

  6. Halo, Eunmi ^^
    Ceritamu baguuusss…awalnya aku ngerasa ga minat pas ngebaca, trus semakin ke bawah, ceritamu semakin terarah dan aku suka konsepnya! ^^
    Jadi Taemin itu punya kemampuan membaca pikiran orang lain dan pas dia ketemu hyora, dia malah ga bisa baca pikirannya. Aku suka konsep soal baca pikiran itu, dan deskripsi dan narasi kamu bagus ^^
    Kalo boleh kritik soal teknik penulisan nih, aku beberapa kali menemukan kata depan yang penulisannya disambung. kalau menunjukkan lokasi seperti ‘depan’, ‘belakang’, ‘sekolah’ dan sebagainya, itu menggunakan kata depan dan penulisannya mesti dipisah. Jadi yang benar itu ‘ke belakang’, bukan ‘kebelakang’ gitu ^^
    Nice job, Eunmi! ^o^b

    1. hallo ariesy ^^
      awalnya ngebosenin ya? hehe tapi syukur bisa di terima
      yap, pasti di perbaiki lagi penulisannya😉
      makasih buat kritikannya🙂

  7. Eh, aku belum komen di sini ya? ._.”

    Btw, aku suka sama penggunaan kata-katanya di sini. Gak membingungkan, apik, santai gitu bawaannya😀
    Kakeknya Taemin itu..aduuh, aku ikutan terharu bacanya..
    Lanjutlah, gmna nasib si Taemin, apa dia mencoba untuk bisa deket sama Hyora, ato Hyora malah serang balik *?*

    1. ga apa2 mau komen dimana aja🙂

      makasih dhila🙂

      ya udah jangan nangis hehehe :p
      sip, tunggu kisah selanjutnya. gimana nasib mereka berdua🙂

  8. Annyeong ! Udah lama aku gak baca ff disini.

    Ceritanya bagus thor. Tapi aku gak suka ah sama sikap taemin yg seenaknya nunjuk2 kepala minho sama kibum, mereka kan hyungnya walaupun sebenernya ceritanya disini mereka seumuran tapi tetep aja gak sopan *hehehe lupakn!

    Pokoknya ceritanya seru, aku berharap aku jg bs baca pikiran orng hahaha😀 #plaaaak!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s