[WFT B] It’s a Dream

Title     :  It’s a dream

Author : QiinkYheoh

Casts    :

  • Taemin
  • Minho
  • Jonghyun
  • Key
  • Onew

Length  :  OneShot

Rating   : PG – 16

Genre :  Friendship, AU

Note  :

  • Ini semua hanya imajinasiku. Jika terjadi persamaan alur, tempat, dan waktu, itu hanya kebetulan belaka, tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun ^^
  • INGAT! Ini semua hanya imajinasiku! Jangan percaya dengan apa yang kutulis di cerita ini ^^

 

Sesuatu aneh telah terjadi

Story Begins

Aku ingat setelah pulang dari Swiss, vacation yang diberikan sebelum mempersiapkan album repacked album kita, aku langsung tertidur begitu tiba  di dorm. Sama seperti hyungdeul lainnya, mereka begitu capek menghabiskan waktu yang panjang dalam pesawat, mungkin hanya Jonghyun hyung yang tidak merasa capek, karena jarak antara Jepang-Korea tidak begitu jauh.

Tapi, ketika aku bangun dari tidurku, aku tidak menemukan seorang pun yang berada di dorm. Aku tidak tahu dimana mereka berada. Anehnya, aku menemukan sebuah note yang berisi ‘Jonghyun hyung kecelakaan’. Aku meraih ponselku yang kuletakkan di atas meja dan membuka kalender. Tanggal 1 April, yang sering disebut orang sebagai ‘April Mop’.

Aku menyeret langkahku menuju sofa yang berada di ruang tamu dan duduk di atasnya. Aku terus berpikir apakah mereka sedang membohongiku? Tidak lucu jika aku dibohongi mereka di April Mop. Tapi, bagaimana kalau itu benar terjadi? Aku tidak pernah membayangkan salah satu member SHINee mengalami kecelakaan.

Aku kembali meraih ponselku dan kali ini untuk menelpon Onew hyung, kurasa aku harus memastikannya sendiri. Aku menunggunya cukup lama sebelum akhirnya dia mengangkat teleponku. Suaranya terdengar begitu letih. Aku mulai khawatir.

“Hyung, apa yang terjadi pada Jonghyun hyung?” Aku bertanya dengan nada yang cemas.

“Dia kecelakaan, Taemin-ah. Cepat datang ke Seoul hospital.”

Setelah memutuskan sambungan telepon, aku segera mengambil coat dan syalku dari kamar dan langsung keluar dari dorm, menuju Seoul hospital seperti yang dikatakan Onew hyung.

***

Aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit, ketika aku melihat hyungdeul yang sedang duduk di kursi penjenguk, aku segera menghampiri mereka dengan napasku yang tersengal-sengal. “Bagaimana keadaannya, hyung?” tanyaku pada Onew hyung yang duduk dengan kepalanya yang tertunduk. Key hyung yang berada di sampingnya, menepuk-nepuk punggung Onew hyung dengan pelan, sementara Minho hyung bangkit dari duduknya dan berdiri di sampingku. Mereka tampaknya enggan memberitahuku kondisi Jonghyun hyung. Aku semakin cemas.

Aku mengulang pertanyaan sama pada Minho hyung. Dia meletakkan kedua tangannya di bahuku sebelum menjawab pertanyaanku. “Hidung Jonghyun hyung patah, dia sedang melakukan operasi, jadi kita harus mendoakannya supaya operasinya berjalan dengan lancar.”

Aku menghela napas. Syukurlah, keadaannya tidak parah.

 

***

Aku kini sedang bersandar di dinding dengan kaki kananku yang kutekuk, kedua telingaku disumbat oleh sepasang headset, serta kedua tanganku yang kumasukkan ke dalam saku celana. Kedua mataku masih terpenjam. Sekali-kali mulutku bergerak melantunkan lagu yang sedang kudengarkan. Why So Serious, begitulah judul lagunya.

            Aku segera membuka kedua mataku dan melepaskan sepasang headset milikku seraya menatap Minho hyung dengan kesal. Dia terkekeh pelan sebelum kemudian kutinju perutnya, tidak kuat, tapi mampu membuatnya membulatkan kedua matanya dan menatap geram ke arahku.

            “Apa yang sedang kau lakukan di sini, Taemin-ah?” tanya Minho hyung memulai percakapan.

            “Hyung, bisakah kau tidak membuatku kesal sekali saja?” Aku masih menatap kesal dirinya karena dia sudah berani menggangu ketenanganku.

            Minho hyung kembali terkekeh sebelum kemudian memasang tampang seriusnya. “Tidak,” jawabnya dengan singkat, padat dan tegas. “Oh, hampir saja aku lupa untuk memberitahu sesuatu yang berkaitan dengan Jonghyun hyung.”

            Aku menyeringai. “Apa ada sesuatu buruk yang terjadi padanya?” tanyaku dengan suara yang kubuat secemas mungkin.

            “Apa kau yang merencanakan semua ini?”

            Aku terkekeh.”Bagaimana menurutmu, Minho hyung?”

            Minho hyung menghela napas. “Kau sudah bertindak terlalu jauh, Taemin. Seharusnya kau tidak melakukan itu padanya. Kemampuanmu meningkat pesat, kau tahu itu. Kau tidak perlu melakukan sesuatu untuk merebut posisi itu.”

            Aku berdecak. “Merebut posisi? Apa kau yakin aku bisa merebut posisinya sebagai lead vocalist? Hyung juga mengetahuinya, bukan, kalau aku tidak akan pernah bisa menggantikannya meski kemampuanku sudah setara dengannya. Satu-satunya cara adalah mencelakainya.”

            “Taemin-ah, kau harus berhenti melakukannya, ingat SHINee World. Mereka akan kecewa padamu jika mengetahui kecelakaan Jonghyun itu karena kamu.”

            Aku kembali berdecak. SHINee World? Mereka bahkan tidak mengetahui usaha kerasku. Mereka bahkan selalu membanggakan Jonghyun hyung sebagai lead vocalist.  “Hanya hyung yang mengetahui soal ini, jika kau tidak mengatakannya pada orang lain, tidak akan ada yang mengetahui hal ini.”

            “Kau akan menyesal suatu saat nanti,” gumamnya kemudian yang membuatku tersenyum meremehkan. “Menyesal? Tidak ada kata itu dalam kamus hidupku, hyung.”

***

            Aneh! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa begitu lelah? Merasa segala sesuatu yang terjadi itu seperti mimpi. Bangunlah, cepat bangun.

***

            Aku dalam perjalanan menuju Seoul Hospital bersama Key hyung dan Minho hyung,  sementara Onew hyung masih berada di sana untuk menjaga orang itu. Aku menyeringai dalam hati. Kenapa mereka begitu mengkhawatirkannya? Padahal dia tidak mengalami luka berat, hanya hidungnya yang patah. Itupun sudah tidak apa-apa. Dia hanya perlu istirahat.

            “Taemin-ah,” panggil Key hyung yang langsung membuatku menolehnya. Kedua matanya sembab menandakan dia kekurangan tidur. “Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Kenapa kau menjadi aneh belakangan ini?”

            Aneh? Iya, aku memang aneh sejak dulu, bukan hanya sekarang. Aku membenci Jonghyun hyung, apakah kalian mengetahuinya? Tidak, kalian tidak pernah menyadarinya.

            Entah sejak kapan, Minho hyung sudah berdiri di sampingku, dia menatapku dengan tajam seolah menyuruhku untuk tidak berkata yang bukan-bukan, aku sedikit menyeringai, membalas tatapannya tidak kalah tajam seolah menyuruhnya untuk tidak ikut campur dalam masalahku. Dia sudah terlalu banyak mengetahui masalahku dan orang itu, dia terlalu mengerti diriku ini.

            “Kalian ingin makan apa? Biar kami yang membelinya,” ujar Minho hyung sembari merangkul bahuku dengan erat. Aku kembali menatapnya tajam.

            Key dan Onew hyung yang tadinya masih duduk di sofa, kini bangkit dari  duduknya dan berdiri di dekat ranjang orang itu, menghadap ke arah kami. “Terserah kalian,” ujar Onew hyung, sementara Key hyung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui kata-kata Onew hyung.

            “Baiklah,” setelah mengucapkan kata itu, Minho hyung segera menarikku keluar dari kamar rawat orang itu, aku menatap geram ke arahnya seraya menghentakkan rangkulannya yang begitu kuat. Aku mendengus. “Apa yang kau lakukan, hyung?” desisku tertahan agar tidak terdengar oleh orang lain. Dengan santainya dia berjalan melewatiku sembari menurunkan topinya dan bersiul ria. Aku mengerutkan keningku, tidak mengerti apa yang dipikirkannya sekarang. Dia memang selalu bisa mengertiku, tapi tidak denganku, dia selalu membuatku bingung. Namun tak bisa kupungkiri, hanya dengan dia seorang, aku bisa membagi segala perasaanku padanya, hanya dia seorang yang mengetahui segala-galanya mengenaiku.

            “Apa kau ingin aku tinggalkan?” tanyanya yang kini sudah berbalik menatapku dengan kedua tangannya yang dia masukkan ke saku celana dan punggungnya yang menyandar di dinding. Aku kembali mendengus sebelum kemudian mengikuti langkahnya dari belakang.

***

            Kini kami –aku dan Minho hyung– sedang duduk di kantin rumah sakit, dia menatapku dengan serius sebelum membuka pembicaraan. Seperti biasa, topik yang selalu dibahasnya ketika bersamaku tidak lain adalah masalah Kim Jonghyun, seseorang yang kubenci itu. Aku menatap sinis ke arahnya. “Kenapa kau selalu membahasnya, hyung? Aku tidak akan mengubah pikiranku meski kau sudah membahasnya ribuan kali,” ujarku dengan enteng membuatnya mendesah sembari menyesap minumannya dengan pelan.

            “Kenapa kau tidak berhenti saja dan mulai mengenal dirinya, Taemin­-ah? Kau akan menyukainya jika sudah mengenal baik dirinya, dia tidak seperti pribadi yang kau pikirkan selama ini.”

            Aku berdecak. See, Minho hyung membelanya lagi. “Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan diriku menyukainya, hyung, kau harus tahu itu, aku bukan seseorang yang mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan itu, kau tidak bisa memaksaku untuk menyukainya.”

            “Taemin­-ah, kami memerlukannya. SHINee bukan SHINee jika tanpa dirinya, begitu juga sebaliknya, SHINee tetap berlima sampai kapanpun, SHINee bukan SHINee jika tanpaku, Onew hyung, Jonghyun hyung, Key maupun kamu. Kami tetap bagian dari SHINee sampai kapanpun.”

            Aku menundukkan kepalaku. Entah kenapa saat seseorang mengatakan hal seperti itu, hatiku terasa akan goyah. Aku membencinya, tapi aku juga menyukainya. Aku tidak pernah mengakui perasaan ini, tentu saja. Cukup aku sendiri yang mengetahuinya saja, tidak orang lain. “Tidak, sampai kapanpun aku akan membencinya,” bantahku. Aku tidak tahu apa yang kukatakan sekarang. Semua yang kukatakan sekarang ini seperti bertolak dengan apa yang kurasakan. Aku bingung. Aku bimbang.

            “Berikan dia satu kesempatan untuknya dan dirimu sendiri. Kau harus melihatnya dengan matamu sendiri bagaimana dia berjuang untuk membuat SHINee semakin bersinar.”

            Aku kembali berdecak. Sampai kapanpun aku tidak akan memberikannya kesempatan untuk menunjukkan kasih sayangnya padaku. Sampai kapanpun aku tidak akan menerima keberadaannya. Aku harus mulai melakukan sesuatu sebelum perasaanku kembali goyah. Kali ini, dia harus mati.

***

            Aku membuka kedua mataku perlahan ketika mendengar suara Key hyung yang memanggilku. Aku mengucek kedua mataku sembari menguap. Key hyung kemudian memukul kepalaku, tidak kuat, memang, tapi mampu membuatku terperanjat. “Hyung!” desisku dengan pelan agar tidak membangunkan Jonghyun hyung yang baru saja selesai melaksanakan operasi itu. Minho hyung yang berada di sampingnya dan Onew hyung yang duduk di dekat ranjang Jonghyun hyung hanya terkekeh pelan.

            “Bisa-bisanya kau tertidur di saat seperti ini?” ujar Key hyung dengan pelan. Aku hanya menyengir, tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak tahu kenapa bisa tertidur. Dan mimpi itu.. terasa begitu nyata.

            “Kenapa melamun?” tanya Onew hyung yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Melamun? Entahlah, hyung, aku hanya mimpi sesuatu yang aneh,” jelasku yang membuat mereka bertiga langsung berpindah tempat di sekelilingku.

            “Kau mimpi apa?”

***

            “Taemin-ah, apa yang kau lakukan di sini?” Suara Onew hyung membuyarkan lamunanku, aku segera menyimpan sebuah pisau kecil yang kuambil dari dapur di saku celanaku dan memasang sebuah senyuman manis kepadanya.

            “Aku hanya mengambil minuman, hyung. Ah, kalian akan menjenguk Jonghyun hyung nanti malam?” tanyaku dengan nada polos seperti biasanya.

            Kening Onew hyung berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum kemudian bersuara kembali. “Kurasa tidak, kami punya schedule, bagaimana denganmu”

            Aku tersenyum dalam hati. Rencanaku akan berjalan dengan lancar jika mereka punya jadwal yang tidak memungkinkan mereka untuk datang ke rumah sakit. “Aku akan menjenguknya nanti, malam ini aku free, hyung,” jelasku.

            “Baiklah, kami akan bersiap-siap dulu, kau ingin kami antar?”

            “Tidak, ah, dimana Minho hyung sekarang?”

            “Kenapa mencariku?” tanya Minho hyung yang langsung membuatku memutar balik tubuhku, menatapnya dengan tatapan sejak-kapan-kau-datang. Minho hyung hanya mengangkat bahunya acuh. Dia kemudian mengambil alih gelas yang kupegang tadi dan meminum habis minumanku dalam sekali tegukan. Aku menatap sinis ke arahnya. “Ada apa?” Dia mengulang pertanyaannya. Onew hyung yang mungkin merasa keberadaannya diacuhkan, keluar dari dapur setelah mengisi air ke dalam botol minumannya.

            “Tidak ada, hanya ingin tahu keberadaanmu, tidak boleh, hyung?”

            Minho hyung berdecak. “Cepat katakan apa yang sedang kau pikirkan, kau tidak akan menanyakan keberadaanku jika tidak memikirkan sesuatu yang mengerikan.”

            Aku bertepuk tangan pelan. “Ternyata aku tidak bisa membohongimu, hyung. Tapi… maaf, aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tidak akan ada kejutan lagi jika memberitahumu sekarang, bukan?”

            Minho hyung memasang ekspresi khawatirnya sedetik setelah aku selesai mengucapkan kata ‘kejutan’ itu. Seperti yang kuduga.

            “Apa yang akan kau lakukan pada Jonghyun hyung?” serunya dengan menarik kerah bajuku. Aku tersenyum sinis sembari membuang muka dan berdecak. “Begitu pentingkah orang itu bagimu, hyung?” tanyaku dengan nada yang jijik.

            Dapat kulihat mukanya yang sudah memerah menahan amarah, kedua matanya yang menatapku dengan tajam. BBUK! Dia dengan tiba-tibanya melayangkan sebuah pukulan tepat di samping bibirku. Aku mendorong tubuhnya ke meja. “Apa yang kau lakukan?” seruku dengan kuat membuat Onew hyung dan Key hyung segera menghampiri kami berdua. Mereka memisahkanku dan Minho hyung, aku menatapnya dengan geram. “Kau akan menyesal nantinya, Choi Minho!” hardikku yang membuatnya ingin melepaskan diri dari Onew hyung, namun tidak berhasil karena Onew hyung menariknya ke ruang tamu meninggalkanku dan Key hyung.

            “Kenapa kalian sampai berkelahi seperti ini? Kalian tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ujar Key hyung. Aku membuang muka sembari menyentuh luka di bibirku, sepertinya tonjokan Minho hyung sudah berhasil mengoyak sudut bibirku. Aku tersenyum sinis sebelum meninggalkan Key hyung yang memanggil namaku dan mereka –Onew hyung dan Minho hyung– yang sedang duduk di ruang tamu. Aku membanting pintu dengan kasar dan menyeringai di balik pintu. Kalian akan kehilangan orang itu malam ini.

***

            Aku menurunkan topiku untuk menutupi wajahku. Aku berjalan dengan perlahan menuju kamar rawat orang itu. Aku menyeringai di balik topi ini. Aku membuka pintu kamarnya dengan perlahan sebelum kemudian mendekati ranjang orang itu. Dia sudah tidak apa-apa, hanya tangannya yang dipasang infus, selain itu, tidak ada luka memar yang menghiasi wajahnya maupun bagian tubuhnya yang lain. Aku menengadah, menatap ke langit-langit kamar ini, menelitinya, setelah merasa aman, tidak akan ada yang mengetahui rencanaku, aku melepaskan topiku dan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tadi sempat kuambil di dapur dorm.

            Aku menelusuri wajahnya dengan pinggiran pisau itu. Sebuah seringaian sudah menghiasi wajahku ketika dia menggeliat dari tidurnya yang nyenyak. Dia langsung membulatkan kedua matanya begitu melihat aku yang berdiri di sampingnya dengan sebuah pisau yang masih berada di wajahnya. Dia dengan sigap menghentakkan tanganku dengan tangannya yang bebas dari infus, namun tentu saja tenaganya tidak akan sekuat orang sehat sepertiku. “Apa yang kau lakukan, Lee Taemin?” tanyanya dengan napasnya yang tersengal-sengal, mungkin akibat terlalu syok.

            Aku kembali menyeringai. “Menurutmu bagaimana, hyung?” Aku bertanya dengan suara yang tidak seperti biasanya, dingin dan menyeramkan. Dapat kulihat dia yang ketakutan melihatku melalui pancaran kedua matanya, aku berdecak sinis. “Aku ingin membunuhmu, hyung,” ujarku sembari mengangkat kembali pisau itu dan bermain-main di wajahnya. Dia terus menghindar dan aku semakin ganas mendekatinya hingga melukai bagian wajahnya, tidak dalam memang lukanya, namun mampu membuatnya meringis pedih. Aku tertawa penuh kemenangan. “Kau takut, hyung?”

            Dia menatapku tidak percaya tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menghentikan tindakanku. Kedua matanya kemudian menatapku dengan sendu seolah meminta maaf akan apa yang sudah dia lakukan terhadapku. Aku tidak menyukai tatapan itu. Aku benci. Maka dengan itu, aku membalas tatapannya dengan tajam. Aku membuang pisau itu ke sembarang arah dan duduk di sampingnya, membuatnya terperanjat. Tanpa kusadari, setetes air mata mengalir keluar dari salah satu sudut mataku, aku menghapusnya dengan kasar, tidak sudi dilihatnya.

            Aku menundukkan kepalaku sebelum kemudian mengangkatnya kembali. “Kau tahu, aku selalu bekerja keras untuk melatih vokalku, namun kamu yang selalu dibangga-banggakan. Aku membencimu, Kim Jonghyun! Karena dirimulah, suaraku tidak dilirik. Aku juga ingin seperti kamu! KAU! AKU JUGA INGIN MENJADI LEAD VOCALIST SEPERTIMU, SEORANG YANG MANLY SEPERTIMU, TAPI AKU SELALU DIANGGAP TIDAK PANTAS, aku selalu dipandang rendah, aku selalu dibilang IMUT! KAU TAHU PERASAANKU??!!” seruku dengan keras seraya menatapanya dengan tajam dan menunjuk dirinya dengan jari telunjukku.

            Dapat kulihat dengan jelas air matanya yang sudah menggenang di sudut matanya, namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tidak lagi berada di sini. Aku membenci dirinya.

            Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras. Aku berbalik untuk melihat siapa yang sudah berani menggangguku. Aku tersenyum sinis begitu melihat Minho hyung yang sudah berdiri di depan pintu dengan napas yang tersengal-sengal dan menatapku tajam. Well, seperti dugaanku. “APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, LEE TAEMIN?” serunya padaku yang membuatku mau tak mau mundur satu langkah karena teriakannya yang begitu mendadak.

            “Seperti yang kau lihat, hyung, aku hanya ingin bermain-main dengannya,” ujarku dengan tenang.

            Key hyung dan Onew hyung yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu menatapku dengan tatapan tak percaya sebelum kemudian Key hyung mendekatiku dan mendorongku ke samping. Onew hyung menghampiriku dan memegang kedua tanganku dengan erat seolah tidak ingin melepaskanku. Aku mendengus. “Kenapa kalian begitu mengkhawatirkannya?”

            Minho hyung dengan tiba-tiba berdiri di hadapanku, melepaskan genggaman Onew hyung, dia menatapku dengan tajam sebelum kemudian sebuah tamparan mendarat di pipi mulusku. Aku mendongakkan kepalaku seraya memegang pipiku yang memerah akibat tamparan itu dan menatap Minho hyung dengan tajam. “Sudah kuperingatkan dari dulu, berhenti menyakiti Jonghyun hyung, tapi kenapa kamu tidak mendengarnya?” lirihnya padaku.

            Kedua mataku memanas, air mata keluar dengan sendirinya tanpa bisa kukontrol. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi begitu cengeng. Kenangan demi kenangan yang pernah kulewati bersama mereka kembali berputar di otakku. Bagaikan film yang sedang diputar. Tanpa kusadari, pelukan hangat yang begitu kurindukan kembali kurasakan. Pelukan ini, pelukan yang tidak pernah kulupakan, tapi maaf, ini sudah tidak berlaku untuk sekarang. Pisau yang tadinya sempat kupungut dari lantai sebelum kedatangan mereka, langsung kutancapkan ke perutnya. Dia dengan sigap melepaskan pelukan ini dan menatapku dengan air mata yang terus mengalir keluar. Aku menyeringai melihat tanganku yang bersimbah darah. “Taeminie,…” lirihnya sebelum kemudian jatuh ke bawah. Mereka yang tadinya hanya menonton adegan kami, kini segera menghampirinya yang hampir sekarat itu. Aku tertawa penuh kemenangan sebelum Onew hyung menonjok wajahku.

            Aku diam, tak membalas perlakuannya, aku menatap orang itu dan mereka bergantian. Piyama yang dikenangkan orang itu sudah bersimbah dengan darah, tanpa sadar, aku jatuh terduduk di sampingnya, dengan tanganku yang masih menggenggam pisau itu. Aku menatap tak percaya ke arah pisau itu, air mataku semakin mengalir deras.

            “LIHATLAH APA YANG SUDAH  KAU LAKUKAN PADANYA!” teriak Minho hyung yang masih memeluk erat tubuh orang itu dan air matanya yang terus mengalir keluar. Aku menatap kabur Onew hyung dan Key hyung yang sudah terisak dari tadi. Aku memegang kepalaku yang begitu pening. Aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan. Tidak, aku bingung. Sungguh, apakah aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri?

            “Maafkan aku, Taemin-ah,” ujarnya untuk yang terakhir kali sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Aku syok. Dia, Kim Jonghyun sudah meninggalkan kami semua karena ulahku sendiri. Tanganku dengan perlahan mendekati wajahnya, menyeka sisa-sisa air matanya. Aku menyesal akan apa yang baru saja kulakukan. Aku menyesal. Betul apa yang dikatakan Minho hyung, SHINee bukan SHINee jika tidak ada Kim Jonghyun ataupun salah satu member. Aku tertawa sekeras yang kubisa. Aku telah kehilangan seseorang yang menyanyangiku. Aku telah kehilangan orang itu tanpa memberinya sebuah kesempatan untuk membuktikan kasih sayangnya padaku. Benar apa yang dikatakan Minho hyung dulu, aku akan menyesal nantinya. Dan aku benar-benar menyesal sekarang. Maafkan aku, hyung.

            Dan tiba-tiba, semuanya menjadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

            “Taemin-ah, Taemin-ah.”

            Aku membuka kedua mataku perlahan, menatap ke sekeliling ruangan yang dicat putih ini, aku menghela napas lega begitu melihat Jonghyun hyung yang sedang duduk di atas ranjang ditemani Minho hyung yang seperti biasanya selalu mengganggunya, tanpa kusadari, sebuah senyuman manis sudah menghiasi wajahku.

            “Taemin-ah,” panggil Key hyung yang langsung membuatku menoleh ke arahnya. “Kau kenapa? Apa kau memimpikan sesuatu yang buruk?” tanyanya dengan telapak tangannya yang menempel di dahiku. Aku menatap bingung ke arahnya. “Kau, lihatlah, wajahmu dipenuhi peluh, apa yang kau mimpikan sih? Sampai-sampai kau berteriak nama Jonghyun hyung, Jonghyun hyung sampai terbangun karena teriakanmu itu.”

            Aku hanya menyengir, tidak sadari bahwa aku sudah berteriak nama Jonghyun hyung di sela-sela mimpi itu. Aku tidak akan menceritakannya pada mereka, aku hanya ingin merahasiakannya seorang diri, tidak orang lain. Mimpi yang aneh dan penuh kejutan. Untunglah semuanya hanya mimpi. Benar, kami berlima akan tetap menjadi bagian dari SHINee sampai kapanpun. SHINee bukan SHINee jika tanpa kami. Kami akan tetap mempertahankan hubungan kami sampai kapanpun. Kami tetap akan membawa kebahagiaan untuk SHINee World, karena kami adalah SHINee.

            “Apa kau sudah gila, Lee Taemin?” seru Jonghyun hyung ketika aku memeluknya dengan erat. Aku hanya tersenyum dengan lebar. Jangan pernah tinggalkan aku, hyung.

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

48 thoughts on “[WFT B] It’s a Dream

  1. hmm.. agak susah dibaca sih karena alurnya kurang lurus gitu.. tapi dimaafkan deh karena itu hanya mimpi.. bcoz mimpi memang gak teratur, betul gak? :p
    hahaha.. untuk relationship mereka dalam, aku suka. tapi lama-kelamaan, aku sampai mengira taemin itu cewek, ngambeknya itu lho! bikin gemes aja😛
    ngg lalu.. apa lagi ea? oea masukan, sejujurnya kalau dibaca begini, aku lebih nangkap rasa suka daripada rasa sahabat. mungkin kamu terlalu dalam mengekspresinya sehingga mereka kek cewek yang ngambek ma cowok yang disukainya, tapi sekaligus si doi yang terlalu sempurna sehingga perasaan yang ada malah tumbuh menjadi benci.
    yang penting aku suka deh ceritanya, kurangnya bagi saya ya terlalu dalam perasaannya n konfliknya agak kurang dimengerti, mungkin aku sendirinya yang terlalu oon jadi gak ngerti.. wahahah😄 aku dukung (y)

    1. ckkck .. Taemin emang rada imut .. makanya hasil FF nya seperti ini ><
      btw, thanks udha dicomment😛 reallyy thanks .. im glad that u give me this precious comment .. u know de lha, this is oneshot story, moreover this is a dream .. thats why, alurnya cepat, and konfliknya gak gitu menengangkan😛

    1. heheh ..
      ini memang rada membingungkan .. kmu bacanya lewat hp?
      yang italic itu adlah cerita dimana taemin baru saja pulang dari swiss .. and yngg gak italic adlah cerita mimpinya …
      karena ini hanya sbuah mimpi, jd jalan ceritanya mmank rada membingungkan..
      hihihi thanks udha mampir ke sini ^^

  2. Author, aku baru baca ff mu ini~
    Bagus ceritanya, bagus juga pemilihan kata-katanya..
    Tapi aku masih bingung. Kalo Taemin yang mau bunuh Jonghyun, tapi kenapa Jonghyun yang ngerasa bersalah? Emangnya Jonghyun salah apa?
    Terus juga di awalnya aku kira si Jonghyun emang beneran kecelakaan, kayak di real life waktu bulan april kemarin.. Tapi ternyata engga, ya? Hehehe:D
    sekian,, author, keep writing, yaa:D

    1. hahah terima kasih udha mampir ke sini ^^

      hmm, karena taemin mengaku semuanya,, dia ingin menjadi lead vocalist .. tapi karena Jjong, dia tidak bisa, jadi Jjong merasa bersalah.. dan sebenarnya ada sesuatu yng tidak kumasukkan ke dlmnya, yaitu : jjong merasa bersalah selama ini tidak begitu peduli dngan taemin hingga dia tidak menyadari bahwa taemin sbnarnya begitu membenci dirinya (dalam mimpi lho)
      hahah
      anw, thanks ^^ you too, keep writing😀

  3. Hello Author,,

    Aku mau kasi tau bbrp point yg mengganjal di pikiranku:

    1. Saat Jjong kecelakaan April lalu, operasinya tidak dilaksanakan lgsg pd hari yg sama, seingat saya 3-4 hari setelah insiden. Atau bolehkah dirubah demi kepentingan cerita?

    2. Adegan Taemin-Onew di dapur, Pas Onew tanya Taemin ada jadwal atau ga, itu aneh menurutku, bukannya semua jadwal didiskusikan sm Leader, harusnya Onew tahu kan jadwalnya member SHINee?

    No Offense ya, Dear..
    Cm mengungkapkan apa yg ada di kepala..

    Eum, kalo 2 hal di atas salah menurut reader lain/author sendiri, tolong ingatkan saya..🙂

    Good Luck
    (‘̀⌣’́)9

    1. hahaha iya, smuanya kuubah mnurut jlan pikiranku sndiri.. Sperti tanggal kepulangan mrka, akk juga ubah.
      Hmm, kalo msalah jadwal, jjur akk tdk tw arus didiskusikan dngan leader pa gk, tp mnurutku kalo didiskusikan, mngkn saja dia lupha xP tp itu ttap brjalan ssuai dngn pikiranku.. Hihihi

      Omo, im not petty, dont worry.. Hahaha
      Anw, thanks udha mampir k sini y

  4. emm, sebenernya udah cukup bagus. cuma feelnya kurang dapet, dan aku aja masih bingung sampe sekarang kenapa tulisan ada yang bercetak miring dan ada yang nggak. mana yang mimpi mana yang nggak. aku bingung. tapi entah kenapa aku nggak bisa ngebayangin Taemin begitu. mungkin detail narasi pas bagian pergantian alur pas Taemin berubah sikap harus diperjelas. mungkin.
    oke, latihan nulis terus, ya?

    1. hmm, yng italic itu real ^^ kalo yng gk di italic adlah mimpi taemin, dan last paragraf stlah mimpinya end adlah realnya..
      Hmm, maaf kalo feelnya kurang dapat, soalnya akk sndiri jg gk tw knpha akk bisa mmbuat cerita sperti ini😀
      Sjujurnya, akk tidak bgitu mmbuat mimpinya itu menegangkan, soalnya, mnurutku jalan cerita sbuah mimpi itu loncat sana loncat sini n hnya trjadi sekilas, jadinya akk gk mmperjelas narasinya.. Im so sorry about that..
      Ok, akk akn latihan trus.. Thanks udha mampir k snhi ya ^^

  5. Untung saja hanya mimpi, tidak dapat terbayangkan seorang magnae SHINee berubah menjadi seperti itu.
    TaeMin sejak Sherlock sudah manly, hanya saja tidak care sama situasi disekitarnya(˘_˘” )( “˘_˘).
    Entahlah, tapi rasanya TaeMin disini seperti perempuan dalam penggambarannya, caranya bersikap dan berpikir. Mungkin penggambaran feelnya yang lebih disempurnakan dan diselaraskan saja.
    Keren pas TaeMin bergulat dengan hatinya sendiri, membunuh atau tidak. Tindakan MinHo sangat heroik.
    Keep writing (งˆ▽ˆ)ง

    1. omo.. Akk tdk sadar trnyata penggambaran watak taemin d snhi trlihat sperti cwek.. Mngkn saat membuat cerita ini, akk mnempatkan diri sbagai taemin, jd hasilnya sperti ini :p
      Maaf ><
      Thanks udha mampir k snhi nd berikan sbuah komentar brmakna untukku ^^

  6. Aku sempat bingung awalnya tapi akhirnya ngerti juga hehe…. Ceritanya keren, cuma mungkin aku kebingungan soalnya kalo mimpi atau Flashback itu biasanya pake Italic, nah yang gak italic itu kejadian yang sedang berlangsung , tapi tak apalah , tetep bagus kok

    Keep Writing ^^ , jangan lupa mampir ya : We Hate (Love) You, Lee Taemin! *kabuurrrr

  7. hahaha
    Thanks ya udha mampir k snhi ^^ tar akk pasti baca kok, dont worry😀

    Ohya, mngenai italic.. Krna sbagian besar akk mnceritakan mimpi, mkanya akk tdk mnggunakan italic n malah kebalikannya, hahaha

  8. Sempat kesel sih baca ff nya.. Soalnya aku udah nangis,eh ternyata cuma mimpi -_-
    Ceritanya bagus,cuma ada kelupaan tanda tanya di salahsatu kata.. Terus taemin disini penggambaran karakternya lebih ke cewek.

    Itu aja sih, o ia baca ff ku+komen juga yaa : [WFT B] Kenapa Taemin Jadi Artis?

  9. Sempat kesel sih baca ff nya.. Soalnya aku udah nangis,eh ternyata cuma mimpi -_-
    Ceritanya bagus,cuma ada kelupaan tanda tanya di salahsatu kalimat.. Terus taemin disini penggambaran karakternya lebih ke cewek.

    Itu aja sih, o ia baca ff ku+komen juga yaa : [WFT B] Kenapa Taemin Jadi Artis?

    1. omg! Taemin here is really a girl? >< maaf.. Tak nyadar, mngkn krna akk mnempatkan diriku sbgai taemin, jdny sperti ini.. Heheh

      Hahah ok, tar akk mampir k xnha, thanks ya udha mampir k snhi ^^

  10. Waktu baca cerita awalnya, rasanya pengen banget aku selotip mulutnya taemin. Kesel banget!!
    Tapi endingnya, pengen banget aku ikutan peluk Jjong ^o^

  11. manstaaap…aku suka ceritanyaaa!!!
    pace-nya bagus. ceritanya rapi, eyd-nya rapi, mantap lah😉

    aku baru ngerti pas udah di tengah2, ternyata yg cetak miring adalah yang sebenarnya. huuuft, seru2. aku juga pernah mimpi-in sesuatu yang gak aku banget, pengen nolak, tapi itu terlanjur dah dimimpiin .__.

    keep writing yaa!!! genre2 yang seperti ini kalo bisa..wkwkwkk..XD

    1. wah,thanks yaaa! thankyou very much ^^
      gimna ya? kalo mimpi kayak gini emang menyeramkan sih …. pengennya cepat” bangun tp juga penasaran dngan endinnya …
      ckkck
      ok,i’ll,dont worry,..u can visit my WP, qiinkyheoh.wordpress.com

  12. Hai, seperti yang saya katakan saya akan mampir di ff Author ehehee
    ceritanya bagus deh, jarang-jarang dapet cerita kayak gini.
    Kalo menurut aku sih, tentang cara penulisan dan lain-lain sih udah bagus. Cuman mungkin masih perlu diasah aja lagi, kan kita semua masih perlu terus belajar kan?
    Fighting ya!

    1. yeap! kita smua memang arus blajar lagi… tp at least qta udha bisa mmberikan sarapada pemula lol ><
      seorang pnulis akan mnjadi baik jika banyak blajar dr author lain yang lbh hebat .. hahah
      keep writing too ^^ and fighting!
      thanks ya udha mampir ke sini … hihiih

  13. syukurlah cuma mimpi.. *fiuuuhhh**
    awal baca agak bingung, tulisan cetak miring Taemin yang mana, yang mimpi apa yang nyata..
    Lama2 siy ngerti juga..

    Shinee tanpa salah satunya bakalan terasa kurang, seperti bukan shinee kalao gk berlima..🙂

    Ok Qiink, ditunggu karya lainnya ya..🙂

    1. thanks ya udha mampir ke sini ^^
      kalo mw baca karyaku yng lain bs mampir ke wpku kok,
      tp masih blum bnyak karya yng udha ak buat sih ..hiihih

      iya ,merasa aneh jika shinee tidak berlima ..😄

  14. Yang bagian berdarah-darahnya aku skip…. Hihh… Ngeri!! Apalagi bayangin Taemin yang ngelakuin sama Jjong… Amit2 #getokkepala. Cz aq ga suka yg berbau crime gtu… Maaf ya…hehehehe

    btw…. FF ny keren sih…. Keep writing ya! Semangat! Semangat!

    1. hahhha
      sbenarnya tidak ngeri-ngerti amat kok , soalnya aku buatnya hanya sekilas doankk ….
      ^^ well, it’s ok for me .. everyone has their own style, like me .. akk mnyukai hal-hal yang berbau misterius dan fantasi .. thanks udha mampir ke sini ya ^^

  15. Kereeeen! FF ke-2 hari ini yang kubaca tentang mimpi buruk. Kalau menurut aku, alurnya nggak terlalu membingungkan kok, banyak FF yang sebelas duabelas kayak gini (kalau aku biasanya suka nemu di English Fic).

    Jjang Author-nim!

  16. it’s a dream, dari judul si udah nebak, klo ending it’s just a dream.. hihihi… klo aku si, lebih suka, pas pembunuhan jongi nya agak di dramatisir, jadi ada deg2annya gimana gitu, dari segi penulisan udah oke, menurut aku rapih, tapi ini si taem, tidur, trus bangun, trus tidur lagi, akhirnya baru bangun dan nyadar dia mimpi? gtu yah?? soalnya pas pertengahan ada yang bangunin taem, nanya dia mimpi apa??

    tapi overall bagus kooo,,, heheheh, keep writing yaaaaa

    1. hahaha iya, mmank arus didramatisir gi, biar taeminnya lbh berkeringat dingin ya?😄
      Maaf tuk bagian itu ><

      Hmm, how to say? Boleh d blng sperti ini, taemin ny bngun tidur bngun tidur, jd at the end of the story, dia bnar bnar udha sadar ..
      Anw, thanks udha mampir k snhi ^^

  17. awalnya kirain yg di italic itu yg mimpi, waktu ditengah2 baru ngeh kalo itu yg real ._. hehehehe
    penulisannya rapi, enak dibacanya deh =D
    untung si taemin cuma mimpi ya, ga kebayang kalo taem yg unyu2 ampe nyelakain jjong..
    kasian pan kalo jjong beneran mati ._.

    1. iyaa, yng italic emang yng real.. Hahaha
      Wah, thanks ya ^^ anw, thanks once again krna udha mampir k snhi xD
      Yah, emang gk prnh ngebayangin taemin akn sperti ini, tp demi cerita, jd arus ><

  18. Ohh.. Itu yang italic yang real ya? Aku sempet bingung, soalnya kebalik.

    Itu Taeminnya sifatnya jadi aneh, bentar-bentar ngambek, bentar-bentar nyeremin..

    Keren Thorr..😀 Jangan lupa mampir ke FF ku + comen ya… [WFT A] Shining Star *cling* #Ngilang

  19. Halo, Qiinkyheoh (tolong jelaskan arti dari nickname-mu itu, Anna Julietta!) (telenovela bentar)
    Halo, halo, halo ^ ^ cerita ini bagus, lho! Tadinya aku pikir “loh, ini semacem triler psikopat?) dan oh, ternyata Taemin cuma mimpi. Syukurlah ^^
    Kamu benar-benar fokus sama topik ‘ternyata Taemin tuh gini, lho’, ya, meskipun ternyata itu cuma mimpi, tapi aku suka konsepnya. Mimpi yang menceritakan di balik keabsenan Jonghyun di WSS.
    Tadinya aku ga gitu fokus baca ceritanya, jadi yang dicetak miring itu mimpinya kan, ya? Atau malah kenyataannya?
    Out of all the plus and minus of this story, ceritanya bagus.
    Nice job, Qiinkyheoh!

    1. arti namaku? Omo, sbnarnya tidak adha pnjelasan yng lbh lnjut kok, soalnya ‘qiink’ itu nama chineseku, sdangkan ‘yheoh’ itu marga akk.. So, akk lbh senang dipanggil qiinkyheoh drpd nama englishku.. Haha
      Thanks ya udha mampir k snhi ^^ sbnarnya yng italic itu real, soalnya akk mau fokus k jdulnya jd akk italic yng real..

      Tp , anna julietta itu mksudnya apha? Telenova?

  20. Oiya, jangan ragu untuk ‘mempermainkan’ kata. Contohnya gini:
    “Kata teman-teman, kau suka padaku”, nah, bandingkan dengan kalimat ini, “Aku tidak langsung percaya, sih. Tapi teman-teman mengatakan sesuatu soal kau menyukaiku atau semacamnya,”. Nah, kerasa kan, bedanya? Permainan kalimat itu bisa memanjakan penggemar dan bisa bikin mereka betah membaca karyamu sampai akhir, lho!
    Once again, nice job! ^o^b

    1. woah, dari sekian bnyak comment yng akk terima, yngg sperti ini yng akk terima prtama x.. Hahah
      Thanks ya! Mngkn akk arus mulai blajar main dngn kata kata nih xD
      Kenalan nih!😄 HIHI

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s