[WFT B] 18th July

18th July

Cover 18th July

Title                 : ‘18th July’

Author             : Aidazzling

Main cast         :

  • Lee Taemin SHINee

Support Cast   :

  • SHINee members
  • Taemin’s Mother
  • And else

 

Genre              : Horor, Mystery

Length            : Oneshoot

Rating             : G

Kita semua diciptakan bagai sebuah jiwa yang menempati sebuah tubuh. Tidak, mungkin bukan hanya sebuah jiwa. Mungkin ada dua jiwa yang menempati tubuh kita sekarang. Bagaimana jika kita tercipta dari dua jiwa yang berbeda?

Jiwa yang penuh dengan kebaikan dan cahaya hangat yang mengelilinginya. Lalu, jiwa gelap dan dingin yang terus mendapat perihnya kehidupan dan takkan pernah merasa puas sebelum dendamnya terbalaskan.

Mungkinkah kedua jiwa itu sebenarnya berusaha melawan satu sama lain untuk menempati tubuh seseorang itu? Bagaimana jika benar? Bagaimana jika salah satu dari mereka harus keluar dari tubuh itu? Apa yang akan terjadi dengan kedua jiwa itu?

*****

“Kembalikan.”

“Kembalikan tubuhku.”

Taemin menggeliat dalam tidurnya, nafasnya mulai tak karuan, jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Taemin menghirup udara dengan berat lalu terbangun dari tidurnya bersamaan dengan alarmnya yang berbunyi sesuai dengan jadwal.

Taemin melihat sebuah ranjang kosong yang tak jauh dari ranjangnya setelah ia mematikan alarmnya. Ia memutuskan untuk segera beranjak dari ranjangnya sesegera mungkin. “Pagi.” sapa seorang pria berambut blonde yang sedang berkutat dengan masakannya di dapur.

“Bagaimana tidurmu?” tanya pria itu sembari melirik Taemin yang sedang meminum air, “Tidak lebih baik dari kemarin.” jawab Taemin kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi.

Taemin membasuh wajahnya dengan air dingin dari keran berkali-kali. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin dengan nafas yang terengah-engah. Setidaknya kali ini ia masih berani untuk menatap wajahnya sendiri.

Tidak, kali ini memang tidak lebih baik dari kemarin. Jika kemarin dia hanya bermimpi tentang sesosok pria seperti dirinya dengan wajah menyeramkan, maka hari ini pria itu mulai mengangkat kedua tangannya untuk mencekiknya. Walaupun itu hanya sebuah mimpi tapi mimpi itu mampu menakutinya bagai anak berumur lima tahun yang takut pada badut ataupun petir.

Sebuah suara kini mengusiknya, suara itu lagi….

“Kembalikan.”

“Kembalikan tubuhku.”

Taemin membuka kedua matanya ketika merasa ada sesuatu yang ganjil disekitarnya, ia menatap ke pojok ruangan dari kamar mandinya. Ada bayangan hitam membentuk sosok seorang pria dengan mata merah menyala, bayangan itu semakin mendekatinya bagai angin yang berhembus pelan. Tubuh Taemin menengang menatap sosok itu, Taemin memejamkan kedua matanya tak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Taemin-ah! Taemin-ah! Kau baik-baik saja?” panggil sesosok pria di luar sambil mengetuk pintu kamar mandi, panggilan itu berhasil membuatnya kembali membuka matanya. Dimana dia? Apa yang barusan itu? Apa itu mimpi?

Bayangan menyeramkan itu hilang, sementara itu pria berambut blonde itu masih terus memanggilnya. “Taemin-ah? Kau tidur?” Taemin segera keluar dari bathtub dan memakai handuknya, “Kurasa begitu.” jawab Taemin seraya membuka pintu kamar mandi. Ia segera meraih handuk kecil yang diberikan pria itu dan mengeringkan rambutnya.

Taemin melangkah keluar kamar mandi, ia memandang keluar kaca balkon dorm mereka. Angin dingin yang berhembus kini menusuk tulang, sekumpulan awan kelabu yang membuat orang-orang diluar sana mempercepat langkah mereka agar sampai ke tempat tujuan mereka.

Taemin memejamkan matanya dan mendengarkan suara air hujan yang jatuh dari langit menghujam apa saja yang ada dibumi. Air hujan itu malah menuntunnya ke sebuah tempat yang bahkan ia tak tahu sama sekali. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang, apa ini hanya bayangan yang muncul di pikirannya saja?

Dari kejauhan, nampak segerombolan anak yang mengelilingi sesuatu. Mereka menendang-nendang sesuatu itu di tengah air hujan yang mengguyur mereka dengan deras. Tawa kecil mereka yang seharusnya terdengar menggemaskan menjadi sangat menakutkan begitu terlihat seorang anak laki-lakilah yang mereka tendang.

Bukan sesuatu benda, hewan atau apapun. Melainkan seorang anak laki-laki yang duduk meringkuk berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari tendangan anak-anak itu.

*******

Taemin menolehkan kepalanya ke setiap sudut tempat dimana ia berada sekarang. Sebuah koridor sempit yang mengarah pada jendela di sudut tengah dan dua kamar di samping jendela itu dengan kedua pintu yang saling berhadapan.

Taemin melangkahkan kakinya kedepan tak memperdulikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Nampak seorang anak kecil berusia enam tahun sedang berdiri di ambang pintu berwarna hijau tosca. Taemin melangkah ke hadapan anak itu yang terus menatap ‘sesuatu’ yang ada di dalam sana. Tidak bukan seorang anak, melainkan dirinya saat masih berumur enam tahun – walaupun dia hanya melihat foto dirinya saja saat masih kecil- .

Perlahan Taemin kecil menoleh ke arahnya, menunjukkan dua bola mata merah menyala yang membuatnya melompat terkejut dari tempatnya.

KRIIIIING KRIIIIIINNGG

Suara jam alarm milik Jonghyun membangunkan Taemin dari mimpi anehnya lagi. Taemin mengerjapkan kedua matanya dan mengambil nafas panjang. Jonghyun yang baru bangun dari tidurnya itu menoleh ke arah Taemin dengan kedua matanya yang menyipit karena cahaya yang menusuk kedua matanya.

“Waeyo Taemin-ah? Mimpi buruk lagi?” tanya pria itu seraya melirik Taemin yang mulai beranjak dari ranjangnya. “Begitulah.” jawab Taemin dengan singkat, “Kurasa kau harus berkonsultasi ke psikolog.” saran Jonghyun.

“Kurasa mimpi ini tak ada hubungannya dengan psikologis, Hyung.” sahut Taemin menonggakkan kepalanya menatap Jonghyun yang tak berdiri jauh darinya.

“Begitukah? Oh, Taemin-ah… Kau tak ingin mengunjungi keluargamu eoh? Mumpung minggu ini kita free.”

“Mollayo Hyung.” jawab Taemin kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar Jonghyun dan Minho. Sebenarnya berpindah kamar untuk sementara itu adalah saran dari keempat member lainnya karena mereka prihatin dengan dirinya yang terus mendapat mimpi buruk itu.

Taemin kini memandangi bayangan dirinya di cermin datar yang ada di hadapannya. Tapi bayangan dirinya itu tibat-tiba berubah menjadi sosok menyeramkan seperti di mimpinya. Senyum menyeramkan terukir di bibir kelamnya, kedua bola mata merah menyala itu menatapnya tajam seakan dia begitu membenci dirinya.

Taemin takkan pernah percaya bahwa bayangan di hadapannya kini adalah dirinya, sekalipun wajah mereka sama. Itu bukan diriku….

Dua buah tangan bergerak menembus keluar cermin dan terangkat ke arahnya. Taemin melangkah mundur menjauhi sosok itu yang terus mencoba keluar dari cermin dan mengarah ke dirinya.

Sebuah tempat sampah di belakangnya jatuh karena gerakannya, menimbulkan suara yang membuat seorang pria di luar sana mengetuk pintu dan memanggilnya dengan nada khawatir.

“Taemin-ah, neol gweanchana?” Taemin baru menyadari sosok itu telah menghilang begitu saja saat seorang pria jangkung membuka pintu kamar mandi untuk mengecek keadaannya.

“Gweanchana? Kau terlihat aneh, Taemin-ah.” Taemin menoleh ke arah pemilik suara berat itu, ia hanya terdiam dan berfikir apa yang harus ia lakukan.

*****

Taemin melajukan mobilnya, ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya begitu kejadian di kamar mandi itu yang takkan mungkin di percayai oleh keempat Hyungnya. Taemin tak yakin jika ada orang di rumahnya, dan itu akan lebih baik jika tidak ada orang dirumahnya. Ia tak ingin keluarganya tahu, ia pulang hanya untuk mengobrak-abrik rumah mereka.

TAEMIN POV

Aku membuka pintu rumah dengan hati-hati, menyembulkan kepalaku untuk melihat apakah ada seseorang dirumah. Sebuah boneka jepang yang kubawa dari Jepang terjatuh dari meja karena kecerobohanku yang bahkan tak bisa berjalan tanpa suara.

“Nuguseyo?” aku mendesah pelan, usahaku untuk masuk secara diam-diam ternyata tidak berhasil juga. “Aku pulang Eomma” jawabku. Kudengar sebuah derap langkah semakin mendekat, hingga akhinya menampakkan Eomma yang masih dengan sarung tangan berkebun miliknya.

“Taemin-ah, kau pulang lebih cepat.” Eomma langsung memeluk tubuhku, pelukan hangatnya tak berubah sejak dulu. “Kebetulan minggu ini kami free, jadi aku memutuskan untuk kesini” jelasku.

“Eomma sedang membuat biskuit dan sekalian bersiap untuk makan siang, Taemin ingin mencicipi biskuit buatan Eomma?” aku mengangguk pelan dan mengikuti Eomma yang melangkah ke arah dapur.

Eomma membawa seloyang biskuit dari dekat oven ke meja yang ada dihadapanku, aku segera mengambil salah satu dari biskuit itu. “Hati-hati.” ujar Eomma begitu melihatku yang sedang meniupkan biskuit karena masih terasa panas.

“Eomma, apa aku benar-benar tidak punya saudara kembar?” tanyaku, Eomma menoleh dan menatapku dengan aneh.

“Eh, kenapa kau bertanya seperti itu? Ah~ Apa impian kau mempunyai saudara kembar muncul lagi Taeminie?” aku mengerucutkan bibirku, impianku untuk mempunyai saudara kembar itu sudah lama sekali. Tidak, aku tak ingin punya saudara kembar. Malah sekarang rasanya aku takut mempunyai saudara kembar –takut ia akan membunuhku –.

“Aniyo, hanya bertanya.” sahutku, “Eomma aku ingin ke kamarku.” Eomma mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari biskuit-biskuitnya.

Aku berjalan keluar dari dapur dan malah membongkar tempat barang-barang milik Appa dan mengeluarkan sebuah senter dari sana. Kemudian kembali berjalan, aku menarik sebuah tali –yang menggantung– di lorong kamar belakang yang menjadi kamar tamu.

Sebuah tangga lipat jatuh dengan perlahan dari atas, itu adalah tangga menuju loteng. Biasanya Eomma dan Appa menyimpan barang-barang yang sudah tidak digunakan diatas sana. Aku merogoh sebuah senter dari kantongku, menaiki tangga dengan perlahan.

Aku masih terus membayang-bayangi anak laki-laki yang kuyakin adalah diriku. Tapi kenapa mataku nampak seperti mata sosok menyeramkan yang selalu menghantuiku?

Bau lembab dari kayu lapuk mulai menyeruak di hidungku saat aku mulai melangkahkan kaki memasuki loteng lebih dalam. Dengan cahaya seadanya aku menarik sebuah tali yang lagi-lagi menggantung dan sebuah lampu bohlam menyala dengan cahaya yang redup.

Aku menandang tumpukkan kardus-kardus yang tergeletak di loteng, lalu mengarahkan senterku yang menyala untuk membaca tulisan tangan yang tertulis di kardus-kardus itu. ‘Barang-barang Taemin’ segera aku membuka kardus itu.

Disana hanya berisi pakaian-pakaian lamaku dan aku mendapatkan sebuah pakaian yang persis seperti pakaian yang dikenakan diriku di bayanganku itu.

Tubuhku menengang begitu mendengar sebuah suara –orang yang tengah menghela nafas– dari belakangku. Aku memberanikan diriku untuk membalikkan badanku, lagi-lagi bayangan hitam dengan mata merah menyala yang selalu menggangguku itu muncul lagi.

Aku masih terdiam membeku di tempatku, menatapnya yang semakin mendekatiku. Semakin mendekat, dan mendekat sampai aku bisa melihat wajahnya.

“Kembalikan tubuhku.” aku masih belum bisa mengembalikan jantungku yang mempompa jauh lebih cepat dan ia sudah membuat jantungku hampir jatuh dari tempatnya karena perkataannya.

“Sebenarnya kau siapa? Kenapa wajahmu sama sepertiku?” sosok pria dengan wajah sepertiku tapi dengan mata yang merah menyala itu tak menghiraukan pertanyaanku dan malah mengatakan perkataan yang sama berkali-kali.

Tangannya terjulur ke arahku dan menyentuh dadaku perlahan kulihat kulitnya yang pucat itu berubah menjadi menjadi kulit manusia pada dasarnya. Sementara itu kulitku berubah menjadi pucat, aku terus berteriak sejadi-jadinya berharap dengan cara itu seseorang bisa mendengarku dan membantuku keluar dari sini.

“Taemin-ah! Ada apa? Kenapa kau berteriak begitu keras nak? Kenapa kau ada disini?” aku membuka kedua mataku mencoba memandang wajah Eommaku dengan cahaya yang redup.

“Eomma?”

“Taemin-ah, kajja. Kenapa tidak istirahat di kamar eoh?” ujar Eomma sambil menggandeng tanganku pergi dari loteng. Eomma membawaku ke kamarku dan menyuruhku untuk tetap diam di ranjangku, setelah itu Eomma pergi ke dapur untuk membuatkan minum untukku.

Aku masih saja terus memikirkan sosok itu, sosok yang entah manusia, hantu ataupun roh. Tapi kenapa dia ingin tubuhku? Kenapa wajahnya sama denganku? Sebenarnya ada apa dengan semua ini?

Aku baru tersadar bahwa Eomma dan Appa pernah mengatakan jika saat umurku sepuluh tahun, aku kehilangan ingatanku karena sebuah kecelakaan. Tapi mereka tak pernah mengatakan lebih rinci tentang kecelakaan yang aku alami.

Bagaimana bisa aku memiliki kedua mata yang sama persis dengan sosok yang selalu menghantuiku itu? Dia tidak mungkin saudara kembarku, selain karena fakta yang ada aku juga sama sekali tak berharap mempunyai saudara kembar yang akan membunuhku.

Ketukan pintu dari Eomma membuatku segera membuyarkan lamunanku dan menatap Eomma yang membawa biskuit dan susu untukku. Eomma duduk di pinggir ranjangku dan menatapku dengan hangat setelah meletakan biskuit dan susu yang dibawanya di atas meja kecil yang ada di samping ranjangku.

“Taemin-ah, Eomma lihat sikapmu agak aneh… Ada apa?” sebenarnya aku ingin sekali mengatakan apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Tapi, apakah Eomma akan percaya padaku?

“Eomma, apa Eomma tak ingin mengatakan tentang kecelakaan yang aku alami?” wajah hangat Eomma kemudian lenyap dan digantikan dengan guratan kesedihan. Kemudian Eomma kembali tersenyum ke arahku, “Memangnya apa yang ingin Taemin ketahui eoh?” tanyanya kepadaku.

“Hanya ingin tahu seperti apa aku dulu.” Eomma lagi-lagi tersenyum, “Kau tahu? Dulu kau sangat ingin sekali untuk tak mengetahui semua itu” sahut Eomma.

“Memangnya kenapa?” tanyaku, Eomma memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. “Tidak tahu, kau hanya terus berkata seperti itu tanpa mengatakan kepada Eomma apa yang kau alami.” aku terdiam mendengar jawaban dari Eomma.

“Taemin-ah? Apa masih ingat perkataan Eomma?” aku menoleh ke arah Eomma yang kembali tersenyum lembut ke arahku.

“Apapun yang kau takuti, mereka hanyalah bayangan hitam jahat yang harus kau kendalikan agar bayangan itu pergi dan menghilang selamanya.”

TAEMIN POV END

Taemin membuka kedua matanya dan menoleh ke arah sebuah jam digital yang ada di samping ranjangnya. Pukul 02.24 AM. Taemin memutuskan untuk bangun dari pada ia harus terus mencoba untuk tidur. Ia duduk di pinggir ranjangnya, matanya baru saja melirik ke sebuah bangku yang ada di kamarnya, sebelum akhirnya ia sadar bahwa ada seorang gadis kecil yang menduduki kursi itu dengan manis.

Seorang gadis kecil dengan gaun berwarna biru muda dan rambut hitam sepunggung yang dihiasi dengan pita berwarna biru gelap. Kedua kaki mungil yang dibalut dengan sepatu berwarna hitam itu ia gerak-gerakkan, kedua mata hazel itu menatapnya dengan tatapan polos milik gadis itu.

“Taemin tidak seharusnya ada disini.” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Taemin yang masih membeku di tempatnya. “Taemin tidak seharusnya disini.” ucapnya lagi seakan-akan ia mengusir Taemin dari rumahnya sendiri.

“Siapa kau?” tanya Taemin dengan sedikit menyipitkan kedua matanya menatap gadis yang kira-kira seumuran dengan bayangan dirinya yang bermata merah meyala. Firasat Taemin mengatakan bahwa gadis itu adalah salah satu teman anak itu, tapi kenapa ia tidak menyeramkan?

“Dia akan datang sebentar lagi untuk mengambil tubuhnya, dia takkan berhenti sampai keinginannya tercapai.” Taemin hanya bisa melongo melihat gadis kecil itu yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaannya.

“Tubuh? Apa… Pria itu? Pria menyeramkan yang selalu menghantuiku dan terus mengatakan bahwa aku harus mengembalikan tubuhku padanya?” gadis kecil itu mengangguk pelan, membuat Taemin berdecak kesal.

“Begini saja. Gadis kecil, kau harus membantuku untuk menceritakan padaku ada apa dengan semua ini.” sejak tadi gadis itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi lain selain wajah datarnya.

“Tidak, itu tidak penting. Yang kau harus lakukan adalah tetap mempertahankan tubuhmu dari dia.” sahut gadis kecil itu.

“Setidaknya kau harus memberitahuku ada apa dengan semua ini!” gadis kecil itu kembali terdiam sebelum akhirnya ia menghilang.

“Aku benar-benar harus menyelesaikan semua ini.” gumam Taemin pada dirinya sendiri.

Taemin kembali ke loteng untuk mengambil kembali barang-barangnya tanpa peduli jika sosok pria berwajah sepertinya itu muncul kembali. Setelah ia membawa barang-barang itu kedalam kamarnya tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya, ia segera mencari informasi yang ia butuhkan.

Taemin hanya bisa menemukan buku-buku lamanya dan catatan sekolah tentang dirinya. Di catatan itu hanya tertulis dirinya yang melakukan kenakalan pada teman-temannya. Selain itu ia mendapatkan sebuah foto yang menunjukkan dirinya bersama seorang anak laki-laki lainnya dan gadis kecil yang baru saja mendatanginya. Pasti mereka adalah teman-temannya saat masih kanak-kanak, tapi dimana mereka sekarang?

Taemin membuka sebuah buku dengan sampul biru tua polos, perlahan ia mengelus sampul buku itu sampai akhirnya ia membuka buku lusuh itu. Taemin membuka halaman dari buku lusuh yang ternyata adalah buku diary milik pria bersama Taesun.

“Taemin-ah? Apa kau sudah bangun?” refleks Taemin menendang kardus yang berisi barang-barang lamanya itu ke bawah ranjangnya.

“Sudah Eomma.” sahutnya kemudian menyembunyikan diary lusuh itu dan segera membuka pintu kamarnya.

Ibunya berdiri di hadapannya dengan menyunggingkan sebuah senyum hangat untuk dirinya. “Mandilah kemudian sarapan bersama Appa dan Eomma.” ujar Ibunya dengan lembut.

“Ne, Eomma.” Ibunya baru akan melangkah pergi sebelum akhirnya Taemin kembali memanggil Ibunya dan membuat Ibunya menoleh ke arahnya.

“Hari ini aku akan keluar sebentar, tidak apa-apa kan Eomma?” Ibunya mengerutkan keningnya, “Ada apa? Bukankah kau free minggu ini?” Taemin menggigit bibir bagian bawahnya menahan rasa gugupnya.

“Ada seseorang teman yang ingin menemuiku Eomma.” Ibunya kemudian menangguk dan akhirnya melenggang pergi.

******

Taemin memberhentikan mobilnya di bahu jalan dan merogoh tas selempangnya yang ia letakan di bangku di samping kemudi. Ia mengambil buku diary yang ia ambil sebelumnya dan kembali membaca satu persatu halamannya.

Hanya sebuah buku diary biasa oleh anak berumur sebelas tahun, halaman yang masih tidak bisa dikatakan rapi dan penuh dengan tulisan acak-acakan.

Hari ini Appa dan Eomma kembali datang kesekolah karena Taemin yang lagi-lagi membuat ulah di sekolah. Ia menyakiti teman-temannya dan membuat anak-anak malang itu harus dilarikan ke rumah sakit, jadi pihak sekolah harus mengskorsnya.

Taemin terkejut mendengarnya, jadi inilah alasan kedua orangtuanya menyembunyikan semuanya dari dirinya. Lalu, apa anak bernama Taesun ini adalah kakaknya? Tapi, dimana ia sekarang?

Aku tak menyangka adik kecilku yang kusayangi berubah sejauh ini, ia bahkan berani membentak kakaknya sendiri. Padahal aku hanya ingin menjaganya, aku tak ingin Taemin berubah menjadi anak yang jahat. Taemin adalah adikku yang kusayangi dan aku takkan membiarkannya berubah.

Buku itu pun jatuh, Taemin mengirup udara yang ada dengan serakah bagai ia akan kehabisan udara jika ia tidak dengan segera mengirupnya. Jadi, dimasa lalu ia adalah anak yang jahat? Mungkinkah seperti itu?

Taemin merasa kerongkongannya terasa kering dan ia pun akhirnya memutuskan untuk membali minuman di sebuah café yang ada di pinggir jalan. Ia membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju café sebelum akhirnya seorang pria dengan pakaian yang tidak terawat itu berlari dan berhenti di hadapannya.

Pria itu menatap dirinya seakan dia adalah perampok yang menghabisi semua isi rumahnya, telunjuk pria itu tertunjuk pada dirinya. “Lee Taemin….” gumam pria itu kemudian ia pun berteriak histeris dan meminta maaf pada dirinya.

Ayolah, ia sudah cukup tersiksa dengan teka-teki yang ia dapat dan apa yang akan dilakukan oleh pria itu?

Dari kejauhan nampak segerombolan pria lainnya yang berlari ke arah Taemin dan pria itu. Untuk sesaat Taemin pikir bahwa segerombolan pria itu akan salah sangka dengan apa yang terjadi, dan ia harus menghapus pikirannya itu.

Para pria itu pun menangkap paksa pria aneh itu dan meminta maaf kepada Taemin yang membeku sedari tadi.

“Ah~ Kami minta maaf tuan, orang ini pasti mengganggu anda. Pria ini memang seharusnya ada di Rumah Sakit Jiwa sejak lama.” Taemin mengerutkan keningnya mendengar apa yang baru saja pria itu katakan.

“Ne? Rumah Sakit Jiwa?” pria itu mengangguk pelan dan menyuruh teman-temannya untuk membawa pergi pria gila itu.

“Dia terus saja berteriak dan mengatakan bahwa ada jiwa gelap yang akan membunuhnya!” pria itu kemudian tertawa dengan apa yang ia katakan sendiri.

“Gurom, saya pergi duluan tuan! Kami harus membawa pergi pria itu, sepertinya pria gila itu tidak mau mendengar perkataan teman-temanku.” pria itupun melangkah pergi meninggalkan Taemin yang terus memaksa dirinya agar segera masuk kedalam café.

Taemin pun segera memesan minuman begitu ia sampai di café itu, Taemin memandangi pelosok café itu. Pandangan Taemin pun tertuju pada seorang gadis dengan gaun merah dan rambut panjang yang duduk di meja yang ada di pojok ruangan café itu.

“Maaf tuan, pesanan anda.” Taemin menoleh ke arah pelayan café itu dan mengambil pesanannya. Ia menyempatkan melirik gadis dengan gaun merah itu sebelum ia kembali ke mobilnya tapi kini gadis itu tidak ada.

Taemin memijiti pelipisnya yang berdenyut-denyut, ia tidak boleh sakit hari ini. Setidaknya setelah ia menyelesaikan teka-teki ini dan semua yang menghantuinya itu pergi dan tak pernah muncul lagi.

Taemin lagi-lagi terperangkap dalam kesunyian, ia tak bisa memungkiri dirinya yang begitu lelah karena perkerjaannya ditambah harus mencari teka-teki untuk apa yang ia alami sekarang. Tiba-tiba Taemin memikirkan pria gila yang menemuinya tadi, mungkin tak sopan memanggilnya seperti itu tapi ia memang tidak tahu siapa nama pria itu.

Pria itu menyebut namanya lalu berteriak histeris, seharusnya ia ada hubungannya dengan apa yang ia alami sekarang. Setelah akhirnya mencari pria yang membawa pria gila itu ke tempat yang selayaknya, ia meminta pria itu agar bertemu dengan pria gila itu.

Tapi dia tak membiarkan Taemin menemuinya dengan alasan bahwa pria itu sangat berbahaya. Taemin tak mengerti pengertian bahaya bagi pria itu, ia hanya berteriak begitu melihat dirinya dan itukah yang disebut berbahaya? Seharusnya Taemin yang dikatakan berbahaya karena sudah membuat pria itu berteriak histeris.

Taemin terus memaksa dan akhirnya ia pun dapat menemui pria itu yang telah dimasukkan ke sebuah Rumah Sakit Jiwa di Seoul. Ini adalah pertama kalinya untuk menginjakkan kakinya ke tempat yang dihuni oleh para pasien-pasien yang beringkah aneh saat melihatnya.

Setelah mengatakan kepada salah satu perawat di sana dan akhirnya mereka membawa Taemin untuk bertemu dengan pria itu. Taemin memandang pria itu yang sama sekali tak berani menatapnya, ia hanya membuang wajahnya setiap Taemin mencoba untuk menatap kedua mata pria itu.

“Apa kau mengenalku?” pria itu hanya terdiam dan menyembunyikan wajahnya, seakan Taemin adalah sosok hantu yang terus menghantuinya.

“Tolonglah, aku harus segera mengakhiri ini! Pria berwajah sepertiku itu terus menghantuiku!” akhirnya pria itu pun menatapnya, “Dia kembali….” gumam pria itu.

“Dia kembali untuk mengambil tubuhnya… Lalu akan menyingkirkanmu dari dunia ini.” pria itu kemudian tertawa menyeramkan. “Dia akan menyelesaikan semua ini… Kemudian datang dan membunuh satu persatu dari kami.” tiba-tiba pria itu langsung ketakutan dan berteriak histeris seperti saat pertama kali bertemu dengannya.

Para perawat berlari menghampiri mereka dan mencoba menenangkan pria itu yang terus melawan mereka. Akhirnya pria itu menghentikan aksinya begitu merasakan sengatan jarum suntik berisi cairan penenang yang menelusup diantara pori-pori daging pinggangnya.

Tak lama pria itu mulai terdiam –setidaknya mulai lebih tenang- lalu akhirnya ia dibawa kembali ke kamarnya oleh para perawat, dan akhirnya meninggalkan Taemin yang terdiam di tempatnya. Ia terus mencoba mengerti perkataan yang tak berbeda jauh dari gadis kecil yang muncul di kamarnya.

Taemin melangkah meninggalkan Rumah Sakit Jiwa sambil terus memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk mengakhiri semua ini. Ia masuk kedalam mobilnya yang terparkir di parkiran Rumah Sakit, ia terdiam sejenak dan akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya.

Hari sudah mulai senja dan Taemin masih berada di perjalanan. Ia memasuki kawasan kompleks perumahan yang cukup jauh dari rumah mereka. Taemin mematikan mesin mobilnya, melangkah keluar dari mobilnya dan mendangi sebuah rumah berukuran sedang dengan halaman yang cukup luas yang ada di hadapannya kini.

Itu adalah rumah mereka dulu, itulah yang Taemin ketahui. Ibunya mengatakan bahwa mereka pindah rumah begitu Taemin mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan ingatannya.

Taemin kemudian mengambil nafas panjang seakan menenguhkan keputusannya untuk masuk kedalam rumah lama mereka yang sudah tidak di huni itu. Taemin menaiki dua anak tangga menuju pintu depan rumah mereka, ia mengintip dari balik kaca untuk melihat keadaan didalam sana.

Taemin kembali ke pintu depan rumah lama itu, awalnya ia hanya mengecek apa pintu itu terkunci dan ia pun sudah mendapat jawabannya. Pintu itu sama sekali tak terkunci. Pintu itu seakan mengetahui keberadaan pemilik rumahnya dan membuka pintunya untuk dirinya.

Taemin memberanikan dirinya melangkah memasuki rumah yang sudah kosong dan berdebu. Cahaya ada pun hanya mengandalkan cahaya dari luar rumah yang menerobos masuk melalui kaca jendela yang ada di setiap ruangan.

Taemin menggelengkan kepalanya sendiri begitu kedua matanya menunjukkan bayangan aneh dari rumah itu. Ia menggelengkan kepalanya yang berusaha untuk menyingkirkan bayangan itu malah membuat bayangan dari rumah itu kembali terasa nyata di pandangan matanya.

Rumah yang seharusnya kosong dan berdebu itu kini telah terisi dengan perabot yang terasa familiar bagi dirinya sendiri. Taemin kini dapat melihat koridor yang sama dengan di mimpinya. Tapi tak ada seorang anak laki-laki –dirinya- yang berdiri di ambang pintu yang hanya berjarak tiga meter dari tempatnya berpijak.

Sebuah suara aneh terdengar di telinga Taemin, ia melangkah ke arah suara itu yang ternyata berasal dari sebuah kamar tempat dimana anak laki-laki itu berdiri di dalam mimpinya. Taemin dapat melihat seorang anak laki-laki yang ia tahu adalah dirinya yang kini lebih besar itu tengah menutup wajah seseorang yang sedang terbaring di ranjang dengan bantal.

Tak lama dirinya yang lain itu menarik kembali bantal dari wajah seorang pria yang masih terbaring di ranjang itu. Taemin masih dapat melihat senyum licik yang tersungging di wajah dirinya yang lain itu. Perlahan dirinya yang lain itu menoleh ke arahnya dan menunjukkan mata merah menyala yang tersorot ke arahnya.

Tidak, mata itu sama sekali tak menakutinya. Mata itu bagaikan memberitahunya apa yang ia tak ketahui. Mata itu memberitahu semua jawaban dari pertanyaan yang terus berkecamuk di pikirannya.

Sepatu sneakers yang membalut kakinya bergeser ke belakang dan tubuhnya menengang saat ia mendengar deru nafas yang sangat jelas dari belakangnya. Tubuh Taemin tiba-tiba terdorong ke depan dan jatuh bersamaan dengan keadaan rumah yang akhirnya kembali seperti semula.

Taemin segera membalikkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada dinding yang kotor dengan bercak-bercak aneh karena air hujan yang merembes. Ia berusaha mencari gerangan yang membuatnya mati ketakutan. Ia bangun dan berusaha keluar dari rumah itu sebelum hal aneh lainnya kembali menghujamnya.

Baru saja ia berusaha keluar dari kegelapan yang mulai membekapnya, sosok yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya itu muncul di hadapannya. Bibir kelam itu menyunggingkan senyum ke arahnya, dengan cepat salah satu tangan pucat itu mengcengkram lehernya.

“Kau telah meminjam tubuhku, sekarang kembalikan!” Taemin menarik bibir bagian kanannya dan tersenyum meremehkan ke arah sosok yang mencoba mengcekiknya.

“Dalam mimpimu,”sosok itu semakin kesal dibuatnya hingga ia semakin mengencangkan cekikannya dan membuat Taemin sulit untuk bernafas. “Semua itu… Semua hal kejam itu… Kaulah yang melakukannya… Bukan diriku… Dan kau sama sekali bukan diriku!” sosok itu menjatuhkan Taemin begitu saja dan menatap tajam Taemin yang terbatuk-batuk.

“Kau… Aku takkan pernah memberikan tubuhku pada dirimu yang berani membuat Taesun Hyung dan teman-temanku mati!” ujar Taemin dengan lantang sambil menatap tajam ke dalam sepasang mata merah menyala itu.

“Kau takkan bisa mengambil tubuhku begitu saja! Kau adalah sebagian dari tubuhku, dan aku menyuruhmu untuk pergi menghilang selamanya! Pergi jauh dan takkan pernah kembali! Pergi ke neraka dan rasakan apa yang kau telah perbuat terhadap orang-orang yang kau sakiti!” sosok kemudian berteriak merasakan tubuhnya yang terbakar oleh api kebencian yang ia pendam selama ini.

Tidak, tak hanya sosok itulah yang terbakar tapi juga seisi rumah. Taemin yang begitu lemah hanya mampu meringkuk dan terbatuk-batuk dengan asap yang mengisi isi rumah. Semua terlihat berbayang, lalu kegelapan yang akhirnya menguasainya.

*****

Taemin membuka kedua matanya perlahan begitu cahaya menyilaukan menerobos masuk untuk membangunkannya. Bau khas obat-obatan menyeruak menusuk indra penciumannya, perlahan ia menoleh ke arah sesosok wanita yang tengah tersenyum ke arahnya.

“Taemin-ah… Syukurlah kau sudah bagun, semuanya mengkhawatirkanmu.” Taemin hanya bisa tersenyum kecil walaupun ia ingin sekali menunjukkan dirinya yang begitu senang bisa terbangun dengan orang-orang yang ia sayangi di sekelilingnya.

“Hey, ini ulangtahunmu tapi kenapa kau harus terbaring di ranjang eoh?” goda Jonghyun yang berdiri disamping ranjang Taemin.

“Permohonanku terkabul… Aku ingin tuhan memberikanku waktu untuk istirahat sejenak bersama orang-orang yang kusayangi saat hari ulangtahunku,” Taemin akhirnya bisa kembali membuat orang-orang yang ada disana tertawa mendengar perkataannya.

Taemin melirik sebuah ke sebuah televisi di kamarnya yang menyiarkan tentang berita pembunuhan seorang pria di Rumah Sakit Jiwa. Ia berharap apa yang ia pikirkan adalah sebuah kesalahan dan akhirnya ia harus menyesali itu. Pria gila yang ia belum sempat ketahui namanya itu meninggal dengan tragis dan tidak wajar.

“Taemin-ah? Eomma dan yang lain harus keluar sebentar, dokter dan suster sedang dalam perjalanan ke sini untuk memeriksa mu,”

“Eomma, setidaknya Eomma menemaniku disini sebentar sampai dokternya datang,” sahut Taemin begitu merasakan sesuatu firasat yang tidak enak.

“Aigo~ Sejak kapan uri Taeminie seperti ini? Sudahlah Eomma pergi dulu.”akhirnya mereka semua meninggalkan Taemin sendirian di ruangan rawatnya. Taemin benar-benar merasakan bulu kuduknya berdiri merasakan udara dingin di ruang itu.

Televisi yang seharusnya masih dalam keadaan menyala akhirnya mati begitu saja, membuatnya semakin yakin bahwa bukan hanya dirinyalah yang ada di ruang tersebut. Taemin menoleh ke arah sebuah sofa kosong ada di ruangan itu. Tidak, bukan sofa kosong. Sofa itu sudah duduki oleh sosok bermata merah menyala yang menyunggingkan senyumnya di bibir kelamnya.

“Kembalikan tubuhku….”

-FIN-

P.S :

Aduh, aku minta maaf sebesar-besarnya jika ff ini benar-benar gaje plus-plus. Aku masih terus mengasah kemampuan menulis aku yang benar-benar cetek. Maaf jika ada penulisan yang salah ataupun hal-hal lainnya. Ini ff horror pertama aku jadi emang aku nyadar kalo feelnya gak terlalu dapet gitu, kecuali kamu bacanya di kuburan*brbkabur*.

Baiklah sekian dari aku dan sekali lagi Happy Birthday uri beloved magnae Taeminie Oppa! Hope you more shining in our heart, in the world that have many shining star and always healthy. We love you~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

61 thoughts on “[WFT B] 18th July

  1. ah, udah lama gak baca ff disini,
    sumpah ffnya keren bngt,
    tp masih ada yg blum aku ngerti,
    pria yg ada di rumah sakit jiwa itu siapa??
    awalnya aku kira itu taesun, tp ternyata taesun sudah mati,

  2. Hohohoho first reader
    Keren jalur ceritanya
    Tapi kenapa penjelasannya tidak selesai, mengenai siapa bayangan itu?, kenapa tiba-tiba muncul?, dan cerita akhir yang sepertinya tidak selesai. Karena bayangan itu muncul lagi.
    Siapa orang gila itu juga?
    Keren FFnya, horror itu keren
    Semangat author (งˆ▽ˆ)ง
    Keep writing (งˆ▽ˆ)ง

  3. FF nya keren, tapi ngegantung ._. belum tau apakah Jiwa jahat Taemin yang akan menempati tubuhnya atau Jiwa baik dan hangat yang akan menetap di tubuh taemin ._.

    Terlepas dari itu, FFnya Keren , Keep Writing ne ^^

    Jangan lupa mampir di ep ep aku : We Hate (Love) You, Lee Taemin! *promosi lagi -_- *kabuurrr

  4. Ff-nya keren, horor, tapi aku masih penasaran sma beberapa hal,,siapa pria di rsj & si sosok hitam misterius sbenarnya sma rumah lama taemin kok bsa kbakar..trs itu sosok hitam-nya bangkit lagi atau gmana? soalnya dirumah taemin khan dia dah kebakar. apa cma aku yg g mudeng ya..
    but stay hwaiting o.k!

  5. wah keren keren,,,
    sosok hitam misterius itu apa sosok taemin masa lampau (sosok taemin masa lalu yang jahat). Dan sosok tersebut kembali ke dunia untuk vbalas dendam (?)
    Daebak thor, berhasil buat saya merinding, dan penasaran. Keren
    andai ada lanjutannya ^^v hehee
    kerennnn

  6. Aaah, baru sempat komen ._.”
    FF ini kece, deg-degannya dapet. Bahasa yang dipakai juga enak dibaca. Tapi mungkin karena dibuat oneshot jadi rada ngebut aja rasanya di tiap pergantian adegan gitu.
    Trus, pria RSJ itu gimana sama pria2 itu gimana kurang dieksplor. Itu aja..Tapi cara ending-nya aku suka..xD

    Keep writing yaaa…Latihan terus, biar ff horror-nya makin keren😀

  7. Ga ko thorr… feel nya dpt bgt malah.. soal’y aku pernah nonton film yg temanya g jauh beda ma ini. judulnya klo g salah ‘nightmare on elm street’ klo dijelasin bedanya apa aja pasti panjang.. tpi jujur feelnya dpt bgt.. keren deh thor..

  8. omo! keren, FF ini sungguh keren! siapa juga yang bilang feelnya gak kedapet?
    aku ikutan merasa merinding kok, malahan aku membayangkan diriku yang berada di posisi Taemin .. Hhaha
    well, masih ada beberapa kata yang typo, tapi akk menyukai caramu dlam pemaparan cerita, bagus sekali, pemilhan kata-katanya juga.. tapi yeah, aku masih blum mengerti maksud cerita ini, ada bberapa bagian yang mmbingungkan.. mimpi? mana yang mimpi? trus kok akhir ceritanya sperti ini? knapa gak dilanjutkan lagi? *maunya* hahah
    oh, sedikit saran, ada bagusnya jika bahasa korea itu diberikan cetak miring ya ^^

    cukup sekian dan kunjungi FFku juga yang judulnya it’s a dream..
    thanks before ^^

  9. ff ini bagus banget~ walaupun aku mesti ngulang2 bacanya biar ngerti.
    horrornya feelnyaa aku dapet hahaaha
    ini mah udah ada bakat ini, tinggal diasah aja keep writing yaa😀

  10. Hi author! salam kenal ya..
    aku suka banget ff horor kayak gini, jarang-jarang lho ada yang bisa bikin ff horor..
    feelnya dapeeeet banget kok, soalnya aku baca nih ff tengah malam coba hehe.
    yaudah tetep semangat ya!
    stiil, fighting author! Hope the best for you ^^

  11. percaya nggak? saya sangat terkejut ketika membaca ff kamu ini.
    kenapa? karena ini ide ceritanya 90% mirip ceritanya sama yang ada di otak aku. cuma nggak kesampaean, trus nggak jadi. yang paling membedakan itu latar belakang aja kali, ya.
    cukup meneganggkan. tapi aku nggak terlalu srek coz feel aku lagi jelek pas baca.
    trus menulis. biar lebih bagus, ok?!

  12. ngegantung bangettt…
    serasa nonton film thriller horror…

    saya sempet berfikir kalau Taemin berkepribadian ganda…

    Taesunnya kemana? anak perempuan itu teman Taemin kecil ya, apa dia sudah meninggal? yang di RSJ siapa?

    Maaf klo banyak nanya.. Saya suka ceritanya, tapi karena banyak yang belum jelas, saya penasaran…

    Ok Rinee, ditunggu karya selanjutnya ya..🙂

  13. Ceritanya keren!!! Tapi sama sih kayak komen2 sebelum2nyaaa… Kok enndingnya gantung…. Dan pria yang dirumah sakit itu siapa trs posisi Jonghyun disini sebagai member SHINee juga ya???

    Kepp writing!! Semangat!! Semangat!!

  14. Setelah sekian lama nggak kesini, akhirnya FF kece di blog ini nambah juga =”3

    Jjang semuanya, mulai dari alur ceritanya, penggunaan kata-katanya, bahkan ending ngegantungnya pun pas banget! x3

    Keep writing, Author-nim!

  15. dan akhirnya taemin pun mati tak wajar di bangsal tempat ia dirawat…. *ngelanjutin ceritanya sendirian..wkwkwwk..
    keren ceritanya, walau kadang alurnya agak sedikit membingungkan, mungkin akan lebih oke, klo dijadiin sebuah sequel, jadi semua pertanyaan itu bisa terjawab, bingung kenapa tiba2 rumahnya kebakar, trus pas di RS dia muncul lagi, apa cuma ketakutan taemin sesaat aja?? atau dia kepribadian ganda?? atau??

    tapi untuk penulisannya udah oke, dan sedikit misstypo *wajar.. heheheh

    keep writing ^o^d

    1. ahaha, iya say. Lanjutin aja gak apa-apa, authornya ini emang malas plus, plus masih cetek dalam membuat ff.
      Iya, sorry ya kalo typonya itu ganggu banget.
      Makasih ya udah mau baca ff aku~

  16. whoaa~ horrornya berasa.. jadi deg2an sendiri bacanya~
    kirain ‘taemin-yg-lain’ udah bener2 tamat riwayatnya waktu kebakar itu, ternyata…… semoga taem selamat deh ya ._.
    sama kaya komen2 diatas.. aku masih penasaran, siapa orang gila yg meninggal di RSJ, siapa gadis kecil yang ngomong ama taemin, siapa gadis bergaun merah di cafe, siapa yg bunuh orang gilanya ._.
    tapi intinya ini ff keren! ^^

  17. Wah, cucok rempong ff nya cinn… Meski ada beberapa typo dn kata2 yg dobel tp alurnya bener2 daebak deh,, bikinnya keburu2 yahh :p
    Aku penasaran sm cowok yg ada di foto masa lalunya taeminn, kn ada 3 org ya di foto itu, si taemin, si cewek gaje sama satunya lg si cowok itu yg belum d jelasin, tu cowok taesun ato jgn2 org gila yg ada d rsj itu ya? Hahaha
    aduh gtau napa sempet ngakak waktu adegan ‘pembekapan dgn bantal’ d rumah lama taemin, itu yg dibekep taesun kah? Hiiiy taemin waktu kerasukan arwah jahatnya kejem bener ya
    endingnya… Gantung u_u as expected from… genre horor (?) aaah gk terimaaa, pokoknya harus bikin sekuelnya kalo sempetttt… Gk bisa tidur nih mikirin endingnya yg gantunggg *pelukcipok abang key*
    keep writing ne ^^

  18. Aku suka sama yg horor begini ciyussss! ._.v aku ngeh’ kok sama ide ceritanya bagus hehehe, tapi truthly, pas awal baca aku rada susah mudeng, trus nyampe akhir baca aku mikir eung, dan nemu penyebabnya, iya, bener alurnya agak kecepetan, trus banyak kalimat gak efektif yg akhirnya buat makna ambigu.

    Tapi tapi, begitu aku ngeh aku takjub. Ceritanya keren meskipun endingnya bikin aku pengen bakar taemin, gantung berasa di phpin -_- dan maksud judulnya apa ya? Wakakkaak

    Sip sip keep writing! Perbanyak author horor (?) di SF3SI !!

    1. maksud judulnya itu karena kejadian itu pas 18 Juli, kejadian si ‘taem yang lain’ mau ambil kembali tubuhnya kan pas ulang tahunnya Taemin gitu lhoo.
      Agak aneh ya?
      Makasih ya udah baca ff aku~

  19. Numpang lewatttt *lambai2

    Emm kakak author, klau menurutku ffnya itu keren banget. pemilihan kata kakak author keren banget. walau ada typo dikit tapi tetep keren (y).
    oh iya, kakak author. bayangan item dgn mata merah itu Taemin sebelum kecelakaankan ? kan katanya taem hilang ingatan tuh. nah abis ntu si item mau balik lagi ke tubuhnya taem kan ? bner gak ? yang bunuh pria di rsj itu bayangan item taem bukan ?
    yasudah lah apapun jawabannya saya terima. kakak author semangat ya ! fighting !
    *ngacirsambillambai2.

  20. Halo, Aidazzling ^^
    Ceritamu bagus, bikin penasaran.
    Tapi sebentar. Berarti sosok itu adalah sisi gelap dari Taemin? Trus kenapa dia menginginkan tubuh Taemin sepenuhnya? Bukannya sosok itu cuma separuh dari jiwa Taemin?
    Kamu mesti merhatiin teknik penulisan lagi, ya. Di sini aku masih nemuin kata depan (yang menunjukkan lokasi atau posisi) yang penulisannya digabung (misalnya yang harusnya ‘di sini’ jadinya ‘disini’), kata depan penulisannya mesti dipisah, misalnya ‘ ke depan’, ‘ke belakang’, ‘ke sekolah’, dan lain-lain.
    Kata-kata asing seperti ungkapan ekspresi dan panggilan dalam Bahasa Korea dicetak miring, ya. Oh, ‘Tuhan’ ditulis dengan huruf besar, ya ^^
    Deskripsi spasialnya oke banget, aku suka cara kamu menggambarkan keadaan suatu tempat dengan cukup detil. Dan aku ga masalah dengan ending yang menggantung, toh di film-film thriller kadang endingnya juga sering dibuat menggantung, kan?
    Nice job! ^o^b

    1. iya gitu, jadi kayak salah satu jiwa itu harus berusaha merebut tubuh itu. Nah, nantinya yang bisa mempertahankannya gitu, jiwanya akan jadi kepribadian orang itu. Kalo jiwa jahat, yah, dia jadi jahat dan begitu juga sebaliknya.
      Iya, aku bener-bener minta maaf tentang typo yang sepertinya benar-benar tidak dapat dimaafkan *nangisgajedidadaTaem*
      Hehehe, akhirnya ada yang tahu juga alasan saya membuat endingnya seperti ini.
      Iya, makasih banyak ya udah baca apalagi comment dan kritik ff aku ini~

  21. keren~ ^o^
    syukurlah aku bacanya siang, karna kalo malem aku bisa-bisa gak tidur karna ketakutan *brigithlebay

  22. wah yg horor kyk gini aku suka *o*
    tapi kenapa Taesun mati? Taemin yg membunuhnya? hehehe ada beberapa bagian sih yg gak aku mengerti, mengenai yg diatas. Apa taemin juga membunuh tmen2 nya juga? soalnya ada percakapan yg bilang gtu ._.

    trus pria gila itu, mati karna apa? heheh yg ini kyknya gk penting,tp aku penasaran knpa pria itu mati bgtu saja ._.
    but, over all very good! jempolan deh, aku suka ^^

  23. yah, sebenarnya saya sengaja banget menebar cerita yang belum ada alesannya gitu.
    Pengen sih, jawab semua pertanyaan readers lewat sequelnya. Tapi kita liat nanti aja ya^^;;;
    Okay, makasih banyak udah baca ff aku~

  24. Nice FF chngu, aku suka sama ceritanya, well tiap orang pasti punya 2 sisi yang saling bertolak belakang, kadang berhati malaikat tapi kadang berubah jadi iblis
    Keep Writing

  25. lah kok endingnya ngegantung thor.________.)a
    aduh nnti gak bsa tidur dong nih:3

    tp keren kok ceritanya~~ nice story~~ jjang^^!!

  26. Ffnya Daebak!!!
    Authornim.. Feelnya dapet banget masa.. ^_^
    Cuma sebenernya kalo dikasi tau kenapa yang orang gila itu bisa mati, mungkin bisa jadi makin bagus~ Tapi gini aja juga udah bagus kok.. ^^ Kkk~~
    Keep Writing ya..😀 Aku tunggu ff horror selanjutnya..😀 Kkk…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s