[WFT B] Butterfly – Part 1

Title                 : Butterfly (1 of 5)

Author             : Bella Jo

Main Cast        : Lee Taemin (SHINee) | Kuroi Ageha (OC)

Support Cast   : Other SHINee members

Length             : Sequel

Genre              : Romance, Fantasy, Tragedy, Action, Supernatural

Rating                         : PG 15

Summary         :

“Namanya kupu-kupu hitam. Ironis, bukan?” sambung Keyx lagi, “Seakan dia menunjukkan hubungan tidak langsung dengan iblis…” Tubuhnya kini tampak melayang di depan jendela kamar. Penyihir muda itu langsung beranjak mendekatinya, menanti kata-kata lanjutan.

“Kau tau apa jadinya jika manusia menukarkan jiwanya saat berjanji dengan kami?” tanya Keyx lagi. Taemin diam tak merespon, tak tahu jawabannya. Keyx tersenyum licik, “Kupu-kupu hitam adalah pembawa jiwa mereka setelahnya….”

A.N                 : Saengil chukkaeyo, Taemin oppa. Selamat menjalani jenjang kekuasaan~~! Kekekeke…. Ayo Devil’s Game readers maupun readers baru merapat…! selamat menikmati~~

BUTTERFLY

BY BELLA JO

Tatap menilik di balik kepak sayapmu

Bahkan tanpa tatap balik iris coklatmu

Matahari bersinar terik menghangatkan udara Kota Seoul. Gerahnya hari membuat penduduk kota melepaskan jaket maupun baju hangat yang menjadi kebanggaan mereka di hari dingin. Namun bagaimanapun kota yang musiknya sudah melanglang buana ke berbagai negara itu tetap tampil gaya dengan busana musim panas. Para pekerja kantoran lebih tenang dengan pendingin udara yang menyejukkan tubuh, namun panasnya udara kembali terasa saat tubuh mereka yang berbalut kemeja dan blazer lengkap terpaksa keluar untuk mengurus keperluan tertentu. Hal itu juga dirasakan beberapa pekerja projek fotografi yang diadakan di alam terbuka. Namun kebanyakan dari orang-orang yang mengaku berkecimpung di dunia seni ini memilih untuk memakai kaus tanpa lengan dan jins mereka yang nyaman dan trendi. Namun tetap saja sengatan matahari membakar kulit mereka.

TING

Seorang lelaki muda berusia awal dua-puluhan duduk tenang di salah satu sudut lokasi pemotretan. Kulit putihnya tampak mulai kecoklatan disengat sinar UV. Hanya sepetak tenda kecil yang mampu menjadi tempat perlindungannya saat ini. Bibirnya menyesap pelan minuman soda yang tergenggam di tangannya, namun mata dan pikirannya tak fokus pada kaleng berukuran sedang itu. Ia tengah menatap seorang gadis muda yang tampak tengah sibuk mengatur beberapa hal. Senyumnya tertarik tanpa sadar saat seorang staf terlihat menggoda gadis itu.

“Gadis yang cukup menarik, bukan?”

Lelaki itu tertegun saat suara rendah yang telah ia wanti-wanti itu kembali menggema di telinganya. Ia mencari-cari si empunya suara perlahan, berusaha agar tidak terlihat aneh di mata cordi yang sibuk memoles riasan tambahan di wajahnya. Keduanya menangkap sosok yang ia cari tengah bercakap ringan dengan leader grupnya. Mata keduanya bertemu dan ia berani bersumpah melihat seringaian tipis di wajah iblis bertopeng kulit manusia itu. Sebuah dengusan meluncur dari hidungnya.

“Hmm? Ada apa, Taemin-gun? Ada yang salah?” tanya si cordi kaget. Taemin tak kalah kaget saat ditanyai hal itu. Di sudut matanya ia bisa melihat sosok Kim Kibum tertawa geli, entah karena dia atau tidak.

Anieyo, noona. Hanya sedang terpikirkan sesuatu saja,” jawab Taemin sekenanya. Senyum malaikatnya ia tampilkan untuk mencairkan suasana. Si cordi balas tersenyum maklum. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di benak Taemin.

“Apa noona tau kenapa Kuroi Ageha-ssi ikut dalam pemotretan kita kali ini?” tanyanya polos –setidaknya itu yang terdengar di telinga si cordi. Wanita berumur tiga-puluhan itu tampak berpikir, “Apa kau tidak tau kalau gadis itu sudah menjadi pekerja tetap perusahaan kita? Dia gadis serba bisa yang tak hanya hebat mengatur acara, tapi juga hebat mengatur hal-hal kecil seperti riasan dan gerakan saat pemotretan. Tapi aku tidak tau apa tugasnya dalam pemotretan kali ini…,” jawab si cordi panjang lebar. Tangannya sibuk mengepak kembali berbagai alat rias ke dalam kotak khusus yang ia bawa. “Memangnya kenapa? Kau tertarik padanya? Yah, dia memang cantik. Sayangnya ia terlalu ringkih,” komentarnya.

“Ah, noona~~ Aku hanya heran melihatnya di sini…,” ucap Taemin bersungut-sungut. Sungguh, wanita mana yang tidak meleleh melihat keimutannya yang tampak alami itu. Namun wanita itu hanya tertawa sekenanya, “Tidak apa-apa, Taemin-gun. Aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun dan memang sudah saatnya bagimu untuk terarik pada hal selain pekerjaan, percintaan misalnya?”

Taemin memanyunkan bibirnya dengan gaya canda, “Kenapa arah pembicaraan kita malah seperti ini?” tuturnya malas. Si cordi malah tertawa lepas, “Karena menurutku Kuroi Ageha-ssi amat cocok denganmu. Dia gadis rupawan yang ramah, periang, dan pekerja keras. Terlalu sayang jika diberikan pada orang setipe Jonghyun atau Minho…”

“Yaaa! Apa maksudmu, noona? Memangnya apa yang salah denganku dan Jonghyun hyung?” sembur Minho begitu mendengar namanya disebut. Lelaki bermata bulat yang sejak tadi sibuk dengan PSP-nya kini berjalan mendekati dua orang itu. Si cordi kembali tertawa dan mulailah percakapan baru dengan Choi Minho.

Namun Taemin tidak tertarik dengan pembicaraan tersebut. Matanya tertuju penuh pada sosok gadis muda yang tampak tengah menulis sesuatu di papan rencananya. Ya, gadis itu memang rupawan. Penampilannya tetap fresh walau umurnya sudah memasuki pertengahan kepala dua. Senyumnya yang lembut merekah indah secerah warna mahkota bunga di musim panas. Wajahnya hanya berhiaskan riasan tipis, namun tetap mampu menonjolkan pesonanya sebagai wanita dewasa yang berwawasan luas. Dan tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu.

Taemin tak mau melepas pandangannya dari si gadis, seakan menantang hendak melihat siapa yang bertahan paling lama. Gadis itu memandangnya dengan kesadaran penuh, secercah harapan tampak berkilau di kedua mata coklatnya. Dari sudut ini Taemin bisa melihat jelas wajah rupawan itu. Rambut hitam panjang yang terikat rapi ke belakang, pipi putih yang berisi, mata sipit yang tajam sekaligus menawan, serta bibir penuh berwarna merah muda. Benar, gadis itu punya cukup pesona untuk menawan hati laki-laki manapun. Dan tubuh gadis itu juga ideal, sangat sempurna. Idaman!

Tiba-tiba gadis itu tersenyum. Taemin mengalihkan pandangannya dengan segera. Ada sebuah degup aneh yang dihentakkan jantungnya, membuat telapak tangan kanan lelaki berambut coklat itu tertarik memegang dadanya. Beberapa bagian tubuhnya lemas tanpa tahu apa sebabnya. Bahkan nafasnya sempat terhenti sesaat.

HAAAAHH

Taemin mengeluarkan udara yang sempat tetahan lama di paru-parunya. Ia berusaha untuk tetap tenang, matanya kembali melirik ke arah gadis itu lagi. Namun gadis itu sudah tak ada lagi di sana. Taemin beringsut kecewa. Namun ia langsung menyadari perasaan ganjilnya, mempertanyakan kembali pada dirinya sendiri.

Kenapa aku harus merasa kecewa?

***

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Keyx?”

Keyx menghentikan kegiatannya sesaat begitu mendengar sebuah bisikan menggema di telinganya. Ia tersenyum tenang lalu kembali menuruti pengatur gaya untuk meneruskan pemotretan yang tengah ia jalani. Dalam hatinya ia berbisik, “Tuanku tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin memberi bocah penyihir itu sedikit pelajaran…”

“Aku yakin kau tau konsekuensinya, terutama jika bocah itu melakukan tindakan bodohnya lagi…”

“Tapi ia perlu tau bahwa memutar waktu tidak dapat dilakukan seenaknya saja. Berbagai Butterfly Effect bisa terjadi dan itu dapat menghancurkan berbagai rencana kita…,” balasnya. Kini ia mengenakan hoodie tanpa lengan dan memutar tubuhnya dengan lihai bak model profesional. Mata kucingnya seakan menantang kamera sementara seringaian muncul di bibirnya.

“Semua harus selesai sebelum tindakanmu mengundang para anjing pemburu, Keyx.”

“Tuan, Anda sendiri tau bahwa melakukan hal yang menantang adalah kenikmatan tersendiri bagiku.”

“Asalkan mereka tidak mengikuti ekornya yang ada di sini, takkan ada masalah. Kau hanya perlu memastikan si ‘ekor’ musnah di waktu yang tepat tanpa mengundang tanya.”

“Siap, tuan.”

***

Taemin merebahkan tubuh melepas lelah setelah sesi pemotretannya selesai. Dalam hati ia mengutuk panas matahari yang sejak tadi sukses menyengat kulitnya. Entah dengan produk perawatan kulit mana lagi kulitnya bisa kembali putih susu seperti sedia kala. Onew tampak sibuk bercakap-cakap dengan manajer tak jauh darinya. Ia melirik Minho dan Jonghyun yang masih sibuk dengan sesi pemotretan mereka serta Key yang tengah berbincang lepas dengan cordi senior. Ia mendesah nafas pelan. Apa yang harus dilakukannya untuk melepas suntuk?

Perlahan ia duduk tegak, memaksa otaknya untuk berpikir lurus dan mencoba tenang. Ia mengulang kembali saat-saat di mana Keyx membisikkan padanya bahwa ia akan menjadikan Kuroi Ageha sebagai target permainannya yang baru. Ia kembali menilik semua kejadian itu dengan seksama, bahkan saat mereka saling beradu pandang tanpa sengaja, ada perasaan ganjil yang mengganggunya.

Ia memang sudah mengenal Key sejak lama, bahkan sebelum debut menjadi artis, tapi ia baru mengenal sosok Keyx dua tahun belakangan ini. Siapa sangka laki-laki yang sudah ia anggap layaknya saudara sendiri itu bukan manusia biasa? Ia juga tau bahwa tiap Keyx mengatakan ingin bermain, maka ada hal buruk yang hendak disembunyikan atau direncanakannya. Dan pastinya rencana itu bukanlah rencana baik.

Apa mungkin ada hubungannya dengan kecelakaan kapan lalu itu? Ya, seharusnya Kuroi Ageha tidak berjalan sesehat itu hari ini. Jika saja Taemin tidak memutar ulang waktu, mungkin gadis itu masih tengah dalam kondisi kritis atau mungkin sudah meninggal di tempat kejadian. Tapi takdir…

Tidak, tidak, tidak!

Mungkin ini yang Keyx rencanakan, mengacaukan pikiran Taemin tentang takdir. Iblis itu berulang kali mengatakan bahwa takdir tak bisa diubah dan Taemin berulang kali pula membantahnya. Pasti Keyx ingin memberi Taemin sedikit pelajaran tentang hal itu…

Tapi kenapa harus Kuroi Ageha? Dan bodohnya lagi, kenapa Taemin malah jadi cemas setengah mati hanya karena Keyx menyebut nama gadis Jepang itu? AAAkkkkh!! Semua ini terlalu rumit untuk otak Taemin!

Lagi pula Keyx tau kalau Taemin tidak bisa digoda tentang cinta. Ya, iblis itu tau benar akan hal itu. Dan Taemin yakin sepenuhnya bahwa perasaannya tidak akan goyah hanya karena kecemasannya pada gadis itu. Ya, pasti! Karena…

“Lee Taemin-san, terima kasih atas kerja kerasmu!”

Suara itu membuyarkan pikiran Taemin. Penyihir muda itu terlonjak kaget saat mendapati gadis yang sejak tadi sempat mengisi pikirannya tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Gadis itu tersenyum manis dengan bibir penuhnya. Dan saat itulah Taemin berusaha menahan debar jantungnya.

“N..-ne! Terima kasih atas kerja kerasmu juga, Kuroi-san!” balasnya kikuk. Ia mengutuki nada bicaranya yang terdengar bodoh. Tanpa sadar ia langsung berdiri sehingga keduanya saling berhadapan. Kuroi Ageha agaknya menahan tawa saat Taemin hampir jatuh karena terlalu kikuknya. Ia kembali berujar, “Senang sekali bisa kembali bekerja sama dengan Anda. Semoga kita bisa menjalin kerja sama yang lebih baik lagi di lain waktu.”

Ne… Tentu saja! Tentu saja kerja sama kita akan lebih baik lagi di lain waktu!” Taemin jadi kaget sendiri saat sadar ia kelewat semangat. Ia berusaha kembali tenang, “Hmmm… Tak disangka Anda sudah menjadi pekerja tetap perusahaan manajemen kami. Selamat!”

“Oh, benar. Terima kasih banyak…”

Tiba-tiba hati Taemin dikecam cemas. Ia melirik ke arah Key namun manusia iblis itu tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda interferensi. Ia menatap Kuroi Ageha dan bertanya dengan hati-hati, “Apa kau tidak apa-apa?”

“Eh?” heran si gadis, “Apa maksud Anda?”

“Ah, tidak…,” Taemin kembali menyadari kebodohannya. Tentu saja gadis itu tidak apa-apa. Kecelakaan itu tidak terjadi karena Taemin iseng memutar waktu. Dan bodohnya lagi Taemin bahkan tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada gadis itu kalau ia tidak memutar waktu. Apa gadis itu akan terbaring kritis di rumah sakit karena kecelakaan itu? Atau kemungkinan buruknya apa ia akan meninggal karena kecelakaan itu?

“Taemin-san?”

Akh, lagi-lagi Taemin tenggelam dalam lamunannya sendiri. Ini gila, ucapan Keyx jelas membuatnya gila. Ada ketakutan tersendiri yang menghantui Taemin sejak kalimat itu meluncur dari mulut Keyx. Namun Taemin harus mengenyahkan hal itu untuk sementara karena si gadis yang akan menjadi objek korban si iblis tengah ada di hadapannya.

“Hmm?” hanya itu yang mampu keluar dari mulut Taaemin. Lagi-lagi ucapannya berbalas senyum. “Mungkin Anda kelelahan. Lebih baik istirahat saja,” saran si gadis ramah. Ageha masih tampak ceria dan bersemangat, tentu saja membuat Taemin malu sendiri jika dikatai seperti itu. Laki-laki berambut coklat itu membantah dengan suara pelan, “Ah, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu. Itu saja.”

“Benarkah? Tapi ada baiknya kau beristirahat. Manajermu mengatakan bahwa kalian masih ada kegiatan lagi setelah sesi foto ini. Aku akan mengambilkan kopi untukmu,” tawar si gadis. Ia berbalik cepat bahkan sebelum Taemin menyadari isi ucapannya dan berusaha menghentikannya.

Dari kejauhan Taemin terus memperhatikan senyum si gadis, senyum indah secerah mentari. Gerak tubuh gadis itu, candannya bersama orang lain, Taemin merasa nyaman memandanginya. Lelaki itu tersenyum kecil saat si gadis tersandung kabel dan terjatuh. Ageha langsung bangkit dengan cepat sambil menyuarakan tawanya. Staf lain yang melihatnya ikut tertawa.

 “Haaah…. dia gesit seperti kupu-kupu di musim semi….,” gumam laki-laki berbibir tebal itu pelan. Ya, seperti kupu-kupu yang mengikuti insting mereka untuk membuat orang bahagia di musim semi.

***

Suasana di dorm tengah sepi karena semua anggota telah terbawa alam mimpi masing-masing. Namun salah seorangnya masih terjaga, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman saat melihat posisi tidur teman-teman sekelompoknya. Ia tau kondisi yang menguasai beberapa anggotanya  bukan sekedar bunga tidur biasa dan ia hanya berbangga hati mengetahui hal itu.

“Apa yang kau lakukan, Keyx?”

Suara itu jelas membuat Keyx berbalik, namun tanpa keterkejutan sedikit pun. Ia hanya menyahut, “Kau tau, untuk ukuran manusia sepertimu kau cukup hebat bisa terjaga dini hari seperti ini. Oh, dan satu lagi, panggil aku ‘hyung’!

Allright, HYUNG.” Taemin –si lawan bicara- hanya mendengus pelan setelah menekan kata terakhir dari kalimatnya. Keyx tersenyum puas, tubuhnya berputar-putar di udara. “Jadi ada apa? Kau punya urusan denganku? Hmm…?” Taemin hendak membuka mulut saat iblis bertubuh sedang itu kembali buka suara, “Ah! Ternyata karena gadis itu…”

“Kadang-kadang aku membencimu…,” decak Taemin pelan. Keyx mengeluarkan tawa khasnya, “Namun kenyataannya kau amat mencintaiku. Lebih praktis membaca pikiranmu, dongsaengie. Jadi, apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan?”

Taemin duduk di atas ranjang Key yang beralaskan bed cover warna-warni trendi. Ekspresinya tampak serius, sayangnya hal itu tidak mampu memudarkan senyuman dari bibir Keyx. Ia tau apa yang akan dikatakan anggota termuda grup musiknya itu, tapi menurutnya lebih baik mendengarkan sendiri isi pikiran dari si empunya. Membuktikan langsung bahwa Taemin sudah terjebak godaannya.

So…?”

“Tentang takdir yang hyung katakan kapan lalu itu, aku masih belum paham…,” ujar Taemin akhirnya. Keyx menyembunyikan seringaian puas di balik gelapnya ruangan. Sinar rembulan menerobos jendela kamar yang terlapisi tirai tipis nan transparan, menampakkan samar sosok Lee Taemin yang tampak gundah.

“I’ve told you~~,” sahut Keyx ringan. Taemin tidak puas dengan jawaban yang terdengar main-main itu, wajahnya memberengut sebal. Keyx harus berusaha keras menahan tawa saat melihat raut wajahnya. Akhirnya iblis berkulit putih pucat itu mencoba tampil serius dengan berdiri tegak di hadapan Taemin. Senyuman masih menghiasi bibir kemerahannya, “Menurutmu sendiri bagaimana? Apa selama ini aku mengatakan kebenaran padamu?”

Taemin menatap lurus iris merah Keyx. Ingin sekali ia memantrai iblis ini dengan berbagai mantra pembaca pikiran. Sayangnya hal itu tidak mungkin jikapun Taemin amat menginginkannya. Ya, jelas Keyx dapat membaca niatnya dan langsung melesat pergi sebelum Taemin berhasil. Iblis itu senang menatap matanya lurus-lurus, menyedot isi pikirannya lewat pantulan kedua bola mata berwarna merah darah itu. Warna merah yang tampak haus dan jahat, warna yang begitu Taemin idamkan untuk menjadi warna iris matanya sejak kejadian terkutuk itu. Laki-laki muda itu berusaha mengentaskan semua pikiran lain yang mengaduk isi kepalanya saat ia berkata, “Tidak, aku tau kau banyak merahasiakan sesuatu dariku. Dan pasti semua hal tentang takdir itu juga tidak sepenuhnya benar.”

“’Tidak sepenuhnya’? berarti kau masih mempercayai beberapa bagian dari ucapanku, hmm?” goda Keyx lagi. Cemberut wajah Taemin semakin jelas dan iblis itu tergelak melihatnya, “Kau benar. Sekarang, aku akan menceritakan satu rahasia padamu.” Keduanya masih saling bertatapan intens dan tiba-tiba saja Keyx menghilang dari hadapan Taemin.

Demi Tuhan, apa lagi?

“Kau tidak pernah mengubah takdir.”

Suara rendah itu menggelitik telinga kanan Taemin, lebih terdengar seperti bisikan.

“Kau hanya mengubah nasib, bukan takdir.”

Kali ini di telinga kiri. Taemin mulai jengkel.

“Dan mungkin kau melupakan pelajaran dasarmu sebagai penyihir. Nasib dan takdir adalah dua hal yang amat berbeda.”

“Berbeda?” Taemin menutup mata untuk menahan kejengkelannya. Kadang sikap iblis Keyx memang amat sangat mengganggu dan menyebalkan. Terdengar kembali tawa rendah iblis itu, terkesan mengejek si penyihir muda yang labil akan emosi. “Kau bahkan tidak pernah mendengar perbedaan mereka? Ckckckck….”

“Tidak,” jawab Taemin pendek, “Karena itu aku bertanya padamu.”

“Kalau begitu buka matamu.”

Saat Taemin membuka mata, ia mendapati tubuhnya melayang dalam ruang yang jelas tidak normal. Yang tampak hanyalah kabut putih yang perlahan bergulung-gulung dan kemudian membentuk layar berukuan besar. Keyx muncul tiba-tiba di sampingnya, bibirnya tersenyum miring.

Dengan sekali jentikan jari, layar kabut itu terbagi dua, terpisah oleh garis tipis yang hampir tak kasat mata. Di layar tersebut tampak dua pemandangan kerumunan orang, namun suasana yang terasa jelas berbeda. Di layar pertama orang-orang yang mengisinya tampak begitu bahagia, mereka saling tertawa dan memanjatkan berbagai ucapan syukur. Setelah ditelusur ternyata salah seorangnya menggendong bayi sehat yang masih merah. Tangis nyaringnya membuat semua orang bertepuk tangan penuh suka cita. Sementara layar satu lagi menunjukkan orang-orang yang menangis, bahkan histeris. Pakaian mereka yang serba hitam jelas membuat Taemin mengerti.

 “Yang harus kau ingat hanya satu, Lee Taemin. Takdir tak dapat diubah, seperti halnya kematian dan kelahiran. Persis seperti yang kau lihat tadi,” Keyx kembali bersuara, menyedot perhatian Taemin. “Kau bisa saja mengubah nasib dengan memutar waktu, tapi itu tetap takkan mengubah takdir berupa kematian maupun kelahiran…”

“Berbeda halnya dengan takdir, kau bisa mengubah nasib dengan usaha. Nasib yang kau peroleh adalah hasil dari apa yang telah kau usahakan,” terang iblis itu lagi. Wajahnya tampak malas dan ogah-ogahan.

Taemin menelan ludah, masih belum dapat menerima penjelasan sederhana itu.

 “Lalu, bagaimana dengan Kuroi Ageha? Bukankah seharusnya dia mati karena tertimpa lampu panggung? Ya, seharusnya ia mati bukan? Aku bahkan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat ia diam tak bergerak!” racaunya kalut. Pikirannya bingung. Ya, ia yakin seharusnya Kuroi Ageha sudah mati kalau saja ia tidak memutar waktu. Bukankah artinya Taemin sudah mengubah takdir?

“Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kau bahkan tidak pernah membaca catatan malaikat pencabut nyawa, bagaimana bisa kau begitu yakin seharunya gadis itu mati di tempat?” Keyx balas bertanya. Dahinya mengernyit heran. Bagaimana bisa penyihir muda seperti Lee Taemin bersikap sok tau?

Taemin terdiam.

Ucapan Keyx tepat menusuknya. Taemin memang bersikap sok tau dengan mengatakan hal itu, namun itulah yang ada di benaknya. Jika memang saat itu Kuroi Ageha tidak mati tertimpa lampu, lalu apa? Gadis itu benar-benar selamat jika saja kecelakaan itu benar-benar terjadi? Itu tidak mungkin! Otak Taemin berusaha berpikir, namun ia kesulitan mencerna seluruh kejadian itu.

“Aku juga sudah pernah mengatakan padamu bahwa hanya ada satu cara untuk mengubah takdir. Apa kau masih ingat?” ujar Keyx lagi. Jari-jarinya yang berhiaskan kuku panjang mengarah pada layar kabut. Perlahan kabut itu kembali bergulung-gulung dan akhirnya hilang dalam hitungan detik. Keduanya mencercah kaki, kembali menjadikan Bumi sebagai pijakan mereka. Mereka kembali ke kamar Keyx, sama seperti sebelum Tamin menutup mata.

“Cara untuk mengubah takdir, kau tau kan penyihir muda?”

“…Menjual jiwa… pada iblis?” jawab Taemin ragu. Keyx hanya mengangguk. Taemin masih tampak tak puas, “Lalu bagaimana dengan Kuroi Ageha?!”

“Cari tahulah sendiri. Ilmu tidak datang dengan begitu mudahnya. Kau harus mencarinya,” jawab Keyx sekenanya. Tubuhnya yang tanpa massa sudah mendekati jendela kamar yang terbuka lebar. Gerak angin hangat membelai dirinya. Dengan sekali lompat, ia berhasil mencapai jendela.

Hyung!” panggil Taemin, ia jelas memperlihatkan ketidakpuasannya. Keyx hanya tersenyum menggoda dan tubuhnya semakin erat dipeluk angin malam. Perlahan ia menjatuhkan diri dari jendela kamarnya, “Yang pasti Kuroi Ageha masih hidup dan kau tidak lupa bahwa gadis itu calon korbanku.”

DEG

Taemin tidak terima dengan jawaban itu, egonya mencuat jelas. Sayangnya ia harus mengendalikan emosi saat ingat betapa Keyx amat sulit dilawan. Pikirannya kembali pada senyum manis gadis Jepang itu. Ya, si kupu-kupu hitam yang tampak ceria seperti kupu-kupu di musim semi. Gadis manis yang tampak kuat namun di sisi lain juga begitu rapuh. Rasa ingin melindungi muncul di hati Taemin, entah karena apa. Padahal selama ini Taemin selalu berhasil melepaskan diri dari perasaan semacam itu.

“Namanya kupu-kupu hitam. Ironis, bukan?” sambung Keyx lagi, “Seakan dia menunjukkan hubungan tidak langsung dengan iblis…” Tubuhnya kini tampak melayang di depan jendela kamar. Penyihir muda itu langsung beranjak mendekatinya, menanti kata-kata lanjutan.

“Kau tau apa jadinya jika manusia menukarkan jiwanya saat berjanji dengan kami?” tanya Keyx lagi. Taemin diam tak merespon, tak tahu jawabannya. Keyx tersenyum licik, “Kupu-kupu hitam adalah pembawa jiwa mereka setelahnya….”

Dan dengan ucapan terakhir itu Keyx berubah menjadi iblis sepenuhnya, mengembangkan sayap hitam pekat untuk membelah gelapnya malam musim panas. Ia bergerak pergi, mencari korban untuk ia santap di malam yang sunyi itu.

***

Gelap.

Hening.

Sepi.

Taemin tak dapat melihat apapun, inderanya tak mampu merasakan apapun. Perlahan kegelapan itu mulai labil, berganti warna dengan putih dan kelabu. Aroma udara mulai mampu ia kenali, aroma ganjil yang seakan memaksa lelaki itu untuk memutar klise-klise usang. Telinganya mulai mampu menangkap dengar suara-suara yang ia kenali. Perlahan keringat dingin menetes di dahi Taemin. Perasaannya mulai tidak enak. Di mana ia sekarang?

“…Tae..min..ie…”

DEG

Oh, tidak!

Taemin langsung berlari menyeruak pintu kloset tempat ia berada tadi. Nafasnya berpacu cepat dengan laju tak beraturan. Namun ia terlambat, sama seperti usaha-usaha lain saat ia mencoba memutar waktu kapan lalu. Gadis itu, gadis berambut hitam panjang itu sudah tergolek lemah dia atas lantai dingin. Matanya menatap lembut ke arah kloset, tatapan yang menyiratkan berbagai kegundahan dan penyesalan. Sementara tangannya memegang dada kiri. Sebuah senyum terlukis sendu di bibir pucatnya kala air mata telah meninggalkan jejak di wajahnya.

Namun bukan itu yang Taemin pikirkan.

Yang menjadi fokus Taemin adalah sosok serba hitam yang menahan wujud transparan si gadis. Tangan makhluk itu mengekang leher si gadis sementara suasana di antara mereka dicekam hening. Ketegangan mengalir di sekujur tubuh Taemin, ingin sekali ia langsung merebut ruh tanpa raga itu, namun semua kegagalan lalu membuat nyalinya kendur. Sosok hitam itu semakin mirip dengan sosok manusia kebanyakan, sayang wajahnya tak juga terlihat jelas. Yang tampak malah kilau putih taring tajamnya yang membentuk seringaian bersama deretan gigi lain.

“Sesuai janji, Lee Gaehwa. Aku mengambil jiwamu…”

Taemin membelalakkan mata tidak percaya. Sosok ruh Gaehwa tampak lemah dan pasrah dalam cengkraman makhluk yang layaknya bayangan hitam itu. Perlahan ruhnya lepas dari cengkraman, sosok transparan Gaehwa semakin pudar. Sebuah senyuman ia lemparkan pada Taemin yang masih berdiri tegang menatapnya sesaat sebelum ratusan bahkan ribuan kupu-kupu hitam muncul dan mengaburkan wujudnya. Taemin langsung melompat panik, berusaha meraih dan menghentikan hal terkutuk yang tengah terjadi. Setetes air mata melesat dari pelupuk matanya bersamaan dengan kata, “NOONA!!”

 “Mian, Taeminie… Saranghae, dongsaengie….”

Air mata Taemin semakin deras. Bisikan terakhir Lee Gaehwa itu sudah ratusan kali ia dengar namun tak berarti Taemin mampu menahan semua gejolak rasa saat mendengarnya. Ia meraung keras, emosinya lepas. Kumpulan kupu-kupu hitam itu seakan mengerti arti tangis Taemin. Bagaikan seorang Lee Gaehwa, mereka mengerumuni lelaki muda yang masih dikuasai kesedihan dan kepedihan mendalam itu. Dada Taemin sesak, air mata menyeruak. Bibirnya bergetar pelan, lengannya ingin merengkuh sisa-sisa ruh Lee Gaehwa yang seakan menghiburnya. Nama gadis itu terus meluncur dari bibir Taemin, tak peduli hal ini sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya. Semakin Taemin sesak, semakin ia ingin mengeluarkan segenap emosinya. Dan teriakannya pecah dalam hening, menembus hembus angin malam.

“GAEHWA NOONA!!!!”

“….noo…na…?”

Taemin tersentak, ia mengenali suara lain yang bergumam pelan setelah teriakan frustasinya. Suara itu… tidak mungkin!

Noona? Gaehwa noona! Ireonabwa, noona ireona!”

Taemin masih terdiam. Hal ini tak pernah terjadi saat ia berusaha memutar waktu. Ya, hal ini hanya terjadi pada hari itu.

Eomma!!! Ahjumma!!! Tolong!! Gaehwa noona….. Gaehwa noona…!!”

Tak berapa lama terdengar suara keras pintu menabrak dinding. Beberapa orang wanita tampak cemas dan panik. Ekspresi mereka langsung berubah kaget saat mendapati pemandangan di mana seorang anak remaja duduk bersimpuh menangisi gadis yang tubuhnya terkulai dengan sisa-sisa nyawa. Mereka sempat berteriak hiteris sebelum akhirnya ada yang bertanya, “Taemin-ah! Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Remaja yang ditanyai hanya menunjukkan ekspresi bingung bercampur khawatir. Akhirnya ia hanya mampu mengucap satu tujuan yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa si gadis, rumah sakit. Dengan berderap langkah orang-orang itu segera mengusahakan pertolongan pertama.

Air muka Taemin semakin kusut. Ia tidak bisa percaya apa yang dilihatnya. Itu dirinya! Sosok dirinya kala itu! Tapi kenapa? Bagaimana bisa ini semua terjadi?! Tidak mungkin! Berbagai emosi campur aduk dalam hati dan pikiran Taemin. Ia merasa amat pusing, tidak mengerti akan kenyataan yang tengah menimpanya. Berkali-kali Taemin berusaha memutar waktu, yang ada hanya dirinya, tak pernah ada dirinya yang lain, yang masih berumur muda dan terbilang labil. Taemin merasa seakan dilempar ke dunia lain. Matanya yang sembab dan bengkak menatap tubuh nyata Lee Gaehwa yang digendong keluar kamar. Ia terdiam tanpa daya.

DEG!!

Taemin merasakan bulu kuduknya berdiri saat mendapati pemandangan ganjil pada tubuh Gaehwa. Gadis bertubuh kurus yang ada dalam gendongan itu tiba-tiba membuka mata dan tersenyum jahat padanya. Bola matanya tak menyisakan warna putih sedikitpun, seluruhnya dikuasai pekat warna hitam. Taemin bergidik ngeri. Sungguh, bukankah gadis itu baru saja mati?

“Lee Taemin, aku menantikan giliranmu…”

Bisikan rendah terdengar mengancam, mencekam Taemin dengan ribuan tanda tanya dan ketakutan. Bisikan itu terdengar jelas di telinga Taemin, berkali-kali. Setiap ekor kupu-kupu hitam yang mengerubungi tubuhnya membisikkan kalimat dengan nada yang sama. Taemin berusaha menutup telinga, namun suara itu tetap bergema memasuki gendang telinganya. Untuk pertama kalinya ia begitu membenci suara Lee Gaehwa.

Kumpulan kupu-kupu hitam itu mengacaukan pandangan Taemin, mengaburkan penglihatannya dengan warna hitam pekat yang semakin gelap. Ketakutan semakin mengacaukan pikirannya, sekaligus membuatnya semakin dibalut kalut. Ia menyebut nama Gaehwa berkali-kali, berusaha meraihnya di tengah kerumunan makhluk kecil bersayap rapuh itu. Namun nihil, ia semakin terjebak di dalamnya. Tangannya hanya mampu meraih udara hampa. Tiba-tiba terdengar suara rendah seseorang, suara yang entah kenapa Taemin kenal. Ia berusaha menoleh, namun hampir tak tampak apapun. Yang terlihat hanyalah sosok hitam yang hampir tak dapat dibedakan dengan laju kupu-kupu hitam yang semakin mengerikan itu.

“Akhir hidup yang sesuai dengan namamu. Bukankah begitu, Lee Gaehwa?” tanya suara itu. Taemin berani bersumpah ia sangat familiar dengan suara itu, namun ia tak bisa mengingat siapa pemiliknya. “Layaknya bunga yang mekar di saat tak tepat, dikerubungi kupu-kupu yang haus akan sarimu…”

Dan semua semakin kacau, warna hitam menutupi seluruh pandangan Taemin, mendorong tubuhnya semakin jatuh dalam kegelapan. Terdengar suara tawa rendah yang menantang, semakin lama semakin lantang. Bayangan mengikat sekujur tubuh Taemin saat kembali terdengar suara, “Ini hasil perjanjian kita, Lee Gaehwa. Jangan pernah menyesalinya…”

Tidak, tak boleh ada hal yang lebih buruk lagi dari hal yang telah terjadi. Taemin semakin memberontak, semakin menggapai-gapai. Sayang tangannya tak mampu merasakan apapun, yang mengelilinginya hanyalah kegelapan pekat. Nafas Taemin tak karuan, jantungnya berdentum tanpa irama seimbang. Ia tak mau kehilangan gadis itu! Demia apapun yang ada di dunia, neraka, maupun surga, ia tak mau kehilangannya. Sekuat tenaga ia menggapai, air mata mulai mengalir deras di pipi.

NOONAAA!!!”

Debar kencang, nafas tak beraturan. Keringat dingin mengucur deras sementara pandangan masih samar menangkap warna putih yang membalut ruang. Deru nafasnya terdengar berat, walau lajunya tetap cepat. Titik-titik air mulai mengalir dari pelupuk matanya. Ia tak menemukan sosok yang ia cari di manapun, sosok yang begitu ingin ia raih, yang namanya berkali-kali ia sebut tadi. Dadanya semakin sesak sementara tangisnya mulai pecah dalam kebisuan. Ternyata ia bukan memutar waktu, namun terjebak dalam alam mimpi yang terasa nyata. Sudah lama ia tak dihantui mimpi mengerikan itu, sudah sangat lama. Kenapa semua kenangan tak menyenangkan itu kembali saat Taemin sama sekali tak ingin mengingatnya?

Bibirnya hanya mampu berbisik pelan di sela isakan, membisikkan satu nama dengan segenap perasaannya

 “…Noona… Gaehwa…noona…”

Saat lelaki muda itu dikuasai emosi yang tak terkendali, seorang makhluk serba hitam memandangnya dalam diam dari kejauhan. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Dan perlahan ia hilang tanpa suara.

***

_TBC_

Eottae? Penasaran? Masih belum terasa Devil’s Game-nya? Kekekek….

Ditunggu komentarnya, ya, chingu~~

p.s:      dalam bahasa Jepang, Ageha berarti kupu-kupu dan Kuroi berarti hitam

            dalam bahasa Korea, Gaehwa berarti bunga

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “[WFT B] Butterfly – Part 1

  1. Gila, ceritanya makin tegang aja. Btw Gaehwa itu siapanya Taem yah? #kepokelewatbatas

    Masih banyak typonya, hehe. Tapi ga pengaruh kok ama isi cerita.

    Ditunggu next partnya😉

    1. tegang? hati2, pasang sabuk pengaman. karena ceritanya bakal roler coaster ride #plaak
      nnnt bakal dijelasin kok Gaehwa itu siapanya Taemin.

      mian, soalnya bikin certa ini ngebut banget, mana sempat stuck berkali2. *author labil*

      oke, gomawo Yongie-ssi~~

  2. memang si Jjong sama Minho cowok bertipe apa sampe si cordi nuna bilang sayang kalau Ageha sama mereka..😀

    siapa Tuannya Key dan siapa si ekor?
    Gaehwa siapa?

    Maaf ya Bella, banyak nanya, pasti karena saya belum baca Devil’s game ya..

    masih penasaran nih, ditunggu lanjutannya ya Bella..

    1. hihihi…. gak semua ada di Devil’s Game juga, eonn. jadi ga baca ga masalah, kok…

      kalo ama minho n jong nnt setiap cewek luluh, kan susah jadinya. hahahaha….
      kalo yg lain2, bakal terjawab di part lanjut.

      gomawo, eonni~~

  3. maap ni, ya, saya tuh rada bingung loh bagian part-part terakhir. mimpi atau apa sih itu? pas perubahan scene juga rada bingung. maap maap aja. readers yang satu ini rada lola. di part ini saya nggak bisa komentar banyak, tapi sebebernya aku lumayan suka loh cerita model fantasi kayak gni. semoga aja part selanjutnya lebih seru lagi.

    1. oh, masih membingungkan ternyata…. kekekek…
      iy, yg terakhir itu cuma mimpinya si Tetem doang. penjelasanny mmg harus dibaca hati2 *maklum, author labil*
      gomawo, Hana-ssi. part selanjutnya udh keluar lho~~

  4. ANDWEEE…. Taemin malu2 sama Ageha!!! #lebaymodeon
    walaupun uda di baca berkali2,pun masih belum mengerti bagian Taemin sedang mimpi…
    Lanjutkan, eonni… ^_^

  5. Bella, maaf nih aku telat. Tau2 udah sampe part 3 aja, aku baru ol lagi ^^v aku baca satu2 yaa.
    Hemm… pas di prolog, aku ngiranya Gaehwa itu mba2 coordi yang umurnya awal 30an gitu loh. namanya tidak mencerminkan usia muda.hha. ^^v
    terus aku kasihan juga, ko dia dikasih nama Kuroi begitu sik? agak gimana gitu.hhe.

    Oia, d sini aura Devil’s game-nya blm terlalu kerasa. Masih menjelaskan soal Taemin yang kayanya mulai kebingungan sama perasaan dia atau mungkinkah dia mulai masuk permainan keyx?
    Hemm.. terus yang scene Taemin mimpi tentang Gaehwa itu, aku masih kurang ngerti Bella. Mungkin harus dibaca beberapa kali *maklum agak lemot*

    Penasaran nih, Taemin kayanya udah mulai ada feeling sama Gaehwa. lanjutannya gmna yaa? oKEY, aku langsung ke part berikutnya yaa😉

    1. Hee, kayanya aku ketuker nih anatara Ageha sama Gaehwa. hhe. maaf yah Bella, masih blm familiar nih sama nama cast-nya.
      Sekarang udah ngerti, gaehwa itu noona-nya Taemin kan yaa? .hhe.
      berarti mba2 yang kata aku kirain umurnya 30an itu Ageha.hhe. Maaf salah ^^v

  6. hehe… ga papa, eonni. mmg banyak yg kecelek *?* antara Gaehwa n ageha. namanya mirip2 sih…. kekekek….
    iy, gaehwa itu noonanya taemin yg udh meninggal smentara ageha itu staf yg kerja brg Taemin.
    krn temany sisi lain, bella sempat mikir keras n dari contohnya bibib, kykny ceritany harus berhubungan dgn taemin d dunia nyata, makanya jadilah cerita yg masih sgt modern ini. ini mmg beda bgt ama devil’s game. tapi semakin ceritanya menjumpai akhir, feel devil’s gamenya bakal semakin terasa, kok….

    mimpi itu? kekekek… mmg kl udh bella imajinasi tingkat tinggi gt susah dimngerti ama orang lain jadinya

    ok, gomawo eonni~

  7. Annyong, bella…
    aku balik setelah baca prolognya tadi

    Nih part mestinya seru…
    oke, emang seru, tapi aku bingung dengan
    pergantian skenarionya,
    maksudku, kalimat2 ini siapa yang ngomong?
    Aku kira Key ternyata Taemin…
    Dan itu lumayan aku temui di part ini
    Itu mestinya diapain, juga aku gak tau.
    Mungkin Bella bisa tanya sama yang lebih paham

    Trus, pas mulai agak ke pertengahan akhir,
    aku pun juga bingung, nih sebenernya mimpi,
    flashbacknya Taemin, permainan pikirannya Key untuk Taemin,
    atau kenyataan…
    Karena kalo gak salah itu terjadi pas Key Taemin
    masih ngobrol tegang, kan…

    Jadi mudah2an di Part berikutnya,
    agak lebih dipahami….
    Mungkin nih akunya aja yang koneksinya lelet…

  8. huwaaa menegangkan!!
    Gaehwa nugu? noona nya taemin kh??
    Tp aku lbh penasaran dg maksud & rencana key…
    Key emg trlihat g trllu jahat yaa dsini.. tp klo menurutku dia itu nyeremin…dia kn iblis.. entah apa yg dia rncana kan….
    Lanjut duluuu…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s