[WFT B] Taemin’s Deepest Secret: I Kissed Her, The One Who Bullied Me

Title : Taemin’s Deepest Secret: I Kissed Her, The One Who Bullied Me

Author : V91 / vanflaminkey91 (@perfection2508)

Main cast : Lee Taemin, Sung Ahyeon (OC, covered by Suzy)

Support cast : SHINee, Kim Jongin (Kai EXO)

Length : one-shot

Genre : romance, sad, friendship

Rating : G

Summary : Faktanya, ciuman pertama Lee Taemin bukan dengan mainan robotnya.

A. N : kata asing tidak dicetak miring, EYD tidak terlalu diperhatikan, dan plotnya amat sangat cepat sampe kalian ga bakal ngeh itu udah selesai apa belom, tiba-tiba udah ke adegan lain. Dan ini semacam fail, feel-nya mungkin banyak yang gabisa dirasakan, jadi maafkan ya🙂

I didn’t do my first kiss with my robot, to  be honest. I did it with her, the one who bullied me.

.

taemin-deepest-secret

Taemin’s Deepest Secret:
I Kissed Her, The One Who Bullied Me

Lee Taemin duduk di halte bus. Kedua telapak tangan diselipkan di kantung jaket merahnya.

Udara Seoul sedang tidak ramah, bahkan untuk warganya sendiri yang notabene sudah terbiasa. Hari itu, rasanya dingin terlalu menusuk hingga ke tulang. Tidak hanya Taemin, tapi kebanyakan orang yang berlalu-lalang di hadapannya sama-sama mengepulkan asap putih tipis dari hasil kerja paru-paru mereka.

Tak begitu jauh dari sana, Taemin melihat gedung sekolahnya berdiri. Tampak angkuh dan kaku.

Punggung sempit pria itu disandarkan pada sandaran yang tersedia, tapi matanya tidak pernah meninggalkan gedung sekolah. Jemarinya merambat ke sela-sela rambut kecoklatan yang dipotong serupa jamur.

Taemin bangkit berdiri setelah hampir satu jam duduk melawan udara dingin. Ia merasakan bahu kirinya terasa berat, jarinya segera meneliti apa yang menggantung di sana.

Tas ransel hitam kumal.

Tidak hanya jalanan yang memiliki perempatan, ia bahkan disaingi oleh dahi sedang milik Lee Taemin. Dahi mulusnya kini berukirkan perempatan. Ia mengerut bingung. Tapi sekali lagi, matanya masih memaku pada gedung sekolahnya.

Jadi ia melangkah setelah jalan raya terasa kosong.

Gerbang sekolah terbuka lebar ke dalam. Tembaganya masih terasa dingin, mengalahi udara di luar permukaannya. Taemin menyapukan jemarinya di sana, melihat bercak debu pada jarinya dengan tatapan pias.

Taemin melirik pos penjagaan, tapi tak ada siapapun di sana. Lalu sebuah helaan napas berat seakan ia hendak dijemput kematian itu keluar dari relung pernapasannya. Sekali lagi, kelereng kelam matanya menyorot pada gedung sekolah.

Tangan kanan memegangi tangan ranselnya, maka tangan kiri Taemin merogoh saku celana, mengotak-atik MP3 yang disimpannya di sana. Headphone-nya sudah terhubung dengan telinga kiri, jadi musik yang baru ditekan di playlist-nya senantiasa mengiringi langkahnya.

Jajeong mak jinan saebyeok, jinheulg sok nun tteun mueonga~”

Kaki-kaki yang dengan senang hati bergerak lentur setiap kali ia menampilkan performanya dengan SHINee, bergerak teratur menapaki marmer demi marmer yang menyusun permukaan lantai.

Kursi-kursi panjang itu masih di tempat yang sama. Mereka patuh berdiam diri di koridor. Hanya ada beberapa modifikasi yang tidak pernah dilihat Taemin sedikit-banyak sudah menarik perhatian.

“Yah! Ke sini! Lempar!”

“Aduh, Pabbo!”

“Kalian yang di belakang, diam!”

Taemin menghentikan langkah, lalu otaknya mengarahkan ia untuk mundur beberapa tapak lantai. Maka ia berakhir di sini, di depan salah satu jendela dari beberapa jendela yang terhubung di sebuah ruang kelas.

Pria itu mengerucutkan bibirnya secara tidak sadar, melihat betapa berisiknya murid-murid SMA dan betapa menyedihkannya guru galak itu—harus menghabiskan suara demi menertibkan remaja labil seperti mereka.

“Why so serious?”

MP3-nya membuat ia segera menyingkir dari sana, rohnya seakan ditarik kembali ke dalam tubuh. Ia tidak boleh kelihatan, kan?

Lalu suara dari kelas tadi, yang semula terdengar sayup-sayup seiring langkahnya, akhirnya benar-benar menghilang. Hening sekali, kecuali suara-suara burung berkicau masih betah menjambangi telinganya.

“Yah! Artis Baru!”

Taemin duduk di salah satu kursi di sebuah kelas. Tidak ada satupun dari murid-murid yang sedang menunggu kedatangan guru itu menyapanya ramah. Mereka melempari Taemin sebuah tatapan sinis yang membuat anak lelaki itu tertegun. Perasaan yang sama, seperti yang pernah dirasakannya.

“Baby nal eottokhae saenghakkhe? Nal eottokhae saenghakke?”

Bahkan suara SHINee yang bersemangat serasa tidak terdengar oleh Taemin. Ia hanya fokus pada mereka yang terus mengoloknya.

Taemin menurunkan pandangannya kepada meja. Ia mengelusnya perlahan, merasakan halusnya kayu itu bagaikan baru diamplas. Tidak pernah ada yang menerimanya baik-baik di sekolah. Masa SMA adalah masa terburuk Lee Taemin. Ah, mungkin sahabatnya si Jongin itu masih manusiawi.

“Can’t  you see me and feel me~ kowashi tai kono te de dakishime te”

Playlist-nya sudah berganti lagu tepat ketika sebuah buku tulis dengan keadaan terbuka mendarat di depan wajahnya. Taemin otomatis mendongak, matanya bertabrakan dengan milik gadis itu—gadis yang tengah mengunyah sesuatu hingga detik berikutnya menciptakan sebuah balon kecil berwarna merah jambu.

“Apa?” tanya Taemin takut-takut.

“Kerjakan PR-ku, Artis!” Melihat ekspresi menolak yang tergurat di wajah Taemin, Sung Ahyeon naik pitam. “Jangan mentang-mentang artis kau berharap mendapat perlakuan istimewa—jeritan fangirl, hadiah, teriakan mendamba? Cih! Sekarang kerjakan PR-ku!”

Taemin melakukan scanning dengan matanya. Soal-soal di hadapannya bisa ia kerjakan, tapi beberapa ia lupa. Materi lama yang harus digalinya lagi di antara lirik-lirik dan gerakan dance di dalam otaknya? Duh.

“Maaf, Ahyeon. Aku bukan murid terpintar, nanti nilaimu jelek.”

“Yah! Jangan mengajariku, Bocah Tengik. Sekarang kerjakan kalau kau mau keluar sekolah tanpa rasa malu, Artis!”

“Wuuu~!” Satu kelas melakukan paduan suara mengolok Taemin. “Kacang lupa kulitnya, ya, Lee Taemin?” Telinga siapa yang tidak akan panas mendengar ucapan macam itu? Sebuah hinaan tidak pantas. Taemin bahkan tidak melakukan apapun—kenapa mereka membencinya?

Ahyeon membelalak. “Yah! Kerjakan! Dong songsaenim ada di jam pertama!” Taemin menyambar ranselnya, mencari-cari kotak pensil. “Heran, kenapa bisa lolos masuk audisi SM dan berakhir menjadi maknae SHINee? Kasihan sekali SHINee punya maknae selambat kau!”

Otak Taemin bereaksi, koordinasi gerakannya berhenti mendadak.

“Bisakah kau diam?” Taemin berdiri, ransel kumalnya melorot ke ujung kaki. “Kau hanya iri, kan?” Suara gebrakan meja, tawa mengejek dan gurauan meledek memenuhi kelas itu. Lalu, playlist MP3-nya kembali berganti lagu.

“Evil, evil machi keurimineol in my mind~”

Taemin merasakan jantungnya berdebar semakin cepat, napasnya terengah, tapi otaknya tidak bisa berpikir selain hanya mendengarkan lagu dan terus memacu kakinya berlari turun ke bawah. Ke halaman sekolah.

Setidaknya ransel itu sudah tidak ada, bebannya telah hilang, kan?

“Eh woo oo~ oshie te hoshii yo kimi no password password”

Tangan kirinya berpindah ke dada, punggung sempitnya menyandar di batang pohon. Ia memejamkan mata, menarik napas sebanyak mungkin untuk mengurangi rasa lelah yang tiba-tiba memenjara dan meremas parunya.

“Yah! Lee Taemin! Ayo, main sepakbola!”

Taemin membuka matanya, mengerjapkan kelopaknya dan menatap tidak percaya pada sosok dengan kulit sedikit lebih hitam daripada orang Korea kebanyakan. Sosok itu berdiri di lapangan sekolah, beberapa meter di depan Taemin.

“Kai?” balas Taemin berseru. “Sedang apa?”

Sosok yang dipanggil berlari menghampiri Taemin. Well, setidaknya hanya ia yang peduli padanya di sekolah.

“Kau panggil aku apa tadi? ‘Kai’?” Pria itu terbahak. “Nama macam apa itu?”

Sekarang Taemin yang bingung. “Baiklah, Kim Jongin.” Pria itu memajukan punggungnya dari batang pohon. Menatap Kim Jongin penuh konsentrasi.

“Ayo, main sepak—“

“Yah, Jongin-ah! Buat apa mengajak artis baru seperti dia? Anak sombong seperti itu tidak usah diajak main sepakbola!” Tadinya Taemin tersenyum, tidak menyangka bisa bertemu Jongin di tempat ini. Sayang sekali, senyum rupanya membenci Taemin. Ia menghilang begitu cepat.

Jongin melirik Taemin iba. “Maaf, mereka mungkin hanya iri padamu. Aku bergabung dulu dengan mereka, ya?” Belum sempat Taemin membalas, sosok itu sudah menghilang di balik kabut tipis yang memang suka terlihat di daerah tempat sekolah Taemin berdiri, di antara sinar matahari. Suara semangat permainan sepakbola itu sudah lenyap. Hanya ada suara MP3-nya yang senantiasa bernyanyi di telinga Taemin.

Jadi Lee Taemin mengeluh sedih sebelum memutuskan untuk memejamkan mata, meresapi keharmonisan melodi alam—gemerisik dedaunan di atasnya, burung-burung bernyanyi riang menilik birunya lembayung, derap kaki semut.

“3, 2,1 … let’s go! Hikaeme na furi, yameda!!”

“Lee Taemin, tidak tidur di kelasku!” Tubuh Taemin melonjak sedikit. Suara gurunya membuat telinganya berhasil menangkap beberapa kekehan kecil di belakang. Setelah meminta maaf, sang guru akhirnya membalikkan badan untuk meneruskan huruf kanji yang baru separuh ditulisnya di whiteboard.

Pluk!

Taemin memekik tanpa suara. Terkejut dengan sesuatu yang baru menimpa kepalanya dari belakang. Pria itu melongok ke bawah, mendapati sebuah penghapus hitam yang terlihat baru tengah membaringkan diri.

Selanjutnya ia mendengar tawa samar seseorang, jadi ia menengok.

Biarlah.

Mungkin mereka hanya iri. Mungkin mereka hanya tidak suka kepadanya karena ia selebriti.

Mungkin—

“Aduh!” Taemin merasakan dahinya telah mencium meja dan suasana di sekitarnya terasa sesak. Siswa-siswa pria mengerumuninya. Semua tampak nyengir penuh arti, salah satunya habis mendorongnya keras.

“Apakah kau pikir kau hebat karena kau selebriti? Kau bahkan tidak tampan!”

Apakah kau pikir kau hebat… selebriti… apa kau pikir kau hebat…

Taemin merasakan lehernya mulai kram karena menunduk terlalu dalam, tapi suara MP3-nya sedikit-banyak seakan menyelamatkannya.

“Dia tidak setinggi yang kukira!”

“Dia tidak tampan!”

“Dia tidak hebat!”

“Kau tidak hebat, Taemin!”

Maka kalimat tadi adalah kalimat terakhir yang didengar Taemin, sekaligus pengisi tenaganya untuk melarikan diri. Ia menerobos kerumunan itu. Semua suara makian  akhirnya hanya sayup-sayup terdengar.

Taemin merapatkan diri ke tembok.

“Taemin-ah, kapan Jonghyun merayakan ulang tahunnya?”

Entah siapa wanita yang baru bicara, Taemin berspekulasi kalau dia adalah senior. Tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

“Taemin-ah, Jonghyun tidak merayakan ulang tahunnya?”

“…”

“Taemin-ah, kenapa kau tidak menggenggam tangan fans-mu ini?” Gadis itu menunjuk temannya. “Taemin-ah, kau melukai perasaan Noona! Kau tidak menjawab pertanyaannya.”

“DIAM!”

Tapi tubuhnya yang kurus itu terdorong hingga bokongnya menyapa lantai. Ia membuka mata, mendapati banyak siswa tidak membiarkannya lewat. Noona-noona tadi bahkan sudah tidak terlihat.

Ia tidak boleh lewat, seperti biasanya.

“Hei, Taemin! Apa kami terlihat bodoh untukmu?” Ahyeon berdiri di jajaran terdepan, seolah dia adalah pemimpin sebuah organisasi yang hendak meminta keadilan pada pemerintah. “Apa kau pikir kau hebat karena kau selebriti?”

Para murid di sekeliling Ahyeon berseru memperpanas statement-nya. Berseru. Berkicau. Mengejek. Meledek. Ricuh sekali.

Maka Taemin terdiam. Iris kelamnya semakin kelam. Jadi ia menunduk, memilih menyelamatkan perasaannya. Taemin bisa merasakan pedih itu menusuk begitu dalam, seiring semakin keras ia menggenggam udara.

Apa kau pikir kau hebat karena kau selebriti…

Tatapan mereka bertemu dan saling bertautan.

Tidak ada orang-orang lagi di sekeliling mereka. Hanya ada ia dan Ahyeon. Seluruh kericuhan mendadak musnah dan lagi-lagi harmonisasi melodi alam-lah yang diperdengarkan untuknya.

“Kau belum puas mem-bully-ku?” tanya Taemin lirih, entah keberanian darimana.

Ahyeon berbalik, menolak membalas tatapannya. Gadis itu berlari, membiarkan Taemin menonton helai rambut hitamnya bergoyang kencang dan dua kaki itu bergerak cepat.

Taemin hanya melihat gadis kecil rapuh, bukan Sung Ahyeon yang begitu benci padanya.

Heartbeat , For My Heartbeat 
Kono toki wo kizameyo Breaking News
Let me get Excited !
Tsuyoku uchinaraseyo Breaking News 

Ding!

Pintu bus terbuka, para pejalan kaki yang singgah di halte segera naik ke dalamnya dengan tertib—bertukar tempat dengan mereka yang baru saja turun. Ada yang menggeret tas besar, ada juga yang hanya menggendong anak-anak.

Lee Taemin duduk di halte bus. Kedua tangan diselipkan di saku jaket merahnya.

Ransel kumal itu diistirahatkannya di samping, sementara empunya tengah asyik memandangi satu persatu penumpang bus yang naik hingga tidak ada lagi yang tersisa di sebelah Taemin.

Bus itu memulai langkahnya lambat. Kaki-kakinya mulai berputar cepat saat waktu sudah berjalan beberapa detik. Taemin berhenti mengamati.

Udara kota Seoul tidak ramah kepadanya. Taemin menggosok-gosok telapak tangan yang telanjang, menyesal sekali tidak memakaikan sarung tangan. Apalagi langit mulai gelap. Gurat kehitamannya menodai biru itu.

Taemin menekuk pinggangnya hingga kedua siku tangannya bisa beristirahat di atas paha. Ia menenggelamkan wajah di dalam tangan, berharap semua yang dialaminya tidak usah terulang.

“Aku tidak akan berhenti mem-bully-mu.”

Pemuda itu mendongak. Ia melihat gadis itu tengah meniup permen karet di dalam mulutnya sambil tersenyum kaku. Ada genangan di lengkungan mata. Tatapannya telah mengundang Taemin berdiri.

“Sung Ah—“

Telunjuk panjang itu mengunci mulut Taemin. Ahyeon tersenyum kepadanya—senyum persahabatan, sama seperti yang pernah Taemin lihat beberapa tahun lalu. Sung Ahyeon telah kembali.

“Aku tidak mengerti kenapa kau bergabung untuk mem-bully-ku, kau iri dengan kehidupan selebritisku?”

Ahyeon memandanginya beberapa lama.

“Ahyeon.”

“Aku hanya takut kehilangan sahabat terbaikku. Kehidupan artis—aku tahu tidak akan ada banyak waktu kau habiskan bersamaku lagi. Aku mulai membencimu karena kupikir kau berada pada kelas atas.” Kristal bening itu meluncur dari sudut tajam matanya.

“Baby don’t cry~”

Taemin bahkan baru menyadari MP3-nya masih menyala.

“Taemin-ah, maafkan aku.” Ditariknya tubuh kurus pria itu ke dalam bungkus peluknya. “Tidak seharusnya aku membencimu, maafkan aku.” Suaranya semakin terdengar samar. “Aku hanya takut sendirian.”

Baby don ‘ t cry sobaniiruyo

Boku no koe yo todoi te baby my love love love

So you can try namida wo nugui te

Kun hamouhitorijanai I ‘ m with you

Bukankah sudah jelas?

Taemin mendapati dirinya tengah balas memeluk gadis mungil itu. Ia tidak pandai dalam menenangkan seseorang, tapi sebuah pelukan bukan hal sulit, kan?

“Sudah, Ahyeon. Kau tidak perlu menangis.”

Tapi Ahyeon tidak menjawab, ia hanya melepaskan diri dari pelukan pria itu dan meraih tangannya. Iris berlumur duka itu menatap lama telapak tangan Taemin yang sedikit lebih besar darinya.

Hening, kecuali harmonisasi melodi alam. Burung berkicau, angin bernyanyi, gemerisik daun.

Lalu kertas lusuh itu sudah mendarat di tangan Taemin dan setitik kristal bening jatuh ke atas kertas, jejaknya tertinggal di sana.

Taemin mendongak.

“Jangan lupakan aku, Taemin-ah. Sukses selalu.”

Ahyeon berpaling cepat. Jaket kulit hitamnya dipegang erat, bibirnya merapat begitu kuat. Tangan kirinya yang menganggur, bergerak memeluk tubuhnya sendiri melindunginya dari dingin yang tak kenal ampun.

Taemin menatap beberapa lama kertas lusuh itu, tidak berkedip membaca tulisan rapi terukir di sana.

Selamat ulang tahun, Lee Taemin ^^

“Sung Ahyeon.” Iris kecoklatannya beralih kepada Ahyeon yang tengah menatap aspal terpijak. Mata hitam gadis itu akhirnya membalas tatapannya. Gadis itu membalasnya. Bukan hanya tatapan.

Juga kecupan lembut itu. Tanpa napsu. Tanpa perasaan apapun. Hanya kesedihan.

Taemin bisa merasakan bibir lembut yang polos tanpa lapisan kosmetik itu di bibirnya. Tangannya merambat memegangi debar jantungnya yang kuat. MP3-nya terus bernyanyi di seberang.

Baby ready,now close your eyes and believe yourself

Listen to your heart (to your heart) I’m with you (I’m with you)

I’m with you…

“Lee Taemin! Yah! LEE TAEMIN, BANGUN!”

Taemin merasakan sesuatu ditarik dari telinganya secara paksa. Lagu-lagu itu berhenti terngiang di sana, sekarang Taemin mendelik sebal kepada Jonghyun. Matanya terbuka setengah.

“Aku ngantuk, Hyung!”

“Bangun sekarang juga dan mandi! Kita akan membuka kado-kado yang sampai untukmu~!” Si Rambut Putih—Taemin sering menyebutnya ‘Gandalf-yang-sudah-potong-rambut’—itu mengguncang lengan dongsaengnya lebih keras.

Tidak ada yang bisa dilakukan Taemin selain menuruti perintah Kim Jonghyun, apalagi sengat matahari yang nyelonong masuk melalui jendela juga sudah memaksa.

Taemin menyibak selimutnya, sedangkan Jonghyun baru saja bersiul sembari keluar kamar. Tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu bertekstur agak kasar di dekat saku celananya. Dia melirik.

Lalu senyumnya mengembang saat membaca apa yang tertera di sana.

Selamat ulang tahun, Lee Taemin ^^

***

“Wah, Shawol membuat buku ini!” Itu suara Key. Lalu bunyi ‘gedebuk’ halus menyambar gendang telinga Taemin. Sebuah buku berjudul ‘100 Fakta Lee Taemin’ lengkap dengan foto dirinya yang dihias mendarat mulus di pangkuannya.

Sambil tertawa, Taemin membukanya.

Apa saja yang Shawol ketahui tentangnya? Maknae berusia 20 tahun itu penasaran sekali.

“Dia mendapatkan underwear lagi!”

Alis Taemin segera bertautan. Itu Onew hyung. Tampak sangat melebih-lebihkan hadiah yang satu itu.

Dan kenapa para hyung yang membuka hadiahnya? Ia yang ulang tahun, kan?

Tapi Taemin tidak mau memedulikan mereka, apalagi “Tom Jerry” hyung yang terdengar sedang berdebat akan sebuah banana milk di dapur—suara melengking versus suara berat itu sangat jelas.

Matanya ia fokuskan pada setiap kalimat “fakta” yang tertera.

Taemin menyukai banana milk.

Taemin disebut sebagai ‘magic hands’ karena kemampuannya menghilangkan barang.

Kemampuan? Taemin mendengus geli, senyum kecil terbit di sudut bibir.

Taemin adalah anak kedua, kakaknya bernama Lee Taesun.

Taemin tidak suka disebut cute, ia ingin manly.

Taemin tampil di beberapa penampilan solo seniornya; BoA dan Henry.

Taemin memiliki first kiss dengan robot mainannya.

“Astaga,” gumam Taemin kepada diri sendiri, nyaris tanpa suara. Senyum di bibirnya semakin lebar. Hatinya ingin sekali mengambil sesuatu yang sekarang tertancap di otaknya. Sebuah bolpoin merah, mana benda itu?

Taemin ingin mengambilnya di kamar, tapi ia malas. Jadi kepalanya terus bergerak-gerak mencari bolpoin dan—

Sebuah spidol hitam berbaring nyaman di meja kecil yang selama ini berperan menjadi dayang sofa milik SHINee. Ia menggoret-goret di atas sana beberapa menit, hingga Jonghyun dan Minho selesai berdebat.

Keduanya sama-sama melirik Taemin.

“Kau sedang apa?” Minho mendekati dongsaengnya penasaran. Kalau saja ada, mungkin wajahnya sudah diukiri tanda tanya besar. Untung saja tidak ada, karena kalau ada, tandanya akan semakin besar—Taemin menyerahkan buku di genggamannya, sebelum melengos dari ruang tengah dengan seringai.

“Yah! Dia aneh sekali, apasih itu?” Jonghyun yang duluan bereaksi. Direbutnya buku di genggaman Minho. Ditelitinya dari bagian teratas hingga ke bawah. “Tak ada yang aneh, semuanya tentang—astaga, HAHAHA.”

Bukan cuma Minho yang bingung melihatnya, Onew dan Key yang masih berkutat mengobrak-abrik hadiah Taemin segera mengalihkan perhatian mereka.

“Kau berisik, Pendek!” seru Key menghentikan tawa surga Jonghyun.

“Yah! Kenapa kalian suka sekali memakai tinggi badanku sebagai ledekan? Aku tinggi, tahu!”

“Di antara kami kau pendek, Jong.”

“Hyung!” Jonghyun menatap Onew dengan pandangan ‘kau-mengkhianatiku-hyung-tercinta’, tapi Onew hanya mencibir bahkan menyambung dengan tawa.

Baik Minho maupun Key sama-sama kesal. Mereka penasaran dengan apa yang membuat Jonghyun tertawa begitu indah seperti tadi.

“Nih, baca! Kalian tidak seru, menghina tinggi badanku terus. Taemin-ah~! Kau di mana? Ceritakan dengan apa yang kau perbuat pada nomor 50!”

Seiring menghilangnya Jonghyun di balik tembok, ketiga member yang tersisa tengah berkerumun membaca fakta Taemin pada halaman yang sengaja dibuka Taemin. Mereka pada awalnya hanya tersenyum tidak jelas membaca fakta-fakta di sana—walau senyum itu akhirnya berubah menjadi ekspresi histeris.

“YAH, LEE TAEMIN! Ceritakan ini!”

“Saengil chukkae, Taemin! Aku sudah mengucapkan ‘selamat’, jadi kau berhutang cerita!”

Ketika Minho dan Onew sudah berlari dengan hebohnya menyusul ke kamar Jonghyun dan Taemin, Key masih mematung sambil membaca kalimat itu berulangkali. Dahi lebarnya terlihat berkerut beberapa kali.

Taemin memiliki first kiss dengan robot mainannya Taemin memiliki first kiss dengan orang yang pernah melakukan bully kepadanya.

Tulisan Taemin.

Dengan spidol hitam.

Ya. Faktanya, ciuman pertama Lee Taemin bukan dengan mainan robotnya.

***

NB : Adegan bully Taemin itu aku ambil dari referensi di Google. Mengenai kebenaran apakah dia memang dibully atau tidak kurasa itu bener, soalnya pas Naeun tanya dia pernah main sepakbola gak, Taemin jawabnya dia gak punya teman. Tapi aku sedikit kasih improvisasi biar lebih dramatis ~ :3

Dan gak lupa, HAPPY BIRTHDAY uri Lee Taemin~ didoakan yang terbaik untukmu selalu, juga SHINee. Gak akan pernah kulupakan bagaimana kamu berhasil jadi seperti sekarang, setelah melalui masa pahit di SMA, kamu bisa buktiin sama mereka kalau kamu bisa jauh di atas mereka. We always support you, God Bless~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

37 thoughts on “[WFT B] Taemin’s Deepest Secret: I Kissed Her, The One Who Bullied Me

  1. masalah Taemin dibully, saya juga tau dari beberapa blog dan wp, yang kadang disertai foto..
    miris banget kalau itu benar terjadi.
    Gak nyangka dibalik wajah imutnya, menyimpan rasa sakit dari pembullian itu..

    tapi masih panasaran nih, antara first kiss-nya sama robot atau cerita ini cuma fiksi aja?

    Ok Vania, ditunggu karya lainnya ya..🙂

  2. keren Eonnie~
    Jadi sedih inget Taemin pas masih SMA, tapi sekarang pas udah gede malahan nyebelin-_-
    Penulisannya aku suka bangeeet, beda jauh sama ff aku…
    Fighting ya Eonnie~ Aku tunggu karya berikutnyaa

  3. ooh… adegan bully Taemin bner2 menaglir cepat, sampe agak bingung terutama karena cepet banget mp3nya berganti lagu… *padahal udh diingatkan di awal*

    good!
    keep writing!!

  4. Wah… Akhirnya kesampean juga baca FF kamu di SF3Si ya Van…. Dan seperti biasanya keren!!! Hahaha

    tapi nih Van… Maaf.. Kok aku ngerasa ga ada ‘soul’nya… Aku ga bisa jelasin kenapa… Tapi pas abis baca. Lohh kok!! Gini… Aq ga bisa ngerasa ciri khas dan jiwa kamu di FF ini.. #paandeh

    apa karena kesan yg aku tangkap diawal kamu kurang pdp apa ya???

    Tapi apapun itu…… Jempol buat kamu!!! Ah… Taeminni…. Kamu hebat!!!haha

    semangat!! Semangat!!

  5. keren~ narasinya ngena bgt, penggambarannya jadi jelas bgt di otak \^o^/ *peluk taem *eh
    duh, nyesek kalo inget taemin di bully waktu SMA ='( kasihan taemin.. ga kebayang gimana tertekannya taem waktu itu..
    yah, syukurnya semua udah berlalu dan uri magnae makin bersinar =D
    dan, aku sukaaa bgt ama ini ff~

  6. Waaahhh.. Ceritanya baguuus..
    Aku mikirnya cerita ini tuh kayak cerita aslinya Taemin yg dulu pernah di bully di sekolahnya. Kasian banget Taemin..
    Scene pas member SHINee pd kumpul itu koplak banget haha, pake ngomongin tinggi badannya jjong segala lg hahaa..

    Ditunggu karya-karya selanjutnya, keep writing and fighting^^ thanks author..

  7. Waa Van yaa~
    ini pertama kali bc ff mu dan jatuh cintaa~
    ceritany benar” terasa nyata,dan meskipun agak kurang stuju tiba” sj tanpa angin tanpa badai tanpa guntur tanpa hujan *okelupakan
    Ahyeon minta maaf sm Taemin, tp narasi selanjutny bkin rasa gak puasku meleleh jd ikutan sedih jg.

    Oh ya,sering” kirim ff k sini laah. Sy males keliling blog, tp ngebet bgt pengen bc ff mu lg

    well,biarpun belum bc ff lain,tp tak doain lah biar yg ini menang. Duh,bgs bgetlah (y)

  8. Itu lagu album apa?
    itu gandalf itu si jong?apa maksudnya?huaaa…aku shawol yg tdk baik…ketinggalan apa aja akuuuu….tidaaaaakkk…

    Sorry sorry sorry#nyanyilagusuju
    Rada gak ngerti sih sm jalan cerita awalnya…tp kyk kata jong oppa terima saja…
    Selebihnya daebak…Gansahamnida…

  9. like song-fic yah.. menggambarka potongan lagu dengan keadaan… *sotoy..
    baguusss ceritanya… tapi aku sempet ga ngerti di beberapa part, karena pindah scene, atau berubah cerita, itu dimana kadang aku ngerasa, “ohh udah ganti tempat” “oh udah ganti cerita” gitu deh… apa aku ajah yang ngerasa bgitu?? atau perlu kuulang lagi kali yahh bacanya?? -__-a

    smangat menulis lagi yaaa

  10. bagus ceritanya..
    awalnya sempat bingung sih sama ceritanya, “eh Ahyeon mana? Dia bukan tokoh utama(selain taemin)? ” pas baca diakhir2 cerita “oh Ahyeon tokoh utama yaa”
    tapi sebaiknya part. Ahyeon dibanyakin lagi,biar kerasa Ahyeon tokoh utama juga^^

    chingu,baca+comment ff aku yaa >> [wft-b] Kenapa Taemin Jadi Artis?
    kamsa^^

  11. Malangnya Magnae TaeMin, dibully hingga seperti itu. Tapi paling tidak magnae SHINee telah tumbuh dewasa dan melakukan segala hal sendiri, walaupun di One Fine Day terlukis banget TaeMin tidak perduli pada sekitarnya, hanya sibuk dengan pikirannya.
    Mungkin itu pengaruh bully?
    Magnae malang (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ(˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)
    Semangat (งˆ▽ˆ)ง

  12. uwaaaaaa ini nonton atou baca ff ? hyaaaaaaa keren banget pengen baca ff taemin bully eh ada juga , gak kebayang gak punya temen gtu hiks😦 aku yang introvert 1 hari aja rasanya pengen ngamukkkk apa lagi taem ctctctctc keren thorrr ah fff nya bgusss settingnya dapet alur? cerita? jangan tanya udah dapet plus plussss, chukkae semoga menang ya🙂

  13. Halo, Van! ^^ (aku panggil ‘Van’ aja boleh?)
    Sebentar ya, aku pencet capslock dulu.
    FF INI KEREN ABIIIIISSSS!!! AKU SEBEL SAMA AUTHORNYA KENAPA BIKIN FF SEKEREN DAN—-AKU MAU BILANG SEGALAU INI TAPI INI TERLALU KEREN JADI GA JADI BILANG GALAU HAHA.
    BENTAR YA, AKU MATIIN CAPSLOCK DULU *aku rempong sekali*
    Oke jadi gini. Kayaknya bahasa Korea yang ada di sini harus dicetak miring ya, mengingat itu masih merupakan bahasa asing (sementara bahasa inggris aja mesti dicetak miring)
    Dan oh, ternyata si cewe itu tadinya temen taemin trus merasa takut ditinggalkan. I know that feeling (sok tau)
    Diksinya bagus, deskripsinya bagus, so no need to comment more, maybe?
    I like it! ^o^b

    1. boleh, panggil apa aja boleh kok :3
      ADUH AMPUN~ MAKASIH BANYAK YA UDAH SEBEL (?) WKWKWK~ IYA KAMU REMPONG, TAPI AKU JUGA IKUTAN REMPONG KAN! XDDD
      iya itulah kenapa aku mengingatkan di author’s note kalo bahasa asing gak aku cetak miring XDDDD /ketauan banget bukan penulis yg baik lol/ soalnya aku suka kelupaan. pertama dicetak miring, belakangnya malah kagak, saking asyiknya sama yg lain -_- jadi aku putuskan begitu~ tapi makasih banyak ya sarannya aduh aku jatuh cinta pd komenmu :*

  14. ah… telat banget baru baca hahahha. hm.. buat bully sih aku kadang kurang yakin atau gimana. tapi ngeliat taemin yah “kalau dapat teman sayang banget” jadi mungkin dulu memang seperti itu. tapi… yah coba aja cewe itu bukannya teman taemin pasti lebih yahut😄 keren thor good job!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s