Forward – Part 8

Forward – Part 8

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Little Psychology

Rating: PG-13

Note:

The story is written all based to Author’s POV

Disclaimer:

We don’t own all idols/artists. They are belongs to God, their family, and their agency. We put their names only for the purposes of this fanfiction.

 

Forward

***

Kalau saja denting piano yang mengalunkan nada-nada blues dengan kunci mayor 7 itu bisa mengalihkan gusarnya, mungkin ia akan merasa lebih baik. Terkadang bukan karena menghakimi seseorang atau merendahkan atas hal buruk yang ‘melekat’ pada diri orang lain, tetapi selayaknya manusia biasa, sehari tidaklah cukup baginya untuk bisa beralih rasa dari keterkejutannya kemarin. Dan hari ini—tepatnya beberapa menit menjelang mata kuliah pertama—Heera tersesat dalam ketidakmampuannya memastikan apakah ia akan tetap bisa bersikap biasa pada Jinki—sesuai yang dinginkannya—atau tidak.

Sebelum duduk di bangkunya masing-masing, keduanya sempat bertemu pandang. Jinki hanya mengerjapkan matanya pelan sebagai simbol sapaan—berbalas anggukan kepala singkat dari Heera. Gadis itu seperti orang yang baru keluar dari kegiatan bertapanya—mendadak canggung bertemu manusia-manusia aneka rupa. Yah, sedikit berlebihan memang. Tapi nyatanya, ia benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Jinki.

Tiga kepala memisahkan jarak keduanya. Jinki masih tetap sama, memusatkan seluruh perhatiannya pada papan tulis hitam yang dipenuhi coret-coretan kapur karya sang dosen. Heera, gadis itu mulai tahu cara membagi pikiran dan waktu. Sesekali ia memperhatikan dosen, sesekali mengalihkan pandangannya pada Jinki.

Tampak samping Jinki seolah hanyalah siluet dengan hitam khasnya. Begitu suram dari titik pandang Heera. Aih, Heera mengusap wajahnya. Mengapa pikirannya terhadap Jinki begitu aneh? Seakan mendiskriminasikan seorang penderita AIDS. Tidak, tidak. Bukan itu sebenarnya, gadis itu hanya merasa harus mengenal Lee Jinki dari titik nol lagi. Membedakan titik-titik warna yang bertaburan menyusun satu kesatuan—menciptakan penampakan pribadi Jinki. Belum lagi menyusun program di otaknya agar bisa mengidentifikasi Lee Jinki sebagai makhluk yang harus diperhatikan secara lebih. Nyatanya sulit, waktu semalam untuk berpikir belum mampu menormalkan paradigmanya tentang sosok pria itu.

Memorinya tentang percakapan bersama Jinki terputar lepas. Tentang seks bebas dan penderita AIDS, pantas saja Jinki bereaksi aneh kala itu. Hmm, rupanya Jinki tak terima jika penderita AIDS diidentikkan dengan penggila seks berlebih. Sekiranya Heera bisa menyimpulkan satu hal, virus HIV masuk ke tubuh Jinki bukan melalui free sex. Lantas apa?

“Kuliah ini saya sudahi dulu. Saya harus menghadiri sidang mahasiswa program doktoral setengah jam lagi. Ah, masih ada waktu. Saya akan mengisinya dengan sedikit berbagi cerita tentang negeri Cina. Ada yang menarik, kalian tahu kenapa Cina bisa menciptakan barang murah tapi memiliki fungsi yang hampir sama?” Suara dosen mengusir paksa seluruh lamunan Heera. Gadis itu berdecak sayup, mau tak mau ia memperhatikan penuh kata-kata dosennya, sudah merupakan ketertarikan alamiah karena ia memang menyukai kisah-kisah semacam itu.

“Apa mungkin mereka sangat tekun dalam melakukan riset? Bukankah orang Cina itu terkenal dengan keuletannya?” Salah seorang anak di barisan kedua mencoba mengeluarkan opini.

Sang dosen mengangguk kecil di awal, tetapi selanjutnya ia menggeleng beberapa kali, “Ya, memang mereka ulet. Tapi, ada satu lagi kuncinya. Salah seorang rekan saya—yang bidang keahliannya adalah Teknologi Pengolahan Kayu—pernah bercerita. Jadi, bangsa Cina memang pandai meniru. Sejak kecil mereka diajarkan meniru, yaitu saat belajar menuliskan huruf. Bangsa Cina ini pintar sekali. Ketika ada mesin canggih terbaru, biasanya mereka akan membeli satu. Baru mereka… istilah kasarnya… bongkar. Lalu para ilmuwannya segera bergerak, memperhatikan komponennya, cara merakitnya, dan hal-hal lainnya. Setelah itu mereka membuat sendiri mesin yang nyaris serupa fungsinya. Ini hanya sebuah cerita, entah benar apa tidak.”

Heera merenungkan pesan tersirat dalam penuturan dosennya itu. Hmmm, adakah yang bisa ia adaptasi sebagai sebuah solusi dalam menghadapi seorang Lee Jinki? Nihil, otaknya tak membisikkan apapun kecuali sebuah harapan bahwa seorang Lee Jinki bisa menerapkan makna kisah itu. Tapi, alangkah jahatnya jika Heera hanya menunggu Jinki bisa memiliki semangat juang seperti bangsa Cina dalam memecahkan suatu kendala dan mendobrak sebuah keterbatasan diri. Kim Heera berusaha mengais isi kepalanya. Sayangnya, tetap tak terpikir. Barangkali ia terlalu banyak menggunakan otaknya hingga organ itu melakukan aksi mogok jalan.

Dosennya melanjutkan—menjelaskan secuplik ibrah yang sama dengan apa yang dimaknai Heera, “Terlepas dari legal atau tidaknya siasat mereka itu, ada satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Selalu ada cara untuk meraih sesuatu. Asalkan ulet dan mau memutar otak, tidak ada yang tidak mungkin. Berpikirlah kreatif ketika memiliki sebuah keterbatasan. Semoga kisah tadi bisa menjadi penutup yang memacu kalian untuk menyiasati keadaan dengan pandai. Saya permisi dulu.”

Kelas berakhir dengan meninggalkan jejak menarik di benak mahasiswa. Oh, tidak semua, para mahasiswa yang terpekur di pojokan tentu merugi.

Heera segera meraih buku catatan kuliahnya, gerak tangannya sedikit tergesa. Eoh, apa gerangan penyebabnya? Beberapa agenda sedang menunggu? Memang, tapi bukan itu alasan utamanya. Gadis itu tak mau ditinggal oleh Lee Jinki yang sudah bersiap dengan tas rapi. Meski tak tahu apa yang harus diucapkannya, Heera tahu pasti bahwa hal terbaik yang harus segera dilakukan agar tak berlarut-larut terjebak dalam gamangnya adalah—bertegur sapa dengan Jinki.

Tepat waktu, Heera berhasil ‘menangkap’ Jinki yang baru saja lewat di sampingnya. Meski pria itu tak menengok ataupun menyapa, Heera tetap berjalan di dekat Jinki itu—bersisian tanpa saling menatap. Lorong fakultas yang tak begitu sepi menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Setidaknya Jinki tak bisa melangkah terlalu cepat karena harus menghormati hak jalan yang lain. Heera segera memanfaatkan peluang itu dengan berusaha menyapa ceria, “Annyeong, Jinki-ya. Ada rencana berkunjung ke mana sambil menunggu kelas siang nanti?”

“Tidak ada,” jawab Jinki singkat. Ia segera membenahi tali tas ransel di pundaknya. Barang bawaannya hari ini cukup membebani.

“Bagaimana kalau kita ke kantin? Mungkin di sana kita bisa sedikit bertukar pikiran,” usul Heera spontan. Ah, salah beralasan. Sangatlah mungkin Jinki akan menampiknya dengan melesatkan cibiran seperti…

Benar saja, Jinki membalas kilat ucapan Heera. Pria itu menaikkan satu ujung bibirnya, “Untuk apa bertukar pikiran? Memangnya apa yang perlu aku diskusikan?”

Sungguh sedang tidak ada pemikiran taktis di otak Heera. Gadis itu sama sekali tak mempersiapkan jawabannya. Ia yang sudah terbiasa berbicara di depan umum pun harus mati kutu ketika harus berargumen dengan pria ini. Ah, dalam keadaan seperti ini tak harus jawaban bijak yang dilontarkan, bukan? Sesuatu yang ringan mungkin akan lebih menyentuh dan bisa merubah kekeraskepalaan Lee Jinki.

“Secara tersurat memang tak ada gunanya, terlebih otak kalutku memang sedang tak bisa digunakan untuk berdiskusi mengenai materi perkuliahan. Hei, bukankah tidak ada salahnya bercengkrama santai dengan seorang teman sekelas? Sesekali kita bisa bercanda, aku penasaran juga ingin melihat tawamu. Kau tahu? Mungkin kau akan sangat mempesona jika tersenyum, apalagi kalau tertawa.”

Jinki tak menanggapi, yang dikatakan Heera tak ada salahnya. Tentu saja, berbincang ringan dan bercanda tidak akan membuka rahasianya, kan? Lee Jinki tahu itu. Hanya saja, ia sudah tak ingat lagi cara tertawa, ia bahkan tak berhasil mengenang kapan terakhir kali tawanya melesat, apalagi penyebab yang memicunya. Pria itu terima jika dirinya dicap terlihat lebih tua dari usianya, alisnya terlalu sering berkerut, dahinya pun berjuta kali ‘melipat’, hatinya? Mungkin sudah melebihi keriput kakek tua.

“Bagaimana? Kau mau? Aku janji tidak akan menyentuhmu sedikitpun, errrr…,” Heera segera meredam volume suaranya, ia sadar bahwa bukan itu yang seharusnya meluncur dari mulutnya. Gadis itu segera meralat ucapannya, “Maksudku, aku tidak akan berbuat centil dengan meminta izin untuk bersandar di bahumu. Aku tahu itu sangat konyol dan memang murahan.”

Jinki masih tak mengucapkan sepatah kata pun. Tapi arah kakinya segera tertuju pada tempat yang dipinta Heera. Jinki tidak tahu mengapa ia melakukan ini. Mungkinkah ia terpengaruh oleh petuah-petuah Jaejoong? Bahwa seorang pengidap AIDS tak seharusnya menarik diri jika ingin hidupnya dapat ternikmati dengan baik. Tidak tahu, tidak ada apapun yang menjadi dasar atas sikap Jinki kali ini. Pria itu hanya ingin melewatkan waktu bersama Kim Heera, wanita yang ia cintai, meski di saat yang bersamaan justru menjadi sosok yang paling ia khawatirkan sebagai pembongkar aibnya.

Sudah selayaknya Jinki memberikan sebuah hiburan untuk hatinya. Lagipula, dari ucapan Heera tadi tersirat bahwa gadis itu tidak akan merambah ranah pembicaraan serius. Jadi, tak ada ruginya menyisakan waktu untuk mengukir kisah bersama gadis ini, ‘kan? Yah, berharap kisah indah yang akan terukir.

***

Pagi-pagi sekali Jonghyun memaksa untuk pulang. Infus akan menjadi candu jika terus dibiarkan. Dirinya bukan konglomerat kaya yang dengan mudahnya menyewa ruang inap plus segala biaya perawatannya. Ia bersumpah pada ibunya untuk menghentikan aksi mogok makan. Nyonya Kim hanya menanggapi singkat lewat dua jalinan huruf: Y-A.

Wanita itu masih terpukul dengan realita. Anaknya, entah, walaupun Jonghyun bukan pencabik keperawanan—tetap saja dia telah melakukan perbuatan terkutuk. Nyonya Kim merasa dirinya berada di tengah lautan dengan hanya berpegang pada sebatang kayu lapuk. Terombang-ambing, hingga datanglah kapal penolong. Disambutnya tawaran aksi penyelamatan itu, tapi begitu ia telah aman menapakkan kaki di atas dek, ia tahu bahwa yang diangkut kapal itu bukan hanya dirinya—sang wanita reyot yang membutuhkan pertolongan—melainkan sekumpulan ganja kering tak bersertifikat. Jonghyun memang telah menyelamatkan nyawanya, tapi melalui jalan yang tak lurus.

Jonghyun tak berani lagi berucap pada ibunya, apalagi mendesak wanita itu untuk meresponnya dengan cara yang lebih menyenangkan. Tidak bisa. Jonghyun tahu kesalahannya sangat memalukan, ia telah membuat ibunya kecewa berat. Ia pun sesungguhnya merasa sangat sakit, tapi ia lebih tak ingin menyiksa kondisi perekonomiannya dengan memilih mengikuti ego.

Alhasil, Jonghyun mengemasi barangnya seorang diri, berjalan pulang pun tak saling berdempetan dengan ibunya. Begitu pula setibanya di rumah, tak ada sup hangat buatan sang ibu, pun tidak ada ucapan selamat datang. Wanita itu hanya terduduk layu di sofa yang kulitnya sudah dipenuhi cacat. Jonghyun tidak tahan dengan suasana aneh seperti ini. Maka begitu eomma-nya terlelap, Jonghyun memutuskan hengkang sejenak mencari ketenangan—yang entah di mana bisa ia peroleh.

Langkahnya tak bermodalkan peta, juga tak berbekalkan kompas. Ia tak tahu kemana harus melangkah. Memasuki kedai penjual makanan sudah dilakoninya, tapi rupanya kenyang hanyalah pelipur lara sesaat. Tak tahu harus memperbaiki diri dari titik mana, karena sang ibunda bahkan tak menjawab kata maafnya.

Ah, Jonghyun tentu tidak lupa, ada dua orang lagi korban atas perbuatannya: Kim Heera dan Choi Minho. Batinnya tak akan tenang sebelum bertatap muka dengan keduanya. Tapi, apa masih ada secuil keberanian untuk menghentikan kaki di hadapan mereka? Ciut, kisut. Nyali Jonghyun tak dapat diukur lagi walaupun menggunakan alat ukur dengan tingkat ketelitian super tinggi.

Meski ia gamang jika terus mengingat kesalahannya pada dua orang itu dan cenderung takut bertemu keduanya, tapi toh tetap saja, tanpa didesak ataupun diteriaki paksa—kaki Jonghyun akhirnya berakhir di kampus Heera.

Diam-diam seperti spy pengintai buronan. Jonghyun mengamati seorang Kim Heera dari balik lubang kertas Koran yang dibentangkannya lebar di hadapan muka. Jonghyun tahu betul bahwa pada hari ini dan jam seperti ini, Heera akan mengisi perut di kantin fakultasnya.

Namun, pelik semakin dirasanya, rasanya sesal memang pantas ia utarakan pada hati yang telah menuntunnya ke tempat ini. Lihat, apa yang ada di depannya? Kim Heera berjalan bersama seorang pria yang… errr, cukup tampan, tapi tak beraura terang. Jonghyun terus menelisik sembari berpikir. Ah, ia tahu apa yang menyebabkan batinnya tidak bisa menahan kecewa. Ini tidak semata menyangkut penampilan pria—yang menurutnya tidak lebih baik dari dirinya—itu. Hanya saja… secepat itukah Heera berhasil melupakannya? Jonghyun bahkan tak berhasil menghapus nama Heera walau hanya satu sapuan. Ah ya… Jonghyun sadar dirinya memang pantas dilupakan. Kim Jonghyun, sadarlah, kau yang meminta Heera untuk melupakanmu!

***

Lee Jinki menaruh paper cup-nya begitu ia usai menyeruput lemon tea dari dalamnya, menyisakan hanya separuh isinya. Matanya melirik ke arah Heera yang masih sibuk berkutat dengan kerumunan orang yang akan memesan menu makan siang. Penampakan sisi belakang, ia tidak terlalu suka melihatnya—hal itu membuatnya merasa seakan-akan tidak dipedulikan—meski sebenarnya tanpa ia sadari, ia sendiri yang memilih jalan untuk tidak dipedulikan.

Oh, Kim Heera akhirnya membalikkan badan dan beranjak untuk mendekati Jinki. Pria itu buru-buru melempar pandangannya ke sudut manapun, tidak tentu arah. Tak hanya takut tertangkap basah Heera, tetapi juga tidak ingin mukanya memerah, bagaimana tidak, detik ini Heera sedang tersenyum super lebar ke arah Lee Jinki. Mati, mati. Jinki grogi bukan kepalang.

Heera duduk di bangku di hadapan meja, tubuh mereka terpisahkan oleh sebuah meja panjang. Gadis itu meraih sebuah tisu yang tersedia di meja, mengelap peluhnya. “Jinki-ya, kau tidak lapar? Tidak ingin membeli sesuatu?” tanya Heera.

“Aah, aku membawa bekal dari rumah,” balas Jinki dengan gugup yang belum hilang.

Oh iya, Kim Heera lupa kalau Jinki tidak akan pernah makan di kantin, apalagi dengan menggunakan alat makan yang juga digunakan orang lain. Gadis itu tersenyum begitu teringat, setidaknya ia tahu bahwa Lee Jinki tidak seapatis yang dikira orang—pria itu masih memedulikan orang lain, buktinya, ia tidak ingin alat makan umum tadi terpapari dengan air liurnya. Mungkin, itu alasan Jinki.

“Ooo, bekal apa? Woahh… bahagianya kau, tiap hari ibumu membuatkan bekal.” Mendadak Heera merasa iri. Dirinya tidak pernah membawa bekal. Meski bisa saja ia meminta pada pembantunya untuk membuatkan, ia tidak berminat sama sekali.

Heera ingin seperti anak-anak lain, ibu-ibu mereka sibuk menyiapkan wadah makan di pagi hari. Lalu pada saat jam makan siang, bocah-bocah beruntung tersebut akan bangga menceritakan perihal masakan lezat buatan ibunya. Heera tidak pernah merasakan itu semua.

Aih, sudah lama ia tidak pernah memikirkan hal-hal sepele seperti ini, ia menganggapnya lumrah karena sudah biasa. Tapi, detik ini ia begitu ingin berada di posisi Jinki: mengeluarkan wadah makan dari tas.

“Eumm, hanya ikan salmon dan sayuran. Sebenarnya, ini bukan buatan ibuku, melainkan ayahku. Kadang-kadang juga pembantuku yang membuatkan,” balas Jinki sambil membuka kotak makannya.

“Ooo, tetap saja. Ayahmu pasti orang yang sangat perhatian.”

Jinki tercenung, nada bicara Heera… hari ini ia tahu sesuatu tentang gadis ini. Hubungannya dengan kedua orang tuanya tidak terlalu baik. Jinki bisa melihat itu dari mata Heera, meski hanya sekilas, Jinki bisa melihat gadis itu mendadak melempar arah pandangnya ke tanah.

“Ah, ya, begitulah,” jawab Jinki canggung. Ia merasa perbincangan santai seperti ini sangatlah aneh. Dan Heera adalah orang pertama yang mengajaknya setelah sekian lama ia tidak pernah melakukan hal ini.

“Eum, Jinki-ya, apa kau suka membaca novel?” Heera buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.

“Tidak suka. Untuk apa, toh aku tahu itu semua palsu. Aku lebih suka membaca biografi orang terkenal.”

Heera manggut-manggut. Jawaban yang masuk akal memang, tapi ia tidak sepemikiran. Baru saja ia akan menimpali, pesanan makanannya tiba. Ramen bertabur potongan ayam kecil-kecil. Aroma sedap menguar, terbawa kepulan asap tipis yang melayang bebas dari mangkuk. Heera tenggelam sesaat dalam sensasi nikmatnya menghirup kuat-kuat aroma itu. Wow, hal sederhana seperti itu saja merupakan sebuah kenikmatan, bersyukur masih punya hidung pencium.

“Ah, mian. Aku sangat suka wangi ramen, terkadang suka lupa diri. Apa tadi yang kita bicarakan? Ah, ya, palsu. Memang palsu, tapi semua yang ada di novel itu ‘kan tetap cermin dari kehidupan yang asli. Dari sana kau akan dapat hiburan plus pelajaran. Eum… aku pribadi memang bukan maniak novel. Aku, mungkin lebih suka membaca buku non-fiktif yang menggambarkan tentang sisi-sisi kehidupan. Tentang pengidap AIDS misalnya,” belum hilang kebiasaan Heera. Gadis itu senang sekali memancing reaksi orang.

Spontan Jinki memalingkan wajahnya. Ia menyesal karena mengikuti ajakan yeoja ini. Nyatanya, setiap kali pertemuan mereka terjadi, selalu saja ada yang membuat Jinki resah. Apa yang kali ini harus diperbuatnya? Permisi undur diri? Begitukah? Ya, alternatif terakhir jika gadis ini terus membahas hal yang menyebalkan.

“Barangkali kau pernah membacanya juga, bisa kau temui kisah mengenai cara mereka memunculkan semangat hidup, dukungan keluarga, atau apapun itu, bahkan hingga hal yang awalnya menyakitkan bagi mereka tetapi akhirnya berhasil mereka atasi. Oke, menurutku itu semua sudah sering dibahas. Kau mau mendengar sesuatu yang baru?” Heera mengamati lekat perubahan air muka Jinki. Sebetulnya semua yang baru dilontarkannya itu hanya spontan saja, ia bahkan tidak tahu harus bercerita apa jika Jinki menjawab ‘iya’.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana? Aku tidak suka mendengar kisah-kisah tentang orang berpenyakit. Terlalu melankolis, menyedihkan. Yang lain saja kita bahas.” Jinki membalas tegas, ini celahnya untuk memutar balik alur pembicaraan.

“Ooh, kenapa menyedihkan? Nyatanya tidak semuanya berakhir tragis. Ada juga kisah penderita kanker payudara yang berhasil sembuh.” Heera menahan katanya sejenak, ia butuh waktu untuk mencerna tentang jalan berpikir yang mungkin dianut Jinki.

Gadis itu menyimpulkan, Lee Jinki terlalu penakut mendengar kisah-kisah kematian. Ya, namja itu begitu takut nyawanya akan terenggut cepat. Heera memutuskan untuk mengikuti alur Jinki, “Kisah biografi? Ehm, ide bagus. Aku tiba-tiba teringat pada Beethoven, musisi yang dianggap bisa menjadi Mozart kedua.”

“Ah, ya, aku pernah baca. Sayang sekali musisi berbakat seperti dia harus mengalami ketulian,” Jinki menyambung cepat, dilanjutkan dengan menyendok makanannya ke mulut.

“Tidak ada yang harus disayangkan. Memang benar bahwa dia sempat frustasi dan mengasingkan diri dari masyarakat, tapi setelah itu dia bisa bangkit. Lalu… yah, kau juga mungkin tahu bahwa karya-karya besarnya justru lahir setelah ia tuli,” Heera mencoba membantah.

Jinki tersenyum geli, persepsinya ketika membaca kisah tentang Beethoven tidak sama dengan yang Heera tangkap. “Tidak, tidak. Kurasa, meski karyanya bagus, tapi tetap saja penyakitlah yang menggerogoti hidupnya. Satu lagi, kupikir, Moonlight Sonata—karyanya yang sangat populer itu—cukup menceritakan semua tekanan hidup yang dialaminya. Bagian pertama dari sonata ini konon menggambarkan rasa tertekan akibat kekerasan hidup yang dialaminya semasa muda, kehancuran hatinya karena ia tidak berhasil mendapatkan perempuan bernama Giulietta yang notabene seorang anak bangsawan, dan… satu lagi, rasa frustasi akan ketuliannya itu. Ia tetap frustasi karena penyakitnya. Begitu pula dengan bagian ketiganya, ia seolah sedang menumpahkan emosinya, yang mungkin disebabkan oleh tekanan ayahnya di masa lalu, kegagalan cinta, dan lagi-lagi, yah, masalah ketulian. Oh, masih belum selesai, bahkan penyebab kematiannya pun diduga karena kegagalan fungsi hati fatal, konon karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol di saat ia depresi. See, bagian mana yang menunjukkan bahwa memiliki penyakit itu merupakan pendongkrak semangat hidup?”

Heera terdiam, kalah total. Akalnya masih mencari-cari tanggapan yang tepat untuk mengulik hal baik di antara mirisnya kisah hidup Beethoven. Ah, salahnya mencuplik kisah musisi itu. Niat awalnya buyar, Jinki bukannya tergerak untuk bangkit di tengah penyakit yang menyerang tubuhnya, pria itu justru semakin terkesan yakin bahwa penyakit bisa menghancurkan dunia seseorang.

Jinki mencibir gadis di hadapannya, Heera tak lebih dari manusia yang dikutuk menjadi batu dalam keadaan melamun bodoh. Pria itu yakin bahwa Kim Heera tak bisa lagi berargumen. Jinki menyeruput minumannya santai.

‘Lee Jinki bodoh. Kenapa kau tersenyum penuh cibiran seperti itu? Bangga dengan argumentasimu barusan, huh? Senang karena berhasil membuatku bungkam, begitukah? Dasar bodoh, yang sesungguhnya baru kau lakukan itu sama saja dengan memukul telak mentalmu sendiri,’ Heera membatin dongkol. Terlebih senyuman Jinki semakin terlihat menyebalkan. Ingin rasanya gadis itu meneriaki Jinki, keki karena ada manusia yang sedemikian pesimisnya dalam memandang hidup.

Kontradiktif memang, Jinki sesungguhnya masih ingin hidup, tapi kenapa pria itu sama sekali tidak berusaha memunculkan pemikiran positif untuk dirinya sendiri? Mati saja kalau begitu! Tapi masalahnya Jinki terkesan tak ingin mati, oh Heera kesal bukan main. Apa yang sebenarnya bercokol di otak pria itu?

“Masih mau menyambung cerita, Heera-ssi?” tanya Jinki, yang terkesan menyindir Heera. “Ah, aku lupa. Mungkin kau tidak paham tidak maksudku. Begini, apalah artinya ketenaran, karya yang melegenda, kalau ternyata Beethoven sendiri merasa tak puas akan hidupnya, tertekan sedemikian rupa dan menyebabkan ia tak bisa menikmati hidup?”

“Hmmm, begitu ya menurutmu, masuk akal juga. Tapi, omong-omong, mengapa kau begitu yakin bahwa penyakit bisa menghancurkan hidup seseorang? Kau punya pengalaman pribadi? Kalau iya, berarti baru saja kau sedang membela Beethoven. Aigoo, apa kau senasib dengannya? Kekerasan apa yang kau alami semasa muda? Penyakit apa yang membuatmu sedemikian menggebu mengutarakan pendapatmu tadi? Oke, anggaplah benar kau memang punya penyakit, mengapa kau tidak berusaha menguatkan batinmu sendiri? Kau terkesan meratapi dan mengutuki kelemahanmu itu. Ei, kalau dipikir lebih dalam, Beethoven masih seribu kali lebih baik daripada kau, setidaknya ia masih bisa menghasilkan karya di balik keterpurukan hidupnya. Tapi kau?”

UHUK UHUK.

Jinki tersedak, lemon tea yang sedang disedotnya mendadak tersembur. Partikel-partikel air melayang bebas dan cepat, pancarannya cukup jauh seakan terdorong gaya yang cukup kuat. Eits, tapi masih ada hukum grafitasi yang mampu menyeret pulang partikel manapun yang sedang tak tahu diri ingin terus berjaya di atas. Butiran air itu kembali menukik turun, dan rupanya ia cukup genit. Air mencari tempat mendarat yang mulus. Di sana, di atas permukaan kulit halus telapak tangan Heera yang ada di atas meja.

Heera berdiri spontan. Kursi yang didudukinya tadi terjengkang ke belakang, tapi gadis itu seakan tidak memedulikan bunyi gdebruk yang timbu. Yang dilakukannya justru berteriak, “Kyaaaaaah! Oh Tuhan, Lee Jinki, jahat sekali kau menyembur tanganku! Oh, no! Jinki-ya, kau bawa hand sanitizer tidak? Ini jorok, menakutkan.” Heera kelabakan bukan main, sementara Jinki ternganga kaget.

Pria itu baru bereaksi setelah beberapa detik terhenyak. ‘Apa yang terjadi barusan? Oh! Astaga, bagaimana ini? Semburan, air, ludah. Arggggghhhh… ludah, ludah… semoga tidak terjadi apa-apa. Oh Tuhan, apa benar ludah orang sepertiku berbahaya juga? Oh tenang, Lee Jinki, ini hanya mitos. Tidak ada bukti yang pernah menunjukkannya.’

Jinki berusaha tenang, ia beranjak menghampiri Heera setelah menarik beberapa helai tisu yang ada di meja. Baru saja ia bermaksud akan mengelap tangan Heera yang basah, gadis itu menepisnya dan merebut paksa tisu dari tangan Jinki hingga sedikit sobek. “Jinki-ya, mian, mi-mian… aku, aku… errrr, trauma pada semburan.”

“Tidak apa-apa, maafkan aku. Maafkan aku, sungguh ini tidak disengaja. Tenanglah, tenang, tidak akan terjadi apa-apa.” Kulit wajah Heera yang memucat membuat cemas Jinki tak terbendungkan. Beberapa saat terlewati dan dua kepala itu hanya saling melemparkan sorot mata cemasnya. Langkah Jinki mundur selangkah. Sekiranya pria itu berusaha menjaga jarak dengan Heera, betapa khawatirnya ia detik ini.

“Jinki-yamian, mian. Aku permisi dulu,” Heera tergagap. Meski ketakutan mengisi penuh relung hatinya, ia tetap merasa dirinya sangat keterlaluan. Heera sadar bahwa spontanitasnya tadi akan membuat Jinki semakin terpuruk, oh, dan lagi Jinki bisa curiga. Apa jadinya jika Jinki menyadari bahwa Heera sudah tahu mengenai penyakitnya itu? Pria itu akan semakin menjauh, bisa jadi akan menyaingi tingkatan depresi yang dialami Beethoven. Bukan tak mungkin jika nantinya Lee Jinki terus mengurung diri dan tidak ingin melihat satu manusia pun hingga akhir hayatnya. Kim Heera, kau salah besar, salah.

***

Heera terus melangkah dengan tempo cepat. Meski napasnya sudah agak tersengal menahan sesak, ia tetap tak ingin menghentikan gerak kakinya sejenak. Tahu kenapa? Telinganya sama sekali tak tuli, ia bisa mendengar suara derap langkah di belakangnya, sedang mengikutinya sejak tadi. Gadis itu tak berani melirik sekalipun. Penguntit yang diduganya sebagai Jinki itu, pasti akan menampakkan ekspresi wajah yang hanya akan membuat perasaan Heera semakin tak karuan. Heera sadar bahwa Jinki merasa bersalah juga atas kejadian tadi, namja itu mungkin sadar bahwa air liurnya bisa membahayakan orang lain—tercermin dari kalimat Jinki ketika meminta maaf. Ya, Heera tak sanggup melihat raut cemas bercampur sedih yang terpampang di wajah Jinki.

Oooh, tapi langkah gadis itu masih kalah cepat. Lihat, si penguntit berhasil mendahuluinya, menarik paksa tangan Heera dan segera membuka tutup botol hand sanitizer yang baru saja dipinjamnya dari salah seorang pengunjung kantin.

“Bodoh, kenapa kau tidak segera mencari air saja kalau merasa kotor? Tidak pernah dengar pepatah ‘tak ada rotan akar pun jadi’ ya?” Penguntit itu membalurkan cairan bening kental dengan tekun ke tangan Heera.

Sahara gersang mendadak basah kembali. Oh, bukan, perumpamaannya tidak tepat. Mungkin, harusnya, kata-kata yang tepat untuk dirangkai adalah seperti ini: cinta selalu bisa meredam gejolak jiwa. Kim Heera terpaku pada sosok yang layak dijuluki paparazzi itu. Daun telinganya sedikit menegang karena ia baru saja menangkap suara yang sudah lama tak didengarnya. Terasa asing, bagaikan baru mengalami perjumpaan untuk yang pertama kalinya lagi.

Oh, kenapa semua serba baru? Tadi pagi ia harus mengenal Jinki dari awal, dan sekarang harus mencocokkan jenis suara yang satu ini dengan memorinya yang masih belum terkubur.

Semua cacat tentang penguntitnya ini sirna sementara, Heera kembali terseret pada setumpuk kebaikan yang tertanam di dalam diri orang ini. Kim Jonghyun yang selalu perhatian dan peka, berinisiatif sendiri tanpa harus diminta.

“Ehem, terima kasih.” Canggung, Heera membuang pandang ke arah paving block yang merangkai jalanan yang dipijaknya. “Jangan salah sangka. Aku tidak terharu, aku juga tidak akan bisa kembali ke hubungan kita yang lalu. Kau mungkin bisa termaafkan seiring waktu berjalan, tapi kesalahanmu tetap tak bisa terlupakan, Kim Jonghyun,” cepat-cepat Heera menambahkan. Bagaimanapun, wanita tak bisa mengabaikan batinnya yang pernah terkoyak.

“Aku hanya berbaik hati, siapa tahu kau jadi tidak rileks tidur akibat lupa mencuci tangan tadi. Sudah selesai, aku pamit. Jaga dirimu baik-baik, ya,” pesan Jonghyun begitu usai menutup botol cairan tadi. Pria itu seakan tidak begitu terusik dengan kalimat sindiran Heera. Ia kenal betul sifat mantan kekasihnya—akan memilih menyerang di awal ketimbang diserang terlebih dulu.

Jonghyun tersenyum tipis dan lantas membalikkan arah tubuhnya. Pria itu meninggalkan Heera dengan lambaian tangannya—yang ia lakukan tanpa melirik Heera sedikitpun.

Punggung tegap itu hanya bisa Heera pandangi nanar. Tidak ada yang bisa diucapkannya, dan memang tak kata ada yang ingin dijalinnya. Hanya dilema yang terasa. Pria sebaik Jonghyun, ah, sudahlah… Heera tidak ingin mengenang yang telah kandas. Menyakitkan dan hanya akan menggoyahkan pilihannya untuk bebas dari belitan asmara.

Namun, sedikit banyak Heera memang merasa sedih. Jonghyun sama sekali tak berusaha minta maaf lagi atau memohon untuk memulai kisah kembali. Apa benar pria itu sudah melupakan semuanya? Apa benar Jonghyun tak lagi berusaha untuk memenangkan hatinya? Dan apa benar semuanya sungguhan telah usai? Heera kemudian memukuli keningnya sendiri.

Oh, apa baru saja dirinya sedang berharap? Bukankah Heera sendiri yang menekankan pada Jonghyun agar pria itu tak berharap? Oh, perasaan, memang benar kau sulit didefinisikan, apalagi dimengerti. Duh, kau sama misteriusnya dengan nada pembuka lagu Für Elise karya Beethoven.

Lamunan Heera buyar ketika ia sadar bahwa Jonghyun baru saja membalikkan badannya dan berjalan ke arahnya kembali. Ada apa gerangan?

Probabilitas bahwa pria itu hendak menjalin kata-kata yang membuat Heera luluh—sangatlah kecil. Lihat saja bagaimana alis pria itu naik sebelah dengan satu mata yang memicing. Jelas, itu bukanlah ekspresi yang tepat jika ia memang akan bermanis ria. Lalu, apa yang akan diperbuatnya? Heera tak bisa menebak, ia pun pasrah dengan degup jantungnya yang liar tak terkendali. Gadis itu tak menemukan cara yang tepat untuk berpaling, lari bukan option yang tepat dan hanya membuatnya akan dianggap kekanakan.

Jonghyun berhenti tepat di depan Heera. Ia sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Heera. Ia tersenyum mendapati arah pandang Heera yang benar-benar terkunci pada lantai dasar Bumi. Ia tahu benar, Kim Heera masih manusia yang akan tertunduk tatkala gugup ataupun tak ingin terlibat kontak mata langsung dengan lawan bicaranya.

“Heera-ya, tenanglah. Kisah kita sudah usai, aku tidak akan memintamu kembali, aku tahu diriku sudah melukaimu terlalu dalam. Aku juga terlalu hina untuk mendampingimu. Aku hanya ingin bilang, aku tak mengerti kenapa dirimu yang sekarang sangat mudah panik.”

“Maksudmu?” Heera menegakkan kepalanya. Benarkah yang dikatakan Jonghyun? Mudah panik? Dalam hal apa? Heera bahkan tak menyadarinya, mantannya ini memang terlalu perasa.

“Tentang ludah. Cari tahu terlebih dahulu sebelum kau memejamkan mata nanti malam. Aku yang tidak berpendidikan tinggi saja setidaknya tahu. Ludah itu cairan ajaib, di dalamnya terdapat zat penghambat pertumbuhan mikroorganisme dan bahkan faktor penghambat virus. Lagipula, virus yang kau cemaskan itu adanya di dalam limfosit T pada sel darah, bukan ludah. Kau sama saja seperti mayoritas orang, khawatir tertular, dan caramu juga sama-sama berlebihan.” Jonghyun berbisik tenang.

Heera sebaliknya, terpojok bukan main, ia tak lagi mampu menimpali apapun. Diam berarti merasa bersalah atau kalah. Penjelasan singkat Jonghyun membuatnya kian merasa berdosa atas sikapnya di kantin tadi. ‘Oh, Tuhan… sampaikan maafku pada Jinki.’

***

Teriakan Heera perlahan menjadi hantu malam yang membuat Jinki terbangun dari tidurnya. Ini masih jam 8 malam, dan Jinki heran mengapa dirinya bisa berada di atas kursi meja belajar. Ooo,rupanya ia tertidur ketika berkutat dengan sebuah file pdf disertasi dosen pujaannya. Di dalam tulisan itu, ada sedikit yang tidak dimengertinya mengenai perhitungan-perhitungan dalam perancangan pabrik obat berbahan baku alga. Karenanya, mata Jinki terkatup tanpa perlu komando otak.

Di tengah linu tengkuk yang melandanya, Jinki sedikit memutar nalarnya. Ah tidak, ini tak mengandung unsur logika, lebih baik sensor hati yang dihidupkan. Ia mulai memejamkan matanya, memutar ulang semua kejadian hari ini dari mulai hal terkecil. Mendetail.

Pemintaan maaf Heera yang terkesan canggung, ketakutan, serta alasan Heera mengenai traumanya. Mengapa Jinki baru sadar bahwa itu sedikit tidak logis? Satu kesimpulan menakutkan berhasil mengendap di sanubari Jinki.

Alih-alih merasa lemas memikirkan kemungkinan itu, kakinya justru memerintahkan untuk berdiri. Ditapakinya seluruh sudut kamar, bolak-balik dari ujung ke ujung. Rambut harus rela dirontokkan karena tarikan tangan yang terlalu kuat. Satu, dua—bahkan berpuluh helai rambut terlepas dari kulit kepala.

Jinki terbantai di pojok kamar—tentu salah pikirannya sendiri. Ia semakin dihujami gusar tak terkendalikan. Mata sipitnya melebar, bersamaan denga pori yang terbuka mengucurkan tetesan keringat.

“Aaaaaaaaakkkk!”

“Mati aku. Pasti, aku pasti mati. Ya Tuhan, ya Tuhan. Lindungi aku, jangan sampai. Kumohon jangan sampai. Tidak, tidak boleh terjadi. Tidak boleh ada yang tahu kondisiku. Tuhan, aku takut. Tuhan, kau selalu melindungi hamba-Mu yang memohon, bukan?”

Jinki berusaha tenang, menahan kuat kedua lututnya yang mulai dikuasai gemetar. Ia kembali menenggelamkan dirinya dalam pejaman mata, berpindah lokasi pada dunia heningnya. Sialnya, di dunia sana, ia bertemu dirinya yang ada pada masa lalu.

Di sana! Di ruangan itu ada seorang anak muda tengah bercakap dengan seorang dokter. Di sampingnya ada sang ayah yang mendekap erat tubuh layunya. Detik itu sang pemuda tengah terpuruk, puncak keterpurukan setelah sekian waktu lelah dengan kondisi tubuh yang terus tersakiti. Ia baru menemukan jawaban atas gejala-gejala aneh yang belakangan muncul. Sering pilek berbulan-bulan tanpa sebab pasti, demam berkepanjangan plus keringat tanpa henti, diare akut, sakit kepala bukan main, dan berat badan yang menukik drastis. Lima bulan belakangan, pemuda itu kehilangan 15 kilo bobotnya.

Pemuda itu tergelepar di lantai, menangis meraung-raung dan menendang-nendangkan kakinya pada udara kosong. Dekapan sang ayah tak cukup kuat untuk menahan rontaannya. Terlebih ketika sang dokter berusaha menenangkannya, pemuda itu refleks mencekik leher dokter tadi hingga nyaris kehabisan napas. Untung saja beberapa petugas medis segera berhambur masuk ke dalam ruangan. Pemuda itu kalah telak oleh beberapa badan kekar yang menahan geraknya. Ia hanya bisa meluapkan dukanya lewat raungan meski sadar bahwa sekalipun dirinya menjerit sampai mati, tetap tidak akan merubah isi kertas hasil pemeriksaan lab yang masih terkepal di dalam genggamannya. ‘Malang nian kau, wahai pemuda,’ celoteh nyamuk yang baru saja lari menjauh, rupanya hewan yang satu itu tak berani menghisap darah pemuda tadi.

 

Lorong waktu membawa Jinki pulang ke dimensi waktu yang sekarang. Namun, rupanya tak ada yang berubah sedikitpun. Lee Jinki dewasa, tetap terkapar dalam isak tangis setiap kali mengingat semua itu. Ia meraung bak harimau yang sedang dipatuki ular paling berbisa. Racun terus menjalar dalam pembuluh darahnya, menyakitinya diam-diam dari balik lapisan kulit.

Ia frustasi, ingin rasanya menyayat nadi tangan dengan benda tajam. Ia begitu kesal, marah, namun tak tahu harus melampiaskan pada siapa. Pada dokter pembawa berita petaka itukah? Inginnya memang begitu. Sayangnya, kali ini Jinki tak berhasil menemukan sosok dokter yang sangat dibencinya itu, ia kesal bukan main.

Ia memaksakan tubuhnya berdiri, kalap digerogoti kegelisahan. Pria menggeser kursi di depan meja belajar, membuka pintu lemari, bahkan memeriksa isi bathub kamar mandinya. Gusarnya melonjak berkali lipat, ia tak berhasil menemukan yang dicari. Aih, ia masih tak menyerah, dibukanya seprai pembungkus kasur, oh, tidak tersembunyi di sana juga.

Rasa penasarannya semakin bertambah dan bertambah, ia bergegas keluar dari kamarnya. Langkahnya berhenti di depan pintu kamar ayahnya. Oh, tidak, terkunci. Lee Jinki menjadi tak sabaran dan sedikit geram. Ia berulang kali menggoyangkan gagang pintu, nihil hasilnya.

“Dokter bodoh! Kuliahmu pasti tidak lulus. Kau pasti salah, ya, salah. Huh, tidak, lebih tepat dikatakan dungu. Kau pasti tidak bisa memaknai dengan benar hasil pemeriksaan lab-ku. Cepat mengaku, keluar kau!”

Napas Jinki semakin memburu dan ia menggedor-gedor pintunya kali ini— yang kemudian disambut oleh sahutan panik ayahnya.

Pria paruh baya itu buru-buru memutar kunci, rasa cemas dengan cepat mengepungnya. Dari sekian banyak gejala depresi yang Jinki tunjukkan, malam inilah yang membuatnya paling khawatir. Jelas saja, hantaman kepalan tangan Jinki di daun pintu semakin bertenaga—tentu ada hal gawat yang tengah membayangi imajinasi anaknya itu.

Appa!! Tolong aku! Selamatkan aku, Appa!”

Tuan Lee berhasil membuat pintu kamarnya terbuka setelah sekian menit berlalu. Memutar kunci memang bukan hal yang sulit, tetapi lain ceritanya jika harus dilakukan dalam keadaan panik. Pria itu kemudian berusaha untuk meredam gerakan tangan Jinki dengan mengunci anak itu melalui pelukan.

 “Appa! Cepat pertemukan aku dengan dokter itu! Appa, paksa dia untuk mengakui bahwa diagnosanya keliru.”” Jinki naik pitam, baginya sang ayah hanyalah penghalang. “Appa, jangan sembunyikan dokter itu, suruh ia untuk mengakui bahwa diagnosanya salah. Appa…,” raungan Jinki berakhir pada pundak ayahnya. Pemuda itu menangis terisak, diremasnya keras-keras rambut sang ayah, ia tak lagi sanggup mengendalikan dirinya yang dikuasai halusinasi.

Tuan Lee jelas tak berkutik, terkunci sembari menahan sakit karena rambutnya yang terus menjadi sasaran Jinki. Tuan Lee hanya bisa berteriak memanggil Taemin, berharap adik Jinki itu tidak terlalu pulas tidurnya. Di saat seperti ini, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menghubungi Kim Jaejoong—dan hanya Taemin yang bisa membantunya untuk menghubungi psikoterapis yang satu itu.

“Jinki-ya, tenanglah. Kau tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, percaya pada Appa.” Dielusnya pelan puncak kepala sang anak sulung. Semoga dengan sentuhan tulus seperti itu bisa menenangkan gejolak jiwa anaknya.

Namun semuanya meleset, sama sekali tak sesuai harapan tuan Lee. Jinki bertambah ganas, kali ini ia bahkan mencekik leher ayahnya itu. Melotot dan berteriak garang, “Pria tua bodoh, cepat katakan di mana dokter itu!!”

To Be Continued

Informasi tentang Beethoven didapat dari beberapa sumber, maaf tidak bisa mencantumkan link karena tidak ingat baca dari mana saja dan lupa menyimpan page-nya

©2012 SF3SI, Heartless.

Officially written by Vero, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

44 thoughts on “Forward – Part 8

  1. maaf ya kak baru komen padahal udh baca kemarin. abisny stelah baca sampai tulisan to be continue, hpnya tewas.

    Taemin… Jaejoong …. mana Taemin…
    Kasian tuan Lee dicekik Jinki

    kak, to be continue itu ngeselin deh, lagi tegang eh tulisan itu muncul.

    btw, forward smpe brapa part entar kak?

    1. belom tau wimmm, belasan sih ada kayakna. Rencana awalnya cm 9 part, ternyata kita keasyikan cerita panjang lebar jd lupa alur

      makasih ya wim udah mampir kemari🙂

  2. heera kau melakukan kesalahan besar..ckck..
    Masih penasaran knp jinki bisa trjngkit AIDS
    aku ingt part sblmnya -enth part brpa- jinki nyebut soal yeoja. apa mngkin krn yeoja it? tp siapa yeoja it?
    Blm lg mslh jjong, aishhh complicated ><

    1. iya, karena kejadian di masa kecilnya itu eon. Emang blom dibahas jelas sih eon, hehe

      masalah Ojong ini, rrrrrr, bukan masalah sebenernya. Ojong itu semacem titik terangnya ntar #bocoran

      MAkasih ya eon udah berkunjung ^^

  3. Ni, salah satu cerita yang buat aku bener2 harus mensyukuri hidup….
    bnyak pelajaran yang didapet disini….
    aduh, bener2 nyessekk dengan apa yang dialami Jinki…
    aku sampe netesin air mata, walau gak sampe mewek…
    Bahasanya pinter… bnyak juga informasi yang didapet…
    buruan part selanjutnya….
    kayaknya masih berchapter2 lagi, yah….
    diusahain, perkembangan cerita untuk tiap partnya lebih banyak lagi, ya…
    Fighting….

    1. hiks iya nih, alurnya lambat banget yaa?
      tp emang tiap partnya paling cuma ada 3 atau 4 scene sih, kmaren jg aku ngobrol ama Vero eon tt alurnya

      Makasih ya udah mampir kemari ^^

  4. Duh,speechless. Bener” gak tau mau blg ap abis kebagusan sih.
    Endingny gantung yaaa,mesti nunggu brapa lma lg ini buat next part.
    Eniwei,filosofi cina it bgus bget dijdkan plajaran.
    Penasaran deh endingny bkal gimana,pokokny sy tetp stay tune lah buat part selanjutny.
    Dua”ny yg nulis semangat ya kakaa~

    1. Ga tau berapa lama lagi, aku sedang ga bisa nulis, part nulisku belom kesentuh secuilpun, hueeee

      Makasih ya boram udah rajin mampir, hehhehe

  5. Oh kata2 Jonghyun itu nusuk banget tau ga. Awalnya aku juga ikutan panik kyk Heera eh jd merasa tertohok ._.
    Kasihan Jinki😦
    Dan penasaran banget gimana akhir cerita ini nantinya. Semangat mbak2 sekalian😀

    1. Nusuk ya Cai? Belom seberapa sih kalo kata yang buatnya mah, hehe

      Makasih ya cai udah setia ngikutin ff ini, sampai jumpa di part berikutnya ^^

      1. Aduh, bingung mau komentar apa. Jong kasihan. Jinki ampe segitu frustasinya. saya baca kejar tayang. nggak tahu kenapa lagi pengen baca ff eonnie. dan alhasil, saya jadi mikirin Jong yang kasihan banget.
        Please jangan lama-lama publish part lanjutannya ya eon!

        1. woaaah, makasih ya udah baca beruntun gini…
          kok kasian k ojong sih? ojong engga seberapa sakitnya sih daripada Jinki

          hehehe, lanjutannya…belom kita tulis, aku lg berkutat dgn deadline skripsi dulu, vero eon jg baru mulai sebuah awal baru (bukan nikah loh ya) dan lg sibuk kykna

  6. Pingback: natalizrizzo
  7. Pingback: Penulis | itsinome
  8. kak, kapan updatenya lagi, udah gak sabar nunggu kelanjutannya nih
    penasaran banget ama ceritanya
    next chapternya buruan ya, kaka^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s