[WFT B] Another Destiny [2.3]

Judul : Another Destiny

Author : Go Eunmi

Main cast : Lee Taemin, Lee Hyora

Support cast : Choi Minho, Kim Kibum, Kim Hyuna, Cho Hana, Go Eunmi

Length : sequel 1-3

Rating : PG-13

Genre : Romamce

PicsArt_1373388543350

Semua siswa berhamburan masuk kelas saat lonceng sekolah berbunyi. Taemin berjalan perlahan menuju bangkunya sambil sesekali mencuri pandang pada bangku Hyora. Taemin tersenyum puas saat melihat Hyora mengeluarkan setangkai bunga mawar di kolong mejanya. Dahi Hyora seketika mengkerut, dia menyapu pandangannya ke seluruh kelas mencari tahu siapa yang menaruh bunga itu di mejanya. Tapi tidak ada tanda-tanda siapa yang menaruh bunga itu. Begitu Hyora akan memasukan bunga itu lagi Minho datang dengan pandangan yang mematikan. Hyora langsung menunduk mendapat pandangan aneh dari Minho dan langsung menjatuhkan tersangka pertama pada Minho. Saat Minho duduk dan membaca bukunya, Hyora terus memperhatikan Minnho menyelidiki apa benar yang di perkirakannya itu. Merasa ada yang memperhatikan, Minho melirik dari sudut matanya. Minho memergoki gadis itu sedang menatapnya tanpa berkedip. Minho jadi salah tingkah.

Wae?” Hyora tersentak saat Minho tiba-tiba menoleh padanya. Dia malu sekali tertangkap basah sedang memperhatikan Minho.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Jawab Hyora tiba-tiba gugup. Minho menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali membaca bukunya.

Hyora mengeluarkan bukunya juga saat Jung seonsaengnim datang. Dia langsung mencoret Minho dari daftar tersangkanya.

***

Keesokan harinya Hyora menemukan setangkai bunga mawar lagi di kolong mejanya. Dan seperti biasa Hyora akan menyimpannya dan merawat bunga itu di rumah. Hyora menyapu pandangannya kembali ke seisi kelas mencari tahu siapa yang terus-menerus mengiriminya bunga. Karena di bunga itu si pengirim tidak memberi nama atau clue apapun. Saat mata Hyora sedang menjelajah isi kelas, matanya melihat Kibum yang duduk di bangkunya sedang menatapnya dengan tajam. Hyora tersentak dan langsung membuang muka. Dia berpikir apa Kibum yang mengiriminya bunga itu. Saat dia menoleh pada Kibum lagi, laki-laki itu sudah tidak ada di bangkunya.

“Dapat penggemar baru?” Hyora terkejut. Hana tiba-tiba muncul dan duduk di depannya. Hyora tersenyum kikuk sambil memegang bunga mawar yang dikirim orang misterius.

Ani.” Hyora menggeleng dan tersenyum.

“Kenapa tidak cari tahu? Coba kulihat.” Hana mengambil bunga mawar itu dan memperhatikannya dengan seksama. “Tidak ada nama pengirimnya.” Hana bergumam sendiri. “Bagaimana kau bisa tahu jika nama pengirimnya saja tidak ada.”

Hyora diam dan berpikir. “Apa menurutmu pengirimnya teman satu kelas kita?”

Hana membenarkan letak duduknya. “Aahh mungkin saja.” Jawab Hana dengan antusias dan suaranya yang terdengar imut. Gadis cantik dengan rambut sebahu itu langsung berbinar-binar.

“Tapi siapa?” Hyora memiringkan kepalanya. Hana memutar bola matanya ke atas sambil memutar-mutar tangkai bunga mawar itu. Otaknya berputar mencari tahu siapa pengirim bunga misterius ini.

“Mari kita cari tahu siapa pengirimnya.” Hana menarik lengan Hyora membuat Hyora terkejut.

“Kita mau kemana?”

“Mencari tahu siapa pengirim bunga ini.”

Hana langsung menarik tangan Hyora pergi dari kelas. Mau tidak mau Hyora mengikuti langkah Hana yang membawanya ke ruang musik. Hana bilang biasanya laki-laki yang suka mengirim bunga ‘diam-diam’ adalah laki-laki romantis dan laki-laki romantis biasanya suka musik. Karena mereka pandai menciptakan kata-kata rayuan. Tapi sebelum mereka masuk ke ruang musik Hyora melihat seseorang yang berjalan menuju ruang perpustakaan. Hyora melihat Kibum berjalan sambil membawa setangkai bunga mawar merah di tangannya. Hyora membulatkan matanya besar-besar. Kakinya bergerak mengikuti langkah Kibum.

“Hyora kau mau kemana?” Hana menyadari Hyora tidak ada disampingnya. Dan langsung mengejar gadis itu saat Hyora sudah hampir jauh darinya. Hyora tidak menjawab pertanyaan Hana, gadis itu terus konsentrasi mengikuti langkah Kibum memasuki perpustakaan.

“Kenapa kesini?” bisik Hana yang sudah ngos-ngosan karena mengejar Hyora.

“Aku melihat Kibum masuk kesini sambil membawa bunga mawar.”

Jinjja?” suara Hana tertahan karena di perpustakaan tidak boleh berisik. “Ayo cari dia. Mungkin saja Kibum yang mengirimimu bunga.”

Kedua gadis itu celingak-celinguk mencari sosok Kibum. Hana menarik tangan Hyora untuk bersembunyi saat dia melihat Kibum di antara rak-rak buku.

“Ssstt, itu dia disana.” Bisik Hana menunjuk sosok Kibum. Hyora mengendap-ngendap mendekati Kibum persis seperti penguntit. Dibelakangnya diikuti Hana yang juga berjalan pelan sekali. Hyora bersembunyi dibalik rak buku dengan menggunakan buku sebagai penutup wajahnya.

“Aku melihatnya berjalan kesini.” Bisik Hyora dan Hana mengangguk yakin. Di sela-sela rak buku, Hyora mengintip Kibum yang sedang berbicara dengan seseorang. Ketika Kibum melirikkan pandangannya ke arah Hyora, gadis itu langsung balik badan dan menutupi wajahnya dengan buku. Hyora langsung berdebar-debar takut kepergok sedang membuntuti Kibum. Badannya memberenggut, dahinya mengkerut. Saat Hyora balik badan lagi, Kibum sudah menghilang. Mata Hyora langsung mencari-cari kemana perginya Kibum tapi sejauh mata memandang sosok Kibum tidak terlihat. Hyora putus asa dan membalikkan badannya. Tapi..

“Aarrghhh!!” Hyora berteriak kencang dan melempar buku yang di pegangnya pada sosok laki-laki yang telah mengagetkannya. Semua siswa yang ada di perpustakaan langsung menoleh dan menyuruh Hyora diam. Hyora tersenyum kikuk merasa bersalah. Tapi dia lebih kesal pada orang yang ada di depannya sekarang yang sedang mengusap-ngusap wajahnya yang kena pukul buku Hyora.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Taemin yang masih meringis. Hyora langsung gelagapan mencari alasan. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup.

“Aahh Hyora, ini buku yang kau cari dari tadi. Ternyata ada di rak buku sebelah sini.” Tiba-tiba suara Hana menggelegar menolongnya dari pertanyaan Taemin. Hyora bernapas lega, ternyata Hana ada gunanya juga. Gadis itu bisa cepat tanggap dalam situasi.

Hyora langsung mendekat pada Hana dan mengambil buku yang sedang diacung-acungkan Hana. “Ah iya, gomawo Hana.” Hyora pura-pura senang.

“Kau sedang mencari buku?” Taemin memperhatikan buku yang dipegang Hyora.

Ne, aku mencari buku ini.” Hyora mengacungkan buku ditangannya. Taemin melihat judul buku itu dan langsung tersenyum.

“Kau suka sejarah?” Hyora membulatkan matanya dan cepat-cepat melihat cover buku itu. Dia tercengang. Sejak kapan dirinya suka sejarah.

“Ah ne. Aku memang suka cerita-cerita lama.” Jawab Hyora asal. Padahal sejarah adalah pelajaran yang sangat dibencinya. Tapi tidak mungkin dia jujur disaat terjepit seperti ini.

“Oh..” Taemin mengangguk paham. “Ini bukumu yang kau lempar ke wajahku. Lumayan sakit juga.”

Hyora menerima buku yang diberikan Taemin. Wajah Hyora meringis merasa bersalah pada Taemin.

Aduh gawat. Kalau Taemin marah pada Hyora, bisa-bisa Hyora dikerjai Taemin habis-habisan. Anak ini ‘kan bandel sekali.

Taemin mendengar Hana menggerutu dalam pikirannya. Taemin memutar bola matanya ke atas merasa jengah karena pemikiran temannya itu. Tapi kalau dipikir-pikir Hana benar, jika Taemin sudah marah pada orang lain bisa-bisa orang itu tidak akan selamat di tangannya. Taemin berdecak kemudian memandang Hana dengan tatapan mengintimidasi. Hana langsung menunduk saat menyadari di tatap seperti itu oleh Taemin. Hana mengeratkan tangannya di baju seragam Hyora.

“Hyora, cepat kau minta maaf pada Taemin.” Bisik Hana pada Hyora dengan nada ketakutan. Hyora menoleh kearah Hana.

Wae? Kenapa aku harus meminta maaf? Dia ‘kan yang sudah mengagetkanku. Seharusnya dialah yang meminta maaf padaku.”

Aish, sudahlah jangan mencari masalah dengan Taemin. Kau juga punya salah padanya. Kau sudah melempar buku itu ke wajah Taemin. Cepat minta maaf.”

Aduh kenapa Hyora sulit sekali hanya untuk minta maaf pada Taemin. Urusannya bisa panjang kalau begini caranya.

Taemin menyatukan kedua alisnya tidak paham dengan kedua gadis yang ada di depannya ini. Dia rasanya ingin tertawa melihat Hana yang ketakutan setengah mati padahal dari tadi Taemin tidak melakukan apa-apa. Karena pemikiran Hana yang negatif terhadap Taemin, laki-laki itu memutuskan untuk pencitraan saja. Dan ini waktunya untuk merubah pemikiran Hana tentang dirinya sekaligus rencana mendekati Hyora.

“Hyora, aku minta maaf karena sudah mengagetkanmu.”

Mata Hana membelalak lebar dan mulutnya menganga. Sedangkan Hyora diam dengan wajah penuh kemenangan. Karena dia tidak harus meminta maaf pada Taemin. Justru Taeminlah yang merasa bersalah dan meminta maaf pada dirinya.

“Oh, tidak masalah,” Hyora mengibaskan tangannya seolah-olah ini masalah sepele dan tak perlu dibesar-besarkan. “Tapi lain kali jangan seperti itu lagi.”

Gomawo.”

“Hyora, kurasa dia tertarik padamu.” Bisik Hana sok tahu. tapi bisikannya itu justru terdengar jelas di telinga Taemin.

“Ah, kau ini jangan mengarang.”

Taemin ingin sekali tertawa melihat dua gadis ini karena tingkah mereka yang lucu. Taemin tersenyum saat Hyora memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki lalu dengan cepat dia memasang tampang cool.

“Sebagai permintaan maafku, aku akan mengajakmu makan ice cream. Aku tahu tempat ice cream yang paling enak disini. Aku jamin kau tidak akan kecewa.”

Hyora mengedipkan matanya beberapa kali kemudian memandang Hana meminta penjelasan.

“Tuh‘kan, apa aku bilang, Taemin tertarik padamu. Dia menyukaimu.”

Pipi Hyora langsung bersemu merah sementara Taemin mengulum senyum.

“Bagaimana? Kau mau ‘kan?”

Hyora masih diam dan tangannya mengguncang-guncang tangan Hana meminta persetujuan.

“Mau saja.” desak Hana tanpa kompromi. Karena Taemin mendengar persetujuan dari temannya dia lngsung memutuskan bahwa Hyora juga ikut setuju walau gadis itu belum mengucapkan apapun dari mulutnya.

“Oke kita pergi setelah pulang sekolah.”

Taemin mengedipkan sebelah matanya pada Hyora dengan genit membuat Hyora memicingkan matanya karena geli. Lalu Taemin pergi dari hadapan Hyora sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Hana menatap Taemin tidak percaya.

***

Akhirnya Taemin bisa pergi dengan Hyora ke toko ice cream setelah susah payah membujuk gadis itu karena tidak mau pergi. Sebenarnya Taemin berbohong mengenai tempat ice cream yang paling enak di kota ini. Tapi untung saja Kibum siap siaga membantunya. Memberitahu toko ice cream yang ada di dekat sini, walau rasanya standar sama seperti toko-toko ice cream lainnya. Tapi lumayan untuk membuat Taemin tidak malu di depan Hyora. Lagipula ini aman untuk Taemin karena Hyora tidak begitu mengenal kota ini. Sesekali Taemin mencuri pandang ke arah Hyora yang ada disampingnya.  Hyora gadis yang berbeda dari gadis-gadis yang selalu mendekatinya atau berusaha ia dekati. Senyum manisnya yang menawan, mata coklat sipitnya yang terlihat menarik dan juga parasnya yang imut. Gadis itu sudah membuat hidup Taemin jungkir balik dalam hitungan detik.

“Sudah sampai.” Ucap Hyora sambil berdiri di depan sebuah rumah besar. Taemin tersentak kemudian memandang rumah yang ada di depan matanya. Taemin berdecak kagum pada rumah mewah yang mirip seperti kerajaan ini.

“Ini rumahmu?” tanya Taemin masih tak mengalihkan pandangannya.

Ne, kau mau mampir sebentar?”

“Ah, tidak usah. Sudah malam. lain kali saja. lagipula aku malas di tanya-tanyai oleh orang tuamu nanti.”

Hyora tertawa menutup mulutnya. Taemin tertegun. Bahkan tawanya saja terdengar begitu renyah.

“Oke. Kalau begitu aku masuk.”

Ne. Bye..”

Bye..”

Hyora baru akan membuka pagar rumahnya tapi Taemin mencekal tangan Hyora membuat gadis itu berbalik.

Ne?”

Tanya Hyora bingung. Taemin menyunggingkan ujung bibirnya lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Hyora tersentak saat Taemin memberikan setangkai bunga mawar pada Hyora.

Gomawo untuk malam ini.”

“Tae..min..” tiba-tiba Hyora terserang rasa gugup. Tangannya perlahan mengambil bunga yang diberikan Taemin.

“Jadi kau… yang..”

Ne. Aku orang yang menyimpan bunga di kolong mejamu.”

Kemudian terpampang semburat kemerahan di pipi Hyora. Dan gadis itu menundukan kepalanya merasa malu dan gugup.

“Emm Taemin..”

“Ya ya sama-sama.”

“Eh?” Hyora memiringkan kepalanya.

“Kau mau bilang terima kasih ‘kan?” jawab Taemin percaya diri dengan cengiran terpampang di wajahnya. Hyora memicingkan matanya.

“Kau bisa membaca pikiranku ya?” Hyora tertawa renyah sambil memutar-mutar bunga mawar ditangannya.

“Ya, aku memang bisa membaca pikiran orang.” Wajah Taemin terlihat serius tapi Hyora justru tertawa lebih keras menganggap Taemin sedang bergurau.

“Ya ya aku percaya.” Hyora berkata di tengah-tengah tawanya.

“Aku serius.” Taemin meyakinkan. Hyora mendadak diam. Lalu gadis itu meneliti wajah Taemin dengan seksama. Mencari kebenaran di wajah Taemin.

“Oke, kalau begitu katakan padaku apa yang ada dipikiranku sekarang?”

Hyora memajukan dagunya membuat gaya yang menantang. Taemin konsentrasi penuh pada Hyora. Mendadak rasa kesal menyerang dirinya. Pikiran Hyora gelap dan sunyi. Sekeras apapun Taemin tidak bisa menyelami pikiran Hyora. Terdengar desas-desus pun tidak. Taemin mengerutkan dahinya menyerah dengan hal ini. dia tahu bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa membaca pikiran Hyora.

“Aku.” Taemin mengalihkan rasa kesalnya dengan menjawab dirinya yang ada di pikiran Hyora dengan percaya diri.

Hyora tertawa kecil lalu memukul pelan kepala Taemin dengan bunga mawar. “Salah.” Kata Hyora.

Taemin menggaruk-garuk kepalanya kikuk. “Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?”

“Rahasia.”

Sekali lagi senyum Hyora hampir membuat otak Taemin terbalik dan tidak waras. Hyora benar-benar satu-satunya gadis yang membuat Taemin mampu mencintainya tanpa proses dan waktu yang lama. Sekali lihat Taemin bisa merasakan cintanya untuk Hyora bena-benar dalam. Dan perasaannya ini sulit dideskripsikan bentuknya. Yang jelas Taemin rasanya ingin merengkuh seluruh jiwa Hyora masuk kedalam dirinya. Taemin mengukuhkan dirinya bahwa mulai saat ini dia harus menjaga Hyora dari apapun. Memberikan kebahagiaan yang nyata, membuat tawa Hyora tak hilang dari wajahnya.

***

Hyora duduk di bangkunya dengan wajah memberenggut sambil menatap Taemin yang sedang menjadi pusat perhatian seisi kelas. Taemin, Minho dan Kibum berhasil melucuti seragam sekolah Jisoo yang hanya meninggalkan celana boksernya saja. Sementara tubuhnya dicoret-coret oleh cat warna yang telah diracik Kibum layaknya kanvas. Kedua tangan Jisoo diikat kebelakang menggunakan dasi sekolahnya oleh Minho. Jisoo berhasi menjadi olok-olokan teman-temannya.

“Inilah akibatnya jika kau berbuat tidak baik pada perempuan. Apalagi kau membuat Hana malu di depan teman-teman.” Minho menarik rambut Jisoo dan memaksa dirinya melihat Hana yang sedang duduk di bangkunya sambil menelengkupkan kepalanya diatas meja. “Lihat Hana. Dia sangat malu dan tidak berhenti memnangis.”

Siapaun yang mengganggu Hana apalagi sampai membuat Hana menangis tidak akan selamat ditanganku. Termasuk bocah tengik ini.

Taemin melirik Minho yang pikirannya baru saja terbaca olehnya. Taemin menyunggingkan senyumnya mengerti kenapa Minho begitu sangat marah kepada Hana.

“Jisoo-ya, kau dengar apa kata Minho? Kau sudah mencoreng nama baik laki-laki. Dan…” Taemin menggantungkan kalimatnya kemudian tiba-tiba jongkok di depan Jisoo dan tangannya memegang bokser Jisoo dan menurunkannya dengan sekali tarikan. “Ini balasannya!!”

“AAARRGGGHHH!!!”

Kemudian terdengar teriakan keras dari seluruh siswa perempuan dan mereka menutup wajah mereka dengan tangan walau masih bisa melihat dari sela-sela jari mereka.

Ya! Taemin-ah.” Kibum langsung memukul kepala Taemin kera-keras membuat Taemin mengaduh kesakitan. Minho yang emosi langsung beringsut mencari penutup untuk menutupi bagian bawah Jisoo yang terbuka. Sementara Jisoo sudah membatu tidak bergerak karena syok.

“Taemin-ah, apa yang baru saja kau lakukan hah?”

“Kau itu bodoh sekali!”

Taemin langsung mendapat makian dari Kibum dan Minho karena perbuatannya sudah kelewat batas.

Wae? Aku melakukan apa yang sudah ia lakukan pada Hana.”

 Taemin tak kalah berteriak kepada Kibum dan Minho sambil mengusap-ngusap kepalanya.

Aish gunakan otakmu bodoh, kita bisa dituduh melecehkan Jisoo kalau begini caranya. Pabo!” Umpat Kibum sangat kesal.

“Jisoo-ya cepat pakai celanamu!” perintah Kibum galak. Tapi Jisoo tidak merespon dia masih syok dengan mata yang terbelalak. “Ya! Jisoo-ya, apa yang kau lakukan? Cepat pakai celanamu.” Jisoo masih diam.

Ya! Pakai celanamu bodoh.” Minho memukul kepala Jisoo membuat Jisoo sadar dari lamunannya dan cepat-cepat memakai celananya.

Kemudian terdengar bunyi pintu dibuka. Semua siswa menoleh kemudian berhamburan duduk di tempat duduk masing-masing. Sementara Taemin, Kibum dan Minho membatu di tempat. Jung seonsaengnim masuk kedalam kelas dan langsung dikejutkan dengan pemandangan yang tidak menyenangkan. Jisoo berdiri dengan tangan terikat kebelakang, tubuh penuh dengan cat warna-warni dan menginggalkan celana bokser yang kumuh. Jung seonsaengnim ternganga dan hampir mengeluarkan bola matanya.

Taemin, Kibum dan Minho saling pandang. Jung seonsaengnim melihat mereka bertiga bergantian dengan garang. Kibum menelan ludah dan menjatuhkan kotak makan yang berisi cat warna. Taemin bergerak mundur. Sementara Minho perlahan melepas jambakannya di rambut Jisoo.

“Kalian bertiga ikut saya!”

 

***

Akibat dari perbuatan yang melanggar peraturan sekolah, Taemin, Kibum dan Minho di hukum membersihkan seluruh ruangan sekolah sampai bersih. Karena luas sekolah yang tidak kecil akhirnya sampai malam haripun mereka masih berada di sekolah. Tubuh mereka sudah lemas, baju seragam mereka lusuh karena keringat dan wajah-wajah mereka yang terlihat sangat capek sekali.

Aish, tega sekali Jung seonsaengnim menghukum kita. Dia pikir tenaga kita tenaga robot.”

Gerutu Taemin disela-sela aktifitasnya yang sedang membersihkan kamar mandi.

Ne, Jung seonsaengnim memang kejam. Seharusnya Jisoo juga mendapat hukuman seperti kita.” Minho ikut menimpali. Tubuhnya sudah merosot ke lantai karena lelah.

“Jika Jisoo ikut dihukum bisa-bisa dia mati disini.” Jawab Kibum. Mengingat keadaan Jisoo yang sangat syok dan keadaan Jisoo yang mengkhawatirkan membuat Jung seonsaengnim melepas Jisoo dari hukuman. Tapi mereka bertiga tetap saja tidak terima walau mereka tahu sendiri bahwa Jisoo sudah sekarat karena perbuatan mereka.

“Hahaha. Biar dia mati saja sekalin.” Minho melempar alat pel jauh-jauh sambil tertawa frustasi.

“Aku curiga padamu Minho-ya, marahmu pada Jisoo itu tidak biasa. Kau itu bukan sedang membela teman sendiri. Tapi seperti seorang laki-laki yang membela wanita yang disukainya.”

Minho langsung beringsut dari tempat. “Ani. Kau itu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya kasihan pada Hana. Kau tidak lihat Hana menangis seperti kehormatannya sudah terenggut oleh laki-laki yang tak di harapkan.”

“Aku tidak mungkin salah. Analisisku selalu benar. Kau pasti tertarik pada Hana. Itu semua jelas tergambar dari caramu menatap Hana, gestur tubuhmu jika berdekatan dengan Hana. Semua itu sangat terlihat dengan jelas.”

“Kau sok tahu Kibum-ah. Jangan menganalisa sesuatu tanpa berdasarkan teori yang benar.”

“Ini yang dibilang ‘cinta tak ada logika’. Semua yang terjadi di dunia ini tidak seluruhnya berdasarkan dengan teori.”

Bagaimana bisa dia menganalisa semuanya dengan benar. Apa perasaanku pada Hana tergambar dengan jelas?

Minho terdiam sambil menatap lantai kamar mandi. Taemin tersenyum tipis dengan pikiran Minho. Itu bukan karena analisa Kibum tapi orang awam pun bisa tahu kalau Minho itu menyukai Hana. Mendadak ada hening yang panjang. Mereka bertiga telah lelah hanya untuk berdebat. Alat-alat pembersih berserakan dimana-mana tidak dipedulikan. Tiba-tiba terdengar suara debam-debum di ruang sebelah yaitu kamar mandi wanita. Mereka bertiga terperanjat karena suara itu terdengar dengan jelas.

“Apa itu?” tanya Kibum was-was. “Jangan-jangan hantu.”

“Mana? Aku mau melihatnya.” Tiba-tiba Minho berdiri bersemangat. Minho memang sudah lama mendambakan makhluk halus itu.

“Bukan. Ini bukan hantu. Tapi ini seperti suara seseorang.” Taemin mulai bergerak keluar diikuti dengan Kibum dan Minho dibelakang. Kibum sudah ancang-ancang memegang sapu ditangannya.

Taemin berjalan mengendap-ngendap masuk kedalam kamar mandi wanita yang diduga suara aneh itu terdengar dari sana. Kemudian ketiga laki-laki itu terkejut melihat Jisoo yang di dampingi kedua orang tak dikenal sedang mengepung Hyora dengan wajah ketakutan. Taemin langsung emosi dan menarik Jisoo kemudian memukulinya.

“Apa yang kau lakukan pada Hyora?”

Jisoo hanya tersenyum sinis di bawah taemin yang siap akan di pukul. “Itu balasan untukmu Lee Taemin.”

“Brengsek!! Pengecut!!” Taemin memukuli Jisoo di bawahnya. Tapi dua orang teman Jisoo berhail memisahkan dan memukuli Taemin.

Alhasil mereka berenam berkelahi hingga babak belur. Sedangkan Hyora diam tidak bisa berbuat pa-apa

***

Taemin, Kibum dan Minho berjalan terhuyung-huyung menuju halte bis setelah babak belur berkelahi dengan Jisoo dan komplotannya. Sementara Hyora menopang tubuh Taemin –dialah yang paling parah keadaannya-. Setengah berat badannya di topangkan ke Hyora walau gadis itu juga masih lemas tapi tidak ada cara lain karena kedua temannya, Kibum dan Minho juga mengalami hal yang serupa. Mereka berempat memasuki bis dan langsung mendapat tatapan aneh seisi penumpang termasuk supir bis yang terlihat ragu apa dia tetap mengijinkan ke empat bocah ini menaiki bisnya atau tidak. Tapi setelah Hyora berbicara dan meyakinkan supir itu akhirnya mereka bisa duduk dengan tenang di dalam bis. Hari sudah gelap bahkan bintang-bintang pun tidak ada. Taemin, Minho dan Kibum terlalu lelah untuk berbicara. Mereka hanya menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, melihat pemandangan kota yang di hiasi lampu-lampu jalanan. Lalu lalang pejalan kaki lengkap dengan hembusan awan putih yang keluar dari hidung-mulut mereka. Keempat anak ini langsung bergidik membayangkan dinginnya malam ini.

“Taemin-ah, gomawo.” Suara lembut Hyora berhasil membuyarkan lamunan Taemin. Laki-laki itu menoleh pelan ke arah Hyora yang ada disampingnya. Menatap gadis itu dengan mata yang sendu.

Ne.” Taemin tersenyum singkat. Kemudian langsung meringis saat merasakan sakit di bibirnya karena kena pukulan yang meninggalkan lecet dan darah di sudut bibirnya. Tangan Hyora segera bergerak memegang bibir Taemin.

Gwaenchana?”

Taemin mengangguk pelan memegang bibirnya membuat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Hyora. Gadis itu terperanjat saat mata mereka saling bertemu. Sekali lagi mata coklat Hyora seakan membius Taemin dan membuat dirinya lumpuh total. Badannya mendadak dingin seperti gunung es. Tetapi kepalanya panas seperti ada kobaran api yang tepat satu senti di atas kepalanya. Keduanya bergerak saling mendekat. Seolah-olah ada sesuatu yang mendorong mereka dari dalam. Debaran jantung itu terus berpacu seiring dengan desiran darah yang mengalir tak beraturan. Dengan insting dalam diri masing-masing bibir mereka saling menyentuh dan rasa dinginpun menerpa bibir mereka. Seperti butiran salju yang mencair  di permukaan kulit. Degupan jantung Hyora semakin cepat dan gadis itu menutup matanya merasakan kelembutan bibir Taemin di bibirnya. Hyora telah melambung jauh dan terbang tinggi, tak dihiraukannya beberapa pasang mata yang melirik sinis kearahnya. Seperti berada di dunianya sendiri.

Ting.

Bunyi pintu bis yang terbuka menyadarkan mereka. Taemin dan Hyora saling melepas tautan bibir mereka dan langsung merasa canggung. Taemin melihat sekitar dan ini halte pemberhentiannya. Taemin berdiri dan melihat ke arah temannya yang kini sedang memperhetikan mereka tanpa berkedip. Mata Minho melotot, sementara Kibum menganga lebar menyaksikan adegan gratis yang ditunjukan Taemin. Hyora menunduk malu sambil memilin-milin ujung seragamnya dan dia baru sadar bahwa ini di bis. Dan siapapun bisa melihatnya termasuk penumpang. Dengan cepat dia mengedarkan pandangannya ke seisi bis dan mendapati beberapa pasang mata yang melihat ke arahnya. Hyora langsung berdiri panik dan keluar dari bis. Taemin yang menyadari itu segera menyusul Hyora turun dari bis. Ketika bis mulai berjalan Minho dan Kibum baru menyadari bahwa mereka telah melewatkan halte pemberhentian mereka.

Ya! Seharusnya tadi kita turun.” Teriak Kibum panik dan Minho memukul-mukul jendela bis meminta pertolongan pada Taemin, tapi Taemin justru sibuk mengejar Hyora.

Ahjussi, hentikan bisnya!” teriak Kibum.

“Tidak bisa! Kau pikir ini taksi. Kau harus menunggu halte berikutnya!”

“Aahh pabo.” Kibum memukul keningnya. “Minho-ya bagaimana?!”

Aish, tunggu saja halte berikutnya. Ini gara-gara Taemin brengsek itu.” Gerutu Minho sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

***

Hyora terus berjalan dan hampir berlari sambil memegang tali tas gendognya. Taemin mencekal tangan gadis itu membuat Hyora berputar.

Mianhae, aku..”

“Tidak apa-apa. Kita pulang saja. Ini sudah malam nanti lukamu tambah parah.” Hyora masih menunduk kemudian melepas tangan Taemin dan berjalan meninggalkan Taemin. Taemin mengejar lagi dan berhasil menangkap tangan Hyora. Tapi gadis itu bersi kukuh untuk melepasnya. Dia sama sekali tidak mau bertatapan dengan Taemin. Dia mulai sadar apa yang dilakukannya barusan sangat memalukan.

“Hyora-ya, tu..”

“Aku bilang pulang!”

“Iya, tapi..”

“Pulang!” Hyora menarik keras tangannya sehingga terlepas dari genggaman Taemin. Gadis itu terus berlari. Taemin berdecak hampir menyerah.

“Tapi arah rumahmu bukan kesana Hyora-ya!”

Langkah Hyora terhenti karena teriakan Taemin dari belakang. Kemudian menyadari bahwa dia berada di jalan yang salah setelah mengedarkan pandangannya ke sekitar jalanan. Rasa malu membuat otak Hyora tidak bisa berpikir jernih bahkan dia melupakan arah jalan pulangnya.

“Bahkan ini bukan halte pemberhentianmu Hyora-ya.” Taemin sudah berdiri di samping Hyora dengan napas yang tersengal. Tidak ada yang bisa dilakukan Hyora selain menutup wajahnya yang sudah memerah karena malu.

***

Hyora menendang kerikil sambil tangannya disilangkan kebelakang, memikirkan kebodohannya yang melupakan arah jalan pulang. Akhirnya Taemin memutuskan untuk mengantar Hyora sampai rumah. Dalam perjalanan mereka habiskan dengan diam. Tidak ada yang bersuara kecuali degup jantung mereka yang masih berdetak tak beraturan.

Udara dingin menyerap kedalam pori-pori kulit sekaligus membekukan kerja saraf mereka. Taemin memandang mata coklat Hyora seakan sedang menyelami kedalam mata gadis itu. Sama saja. Dia tetap tidak menemukan apapun didalam sana. Benteng pertahanan itu seakan menjulang tinggi di depan mata Taemin, memblokir dirinya sehingga tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran gadis itu. Baru pada Hyora dia merasa begitu frustasi. Mengenal Hyora dari awal, mempelajari sifat gadis itu, menebak-nebak apa yang ada di hatinya, memikirkan apa keinginannya tanpa membaca langsung ke pikirannya. Dia merasa menjadi orang normal.

“Hyora,” suara Taemin adalah suara paling parau yang pernah Hyora dengar. Mendadak detak jantung Hyora berpacu lebih cepat. Tatapan Taemin sangat serius bahkan seperti mengintimidasi.

Ne.” Jawab Hyora hampir kehilangan suaranya. Beberapa kali gadis itu mengerjapkan matanya. Taemin menatap Hyora lurus-lurus. Dia harus mengatakannya sekarang juga, karena cinta butuh keberanian bukan seorang pecundang.

Taemin menelan ludah susah payah. “Aku.. bukan tipe laki-laki yang pandai merangkai kata-kata. Bukan juga tipe laki-laki pembual yang selalu berkata manis. Aku juga bukan tipe laki-laki romantis. Tapi aku punya satu permintaan yang aku harap kau bisa memenuhinya.” Taemin menarik napas sementara Hyora menunggu kelanjutannya dengan was-was. “I only expect one thing from you,” Taemin menarik tangan Hyora dan menggenggam jemarinya. “Please be mine.”

Mata Hyora terbelalak lebar. Dia terkejut setengah mati. Dia tidak pernah menyangka bahwa akan secepat ini Taemin mengatakannya. Tapi bukankah cinta itu tidak memandang waktu. Sekarang atau nanti tetap saja pernyataan itu akan diucapkan. Dan jawabannya akan tetap sama. Mendadak lidahnya beku, jantungnya hampir turun ke perut. Laki-laki didepannya memang beda. Selalu bersikap spontan dan tiba-tiba. Tapi tidak ada alasan baginya untuk menjawab tidak. Permintaan Taemin dikabulkan saat ini juga. Hyora menganggukan kepalanya pelan. Walaupun tidak berkata apapun tapi itu sudah menjawab segalanya. Senyum manis terukir di bibir Taemin. Secara ajaib rasa sakit setelah berkelahi hilang begitu saja. Ternyata memang benar cinta itu obat terampuh untuk segala macam penyakit.

-TBC-

 

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “[WFT B] Another Destiny [2.3]

  1. 지수는 진짜 납은 남자 (” _ *)
    JiSoo sungguh keterlaluan

    TaeMin TaeMin tidak mengenal tempat dan waktu. Benar” lucu pada saat TaeMin dapat membaca pikiran HaNa.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s