Beautiful Stranger [Chapter Nine]

Beautiful Stranger

MATAKU terpaku pada tumpukan daging dalam wadah plastik bulat berukuran besar yang letaknya tak jauh dari kami. Jinki berdiri di sampingku masih mengawasi, kedua tangannya terlipat, air muka dinginnya yang sangat familier selalu terpasang monoton di wajahnya. Ia tidak beranjak sedikitpun dari sisiku selama aku bergeming di hadapan daging-daging sapi mentah yang entah harus kuapakan ini.

      Perkataanku di atap gedung tadi tidak bercanda, aku memang ingin memamerkan kemampuan baruku dalam memasak. Tapi menumis sayuran, bukan mengolah daging. Sial!

      Tadi ibu Jinki datang untuk mendrop daging-daging ini sebelum kembali pergi untuk menutup sementara tokonya. Wajah lembutnya terlihat sangat senang ketika melihatku lagi dan Jinki memberitahunya bahwa aku akan memasakkan makan malam untuk keluarganya.

      Bunuh saja aku sekarang!

      “Memangnya daging-daging itu bisa matang hanya dengan kau pandangi?” tanya Jinki.

      Aku menelan ludah dengan suara keras dan sepertinya Jinki bisa mendengarnya, karena sedetik kemudian aku mendengarnya tertawa. Aku buru-buru menoleh. Di tempatnya ia memang sedang asik tertawa. Bukan tawa angkuh yang selama ini kudengar, bisa dibilang ini adalah tawa normal yang selalu kudengar dari sosok “Onew”. Oke, ini membingungkan.

      “Diam!” seruku.

      Jinki susah payah menghentikan tawanya dan melangkah mendekatiku. “Nyalakan pemanggangnya. Lain kali kalau belum mahir memasak, jangan terlalu percaya diri ingin memamerkan kemampuanmu.”

      “Tapi―”

      Belum selesai aku bicara, Jinki sudah mengacak-acak lembut rambutku. Hei, mendaratkan telapak tangan di atas kepala adalah salah satu kelemahanku. Aku tidak suka, karena jantung berdebar dua kali lipat.

      “Sudah jangan banyak bicara. Daging-daging ini biar aku yang urus, kau masak apa saja yang kau bisa. Setuju?”

      “Hm.”

 Lima belas menit kemudian gemericik suara juicy yang meleleh dari sela-sela serat daging memenuhi dapur. Aku dan Jinki tidak lagi banyak berdebat seperti biasanya. Kami fokus pada pekerjaan masing-masing meski sesekali ia membantuku mengambilkan beberapa bumbu dari lemari. Aku sendiri tidak paham apa yang sedang terjadi, yang pasti, kami sedang berada dalam satu tim. Dan hal yang kukira mustahil terjadi di dalam hidup adalah bahwa kami rukun. Saat ini.

      Sepertinya Jinki sedang dalam mood yang baik. Sedari tadi ia tak berhenti bersiul atau menyanyikan beberapa lagu. Sesekali aku mencuri lirik dan ia memergokiku. Bukannya mencaciku habis-habisan seperti biasanya, ia justru hanya tersenyum memamerkan eye smile indahnya.

      “A~” Jinki menyodorkan sepotong daging yang telah matang ke dekat mulutku.

      Aku mengerutkan dahi dan mengendusnya, “Beracun tidak?”

      “Kau pikir aku sejahat itu!”

      Aku mendesis sebal dan memakan daging suapan Jinki tepat ketika ibunya berdiri di belakang kami. Aku terlonjak kaget sambil memeluk Jinki namun buru-buru melepaskannya. Wajahku pasti sudah merah padam dan salah tingkah.

      “Tidak apa-apa, lanjutkan saja, anggap aku tidak di sini,” ujar ibu Jinki tenang dan ceria.

      Sama halnya denganku, Jinki juga membeku di tempat. Ia mengalihkan perhatiannya pada daging-daging di atas pemanggang sedangkan aku kembali mengurus tumisan di wajan. Hampir tidak ada suara kecuali gemericik masakan. Aku bisa melihat rona merah di wajah Jinki, entah karena malu atas kejadian tadi atau karena efek panas dari alat pemanggang.

      Beberapa menit kemudian kegiatan memasak selesai. Kami merapikan meja makan tepat ketika ayah Jinki pulang. Kami makan dengan tenang, tidak seperti saat pertama kali aku kemari. Jinki terlihat sangat ceria, ini bukan Jinki yang biasanya, mungkin dia sedang kerasukan arwah Onew. Oke, aku sudah gila.

      Setelah melewati momen yang cukup menyenangkan, aku dan Jinki kini duduk di beranda yang menghadap ke taman belakang rumah. Tidak akan ada sasaeng yang bisa melihat dari angle ini. Semoga saja.

      “Kau banyak tersenyum hari ini.”

      Aku menoleh, “Bukan untukmu.”

      “Kenapa kau jarang tersenyum? Menurutku kau lebih bagus begitu. Diam dengan wajah masam benar-benar membuatmu jelek!”

      “Bukan urusanmu!”

      Jinki bangkit dari kursinya dan menghampiriku. “Kau ini kenapa? Tadi pagi baik bagai malaikat, sekarang sudah berubah saja seperti setan rubah betina.”

      Aku melotot ketika Jinki mengumpatku seperti itu. Ketika aku hendak berdiri, ia menahanku dan mengeluarkan ponselnya. “Mau apa kau?”

      “Ayo senyum!” pintanya sambil mengarahkan ponselnya ke wajahku. “Ini perintah!”

      “Lepaskan, Lee Jinki!”

      “Ayo senyum! Ini perintah dari Tuanmu, kalau tidak patuh, akan aku adukan ke perusahaan kalau kau yang menganiaya Park Jiyul kemarin. Tamatlah karirmu.”

      Astaga orang gila satu ini. Kenapa ia dilahirkan dengan bakat sadis seperti ini, Tuhan?

      Demi karir dan niat balas dendamku pada Jiyul, aku terpaksa mengikuti permintaannya. Aku mencoba untuk tersenyum sealami dan semanis mungkin yang ia rekam ke dalam ponselnya.

      “Selesai,” kataku dingin, kembali ke mimik semula.

      “Lakukan aegyo untukku. Cepat!”

      AEGYO?! Lebih baik aku lompat dari sini sekarang juga. Dia benar-benar sudah sinting!

      “TIDAK MAU!” teriakku.

      “KIM SENA!” ia balas teriak. Membuatku tidak enak takut terdengar orangtuanya di bawah. Jadi, bisa ditebak bagaimana kelanjutannya, ya kau benar, aku melakukan-hal-menjijikkan-itu. Dan aku bersumpah ingin sekali memelintir kepala Jinki dan melemparnya ke lantai bawah. Aku melakukan hal-hal yang wajar (meskipun tetap tidak wajar bagiku) seperti gerakan bbuing-bbuing. “Nah, selesai, tidak sulit ‘kan?” katanya riang.

      Wajahku memerah antara marah dan menahan malu.

      “Aku mau pulang.”

      “Biar kuantar!”

      “Tidak usah! Aku tak mau kejadian di kotak telepon tempo hari terulang lagi.”

      Jinki mematung, telinganya memerah. Gotcha! Ternyata memang benar itu ciuman pertamanya.

      “Ya sudah, pulang saja sendiri.”

Dan memang benar. Malam itu aku pulang sendiri. Sial!

***

Aku menurunkan beberapa tas make up dari dalam van, kemudian masuk ke dalam gedung dan menaruhnya di ruang khusus penyimpanan. Anak-anak sudah diantar ke asrama masing-masing menggunakan van berbeda untuk menaruh koper dan mengambil istirahat sejenak. Pagi ini kami baru saja tiba dari Jakarta setelah menyelesaikan konser SM Town. Negara yang hangat, aku menyukainya. Cuaca hangat bisa membuatku tenang dibandingkan musim dingin mengerikan. Aku tidak suka dingin, itu bisa membuatku menderita.

      Beberapa waktu lalu aku kembali bertemu Kim Jira, kali ini gedung SM. Ia datang mengantarkan makan siang untuk pacarnya, tentu saja.

      Lee Taemin datang berlari menghampiri kami dengan kedua tangan terbuka lebar. Ia menerjang Jira hingga hampir membuatnya terjungkal. Anak manis tapi nakal itu memberinya sebuah pelukan tererat yang pernah kulihat. Dari jauh Minho menggelengkan kepala dan hanya bisa berkata, “Hati-hati, Lee Taemin, noonamu sama rapuhnya seperti barang pecah belah!”

      Taemin tidak mengacuhkan perkataan hyungnya, ia terlalu sibuk merayu Jira.

      “Besok kami ke Jakarta untuk SM Town Concert. Kau ikut, Noona?”

      “Tidak,” tolak Jira mentah-mentah. “Aku tidak suka Jakarta. Terlalu panas.”

      Si Bungsu melepaskan rangkulannya dan memasang tampang kecewa, namun aku hanya bisa menangkap ekspresi imut di wajahnya.

      “Ayolah, Jira!” ajakku, memberitahu eksistensiku.

      “Tidak, Eonni, maaf. Aku benar-benar tidak suka panas. Cuaca dingin lebih cocok denganku,” sahutnya. Benar-benar berbanding terbalik denganku. “Tapi aku tidak akan pernah melupakan Jakarta. Kota itulah yang mempersatukanku dengan Minho. Kurasa bukan ide buruk kalau kau juga mengikuti jejakku, Eonni.”

      “Apa maksudmu?”

      “Maksudnya adalah supaya kau dan Onew-hyung mengikuti jejak kami.” Minho datang dan merangkul bahu Jira, membuat si maknae cemberut.

      Aku nyengir hambar. “Jangan bercanda! Siapa yang mau dengannya. Hyungmu sama sekali tidak berotak!”

      Minho tertawa tertahan. “Tapi kalian sangat cocok.”

      “Kalian lebih cocok bersama,” timpal Jira.

      “Setuju!” tambah Taemin.

      Sinting!

Lamunanku buyar ketika seorang coordi masuk ke ruangan untuk menyimpan peralatan make up juga. Dia senior dan bekerja di tim Super Junior. Aku membungkukkan badan memberi hormat dan segera keluar dari ruangan. Kubiarkan kaki melangkah tanpa arah, hingga akhirnya tiba di basement.

      Suara musik kencang bisa terdengar ketika pintu ruang latihan terbuka. Seorang trainee keluar dan masuk ke toilet di seberangnya. Aku melongokkan kepala ke ruang latihan, hanya ada beberapa trainee, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Di antara mereka berdiri Kai dan Lay, sedangkan di ujung ruangan ada Jinki yang sedang menuliskan sesuatu di music sheets-nya.

      “Noona!”

      Kurang beruntungnya, Kai memanggilku, membuat seisi ruangan menolehkan kepala mereka ke arahku, kecuali Jinki. Ia maasih memusatkan seluruh perhatiannya ke kertas-kertas putih di hadapannya. Aku membalas lambaian Kai.

      “Oh, hai, Jongin-ah. A-aku hanya lewat. Sampai jumpa…”

      “Hati-hati barang kalian, dia berpotensi mencuri.” Sebuah suara menghentikan niatku menutup pintu. Tidak perlu melihat siapa orangnya, aku sudah sangat hafal suara menjijikkan itu. Park Jiyul berjalan meninggalkan yang lain untuk menghampiriku. Aku melangkahkan kaki ke dalam ruangan, bukan untuk menyambutnya, tetapi berjalan ke ujung ruangan.

      “Sebenarnya aku mencari Jinki. Ada sebuah blazer yang baru selesai kubuat, aku ingin kau memakainya, Jinki-ya.”

      Jinki yang sedari tadi tidak peduli, tiba-tiba mendongakkan kepala ketika aku memanggilnya akrab.

      “Blazer?” tanyanya bingung.

      Aku mengangguk. “Iya. Aku membuatkannya untukmu. Ayo, kau harus mencobanya!”

      Jinki tersenyum riang, wajahnya sangat cerah. Ia membereskan sheets musiknya dan bangkit. Aku menarik tangannya, ia menggenggam tanganku. Seluruh anak trainee kembali berlatih bersama Kai dan Lay sebagai senior mereka yang berdiri di depan. Musik menggema di seluruh ruangan. Jiyul adalah satu-satunya yang tidak menari. Ia berdiri tidak jauh dariku dan Jinki, melihat kami jalan bersama.

      “Oppa, dia tidak menyukaimu. Yang dia sukai adalah Kris!” seru Jiyul. Boleh aku tertawa? Lucu sekali!

      Jinki tidak memedulikannya, ia terus jalan bersamaku menuju pintu keluar. Aku menoleh ke arahnya dan menyeringai mengerikan. Aku bisa merasakan dia sedikit mengejang di tempatnya.

      “Memang apa urusanmu kalau aku menyukai Jinki?”

      “Apa?!” tanya Jinki terkejut.

      Aku menggenggam erat tangan Jinki dan menariknya sekuat tenaga hingga jarak kami sangat dekat. Aku mencium bibirnya saat itu juga, tepat ketika seseorang masuk.

      “Kai, Lay, ke ruang meeting sekarang jug―”

      Suara Kris terhenti ketika melihat kami masih dalam posisi berciuman. Aku buru-buru melepaskan diri dari Jinki yang mulai mendekapku.

      “Begitulah, Jiyul,” kataku sambil menarik Jinki untuk keluar dari sana. Kepalaku menunduk ketika melewati Kris. Napasku terengah-engah, jantung juga berdetak sangat kencang. Kris melihatnya… dia melihatnya… apa yang harus kulakukan?

Aku berjalan kencang dengan tangan masih menggenggam erat jari-jari tangan Jinki. Tanpa sadar aku menyeretnya di sepanjang koridor. Tapi ia tidak mengeluh pun protes. Dia baik-baik saja dan mengikuti kemanapun aku melangkah.

      “Sena!”

      Langkahku terhenti, membuat Jinki sedikit menabrak bahuku. Jiyul setengah berlari di belakang, datang menghampiri kami. Aku menarik napas pelan, membenarkan ekspresi wajah dan siap berbicara padanya.

      “Ya?”

      “Apa yang sedang kau rencanakan?”

      Aku sedikit menyeringai untuk menakutinya dan kurasa itu tidak gagal. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya.

      “Jinki-ya, kau tidak sibuk kan hari ini? Aku ingin ke Lotte Mart. Aku belum pernah ke sana. Ayo!”

      Jinki tidak bergeming, ia menatapku tidak percaya hingga beberapa detik kemudian senyum mengembang di bibirnya.

      “Aku akan membatalkan beberapa jadwalku hari ini. Tunggu sebentar!”

      Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi manajer. Saat aku menoleh kembali untuk melihat Jiyul, di belakangnya sudah ada Kris. Aku tak tahu ia mendengar percakapan kami atau tidak. Belum sempat Jinki berbicara dengan manajernya melalui ponsel, aku sudah menariknya untuk pergi dari sana.

      Berhenti menatapku seperti itu, Kris…

***

      “Wah, sudah lama tidak ke Lotte World. Sebenarnya aku sudah pernah bersumpah untuk tidak kesana lagi. Ada kenangan buruk di sana beberapa tahun lalu. Tapi entah kenapa hari ini tiba-tiba jadi semangat,” celoteh Jinki selama perjalanan kami menuju lobi utama. Kami berencana untuk menaiki angkutan umum.

      Aku sedang mengambil beberapa permen dari atas meja resepsionis ketika kulihat Jinki terkekeh sendiri di dekat pintu keluar.

      “Kenapa tertawa sendiri?” tanyaku.

      “Aku hanya senang kau mengajakku untuk pergi di tengah jadwal yang ketat. Ini seperti liburan Natal!”

      Aku memutar bola mata, “Berlebihan sekali. Berhenti berakting imut, Lee Jinki! Ayo!”

      Saat akan melangkahkan kaki untuk menekan nomor di interkom, seseorang menarik tanganku dan menyeretku masuk ke ruangan terdekat.

      “Kris.”

      “Aku tidak yakin, jadi ingin memastikan.”

      Aku menarik tanganku dari genggamannya. “Jinki menungguku, kita bicara kapan-kapan.”

      “Kim Sena,” ia memutar bahuku dan sedikit mengguncangnya. “Aku tahu kau tidak menyukai Jinki. Yang sedang kau lakukan saat ini adalah berusaha membuatnya tertarik padamu karena Jiyul menyukainya. Aku benar ‘kan?”

      Aku diam.

      “Jangan berbuat hal bodoh seperti itu!” tambahnya.

      “Jiyul sudah memberikan banyak penderitaan padaku, kau tidak tahu bagaimana rasanya dianiaya secara keji setiap hari. Ia juga yang telah memisahkanku dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Jadi aku juga akan merebut pria yang sangat berarti baginya!”

      Kris merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang besar.

      “Tapi itu semua bukan berarti kau bisa melukai perasaan Jinki. Jika dia tahu sedang dimanfaatkan, dia benar-benar akan membencimu.”

      “Bukan urusanmu! Lepaskan!”

      Aku menepis kedua tangannya dan berlari menghampiri Jinki yang masih setia menunggu di lobi.

      “Dari mana saja kau?”

      “Toilet. Ayo!”

Udara musim panas semakin segar meski bau matahari menghantui kami sejak masuk ke area Lotte World. Jinki benar-benar terlihat sangat girang meski menurutku itu tidak perlu. Dia masih tidak berhenti berakting seolah-olah anak berumur lima tahun.

      “Mau kemana sekarang?” tanyanya. “Hei, Kim Sena, kenapa? Kau terlihat tidak semangat. Ingat, kau yang mengajakku kemari. Hormati Tuanmu!”

      Aku mendesah kesal. “Whatever!” sahutku.

      Si leader SHINee―yang menurutku tidak berguna―ini menarik tanganku menuju sebuah wahana permainan. Namun belum sampai area antrian, langkahku sudah terhenti. Mataku terpaku pada seorang pria jangkung yang bersandar di sebuah pagar pembatas pepohonan. Kris datang dengan dandanan alien khas artisnya, ia berdiri di sana dengan mulut terbuka karena terengah-engah berusaha mengambil napas.

      “Sedang apa dia di sini?” tanya Jinki.

      “Sena-ya, ayo pulang!” ajak Kris.

      Aku melingkarkan lenganku ke lengan Jinki dan berbalik, “Ayo Jinki!”

      Kris menarik lenganku, mengangkat tubuhku dan menggendongnya. Aku mati-matian berusaha memberontak minta dilepaskan. Namun, tidak ada respons darinya.

      “Onew-hyung, maaf acaramu hari ini dengannya harus batal. Pulanglah!”

Untuk pertama kalinya setelah menginjakkan kaki di Seoul, aku menangis… sangat keras…

…to be continued…

Author’s Note:

Jinki mengepalkan kedua tangannya. Rasa sakit yang pernah ia rasakan kini muncul ke permukaan. Perasaan disakiti di lokasi yang sama ketika Jira datang menghampirinya dalam keadaan menangis. Bukan karena bahagia dirinya jatuh ke pelukan Jinki, tetapi sebaliknya. Saat itu Jira terpaksa datang ke arahnya karena Minho yang memintanya begitu. Dan kini hari ini terulang meski ceritanya berlainan. Untuk kedua kalinya ia merasa ditolak.

      “Jadi, sainganku yang sebenarnya adalah kau, Kris? Baiklah, aku menerima ajakan perangmu.”

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

97 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Nine]

  1. Ga tau mesti ngomong apa,,,
    yang jelas FF ini deabak !!!
    Addictive banget bagi gw,,,
    Ditunggu update-an secepatnya ta thor🙂

  2. Waaaahhhh….. Beautiful Stranger Chapter 9….
    excited banget… tetep seru ceritanya….
    tapi kenapa eon ngerasa part ini tempo alurnya agak cepet, ya…?
    aku kurang ngerasain feelnya….
    Contoh, di Chapter dimana Jinki cium Sena di phone box itu, asli
    bikin eon deg2an, kaget, sebel, geregetan, sekaligus blushing juga ma Jinki…
    tapi ni gak eon dapet di scene Sena cium Jinki di Chapter ini….
    Trus, pas di lotteworld, eon seharusnya bisa ngerasain
    gondoknya Jinki pas Sena ‘diboyong’ paksa oleh Kris…
    apalagi, ditambah ‘note’ di bagian akhir cerita….
    nah, lagi2 eon kurang ngerasain perasaan Jinki disitu…
    lain sama ketika dalam ‘note’ di Chapter berapa, ya?
    itu, pas Jinki ngangkat telpon Sena waktu Kris nelpon…
    tuh, eon kerasa banget jutek dan sebelnya Jinki dengan keberadaan Kris
    sampe dia bilang ‘Aku tidak suka kau!’…
    *aduh, oppa…, ciyusss… tuh, buat merinding…. #stress…
    apa mungkin akunya yang lagi gak peka, ya…???? #garuk2 kepala…
    oya, agak pendek ya, part ini…
    Part selanjutnya dipanjangin lagi, ya, Diya thor…
    Bakal teteup nungguin banget kelanjutan cinta Sena-Jinki disini…
    mudah2an Jinki gak patah hati lagi disini…
    #kebangetan dah, kalo sampe sejarah terulang lagi….
    (jujur, eon gak baca We Walk. Gak tega dengan ‘kesengsaraan’ Jinki karena cinta)
    #lebay…
    itu aja, komen dari eon, mudah2an ngerti, ya…
    maklum, eon cuma bisa baca, kasih komen, di suruh nulis pasti gak bisa…
    #bow…

  3. Kenapa Sena eonni manfaatin Jinki oppa?
    Nanti kalau Jinki oppa nya tahu gimana? Ntar terjadi berang dingin lagi, aigoo aigoo

    Mianhae eonni kalau komenku kemaren bikin eonni keganggu dan ngk suka,

    Aku tunggu kelanjutannya ya eonni,

  4. aigoo, jadi bener Sena eonni manfaatin Onew oppa buat balas dendam sama Park Jiyul?
    jangan sampai Onew oppa tahu, kalau sampai Onew oppa tahu sikap yang udah lumbut jadi dingin lagi nantinya,
    saingan Onew oppa untuk dapeti cewek ada aja ya, kemaren Minho oppa sekarang Kris oppa dan ke duanya sama sama jangkung kekeke

    ditunggu kelanjutannya eonni,

  5. *tarik nafas dulu…..
    Akhirnya ff yg paling aku tunggu keluar!!!
    Jinki-sena momentnya banyak banget!!
    Aaaaa, jinki kerasukan setan onew?!
    Mereka kan orang yg sama xD
    Aku masih ngakak sama kata kata jinki, ‘setan rubah betina’ lol xD
    Aku suka banget diya eon ceritanyaaaa
    Next chaptnya jangan lama lama ya, aku udah greget pengen bacaaaaaaa😀

  6. Wuaaaaaah epep Ɣªήğ ƙµ tunggu2 !
    Ŧǻρί Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ kayaknya pendek banget Ɣää thorr
    Next part dipanjangin Ɣää
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ
    Aduuuh sena jangan manfaatin jinki Ɣää
    Kalo sampek dia †ªΰ ϑι̥ pasti akan benci Ќα♍u
    N Ќα♍u akan nyesel kalo Ќα♍u sadar sebenernya udah jatuh cinta sama pesona seorang dubu ^^
    Ehmmmm ciumannya kurang ngefeel Ɣää..
    Ditunggu next partnya
    Hwaiting!

  7. akhirnya >.< ep ep yang kutunggu keluar juga #nangis bombai *lebay*

    pokoknya ni ep ep daebak lah *ngacungin 10 jempol*

    di tunggu update selanjutnya ~~ :-*

  8. jadi jinki blm nyadar kalo lagi dimanfaatin? aku kira dia sengaja gitu bantuin sena karna dia ga suka jiyul atau dia nganggap ini cuma permainan. aaah kasian dong jinki

  9. aaa akhirnya lanjutanya dtg lg…
    keren bgt,bingung antara kasian ma onew pa ma kris..
    tp mga aj ttp ma onew

  10. akhirnya publish juga.,baru sempet ngecek…kurang panjang ni thor partnya…betewe di part ini kok jinki tiba2 jd baik gitu ya.,ga jutek2 bgt ma sena.,padahal dipart2 sebelumnya kan jinki jutek mampus ke sena…trs masak iya jinki yg dr awal curiga kalo sena itu sasaeng fansnya bisa diem&seneng aja gatau kalo lagi dimanfaatin sena padahal jinki tau kalo hubungan sena&jiyul tu ga baik…overall tetap menantikan part selanjutnya eon🙂

  11. ya ampuun tor beneran bikin penasaraaaan,dari kemaren nungguin part ini. ayo tor semangat lanjutin part selanjutnyaaa

  12. seneng bgt…
    Tp jinki’a kok jd’a mlh kasian bgt pdhal kan awal’a oppa d bkn karakter yg penindas dan engak mdh trtpu, tp overall daebak chinggu,

  13. DIYAAA EONNIIII!!!!! JANGAN LAGI JINKI DIBIKIN NYESEK… hiks.. hikss… Tuhkan!! belum apa-apa udah sedih pas di ending part yang bagian Jinki itu…. ah sumpah!! aku nangisin Jinki loh eon pas di We Walk… bahkan Jinki di We Walk masuk list peran kedua paling menyanyat hati versi aku..hehehe

    Asas praduga tak beralasam nih eon… kayaknya bakalan serruuu.. Jinki bakalan ngejar Sena abis-abisan.. Go Jinki!! Go Jinki! Gooooooooo……

    Gumawo Eonniiii… ditunggu lanjutannya…

  14. abang jinki!!! kau.. ah.. benar-benar ngga tau kalo di manfaatin sena ato gimana sii?
    kok masii bisa nge-iyain n bahagia banget tiap kali sena dateng ke dirimu..
    kuharap akhir dari ceritamu bahagia, ngga ada lagi kesedihan..
    abang kris!! balikin sena-nya jinki!!!

  15. Aih pertarungan sengit meeeeen~ tapi kok ngerasa kaya diburu2 ya part ini entahlah yg penting ini cerita ngegemesin beud!!

  16. Hai semuanya… Maaf nggak bisa reply satu per satu. Maaf juga updatenya nggak sekenceng dulu. Super sibuk!
    Susah bagi waktu antara kerja dan nulis. Karena nulis fanfic itu membutuhkan mood yang tinggi, sedangkan tiap pulang kerja maunya istirahat-tidur.

    Kalau merasa alur cerita dipercepat, itu sengaja. Maaf kualitasnya malah jadi buruk.
    Saya bener-bener nggak punya waktu lagi buat nulis.

    Terima kasih yang masih loyal nunggu lanjutannya dan kasih komentar.
    I LOVE YOU :*

  17. Akhirnya chapter 9nya kluar jga.. Keren thorr.. Jadi tambah penasaran bagaimana nasib onew slanjutnyaa~
    next chapter.a cepetan ya thorr😀
    I still waiting for the next chapterr

  18. finally finally,🙂
    eon, cerita keren kaya gni jgn lama2 dong disimpan sendiri. Share aja ke pembaca.
    Hehe
    rela deh mantengin sf3si terus dmi nungguin kelanjutannya.
    Suka bgt sama kris sama onew. Sena sama yg mana aja boleh deh. Duo biasku sih masalahnya, jd gpp.
    Hehe

  19. ahhhh akhirnya update juga chapter ini *telat* hehehe

    jinki-nya kasian d manfaatin sama sena😦 nanti klo jinki tau gimana ?? ehmmmm

    nih ff keren thor…
    fighting author🙂

  20. Demi apapun aku geram baca ff ini. Bikin perasaan campur aduk. Nano nano..
    Jujur, aku lebih setuju klo sena sama kris tapi pasti ujungnya sena sama jinki huweeee
    Wufan sama aku aja yaaa

    Oke ini komen telat banget. Tapi apa daya aku ga tau klo udah di post T^T

  21. wah wah wah~
    udah lama gk ke sini,
    udah lama pula nungguin lanjutan ff ini di post,
    eh ternyata udah chap 11, ceritanya daebak! seperti bisa selalu dibuat penasaran tiap chap nya,
    lanjut ah~

  22. Whoaa..semoga akhirnya Sena suka sama Jinki.. Gak tega kalau jinki oppa disakiti untuk keduakalinya..🙂 (y)

  23. Jadi pada intinya JinKi sudah mulai suka dg Sena meskipun tidak diperlihatkan secara jelas… Sena meskiput benci hampir mati karenanya tanpa sadar juga mulai ada rasa sama JinKi, yah meski kdang cman sbg ajang revenge…
    Heol~ aku di buat merinding oleh sikap onew yg dingin,,

  24. tidaaaaaaaakkkk!!!!! onew sama kris benar2 pilihan yang membingungkan!!!! aaa~ kriiissss love youu
    tapi aku suka onew. FF ini daebak! aku suka karakter tiap orangnya.

  25. Aku sama Kris. Sena sama Jinki. THE END, happy end. NYAHAHAHA~~~ #JDUGH
    (note : ada Minho-Jira -_-)
    Ohhh snaaap!!! Kris kuatkan hatimu yeeey, kalau patah hati diriku disini bisa jadi tempat curhat #elaaaaaahh
    Oh ya, berarti aku salah ya? Jinki gak ada hubungan keluarga apa-apa sama Jiyul nyehehehe xD waktu itu sotoy HUWAHAHA xD
    PLIS, KRIS JANGAN SAMA JIYUL. PLIS PLIS PLISSSSSS JANGAN SAMA MANUSIA LAKNAT YANG GAK PANTES DISEBUT MANUSIA ITU. huweee ~~~
    Lanjutt~~~

  26. gila ini ff buat perasaan seperti naik roller coster…gak menentu…gak tau mw milih yang mana..but yang jelas milih benci banget sm park jiyul….

  27. aq yakin onew tau deh kenapa sena berubah gtu , tp gg yakin tau jga seh , hehehe
    ya ampun sesakit itu kah onew:/
    kasian bgt ya:/
    sena blum menyadari perasaan nya am jinki :v

  28. Ff nya the best thor alur ceritannya gk ketebak trus di chapter ini author’s note ada lgi yey🙌🙌🙌

  29. Ff nya the best thor alur ceritannya gk ketebak trus di chapter ini author’s note ada lgi yey🙌🙌🙌
    Smoga di chpater ter slnjutnya mkin seru

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s