[WFT B] He is Wolf – Part 2 (End)

 He is Wolf

Main Cast : Lee Taemin

Support Cast : Choi Sulli, Choi Minho, Choi Siwon, and the other cast (secret)

Length : Twoshot

Genre : Fantasy , Romantic, tragedy, angst, thriller (???), mystery, etc…

Rating : General

cover ff copy

SULLI POV :

Dear Diary,

Aku senang sekali hari ini. Ini adalah hari terindah yang pernah kulewati. Setelah penantian yang cukup lama, Taeminku telah pulang. Aku juga bersyukur, karena Ia tak mengalami luka serius walau aku menemukan beberapa sayatan panjang sepertinya mulai mengering dipunggungnya. Ia juga menjalani aktivitas seperti biasanya. Kepala redaksi berkali kali menyarankannya untuk bekerja secara indoor karena mengkhawatirkan keselamatan seorang Lee  Taemin yang keras kepala. Aku tak tahu mengapa, Ia terus merengek untuk tetap menjadi seorang wartawan, seakan kejadian tersebut tak membekaskan rasa trauma pada otaknya. Ia sangat mencintai pekerjaannya walau itu sangat berbahaya. Aku sudah berkali kali mencegah agar Ia beralih pada pekerjaan lain, lebih baik kami hidup sedanya daripada harus kehilangannya. Katanya Ia menghilang karena diculik pemberontak sewaktu meliput tentang  pemberontak di daegu. Kau tahu, nyawanya tak bisa ditebus dengan uang.

Aku bekerja kembali setelah 1 bulan vakum karena sakit dan berbagai macam hal yang membuatku tak tenang. Untung sang manager Key baik sekali padaku, Ia tak mau kehilanganku karena menurutnya aku adalah desainer terbaik yang pernah Ia punya.

Dua bulan telah kami lewati dengan tenang. Kami selau menyempatkan diri untuk berlibur, ataupun berbelanja selama seharian penuh disela sela jadwal kami yang padat. Ia sering mengajakku untuk berjalan jalan menginjakkan kaki tuk telusuri pasar malam di deretan Jalan Shindong yang selalu ramai pengunjung. Ia sering mengajakku menikmati keindahan kota saat malam hari melalui YunJae Tower yang terletak di pusat kota Seoul, disana kami bisa melihat indahnya cahaya kota yang amat menyilaukan, pelangi elektronik dibawah selimut hitam alam yang luas. Menikmati kebisingan kota dibawah sinar rembulan yang begitu mempesona. Ia selalu mengatakan bahwa aku bagaikan bulan purnama yang memberikan kepadanya sebuah kekuatan untuk bertahan hidup. “Aisshhh… hiperbola”.

Namun akhir akir ini aku khawatir akan keselamatan Taemin. Ia selalu pulang malam, sepertinya Ia sibuk meliput berita tentang terror werewolf dikota yang sudah memakan belasan korban. Aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Oleh karena itu aku rutin menelepon setiap jam 10, 12, dan 1 pagi hanya untuk menanyakan “Yeoboseyo, apakah kau baik baik saja?”. Aku takut kalau seeokor werewolf yang kelaparan tiba tiba menjadikan Ia sebagai santapan makan malam. Aaaa… mengapa aku jadi berpikir yang tidak tidak.

Kututup buku diary ini. Kusembunyikan di atas lemari, satu satunya tempat yang tak pernah Ia jamah.

Huah!, jam berapa sekarang ya?”,“Jam  duuuuaa bee belas”, aku menyipitkan mataku untuk dapat melihat angka yang ditunjukkan oleh kedua jarum jam bergantung pada sepucuk paku di dekat cermin. Ruangan ini gelap, hanya lampu belajar di sebelah tempat tidur kami yang terlihat menyala, menghidupkan warna biru kehitaman di sini.

Kupencet tuts handphone berchasing merah muda dengan cepat, menjalankan aktivitas rutin seorang Sulli yang tak lupa untuk menelepon Taeminnya pada jam 12 malam memberinya peringatan untuk lebih berhati hati. Ia selalu berada di kantor pada saat saat seperti ini, biasanya menyusun berita bersama rekan rekannya sekantor. Namun aku tak memberitahunya kalau aku akan pergi ke Seoul Post untuk menjemputnya karena aku akan memberinya sebuah kejutan.

Aku berjalan menuju dapur, kuambil sekotak Red Cherry Chocolate, cokelat hitam dengan cherry semerah bara api melambangkan cinta yang membara. “WOW!, Fantastic baby..”, aku mengenakan hoodie dengan gambar ayam kuning dipadu dengan skinny jeans berwarna biru muda. “Perfect!”, kulihat diriku di cermin., seorang yeoja dengan rambut almond sangat sempurna memberikan kesan keemasan yang meleleh tepat diatas kepalanya . Kuselipkan sebuah jepit dengan hiasan pisang tepat dikepalaku. Ditambah bibir cupid yang semakin menawan, serta kulit mulus dan  pipi yang menggembul.

“Aku berangkat!”, Sulli menenteng sebuah bingkisan kecil dengan kartu ucapan yang mengantung pada lubang sebuah pita merah. Sulli mengunci pintu apartemennya dan berjalan menelusuri tangga. Mempercepat langkahnya agar sampai ke tempat tujuan. Ia menelusuru Mao street dan berbelok menuju pusat perkantoran besar di tengah kota. Ia memilih jalan pintas yang lebih sepi membawanya lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Sesekali Sulli melompat karena membayangkan hal indah yang Ia rasa akan terjadi ketika Ia mengucapkan “Taemin, aku mencintaimu”. Diam diam Ia tertawa sendiri membayangkan wajah Taemin yang semakin mirip imut ketika terkejut. “Aish, sudahlah Sulli, semoga ini semua berjalan lancar”. Ia berbicara sendiri, melupakan rasa bahagia dalam dirinya, Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Taemin. Karena selama ini momen momen yang Ia nantikan akan segera terjadi. Akan segera terjadi dan merasa bangga karena Ia yang memulainya. Memulai untuk mengatakan kata cinta pertamanya setelah apa yang Ia lewati bersama Taemin. Sulli tak mau kehilangan kesempatan ini, oleh karena itu Sulli mempersiapkan semuanya sesempurna mungkin. Mulai dari penampilan luar hingga kalimat kaliamat yang ingin Ia sampaikan pada sang sahabat tersayang yang tak lama lagi mungkin menjadi kekasihnya.

Ketika sampai diujung jalan, Sulli melihat sesosok bayangan keluar dari balik pepohonan. “Tap tap tap”, disini sepi sekali, sehingga Ia dapat mendegar jelas langkah kaki tersebut. Sulli merasa sosok tersebut mengikutinya. Perasaannya mulai tidak enak, benar benar tidak enak. “Ptak!”, sebuah tepukan mendarat di bahu Sulli, sehingga membuat yaoja tersebut berteriak karena terkejut. Dibelakangnya berdirilah sebuah sosok dengan mata merah yang menyala. Spontan, Sulli berlari secepat mungkin untuk menghindari sosok tersebut. “Dugh”, sosk tersebut memukul Sulli hingga terjatuh, lalu menyentuh pembuluh darah pada leher Sulli yang putih dengan jemari lentiknya yang dingin. Jari jari yang kurus tersebut menggelitik leher jenjang Sulli.

“Tolonggg!!!!”, Sulli berteriak sekeras mungkin, tetapi tak ada seorang pun mendengarkannya karena tanpa sadar Ia sudah berlari terlalu jauh menuju sebuah deretan bangaunan kosong.  “Siapapun kau, tolong jangan makan aku”, ronta Sulli. Percuma, tak ada yang mendengarkannya, pada akirnya Ia pun pasrah mungkin ini adalah jalan terbaik.“Taemin aku mencintaimu”, tangis Sulli seiring makluk tersebut mulai mendaratkan giginya yang tajam pada leher Sulli.

“Brak!!”, makluk tersebut terhempas beberapa meter. Seekor serigala lain dengan cokelat muda datang menyelamatkan Sulli. Sulli kebingungan akan apa yang terjadi dihadapannya, “mereka bertarung apa karena berebut mangsa?”. Sulli berlari menjauh dari kedua serigala tersebut. Mengambil kotak cokelat yang tergeletak di jalan.

Namun langkahnya terhenti ketika beberapa ekor serigala datang mengepungnya, “Tidaakk,  Tak ada pilihan lain kecuali bersembuyi”, namun serigala tersebut terlanjur mencakar kaki Sulli hingga membuatnya sulit untuk berdiri. Kotak cokelat tersebut terpental membuat isinya berceceran. Peluh bercucuran di Kepala Sulli yang ketakutan, ketika serigala serigala tersebut hendak menyantapnya. Mengeluarkan Taring taring tajam dengan kuku yang bergemletak siap untuk menerkam.

“Crash”, terlihat seeokor serigala cokelat muda melompat ke arah kerumunan serigala tersebut. Terdapat banyak luka di tubuhnya karena bertarung dengan serigala pertama yang Sulli jumpai. Sulli merangkak, bersembunyi di balik tembok. Seigala hitam tersebut mencakar musuhnya satu persatu namun sepertinya Ia kalah serangan, bagaimana bisa Ia melawan 4 serigala sekaligus seorang diri dengan kondisi tubuhnya yang penuh luka. “Cracckkkk”, salah sartu serigala berbulu abu abu memukul punggung serigala hitam menyebabkan sedikit keretakan pada punggungnya. “Trak”, serigala lain bergantian menyerangnya tanpa belas kasih, darah terus bercucuran dari seluruh bagian tubunya. “Duggg”, Ia terpental dan tubuhnya membentur tembok sebuah bangunan dimana  Sulli bersembunyi.

Kemudian, empat serigala yang menyerangnya berubah menjadi sosok manusia. “Berani beraninya kau melawan kami, memangnya siapa kau?”, ujar salah satu sosok tersebut. Seigala hitam tersebut berubah menjadi sosok manusia yang mengenaskan. “Uhukkk…aakkk akkku”,  mulutnya mengeluarkan darah. Ia mencoba berdiri walau darahnya semakin banyak mengalir keluar dengan posisi seperti itu. Sulli mengintip sosok di balik tembok tersebut  tanpa suara, berdirilah seorang laki laki mengenakan jaket cokelat yang sangat familiar di matanya. “Namaku..Lee Taemin. Dan aku takkan membiarkan serigala bengis seperti kalian menyantap manusia yang tak berdosa seperti dia. Uhuk uhuk”, kali ini Taemin tak sanggup menopang tubuhnya sendiri, Ia pun jatuh. Sulli tercengang, “LEE TAEMIN, mengapa?”, ujar Sulli lirih.

Apakah ia benar benar Lee Taemin?

“Kau telah membuat kesalahan besar, berani berani kau berbicara seperti itu kepada kami. Sekarang kau harus mati!”.

“Bunuh saja aku, kalau berani”, ujar Taemin dengan sinis.

Sulli keluar dari tempat persembunyiannya, berusaha melindungi Taemin dengan segenap tenaga yang Ia punya. “Aku takkan membiarkan kalian menyakitinya,”, Sulli mendekatkan tubuh Taemin yang lemah ke dekapannya. “Hiks, Oppa jangan melakukan ini lagi. Arraseo? Aku tak mau kehilangan orang yang kusayangi lagi. Jika kau memutuskan untuk mati, ayo kita mati bersama sama sekarang”, tangisnya pecah ketika melihat cairan merah yang tak berhenti keluar dari mulut dan banyak luka mengerikan di sekunjur tubuh Taemin. Sulli memasrahkan semuanya, mungkin ini adalah hari terakirnya hidup, karena empat sosok tersebut sudah berubah menjadi serigala yang hendak menyantap Sulli”.

“DOR”, sebuah tembakan seorang polisi melayang ke arah empat serigala tersebut. Satu persatu dari segala tersebut mati karena peluru perak menembus tubuh mereka.

Di dekapan Sulli, Taemin merasa tenggorokannya tercekat kehausan. Ia merasakan sebuah rasa haus yang teramat sangat karena telah kehilangan banyak darah, dan sekarang Ia membutuhkan asupan darah. “Argh!”, Ia memekik dengan keras ketika cahaya bulan purnama masuk melalu celah celah atap yang berlubang  dirinya. Ia mendongak ke atas untuk beberapa lama ketika sebagian pupilnya sudah memerah. Sulli dan polisi tersebut terkejut ketika mata Taemin berubah menjadi merah menyala ditambah 2 gigi Taring tajam perlahan keluar dari mulutnya. “Aish, kenapa Ia harus berubah pada saat saat yang tidak tepat seperti ini”. Di depannya terlihat seorang polisi muda yang tak lain adalah Choi Minho mengambil ancang ancang untuk melancarkan sebuah serangan.  Tak mau tinggal diam, Sulli memeluk tubuh Taemin seerat mungkin, tanpa memandang resiko apa yang akan Ia terima. “Jangan buhuh dia, kumohon. Minho, bukannya kau itu sahabatnya?”. Merasakan pelukan Sulli barusan, tubuh Taemin kembali normal layaknya manusia. Minho menyimpan peluru peraknya kembali namun Minho tetap bersikukuh untuk menyerang Taemin menggunakan peluru cadangan lainnya.

“DOR!”, terdengar suara tembakan. Dari mereka berdiri,  Minho mengarahkan senapannya kearah Taemin. Pria tersebut berusaha meluncurkan tembakan ke dua, tetapi tangannya bergetar hebat, wajahnya kaku. Tangannya terus mengelak untuk menembak, hatinya memberontak membuat wajahnya yang tampan terlihat berliku karena tegang.

Taemin merintih pelan, menoleh ke arah pria yang menembaknya barusan.  Tangan mungilnya gontai memegangi pundak kirinya yang berlubang karena sebuah peluru besar menembus bahunya. “Sulli, menjauhlah dariku”. “Taemin, tidak, aku tidak mau”. “Menjauhlah!”, Taemin melototkan matanya yang merah sempurna ke arah Sulli dan mendorong gadis tersebut jatuh menatap dinding hingga pingsan. Bau anyir tercium dimana mana. Bahunya tak kunjung berhenti memuncratkan darah segar. Darah tersebut tumpah ke tanah dan sebagian cipratannya tumpah mengenai baju baru Sulli, menodai baju tersebut, memberi efek mengenaskan. Taemin mulai goyah, cairan bening pecah menyeruak ketika Minho benar benar memantapkan serangannya.

“Huks, Hyung, maafkan aku. Huks Huks”

“Apa kau bilang? Maaf? Kau tak layak untuk dimaafkan. Kami para manusia tak akan memaafkan atas apa yang telah bangsamu lakukan. Kau hanya menjadikan kami sebagai santapan. Sudah beberapa orang yang kau bunuh heh!”, Minho melototkan matanya, seakan ada dendam yang sangat mendalam mengitari seluruh jiwanya.

“Aku tak pernah membunuh siapapun Hyung, aku hanya menghisap darah binatang. Jika aku menginginkan darah manusia, aku kan minta ijin kepada korbanku terlebih dahulu”, ujar Taemin polos.

“Apapun itu, aku takkan pernah memaafkanmu. Karena kalian tak layak untuk hidup disini bersama kami. Kalian hanyalah ancaman bagi bangsa kami. Merupakan suatu kewajiban untuk membunuhmu, mengingat kedudukanku sebagai polisi. Karena kalian tak lebih dari seekor binatang”, Minho menaikkan suranya dengan memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan, ia termakan dendam yang mendalam. Dendam yang bangkit setelah sekian lama terkubur.

“Hyung, hiks aku adikmu..”, Taemin kembali meneteskan air matanya. Ia terlihat begitu lugu ketika menagis.

“Tae, kau bukan adik kandungku. Kau hanyalah seorang anak yang menganggapku sebagai kakakmu karena kita tinggal dalam panti asuhan yang sama. Tae, apakah kau benar benar ingin kubunuh!”, Minho berjalan mendakat pada Taemin yang semakin mematung lemah dihadapan Minho.

“Mian he hyung,”, Taemin mendekatkan dirinya pada Minho.  “Maaf karena aku menganggapmu sebagai kakakku dan..”

“DOR!”, belum sempat melanjutkan kalimatnya. Kembali Minho mengarahkan senapannya pada pelipis Taemin, dan melancarkan sebuah tembakan disana. Taemin memasrahkan semuanya. Ia merelakan dirinya sebagai pelampiasan dendam Minho kepada bangsanya. Taemin semakin goyah, Ia sempat terjatuh dan mencoba untuk bangun kembali. Tubuhnya bergetar ketika melihat banyak darah keluar dari peilipisnya, darah terus menyembur tanpa henti. Bau darah menyeruak kemana mana, tak sedap. Medan ini bagaikan sasaran pertumpahan darah oleh amarah dan rasa benci. Taemin berusaha agar tetap tegar mengingat apa yang telah Minho lakukan padanya. Ia memaksakan sebuah senyuman sesaat yang pada akirnya tergantikan oleh sebuah tangisan akan rasa sakit dan salam perpisahan.

“Hyung, …” Taemin berbicara dengan terbata bata. Ia masih cukup kuat, tetapi mudah goyah dimakan rasa sakit yang amat menusuk.  Taemin tak mau membunuh Hyungnya, karena Ia adalah seseorang yang berharga baginya selain Sulli. Ia ingin membuat perdamaian dengan Minho, tetapi Minho sudah terlajur benci dengannya.

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Minho mencela. Minho menangkis tangan Taemin yang berlumuran darah untuk menggenggam tangan milik Minho.

“Tutup mulutmu Taemin. Aku tak mau mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut busukmu. Aku tak peduli akan pengorbanan yang kau lakukan selama ini. Ingatlah suatu hal Taemin, kita berbeda. Kau tak sepantasnya disini, kau tak layak untuk hidup besama kami. Pergilah, atau aku akan membunuhmu sebagai balasan atas kebengisan bangsamu kepada kedua orang tuaku!”

“Tapi bukan aku yang membunuh orang tuamu.”

“Aaahhh… dasar tidak berguna, kau sama saja dengan mereka!”

Taemin mundur beberapa senti. “Hyung, huks…, maafkan aku”, air mata Taemin tumpah tak terbendung seiring dengan aliran darah segar yang mengalir dari pelipis dan  bahunya. Air mata tersebut tak dapat meluluhkan niat Minho untuk tetap menembaki Taemin.

One shot, Let me tell you something that you already know

You just get the rock to me

“DOR!”, sebuah peluru berhasil menjebol kulit perut Taemin yang putih. Membuat perut kurus tersebut hingga berlubang. Rasa sakit bergejolak dalam perutnya, mengisyaratkan kerusakan pada beberapa organ yang terdapat didalam sana.

Darah segar keluar dari mulut Taemin. “Hyung, huks…, maafkan aku. Ma aa f kan akk ku… kumm ..o hon..”, ujar Taemin sambil menahan rasa sakit.

“Memaafkanmu? Kau tak layak untuk dimaafkan. Tapi, kau layak untuk mati. Karena apa? Karena bangsa kalian telah membunuh orangtuaku. Karena nyawa harus ditebus dengan nyawa, ingatlah hal itu, Taemin!”.

“Mengapa kau masih hidup? Apakah aku harus menembakmu lagi? Mungkin kau baru bisa mati dengan peluru perak yang kuarahkan tepat pada jantungmu. Iyakah?”, ujar Minho geram.

“H hyung…, aku rela ma  ti de  mi kau. Asal hal tersebut dapat membuatmu senang.  Namun kesenaganmu bukanlah apa apa, jika kematianku meninggalkan kesidihan untuk Sulli”. Taemin tersenyum sinis dan sengaja memuntahkan darah dari mulutnya. Tangannya sibuk memegangi luka yang membuat lubang pada perut kurusnya. Luka tersebut semakin menganga lebar, mengeluarkan gumpalan darah berwarna hitam. Sudah cukup banyak darah yang ia tumpahkan dengan sia sia, namun Taemin masih bisa bertahan, karena Ia adalah werewolf. Tapi jika Ia mati, bagaimana dengan Sulli, wanita yang sangat Ia cintai. Ia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menerkam Minho tuk menyelamatkan dirinya, atau membiarkan dirinya mati di tangan Minho dan meninggalkan Sulli. Atau Ia harus menerima kenyataan terburuk, yaitu binasa bersama Minho. Taemin berubah menjadi sosok serigala menyipkan ancang ancang untuk berlari ke arah Minho. “Hyung, mari binasa bersama sama”, ujar Taemin lirih menyadari bahwa semuanya telah terlambat, tak ada kemungkinan untuk hidup yang dapat dipilih yang Ia pikirkan hanyalah sebuah perpisahan dnegan dunia yang ia pijak selama ini. “Sepertinya aku harus mengahadapi kematian untuk yang ke dua kalinya”.

Minho mengisi ulang senapannya dengan sebuah peluru perak. Satu satunya peluru yang dapat membunuh seekor werewolf meski hanya dengan satu tembakan ringan. Senapan yang kokoh tersebuh sudah terisi. Tangan kekar Minho mengeras, otot ototnya berkontraksi sangat kuat. Ia mengarakan tangannya pada jantung Taemin. Ia tersenyum kecut, “Taemin, apapun yang kau lakukan untuk menyerangku, itu hanyalah sia sia”. Taemin sempat menoleh kepada Sulli yang setengah siuman di belakangnya. Sulli melihat Taemin dengan senyumannya yang tulus, seakan merelakan kepergiannya sendiri. Sebuah senyuman yang sangat manis dan natural terulir di wajahnya yang semakin menawan walau sebenarnya yang Ia rasakan adalah rasa sakit. Namun rasa sakit itu tak melumpuhkan nyalinya untuk menyerang Minho yang sedang mengisi senapannya dengan peluru perak.

Only one shot only one shot
Bite down hard and go against
me,

Only one shot only one shot
Throw
myself at the world,

 

 

 

“Sulli, jaga dirimu baik baik ne. Mian he Sulli aku tak memberitahu sebelumnya. Mian he, aku tak memberitahu jika aku ini adalah… Hiks. Mian he, makluk sepertiku tak pantas untuk mencintai manusia, namun salahkah jika aku mencintaimu? Sulli-ah, Naneun  neoreul sarang hada

“Tae,….!!! Kalian semua, tolong hentikan! Berhenti!”

 

 

 

 

 

 

 

 

“Selamat tinggal Sulli. Selamat tinggal Minho”,

“YA! Selamat tinggal juga Lee Taemin,..”

 “……………….”

 

 

 

 

 

 

“DOR!, sekali lagi, selamat tinggal Lee taemin”,

Bagaikan Hujan yang deras

Mengalir dengan mudah begitu saja

Terus mengalir turun

Ke bawah,

Menyentuh tanah daratan yang kedinginan,

Cairan merah tersebut mengalir dari sebelah kiri tubunhya

Membuatnya berlubang, menusuk jantungnya

Jantung yang selama ini memompa darah

Mengedarkan ke setiap pembuluh pembuluh itu agar tetap mengunci nyawanya supaya tak keluar

Detakan itu sudah mulai melemah

Diiringi deru napas yang selalu ingin berhenti

Paru paru sudah cukup capek untuk membuat napas. Jantung sudah remuk, namun pikirannya masih bisa menerawang

Karena satu tembakan hanya untuk satu nyawa

 

 

 

Taemin menatap kosong, Ia tak paham dengan semua ini. Sulli menyelamatkannya. “Apa yang terjadi berusan?”, Sulli berlari menghalangi Taemin dari sengatan peluru Minho.

“Sulli!, Sulli bertahanlah!”, Taemin memeluk tubuh Sulli yang sudah lemas namun masih sanggup untuk mengeluarkan rintihan. Sulli menyelamatkannya, Sulli menyelamatkannya, “Ia mengorbankan dirinya demi aku? Tapi kenapa harus dia  yang….? Kenapa bukan aku saja yang …?”.

Taemin mengelus kepala Sulli dengan lembut, ia melihat Gadis itu menangis sesekali tersenyum. Sejurus kemudian, Ia menggendong Sulli hendak membawanya berlari menuju rumah sakit. Namun Taemin juga kesakitan, menahan rasa sakit akan lukanya yang begitu parah.

“Aaaagrh”, Taemin jatuh menahan sakit sambil memegangi Sulli.

“Hmmh. Sulli,… a …ku me…ncintaimu…,”, ujar Taemin pelan.

Taemin menyentuh pipi Sulli dengan lembut.

Sulli melihat dengan jelas sosok mengerikan di depannya tanpa rasa takut sedikitpun. Ia sedikit tak percaya akan apa yang telah ia lihat. Sebuah sosok yang mengerikan bertentangan dengan Taemin tampan yang Ia kenal. Sulli menangis kecil, “Taemin, sejak kapan kau menjadi seperti ini?”.

“Sebenarnya aku sudah meninggal Sulli, kau masih ingat 4 Minggu lalu ketika aku menghilang? Aku tak diculik, aku dibunuh. Bukan manusia yang membunuhku, tetapi seekor werewolf, sejak saat itulah aku berubah. Maafkan aku Sulli, aku tak menceritakan hal ini padamu”

“Aku tak peduli siapa dirimu, kau tetaplah Minnie yang kukenal sejak dahulu”

Sulli”, Taemin kembali ke wujud manusianya.

“Aku juga mencintaimu Tae. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu”

“Sulli Huks..Mian hamnida”, Taemin menangis.

“Tidak Tae, terimakasih karena kau telah menghadirkan kepadaku sebuah cinta”

“Taemin, aku tahu meng…inginkain ini,”, Sulli menunjukkan lehernya dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. Lakukan sekarang Taemin, lakukan!,”

“Tidak Sulli, aku tak rela merubahmu menjadi makluk iblis sepertiku”.

“Aku rela untuk apapun Taemin,  asal aku bersamamu.”

Melihat kondisi Sulli yang semakin melamah dengan wajah yang bertambah pucat namun tetap cantik dengan sebuah senyuman yang selalu terukir pada bibirnya yang tetap merona, Taemin terdiam untuk beberapa saat. Ia bimbang. Ia menggeleng gelengkan kepala, dan nafasnya mulai tak beraturan. “Hiks, Hiks, Sulli maafkan aku”. Taemin memeluk Sulli dengan erat, tak ingin melepaskan pelukannya.

Perlahan Taemin mengiris pergelangan tangannya dan mendekatkan pergelangan tersebut pada dada kiri Sulli tepat pada peluru Minho bersarang. “Mian ne Sulli”, perlahan tubuh Taemin melemas. Ia mengorbankan darahnya terakirnya untuk Sulli, karena darah werewolf dapat menyembuhkan manusia namun sebagai gantinya werewolf tersebut harus  mengorbankan nyawanya demi seseorang yang Ia tolong. “Minho, tolong  jaga Sulli baik baik”, ujar Taemin seiring dengan deruan nafasnya yang tiba tiba melemah.

“TAEMINNNN!!!”, Minho berlari menuju tempat Taemin berbaring.

“MInho, mungkin aku tak dapat menepati janjiku pada Sulli. Minho sampaikan maafku padanya,  karena aku benar benar harus menjauhinya”

“Tae, apa maksudmu?”, ujar Minho sambil mengguncangkan badan Taemin.

“Aku terlalu berbahaya untuknya. Aku akan pergi. Hahahaaa. Selamat tinggal hyung”, Taemin tersenyum dan senyuman tersebut semakin pudar seiring dengan matanya yang mulai menutup. Mengisyaratkan perpisahan untuk dunia.

“Taee! Taee!,bangun! Maaf Tae, maafkan hyungmu. Tae!”, Minho tercengang melihat tubuh Taemin yang tak bergerak.

Karena nyawa harus dibayar dengan nyawa.

“Taemin, hyung minta maaf. Taemin, jangan tinggalkan hyung, kumohon…!”, perlahan butiran air mata keluar dari pelupuk mata Minho. Ia menangis, menangisi kepergian seseorang yang amat Ia sayangi, menangis melihat kepergian seorang sahabat yang sudah Ia anggap sebagai adik sendiri. Minho menggenggam tangan Taemin yang dingin dan semakin memucat. Perlahan sosok Taemin berputar dikepalanya. Sosok yang selalu ada untuk Minho. Namun sekarang sosok tersebut telah pergi, Ia meninggalkan dunia ini begitu cepat. Ia meninggalkan sebuah kenangan indah untuk setiap orang. Ia meninggal dengan damai, namun kematiannya meninggalkan rasa penyesalan yang begitu dalam untuk Minho. “Taemin hiks, aku berjanji. Aku akan menjaga Sulli,”, ujar Minho sambil memeluk Tubuh Taemin yang berlumuran darah. Darah yang begitu bening tercecer dimana mana, darah yang menyimpan jutaan kebaikan akan pemiliknya.

———————————————

1 Day Later :

Sulli memandangi batu nisan yang terkesan damai. Makam yang sejuk dikelilingi pepohonan dengan mawar merah  yang tumbuh disamping batu nisan yang kokoh itu. Batu nisan dengan nama yang terukir atas berbagai kenangan, dengan nama yang tercipta dari jutaan pengorbanan. Nisan tersebut berdiri gagah, sesuai dengan sosok manusia yang tidur lelap di bawahnya. Tidur dengan tenang melepaskan segala kepenatan dunia. “Lee Taemin”, itulah nama sang pemilik makam tersebut.

Disamping Sulli, air mata Minho terus mengalir, meresap kedalam tanah, membuatnya sedikit becek dan berlumpur. Jarinya terus membelai mawar merah Sulli yang Ia letakkan disamping batu nisan tersebut. Membelainya dengan lembut, membayangkan kehangatan seorang adik yang takkan bisa Ia rasakan lagi. “Saeng~”

I will promise the piece of eternity.

I could passed the days I wasn’t sure without losing a way thanks for you,
and I could stay strong anytime.

 “Kau selalu menjadi adikku sampai kapanpun”, ujar Minho berbicara pada makam yang membisu.

——————————————————

SULLI POV :

25 Tahun berlalu, semenjak kematian Taemin aku memutuskan kembali kepada orang tuaku di Daegu. Namun bagaimana dengan pekerjaanku disni? Akhirnya aku memutuskan untuk tetap bekerja dan hidup mandiri di Seoul. Aku berpikir, mungkin aku akan kesepian karena cintaku telah hilang meninggalkanku untuk selamanya. Namun, siapa sangka orang yang telah menghilangkan cintaku ini hadir untuk bertanggung jawab atas cinta yang hilang. Entah kenapa, secara perlahan aku mulai mencintainya.

Sulli membalik satu persatu halaman album foto kumpulan kenangannya bersama Taemin. Di dalam foto tersebut, terlihat sosok lelaki manis yang sedang tersenyum. “Lee Taeminnie, 18 Juli 1993 – 10 January 2013”.

Di halaman berikutnya, Ia melihat dirinya mengenakan pakaian pernikahan menggenggam tangan seorang lelaki yang berbeda dengan sosok lelaki pada halaman sebelumnya. “Choi Minho & Choi Sulli, 10 January 2015”.

Ia terus membalik satu persatu halaman, tersenyum bahkan tertawa melihat satu persatu kenangan yang telah Ia abadikan. Hingga sampailah Ia pada halaman terakhir. Sebuah foto berukuran besar terpampang jelas disana. “Choi Minho & Choi Sulli & Choi Krystal”. “Ternyata aku sudah tua ya?”, “Minho, apakah sudah selesai panennya?”

“Belum!”, ujar Minho

“Oke baikalah, akan kubantu”, Sulli beranjak dari kursinya menuju halaman belakang. Disana terdapat sebuah ladang yang lumayan luas untuk berkebun. Mereka menghabisakan pensiun mereka untuk berkebun.

“Appa! Eomma! Aku berangkat dulu ya!”, seorang gadis berperawakan tinggi berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya menenteng sebuah tas besar dan juga sebuah map di tangan kirinya.

“Ne, hati hati ya”.

——————————————————

IN KRYSTAL OFFICE :

“Kita kedatangan jurnalis baru, nak perkenalkan dirimu”

“Anyeong Haseyo, Naeneun Lee Taemin Imnida. Mohon kerjasamanya ne. Gamsahabnisahabnida soa”,

“Oke Lee Taemin, kau boleh duduk di sana”, ujar pemimpin redaksi sambil menunjuk meja kosong di samping Krystal.

“Gomawo Soman-ssi”

Taemin berjalan menuju meja kosong tersebut. Sesekali Ia menoleh kearah Krystal. “Hai, perkenalkan namaku Lee Taemin”. “Choi Krystal Imnida”, Krystal mengulurkan tangannya kepada Taemin. “Hihi, Taemin, boleh aku memanggilmu Taeminnie. Wajahmu terlalu imut untuk dipanggil Taemin”. “Ummm boleh”, Taemin tersenyum pikirannya menerawang jauh, mengingat kembali kejadian 26 tahun lalu, mengingat masa masa dimana Sulli masih berada disampingnya.

Sulli , mengapa aku berpikir dia sangat mirip denganmu?

Apakah Ia adalah wujudmu yang lain?

Apakah tuhan benar benar mengirimkan malaiakatnya untukku?.

 Malaikat penggantimu.

“Krystal mau kuantar pulang?, tak baik jika seorang wanita harus pulang sendirian malam malam begini.”

“Boleh, tapi apa tidak merepotkan?”

“Sedahlah, ayo cepat”,

Taemin memacu motornya dengan kencang, semakin kencang, semakin erat pula pelukan Krystal pada pinggangnya. “Pegangan yang erat”, ujar Taemin sambil terkekeh. “Wusshhhhh”.

“Stop Taeminnie, disitu rumahku”,

“CIIITTTTTTTTTT”, Taemin mengerem motornya dengan mendadak hingga membuat krystal terjungkal kedepan.

“BUGH” ,

”Pelan pelan Minnie. Sakit tau” Krystal menjiwit pipi Taemin yang masih terkekeh.

“Taee berhentilah tertawa. Dasar mesum. Oh jadi kau sengaja melakukan ini semua hanya untuk mengerjaiku ya? Ayo jawab Minnie. Kau ini ternyata jahil juga ya. Kau ini juga jangaaaaaaa”,.

“CHU~”, “Apakah aku harus menciummu untuk menghentikan omelanmu”, Taemin tersenyum puas.

“BLUSH~”, “Aish, Taeminnie. Sekarang kau boleh pulang. Pulang sana”, ucap krystal sambil terbata bata. Wajahnya merah seperti tomat yang akan meledak. Tubuhnya merinding, keringat dingin tak henti keluar dari telapak tangannya. Mungkin sebentar lagi Ia akan pingsan akibat ciuman Taemin yang mendarat tanpa diundang pada bibir innocentnya. “Aigo, my innocent lips”, gerutu krystal.

“Ciuman itu tak seberapa. Aku dapat membuatmu lebih tidak innocent…, hehe”, Taemin melirik Krystal yang terkejut atas  perkataan ambigunya barusan. Melihat wajah Krystal bersemu merah seperti itu mengingatkannya pada Sulli, sang kekasih yang sengaja Ia tinggalkan.

Kau tahu Sulli, aku takkan melupakannmu

Aku tak tahu dimana kau sekarang

Mungkin aku sudah kehilangan jejakmu

Namun sekarang aku telah menemukan jejak lain

Tapi mengapa wanita tersebut selalu mengingatkanku akan sosokmu?

“Krystal, kau sedang bersama siapa di luar?”, terdengan suara wanita yang tak lain adalah ibu Krystal dari dalam rumah.

“Temanku”, jawab Krystal.

“Krystal, ajak temanmu masuk ajak dia makan malam besama . Arraseo?”, suara yang lebih berat menimpali.

“Aaa ayah ibu dia mau pulang….”, Krystal berusaha mencegah agar kedua orang tuanya tak jadi mengundang Taemin untuk makan malam bersama.

“Krystal, ajak dia masuk, cepat!”, suara bass ayah Krystal menggema dalam telinganya membuatnya tak dapat mengelak setiap perkataan ayahnya tersebut.

“Neeee”. “Huh!, Minnie mengapa kau mengacaukan makan malam kami. Taemin, tahan sikap mesummu di depan orangtuaku. Arraseo”, ancam Krystal.

“Ne~,”, Taemin melayangkan sebuah death glare membuat wajah Krystal yang mulai normal merah kembali.

Krystal membuka pintu diikuti dengan Taemin dibelakangnya.

“Ayah Ibu, perkenalkan ini teman baru Krystal.”,

“Anyeong haseyo. Naeneun Taemin Imnida”

“…”

“Taemin?”, tanya Sulli yang tak lain merupakan ibu Krystal.

“Lee Taemin Imnida”, Taemin menegaskan namanya sekali lagi.

“Kekkekeee”, Minho tertawa lalu menepuk bahu Taemin dengan kencang. “Kekkekeeee, Lee Taemin tolong jaga anak kami baik baik ne?”

“Yes sir! Kekkekeke”, Taemin tertawa diiringi tawa Minho yang tak kunjung  berhenti. Sulli terus menatap Taemin dengan seksama, diwajahnya terpancar kerinduan. Ekspresi haru dan bahagia terpampang jelas pada wajah Sulli yang sembab. Lalu Ia tertawa kecil, tak percaya bahwa lelaki yang berada di depannya sekarang adalah Lee Taemin yang Ia kira sudah meninggal.

“MWO! Kalian semua, hentikan!”, Krystal tercengang melihat tingkah aneh ketiga orang di depannya yang sepertinya sudah saling akab untuk waktu yang lama.

Mulut Krystal menganga lebar, tanda bahwa kebingungan telah mengguncang otaknya setelah melihat ke-abnormalan ketiga orang tersebut. Minho dan Taemin bercanda layakya teman sebaya, sedangkan Sulli menangis karena tertawa terlalu larut  atau karena sesuatu yang lain (?).

——————————————————–

FLASHBACK : Yang sebenarnya terjadi 1 bulan lalu :

TAEMIN POV :

At dawn right after midnight
Something in the mud opened its eyes

“Aku hidup?, bagaimana bisa?”, ujar Taemin lirih wajahnya gemetar mengisyaratkan rasa tak percaya akan dirinya yang tiba tiba kembali bergerak. “Jadi ini hanyalah tidur bagi werewolf?”.

My arms stretched out forward
My breath was cold

Aku keluar dari gundukan tanah yang memendamku, di permukaan kulihat batu nisan putih yang mulai menjamur termakan waktu. Terdapat retakan kecil pada permukaannya. Aku melihat sesuatu yang janggal disamping nisan itu, “sebuah bunga?”. Aku menemukan seikat pink rose dan bells of ireland yang telah layu. Pink rose adalah bunga yang melambangkan energy, sedangkan bells of ireland melambangkan keberuntungan. “Sulli?”, nama itu tiba tiba terlintas di kepalaku, samar samar semua yang telah kualami tergambar jelas disana.”Sulli, aku merindukanmu. Dimana kau sekarang? Bahkan sekarang rasanya aku masih dapat mencium baumu melalui bunga itu”.

Setiap hari aku terus menunggu di pemakaman ini, menunggu hadirnya sosok yang sudah lama kucari. Pemakaman ini begitu sepi, menunggu membuatku bosan. Selang satu bulan, kuputuskan untuk keluar dari area pemakaman ini, mengintip dunia luar yang mungkin sudah berubah 180 derajat. Aku mencuri sebuh baju dari perumahakn penduduk di samping kuburan. Tentunya mereka senang karena aku meninggalkan jas mahal yang kupakai di jemuran mereka. Setelah semua siap, aku mulai menelusuri setiap sudut kota, tujuanku hanyalah bertemu dengan Sulli atau Minho, mungkin. Setelah 2 hari berjalan tanpa arah, pencarianku ini tak membuahkan hasil. Hari mulai larut, hujan akan turun sebentar lagi. Aku berteduh di bawah sebuah gedung besar tempatku bekerja dulu. “Tempat ini semakin bagus saja. Andai aku dapat bekerja lagi di tempat ini”.

Udara yang dingin tak dapat menembus kulitku untuk menggigil. Bahkan bulu kudukku tak dapat berdiri layaknya orang normal. Suhu tubuhku luar biasa dingin, namun aku tak merasa demikian. Aku mati rasa, bahkan aku tak merasa sakit ketika sebuah dahan pohon yang berukuran sedang tersambar petir dan terlempat tepat mengenai kepalaku.

“AAAAAAA pohon sialan!”, terdengar teriakan seorang gadis yang baru keluar dari kantor redaksi terkejut akan petir yang barusan menyambar pohon di depannya. Aku diam seribu bahasa, aku tak dapat berbuat apa apa, walau darah yang keluar dari pipinya membuatku mabuk. Namun aku sudah berjanji untuk menahan hasratku membunuh manusia dan hanya meminum darah binatang walau darah gadis tersebut 3 kali lebih manis daripada darah manusia pada umumnya. Darah yang sangat manis, “Sulli”. Ah tidak tidak, Taemin itu bukan Sulli, aku menenangkan diriku yang mulai lepas kendali termakan kenangan masa lalu yang tetap menghantui.

Tak tahu kenapa, entah apa yang telah merasuki tubuhku sekarang. Tatapanku tak bisa lepas dari wajahnya. Melihat wajahnya yang semu merah karana terkejut itu memberika rona tersendiri untuk kecantikannya. “Apakah aku mencintainya?”.

Ya tuhan rupannya aku terlalu cepat untuk jatuh cinta. Tapi kenapa aku benar benar yakin Ia adalah takdirku walau ini adalah pertemuan pertamaku dengannya. Aku juga tak kenal siapa dia, namun mengapa aku memiliki perasaan yang kuat terhadapnya?

“Krystal, kau baik baik saja?”, seorang pegawai menghampiri gadis tersebut sambil membawa tissue untuk mengelap luka kecil pada pipi gadis yang ternyata bernama Krystal.

 When breathing became boring
That’s when I found you, so shocked

            “Lee Taemin, coba pikirkan sebuah rencana”, 30 menit aku berdiam diri disini, meringkuk di pojok bangunan hanya untuk memikirkan sebuah rencana untuk mendekati Krystal.

“Sepertinya aku harus membangun karirku kembali”. “Menjadi wartawan?”. “Mungkin aku harus memalsukan identitasku, namun tidak dengan namaku. “L-E-E T-A-E-M-I-N”, aku tak snaggup memalsukannya, karena aku ingin dia memanggilku dengan nama ini sama  seperti Sulli memanggil namaku.

————————————

TAEMIN POV :

Hari demi hari telahku lewati bersama Krystal yang kini sudah menjadi pacarku.

Aku sadar, Krystal memang bukanlah Sulli. Mereka tak sama. Tanpa sadar, perbedaan tersebut membuatku lebih mencintainya.

Namun aku dan Krystal adalah makluk yang berbeda,

Why so serious?
Romeo and Juliet
It’s not a, ah, sad love story
Everything will be alright
You’re a love story maniac
Who knows about the “inevitable happy ending”

mian ne chingu. Ini ff pertama yang saya publish di dumai ^^ . heheh maaf kalau typonya segudang. Huwawaaa … oke kritik saran saya terima… arigatou

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “[WFT B] He is Wolf – Part 2 (End)

  1. ga dapet emaknya dapet anaknya.. nyahahaaha…

    endingnya bagus, walau ga sama sulli.. hehehehe.. pertarungannya dahsyatnya… ohh jadi manusia serigala ga bisa mati gitu yah???

  2. authoooor ff mu!!!! aku udah nangis darah baca pertengahan cerita😦 akhir cerita bahagia ternyata ._.

    o ia thor.. kalo “tuhan” itu huruf “t” nya harus pake huruf besar.. kan sebuah penghormatan^^

    1. Makasi tentang koreksinya.. soalnya saya agak bermasalah soal eyd, dan pertypo-an.
      Wah, makasi chingu udah menghayati bacanya T^T… Gomawo gomawo
      Gomawo udah baca ne

  3. wah, kirain tadi taeminnya beneran mati ._. ga nyangka taemin bangun lagi..
    akhirnya bahagia semua =D
    sulli minho bahagia, taemin juga bahagia ama krystal =)

    1. kalau taeminnya mati entar selesai dong. Tapi kalau taeminnya mati juga sayang T^T
      Yeay, makaso yah chingu udah baca ff saya. Danmaaf buat semua kalau endingnya agak maksa T^T

  4. whoa.. Ternyata taem masih hidup..
    Werewolf nan baik hati dan luhur budi.. Hahahaha..
    Padahal dah nangis pas taemin mati..
    Keep writing..

    1. wah makasi dukungannya chingu…
      Tapi saya masih perlu banyak belajar, soalnya kalau dibanding ff debutan yang lain ini masi $%^
      Oke chingu, gomawo udah baca ne ^^
      Makasi semangatnyaaa!!!!!!😀

  5. Menitikkan air mata saat TaeMin akan mati. Sungguh tragis saat itu, tapi mengingat TaeMin yang bangkit lagi sungguh bahagia.
    SiWon langsung mati saat tertembak mengapa TaeMin tidak, ataukah karena suntikan yang. SiWon berikan maka TaeMin hanya hibernasi. Tidurnya lama banget (˘_˘” )ck! ( “˘_˘)ck!
    Happy Ending (งˆ▽ˆ)ง

    1. Iya chingu karena suntikan siwon tadi.. ^^
      Wah wah makasi ne chingu udah baca… menghayati #terharu sama chingu T^T
      hihi ini memng saya sengaja happy ending, kasihan taeminnya sudah tersakiti, tapi happy endingnnya agak maksa.. mianne kawan kawan

  6. klo aku, maaf, justru beda pendapat sama komentar di atas. mungkin ini lebih ke kritikan.
    di sini, ceritanya kok berasa dipaksakan. habis mati, bisa hidup lagi. trus cast-nya minho kayak berasa orang linglung. bukannya dia sendiri yang nglepas Taemin? dia sendiri yang bilang ‘asal kau tak membunuh manusia aku takkan membunuhmu?’ trus kemana kata-kata itu pergi ketika merkea bertemu kembali?
    ada juga Minho selalu-sebut dendamnya. kalau begitu kenapa nggak dari awal aja ngebunuhnya? udah habis si Taemin mati, dia baru nangis, nangis.
    oh, ya, ada juga si Taemin, tahu-tahu suka sama kristal, padahal liat aja nggak deket juga kan?
    oke, aku ngarasa ceritanya agak dipaksakan untuk bahagia. padahal mungkin dari awal harusnya berakhir tragis #mungkin
    atau kamu harus cari alternatif lain untuk mencari berbagai alasan yang sedikit masuk di akal. bahkan jika perlu kamu jadiin nih cerita sequel.
    aku udah banyak kritik dan saran. jangan tersinggung, ya?
    semoga Author yang baca bisa lebih baik lagi dalam pembuatan ff-nya.

  7. Huwaaa…
    Ending yg bagus thor. Dapet bgt feel nya. Terus nulis ff horor ne xD #plaak

    Like this (y)

  8. Bingung -_-
    Ceritanya muter-muter *mianhe aku cuma beropini aja kok
    Tapi bagus dan daebak banget kok.

    Keep writting yaa !

  9. HYAAAAAAA!!!! Neomu daebak ;A; bikin lg thor yg ttng werewolf atau vampire T,T sumpah keren bngt! Gue demen ama ff werewolf ato vampire ‘-‘)b akhirnya gue gk bosen lg stelah baca ff mu thor/? Gue ijin save ff lu ye thor ‘-‘ tenang aje kgk bakal gue plagiat ‘-‘)b kalo pun gue post di fb gue, bakal gue tulis nama author😄 okeh thor?? Gomawo epep nye😄

  10. Mian aq baru nemuin ff ini,dan aq akui alur cerita nya sangat rapi dan bagus,jujur aq ngebaca pas part 2 nya,aq sampai nangis sa,at taemin mengorbankan nyawanya untuk sulli,sayangnya ending ceritanya kurang dapet kayaknya author udah lelah ngetik ya!!!hahahaha,,,mian!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s