[WFT B] Just Another Twenty Fifth

Title : Just Another Twenty Fifth

Author : Nia

Main cast :

–          Lee Taemin (SHINee)

–          Byun Hae Ri (OC)

Support Cast :

–          Shin Ha Ni (OC)

–          Kim Jonghyun (SHINee)

Length : Oneshot

Genre : Romance

Rating : General

——0——

25th May, 2010

“OPPA! TAEMIN OPPA!” Hae Ri berteriak sekencang mungkin kearah seorang namja yang sedang menari sambil bernyanyi diatas panggung megah itu. Diikuti dengan air mata, segelintir kenangan tiba-tiba mengganggu pikirannya, hingga menimbulkan sensasi tersendiri bagi yeoja itu.

Kalau bukan karena sebuah cerita singkat yang yeoja itu buat, maka yeoja itu juga tidak akan pernah berada di dalam gedung megah ini untuk mengikuti perayaan 2 tahun sejak hari debut SHINee.

Baru sebulan yang lalu, Hae Ri mendapat sebuah email yang benar-benar membuat jantungnya hampir saja berdenyut di udara. Rasanya, sampai saat ini Hae Ri masih belum bisa mempercayai bahwa ia telah memenangkan sebuah lomba menulis fanfiction yang diselenggarakan oleh sebuah blog ternama.

Well, ia harus berterima kasih pada Lee Taemin, seorang namja mungil yang berdiri diatas panggung megah itu dengan mengenakan baju hitam tanpa lengan. Dengan rambutnya yang terlihat seperti jamur, namja itu sukses membantu Hae Ri -lebih tepatnya menjadi inspirasi Hae Ri- dalam pembuatan fanfiction itu.

Satu bulan yang lalu, Hae Ri harus mati-matian menahan jantungnya supaya masih bisa berdetak saat ia mendapatkan email itu. Kata-kata yang tertera disana, masih jelas diingat oleh Hae Ri.

Selamat! Kamu memenangkan lomba Write For Taemin ditahun ini! Diingatkan lagi, hadiah dari lomba yang kami selenggarakan adalah sebuah tiket gratis jalan-jalan dari Daegu ke Seoul serta satu tiket untuk datang ke  perayaan anniversary SHINee. Pembiayaan jalan-jalan sepenuhnya akan ditanggung oleh pihak kami!^^ Selamat bersenang-senang!^^

Dan ya, Hae Ri memang bersenang-senang saat ini. Kelewat senang, malahan. Terutama saat menyadari bahwa ia sedang berada di dalam satu gedung yang sama untuk melihat penampilan idolanya sendiri, benar-benar sulit dipercaya!

Saat penampilan dari boy band yang bernama SHINee itu telah berakhir, bola mata Hae Ri tiba-tiba bertemu dengan tatapan dari bola mata Taemin, si Lead dancer yang Hae Ri bilang sangat tampan itu.

Tapi bukannya mendapat tatapan bahagia karena hari ini adalah hari anniversary mereka, justru Hae Ri mendapat tatapan dingin, tatapan yang seakan mengoyak hati yeoja itu menjadi beberapa bagian kecil. Kemanakah senyum dan tatapan hangat yang tadi ia lihat diatas panggung? Apakah senyum dan tatapan hangat itu benar-benar hanya muncul saat mereka tampil saja?

Hampir saja yeoja itu menangis karena tatapan dingin yang diberikan oleh Taemin. Dengan suara yang pelan, ia bergumam, “Oppa.. Apa perjuanganku untuk sampai kesini adalah sia-sia?”

***

25th May, 2013

“Annyeonghaseyo yeorobun! Kali ini Talk to The Truth berhasil mengundang 2 orang bintang tamu ternama! Tebak, siapa dia?” Shin Ha Ni, pembawa acara sebuah show yang ber-genre setengah reality dan talk show itu, kini mulai berbicara kepada para penonton yang sedang duduk manis di dalam studio.

Seketika itu juga, lagu berjudul Why So Serious yang dinyanyikan oleh SHINee tiba-tiba terdengar cukup keras dari sebuah speaker yang berada di dalam studio tempat acara Talk to The Truth ini berlangsung. Setelahnya, seorang namja tampan, Lee Taemin, muncul dengan kemeja putih dan celana panjang hitam serta beralas sepatu kets.

Taemin tersenyum sekilas kearah kamera, lalu kemudian duduk di sebuah sofa yang telah disediakan tepat disamping pembawa acara itu, Ha Ni. Namja itu terlihat lelah dengan semangat yang dipaksakan, namun tetap saja sorot tatapan dinginnya itu tidak berubah sejak 3 tahun yang lalu. Entah kepada siapa pun, tatapan dingin itu pasti selalu terpancar dibalik tatapan hangatnya saat sedang berada dibalik kamera.

“Seperti yang saya katakan, hari ini ada 2 bintang tamu. Jadi tak hanya Lee Taemin sebagai perwakilan dari SHINee, tapi kita juga mendatangkan seorang yeoja, sebagai perwakilan dari fans SHINee, Shawol!” Ha Ni memandang kearah samping panggung, seakan mengisyaratkan kepada crew lainnya untuk menyuruh bintang tamu yang satu itu untuk masuk.

Tak berapa lama kemudian, seorang yeoja datang dengan senyum gugupnya. Yeoja itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah, lalu dengan bawahan jeans hitam dan sepatu flat shoes.

“Ini dia, seorang penulis ternama sekaligus pembuat naskah dari drama ‘Teach Me How to Breath Without You‘ yang diperankan oleh seluruh member SHINee, Byun Hae Ri!” ucapan Ha Ni menyambut kehadiran yeoja itu, Hae Ri, dengan hangat. “Padahal umur yeoja yang berasal dari Daegu ini baru 19 tahun, ya.. Tapi sudah bisa sesukses ini? Hebat sekali!”

Mau tak mau, Hae Ri hanya bisa tersenyum tipis dibalik rasa gugupnya untuk membalas tiap perkataan yang dilontarkan oleh Ha Ni. Ia baru menyadari, si pembawa acara ini ternyata sangat bawel sekali!

“Ah, dengar-dengar, Hae Ri-ssi ke Seoul karena ada promosi drama ‘Teach Me How To Breath Without You‘ itu, ya?” tanya Ha Ni setelah memastikan bahwa Hae Ri telah duduk disebelah kanannya, sementara Taemin duduk disebelah kirinya. “Ne, aku kembali lagi ke Seoul untuk promosi drama itu.”

“Kembali lagi?” Ha Ni tiba-tiba bertanya secara spontan. “Tepat 3 tahun yang lalu, aku mendapat tiket gratis dari Daegu -tempat tinggalku- ke Seoul karena aku memenangkan sebuah lomba fanfiction. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku menonton perform SHINee di acara yang diadakan sebagai perayaan dari anniversary mereka.” Hae Ri menjelaskan sambil sesekali tersenyum. “3 tahun yang lalu? Wah, itu berarti saat perayaan 2 tahun sejak debut SHINee?!”

“Ne..” Taemin menjawab pertanyaan itu singkat, lalu diam kembali. “Apakah.. Kau mengingatku? Kau… Kau menatapku saat itu, Taemin-ssi.”

“Tidak. Mungkin karena aku sudah cukup tua, jadi aku juga agak pikun. Untung saja saat ini rambutku sedang dicat. Kalau tidak, mungkin kalian bisa menemukan beberapa helai rambut putih jika teliti.” ujar Taemin lalu disambut oleh tawa satu studio. Sebenarnya, ia sama sekali tidak pandai dalam urusan bercanda seperti ini. Tapi berhubung saat itu kamera benar-benar sedang menyorotnya, jadi mau tak mau ia juga mengambil banyak peran untuk mengurangi rasa tegang disana.

Tapi Rae Hi justru tersenyum pahit atas candaan Taemin. Walaupun itu hanya candaan ringan, tapi ia sangat berharap Taemin mampu mengingat hal yang ia ingat juga. Apalagi, saat itu -menurt Hae Ri-, Taemin seakan memberikan tatapan khusus padanya.

Tetapi ada satu kenyataan pahit yang ia bahkan lupakan. Taemin adalah seorang artis.

Dia memiliki begitu banyak penggemar. Jadi mana mungkin dia memperhatikan Hae Ri yang hanya begitu kecil dihadapannya?

“Ah, Taemin-ssi, apa member yang lain ada acara? Kenapa cuma satu saja yang hadir? Aku pikir kalian semua bisa hadir di Talk to The Truth ini..” Ha Ni mencairkan suasana hati Hae Ri. Dalam satu detik saja, dia bisa melihat perubahan suasana hati Hae Ri. Lagipula, bukankah tugas pembawa acara adalah membuat acara itu sendiri menjadi lebih menyenangkan? Dan tentu saja acara itu tidak menyenangkan apabila bintang tamunya sendiri dilanda kegalauan.

“Ne. Key hyung dan Onew hyung sedang membawakan acara Music Bank, jadi tidak bisa hadir. Lalu mungkin Jonghyun hyung dan Minho hyung sedang membersihkan dorm kami yang kelewat berantakan.” Taemin menjawab sambil tertawa kecil, hingga membuat satu studio juga ikut tertawa bersamanya.

“Mengenai drama itu, bisa kau ceritakan secara singkat, Hae Ri-ssi? Sedikit saja.” Ha Ni kini menatap Hae Ri dengan pandangan memohon. Ia pikir ia terlalu tua untuk melakukan aegyo didepan yeoja yang berusia 10 tahun lebih muda darinya.

“Kisah itu menceritakan tentang sosok Jae Hee yang sangat mencintai Jae Son, seorang artis yang menjadi inspirasi Jae Hee untuk bisa memasuki satu agensi yang sama dengan Jae Son. Jae Hee berulang kali menyatakan perasaannya pada Jae Son, tapi Jae Son hanya mengabaikannya. Karena Jae Hee menyadari sikap Jae Son yang benar-benar tidak suka akan kehadirannya, maka ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Jae Son. Tetapi, ternyata Jae Son merasakan kehilangan yang begitu besar saat Jae Hee menghilang. Dan saat itu juga, ia menyadari bahwa hadir atau tidak hadirnya seorang ‘parasit‘ seperti Jae Hee mampu menyisakan sebuah rongga di dalam hatinya.” Hae Ri menjelaskan inti naskah yang ia buat kepada seluruh orang yang sedang duduk manis di dalam studio itu.

“Taemin-ssi, apa yang kamu rasakan ketika memerankan tokoh Jae Son itu? Apakah sulit?”

“Justru awalnya kupikir tidak begitu sulit, secara karakter Jae Son disini adalah seorang artis yang cukup mirip denganku. Tapi kenyataannya, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendalami karakter itu. Tentang bagaimana Jae Son yang nantinya merasa kehilangan sosok Jae Hee…, kurasa kami semua masih perlu banyak belajar dan banyak latihan.” ujar Taemin, menjawab pertanyaan Ha Ni.

“Setelah pertanyaan-pertanyaan tadi yang ditanyakan dari pihak kami, Talk to The Truth, sekarang kami akan memberi pertanyaan yang berasal dari pendengar radio Talk to The Truth. Kalau ada yang belum tahu, memang Talk to The Truth ini sudah terkenal sekali! Selain kami menyiarkannya lewat acara langsung seperti ini, kami juga menyiarkannya lewat radio, lalu kami juga memberi informasi lewat akun twitter, facebook, me2day, line dan banyak lagi.” Ha Ni tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sebuah benda tipis berwarna putih, sebuah tablet, yang menjadi sarana komunikasi mereka. “Pertanyaan pertama, untuk Taemin-ssi,” ujar Ha Ni lagi. “Jika bukan Son Naeun, siapa diantara member SHINee yang kamu ingin jadikan partner dalam drama itu?”

Taemin menggaruk kepalanya karena kebingungan. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika salah satu dari member SHINee menjadi yeoja dan memerankan sosok Jae Hee di dalam drama itu.

“Mung-Mungkin Key hyung.” Taemin akhirnya menjawab dengan terbata. “Waeyo? Aku kira Taemin-ssi akan memilih Minho-ssi..” ucap Ha Ni dengan ekspresi kecewa. Sebenarnya dia cukup menyukai pasangan 2min. Tapi berhubung ia sadar bahwa ia masih direkam oleh kamera untuk acara Talk to The Truth ini, maka kekecewaan itu hanya tampak sebagian kecil saja.

“Minho hyung benar-benar tidak cocok jadi yeoja. Sekalipun ia memakai rambut palsu dan baju yeoja yang paling mahal, tetap saja semua ototnya itu akan terlihat sangat besar. Bahkan tangannya pun berotot. Jadi meskipun Minho hyung menjadi yeoja, tetap saja sisi manly nya itu akan terlihat dari sudut manapun.”

Taemin meringis pelan setelah ia mengucapkan kata-kata tadi. Bagaimana kalau Minho menonton broadcast ini? Apa yang harus ia katakan pada Minho apabila kemungkinan buruk itu terjadi?

“Ah, benar.. Lalu, pertanyaan untuk Taemin-ssi lagi. Menurutmu, apa pendapat member SHINee tentang drama yang kamu perankan ini?” Ha Ni bertanya kembali setelah ia ikut tersenyum lebar saat mendengar jawaban Taemin tadi. “Kupikir Key hyung akan banyak memberikan arahan kepadaku. Sementara -mungkin- Minho hyung akan mendukung drama ini dan Jonghyun hyung akan iri karena belum dikasih kesempatan untuk tampil menjadi pemeran utama dalam drama seperti ini. Dan terakhir, mungkin Onew hyung juga akan mendukungku, tapi juga menceramahiku. Mungkin dia seperti gabungan dari Key hyung dan Minho hyung, tetapi lebih kalem.” ujar Taemin menjawab pertanyaan itu.

“Pertanyaan terakhir, untuk Hae Ri-ssi, apa pendapatmu tentang Taemin-ssi yang memerankan drama itu?”

“Ia masih perlu banyak belajar,” ujar Hae Ri mengritik Taemin hingga membuat satu studio tertawa. Rasanya sangat malu ketika si pembuat naskah drama mengritik pemeran drama itu sendiri. Dan karena itu, kini Taemin hanya menunduk sambil tersenyum malu-malu.

Eh, tersenyum?

“Penayangan drama itu mundur 3 bulan dari waktu yang ditentukan karena beberapa aktor dan aktris masih sulit bekerja sama dalam drama ini. Selain itu, memang kurasa Taemin-ssi agak kaku ketika shooting pertama kali. Jadi ia masih perlu banyak belajar.” Hae Ri justru menjawab dengan hati yang gembira. Bukan gembira karena akhirnya diberi pertanyaan, tapi gembira karena ia akhirnya bisa melihat senyum Taemin, meskipun senyum itu agak tersembunyi dibalik wajahnya yang menunduk.

“Baik, sesi tanya jawab sudah selesai. Untuk menutup acara Talk to The Truth ini, kita sudah mengumpulkan beberapa kegiatan yang disarankan oleh penonton untuk kalian lakukan bersama. Dan hasilnya adalah..,” dengan nada yang dilambat-lambatkan, Ha Ni menengok kearah kanan, tempat kumpulan beberapa pertanyaan itu sedang dikocok.

Disisi lain, Taemin tegangnya setengah mati. Bolak-balik ia harus memeperkan tangannya yang berkeringat kearah pakaian yang ia kenakan supaya tangan itu kembali kering. “Berdasarkan hasil kocokan ini, kalian harus saling menata rias!”

Saat Ha Ni mengumumkan kegiatan terakhir itu, baik Hae Ri dan Taemin dua-duanya jadi panik. Tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah menata rias wajah orang lain. Apalagi Hae Ri, dia seorang yeoja tapi bahkan belum pernah menata wajahnya sendiri. Kalau Taemin, ia hanya mengandalkan stylist yang selama ini bekerja keras untuknya.

Sebuah meja besar berisikan beberapa kosmetik mahal serta beberapa alat tata rias lainnya tersedia begitu saja dihadapan Taemin, Ha Ni, dan Hae Ri. “Mari kita mulai dengan merias wajah Taemin-ssi. Silakan Hae Ri-ssi memanfaatkan alat-alat yang tersedia untuk membuat Taemin-ssi lebih tampan.”

Dengan dua kalimat seperti itu saja, semburat merah terpancar jelas dipipi Hae Ri. Orang tampan tanpa make up pun juga tetap akan terlihat tampan, bukan?

Ragu-ragu, tapi Hae Ri tetap mengambil eyeliner dan blush on lalu mengarahkannya ke wajah mulus Taemin. “Jwiseonghamnida,” gumamnya pelan.

Tangan yeoja itu bergetar hebat, diiringi dengan mata Taemin yang makin lama makin terpejam erat. Saat ini, yang Hae Ri fokuskan hanyalah memoles pipi Taemin dengan blush on tipis-tipis dan memberikan sedikit sentuhan pada matanya.

“Selesai!” ujar yeoja itu puas, lalu memundurkan tubuhnya lagi. Berdiri didekat Taemin dalam waktu lebih dari 20 detik bisa membuat detak jantungnya menggila seketika.

“Cepat sekali! Berarti, sekarang giliran Taemin-ssi, ya.. Kami berharap hasilnya bisa sebagus Hae Ri-ssi juga,” Ha Ni seakan menyadarkan Taemin bahwa ia harus menyiapkan mental untuk melakukan sesuatu yang belum pernah Ia lakukan.

Menata rias diri sendiri saja belum pernah, sekarang bagaimana ia bisa menata rias wajah Hae Ri?

Akhirnya Taemin mengambil sebuah lipstick dan memoleskannya secara asal di bibir Hae Ri. Walaupun asal, tapi tetap saja tangannya gemetar dan terus berkeringat. Sebenarnya Taemin khawatir juga jika tahu-tahu keringat dari tangannya yang disebabkan karena tegang itu ternyata membuat make up Hae Ri yang baru saja ia poleskan luntur seketika.
Ia sungguh belum pernah merasakan saat seperti ini sebelumnya! Bahkan ketika SHINee mau debut pun, tegangnya tidak separah ini.

“Ternyata hasil dandanan Taemin-ssi tidak buruk-buruk amat, ya. Baik kalau begitu, yeorobun, sampai jumpa di acara Talk to The Truth minggu depan!”

Dengan beberapa kalimat, Ha Ni mengakhiri acara itu, sekaligus menyelamatkan Taemin dari rasa gugup seusai memoles wajah Hae Ri. Setelah semua penonton yang ada di dalam studio itu pulang, Taemin memandang kearah Hae Ri lalu tiba-tiba tertawa. Antara bangga dan lucu, ia merasa seluruh hasil karyanya tercetak jelas pada wajah Hae Ri.

“Walaupun kau membuat wajahku seperti ondel-ondel, tapi aku cukup senang hari ini.” Taemin berhenti tertawa setelah Hae Ri berkata seperti itu dan kini memandang Hae Ri dengan tatapannya yang dingin. Ia baru sadar bahwa kini kamera sudah tidak lagi menyorot kearahnya, pertanda senyum palsu itu boleh segera dihilangkan. “Senyum yang kau berikan itu sudah cukup bagiku. Ah, Taemin-ssi.. Sedari tadi aku membawa buku novel, dan aku ingin memberikan novel ini padamu.”

Sambil berdiri, Hae Ri merogoh tas yang baru saja diambilkan oleh asistennya. Setelah memberikan sebuah buku novel yang ia tulis sendiri kepada Taemin, Hae Ri berjalan pergi. “Gomawo!” Hae Ri berteriak keras, lalu meninggalkan seulas senyuman untuk Taemin.

Taemin memandang buku yang kini telah berada ditangannya dengan ragu. Ia memandang sekitar, dan memang ruangan ini telah sepi. Hanya ada beberapa sampah yang tertinggal karna tadi mereka saling membersihkan wajah sebelum kegiatan menata rias itu dimulai.

Perlahan, Taemin membuka buku itu dan tiba-tiba, ia terbayang sosok dirinya sendiri. Bukan, itu bukan sosok dirinya saat ini, tapi itu Lee Taemin 10 tahun yang lalu.

Dan bayangan itu.. Benar-benar terasa nyata!

***

25th May, 2003

Seorang namja dengan agak kesal memukul handlebar vespa butut yang ia kendarai. Sedari tadi ia hanya bisa mendengus, layaknya seekor banteng. “Taemin-ah! Ini namanya macet, sudah biasa terjadi di jalan raya. Tak perlu mendengus seperti itu,” Jonghyun, namja yang sedang dibonceng Taemin, kini ikut kesal. “Lagipula yang baru saja tadi kau pukul itu adalah bagian dari motorku. Kalau ini motormu, baru bolehlah kau memukulnya sesuka hati. Tapi berhubung ini motorku-”

“Hyung, kau ini yeoja atau namja sih? Cerewet sekali! Dan lagi kau jangan begitu membanggakan motor ini. Vespa butut seperti ini tidak pantas dibanggakan, tahu! Kupikir kita terjebak disini karena vespa ini yang jalannya seperti bebek.” keluh Taemin lalu memukul handlebar itu sekali lagi. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan barunya saat ia sedang kesal. “Ya, ya! Kalau kau sedang kesal, jangan pukul benda mati! Mana mungkin benda mati itu punya salah? Salahkan dirimu, Taemin-ah! Kalau kau bisa jalan 1 jam lebih pagi daripada tadi, mungkin kita bisa sampai tepat waktu dan tidak terjebak macet seperti ini!”

Tapi percuma saja Jonghyun berceloteh seperti itu, toh Taemin juga tidak mendengarkannya. Justru bocah itu kini mematikan mesin vespa butut itu lalu mulai menggendong ranselnya dan berjalan seorang diri. “Ya! Kau mau kemana?!”

“Ke tempat acara itu!” Taemin menjawabnya dengan ketus. “Berjalan kaki? Sendirian? Yakin tidak butuh kehadiranku?” tanya Jonghyun bertubi-tubi. Ia yakin pasti sebentar lagi Taemin akan menoleh kearahnya dan meminta bantuan. Kalau memang Taemin bisa pergi sendiri ke tempat acara itu untuk melihat SamH, girl band baru yang kini perform pertama kali di SBS Inkigayo, lalu kenapa ia meminta bantuan Jonghyun? Meskipun salah satu alasannya adalah supaya Taemin bisa meminjam vespa butut Jonghyun, tapi alasan utamanya adalah Taemin membutuhkan teman untuk fanboy-ing bersama.

“Aku tahu kau tidak bisa pergi tanpaku, Taemin-ah! Aku juga ingin melihat Hye Jin. Jadi, bukan cuma kau yang ingin melihat Hyo Ri.”

Taemin sedikit melunak. Ia berjalan beriringan dengan Jonghyun memasuki gedung SBS Inkigayo itu. Beruntung tadi mereka sudah dekat parkiran, jadi meninggalkan vespa butut Jonghyun disana juga tak apa. Lagipula, tidak ada orang yang mau mencurinya saking bututnya.

“Sayang sekali Key hyung tidak bisa ikut. Padahal kalau dia ikut, dia bisa melihat Hyun Mi. Dan kita bisa fanboy-ing bersama.” ucap Taemin kepada Jonghyun. “Yah, lebih sayangnya lagi karna baik Minho maupun Onew hyung tidak ada yang menyukai SamH. Kurasa penglihatan mereka tertimbun oleh lemak.”

Lagi-lagi tanpa mempedulikan ucapan Jonghyun, mata Taemin sudah berkeliaran mengamati panggung yang begitu megah dihadapannya. Taemin kembali mengingat perjuangannya dalam membujuk kedua orang tuanya supaya ia bisa melihat panggung ini secara langsung. “OH! Itu SamH!” teriak Jonghyun seraya menunjuk-nunjuk 3 orang yeoja yang baru memasuki panggung, membuyarkan lamunan Taemin. Dan hanya dengan melihat panggung ini dan melihat 3 yeoja itu, senyum Taemin mengembang seketika.

“Aku.. Aku tidak tahu ternyata mereka lebih cantik saat dipandang secara langsung. Aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa tersenyum semanis ini, padahal aku yakin mereka pasti kelelahan.”

“Taemin-ah! Kau boleh mencontoh hidup seperti mereka. Kalau mukamu adalah hidupmu, maka anggap make up-nya adalah kesedihan dan rintanganmu. Mau tidak mau, kamu harus menghapus make up itu supaya muka kamu tidak rusak. Maka dari itu, mau tak mau kamu juga harus menghapus kesedihan dan rintangan itu, lalu ganti dengan hidup yang baru.”

Tiba-tiba, keheningan melanda mereka berdua. Baik Jonghyun maupun Taemin masing-masing menikmati kesempatan mereka untuk melihat idol kesukaannya. “Berpacaran dengannya, walau hanya di dalam mimpiku saja, sudah membuatku senang.”

“Hyo Ri, maksudmu?” tanya Jonghyun lalu tersenyum. “Eoh.. Menjadi fans itu tidak mudah, ya. Aku saja benar-benar perlu berusaha keras untuk sampai kesini. Biasalah, eomma dan appaku awalnya tidak mengijinkan.” ucap Taemin lagi. “Lihat saja tadi, sewaktu kita terkena macet di parkiran. Itu juga termasuk perjuangan, Taemin-ah.”

Taemin mengangguk, kemudian menambahkan, “Tapi tentu saja perjuangan itu terbayar begitu saja saat kita melihat idol itu diatas panggung. Terutama, saat mereka tersenyum. Karna tanpa fans, idol tidak akan ada artinya. Dan tanpa idol, fans pun tidak mungkin ada.”

***

25th May, 2013

Taemin tersadar dari lamunannya, lalu mengerjapkan matanya pelan. Ia meletakkan buku novel berjudul ‘First Time, First Love‘ yang ditulis dan diberikan oleh Hae Ri tadi di meja terdekat, lalu tiba-tiba kakinya bergerak tanpa arah mencari pintu keluar di studio ini sehingga ia terlihat seperti orang yang kesurupan.

“Hae Ri-ssi!” teriak Taemin lantang dan mencegat kaki Hae Ri untuk berjalan lebih jauh lagi. Dengan nafas terengah, Taemin menyusul Hae Ri lalu tiba-tiba memeluk yeoja itu dengan sangat erat.

“Gomawo.” bisik Taemin pelan, lalu melepas pelukannya dan meninggalkan Hae Ri masih dalam keadaan termangu.

Selama ini aku hanya melihat penggemar itu benar-benar hanya penggemar. Mereka hanya datang ke tempat dimana kami mengadakan konser, lalu duduk manis melihat kami tampil dengan susah payah. Melihat hasil dari perjuangan kami. Awalnya aku menganggap mereka semua adalah patung yang tidak mengerti perasaanku. Bagaimana aku terjatuh, bangkit lagi, dan menangis untuk saat-saat itu.


Tapi setelah melihat bayangan tadi, aku rasa apa yang kulihat selama ini salah. Bukan hanya aku, idol, yang berjuang sendirian, tapi mereka juga berjuang untuk mendukungku. Mereka juga berjuang untuk melihat diriku diatas panggung.


Tidak, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku harus lebih banyak tersenyum dan bersikap ramah mulai dari sekarang!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “[WFT B] Just Another Twenty Fifth

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Hehehe:d ada typo, ya? Maaf yaa, aku kurang teliti.. Hehehee..
      Makasih banyak, ya:D

  1. Setujuu~ Lee Taemin harus banyak senyum apalagi sama shawol doooong!
    FF-nya keren banget deh author. Kalo menurut aku sih cuman perlu di asah lagi aja gaya penulisannya, tapi selain dari itu, semuanya udah bagus kok.
    Fighting ya Auhtor~

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Hahaha:D nikahnya di mimpi dulu aja deh ya(?) Hehehee~ makasih yaa:D

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Iya, maaf ya saya kurang teliti.. Hehehe:D
      Okee.. Makasih yaa:D

  2. aaah, ceritanya simpel, tapi enyuuus gitu *?*
    duuh, sweet..aduuh… >.<
    sejauh mataku memandang, aku gak nemu sesuatu yang gak beres dalam ffmu ini, Nia. Alurnya santai, bahasanya cakep *?*. Kece lah..😉

    keep writing yaah, Nia! Good luck!!!😀

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Hehehe:D makasih yaaa:D kece kayak Taemin juga yaa(?)
      Heheh:D makasih yaa:D

  3. manissss ceritanya~
    a-yo! banyak-banyak senyum lee taemin~ ga senyum aja udah mempesona, apalagi banyak senyum?😄
    jadi idol sama jadi fans sama-sama susah ._. *eh
    hahahahaha

  4. mau dong klo event WFT hadiahnya jalan2 ke seoul sama nonton konser shinee!!! *ditabok lana*😆

    aku punya nilai plus dan minus di ff ini..
    dari plusnya dulu yaaa..🙂

    pesannya bagus.🙂 seorang idola, dia memang bersinar seperti bintang, tapi tanpa kehadiran fans, dia akan kehilangan cahayanya perlahan kemudian jatuh. aku suka koneksi antara taemin yang sepuluh tahun lalu sebagai fans dengan taemin yang sekarang.. aku suka bagaimana kamu bikin taemin belajar dari perasaannya sendiri dan haeri berperan dalam hal ini, menyampaikan perasaannya lewat tulisan.

    minus, well, kita sebut aja kekurangan..🙂

    aku gak merasa greget bacanya. cara penyampaiannya masih terasa datar. seperti bagian interaksi di wawancara itu, banyak yang akhirnya kubaca sambil lalu karena menjenuhkan. kalau boleh aku kasih saran, kamu bisa meng-cut bagian2 yang gak penting itu supaya pembaca bisa langsung straight to the poin. ff ini punya pesan yang bagus, jadi sangat sayang banget feel-nya itu berkurang karena bagian2 yang justru bikin muter2.

    dari segi penulisan, well, ff ini cukup rapi kok. aku gak akan banyak komentar. ada beberapa hal umum aja yang bisa lebih diperhatiin:
    – kata depan “di” dan “ke” yang disusul keterangan tempat, ditulis terpisah. c/: ke arah, di atas, di panggung, dll.
    – kata asing berbahasa korea juga diitalic seperti yang kamu lakukan pada bahasa inggris.
    – kalimat langsung yang diikuti “kata”, “ucap”, “bisik” ditutup dengan tanda , (koma) sebelum petik. c/: “Gomawo,” bisik Taemin pelan.
    – Kalau bisa, dihindari penggunaan kalimat langsung yang diucapkan oleh orang yang berbeda dalam satu paragraf. Lebih baik dipisah agar tidak membingungkan.
    – Hindari penggunaan double titik. Kalau memang percakapannya terpotong, titiknya 3, bukan 2.

    keep writing, good luck🙂

    1. Makasih ya udah mau mampir dan kasih komentar:D
      Sebenernya waktu pembuatan, rasanya juga masih kurang gitu srek sama bagian wawancara itu.. Banyak yang akhirnya di rombak ulang di sana-sini.. Setelah aku rasa bisa dibiilang ‘better’ untuk dibaca dari naskah pertama yang aku buat, aku langsung kirim… Jadi maaf ya kalo hasilnya kurang memuaskan U,u
      Tapi makasih ya atas saran-masukan dan juga kritikannya~ hehee:D

  5. Nice story..aku juga sempet berfikir..gimana kalau idola yg selama ini kita liat dikamera ternyata berbeda dgn sifat aslinya.. Haha good job! Keep writing ^^

  6. nih cerita menyelipkan sesuatu ya. emang capek jadi fans, lebih capek lagi jadi idol. gimana dong biar nggak capek?
    kurang greget dan kurang feel sih buat aku. tapi sebenernya ceritanya bagus, kok. malahan cerita ini aku kira mereka akan jadi pasangan gtu. habis genrenya romance, kan?
    keep writing!!

    1. Makasih ya udah mau baca dan kasih komentar:D
      Biar nggak capek.. Gimana yaa? Mungkin ada baiknya kita nikmati ajaa(?) Hehehe:D
      Maaf ya kalo ceritanya kurang memuaskan.. Iya, aku masukin genre romance soalnya si Hae Ri nya itu kan suka sama Taemin, maksudnya suka sebagai fans gitu.. Hehehe:D
      Makasih yaa:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s