[WFT B] Return [1.2]

Tittle                   : Return

Author                : Lee Hana

Main cast            : Lee Taemin and Kim Jangeun

Support cast       : Park Chanyeol

Genre                 : Hurt, Supernatural, Tragedy and Romance

Length                : Two Shot

Rating                 : PG

“… aku akan merengek pada Tuhan agar hidupmu selalu dibubuhi senyuman, seperti Jangeun yang selalu aku lihat diam-diam ….”

*Return*

Pagi ini tentu aku pergi ke sekolah lagi. Ini memang cukup membuatku bosan, tentu saja, sudah hampir sebelas tahun aku melakukan hal yang sama hampir di setiap pagiku. Aku berjalan melewati gerbang, bersama beberapa orang temanku yang aku temui di jalan menuju sekolah. Aku bersenda gurau sambil tertawa riang, di sana pula aku menangkap dua pasang mata tengah menatapku dengan senyum kecilnya, serta wajah sendunya. Tetapi aku berlalu tanpa senyum, aku tidak menghiraukannya. Aku pikir dia melihatku karena aku tampan. Tapi, “yah, memang aku tampan,” pikirku saat itu. Dan itu bukan hal baru bagiku.

Gadis itu, aku sering melihatnya. Meski aku tidak pernah berbicara padanya, tapi mata ini terkadang menatap dan memperhatikannya. Memperhatikan wajahnya yang selalu sedih dan muram. Tapi aku tidak mau berpikir apapun. “Kenapa aku harus peduli? Itu masalahnya,” gumamku ketika melihat orang seperti dia.

Saat ini bel istirahat telah berbunyi. Aku dan beberapa kawan pergi bersama-sama menuju kantin, karena itu memang kebiasaan kami. Tapi perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena aku bertabrakkan dengan seseorang, mungkin tepatnya dia yang menabrakku. Itu memang salahnya, siapa suruh berjalan dengan kepala tertunduk. Itu kebiasaan buruk. Kebiasaan gadis yang melihatku dengan senyum kecilnya di gerbang sekolah.

Buku-buku yang saat itu ia bawa jatuh berserakkan di bawah kakiku. Ia mengangkat kepalanya dan melihatku, namun ia kembali tertunduk dan meminta maaf. Setelah itu  ia menekuk kedua lututnya—berjongkok—untuk mengambil buku-bukunya. Aku bahkan belum memberikan jawaban, kenapa ia mengacuhkanku? Itu membuatku kesal dan tersenyum sinis. Aku melangkahkan satu kakiku, dan dengan sengaja menginjak sebuah buku tebal berwarna biru di hadapannya. Dan itu membuatnya kembali melihatku.

“Kamu tidak punya mata?! Untuk apa minta maaf? Itu tidak berharga dan tidak berguna untukku. Jika itu  bisa menyelesaikan masalah, untuk apa ada polisi dan pengadilan?” ucapku sinis dengan mata menatap tajam, sedangkan teman-teman yang berada di sampingku hanya menertawainya, dan itu membuatku senang.

Ketika aku mulai bicara, di saat itu semua orang yang berada di sana memperhatikan kami. “Bukankah ini sebuah pemandangan yang sangat menarik?” gumamku dalam hati. Dan meskipun kata-kata tajam itu aku lontarkan padanya, sedetik kemudian ia mengatakannya kembali dengan kepalanya yang tertunduk kembali, namun itu efektif untuk membuatku mengangkat kaki. Karena itu ia mengambil bukunya dan mengusap-usapnya dengan telapak tangannya yang kasar, lalu segera berdiri dengan setumpuk buku dalam pelukannya.

“Dasar bodoh!” makiku kesal, kemudian pergi dengan mengadu bahuku yang besar dengan bahunya yang lemah, membuatnya terjatuh, namun ia masih menggenggam erat buku-bukunya.

Saat itu aku memang sudah gila. Rasa empatiku telah hilang, tetapi aku tidak merasakan ataupun menyadarinya, karena kesombongan kini telah meracuniku.

Hidupku ini penuh dengan kebahagiaan, bahkan sejak aku lahir. Aku terlahir dengan seluruh kasih sayang dari kedua orang tuaku, tubuh yang sempurna, bahkan lebih sempurna dari kebanyakan orang, tentu karena ketampanan yang Tuhan berikan padaku. Bahkan keluargaku adalah keluarga yang cukup kaya dan terpandang. Bukankah itu kebahagian yang begitu lengkap?

Waktu berjalan sangat lambat, bahkan hingga aku tidak dapat merasakan perubahan pada diriku sendiri. Dan tanpa sadar kini aku menjadi seseorang yang berbeda. Sungguh jauh berbeda.

Pagi ini aku kembali bangun. Meski mata ini terbuka, tapi kegelapan masih kulihat, namun sesuatu yang berada di sekitarku masih bisa kulihat meski remang-remang, mungkin karena sekarang sudah pagi. Kegelapan ini sesaat membuatku tak sadar, bahwa saat ini aku berada di tempat yang berbeda.

Aku menyambar sebuah jam beker di atas meja di samping kasur yang aku duduki. Aku lihat sekarang pukul empat. “Jam empat?!!” pekikku. Aku sangat terkejut. Tentu, ini bukan kebiasaanku. Aku tidak pernah bangun sepagi ini, apalagi tanpa suara nyaring jam beker.

Waktu yang terlalu pagi bagiku, membuatku kembali menaruh tubuhku ke kasur, tetapi aku tidak bisa kembali tertidur. Karena itu aku berjalan untuk menyalakan lampu. Cahaya kini telah memenuhi kamar ini—menelan kegelapan yang sejak tadi menutupi pandanganku—membuatku dapat melihat dengan jelas. Meskipun tidak begitu terang, karena hanya sebuah bohlam kecil yang terpasang di langit-langit kamar  ini.

 Tetapi …. Tetapi keanehan terjadi. Ketika cahaya memperjelas letak dan ruang, mataku terbelalak dengan lebar. “Di mana ini?!!”

Aku berlari menyusuri setiap ruangan di rumah yang kecil dan sempit ini dengan penuh kepanikan. Tempat ini benar-benar asing. Bahkan di sini tidak ada siapapun kecuali aku. Di sini benar-benar sepi dan suram. Terlintas di pikiranku bahwa aku diculik. Tetapi ini terlalu normal dengan keadaan yang begitu membahayakan. Bahkan tidak ada satupun pintu yang terkunci dari luar.

Aku kembali menuju kamar tempat aku terbangun. Di sana aku melihat sesosok gadis terpantul dari cermin ketika tak sengaja aku berjalan melewati sebuah cermin persegi panjang. Aku terdiam beberapa saat di samping cermin itu dengan jantung yang mulai berdegup cepat. Badanku mengaku. Aku takut, dan aku merasa ganjil. Karena itulah, aku memundurkan langkah dan berdiri di depan cermin tersebut. Di sana, aku melihat tubuhku. Tapi ini bukan tubuhku. Cermin itu tidak salah, tidak pula penglihatanku. Aku bahkan bisa merasakannya ketika aku merabanya. “Aku benar-benar wanita?” gumamku lemah.

Seketika semua kegilaan ini membuat sekujur tubuhku lemas dan  membuatku terjatuh dan terduduk lesu di hadapan sang cermin—masih lekat menatap wajah ini—masih dengan cara seorang laki-laki duduk. Kepalaku berpikir keras, dan aku kembali menyadari sesuatu setelah sekian lama terdiam dan merasakan ketegangan karena ketakutanku. “Wajah ini! Dia?!” ujarku kembali terkejut, entah sudah keberapa kalinya. Wajah  ini tidak asing, satu-satunya yang tidak asing di sini. Wajah dengan mata yang sering menatapku dengan senyum kecilnya, serta ekspesinya yang membuatku tidak suka.

Aku segera beranjak dan kembali menuju tempat tidurnya. Di sana aku melihat sebuah amplop usang tergeletak pada sebuah meja kecil di mana aku ambil sebuah jam beker tadi. Sebuah amplop yang tidak kusadari keberadaannya karena rasa terkejutku yang begitu hebat. Di dalam amplop tersebut, terdapat sebuah surat yang membuatku terbelalak, membuat jantungku berdegup sangat cepat, serasa ingin jatuh dari tempatnya.

 

Kamu sudah membuatnya menderita. Dan sekarang, kamulah yang harus merasakan penderitaannya . . . . . .

 

Sebuah isi surat yang pendek, tetapi cukup untuk membuatku benar-benar ingin mati. “Menjadi perempuan? Apa ini lelucon? Kembalikan aku! Aku hanya sedikit berlaku kasar,” gumamku, kemudian menangis sendirian.

Pikiranku berkecamuk. ‘Apa aku akan seperti ini selamanya?’ pertanyaan macam itulah yang terus berkecamuk dalam pikiranku. Menakut-nakutiku dan menghantuiku, seakan ada sebuah pecut yang menyambuk hatiku berkali-kali. Kucoba menenangkan diriku dalam keadaan seperti ini. Emosi yang terkuras, membuatku menjadi lemah.

Menyesal, kata-kata itu selalu muncul di kepalaku ketika aku menyadari bahwa aku berada di tubuh wanita ini. ‘Tubuhku? Bagaimana dengan aku?’ tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku, membuatku sontak berlari keluar rumah. Di sana aku melihat sebuah sepeda tersandar pada rumah kecil ini, sepeda yang setiap hari membawanya ke sekolah.

Aku menaiki sepeda tersebut, mengayuhnya dengan kencang. Aku tidak tahu di mana ini, karena itu aku hanya mengendarainya tanpa tahu arah hingga aku bisa menemukan jalan yang aku kenal.

Matahari sudah bersinar cukup terik, meski saat ini belum begitu siang. Tapi itu cukup untuk membuatku merasakan panasnya. Di saat ini aku sudah sampai  di depan rumahku—tentu rumah kedua orang tuaku yang asli—dengan penampilan yang acak-acakkan. Aku sama sekali tidak teringat dengan hal-hal seperti itu, tidak seperti aku yang biasanya yang selalu memperhatikan penampilan. Bagiku penampilan adalah hal nomer satu, tetapi di saat seperti ini, itu sangat tidak berguna. Well, sangat tidak berguna.

Aku masuki gerbang itu dengan semauku, tentu saja Yooseong Ahjussi, satpam paruh baya yang bertugas menjaga rumahku manghadangku. Bagaimana tidak? Ini bukan tubuhku, tentu saja dia tidak mengenaliku. Sungguh aku belum terbiasa, atau aku terlalu bodoh untuk mengatakan aku adalah Taemin, anak dari pemilik rumah ini dengan bodohnya. Tetapi itulah yang aku lakukan. Orang itu menyeretku keluar dengan kata-kata kasar dari mulutnya. Itu ia lakukan karena tingkahku yang tidak sopan.

“Bagaimana keadaanku?” tanyaku, tidak peduli aku terlihat seperti orang gila di hadapannya.

“Keadaan jiwamu buruk. Pergilah ke rumah sakit jiwa!”

“Taemin! Keadaannya!” bentakku kesal.

“Bagaimana kamu tahu?!” tanyanya terkejut.

“Benar terjadi sesuatu padaku?! Bagaimana keadaanku?” tanyaku panik, tetapi satpam itu mengernyit. “Taemin! Lee Taemin,” teriakku lagi kesal.

“Pagi ini ia tidak bangun-bangun dari tidurnya. Karena itu, tadi Tuan dan Nyonya Lee mengantarkannya ke rumah sakit.”

Aku tersentak. Merasa seperti ada sesuatu yang menembus jantungku dengan cepat dan membuat jantungku berhenti beberapa saat. Aku terguncang dan mematung. Benar-benar tak bergerak, bahkan berkedip.

Terdengar sebuh deru mobil dengan suara yang begitu familiar. Aku tahu mobil siapa itu. “Appa!” ujarku semangat, sedang senyum merekah mulai tergurat bebas pada mimikku. Pintu gerbang terbuka lebar, dan mobil itu pun masuk, tetapi mata ini terus berbinar dan tak lepas menatapinya. Aku pun tidak mau melewatkan peluang itu dan berusaha kembali menerobos, namun dengan gesit Yooseong Ahjussi memegang lenganku kuat, menahanku hingga gerbang besar itu tertutup kembali secara otomatis.

“Sial! Tubuh ini begitu lemah,” umpatku. Ini membuatku sangat emosi, bahkan wajahku berubah merah. Ini bukan gayaku. Ini benar-benar tidak keren.  Aku bahkan harus mengeluarkan banyak tenaga untuk masuk ke dalam rumahku, meski berakhir nihil.

Memohon? Apa aku harus memohon? Tidak, itu membuatku murahan. Yang saat itu terlintas di pikiranku hanya berteriak, karena itu aku berteriak—sekeras mungkin—memanggil Appa.  Tak lama ia keluar dari rumah dengan sebuah tas besar yang ia bawa lalu ia memperhatikanku, sedang orang di sampingku terus saja berusaha membungkamkan mulutku, tetapi aku lebih keras kepala darinya. Semua orang tahu itu. Tetapi apa yang dilakukan Ahjussi tak berguna karena Appa kini sudah berada di hadapan kami. I’m the winner.

“Ada apa?” tanya Appa dengan pandangan penasaran.

“Appa,”  ujarku pelan dengan senyum merekah lebar. Aku benar-benar senang ia menghampiriku.

“Ini Tuan, anak ini ingin menerobos masuk,” ujar Ahjussi kembali membuatku kesal. Kata-katanya memang tidak salah. Tetapi entah kenapa, mendengar suaranya saja membuatku kesal. Sungguh! Aku benar-benar marah, karena membuatku menjadi orang yang begitu memalukan di hadapan orang tua sendiri.

“Kenapa harus menahannya? Biarkan saja dia masuk! Dia adalah tamu, perlakukan tamu dengan baik!” Kata-kata bijak itu keluar dari mulut Appa, membuatku bangga menjadi anaknya. Ya, memang Appa adalah orang yang sangat baik hati, dan sikap yang ia perlihatkan justru membuatku bingung terhadap diri sendiri. Kenapa aku bisa seburuk ini?

“Baik Tuan,” jawab Yooseong Ahjussi patuh, kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Sedangkan aku menyeringai ke arahnya karena masih kesal dengan apa yang ia lakukan padaku.

“Apa yang membuat Adik kemari? Sepertinya sangat penting,” tanya Appa sopan.

“Aku ingin tahu keadaan Taemin.”

Mendengar permintaanku itu, membuat Appa menghela napasnya dan terlihat sedih. Melihat ekspresi Appa membuatku khawatir dan tidak tenang. Apa sesuatu benar-benar terjadi padaku?

“Dia koma. Sejak kemarin ia terus tertidur dan tidak bisa bangun, tetapi sama sekali belum ada kejelasan apapun tentang penyakitnya,” sungguh kata-kata itu membuatku jantungku serasa remuk. Berbagai pertanyaan kembali muncul dan berkecamuk di kepalaku, membuatku hampir gila. “Kamu tahu dari mana Taemin sakit?”

Aku yang tenggelam dalam pikiranku, kembali tersadar. Namun aku kembali berpikir untuk sesaat. “Kemarin di sekolah, dia bilang dia kurang enak badan. Karena itu saya kemari, saya ingin tahu keadaannya sekarang,” ujarku bohong, tetapi Appa terlihat percaya.

“Kamu tidak sekolah hari ini?”

“Apa?” Aku benar-benar lupa hari ini aku harus sekolah. “ Seorngsaengnim-seorngsaengnim sedang rapat, jadi hari ini diliburkan,” ujarku kembali bohong. Ini membuatku tidak nyaman. Aku memang sering berkata kasar, tetapi berbohong pada orang yang paling aku hormati di seluruh dunia ini? Itu sungguh bukan gayaku.

 “Aku—aku tahu apa penyebab Taemin koma. Itu terdengar gila, tetapi apa anda bisa mempercayainya?” tanyaku dengan penuh harap dan kecemasan yang bercampur.

“Apa? Aku akan mencoba mempercayainya. Tolong katakan!”

“Itu karena, saat ini jiwa Taemin tidak ada di tubuhnya,” jawabku mantap.

“Apa?! Lalu sekarang di mana jiwanya?”

“Di tubuh ini.”  Itu jawabanku. Itu terdengar benar-benar gila, karena itu Appa mengernyit. Bahkan jika Appa tidak percaya, itu mungkin yang akan terjadi. Meski begitu aku kembali berbicara, kembali mencoba meyakinkan appa-ku. “Aku Taemin, Appa!” ujarku dengan penuh dengan penekanan. Tergurat jelas bahwa aku benar-benar serius dengan ucapanku. Tetapi seberapapun bahasa tubuhku menyokong kejujuranku, tetapi saja, ini terdengar begitu drama.

“Aku tahu kamu ingin membuat saya tenang, tapi tolong jangan berbohong! Maaf, saya harus pergi sekarang.” Appa pamit, kemudian pergi dengan mobilnya. Tidak seperti aku yang biasanya, kini aku menyerah meyakinkannya begitu saja. Bagiku ini terlalu sulit, dan aku tidak mau dianggap sebagai orang gila di hadapan orang tuaku sendiri.

Aku kembali menuju rumah kecil itu dengan mengayuh sepedanya kembali. Aku benar-benar bingung dan sedih, tetapi kenyataan aneh dan menyedihkan ini memang terjadi padaku. Aku masuk ke dalamnya dengan wajah muram, dan melihat seorang wanita tengah berdiri dengan congkak seraya melipat tangan di atas dadanya. Ia menghampiriku dengan pandangannya yang benar-benar membuatku sedikit takut.

“Kenapa belum memasak? Apa kamu sudah lelah aku suruh bekerja di rumah? Jadi kamu mau menggantikanku bekerja di bar?”

Aku terdiam dan tertunduk. Kenapa aku? Aku sekarang mirip dengannya. Aku menunduk sepertinya. Apa aku benar-benar akan menjadi sepertinya? Sungguh, ini membuatku takut. Sebenarnya siapa wanita ini?

“Diam. Tetaplah seperti itu. Dan mulai memasak!!” bentak wanita itu pada akhirnya dengan mata melotot tajam ke arahku, seakan bisa melakukan hal buruk padaku dengan mudahnya.

____

Aku sekarang benar-benar seorang pesuruh, karena itu aku turuti semua yang ia katakan sekalipun aku tak mengerti bagaimana melakukan semua pekerjaan yang ia perintahkan. Karena itu aku merasa sedih, bukan karena semua pekerjaan menyedihkan yang sudah aku lakukan, tapi karena aku telah berubah, berubah menjadi begitu menyedihkan dalam semalam. Bukankah itu benar-benar menyedihkan? Apa aku lebih menyedihkan dari gadis korek api dalam cerita anak-anak? Setidaknya aku tidak perlu kedinginan di malam bersalju. Tentu, di sini tidak ada salju. Jika tuhan menurunkan salju pada musim ini, maka di saat itu juga aku akan berubah menjadi gadis korek api.

Aku masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan lelah, benar-benar lelah. Biasanya, jika ada yang memintaku memilih pergi dengan teman-temanku dan tidur, aku pasti memilih pergi. Tapi tidak sekarang, aku akan tidur seharian, itu yang begitu ingin aku lakukan, aku benar-benar butuh itu.

Tiba-tiba mata ini secara tidak sengaja menangkap sebuah tas di atas meja belajarnya. Sekolah? Ya. tentu aku harus sekolah besok. Tentu, itu akan menghidarkanku dengan wanita yang selalu menyuruhku.

Aku beranjak untuk mengambil tas itu dan membukanya. Aku lihat buku-buku itu satu persatu. Buku yang sangat banyak. Untuk apa ia membawa sebanyak ini? Dasar kerajinan. Tiba-tiba aku mengambil sebuah buku yang aku kenal. Bagaimana tidak? Buku itu adalah salah satu korban dari kakiku. Bahkan bekasnya pun belum hilang. Aku tersenyum, kemudian membukanya.

“Jangeun? Itu namamu?” Aku baca kembali halaman selanjutnya. “Jadi ini buku Diary. Dasar perempuan. Aku rasa aku bisa membacanya,” ujarku sambil tersenyum jahil.

                                                                                                                                                                                                                                       12-05-2013

Sekarang aku sudah kelas dua. Tahun lalu aku tidak sekelas dengannya, aku harap kita bisa satu kelas tahun ini. Jadi aku bisa sering melihatnya. Dan di hari ini pun kehidupanku belum berubah. Semoga besok ada perubahan. Tapi, apa mungkin dia berubah padaku?

“Siapa yang dia maksud? Apa aku kenal dengannya?”

____

Sekolah~, ini membuatku merasa normal kembali, karena inilah yang biasa aku lakukan. Aku berjalan seperti biasa, begitu percaya diri, tapi kali ini dipenuhi dengan senyum. Aku benar-benar senang. Untuk pertama kalinya aku merasa seperti diri sendiri menggunakan tubuh ini, dan itu aku rasakan hingga aku memasuki kelasku dan duduk di bangkunya. Aku merasa sangat aneh. Semua orang memandangiku hingga begitu rupa. Ah~ ya, ini bukan kelasku saat ini. Aku keluar dengan begitu malu, benar-benar memalukan, bahkan hingga wajahku memerah. Aku bahkan tidak berani melihat wajah mereka yang sedang memandangiku. “Dasar bodoh!” desisku.

Aku memasuki kelasnya. Tapi aku tidak tahu di mana kursinya, karena itu aku menunggu anak-anak itu mengisi kursi-kursi di sana, dan menyisahkan satu kursi untukku. Bagiku itu lebih baik daripada bertanya dan terlihat bodoh.

Beberapa lama kutunggu, akhirnya sebuah kursi kosong terlihat di pojok belakang kelas. Di situkah kursinya? Atau mereka sengaja menyisakannya untukku? Itu memang pikiran yang buruk, karena itu aku hanya menghela ketika mendudukinya. Aku merasa seperti anak buangan, atau memang dia anak buangan? Di sana tidak ada yang memperhatikan aku. Tentu saja, tidak mungkin orang akan memutar kepala ke belakang hanya untuk melihat sesuatu yang tidak menarik. Dia sama sekali tidak menarik, karena dia selalu suram.

Aktifitas sekolah berjalan seperti biasa, justru aku melihat diriku sendiri aneh di sana. Berada di sana benar-benar membuatku mengantuk. Menguap, itulah yang kulakukan ketika mendengar Seongsaengnim menerangkan pelajaran. Jika aku tidur, mereka juga tidak akan memperhatikannya, itu yang ada dipikiranku, karena itu aku mulai menyandarkan kepalaku di tembok, kemudian mulai menutup mata.

“Jangeun-ah,” panggil Seongsaengnim padaku, tapi aku tidak menjawab dan tetap menutup mataku. “Jangeun-ah,” panggilnya lagi. Tetap tak ada jawaban. “Jangeun-ah!” Ini ketiga kalinya dan kali ini dengan tepukkan pada pundaknya yang membuatku tersentak dan segera membuka mata. Aku menoleh ke arah sang guru. “Jangeun-ah, kamu sakit?”

“Hah?” Aku kembali terlupa bahwa aku kini berada di tubuh gadis ini. Gadis yang bernama Jangeun. “Aniyo, Goo Seongseng.”

“Apa kamu bisa mengerjakan soal di depan?”

Ya, gadis ini memang pintar, aku lihat buku-buku pelajarannya, tidak pernah sekalipun ia mendapatkan nilai yang rendah. Aku harap kemampuannya juga ada padaku, tapi aku sama sekali tidak tahu jawaban dari soal matematika yang tertulis di depan kelas.

“Aku tidak bisa,” itu jawabanku, tetapi jawaban itu membuat semua orang menatapku dengan ekspresi bingung, membuatku sama-sama bingung. “Memang kenapa?” tanyanyaku pada diri sendiri.

“Arraseoyo,” jawab Seongsaengnim kemudian pergi dalam keadaan bingung.

____

Aku celingukan seperti orang bodoh ketika tersadar aku sudah berada di taman belakang sekolah. Kaki ini yang menuntunku, mungkin kaki ini telah terbiasa kemari. Sungguh aku belum pernah kemari dan aku benar-benar bingung. Tiba-tiba mata ini menatap sebuah bangku panjang kosong di bawah sebuah pohon besar, dan aku pun menududukinya.

“Jadi ini tempat duduknya?” ujarku sambil memegang kursi panjang ini. “Pantas aku tidak pernah melihatnya di kantin. Tapi apa yang ia lakukan di sini? Di sini sangat sepi. Ya, tentu, benar-benar Jangeun,” gumamku lagi seraya memandang sekitar dan melihat-lihat.

Aku bersandar, memejamkan mataku, dan aku benar-benar butuh ketenangan sekarang. Otakku terasa penuh. Tiba-tiba kursi ini sedikit bergoyang membuatku mau tidak mau membuka mataku, dan melihat seorang anak laki-laki tengah duduk di sampingku sambil tersenyum padaku dengan senyum manisnya. Aku mengernyit, dan kembali berpikir dalam diamku. Ya, aku memilih diam karena aku tak mengenal orang ini, tetapi bahkan waktu berlalu beberapa lama ia tetap tidak berbicara. Hanya duduk diam seperti orang bodoh dan tak melakukan apapun.

“Yah, apa yang kamu lakukan di sini?” Bukankah itu pertanyaan yang sangat sederhana? Tetapi ia terlihat begitu senang.

“Untuk pertama kalinya kamu bertanya padaku. Dan untuk pertama kalinya, kamu berbicara lebih dahulu. Aku sangat senang,” ujarnya dengan secercah senyuman hingga aku tersenyum bingung.

“Apa gadis ini selalu diam?” gumamku kesal.

“Kamu diam setiap saat,” jawabnya dengan senyum yang masih belum lepas dari wajah imutnya.

Apa? “Cih!”

“Kamu selalu membaca buku, karena itu kamu selalu diam. Kamu sangat suka membaca, bahkan ketika aku berbicara padamu, kamu pun membaca. Karena itu aku hanya duduk untuk menemanimu.”

Aku melihatnya. Melihat rasa sukanya pada gadis ini. “Kamu menyukai …,” ujarku kemudian menunjuk tubuh ini. Wow, ia berhenti tersenyum. Ia benar-benar … ? Gadis ini ada yang menyukai?

Laki-laki itu terlihat gugup dan malu. Ia memberanikan dirinya untuk mengatakan sebuah kata “Ne.” Sungguh kata yang singkat, namun diucapkan dengan penuh keyakinan.

Aku mengangguk dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, kemudian tertawa.

“Apa itu lucu? Tapi tidak apa-apa. Aku sangat senang melihatmu tertawa. Ini pertama kalinya, bahkan aku tidak pernah melihatmu tersenyum.”

Kata-kata itu, sungguh membuatku bergetar dan dalam sekejap menghentikan tawaku. Membuatku menatap orang di sampingku dengan tatapan tak percaya untuk beberapa saat. “Sebenarnya apa yang kamu sukai dari gadis ini?”

“Berhentilah berkata gadis ini! Ini dirimu.” Aku mengangguk pelan sambil berpikir. “Aku suka kamu yang pintar, kamu selalu bisa menjawab pertanyaan dari Seongsaengnim dengan baik dan sempurna. Di saat seperti itu aku pertama kali menyukaimu. Dan ketika kamu diam, kamu terlihat cool, tapi sekarang pemikiranku berubah, aku suka melihatmu yang sedang tersenyum, karena itu membuatmu terlihat hidup.”

Aku tertegun, dan kembali terdiam beberapa saat, kemudian mendesah pelan. “Yah, aku memang terlihat seperti mayat hidup.”

“Ah, Aniyo! Jangan tersinggung! Jeongmal mianhae!”

“Ani. Aku tahu, ketika aku melihat diri ini, aku bahkan tidak menyukainya. A, ne! Apa kamu beda kelas denganku?”

“Kamu bahkan tidak ingat teman-temanmu satu kelasmu? Bahkan aku juga?!” tanyanya kecewa.

“Ani?” Jadi siapa laki-laki itu?

____

Kubuka mataku perlahan. Gelap? Apa sekarang sudah pagi? Sepertinya aku masih di sini. Aku sambar sebuah jam beker di atas meja namun kegelapan membutakanku akan sesuatu yang jatuh. Jam sepuluh malam. Kemudian beranjak dan menyalakan lampu, kembali berjalan menuju tempat tidur. Di sana, di bawah tempat tidur kulihat sebuah buku tergeletak begitu saja dalam posisi terbuka. Aku ambil buku itu, kemudian duduk dan membacanya. Halaman terakhir dari curahan hatinya, yang di tulis di buku diary ini.

                                                                                                   18-07-2013

 

Appa! Aku rindu padamu, benar-benar rindu. Apa jika aku mengikutimu kamu akan marah? Aku ingin hidup bahagia bersamamu di surga. Aku, sudah cukup sedih. Aku, sudah cukup menderita hari ini. Aku sudah tidak sanggup menunggu kebahagiaan itu datang menghampiriku. Maafkan aku.

 

Aku harap Ibu bisa hidup bahagia tanpa aku, bisa hidup dengan cara yang lebih baik. Dan anak itu, aku harap dia bisa menjadi orang yang jauh lebih baik. Aku harap dia berubah, berubah menjadi saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia yang begitu baik. Aku tidak mau melihatnya melukai orang lain, seperti dia melukai hatiku yang sudah hancur ini. Semuanya, maafkan aku. selamat tinggal ….

 

“Apa?!” Aku begitu terkejut hingga jantungku benar-benar berdebar dengan keras, hingga aku bahkan bias mendengarnya jelas. Tubuhku menjadi dingin, dan tanganku bergetar. Ini benar-benar membuatku ketakutan.

“Bunuh diri? Apa dia mau bunuh diri?! Aniyo. Dia pasti sudah bunuh diri. Dia benar-benar gila. Surat ini dibuat sehari sebelum aku berada di dalam tubuh ini,” ujarku sambil berpikir keras, namun jantung ini masih berdebar. Ya, aku menyentuh dadaku. Dan ini benar-benar mengerikan.

Aku semakin penasaran, karena itu aku baca kembali buku itu.

                                                                                         17-07-2013

Appa! Malam ini aku memimpikan Appa lagi. Mungkin karena aku terlalu rindu padamu. Appa! Aku kembali bertabrakkan lagi dengannya setelah enam tahun yang lalu. Tapi kali ini berbeda, dia sudah berubah. Dia memakiku kali ini, bukan sebuah kata maaf lagi, bukan sikap yang hangat lagi. Senyumannya sudah berubah. Dia membuatku sedih, sangat sedih. Aku harap aku berhenti menyukainya. Aku harap aku bisa melupakannya, selamanya...

Aku membatu dengan mata berlinang. Aku mulai menangis dan menjatuhkan butir demi butir penyesalanku. Aku—akku sungguh menyesal! Aku? Jadi yang ia suka adalah aku? Dia sudah menyukaiku selama itu.  Mustahil!

“Jangeun? Jadi kamu Jangeun? Kamu Jangeun yang waktu itu? Cinta pertamaku,” lirihku lemah lalu memeluk buku itu dengan erat dalam tundukkan yang dalam. Aku menangis. Aku menangis dan mulai terisak. Aku menepuk dadaku dengan keras. Aku menepuknya karena di situ terasa sakit, sakit sekali, serasa diremas. Aku ingin berteriak. Aku benar-benar ingin berteriak sekarang juga.

“Mian. Mian. Minhaeyo. Jeongmal Mianhaeyo …, Jangeun-ssi!” ujarku dalam tangisku. Aku menyesal, sangat menyesal hingga serasa hampir mati.

To be continued ….

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “[WFT B] Return [1.2]

    1. thx. kyaknya aku malah udah komentar dan baca ff kamu deh. yang Taemin jadi detektif cilik. bener, kan? #hehehe

  1. aaah, si Taemin tukeran tubuh sama Jangeun gitu ya? Trus, jiwa Jangeun sekarang di mana dong? ._.
    Perasaan menyesalnya Taemin dapet banget. Suka…😀
    Lanjut ke part 2 yaa😀

    1. em… mungkin nggak bisa dibilang tukeran kali, ya. kan, jangeun udah bunuh diri, jadi tu tubuh dah nggak berjiwa, makanya diisi sama Taemin. wah, makasih dhila mau mampir ya

  2. pas awal ceritra agak rancu.. sedikit ga bisa ngerti, kenapa taemin ga suka sama tu cewek??
    yahh ceweknya udah mati? kirain masih koma, karena tukeran sama Taemin, klo gitu tubuh taemin juga udah mati donk, ga ada arwahnya???

    ceritanya baguuussssss. !!! next chap puliisss!!!

    1. tubuh Taemin malah yang koma. ya, emang rada nggak nyambung ya? aslinya ini sequel, tapi jadi nggak terlalu banyak penjelasan karena harus di press begini. #hehehe sorry!
      tapi pada akhirnya ngerti, kan kenapa Taemin nggak suka sama dia?
      thx, ya dah mampir, yeoseok!

    1. yah, emang dasar Hana suka cerita model niginian. mungkin itu feel yang paling mudha Hana daper, sedangkan fluff adalah feel yang [aling sulit Hana dapetin. #Hana payah.
      wah makasih dah mampir, ya, sesil.

  3. komentar OOT dulu ya… itu pake tanggal lahir akuuuuuuuuuu~~😆

    wokeh, sekarang komentar benerannya..
    ceritanya menarik sebenernya.. masalah tuker2an jiwa ini emang udah cukup sering yang bikin, malah dramanya aja ada.. tapi karena tiap cerita punya latar belakang yang beda, jadi masing2 punya daya tarik sendiri.. karena ini baru part 1, aku gak mau berkomentar banyak soal ceritanya, nungguin part 2 aja untuk banyak bagian yang terasa bolong..

    dari segi penulisan, ini rapi😉 itu poin plusnya..
    nah, sayangnya, kuperhatikan, bahkan tanpa perlu bersusah payah memperhatikan karena langsung berasa sendiri.. kamu sering banget pakai kata “ini” dan “itu”.. well, kedua kata itu memang wajar digunakan dalam kalimat, tapi kalau hampir setiap kalimat punya “ini” atau “itu” bahkan sampai lebih dari sekali, akhirnya berasa janggal juga bacanya.🙄

    kedua, biarpun diksi kamu udah cukup baik, tapi penggunaan kalimat masih banyak yang gak efektif dan malah muter2. Jadi, membingungkan kalau menurutku.
    aku kasih beberapa contoh, ya: (yang di dalam kurung, yang aku coba perbaiki sedikit supaya jadi lebih wajar)
    – Dan meskipun kata-kata tajam itu aku lontarkan padanya, sedetik kemudian ia mengatakannya kembali dengan kepalanya yang tertunduk kembali, namun itu efektif untuk membuatku mengangkat kaki. (Meski aku melontarkan kata-kata tajam ke arahnya, ia tetap mengatakan maaf dengan kepala yang kembali tertunduk dan berhasil membuatku mengangkat kaki dari bukunya.)
    – Tetapi ini terlalu normal dengan keadaan yang begitu membahayakan. (Tetapi, keadaan ini terlalu normal untuk dibilang berbahaya.)
    – Seketika semua kegilaan ini membuat sekujur tubuhku lemas dan membuatku terjatuh dan terduduk lesu di hadapan sang cermin—masih lekat menatap wajah ini—masih dengan cara seorang laki-laki duduk. (Seketika, semua kegilaan ini membuat sekujur tubuhku lemas hingga jatuh terduduk lesu di hadapan cermin. Kutatap bayanganku, cara duduk yang sama–sebagaimana seorang laki-laki–namun dengan wajah yang berbeda.)

    maaf komentarnya panjang, aku juga masih belajar nulis sebenernya.. semangat menulis \(^o^)/

    1. yah, emang terasa rancu, ya eon. aku sebenernya udah coba peres otak untuk beberapa bagian yang aku sendiri ngerasa kurang srek, tapi berhubung aku buat ini aja udah kayak orang kebelet, akhirnya muncul hal-hal seperti Typo dan yang lainnya. mungkin hal-hal seperti itu akan lebih banyak muncul di part ke-2. aku buat ini cuma empat hari Eon.
      i’m so sorry about this!

  4. Ff lee hanna eonni lg😀
    Tetep keren (y)
    Eon, jadi si jangeun itu bunuh diri yaa?

    Ah lanjut dulu kepart dua biar gak penasaran.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s