[WFT B] Another Destiny [3.3]

Judul : Another Destiny

Author : Go Eunmi

Main cast : Lee Taemin, Lee Hyora

Support cast : Choi Minho, Kim Kibum, Kim Hyuna, Cho Hana, Go Eunmi

Length : sequel 1-3

Rating : PG-13

Genre : Romamce

 PicsArt_1373388543350

Sudah terhitung empat belas hari hubungan Taemin dan Hyora. Berita itu masih menjadi trending topic dalam urutan pertama yang dibicarakan para siswa. Tak terkecuali Hyuna, gadis itu kesal setengah mati kepada Hyora yang baru dikenal Taemin tapi telah menjadi kekasih Taemin. Hyuna tidak pernah menyerah mempengaruhi Hyora agar menjauh dari Taemin dan merusak hubungan mereka. Sekarang Hyuna melanjutkan rencananya lagi setelah dia gagal dihari-hari sebelumnya. Hyuna masuk kedalam kamar mandi bersama kedua teman-temannya. Berdiri didepan cermin dan mulai bergosip.

Aish, sulit sekali menghancurkan hubungan Taemin dengan Hyora. Rasanya aku ingin memecahkan kepala gadis itu.” Hyuna memeriksa keadaan poninya dan menyisir rambutnya.

“Kurasa Hyora memiliki jurus terjitu untuk mendapatkan Taemin. Kau hanya salah strategi saja Hyuna-ya.” Timpal satu temannya yang kini sibuk dengan matanya.

Maybe. Tapi..” Hyuna membalikan tubuhnya. “Ada satu lagi yang menjadi sainganku saat ini.” Ucap Hyuna sambil memicingkan matanya.

Nugu?” tanya kedua temannya penasaran.

“Kalian tahu Jang Minri? Kudengar dia dan Taemin pernah saling menyukai tapi sebelum mereka menyatakan cinta, mereka malah menjauh. Tapi baru saja aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Taemin dan Minri berbicara berdua di perpustakaan. Dan menurut pendengaranku mereka akan jalan berdua pulang sekolah nanti. Kurasa Taemin masih belum bisa melupakan Minri. Dan mungkin saja Hyora itu dijadikan pelarian karena Taemin sempat patah hati pada Minri dan sekarang Taemin justru dekat lagi dengan Minri.”

Kedua temannya terkejut dan saling pandang. Sedangkan Hyuna tersenyum lebar penuh kemenangan kemudian berbalik menghadap cermin lagi dan membereskan seragamnya.

“Kasihan sekali Hyora hanya dijadikan pelarian oleh Taemin.” Cibir salah satu temannya sambil bergidik ngeri sementara Hyuna hanya menyunggingkan senyum sinisnya.

Lalu mereka keluar dari kamar mandi. Tapi ketika di tikungan Hyuna tiba-tiba menarik kedua temannya untuk bersembunyi di balik dinding. Kemudian pelan-pelan mengintip di balik tembok. Kedua temannya yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti gerak-gerik Hyuna. Tidak lama kemudian Hyora keluar dari kamar mandi dengan wajah sendu dan penuh tanya. Sedangkan Hyuna tersenyum penuh kemenangan.

***

Hyora terus berpikir tentang apa yang diucapkan Hyuna di kamar mandi. Gadis itu memang suka sekali merusak hubungan mereka, tapi ucapan Hyuna tadi begitu sangat mengganggu. Dia tidak ingin percaya dengan gosip yang tidak sengaja ia dengar dari mulut Hyuna. Tapi tidak ada salahnya jika ucapan Hyuna itu di buktikan. Apalagi sejak pagi sampai waktunya pulang sekolah Taemin tidak berbicara dengannya. Ini menjadi alasan kuat untuk membuktikan ucapan Hyuna.

Hyora sengaja menguntit Taemin saat lonceng sekolah berbunyi. Dia langsung tersentak saat melihat Taemin keluar dari kelas seseorang bersama seorang gadis. Dia tidak tahu siapa gadis yang ada disamping Taemin yang sedang melempar senyum satu sama lain itu. Tapi dia yakin bahwa gadis yang bersama Taemin itu adalah Minri. Gadis yang dibicarakan Hyuna. Dia tidak ingin termakan ucapan Hyuna, tapi setelah dia melihat sendiri, dia mulai percaya dengan apa yang digosipkan Hyuna. Tanpa Taemin ketahui Hyora diam-diam mengikuti Taemin. Dan dari kejauhan Hyuna bersama kedua temannya tersenyum sinis dan merasa menang.

Taemin dan gadis itu berhenti di halte bis. Duduk berdua sambil sesekali tertawa karena Taemin mengeluarkan leluconnya. Dada Hyora sudah panas. Beberapa kali dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah merasa kesal. Rasa cemburu sudah membuncah di dalam hatinya. Pikiran buruk mulai menyelimuti pikirannya. Bahkan daun-daunpun menjadi korban karena diremas-remas Hyora dengan kesal. Hyora berdiri tegak saat Taemin memasuki bis. Giginya bergemelutuk saat tangan Taemin memegang lengan gadis itu untuk membantunya menaiki bis. Hyora panik dan mencari kendaraan disekitar, dia langsung memberhentikan taksi dan masuk kedalamnya kemudian memerintahkan supir bis itu dengan galak untuk membuntuti bis yang dinaiki Taemin.

Setelah berpacu dengan kecepatan penuh dan beradu mulut dengan supir taksi karena terlalu lelet akhirnya bis pun berhenti. Hyora segera memberikan uang dan kembali membuntuti Taemin. Mulutnya sudah memaki-maki Taemin dan ingin sekali dia mencakar-cakar wajah Taemin. Taemin dan gadis itu memasuki sebuah rumah sementara Hyora tetap di luar tidak bisa masuk. Hyora mondar-mandir di depan sebuah rumah yang Taemin masuki dengan gelisah. Dia menggigit-gigit kuku jarinya. Kakinya di hentak-hentakan keras-keras. Dia berpikir keras bagaimana caranya dia masuk. Dia tidak bisa membiarkan dirinya di luar dan membayangkan apa yang dilakukan Taemin didalam sana bersama gadis itu.

Agassi.” Hyora membalik tubuhnya dan terkejut mendapati kakek Han yang berdiri di belakagnya. Hyora mengerutkan keningnya bingung.

“Apa agassi temannya Taemin?” tebak kakek Han karena melihat Hyora memakai seragam yang sama dengan Taemin.

Ne,” Hyora mengangguk walau masih bingung.

Kakek han langsung tersenyum memperlihatkan kerutan di wajahnya. “Saya kakek Han. Saya kakek Taemin.”

“Aahh, salam kenal.” Hyora langsung menundukan kepalanya 180 derajat.

“Kenapa tidak masuk kedalam?”

Hyora menoleh ke rumah Taemin kemudian menggaruk kepalanya. “Emm, apa Taemin ada didalam?” tanya Hyora pura-pura tidak tahu.

“Biasanya Taemin sudah pulang jam segini. Mari masuk bersama kakek. Jika Taemin belum pulang kau bisa menunggu didalam.”

Hyora menyunggingkan senyumnya. Ini kesematannya untuk masuk kedalam rumah Taemin dan memergokinya secara langsung. Hyora sudah membayangkan wajah pucat pasi Taemin jika laki-lak itu melihat dirinya berada di rumahnya.

Taemin sedang menyusun buku-buku di ruang tamunya bersama Minri ketika Hyora datang bersama kakek Han. Hyora berdiri di samping kakek Han dengan angkuh merasa menang telah berhasil memergoki kekasihnya. Tapi yang ia dapati jauh dari bayangannya. Tidak ada wajah pucat pasi Taemin bahkan gadis disampingnya pun biasa-biasa saja.

“Taemin-ah, kakek kira kau belum pulang. Bagaimana bisa kau membiarkan temanmu kedinginan di luar seperti orang kebingungan.”

Cepat-cepat Hyora menoleh pada kakek Han. Sementara Taemin beranjak dari sofanya dan mendekati Hyora.

“Kenapa kau tidak masuk saja?” kening Taemin berkerut bingung. “Aku tidak tahu kau ada di luar dan kenapa kau bisa tahu rumahku?”

Awalnya Hyora yang ingin membuat Taemin tersudut tapi sekarang justru dirinyalah yang terdesak. Hyora menggaruk kepalanya. Kenapa malah jadi seperti ini. Pikir Hyora.

“Emm,” Hyora menggigit bibir bawahnya. Berpikir bagaimana cara mengatakannya pada Taemin. Hyora melirik ke arah gadis yang sedang memasukan buku-buku yang sudah Taemin susun kedalam tasnya. Saat Taemin memperhatikan Hyora tiba-tiba Taemin menemukan sebuah pemahaman.

“Kau membuntutiku ya?”

“Hah?” Hyora terkejut dan memandang Taemin.

Wae? Kau curiga padaku dan Minri? Hmm?” Hyora mendelik lalu melemparkan tatapan sinis pada Minri. Ternyata Hyuna tidak bohong. Batin Hyora. Sementara Minri berdiri dengan ekspresi wajah tidak mengerti.

Ani. Aku.. hanya kebetulan saja melihatmu dan..” Hyora kehilangan kata-kata.

“Dan kau mengikutiku sampai rumahku karena curiga padaku? Apa kau sedang cemburu padaku Lee Hyora?” Taemin mendekatkan wajahnya ke arah Hyora membuat gadis itu bergerak mundur.

“Tapi kau dengan dia..” Hyora menunjuk Minri dan Minri tersentak. “Kau..”

“Dia Jang Minri. Dia salah satu panitia pentas seni yang akan diadakan sekolah kita. Dan Minri memintaku untuk mengisi acara di pentas seni nanti. Maka dari itu aku membicarakannya dengan Minri.”

“Kenapa harus di rumahmu?” nada suara Hyora terdengar ketus.

“Agar lebih efisien dan tidak memakan waktu. Lagipula Minri itu tetanggaku.”

“Tapi.. Hyuna bilang,” hyora menggantungkan kalimatnya dan menundukan kepalanya.

“Hyuna bilang apa? dia bicara yang tidak-tidak lagi padamu? Apapun yang keluar dari mulut Hyuna itu semua kebohongan. Percaya dengan perkataan Hyuna saja sudah salah.”

Taemin begitu emosi ketika Hyora menyebut nama Hyuna. Gadis itu memang selalu berbuat onar di kehidupan Taemin. Bahkan sebelum Hyora datang dan menjadi kekasihnya.

“Taemin-ah, sepertinya aku harus pulang.” Karena situasinya sedang genting dan namanya ikut disebut-sebut Minri pamit pulang. “Hyora-ssi. Aku minta maaf jika sudah mengganggumu. Kau salah paham jika berpikir bahwa aku dengan Taemin punya hubungan istimewa.” Minri membungkukan badannya. Hyora jadi segan pada Minri dan merasa bersalah. Seharusnya dia memang tidak boleh percaya dengan apa yang dikatakan Hyuna.

Ne. Minri-ssi. Maafkan aku juga karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.” Hyora juga membungkuk sopan pada Minri.

“Oke, sudah jelas ‘kan Hyora-ya?” mata Taemin mendelik ke arah Hyora sedangkan Hyora membuang muka.

Minri sudah pamit pulang. Sekarang tinggal Hyora dan kakek Han yang duduk di ruang tamu. Hyora jadi malu sendiri pada kakek Han karena rasa cemburu butanya. Taemin tertawa-tawa sendiri karena tingkah Hyora sampai-sampai dia menumpahkan gula yang akan ia masukan kedalam gelas.

Aish, jinjja.” Saat akan dia membersihkan tumpahan gula tak sengaja tangannya menyenggol sebuah gelas dan pecah.

“Taemin-ah gwaenchana?” teriak kakek Han karena terdengar bunyi keras di dapur.

Ne, gwaenchana.” Teriak Taemin dari arah dapur.

Hyora ikut mendongak dan melihat ke arah dapur kemudian tersenyum kecil saat bertatapan dengan kakek Han.

“Taemin memang ceroboh.” Ucap kakek Han walau Hyora tidak bertanya apapun. “Jadi, kau Hyora murid baru di kelas Taemin?”

Hyora memandang kakek Han dengan aneh. Jadi, sejauh mana Taemin menceritakan dirinya pada kakek Han. “Ne.” Hyora mengangguk kecil.

“Taemin sudah cerita banyak tentangmu pada kakek.” Suara kakek Han sangat berat saat tertawa. Hyora hanya bisa mengangguk sungkan.

Hyora menjelajahkan matanya keseluruh ruangan. Banyak sekali foto-foto Taemin saat mash kecil bersama kakek Han tapi dia sama sekali tidak menemukan foto kedua orang tua Taemin. Samai akhirnya matanya tertuju pada meja kecil di sampingnya. Di atasnya ada sebuah figura berukuran sedang. Yang membuat Hyora terkejut adalah gambar yang ada di dalam foto tersebut. Dia tidak salah lihat. Matanya masih berfungsi normal. Hyora mendekat kemudian mengambil figura tersebut. Dia memandangi foto itu lekat-lekat. Ini tidak salah lagi.

“Kek, siapa yang ada di dalam foto ini?” Hyora memperlihakan figura tersebut pada kakek Han.

Kakek Han tampak tersenyum. “Mereka adalah orang tua Taemin.”

Seperti disambar petir disiang bolong. Hyora menatap foto tersebut dengan keterpanaan. Kepalanya tiba-tiba pening dan bumi seakan berputar lebih cepat. “Maksud kakek orang tua kandung Taemin?”

Ne, tapi mereka sudah meninggal saat Taemin masih bayi.”

Ini tidak mungkin. Genggaman tangan Hyora pada figura foto tersebut melemah sehingga benda itu jatuh ke lantai begitu saja. Kepala Hyora sakit dengan berbagai macam pertanyaan. Kenapa orang yang ada di dalam foto itu mirip sekali dengan kedua orang tuanya. Dan kenapa kakek Han mengatakan bahwa itu adalah orang tua Taemin. Hyora beranjak dan pergi meninggalkan ruang tamu membuat kakek Han kebingungan. Dia tidak memedulikan teriakan kakek Han.

Taemin keluar dari dapur karena mendengar suara berisik di ruang tamu. “Taemin-ah, Hyora pergi begitu saja. Kakek tidak mengerti, dia terlihat syok ketika melihat foto ayah dan ibumu.”

Taemin menoleh kearah meja kecil dan mendapati figura fotonya tergelatak di lantai. Taemin mencoba mengejar Hyora tapi gadis itu sudah jauh pergi.

***

Hyora berlari secepat mungkin meninggalkan rumah Taemin dan kakek Han. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa foto kedua orang tuanya bisa berada di rumah Taemin. Dalam bis menuju rumahnya Hyora masih diam dan syok. Satu yang ada di kepala gadis itu, apa kedua orang tua mereka adalah orang yang sama?

Saat memasuki rumahnya, Hyora langsung memasuki kamar orang tuanya. Tapi disana tidak ada siapa-siapa. Kamar orang tuanya kosong tapi Hyora tidak peduli, gadis itu mengobrak-abrik isi kamar orang tuanya mencari apapun yang bisa menjelaskan keanehan ini. Sambil menangis tanpa suara Hyora membongkar seluruh isi kamar orang tuanya. Hyora membuka lemari besar milik ibunya, diacak-acak isinya sampai akhirnya dia membuka sebuah laci. Matanya mengerjap beberapa kali. Tangannya mengusap pipinya yang basah karena air mata. Di ambilnya sebuah album foto yang terlihat usang. Tubuhnya terjatuh ke lantai sambil membuka lembaran demi lembaran album memori tersebut. Pipi Hyora semakin basah dengan air mata. Jantungnya berdebar cepat. Tubuhnya seperti disengat listrik beribu-ribu volt. Disana banyak sekali gambar kedua orang tuanya bersama dua orang bayi. Bayi itu terlihat seumuran tapi Hyora tidak tahu siapa yag ada di gendongan kedua orang tuanya itu. Tapi dia sangat yakin gambar yang dibilang orang tua Taemin mirip sekali dengan kedua orang tuanya.

“Hyora,” nyonya Lee memasuki kamarnya dan langsung terkejut dengan keadaan kamar yang berantakan. Hyora masih duduk di lantai sambil memegang album foto tersebut. Seragamnya sudah acak-acakan tidak karuan.

“Hyora apa-apaan ini? Kenapa kamar eomma berantakan? Apa yang..”

Kata-kata nyonya Lee terhenti saat mendapati Hyora memegang album foto sambil menangis. Nyonya Lee perlahan duduk disamping Hyora dan memegang pundak Hyora.

“Hyora,” suara nyonya Lee lirih sekali.

Eomma, ceritakan padaku siapa kedua bayi yang ada di gendongan eomma?” Hyora menatap nyonya Lee dengan penuh harap. Matanya sudah bengkak dan memerah. Nyonya Lee manarik napas dan menundukan kepalanya. Dia tidak siap tapi Hyora sudah terlanjur melihatnya.

Eomma, jawab.” Tuntun Hyora.

Nyonya Lee memandang Hyora kemudian merengkuh Hyora kedalam pelukannya. “Hyora sayang, yang ada didalam gendongan eomma itu adalah dirimu, sedangkan yang ada digendongan appa adalah saudara kembarmu.”

Dengan cepat Hyora melepaskan pelukannya. Dia menata nyonya Lee dengan penuh keterkejutan. Dia tidak pernah tahu bahwa dia memiliki saudara kembar.

“Ketika kalian masih bayi, eomma menitipkan saudara kembarmu pada tetangga eomma, karena adik eomma ingin sekali mengambil salah satu dari kalian. Eomma tidak mau karena adik eomma akan membawa salah satu dari kalian pergi jauh. Maka dari itu eomma menitipkan saudaramu. Tapi, saat eomma akan kembali mengambil saudaramu, eomma dan appa mengalami kecelakaan. Adik eomma mengetahui musibah yang eomma alami, dan eomma mengatakan bahwa saudaramu telah meninggal dalam kecelakaan itu. Itu eomma lakukan karena eomma tidak ingin dia mengambil salah satu dari kalian. Tapi setelah kecelakaan itu, eomma mencoba mendatangi saudaramu tapi tetangga eomma ternyata sudah pindah rumah. Dan eomma tidak tahu mereka dimana sampai akhirnya kita pindah ke Seoul.”

Dunia seakan runtuh tepat di atas kepala Hyora. Dia memejamkan matanya menekan dadanya karena sesak. Sakit sekali yang ia rasakan saat ini. Kenapa Tuhan memberikan jalan sepahit ini.

“Dan kau tahu Hyora-ya, ini adalah tempat kelahiranmu. Tempat dimana eomma meninggalkan saudara kembarmu. Tapi, eomma tidak tahu dia berada dimana.” Nyonya Lee meneteskan air matanya. Sementara hati Hyora sudah hancur. Bahkan dia sulit hanya untuk bernapas. Dadanya seakan penuh dan sesak. Dia tahu siapa saudara kembarnya. Dia tahu dimana saudara kembarnya berada. Dan dia mencintainya. Mencintai Taemin yang ternyata saudara kembarnya. Dia mengerti, kenapa jantungnya berdetak cepat saat pertama kali melihat Taemin. Kenapa dia begitu sangat dekat padahal itu pertama kali mereka bertemu. Kenapa dia merasa nyaman terhadap Taemin orang yang baru saja dia kenal. Kenapa dia merasa ada kemiripan di antara mereka. Itu semua bukan cinta. Itu hanya sebagian kecil dari ikatan batin seorang saudara kembar.

Eomma, apa eomma sudah memberikan nama pada saudara kembarku?” dia bertanya. Meyakinkan dirinya bahwa memang Taemin orangnya.

Ne,” mata nyonya Lee menerawang. “Dia laki-laki. Eomma beri nama dia Lee Taemin.”

Pecah sudah tangis Hyora. Hatinya kembali tercabik-cabik ketika dia menyadari semua yang terjadi antara dia dan Taemin. Semuanya begitu sangat menyakitkan.

***

Dua hari menuju pentas seni tapi tidak ada semangat apapun dari diri Hyora. Setelah mengetahui kenyataan bahwa Taemin adalah saudara kandungnya, dia memutuskan menjauh dari Taemin. Seharusnya dia mengatakan pada ibunya tapi dia belum siap dengan semuanya. Cintanya pada Taemin semakin besar dan membuat dirinya sendiri bingung. Taemin beberapa kali mencoba berbicara dengan Hyora, tapi Hyora tetap bergeming. Dia tetap diam.

Sampai pada akhirnya malam pentas seni tiba. Taemin butuh dukungan dari Hyora untuk penampilannya malam ini. Dia dan bandnya akan memeriahkan acara malam pentas seni ini. Tapi Taemin justru tidak menemukan Hyora dimana-mana. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Saat akan menuju panggung, Taemin melihat sosok Hyora berdiri di depan kelas kosong. Dia tampak murung dan Taemin menghampirinya.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu. Aku juga tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Tapi aku mohon, jangan diamkan aku. Beritahu aku dimana letak kesalahanku Hyora-ya.” Hyora tekejut melihat Taemin tiba-tiba sudah ada di depannya. Tapi Hyora diam membuat Taemin jengah sendiri. Dia memegang dagu Hyora memaksa gadis itu untuk menatapnya. Tapi tatapan Hyora kosong. Taemin bingung, tidak tahu lagi harus bicara apa. Taemin menarik tangan Hyora dan mendekapnya dalam pelukan. Hyora tidak menolak. Dia hanya diam.

“Kau lebih baik berteriak marah mapdaku daripada hanya diam seperti ini. Aku jadi tidak mengerti. Ayolah Hyora-ya jangan membuatku frustasi. Aku tidak bisa membaca pikiranmu.”

Hyora tetap tidak merespon. “Katakan padaku. Apa yang salah? Aku tidak akan marah. ”

“Taemin-ah,” suara Hyora pelan sekali seperti bisikan. “Tidak ada yang salah. Sama sekali tidak ada yang salah.” Suara Hyora terbenam di dada Taemin. “Saranghae Taemin-ah.”

Taemin menaruh dagunya dipuncak kepala Hyora. Dadanya berdebar-debar saat Hyora menyatakan cintanya. “Tapi,”

“Taemin-ah!!” tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan. Taemin dan Hyora segera melepas pelukan mereka. Orang itu mendekat dengan langkah lebar-lebar.

“Ternyata kau sedang berbuat mesum disini. Ayo, acaranya sudah di mulai. Kita sudah dipanggil untuk naik keatas panggung.”

Taemin menjitak kepala Minho. “Otakmu yang mesum.”

Taemin menoleh ke arah Hyora. “Nanti kita bicara lagi. Jangan pergi tanpa memberitahuku.” Taemin menyentuh pipi Hyora dan mengusap air matanya. Hyora mengangguk pahan dan menatap punggung Taemin yang menghilang dari pandangannya.

***

Irama musik yang dimainkan Taemin bersama bandnya terdengar indah membuat semua siswa mengikuti irama musik pop tersebut. Semua berteriak histeris di depan panggung. Semua begitu menikmati pentas seni malam ini. Hanya Hyora yang terlihat tidak bersemangat. Hatinya tambah sakit saat melihat Taemin tersenyum padanya. Dia berpikir haruskah dia mengatakan pada orangtuanya bahwa dia mengetahui siapa saudara kembarnya. Tapi rasanya dia ingin egois saja membiarkan orang tuanya tidak tahu apa-apa. membiarkan Taemin tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya semumur hidupnya.

Taemin turun dari atas panggung kemudian menghampiiri Hyora yang duduk dibarisan penonton. Taemin meremas tangan Hyora, menatap mata Hyora sambil tersenyum.

“Orang tuamu tidak datang?” tanya Taemin pada Hyora. Pentas seni ini memang mengundang para wali murid untuk datang menghadiri acara tahunan sekolah. Hyora sengaja tidak memberitahu orang tuanya karena takut jika Taemin bertemu dengan orang tuanya, semua akan terbongkar. Hyora tidak siap dengan kemungkinan yang terjadi.

Dari kejauhan kakek Han melambaikan tangannya senang kearah Taemin dan Hyora.

“Kau memang hebat Taemin-ah. Kau persis seperti kakek saat masih muda dulu.” Kakek Han tertawa renyah memuji Taemin.

“Tapi aku yakin masih lebih hebat aku pastinya.” Celetukkan Taemin membuat gelak tawa dari Hyora dan kakek Han.

Hyora berbalik saat mendengar namanya dipanggil oleh Hana. “Sebentar,” katanya kemuidan pergi menemui Hana.

Kakek Han mendongengi Taemin dengan cerita-cerita lama tentang kakek Han masih muda dulu. Sesekali Taemin berdecak kagum saat kakek Han menceritakan bagian yang menakjubkan. Apalagi bagian percintaan kakek Han.

“Sebentar, aku akan mengambil minum untuk kakek.”

Taemin menghampiri stan makanan milik murid kelas satu. Dia lengsung dapat minuman gratis dari siswa perempuan penjaga stan. Tidak heran karena Taemin sudah biasa dapat perlakuan seperti ini dari juniornya. Rasa kagum mereka membuat Taemin dapat untung.

Ada yang menepuk pundak Taemin pelan saat dia akan meningalkan stan. “Ne?” Taemin berbalik dan mendapatkan dua orang pasangan suami istri berdiri di belakangnya.

“Maaf, apa kau kenal dengan Lee Hyora?” tanya seorang wanita dengan paras cantik keibuan. Taemin menatap ahjumma didepannya.

Ne, saya teman satu kelasnya.” Taemin tersenyum sopan.

“Saya orang tua Hyora.” Ucap nyonya Lee sambil tersenyum. Entah kenapa Taemin merasa nyaman dengan senyuman nyonya Lee.

“Hyora berada disana.” Taemin menunjuk ke arah stan yang ada diseberang sana.

Sebelum mereka pergi meninggalkan Taemin, kakek Han datang. Sehingga nyonya Lee dan suaminya berpapasan dengan kakek Han. Kakek Han terkejut bukan main ketika melihat nyonya Lee dan tuan Lee berdiri di depannya. Begitu pula juga dengan nyonya dan tuan Lee.

“Kakek Han,” suara nyonya Lee tercekat. Dia memegang tangan suaminya yang tak kalah terkejut juga.

“Kakek Han,” tuan Lee bergerak mendekat kemudian memeluk kakek Han. Kakek Han memejamkan matanya dan menepuk-nepuk pundak tuan Lee.

“Apa benar yang sedang dilihatku? Kalian masih hidup?” tanya kakek Han tidak percaya. Nyonya Lee dan tuan Lee saling pandang satu sama lain tidak mengerti. Kakek Han masih dalam keterpanaan.

Akhirnya nyonya dan tuan Lee menceritakan semua kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan mereka meninggalkan kota ini. Sementara Taemin yang ada diantara mereka tertegun tak mengerti dan merasa keganjalan dari pembicaraan mereka.

“Jadi begitulah kenapa aku mengatakan bahwa salah satu anakku meninggal, karena aku takut adikku tetap mencari anakku. Aku tidak pernah tahu bahwa dia mengabarkan berita yang salah. Aku tidak tahu kemana kakek pindah.” Nyonya Lee masih terisak dalam dekapan suaminya.

“Saat itu kakek memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaga Taemin ketika mendengar kalian meninggal dalam kecelakaan itu. Anak kalian tumbuh dengan baik dan sehat. Bahkan dia sangat tampan.”

“Jadi, apa kami boleh melihatnya kek?” tanya tuan Lee penuh harap.

Kakek Han menghembuskan napasnya. Lalu melihat Taemin yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Kakek Han menarik pundak Taemin untuk mendekat. Kakek Han menundukan kepalanya mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri. “Dia Lee Taemin. Anak kalian.”

Semua yang ada disitu terkejut dengan membelalakan matanya. Terutama Taemin. Tenggorokannya tercekat. Laki-laki itu kehilangan kata-katanya. Udara dingin seakan membekukan sel-sel saraf pada tubuhnya sehingga dia terpaku menatap nyonya dan tuan Lee. Kini dia mengerti apa yang telah terjadi. Ini kejutan Tuhan paling besar yang pernah ada. Satu yang terlintas di benakknya. Lee Hyora. Jika kedua orang didepannya ini adalah orang tuanya berarti Lee Hyora..

“Kek, aku tidak salah dengar?” suara Taemin menguap ke udara.

Kakek Han tidak menjawab. Nyonya dan tuan Lee mendekat lalu memeluk Taemin sepenuh hati. Putra yang dirindukannya selama bertahun-tahun kini ada dalam pelukan mereka. Taemin masih diam menikmati hangaynya pelukan seorang ayah dan ibu. Selama 18 tahun ia hidup, ia hanya merasakan pelukan kakek Han. Jadi begini rasanya dipeluk oleh orang tua dengan penuh rasa kasih sayang.

Sementara Hyora terdiam terpaku dari kejauhan melihat Taemin dengan orang tuanya. Air matanya jatuh tanpa ia bisa menahannya. Kemungkinan terburuk ini terjadi diluar kekuasannya. Dia menyadari bahwa kenyataan ini akan segera terungkap. Dia tidak bisa menolak atau menghindar dari takdir Tuhan yang telah mempermainkan perasaannya. Hidup memang tidak adil di kehidupannya. Kenapa Tuhan harus mempertamukan dirinya bersama Taemin dengan cara seperti ini. Dan kenapa Tuhan justru memberikan perasaan cinta ini kepada saudara kembarnya sendiri.

***

Seoul, 2011

Semua yang terjadi diatas bumi ini tak akan bisa di rubah atau dikembalikan lagi ke awal. Hanya sebuah penyesalan yang tersisa atas semua yang telahterlewatkan. Bahkan itu belum cukup untuk membuat hatinya kembali utuh. Dengan tinggal bersama keluarga aslinya Taemin justru merasa sakit setiap kali melihat Hyora. Tapi dia harus membiasakan dirinya dan membuang jauh-jauh rasa cintanya. Dia harus menerima bahwa gadis yang ia cintai adalah saudara kandungnya sendiri.

Sudah satu tahun berlalu. Taemin dan Hyora melanjutkan pendidikannya di Seoul. Tapi kedua orang tuanya masih berada di Gwangju karena pekerjaan yang belum selesai. Kedua orangtuanya sengaja tidak mengijinkan mereka tinggal bersama sebelum mereka bisa menetralisir perasaan masing-masing.

Walau kenyataan sangat menyakitkan tapi hidup harus tetap berjalan. Ini hari pertama Taemin masuk universitas. Laki-laki itu berjalan dengan gaya yang cuek walau semua mata –terutama wanita- tertuju padanya saat dia berjalan. Sekalipun wajahnya angkuh dan tidak bersahabat tapi tetap tidak menghilangkan ketampanannya. Seorang gadis dengan rambut yang diikat kebelakang berdiri didepan kelas sambil melihat Taemin dari kejauhan. Gadis itu merasa ada hawa-hawa tidak beres yang akan dimulai di kampus ini. Bukan kampusnya. Tapi dirinya sendiri. Dia merasa bahwa saat melihat Taemin dia harus mengatur detak jantungnya habis-habisan dan sulit untuk mendapatkan oksigennya susah payah. Seperti layaknya angin, Taemin melewati gadis itu begitu saja.

Gadis itu melihat sebuah benda seperti cincin jatuh tepat di ujung sepatunya.

“Hey!” teriaknya pada Taemin. Taemin merasa dirinya dipanggil membalikan badannya. oke, gadis itu merasa dirinya mulai tidak waras.

“Apa ini punyamu?” gadis itu mengacungkan cincin keatas. Taemin memicingkan mata kemudian mendekat. “Sepertinya benda ini jatuh dari dalam tasmu.”

Taemin mengambil cincinnya. Lalu memandang gadis didepannya. Tidak ada yang menarik. Tapi anehnya membuat dirinya berbalik dua kali. Dia memperhatikannya dari ujung rambut dari ujung kaki. Memang seperti gadis biasa pada umunya. Tapi tatapnnya itu sangat polos dan tidak terbaca. Ada yang menarik perhatian Taemin. Membuat dia mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan gadis itu. Gadis ini sama seperti pertama kali dia bertemu Hyora. Pikirannya kosong, sunyi dan sepi. Dia terus menatap mata gadis itu tanpa melepasnya. Ya, dia sama seperti Hyora. Gadis ini sama persis. Tidak ada yang dipirkan gadis tersebut. Atau memang Taemin yang tidak bisa membacanya.

“Siapa namamu?”

“Eh?” gadis itu terkejut. “Go Eunmi.” Jawabnya bingung.

Taemin merogoh saku celananya saat ponselnya bergetar. Eomma.

Taemin memunggungi gadis itu menerima panggilan dari eommanya.

“..ne aku baik-baik saja..”

“..tidak eomma..”

Gadis itu mengerutkan keningnya lalu perlahan menjauh dari Taemin. Aneh. Pikirnya.

Eomma, sebentar.” Cegah Taemin sebelum eomma nya menutup telepon.

“Aku mau bertanya, apa aku memiliki saudara bernama Go Eunmi? Atau apa aku memiliki adik lagi atau seorang noona?”

Terdengar bunyi tawa dari seberang sana.

Ani. Anak eomma hanya kau dengan Hyora. Kau lupa sayang, marga appamu Lee bukan Go.”

Taemin terdiam. Kemuidan menutup sambungan telepon dan berbalik. Tapi dia kecewa saat gadis bernama Eunmi itu tidak ada di tempat. Dia melihat punggung Eunmi menjauh kemudian tanpa menunggu lama dia mengejarnya.

“Hey,” Taemin membalikan badan Eunmi. “Tunggu.” Kata Taemin tersenyum manis. Jauh dari sebelumnya yang ekspresi wajahnya angkuh. Taemin mengulurkan tangannya. “Aku Lee Taemin. Sangat senang sekali bisa bertemu dan berkenalan denganmu.”

Eunmi menjabat tangan Taemin setelah beberapa saat terdiam bingung. Kemudian mereka saling melempar senyum. Hidup mungkin terkadang tidak adil, tapi Tuhan selalu memberikan bahagia dan sedih itu satu paket. Karena selalu ada pelangi setelah badai.

-END-

6 thoughts on “[WFT B] Another Destiny [3.3]

  1. Wah ternyata kembaran.
    TaeMin berhasil move on, bagaimana dengan HyoRa. (˘_˘” )ck! ( “˘_˘)ck! Intinya happy ending ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​
    Keep writing (งˆ▽ˆ)ง

  2. Padahal sudah kadung kisseuan (?)
    Eh, gk tau nya sodara kembar…
    Dan akhirnya Taemin akan jadian sama Go Eunmi. Haha Taemin pke tanya dulu ke eommanya.

    Aku suka cerita ini🙂

  3. Waah dari awal baca kakek han menceritakan dua tipe manusia yang pikiran gak bisa dibaca sana taemin, aku udah was-was kalau hyora itu sodaraan sama taemin.
    Tapi thor kok minho sama hana gak ada story nya? Kan minho suka sama hana, gak ada kelanjutannya gitu??

    Tapi aku tetep suka kok thor. Keep writting!!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s